[2nd] One-Night Stand (Be Yours) – by AngevilBoo

img_20150423_201430
Author :
 AngevilBoo  //  Tittle : One-Night Stand  //  Cast : Park Chanyeol, Park Raejin (OC)  //  Genre : Romance, Fluff  //  Rate : PG (!!)

|| deerkkamjong07 @ INDOFANFICARTS ||

Previous :  [1st : Be Mine?]

Rec. Song : Ellie Goulding – Love me like you do

the Idea imine. Please don’t take it.

Also, read the Author’s note please!

.

From One-Night to Forever.

oOo

Jadilah milikku!

.

Pikiran Raejin berputar. Hanyut dengan gambaran bayangan beberapa saat lalu yang pernah terjadi. Sembari tangannya menggenggam dan membawa sebuah keranjang biru, tatapan yeoja itu justru tercampak entah kemana.

Sekarang, ia tengah berada di sebuah Supermarket. Berencana membeli persediaan makanan-nya yang telah habis.

Tapi Raejin tidak mengerti. Mendadak saat sampai di tempat tujuannya itu, niatan untuk membelinya lenyap. Berganti dengan pemikiran aneh yang terus memenuhi kepalanya. Alhasil, Raejin hanya mengambil beberapa cup ramen dan makanan siap saji lainnya. Tak tahu– atau lupa–apa lagi yang harus ia beli.

Sial, Ini semua karena namja itu!

Tsk. Kentara sekali. Semenjak pertemuan dan perjanjiannya dengan namja itu–Chanyeol–tadi malam, seluruh sistem kerja otaknya seakan berganti rotasi. Namja bertubuh terlalu jangkung itu terus menghantui benaknya. Ugh.

Lagi dan lagi pekerjaan Raejin harus terhambat, karena terus teringat dengan percakapan mereka tadi malam. Percakapan bodoh, namun bernilai besar. ‘Huh, aku pasti sudah gila!’ pikir Raejin jengah.

Oh, katakan saja bahwa Park Raejin adalah yeoja yang menggilai uang–menggilai harta, tapi mungkin tidak akan ada yang mengerti.

Memang bagi Raejin, ia sendiri tidak memungkiri, jika uang adalah segalanya baginya saat ini. Ya, untuk berbelanja ke Supermarket ini saja, meruapkan salah satu keajaiban kecil bagi Raejin. Biasanya, ia hanya membeli persediaan makanan-nya di toko atau kedai-kedai kecil didekat kontrakan-nya. Hanya nasib emas yang tanpa sengaja menimpa yeoja itu, membuat Raejin–nekat—berani berbelanja di tempat sebesar dan semahal ini.

Namja itu—Park Chanyeol—sudah memberinya sejumlah uang dimuka. Jumlah yang fantastis dan wow. Tapi semua itu sebanding, dengan apa yang akan dan harus Raejin lakukan sebagai gantinya.

Berapa lama Raejin melakoni peran tuntutannya sebagai.. ehem, wanita malam—harus Raejin akui, baru kali ini ia mendapat bayaran yang luar biasa, dan dari pelanggan yang luar biasa pula. Hm, keberuntungan ganda. Tetapi, setiap mengingat apa yang harus ia lakukan nanti sebagai balasan, membuat Raejin harus menghela nafas berulang kali.

Huh.

Tidak. Ia memang tidak harus melakukan apapun yang berbau kontak fisik ataupun kulit, dan Raejin sangat mensyukuri kenyataan itu. Tetapi mungkin, ini bisa menjadi lebih baik atau lebih buruk.

Sebagai gantinya, Raejin harus rela dan mau menjadi ‘Kekasih bayaran’ bagi namja itu. Yeah, mungkin kalian sudah menebaknya. Namun tidak dengan Raejin, yeoja itu tidak pernah menebaknya. Jangankan menebak, menduga saja ia tidak pernah.

Huh, memang bukan pekerjaan yang berat sebenarnya—–Raejin berharap. Tapi cukup untuk membuatnya khawatir sendiri.

Tsk. Bagaimana tidak khawatir? Bagaimana ia harus melakukannya? Dan bagaimana cara melakukannya? Raejin saja tidak tahu. Ugh!

Sepanjang hidupnya selama 20 tahun ini, Raejin belum pernah memiliki seorang kekasih. Ia tidak pernah menjadi seorang kekasih. Dan tentu—jelas—Raejin tidak tahu bagaimana caranya menjadi seorang kekasih. Astaga, silakan tertawa untuk hal ini.

Tetapi sungguh, Apa yang harus ia lakukan? Raejin begitu buruk dalam hal menyimpan perasaan dan emosi. Dengan kata lain, ia sangat buruk dalam hal berakting. Hidupnya itu terlalu terbuka, tidak tersimpan rahasia.

Raejin hidup secara gamblang, semua orang dapat mengetahuinya dengan mudah. Ia pun juga tidak pernah berbohong. Bukan karena tidak mau, tapi tidak bisa. Lagipula selama ini, dengan siapa Raejin harus berbohong, jika semasa hidupnya hanya ada dirinya seorang dan beberapa kenalan yang tidak begitu dekat.

Oh, seandainya saja ia tidak dalam keadaan terdesak, Raejin mungkin akan berpikir dua kali, lalu berakhir menolak tawaran Chanyeol malam itu. Kalau saja namja bermarga Park itu tak membiusnya dengan bayaran yang.. well, mungkin seumur hidup pun, hanya dapat menjadi impian semata. Karena melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya, membuat Raejin kelimpungan sendiri.

Dan lagipula, siapa yang dapat menolak pesona namja tampan seperti namja itu? Huh, kenyataan lain yang menyedihkan bagi Raejin. Ia sudah terlalu jatuh pada pesona pemuda tampan super kaya yang menjadi pelanggan-nya tadi malam. Sial sekali, bukan?

Raejin menggelengkan kepalanya berulang kali. Berusaha menghapus nama pelanggan tampan tadi malam-nya itu, dan mencoba fokus pada deretan sayur dan buah di counter hadapannya. Kali ini ia harus serius, memilih buah dan sayur segar itu membutuhkan konsentrasi tinggi. Yeah, itu pemikirannya.

Jemari lentik itupun perlahan bergerak memilah-milih tomat dan mentimun di depan. Memasukkannya hati-hati kedalam sebuah kantung plastik putih di genggaman. Untuk beberapa saat, Raejin terlihat sibuk dan teliti dengan kegiatannya, hingga tanpa sengaja, sebuah tomat jatuh terlepas dari genggamannya ke lantai.

Dukk

Buru-buru Raejin hendak mengambil tomat itu, namun terlambat. Ketika sebuah tangan yang berukuran jauh lebih besar dari tangannya bergerak lebih dulu.

Sontak wajah yeoja itu mendongak, dan sedetik setelahnya, secara refleks tubuh Raejin kehilangan keseimbangan dan berakhir jatuh terduduk di lantai.

Deg.

Suara kekehan itu terpecah. “Aku tidak menyangka kau akan sekaget ini. Padahal kita baru saja bertemu 13 jam yang lalu,” ucap sosok itu jenaka sembari membantu Raejin berdiri.

Yeoja itu masih mengerjap terkejut. “A-Apa yang kau lakukan disini?” tanya Raejin kaget.

Chanyeol terlihat melejitkan bahu santai seraya menjawab. “Bertemu denganmu, apalagi memangnya?”

Raejin masih menatap namja dihadapannya itu tak percaya. “Ba-Bagaimana bisa kau tahu aku berada disini? D-Dan sejak kapan kau datang?”

Lagi. “Itu hal mudah, dan aku baru datang beberapa menit yang lalu. Sebelum kau terjatuh setelah menjatuhkan tomat ini.” Chanyeol menyodorkan sayur bulat berwarna merah itu padanya.

Dengan canggung, “T-Terima Kasih,” Raejin membalas.

Yeoja itupun kembali menoleh kedepan, mencoba fokus pada kegiatan awalnya sambil mengabaikan kehadiran tiba-tiba namja—yang sedari tadi memenuhi otaknya—itu sebisa mungkin.

Chanyeol sendiri terlihat biasa saja. Hanya diam disebelahnya melihat bahan-bahan makanan di sekitar mereka. Ia melipat tangan di depan dada.

Dari sudut matanya, Raejin sedikit melirik penampilan namja itu. Chanyeol kini terlihat tengah mengenakan kaos V neck longgar berwarna hitam, disertai celana panjang berwarna berlawanan. Simpel namun mempesona. Kaos itu bahkan memiliki belahan dada rendah, sehingga memperlihatkan betapa bidangnya tubuh tegap namja itu. Ugh, ya Tuhan!

Raejin kembali menggelengkan kepalanya. Yeoja itu bahkan harus berdehem kecil beberapa kali untuk menyingkirkan perasaan anehnya.

Merasa risih dengan atmosfir yang terjadi disekitar mereka, mau tak mau, Raejin akhirnya mengambil inisiatif untuk membuka mulut duluan.

“Ada apa mencariku?” tanya Raejin canggung.

Dan Chanyeol menoleh, melihat yeoja disampingnya itu yang bersuara tanpa melihat ke arahnya. Lalu bukannya menjawab, namja itu justru balik bertanya.

“Apa kau melupakan perjanjian kita?”

Deg.

Jantung Raejin mendadak berpacu. “Ti-Tidak. Me-Memangnya kenapa? Apa acaranya hari ini?” Raejin berusaha berbicara setenang mungkin. Walaupun sesungguhnya di dalam hati, ia tengah berharap-harap cemas. Memohon agar diberikan waktu lebih.

Chanyeol melirik jam tangannya terlebih dahulu. “Hm, lebih tepatnya tiga jam lagi.”

Deg.

Sontak kepalanya menoleh. “A-Apa? Kau bercanda?” tanya Raejin tersentak pada namja itu. Chanyeol pun kini balas menatapnya datar—memberikan jawaban.

Mata bulat itu mengerjap cepat berulang kali. “T-Tapi, a-aku belum bersiap..” Raejin mencoba menunda.

“Karena itu aku menjemputmu!” kata Chanyeol menghancurkan harapannya.

Yeoja itupun kini mendesah lesu, “E-Eh?”

Dan membuat Chanyeol mulai merasa sebal melihatnya. Dengan kesal, “Sudahlah! Cepat saja selesaikan belanjamu!” Chanyeol memerintah. Dan berhasil membuat Raejin langsung menutup mulut seketika.

“Kau yakin sudah selesai berbelanja?”

Pertanyaan dengan nada ragu itu, terlontar dari mulut Chanyeol ketika melihat isi keranjang biru di tangan Raejin. Dahinya berkerut. Keranjang itu bahkan belum terisi sepenuhnya, dan itupun hanya terlihat beberapa cup ramen, ramyun instant, bubur, serta bungkusan makanan ringan lainnya. Pengecualian untuk seplastik tomat dan apel disana.

Raejin mengangguk singkat sebagai jawaban. “Hm, bukankah tadi kau menyuruhku untuk cepat selesai?” tanyanya lugu pada namja itu.

Chanyeol sendiri terdiam. Ia mengerutkan alis melihat isi keranjang belanjaan Raejin dan wajah yeoja itu secara bergantian—terlihat berpikir. Namun beberapa detik setelahnya, bibir namja itu kemudian mencebik.

“Ck, pantas saja tubuhmu seperti itu. Makananmu tidak ada sehatnya sama sekali!” Ia menyindir.

Refleks mendengar ejekan itupun, membuat Raejin langsung mendelik horror. “Jangan mengomentari tubuhku! Urusi saja tubuhmu sendiri!” balas yeoja itu kesal tak kalah sinis.

Raejin lalu melenggang pergi lebih dulu begitu saja, meninggalkan Chanyeol yang hanya dapat terdiam menatap punggung mungilnya yang menjauh.

Namja itu menggelengkan kepalanya datar.

Dasar yeoja aneh!

Sebelum tanpa sadar tersenyum kecil.

But cute.

*

*

Raejin menggigit bibirnya gugup. Sedari tadi, ia terus meremas tangannya yang berkeringat dingin. Meskipun sesekali matanya melirik ke samping, melihat namja disebelahnya yang justru terlihat tenang mengemudi.

Raejin berpikir, sebenarnya ada sesuatu yang tengah mengganggu pikirannya. Ingin sekali yeoja itu bertanya, sekaligus menghapus suasana canggung didalam mobil, karena Chanyeol terlihat menikmati suasana kaku seperti ini.

Meski dengan setengah hati, lagi-lagi Raejin yang harus lebih dulu menutup keheningan di antara mereka. Ia memanggil. “Chanyeol-ssi..”

“Hn.” Chanyeol menyahut.

“Ngg, bolehkah aku bertanya?” ungkap yeoja itu–akhirnya–memberanikan diri.

Chanyeol meliriknya sebentar. “Tanyakan saja.” Namja itu memperbolehkan.

Raejin lalu mulai menoleh menatap namja tampan disampingnya itu sepenuhnya, kemudian bertanya. “Kenapa?”

Kedua alis Chanyeol bertaut. “Kenapa apa?”

Kembali, Raejin menghela nafasnya terlebih dahulu, sebelum benar-benar mengungkapkan. “Kenapa kau memintaku menjadi Kekasih bohonganmu? Ma-Maksudku, a-aku hanya penasaran. Aku baru tahu bahwa kau tipe pria seperti itu—-susah move on dari mantan.”

Hening. Belum ada balasan.

Raejin melanjutkan lugu. “Apa kau begitu mencintainya?” Penuh penasaran.

Dan sepertinya itu bukanlah pertanyaan yang baik, ketika akhirnya Chanyeol bereaksi. Namja itu menggeram tertahan cukup keras, sebelum kemudian menjawab

“Pria mana yang tidak marah dan sakit hati, saat mengetahui Kekasihnya memutuskannya tepat 3 hari sebelum Pernikahannya.”

Diam. Raejin mengerjap tidak mengerti. “Maksudmu?”

Helaan nafas beratnya pun keluar. Walaupun diliputi rasa sebal karena kembali mengingatnya, Chanyeol tetap saja menjelaskan.

“Jika saja dia memutuskanku jauh-jauh hari, mungkin aku masih bisa melupakannya dan menemukan yang lain, tapi tidak! Dia memutuskanku tiba-tiba, tanpa alasan. Setelah itu keesokkan malamnya, aku mendapatkan Undangan Pernikahannya langsung dari sahabatku. Apa yang kau pikir harus kulakukan saat itu?” Miris.

Raejin akhirnya mengangguk paham—berhasil mengerti.

“Jadi maksudmu, kau berniat membalas dendam.. begitu?” tebak yeoja itu setelahnya.

Namun Chanyeol menggelengkan kepala menyangkal. “Tidak..” elak namja itu menggantung.

“Aku tidak berniat membalas dendam. Aku hanya.. menjaga harga diri.” Chanyeol mengoreksi.

Mendengar jawaban namja itupun membuat Raejin mengerucutkan bibir kecil, seakan mencibir. Namun yeoja itu lebih memilih mengejek dalam hati.

Setelah itu berganti, kini giliran Chanyeol yang mengambil alih percakapan mereka.

“Kau sendiri?” Suara berat itu bertanya.

Raejin yang belum sepenuhnya menyimak pun, lantas hanya dapat membalas. “Huh?”

“Bagaimana dengan dirimu?” ulang Chanyeol sekali lagi. Namun ternyata masih belum cukup untuk membuat Raejin mengerti.

Yeoja itu menautkan alis bingung. “Diriku?”  Memangnya ada apa denganku?

Terlihat Chanyeol yang menganggukkan kepala samar. Namja itu memberikan pendapat. “Kau cantik.. Masih sangat muda. Dan kupikir, meskipun Pendidikanmu pas-pasan—“

Raejin mendelik tidak terima.

“–Setidaknya otakmu masih dapat berpikir jernih. Jadi kenapa kau memilih Pekerjaan ini?”

Deg.

“Apakah orang tuamu tahu dan tidak marah?”

Hening. Raejin terdiam.

Perlahan tapi pasti, raut wajah cantik itu terlihat berubah saat itu juga. Raejin beralih menolehkan kepalanya menghadap jendela.

“Aku tidak punya orang tua,” bisik yeoja itu lirih. Sangat lirih hingga nyaris tak bersuara.

“Apa?”  Wajar saja kalau Chanyeol tidak mendengarnya. Namja itu hanya mengerutkan dahi heran.

Raejin pun mengulang sekali lagi. “Aku tidak punya orang tua.” Kali ini sedikit lebih keras meskipun masih setengah berbisik. Namun untunglah Chanyeol masih bisa menangkapnya, hingga namja itu hanya dapat terdiam setelah mendengarnya. Tidak tahu harus membalas apa.

Wajah cantik itu menunduk. “Aku tidak memiliki Keluarga,” tambah Raejin memperjelas. Tersirat pasti nada duka dalam suara yeoja itu, namun Raejin tahu, itu bukanlah jawaban yang diinginkan oleh Chanyeol.

Akhirnya dengan helaan nafas berat, secara perlahan Raejin memulai. “Aku adalah anak tunggal. Saat usiaku menginjak 15 tahun, Ayahku meninggal dunia. Dan 3 tahun kemudian Ibuku pergi meninggalkanku begitu saja.”

Hening.

Raejin melanjutkan. “Ibuku pergi dan tidak pernah kembali. Ia meninggalkanku seorang diri. Aku tidak tahu ia pergi kemana. Aku sudah mencoba untuk mencarinya, namun tidak pernah berhasil.”

“….”

“Seminggu setelah kepergian Ibu, seorang wanita muda datang menemuiku. Ia menagih hutang-hutang Ibu padaku, sementara saat itu aku tak memiliki uang atau apapun. Mereka menyita rumahku, tapi hutang itu tetap belum terlunasi..”

Raejin menahan nafasnya sesak sejenak. “Wanita itu menuntutku. Mau tak mau, akhirnya aku harus bekerja untuknya. Ia memiliki sebuah bar, dan aku disuruh menjadi salah satu wanita malam disana sampai hutang-hutang Ibuku terlunasi..”

“Jadi kau sudah bekerja seperti ini kurang lebih.. 2 tahun?” Chanyeol bertanya hati-hati.

Raejin masih menundukkan wajahnya dalam, namun perlahan yeoja itupun terlihat menggelengkan kepala lesu. “Tidak,” bantahnya pilu.

Chanyeol sedikit mengernyitkan alis. “Lalu?”

Hembusan nafas yeoja itupun kembali keluar. “Aku tidak sebodoh itu!” Raejin menyangkal. “Selama 2 tahun aku berada disana, aku selalu mencoba untuk kabur—melarikan diri. Alhasil hidupku pun menjadi semakin menyedihkan. Aku pernah hidup dan tinggal di jalanan, itu lebih baik sebenarnya, tapi ternyata keberuntunganku kecil sekali. Wanita itu selalu berhasil menemukanku dan menyeretku kembali. Ia selalu mengancamku. Sampai akhirnya aku menyerah. Aku pasrah.” Raejin mengakhiri ceritanya.

“Aku adalah gadis yang hidup sebatang kara tanpa uang sepeserpun. Harus bekerja sebagai wanita malam untuk membayar hutang Ibu yang tak kunjung terlunasi. Hidupku sudah melarat, Chanyeol-ssi!” ringkas Raejin pilu pada Chanyeol.

“Di dunia ini, aku hanya punya diriku, sedikit peralatan make up, dan beberapa helai baju. Selain itu tidak ada lagi,” tambahnya lagi melengkapi. 

Raejin kembali menolehkan wajahnya ke arah jendela. Menatap kosong pemandangan di luar. Yeoja itu tengah bersusah payah menahan air matanya. Ini memalukan! Raejin tidak pernah suka dan sudi menangis di depan seseorang. Terutama orang asing yang baru ia kenal.

Meskipun hidupnya menyedihkan, namun mendapatkan rasa kasihan ataupun dikasihani, sama sekali bukan keinginannya. Raejin justru membencinya. Selemah dan serapuh apapun dirinya dimata orang-orang, harga diri yeoja itu tetap saja lebih tinggi dari apapun.

Mungkin Raejin memang tidak memiliki apa-apa di dunia ini. Tetapi setidaknya, Raejin masih memiliki dua harta berharga yang masih terus ia jaga. Harga diri dan Keperawanannya. Sampai matipun, dua hal itu akan tetap ia pertahankan.

Beberapa saat yeoja itu terlarut dengan bayangan masa lalunya, hingga tak menyadari bahwa Chanyeol telah menghentikan mobilnya di suatu tempat.

Namja itu terbatuk pelan untuk menyadarkannya.

“Sudah puas bernostalgia?” tanya Chanyeol tanpa ekspresi. Seolah tidak tersentuh sama sekali dengan cerita haru Raejin beberapa menit yang lalu.

Yeoja itu tidak menjawab, namun juga tidak terdiam. Raejin memberikan tatapan bertanya.

“Turunlah! Kita sudah sampai!” suruh namja itu kemudian, lalu keluar dari mobil lebih dulu. Raejin pun menurut.

Yeoja itu menjadi lebih pendiam dari sebelumnya. Raejin hanya mengikuti dan mengekori Chanyeol yang berjalan di depannya dengan teratur. Mereka memasuki sebuah butik berkelas dengan dekorasi mewah.

Kembali lagi pada watak Raejin, yeoja itu memang benar-benar tak bisa menyembunyikan perasaannya. Terkagum-kagum menoleh ke sekeliling dengan pandangan terpesona. Oh, lupakan soal memalukan!

Tak lama kemudian, seorang wanita cantik terlihat menghampiri mereka. Chanyeol dengan segera memerintah tanpa membuang waktu.

“Tolong carikan Dress yang cocok untuknya. Ubah penampilannya semenarik mungkin!”

Wanita itu mengangguk mengerti.

Chanyeol lalu menoleh ke arah Raejin yang ternyata sudah menatapnya sejak tadi. Namja itu berkata. “Ikuti mereka! Aku akan menjemputmu lagi nanti.”

Sebelum berlalu pergi, dan meninggalkan Raejin sendirian.

***

Pukul 07.30 PM

Ballroom megah Hotel Marriott Grand itu kini tampak dipenuhi oleh para tamu undangan yang hadir dengan penampilan sempurna. Dekorasi mewah bergaya klasik Eropa tercium kental dari setiap sisi, bahkan hingga hidangan yang tertera di setiap meja sekalipun.

Susah payah Raejin menggigit bibirnya untuk tidak terperangah. Matanya yang kini menyapu lembut setiap hal di sekitarnya. Gadis itu berusaha keras untuk menjaga image. Oh, ini sungguh bukan dirinya! Jika saja Chanyeol tidak terus-terusan mengingatkannya, Raejin mungkin akan kehilangan diri lagi.

“Tutup mulutmu! Jangan terpesona seperti itu!” Kurang lebih, begitulah peringatan yang diberikan Namja itu padanya.

Raejin semakin mencengkram erat lengan kanan Chanyeol yang ia apit. Yeoja itu kini sudah berganti mengenakan Dress simpel berwarna merah maroon di tubuh rampingnya. Benar-benar cantik. Rambut panjang-nya dibiarkan jatuh bergelombang, meski terlihat sedikit berantakan, namun itu justru memberi kesan seksi dan polos disaat bersamaan.

IMG_20150423_222802

Bahkan Chanyeol sendiri tidak memungkiri. Kenyataan bahwa para tamu harus melirik penampilan Raejin lebih dari dua kali, membuat Chanyeol merasa bangga. Ia berhasil mengubah seorang Itik—lebih tepatnya Angsa buruk rupa menjadi Merpati mempesona.

Dan berbicara soal penampilan, tentu jangan lupakan penampilan namja bermarga Park itu sendiri. Balutan kemeja hitam-putih dilapisi jas hitam rapi, telah terhias sempurna di tubuh jangkung milik Chanyeol. Disertai dengan tatanan rambut cepak-nya yang mempesona, mempertegas wajah tampannya yang memang sudah mengagumkan.

5bf0caf96776cc40ec4ac89c70d6e713

Sempurna. Kedua orang asing itu sekarang dapat berpura-pura—atau mungkin bersungguh-sungguh—menjadi pasangan serasi.

Chanyeol menyentuh lembut tangan Raejin di lengannya. “Here it is, be ready!” bisiknya mengingatkan, sebagai tanda peran mereka akan dimulai. Raejin menelan gugup ludahnya lebih dulu, lalu..

“Hei, Park Chanyeol!” sapa seorang lelaki tampan yang kini berada di hadapan mereka. Ia memukul pelan bahu Chanyeol, sebelum menyadari sosok disebelah namja itu.

Lelaki itu sempat terperangah kecil. “Wow, siapa gadis ini?” tanyanya sambil meniti penampilan yeoja di sebelah Chanyeol sekarang.

Raejin sendiri menggigit bibirnya gugup diam-diam, sementara Chanyeol hanya berdehem pelan terlebih dahulu sebelum memberikan jawaban.

“Dia Raejin. Tunanganku.”

Deg.

Kepala Raejin baru saja hendak menoleh, ketika lelaki dihadapannya itu menyodorkan tangannya tiba-tiba ke arahnya. Dengan canggung, Raejin menyambut sambutan tangan itu.

“Huwa, kau cantik! Perkenalkan, namaku Ahn Jaehyun. Sahabat Chanyeol!”

“Park Raejin.”

Raejin tersenyum ramah sebisa mungkin. Yeoja itu lalu mengalihkan pandangan pada sosok wanita cantik yang baru bergabung dan kini berdiri disebelah namja bernama Jaehyun itu.

Wajahnya putih, dingin dan anggun. Dari penampilannya yang mencolok, Raejin paham dan tahu siapa wanita itu. Sosok yang menjadi sorotan malam ini. Sang Pengantin wanita—target utama mereka—merangkup mantan kekasih Park Chanyeol. Kim Yejin.

“Aku tidak pernah tahu kau mengenal gadis sepertinya.”

Deg.

Yejin membuka suara. Chanyeol yang mendengar ucapan wanita itupun, hanya menunjukkan wajah datar tanpa minat menanggapi.

“Sejak kapan kalian berhubungan?”

Deg.

Masih, wanita cantik itu masih mendominasi.

“Aku sudah mengenalnya selama 3 bulan. Ia putri sahabat Ibuku. Mereka sebenarnya sudah lama menjodohkan kami, tapi aku baru kembali menemuinya seminggu yang lalu!” jawab Chanyeol lancar tanpa beban sama sekali. Dan berhasil membuat Raejin terdiam kaget karena mendengarnya.

Namja itu berucap santai seolah semua telah tersusun dan direncanakan rapi. Membuat orang-orang mungkin percaya pada penuturannya tersebut, dan tentu, sandiwara mereka.

Sesaat setelah itu, Raejin yang tidak tahu harus berbuat atau berkata apa-apa lagi hanya dapat bertingkah layaknya boneka penurut. Suasana disekitar mereka terasa mencekam bagi yeoja itu. Begitu kaku dan dingin. Apalagi sesekali Raejin dapat merasakan tatapan tajam Yejin yang—entah sengaja atau tidak—terjatuh padanya.

Beruntung Chanyeol menangkap gerak-gerik gelisah yeoja itu, sehingga akhirnya namja itu meminta izin pamit dari hadapan sepasang Pengantin dan pergi.

Chanyeol menarik Raejin menuju lantai dansa. Oh tidak! Ini mungkin akan menjadi lebih buruk.

Pukul 10.15 PM

Chanyeol menghentikan mobilnya tepat di depan bangunan susun dimana kontrakan Raejin berada. Ia lalu mematikan mesin mobilnya, dan membiarkan yeoja itu turun dari sana.

Namja itu menyusul sesaat kemudian, dan berdiri menyandar pada pintu mobil. Satu tangannya terkepal dan berada di dalam saku. Chanyeol terlihat keras seperti tengah menahan sesuatu.

Sepanjang perjalanan tadi, Raejin hanya terdiam tanpa membuka mulut sedikitpun—tidak biasanya. Chanyeol beranggapan, bahwa mungkin Raejin tersinggung karena ia memperkenalkannya sebagai Tunangan-nya, dan bukannya Kekasih. Tetapi melihat tingkah yeoja itu setelahnya, apalagi saat Chanyeol mengajaknya berdansa, wajah Raejin langsung memucat seketika.

Chanyeol tahu bahwa Raejin merasa tidak nyaman. Kentara sekali dari raut wajah yeoja itu, di setiap kali Chanyeol memperkenalkan-nya pada teman-temannya. Raejin terlihat begitu gugup dan ketakutan.

Dan Chanyeol sendiri juga tidak mengerti. Ia juga kurang menyukai saat melihat orang lain—termasuk sahabatnya sendiri—bercanda ataupun menggoda yeoja itu. Fakta baru yang membuat Chanyeol heran dengan dirinya sendiri, adalah kenyataan jika tamu-tamu yang hadir di pesta tadi—terutama pria—memandang Raejin dengan tatapan memuja. Rasa bangga-nya bertukar menjadi perasaan tidak rela. Aneh.

Jadi sebagai gantinya, Chanyeol berinisiatif untuk membawa Raejin pulang lebih cepat dibandingkan tamu undangan lain.

“Terima kasih.” Suara lembut itu menyadarkan Chanyeol dari pemikirannya.

Namja itu lalu mengangguk tanpa berkedip. “Aku akan mengirimkan bayaranmu malam ini.”

Raejin mengerti. “Ya. Kalau begitu tugasku sudah selesai! Terima kasih banyak, Chanyeol-ssi. Kau bisa pulang sekarang,” ucapnya mempersilakan.

Sesuatu mendadak menyesak dalam dada namja itu. Chanyeol beralih menatap punggung Raejin yang sudah berbalik dan perlahan menjauh dari pandangannya.

Satu malam.

Jadwal satu malam mereka kini resmi habis. Urusannya dengan yeoja itu telah selesai sepenuhnya. Semuanya sudah berakhir.

Seharusnya, Chanyeol merasa lega, karena usaha dan rencananya telah terlaksana. Tetapi anehnya tidak, semuanya malah berbanding terbalik.

Kenapa Chanyeol justru merasa tak rela berpisah dengan yeoja itu?

***

 

*

Matahari belum menampakkan dirinya. Warna langit masih kelabu kemerahan saat Raejin–lagi-lagi–terbangun dan bergerak gelisah di atas tempat tidur.

Waktu sudah menunjukkan hampir pukul 3 pagi, tetapi mata yeoja itu belum juga bisa menutup secara sempurna.

Raejin menendang selimutnya asal-asalan. Bibir mungilnya terus saja berdecak sebal. Sedari tadi, otaknya terus-terusan dipenuhi dengan hal-hal ganjil, dan itu sungguh membuatnya frustasi. Ingin rasanya Raejin mengamuk, Kenapa sosok namja itu belum juga lenyap dari pikirannya? Sialan!

Nama Park Chanyeol itu seperti hantu—mengerikan. Membuatnya takut, namun sekaligus rindu–oh yang benar saja! Seseorang tolong bangunkan Raejin dari mimpi indahnya! Jelas sekali itu merupakan harapan yang tidak mungkin tercapai. ‘Jangan berharap terlalu tinggi, Park Raejin!‘ Yeoja itu mengingatkan diri.

Pusing berperang dengan otaknya sendiri, mendadak rasa haus menyelimuti kerongkongannya. Namun Raejin benar-benar malas bangkit dari tempatnya sekarang. Kepalanya pening, dan lebih sial lagi karena rasa haus itu kian menghujat tenggorokannya. Benar-benar menyebalkan.

Dengan berat hati, Raejin akhirnya menyeret langkah kaki menjauh dari kasur. Beruntung kontrakan-nya itu kecil, sehingga Raejin tidak perlu berjalan terlalu jauh untuk sekedar mengambil air minum.

Tepat ketika tangannya hendak bergerak meraih sebuah gelas, suara pintu diketuk tak sabaran pun menggema.

Raejin menoleh, sedikit mengernyit bingung memikirkan siapa yang bertamu ke kontrakan-nya pukul segini. Maksudnya, orang mana yang ia kenal yang mengetahui tempat tinggalnya? Jawabannya, tidak ada.

Raejin membuka pintu itu perlahan, lalu hampir menjerit kaget saat mendapati sosok dibaliknya tersebut.

Deg.

“A-Apa yang kau lakukan disini?” tanya yeoja itu terkejut—nyaris memekik

Chanyeol menjawab. “Kukira kau sudah tahu jawabannya?” Lalu mendorong tubuh yeoja itu masuk seraya menendang pintu dengan kaki kiri.

Penampilan namja itu belum berganti. Ia masih mengenakan setelan kemeja tadi, minus dasi dan jas hitamnya. Ditambah dengan tatanan rambut rapinya yang kini acak berantakan, dan wajah tampan itu tampak keras dan menegang.

Namja itu menarik nafas gusar. “Dengar.. Aku sudah hampir gila sepanjang malam memikirkan bahwa aku tidak mau stress seumur hidup karena menyesal telah meninggalkanmu tanpa melakukan apa-apa!”

Deg. Raejin menahan nafas.

“Dan aku sudah berusaha keras menahan diri! Namun bau tubuh sialan mu itu terus menghantuiku hingga membuatku nyaris mati! Sekarang, aku butuh pertanggung jawaban!”

Deg.

Mata Raejin membulat. Apa?

“Tu-Tunggu! T-Tapi Perjanjian—-“

“Persetan dengan perjanjian itu!”

Setelahnya, jantung Raejin nyaris saja hancur ditempat ketika Chanyeol langsung menarik pinggangnya dan menciumnya dalam satu tarikan nafas.

Raejin merasa bak diguyur kobaran api, merasakan bibir namja itu yang tak mau berkompromi sama sekali melumat bibirnya. Yeoja itu mencoba bertahan, berdiri dengan bertopang pada lengan Chanyeol di pinggangnya, namun gagal. Tubuhnya seakan mengkhianati diri sendiri dengan tanpa sadar merespon sentuhan namja itu.

Chanyeol mengangkat tubuh mungil Raejin dengan mudah, membuat yeoja itu kini berdiri memeluk lehernya sambil berjinjit di atas sepatunya.

Ciuman itu terasa begitu kasar dan menuntut. Bibir namja itu melumat bibirnya dengan gerakan yang tidak teratur. Dalam sedetik, ciuman mereka dapat berubah lembut, namun di detik berikutnya menjadi intens dan tak terkendali.

Chanyeol kian mendorong tubuh Raejin ke belakang. Membenturkan punggung yeoja itu ke dinding dan menyudutkannya. Perlahan, Raejin pun mulai meronta, merasakan pasokan oksigen yang mulai habis dan membuat dadanya sesak.

Yeoja itu memejamkan mata rapat, saat Chanyeol melepaskan bibirnya, lalu beralih menciumi rahang dan relung lehernya, selagi ia sendiri menarik nafas. Suara geraman seksi milik namja itu terdengar, membuat Raejin semakin hilang akal, dan mencengkram lengan kemeja namja itu hingga kusut.

“C-Chanyeol-ssi…” Raejin memanggil, di tengah ketidak-sadaran.

Tangan kanannya meremas rambut Chanyeol erat, mencoba menjauhkan wajah tampan itu darinya. Namun nihil, namja itu terus saja menyebarkan jejak kebiruan di sekujur leher dan bahu Raejin yang kini terekspos.

“C-Chanyeol.. Hentikan…” pinta Raejin lagi dengan nada memohon.

Yeoja itu kian menggigit bibirnya kuat, berusaha menahan suara yang hendak keluar dari mulutnya. Karena jika namja itu mendengarnya, Raejin tidak berani menjamin jika pakaiannya masih akan terpasang sempurna.

“Park Chanyeol! Hiks… Jebal..” mohon Raejin sekali lagi. Dan kali ini, Chanyeol mendengarkannya.

Dengan tak rela ia akhirnya menjauhkan wajah dari leher yeoja itu. Menatap bangga hasil karyanya di kulit putih bersih itu, sebelum mendongak.

Plakk

Sebuah tamparan halus pun sukses mendarat lembut di pipi kanannya. Chanyeol tidak bereaksi. Alih-alih membalas pukulan, namja itu hanya menatap datar yeoja dihadapannya—tanpa ekspresi.

Wajah cantik itu kini terlihat memucat, jauh berbeda dengan bibir mungilnya yang justru tampak memerah dan membengkak.

“K-Kau..” Raejin kehilangan kata-kata. Matanya memanas, namun didalam hati, yeoja itu merutuki kebodohannya karena sempat membalas sentuhan namja sialan itu. Shit!

Dengan tangan mengepal, Raejin hendak mendorong dada bidang itu menjauh. “Pergi dari rumah—“

Brakk.

Chanyeol kembali menghempaskan punggungnya ke dinding.

Mata Raejin pun membulat tersentak. “A-Apa yang kau lakukan?! Menjauh dariku!” ujarnya sambil memukul keras dada namja itu, namun dengan segera Chanyeol menahannya.

Ia menggeram. “Tidak ada alasan bagiku untuk menjauh darimu!” Dengan begitu dingin.

Mendadak emosi Raejin semakin naik ke ubun-ubun. “Dasar brengsek! Beraninya kau menyentuhku! Kubilang—“

“Dengar!” bentak Chanyeol memotong.

Nafas namja itu memburu. “Aku tahu aku sudah gila karena melakukannya, dan kau boleh menyumpahiku setelah ini!” ucapnya terselubung.

Raejin menatap namja itu emosi. “Apa maksudmu? Pergi dari rumahku sekarang! Urusan kita sudah selesai!” perintahnya keras penuh amarah.

Chanyeol menggeleng. “Tidak! Belum ada yang selesai!”

Raejin tidak perduli lagi. Ia masih terus mencoba mendorong tubuh Chanyeol menjauh, walau tahu tidak ada hasil sama sekali. Yeoja itu mendesis.

“Kau gila! Kau hanya membayarku satu malam, kau ingat?! Perjanjian kita sudah berakhir!!”

Brakk

“Kalau begitu berapa hargamu untuk seumur hidup?!”

Deg.

Chanyeol bertanya setelah melayangkan kepala tangannya tepat pada dinding disebelah Raejin, membuat yeoja itu langsung terkesiap dan mematung terkejut.

“A-Apa?”

Namja itu beralih menggengam tangan kiri Raejin lalu mengangkatnya. Memperlihatkan sebuah cincin permata mungil yang entah sejak kapan sudah melingkari jari manis disana.

41qS8AFCYoL-500x500

Mata bulat itu mengerjap tak percaya.

“Aku sudah membayarmu dengan hatiku..”

Deg.

Tangan Chanyeol beralih mengangkat dagu Raejin sehingga mata mereka beradu pandang. Ia menatap yeoja itu lurus, sebelum kemudian meminta pertanggung jawaban.

“Dan sebagai gantinya, Kau harus menjadi milikku!”

oOo

IMG_20150424_151520

IMG_20150424_151611

A/n :   Maaf atas keterlambatan Update-nya. Saya selesain hutang ini dulu agar tidak beradu dengan FF lain. Jujur, saya tidak begitu punya kepercayaan diri untuk menge-Post FF ini. This the End or Not.. well, I’m not really sure. It’s depends on You guys and my idea.

 Tapi yang pasti, saya beneran minta Maaf karena Feel-nya tidak dapat dan alurnya kecepatan. Saya baru selesai demam, lalu buru-buru menulis ini dibantuin saudara. Karena itu, harap dimaklumi jika hasilnya mengecewakan 😦

Tadinya mau saya protek, tetapi berhubung nanti saya akan sulit membagikannya, dan saya juga tidak memiliki ide untuk bermain teka-teki. Jadi untuk sementara, saya minta kesadaran masing-masing Readers saja 🙂

Okay, I think that’s all. Still want to continue? It’s up to you.

Thank you

tumblr_nak45zUWL01sgx58mo4_500

R e g a r d s
L u h a n’ s  W i f e y

.
.
.
Advertisements

500 responses to “[2nd] One-Night Stand (Be Yours) – by AngevilBoo

  1. Alurnya keren terus kenapa pcy jadi kaya terobsesi?
    aku suka sama ceritanya
    Maaf ya komentarnya cuma sedikit tapi aku bener bener suka ff ini

  2. Wah, CHAnyeol romantis binggow. Tapi kayak kecepetan dech. But, suka bget. Lanjut thor.

  3. so sweet banget scene akhirnya :3
    dan aku agak bingung di salah satu scene sehabis chanyeol ngajak raejin ke lantai dansa, soalnya langsung di cut gitu aja
    tapi tetep bagus banget kok =D

  4. Aahh… chanyeol baru bberapa hari kenal udah maen ngajak brsama seumur hidup?? Izin bca next part chingu…

  5. maduhhh…
    Chanyeol udh berpaling sepenuhnya nih dari Yejin ke Raejin….
    Ciee yg udh bisa move on 😀 kakaka

  6. sumpah kaget, bingung mau komen apa, pokonya ini keren! kaget bisa begini ceritanya wkwkwkwk, chanyeol mengejutkan >,<

  7. keren bnget lo critanya sumpah deh, gk nyangka chan chan senekat itu
    lnjut bca yg chap 3 ya ….

  8. Errr chanyeol pervert ….
    pasti mantan nya chanyeol masih cinta deh, maka nya di rasa sinis gitu and ada ahn jae hyun yuhuuu~~~~

    Itu chanyeol agresif juga, malah si raejin acara jual mahal segala bilang aja gitu gratis chanyeol oppa anything for u hahahaha

  9. Omfg. like what the f… i can’t even imagine. gila parah. SUMPAAAAAAAAH PENGENNN TERIAK PAS BAGIAN ‘kalau begitu berapa hargamu untuk seumur hidup’ damn. sumpah kamvretoooooooo. My favorite scene ever!!!!!!!! Gatau mau blg apa huhu keren bgt feelnya dapettttttt se dapet dapetnya dapet . SEMANGAAAAAAT TERUSSS♡

  10. Ahh romantis bgt cara chanyeol ngelamar raejin. Chanyeol bener2 cinta sama raejin makanya dia blg kaya gitu so sweet bgt deh wkwkw

  11. Wow, Chanyeol keren, , gentle bgt, , 🙂
    Seneng, karena mereka b’2 pnya rasa yg sama, meskipun Chanyeol sikapnya rada’ maksa, hehe, Raejin aja sampe’ syok gt. .
    Yejin, kenapa lho. .??? sikapnya kok gitu bgt, cemburu ya, , baru nyesel deh. .

  12. Fanfic ini menjadi salah satu daftar fanfic favorite aku, ngood job thor suka banget sama alurnya, semoga bakal di lanjut terus sampai finish

  13. Maaf thor baru komen sekarang.. soalnya wktu alu cari ga ada… ternyata udaj di share link ny… widiiiih chan bikin deg2 an… so sweet

  14. Kok cepet banget,tiba” chanyeol udah suka sama raejin? Kurang panjang thorr 😀 fellnya kurang dapet tp tetep Jjang kok ffnya 😀
    Keep writing and fighting (>^ω^<)

  15. chanyeol nya romantis yaa,,
    jdi kpengenn,, wahh raejin psti syok sma chanyeol,, yaudah thorr bingung mau komen ap lgi,, kepp writing n’ fighting ^_^

  16. Hip hip horeeee
    Akhirnya trnyata chanyeol suka sama raejin jugaaa
    Lagi tu exnya chanyeol pake mutusin chanyeol padahal kayaknya dia gak rela kalo chanyeol sma tu cewek pas d pernikahannya ckckck
    Muna bener

    Btw knap raejin gak bsa kepikiran sapa yg dateng pagi2, pdhal gw aja mkir kalo yg dteng k kontrakannya dia itu yg punya kontrakan dteng mw nagih uang kontrakan yg gak d bayar
    Wkwkwk

  17. INI KEREN BANGETZ SUMPAH BARU CEK LAGI EH TERNYATA UPDATEDDDDDD IM GOING TO READ THE THIRD PART WKWKW

  18. suka bgt sama kata” ini
    “Kalau begitu berapa hargamu untuk seumur hidup?!”
    “Aku sudah membayarmu dengan
    hatiku..”
    sumpah ff nya keren (y)
    good job thor 😀

  19. waaaaah chanyeol mulai suka sama raejin? ga cuma buat ngemanfaatin doang kan? aaaa sudahlah semoga raejin cepet keluar dari bar itu hihi

  20. aku sudah membayar mu dengan hatiku gila kata kata ini bener bener bikin nyengir nyengir sendiri bacanya haha kenapa chanyeol sweet sekaliiiii

  21. Specless sama tindakannya chanyeol… Rahang aku kayak mau jatoh… Sumpah keren bangeeetttt

  22. Jantungku.. Gak baik ini bisa kena serangan jantung*lebay-_-* secara, begini aku ngerasa panas sendiri bacanya, ya ini Chanyeol chan aku gak tahan kalo dia kek gitu ya tuhan

    -_-

  23. cinta yg tumbuh dengan cepat.
    itu mantannya chanyeol cemburu apa gimana? segitunya ih😒
    keren kak ini keren banget 👍
    saya suka saya suka 👏

  24. Pingback: [3rd] One-Night Stand (Dream) – by AngevilBoo | SAY KOREAN FANFICTION·

  25. -M- itu artinya mat** yaa kkkk~
    Aku gak tau yaa ini kecepetan atau enggk tapi aku suka banget ceritanya >< Uggh Chan romantis bangettt.

    Kayaknya Yejin cemburu ya sama Raejin ckckck lagian malah mutusin Chan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s