HUNCH [Chapter 9]—vanillaritrin

1414394516078Author : vanillaritrin | Genre : Romance, Surrealism, Fantasy | Length : Chaptered | Rating : PG – 17 | Main Cast : Go Nahyun (OC/You), Oh Sehun | Support Cast : Kang Yura (OC), Park Chanyeol, Hong Jonghyun, Huang Zitao, and the others | Poster : pinkfairy

Disclaimer : The plot is mine!

Warning : Long chap!

Thank you jungsangneul for beta-ing!

Intro | Ch 1 | Ch 2 | Ch 3 | Ch 4 | Ch 5 | Ch 6 | Ch 7 | Ch 8

~~~

Mata Nahyun berkilat – kilat. Ada kobaran api di dalamnya dan amarah sedang membakar seluruh dirinya.

“Tidak seharusnya aku berada di sini sejak awal.” Nahyun berniat memutar tubuh dan mengemasi barang – barangnya sewaktu Sehun mencengkeram pergelangannya.

Pikiran Nahyun kosong seketika.

“Aku mencintaimu, Na.” Sehun merapalkannya dengan yakin dan dalam hitungan kurang dari sedetik dia sudah memagut bibirnya dengan bibir Nahyun.

Nahyun tidak berkutik lantaran Sehun terus memberi dorongan dalam ciumannya. Kuat dan dalam. Rasa – rasanya Sehun sama sekali tidak memikirkan posisi Nahyun. Dia terlalu sibuk menuntut kepemilikan atas Nahyun tanpa mengacuhkan tungkai Nahyun yang semakin lembek. Jika dia semakin lama mempertahankan ciuman mereka, bisa dipastikan kaki Nahyun akan menjadi agar – agar atau seonggok daging tak bertulang.

Sehun sendiri merasa lega sekaligus marah di saat yang sama sehingga beginilah ciumannya pada Nahyun. Dia tidak pernah menginginkan ciuman dalam emosi seperti ini. Keadaan begitu memaksanya. Jika bukan sekarang dia tahu Nahyun akan pergi dan mungkin tak kembali. Gadis itu sudah terlalu jauh salah memahami semua ini.

Saat dia memberi lumatan – lumatan kecil, tubuh Nahyun kian melengkung dan gadis itu nyaris terjatuh. Sebelum itu terjadi, dia buru – buru menahan pinggang Nahyun. Nahyun belum juga merespons, mungkin terlalu bingung dan terkejut. Lagipula di sini Sehun yang ingin menegaskan bahwa ada sesuatu yang berbeda di antara mereka.

Sehun mendapatkannya. Amarah Nahyun telah mengangkatnya ke permukaan—menyadarkannya bahwa dia tidak ingin Nahyun pergi, bahwa dia tidak ingin kehilangan Nahyun. Rasa iri liarnya semakin menjadi pada Jonghyun yang begitu dekat dengan Nahyun, sudah mengenal Nahyun lebih dulu darinya, dan bagaimana Nahyun tidak keberatan dengan sorot mata Jonghyun yang tulus. Bertambah parah saat Nahyun membela Jonghyun dan Chanyeol, membandingkannya dengan semua anak lelaki—meski dia belum mengetahui alasan sebenarnya. Cara Nahyun mengatakannya setajam pisau yang menusuk perut Sehun. Pisau berkarat.

Mendadak semua kepingan ingatan tersebut bercampur dalam kepalanya dan bermuara pada emosi tak bernama Sehun yang sebelumnya masih diragukannya.

Sehun mencintai Nahyun.

Dan dia baru saja menyatakannya barusan.

Bukan semata – mata untuk menahan Nahyun. Sehun memang menemukan jawaban dari pertanyaan besarnya dalam keadaan ini dan dia ingin Nahyun mengetahuinya. Sudah cukup dia menyangkal selama ini.

Setelah bermenit – menit menyapu permukaan bibir Nahyun, Sehun melepaskan kontak fisik mereka. Perlahan tapi pasti dia melihat pipi Nahyun menampilkan semburat kemerahan. Nahyun tidak menolak namun juga tidak membalas dan Sehun butuh penjelasan mengenai rona merah itu.

“Apa kau tidak tahu betapa aku membelamu selama ini? Tahukah dirimu aku memperlakukanmu begitu istimewa, betapa aku memperjuangkanmu untuk berada di sisiku? Kau membuatku menjadi seseorang yang sangat berbeda dari diriku yang dulu. Kau membuatku memikirkan hal – hal yang tak pernah kupikirkan sebelumnya. Kau membuatku melakukan hal yang berbanding terbalik dengan diriku sampai aku tidak mengenal diriku sendiri, sampai aku bertanya – tanya ke mana diriku yang dulu?”

Kali ini Nahyun yang bungkam.

“Mengapa kau mengatakan aku menganggapmu sama dengan mereka? Mengapa kau berpikir aku hanya mempermainkanmu? Kau tahu apa yang kulakukan pada wanita – wanita itu? Tidak perlu berbulan – bulan untuk meniduri mereka! Hanya perlu lima menit, Go Nahyun! Lima menit untuk mencapai tujuanku! Aku meniduri mereka dengan kasar, semauku, dan aku selalu menjadi yang paling berkuasa. Sedangkan apa yang kulakukan padamu? Aku memintamu tinggal di sini agar kau aman, aku tidak mengizinkanmu keluar sendirian, aku mengantarmu ke kampus, aku berbagi tugas rumah denganmu. Untuk apa itu semua kalau aku memang menganggapmu sebagai pemuas nafsuku saja? Untuk apa aku sepeduli itu padamu? Untuk apa aku mencemaskanmu sewaktu cuaca dingin dan kau belum pulang? Untuk apa aku mulai sering mengikuti kuliah kalau kau tidak ada artinya untukku? Untuk apa aku berubah? Demi siapa aku berubah? Demi siapa, Go Nahyun??”

Tangan Nahyun yang terkulai lemas di samping tubuhnya kini meremas ujung tee putih lengan panjang yang dikenakannya.

“Sebuah perasaan asing menyusup perlahan – lahan, aku tidak tahu kapan tepatnya itu ada dan tumbuh. Itu berubah setingkat demi setingkat setiap hari hingga aku menjadi seseorang yang tidak seperti diriku. Aku tak henti bertanya dalam hati, mengapa kau membuatku seperti ini? Mengapa kau berhasil membuatku bertekuk lutut padamu, menuruti semua perintah dan keinginanmu? Mengapa saat – saat bersamamu membuat waktu berjalan cepat? Mengapa aku selalu menikmati waktu – waktu kita bersama, ketika aku menyentuhmu dan kau berada dalam pelukanku? Mengapa aku senang ketika kau tidak menolakku menciummu? Mengapa aku ingin menjadi seseorang yang baik dan pantas untukmu? Aku sama sekali tidak pernah berpikir aku akan jatuh cinta. Lantas apa yang kau inginkan dariku Go Nahyun? Mengapa kau membuatku semakin gila padamu setiap hari?!”

Sehun mengangkat dagu Nahyun agar gadis itu mau menatapnya namun nihil. Mata gadis itu tertuju pada sudut kamar.

“Inikah yang kau inginkan?” Seiring dengan Sehun mengucapkan kalimat itu, dia menenggerkan tangannya di bahu Nahyun. Sehun mendorong tubuh Nahyun ke belakang hingga kaki Nahyun menabrak pinggir tempat tidur.

Nahyun tidak sempat berpikir jernih saat tangan Sehun memenjarakannya. Tatapannya bertanya pada Nahyun di bawahnya—memastikan apa yang diinginkan gadis itu sebenarnya. Dia melihat Nahyun memelas, pandangannya memohon sambil menggelengkan kepala.

“Tidak, kau sedang emosi… tidak sekarang…”

Nahyun merintih sewaktu Sehun mulai membuka kancing ketiga tee-nya.

“Jangan sakiti aku, kumohon…”

Begitu mendengar kata yang paling dihindari Sehun di dunia ini, Sehun berhenti. Setengah hati dia beranjak dari atas tubuh Nahyun dengan geraman kecil.

“Maafkan aku.”

Nahyun melihat Sehun mengacak rambut dan mengusap wajahnya. Dia pasti sedang mati – matian melawan nafsunya. Mungkin Nahyun harus tidur di luar malam ini agar Sehun tidak tergoda untuk menyentuhnya.

Sehun keluar dari kamar untuk meneguk enam gelas penuh air putih. Konsentrasinya sudah pecah sedari tadi. Dia sama sekali tidak berniat menyakiti Nahyun, dia hanya ingin tahu apa yang diinginkan Nahyun sebenarnya.

Sehun menemukan Nahyun terduduk di ranjang dengan wajah terbenam di antara lutut. Mungkin kalau dia bisa menangis, Nahyun akan menangis sepanjang malam. Namun gadis itu terlalu kuat untuk bisa melakukan semua itu.

“Na, maafkan aku…,” Sehun duduk di tepi ranjang, “aku sama sekali tidak ingin melukaimu, sungguh.”

Karena Nahyun bergeming, Sehun merasa gadis itu butuh waktu sendirian. Sehun mengecup puncak kepala Nahyun dan mati – matian melawan hasrat untuk menyentuhnya lebih dalam.

“Selamat malam, Na.”

~~~

Setumpuk kertas yang dijilid rapi diletakkan di atas meja. Satu alis Sehun terangkat sambil menelusuri bentuk tangan yang membawa benda tersebut. Pandangannya semakin naik hingga akhirnya bertemu wajah Hongbin.

“Hai.” Hongbin mengangkat tangan di udara kosong.

Kerutan samar tertera di kening Sehun.

“Susah payah aku membuat ini.” Hongbin menarik kursi di depan Sehun. Mereka berada di kedai kopi langganan Hongbin di Hongdae lantaran Hongbin mengajak Sehun bertemu.

Sesudah kejadian malam itu sebisa mungkin Sehun menghindari bar sebagai tempat pertemuan. Dia lebih senang duduk santai di pastery, restoran atau kedai kopi kecil agar lebih dapat menangkap maksud pertemuan mereka tanpa terkena alkohol.

Atau Nahyun akan marah lagi padanya.

“Ah, aku tidak berniat megomentarinya. Itu pasti artikel yang harus kau berikan untuk penerbitan majalah tiga hari lagi.” Sehun mengalihkan tatapan keluar jendela.

Tsk! Ini sengaja kubuat untukmu!” Hongbin mencibir. “Kalau tidak mau, aku akan membawanya pulang kembali.”

Sehun buru – buru menoleh. “Eh, jangan! Kukira itu bagian dari pekerjaanmu.”

Hongbin memutar bola mata. Dia meluncurkan tumpukan kertas tersebut ke arah Sehun. Tiga bundel file dalam amplop tertutup menggugah rasa penasaran Sehun.

“Aku melakukan riset—sebut saja begitu—tentang kasus – kasus pengecualian yang kau tanyakan.” Hongbin berkata saat Sehun membuka bundel pertama.

Choi Saeron (29 tahun), Jeju, Korea Selatan.

Melihat proses eksekusi secara tidak sengaja namun tidak mengalami gangguan kejiwaan. Saeron menganut aliran tertentu sehingga hukuman itu tidak menimpanya. Konsekuensinya Saeron mengalami waktu – waktu seolah dia dapat melihat masa depan. Terkadang visi itu samar sehingga aliran yang dianutnya tidak dapat memanfaatkan kemampuan barunya. Tertekan, dia bunuh diri tanpa mengetahui bahwa visi tersebut adalah akibat dari kekebalannya terhadap hukum.

“Hanya di Korea?” tanya Sehun sembari mengambil bundel kedua.

“Buka saja.”

Reed Marsden (14 tahun), Philadelphia, Amerika Serikat.

Terlalu banyak ingin tahu serta memercayai hal – hal berbau mistik dan fantasi. Reed mencari perwujudan sosok malaikat di saat yang tidak tepat. Setelah melihat sendiri proses eksekusi temannya, Reed semakin mengusut keberadaan malaikat di sekitarnya. Reed diundang bertemu dengan Aegis. Aegis mengelabuinya dengan cerita adanya seorang putera mahkota yang akan menggantikan tahtanya.

Sehun mendesis tanpa melepas pandang dari kertas. “Sejak kapan ada yang akan menggantikan tahta trio penguasa? Putera mahkota? Tipu muslihat macam apa ini?”

“Seperti yang kau katakan, tidak ada yang akan menggantikan tahta mereka. Itu hanya iming – iming, pada akhirnya Marsden menjadi santap sore mereka,” jawab Hongbin dengan wajah setenang air tak beriak.

“Apa mereka sekejam itu? Santap sore apa?” Sehun berhenti membolak – balik riwayat orang kedua. Matanya berada dalam garis lurus tanpa sekat dengan Hongbin.

“Marsden akhirnya dieksekusi. Bisa dikatakan dia menumbalkan dirinya di sana, ugh.” Hongbin mengernyitkan hidung.

Sehun membuka bundel ketiga. Matanya menyusuri setiap baris dengan cepat.

Clarissa Spanic (24 tahun), Venezuela, Amerika Selatan.

Tidak sengaja melihat proses eksekusi kemudian jatuh cinta pada salah satu malaikat. Lantaran sudah mengetahui identitas kekasihnya, dia mengajukan diri untuk menjadi malaikat.

“Apa ini?” Alis Sehun berkedut tak suka.

Hongbin merilekskan punggung pada sandaran kursi. “Dia naik kasta. Walaupun dalam hal ini kekasih Spanic juga mengajukan diri, kasusnya berbeda. Spanic hanya sebagai pancingan yang pada akhirnya membuat kekasihnya menderita juga.”

“Tidak ada jalan lain?” Sehun melejitkan sebelah alis.

Hongbin mengitari pandangan ke sekeliling kedai.

“Tidak banyak yang dapat terhindar dari hukuman kita, Sehun-a. Tadinya bahkan kukira hanya satu dan kasus yang paling mirip denganmu adalah milik Spanic. Mereka terikat dengan peraturan tidak bisa sembarang mengeksekusi orang, maka mereka mencari jalan lain untuk mengakali peraturan tersebut.”

“Mengapa hanya Spanic yang ditawarkan?” Sehun semakin tak mengerti.

Hongbin menjawab sepelan mungkin dengan pemenggalan yang jelas, “Karena Spanic mengetahui siapa kekasihnya sebenarnya.”

Jantung Sehun berhenti berdegup beberapa detik.

“Mereka semua mempunyai benang merah yang sama untuk kebal dari hukuman,” Hongbin menatap Sehun intens—masih dengan posisi duduk yang santai, “Marsden tunarungu, Choi Saeron autis, dan Spanic buta warna.”

Sehun mengunci rapat bibirnya. Dagunya mengeras.

“Karena itu, sekalipun Spanic menjadi malaikat dia tidak akan sempurna. Dia memiliki kekurangan dan itu tak akan berhasil. Pada akhirnya dia akan menyerah,” tambah Hongbin waswas.

“Simpanlah, Seolhyun akan segera sampai.” Hongbin membantu Sehun membereskan tumpukan file-nya ke kursi sebelah Sehun.

“Lalu kelak orang – orang ini akan dieksekusi oleh kita?” Suara Sehun bergetar.

Tangan Hongbin berhenti di udara beberapa detik.

“Seolhyun mengeksekusi left hander kapan hari.” Sehun menjejalkan seluruh bundel ke dalam amplop sewaktu matanya menangkap figur Seolhyun di pintu kedai.

Hongbin ingin sekarang juga ada yang menamparnya atau memukul kepalanya mendengar hal tersebut.

“Kecuali Spanic, barangkali. Lantaran dia sudah menjadi seperti kita. Mungkin Aegis langsung yang mengeksekusinya.” Satu sudut bibir Sehun tertarik begitu beradu pandang dengan Seolhyun. Gadis itu berpenampilan chic seperti biasa. Dia memakai rok biru sampai setengah paha dan kaus hitam lengan panjang.

Tiba – tiba dia teringat Nahyun. Ah, dia harus melihat Nahyun seperti ini sekali – sekali. Gadis itu terlalu sering memakai kaus longgar dan celana pendek sebokong. Well, bukan Sehun tidak tertarik tapi dia ingin melihat Nahyun memakai gaun atau dress sesekali. Sehun juga belum pernah mengajaknya ke pesta.

“Kurasa mereka sudah terlalu jauh.”

Sehun menelengkan kepala ke arah Hongbin dan tepat di saat yang sama Seolhyun menarik kursi di sebelah Hongbin.

Wow, apa itu?” Amplop cokelat di sebelah Sehun langsung menarik perhatian Seolhyun. Sehun melirik Hongbin yang masih termenung dengan pandangan hampa. Entah apa yang dilihatnya jauh di dalam pikirannya.

“Artikel untuk penerbitan majalah minggu depan.” Sehun menepuk – nepuk amplopnya tanpa ekspresi mencurigakan.

“Oh, aku lupa! Deadline-nya sebentar lagi! Aku harus cepat mengetik artikel juga!” Seolhyun memegangi kepalanya yang mendadak pusing dengan deretan deadline.

Alis Sehun menyatu. “Kau juga jurnalis, eh?”

Seolhyun tertawa kaku. Dia merogoh tas minimalisnya kemudian mengeluarkan ID Card dari sebuah majalah kenamaan Korea—tempat Hongbin juga bekerja.

“Ada berita baru?” tanya Seolhyun sambil menyeruput espresso Hongbin. Dia memandangi kedua pria itu bergantian.

Kesadaran Hongbin sudah pulih. Senyuman simpul melekat di bibirnya. Entah apa yang didapatkannya.

“Kau mengeksekusi seorang left hander?” Hongbin bertanya dengan mimik ‘santai-saja’ pada Seolhyun.

Seolhyun mengangguk kecil.

Well,” Hongbin mencuri pandang hati – hati pada Sehun, “mungkin ini karena kita belum mengetahui peraturannya dengan jelas. Sejak kapan kita mengeksekusi orang yang memiliki kekurangan?”

Wajah Sehun menegang. Hongbin sangat memahami kekhawatiran yang tercermin pada air muka Sehun.

“Kita memang mengeksekusi orang yang memiliki kekurangan.” Seolhyun meneguk habis espresso Hongbin tanpa bersalah.

Tubuh Sehun kaku seketika. Tatapan Hongbin berkelebat pada Seolhyun.

“Kalian tidak tahu? Uhm, sebenarnya aku juga tidak sengaja mencuri dengar pembicaraan Darien waktu itu.” Seolhyun memandang Hongbin dan Sehun hati – hati.

Hongbin tercengang beberapa jenak. Sehun belum membawa kembali kesadarannya, dia terlalu bingung dan Hongbin harus menanggapi Seolhyun sebelum dirinya juga terlarut dalam pikiran sendiri.

“Apalagi yang kau ketahui?” Nada Hongbin berubah menjadi seperti menginvestigasi.

Mata Seolhyun tertuju pada Sehun yang sedang melempar tatapan tajam ke luar jendela. Bibirnya mengatup, membentuk garis keras. Sehun kelihatannya tidak terlalu menaruh perhatian pada pembicaraan Hongbin dan dirinya. Seolhyun bertukar pandang dengan Hongbin—menuntut penjelasan mengenai diamnya Sehun namun Hongbin kian menanti jawabannya.

“Mereka disebut Teneke. Selama ini bukan kita yang ditugaskan mengeksekusi mereka karena mereka bukan bagian kita. Mental kita dianggap kurang matang untuk berani mengeksekusi mereka. Teneke seringkali memunculkan kemanusiaan kita ketika mengeksekusi,” papar Seolhyun.

Hongbin yang sedang menopang dagu tiba – tiba mengangkat tangan. “Memunculkan kemanusiaan?”

Sebuah anggukan datang dari Seolhyun. “Itu mungkin saja terjadi karena pada dasarnya kita manusia. Kita masih lemah jadi bagian kita adalah Lance.”

Tangan Sehun terkulai lemas. Dengan perasaan mual, dia menggelengkan kepala. Aliran darah menderas di belakang telinganya dan dia masih sibuk memilah untuk mendapatkan maksud Seolhyun—yang masih belum dapat dicernanya dengan baik.

“Sehun-a, kau baik – baik saja?” tanya Seolhyun yang masih bingung dengan keadaan Sehun.

Hongbin berinisiatif memesan tiga gelas orange juice untuk menyegarkan pikiran mereka lagi. Mengapa selama ini dia bodoh sekali tidak mengetahui itu? Dia yang paling lama menjadi malaikat di antara ketiganya tapi Seolhyun yang mengetahuinya lebih dulu.

Yeah, Seolhyun memang cerdas. Dan dia malaikat kesayangan Darien. Mungkin Darien membocorkan beberapa informasi lain padanya.

Hongbin kembali ke tempat duduk dengan kondisi Sehun masih sama. Dia mengamati air muka Seolhyun yang masam dan merasa situasi sedang tidak baik.

“Aku…,” Seolhyun angkat bicara. Ludahnya terasa amat pahit sebab Sehun masih tak menghiraukannya, “Sudah beberapa malam ini tidak mendapat tugas.”

Hal itu menggugah perhatian Sehun dan Hongbin. Keduanya bahkan dapat melubangi wajah Seolhyun dengan tatapan laser mereka.

“Kupikir mungkin…,” Seolhyun menggantungkan nadanya ragu.

“Tidak, kau kesayangan Darien. Tidak mungkin. Mungkin kau sedang diberi waktu istirahat,” Hongbin tertawa garing, “hei, kalau aku jadi kau aku pasti sudah berpesta di tepi pantai! Aku akan merayakan kebebastugasanku sementara waktu, bersenang – senang, dan woohoo! Kau bisa melakukan banyak hal!”

“Sejak kapan?” sergah Sehun. Dia mengubah posisi dari duduk santai menjadi duduk tegak.

“Kurang lebih seminggu,” desah Seolhyun, “mungkin ini karena aku sempat memikirkan untuk… berhenti.”

Hongbin menyeringai. Dia bisa langsung menebak alasan Seolhyun menginginkan itu.

“Kalian belum menyelesaikan urusan sewaktu di bar? Baiklah sekarang akan kutinggal—“

“Sehun-a, pulanglah. Nahyun pasti menunggumu.” Seolhyun mendahului. Dia tidak berani mempertemukan matanya langsung dengan Sehun atau Hongbin.

Sehun tak dapat menyembunyikan keterkejutannya. “Dari mana kau tahu Nahyun?”

Hongbin turut menatap Seolhyun bingung.

Seolhyun tersenyum pedih. “Sepanjang jalan saat kau mabuk, kau menyebut namanya. Dia juga yang membukakan pintu rumahmu dan kau langsung memeluknya…”

Hongbin begitu takjub. Dia tak menyangka seperti itulah akhirnya ketika dia meninggalkan Seolhyun dan Sehun untuk bicara. Ah, tidak lagi untuk lain kali.

“Sampaikan maafku padanya. Mungkin dia mengira yang tidak – tidak… maafkan aku.” Seolhyun menjatuhkan wajahnya hingga sebagian rambut depan menutupi wajah jelitanya.

Sehun berhasil mencocokkan puzzle mengenai kemarahan Nahyun tempo hari.

“Jangan dipikirkan, Seolhyun-a. Akan kujelaskan padanya nanti. Jangan sedih begitu, okay?” Sehun mengacak rambut Seolhyun—menguatkan.

Hongbin masih terlalu tercengang dengan apa yang baru saja terjadi. Dia tak dapat mencernanya dengan mudah sampai Sehun berpamitan—meninggalkan dirinya dan Seolhyun di kedai kopi.

~~~

“Ceritakan mengenai Kim Seolhyun.” Nahyun berkata sesudah menghirup udara banyak – banyak, memasukkannya ke dalam paru – paru.

Sehun meliriknya lewat spion dalam kemudian fokusnya kembali pada jalan raya.

“Kau pilih Myeongdong atau Itaewon? Kita akan ke salah satu tempat itu sekarang.”

“Ceritakan mengenai Kim Seolhyun.” Nahyun tak mudah dialihkan dalam hal – hal seperti ini. Jangan pernah remehkan dia!

Sehun membuang napas lewat mulut. “Myeongdong atau Itaewon. Aku akan jawab sesudahmu.”

Tatapan tajam Nahyun begitu menusuk namun Sehun bergeming.

“Aku mau minum soju di pinggir jalan. Tidak mau ke tempat lain hari ini.” Nahyun merengut.

Sehun berdehem kecil. “Well, kalau begitu aku tak akan menceritakannya.”

“Oh Sehun!”

Nahyun melepas seat belt sesaat setelahnya. Sehun buru – buru mencegahnya sebelum dia benar – benar melompat dari mobil.

“Na!!! Aku akan mengatakannya, okay? Jangan gila!” Sehun menjadikan tangannya sebagai sabuk pengaman Nahyun. Dia menepikan mobilnya lalu mengatur napas beberapa menit setelah jantungnya dipompa tadi.

Sehun berencana membelikan perlengkapan wanita dan tas pergi untuk Nahyun. Namun rasa – rasanya Nahyun belum menerima permintaan maafnya. Oh, dia bahkan belum minta maaf atas tindakannya waktu itu.

“Maafkan aku.” Sehun merengkuh wajah Nahyun dan menyelami bola mata Nahyun yang selalu jernih.

Hanya sebuah sentuhan. Namun sentuhan itu menimbulkan getaran yang merambat sampai ke tulang belakang Nahyun dan dia tak henti merasa perutnya diaduk – aduk.

“Aku tidak pernah meniduri wanita mana pun sejak kau tinggal denganku. Hari itu aku diundang Seolhyun ke bar dan awalnya kami bertiga. Hongbin pulang lebih dulu,” jelasnya yakin.

Nahyun menelusuri jejak kejujuran dalam iris mata Sehun.

“Aku tak pernah ke bar lagi, hari itu pertama kali sejak kau tinggal denganku. Aku mabuk dan—,” Sehun terhenti ketika mengingat bagian Seolhyun mengeksekusi seseorang yang memiliki kekurangan, “—kami membicarakan banyak hal. Tentang masa kecil kami dan banyak lagi.”

“Aku ingin mendengar ‘banyak lagi’-mu.” Nahyun bersikeras.

Sehun menjawab dengan sebuah kecupan singkat di bibir Nahyun—memastikan pipi Nahyun menampilkan semburat kemerahan sekali lagi.

Kini Sehun melipat tangannya di belakang kepala—menjadikannya sandaran. Dia mencermati tingginya gedung – gedung pencakar langit, layar – layar yang terpampang di sana, dan mobil – mobil yang melaju melalui mereka.

“Oh Sehun.”

“Kenapa kau selalu menarik, sih?” tanya Sehun tiba – tiba dan to the point.

Nahyun mengerling. “Rayuanmu tidak mempan.”

“Siapa bilang aku merayu? Kau tahu kenapa aku menciummu barusan?” protes Sehun tak terima.

Nahyun merasakan pipinya memanas. Oh, ini gawat. Dia harus mengganti topik!

“Kau-kau mengalihkan pembicaraan! Siapa Seolhyun? Siapa juga Hongbin? Kau bilang teman – temanmu di luar kota dan luar negeri. Apa mereka sudah kembali?” semprot Nahyun gugup. Rasa – rasanya dia sudah tidak seketus sebelum Sehun menciumnya.

“Lagipula kenapa selalu menciumku tiba – tiba?!”

“Hei, hei. Kalau aku minta izin memang kau mengizinkannya?” Sehun menampik.

Ah, Nahyun pasti kalah telak. Bibir bawah Nahyun sedikit maju dengan ekspresi keras kepala dan itu pertama kalinya Sehun melihatnya kekanakan. Dia pasti sangat malu.

“Seolhyun temanku sejak kecil,” Sehun mengawali dengan nada mendongeng, “kau pasti mengantuk setelah ini. Kujamin.”

“Kalau begitu kita bisa pulang.” Nahyun menawarkan opsi yang menggiurkan. Sehun sendiri cukup lelah dengan semua beban pikirannya. Apalagi sesudah bertemu Seolhyun dan Hongbin.

Tapi dia memiliki rencana lain dan tak ingin menggagalkannya begitu saja.

“Jullie temanku sejak kecil. Aku mengenalnya ketika mengambil pilihan untuk menjadi malaikat pencabut nyawa. Aku mengenalnya di dimensi sana dan kami menjadi dekat dalam waktu singkat. Saat itu kami masih sangat muda, mungkin yang termuda di antara para malaikat. Lalu Ruiz atau Hongbin bergabung dan dialah satu – satunya di antara kami yang dipilih.” Sehun memulai. Dia merentangkan satu lengan di belakang kepala Nahyun.

Nahyun menyandarkan kepalanya di tangan Sehun.

“Lama kelamaan, yeah, kami mulai mengerti bahwa ‘malaikat’ di sini bukan malaikat dalam arti baik. Maksudku, kau pernah mendengar mitologi dewa – dewa Yunani, ‘kan? Arti dewa di sana baik namun apa yang terjadi pada dewa api? Dia kejam, bukan? Jadi kupikir ‘malaikat’ hanya sebuah istilah, sama seperti dewa. Makna dewa dikembalikan pada elemen dan tugas mereka, begitupun malaikat di sini.” Sehun menerangkannya dengan santai, di tengah angin musim gugur yang berembus kencang.

Nahyun baru menyadari bahwa dedaunan di sekitar mereka berwarna merah. Musim gugur akan segera berakhir. Daun – daun semakin banyak berjatuhan ke tanah, warna mereka sangatlah indah. Di tengah kekagumannya pada musim gugur yang mendekati penghujung ini, angin yang cukup kencang bertiup dalam pola tertentu—menyebabkan dedaunan merah terpilin dalam jalinan yang sama dengan pola angin terbentuk, dibawa bersamanya kemudian tersapu bersih dari sisi jalanan yang satu kepada yang lain.

Di samping Nahyun, Sehun tak kalah terperangah menyaksikan fenomena ajaib yang hanya berlangsung beberapa detik tadi. Walau begitu, Sehun tetaplah Sehun yang menyimpan dengan baik apa yang hendak diutarakannya.

“Aku pernah mengatakan kalau misiku berhasil akan kuberitahu padamu, ‘kan?” tanya Sehun sembari mengikuti cekungan pipi Nahyun.

Nahyun mengangguk kecil, terlalu hanyut dalam dongeng dan sentuhan hangat Sehun.

“Aku pernah mengencani salah satu gadis kesayangan Darien lalu mencampakannya. Dia seorang Lance, favorit Darien. Dia mengatakan dirinya langsung yang akan mengeksekusi Vanessa—nama gadis itu—jika waktunya tiba dan aku mempercepat proses itu dengan meninggalkannya begitu saja. Misiku berhasil, Na.” Sehun mendaratkan ciuman kecil di bibir Nahyun sekali lagi.

Nahyun memukul bahunya kesal.

Argh! Go Nahyun! Kau mendengarkan tidak, sih?” keluh Sehun sambil meringis pelan. Sebenarnya dia hanya mendramatisir, pukulan Nahyun masih bisa ditolerir dan—hei, dia laki – laki! Dia sangat kuat!

“Aku mendengarkan dan kau menciumku!” Nahyun memukuli dada Sehun berkali – kali.

“Hei, hei! Berhenti dulu—err, Go Nahyun! Tulangku bisa patah! ARGH!” Sehun mengaduh sambil menahan pukulan Nahyun yang bertubi – tubi.

Nahyun belum berhenti menyerang Sehun dengan pukulan. Tapi wajahnya sangat – sangat merona.

“Wajahmu merah, Na. Hei, bercerminlah! Nahyun—aww!”

Nahyun mengakhirinya dengan tinju di perut Sehun.

“Aku harus memeriksa lambungku setelah ini.” Sehun memegangi perutnya yang berdenyut. Suaranya tercekik.

Nahyun mulai dilanda kepanikan. “Ap-apa? Memangnya separah itu?”

“KAU TAHU SEBERAPA SAKIT PUKULANMU? KAU MAKAN APA? KAU BERLATIH TINJU, YA?” raung Sehun tak karuan.

“A-ah, baiklah. Ayo, kita ke dokter.” Kening Nahyun berkerut. Perutnya juga ikut nyeri serta merta.

“Tidak. Usah. Kita. Mau. Ke. Itaewon.” Susah payah Sehun memegang kemudi.

Nahyun mencegah tangan Sehun. “Kau di sini dulu. Aku mau mencari toko untuk membeli obat.”

Sebelum Nahyun membuka pintu, Sehun sudah memeluknya dari belakang.

“Tidak perlu obat, Na. Aku masih bisa menahannya selama kau di sini.”

Nahyun memutar bola mata sebelum berbalik menghadap Sehun.

“KAU SUDAH GILA, YAAA? AKU HAMPIR MATI DI TEMPAT KARENA KAU BILANG LAMBUNGMU SAKIT! JANGAN MERAYUKU! AKU SEDANG TIDAK MOOD DAN—HMPPH!! JANGAN MENCIUMKU LAGI, OH SEHUN!!!”

~~~

Usai membeli perlengkapan wanita dan tas pergi untuk Nahyun, Sehun dan Nahyun pergi makan ddeokpoki dan kimbap. Sesuai permintaan Nahyun, mereka juga minum soju di pinggir jalan. Nahyun menanyakan alasan Sehun membelikan keperluannya secara mendadak dan jawaban Sehun hanya,

“Kita akan berlibur besok. Sudah kuatur jadwalnya. Kau bolos tiga hari, tidak ada bantahan.”

“Sejak kapan kau senang mengatur?” balas Nahyun tak kalah sinis.

“Sejak bertemu orang keras kepala, ketus, dan menyebalkan sepertimu.”

Gelas terakhir soju Nahyun berdenting agak keras. “Oh, aku memang orang ketus yang membuatkanmu sarapan setiap pagi. Aku orang keras kepala yang membangunkanmu agar tidak terlambat kuliah. Aku orang menyebalkan yang membersihkan lukamu dan merawatmu ketika kau kesakitan.”

Sehun tertawa renyah, “Itu caramu membalasku?”

“Kau selalu memancingku marah.” Nahyun geleng – geleng kepala.

Sehun menopang dagu. “Kau tidak mau tahu ke mana kita berlibur?”

Sebuah gelengan menjawab pertanyaan Sehun dengan gamblang. Nahyun mengusap lehernya sekilas dan Sehun mengerti dia mulai kedinginan. Mereka melanjutkan perjalanan ke rumah.

Sepanjang jalan Nahyun menangkap sesuatu yang sedikit janggal pada Sehun. Meski pandangannya tertuju pada jalan raya, pikiran pria itu tak berada di sana. Jiwanya seolah tertarik jauh ke alam lain. Setiap kali dia tersenyum, senyuman itu tak dapat meraih matanya namun Nahyun belum ingin menanyakannya sekarang.

Karena sesi pertanyaan adalah sebelum tidur.

“Kau jahat sekali membuat gadis itu patah hati.” Nahyun memainkan kancing piyama Sehun yang sewarna dengan miliknya. Nahyun membaringkan kepalanya di lengan Sehun dan mereka berada di tempat tidur.

Sehun menempelkan bibirnya di kening Nahyun. “Siapa? Vanessa?”

Nahyun bergeming. Dia masih asyik dengan kancing piyama Sehun.

“Darien sangat menunggu kematian ibuku,” Sehun mendekap Nahyun dari samping, “aku sangat – sangat membencinya.”

Nahyun hendak bergeser sedikit untuk mengintip ekspresi Sehun namun pria itu tak mengizinkannya. Dia mengeratkan pelukannya.

“Seolhyun juga mempunyai dendam tersendiri padanya. Di usia yang masih dini, Seolhyun diundang menjelajah dimensi di mana para malaikat tinggal. Well, seperti ibuku, beberapa orang memang memiliki kemampuan itu dan Seolhyun salah satunya. Dia menyaksikan bagaimana ayahnya… dibakar. Ternyata ayah Seolhyun adalah malaikat maut dan dia mengajukan diri untuk berhenti menjalankan tugas.”

Sehun melonggarkan pelukannya kemudian tangannya beralih mengusap kepala Nahyun dengan lembut.

“Berhenti?” Suara Nahyun seakan tersumbat di tenggorokan, seolah dia tersedak.

Sehun menyelipkan sedikit rambut depan Nahyun ke belakang telinga.

“Orang yang mengambil pilihan untuk menjadi malaikat kematian dapat mengajukan diri untuk berhenti menjalankan tugas, lain halnya dengan orang yang terpilih. Orang yang terpilih mau tidak mau, suka tidak suka, harus menjalankan tugas sampai akhir. Seumur hidup.”

Nahyun selalu serius dan tertarik jika Sehun menceritakan mengenai dunianya pada Nahyun. Dia membaringkan kepala senyaman mungkin di lengan Sehun, dengan aroma napas Sehun yang manis membelai wajahnya.

Well, ini perbedaannya. Aroma napas Sehun manis dan aroma tubuhnya maskulin. Perpaduan sempurna.

Nahyun sesekali memainkan kancing piyama Sehun—yang ternyata piyama mereka sama – sama berwarna babyblue dan dia baru menyadarinya saat Sehun memakainya. Meski begitu, telinganya tetap menangkap suara sekecil apapun yang keluar dari bibir Sehun.

“Ayah Seolhyun memilih, sehingga dia dapat mengajukan diri untuk berhenti dari tugas. Tidak ada malaikat yang berhenti akan hidup dengan baik. Mereka… terbakar bersama dengan pemantik mereka.” Nada Sehun terdengar skeptis namun Nahyun terlalu polos untuk menyadarinya.

“Terbakar?” Mata Nahyun membelalak.

“Bukan terbakar seperti itu. Mmm, teknisnya Aegis akan melempar pemantik malaikat tersebut ke dalam api lalu malaikat tersebut seperti terbakar. Pemantik adalah bagian tak terpisahkan dari malaikat. Kalau kau pernah menonton The Golden Compass, seperti manusia dengan demon-nya. Ketika demon sakit, kau juga akan merasa sakit. Karena itu, tidak perlu menyiksa malaikat. Cukup siksa pemantiknya dan malaikat tersebut akan menderita,” desis Sehun.

Nahyun terhenyak dalam beberapa detik yang sangat lambat. “Kenapa mereka disiksa? Apa malaikat tidak boleh berhenti meski mereka yang memilih jalan itu?”

Kali ini Sehun yang terdiam, memikirkan jawaban lamat – lamat dari pertanyaan kritis Nahyun.

“Jika mereka hidup sebagai manusia seutuhnya, eksistensi malaikat kematian mungkin saja akan terbongkar. Para penguasa tidak dapat mengendalikan hidup manusia dan tidak dapat mengeksekusi sembarang manusia. Mereka tidak ingin mengambil risiko itu sehingga sebenarnya pilihan untuk berhenti sama saja dengan bunuh diri.” Mata Sehun menerawang ke langit – langit kamar.

Nahyun memainkan kancing Sehun lagi. Kentara sekali ketakutan dalam rautnya.

“Itulah sebabnya Seolhyun ingin menjadi malaikat kematian. Dia ingin membalaskan dendam perihal kematian ayahnya pada Darien. Kami memiliki visi yang sama dan itu menambah kedekatan kami. Banyak yang mengira kami lebih dari teman tapi—yeah, nyatanya aku jatuh cinta padamu.”

Nahyun merasakan bibir Sehun di rambutnya.

“Mereka sangat cerdas untuk mengakali peraturan, maksudku mencari celah. Mereka akan melakukan apa saja untuk memertahakankan tahta. Maka aku mencoba cara tersebut, dengan mendekati Vanessa lalu mencampakannya. Itu juga yang dulu dilakukan Darien, membuat ibuku menderita karena dulu ayahku pernah berkencan dengan teman kuliahnya hingga nyaris menikah. Ingatan itu dapat membuat siapa pun sinting dan ibuku melakukan cara terparah untuk mengakhiri hidupnya. Tentu saja keputusan itu disambut baik oleh Aegis.” Sehun berbicara dengan nada sarkastik.

“Sebut saja impas,” tambahnya kemudian.

Sehun menarik dirinya dari Nahyun untuk mengamati perubahan ekspresi gadis itu. Tak banyak yang dapat dilihatnya. Nahyun masih sedikit bingung, takut, namun penasaran.

“Hari ini kau banyak pikiran.” Nahyun menyisir sebagian rambut Sehun ke belakang dengan jarinya. Kemudian dia melarikan jemarinya ke tulang pipi Sehun.

“Ada kesalahan,” desah Sehun, “dan itu mengganggu. Aku kurang memahaminya sampai tuntas sehingga banyak kejutan di saat seperti ini. Banyak sekali yang luput dari pengetahuanku. Banyak kekeliruan.”

“Seperti?”

Sehun mengambil napas seraya memilah beberapa hal dalam benaknya.

“Mungkin tidak semua ceritaku dapat kau percaya. Ada beberapa hal yang ternyata… kurang lengkap. Maksudku, aku salah menafsirkannya karena kurangnya pengetahuan mengenai duniaku sendiri. Jadi… jangan terlalu memasukkan kata – kataku ke pikiranmu, ya.” Sehun berkata pelan.

Nahyun membenarkan piyama Sehun—yang sebenarnya tak ada gunanya. Mereka mau tidur dan piyama akan kusut, itu pasti.

Walau Nahyun yakin kata – kata tersebut mengandung maksud tertentu, dia tetap mengangguk. Dalam hati Nahyun bertekad untuk mengetahui lebih banyak mengenai hal yang mengganggu Sehun ini. Sekalipun itu dari Kim Seolhyun.

~~~

Mimpi adalah ketika kau melambaikan tangan di sepanjang garis pantai, duduk bersama orang yang kau sayangi di jok mobil, dan menikmati setiap terpaan angin di wajahmu. Tak peduli bahkan jika wajahmu tersentak oleh tamparan angin yang membawa helaian rambutmu. Tak peduli ketika mobil yang dikendarai orang yang kau sayangi membelah lautan, melaju melewati batas kewarasan di atas jembatan, berpuluh – puluh mil jauhnya dari kota tempat tinggalmu.

Jika ini mimpi, tolong jangan bangunkan Go Nahyun.

Sampai Sehun membawakan koper mereka ke dalam bungalow, Nahyun masih belum memercayai bahwa mereka sedang berlibur. Yeah, menjauhkan diri dari rutinitas dan hiruk pikuk kota. Menenangkan diri, menjernihkan pikiran dari segala beban yang ditanggung selama ini. Melarikan diri dari kenyataan untuk sementara waktu.

Well, yang terakhir sepertinya mendekati absolut.

Nahyun selalu memimpikan hidup normal dan bahagia, menikah dan punya keluarga. Itu hal yang wajar, bukan? Itu impian semua manusia. Lalu apakah dia telah salah karena mencintai manusia yang dalam keadaan – keadaan tertentu adalah bukan manusia? Bisakah dia memiliki kehidupan seperti itu?

Bisa, pilihannya ada dua. Tetap mencintai orang yang sama atau tidak dengan orang yang sama.

Dia ingin mereka bersatu karena—yeah, Nahyun mencintainya. Dan dia rela melakukan apa pun agar mereka bersama.

Nahyun jadi teringat kisah Bella dan Edward yang melegenda itu. Apakah dia harus mengambil pilihan yang sama dengan Bella? Bukan, tentu bukan mengubah dirinya menjadi vampir.

Mengajukan diri menjadi malaikat maut.

Ya, Sehun pernah mengatakan bahwa seseorang bisa mengambil pilihan itu. Sehun sendiri melakukannya.

“Katamu mau melihat pantai lebih lama.” Suara Sehun mengubur dalam semua pikiran Nahyun. Mereka bisa membicarakan ini nanti. Masih banyak waktu.

Yeah.

Sehun menyelipkan jemarinya di antara celah jemari Nahyun selama menyusuri bibir pantai. Nahyun memeragakan bagaimana dia dan teman – temannya mengejar ombak waktu itu. Sehun mengawasinya seperti sedang memerhatikan bocah tiga tahun yang baru belajar berenang. Padahal dia tidak berenang sama sekali. Dia hanya bermain air.

Sehun tak kunjung bersentuhan dengan air hingga Nahyun melempar segenggam pasir ke arahnya. Pria itu secara refleks memalingkan wajah lalu memberengut melihat Nahyun tertawa dan berlarian di bibir pantai sambil mengangkat tangan. Terlalu bahagia. Berlebihan.

Tapi Sehun menyukainya. Dia belum pernah melihat Nahyun tertawa lepas.

Err… sebenarnya, dia belum pernah melihat Nahyun tertawa. Tersenyum pun tidak.

Nahyun tidak kaku, sama sekali tidak. Dia orang yang sangat perhatian dan peduli ketika kau mengenalnya dan menyayanginya. Dia orang yang sangat baik dan setia, sekali kau masuk ke hatinya. Dia bukan pelit senyum namun sepertinya dia enggan, malas atau memang tidak suka tersenyum. Sehun tidak tahu apakah dia juga begitu dengan teman – temannya tetapi selama dia tinggal dengan Nahyun, belum pernah sekali pun Nahyun tersenyum untuknya—ralat, padanya.

Untuk itulah mereka berada di sini.

Sehun ingin melihat Nahyun ceria karenanya. Dia ingin melihat sisi Nahyun yang lain karena kata orang di luar sana, kau akan mengetahui sifat asli seseorang saat berada di alam bebas. Sehun menyadari suhu udara yang perlahan turun—meski tidak drastis—menjelang awal musim dingin tidak memungkinkan mereka mendaki gunung. Jadi di sinilah mereka, Pantai Haeundae.

Sehun mengejar Nahyun yang sedang menabrakkan diri ke ombak kemudian terempas sedikit dan terbawa riak air yang tersisa. Nahyun tertawa lepas. Seakan semua ikatan beban yang melilitnya lepas, dia bebas, dan dapat menjalani sisa hidup tanpa kegetiran.

Ingatlah Sehun bahwa Nahyun tidak bisa menangis. Wanita terbiasa mengungkapkan kesedihan lewat tangisan. Saat semua sudah tak terbendung lagi, saat semua sudah tak tertahankan lagi mereka akan menangis. Mungkin jika Nahyun bisa menangis, sebagian kepahitan hidupnya akan berkurang. Meski itu tak menghapusnya namun cukup untuk menenangkan hati dan melampiaskan emosinya beberapa saat.

Dan sekarang, saat ini juga Sehun mengetahui maksud tawa Nahyun.

Tidak sepenuhnya tawa bahagia. Ada kepedihan tak terlukiskan yang Nahyun coba ungkapkan di sana. Saat tertawanya lebih memilukan daripada saat dia marah atau saat dia diam atau saat dia memaki Sehun dengan ucapan ‘brengsek’. Diamnya justru merupakan bentuk kekuatannya sedangkan tawanya merupakan bentuk kelemahannya, pada beberapa titik.

Matanya bersinar, kulitnya berkilau di bawah langit siang yang jernih. Tak dipungkiri, Nahyun bahagia. Namun Sehun agaknya sudah memahami gadis yang tinggal dengannya itu. Nahyun sedih namun juga senang. Entahlah, Sehun sulit menjabarkannya.

Nahyun memercikkan air ke arah Sehun. Tidak sepercik-dua percik. Sekaligus banyak dan lama kelamaan semakin banyak volume air yang dicipratkannya.

Sehun menerjang ombak untuk menangkap Nahyun yang semakin ke tengah. Nahyun masih bermain – main dengan menyipratkan air pada Sehun di belakangnya hingga Sehun mendapatkan Nahyun. Dia menyilangkan tangannya di pundak Nahyun sekaligus menahannya agar mereka terbawa ombak.

Dan itu menyenangkan.

Mereka menghabiskan sisa sore di sana sampai matahari terbenam. Seluruh tubuh mereka sudah basah dan mereka kembali ke bungalow dengan handuk melilit di badan. Sehun terlebih dahulu mandi selama Nahyun meringkuk di lantai dekat pemanas.

Pintu berderit terbuka.

Nahyun buru – buru mengalihkan pandangan ke arah lain sebelum diledek habis – habisan oleh Sehun lantaran wajahnya memerah. Dia bisa saja mendebat dengan alasan ‘kenapa kau keluar dari kamar mandi tanpa baju?!’ tapi mana mungkin dia bisa berteriak dengan kondisi Sehun masih belum memakai baju dan hanya menggunakan celana selutut? Ah, dia bisa melakukannya dengan mata terpejam.

Lalu Sehun akan meledeknya sampai dia tidak bisa tidur malam ini.

Yeah, itulah yang akan terjadi.

Jujur saja, dorongan untuk menyentuh kulit Sehun yang terbuka sangat kuat. Dia ingin menyusuri cekungan leher, tulang selangka lalu turun ke dada Sehun. Kemudian menyentuh otot lengannya. Dan mungkin…

Lebih baik tidak dilanjutkan. Atau fantasi Nahyun semakin liar.

Jadi lebih baik Nahyun pura – pura kedinginan dengan meringkuk semakin dalam. Setelah memastikan suara pintu lemari tertutup, perlahan dia meluruskan kakinya.

“Aku baru melihatmu memakai rok.” Sehun berbicara sambil mengelus kausnya—melicinkan lipatan dengan tangannya.

Tampaknya Sehun tidak mengetahui wajah Nahyun yang merah tadi! Buktinya dia biasa saja! Nahyun berhasil!!! (ini nahyun alay sekali wkwk)

Nahyun mengubah posisi menjadi duduk dan membetulkan handuknya. Dia memerhatikan rok hitam pendek yang mengembang berbahan katun yang dikenakannya. Rok yang Sehun pilihkan untuknya saat kemarin berbelanja di Itaewon. Dia memadukannya dengan kaus dan sepatu sneakers putih saat menuju tempat ini.

“Bahannya nyaman dan bisa dipakai untuk santai. Kukira rok hanya untuk acara formal tapi kau membuka pikiranku dengan ini. Terima kasih… , Hun.” Nada Nahyun malu – malu di bagian akhir. Dia beranjak dan hendak masuk ke kamar mandi.

“Cantik, Na. Aku suka melihatmu memakai rok.” Sehun berkata enteng, seperti dia sedang bicara mengenai macetnya ibukota. Dalam ucapannya seolah terkandung makna ‘sudah biasa’.

“Kalau bukan kau yang membelikannya, aku tidak akan memakai rok selain rok sekolah.” Nahyun ikut berkata ringan setelah itu menghilang di balik pintu kamar mandi.

Yeah, memang selalu begitu. Mereka bisa menjadi sangat manis tapi juga bisa menjadi tak acuh dan bertengkar di saat yang lain. Seperti tadi, Sehun berniat memuji dan Nahyun menanggapi seadanya. Begitulah mereka.

~~~

Ekspresi Hongbin masih sama seperti tadi, seolah Seolhyun tak mengatakan apapun sebelumnya. Hongbin menyeret kursi kerja ke samping Seolhyun—yang sedang mencicil artikel di depan komputer. Hongbin baru saja mendapat penjelasan mengenai apa yang terjadi setelah dia meninggalkan Seolhyun dan Sehun di bar kapan hari dan tatapannya langsung mengeras, seakan dia tak melihat Seolhyun.

“Belum pulang, Seolhyun-a?” sapa seorang wanita yang kira – kira berusia akhir dua puluhan. Dia memandang Hongbin bingung karena kursi pria itu tidak seharusnya di sebelah Seolhyun.

“Belum, Eonni. Aku ingin menyelesaikan artikel malam ini.” Gurat senyum terukir di bibir indah Seolhyun sewaktu wanita itu menyampirkan tali tas ke bahunya.

Wanita itu bergegas sesaat sesudah berpamitan pada Seolhyun. Hongbin yang masih menjadi patung tak dihiraukan lagi oleh Seolhyun. Seolhyun hanya sempat menggeleng sekilas kemudian melanjutkan artikelnya.

Kepala Hongbin tersentak dan itu melegakan Seolhyun.

“Karena itu kau sempat ingin berhenti, ‘kan?” tanya Hongbin tepat sasaran. Matanya menyorot tajam Seolhyun.

Seolhyun menekan tombol turn off pada komputer sesudah menyimpan file dan menyalinnya ke flash disk. Dia tahu, sangat tahu ke mana arah pembicaraan Hongbin. Sedikit heran, tiba – tiba Hongbin mendatangi mejanya dan mengajaknya bicara menjelang pulang, bukan memintanya bertemu di kedai kopi saja.

Seolhyun mengambil tas selempangnya kemudian berjalan keluar ruang kerja. Menghindar dari pertanyaan Hongbin sepertinya jauh lebih baik. Selain itu, Hongbin juga pasti sudah mengetahui jawabannya. Pria itu hanya ingin mendapat penegasan dan rasa – rasanya itu tidak perlu.

“Kau mau bunuh diri.”

Seolhyun berdiri di depan lift setelah menekan tombol bergambar anak panah ke bawah. Dia melipat tangan di dada tanpa memedulikan Hongbin yang sudah menempati posisi di sampingnya dengan berdiri tegak dan ucapan pria itu sebelumnya.

“Kau sangat mengetahui artinya, Seol. Kau ingin mati.” Hongbin berdesis di telinga Seolhyun. Seolhyun memerhatikan keberadaan lift yang sedang naik menuju lantai lima.

Hongbin tak ingin macam – macam selama di lift lantaran CCTV mengawasi mereka dengan intens. Dia menarik pergelangan Seolhyun sesudah mereka keluar dari gedung dan membawanya ke kedai ramyeon terdekat.

“Kau sudah bertemu gadis itu. Hah, akhirnya aku harus mengatakannya dengan lidahku sendiri,” Hongbin menghirup udara banyak – banyak, “Sehun jatuh cinta pada Nahyun.”

Dua porsi ramyeon hadir masing – masing di hadapan Hongbin dan Seolhyun. Seolhyun masih tak bersuara, dia melahap ramyeon sedikit demi sedikit ketika bibi penjaga kedai pergi dari meja mereka.

“Kau pasti belum menyatakan perasaanmu.” Hongbin menyumpit makanannya yang masih mengeluarkan uap panas sambil meniupnya.

Mata Seolhyun menerawang jauh, suaranya hampa. “Dia mencintai gadis itu.”

Hongbin menatap Seolhyun lembut, namun iba. “Itu yang kukatakan tadi.”

“Dia bahkan tak perlu mengucapkannya,” sambung Seolhyun cepat, “dia tak perlu menjelaskan apa pun padaku dan aku tidak butuh penjelasan apa pun. Sikapnya sudah membuatku mengerti.”

Hongbin menyikat makanannya tanpa menggubris Seolhyun. Dia menyeruput kuah ramyeon hingga seperti tak pernah ada makanan di sana kemudian mengambil jeda untuk bernapas.

“Aku ingin membuat keadaan lebih mudah malam itu. Aku memberi kalian—memberimu—kesempatan untuk mengungkapkan hal – hal yang belum kalian ketahui satu sama lain. Kukira Sehun akan menceritakan gadis itu dan kau akan menyatakan perasaanmu. Tapi kacau balau. Aku malah membuatmu tersiksa,” keluh Hongbin pada diri sendiri.

Seolhyun menyelipkan tawa kecut di sela – sela makan.

“Maaf.” Hongbin mengerucutkan bibirnya, matanya enggan berserobok dengan Seolhyun.

Seolhyun menghabiskan ramyeon lebih cepat dari dugaan Hongbin—atau dia memang menyengajakannya, entahlah.

“Untuk apa?” Tawa Seolhyun berkumandang letih. “Aku bersyukur telah mengetahuinya. Perasaanku sudah melewati batas – batas kewajaran dan aku sudah mencintai orang yang salah selama ini. Tak pernah selama ini aku melihatnya mabuk menyebut nama seorang gadis dan malam itu, detik itu nyatanya mengubah seluruh hidupku.”

“Tidak ada yang salah dalam cinta.” Hongbin menyanggah keras.

“Kecuali cintaku padanya.”

Hongbin menarik napas kesal.

“Kau bertemu dengannya lebih dulu, jauh sebelum dia mengenal gadis itu. Banyak yang mengira kalian berkencan—desas – desus menyebar begitu cepat—dan aku termasuk yang memercayai hal itu, pada awalnya. Kukira lambat laun perasaan Sehun akan berubah dan dia akan membalasmu seiring dengan pertambahan usia. Aku membiarkan waktu menyadarkannya. Jika saat ini dia mencintai orang lain, lantas apakah itu salahmu? Apa kau mengetahui dia akan jatuh cinta pada seorang gadis di usia ini? Kalau pun kau mengetahuinya, apakah melunturkan perasaanmu semudah itu?”

Bibir Seolhyun membentuk garis keras. Argumennya terlalu lemah untuk membantah Hongbin.

“Dan kau pikir berhenti bisa memudahkan segalanya?” imbuh Hongbin dengan nada meninggi.

“Tentu!” bentak Seolhyun frustasi. “Sejak kapan kau mengetahui ini? Kenapa kau tidak langsung memberitahuku? Aku tidak perlu mempermalukan diriku dengan pura – pura mabuk berat di depannya waktu itu! Aku tidak perlu mengantarnya ke rumah dan melihat gadis itu berdiri di balik pintunya! Aku tidak perlu melihatnya memeluk gadis itu, merintih bahkan di saat dia sudah berada di pelukan gadis itu, menggumamkan namanya, mencium lehernya!! Aku tidak perlu melihat semua itu!!”

Beberapa pengunjung tampak terganggu. Mereka menatap Seolhyun dan Hongbin tajam hingga Hongbin menunduk meminta maaf.

“Akankah lebih baik jika aku yang memberitahumu? Ini masalahmu dengannya. Apa hakku mencampuri urusan kalian, mendahuluinya? Dia pasti akan memberitahumu mengenai gadis itu. Mungkin dia sedang menimbang – nimbang kapan dan dalam momen apa bisa memberitahumu.” Suara Hongbin melembut.

Seolhyun merasakan kepedihan itu naik ke permukaan, melilitnya perlahan. Hongbin sedang mencari kata – kata untuknya agar tidak terlalu menyakitkan, meski rasanya pasti begitu. Seberapa halus pun Hongbin mencoba, dia akan tetap mengiris hati Seolhyun.

Air mata melesak keluar dari rongga mata Seolhyun. Tetesannya menderas, bagai anak sungai kecil di pelupuk matanya.

“Aku merasa rendah sekali. Aku sungguh merasa rendah dan idiot sekali. Seandainya bumi ini mau menelanku hidup – hidup. Aku sangat malu…,” Seolhyun membiarkan air matanya membasahi permukaan meja.

Hongbin merasa buruk seketika. Dia sudah mendengar bagian itu, bagian di mana Seolhyun setengah mabuk dan mencoba merayu Sehun. Seolhyun mengakuinya seperti sedang melakukan pengampunan dosa sewaktu di kedai kopi. Dia berlutut dan memohon agar Hongbin tidak jijik padanya. Oh, yang benar saja. Semua orang pernah berpikir kotor dan licik.

“Setelah mengetahui semua ini apakah kau masih berharap lebih?” tanya Hongbin ragu.

Seolhyun menghapus sisa air matanya sesudah cukup lama menangis.

“Sejak dulu dia tidak pernah menganggapku lebih dari teman. Aku hanya… heran. Dia tidak tertarik padaku padahal kami berteman sangat lama. Hubungan kami takkan pernah lebih dari itu, takkan berhasil meski aku menggunakan cara paling kotor. Aku tidak mengerti dengan seleranya—bukan berarti gadis itu tidak cantik, tapi aku tidak mengerti mengapa dia tidak pernah melihatku sementara aku terbiasa dengan semua pria yang memandangku penuh keingintahuan. Kau dan Sehun tidak pernah begitu. Aku menganggap kalian sebagai dua orang paling tulus yang pernah kukenal namun perasaanku pada Sehun tak dapat kutepis begitu saja.”

Hongbin mengangguk paham, rautnya penuh kengerian seolah pernah merasakan yang lebih dari itu. “Aku mengerti perasaan macam itu.”

“Apa saja yang dikatakannya padamu?” Seolhyun mengerjap ragu sekaligus penasaran.

Hongbin tidak tahu harus menjelaskannya dari mana. Tidak mungkin dia menceritakan semua yang Sehun katakan mengenai Nahyun karena Seolhyun akan semakin terluka. Tidak mungkin dia memberitahu Nahyun sebenarnya adalah Teneke. Terlalu banyak hal yang harus ditutupinya sampai dia bingung bagian mana yang harus diceritakan.

“Semakin banyak yang kuketahui, semakin kuat alasanku untuk mengenyahkan perasaan ini.” Seolhyun meyakinkan.

“Ini akan membuatmu menangis semalaman.”

“Berbulan – bulan, aku yakin.”

“Dan kau akan melakukan hal gila. Oh, lupakan saja. Aku tidak akan mendahuluinya. Kalian harus membicarakan ini sendiri dan sebaiknya kau nyatakan perasaanmu. Dia perlu mengetahuinya dari mulutmu sendiri.”

“Aku tidak akan mengatakannya.”

“Sudah kuduga. Lupakan saja.”

“Lee Hongbin!” Seolhyun setengah berteriak. “Baiklah, katakan padaku saat aku memintanya lagi. Aku akan menenangkan diri untuk tidak berpikir aneh – aneh. Saat itu kau harus menceritakannya padaku, yang perlu kuketahui darimu saja. Sisanya… seharusnya dia akan menceritakannya langsung padaku. Aku akan menunggunya.”

~~~

Sehun terbangun dengan Nahyun bersandar di lengan kiri, sedangkan lengan kanan memeluk Nahyun dari samping. Dia berusaha menjernihkan mata sambil menyesuaikan cahaya yang menyusup dari jendela. Hangat, namun tak sebanding dengan kehangatan gadis yang tidur di sebelahnya. Kehangatannya menjalar ke setiap sel sarafnya, begitu membekas sekalipun dia sudah membersihkan diri dan berganti pakaian lain.

Berada di pantai memang membuat orang lupa waktu. Nahyun biasanya bangun lebih pagi darinya tapi karena mereka bermain di tepi pantai sampai malam, gadis itu kelelahan. Mereka memesan makanan laut untuk makan malam. Sehun yang sedang menyesap Latte di tangannya terkekeh, tiba – tiba teringat sewaktu mereka berbelanja dan Nahyun menumpahkan isi rak ke trolinya.

Well, waktu berlalu cepat.

Sehun keluar dari bungalow dan melangkah ke teras. Dia mencermati deburan air di bibir pantai serta sapuan ombak di pasir putih. Pantai ini begitu murni dan jernih—mengingatkannya pada Nahyun. Nahyun selalu begitu di matanya; bening, murni, suci.

Hell, berlawanan dengan dirinya.

Dia kotor, picik, bengis, jahat. Apa dia sanggup bersanding dengan Nahyun? Pantaskah dirinya?

Sebenarnya ada beberapa opsi yang Sehun pertimbangkan. Dia akan meminta bantuan Seolhyun dan Hongbin untuk mencari informasi jalan lain yang bisa ditempuhnya agar keluar dari benang kusut ini. Benang kusut yang sangat tiba – tiba.

Ini salahnya. Salahnya tidak sepintar Seolhyun. Salahnya tidak mencari tahu banyak tentang pilihan yang ditempuhnya selama hampir sepuluh tahun. Dia begitu ceroboh dan terlalu muda saat itu. Terlalu dungu. Hah.

“Hun…,” panggil seseorang lirih. Suaranya serak, khas orang baru bangun tidur. Dia mendorong pintu kasa kemudian berdiri di belakang Sehun.

“Hei. Tidurmu nyenyak, aku tidak mau mengganggumu.” Sehun meraih tangan Nahyun lalu mengusapnya.

“Selalu begitu kalau di dekatmu.” Nahyun melilitkan tangannya di leher Sehun dari belakang. Dagunya menempel di bahu Sehun, pipinya di leher Sehun.

Untuk pertama kalinya Sehun tertawa kecil. Suaranya sepelan embusan napasnya. “Aku belum pernah melihatmu tersenyum. Saat tidur sekalipun. Baru kemarin melihatnya dan… aku ingin melihat lebih banyak lagi. Ini hampir musim dingin, aku belum mengenalmu begitu dalam meski kita tinggal bersama.”

Nahyun mendesah. “Teman – temanku butuh waktu lebih dari itu untuk mengetahui diriku.”

Well, aku bukan temanmu, ‘kan?” goda Sehun. Nahyun memukul bahunya secara spontan lalu menduduki kursi di sampingnya.

Nahyun belum menjawab pernyataan cinta Sehun. Yeah, meski Sehun tidak menuntut jawaban—dia tidak meminta Nahyun menjadi kekasihnya—tapi setidaknya dia perlu mengetahui perasaan gadis itu. Nahyun tak menunjukkan tanda – tanda akan menjawabnya, menyinggungnya pun tidak. Sejujurnya, itu sudah terlihat dari bagaimana Nahyun tetap berada di sisinya, tetap tinggal dengannya, dan mengikuti keinginannya untuk berlibur. Tetapi manusia butuh pengakuan, paling tidak sekali seumur hidup. Walaupun banyak yang mengatakan cinta itu tidak perlu diumbar—well, dalam hal ini Sehun tidak mengumbarnya—namun dibuktikan dengan tindakan, tetap saja harus diucapkan. Memangnya untuk apa manusia hidup? Mereka ingin didengarkan dan diakui, mereka akan berjuang untuk itu.

Selain itu, Sehun bukan tipe konservatif yang mengatakan orang timur tidak terlalu menyukai pengumbaran kata cinta. Well, jujur saja rayuan – rayuan itu disebut apa kalau bukan pengumbaran cinta? Itu hanya bentuk lain, modifikasi dari pengumbaran cinta yang tersirat. Sehun tergolong orang yang berpikiran terbuka, menerima saran yang bagus ke dalam hidupnya. Salah satunya kebiasaan negeri barat yang sering mengungkapkan cinta mereka pada sesama. Well, hal itu bagus. Sehun berpikir jika suatu saat dia memiliki keluarga dia ingin mencampur—dalam hal ini prinsip yang baik—kebudayaan barat dan timur. Dia akan menjembatani keduanya hingga anak – anaknya tumbuh dalam kehidupan dinamis dan demokratis namun tetap menjunjung tinggi nilai – nilai keluhuran dalam budaya timur.

“Kita mau ke mana hari ini?” tanya Nahyun tak sabar. Suaranya antusias, memecah keheningan sekaligus menyeret Sehun kembali ke alam nyata.

“Kau mau ke mana?” Sehun mereguk kopinya yang tinggal setengah cangkir tanpa memalingkan wajah dari Nahyun. Nahyun yang mengenakan long-sleeve tee putih berbahan katun yang jatuh menutupi setengah pahanya. Padahal Sehun sudah memakai piyama agar kembar dengannya tapi gadis itu menggantung piyama selututnya.

Mata Nahyun melebar ke hamparan pasir putih dan air laut yang membentang. Angin sejuk menerbangkan rambutnya, menebarkan bau asin di sekelilingnya.

“Kalau kita ke pantai sore nanti, bagaimana?” tawar Nahyun. Sehun dapat mendengar senyum dalam suaranya.

Cangkir Sehun beradu dengan meja kayu di antara dirinya dan Nahyun.

“Lalu pagi—maksudku, ini masih jam sepuluh. Apa rencanamu sampai jam dua?” Sehun menilik ekspresi Nahyun yang tak tertebak.

Bibir Nahyun mencebik. “Tidur. Aku suka sekali berada di sini. Anginnya membuatku mengantuk. Aku juga ingin makanan laut. Aku ingin santai dulu sampai nanti sore.”

Oh, lihatlah betapa lucunya Nahyun sekarang. Sehun sampai menarik sudut – sudut bibirnya karena sikap malu – malu Nahyun. Seperti anak SD sedang meminta uang untuk jajanan kaki lima.

“Baiklah, kau bisa tidur. Aku akan memesan makanan laut lagi. Kau mau apa?” Sehun bangkit dan mengulurkan tangan pada Nahyun.

Nahyun menyambutnya sekilas namun sejurus kemudian dia menahan lengan Sehun.

“Kau mau ke mana? Jangan pergi. Temani aku,” Nahyun berbicara singkat – singkat namun nadanya merajuk, “please.

Sehun ingin mengulur – ulur waktu dan bermain dengannya. Well, memang itu salah satu tujuannya kemari.

“Kau bisa membujukku sekarang.” Suaranya sedikit angkuh. Nahyun mencibir. “Aku mau memesan makanan di restoran langsung dan—”

“Di sini saja, Hun. Temani aku.” Nahyun memasang senyum kecil, terpaksa. Kaku. Sedetik kemudian dia sudah memberengut lagi. Hah.

“Senyum apa itu, Nona Go? Kau bisa tersenyum tulus tidak, sih?” omel Sehun.

“Jangan paksa aku tersenyum! Aku akan tersenyum kalau aku ingin! Teman – temanku tidak pernah memaksaku, kenapa kau memanfaatkan keadaan?!” balas Nahyun tak mau kalah.

“Aku bukan temanmu.”

“Lalu apa?!”

“Kau sendiri belum pernah mengatakannya. Apa perasaanmu padaku?” tembak Sehun. Wow, ini akan menjadi double jackpot kalau berhasil!

Nahyun memandang Sehun garang. Wajahnya berkerut menahan sakit namun Sehun tak mengerti mengapa dia harus sesakit itu. Mungkin menyatakan perasaan bukanlah hal mudah untuknya. Sehun juga tidak mudah mengungkapkannya.

Err… dia mengungkapkannya saat darurat. Kalau bukan malam itu, entah kapan dia merasa pantas mengatakannya. Bukan, ini bukan masalah keberanian. Sehun sangat berani dan dia memiliki kepercayaan diri yang tinggi bahwa Nahyun tak akan menolaknya. Namun, masalahnya adalah kepantasan.

Dan Sehun sudah bertekad, saat Nahyun mengatakan perasaannya maka saat itulah dia harus memantaskan diri untuk bersanding dengan gadis sebening embun ini.

Sedangkan di tempatnya, Nahyun merasa kepedihan hinggap di hatinya. Sehun benar, pria itu belum banyak mengetahui dirinya. Ditambah fakta Nahyun tak bisa mengeluarkan air mata. Membuat dadanya semakin sesak saja.

“Ah, sudahlah. Yang penting aku mencintaimu.” Sehun langsung menyambar tangan Nahyun lalu menggenggamnya sebelum lenyap di balik pintu kasa.

~~~

“Halo,” sapa Sehun begitu mengangkat telepon. Satu lengannya mendekap Nahyun dan tangan yang terbebas merampas ponsel gadis itu yang berdering pelan.

Pelan namun mengusik. Setidaknya di saat hanya ada angin yang membelai wajah mereka dan suara ombak menerjang tepi pantai.

“Se-Sehun?” Suara Yura tercekat di ujung telepon.

Yeah, ini aku. Kau mau mengecek keadaan Nahyun?” ledek Sehun.

“Itu, eh, dia sudah tidak masuk dua hari. Rencananya kalau besok tidak ada kabar, aku mau ke rumahmu.”

Sehun tertawa ringan. “Kami sedang liburan. Tidak lama, kecuali Nahyun berkeinginan lain.”

“Hei, kau mau menculiknya?! Masih ada ujian akhir semester, Man!” pekik Yura tertahan. Bisa Sehun pastikan dua pengawalnya bergidik karena; satu, Yura berteriak terlampau kencang; dua, Yura bilang Sehun menculiknya.

“Tentu, tentu. Kalau mau menculiknya aku pasti menunggu ujian akhir. Aku juga tidak ingin mengulang lagi.” Nahyun bergerak di samping Sehun tapi tidak bangun. Sehun membelai – belai wajahnya.

Yura menghela napas lega di balik ponsel. “Baiklah, dia aman bersamamu, ‘kan?”

“Kau meragukanku.”

“Aku belum terlalu mengenalmu. Bisa saja kau berbuat jahat pada sahabatku.”

“Kau mau mendengar dengkurannya? Dia sedang tidur.”

“Apa? Kenapa kau mengatakannya?!”

“Supaya kau percaya, Kang Yura. Dia tidur di sebelahku. Kami sedang tidur dan kau mengganggu dengan menelepon berkali – kali. Aku sudah berusaha mengabaikannya tapi kau—,”

AISH! Baiklah, aku tidak mau mendengar lagi! Aku—aku… di sini ada Chanyeol dan Jonghyun. Aku tidak bisa memaki, sial,” gerutu Yura.

“Maki saja.” Sehun menyemburkan tawa. Jemarinya menyusuri permukaan kulit Nahyun dan membentuk pola – pola tertentu di sana. Napas Nahyun berembus di lehernya, bahkan dia yakin Yura dapat mendengar dengkuran halus Nahyun.

“Pertimbangkan hati Jonghyun. Aku tidak mau menambah beban dengan bicara kalau—,” Yura merendahkan volume suaranya, “—kalian berlibur dan aku sedang mengganggu kalian di ranjang. Okay.”

“Kau memang terlahir cerdas.”

“Jadi di mana bagian lucunya?”

Sehun menahan tawa hingga dari sudut matanya mengalir air mata.

“Kalian memang cocok. Kau dan Nahyun, kalian sangat pintar mendebatku.”

Yeah, tapi kau tidak akan menang melawan Nahyun.”

“Ups, dugaan meleset.”

“Tidak, karena kau mencintainya.”

Sunyi beberapa saat. Sehun memproses kalimat itu dengan lambat di otaknya hingga Yura berinisiatif mengakhiri pembicaraan absurd mereka.

“Sampaikan salam sayangku pada Nahyun. Ah, dari Jonghyun dan Chanyeol juga. Bilang kami membuatkan stiker khusus Nahyun berbagai emosi.”

“Dia idol baru, ya?”

“Begitulah. Aku ada kelas lagi. Sampai jumpa.”

Yeah, bye Miss Kang.”

“Oh Sehun!!!”

Whaaat?!

“Jaga Nahyun kami baik – baik. Ingat itu.”

Yes, Ma’am. Kalian ‘kan siap membunuhku kapan saja. Aku akan waspada.”

Bisa didengar Yura mengumpat oleh Sehun namun Yura sudah memutus panggilan sebelum Sehun sempat menimpalinya.

Sesaat setelah Sehun meletakkan asal ponsel Nahyun ke atas nakas lalu mendekapnya dengan kedua lengan, suara Nahyun terdengar berat.

“Konyol.”

Tawa Sehun meledak juga. Rupanya Nahyun tidak tidur, belum tidur atau terbangun karena percakapan telepon Sehun dan Yura.

“Mereka merindukanmu.” Sehun menciumi kepala Nahyun.

“Dan kau menanggapinya dengan sangat kekanakan.” Nahyun menenggelamkan kepalanya di dada Sehun semakin dalam. Bergelung seperti anak kucing di pelukan Sehun dan menempelkan hidungnya di ceruk leher Sehun.

“Aku menunggu ‘teman – temannya.’” Sehun memancing.

“Brengsek, kenapa ingin aku mencaci?” Nahyun masih enggan bergerak sedikit pun.

Sehun menunduk. “Sepertinya aku mulai mengenalmu.”

“Teman – temanku saja butuh waktu lama untuk mengenalku.”

“Bukan hanya masalah waktu. Ini tentang pengamatan,” Sehun menyanggah, “tadi aku melihat kesedihan di wajahmu saat kau tertawa di pantai.”

Nahyun berusaha mengatur napasnya tetap tenang.

“Aku tidak akan tanya kenapa. Kalau apa yang kukatakan benar, jangan menyangkal, please. Kali ini aku ingin benar – benar tak ada yang kita tutupi satu sama lain. Aku ingin mengetahui dirimu lebih baik daripada orang lain,” pinta Sehun lembut, namun tak ada celah untuk membantah.

Nahyun tak memiliki pilihan selain mengangguk, meski enggan. Titik terkecil di sudut hatinya menolak, namun diingatnya kembali pengorbanan Jonghyun, Yura, dan Chanyeol. Mereka telah menerima kenyataan bahwa Nahyun dapat dekat dengan Sehun lebih cepat daripada orang lain. Alasannya satu: karena Nahyun jatuh cinta padanya.

Dan itu menjawab semuanya.

“Itu karena kau tidak bisa mengungkapkan kesedihanmu lewat tangisan.” Mata Sehun tertuju pada langit – langit kamar. Satu tangannya mengusap bahu Nahyun yang berada di pelukannya.

Sehun menunggu Nahyun bereaksi. Dalam hitungan sepuluh tak ada jawaban dan itu menandakan teorinya benar.

“Aku tidak akan melarangmu bersedih. Jangan merasa itu kesialan, jangan merasa itu kutukan, jangan merasa itu… kekurangan,” Sehun berhenti sebentar untuk menegaskan suaranya—berharap tak memberi petunjuk lewat ucapannya, “kau memiliki jauh lebih banyak kelebihan. Aku sudah pernah bilang, itu salah satu kelebihanmu. Karena kau tidak bisa menangis, kau harus selalu tersenyum dan tertawa—seberat apa pun masalahmu. Banyak orang yang sulit tersenyum di saat masalah menghampiri. Kau bisa berpikir seperti itu mulai sekarang dan mencobanya. Selain itu, daya pikatmu luar biasa, kau berani dan benar – benar menyayangi orang yang berada di sampingmu. Kau mempunyai banyak hal positif dalam dirimu dan tanpa sadar telah menularkannya padaku.”

Nahyun diam, semua perkataan Sehun meresap dalam benaknya. Sehun memandang segala sesuatu dari sudut berbeda—membuatnya berpikir positif dengan cara yang tidak pernah diduganya. Nahyun merasa sangat beruntung bertemu dengannya.

“Tidurlah lagi. Masih tersisa dua jam sebelum ke pantai.”

Nahyun jatuh tertidur lebih cepat dari sebelumnya. Dengkuran halusnya mengantarkan Sehun kembali pada opsi – opsi yang dipertimbangkannya. Sehun telah memikirkan begitu banyak hal selama mereka berlibur.

Nahyun menempati tempat yang sangat istimewa dalam hati Sehun. Nahyun juga yang membuatnya percaya bahwa dia memiliki hati, bahwa perasaan yang tadinya Sehun kira telah dikikis oleh piciknya dia sebagai malaikat kematian tetap ada dan tak berubah. Bahwa Sehun masih memiliki banyak sisi manusia dalam dirinya yang tersembunyi di balik perannya.

Sehun mulai menyusun rencana sementara kesadarannya melayang di udara.

TBC

Note:

Umm… hi! Hello, anyway!

Lagi2 aku blm sempet balesin pertanyaan kalian fufu and sorry for late post 😦

Tadinya aku mau pecah chapter ini jadi 9A sama 9B tapi ternyata…. Aku punya planning lain. Sekalian mau announce di sini yaaa.

Chapter 10 masih digodok (?) udah direview sih tapi aku blm revisi. Dan aku baru pindah tempat kerja hehe minta doanya yaa temen2 biar semuanya lancar. Krn di tempat ini aku harus belajar banyak hal dan single fighter. May I through the probationary period with best result 😀

Jadi chapter 10 agak lama……. Mungkin 2 atau 3 bulan lagi hiks. Aku sengaja ga pecah chap ini buat ngobatin kangen kalian buat 2 atau 3 bln lagi. Bisa dibilang aku hiatus dulu karena mau konsen buat masa probation-ku. Nanti aku bakal special comeback(?) dan kayaknya aku ke depannya bakal lebih sering bikin cerita pendek & lepas. Masih pake karakter Se-Hyun kok myeheheh.

Special comeback-ku juga mungkin rada gagal karena aku mau coba genre baru wkwkkw jadi sblm hunch ch 10 publish aku mau publish itu dulu.

OHYAAA. Chapter depan bahaya loh. I warn you. Aku masih blm tau bakal di pw atau ngga…. Soalnya itu 40 pages. Mungkin bakal aku pecah 2. Tapi liat nanti deh. Kalo mau dipass aku bakal bikin announcement. Ngga nc kok (beta readerku juga bilang ga nc) dan aku berusaha buat smoothly.

Ehyaa makasi koreksinya buat foto seolhyun yang salah mwhahahahha maapkan. Dan terima kasih banyaaak buat kalian yg selalu dukung aku. Love y till the end of time!

Soooo…… see you in months. Gonna miss you all! ❤

Love,

vanillaritrin

211 responses to “HUNCH [Chapter 9]—vanillaritrin

  1. Sehun sama nahyun mah sweet banget kalo lagi berdua. Ya meskipun sering diisi sama debat2 tapi tetep aja keliatan sweet. Berharap nahyun semakin terbuka sama sehun. Semoga sehun juga cepet nemuin solusi biar hubungannya sama nahyun nggak diganggu aegis. Rada kasian sama seolhyun sih tapi untungnya masih ada hongbin yang setia ngedampingin dia pas dia lagi sedih. Keren lah pokoknya

  2. Kalian(Sehun-Nahyun) mah selalu sukses bikin pembaca jadi ngiri moment-nya selalu aja sweet-sweet gitu bikin ngenes aja …apalagi buat yang single kayak akuY_Y.#abaikan….

  3. Oh tuhan, tolong sisakan satu laki-laki di dunia ini seperti Sehun untukku… Terima kasih 🙂 /ㅋㅋㅋㅋㅋ/
    Eh iya, jangan bilang di next-bext chapter Seolhyun bakalan jadi penganggunya Sehun-Nahyun ya, kalau sampai ‘iya’, errrrr… Bete akut gue, hehe
    Aegis /bener gak tulisannya?/ itu yang bakalan mengeksekusi Nahyun ya?? Soalnya ringkasan dari chapter-chapter sebelumnya yang berhasil saya ringkas menyatakan seperti itu 😀
    Semangat buat kakak authornya ^^ Semangat nulis/nyiptain berbagai fanfiction dengan berbagai ganre ya, hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s