METEOR GARDEN CHAPTER 2 – ALPHA PHOENIX

poster

Title : Meteor Garden chapter 2

Author : alphaphoenix

Main cast : Oh Sehun (EXO) | Choi Ahra (OC/You) | Kim Jongin (EXO)

Genre : Fantasy, romance, sci-fi

Length : Chapter

Rating : PG-15

Credit poster : Flickerbeat @ HSG

Note:

Cerita ini bukanlah cerita drama Taiwan yang terkenal dengan F4 nya itu di awal tahun 2000-an. Tolong jangan berharap cerita ini ada sangkut pautnya dengan drama Taiwan itu. Cerita ini akan berbeda jauh dengan drama Meteor Garden. Disini saya akan tetap membawa unsur astronomi sebagai penyedap unsur cerita dan tujuan saya adalah memang ingin memasyarakatkan imu astronomi di Indonesia *eakk* dengan menulis ff ini.

Selamat membaca. Please leave comment. DON’T BE A SILENT READER!!

Previous Chapter:

 Chapter 1

Meteor Garden Chapter 2

Pria bertubuh jangkung itu dengan sigap masuk ke dalam flat kecilnya yang hangat. Ia tampak terburu-buru untuk masuk ke dalam, yang memang sebenarnya tidak ada siapa-siapa yang menunggunya ataupun yang ia tunggu.

Cahaya remang-remang lampu kuning menyinari isi flat Sehun. Ruangan yang cukup berantakan ini adalah tempat ternyaman Sehun. Dan satu-satunya tempat teraman baginya untuk sekarang ini. Ia melepaskan hoodienya yang basah total dan menggantinya dengan kaos bewarna coklat lengan panjang. Ia melirik sebentar bekas luka berbentuk akar pohon yang sudah hilang. Padahal dari kemarin hingga tadi siang, luka tersebut terus menjalar, menggerogoti tubuh Sehun.

Ia membersihkan dirinya sekedarnya, tak ingin mandi karena menurutnya ia sudah mandi di perjalanan tadi. Sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk, ia membuka pintu kulkas. Isi kulkas kosong, hanya tersisa beberapa air mineral, telur dan minuman soda. Sehun memilih minuman soda dan langsung membukanya dan meneguknya habis. Seakan-akan ia baru saja mengalami perjalanan yang terik menguras keringat.

Mata Sehun langsung menangkap sebuah Post-it yang menepel di dinding kulkas. Ia tampak bingung, hanya Sehun saja yang menghuni tempat ini. Dan tulisan tangan itu juga bukan tulisannya. Tapi ia hapal tulisan siapa itu.

Kau baik-baik saja? Maaf tak memberitahumu kalau aku datang berkunjung. Sejak kapan kau kembali ke Korea? Tolong beritahu aku kabarmu, karena aku akan berkunjung lagi. Ingin memberitahumu sesuatu. Aku meninggalkan nomor teleponku dibalik kertas ini.

P.S : Lumayan banyak orang-orang jahat yang berkeliaran di Seoul. Mungkin info ini bisa membantumu. Tapi tetaplah hati-hati.

Samchon-Paman

Cukup lama Sehun membaca isi pesan yang ditinggalkan pamannya. Ia masih tak percaya kerabatnya masih ada yang hidup. Sehun sama sekali tidak mengharapkan akan bertemu dengan kerabatnya dalam keadaan hidup-hidup. Ia lalu membalikkan kertas tersebut, dilihatnya deretan nomor diawali dengan nama pemilik pesan ini, Oh Jae Rim, paman Sehun. Namun, resiko besar tentu saja akan menghampirinya jika Sehun dan pamannya akan saling berhubungan lagi. Sehun menimbang-nimbang untuk menghubungi pamannya ini atau tidak. Oh Jae Rim hanyalah satu-satunya kerabat Sehun yang masih hidup setahunya. Sehun kembali ke Korea hanya rindu saja dengan kedua orang tuanya. Ia kembali ke Korea hanya sekedar ingin kembali, melepas rindu dan menenangkan diri dari aksi pelariannya menyelamatkan diri, menyamar, membunuh, mencari mangsa dan mengobati luka.

Setidaknya mereka juga sedang bersembunyi, dan Sehun yakin pamannya itu juga baru kembali ke Korea.

Baiklah. Apa salahnya hanya sekedar menyapa kerabat satu-satunya yang masih hidup?

Sehun meyambar handphonenya yang ia letakan di konter di samping kulkas. Dengan sigap ia mengetik nomor nomor di layar.

Sehun belum tahu harus mengatakan apa ke pamannya itu. Hal pertama yang melintas di pikirannya hanya ingin mengatakan “darimana paman tahu aku masih hidup?”

“Yeoboseyo?” terdengar suara berat seorang pria. Sehun tersenyum lemah mendengarkan suara pamannya yang tidak berubah sama sekali. Ia begitu senang bisa mendengarkan suara kerabatnya.

“Samchon…” sahut Sehun.

“Oh. Sehun-ssi. Kukira kau tak akan menghubungiku.” Kata Jae Rim yang seketika mengganti nada suaranya menjadi lebih akrab.

“Senang bisa mendengar suaramu lagi, samchon.” Kata Sehun gembira. Ia memainkan post-it dari pamannya itu, melipat-lipatnya menjadi beberapa bagian.

“Senang juga mendengarmu masih hidup. Memang kuduga kau akan bertahan.”

Sehun mengangkat sebelah alisnya.

“Kukira hanya aku saja yang tersisa dari keluarga kita.” Lanjut Sehun.

“Dan kukira aku akan berjuang sendirian membalas dendam keluarga kita..”

“Samchon, kau masih ingin membalas dendam?” tanya Sehun ragu-ragu. Ia salah besar membawa topik pembicaraan ke arah ini.

“Ini demi mu, Sehun-ah. Kaulah intinya. Tidakkah kau ingin sembuh?”

Dalam lubuk hati yang paling dalam, Sehun benar-benar ingin terlepas dari penyakit aneh ini. Tidak, tidak.. Lebih tepatnya kutukan.

“Darimana Samchon tahu aku berada di Korea?” tanya Sehun berusaha mengganti topik pembicaraan.

“Pembunuhan yang di beritakan di televisi, dan aku tahu malamnya adalah hujan meteor. Tidak mungkin orang normal membunuh dengan menggunakan jadwal hujan meteor..”

Sehun tertawa kecil mendengar perkataan pamannya itu.

“Seharusnya aku lebih berhati-hati..”

“Tidak, tidak. Kau membunuh orang yang tepat. Tidak usah di pusingkan lagi.”

“Tapi tetap saja aku membunuh…” jawab Sehun lesu.

“Sehun-ah…” suara Jae Rim tiba-tiba berubah menjadi lembut. Sehun yang sedari tadi memandang lantai flatnya langsung mengangkat kepalanya.

“Oleh karena itu, aku ingin kau sembuh. Seperti anak muda pada umumnya…”

Sehun tidak tahu harus menjawab dengan apa. Ia berkutat dengan pikirannya sendiri.

“Kau juga tidak perlu membunuh lagi.” Tambah Jae Rim.

“Aku..aku.. tidak bisa.” Jawab Sehun lemah.

“Kenapa? Kenapa kau tidak bisa? Bukankah kau sudah sering membunuh ratusan orang? Kau hanya perlu membunuh 1 orang ini, Sehun….”

“Orang itu pasti orang baik. Aku tak bisa membunuhnnya..”

“Dan apakah kau termasuk orang jahat?”

Sekarang Sehun benar-benar merasa tersudut. Ia kehabisan kata-kata untuk berdebat dengan pamannya itu. Sehun tahu sendiri, ia adalah orang jahat. Ia berbahaya. Namun akhir-akhir ini ia muak dengan sikap jahatnya itu. Ia merasa bahwa dirinya bukanlah orang jahat, tapi terpaksa menjadi jahat dan berbahaya.

“Aku terpaksa….” jawab Sehun akhirnya.

“Kau baru saja berulang tahun, bukan? Yang ke-21?” tanya Jae Rim.

“Yeah.. menurut perhitungan kalender internasional aku baru 21 tahun. Mengapa?”

“Tidak. Kau sudah semakin dewasa pasti.. Kau besok sibuk? Ingin bertemu di coffee shopku?” tanya Jae Rim.

“Oh.. Coffe Shopmu masih bertahan?”

“Selama aku pergi kemarin, aku meninggalkannya dengan teman baikku. Setelah aku kembali, aku senang Coffe Shopku ternyata semakin ramai..”

Sehun menimbang-nimbang sejenak tawaran pamannya itu. Ia mencoba mengingat-ingat jadwal dan janji apa yang ia lakukan besok. Tidak,tidak.. bukan besok. Tapi pagi dan siang nanti.

Hampir saja, ia punya janji mengerjakan proyek kuliahnya dengan Chanyeol. Bisa mati ia kalau Sehun tidak hadir mengerjakan proyek mereka berdua lagi, bisa-bisa nama Sehun dicoret oleh Chanyeol.

“Malam bagaimana?”

“Kalau tak menganggumu. Aku bisa saja.” Jawab Jae Rim santai.

“Baru saja aku mendapatkan mangsa. Seorang perempuan licik. Jadi lukaku sudah agak baikan. Sungguh, aku ini jahat,kan?”

“Tidak, Sehun. Aku tahu kau adalah manusia yang paling baik..”

“Mendengarmu menyebutku manusia saja aku sudah merasa tidak pantas..”

Di dengar Sehun, pamannya itu tidak membalas satu katapun. Ia pasti kebingungan ingin berbicara apa lagi.

“Andaikan kau bisa merasakan auraku sekarang, kau akan tahu betapa sayang dan pedulinya aku kepadamu, Sehun-ah..” jawab Jae Rim lirih. Mendadak pembicaraan ini menjadi dramatisir, menyedihkan.

“Terima Kasih,paman.. Andai kau tahu juga, sekarang ini aku begitu bahagia mendengarmu masih hidup.”

“Baiklah. Kalau begitu, sampai ketemu besok. Istirahatlah yang banyak, Sehun…”

Sehun melirik jam dinding di flatnya. Pukul 5 subuh.

“Yeah. Mungkin aku akan tidur seperlunya saja…”

* * *

Choi Ahra memandang lesu gelas hot frappucinno di depannya. Sisa setengah, mulai dingin dan Ahra masih mengantuk berat. Ia butuh lebih banyak lagi. Ia mengangkat kepalanya dan memperhatikan keadaan disekitar kafetaria. Sepi dan orang sibuk sendiri dengan aktivitasnya. Ahra juga sibuk dengan aktivitasnya, sibuk menunggu Jongin dan Yerin yang entah kemana perginya mereka dan menyuruh Ahra menunggu di kafetaria. Jika tahu Ahra masih harus menunggu mereka, ia pasti masih bisa tidur dikamarnya sekarang. Ia masih benar-benar mengantuk. Bayangkan saja, ia baru tidur jam 5 pagi setelah ia bisa tenang dan tidak memikirkan kejadian waktu terhenti dan teriakan seorang gadis itu. Dan pukul 8 Yerin masuk ke kamar sahabatnya itu dan mengguncang-guncang badan Ahra untuk bangun dan pergi ke kampus. Setelah itu, Yerin pergi menyusul Jongin dan meninggalkan Ahra sendirian disini.

Oh, sekarang Ahra memikirkannya lagi. Soal kejadian tadi malam.

Waktu tidak mungkin terhenti.

Itulah kesimpulan pertama yang diambil oleh Ahra. Jika waktu terhenti, sama saja dengan matahari, bulan beserta isi alam semesta ini terhenti. Tidak ada kekuatan yang bisa menghentikan obyek luar angkasa sebesar itu. Semua itu memang sudah diatur sedemikian rupa dan mengorbit sesuai kehendaknya.

Jika memang waktu terhenti, gravitasi memang sudah tidak ada dan obyek-obyek akan saling bertabrakan.

Itu kesimpulan kedua yang diambil Ahra. Meskipun kesimpulan kedua ini sangat berat untuk diakui dan kemungkinan kecil benar, namun ia tetap mengambil kemungkinan paling kecil. Itu sama saja dengan kiamat-sudah-dekat. Semua obyek tidak akan mengorbit pada posisinya. Dan hal tersebut akan membuat obyek-obyek langit yang superbesar tersebut akan saling bertabrakan.

Ahra meneguk habis hot frappucinno nya, terlampau cemas dan memandang sekeliling lagi. Ia takut jika ia melihat orang-orang mematung lagi dan debu-debu melayang-layang didepannya.

Ahra jadi teringat dengan sosok Do Min Joon di serial drama My Love From the Star. Sosok yang seperti manusia biasa yang ternyata alien, mampu menghentikan waktu dan memiliki umur yang panjang, awet muda. Tidakkah itu hanya ada di cerita fiksi saja?

“Ahh.. Menyebalkan.” Gerutu Ahra kesal yang diikuti dengan menaruh kepalanya di atas meja kafetaria.

“Bisakah aku tidur sebentar?” kata Ahra berbicara sendiri. Perlahan-lahan ia menutup matanya dan mencoba untuk memasuki alam ruang bawah sadarnya.

Rasanya baru beberapa detik ia tertidur, suara decitan kursi di sampingnya membangunkannya.

“Ahra-ya.. bangun. Ah, dasar anak ini..”

Yerin menggoyang-goyangkan tubuh Ahra yang masih menutup matanya.

“Yerin-ah, biarkan dia tidur sebentar. Dia kelelahan hari ini.” Sergah Jongin yang didengar Ahra duduk di depannya.

“Tidak bisa. Deadline kita hampir dekat. Dan Ahra belum melakukan pengamatan. Aku tidak bisa membuat laporannya. Huh, kemana lagi perginya Baekhyun itu?” kata Yerin menulusuri seantero kafetaria, mencari sosok pria bertubuh tak tinggi dan selalu mengenakan pakaian seperti model.

“Ia tidak ke kampus hari ini…” kata Jongin.

“Mwo?? Wae? Wae?? Wae?” tanya Yerin kaget.

Jongin mengangkat kedua bahunya dan berlagak tak tahu.

“Ah.. Kita harus cepat. Setelah ini ada hujan meteor yang lain lagi. Eta Aquariid. Hujan meteor ini merupakan sisa-sisa komet Halley. Ah, kalau sampai kita ketinggalan lagi………..”

“Ahh… bisakah kalian diam?” Ahra berdecak kesal mendengarkan suara Yerin yang memekakkan telinganya. Ia lalu mengangkat kepalanya.

“Baiklah,baiklah. Akan kucoba lagi malam ini pengamatan. Tapi jika tetap hujan, aku tidak mau lagi. Dan… Yerin-ah, jangan salahkan aku. Bukan aku yang turunkan hujan dan bukan aku juga yang tidak ingin laporan kita selesai…”

Ahra menangkap tatapan Yerin yang sedang tersenyum kepadanya, dialihkannya pandangannya ke Jongin yang sekarang sedang sibuk bermain dengan tab-nya.

“Mana Baekhyun?” tanya Ahra.

“Ah. Molla. Ia tidak ke kampus hari ini. Entahlah. Mungkin ia punya urusan lain diluar kampus..” sahut Yerin.

“Padahal aku mengandalkannya dalam mengerjakan laporan begini. Kau tahu. Baekhyun rapi dan mengerti mana yang harus dikerjakan..”

“Iya. Tak seperti orang di depan kita ini.Ya!!” Yerin meneriaki Jongin yang sibuk bermain dengan tabnya.

“Wae? Tak perlu berteriak juga, yerin-ah!” balas Jongin.

“Kau kira kita berkumpul disini untuk bermain tab. Anni. Cepat selesaikan bagianmu. Akan lebih baik jika Baekhyun juga menyelesaikan bagiannya.” Kata Yerin sembari mengeluarkan laptopnya.

“Ia pasti akan menyelesaikannya.” Balas Ahra.

Ahra lalu memandang Jongin yang menyerah dengan Yerin. Ia akhirnya menaruh kembali tabnya kedalam tas dan digantikan dengan Macbook Air nya. Ketika ia sadar bahwa Ahra terus memperhatikannya, Jongin menatap Ahra pelan-pelan.

Ahra lalu tersenyum lebar ketika dilihatnya Jongin menatapnya malu-malu.

“Fighting!” kata Ahra tanpa suara kepada Jongin. Jongin lalu membalas Ahra dengan tersenyum lebar dan mengumamkan fighting pelan.

Ahra sadar, sekarang hanya dia yang belum mengerjakan bagiannya. Ia bergantian memandang Yerin dan Jongin yang sudah sibuk dengan tugasnya. Ia lalu menyambar gelas hot frappucinno nya. Kosong.

“Aku ingin membeli kopi kaleng sebentar. Kalian mau?” kata Ahra menawarkannya kepada Jongin dan Yerin.

“Kau baru saja meminum kopi, Ahra-ya….” kata Jongin.

“Aku. Latte..” teriak Yerin sambil mengangkat tangannya.

“Hari ini akan melelahkan, Jongin-ah. Kau mau?” tawar Ahra.

“Bisakah kau membelikanku sebotol air mineral saja?”

Ahra mengangguk pelan.

“Aku pergi…..”

Dan hanya Jongin yang merespon. Ia mengangguk pelan dan memberikan jempolnya ke arah Ahra. Sedangkan Yerin sudah menatap layar laptopnya kembali.

Ahra berjalan menuju mesin minuman yang berada di ujung pintu masuk kafetaria. Ia melirik isi mesin minuman tersebut. Untunglah ada Lotte Kopi kaleng dan sebotol air mineral. Ia lalu memasukkan beberapa koin kedalam mesin tersebut.

“Proyek ini sudah mendekati tanggal deadline, dan setengahpun kita belum mencapainya….”

Ahra mendengar suara berat seorang pria baru saja memasuki kafetaria. Lelaki itu berjalan masuk ke dalam bersama seorang pria yang tingginya setara dengannya. Ternyata bukan tim Ahra saja yang mengejar waktu deadline, sepertinya orang-orang dikampus ini sedang sibuk mengerjakan proyek, laporan, essay, penelitian mereka.

“Pokoknya kita harus kerja ekstra untuk beberapa hari kedepannya…” kata pria berambut abu-abu dengan suara beratnya.

Ahra melirik sedikit kedua pria tersebut. Wajar saja mereka menarik perhatian Ahra. Tubuh jangkung dan mereka juga cukup tampan. Ahra yang baru 1 bulan berada di kampus ini merasa perlu lebih sering nongkrong di kampusnya.

Lelaki di sebelah pria berambut abu-abu itu tampak tak acuh mendengarkan partner kerjanya terus berceloteh memarahinya. Wajahnya tampan dan cuek, berambut hitam. Ahra terus memandang pria berambut hitam tersebut.

Pasti ia lelaki yang pendiam ujar Ahra dalam hati.

Tiba-tiba laki-laki berambut hitam tersebut memandang Ahra, tajam, membuat Ahra gugup dan takut sekaligus. Lelaki tersebut tak melepaskan tatapannya meskipun ia sudah hampir membelakangi Ahra.

Ahra lalu membuang wajahnya ke arah mesin minuman itu. Dilihatnya bayangan pria itu lewat kaca mesin minuman masih meliriknya. Cepat-cepat ia menundukkan wajahnya, menatap tempat keluarnya minuman.

Ahra mendengus kesal menunggu lamanya minuman keluar. Ia menghentak-hentakkan kakinya pelan-pelan berusaha untuk menenangkan dirinya. Ahra berusaha melirik kaca mesin minuman lagi. Pria berambut hitam itu sudah hilang dari pantulan kaca.

Namun Ahra belum berani menoleh kebelakang. Ia takut pria itu masih terus menatapnya.

Ketika didengarnya suara kaleng dan botol sudah jatuh, cepat-cepat diambilnya minuman tersebut dan ia berjalan cepat menuju mejanya tadi.

Ternyata di meja hanya tersisa Yerin sendiri. Ahra melirik-lirik kafetaria mencari Jongin. Namun bukan Jongin yang ia dapatkan, tapi tatapan aneh si pria berambut hitam tadi. Ia duduk dengan temannya yang berambut abu-abu tadi, dekat jendela.

Ia kesal dengan pria itu. Seakan-akan Ahra punya masalah besar yang belum ia selesaikan. Tunggu, Ahra pun belum mengenal siapa pria itu.

Belum sempat Ahra menatap matanya, ia buru-buru mencari Jongin lagi. Ternyata Jongin duduk bersama Baekhyun, di sisi lain yang dekat jendela. Ahra menghampiri Jongin terlebih dahulu.

“Ini…” kata Ahra sambil menyodorkan sebotol air mineral.

“Gomawoyo…” sahut Jongin sambil tersenyum manis ke Ahra.

“Aku???” tanya Baekhyun  seraya menunjuk dirinya sendiri.

“Makanya datanglah tepat waktu.” Kata Ahra gusar, lalu ia pergi menuju mejanya dan Yerin.

Ahra menarik kursinya dan duduk, lalu ia mengeluarkan kopi kaleng pesanan Yerin tadi.

“Gomawoyo…” kata Yerin tanpa melirik kepada Ahra sedikitpun, namun ia mengacungkan jempolnya.

‘Ne…” jawab Ahra datar.

Malu-malu dan cukup berani, Ahra kembali melirik pria tadi melalui celah rambutnya. Matanya terbelalak kaget ketika pria itu masih menatapnya dengan intens.

Ah.. ada apa dengan dia? Tanya Ahra dalam hati.

Tak lama kemudian, teman kerjanya tersebut sadar bahwa partnernya itu sedang bengong. Alhasil, pria berambut hitam tersebut mendapatkan jentikan pukulan di kepalanya.

“Kerjakan!” Ahra melihat bibir pria bermabut abu-abu itu bergerak mengucapkannya. Ahra tertawa kecil melihatnya. Akhirnya ia memutuskan untuk merubah posisi duduknya. Ia membelakangi kedua pria tersebut. Yerin yang menyadari gerak-gerik Ahra akhirnya berhenti menatap laptopnya.

“Kau kenapa?” tanya Yerin.

“Tidak apa-apa. Hanya ingin mengganti posisi duduk.” Jawab Ahra tanpa suara ragu sedikitpun.

“Kau mengenal Sehun?” sembur Yerin sambil menjulurkan kepalanya, melihat sesuatu di belakang Ahra.

“Siapa?”

“Oh Sehun. Sehun. Pria tampan dari jurusan akuntasi. Entahlah. Aku tak mengenalnya secara pribadi hanya tahu namanya. Tapi, ia terus menatap ke arah sini. Kau mengenalnya?” tanya Yerin yang masih memandang pria bernama Sehun itu.

“Pria itu, Sehun, ia… masih melihat kesini?” tanya Ahra gusar.

“Wae? Kau mengenalnya?”

“Sama sekali tidak..” jawab Ahra jengkel, ia jengkel melihat Yerin yang terus menerus membalas tatapan Sehun.

“Sudahlah, Yerin. Tak usah menatapnya lagi…”

“Hey. Tapi ini pemandangan langka. Selama ia kuliah disini, baru kali ini ia menatap seseorang.”

Ahra menjentikkan bolpoin yang dipegangnya.

“Maksudmu?” tanya Ahra penasaran. Ya, ia penasaran dengan pria yang cukup tampan itu. Oh Sehun namanya.

Dan dalam hati, Ahra mencatat benar nama pria tersebut.

“Aku tahu dan kau tahu, kalau dia itu tampan. Tapi ia sama sekali tidak pernah dekat dengan seorang wanita. Mungkin ia menganggap wanita di kampus ini tidak ada yang menarik, sekalipun itu Jung Hyejung. Senior kita di jurusan perfilman. Padahal ia wanita yang seksi dan menarik.” Ujar Yerin yang akhirnya menghentikan kegiatannya menatap Sehun.

“Ya.. dia tampan. Tapi aku tak menyukai pria dingin sepertinya..” tambah Yerin sambil mengambil bolpoinnya dan mencatat tulisan di bindernya.

“Ketika ia masuk kafetaria tadi, ia terus menerus menatapku. Itu membuatku tidak nyaman. Memangnya aku punya masalah dengannya?” tanya Ahra yang ikut mencatat beberapa rumus penting di bindernya.

“Atau mungkin kau cantik….” sambung Yerin sambil mengangkat kedua alisnya.

“Kau juga cantik, Yerin-ah…”sahut Ahra.

“Tapi ia tidak menatapku, ia menatapmu. Sungguh, sekarang ia menatap punggungmu.” Kata Yerin, lalu ia kembali memandang Sehun.

“Sudahlah, Yerin. Berhenti memandangnya..” kata Ahra jengkel.

“Kau tak tertarik padanya?” tanya Yerin menggoda Ahra dengan senyumannya.

“Ia terlihat menakutkan bagiku..” jawab Ahra.

“Aku bertaruh ia akan datang menghampirimu, cepat atau lambat…”

“Aku sama sekali tak mengharapkannya. Mengharapkan ia tahu namaku saja cukup membuatku takut…” jawab Ahra.

“Keurae.. Tapi, aku akan mendukungmu jika kau bisa berpacaran dengannya.” Kata Yerin tersenyum riang.

“Kau gila? Berbicara dengannya saja aku tak akan mau..”

Sekali lagi, Ahra sembunyi-sembunyi mencuri pandang dengan pria bernama Sehun itu, ia melirik Sehun dibalik geraian rambutnya yang panjang, menutupi sebelah wajahnya. Diihatnya Sehun sudah tidak memandang ke arahnya lagi. Mereka berdua kembali sibuk dengan aktivitas kerja timnya.

Yeah, Ahra harus mengakui. Pria itu memang tampan.

* * *

Sehun menelusuri deretan toko dan restaurant di sekitaran gangnam, mencari coffee shop dengan bertuliskan ‘coffee first’, tak disangkanya pamannya itu mempunyai coffee shop di daerah elit seperti ini. Pastilah kopi disana cukup nikmat sehingga banyak pengunjungnya.

Dan benar saja, di belokan pertama pemandangan yang Sehun dapatkan pertama adalah pengunjung yang ramai mendatangi coffee first. Banyak anak-anak muda yang nongkrong dengan teman-temannya ataupun pasangannya, beberapa wanita karir dan pria kantoran sedang duduk sambil membuka-buka sosial media lewat smartphonenya atau mungkin mengecek email yang masuk, anak-anak kuliahan yang baru pulang dari kampusnya, berusaha mencari ketenangan setelah belajar di kampusnya. Ah, aura orang-orang di coffee shop ini kebanyakan sedang bersedih dan suram. Tak banyak yang Sehun rasakan sedang bahagia. Bahkan sepasang kekasih yang duduk diluar. Aura kedua pasangan tersebut sama-sama memancarkan aura negatif. Pastilah mereka bertengkar.

Sehun menerobos masuk coffee shop tersebut yang di dalam ternyata agak sesak dan ramai. Suasana di dalam agak sedikit menyenangkan. Ia bisa merasakan suasana hati bahagia dari beberapa pasangan yang duduk mesra berdampingan.Ah, meskipun ini sedikit menganggu Sehun karena bisa merasakan aura orang-orang disekitarnya tapi ini lebih baik daripada ada satu orang (satu orang saja) yang tidak memancarkan aura dari dirinya, atau mungkin Sehun yang tidak merasakan auranya.

Seperti perempuan dikampus tadi siang. Temannya yang duduk bersamanya tadi memancarkan aura penasaran terhadap Sehun. Namun, perempuan itu, nihil. Ia kosong.

Ia berusaha mencari-cari sosok pamannya, yang diingatnya. Pastilah pamannya sudah berubah penampilannya. Entah gaya rambutnya, poster tubuhnya atau wajahnya yang semakin menua.

“Sehun-ssi…..” panggil seseorang dengan suara berat.

Sehun menoleh kesamping kanan dan mendapati pamannya baru keluar dari konter kasir dan pembuatan kopi. Ia tersenyum, memeluk dan menepuk pelan punggung Sehun.

“Kau datang…” ujar Jae Rim.

“Sesuai janjiku..” sahut Sehun sambil tersenyum.

“Ayo.. Kita kebelakang saja. Disini agak sesak. Kau mau memesan apa?” tanya Jae Rim sambil menuntun Sehun masuk ke ruang belakang, sepertinya ke ruangan pribadi Jae Rim.

Hot Americano saja..”

Hot Americano satu, antarkan ke ruanganku..” kata Jae Rim memerintahkan anak buahnya.

Ruangan Jae Rim cukup dekat dengan ruangan diluar, berdampingan. Jae Rim mempersilahkan keponakannya itu masuk terlebih dahulu. Ruangan khas seorang bos. Kursi putar bewarna hitam yang nyaman; meja kerja yang dipenuhi berkas-berkas, laptop, dan foto-foto; beberapa penghargaan dan piala yang dipamerkan di lemari kaca; Tumbuhan (entahlah apa namanya) berbentuk seperti bunga namun lebih dominan daun; Sebuah sofa dan meja untuk tamu.

“Duduklah…” Jae Rim mempersilahkan Sehun duduk di Sofa.

“Apa yang ingin kau beritahu?” tanya Sehun langsung.

“Kau barusan membunuh tadi malam,ya?” tanya balik Jae Rim yang sekarang duduk bersama Sehun.

“Iya. Apakah masuk berita?”

“Iya. Kau membunuh seorang wanita pembunuh juga,ya? Hhmmm…” sahut Jae Rim, memperlihatkan kekagumannya pada Sehun.

“Eh. Darimana kau tahu kalau ia seorang pembunuh?” tanya Sehun kebingungan.

“Ia buronan.. Sudah membunuh lebih dari 10 orang..”

Sehun menelan ludahnya. Ia tak menyangka telah membunuh orang yang rekor pembunuhannya sama dengannya.

“Aku.. aku tidak ..tahu soal itu…”

“Kau hanya membunuh orang yang bersalah dan jahat rupanya…” Kata Jae Rim sambil tersenyum bangga.

“Auramu positif. Kau tidak marah denganku?” tanya Sehun bingung.

“Haruskah aku marah?”

“Itulah yang seharusnya terjadi…” jawab Sehun singkat.

“Dan kau terus menderita. Nah, disinilah inti pembicaraan kita..” kata Jae Rim lalu ia duduk dengan tegak.

“Tunggu dulu…” kata Sehun cepat.

“Waeyo?”

“Ada yang mendekat ke arah sini. Mungkin pelayan tokomu..” jawab Sehun.

Dan benar saja….

“Permisi…” kata seorang perempuan berusia sekitar 20an, masuk dan membawa segelas Hot Americano pesanan Sehun.

Hot Americano, silahkan dinikmati..” pelayan wanita itu sedikit melirik Sehun.

Oh, memang.. Wanita mana yang tidak melirik Sehun walau hanya sedikit saja?

“Gamshamnida…” jawab Sehun sopan.

Dan setelah pintu menutup rapat, Jae Rim melanjutkan obrolannya yang terpotong tadi.

“Boleh kulihat luka bekas kutukan itu?” tanya Jae Rim hati-hati.

Sehun tanpa sungkan menggulung kain lengan tangan kanannya sampai setengahnya. Jae Rim melihatnya dengan saksama. Luka itu menghilang, tidak menjalar seperti akar pohon seperti tadi malam.

“Masih sering muncul jika ada hujan meteor?”

“Tentu saja. Lukanya hilang karena baru saja tadi malam aku membunuh seseorang ketika hujan meteor. Sebentar lagi akan kembali, dan akan menyakitkan..” kata Sehun.

“Hujan meteor eta Aquarid. Cukup terkenal…” ujar Jae Rim sambil mengingat-ingat fenomena astronomi ini.

“Sebelum itu ada lagi hujan meteor Antihelion Source. Tapi intensitasnya tak terlalu banyak, jadi mungkin tidak terlalu menyakitkan dan aku tak harus berburu…” jelas Sehun.

Jae Rim bangkit dari sofa. Ia menuju meja kerjanya dan mengambil sesuatu dari lacinya. Sekarang ia memegang botol kecil seperti botol parfum mewah yang memiliki cairan bewarna biru muda cerah.

“Seharusnya aku tidak boleh memberitahumu, tapi yah… Ini hakmu.” Kata Jae Rim.

“Siapa yang melarangmu?” tanya Sehun.

“Kedua orang tuamu…”

Sehun memandang mata pamannya. Yeah, pamannya tidak berbohong kali ini.

“Ini racun..” kata Jae Rim, ia menggoyang-goyangkan botol tersebut dan membuat cairan didalamnya ikut bergoyang.

“Aku sudah memberikannya untuk musuhmu. Namun ini tidak mudah. Racun ini tidak membuat si peminum langsung mati. Kita harus menunggu agak lama..”

“Kenapa tidak langsung saja ia matinya?”

“Orang tersebut akan tahu cairan dalam botol ini adalah racun. Mereka akan melapor dan kita akan ketahuan. Aku mendapatkannya dari seorang pembuat ramuan asal Rusia. Cukup terampil. Racun ini aku samarkan menjadi obat..”

“Jadi, orang tersebut juga sedang sakit?” tanya Sehun takjub. Ternyata orang itu, orang yang memberinya kutukan ini juga sedang sakit.

“Akan sakit, Sehun. Akan…. ia sudah tahu sebentar lagi penyakitnya akan datang. Keluarga itu tidak cukup pintar. Dan ramuan racun ini sudah berada di tangan keluarga itu, yang mereka kira adalah obat penyembuh.” Jelas Jae Rim.

“Tapi, kudengar ia lebih kuat daripada diriku….” kata Sehun lesu.

“Lupakan saja soal kutukan aneh itu. Yang perlu kau lakukan hanyalah menunggu.”

Menunggu? Sehun sudah menunggu momen ini selama hidupnya.

“Anggap saja ini kado ulang tahunmu..” kata Jae Rim.

“Terima kasih, paman. Tapi, bisakah aku tahu siapa musuhku itu?” tanya Sehun.

“Aku juga tidak tahu, Sehun. Mereka sulit ditemukan. Bahkan mereka mengganti identitas keluarga mereka. Sebenarnya aku tidak terlalu tahu soal keluarga kita. Aku mendapatkan info ini dari si pembuat ramuan. Ternyata ia juga memiliki dendam dengan keluarga tersebut. Ia juga ingin balas dendam.”

“Sepertinya keluarga tersebut memang banyak yang membenci..” timpal Sehun.

“Sepertinya memang begitu…”

“Dia sudah menjamin ramuan ini sudah sampai di tangan yang seharusnya.” Tambah Jae Rim.

“Lalu mengapa kau menyimpannya?” tanya Sehun.

“Si pembuat ramuan menyuruhku untuk menyimpannya. Katanya akan dibutuhkan..”

“Lebih baik kau simpan di tempat yang lebih aman. Disini cukup terbuka…” kata Sehun.

“Tentu saja. Aku sengaja ingin memperlihatkan kepadamu. Atau kau yang mau menyimpannya?” tanya Jae Rim sambil menyodorkan botol tersebut.

“Aku tidak mau menyimpannya..” kata Sehun sambil menggeleng pelan.

“Baiklah. Lagipula aku tahu kau orang yang baik, Sehun. Kau tidak mau membunuh orang yang baik..”

Sehun meneguk Hot Americano nya. Ia masih berpikir untuk menjawab perkataan pamannya.

“Aku tidak ingin menjadi jahat, paman…”

“Kau bukan orang jahat…” kata Jae Rim menyetujui perkataan Sehun.

To Be Continued

Annyeong Haseyo yorobeun. Terima kasih ya sebelumnya sudah baca chapter 2 nya. Semoga suka dan semakin penasaran (?) Hey, silent readers. Aku tetep nunggu kalian buat komen loh :p

Gimana? sudah bisa tebak Sehun itu apa? dan Ahra itu apa? semoga masih bingung ya, biar chapter 3 nya lebih greget

Lumayan panjang ya,kan?

Kalau pengen lebih akrab, gak perlu manggil aku thor thor.. *emang aku thor yang di avengers?* aku 97line. bisa panggil aku eonni, kakak, atau panggil dina. 🙂

DON’T FORGET TO COMMENT YAW. Follow me on twitter @mlidna

Advertisements

77 responses to “METEOR GARDEN CHAPTER 2 – ALPHA PHOENIX

  1. Eonni, sesuai keinginan, aku greget bacanya. Hahhahahaha. Oke ditunggu yh chap selanjutnya. Tetap semangat nulis nya yh eon,,,

  2. Wohooww…bagus kak….tpi aku bru bca chap 2…blm bca chap 1..xixixi bcnya lompat2…mklum brutau crita ini kak….permisi bca chap 1 dlu kak ya..biar faham..bru comment…
    Keep healty kak jjnngg

  3. Jangan bilang kalo Sehun sama ahra itu musuhan? Hahaha cmn tebakan aja,aku masih bingung XD sehun kenapa bisa kena kutukan dan dia dikutuk jadi apa? Kok lukanya bisa kek gitu trs bunuh org kalo lagi hujan meteor, ahra itu…kenapa sehun gak bisa ngebaca/? Auranya? oke maafkan kak kalo aku kepo XD nextnya ditunggu ya ka,fightingg^^

  4. Msh penasaran sebenarnya Sehun itu siapa? Knp dia dikutuk? Dan knp balas dendam? Next ya thor.
    Btw kita se-line kkk^^

  5. Masih bingung sehun itu siapa, masih bingung ahra itu siapa -,-
    Dan jadi makin penasaran sama cerita ini, ini keren to the max dina, jjang banget 😀
    Udah mulai ada greget*nya aku baca cerita ini, apalagi pas ahra dikafetaria diliatin sama sehun, ngebayanginnya bikin aku senyum* gajelas gitu 😀
    Ya semoga aja dengan rasa penasaran sehun ke ahra bisa bikin sehun deket sama ahra, dan saling jatuh cintaaa 😀 *apaansih*
    Tapi itu sehun kena kutukan ? Kutukan apa ? Dari siapa ? 😮
    Makin bikin penasaran chapter ini 😀
    Next chapternya ditunggu banget dina, semoga ngepostnya bisa lebih cepet dari ini 🙂
    Semangaaaattsss !! ^^

  6. Keren.. Udah ada sedikit gambaran.. Lanjut yah kak dina!!! Ditunggu loh
    keep writing!! Fighting!

  7. ceritanya bagus kak.. masih penasaran sama seluk beluknya sehun ‘-‘ next chapnya ditunggu jangan lama-lama ya kak hehe keep writing^^

  8. Eonni … Aku masih bingung nihh sehun itu siapa Ahra itu juga siapa?? Dendam apa? Kutukan apa? Siapa yang nengutuk? Kenapa Ahra gak punya aura? Emang sehun kenapa kok dikutuk? Ihh makin penasaran dehh sama chapter 3 !! Good job deh buat Eonni !! Buat ff kayak gini Kataku Susah.. Apalagi menyangkut tentang astronomi… pastinya eonni nihh pinter banget… Chapter 3 ditunggu lohh !! Hwaiting !!^^

    • Hehehehe.. banyak ya misterinya?? Next chapter ntar eonni tmbah bikin penasaran *smirk* (?)
      Makasih ya uda mau baca dan koment. Amin.. kamu juga semoga pinter ya dapet ranking xD
      Keep waiting aja 🙂

  9. Masih bingung sehun tuh siapa? Sehun dapet kutukan? Kenapa bisa gitu? Trus sehun punya dendam sama orang yang memberi kutukan, siapa kira2nya?
    Ok ditunggu kelanjutannya ya.

  10. aku masih bingung kenapa sehun kena kutukan, dan kenapa dia ngeliat ahra terus? Apa ada masalah? Aku masih bingung jalan ceritanya yaa. Aku tunggu next chapnya yaa~^^

  11. masih bingung ngung sama ceritanya masih belum bisa ketebak ahra itu siapa maupun sehun itu makhluk apaan. tapi sempet greget banget waktu ahra ma sehun ketemu di kafetaria terus sehun natap ahra segitu intensnya, jadi penasaran itu karena sehun tertarik sama ahra atau gimana?? sehun kena kutukan apa? siapa yang ngasih dia kutukan? terus cara ngilangin kutukannya gimana??? jadi tambah penasaran keep writing yah kak, good luck… aku menunggu lanjutan ff nya^^

    • Hehehe.. masih bingung ya, ntr aku bikin bingung lagi *eh* 😀
      Yup. makasih ya uda komen. Semoga ntr next next chapter gak bingung ngung sama ceritanya.
      Thanks a lot :*

  12. sebenernya sehun itu kenapa jadi tukang ngebunuh(?) trus emg kutukan macem apa ituh?
    Dan aku masih belum ngerti tentang siapa and apa itu ahra? Hha .. sehun gk bisa baca pikiran ahra bukan?
    Ditunggu nextnya eonni kkk~

    • iya jadi tukang ngebunuh. ngebunuh hati aku *gagal gombal*
      kutukannya……. next chapter ya 😀
      Bukan gak bisa baca pikiran, tapi gk bisa ngerasain auranya ahra dear 🙂
      Thank you for commenting darl
      XOXO

  13. ntar pokoknya ada sesuatu antara Ahra sama Sehun, itu jelas. hahaha teruskan ffnya. lanjutkan/next mainstream ~~~~~~~~~ㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠ

  14. Waawww,,mirip am twilight,,d mna edward gk bsa bca pkiran bella,,tpi d sni sehun yg gk bsa ngrasain aura nya ahra,,huwwaaa,,kerren aq ska,,,
    N 1 lgi yg bkin aq was2,,,aq tkut klo msuh nya sehun itu family nya ahra,,oh got,celaka 12,,itu opini aq doang ya,,

    • Hehehe… iya emang dpet inspirasi dari twilight saga 😀
      Hehehe.. we will see what happen next. Keep waiting ya.
      Thanks for comment dear 🙂

  15. knapa sehun natap ahra dingin?apa musuh sehun itu kluarga ahra?mmm,,ahra sma jongin cuma sahabat kan,atau salah satu dari mreka punya prasaan?trus sbenernya kutukan sehun itu apa?huh msih pnasaran bnget sma kisah mreka.ditunggu nextnya.

    • Hehehe.. masih penasaran kan?? ya kan? ya kan??
      Semoga next chapter tambah penasaran lagi ya. hihihihi 😀
      Makasih ya uda ninggalin jejak :*

  16. Pingback: METEOR GARDEN CHAPTER 3 – ALPHA PHOENIX | SAY - Korean Fanfiction·

  17. kalo manggilnya chingu gmna..??? boleh yaaa…
    .hehe..ehmm gmna yaa,.aku nerka” tuhh sehun sbnernya manusia biasa sm kek yg lainnya..tp gegara sesuatu hal yg terjadi duluu,.trs sehun kena semacam kutukan gitu yaa chingu..??? & kutukan itu menyakitkan..obat sementaranya tuhh dia hrs ngebunuh orang” jahat yaa pada waktu hujan meteor..??? tp apa yg buat sehun nerima kutukan itu..??? masihh penasaran bgttt..sungguh,.trs tentang ahra..knpa aku jadi takut yaa,.pikiran aku tuh jangan” ahra ada sangkut pautnya..huhhhh jangan lahh yaaa,.
    .pokoknyaa menariikk bgt nee ff…

  18. emang kutukan sehun itu apa sih,,
    kok unik bgt,, cuma trjadi pas hujan meteor,,
    trus keluarga siapa yg jdi musuhnya sehun ? penasaran
    next chap nya izin baca ya author nim

  19. Yaampun pantesan kok kayaknya aku udh ketinggalan banyak waktu baca ff ini di chap 3 nyaa, ternyata aku kelewat baca chap ini. Dan aku baru sadar pas baca ulang chap 1 bagian akhir nya, kayaknya yang Sehun baca disitu itu auranya Jongin, dan dia gak bisa baca aura Ahra yg lagi satu mobil sm Jongin

    Aku masih penasaran sebenernya siapa Sehun disini? Dia dapet kutukan apa? Dari siapa? Keluarga yg pamannya sebutinkah? Tapi entah kenapa aku sempet nebak jangan2 keluarga yg jadi fokus utama balas dendam pamannya Sehun ini keluarga nya Ahra lagi, terus Ahra-Sehun nya saling jatuh cinta gitu apa gimana, jangan2 gitu?? Enggak kan? Aku harap sih enggak, biar Ahra jd yg nge bantuin Sehun selesain masalahnya aja, mengingat kan Ahra sendiri punya “sesuatu” kayaknya sampe2 Sehun sendiri gak bisa baca auranya dia

    Maaf ya kepanjangan gitu komennya, abis ceritanya seru! *ganyambung* -_- hehe

    • Gwehchana… gwenchana… aku suka banget yang komen panjang-panjang gini.. jadi lebih semangat nulisnya 😀
      Makasih ya atas komennya yang panjang. Ini moodboster buat aku biar lebih semangat nulis next chapter 🙂

  20. okay.. d sni lbih jelas. siapa sehun. kutukan? nnti nm kutukan x d cntumin y thor. ak mnduga, sehun yg ngeliatin ahra it krn ahra gak pnya aura. ksong.
    ak suka sm pngethuan x, tntng astronomi. ap nnti kai akn brhubungn dgn sehun?
    eww.. sehun ank akuntansi… wuhhh XD. perihl racun x gimana?
    okelh, in kren. speechless thor. d tnggu chp slnjut x, fighting n keep writing thor! 🙂

  21. Pingback: METEOR GARDEN CHAPTER 4 – ALPHA PHOENIX | SAY - Korean Fanfiction·

  22. Ahh penasaran sama kelanjutannya..
    Jadi sehun kena kutukan toh. Tapi knapa sakitnya pas hujan meteor doang?
    Itu kayanya sehun udah mulai tertarik ya sama ahra?
    /banyak nanya/

  23. Haii dina. Kamu line97 yaa? Aku jga line97! Kita sama!*teriakteriak* haha
    aku msh bingung siapa sehun itu sbnr.a. Jd krna ktukan lh sehun ngebunuh org ya? Dan org yg d bunuh.a jg org jahat? Gk papa lh hun. Mreka yg jhat emg hrs dbnuh. Tp knpa sehun gk bsa ngerasain aura.a ahra? Ap mngkn klrga yg d benci sehun itu adlh klrga.a ahra? Krna itu sehun gk bsa ngerasain aura ahra. Aah taktau lah. Aku ijin baca chapt 3 yaa din. Keep writing and hwaiting chingu^^

    • Iya.. aku 97line.. wahh… sama dong *teriakteriakjuga*..
      hehehe… masih banyak misterinya memang ^^
      ditunggu aja ya next next.
      silahkan dikomen chapter 3 nya.. gamshamnida..

  24. Jelas penasaran bnget! dibnyakin lgi ya kak tntang astronominya, aku jga minat sma hal2 yg brhubungan dgn astronomi. tambahin yg keren2 nya ya kak 😀 HWAITING! DAEBAK!!

  25. jd makin penasaran, berasa kaya nonton film/? gini eon, untung aku bacanya waktu masih belum dipublish semua, coba kalo udah dipublish semua bisa sehari selesai bacanya :’) semangat nulisnya ya eonni, fighting!!^^)9

  26. sehun punya kekuatan super kah? kok bisa
    pmnnya jga kah???
    kutukan?? kutukan apa?? bingung hing~

  27. aku kira sehun semacam makhluk alien atau apa -_-
    sehun punya tanda kutukan, itu siapa yg melakukannya? jadi sehun hanya membunuh orang yg beraura jahat begitu?
    hubungannya dgn ahra apa?
    apa ke depannya ahra bakal jadi sosok penyembuh bagi sehun? :3
    ok ini masih membingungkan tapi keren

  28. Pingback: METEOR GARDEN CHAPTER 5 | SAY KOREAN FANFICTION·

  29. sehun itu punya kutukan? buat ngilangin rasa sakitnya dia harus ngebunuh orang?. ugh so sad:(. jangan2 yg mau dibunuh tadi adalah keluarga si ceweknya

  30. masih bingung dan penasaran deh, sebenernya sehun itu apa? trus dia kena kutukan apa sampe” dia harus ngebunuh orang? siapa yg ngutuk orang ganteng cem dia? duhilahh banyak nanya yahh hehehe :v tapi sumpah penasaran banget iya dahh hmmm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s