[ONESHOOT] BLAME IT ON ME

tumblr_m3rnr8zQzX1qlvdn8o1_500

by Tamiko

Oneshoot || Oh Sehun & OC || Sad Romance || PG 15

Summary : Apa yang terjadi dengan pernikahan bahagia mereka? Jooyoung ingin bertanya, sehun tak ingin berbicara. Sentuhan dan bisikan itu, benarkah ada cinta di dalamnya?

I still love you in my own fucked up ways. —Silver Lining Playbook

ℑζ

Joo Young ingin berhenti. Sudah tidak ada kekuatan tersisa dalam dirinya untuk mempertahankan apapun yang perlu dipertahankan. Ah bodohnya dia. Bahkan yang hendak dipertahankan pun sebenarnya sudah tidak ada lagi. Sama sekali.

Perempuan muda itu menatap miris pada ruam-ruam merah yang mengelilingi lengannya, membentang dari lengan atas hingga hasta. Sisa-sisa perlakuan kasar suaminya kemarin malam begitu pria itu kembali dari acara minum bersama teman.

Itu bukan pertama kalinya bagi Jooyoung mendapat perlakuan kasar dari Sehun — suaminya itu. Bahkan bercak ungu di sekitar tulang pipi Jooyoung, bekas pukulan tiga hari yang lalu masih terlukis indah. Belum menunjukkan tanda akan segera terhapus. Jooyoung sudah terbiasa. Atau memaksa dirinya terbiasa untuk beradaptasi dengan hobi baru suaminya ­— menghajarnya.

Perempuan muda itu mengawasi bayangannya sendiri di dalam cermin. Benarkah sosok dalam cermin itu adalah dirinya? Dia ingin menolak untuk percaya. Gadis cantik yang mengaku paling bahagia sedunia beberapa bulan lalu dalam balutan satin dan genggaman tangan hangat seorang pria, kini rambutnya lusuh dan matanya cekung, ada lingkaran hitam di sekitarnya. Lengannya jauh lebih kecil dari saat mereka mengukurnya untuk sarung tangan yang ia kenakan saat pernikahan.

Kim Jooyoung berpikir kebahagiaan tanpa batas telah menantinya di balik pintu gereja. Begitu dia melangkah keluar dari pintu itu bersama pengantinnya, maka dia adalah orang yang berbeda. Dia adalah seorang istri dari orang yang paling dicintainya. Sekarang kenyataan membentang tepat di depan mata.  Dia memang seorang istri yang dicintai. Hingga lima minggu lalu, tepat sebelum Sehun memulai segala perlakuan kasar padanya. Memukul, membanting, mencengkram, bahkan sampai mencekik. Sekarang dia — istri yang tidak bahagia.

Sehun berubah. Dengan alasan yang tidak pernah dia tahu hingga detik ini. Bahkan setelah seluruh makian dari mulut pria itu, lebam di sekujur tubuh Jooyoung, air mata dan teriakan, mulut Sehun tetap terkunci dari memberitahu alasannya menyakiti perempuan yang katanya ingin dijaganya seumur hidup.

Air mengalir dari sudut mata seperti anak sungai. Jooyoung ingin kabur dari bayangan yang terlihat ringkih itu.

.

.

.

“Tinggalkan dia Joo.”

Jooyoung hanya diam. Tatapannya lurus ke depan ke arah lawan bicaranya. Hanya saja bukan lawan bicaranya itu yang benar-benar sedang ia ditata. Pandangannya sama sekali tidak fokus. Pada satu orang maupun satu benda.

“Kau… menderita,” Jongin berkata lagi. Mengungkapkan sesuatu yang sudah pasti. Bahkan orang paling idiot sekalipun mungkin mengerti betapa menderita Jooyoung, betapa tersiksa tubuh dan juga hati perempuan itu. Semua tergambar terlalu jelas. Dalam gurat wajahnya yang merepresentasikan kegetiran, suara nya yang bergetar memaksa menelan kembali tangisan, dan warna-warna asing yang menghiasi kulitnya. Jooyoung menderita. Lebih dari siapapun yang bernafas di negara ini.

“Tinggalkan dia Joo. Kumohon.”

Ah. Itu lagi. Jongin sudah mengulangi perkataan itu lebih dari sepuluh kali hari ini. Ditambah dengan hari-hari sebelumnya. Entahlah. Jooyoung tidak pernah menghitung. Karena sudah terlalu sering Jongin mengatakan hal serupa sejak lama bahkan sebelum ia dan Sehun mengikat janji di depan altar. Jongin sejak dulu bersikukuh agar Jooyoung meninggalkan Sehun. Bahkan saat Sehun masih memeluk dan menciumnya dengan lembut setiap detik dia sedang terbangun dan mengigaukan nama Jooyoung setiap detik dia tertidur. Jongin sudah meminta hal yang persis seperti yang dia katakana tiga detik lalu. Bukan hal baru lagi di telinga perempuan itu.

Bukannyaide serupa tak pernah menghantui Jooyoung. Siang dan malam ia memikirkan perkataan Jongin. Dia selalu sudah akan melakukannya hari-hari itu—saat semua masih baik-baik saja— tapi sentuhan lembut dan bisikan manis Sehun akan selalu menghentikannya dari melangkah pergi. Sehun begitu menggilainya dan cinta gila dari Sehun tanpa disangka ternyata adalah sesuatu yang menular. Dan menjangkit barikade hati Jooyoung dengan buruk. Segila Sehun mencintainya, Jooyoung mengembalikan perasaan itu sama besar. Dia begitu tersihir dalam cinta yang ditawarkan Sehun. Hingga mencapai level tertinggi dia dapat mencintai seorang pria, Jooyoung memuja Sehun.

Keinginan untuk meninggalkan Sehun sudah berputar-putar dalam kepalanya dalam seminggu semenjak Sehun mulai menganiaya nya. Secara mental maupun fisik. Tapi sesuatu selalu menahan Jooyoung. Entah itu mengingat cintanya yang terlalu besar atau harapan bahwa Sehun akan kembali seperti dulu. Dan sudah dua hari keinginan untuk berlari dari dekapan pria itu begitu menguasai dirinya. Tekadnya sudah begitu bulat dan besar hingga ia ragu akan ada yang mampu menghalangi niatnya.

Tapi ia salah. Jooyoung salah. Tiap kali wajah Sehun tepat di depan mata, semua rasa sakit luruh tak berbekas. Dia kembali jatuh cinta. Mengingkari logika berkali-kali.

“Jooyoung…” bisikan lembut namanya menarik Jooyoung kembali dari khayalannya. Jongin sudah duduk tepat pada kursi di samping Jooyoung.

“Apa?” jawabnya lemah.

“Beranikan dirimu Joo.” Jongin menggerakkan jemarinya menyentuh lebam di pipi Jooyoung. “Tinggalkan dia.” Jari-jari handal itu mengambil segenggam rambut Jooyoung dan memindahkannya ke belakang telinga. “Sekali dan untuk selamanya.” Pria itu menyelesaikan kalimatnya tanpa mengalihkan sedikitpun pandangan dari wajah Jooyoung.

Tak pernah sebelumnya Jongin membayangkan akan melihat perempuan di hadapannya ini terlihat selemah sekarang. Seluruh tubuhnya dibalut dengan kain, menutupi kaki jenjang dan lengannya yang sekecil kaki ayam. Tatapan mata itu tidak hidup seperti sedia kala. Sudah berapa lama dia tidak merawat diri di salon? Jongin ingin bertanya. Berapa lama waktu yang diambil Sehun untuk mengambil seluruh kehidupan dari tubuh tak berjiwa ini? Jooyoung terlihat seperti cangkang kosong tanpa jiwa. Hampa dan tak berharga. Mati. Semati Pegunungan Alpen.

“Tidak semudah itu Jong.” Jooyoung seperti biasa menolak idenya. Keras kepala seperti sedia kala.

Jongin menghela nafas kasar. “Sebenarnya apa yang kau cari dari kehidupan rumah tangga kalian?” tangannya kini beralih menyisir rambut sendiri dengan frustasi.

“Tepatnya apa yang membuatku tidak bisa pergi.”

Jongin menutup mulutnya. Menunggu kata-kata selanjutnya dari Jooyoung.

“Aku… sangat mencintainya Jong,” bisik Jooyoung lemah. “Aku paling bahagia saat bersamanya.”

Jongin menatap sahabatnya tidak percaya. Entahlah dia merasa jijik dengan kata yang baru melontar keluar dari mulut perempuan itu atau simpati yang begitu mendalam atas ketololannya. Apa itu bahkan sebuah alasan?

“Bahagia?” Jongin berang. “Ini yang kau sebut bahagia?” Dia meletakkan kedua tangannya di bahu Jooyoung, hampir mengguncangnya keras jika dia tidak segera menahan diri saat melihat bercak merah di sekitar leher gadis itu. Emosi semakin mendidih. “Apa seluruh memar dan lebam ini menunjukkan kebahagiaan? Kau bahkan tidak tersenyum. Dan lihat penampilanmu. Kau tidak pernah terlihat lebih menyedihkan seumur hidupmu Joo. Dan ini yang kau sebut bahagia? Bahagia melebihi saat kau belum menjadi istri si brengsek itu?”

“Hentikan itu Jongin.” Jooyoung memberikan perlawanan terlemah yang pernah disaksikan Jongin sepanjang 15 tahun pertemanannya dengan Jooyoung. Menepis tangan Jongin dengan susah payah dari bahunya bukan gaya Jooyoung. Dia tidak pernah melakukan itu sebelumnya.

“Kaulah yang harus berhenti Jooyoung.”

“Jong…”

“Berhenti berpura-pura bahagia. Kau sama sekali tidak bahagia. Dan seluruh tubuhmu dengan jelas mengungkapkannya.”

Dan Jooyoung berhenti menggerakkan tangannya untuk menepis cengkraman Jongin.

“Sakit.” rengekan pelan melantun dari bibir tipis Jooyoung.

Jongin segera melepas cengkraman dari bahu Jooyoung. “Maaf, aku menyakitimu.”

Tapi kemudian bahu Jooyoung bergetar hebat dan airmata itu menetes. Kata maaf dari Jongin tulus. Dia memang selalu menyesal tiap kali telah melukai Jooyoung. Betapa hati Jooyoung teriris menyadari tak sekalipun Sehun telah mengucapkan kata maaf setelah melukai dia dengan kata-kata maupun kepalannya.

Jooyoung sudah berjanji tidak akan menangis di depan Jongin. Tapi pria itu meluruhkan segenap insekuritinya. Ia meraung keras, memukul-mukul dada Jongin di sela air mata yang jatuh.

“Sakit Jong. Hatiku sakit. sekali. Melebihi sakit saat jatuh dari atap rumahmu dulu.”

Jongin tidak membalas satu pun kata-kata Jooyoung. Mungkin hatinyalah yang jauh lebih sakit melihat sahabat kentalnya itu menangis seperti matahari tidak akan terbit lagi. Maka Jongin hanya menggerakkan tangannya mengelus lembut rambut kusut Jooyoung. Kenapa dia tidak meninggalkan Oh Sehun saja?

.

.

.

Mata Jooyoung seketika membuka begitu suara derit pintu tertangkap telinganya. Jooyoung menggosok matanya lemah dan memaksa badannya bangun dari sofa yang menjadi tempat tidurnya tadi. Mulutya otomatis membuka lebar menguapkan sisa-sisa ngantuknya.

“Kau belum tidur?” suara Sehun menarik perhatiannya seketika. Jooyoung tidak yakin dia mengharapkan mendengar suara pria itu ataukah rasa takut yang kini sedang memenuhi sistemnya. Tapi jantungnya serasa dipaksa berpacu.

“Kau sudah pulang?” balasnya lemah.

Sehun mendesah. Desahan itu membangkitkan ketakutan Jooyoung. Apalagi? Apakah Sehun akan kembali memukulnya? Oh tidak, seharusnya tadi dia langsung menjawab saja pertanyaan Sehun alih-alih membalasnya dengan pertanyaan lain.

“A… Oppa…” Jooyoung mengeluarkan suaranya lagi meski tidak tahu apa yang hendak diucapkan. Apapun, dia harus mengatakan apa saja. Untuk mencegah Sehun memukulnya. Seluruh tubuhnya masih terasa remuk dan dia tidak ingin mendapat pukulan malam ini.

Jooyoung melihat Sehun yang terus memandanginya dan satu tangan terangkat di udara. Ini dia. Sehun akan memukulinya sampai mampus. Dia merapatkan kelopak matanya, menunggu rasa sakit yang akan mendera sistemnya begtu pukulan didaratkan entah di bagian mana tubuhnya kali ini.

Tapi bukan pukulan yang didapatkan oleh Jooyoung. Tangan Sehun bergerak pelan di atas kepalanya. Membelai rabutnya yang kusut dengan gerakan paling lembut yang bisa dibayangkan perempuan itu. Seperti belaian yang diberikan suaminya dulu, saat mereka masih berpacaran. Gerakan yang menenangkan hati Jooyoung yang bergemuruh hebat.

“Kenapa kau belum tidur?” Suara Sehun begitu tenang tanpa tekanan. Dia mengisi spot kosong di sofa yang ditempati Jooyoung. Tangannya masih melanjutkan aksi membelai kepala perempuan itu.

Jooyoung diam tak bersuara. Menatap pada mata sayu pria yang juga sedang mengobservasi setiap inci tubuhnya. “Aku… menunggumu.” Jooyoung menggigit bagian bawah bibirnya gugup. Ada apa? Kenapa tiba-tiba bersikap baik?

“Kau seharusnya tidak perlu menungguku.” Sehun menarik kepala Jooyoung ke depan dadanya dan menghirup bau shampoo gadis itu sebelum menghujaninya dengan ciuman bertubi-tubi di pucuk kepala lalu menuju dahi, pipi, hidung, hingga bibirnya. Gerakan yang dilakukan dengan penuh cinta. Mengundang pertanyaan yang lebih besar menginvasi benak gadis itu.

“Aku tidak akan bisa tahan kalau melihat kau sakit nanti.” kata Sehun lagi di sela kecupan pada bibir istrinya yang sudah memerah. Jooyoung bergidik saat merasakan napas hangat Sehun tepat di depan wajahnya. Perasaan yang sudah selama sebulan menghilang begitu saja bersamaan dengan munculnya sisi baru Sehun yang kasar. Kini sentuhan lembut itu kembali menjalar di seluruh tubuhnya dan Jooyoung merasa beban selama satu bulan terakhir yang tidak bahagia menguap dan tak berbekas. Dia bahagia. Ingin selamanya Sehun menyentuhnya selembut ini. Dan tidak ingin berhenti.

.

.

.

Satu perlakuan manis Sehun menyingkirkan nyeri dari puluh bahkan ratus pukulan yang bersarang di tubuh Jooyoung. Dia bangun pagi ini dengan senyum mengembang di wajahnya. Seolah kemarin dia tidak menangis memandangi refleksi dirinya sendiri yang begitu kacau. Hatinya dicerahkan kembali dengan setitik harapan bahwa rumah tangga bahagia yang diimpikannya kali ini akan benar-benar menjadi nyata.

Bisikan lembut Sehun di telinganya kemarin malam saat mereka bercinta membangkitkan kembali gairah untuk meraih kebahagiaan yang sempat mengabur. Bagaimana Sehun menyentuh setiap bagian tubuhnya dengan lembut dan hati-hati seolah dia porselen China yang mudah pecah jika salah sentuh, bisikan-bisikan penuh cinta itu, dan saat Sehun mengatakan betapa dia membutuhkannya, mencintainya, menginginkannya. Bunga cinta kembaIi bermekaran. Musim semi di hati Jooyoung.

Jooyoung segera bangkit dari tempat tidurnya ketika mendengar bunyi air mengalir di kamar mandi. Sehun sudah bangun sedari tadi dan akan segera berangkat ke kantor. Tidak ingin merusak pagi yang indah, ia segera langsung menyibak selimut yang menutupi tubuhnya dan memungut pakaian dari lantai mereka dari lantai. Kemudian segera mengenakan pakaiannya sendiri dengan benar dan meletakkan pakaian Sehun di keranjang dan berjalan keluar kamar.

Jooyoung akan mengawali pagi ini dengan sarapan penuh cinta untuk orang yang dicintainya. Omelet terdengar baik. Dia pun berjalan menuju dapur kecil apartemen mereka dan segera melancarkan niatnya untuk memasak sarapan. Dalam beberapa menit, Jooyoung segera disibukkan dengan wajan dan spatula. Berjalan mondar-mandir di sekitar dapur tanpa mempedulikan kakinya yang sebenarnya masih ngilu akibat perbuatan Sehun. Heol, bahkan denyut nyeri di tangan dan wajahnya tidak menjadi penghalang dia memasak sarapan untuk suaminya. Perlakuan lembut Sehun kemarin malam mempunyai pengaruh sebesar ini pada dirinya. Kini dia sedang membalik omeletnya sambil bersenandung. Tidak ada sisa kesedihan terpancar di wajahnya.

“Apa yang sedang kau lakukan?” suara Sehun yang menginterupsi kegiatan Jooyoung. Membuat perempuan itu segera berbalik dari wajan dan menghadap Sehun. Senyum terlukis di wajahnya dan matanya berbinar menatap pria itu.

“Membuatkanmu sarapan.” Jooyoung menjawab ceria. Dilihatnya Sehun yang sedang berkutat dengan dasinya. “Ah biar kupasangkan.” Langkahnya cepat menuju Sehun.

“Tidak perlu.” adalah kata yang langsung diucapkan Sehun begitu tangan kurus Jooyoung sudah mendekat ke lehernya. Ditepis tangan wanita itu kasar dan dia kembali memasang sendiri dasinya.

Eh? Jooyoung membeku tepat di tempat dia mendapat penolakan Sehun tadi. Apakah benar nada dingin seperti hari-hari sebelumnya yang baru saja dia dengar dari mulut Sehun?

“Ah..aku sudah memasak. Ayo kita sarapan bersama dulu sebelum kau berangkat.” Nada ceria itu masih belum hilang dari suaranya, tapi ada getaran lain yang tidak dapat menyembunyikan betapa terluka Jooyoung. Rasanya seperti sedang dalam mimpi buruk.

“Aku mau langsung berangkat saja.” Sehun segera berjalan melewatinya begitu ia berhasil mengikatkan dasinya. “Berhentilah tersenyum. Itu membuatku muak.”

Suara bantingan pintu menjadi suara terakhir yang menandakan presensi Sehun sebelumnya. Yang selanjutnya adalah keheningan tiada akhir. Jooyoung masih berdiri kaku di tempat yang sama. Tidak ada satupun kata yang keluar dari mulutnya untuk membalas perkataan pria itu. Bahkan erangan singkat yang dipaksanya keluar dari mulutnya tidak terdengar seperti erangan.

Sehun kembali bersikap dingin. Meskipun dia tidak mendaratkan tangannya melukai Jooyoung kali ini, entah dia harus bersyukur untuk itu atau tidak. Kata-kata manis yang baru terucap malam sebelumnya tiba-tiba menjadi blur seperti kenangan yang sudah sangat jauh. Seolah berasal dari dua ratus tahun yang silam. Rasanya seperti Jooyoung masuk ke dalam mimpi buruk yang sama lagi. Ah, bukan. Dia hanya terbangun dari mimpi indah yang semu.

.

.

.

Siapa yang harus ditunjuk jemari Jooyoung sebagai pihak bersalah atas hancurnya imajinasi sempurna akan rumah tangga bahagia yang lama dia impikan?

Pertanyaan yang sama menginvasi otaknya sebulan belakangan. Otaknya seolah akan wajib mendengungkan tanya itu jika dia sedang melamunkan kehidupan seperti saat ini.

Karma is a bitch. Jooyoung benci bahkan hanya untuk membayangkan bahwa mungkin sekarang dia sedang mendapat pembalasan untuk apa yang dia lakukan dulu. Karena itu hanya akan meninggalkan dia sebagai antagonis dalam kisahnya sendiri.

“Jadi… kau mendapat balasan setimpal heh?”

Jooyoung mengutuki tawa yang diperdengarkan wanita di hadapannya setelah mengatakan sesuatu yang tidak begitu menyenangkan. Apa penderitaan Jooyoung semenghibur itu baginya? Dorongan untuk menjambak segumpal rambut wanita itu berusaha diredam oleh Jooyoung sekeras mungkin. Hanya karena dia tidak ingin membuat tontonan di kafe ini.

“Kau terlihat lebih cantik dengan memar-memar itu.” Wanita tadi melanjutkan lagi.

Tangan Jooyoung terkepal erat di atas paha. Darahnya bergejolak. Dia ingin meludah di wajah wanita ini. Memberitahu betapa memuakkan senyum plastik yang dia tunjukkan di depan Jooyoung. Tapi Jooyoung berusaha mengendalikan emosi. Dengan tenang menjawab hinaan yang dilempar tepat ke depan mukanya. “Tentu saja. Bukankah memang itu alasan dia sedari awal memilihku? Karena aku memang cantik.”

Sudut bibir lawan bicaranya berkedut seketika dan wanita itu terbahak. Menanggalkan keanggunannya, dia tertawa kencang sambil bertepuk tangan. “Masih arrogant seperti kotoran kucing,” celetuk wanita itu berpura-pura rileks. Tapi urat yang timbul di pelipisnya mengingkari actingnya sendiri. Jelas dia tersinggung. Sangat.

Ah. Sebutan itu. Wanita ini sedari dulu memanggil Jooyoung dengan kata-kata yang tidak pantas. Sudah berapa lama kata-kata itu tidak disebutkan sebagai pengganti nama Jooyoung. Kini ia mendengarnya lagi.

“Mulutmu begitu penuh dengan kotoran.” Jooyoung berbisik keras, sengaja agar wanita itu mendengar ucapannya. Dan senyum sinis tadi segera terhapus lagi dari wajah wanita itu.

“Tidak berubah sama sekali.”

Jooyoung tidak merespon. Wanita itu juga diam. Hanya ketukan jarinya yang mengisi keheningan di antara mereka selama beberapa saat sebelum dia kembali bersuara. “Lalu? Apa yang kau inginkan dengan bertemu denganku?” Wajahnya berubah datar dan menatap Jooyoung marah.

Hening lagi. Jooyoung mempererat kepalan tangannya sebelum kembali membuka mulut masih dengan kepala ditundukkan. “Tarik kata-katamu.” Lebih lemah dari yang ia harapkan.

“Hah?”

“Kau pernah berkata bahwa aku tidak akan pernah bahagia dengan Sehun.” Mengumpulkan seluruh sisa keberanian yang masih dia miliki, Jooyoung mengangkat kepala untuk mempertemukan mata dengan lawan bicaranya. “Kumohon tarik kata-katamu itu.”

“Oh itu. Aku bahkan sudah melupakannya.” Senyum sinis kembali mengembang. “Lagipula memangnya apa yang kau harapkan setelah aku menariknya?”

Diam. Jooyoung sendiri tidak mengerti apa yang dia harapkan dari meminta perempuan ini untuk menarik ucapan itu.

“Kim Jooyoung. Maksudku Oh Jooyoung. Ini adalah karmamu.”

Hati Jooyoung mencelos. Benarkah ini adalah karma?

“Bukankah kukatakan padamu? Hati wanita yang kau sakiti pasti akan kembali padamu.” Lipstik merah yang menarik perhatian tiap kali bibir wanita itu terbuka semakin mengintimidasi Jooyoung. “Sekarang kau tahu sakitnya.” Komentar pedas masih berlanjut. “Bahkan jika aku menarik kembali ucapanku, tidak akan ada yang berubah. Ini hanya karma atas dosa masa lalumu.”

Jooyoung bergeming. Tidak bisa menjawab untuk kata-kata yang ditujukan padanya. Lidahnya terlalu kelu untuk merapal satu katapun.  Setiap kalimat menusuk Jooyoung. Membuat ngilu persendian dan menghambat jalan udara menuju paru-parunya. Jooyoung tidak tau harus membalas dengan apa. Dia seperti kehilangan seluruh kosa kata yang pernah dikuasainya. Tanpa sadar mata Jooyoung mulai berair. Tak berdaya.

Wanita itu menghela nafas singkat saat melihat butiran air mata yang mengintip dari balik kelopak mata Jooyoung. Dia memutuskan untuk tidak berlama-lama lagi dengan perempuan itu. Cukup main-mainnya. Jadi dia meraih tasnya dan segera berdiri. Tidak lupa meninggalkan uang di atas meja untuk membayar makanan yang sama sekali tidak disentuh.

“Hati seorang pria berubah. Kau tidak seharusnya mempercayainya ketika dia mengatakan ingin menjagamu selamanya. Kau tidak sehebat itu untuk dapat membuatnya hanya mencintaimu selamanya. Dan itu kenyataan.” ujarnya seraya menatap Jooyoung yang menyedihkan. CIbiran setia melekat di wajahnya seiring tiap kata yang terucap.

Lima menit setelah wanita itu menghilang dari pandangan, Jooyoung masih membeku di tempat duduknya dengan kepala tertunduk. Air matanya satu demi satu menetes di punggung tangannya. Dan dengan hati-hati ia merenungi perkataan wanita itu.

Karma? Apa ini memang benar-benar karma bagi Jooyoung? Jika memang betul ini adalah karma, kenapa harus dia sendiri yang dihukum atas kesalahan yang dia dan Sehun perbuat? Wanita tadi ­—mantan istri Sehun ­­—mungkin dia benar.

Tidak ada kebahagiaan semu yang kau peroleh jika kau mendapatkannya dengan menginjak kebahagiaan orang lain.

Ini salah. Semua salah dari awal. Jooyoung salah. Sehun juga salah. Mereka telah menyakiti seorang wanita baik yang begitu mencintai Sehun. Dan Jooyoung la yang dulu memaksa wanita itu untuk berpisah dengan Sehun dengan kasar. Cinta buta kepada Sehun mendorong dia melakukan apa yang telah dia lakukan dulu. Apa yanga tidak seharusnya dilakukan. Dia ingin Sehun hanya menjadi miliknya seorang. Apa itu salah? Ah. Kata mereka itu salah. Bahkan Jongin juga menyalahkannya atas itu dulu.

Semua sudah berjalan begitu mulus dan bahagia bagi Jooyoung. Wanita itu menyerah. Meski dengan terlalu banyak air mata. Dia memutuskan untuk pergi. Dan Jooyoung sempat berpikir bahwa ia akhirnya akan memperoleh akhir bahagianya. Kebahagiaan tanpa batas sudah menantinya di balik pernikahan dengan Sehun. Mereka berdua begtu saling mencintai. Pernikahan mereka adalah yang paling sempurna yang dapat diimpikan oleh perempuan mana saja. Jooyoung mengangkat kepalanya tinggi-tinggi dan dia melihat senyum mengembang di wajah Sehun. Cinta yang begitu besar tercermin dalam tatapannya dan Sehun.

Hari-hari itu begitu sempurna. Sampai Sehun yang mencintainya dengan penuh nafsu itu perlahan berubah. Menolak berbicara dengannya, menghadapkan punggungnya pada hampir setiap waktu dan mulai memaki serta menganiayanya. Jongin yang dulu dia tolak cintanya kini menatap Jooyoung dengan iba seperti Jooyoung dulu menatapnya yang patah hatinya. Bahkan wanita yang dulu terlihat lemah dan menangis di depan Jooyoung kini jauh lebih hidup darinya. Ironis bagaimana wanita itu mengatakan hal yang persis sama dengan ucapan Jooyoung padanya dulu.

Tapi Jooyoung, hingga detik ini masih dengan bodoh berharap happy ending yang dia dambakan akan datang. Mungkin jika dia tidak berhenti berharap, kebahagiaan itu akan datang pada akhirnya. Karena itu dia memilih untuk tetap tinggal. Rasa cintanya terlalu besar untuk dapat diabaikan.

Biar bagaimanapun, dia hanya wanita yang terlalu mencintai Sehun. Terlalu besar. Terlalu banyak.

-keut-

A/N: Aku sih gaminta banyak ya. Cuman pingin dikasih komen, itu aja😀 Well, sedikit feedback dari kalian yang baca bolehlah. Kritik dan saran diterima. Thanks guys🙂 And again, sorry for the lame fanfiction.

xoxo

Tamiko

176 responses to “[ONESHOOT] BLAME IT ON ME

  1. ih yaampun jahat bgt si sehun. aku ampe sakit hati bacanya. aku jg kesel jooyoung bodo bgt masi mau mempertahankan suami yg kaya gt, ya tpi mungkin ini emg balesan dari semua perbuatan jooyoung ke mantan istri sehun, karma emg ada kali ya?
    karna authornya ga keberatan, pengen bgt ini dikasih sequel^^

  2. sequel harus .hehe .itu aku penasaran sehun kenapa sikapnya manis terus kasar .dan alasan apa juga sehun mau nikahnya sama jooyoung .ah bingung .sumpah angst bgt ya aku nangis .

  3. ouh karma, masa ?:/
    aduh masih banyak pertanyaan inih
    masih ngegantunng *dikit😀

    Butuh sequel nih, xixixi…

  4. Pas awal” aku baca, aku kasihan dgn Jooyoung tapi pas aku tau klo dia ternyata ngerebut Sehun dari istri pertamanya, aku jadi kepikir klo ini semua pantas buat Jooyoung. Tapi jujur aku masih penasaran kenapa Sehun jadi berubah.. jadi kuharap ada sequel…

  5. waaaaaaaaaattt😯 jooyoung ternyata,
    speechless aku
    yg bikin tanda tanya segede pintu itu, sisehun dia punya kepribadian ganda apa gimana yaa, ato semacam penyakit antah berantah
    penuturan author sukses bikin aku ngilu2 juga😦
    tapi emg iya sih, i can see it clearly
    kebahagiaan semu itu emg sesuatu,
    well, jadi siapa yg salah😀
    yg menarik, *gakjugasih tapi hubungan mantan istrinya sehun sama joo yg bikin merinding
    hukum alam bermain
    ckckckckckckcck/-/
    however good job,🙂

  6. Setelah baca kata “karma”, aku kira Jooyoung ngerebut pacar orang utk dijadiin suaminya. Eh…ternyata suami orang toh yg ia rebut :v
    Author sukses bikin aku ngedumel karena begitu naifnya Jooyoung dan tertawa atas karma yg Jooyoung terima karena ngerebut suami orang. Hahaha *jahat*
    Author, daebak!
    SEQUEL! SEQUEL! SEQUEL!

  7. Andai ! Awal nya kasian sama jooyoung tapi pas akhir ternyata dia nge rebut suami orang mah jadi “ah naha sih maneh meni bodo” pffft . Nya atuh awal nya aja sanggup tinggalin istri nya demi wanita lain kenapa mesti yakin bakalan sama kamu selamanya , cinta memang buta tapi tidak bodoh sayang . Ah kesel dan aku mah kenapa jadi cewek teh jahat
    Mana atuh sequel nya thor , udh ? Belum ada penjelasan kenapa sehun berubah , karena memang dari awal gak ada cinta cuma nafsu semata atau saking cintanya sehun sama jooyoung dan cemburu ada moment jooyoung sama jongin ? Teu kudu lah balikan deui jeung Jongin ge , teu ikhlas aku mah (author kalo gak ngerti ketik di Google yah :D) kesel ih Abisan !
    Tapi bagus cerita nya aku suka bgt smpe kebawa fell kan *cium

  8. annyeong, aku iyang. mm, gimana kalo aku manggilnya kak aja? soalnya aku baru 15.😀 hehehe

    Aku kira awalnya Jooyoung dijodohin ama sehun. sehun gak suka dan stlh nikah sering nganiaya Jooyoung. pas tiba” sehun berprilaku manis, nah itu sempet mikir keras. apa sehun memiliki 2 kepribadian?? dripada trs mikir akhirnya lanjut baca. dan tadi ada cast cewe, mantan istrinya sehun. nah, dri sana udah tahu maksud crita ini. :3
    Jooyoung mah, ngambil suami orang. padahal aku kira Jooyoung ini orang yang ceria yang polos menginginkan kebahagian di pernikahannya. ternyata eh ternyata…

    hahaha perkiraan awal salah😀

    okelah overall aku suka sama jalan ceritanya yang bikin orang penasaran dan lebih pengen lanjut baca (y)
    oiya bahasanya juga aku suka, gak perlu mikir keras buat memahami bahasanya. dibaca juga enak. kan kadang ada ff yang pake bahasa yang berat, susah dipahami.

    pokoknya mah saya suka sama ff ini ditunggu karya selanjutnya ~~

  9. hai author hehe aku baru baca ,
    duh bagus bedd ff nya aku pgn tau kelanjutannya bikin sequelnya dong thorr yg lebih seru sm bkin greget ya wkwk…
    aku berharap bgt jooyoungnya pergi dr sehun trs sehun nya nyesel wkwk
    jgn lupa sequelnya ya thor hehe

  10. Oh my God!!! Sumpah Sehun kok gitu siiiih. . . Kesian Jooyoungnyaaa kan. . Tapi itu kenapa disebut sebut karma yaa??? Jooyoung ngerebut Sehun gitu yak??? Sediiih deeeh. . .
    Tapi bagus bangeeet aku suka tiap kata yang dipake. . .
    Keep writing ^^

  11. Hai, aku pembaca baru hhe
    Omg ff ini semacam sidiran dan ada amanat moralnya. Aku baca sampe bengong, soalnya ff lain yg penting couple mereka jadi (dg cara apapun)
    Ini realistis 👍👏👏

  12. Saya kira akan ada penjelasan tentang sikap Sehun yang seperti berkepribadian ganda, but this is still good though. Especially because it ends with no exact explanation or happy ending like usual🙂

  13. awalnya aku kira si sehun kasar grgr selingkuh sama cewe lain,eh tauknyaaa si jooyoung malah ngerebut suami orangg.. Ya jelaslah kena karma.
    Hyaa karma is always on ya ternyata.. Jadi ngeri.
    Sukasuka.. Lanjut ya thor

  14. Nunggu lanjutan between the line nemu ini arsipnya hihihi 😂😂😂😂😂😂

    Ampun pas awal awal aku ngerasa kasian sama jooyoung ampe segitunya di gituin sama sehun ,tapi pas baca penjelasannya ternyata jooyoung dpt karma toh,sebernarnya jooyoung salah juga sih,aku kira jooyoung ga ngerebut sehun dari mantan isterinya ,ternyata ……

    Nunggu sequelnya dong :”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s