[Oneshot] Satisfaction

Satisfaction

Satisfaction

Satisfied, eh?
Yes, nothing is satisfying but it. He has killed the murderer.
He killed someone who has killed his mom, dad, brother, and his bestfriend.
He did it.

______________

By Diramadhani

Warning!

Masochism alert! Psychological issues! Crime-contained! Death -chara! Suggestive line!

Not required for under 15 YO.

***

Guangzhou, China.
20 November 1996.

.

Puas, eh?

Lelaki itu tersenyum penuh arti —senyum yang sebenarnya telah kehilangan cahayanya beberapa waktu terakhir. Mata sayunya tak lelah memandang pisau berlumur cairan kental berwarna merah yang beradius beberapa kaki darinya. Kemudian, digesernya perlahan pisau itu menjauh.

Apa yang terlintas di benakmu tentangnya?

Ya. Lelaki itu memang sudah lama menjadi gila.

Dia stabilkan nafasnya yang tak teratur, mata nyalangnya sibuk menikmati pancaran darah yang deras keluar dari vena-nya, dia tak bisa berhenti tersenyum seraya memejamkan mata, menghirup aroma anyir yang memabukkan.

Setelah ini, tak ada lagi yang perlu dia khawatirkan.

Setelah ini, tak ada lagi yang perlu dia pikirkan.

Setelah darah itu habis, setelah nafas itu terputus, setelah jantung itu tak lagi berdentum di rongga dada. Lelaki itu hanya akan puas, sebelum pergi tanpa tangisan, tanpa jeritan, tanpa kehilangan, tanpa penyesalan,  ini satu-satunya jalan baginya.

Dan dia berhasil.

***

Guangzhou, China.
14 November 1996

.

Dia pandangi satu-persatu orang disana, tatapan mereka sulit dimengerti, beberapa ketakutan memandangnya, beberapa menjerit lalu terbirit-birit lari.

Lelaki itu tertegun dalam diam. Kekacauan yang terjadi tidak mengganggunya, ia sama sekali tak memahami apa yang terjadi disini.

Ia lantas berteriak keras, menanyakan: kenapa dengan kalian?

Namun diantara ribuan jiwa, raga dan lisan yang seharusnya mampu bicara. Kesemuanya tidak mengindahkannya. Lelaki itu berdiri sendiri, bertanya-tanya pada hati kecilnya. Apakah dia bersalah; atau apakah ada yang salah. Semua orang menjauhinya. Seolah keberadaannya adalah hal terburuk yang mereka inginkan untuk dilihat di penjuru kampus. Seolah eksitensinya adalah mimpi terburuk mereka.

Padahal ia hanya ingin satu hal; teman.

Untuk beberapa hari terakhir, mama tidak pulang, pun gege menghilang. Rumah terasa begitu kosong jadi dia meninggalkannya. Dan ketika ia menampilkan wajahnya dihadapan orang-orang, mereka berubah, mereka tak lagi menyambutnya ramah seperti dulu.

Bahkan Yixing atau Zitao yang dulu teman dekatnya pun menjauh ketika ia mendekat, mereka menyapanya dengan ‘Hai’ yang sangat kaku sebelum menyingkir cepat-cepat.

Satu kongklusi yang tepat : Aku tidak diinginkan di sini.

Lelaki itu akhirnya memilih untuk duduk diatas bangku putih di bawah pohon yang ia lupa namanya. Tempat itu kosong —padahal kemarin-kemarin, ia selalu gagal duduk di sini karena banyak orang yang menjadikannya tempat terfavorit. Lelaki itu duduk termenung. Menyibukkan diri dengan memandang kerikil kecil dan bertanya, adakah yang salah dengan dunia? Atau dengan dirinya? Namun kerikil itu mengejeknya dengan diam dan kebisuan

Lantas disadarinya akan kejanggalan yang ada. Kaus yang ia gunakan. Ia bersumpah jika warnanya putih dan harusnya bersih. Namun kini warnanya agak kemerahan. Dia curiga seseorang menyemprotinya saus siang tadi, namun dia tak ingat.

Ia memilih meninggalkan kampus beberapa menit kemudian. Setelah sadar bahwa keberadaannya benar-benar tak diharapkan, bahkan oleh dosen-dosen yang menyayanginya. Dengan alasan yang tak dapat ditoleransi: karena terlalu banyak mahasiswa yang ketakutan padanya.

Bukankah itu bukan salahnya? Lagipula, apa yang menakutkan dari dirinya? Apa wajah kecilnya itu nampak mengerikan? Lelaki ini ingat persis mama pernah berkata bahwa dia sangat manis dan menggemaskan, apa mama berbohong?

Ngomong-ngomong, lelaki itu merindukan mama-nya. Berapa lama ia tidak bertemu mama? Dua; lima; delapan hari; atau bahkan sebulan; atau setahun? Entahlah. Lelaki itu benar-benar tak sanggup menemukan jawaban apapun di kepala kecilnya.

“Luhan!” panggilan itu menarik atensinya.

Lelaki itu membalikkan badannya. Dihadapkan dengan seorang lelaki yang napasnya tersenggal-senggal, ia sempat berpikir bahwa lelaki ini baru saja dikejar pelahap maut. Hingga detik dimana dia mengenali wajah dihadapannya. Ini Oh Sehun.

“Sehun?” Tanyanya, agak ragu, kaki-kakinya ia bawa mendekat ke laki-laki tadi. Ia benar-benar ingat sekarang, lelaki ini adalah sahabat dekatnya, Oh Sehun. Dan lelaki yang lain mengangguk —membenarkan bahwa identitasnya adalah Sehun.

“Kemana saja kau dua tahun terakhir? Kau terlihat sangat kurus dan aku tidak menemukanmu dirumahmu.” SeHun berusaha menyemburkan omelannya dibalik hempas napasnya yang masih tak berirama.

Luhan mengerjapkan matanya berkali-kali. Menemukan dirinya tidak setuju dengan pernyataan Sehun. Ia mendelik, “Kau sedang bercanda, ya? Tidak lucu sekali. Aku dirumah, dan bukankah baru kemarin kita bertemu di kampus, Sehun?”

Sehun terdiam. Seolah terpekur oleh suatu keterkejutan. Sebelum terdengar helaan nafas yang sangat kentara mengandung unsur kekecewaan didalamnya.

“Ada apa denganmu, Luhan?” Tanya lelaki itu lirih, suaranya nyaris hilang di tenggorokan. Nyaris tak terdengar oleh Lu Han.

Memangnya, ada apa denganku?

“Aku? Aku baik-baik saja. Aku hanya berpikir semua orang berubah.” jawab lelaki itu; innoncently. “Aku pikir hanya kau yang masih mau berteman denganku.” Tambahnya cepat. Tak lama, ia menunjukkan senyuman tipis yang menyedihkan. “Orang-orang membenciku, Sehun.” Ungkapnya.

Gege dan mama hilang, Sehun. Aku sendirian dirumah.” Lanjut Luhan.

Sehun bahkan tidak mengucapkan apapun untuk meresponnya. Lelaki itu terlihat kosong hingga akhirnya dia mengeluarkan sebuah suara yang lirih, “Lantas dimana papa-mu Luhan?”

“Papa? Siapa papa? Aku tidak pernah mengenal seseorang bernama papa.” Jawab Luhan, mengerutkan kening. Diselaminya alam pikirnya untuk mengingat seseorang dengan nama papa dalam hidupnya. Sembari tertawa kecil menyadari lucunya sebuah nama jika itu papa.

Sehun menggelengkan kepalanya, kedua matanya sangat memancarkan aura kesenduan. Luhan tertegun. Ia benci melihat sahabatnya bersedih, terlihat begitu tenggelam dalam duka. Ia benci pada dirinya yang sempat melupakan lelaki ini. Ia memang jadi agak pikun akhir-akhir ini.

“Kau kenapa sih?” Lu Han bertanya, dengan nada tajam. “Kenapa juga dengan orang-orang?! Aku ini bingung! Sangat bingung!” Teriaknya. Sehun menahannya ketika Luhan hendak menjambak rambutnya sendiri —poin satu, kebiasaan lelaki itu ketika dia beteriak adalah melukai dirinya sendiri.

“Sadar Luhan! Sadarlah!” SeHun menjauhkan tangan Luhan dari kepalanya, kemudian dia memeluk lelaki itu, dalam senggalan tangisnya dia berucap, “Tidak papa, Lu Han. Semuanya baik-baik saja. Tidak ada yang berubah, bukan orang-orang, bukan kamu juga. Tidak ada yang salah, Luhan. Tidak ada. Jangan berteriak. Tenangkan dirimu.” Ucap Sehun, dia mengelus surai Luhan pelan. Perlahan, lelaki yang dia peluk mulai tenang, badannya tak lagi bergetar meski keringat dingin belum berhenti mengucur melewati pelipisnya.

“Ayo pulang ke rumahku, Luhan.” Ajak Sehun. Lelaki itu melonggarkan pelukannya. Namun tangannya tetap bertengger pada bahu lelaki yang lebih pendek. Namun Luhan menggeleng. “Aku mau pulang kerumah saja Sehun, siapa tahu nanti mama pulang, atau gege yang pulang.”

Sehun menghela nafasnya, lelaki itu menggeleng seolah tak memberi persetujuan pada kalimatnya. Seolah dia tidak yakin bahwa mama atau gege akan pulang secepatnya.

Luhan jadi tak enak, ia pikir Sehun sedih sebab ia menolak tawaran lelaki itu. Baiklah, lagipula Luhan tak ingat kapan terakhir ia menghabiskan waktu dengan Sehun. Akhirnya ia berucap,  “Yasudah, kita kerumahmu saja Sehun.”

***

Guangzhou, China.
19 November 1996

.

“Kenapa rumahku jadi begini?” Luhan beteriak histeris, berusaha sekuat tenaga untuk memberi sugesti pada dirinya agar tidak menjambak rambutnya sendiri (ia sudah berjanji dengan Sehun tidak akan menarik rambut jika berteriak agar orang-orang tak perlu takut pada kebiasaan buruknya).

Tadi siang, ia kabur dari rumah Sehun karena sudah lima hari dia menginap. Sebelumnya, ia tidak pulang karena lelaki itu dengan keras melarangnya. Sehun juga tidak memperbolehkannya pergi ke kampus, selain karena detensi tak berakar yang diberikan oleh kampus, Sehun mencetuskan bahwa tempat paling aman baginya adalah rumah Sehun. Itu memang sedikit banyak boleh dibenarkan. Namun bukankah tempat ternyamanmu adalah rumahmu sendiri?

LuHan menahan napas begitu disuguhi kondisi teranyar dari rumahnya. Pintu utama sudah terlepas dari engsel dan kusennya, kaca jendela pecah dan berserakan dimana-mana,  mayoritas perabotan lenyap tak berbekas, dindingnya tak lagi berwarna, dan taman kesayangan mama yang dulunya asri berubah menjadi gersang tak terawat.

Kaki lelaki itu melangkah masuk ke dalam, setelah lama memantapkan niatnya sendiri.

“Mama?” Cicitnya takut-takut. Namun disana tak ada mama.

Gege?” —gege pun tak menjawab panggilan adik kesayangannya.

“Bibi Wang?”—Luhan menyebut nama maid-nya yang paling baik namun tak ada yang menjawab selain gemrisik angin yang lewat.

Rumah itu berbeda kontras dari gambaran ingatannya dalam kurun waktu yang cukup instan —lima hari, bahkan sepekan pun belum genap.

Luhan pun berbeda. LuHan yang ceria dan percaya diri itu kini kesepian, lemah, dan ketakutan.

Luhan membiarkan kedua matanya berair —menangis, untuk yang kesekian kalinya. Terlalu sulit bagi dirinya untuk mencerna satu persatu apa yang terjadi di sini, apa yang sedang berlangsung, apa orang-orang benar-benar meninggalkannya, apa dia benar-benar telah menghilang selama dua tahun seperti kata Sehun, atau kobaran tanda tanya yang lain.

Semua kejadian disini sudah jauh dari apa yang dia tahu. Ia seolah-olah melewatkan atau mungkin menghilangkan potongan berharga yang penting di dalam hidupnya.

Namun seperti orang bodoh, ia tak mengingat apapun. Ia tak tahu apapun.

Jelas dan gamblang sekali bahwa memori terakhir yang tersisa di dalam kepalanya adalah sentuhan mama pada surai cokelatnya, dan suara dewasa gege yang menasihatinya lembut. Tapi LuHan tak punya bayangan kemana perginya mereka sekarang.

Semua berubah, bahkan rumahnya pun begitu, lima hari bukan waktu yang lama. Tapi terlalu banyak aspek yang berubah. Fakta itu menakutinya.

Lelaki itu melampiaskan keinginannya untuk menangis. Ia lelah untuk menahannya lebih lama lagi. Dia berteriak dan terlepas dengan ikrarnya pada Sehun beberapa hari lalu, ia menarik rambutnya sendiri kuat-kuat, seolah didunia ini tidak ada yang namanya sakit, seolah syaraf-syarafnya sudah mati untuk merasakan sedikit rasa sakit.

Lelaki itu lantas tertawa, menertawakan dirinya sendiri yang kebingungan, hingga airmatanya tak keluar lagi. Hanya tawa yang mengisi, tawa menggelegar pada bangunan kosong tak bertuan.

Luhan menatap pecahan kaca yang berjarak kira-kira dua kaki darinya. Kemudian tersenyum tipis –seolah menemukan objek yang dapat membuatnya bahagia. Lelaki itu membawa pecahan kaca tadi untuk menuliskan kata ‘mama’ pada punggung tangannya, Luhan selalu melakukan itu jika ia merindukan seseorang atau sesuatu. Jikalau luka itu belum sembuh, maka ia bisa tetap melihat nama orang yang dia sayang terukir di punggung tangannya dengan cantik dan rindu itu akan menghilang.

“Luhan hentikan!” Suara nyalang menyapu gendang telinganya dan lantas perhatian Lu Han tersita. Bayangan Sehun bertumpu pada tangan yang memegangi lututnya terlihat jelas di dekat pagar, lelaki itu berusaha berteriak keras-keras memperingati Luhan.

Luhan menghentikan kegiatannya, menatap Sehun yang nampak kacau. Kenapa tidak boleh?

“Jika kau tak ingin orang-orang takut padamu, hentikan itu. Sekarang!” Tegas Sehun, ia menghampiri Luhan dan meraih kaca tajam itu dari tangan Luhan hati-hati, dan menjauhkannya dari jangkauan Luhan.

“Kenapa Sehun?! Itu satu-satunya jalan untuk mengurangi rasa rindu! Dan sekarang aku rindu mama!” Teriak Luhan tak terima, ia hendak meraih pecahan kaca itu lagi, namun tangan Sehun menahannya. Ia benci memiliki tubuh yang tidak lebih tinggi dari Sehun.

Mama-mu tidak disini! Beliau sudah pergi! Beliau tidur dipangkuan tuhan! Itu sudah sangat lama Luhan, dua tahun yang lalu!” Balas Sehun, ia tak kalah berteriak. Lantas mereka terdiam sejenak, Sehun sibuk menetralkan deru napasnya, ketika LuHan sibuk mendengarkan gaung yang tercipta setelah teriakan-teriakan itu.

Luhan memang agak pikun akhir-akhir ini, namun dia bukan manusia tolol yang mudah dibohongi, pernyataan telak Sehun yang menyebutkan mama telah berada di surga membuatnya marah di puncak ubun-ubunnya.

“Aku bertemu mama lima hari yang lalu! Jangan membohongiku seolah aku orang idiot buta yang tak tau apapun!” Teriak Luhan kencang urat-urat lehernya menonjol saking kerasnya berteriak. Lelaki itu hendak menarik rambutnya lagi, namun berhasil dihentikan oleh Sehun.

Setelah itu, Luhan segera berlari tanpa sempat mendengarkan lirihan Sehun,

“Tidak Luhan, mama-mu sudah pergi.”

***

Guangzhou, China.
20 November 1996

.

Luhan terbangun pada sebuah malam yang gelap dan dingin, begitu dingin hingga seluruh romanya meremang. Lelaki itu meraba tempatnya berbaring. Dengan sedikit bantuan cahaya bulan yang menembus jendela yang kacanya telah pecah, ia menyadari bahwa ia terbangun di kamarnya sendiri. Meski bukan kamar seperti yang tergambar di kepalanya. Ia yakin itu.

Hingga hidungnya mengindra aroma anyir.

Satu hal begitu cepat terlintas di kepalanya; Itu Darah.

Luhan berjalan dengan tangannya tetap meraba dinding; dengan begitu ia merasa diberi arahan untuk berjalan di tengah-tengah gelap. Ia menuju tempat dimana dia bisa menyalakan penerangan di kamarnya. Namun ketika semua saklar ia tekan, tak satupun lampu yang menyala. Hingga sesuatu membisikinya dan membuatnya mengingat bahwa ia menyimpan beberapa batang lilin dan korek api di dalam almari.

Ia buka almari itu dan sempat terkejut ketika menemukan belasan lipas berlarian keluar dari sana. Apa yang terjadi sebenarnya? Bukankah lima hari yang lalu, almari ini masih bersih? Ketika ia mengeluarkan kaus putihnya dari tempat ini; ia yakin akan hal itu.

Beruntung, ia masih menemukan kotak penyimpanan lilinnya dan benda itu masih utuh, sama seperti lima hari lalu ketika bahkan semua hal banyak berubah. Satu-satunya keberuntungannya diantara terbangun di kamar dingin, gelap disertai bau anyir darah yang memuakkan.

Luhan menyalakan lilinnya dan berjalan keluar kamar. Ia harus menelusuri rumahnya demi asal muasal bau anyir yang menusuk hidung ini. Ia bersumpah akan segera membersihkannya beserta rumah ini. Agar ketika mama dan gege pulang, mereka tidak akan dihadapkan dengan kondisi rumah yang seperti ini.

Kamar tidur, Nihil.

Ruang tamu, Nihil.

Ruang keluarga, Nihil.

Dapur, Nihil.

Kolam renang, Nihil.

Segala sudut rumah telah ia telusuri sebelum ia sadar melewatkan satu ruangan, ia berlari ke lantai dua dan membuka pintu jati tua yang masih kokoh tak termakan waktu.

Kamar mandi.

Tebak apa yang ada di sana.

.

.

.

.

Tubuh tanpa sukma milik Oh Sehun, sahabatnya. Sahabatnya.

Luhan memekik tertahan, rasanya kepalanya dihantam dan perutnya ditikam. Ia melihat tubuh milik salah seorang yang paling berharga baginya tengah terkapar disana —kehilangan cahaya dan keberaniannya. Luhan merasa hampa, semakin penasaran, semakin bingung dan semakin bertanya, apa yang terjadi sebenarnya?

Permainan apa yang sebenarnya berlangsung disini? Apa ini bagian dari mimpi buruknya?

Ia mulai menarik rambutnya lagi, kepalanya kosong dan daya pikirnya buram, lelaki itu tak mampu melakukan apapun ketika menemukan seseorang yang ia sayang terbaring dengan darah yang mengalir di sekitarnya. Dia sangat kalut, kehilangan kontrol atas dirinya sendiri.

Ia ingin menangis, namun tangisan itu diekspresikan dalam bentuk tawa keras, tanpa disertai kesadaran.

Sebelum sekelebatan memori menghantam kepalanya. Memori kisah paling klise yang terukir dalam hidupnya. Memori paling mengerikan yang pernah ia alami. Memori yang ia buang dari kepalanya sendiri tanpa ia sadari.

Kini perlahan, ketika kepalanya diserang badai dahsyat yang membuatnya kesakitan, ia mengingat tentang papa yang Sehun tanyakan lima hari lalu, ia tahu sekarang ‘papa’ bukan nama orang, melainkan baba-nya. Baba adalah bagian memori yang hilang dari hidupnya.

Puzzle dari kehidupannya yang menghilang, ditemukan dan kembali diputar seperti film buram menyedihkan, namun mengejutkan, bahkan bagi dirinya, orang yang mengalami hal itu.

Dalam yang tergambar dalam ingatan dibalik rasa nyeri di kepalanya, lelaki itu memahami bahwa dia sangat menyayangi papa lebih dari siapapun, bahkan mungkin lebih dari mama ataupun gege. Itu tergambar gamblang pada ingatan barunya yang datang dan membuat kepalanya diserang kuat dan jujur, itu sakit.

Kenyataan yang paling sulit diterima Luhan adalah–

Kenyataan bahwa dirinya adalah seorang pembunuh.

Karena ketidaksengajaan, bisa dibilang. Luhan membunuh papanya sendiri.

Hari ketika mereka berdua pergi memancing bersama di musim dingin, Luhan dengan tanpa sengaja, menyebabkan papa terjatuh ke dalam danau yang penuh akan air dingin. Lantas dengan bodoh dirinya hanya mampu membatu ditempat tanpa melakukan apapun bahkan sekedar menyelamatkan papa.

—sampai papa tak bernyawa.

Luhan membunuh papanya sendiri.

Luhan pembunuh.

Hari itu, ia tidak bisa bergerak menyelamatkan papa. Satu, karena dia tidak bisa berenang. Dua, karena dia terkejut. Tiga, karena terlalu panik. Padahal Luhan paling tahu kenyataan bahwa papa tidak bisa berenang dan tidak ada orang disana selain mereka, apalagi itu musim dingin.

Setelah itu, Luhan stress, ia ingat sengaja membolos dari kuliahnya karena ingin menenangkan dirinya sendiri.

Semua itu ketidaksengajaan. Tangguhnya dalam hati.

Namun sekelebatan ingatan yang lain langsung memukulnya telak, untuk yang kedua kali. Ingatan lain yang menyeramkan itu berada pada waktu dia mengambil cuti sekolah.

Lelaki itu memegang kepalanya lagi, makin ingatan itu muncul, semakin rasanya ia ingin membanting kepalanya menjauh, terlalu pusing dan sakit.

Dalam masa stress-nya, Luhan telah membunuh mamanya sendiri dengan kedua tangannya, juga menghunus dada gegenya dengan sabit. Mama meninggal, persis seperti yang SeHun katakan.

Dia benar-benar ‘stress’ secara harfiah. Luhan terkena gangguan jiwa.

Lelaki itu menjauhkan tangan yang semenjak tadi menekan kepalanya yang sangat sakit, menatap tersangka mengerikan itu dengan mata sendu. Tangan kecil ini, mereka kah yang membantai seluruh keluarganya?

Setelah pembantaian itu, entah bagaimana caranya, dia berhasil kabur meski tanpa arah, entah berapa lama dia berjalan tanpa tujuan seperti itu, Luhan tak yakin. Kelebatan ingatan itu tidak begitu jelas sampai dia ingat kejadian beberapa hari lalu, sehabis berjalan tanpa arah, ia kembali ke kampusnya dengan keadaan mengenaskan yang disebabkan pekerjaannya sendiri. Berkali-kali ia melukai tubuhnya entah sekedar menyayat-nyayat kulit atau membenturkan kepala pada tembok.

Lelaki itu tertawa tak jelas.

Ia yakin, rupa dirinya saat itu pasti sangat mengerikan.

Pantas saja ‘mereka’ lari terbirit-birit melihat eksitensinya di kampus hari itu.

Ia berlari ke cermin dan menemukan refleksi dirinya sendiri dan bertanya-tanya.

Apa lelaki di dalam sana adalah aku? Apa lelaki yang berdiri di dalam kaca itu adalah diriku yang sebenarnya? Apa aku semengerikan itu? Bukankah seorang Luhan memiliki wajah yang tampan? Kenapa sekarang berubah seratus delapan puluh derajat akibat luka sayat dimana-mana, kantung hitam disekitar mata dan tubuh yang mirip tengkorak berjalan —sangat kurus?

Luhan menangis, ia kembali ke kamar mandi, kaki-kakinya gontai untuk sekedar berjalan menuju sahabatnya yang telah tak lagi mampu bernapas, lelaki itu memeluk Sehun sangat erat, menyadari mungkin ini adalah yang terakhir.

Tanpa perlu ditanyapun, Luhan sadar jika dirinyalah yang telah membunuh Sehun, meskipun ia bersumpah bahwa Ia tidak pernah bermaksud dan ia tidak pernah dalam keadaan sadar ketika melakukannya. Ia terlalu menyayangi Sehun untuk bertindak semacam itu.

Lelaki menyedihkan itu tersenggal-senggal dalam isakkannya, memandangi sahabatnya. Sahabat yang terkapar mengenaskan dengan obeng besar menancap di bagian panggal lehernya. Mulut SeHun —si lelaki malang itu terbuka, kedua matanya melotot sempurna seolah akan keluar dari rongganya.

LuHan lemas. Ia tak percaya bahwa ia telah melakukan ini.

Ia adalah pembunuh. Pembunuh gila.

Ia sudah gila. Ia yakin ia telah mengidap gangguan psikologis. Tidak ada yang bisa dielak disini.

Ia tak akan memaafkan orang yang telah membunuh lelaki ini; tak akan pernah membiarkan orang yang membantai keluarganya tetap hidup diatas muka bumi; tak akan pernah memberikan kesempatan bagi orang yang merenggut kebahagiaannya untuk tetap bernapas.

Iapun berjalan ke dapur, mengambil satu buah mata pisau, kemudian tertawa sejenak menatap bilah logam tajam itu. Suaranya menggaung di rumah besar kosong itu, terdengar begitu trenyuh dan menyedihkan.

Lelaki itu duduk di atas lantai yang putih, kemudian menatap kaki-kakinya sendiri. Lantas tangan kecilnya mulai mengukir betis kakinya dengan nama-nama orang yang dia sayang, Mama dan papa di betis kanan, Sehun dan gege di betis kiri. Kemudian tertawa puas melihat lantai yang warnanya berubah menjadi merah akibat darahnya sendiri, bau amis yang langsung menyeruak di indera penciuman mulai tercium sebagai parfum terharum buatnya.

Lelaki itu kemudian menggunakan pisaunya untuk memotong rambutnya sendiri dan menerbangkan rambut hitam itu, membiarkan mereka melayang-layang bebas di udara, sebebas-bebasnya, seperti keinginan hati kecil lelaki itu.

Kemudian Luhan pukulkan kepalanya sendiri pada tembok secara kasar dan kuat, merasakan pusing yang menyerang tiba-tiba seperti rythim pengantar tidur yang sangat manis yang menengangkan.

Sentuhan terakhir, ia sayatkan itu pada pergelangan tangannya berkali-kali seolah-olah sedang bermain, membuat ukiran cantik di sana.

Entah berapa garis yang ia cetak pada pergelangannya, ia yakin vena-nya telah terputus dan darah memancar sangat amat deras, meski lemas, lelaki itu sempat tertawa keras, sangat keras. Ia tidak merasakan sakit. Tidak. Sedikitpun. Hanya puas. Satisfied.

Isi pikiran lelaki itu selanjutnya hanyalah ia siap bertemu papa, mama, gege dan Sehun, tak apa jika nanti bertemu, mereka semua ingin menghukumnya, ia akan menerima itu semua dengan senang hati.

Setidaknya dia telah melakukan hal yang benar.

Dia telah menghabisi orang yang telah membunuh orang-orang tersayangnya, membalaskan dendam mereka dengan tangannya sendiri. Dia berhasil. Dia telah membunuh orang itu dan dia puas.

Dia telah mengabisi penjahat yang membunuh ayah, ibu, kakak dan sahabatnya.

—dia telah menghabisi dirinya sendiri.

LuHan puas telah membunuh dirinya sendiri.

***

22 Oktober 1996

Beijing News

—Guangzhou,  Seorang pemuda bernama Luhan (24) tersangka pembunuhan yang terjadi tiga tahun lalu dengan kejahatan pembantaian terhadap keluarganya, ditemukan tewas dengan dugaan bunuh diri dengan pisau di rumahnya sendiri, selain itu ditemukan mayat lain yang diidentitaskan bernama Sehun (24). Beberapa narasumber mengatakan bahwa mereka berdua bersahabat. Lelaki ini ditemukan dengan leher tertancap obeng dikamar mandi. Diduga, Luhan membunuh sahabatnya sebelum bunuh diri. Kedua mayat ini masih disimpan pihak rumah sakit untuk diotopsi. Polisi masih bekerja dalam menyelidiki kasus ini.—

***

Final.

 Note : Merupakan re-written (penulisan ulang) dari Fanfiction Satisfaction milik saya sendiri.

Advertisements

49 responses to “[Oneshot] Satisfaction

  1. Wow, awalnya sangat susah membayangkan wajah baby face abang luhan jadi seorang psycho. Tapi hebatnya author berhasil! Agak ngeri bayangin luhan kayak gitu, sekaligus kasihan juga sebenernya sih.

  2. Ngeri thor,penggambaran luhan sebagai seorang psycho disini bagus banget,jalan ceritanya sukit ditebak,good job thor 👍

  3. Ngeri banget thor…
    Penggambarannya seakan jelas banget gitu, jadi pas bayangin jadi merinding sendiri /?

    Good job lah thor~
    Keep writing yaah~ ^^

  4. Astagaa apa apaan ini?!?! Kece bingit ff nya 😀 wkwk sumpah ini mah AMAZING banget kak! Dapet ide darimana sih lo kak bikin ff beginian?! :3

  5. maldo andwae…….g sanggup byngn lulu dbuat kyk g2.smp kondsinya tersayat2,kurus n wjh tmpnnya hlng.ah……q g 5u ah lulu jd kyk g2.

  6. eer… ini lumayan menyeramkan ‘-‘ aku bahkan tidak bisa mengedipkan mataku untuk membayangkannya /? alhasil setelah membaca ini tiba2 aku mengantuk /yaampun-_-/ aku suka alurnya ❤ keep write ya! ^^

  7. Ohh mai gaaatt sebenernya awal awal ngga ngerti eeehhh pas kesininyaaaa,, aighoo.. Sumpah baru nih baca yg kaya beginii wkwk shokedd heheh ,, kereeeenn!! Ngga kebaca cerita nyaa, keep writing yaaa!! Fighting!!!

  8. Gile!!! Ga ke bayang baby lulu jadi psycho yg demen modarin orang~ Oh my god ini ff keren banget.

  9. rasanya nyees gitu ya baca ff ini. aduh, gimana yaa, nggak bisa ngebayangin penampilan luhan disitu.
    aku suka gaya bahasa author. hehe. kereeenn.

  10. Yaoloh luhan psyco nih ya..tapi ini fanfic keren banget. Bikin aku dag dig dug der pokoknya, wkwk. Sukses bikin ketakutan nih..
    Okeh, fighting and keep writing thor!

  11. Luhannya seremmm -_- yaampunnn sedihhh sehunnya dibunuhh…mlh dibunuh luhan lgi -_-

  12. kaa aku udh tau inii dri awal psti dia punya kelainan dn kaya punya alter ego~ jelas bgt pas awal dia ketawa pas bunuh seseorang yg trnyta sehun , kk jelasin dia stress. dan pas kk ceritain ttg bajunya bercak darah pas di kampus.. walau aku kira dia bunuh seseorang/pnyakitnya kumat. wkwk:3 aku bingungnya, tgl berita itu knp oktober ka? kan kejadiannya november? masa berita dulu baru kejadian? tolong jelaskan padakuu kakaa:3

  13. ._.
    Pingin nanya, author ini gimana cara buatnya?._. apa gak ngeri pas nulisnya?
    yatuhaaaan aku baca merinding begini.. Apalagi pas sehun ditancep obeng.. Duh X( ahh gatau dah mau bilang apa🙈 ini ngeri,keren!

  14. Serem banget luhanyaaa….

    Jadi dia gangguan jiwa terus tanpa sadar ngebunuh orang yang dia sayang gitu?terus dia lupa apa yang dia lakuin?

    Keren thorr bahasanya keren mudah dimengerti terus alurnya juga bagus ga biasa dari biasanya semangat terus thor ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s