[CHAPTER] DAY DREAM – BECAUSE OF YOU #3 (APPLYO)

Day-Dream-poster.png

Title: Day Dream – Because Of You #3 by APPLYO

Author: Applyo (@doublekimj06)

cast:

– Kim Jongin

– Yoon Ji  Hyun

Genre: Romance, Marriage Life (*coming soon), Drama.

Lenght: Multichapter  

Rate:  PG-17

Poster by Leesinhyo @ ART Fantasy

TeaserChapter 1 Chapter 2 

I will not make the same mistakes that you did
I will not let myself
Cause my heart so much misery
I will not break the way you did
You fell so hard
I’ve learned the hard way
To never let it get that far
[PLAY -> KELLY CLARKSON – BECAUSE OF YOU]

**

Matahari mulai menampakkan sinarnya pagi ini, sinar terang itu mulai menerobos masuk melalui celah celah jendela yang tertutup kain putih tipis di atasnya. Mencoba menggangu insan yang tengah tertidur sangat pulas di atas ranjang tak bergeliat sedikit pun.

Yoon Jihyun, gadis ini menggeliat pelan saat mendengar bunyi dering cukup keras yang mengusik tidurnya tapi beruntung dering itu terhenti sebelum ia benar benar tebangun. Sayup sayup ia  melihat sesosok pria yang ia kenal dan bisa di bilang sangat mengenalnya karena telah membuat hidupnya kacau setelah kutukan sialan yang pria itu lontarkan beberapa hari yang lalu tapi sekarang pria itu tengah tertidur pulas di sampingnya, memeluk tubuhnya sangat rapat dan membuat dirinya sangat nyaman dan benar-benar nyaman berada dalam pelukan hangat nya.

Setelah beberapa saat akhirnya Jihyun kembali tertidur dan merasakan bahwa pelukan ini hanya bunga tidurnya dan berharap keesokan hari takdirnya akan menjadi lebih baik tapi sayangnya itu tidak terjadi karena sebuah bisikan atau lebih tepatnya leguhan seorang pria membuat matanya kembali terusik, pria itu berbisik dalam sela sela tidurnya,

“Aku mencintaimu, Hyunjo ku sayang” bisiknya dengan suara serak lalu mempererat kembali pelukannya.

Tunggu..

…..dia bilang Hyunjo?

Apa Hyunjo harus muncul dalam mimpiku?

……Cinta?

Seakan tercebur ke dalam lubang  yang sangat dalam, Jihyun membuka matanya lebar-lebar lalu perlahan mendongkakan kepalanya ke atas dan oh– ia menemukan sosok pria itu benar benar nyata di sampingnya, memeluknya erat lalu berbagi satu selimut yang sama dengannya dan yang lebih parah lagi dada pria itu benar benar berbentuk sempurna dengan warna tan yang membuat kilauan nya semakin sexy, oh– please hentikan waktu sekarang juga, tapi pria ini????

“JONGINNN!!! APA YANG KAU LAKUKAN? KYAAAAAAAAAAAAAAA”

Dengan segera Jihyun menarik tubuhnya dari pelukan Jongin lalu berselingut bangun dan duduk di tepi ranjang dengan menarik selimut yang awalnya mereka gunakan saat tidur untuk menutupi bagian tubuhnya.

Teriakan Jihyun membuat Jongin menggeliat kaget dan lantas membuka matanya walau belum seutuhnya benar-benar terbuka, pria itu mengosok gosok matanya perlahan lalu menatap ke arah sumber teriakan.

“KAUUU! KENAPA KAU DISINI!”

Jihyun semakin berteriak lalu menendang-nendang kakinya ke arah tubuh Jongin membuat pria itu bangun dan terduduk, sama halnya seperti Jihyun, Pria bermarga Kim itu pun sama terkejutnya ketika mendapati Jihyun –si gadis pembocor rahasianya pada Hyunjo–  tengah duduk di sampingnya melilitkan selimut pada tubuhnya.

“Kau, sedang apa kau disini?” ujar Jongin melupakan sopan santun dan embel embel ‘Noona’ pada Jihyun, Ia terlalu terkejut melihat kondisi Jihyun berantakan, dan dimana Hyunjo? Pria itu menatap sekeliling kamar yang berantakan, pakaian berceceran dilantai- jaketnya, kaos, celana, handphone– benda benda itu berceceran di sembarang tempat, tak lupa pakaian wanita beserta pakaian dalamnya yang jelas- jelas lebih terlihat dominan di lantai.

“Harusnya aku yang bertanya seperti itu padamu.” Jihyun mengusap wajahnya lalu menatap arah pandang Jongin, ia menatap pakaian nya benar benar berceceran, kemeja-bra-jeans-dan yang lebih parah celana dalamnya benar benar berada di lantai, lalu tubuhnya? Apa benar benar tak memakai apapun?

“Dimana Hyunjo?” tanya Jongin pelan, pria itu meremas rambutnya dan berharap bahwa tebakan nya salah.

“Hyunjo?” ulang Jihyun lalu menatap sekeliling kamar, dan ia baru menyadari bahwa ini bukanlah kamarnya, ini kamar Hyunjo? Tapi kenapa ia bisa berada disana? Jihyun benar benar tak ingat sedikitpun tentang kejadian semalam, yang ia ingat hanya Hyunjo datang ke bar, lalu menyeret tubuhnya.

Jongin menutup matanya rapat rapat lalu mengingat-ngingat apa yang sebenenarnya terjadi semalam, bukankah semalam ia tidur dengan Hyunjo? Samar samar ingatannya menghilang, wajah Hyunjo menghilang berganti dengan sosok Jihyun di bawahnya, gadis itu mendesah, meremas rambutnya, mengigit bibirnya sangat kasar, jadi dia…

Jihyun?

Pria itu dengan cepat menggelengkan kepalanya lalu menatap ke arah Jihyun “Aku- ak-u benar benar tak ingat apa-apa?” ungkap Jongin pelan dan masih ragu. Apa semalam ia benar-benar tidur dengan Jihyun dan bukan Hyunjo? Apa ia benar benar salah?

“Kau bilang tak ingat setelah melihat kondisi kita seperti ini?” teriak Jihyun semakin geram, ia beranjak turun dari ranjang dengan menarik selimut yang membalut tubuhnya, baru satu langkah ia berjalan tiba tiba Jihyun terjantuh ke lantai.

Aw” rengek gadis itu tat kala pantatnya mencium lantai, entah kenapa tiba tiba kakinya sakit saat ia berjalan, kakinya kaku, seolah ada yang berubah dengan tubuhnya dengan kakinya.

“Aku kenapa?” ujar Jihyun lemah, perlahan airmata mulai membendung di matanya, siap meluncur kapan saja, gadis itu mengingat kembali kejadian kejadian beberapa hari yang lalu kejadian terburuk dalam hidupnya dan hari ini? Hidupnya hancur lebih dalam lagi, setelah kehilangan pekerjaan kali ini ia menemukan tubuhnya tanpa sehelai benang apapun bersama kekasih dari sahabatnya dan lebih parahnya lagi ia tak ingat apa yang telah ia lakukan.

Sementara Jongin? Pria itu masih berdiam dengan seribu lamunan, bahkan pria itu tak menghiraukan keadaan Jihyun sekarang.

“Kim Jongin! Kau merusak hidupkuuu!!! Kau brengsek! Kau bajingan! Sialan, kau gilaaaa!! Aku membencimu! Ak-aku ben-ci padamu” isak Jihyun di sela sela tangisnya yang kian lama kian membendung semakin keras, gadis itu menangis terisak meruntuki takdirnya yang benar-benar buruk dan semakin buruk.

**

Hyunjo berjalan masuk ke apartement nya, cuaca diluar benar benar dingin mengingat bulan ini hampir memasuki penghujung musim gugur, ia melepaskan mantelnya lalu meletakan mantel itu di atas sofa ruang tamu kemudian berlalu pergi ke arah dapur dan menghampiri rak piring untuk mengambil mangkuk.

Gadis berambut coklat sebahu itu menuangkan bubur yang memang ia beli tadi saat perjalanan pulang dari kantornya, menata nya serapih mungkin di atas nampan lalu membawanya ke suatu tempat.

“Jihyun, kau masih di kamar?” teriak Hyunjo lalu menghampiri pintu kamar- membukanya perlahan lalu menghampiri tempat tidur yang berantakan dan menyimpan nampan nya di atas nakas.

Hyunjo mengedarkan pandangannya ke arah sekekeling kamar- “Jihyun, kau di toilet?” teriak gadis itu lalu menghampiri toilet, tapi sayangnya orang yang ia cari tidak ada disana.

“Apa Jihyun sudah pulang?” Hyunjo mengaruk tengkuknya yang memang tak begitu gatal lalu merogok saku roknya untuk mengambil ponsel dan dengan segera menghubungi Jihyun.

Benda persegi panjang itu terus menempel di telinga Hyunjo selama beberapa saat, tapi sayangnya telpon itu gagal tersambung. Sambil menunggu telpon nya tersambung, Hyunjo memutuskan untuk membereskan kasurnya yang berantakan.

Melipat selimutnya lalu menata bantal dan guling yang terjatuh ke lantai, tiba tiba aktivitasnya terhenti saat sebuah benda kecil terjatuh dari ujung bantal yang ia tarik.

Dengan segera Hyunjo memungut benda itu, “Bukankah ini cincin milik Jongin?”

Jongin memarkirkan mobil Ferrari kesayangannya di tempat biasa, bassment paling ujung dari gedung parkiran kampusnya, jauh dari lalu lalang manusia dan tentunya mobil lain, tempat ini jelas jelas hanya untuknya. Begitu mobilnya terparkir rapih, pemuda itu dengan segera turun dan berjalan malas menuju gedung kampus.

maxresdefault

Di sepanjang jalan banyak gadis memanggil namanya dengan panggilan kagum, memuja dan tentunya di buat selucu mungkin agar menarik perhatian pemuda itu, tapi sayangnya kali ini Jongin malas membalas semua itu, ia lebih memilih bungkam dan melanjutkan langkahnya menuju kelas nya sore ini.

Dengan ekspresi dinginnya Jongin melenggang masuk berjalan menuju bangkunya dan tepat disana ia menemukan Kyungsoo sedang duduk di samping mejanya bercanda dengan beberapa gadis tentunya. Pria bermata bulat itu segera menghampiri Jongin setelah tau pemuda Kim itu sudah datang, ia tersenyum sangat manis lalu meninggalkan beberapa gadis yang sebelumnya ia ajak bicara.

“Kau menggoda mereka?” tanya Jongin tanpa basa-basi sembari duduk di kursinya lalu menaruh tasnya di bawah meja.

“Kau pikir? Ayolah aku hanya bertanya tentang mata kuliah kelasmu sore ini” jawab Kyungsoo enteng lalu menepuk bahu temannya itu dan tersenyum jahil.

Jongin hanya menggeleng lalu menatap Kyungsoo yang berdiri di hadapannya, “Ada apa kau kesini?” tanyanya tajam dengan raut dingin.

Kyungsoo hanya tersenyum lalu mengambil sebuah kursi kosong di sampingnya dan duduk tepat di depan meja Jongin, pria bertubuh kecil itu tak peduli jika sang pemilik kursi akan mencarinya mengingat jam kelas akan dimulai lima belas menit lagi, “Ah itu- Semalam kau kemana? Ku dengar kau mabuk berat, apa ada masalah lagi?” tanya nya langsung.

“I-itu–” Jongin sempat terdiam sesaat, ia kembali teringat tentang kejadian semalam, kejadian saat ia melakukan– oh sudahlah lupakan itu tak penting untuk hari ini, setelah beberapa jam yang lalu ia habiskan untuk mengingat hal itu tapi sayangnya bayang bayang itu seolah hilang, dan yang terpenting sekarang adalah ujian pertama untuk mata kuliah nona Hwang, jika ia sengaja bolos lagi mungkin ayahnya akan menelponya dan berbicara hal ini, itu benar benar bukan hal yang baik bagi Jongin.

“-it-u tidak penting, kita bahas itu lain kali” ujar Jongin cepat lantas mengeluarkan tablet PC nya dari dalam tas dan so menyibukan dirinya disana, lalu mendorong Kyungsoo agar keluar dari kelasnya.

“Kau berhutang cerita padaku” balas Kyungsoo lalu berlalu pergi keluar dari kelas Jongin.

**

Luhan terus tersenyum di kursinya, matanya tak kunjung berhenti menatap pemandangan langka di hadapanya, seorang gadis yang minum berbagai macam  alkohol dengan sekali teguk.

Gadis itu terlihat sangat kuat untuk minum, ia meneguk satu persatu dari gelas yang bartender sajikan, biasanya seorang gadis hanya akan mampu minum 5 sampai 10 gelas dan sesudah itu biasanya mereka akan benar-benar sangat mabuk tapi gadis itu- mungkin lebih dari 10 gelas yang jelas Luhan benar benar kagum melihatnya.

Entah seberapa berat masalah gadis itu yang bisa Luhan liat wajah gadis itu benar-benar lesu di tambah rambut acak-acak kan dan kemeja kebesaran yang ia gunakan, Luhan yakin jika gadis itu memiliki segudang masalah yang benar-benar sulit dan ia cukup tertarik untuk menolong gadis itu.

Semakin penasaran, perlahan Luhan berjalan menghampiri meja gadis itu lalu duduk disampingnya tapi nampaknya gadis itu tak merasakan kehadiran Luhan di sisinya.

“Apa dia benar-benar minum banyak?” tanya Luhan pada bartender di hadapanya,

Bartender itu menganguk lalu menunjukan botol alkohol berkadar keras, membuat Luhan terkejut lalu memandang gadis di sampingnya yang kini menyandarkan kepalanya di atas meja, nampaknya gadis itu benar benar sangat mabuk.

“Nona, kau baik-baik saja?” tanya Luhan pelan lalu mengguncang pelan tangan gadis itu,

Sadar tak sadar gadis itu bisa mendengar yang Luhan katakan, tapi kepalanya benar benar pusing, perlahan gadis itu mengangkat kepalanya lalu menatap Luhan dengan raut bertanya.

“Kau bisa mendengarku? Apa ada hal yang bisa aku bantu?” tawar Luhan lalu sedikit tersenyum.

Sementara gadis yang di tanya hanya terdiam, dan sayup sayup ia tersenyum lalu berusaha mengatakan sesuatu “Permisii a-ak-aku harus-ngh pulang” ujarnya dengan suara yang tebata bata lalu berusaha bangkit dari duduknya dan beranjak pergi dari kursinya.

Belum genap dua langkah, tiba tiba gadis itu kehilangan keseimbangan tubuhnya dan lantas terjatuh jika saja Luhan tidak memegangi pingganya. “Biar aku mengantarmu pulang” ujar Luhan membuat gadis itu mendongkakan kepalanya dan menepis tangan Luhan dari pinggangnya.

“Lepas, aku bisa berjalan sendiri” tepis gadis itu lalu berusaha berjalan lagi, tapi sayangnya lagi-lagi ia harus terjatuh, tingkat kesadaran nya benar benar buruk dan membuat keseimbangan tubuhnya menghilang.

“Aku hanya akan mengantarmu pulang nona” balas Luhan, kembali melingkarkan tangannya di pinggang gadis itu lalu menuntun gadis itu untuk berjalan keluar.

Luhan mencoba menuntun tubuh gadis itu hingga mereka tiba di halaman depan gedung bar dan berapapasan dengan Jongin disana.

Awalnya Jongin tak peduli dengan apa yang Luhan lakukan, toh biasanya Luhan memang begitu, menggandeng gadis yang berbeda beda setiap harinya, tapi kali ini Jongin merasa tak asing dengan sosok gadis yang di gandeng Luhan.

Jongin segera memotong jalan Luhan lalu menarik dagu gadis yang Luhan gandeng dan menatap jelas wajah gadis itu, wajah lesu dengan keadaan benar benar mabuk. “Jihyun-“

Dengan segera Jongin menarik tangan Jihyun, tapi dengan cepat Luhan menepisnya lalu menatap tajam sahabatnya “Hey, hey bro~ apa-apa ini bukankah dia aku yang dapat duluan?” ujar Luhan tak terima saat tiba tiba Jongin menarik tangan gadis yang akan ia antar pulang itu.

“Dia urusanku, aku mengenalnya, lepas” ucap Jongin tajam lalu mendorong tubuh Luhan dengan tangan kirinya dan tangan satunya lagi ia gunakan untuk menarik pinggang Jihyun kedalam pelukannya.

Luhan hanya tersenyum tipis, “Kita punya banyak urusan chingu!” ujar Luhan tajam lalu berlalu pergi.

“Tapi urusanku dengan wanita ini lebih penting” balas Jongin pelan lalu menatap wajah gadis dalam pelukannya yang terkulai lemas tak berdaya. “Apa pekerjaanmu hanya mabuk?”

Jongin terduduk di samping tubuh Jihyun yang terbaring di atas ranjang, gadis itu tertidur sangat pulas bahkan dalam keadaan yang benar benar mabuk, sesekali Jongin memandang wajah wanita itu, memeperhatikan setiap detail pahatan wajah Jihyun yang bisa di bilang cukup sempurna, dia cantik tentu saja.

“Hyunjo.. Apa aku benar-benar menghancurkan kehidupan sahabatmu ini?” ucap Jongin pada dirinya sendiri lalu mengulas sedikit senyum pada bibirnya.

Pemuda Kim itu lantas memukul mukul pipinya sendiri dan memaki dirinya di dalam hati “Hey! Kim Jongin~ gadis ini baik baik saja ayolah tak usah khawatir seperti itu, bukankah itu hanya kecelakaan biasa?”

Setidaknya untuk saat ini gadis itu baik baik saja, ya- dia baik baik saja- mungkin.

Jihyun merasa kepalanya benar benar pusing, entah pagi ini ia merasakan kepalanya benar benar akan pecah, sayup sayup Jihyun meraba raba nakas di samping tempat tidurnya tapi sayangnya kali ini nakas itu kosong tak berisi apapun.

“Euhh” erang Jihyun pelan lalu mencoba mendudukan dirinya di atas ranjang, sesaat ia merasa keadaan nya biasa saja tapi setelah di perhatikan lagi Jihyun merasa ada yang berbeda tapi kali ini bukan pada tubuhnya, karena tubuhnya masih menggunakan pakaian lengkap utuh tak seperti hari kemarin, melainkan tempat saat ia bangun terasa asing.

Dengan kening mengkerut Jihyun mengedarkan pandangannya, memperhatikan setiap detail kamar yang sangat kontras berwarna putih ke biruan dengan poster band amerika yang melekat di ujung ruangan tak lupa beberapa piala yang terpajang apik di lemari kaca di ujung sopa dan pandangan Jihyun terhenti ketika menatap sebuah bingkai foto seseorang yang ia kenal, lalu perlahan tubuhnya menghampiri bingkai foto itu, mengambilnya dan menatap selca narsis sang pemilik.

“Hah, brengsek!” Gadis kim itu mencengkram bingkai itu lalu menaruhnya lagi di atas meja dengan keadaan tertutup.

Jongin menghabiskan satu jam dari hari minggunya untuk menunggu Jihyun bangun, pria itu duduk bersandar di sopa ruang tengahnya, ia perlu bertanya banyak hal pada gadis itu terutama tentang kejadian hari itu. perasaan lega menghampiri Jongin saat detik itu juga pintu kamarnya terbuka dan menunjukan sosok Jihyun di baliknya.

“Ah, rupanya kau sudah bangun” ujar Jongin lalu melipat kedua tangannya di atas dada dan bersikap sangat dingin.

Jihyun tak berkata apapun, ia berjalan ke arah pintu tanpa memperdulikan perkataan Jongin, gadis itu tak punya tenaga lagi untuk bertanya banyak hal pada pria itu, hatinya terlalu gusar pikirannya terlanjur hancur, semuanya benar benar hilang. Percuma ia bertanya pada Jongin tentang semuanya karena jawabanya sudah jelas ia ketahui, dan yang ada di pikiran Jihyun sekarang adalah lari dari semua kenyataan ini dan memilih bersembunyi lalu menghindari Jongin sebisa mungkin, karena pria itulah onar dari semua masalahnya.

Jihyun berjalan agak cepat menuju pintu dan mengabaikan teriakan-teriakan Jongin tapi sepertinya Jongin mengerjarnya karena terdengar deru langkah sangat cepat dan ketika Jihyun hendak membuka pintu saat itulah Jongin mencengkram tangan Jihyun lalu mendorong Jihyun tepat di pintu lalu mencengkram tangan Jihyun erat erat.

Pandangan Jongin benar benar dingin tanpa sebuah senyuman atau penghias apapun, wajah pemuda itu datar, tajam dan sangat gelap.

Jihyun hanya mampu menutup matanya rapat-rapat lalu membuang napas nya secara kasar, di saat kehidupannya bahagia tiba tiba orang ini datang lalu mengoyahkan semuanya dengan cepat, meruntuhkan semua kerja keras yang ia buat lalu dengan tega orang ini pula yang merengut satu satu hargadiri yang ia pertahankan selama ini, harga dirinya sebagai seorang wanita yang ia jaga baik baik, ingin rasanya Jihyun melampiaskan semuanya saat ini juga detik ini juga tepat di depan wajah brengsek pria ini, tapi beruntungnya pria itu karena kali ini Jihyun benar benar kehilangan tenaga bahkan hanya untuk berbicara pun rasanya benar benar melelahkan.

“Ada banyak hal yang ingin aku bicarakan” kata kata itu meluncur begitu saja dari mulut Jongin, lalu mengendorkan genggaman tangannya dari Jihyun.

Tatapan dingin dan menusuk. Itulah yang bisa Jihyun rasanya saat ini, ia tak ingin menatap wajah itu lebih lama lagi. “Bicaralah” ucap Jihyun pelan nyaris berbisik.

“Kejadian kemarin itu murni sebuah kecelakaan, aku minta maap dan sungguh bukan maksudku untuk melakukan-“

“Aku mengerti.” Potong Jihyun dingin.

Wanita itu menatap Jongin lalu tersenyum ringan, “Hidupku hancur dan kau menambah satu lagi beban hidupku itu cukup, entah apa yang harus aku jelaskan pada Hyunjo, aku tak sanggup menyakiti hati gadis itu, dia terlalu baik kau tau, bahkan dengan semua kebodohan yang kau berikan padanya, aku bersumpah tak akan memaapkan diriku sendiri dan aku benci padamu” ujar Jihyun seadanya dengan intonasi yang benar benar pelan.

“…” Jongin terpaku, ia terdiam meresapi kata demi kata yang Jihyun lontarkan, gadis itu juga terdiam dan perlahan ia terisak pelan, bulir airmata turun membasahi pipi Jihyun menodai wajah gadis itu dengan tetesan tetesan kesedihan yang terasa sangat menyakitkan.

Tangan Jongin terangkat hendak mengusap bulir bulir itu sebelum tangan kecil gadis itu menepisnya dan lengan kurusnya menghampar ujung pipinya sebelah kanan.

PLAK!!

Jihyun menamparnya, lagi- “Kau pantas mendapat ribuan tamparan dari beberapa gadis! Kau maniak, kau gila, kau bajingan, brengsek! Aku membencimu” teriak Jihyun dengan sisa tenaganya sebelum beberapa detik kemudian tubuhnya jatuh tergeletak di atas lantai yang dingin.

Jihyun membuka matanya perlahan, sedikit demi sedikit hingga kedua mata itu terbuka sempurna. Ia melirik ke arah nakas dan menemukan jam digital menujukan pukul 5 pagi, apa ia tertidur seharian?

Gadis Yoon itu mengerjapkan matanya beberapa kali, mengingat kembali kejadian kemarin, saat secara tiba tiba sakit kepala hebat menyerangnya begitu saja, membuat tubuhnya tumbang tepat di hadapan Jongin.

Ah, Jongin? Apa pria itu yang membawanya kemari?

Dengan segera Jihyun menoleh ke arah kanan lalu ke kiri, dan detik berikutnya ia menemukan sosok pria itu tengah tertidur pulas di sebuah sopa, menggulung tubuhnya dalam kursi itu.

Tanpa sadar, Jihyun menarik sudut bibirnya naik, membentuk sebuah senyum yang tampak ragu. Gadis itu termenung beberapa saat “Kau beruntung memilikinya, Hyunjo” gumam Jihyun sepelan mungkin.

Selama beberapa saat Jihyun menikmati pemandangan di hadapannya, ia menatap wajah Jongin yang tengah tertidur, nampaknya pria itu benar benar menjaganya kemarin, karena dilihat dari kemeja hitam dan jeans biru –pakaian yang masih melekat seperti hari kemarin sebelum mata Jihyun terpejam secara tiba tiba.

Jihyun hendak memejamkan matanya kembali, menutup kedua bola matanya rapat rapat lalu dirasakanya kembali rasa sakit yang benar benar menyakitkan di daerah kepalanya, gadis itu mengerang pelan lalu menahan nya sebisa mungkin hingga rasa sakit itu hilang dengan sendirinya,

Gadis Yoon itu mencoba bangkit dan duduk, Lalu dirasanya rasa sakit itu semakin menjadi di bagian kepalanya, kadar sakitnya benar benar menyakitkan di tambah rasa pusing yang membuat tubuhnya lemas.

Jihyun memegangi kepalanya lalu memijat pelipisnya untuk mengurangi rasa sakit, ya- setidaknya kadar sakitnya menjadi sedikit berkurang walau tak hilang seutuhnya. Perlahan ia menyingkap selimut dan turun dari ranjang ukuran besar itu lalu berusaha berdiri dari tempat itu tanpa menimbulkan bunyi sedikitpun, ia takut jika Jongin terbangun di jam seperti ini, Jihyun yakin jika pemuda itu telah menjaganya seharian kemarin jadi tak ada alasan ia harus menggangunya hari ini.

Perlahan kakinya bersentuhan dengan lantai yang dingin, Jihyun berusaha berdiri menyeimbangkan tubuhnya lalu berjalan pelan ke arah pintu dengan tangan meraba-raba tembok di sekelilingnya, berusaha sebisa mungkin agar cepat sampai di depan pintu.

Ketika tubuhnya sampai di ambang pintu, gadis itu membalikan tubuhnya lalu menatap kembali ke arah sopa,

Terima kasih, Kim Jongin

**

Gadis berambut coklat sebahu itu melangkahkan kakinya masuk ke Droptop, sebuah cafe kopi yang terkenal di daerah Gangnam dan sebuah cafe terdekat dari gedung kantornya yang hanya berjarak 1 km bila di tempuh dengan mobil.

Dan hari ini adalah pertama kalinya ia menemui seseorang setelah kurang lebih 2 hari  bekerja lembur, suasana cafe terasa sangat ramai mengingat jam tengah menunjukan jam empat sore.

Gadis itu sibuk mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru cafe, menoleh ke kanan dan ke kiri, seolah sedang mencari sesuatu—atau mungkin seseorang yang memang menunggunya dan tatapan nya terhenti tat kala ia menemukan sosok yang ia cari.

“Menunggu ku lama?” gumam gadis itu lalu menaikan sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman.

Sementara orang yang di tanya hanya terdiam menatap kosong pemandangan di hadapannya lalu beberapa saat kemudian ia baru menyadari bahwa seseorang yang memang ia tunggu telah tiba, “Hyunjo- kau datang-“ ujarnya sedikit kikuk lalu mempersilahkan gadis itu, Hyunjo-untuk duduk di hadapannya.

Senyuman Hyunjo sedikit memudar “Kau melamun, oppa?” tanya nya pelan.

“Aku terlalu rindu padamu Hyunjo noona ku tersayang, maaf aku terlalu sibuk dengan kuliahku akhir-akhir ini” ucap pemuda itu meyakinkan, lalu mengelus tangan Hyunjo amat lembut dan menatap gadis itu dengan senyuman yang sangat manis, membuat gadis manapun akan meleleh di buatnya.

“Kim Jongin kau sukses membuatku speechless sekarang” jawabnya diiringi tawa kecil  dan disambut dengan sebuah senyuman oleh pemuda itu, Kim Jongin.

“Aku mau manggo choco latte , bisakah kau memesankan nya untukku?” pinta Jongin dengan sedikit aegyo nya dan mengelus tangan Hyunjo dengan kedua tangannya.

Gadis bermarga Kim itu hanya tersenyum lalu menganguk pelan “Tunggu disini, aku akan memesankan nya khusus untuk kekasihku tercinta.” ujarnya kemudian berlalu pergi menghampiri meja kasir untuk memesan.

Jongin menatap kepergian Hyunjo dengan raut terluka, ia benar-benar bingung harus berkata apa pada Hyunjo. Harusnya gadis itu menjadi miliknya seutuhnya sekarang, jika kecelakaan/? Itu tidak terjadi. Perkataan Jihyun tempo hari membuat pikirannya goyah, ia menghancurkan kehidupan Jihyun dan sekarang ia hanya bisa tersenyum di depan Hyunjo.

‘Apa pria sepertiku berhak mendapat hati tulus Hyunjo? Bodohnya aku karena menyakiti hati tulus itu, ibu.. apa yang harus aku lakukan?’

Hyunjo kembali ke meja itu dengan menenteng dua gelas kopi berlebel Drop Top dengan gelas perpaduan warna ungu dan putih membuat penampilan minuman itu terasa lebih sedap di pandang.

“Aku datang Mr. Kim” ujar Hyunjo tersenyum lalu meletakan dua gelas minuman itu di atas meja. Gadis bernotaben ceria dan supel itu terlihat sangat bersemangat walau beberapa hari terakhir pekerjaanya menumpuk membuat dirinya benar-benar lelah dan tak pernah menikmati hal seperti ini bersama Jongin.

Sejujurnya itu bukan pekerjaan yang memang harus Hyunjo kerjakan melainkan itu pekerjaan Jihyun, secara tiba tiba presdir Cho memberinya jabatan yang lebih tinggi dari sebelumnya dan memerintahkan Hyunjo untuk mengurus semua pekerjaan yang sebelumnya Jihyun kerjakan, entah atas alasan apa tiba-tiba presdirnya itu menjadi cukup baik pada dirinya dan yang lebih mengherankan adalah presdirnya selalu berusaha agar Hyunjo selalu sibuk setiap saat.

“Nampaknya pekerjaanmu lebih berat sekarang.” tanya Jongin lalu meraih gelas minumannya dan menyedotnya sedikit.

Hyunjo memutar bolamatanya bosan, “Rupanya kau lebih tau, sejak Jihyun dikeluarkan, semua pekerjaan nya menjadi untukku. kau tau bukan jika pekerjaan Jihyun benar-benar sangat berat?” gerutu gadis itu sedikit kesal.

“Jihyun?” ulang Jongin meyakinkan. Sebenarnya ia jelas-jelas mendengar dengan jelas bahwa nama Jihyun disebut oleh Hyunjo dan bukannya ia pura-pura tak mendengar atau apa, yang jelas naluri nya berkata bahwa ia harus mengulang nama itu.

Hyunjo hanya menganguk lalu menatap Jongin sedikit heran “Ya Jihyun, sahabatku itu- kau mengenalnya bukan? Gadis yang di khianati oleh kekasihnya itu.”

Jongin hanya menganguk lalu meneguk kembali kopinya agak gugup dan ia menutup kegugupannya dengan tersenyum pada Hyunjo.

“Gadis bernasib malang dan sekarang aku menambah beban kemalangan nasibnya itu, Hyunjo” batin Jongin.

**

1 Minggu kemudian

Yoon Jihyun mengerjapkan matanya beberapa kali, ia memandang lagi dan lagi atap langit langit kamarnya, Pemandangan yang sama setiap harinya ketika ia bangun dari tidurnya, gadis itu tak pernah bosan menatap langit langit itu setiap harinya, membayangkan hal hal menyenangkan ketika menatap ke atas merasa dirinya benar benar hidup sangat tenang.

Hampir menginjak tepat satu pekan ia berdiam di apartementnya, mengunci dirinya sendiri di tempat itu, merenungi setiap takdirnya saat itu juga. Gadis itu benar benar ingin sendiri sekarang, ia bingung menghadapi semua permasalahan hidupnya yang terlalu rumit, tak ada seseorang yang bisa ia gunakan untuk bersandar, Junmyeon jelas jelas mencampakan semuanya lalu Hyunjo? Apa Jihyun sangup menatap wajah tulus Hyujo setelah apa yang ia lakukan dengan kekasih sahabatnya itu?

Entah siapa yang harus Jihyun salahkan sekarang. nasibnya, takdirnya atau hidupnya? Apa ia bisa menyalahkan Junmyeon karena telah mencampakan nya lalu memecat dirinya dari perusahaan temannya itu? Ataukah Jongin yang telah mengutuk mantan kekasihnya itu lalu merebut harga diri satu-satunya sebagai seorang wanita dan berpikir bahwa itu kecelakaan?

Gadis itu menggeram lalu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, ia menyembunyikan ekspresi kesedihan itu lalu menghapus bulir-bulir airmata yang terus mengalir setiap harinya, entah apa yang bisa ia perbuat untuk kehidupannya sekarang.

Jihyun mulai mengerakan tubuhnya lalu bergeser ke ujung tempat tidur, melepas selimut yang melilit tubuhnya lalu menapakkan kakinya ke lantai. Namun, gerakannya terhenti begitu matanya menatap sebuah bingkai foto kedua orangtuanya yang terpajang apik di atas meja disamping tempat tidurnya.

Ia tersenyum lalu meraih bingkai itu, mengusap wajah seseorang di dalam foto itu lalu bergumam pelan.

“Aku merindukan kalian.”

Jihyun menata kembali apartementnya, ia membereskan tempat itu di mulai dari menyapu, mengepel lalu menata kembali perabotan yang sebelumnya benar benar berantakan, sudah cukup ia berdiam diri selama ini, kali ini ia ingin melupakan kenangan pahit itu lalu memulai segalanya kembali dari awal.

Keadaan rumahnya benar benar kotor, pantas saja karena sejak ia di pecat dari perusahaan Kyuhyun ia jarang membersikan rumah atau mungkin tak pernah sama sekali, sampah bekas kaleng soda dan botol soju bertebaran di sepanjang meja, Jihyun tak ingat jika dirinya benar benar berantakan hanya karena suatu hal.

Hampir 30 menit Jihyun menghabiskan waktunya untuk memebersihkan rumah dan sekarang ia tengah duduk di meja makan nya untuk menikmati sarapannya pagi ini walau hanya sepotong roti bakar dengan selai dan susu coklat kesukaanya, ia melahap nya dengan cepat hingga semua itu selesai dengan waktu yang cukup cepat.

Entah sejak kapan ia mulai merasa dirinya selalu lapar, biasanya tubuhnya sangup tak makan walau seharipun tapi kali ini tubuhnya seakan berubah dan gejolak laparnya selalu muncul setiap saat bahkan dimalam hari sekalipun, sejak insiden sakit kepala yang meyerangnya minggu lalu tubuhnya seakan berubah, terkadang kepalanya mendadak pusing jika minum-minuman beralkohol seperti soju bahkan soda sekalipun yang memang kadar alkhornya bisa di bilang sangat sedikit.

“Astaga, ada apa lagi dengan perutku ini? ” erang Jihyun pelan lalu menghentikan aktivitas sarapannya dan memegang perutnya yang tiba-tiba terasa benar benar sakit. Rasanya sangat aneh mengingat apa yang Jihyun makan pagi ini, biasanya perutnya tak bermasalah seperti ini, karena setiap pagi ia memakan makanan yang sama.

Perlahan ia berdiri dari posisinya lalu menghampiri kotak obat di dalam lemari di dapurnya, tangannya mengobrak abrik kotak berukuran 20×30 cm itu, mencari obat maag untuk perutnya, tapi tiba tiba perutnya bergejolak kembali seakan ingin memuntahkan makanan yang ada di perutnya,

Hoeeks~” rasanya benar benar mual dan Jihyun merasa dirinya benar benar akan muntah sekarang, tanpa berpikir panjang gadis itu berlari ke arah wastapel lalu memuntahkan makanan yang sebelumnya ia makan, ia memuntahkan semuanya hingga perutnya terasa benar benar kosong tapi rasa mual itu terus bergelayut tak kunjung berhenti.

“Apa maag ku kambuh lagi? Bukankah aku sudah memeriksakanya beberapa minggu yang lalu? Tapi tanggal berapa ya? Aku lu- hoeksss~.” gadis Yoon kembali membungkukan dirinya untuk memutahkan isi perutnya pada wastafel, ia benar benar merasa keadaanya benar benar buruk sekarang, ia memegangi kepalanya lalu mimijit pelan kepalanya itu karena sekarang bukan hanya perutnya yang mual tapi kepalanya juga terasa sangat pusing.

“Sial, ada apa dengan tubuhku.”

Jihyun berjalan memasuki lobi apartemennya, ia melangkahkan kakinya dengan pelan lalu menyeretnya masuk ke dalam lift, beruntung situasi lobi cukup sepi dan ia bisa berleluasa berjalan pelan disana.

Sore ini, Jihyun baru saja kembali dari apotik, ia membeli beberapa kapsul obat maag dan pereda sakit kepala, setelah hampir beberapa jam tubuhnya terkulai lemas di sofa hingga akhirnya ia memaksakan tubuh itu untuk pergi keluar membeli obat dan sekarang setidaknya tubuhnya menjadi sedikit lebih baik walau rasa mual nya belum hilang seutuhnya.

Ia tiba di lantai 17, ia tinggal di kawasan apartemen elit Distrik Gangnam No. 167 lalu gadis itu berbelok menuju pintu apartementnya di bagian ujung.

tiba tiba langkahnya terhenti kala melihat beberapa pria bertubuh kekar keluar masuk dari pintu apartementnya lalu mengeluarkan barang-barang miliknya dari apartement itu.

Dengan langkah sedikit di percepat ia menghampiri pria bertubuh kekar itu lalu melihat beberapa koper pakaian nya yang sudah terbungkus sangat rapih bertender di ujung pintu.

“A-ada apa ini? Kenapa pakaianku ada disini—“ ungkap Jihyun lalu menatap beberapa pria kekar itu yang kini menutup aksesnya untuk masuk ke dalam apartemen nya sendiri.

Pria-pria bertubuh kekar itu hanya menatap Jihyun tajam tanpa seulas senyum ataupun jawaban lalu salah seorang pria cukup tua muncul dari balik pintu apartemennya “Apa nama anda, Yoon Jihyun?” tanya pria itu sedikit tersenyum, walau bukan senyum yang benar benar tulus dan ramah.

Jihyun hanya menganguk lalu menatap pria tua itu tajam. “Ya- kenapa kau bisa masuk ke apartemenku?- hei kalian benar-benar–“

Pria tua itu lalu menyodorkan koper Jihyun dan memotong perkataan gadis itu “Maaf nona, tapi apartemen ini bukan milikmu lagi, biaya sewa nya habis hari ini dan orang yang memiliki apartemen ini ingin agar apartemen nya di kosongkan hari ini juga dan ia  meminta agar semua baju, sepatu, lalu peralatan di dalam apartemen itu tidak di hilangkan karena semua aset itu  miliknya, dan pemilik hanya berpesan agar anda membawa koper ini dan juga isinya.”

Seakan tersambar petir di siang bolong, gadis itu membeku seketika mendengar segala penuturan yang pria tua itu lontarkan, rasanya ia benar benar mati tertusuk pedang yang benar-benar tajam saat itu juga tapi sayangnya tuhan masih berharap ia hidup di dunia karena hingga saat ini tubuhnya masih tetap berdiri tegak.

“Nona, tolong berikan kartu apartement anda karena kami tidak memiliki banyak waktu.” lanjut pria tua itu, terdengar sopan tapi terlalu menyakitkan bagi Jihyun. Setelah menusukan pedang sekarang pria itu seolah memberinya racun yang membuatnya mati perlahan, ia menatap pria tua itu nanar lalu memberikan kartu apartementnya dari tangannya pada pria tua itu dan di sambut cukup sopan.

“Terima kasih, semoga hidupmu menjadi lebihbaik.” ucap pria tua itu kembali tersenyum lalu membungkukan kepalanya dan berlalu pergi bersama beberapa pria bertubuh kekar itu dan menghilang di balik pintu lift meninggalkan Jihyun sendiri disana.

Setelah kepergian pria-pria itu, Jihyun mendudukan dirinya di lantai, menyandarkan tubuhnya pada pintu apartemennya yang kini tertutup rapat, gadis itu memeluk tubuhnya sendiri lalu menangis, hanya itu yang bisa ia lakukan sekarang, ya-hanya itu.

“Aku membencimu, Kim Junmyeon”

**

Jongin berjalan bersama kedua temannya, Chanyeol dan Kyungsoo untuk memasuki bar. Ia melangkahkan kakinya menuju lantai dansa untuk menari, sudah sejak lama ia tak pernah menari jika berkunjung ke bar ini, tapi sayangnya Chanyeol lebih memilih menjadi DJ di bar itu di banding harus menari bersama Jongin karena jelas-jelas ia tak pandai menari.

Jongin menunjukan aksinya di lantai dansa, ia menunjukan pesona menari nya lagi, membuat beberapa gadis berteriak kencang berirama, pria itu hanya tersenyum lagi dan lagi menunjukan pesona nya yang benar benar menawan membuat gadis manapun akan jatuh cinta secara tiba tiba pada pria itu.

tumblr_inline_nein18wox11t05255

Ia menujukan senyumnya lalu mengerlingkan matanya pada beberapa gadis dan bersiul menggoda, yak pemuda Kim itu kembali pada dirinya yang sebelumnya- menjadi seorang player.

Setelah merasa lelah menari, akhirnya Jongin menghampiri Kyungsoo yang terduduk di sebuah kursi, temannya itu hanya tersenyum lalu memberikan dua tumb pada Jongin. “Good player!” gumamnya lalu tersenyum dan memberikan segelas beer yang sudah ia sediakan untuk Jongin.

Yeah, itu perlu” balas Jongin seadanya lalu mengusap beberapa peluh di dahinya dan meminum beer yang Kyungsoo berikan.

“Ini waktuku, Tunggu disini, aku akan kembali.” ucap Kyungsoo lalu menepuk pundak Jongin dan berlalu pergi menuju panggung bar ini, nampaknya pria kecil itu akan menampilkan pesonanya juga dengan cara menyanyi, yeah– itu keahliannya.

Mata Jongin menatap ke arah sekeliling mencari tahu dimana Minseok Hyung, biasanya pria bartender itu akan menghampiri Jongin jika tau pemuda itu datang kesini. Jongin menatap ke arah kanan lalu kiri dan beberapa detik kemudian ia menemukan sosok itu bersama seorang wanita yang nampaknya benar benar mabuk di meja itu, dengan langkah percaya diri Jongin menghampiri meja itu lalu menyapa Minseok “Hey, Hyung sedang sibuk ya.”

Pria bermata sipit itu menganguk “Yeah, aku hanya menemani pelangganku.” ujar nya lalu menunjuk gadis yang sudah mabuk dan menyembunyikan kepalanya itu di atas meja.

“oh, apa aku menggangu?” ucap Jongin pelan lalu menatap tubuh gadis disampingnya yang benar benar mabuk dan kepalanya benar benar terkapar di meja bar, wajahnya benar benar tertutup rambutnya yang hitam dan berantakan.

Minseok hanya tersenyum lalu berjalan ke arah kursi sang gadis “Nampaknya aku harus mengantar dia ke pintu untuk pulang, kau mau menunggu?” gumamnya.

Jongin hanya mengganguk, “Mau aku bantu?” tawarnya lalu mendekat kearah kursi sang gadis yang mabuk itu.

“Jika tak keberatan, dia sangat cantik sayangnya dan aku takut kau jatuh cinta padanya.” ledek pria berstatus bartender itu lalu tertawa menatap Jongin.

“Hey, ayolah, bukankah itu kesukaanku?” elak Jongin lalu tertawa cukup keras. “Aku penasaran kenapa dia bisa mabuk berat?” lanjutnya lalu mengendap-endap untuk mencuri curi melihat wajah gadis itu.

“Aku tak tahu, yang jelas kehidupannya sangat rumit ungkapnya.” jelas Minseok lalu menepuk nepuk tangan sang gadis, mencoba membuat gadis itu sadar kembali.

Gadis itu perlahan mengangkat kepalanya lalu menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutup wajahnya, ia memegangi kepalanya yang benar benar pusing lalu menatap ke arah samping.

“Nona, aku dan temanku  akan mengantarkanmu keluar, kau bisa berjalan?” tawar Minseok pelan lalu tersenyum.

Jongin yang berdiri di belakang tubuh gadis itu semakin penasaran lalu bergeser dari posisi nya dan tepat detik berikutnya ia bisa melihat jelas wajah gadis itu.

“Apa kau benar-benar tak ada pekerjaan lain selain hangover di meja ini setiap malam?”

“Aku benci hidupku yang malang, aku benci semuanya.” ucap Jihyun sedikit berteriak lalu kembali menegak gelas alkohol itu kedalam mulutnya.

Setelah ia berusaha kembali untuk bangkit dari keterpurukannya secara tiba tiba seseorang kembali datang dan membuat kehidupannya lebih buruk lagi, setelah pekerjaan dan uang, sekarang Junmyeon benar benar menarik apartemen itu beserta isinya, Jihyun benar benar tak bisa menyangkal karena pada kenyataanya apartemen itu di beli oleh Junmyeon dan jelas jelas pria itu yang selalu membayar sewanya setiap bulan.

Semuanya hancur dan yang tersisa kini hanya beberapa baju miliknya yang memang ia beli dengan uangnya sendiri, lalu uang tabungannya yang kini benar benar habis ia gunakan untuk minum. Entah ia akan tinggal dimana sekarang, yang jelas ia tak akan minta bantuan pada Hyunjo.

Ia tak sangup jika harus minta bantuan pada gadis itu, Jihyun tak ingin membebani lagi Hyunjo sekarang.

“A—aku benci hidupku, aku benciiiiiiii semuanyaaaaaaaaaa-“ teriak Jihyun cukup keras,

Gadis itu memegangi kepalanya lalu mengacak rambutnya, membuat keadaaannya sangat berantakan.

“Tenanglah, banyak hal lain yang bisa kau lakukan, aku yakin.” ucap bartender dengan name tag Kim Minseok itu mencoba menghibur, tapi sayang usahanya sia-sia karena sekarang gadis itu mengangis terisak.

“Terimakasih, kau sangat baik.” balas Jihyun pelan dengan tingkat kesadaran yang benar benar sedikit. “Bolehkan aku membaringkan kepalaku disini sebentar? Aku merasa benar benar pusing.” lanjutnya lalu menyandarkan kepalanya di atas meja dan menutup wajahnya dengan rambut.

“Hemm.” balas minseok dengan senyuman khasnya lalu membiarkan gadis itu dengan posisinya.

Hampir lima belas menit Jihyun terdiam dengan posisi itu, entah gadis itu menangis atau tertidur yang jelas Minseok tak mengetahuinya, hingga sebuah suara mengalihkan perhatiannya “Hey, Hyung sedang sibuk ya.” ucap pemuda itu.

Minseok hanya menganguk “Yeah, aku hanya menemani pelangganku.” ujar nya lalu menujuk Jihyun yang sudah mabuk dan menyembunyikan kepalanya itu di atas meja.

“oh, apa aku menggangu?” ucap pemuda itu pelan lalu menatap tubuh Jihyun yang benar benar mabuk dan kepalanya benar benar terkapar di meja bar, wajahnya benar benar tertutup rambutnya yang hitam dan berantakan.

Minseok hanya tersenyum lalu berjalan ke arah kursi Jihyun  “Nampaknya aku harus mengantar dia ke pintu untuk pulang, kau mau menunggu?” gumamnya.

Pemuda itu hanya mengganguk, “Mau aku bantu?” tawarnya lalu mendekat kearah kursi Jihyun.

Jihyun mengusikan tubuhnya perlahan saat dirasa seseorang mengusiknya, ia perlahan mengangkat kepalanya lalu menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutup wajahnya, ia memegangi kepalanya yang benar benar pusing lalu menatap ke arah samping.

“Nona, aku dan temanku  akan mengantarkanmu keluar, kau bisa berjalan?” tawar Minseok pelan lalu tersenyum.

Jihyun hanya tersenyum lalu menatap ke arah kiri dari tubuhnya karena ia merasa seseorang memperhatikannya dari belakang dan tepat saat itu juga tatapannya terpaku menatap sosok itu.

Kim Jongin.

Jihyun segera berlari ke arah toilet walau samar-samar kepalanya sangat pusing, ia berlari dengan menutup mulutnya dan memegangi perutnya yang kembali mual lagi kali ini, dengan segera gadis itu mengampiri wastapel lalu memuntahkan lagi isi perutnya kali ini,

Hoekss… Hoeksss…. Hoeksss

Wajah gadis Yoon itu benar benar pucat, tubuhnya benar benar lemas dan kepalanya benar benar terasa sangat sakit, setelah dirasa perutnya tak terlalu mual lagi gadis itu beranjak keluar dari toilet, dan tepat di depan pintu toliet ia menemukan sosok Jongin tengah berdiri dengan raut cukup cemas tentunya.

“Kau baik-baik saja? Apa kau sakit? Wajahmu benar-benar pucat sekali.” pertanyaan bertubi tubi dari pemuda itu membuat Jihyun terdiam sesaat lalu menatap wajah Jongin singkat.

“Aku baik-baik saja, terimakasih.” balas Jihyun pelan lalu berjalan pelan ke arah Jongin.

Gadis Yoon itu memperdekat jaraknya dengan Jongin lalu memeluk pria itu secara tiba tiba dan menyembunyikan kepalanya tepat di dada pria itu.

“…”

Hening

Tak ada jawaban apapun yang keluar dari mulut Jongin, ia terlalu terkejut dengan hal ini, bukan pada pelukannya tapi pada gadis yang memeluknya. Jujur Jongin benar benar terkejut karena secara tiba tiba Jihyun –wanita yang paling membencinya selama ini– memeluknya amat erat, menyembunyikan kepalanya di dadanya.

Dug, Dug, Dug,

Jantungnya berdesir cukup hebat, perlahan tangannya terangkat naik untuk membalas pelukan Jihyun, tapi pria itu tak yakin dengan perasaannya, haruskah ia memeluk gadis itu? Entah mendapat insting darimana, tangannya meraih pinggang Jihyun lalu membalas pelukan Jihyun, tapi baru beberapa saat ia membalas pelukan Jihyun tiba-tiba tubuh gadis itu menjadi kaku dan lemas, kepalanya terkulai.

“Jihyun, kau bisa mendengarku? Heyyy—Yoon Jihyun buka matamu, Jihyun!”

Jongin duduk terdiam, pria itu mengusap wajahnya kasar lalu sesekali menatap ke arah pintu pemeriksaan, –ya pemuda itu berada di rumah sakit kali ini, ia menginjakan kakinya disana untuk mengetahui kondisi Jihyun, setelah mengetahui Jihyun pingsan saat di pintu toilet bar tadi dengan segera pria itu membawa Jihyun ke rumah sakit dan sekarang dokter tengah memeriksa gadis itu.

Khawatir? Jelas sekali bahwa Jongin memang khawatir, pemuda itu terlihat gusar ketika menunggu Jihyun di periksa hingga beberapa saat kemudian seorang dokter keluar dari ruangan itu dengan sebuah senyuman yang mengembang sangat indah.

Oh ayolah yang Jongin harapkan sekarang adalah gadis itu baik baik saja, ““Apa dia baik baik saja dok?” tanya Jongin cepat

“Selamat tuan, istri anda tengah mengandung. Tolong larang istri anda untuk terus minum, aku khawatir jika janin nya akan memburuk.” balas dokter itu lalu memegang pundak Jongin dan mengucapkan selamat dan berlalu pergi.

“Jadi dia hamil?”

..

To be continue…

185 responses to “[CHAPTER] DAY DREAM – BECAUSE OF YOU #3 (APPLYO)

  1. Pingback: [CHAPTER] DAY DREAM – DONT LOOK AT ME LIKE THAT #8 (APPLYO) | SAY KOREAN FANFICTION·

  2. Wah, ribet banget nih hubungan.
    Kira2 Jinhin sama Hyejin bakalan kayak giman kalo sampe tau Jihyun hamil gara2 Jonhin 😱😱😱😱

  3. Aaaa kasian banget sama hidupnya jihyun god;(
    dan setelah semuanya sekarang dia hamil?.-.
    jongin gimana? Bakal tanggung jawab kaga eh?;(
    daebak keep writing author!

  4. Pingback: [CHAPTER] DAY DREAM – THINKING OUT LOUD #10 (APPLYO) | SAY KOREAN FANFICTION·

  5. gilaaaaaa, Jongin langsung tokcer(?)gitu, buktinya jihyun langsung hamil wowww, dan lucu aja setiap Jongin nanya ke Jihyun “Apa pekerjaaan mu hanya mabuk?” dan harus aku akui, Jihyun emang terlalu banyak minum disini. geli aja, pas di chapter sebelumnya hyunjoo bilang kalo Jongin tuh polos -.- polos darimana nya eon? kalo orang polos aja kaya Jongin, terus apa kabar orang yang gak polos???? hmmmm…

  6. Suho jahat banget elaah, ayoloo jong tanggung jawab jihyun hamill, duhh penasaraan jongin bakalan tanggung jawab ga ya keep writing thor!

  7. Uuuuwaaaaaa eotthokkaeeeeee eonni ? ..
    Sumpah yaa eonn itu sii junmyun jahat bgt, mksd’aa dy ngelakuin hal itu ke si jihyun apa sih min ? Idup’a jihyun hancur bgt min, miris bgt aku ngeliatnyaa -_-

  8. jihyun hamil watdehel’-‘ jongin kudu tanggung jawab dah ituuu’-‘
    hyunjo gmn dah kalo sanpe tau kan jadi rumit hngggg

  9. Jeng jeng jeeeengggggg..apa yg bakal lo lakuin jongin???dia hamil anak jongin omg lalu gimana sama naaibnya hyunjo. Kaaihan banget nasibnya jihyun udah putus di phk dr kantor apartemen ilang skarang di tambah sama hamil.lengkap sudah naaibmu nak nak hahaha..naaib emang sulit di tebak kayaknya

  10. iiiihhh joonmyeon jahaat banget siiihh..!!!! jadi kezeellll.
    heii jongin bener2 mulai tobat kaan..apalagi setelah insiden dia sama jihyun. eeh jihyunnya hamil pula. tapi yg bagus adalah jongin adalah orang yg pertama tau kalo jihyun hamil, yaah berharap ada niatan baik dari jongin buat tanggung jawab deh, secara dia juga ngerti nasib malangnya jihyun. yaah walaupun harus ngorbanin hyunjo, tapi mau gimana lagi kan..hmmm

  11. kasian jihyun terpuruk gitu cobaannya berat junmyeon bener bener jahat setidaknya jangan ambil dulu apartemennya /?
    jongin mendadak jadi malaikat kasian juga dia
    posisinya sulit pasti
    kasian banget sama nasib jihyun yaampun jihyun😥
    jongin udah mulai gimana gitu setidaknya walaupun dia player dia masih peduli sama jihyun u.u

  12. Pingback: [CHAPTER] DAY DREAM – TEARS LIKE TODAY #11 A (APPLYO) | SAY KOREAN FANFICTION·

  13. Omaigooottt sptnya Kai mulai menaruh khawatir tingkat tinggi ke jihyun,,,hehehehee
    Awal mula cinta nie
    whaaaaatttt jihyun hamiilll,,,, jeng jeng jeng
    Kau punya masalah besar jongin

  14. Pingback: [CHAPTER] DAY DREAM – I’II CRY #11 B (APPLYO) | SAY KOREAN FANFICTION·

  15. Nah lo haha, Jihyun hamil pasti Jongin shock banget deh..
    Gimana kalo Hyunjo tau Jihyun hamil anak Jongin..
    Hyunjo kan cinta banget sama Jongin..
    Jangan bilang kalo Luhan tertarik sama Jihyun?? Ya ampun, Luhan Jongin bakalan saingan lagi kayanya..

  16. Aduh g kbyng hyunjo gmn.sakitt.dilema smua’a.joonmyeon udh pnya gebetan baru bneran t’nyta.susah si,jihyun ekn0mi’a dtopang bgt sm myun2

  17. Nah loh jihyun hamil???
    Haha jongin di panggil bapak wkwkwk
    Eh emang bener dia bapaknya kan haha tp status mereka bukan suami istri emm…

  18. Pingback: [CHAPTER] DAY DREAM- BECAUSE I MISS YOU TODAY #12 (APPLYO) | SAY KOREAN FANFICTION·

  19. Yaallah jihyun hamil dlm kondisi begitu 😭😭😭
    Ya allah sumpah gue baper bgt. udah ditinggal pacar kampret, smuanya diambil , gpunya apa apa, dihamilin, ya allah penistaan mcm apa itu.
    Jihyun elo kuat elo kuat pokoknyaa!!!!! 😭😭😭
    1 pelajaran yg bisa bgt diambil, jgn suka sembarangan cablak sm org nti balik ke kitanya lagi 😭😭😭

  20. junmyung tega amat semua fasilitas langsung ditarik gitu aja, mana bikin jihyun di pecat pula
    duh duh jihyun hamil, penasaran sama reaksinya hyunjo

  21. Knp hidupnya Jihyun malang bgt, emg dia nggk prnh nabung ya, dia dl pasti ngandalin Junmyeon trs. kan kasian dia jd nggk pny apa2 skrg-_- Jongin mau tanggung jwb kan itu? Trs hyunjo gmn?😮

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s