Vampire Planet #2 – by Choi Yura

vampireplanet3

Title: Vampire Planet │Author: Choi Yura │ Cast: Oh Sehun (EXO-K), Han Jang Mi (OC’s) │Other Cast: EXO’s and OC’s │ Genre: Romance, Fantasy │Rated: PG-17 │ Length: Series

Sebelumnya: PrologChapter 1

***

Istana EXO, sehari sebelum upacara.

Setelah Jong In melaporkan kepulangan dan kemenangan kaum vampir di Planet Bumi kepada Sehun, ia pun segera berpamitan dan berjalan keluar meninggalkan ruangan Sehun dengan langkah pasti yang tampak agak tergesa. Pikirannya berkecamuk dan jantungnya berdebar penuh antisipasi setiap dia mengingat permohonan wanita itu, Kim Sooyoung.

Sebelum datang untuk menemui Sehun, Jong In terlebih dulu mengurusi Sooyoung yang pingsan, membawanya ke salah satu kamar di Istana EXO lalu membuat wanita itu tersadar dengan salah satu kekuatan yang ia punya, influence, kekuatan yang dapat mempengaruhi seseorang yang tertidur. Dengan meletakkan sebelah tangan di dahi seseorang, maka tak selang berapa lama sinar keputihan mencuat keluar dan seseorang yang merasakan sinar itu pun akan segera terbangun dari ketidak sadarannya, begitu pula dengan Sooyoung yang merasakan ada sesuatu yang memaksanya untuk segera membuka mata.

Mata Sooyoung mengerjap beberapa kali, menstabilkan penglihatannya yang seakan keremangan. Beberapa detik kemudian, saat ia menoleh ke arah kanan, oh betapa terkejutnya dia melihat seorang lelaki tengah terduduk di sebuah kursi, tepat di samping kasur yang ia tiduri. Lelaki itu memiliki rupa yang tampan, bola matanya merah cerah dengan rambut tebal berwarna oranye kecoklatan.

JONGINCHOIYURA

Reflek Sooyoung mendudukkan dirinya dan beringsut menjauh dari Jong In. Bahkan tubuhnya nyaris saja terjatuh dari tempat tidur itu kalau saja ia tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya kembali. Tatapan Jong In yang tak pernah lepas memandang dirinya membuatnya semakin merasa takut.

Tubuh Sooyoung bergetar dan meremang, diiringi dengan napasnya yang mencekat.

“Sekarang kau ikut aku. Kau harus berkumpul dengan segerombolan kaummu.” Jong In berkata dengan nada datar, namun upacannya menyiratkan kalau ia tidak ingin dibantah.

Alis Sooyoung mengerut dan ia memeluk kedua kakinya yang tertekuk. Dia yakin, pasti kaum vampir akan menyiksanya berserta kaum manusia lainnya.

“Di mana anakku?” meski Sooyoung lemah karena rasa takutnya yang tidak bisa ia sembunyikan, bagaimana pun juga ia harus mengerahkan semua kemampuannya untuk bertanya pada lelaki bermata merah cerah itu. Suaranya yang bergetar sangat kontras dengan keheningan di kamar itu, ditambah lagi luasnya kamar itu tidak bisa dirangkum hanya dengan kata-kata.

Jong In benar-benar dapat mendengarnya, wanita itu takut kepada dirinya.

Tangan Jong In bergerak, merapatkan tuksedo hitamnya sembari bangkit dari kursinya. Tatapannya datar dan tak terbaca saat menatap bola mata abu-abu milik Sooyoung.

“Itu tidak perlu kau pertanyakan, sekarang ikut lah denganku. Masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan. Mengurusmu bukan lah salah satu dari tugasku.” Kata-katanya dingin, Sooyoung pribadi merasa bergidik mendengarnya.

Kamar yang Sooyoung tempati sekarang terbilang sangat megah dan menurutnya siapa pun yang mempunyai gedung ini adalah orang terkaya di planet vampir. Tetapi ia tidak terlalu menghiraukannya, lelaki di hadapannya itu mungkin bisa saja menyerangnya sewaktu-waktu. Tak sedikit pun ia ingin mengalihkan pandangannya, ia harus terus waspada dan berjaga-jaga untuk tidak lengah walau itu hanya sedetik.

Tanpa sadar Sooyoung lengah karena rasa ingin tahunya terhadap desain dan ornamen-ornamen kamar itu, jadi ia sedikit terpukau dengan membiarkan matanya mengitari seisi ruangan. Segala pahatan berlian dan ukiran emas terpatri sempurna di dinding marmer berwarna putih itu. Bahkan lantai pualam itu memiliki corak bulan purnama berwarna hitam, persis seperti yang dimiliki putrinya.

Namun, beberapa detik kemudian Sooyoung terkesiap dan menatap Jong In kembali seraya berkata, “Aku tidak ingin ikut denganmu sebelum putriku kembali.” Nadanya tegas, tanpa takut atau pun ragu-ragu.

Jong In tersenyum sinis dan berbalik, melangkah menjauh seolah ingin meninggalkan wanita itu sendirian. Tetapi tiba-tiba saja langkahnya terhenti dan ia melirik Soyoung yang berada di belakang melalui ujung matanya, “Bersiap-siap lah untuk mati. Siapa saja yang memberontak, Raja kami tidak akan segan-segan untuk membunuhnya,” ucapnya penuh peringatan.

Dengan seketika Sooyoung terperanjat, ia beranjak dari tempat tidur itu dan berlari mendekati Jong In, duduk berlutut dan memeluk sebelah kaki lelaki itu, dengan ditemani wajah murung yang seakan meminta untuk dikasihani.

“Aku mohon, Tuan. Tolong aku, tolong bantu aku. Dia anakku satu-satunya dan tujuanku untuk terus bertahan hidup. Saat Bumi hancur dan para jutaan kaum vampir menyerang kami, aku tidak terlalu memedulikannya karena keberadaan anakku lah yang membuatku kuat dan ingin terus bertahan hidup. Kau tahu? Saat aku tahu anakku kebal terhadap radiasi nuklir, betapa senang dan syukurnya aku, Tuan. Jadi aku mohon, bantu aku. Bantu aku untuk bertemu dengan anakku.” Sooyoung mengucapkannya dengan intonasi yang terlalu memohon, terkesan berharap dan sangat mengemis pertolongan pada Jong In. Tangisannya terdengar jelas dan setiap kalimatnya terputus-putus karena ia mengatakannya dengan tersedu-sedu.

Tidak bisa dijelaskan, mata Jong In yang tadinya berwarna merah cerah kini berubah menjadi hitam, persis seperti mata manusia pada umumnya.

Ada apa ini? Mengapa hatinya terasa tak tega? Oh, betapa ia sangat membenci situasi ini dan ia selalu mengutuk di dalam hati. Setiap kali ia melihat manusia bertingkah lemah seperti yang baru saja Sooyoung lakukan, entah bagaimana hatinya mencelos, mengingatkannya untuk segera menolong mereka. Kelemahannya ini sangat tidak bisa diajak berkompromi! Dan kelemahannya kali ini tidak bisa ia abaikan lagi. Permohonan Sooyoung yang tulus itu sudah meluluhkan hatinya yang dingin. Tapi ia tidak bisa menunjukkan kelemahannya itu―luluh akan permohonan Sooyoung begitu saja. Jika saja ada kaum vampir yang tahu kalau matanya berubah menjadi hitam pekat seperti mata manusia, ia tidak bisa membayangkan akan seperti apa nasibnya nanti.

“Aku tidak peduli,” ujar Jong In dingin dan melangkah lebar, hingga pelukkan tangan Sooyoung pada kakinya terlepas.

Tangisan Sooyoung makin menjadi-jadi. Dia mulai terduduk lemah dengan kedua tangan menopang di atas lantai marmer kamar itu. Tubuhnya serasa tak berdaya dan sepertinya ia tak sanggup lagi hidup bila itu tanpa putri kandungnya.

Baru saja Jong In melangkah tiga langkah, seketika itu juga kakinya berhenti bergerak, seolah tidak ingin melangkah lebih jauh lagi―meninggalkan wanita itu. Hatinya terus saja berteriak dan itu sukses membuatnya frustasi. Otak dan hatinya bercokol. Otaknya menuntut untuk segera berlalu dari kamar itu, namun tubuhnya malah mengikuti kata hatinya, menyuruhnya untuk membantu Sooyoung secepat mungkin.

Jong In menghela napas frustasi dan ia menggeram di dalam hati, mengutuk semua kelemahannya, “Anakmu ada di ruangan steril istana ini,” gumamnya kemudian dan berbalik. Dari sudut pandangnya, Sooyoung tengah menunduk lemah dan bahunya tampak terguncang mengikuti tangisannya yang semakin mengeras.

Sooyoung menengadah, memukan Jong In sudah berjalan ke arahnya.

“Tolong bawa aku kepada anakku,” pinta Sooyoung untuk sekian kalinya.

Jong In yang sudah berdiri di hadapan Sooyoung mulai berjongkok dan menghapus air mata wanita itu, mengisyaratkannya untuk berhenti menangis.

Mata Sooyoung yang berair tak pernah lepas menatap mata Jong In yang berwarna… hitam? Bukankah yang ia lihat sebelumnya mata lelaki itu berwarna merah cerah? Sejak kapan berganti warna? Rentetan pertanyaan itu berseliweran di dalam benak Sooyoung. Tetapi ia mengabaikannya, situasi ini terbilang sangat genting, pertanyaan yang tak penting semacam itu tidak perlu terlalu dihiraukan.

“Aku akan menolongmu, tetapi dengan satu catatan, kau harus mengikuti semua yang aku perintahkan agar pertolonganku kepadamu tidak diketahui oleh siapa pun,” ada aksen dingin yang tergambar jelas dari suara dan raut wajah Jong In. Dan Sooyoung tahu, semua yang dikatakan lelaki itu bukan main-main.

Dengan entengnya, Sooyoung mengangguk dan menyetujui semua perkataan Jong In.

Jong In kembali ke dunia nyatanya, pertemuannya dengan Sooyoung beberapa jam yang lalu membuatnya tak dapat menghilangkan ingatan itu begitu saja.

Jong In menghentikan langkahnya di pertengahan lorong istana dan bersandar pada dinding marmer berwarna keemasan. Dia menghela napas berat dan memegang dada kirinya. Jantungnya berdegup dengan kencang dan ia jelas merasakan bahwa denyutan jantungnya sangat berbeda dari kaum vampir lainnya. Debaran jantungnya tidak secepat vampir pada umumnya. Jantungnya mempunyai debaran ritme yang sama seperti milik manusia. Cepat ketika dalam situasi genting dan akan berdenyut normal ketika suasana lagi tenang dan damai.

Di Planet Jatonus, pernah tersiar kabar bahwa ada vampir yang memiliki jiwa setengah manusia, dan Jong In adalah salah satu di antaranya. Dia ingat betul mengapa ia mempunyai kelemahan seperti seorang manusia, melemah ketika ada yang meminta tolong. Pada saat itu, ketika ia diserang oleh seorang vampir lelaki, ia merasa dunianya hancur, tetapi pertolongan seorang lelaki tua membuatnya terselamatkan. Entah bagaimana kronologisnya, lelaki tua itu tiba-tiba saja mengusir vampir yang sedang mengisap darahnya dan kemudian membawanya pergi dari tempat terkutuk itu.

Lelaki tua itu telah menolong Jong In dengan membersihkan lukanya dan mengatakan padanya sebentar lagi Virus Vampire itu akan menginfeksi tubuhnya. Tentu saja Jong In syok dan secepat mungkin ia memohon pada lelaki tua itu untuk menyembuhkannya, namun lelaki tua itu tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak ada obat penawar yang dapat menyembuhkan virus itu.

Setelah mendengar itu, Jong In mengurung diri di kamar―rumah lelaki tua itu hingga berhari-hari, juga tidak ingin makan apa pun karena lidahnya terasa pahit dan ia ingin muntah setiap kali memakan makanan yang dikonsumsi oleh manusia.

Sampai selang beberapa minggu lamanya, Jong In merasakan perubahan aneh di dalam tubuhnya. Darahnya berdesir cepat dan jantungnya berdegup dengan kencang, menghantarkan keringat dingin yang bercucuran di sekujur tubuhnya. Dan saat itu lah, Jong In menyadari dirinya telah berubah menjadi vampir dan ia haus… haus akan darah manusia.

Jong In ingat, ia telah membunuh lelaki tua itu karena terlalu banyak mengisap darahnya, dan setelah menyadari bahwa dirinya sudah persis seperti binatang buas, ia pun beringsut menjauh dan menangisi lelaki tua itu, juga menangisi keteledorannya yang tidak bisa menahan hawa nafsunya. Lelaki tua itu mati di hadapannya, lebih tepatnya ia yang telah membunuh lelaki tua itu.

Sampai sekarang Jong In masih merasakannya, Virus Vampire tidak seluruhnya menggerogoti sel-sel tubuhnya. Buktinya ia akan menyesali semua perbuatannya ketika ia sadar bahwa dirinya sudah tega merenggut satu nyawa.

Itu adalah kenyataan paling buruk di hidupnya. Memang benar hidupnya abadi namun Jong In selalu dihantui oleh rasa bersalah, sebab ia masih memiliki hati layaknya manusia biasa, bisa menangis sewaktu-waktu dan sering berlaku tidak tega. Justru hawa nafsunya lah yang sering membutakan pikiran rasionalnya.

Kalau saja Sehun tahu bahwa kaki tangannya adalah vampir setengah manusia, siapa pun tidak tahu apa yang akan lelaki itu perbuat pada anak buahnya. Mungkin saja tanpa berpikir panjang Sehun akan langsung menuntaskan Jong In tanpa sisa dalam arti yang sesungguhnya.

Setahu Jong In, Sehun sudah mengetahui tentang selentingan berita bahwa vampir yang hidup di Planet Jatonus ada yang memiliki jiwa setengah manusia, namun sampai sekarang Sehun seolah tak acuh dan membiarkan berita itu terkubur oleh zaman. Kali ini Jong In bisa bernapas lega dan ia akan menutupi identitas aslinya di hadapan siapa pun, termasuk raja mereka sendiri.

Jong In menegakkan tubuhnya dan melanjutkan perjalanannya lagi. Kakinya melangkah beberapa langkah dan tubuhnya menghilang di ujung lorong istana. Bukan berbelok, lebih tepatnya Jong In sedang menggunakan kekuatannya, berteleportasi ke tempat yang ia inginkan.

Seperti angin, Jong In menampakkan wujudnya di ruang bawah tanah. Perlahan ia berjalan beberapa langkah dan sudah berada di dalam penjara wanita. Dengan kekuatan teleportasi yang ia miliki, ia tak perlu bersusah payah lagi melewati para pengawal yang sedang berjaga-jaga di depan pintu ruang bawah tanah. Untungnya tidak ada penjaga yang berjaga tepat di depan jeruji besi para tahanan―kaum manusia. Jadi sedikit banyak mempermudah Jong In untuk menjalankan semua rencananya.

Tatapannya yang tajam menatap semua wanita yang berada di balik jeruji besi itu. Ekspresi serta sorotan mata semua wanita itu seolah tak percaya ketika menyadari eksistensi Jong In. Pupil mata Jong In seketika mengecil dan ia mulai memengaruhi pikiran mereka dengan kekuatan push, membuat suatu kebohongan menjadi kenyataan. Beberapa detik kemudian, wanita-wanita yang berada di dalam penjara itu terdiam dan matanya menerawang tampak seperti orang bodoh.

Hanya satu orang yang bergerak bebas dan menatap ke sekelilingnya. Ada kesan bingung sekaligus heran dalam ekspresi wajahnya dan orang itu adalah Kim Sooyoung. Wanita pemilik mata bulat berwarna abu-abu serta rambut berwarna hitam itu mengalihkan pandangannya kepada Jong In yang masih berdiri di luar jeruji besi.

tumblr_mv8rwnYh0F1sl36gio6_500

“Cepat lah kau keluar dari kerumunan orang-orang itu,” Jong In memerintahkan Sooyoung dengan nadanya yang terdengar datar dan tak antusias.

Sooyoung memandang Jong In tak suka lalu segera bangkit dan berjalan ke arah jeruji besi. Kali ini Jong In mengejutkannya lagi karena saat ia sudah hampir sampai ke jeruji besi, lelaki itu tiba-tiba saja muncul di hadapannya dan Sooyoung harus menerima wajahnya sakit akibat menabrak dada lelaki itu. Dada Jong In keras dan itu sekeras batu.

Tangan Jong In yang dingin menggenggam sebelah tangan Sooyoung lalu membawanya pergi dengan kekuatan teleportasi, seketika saja mereka berada di sebuah pedesaan yang banyak ditumbuhi akan pohon-pohon. Segala pepohonan yang baik tumbuh di sana, warna dedaunan pohon-pohon itu beraneka ragam, ada pohon yang daunannya berwarna oranye, kuning, merah, ungu dan semacamnya. Pepohonan yang tumbuh di Planet Jatonus adalah tumbuhan yang mempunyai bermacam kegunaan, dari buah-buahnya, batang-batangnya, sampai dedaunnannya pun, semuanya bisa digunakan dan itu tidak disia-siakan oleh para kaum vampir. Untuk mengolahnya, mereka akan membawa bahan mentah dai pedesaan menuju pusat kota, Xoxo City, di mana pusat kota lah tempat gedung pabrik berproduksi dan akan menghasilkan industri terbaik.

Mengingat-ingat tentang dirinya yang tiba-tiba berada di suatu pedesaan, Sooyoung agak terkesiap, namun entah mengapa ia tidak terlalu terkejut dengan kekuatan yang dimiliki Jong In. Kini dia tahu, semua kaum vampir memiliki kekuatan yang semuanya di luar kemampuan manusia.

Sooyoung menatap kagum setiap jengkal keindahan di sana. Baru sekarang ia bisa melihat alam terbuka di Planet Jatonus, ternyata planet itu tidak berbeda jauh dari bumi, bahkan planet itu terlihat lebih baik dibandingkan tempat asalnya dulu. Semuanya begitu asri dan terasa sangat tentram.

Dari tempatnya berdiri, Sooyoung bisa melihat langit biru itu menampakkan beberapa benda luar angkasa. Ini benar-benar hebat dan seperti mimpi baginya berada di sana. Dia sedikit tidak mengerti mengapa benda ruang angkasa bisa terlihat sementara dirinya tidak merasakan sesak. Dia masih bisa menghirup dengan jelas setiap oksigen yang berseliweran, terhirup melalui hidupnya kemudian masuk ke dalam paru-parunya.

Jon In berdehem menyadarkan Sooyoung dari kekagumannya yang kelewat berlebihan. Itu menurut Jong In. Detik itu juga wanita itu tersadar dan menoleh pada Jong In yang tengah memandangnya… lagi-lagi datar.

“Sudah mengaguminya? Bukan waktunya untuk mengagumi planet ini. Kami selalu menjaga planet ini agar tetap asri, dan seperti yang kau lihat. Kami lebih bisa menjaga tempat tinggal kami dari pada kaummu. Bahkan bumi terlihat tidak memiliki pepohonan lagi di tahun ini,” ucapnya sarkastis yang terlalu ditekankan dan hal itu sukses membuat Sooyoung jengkel.

Ya, memang benar, untuk saat ini bukan saatnya mengagumi planet ini. Masih banyak hal penting lainnya yang harus cepat diselesaikan.

“Oke, fine. Kau boleh menghina tempat tinggalku, tapi aku bukan salah satu manusia yang ingin menghancurkan bumiku,” jawab Sooyoung reflek dan tanpa sadar ia telah berani menjawab semua perkataan Jong In.

Sooyoung membelalakkan matanya yang bulat ketika Jong In mengerutkan alis tak mengerti.

“Maaf, bukan maksudku untuk menjawab semua perkataanmu.” Sooyoung membungkuk cepat dan ia mengatup mulutnya rapat-rapat.

“Sudah lah tak perlu meminta maaf begitu, ayo cepat, aku tidak punya banyak waktu lagi.” Jong In segera memegang sebelah tangan Sooyoung dan dalam hitungan detik mereka telah menghilang dan muncul di depan sebuah rumah kayu berwarna putih.

Bagi Sooyoung itu bukan seperti rumah kayu biasa, bentuknya minimalis memang, tetapi tampak sangat elegan di matanya. Bahkan rumahnya mengeluarkan wewangian yang khas, jelas kayu yang digunakan bukan seperti kayu di bumi. Pasti semua pepohonan yang tumbuh di planet itu akan mengeluarkan wewangian yang khas di setiap batang pohonnya.

Pohon yang digunakan untuk rumah itu bernama Pohon Kasih, biasanya orang-orang akan menggunakan batangnya karena batang pohon tersebut akan mengeluarkan wewangian yang sangat khas dan membuat siapa saja akan betah tinggal di dalam rumah untuk waktu yang lama sekali pun.

Jong In mengetuk pintu kayu yang indah itu dan tak berselang lama seseorang yang berada di dalam membuka pintu itu. Seorang lelaki berambut hijau dan bermata kuning kecoklatan itu membuka pintunya secara lebar ketika tahu bahwa Jong In lah yang sedang berkunjung ke rumahnya. Senyumnya yang tampak kaku bagi Sooyoung mengembang. Lelaki itu mempersilahkan mereka masuk dan mereka bertiga duduk di sofa ruang tamu. Sofanya sangat empuk dan kainnya begitu halus menyentuh kulit siapa saja yang mendudukinya.

BBHCHOIYURA

Sooyoung duduk tepat di sebelah Jong In, sementara Baekhyun duduk di sofa tunggal yang bersebrangan dengan meja kaca. Semua perabotan yang ada di rumah itu benar-benar tak pernah Sooyoung lihat di bumi. Memiliki ciri khas tersendiri.

“Tentang rencanamu itu?” Baekhyun memulai pembicaraan dan bertanya pada Jong In.

“Ya,” balas Jong In singkat.

Baekhyun, si pemilik rambut hijau dan mata kuning kecoklatan itu pun menghela napas sebelum berkata, “Kita sama, Jong In. Sama-sama manusia setengah vampir dan aku akan senantiasa untuk membantumu karena kau sahabatku. Hatiku juga akan meluluh jika ada seseorang yang meminta tolong, jadi apa pun itu, semampu yang kubisa, aku akan membantumu.”

Persahabatan yang sudah Jong In dan Baekhyun jalin kurang dari dua ratus tahun, tapi mereka seakan memiliki kontak bantin. Di saat Jong In merasa bingung harus meminta bantuan pada siapa, maka Baekhyun lah yang selalu menjadi jawaban dari segala kegelisahannya.

Kisah yang Baekhyun alami tak jauh berbeda dari Jong In. Mereka sama-sama memiliki masa lalu yang kelam―sebelum menjadi kaum pengisap darah. Baekhyun juga salah satu dari kaum vampir setengah manusia dan mereka berdua telah berbagi cerita tentang kehidupannya dulu, jauh sebelum kaum vampir dipindahkan ke Planet Jatonus.

Sebelum menjadi vampir, Baekhyun juga sempat ditolong oleh seseorang dan alhasil Virus Vampire itu tidak pernah berhenti menyebar di dalam tubuhnya meski ia sudah berusaha untuk membuat dirinya tidak berubah menjadi vampir. Dan masa lalu tragis itu sama dengan masa lalu milik Jong In.

Mereka mulai mengetahui tentang identitas satu sama lain saat tanpa sengaja mereka bertemu di salah satu kota kecil bernama Teas. Pada saat itu mata mereka berdua sama-sama berubah menjadi hitam. Untuk menutup identitas satu sama lain, mereka mulai berteman walau pun awalnya terpaksa, namun seiring berjalannya waktu mereka pun menjadi sahabat dalam arti kata yang sesungguhnya.

“Kau adalah seorang Shadows. Aku mohon, berada lah di sekitar wanita ini, karena kau adalah salah satu shadow terkuat yang ada di Planet Jatonus,” pinta Jong In. Lagi-lagi wajahnya yang datar tanpa ekspresi itu selalu terpancar dari wajahnya.

Sooyoung memperhatikan Jong In dengan seksama. Matanya agak membulat ketika mata Jong In berubah menjadi merah cerah kembali dan rambutnya yang berwarna kuning kecoklatan seakan menyala dibawa terpaan angin sore itu.

Sama sekali Sooyoung tidak mengerti apa yang sejak tadi Jong In dan Baekhyun bicarakan. Shadows? Kekuatan Shadow? Apa itu?

“Aku tahu, Jong In. Tapi aku tidak bisa terlalu mengumbar janji padamu. Kekuatan Sehun lebih di atas segalanya, belum lagi anak buahnya begitu banyak. Siapa pun kaum vampir tidak akan ada yang bisa menanding kekuatannya. Dan kau tahu apa yang membuatku tidak ingin menjadi kaki tangan Sehun atau pun tinggal di istana? Masih sama yang seperti kukatakan dulu, aku tidak suka dengan kepemimpinannya dan lebih baik aku tinggal di desa kecil seperti ini daripada memberontak atau pun mengabdikan hidupku padanya.” Baekhyun berucap santai. Mata kuning kecoklatannya tampak berbinar dan raut wajah kakunya dapat terlihat jelas.

Shadows sendiri merupakan sebutan untuk orang yang dapat menyembunyikan suatu benda. Jika mereka mengikuti seseorang, seseorang itu dapat tersembunyikan dan sedikit sukar untuk diketahui keberadaannya. Tetapi yang Baekhyun takuti adalah bagaimana jika Sehun tetap dapat melacaknya, dia tidak tahu akan seperti apa jadinya kalau saja semua rencana mereka gagal.

“Bagaimana pun juga aku yakin padamu,” ekspresi Jong In tidak berubah sedikit pun begitu pula dengan pemikirannya. Hanya Baekhyun satu-satunya yang dapat menolongnya kini.

“Sama halnya, aku juga tidak tega.” Baekhyun memandang Jong In tak bergairah dan menghela napas pasrah, “Baik lah bila itu maumu. Biarkan wanita ini di sini bersamaku, dan kau pergi lah lalu ambil bayi itu,” suara Baekhyun tenang dan damai. Sepertinya Sooyoung lebih nyaman bila berlama-lama di dekat Baekhyun daripada harus berlama-lama dengan Jong In.

Sooyoung menoleh dan memandang Jong In penuh harapan, “Do’aku selalu menyertaimu. Aku mohon, bawa anakku kepadaku,” ujarnya pelan dan Jong In tidak terlalu mengacuhkannya.

Tanpa berpamitan, Jong In segera bangkit dan dirinya pun menghilang bagaikan angin.

 

***

 

Kekuatan teleportasi yang Jong In gunakan membawanya ke ruang steril, tempat di mana bayi Sooyoung tinggal. Jong In tahu, Sehun kali ini tengah lengah karena tak ada benda atau apa pun yang dapat memantau semua gerak-gerik bayi ini. Penjaga yang diutus Sehun juga tidak terlalu ketat, sebab Sehun berpikir bahwa semua musuhnya telah ia musnahkan tak bersisa.

Bayi itu terlelap dalam tidurnya dan malam ini semua orang pasti telah beristirahat di dalam kamarnya masing-masing, walau pun Jong In tahu semua kaum vampir tidak dapat tertidur. Kaum vampir tidak tertidur dan mereka hanya mematikan aktivitas apa pun di tengah malam seperti yang biasa manusia lakukan.

Kedua tangan Jong In terulur, sesekali kepalanya menoleh ke arah pintu pualam yang tinggi dan megah itu, tidak jauh dari box bayi. Dengan hati-hati ia mengendong bayi perempuan itu dalam dekapannya agar tidak membangunkannya, sebab penjaga di luar pintu akan masuk dan mengepungnya jika suara sekecil apa pun terdengar di ruangan tempat dirinya berada.

Setelah memastikan bahwa bayi itu masih terlelap di gendongannya, Jong In pun melangkah mundur beberapa langkah dan dirinya telah menghilang dari ruangan steril itu. Dia akan membawa bayi itu kepada Sooyoung dalam waktu dekat ini.

 

***

 

Dengan terpaksa Jong In kembali lagi ke penjara bawah tanah dan menculik salah satu wanita cantik yang berada di sana, tentunya dia mengandalkan kekuatan push miliknya, kemudian membawa wanita itu ke rumah Minseok yang letaknya di daerah kota kecil bernama AO City.

Minseok sendiri adalah teman dekat yang juga sangat Jong In percaya. Pada dasarnya Minseok memang kaum vampir asli, bukan seperti dirinya yang setengah vampir dan setengah manusia. Namun Minseok berbeda dengan kaum vampir pada umumnya, dia rela menolong Jong In dan akan membantu apa saja tanpa banyak bertanya.

Ya, Minseok bukan tipikal vampir yang suka bertanya mau pun terlalu mengeksplor keberadaannya. Padahal kepintarannya dalam bidang sains benar-benar tidak bisa dipandang sebelah mata.

Dulu, Minseok pernah bekerja untuk Sehun, lelaki itu memang suka menghabiskan waktunya di ruang laboratorium tanpa mau terlalu melihat dunia luar, jadi dia dititahkan Sehun untuk membuat suatu riset yang dapat membuat wanita vampir hamil. Tetapi penelitiannya gagal dan itu membuatnya dipecat tanpa hormat. Sehun sangat membenci orang-orang yang tidak berguna dan Minseok menjadi salah satu orang yang tak berguna itu.

Jong In mendengar selentingan kabar bahwa Minseok telah menemukan suatu obat yang dapat membuat seseorang hamil jika meminumnya. Ternyata penelitian Minseok salah, yang dapat hamil jika meminum obat buatannya hanya lah manusia dan hari ini Jong In sudah membawa satu orang wanita untuk dijadikan kelinci percobaan Minseok.

Tidak mungkin Jong In mengatakan pada Minseok tentang semua rencananya. Memang benar Jong In mempercayai Minseok dan lelaki itu sendiri yang mengatakan padanya akan membantu apa pun kesulitan Jong In. Namun Jong In tidak ingin terlalu percaya, jika Minseok tahu dirinya sedang menolong seorang wanita manusia, Jong In tidak tahu apa yang akan Minseok perbuat padanya. Bisa jadi lelaki itu akan mengaduhkannya pada Sehun atau menjauhinya karena berani-beraninya telah menolong seorang manusia. Bagi kaum vampir, manusia adalah makhluk yang lemah dan wajib untuk dimusnahkan.

Awalnya, Jong In memang mengatakan ingin meminta tolong, namun ia juga berdalih ingin membantu penelitian Minseok. Tentu saja Minseok percaya dan menyuruh Jong In untuk cepat-cepat membaringkan wanita cantik itu.

Wanita itu menatap ke depan dengan tatapan menerawang. Pikirannya masih dipengaruhi oleh kekuatan Jong In, Push.

Pada tengah malam itu juga, Minseok mulai menyuntikkan obat bius kepada wanita itu, lalu memberikan suntikkan obat penemuannya ke dalam tubuh wanita itu. Dalam hitungan menit, perut wanita yang tidak sadarkan diri itu mulai membuncit, seperti wanita hamil pada umumnya.

Jong In tersenyum tipis, kali ini rencananya berhasil. Sementara Minseok tersenyum bangga akan keberhasilan obat buatannya.

Tak selang berapa lama, bayi yang Jong In inginkan pun terlahir dengan praktik operasi yang Minseok lakukan. Mereka melakukan operasi persalinan dan semuanya berjalan dengan baik. Bayi yang baru saja terlahir itu masih dilumuri banyak darah dan Minseok segera melumuri bayi itu dengan cairan putih lengket, cairan itu berguna untuk menutupi bau darahnya. Penciuman kaum vampir terkenal tajam, dari jarak ribuan kilometer pun darah manusia sedikit apa pun masih dapat mereka cium.

Bahkan tadi, sebelum wanita itu dioperasi, Minseok sudah lebih dulu menyuntikkan cairan itu ke dalam tubuh wanita itu, agar bau darahnya tidak menyengat dan tak mengundang kedatangan kaum vampir.

Wanita yang menjadi kelinci percobaan Minseok mati dan Jong In meminta Minseok agar segera menyembunyikan mayat itu. Secepat mungkin Minseok melilini tubuh wanita itu dan membungkusnya menggunakan plastik kedap udara, kemudian meletakkannya di gudang pendingin milik Minseok, ruang pendingin itu bersebelahan dengan laboratoriumnya.

Bagi Jong In menghilangkan satu nyawa untuk membantu dua nyawa itu tidak menjadi masalah yang besar. Dia memang mempunyai rasa tidak tega, tetapi dia bisa saja berlaku tega bila itu sudah menyangkut soal pengorbanan. Harus ada yang dikorbankan, dengan kata lain, membuang untuk melindungi.

Jong In meminta izin pada Minseok untuk membawa bayi itu pergi, dan tanpa bertanya Minseok segera mengangguk dan membiarkan Jong In pergi dengan kekuatan teleportasinya.

Bayi itu akan ia gunakan sebagai pengganti dari bayi Sooyoung, alias calon penganting Sang Raja Vampir, Oh Sehun.

 

***

 

Aula Istana EXO, hari di mana upacara batal dilakukan.

Sehun mengumpulkan semua centeng-centeng istana begitu juga dengan anak buah dan kaki tangannya.

Semua berkumpul dan berbaris rapi di dalam aula istana yang besar dan luas itu. Dan anehnya, Jong In juga berada di dalam barisan itu dan ia berdiri di barisan terdepan. Sementara Sehun berdiri di posisi terdepan, tepat berhadapan dengan semua kaum vampir istana. Sehun sendiri masih mengenakan tuksedo yang ia kenakan saat di upacara tadi pagi. Dia sama sekali tak ada niat untuk menukar pakaiaannya dengan pakaian yang lebih bagus lagi, situasi itu jauh lebih genting karena colon istrinya telah menghilang.

Maksud upacara tadi sebenarnya adalah ia ingin mencetuskan kepada para rakyatnya bahwa calon pengantinyna telah terlahir dan ia akan memberi beberapa pengumuman kepada rakyat-rakyatnya, namun semuanya sirna dan sia-sia karena calon pengantinnya kini entah berada di mana.

Wajah Sehun mengeras, mata merah gelapnya menyalang begitu juga dengan rambut keemasannya yang bersinar di bawah bayang-bayang sinar mentari siang. Tangannya mengepal kuat dan mata tajamnya tak pernah lepas menatap setiap para anak buahnya, mau itu lelaki atau pun wanita.

sehunvampire

Sehun berdiri dengan tegap layaknya pria maskulin yang tidak takut pada apa pun. Kulit pucatnya tampak kontras dengan cahaya siang hari yang terbilang cukup terik.

Ekspresinya kaku dan kemarahannya tersulut, “Dengarkan aku baik-baik, kalian umumkan kepada semua rakyat di Planet Jatonus bahwa tidak ada yang boleh menikah dengan kaum manusia sebelum calon istriku kembali. Harus aku yang menikah lebih dulu dan kuperintahkan pada kalian untuk segera mencari di mana keberadaan calon istriku.” Suaranya lantang, menggelegar dan tak terbantahkan.

Itu suatu perintah yang harus segera dilaksanakan tanpa menunda-nundanya lagi. Sehun tak suka jika semua perintahnya dibantah atau pun ditunda tanpa seizinnya. Karena dia tidak akan menerima dalih sekecil apa pun.

Semua anak buah Sehun berdiri kaku dan mendengar semua perkataannya dengan serius. Kali ini kemarahan Sehun tersulut dan tidak ada seorang pun di antara mereka yang ingin membuat kemarahan Sehun semakin tersulut.

“Baik, Yang Mulia.” Mereka serempak menjawab dan membungkuk pada Sehun. Kini para anak buah Sehun berjajar rapi keluar dari aula istana. Tidak ada kerusuhan, semuanya tertata rapi dan terkoordinir dengan sangat baik. Sebab raja mereka, sangat membenci kerusuhan dan ketidak rapian.

Sehun berbalik dan wajah penuh dendam tampak terlihat nyata dari ekspresi wajahnya.

Tidak ada yang boleh menyentuh calon istrinya. Demi apa pun, Sehun akan bersumpah, siapa saja yang sudah berani memberontaknya, harus ia lenyapkan, SEGERA.

Kepala Sehun menoleh ke samping ketika langkah seseorang terdengar ingin mendekat ke arahnya. Dari ujung ekornya saja, ia sudah mengetahui siapa orang yang tengah berdiri tidak jauh dari belakangnya. Orang itu tentu saja salah satu dari sekian banyak anak buahnya.

“Apa yang ingin kau katakan padaku? Aku benar-benar tidak ingin diganggu untuk sekarang ini,” Sehun menjawab dengan datar, bibirnya seolah tak bergerak, masih dengan kepalanya yang menoleh dan hanya melirik melalui ekor matanya, namun siapa saja yang mendengar suaranya itu sudah dipastikan akan memilih menjauh dan berlari terbirit-birit.

Tetapi sosok lelaki yang memakai jubah hitam khas vampir di istana itu tetap berada di tempatnya sembari menundukkan kepalanya, biar lah ia menjadi pelampiasan kemarahan raja mereka karena ia tak mungkin pergi begitu saja, ada hal penting yang ingin ia sampai pada Sehun dan harus dikatakan sekarang juga.

“Maaf, Yang Mulia. Bukan maksud hamba lancang menemui anda tanpa meminta izin lebih dulu. Tetapi apa yang ingin hamba sampaikan adalah hal yang sangat penting.” Lelaki bermata oranye dan berambut kemerahan itu bernama Kyungsoo, ia menghela napas sejenak sebelum melanjut perkataannya lagi, “Dua orang wanita dari kaum manusia menghilang, Yang Mulia. Jumlah mereka mengurang dan orang-orang yang lainnya tidak ada yang tahu kemana dua wanita itu pergi.”

kyungsochoiyraa

Mendengar itu semacam mendengar kabar duka cita yang sangat menusuk ulu hati. Tanpa bertanya lebih lanjut, kedua tangan Sehun mengepal erat dan napasnya memburu akibat intesitas emosinya. “Kalian bodoh sekali, bagaimana mungkin mereka bisa menghilang? Aku tidak mau tahu, jika kalangan manusia ada yang memberontakku secara terang-terangan, bukan hanya mereka saja yang menerima akibatnya, tetapi kalian semua akan juga menanggung akibatnya,” semua kalimatnya semacam janji menakutkan, suaranya keras layaknya guruh gemuruh yang bersahut-sahutan.

Semua ini mungkin imbas dari keteledorannya sendiri. Sehun terlalu sepeleh dengan semua kebenaran. Dulu, saat ia mendengar selentingan kabar dari salah satu anak buahnya bahwa ada rakyat Jatonus yang mempunyai darah keturunan setengah vampir dan setengah manusia, ia pun tidak terlalu mau ambil peduli, karena dipastikan hanya dua atau tiga orang saja yang memiliki keturunan darah seperti itu. Dan ketika dia sudah yakin bahwa tidak ada lagi musuh-musuhnya di Planet Jatonus, mulai lah ia tidak terlalu mengetatkan penjagaan terhadap semua yang dianggapnya penting.

Sehun merasakan sendiri imbasnya, ternyata masih begitu banyak orang yang ingin menusuknya dari belakang. Seharusnya dari awal Sehun mengetatkan banyak penjagaan agar semua miliknya tidak hilang begitu saja.

 

 

―TBC―

Catatan kecil: Shadows: Sebutan untuk orang yang bisa menyembunyikan suatu benda atau orang jika mereka selalu berada di dekat benda atau orang itu, dengan kata lain harus dibuntuti.

Chapter ini masih menjelaskan ya guys. Jadi harus step by step kayak lagu KARA.

Oke gak mau banyak cuap-cuap. kelanjutan FF ini masih bergantung loh sama komentar readers sekalian. Beri saya saran dan kritik ya dalam bentuk komenan di bawah ini *tunjuk-tunjuk kolom.

Jika banyak peminatnya, insyaallah bakal saya lanjut…

Regards, Choi Yura

 

 

Advertisements

218 responses to “Vampire Planet #2 – by Choi Yura

  1. ulalaaaaaaa keren ceritanya, aku suka alurnya
    lagi asik2 baca ehhh tbc -_-
    ya sudah lah, di tunggu chapter 3 nya sepppp, okehhhh

  2. Kereeen>< maaf ya thor sekali lagi bkn maksud apa apa… aku ttp menghargai authot kok, kan author udh cape2 bikin:((( laff ya thor gasabar chap slnjtnya♡

  3. Shid sekali aku ngetik dr awal-.- min saran aku ini kalo ada bagian yg panjang dan ceritanya gaperlu, itu mending disingkat deh. Soalnya rada ngebosenin.. terutama pas td bagian dulu baekhyun gimana, sm xiumin. Dan itu rada bikin greget….. soalnya kan itu lg bagian menegangkan, nah tbtb ada cerita panjang gt bikin greget.. bikin gitulah|;

  4. TP MAAF THOR BUKAN BERMAKSUD BUAT BIKIN AUTHOR KECEWA APA MENYINGGUNG AUTHOR GITU ENGGAAAㅠㅠ. aku menghargai author ko… author udh cape2 mikir dan ngetik pjg2. Maaf ya thor kalo sarannya begindang’-‘ ANYWAY AKU SUKA BGT CERITA FIKSI VAMPIR!!!! JADIIIIII AKU EXCITED SKRG. GASABAR CHAP SLNJTNYA¤

  5. Kalo aku sih pengen langsung ke intinya.. *hyaaah ngarep. #becanda
    Aku mau kasih saran j.. Gimana kalo ceritanya ini udah 17 tahun.. Lhah ntar flashback2 gt..

  6. Makin seru ceritanya, gak sabaran pengen cepet2 itu bayi jadi dewasa. Pengen tau bakalan kaya gimana kehidupannya pas udah 17thn.
    Pokoknya ditunggu bgt deh kelanjutan ff ini. Hwaiting thor!!

  7. huaa baru baca chap 2 nya sekarang hueeee penasarannnnn>< ternyata di samping oseh banyak yg pen hancurin oseh. itu keterusannya bklan gimna? sooyoung bklan sama baek sampe anaknya gede atau gimna? huaaa ditunggu next chapnya dorrr^^

  8. Kerennn banget alurnya thor!! >< aku ga sabar buat liat calon istrinya berangkat ke umur 17 :)) fighting!!!

  9. Aiihh.. kaai kai dasar kkamjongtemsek.. ternyata masih punya perasaan ternyata.. wkwkwk.. bebek juga ternyata punya perasaan.. kasian suyang nya.. n kasian cewenya:( lanjut ne un!! Cepet ne di post nya

  10. permisi aku readers baru disini, maaf ya thor baru komen entah kenapa setiap comen sellau gagal atau eror;( pokoknya ff ini seru bgtt ditmbah imajinasi kata katanya sgt bgus.lanjut ya thor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s