Ambition [Chapter 4] – by Sehun’Bee

Ambition

Sehun’Bee 

Ambition | I Lose, You Fall

Main Cast :
.: Oh Sehun ~ Khaza Hanna :.

Support Cast :
.: Kai Kim ~ Jenny Kim :.

Genre :
.: Drama ~ Romance :.

Rating : PG-17

Lenght : { Chaptered }

Disclaimer :
Semua alur murni dari hasil kerja keras otakku. Jangan copy paste seenaknya dan jadilah readers yang baik dengan meninggalkan comment setelah baca.

Credit >>Poster and Header Title by : popowiii | SHINING VIRUS

Summary :

Kau harus memiliki batasan dalam menggapai ambisimu, jika tidak, ambisi itu akan berubah menjadi obsesi, dan obsesi akan merubahmu menjadi seorang yang ambisius.

 

Previous Chapter

First Sight [1]Nice to Meet You [2]Plan [3]

-Ambition-

 800px-New_York_Midtown_Skyline_at_night_-_Jan_2006_edit1

Malam mulai larut, aktivitas kota belum tidur. Lampu – lampu gedung pencakar langit di Midtown Manhattan pun bak taburan bintang di Bumi. Begitu indah. Namun, langit dengan taburan bintang aslilah yang menjadi titik fokus Sehun saat ini.

Pria itu tengah berdiri kaku di atas balkon kamarnya. Membiarkan dinginnya angin malam menembus tee hitam yang dikenakannya. Sebelah tangannya ia masukan ke dalam celana. Sementara pikirnya sibuk menerka, apa yang kiranya sedang dilakukan oleh seorang gadis di Lower Manhattan sana. Sehingga membayangkan apa yang tidak ada terkesan lebih menarik dari indahnya malam kala itu.

Sesekali, diliriknya ponsel di tangan kiri. Menimang untuk melakukan panggilan atau tidak, guna mendengar suara pemilik nomor yang tertera di sana. Namun, setiap kali mengingat bahwa gadis itu sudah menjatuhkan harga dirinya—niatan itu pupus. Padahal, ia sudah memaksa Jenny untuk mencari tahu nomor gadis itu melalui kekasihnya.

Hhh

Helaan napas berat terdengar sambil lalu bersama angin. Ia tak mengerti, mengapa ia menjadi seorang pecundang seperti ini. Bahkan untuk sekedar menghubunginya lewat pesawat telepon saja, ia ragu. Apalagi mendekatinya secara langsung?! ARGH…!!! Sehun frustasi. Ia mengacak rambutnya kesal, membuat surai cokelatnya yang memang tidak ditata itu berantakan. Hatinya ingin, namun otaknya tak kunjung memberi perintah. Padahal, rasa rindu itu sudah sangat menyiksa.

Jika dihitung, ini sudah hari ke-3 mereka tak bertemu, terakhir mereka bersama hanya sore itu. Bahkan Sehun tak sempat menepati janjinya untuk mengantarkannya pulang, karena sekretarisnya sudah datang menjemput. Dan sampai saat ini mereka tak lagi berjumpa, karena memang tak ada jadwal untuk pertemuan. Tuan Arthur sendiri sudah mengatur semua jadwal mereka untuk itu. Dan tak ada jadwal sampai Minggu depan.

Hhh

Untuk yang kesekian kalinya, Sehun menghela napas berat. Sesungguhnya, ia tak mengerti mengapa rasa rindu itu ada. Bahkan di saat dirinya sedang tak sibuk seperti sekarang ini, wajah gadis itu terus terbayang. Membuat perasaan itu semakin menjadi, mengganggu ketenangannya. Menyiksa batinya perlahan dan membingungkan dirinya. Perasaan apa yang kiranya tengah ia rasakan? Cintakah?

Ah, tidak. Tidak mungkin. Sehun pernah merasakan perasaan seperti ini pada gadis-gadis cantik yang pernah menjadi teman kencannya. Dimana dirinya tidak bisa berhenti memikirkan mereka, mencari cara untuk membuat mereka senang dan kemudian menaklukkan mereka di atas ranjang. Ya, ini hanya perasaan biasa. Terlalu dini untuk Sehun menyatakan bahwa perasaan itu adalah cinta hanya karena tak bisa lepas memikirkannya. Lagi pula, memikirkan seseorang bukan berarti karena kita mencintainya, benar?

Bedanya, gadis itu hanya sedikit lebih menarik karena tak langsung tertarik padanya. Bahkan bisa dibilang, gadis itu tidak menyukainya karena ia rivalnya. Sehingga Sehun harus memutar otak guna mencari cara untuk membuatnya jatuh hati.

Bukankah ini menarik?

Senyum tipis tercetak samar di wajah tampan itu. Wajah seorang Khaza Hanna pun terus menguasai pikirnya. Bagaimana dingin dan angkuhnya gadis itu dalam bersikap. Bagaimana anggun dan seksinya tubuh gadis itu saat melenggang. Betapa tajamnya tutur bahasa gadis itu dan oh, jangan lupakan, wajah cantik bak boneka gadis itu—yang sungguh tidak sesuai dengan wataknya. Semuanya berputar – putar jelas dalam benak Sehun, membuatnya merasa semakin tertantang untuk menaklukkannya.

Tak lama, titik fokusnya kembali terpusat pada langit gelap bertabur bintang. Seolah tak ingin larut memikir Hanna yang berada jauh di sana. Ia hanya tak ingin berakhir dengan bermain sendiri malam ini, hanya karena memikirkan tubuh molek gadis itu.

Namun, melihat gelapnya malam kala itu membuat Sehun ingat akan Ilmu Astronomi yang pernah dipelajarinya—tentang siang dan malam yang akan terlihat sama jika tidak ada lapisan atmosfer. Seperti halnya Bulan yang tidak memiliki lapisan atmosfer, dimana langitnya tetap terlihat gelap dan daratannya terlihat tidak berwarna baik siang ataupun malam. Dan mungkin itu yang akan terjadi pada Bumi jika tidak memiliki lapisan tersebut. Tak hanya itu, mungkin tak akan ada yang namanya Oksigen yang dibutuhkan manusia dan Karbondioksida yang dibutuhkan tumbuhan untuk hidup jika Bumi tidak memiliki atmosfer. Atmosfer juga yang menyerap sinar ultra violet sebelum membiaskannya ke seluruh permukaan Bumi, sehingga Bumi ini menjadi berwarna dan langit terlihat berwarna biru.

Bukankah itu luar biasa, Tuhan sudah menciptakan segala sesuatu dengan segala macam fungsinya untuk saling melengkapi. Seperti halnya pria dan wanita, keduanya saling terikat seperti Bumi dan atmosfer. Dimana hidup seorang pria tak akan berwarna tanpa adanya kehadiran seorang wanita. Pun dengan seorang wanita yang tak akan berguna tanpa adanya seorang pria dalam hidupnya.

Ah, astaga, analogi macam apa itu?! Sehun menggelengkan kepalanya pelan. Bayang-bayang Hanna pun kembali, bahkan setitik harapan bahwa Hanna yang akan membuat hidupnya jauh lebih berwarna melintas begitu saja. Ah, tidak. Sehun kembali menggelengkan kepalanya.

Usia 24 tahun terlalu muda untuk seorang lelaki mengakhiri pencariannya. Diusianya saat ini, Sehun lebih suka bekerja, bekerja, dan bekerja demi menggapai mimpinya. Wanita hanya hiburan. Tak lebih. Sehun ingin menata hidupnya terlebih dahulu -sebaik semampunya- untuk bekalnya dihari tua nanti. Urusan berkeluarga nanti saja, tapi bukan berarti Sehun tak memikirkannya. Sehun hanya ingin mengakhiri masa lajangnya saat semua keinginannya terwujud, itu saja, sehingga ia bisa menghidupi keluarganya kelak dengan buah dari hasil jerih payahnya, bukan dengan uang orang tuanya. Karena ia bukanlah tipikal pria manja yang mau terus – terusan bergantung pada harta orang tua.

♣ ♣ ♣

RHT
Random House Tower, 11.11 p.m.

Sehun hampir frustasi. Tumpukan Map di meja kerjanya membuat kepalanya pening. Tidak biasanya. Jenny yang menyadari kegelisahan Sehun hanya tertawa dalam diam.

“Hanya 4 hari Oh Sehun. Setelah itu, Nona Khaza akan kembali dari Macau, dan kau hanya tinggal menjemputnya di Bandara.” Goda Jenny membuat Sehun semakin muak. Ya, sebenarnya, itu alasan mengapa Sehun kehilangan semua mood-nya untuk bekerja. Dan Jenny tahu itu. Terlihat sekali dari sikapnya. Jenny bahkan sangat senang mendapati perubahan Sehun yang terhitung langka itu.

Dan itu semua dimulai saat Sehun menerima kabar dari Jenny bahwa Hanna sedang berada di Macau bersama Ayahnya. Menghadiri pertemuan antar para pemegang saham The Ritz-Carlton Hotels Company L.L.C., bersama CEO Marriott International. Mereka akan kembali membangun hotel di sana, dengan arsitektur terbaik dan menjadikan hotel tersebut sebagai yang tertinggi. Dan Hanna baru akan kembali lusa.

Sebenarnya, Sehun tak mempermasalahkan berapa lama Hanna akan berada di sana, hanya saja, kata pertemuan begitu mengusiknya. Bagaimana jika Hanna bertemu dengan laki-laki yang jauh lebih tampan darinya di sana? Karena biar bagaimanapun, pertemuan seperti itu pasti dihadiri oleh para petinggi perusahaan yang didominasi oleh kaum pria yang mapan. Sehun tak rela jika sampai targetnya menemukan pujaan hati di sana. Karena Hanna hanya boleh menjadi miliknya.

Hanya miliknya. Sehun tekankan itu.

Hari-hari yang dilaluinya tanpa ada Hanna di New York pun terasa begitu menyiksa. Pria itu terlihat gelisah hampir setiap saatnya. Beberapa pekerjaannya bahkan terbengkalai, dan Jenny harus bekerja ekstra untuk membantu pria itu menyelesaikan tugasnya. Baru kali ini, Sehun terlihat kacau karena seorang wanita—termakan api cemburu karena terkaannya sendiri. Sungguh konyol. Padahal Hanna yang berada di sana hanya disibukkan dengan pekerjaan, bukan pria.

Hari ini, hari terakhir Hanna berada di Macau. Itu berarti, hari ini juga gadis itu akan pulang. Dan Sehun sudah tekadkan hari ini juga untuk bertemu dengan gadis itu. Akan tetapi, mengingat betapa jauhnya jarak antara New York dan Macau membuat Sehun mengurungkan niatnya. Gadis itu pasti lelah setelah perjalanan jauh. Mungkin besok akan jauh lebih baik.

Ya, besok.

Sehun tak sabar untuk hari esok. Malam ini bahkan ia tidur lebih awal agar terlihat segar esok pagi. Dan ketika pagi tiba, ia persiapkan dirinya untuk bertemu dengan Hanna. Sampai lamaaa ia berada di dalam kamar mandi, menyegarkan tubuhnya dengan shower yang berada di atas kepala. Kemudian mengeringkan tubuhnya dengan handuk, lantas menyemprotkan parfum keluaran Inggris, favoritnya. Dan tanpa diketahui olehnya, wangi parfum itu ternyata begitu disukai oleh Hanna dari tubuhnya.

Kemeja berwarna abu-abu dengan bawahan celana jeans hitam pun dipilihnya. Perpaduan itu terlihat begitu sempurna di tubuh proporsionalnya. Terlihat casual namun tak meninggalkan kesan formal dan gagahnya. Lengan kemejanya ia gulung sampai siku. Rambutnya sendiri ia tata sedikit berantakan. Siap membuat wanita memekik saat melihat penampilannya. Karena hari ini hari Minggu, Sehun tak ingin berpakaian terlalu formal, meski itu untuk menemui rekan bisnis wanitanya.

Sehun mulai melangkah keluar dari dalam apartemennya. Menuju tempat parkir dimana mobilnya berada, lantas melajukannya menuju Battery Park City. Sepanjang perjalanan, Sehun terus hanyut dalam dunianya tanpa mengurangi fokusnya pada jalanan di depan. Pria itu sibuk memikirkan bagaimana reaksi Hanna jika ia sudah tiba nanti, karena ia sama sekali tidak memberitahu akan datang berkunjung. Ia hanya memastikan dengan bertanya pada Jenny bahwa Hanna tidak ke mana – mana hari ini.

Tak butuh waktu lama untuk Sehun tiba di tempat tujuannya. Gedung dengan arsitektur luar biasa indah pun menjadi titik fokusnya saat ini. Dimana seorang wanitalah yang mengatur segala aktivitas di dalamnya sebagai seorang pemimpin. Luar biasa.

RCT

Sehun turun dari dalam mobilnya, kemudian menyerahkan kuncinya pada petugas valet yang ada di sana untuk ditempatkan di tempat yang seharusnya. Kacamata hitam pun sudah bertengger elegant di hidung mancungnya. Kakinya bahkan sudah melangkah dengan kepercayaan diri penuh menuju lift yang akan membawanya ke lantai tempat Hanna berada. Gedung yang berfungsi sebagai hotel sekaligus apartemen itu memudahkan akses Sehun untuk masuk ke dalamnya. Terlebih, Jenny sudah memberi tahu di mana lantai tempat Hanna bekerja.

Tatapan penasaran pun segera didapatnya saat kakinya mulai melangkah keluar dari lift. Wajah asing nan tampannya seolah mampu membius semua pegawai wanita di sana. Kebetulan ruangan yang ditujunya harus melewati beberapa sekat tempat para staff bekerja.

sekat

Aktivitas hotel memang tidak berjalan seperti kantor biasanya. Mereka memakai sistem off untuk para karyawannya, sehingga mereka memiliki hari libur bergilir—tidak melulu di hari Sabtu dan Minggu. Dan Hanna pun demikian, Jenny bilang, Hanna hanya akan libur jika memang ia ingin. Hhh.. Benar – benar workaholic.

Kai juga begitu, jika ia ingin libur maka ia hanya tinggal memintanya pada Hanna. Biasanya, ia meminta libur di hari Sabtu dan Minggu. Namun kali ini, pria itu lebih memilih bekerja menemani Hanna yang baru saja kembali dari Macau kemarin sore. Dan kini, pria itu hanya bisa terpaku saat Sehun datang menemuinya untuk meminta izin masuk ke dalam ruangan Hanna.

“Tunggu sebentar,” Kai segera masuk ke dalam ruangan Hanna setelah mengatakan itu. Sehun sendiri hanya menurut, sebelah tangannya bergerak melepas kacamatanya, agar pandangannya tak terhalang saat melihat Hanna.

Tak lama, pintu di depannya kembali terbuka. Kai yang berada di baliknya pun segera mempersilahkannya masuk.

Sehun yang mendapat izin pun kembali melanjutkan langkahnya. Namun kembali terhenti saat melihat Hanna yang tengah duduk di balik meja kerja. Bisa ia lihat, rambut cokelat gadis itu digulung ber-volume, membuat beberapa helai jatuh ke bahu. Kesan seksi pun langsung didapat hanya dengan melihat tatanan rambutnya tersebut. Tak hanya itu, saat gadis itu bangkit dari duduknya kesan elegant pun didapatnya. Dimana Hanna hanya menggunakan white shirt dipadukan dengan dress berbentuk seperti mini skirt berwarna hitam.

Deg. Deg. Deg.

Untuk pertama kalinya, jantung Sehun memompa cepat, darahnya berdesir hangat, tubuhnya terasa panas, hanya karena melihat penampilan seorang wanita. Bahkan Libido itu bangkit begitu saja, mengambil alih semua kerja otaknya—membuat akal sehatnya tak mampu berjalan.

“Silahkan duduk!”

Suara lembut itu menginterupsi. Menginterupsi Sehun dari tatapan liarnya terhadap tubuh molek itu hingga fokusnya tertuju pada wajah datar nan cantiknya. Tak ingin mempermalukan diri sendiri, Sehun lantas menurut. Mengikuti apa yang Hanna lakukan dengan mendudukkan tubuhnya di sofa hitam panjang yang ada di ruangan itu.

“Caramel Macchiato,” ujar Hanna, lantas mendapat anggukan kepala dari Kai. Sehun yang mendengar nama kopi yang dipilihkan Hanna untuknya pun tersenyum. Bahkan gadis itu tak bertanya padanya terlebih dahulu.

Benar-benar pribadi yang tak suka basa – basi. Batin Sehun kagum.

Tatapan Hanna segera berpindah pada tamunya. Diam sesaat, sebelum membuka suara “Apa yang membuat Anda rela datang jauh – jauh kemari, Tuan?”

“Aku merindukanmu,” jawab Sehun. Jujur sekali. Ditatapnya Hanna sungguh – sungguh. Namun, Sehun tak menemukan perubahan ekspresi sedikit pun dari gadis itu.

“Aku pikir soal pekerjaan.” Tak ada tanggapan berarti dari Hanna. Gadis itu terlampau batu untuk merasa tersanjung.

“Ini hari Minggu Nona. Mengapa Anda tetap bekerja?” tanya Sehun lagi. Tanpa melepas kontaknya dari Hanna.

“Hanya ingin.” Jawab Hanna cukup padat. Tak lama, Sehun terlihat menerima sebuah pesan yang tidak Hanna ketahui siapa pengirimnya dan apa isinya.

From : Jenny

Nona Khaza menyukai pembicaraan seputar bisnis. Lebih baik kau mengangkat topik yang menarik, jika tidak ingin diusir olehnya.

Fighting^^

Gadis ini … Sehun tersenyum membaca rentetan pesan itu. Membuat Hanna yang melihatnya tanpa sadar mengangkat sebelah alisnya, penasaran.

Kekasihnya, kah? Batin Hanna bertanya.

“Seberapa menarik pertemuan antar para pemegang saham kemarin, Nona?” Sehun mulai mencari tahu pembenaran mengenai kegelisahannya. Hal yang membuatnya ingin segera menemui Hanna dan memastikan bahwa Hanna tidak nakal di luar sana. Padahal ia sadar, Hanna bukanlah kekasihnya. Tidak seharusnya ia bertindak berlebihan seperti ini.

“Sama saja.”

Lagi – lagi, jawaban singkat didapatnya. Gadis itu benar – benar menyebalkan. Tidak tahukah dia, Sehun butuh usaha untuk merampungkan kalimatnya?! Karena bagi Sehun, bukanlah perkara mudah untuk menjadi pria aktif. Namun, jika bukan ia yang memulainya, maka sampai malam pun tidak akan ada percakapan di antara mereka. Karena ia dan Hanna sama saja, maka dari itu, Sehun yang harus mengalah sebagai seorang pria.

Hanna sendiri, terus memerhatikan Sehun dalam diam. Bertanya, darimana Sehun tahu dirinya baru saja menghadiri pertemuan antar para pemegang saham. Dan menerka, apa yang kiranya akan dilakukan pria itu untuk membuatnya jatuh dalam pesonanya. Karena dari segi penampilan saja, Sehun sudah sempurna hingga mampu menarik perhatian wanita. Suaranya berat, berwibawa juga seksi. Hanna bahkan berani bertaruh, jika Sehun berniat baik padanya maka dari awal pun ia sudah jatuh hati padanya. Karena bagi Hanna, wajah, tubuh dan penampilan Sehun tidaklah buruk.

Tak lama, Kai bersama seorang office girl datang memasuki ruangan mereka. Membawakan 2 buah Mug berisi Shot Espresso yang dicampur dengan Foam Susu dan Caramel di atasnya.

a-cup-of-caramel-macchiato

“Minumlah,” ujar Hanna setelah Kai dan pegawainya itu pergi. Diraihnya Mug kecil itu, diikuti Sehun yang juga melakukan hal yang sama.

“Lelang tender untuk properti desain interior 520 Park Avenue akan dilaksanakan di Dubai, Minggu depan.” Sehun kembali memulai pembicaraan. Hanna diam mendengarkan.

“Ada banyak proposal yang masuk dan sampai ke tangan Tuan Arthur. Namun, Beliau membagi dua jumlah keseluruhan untuk diberikan pada kita, sehingga kita bisa membagi tugas. Anda sudah mendapatkannya?” tanyanya kemudian.

“Aku sedang membacanya tadi. Aku ingin yang terbaik dan berpengalaman. Sisakan saja 20 proposal yang terpilih untuk mengikuti tender nanti.”

Bingo!

Jenny benar. Itu merupakan kalimat terpanjang yang Hanna lontarkan semejak mereka memulai pembicaraan. Itu berarti, Hanna memang hanya menyukai pembicaraan seperti ini. Sehun harap, percakapan mereka tidak berakhir seperti sebelumnya. Dimana ia berakhir dengan sindiran tajam Hanna terhadapnya.

Detik berikutnya, obrolan itu mengalir bak air. Rencana-rencana untuk kedepannya pun mereka susun secara tidak sadar melalui percakapan ringan itu. Sehun bahkan tak lagi menggunakan embel – embel ‘nona’ saat memanggil Hanna, pun sebaliknya. Mereka terlihat lebih bersahabat karena topik seputar dunia bisnis yang mereka angkat. Sehun bahkan terlihat begitu menikmati suara halus Hanna tanpa sindiran di dalamnya itu. Dan tanpa disadarinya, Caramel Macchiato di dalam Mug-nya sudah habis, karena terlalu larut mendengarkan dan mengamati lawan bicaranya.

“Hanna, maukah kau makan siang bersamaku?” pinta Sehun sopan, meski tak lagi bersikap formal. Inisiatif itu muncul begitu saja, saat mereka terdiam. Sementara Hanna, hanya menatapnya sebagai jawaban. Gadis itu terlihat menimang, mengingat pekerjaannya yang masih menumpuk. Namun tak lama, Sehun bangkit dari duduknya, lantas meraih tangan Hanna untuk bangun.

“Aku tak ingin mendengar penolakan,” ujarnya. Maniknya mengunci bola mata berwarna cokelat kehijauan itu. Membuat Hanna ikut larut menatap manik cokelat kelam miliknya. Ingin sekali Sehun meraih tengkuk Hanna demi mempertemukan bibir mereka. Namun niatan itu pupus, saat Hanna bersuara.

“Aku ambil tasku dulu,” seolah tak ingin larut. Hanna segera melepas kontak mata itu, sambil lalu mengambil tas selempang di mejanya. Sehun yang mengerti Hanna menyetujui ajakannya pun senang bukan main, meski tak terjadi kontak fisik seperti yang ia harapkan.

Bahkan saat mereka keluar ruangan, Sehun tak segan melingkarkan tangan Hanna di tangannya yang membentuk sudut siku-siku. Beruntung Hanna tidak melakukan penolakan, sehingga dirinya tak lagi dipermalukan oleh gadis itu. Kai yang melihat kedekatan di antara keduanya pun menganga, terkejut sekaligus bingung.

Sementara Hanna yang melihat ekspresi Kai, hanya tersenyum menggoda. Membuat gerakan-gerakan aneh seketika tercipta dari tubuh pria itu. Seperti meyilangkan tangan di depan dada, menggeleng – gelengkan kepala kecang, dan gerakan memotong leher dipertunjukkan Kai padanya. Beruntung, Sehun fokus ke depan, tak menoleh seperti yang sedang ia lakukan.

Tak hanya itu, lambaian tangan kecil pun Hanna berikan, membuat reaksi sahabatnya itu semakin berlebihan. Dan saat mereka memasuki lift kemudian berbalik, Kai refleks menghentikan gerakan-gerakan aneh itu—seolah tak ingin dilihat Sehun. Namun, ketika lift kembali tertutup, Hanna melepaskan kaitan tangannya begitu saja.

“Terlalu mencolok,” ujarnya datar juga enteng, membuat Sehun tak senang sekaligus kecewa. Tatapan bertanya pun Sehun berikan, namun wajah tanpa dosa itu terlihat tak peduli.

Sebenarnya, Hanna tak menolak perlakuan Sehun, hanya karena ingin tahu reaksi Kai saat melihatnya. Karena pria itu memarahinya habis-habisan setelah ia mengatakan akan mengikuti permainan Sehun. Membuatnya hanya bisa diam, mendengarkan ocehannya selama perjalanan pulang. Bisa dibilang, ini aksi balas dendamnya pada Kai tempo hari karena sudah memperlakukannya seperti anak kecil. Ia hanya kesal karena tak bisa membantah semua nasehat Kai saat itu. Namun tadi, dengan entengnya ia mengampit lengan Sehun di hadapannya. Seolah sengaja memancing amarah dan segala macam bentuk protes dari pria itu. Hanna bahkan tak mengerti maksud dari gerakan-gerakan Kai tadi. Namun cukup menghibur karena pria itu terlihat bodoh.

Dan tanpa disadari Hanna—ia sudah mempermainkan dua orang pria sekaligus dalam satu waktu. Dengan memberikan harapan palsu pada Sehun dan membohongi sahabatnya, Kai … Kai bahkan sudah jatuh terduduk di dekat meja kerjanya karena merasa gagal menjadi seorang penasehat.

Selama perjalanan menuju tempat makan siang yang Sehun tuju, keduanya hanya diam. Sibuk dengan dunia masing – masing. Sehun sendiri tak tahu harus bicara apa lagi untuk kembali memulai pembicaraan. Jika boleh jujur, sedari tadi Sehun gugup. Gadis di sampingnya itu terlampau dingin juga batu. Membuat Sehun serba salah sekaligus salah tingkah setiap kali harus memulai. Jadi, lebih baik diam daripada mempermalukan diri sendiri.

Sampai tiba di tempat tujuan pun mereka masih diam. Sehun sendiri hanya membukakan pintu untuk Hanna dan memberikan sedikit senyuman untuknya. Namun, saat mereka hendak memasuki rumah makan khas Jepang itu, Hanna menginterupsi.

“Tasku tertinggal di mobil,” ujar Hanna sadar akan sesuatu.

“Tak apa. Aku yang akan membayarnya—“

“Handphone-ku,” sela Hanna. Ia tahu Sehun yang akan membayar makanan mereka nanti, tapi Hanna tak bisa lepas dari handphone-nya. Siapa tahu ada panggilan penting, kan?

“Biar aku yang mengambilnya—“

“Tak apa, aku yang akan mengambilnya sendiri. Kau tunggu saja di sini,” sela Hanna lagi. Sehun yang tak ingin berdebat dan tahu Hanna seorang gadis yang keras kepala, setuju. Ia serahkan kunci mobilnya pada Hanna, lantas membiarkan gadis itu kembali ke parkiran.

Tak lama, Hanna kembali dengan tas yang tergantung di bahunya. Sehun bahkan tak bisa lepas memerhatikan setiap langkah gadis itu.

mini skirt

Deg. Deg. Deg.

Sehun bisa merasakan detak jantung yang kembali berpacu cepat. Bahkan semakin menjadi saat mendapati senyum tipis di bibir mungil gadis itu. Astaga, bunuh aku sekarang! Sehun membatin konyol. Senyum Hanna terlalu manis baginya, terlebih itu untuknya. Bahkan saat Hanna sudah berdiri di depannya, pria itu masih terpaku. Menikmati setiap debaran di rongga dadanya, dan menikmati wajah porselin itu dari dekat.

“Hei, Tuan Bertelsmann …,” Hanna menyadarkan. Gadis itu terlihat bingung akan keterdiaman Sehun. Namun tak lama, Sehun tersenyum tipis sambil lalu menarik tangan Hanna. Seolah tak ingin larut akan keterkagumannya pada gadis itu.

Sementara Hanna, hanya tersenyum penuh arti di sampingnya.

-Ambition-

“Uugh….”

Hanna merentangkan kedua tangannya, sebelum akhirnya menjatuhkan tubuhnya ke ranjang. Gerakan naik – turun pun segera di rasakan olehnya akibat gerakan dorong dari bawah ranjang Queen Size tersebut. Tak lama, senyum tipis terpeta di wajah cantiknya sementara matanya telah terpejam sempurna. Gadis itu tak bisa berhenti tersenyum setiap kali mengingat semua perlakuan manis Sehun terhadapnya. Hanna bahkan merasa sangat istimewa karena Sehun memberikan kesan lain, dimana dirinya tak lagi berlaku berlebihan apa lagi lancang terhadapnya. Hanya saja, saat mengantarkannya pulang setelah makan siang bersama, Sehun kembali memutar jalan dengan jarak yang amat jauh, namun dengan alasan yang sama seperti sebelumnya.

“Aku hanya ingin lebih lama bersamamu, Hanna.”

“Bodoh…,” gumam Hanna, geli sendiri. Entah mengapa, ia merasa Sehun telah masuk ke dalam perangkapnya sendiri. Meski tak yakin, tapi semua perlakuannya dan dari bagaimana cara pria itu menatapnya seolah mengatakan demikian—bahwa ia benar-benar tertarik padanya. Kalau begitu, Hanna tak perlu khawatir akan mendapat amukan murka dari Kai, karena ia -memang- tidak melakukan apa pun untuk menggoda Sehun agar tertarik padanya. Dan Hanna hanya tinggal menunggu waktu sampai pria itu menyatakan kekalahannya.

“Kau tampan Sehun. Aku tidak keberatan jika harus menjadi kekasihmu sampai 520 Park Avenue jatuh ke tanganku…” Hanna berucap konyol. Tangan kirinya diangkat tinggi-tinggi, dengan fokus yang tertuju pada cincin di jari manisnya.

“Tanpa harus kehilangan apa pun.” sambungnya tegas. Ya, Hanna mau bermain tapi tidak mau berkorban. Karena bagi Hanna, kehormatan wanita lebih mahal daripada Bumi dan seisinya. Dan kehormatan wanita tak sebanding dengan mimpi duniawi. Dan kehormatannya hanya akan ia berikan pada pria yang berani mengucap janji suci di hadapan Tuhan untuk menemaninya sampai akhir hayat. Menjamin hidupnya, melindunginya, dan membimbingnya agar jauh dari larangan Tuhan. Tidak untuk ditukar dengan mimpi. Akan sangat hina jika Hanna sampai melakukannya.

Hidup tanpa ambisi, seperti halnya berlaut tanpa peta dan kompas. Kau tahu kenapa? … Karena ambisi adalah keinginan untuk menggapai sesuatu. Jika manusia memiliki tujuan hidup, tetapi tidak memiliki keinginan untuk menggapainya, maka hidupnya hanya akan terombang ambing di lautan lepas.

Hanna tersenyum mengingat rentetan kalimat yang pernah diucapkan Ayahnya, 8 tahun silam.

Bolehkah melakukannya dengan cara yang tidak baik?

Hahaha… Kenapa pertanyaanmu lugu sekali, Nak? Tentu saja tidak boleh. Kau harus memiliki batasan dalam menggapai ambisimu, jika tidak, ambisi itu akan berubah menjadi obsesi, dan obsesi akan merubahmu menjadi seorang yang ambisius. Tentu itu tidak baik. Seorang yang ambisius sering kali menghalalkan segala macam cara untuk menggapai keinginannya, hingga mereka melupakan batas kemampuan yang mereka miliki dan melupakan apa yang sudah mereka miliki.

Begitu? Lalu bagaimana cara membatasinya agar ambisi tidak berubah menjadi obsesi?

Ingat bahwa kau punya Tuhan. Jika kau mengingatnya, maka keinginan yang berlebihan itu akan terbendung.

“Aku mengerti, Dad. Tak ada yang bisa mengendalikan keinginan berlebih (nafsu) pada diri seseorang selain orang itu sendiri. Dan cara mengendalikannya, hanya dengan mengingat Tuhan. Itu terdengar mudah. Tapi aku kesulitan…” Hanna bicara seorang diri. Inilah sisi lain dirinya, meski angkuh dan tak bersahabat, Hanna selalu memikirkan setiap akibat dari setiap perbuatannya. Dan Hanna kesulitan untuk menyeimbangkan itu. Terlalu banyak perilaku buruknya yang berdampak buruk juga. Dan Hanna akan mencoba untuk menyesuaikan keinginannya dengan batas kemampuan yang ia miliki, agar tak menyesal dikemudian hari.

Bahkan tak jarang gadis itu lari pada alkohol yang disimpan di lemari pendingin jika pikirannya mulai berbelit. Tapi itu lebih baik daripada pergi ke klub. Ah, Hanna memang tidak pernah pergi ke klub. Gadis itu tidak suka keramaian, jika banyak pikiran lebih baik menyendiri daripada menambah pusing kepala dengan mendengarkan musik yang memekakkan telinga. Dan Hanna tak mengerti akan kelakuan manusia bodoh di luar sana yang sering kali menjadikan klub sebagai tempat pelarian. Bagaimana bisa, mereka menemukan solusi jika pergi ke tempat seperti itu? Entahlah, Hanna tidak tahu. Yang Hanna tahu hanyalah, masalah itu untuk dipikirkan dan diselesaikan bukan untuk dihilangkan dan dilupakan.

Gelapnya malam telah berganti dengan silaunya sinar matahari. Dan saat Hanna menggapai ponselnya, pesan romantis pun dilihatnya dari nomor yang tidak dikenal.

Semalam aku tidak bisa tidur dengan nyenyak, kau terus datang mengusikku. Dan saat aku bangun, kau kembali datang menggangguku.

Hanna tersenyum membaca rentetan pesan itu. Sepertinya ia tahu siapa pemilik nomor itu.

Kalau begitu, kau harus mengusirku dari hatimu, Tuan!

Balasan Hanna kirim.

Kau pintar, Nona. Tapi aku tidak mau melakukannya. Perasaan ini sangat indah.

Sehun benar – benar pintar membual. Hanna membatin tak percaya. Meski tak bisa dipungkiri, ada gelitikan aneh di perutnya saat membaca deretan huruf yang dikirim pria itu. Tak ingin larut, Hanna putuskan untuk tidak membalasnya lagi, atau ia akan termakan rayuannya.

Namun, di jam-jam kosong baik itu pagi, siang ataupun malam, pria itu pasti akan kembali mengiriminya pesan singkat berisi kata – kata romantisnya. Dan Hanna tak lagi membalasnya. Gadis itu hanya membalas pesannya sekali dan tidak untuk kedua kalinya ataupun seterusnya. Ia hanya tersenyum setiap kali medapat pesan dari pria itu. Ajakan untuk kembali bertemu pun Hanna hiraukan dan panggilannya, ia abaikan. Terus seperti itu, sampai Sehun merasa dicampakan olehnya.

Hanna hanya ingin tahu, seberapa besar kesungguhan Sehun terhadap dirinya. Masih berpura – pura, kah? Atau sudah serius? Terlebih Kai selalu mengawasinya, takut, jika ia melakukan cara licik pada Sehun. Padahal, Kai sudah menasehatinya habis – habisan kala itu.

“Ini sudah 4 hari berlalu semenjak kau pergi makan siang bersamanya, namun kau masih enggan bicara padaku perihal apa yang terjadi di antara kalian berdua?”

Hanna meletakkan ponselnya malas di atas meja saat kembali mendengar kalimat interogasi dari Kai.

“Sudah kubilang, kami hanya makan siang,” jelas Hanna lagi untuk yang ke-4 kalinya. Namun Kai tak kunjung percaya.

“Sebelum itu Hanna! Sebelum ituuu…” Kai gemas sendiri saat mendapat jawaban yang sama untuk yang ke-4 kalinya.

“Sebelum itu apa? Kami hanya membicarakan perihal tender untuk di Dubai nanti …,” jawab Hanna apa adanya dengan sebelah tangan yang memangku wajah. Namun Kai, masih terlihat tak puas. Pria itu terlalu berpikir yang macam – macam, padahal ia amat mengenal Hanna.

“Kau tidak menggodanya dengan duduk di atas pangkuannya, kan? Atau memberikannya tatapan menggoda hingga ia datang menghampirimu dan kemudian kalian … bercumbu?”

Bugh.

Tanpa ampun, tanpa belas kasihan—Hanna melempar telepon kabel yang ada di meja kerjanya ke arah Kai yang baru saja menyelesaikan pertanyaannya. Membuat sang korban meringis kesakitan karena hantaman di bahu.

“Kau mengenalku. Bagaimana bisa kau berpikiran kotor seperti itu?” tanya Hanna enteng, dengan nada yang amat tenang. Sama sekali tak terlihat bahwa ia sedang marah. Hanya lemparan pesawat telepon itu yang menyatakan kemarahannya. Ah, tidak, sebenarnya Hanna tidak marah, gadis itu hanya ikut gemas, itu saja.

Kai tertular virus naif Jenny sepertinya.

Sorry…,” Kai terkekeh setelah mengatakan itu, “aku hanya takut ketampanan Sehun membuatmu terhipnotis,” lanjutnya.

“Aku pernah didekati pria bule yang tak kalah tampan darinya, Kai.” Hanna berujar malas. Sepertinya Kai lupa, pria bule nan tampan di Manhattan merupakan pemandangan sehari – hari bagi Hanna.

Tadi siang, Hanna dibuat gemas oleh kelakuan sahabatnya. Kini, Ayahnya yang berulah. Membuat kepala Hanna hampir pecah memikirkannya. Baru beberapa saat Hanna dibuat kembali tersenyum oleh Sehun lewat pesan singkatnya. Namun, Ayahnya menghancurkan semua itu melalui panggilan singkat.

Lusa, Mr. David dan putranya mengajak kita makan malam bersama.

ARGH…!! Yang benar saja?! Hanna mengerti betul maksud dari ajakan CEO Marriott International tersebut. Saat di Macau, mereka bertemu dan terlibat sedikit perbincangan. Bahkan, cucu John Willard Marriott (pendiri Marriott Corporation) itu terlihat begitu ramah pada semua tamu undangan. Benar – benar mirip seperti halnya ayahnya, J. Willards Bill Jr. Tak heran jika CEO Marriott International itu menyerahkan kuasanya pada anak termudanya, David. Dan sekarang, Mr. David mengundang mereka untuk makan malam bersama, dan Ayahnya yang merupakan pimpinan Ritz-Carlton Hotels Company L.L.C., tentu tidak keberatan. Terlebih, sejak tahun 1995 Marriott International mengakuisisi saham Ritz-Carlton. Sehingga kini, Ritz-Carlton menjadi anak perusahaan Marriott International, besama dengan BULGARI Hotels, Marriott Hotels, Gaylord Hotels, JW Marriott Hotels, Renaissance Hotels, Marriott Conference Center dan beberapa resort dari anak perusahaan tersebut.

Sungguh memusingkan jika dugaan Hanna benar, bahwa Mr. David ingin membuatnya dekat dengan anaknya. Meski sebenarnya, Hanna tak keberatan, karena anak Mr. David itu cukup tampan dimatanya, berwibawa juga sopan. Tapi entah mengapa, hati kecilnya menolak. Hanya itu masalahnya. Sampai – sampai, Hanna lari pada Blue Agave Tequila untuk menenangkan pikirannya itu. Tak peduli pada bahaya bahan psikoaktif (Etanol) yang terkandung dalam minumannya. Paling-paling, ia berakhir dengan tertidur dalam keadaan mabuk.

Hanna kembali menuangkan minuman itu ke dalam Champagne Glass untuk yang ketiga kalinya. Tubuhnya lantas kembali bersandar pada sandaran sofa di belakangnya. Dipejamkannya mata saat minuman itu kembali melewati kerongkongan. Namun tak berselang berapa lama, pintu apartemennya berbunyi—mengusik ketenangannya.

Dengan malas Hanna bangkit dari duduknya, lantas melangkah menuju pintu utama apartemennya. Wajah tak bersahabat pun Hanna tunjukkan pada seseorang yang berada di balik pintu tersebut.

“Maaf Nona. K-kami tidak bermaksud mengganggu waktu Anda. T-tapi…,”

Seorang wanita berseragam pegawai hotel terlihat ketakutan mendapati wajah tak bersahabat Hanna. Hanna sendiri hanya diam menunggu maksud dan tujuan gadis itu datang menemuinya.

“A-ada pengunjung hotel yang mempermasalahkan lampu di kamar mandi tempatnya menginap. Pengunjung itu memesan kamar Suite Executive King, tapi salah satu lampu di kamar mandinya mati. Dan pengunjung itu protes akan pelayanan kamar yang tidak memuaskan dan mengatakan akan mempermasalahkan ini. Kami sudah meminta maaf dan akan segera menggantinya, tapi pengunjung itu meminta Anda untuk datang menghadapnya.” Gadis berdarah asli California itu menunduk takut. Ia tahu Hanna adalah orang yang sangat disiplin mengenai pelayanan kamar di hotelnya. Bahkan beberapa pegawai dengan jabatan tinggi, Hanna sendiri yang menatarnya. Dan sekarang masalah seperti ini saja, mereka tak bisa menyelesaikannya.

“Aku mengerti,” Hanna melangkah keluar setelah mengatakan itu. Ia seorang CEO, tidak seharusnya ia turun tangan langsung. Tapi, pengunjung adalah raja. Apa pun keinginannya, mau tidak mau harus Hanna turuti.

“Tapi Nona,” pegawai wanita itu menginterupsi langkah kaki Hanna. Namun, ia terlihat ragu untuk mengungkapkan. Ditatapnya takut-takut penampilan Hanna yang terlihat begitu mengundang mata lelaki. Namun, ia tak berani protes, sehingga pada akhirnya, kepalanya kembali menunduk. Hanna pun kembali melanjutkan langkah kakinya, tanpa memerdulikannya lagi.

Dan ketika sampai di kamar yang dimaksud, Hanna sudah disambut oleh beberapa pegawai hotel lain. Sepertinya, mereka sudah berusaha untuk menenangkan amukan pengunjung itu, namun gagal. Hanna pun mengerti, bahwa kesalahan bukan ada pada pegawainya, tetapi tamu itu.

“Nona … Kami—“

Hanna menginterupsi dengan memberikan kode nonverbal untuk membuka pintu kamar itu. Sang kepala bagian pun mengerti lantas melakukan perintahnya.

“Tuan … Kami sudah melakukan apa yang Anda inginkan—“

“Persilahkan masuk!” sela pria itu dengan suara beratnya.

“Tapi Tuan—“

Belum selesai pegawai hotel itu mengutarakan keberatannya, Hanna sudah menerobos masuk karena merasa tak asing dengan suara itu. Benar saja! Hanna bahkan refleks mendesah saat mendapati seorang pria yang tengah duduk santai di atas tempat tidur tersebut.

“Kalian boleh pergi. Aku yang akan mengurusnya…” Titah Hanna kemudian, lantas dituruti oleh semua pegawainya. Dengan raut bertanya sekaligus penasaran, mereka pamit undur diri—tak berani membantah perintah.

Tak lama, terdengar suara pintu yang ditutup.

Hening untuk sesaat.

Hanna melipat tangannya di bawah dada. Meminta penjelasan pada pria yang tengah menatap lapar ke arahnya itu. Ia tak menyangka, kesalahan kecil tak terduga dimanfaatkan pria itu untuk memancingnya keluar. Sungguh pintar.

“Apa maksud Anda, Tuan Bertelsmann?” tanya Hanna pada akhirnya.

Namun, yang diajak bicara masih tak kuasa mengalihkan tatapannya dari tubuh molek berlapis Lingerie Corna berwarna merah maroon tersebut. Bisa ia rasakan, hormonnya mulai berperang di dalam sana. Hingga lidahnya kelu—tak mampu berkata-kata … Seperti orang bodoh yang tak pernah melihat tubuh polos wanita.

“…..”

Hanna menaikkan sebelah alisnya, bingung, karena tak kunjung mendapat jawaban. Namun tak lama, Hanna menyadari arah pandang pria itu. Senyum miring pun seketika terukir di wajahnya, sepertinya, ia tahu apa yang tengah dipikirkan oleh pria itu. Dan bukannya marah, Hanna justru melangkah seduktif ke arahnya. Membuat debaran jantung sang korban semakin menggila. Dan Hanna tak peduli itu. Ia terus melangkah, mempersempit jarak di antara mereka. Hingga garis tak kasat mata itu terkikis.

Sehun mengangkat wajahnya demi menatap wajah Hanna yang sudah berdiri tepat di depannya. Oh shit! Sehun mengumpat dalam hati. Libidonya bangkit begitu saja bahkan semakin menggila saat melihat tatapan menggoda dan rona merah di pipi Hanna. Tak hanya itu, sentuhan hangat pun dirasa olehnya saat tangan gadis itu menangkup wajahnya. Membuat netra keduanya terkunci dalam sorot kelam masing-masing.

Pelan – pelan Sehun bangkit dari duduknya tanpa melepas kontak, hingga posisi keduanya terbalik—dimana Hanna yang berakhir dengan mendongakkan kepalanya. Tangannya bahkan sudah bergerak tanpa ragu, menarik pinggang Hanna hingga rapat dengan tubuhnya.

Hanna tak menolak. Gadis itu terlihat tak peduli dengan posisi intim mereka. Tangannya bahkan kembali bergerak—mengelus wajah Sehun yang begitu mulus. Kemudian menyentuh kelopak mata pria itu yang refleks tertutup saat jemarinya menyapa.

“Jaga matamu, jika kau tidak ingin terjebak dalam fantasi liarmu,” ujar Hanna seraya menepuk pipi Sehun, keras. Menyadarkan pria itu untuk tidak berpikir kotor, dan menyadarkannya bahwa Hanna hanya mempermainkannya.

Sial.

Hanna mendorong dada bidang Sehun. Namun, Sehun tetap mempertahankan posisinya.

“Jaga penampilanmu, jika kau tidak ingin aku berfantasi liar akan dirimu,” ujar Sehun tak mau kalah. Menemui laki-laki menggunakan lingerie itu kesalahan. Meski tidak transparan karena menggunakan lapisan kimono, tetap saja—Sehun tergoda.

“Lepaskan aku.” Hanna masa bodoh. Tangannya turun, mencoba untuk melepaskan kekangan Sehun dipinggangnya. Namun sayangnya, itu tak membuahkan hasil apa pun.

“Kau sangat menyebalkan, Hanna. Kau tidak membalas semua pesanku, tidak mengangkat panggilanku, dan sekarang kau menggodaku tapi tidak mau dekat denganku….” Sehun mengungkapkan semua kekesalannya selama beberapa hari terakhir ini. Ditatapnya tajam wajah halus bak porselin itu—meminta penjelasan.

“Hhh…” Hanna mendesah untuk yang kedua kalinya, “Hanya itu masalahmu? Sampai harus menginap di Ritz-Carlton?” tanyanya kemudian. Tangannya kembali naik, kali ini, bermain di kerah kemeja putih Sehun. Ia tahu, memberontak hanya akan membuang-buang tenaga, Sehun tidak akan melepasnya.

 

“Blue Agave Tequila?” Sehun mengalihkan pembicaraan saat mencium bau alkohol yang amat dikenalnya dari napas Hanna. Itu Tequila favoritnya, Sehun hafal betul aromanya.

“Ya. Dan kau mengganggu acara minumku, hanya karena masalah sepele.” Terang Hanna, tak suka. Ketara sekali dari nada bicaranya.

“Sepele kau bilang? Aku tersiksa karena itu. Aku bahkan rela menjatuhkan harga diriku dengan datang kemari demi mengejarmu. Dan kau dengan santainya minum tanpa beban.” Sehun tak kalah jujur. Membuat Hanna mengerjap mendengarnya.

Apa katanya tadi?

Ah, tidak, Sehun pintar membual. Hanna tak ingin masuk perangkap. Meski sorot mata Sehun mengatakan sebaliknya—pria itu sungguh – sungguh. Tak ada kebohongan di sana.

“Kita hanya rekan bisnis, Tuan…” Hanna mendorong tubuh Sehun sedikit lebih keras.

“Tidak untuk kedepannya.” Sehun tetap mempertahankan posisinya. Membuat Hanna gugup seketika. Pelukan Sehun terlalu kuat di tubuhnya. Dan pernyataannya barusan sudah cukup menjelaskan bahwa Sehun menginginkannya untuk menjadi masa depannya.

“Jangan gila…,”

“Aku sudah gila. Aku bahkan sudah kalah dalam permainan yang kuciptakan sendiri.” lanjutnya, membuat hazel Hanna membulat samar.

Tidak. Tidak mungkin secepat ini.

the-ritz-suite

Di sinilah mereka berakhir. Di dalam sebuah ruang tamu luas di dalam apartemen Hanna. Dengan dua buah botol Blue Agave Tequila seharga 1,5 juta dollar (setara Rp. 18 Miliar) per botol di atas meja. Sehun sendiri terlihat rileks dengan sebuah gelas berisi cairan bening di tangan kanannya, sementara titik fokusnya tak lepas dari seorang gadis yang sedari tadi sibuk meminum minumannya dalam diam. Rona merah di pipi Hanna pun semakin terlihat olehnya, membuat wajah datar itu terlihat semakin menggoda.

Jika mengingat kejadian tadi—membuat Sehun merasa begitu naif, karena sempat berpikir Hanna merona karenanya. Padahal, karena alkohol yang diminumnya. Hhh… Bodoh. Bahkan untuk yang kesekian kalinya, ia menjatuhkan harga dirinya di depan gadis itu dengan memaksanya untuk ikut kemari. Hanna yang malas berdebat, hanya diam. Hingga Sehun menganggap itu persetujuan. Tapi, ketika mereka tiba, Hanna berucap dingin,

“Jangan mendekat! Jaga jarak…!!!”

Oh, Ya Tuhan… Sehun merasa begitu konyol. 8 hari yang lalu, Sehun menampik perasaan yang mengganggunya itu, tapi kini, Sehun mengungkapkan kekalahannya secara terang-terangan. Ia yakin, Hanna mengerti dengan apa yang dimaksud olehnya, karena dari awal pun Hanna sudah dapat membaca apa yang diinginkan olehnya. Dan reaksi Hanna sungguh tak terduga, ia hanya mengatakan, “Aku ingin kembali ke kamarku.” setelah itu selesailah semua urusan. Gadis itu bahkan tak berniat membahasnya lagi, pun dengan Sehun.

“Apa yang mengganggu pikiranmu sampai kau menjadikan alkohol sebagai pelarian, Nona?” akhirnya Sehun membuka suara, setelah menemani Hanna menghabiskan dua botol Tequila-nya. Sekarang sudah botol ke-3.

blue-agave-tequila

Sehun hanya lelah menerka, alasan mengapa Hanna sampai seperti ini. Karena Sehun pikir, orang seperti Hanna hanya akan menjadikan alkohol sebagai pelarian demi menenangkan diri dari pikiran yang berkecamuk. Bukan untuk minuman sehari-hari seperti halnya golongan kelas atas pada umumnya.

Sementara Hanna yang duduk 2 meter darinya, hanya meliriknya sesaat. Terlihat berpikir sebelum menjawab pertanyaannya. Namun, efek samping alkohol yang langsung memengaruhi sistem keja saraf pusatnya sudah berhasil mengacaukan fungsi berpikir, prilaku dan merasakan pada tubuhnya. Hingga membuat Hanna kesulitan untuk menyusun kata yang tepat sebagai jawaban. Namun, Hanna ingat akan tujuan awalnya.

“Sejak tahun 1993, Marriott Corporation pecah menjadi Marriott International dan Host Marriott Corporation,” Hanna mulai bicara. Sehun menaikkan sebelah alis -sedikit bingung- dengan arah pembicaraan Hanna. Namun, ia tetap mendengarkan.

“Marriott International dipegang oleh anak pertama JW Marriott, J. Willards Bill Jr. Sementara Host Marriott Corporation dipegang oleh adik Bill Jr, Richard Marriott. Dan sejak tahun 1995, Marriott International mengakuisisi saham Ritz-Carlton. Hingga Kakek begitu akrab dengan Mr. Bill, dan kini, anak dari Mr. Bill, Mr. David begitu dekat dengan Daddy. Dan …,” lanjut Hanna, dijeda dengan kembali meneguk minumannya.

” –Daddy dan Mr. David, ingin aku dan anaknya dekat,” terang Hanna, membuat Sehun kaku di tempat. Ia mengerti betul maksud dari kata ‘dekat’ itu. Perasaan tak rela pun datang mengusik.

“Aku tak masalah, sebenarnya … lagi pula, aku memiliki mimpi untuk menjadi seorang arsitek, hanya saja Daddy menginginkan aku menggeluti bisnis. Hingga aku begitu tertarik pada bidang real estate dengan segala macam bentuk bangunannya yang luar biasa. Sampai pada akhirnya, ambisi baru, muncul—” Hanna kembali menjeda. Sehun masih mendengarkan dengan perasaan yang berkecamuk. Ia sudah paham ke mana arah pembicaraan Hanna.

“Aku ingin membangun gedungku sendiri dengan arsitektur yang aku inginkan. Meski aku sudah menjadi seorang pemimpin di sini, di gedung ini—aku tetap merasa tak puas. Karena bangunan ini selesai dibuat sejak lama, tanpa campur tanganku. Itu sebabnya, aku mengikuti proyek besar 520 Park Avenue, dengan harapan bisa mewujudkan mimpi baruku itu.”

Sehun semakin paham. Bisa ia lihat, Hanna memejamkan matanya. Gadis itu mabuk berat sepertinya, namun masih bisa mengontrol bicaranya dengan sangat baik. Meski begitu, Hanna tetap tak sadar dengan apa yang dikatakan olehnya itu justru membuatnya masuk ke dalam perangkap baru yang Sehun ciptakan.

“Tapi, aku gagal dan Daddy tahu. Jalan hidupku pun kembali dipilihkan olehnya … karena Beliau tahu, anak Mr. David akan mewujudkan mimpiku di mana pun aku menginginkannya … Terlebih, jaringan Marriott International sangat luas, meski JW Marriott dan Ritz-Carlton sempat mengalami penurunan saham karena kasus bom yang terjadi di Indonesia dan Pakistan. Juga kasus pembajakan dua buah pesawat yang ditabrakan ke dalam gedung Word Trade Center pada tahun 2001 yang mengakibatkan hancurnya Marriott World Trade Center di dalamnya. Namun, sampai saat ini, Marriot International tetap bertahan dan justru semakin memperluas cabang mereka.” Hanna melanjutkan, membuat wajah Sehun mengeras seketika. Namun, gadis itu terlihat santai dengan kembali meminum minumannya.

“Aku rasa, menuruti keinginan Daddy untuk dekat dengan ahli waris Marriott International tidaklah buruk—“

Trak.

Hanna membelalakkan matanya, saat Sehun merampas gelas ditangannya, lantas meletakkannya kasar di atas meja. Belum cukup sampai di situ, kedua tangan kekar pria itu beralih menangkup wajahnya. Mengunci pergerakannya.

“Dengarkan aku! Katakan pada Ayahmu, bahwa aku yang akan mewujudkan mimpimu. Katakan pada Beliau, bahwa aku mampu mewujudkan semua keinginanmu. Bila perlu, aku sendiri yang akan mengatakannya, jika kau sudah siap…,” tutur Sehun sarat akan emosi. Ia benar – benar tak suka mendengar Hanna berbicara seperti itu. Hingga emosinya memuncak begitu saja.

Hanna yang mendengar penuturan Sehun pun hanya bisa mengerjapkan matanya dua kali. Ia tak menyangka, ternyata Sehun tak sebrengsek yang ia kira. Pria itu bahkan langsung melamarnya secara tidak langsung, padahal mereka tidak sedang dalam sebuah hubungan. Sementara Hanna tahu, tidaklah mudah untuk menyatakan kalimat seperti itu untuk seorang pria, jika ia benar-benar mencintai seorang wanita. Itu berarti, Sehun serius padanya. Ia bahkan terlihat amat cemburu juga tak rela jika dirinya sampai dekat dengan pria lain.

“Berhentilah bercanda, Sehun. Aku tidak suka. Memangnya apa yang bisa kau berikan padaku sementara kau sudah merampas mimpiku?” tanya Hanna, merendahkan. Tangan Sehun pun ditepisnya begitu saja seolah tak ingin hanyut.

Sehun sendiri sudah amat mengerti, dari awal pembicaraan ini, Hanna memang menginginkan dirinya menyerahkan kuasa 520 Park Avenue kepadanya seorang sebagai bukti cintanya. Dengan membuatnya panas akan rencana orang tuanya. Namun Sehun tidaklah sebodoh itu. 520 Park Avenue adalah mimpinya dan Hanna adalah masa depan yang ia inginkan. Jika ia menyerahkan apartemen itu begitu saja, maka Hanna akan pergi dengan cepat dari hidupnya. Tidak. Itu tidak boleh terjadi. Sehun menginginkan kedua-duanya, maka ia akan mempertahankan keduanya.

“Aku seorang ahli waris Bertelsmann, jika kau lupa. Dan aku seorang pemimpin Random House Tower. Itu berarti, Kedudukanku dan Ayahmu sama. Kami sama-sama memimpin anak perusahaan yang memiliki aset di mana-mana. Bahkan uang yang aku miliki sudah lebih dari cukup untuk membahagiakan seorang ahli waris Ritz-Carlton Hotels Company…,” jawab Sehun yakin, “—dan aku bisa memberikan apa pun yang kau inginkan, tapi tidak untuk 520 Park Avenue, karena itu akan membuatmu jauh dariku.” Tegasnya kemudian. Membuat hazel Hanna membulat.

Gadis itu baru sadar telah melupakan sesuatu. Ia lupa siapa Sehun. Dan ia melupakan fakta bahwa Bertelsmann memiliki 100.000 karyawan yang tersebar di 63 Negara di seluruh dunia, sementara Ritz-Carlton hanya 32.000 karyawan yang tersebar di 23 negara. Tidak seharusnya ia tergesa-gesa dengan mengatakan keinginannya pada Sehun. Karena Sehun tidak bodoh dan sangat tak mungkin pria itu akan melepasnya begitu saja karena kini, pria itu menginginkannya.

Hanna terjerembab. Termakan ucapannya sendiri. Seolah mendapat karma dari perlakuannya tempo hari pada Sehun.

“Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku, Sehun? Tubuhku?” tanya Hanna, sedikit kalut. Baru kali ini, Hanna kesulitan mengontrol emosinya. Oh sial! Sehun bahkan terlihat amat senang karena memenangkan perdebatan kali ini.

“Ya. Aku menginginkan tubuhmu. Aku menginginkan semua yang ada pada dirimu. Bahkan aku sangat ingin bercinta denganmu saat ini juga … Tapi, aku—” ujar Sehun santai, membenarkan. Tangannya lantas beralih meraih tangan kiri Hanna. Mengangkat jemari gadis itu.

“Menghormatimu. Menghormati komitmenmu. Namun aku akan tetap menyentuhmu, suatu saat nanti … saat cincin ini berganti dengan cincin pernikahan dariku…,” lanjutnya, membuat Hanna hampir meleleh—tak percaya. Sehun yang melihat sedikit perubahan ekspresi Hanna pun tersenyum. Namun itu tak bertahan lama saat . . .

“Heh, manis sekali. Aku tidak bodoh Sehun! Laki-laki sepertimu tidaklah mudah untuk jatuh cinta. Aku sudah memperingatkanmu dari awal … jangan mempermainkanku!” Tegas Hanna. Mengingatkan Sehun bahwa mereka rival. Sekaligus menguatkan dirinya untuk tidak semakin jatuh ke dalam perangkap baru itu. Namun Sehun, hanya tersenyum menanggapinya. Ia tahu Hanna bukanlah gadis yang mudah ditaklukan sekalipun tengah mabuk.

“Kau tahu apa itu efek doppler?”

“Aku sedang tidak ingin belajar Fisika. Dan jangan alihkan pembicaraan!” ketus Hanna, semakin tak bersahabat.

Senyum Sehun semakin manis, tak peduli dengan nada ketus itu. Dibawanya tangan Hanna dalam gengaman, kemudian dirapatkannya punggung tangan gadis itu ke dada sebelah kirinya.

Deg. Deg. Deg.

Saat itu juga Hanna membatu. Merasakan tempo cepat dari debaran jantung Sehun yang begitu berirama juga kuat. Hingga debaran yang sama tercipta di dalam rongga dadanya.

“Ini yang kumaksud. Semakin dekat sumber suara, semakin nyaring bunyi yang terdengar. Pun sebaliknya, semakin jauh sumber suara, semakin lemah bunyi yang terdengar…,” Sehun menatap dalam pure hazel Hanna. Membuat sang empunya ikut terkunci dalam sorot elang pemangsa itu.

“Dan kau adalah sumber suaranya. Semakin dekat dirimu, semakin nyaring debaran di dalam sana. Semakin jauh dirimu, semakin lemah pula debarannya.” ungkap Sehun, sungguh-sungguh. Dan Hanna mengerti maksud ucapannya, bahwa ia menginginkannya juga membutuhkannya agar jantungnya terus berdetak, meski tak normal.

“Berhenti membual…,” ujar Hanna, mencoba untuk bersikap senormal mungkin. Menghancurkan dinding harapan Sehun, bahwa Hanna bisa mengerti maksudnya.

Tidak sadarkah Hanna?! Tanganku sedikit gemetar saat membawa tangannya mendekat. Hhh…

“Aku tidak pernah membual Hanna. Kau saja yang terus – terusan berprasangka buruk padaku…,” Sehun jengah sendiri. Susah sekali membuat Hanna jatuh hati, ah, jangankan jatuh hati, tersentuh saja tidak. Setidaknya itu yang bisa Sehun lihat dari minimnya perubahan ekspresi Hanna.

“Niat awalmu sudah tidak baik, bagaimana bisa aku perca—“

Hanna mengerjapkan matanya, saat jari telunjuk Sehun menempel di bibir mungilnya. Tak lama, hanya sesaat. Selanjutnya, Sehun kembali menangkup wajah Hanna. Mengunci kembali hazel gadis itu. Tak lama, dikikisnya jarak di antara mereka hingga mata indah itu dibuat tertutup olehnya.

Dentuman keras yang terasa begitu nyata pun Hanna rasa. Jantungnya itu seolah minta keluar dari sarangnya. Membuat rona merah yang sesungguhnya tercipta di pipi. Hanna bahkan bisa merasakan betapa lembutnya bibir mungil Sehun yang mendarat dengan sempurna di dahi mulusnya.

Cukup lama Sehun mempertahankan posisinya, membiarkan atmosfer aneh menyelimuti keduanya. Bahkan Hanna hanya diam membiarkan. Sampai Sehun sendiri yang mengakhiri kecupan manisnya. Entah mengapa, Hanna tak merasa Sehun melecehkannya meski pria itu kembali menciumnya tanpa izin.

“Aku akan membuktikannya bahwa aku sungguh-sungguh. Sekarang tidurlah,” ujarnya kemudian. Jemari penjangnya menari, merapikan surai Hanna. Membuat sang empunya hanya bisa diam, menikmati perlakuan istimewanya. Sehun yang menyadari kebisuan Hanna karena perlakuannya pun kembali tersenyum.

Entah iblis darimana, Sehun tiba-tiba mendorong bahu mungil Hanna hingga punggungnya mendarat ke sofa. Membuat wajah tanpa ekspresi itu tepat berada di bawahnya. Jemarinya kembali bergerak, menyentuh bulu mata lentik Hanna, hingga mata itu refleks mengerjap.

“Sebenarnya, ini sangat sulit untukku, Hanna. Aku laki-laki, dan laki-laki tidak sehebat perempuan dalam menahan hasrat. Dan kau … kau terlalu menggoda untukku. Bahkan dari awal, aku sudah tergoda olehmu.” Sehun berujar, seduktif. Tangannya pun tak berhenti menggoda Hanna dengan sentuhan – sentuhan kecil di wajahnya.

“….” Hanna diam menikmati, tak berkutik sama sekali. Manik Sehun pun semakin leluasa mengagumi setiap pahatan sempurna wajah itu, hingga berhenti di bibir mungil berbentuk hati miliknya.

“Kau pernah berciuman?” tanyanya tiba-tiba, tergoda ingin melakukan lebih.

“Tidak.”

“Bolehkah aku jadi yang pertama?”

.

.

.

 

To Be Continued

 

.

.

.

 

/sekilas info-,-/

 

Lingerie Corna yang Hanna pakai

lc

Sama seperti dress, high heels, skirt, shirt, lingerie juga banyak macamnya. Dan dalam cerita, Hanna menggunakan lapisan kimono, jadi gak transparan.

Ini World Trade Center yang hancur ditabrak dua buah pesawat yang dibajak teroris pada September tahun 2001 silam.

World_Trade_Center,_New_York_City_-_aerial_view_(March_2001)

Menurut Investigasi Ekonomi, banyak pengusaha Real Estate yang mengalami penurunan saham kala itu. Kalau JW Marriott dan Ritz-Carlton itu karena Bom. Yang diduga dilakukan oleh organisasi yang sama Osama bin Laden. Itu sebabnya, muslim di Amerika itu dianggap teroris. Padahala dalam Islam sendiri organisasi itu dianggap aliran sesat. Karena memang agamaku itu tidak mengajarkan kekerasan. Aku yakin semua agama juga gitu^^

 


Author’s Note

 

Sebelumnya maaf untuk segala kekurangannya dan terima kasih buat kalian semua yang masih mau baca FF ini…!!!

 

Selamat beraktivitas semuanya, FIGHTING…!!!

Saranghae Yeorobun…!!!

 

Regards,

Sehun’Bee

1,142 responses to “Ambition [Chapter 4] – by Sehun’Bee

  1. OHMYGOD!! Sehun udah 100% jatuh cinta dan bertekuk lutut sama Hanna.
    Tinggal nunggu Hannanya yg belum percaya sama Sehun👍
    Mau liat usaha & kefrustasian Sehun utk dapetin Hanna

  2. hahaha, sumveh gua suka part ini. si ohseh romntis bgt tp tetep elegan. emm buat hanna, Keknya udh mlai trperangkap dlm pesona abang ohseh dehh

  3. sehun gamblang banget ya, aku kira dia bakal sama diemnya ky hanna sok jual mahal atau gimana gitu, eh engga. dan ternyata Ritz-Carlton itu beneran ada ya aku yg polos atau emg terlambat menyadari(?) Aku ga ngerti sama author pemikiran nya gimana bisa sampe nyambung nyambung gitu ga kaya aku yang pemikiran nya pendek:’3 dan kembali aku bacanya ulang ulang cuman karna aku ga ngerti sama katakata nya-,- maafkan aku. Oh iya aku mau curhat ,aku kan baca ff regret tapi ko aku ga bisa comment ya pdhl aku udh turutin prosedurnya tapi ga muncul, aku udh coba hubungin author cuman kaya nya lagi hiatus ya? Jadi aku tunda deh bacanya. Aku mau nunggu author balik aja yaa. Keep writing^^

  4. Wah semakin ke sini ceritanya semakin bagus bgt kak. Dan kayaknya hanna mulai jatuh ke pesona sehun. He..he…

  5. Sumpret aku dibikin melting ama kata-katanya sehun. Trus hanna kayaknya mulai ada perasaan deh ama sehun. Tapi hanna masih pada ambisinya untuk mendapatkan 520 park avenue. Padahal sehun udah berjuang mati2an buat dapetin dia. So sweeet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s