Overshade [Chapter 12] – By Isanyeo

Judul : Overshade – Chapter 12

Author : isanyeo

Cast : Lee Young, Kai, Sehun, etc.

Rating : PG-15

Genre : School life, Romance, Family, Slice of Life.

Length : chaptered

Semakin berat bebannya semakin kuat pula orang itu. Maka dari itu jangan pernah mengeluh jika diberi kekuatan. – Mr. Dion.

XII : The Shoulder

Kai berjalan beriringan dengan Young di trotoar setalah turun dari bus beberapa saat yang lalu. Mereka terus berjalan higgga Young berhenti di sebuah rumah. Rumah yang tak asing lagi baginya. Ia masih mengingat malam terakhirnya di sana, di mana sang pemilik rumah memaksa untuk mengantarnya pulang. Di mana dia mengucapkan selamat tinggal pada mereka di dalam hatiya. Malam di mana ia hendak mengakhiri hidupnya.

Young memencet bel rumah itu. Membuat pemilik rumah membuka pintu untuk keduanya. Sebuah senyum lebar terlukis di wajah wanita pemilik rumah itu.

“Oh, Lee Young!”

“Selamat siang, Nyonya Shin.”

Young masih berdiri di samping Kai, membiarkan lelaki itu hanya diam saja. Walau mungkin ia bisa menebak bahwa Kai tengah bertanya-tanya di mana mereka. Tapi Kai tak mengutarakan pertanyaan-pertanyaan itu, dia tidak pernah bertanya, sejak awal dia tidak pernah bertanya.

Kai bisa melihat wajah kaku Young yang tiba-tiba melembut, menampakkan sebuah senyuman manis yang begitu lebar, senyuman yang tampak begitu berbeda dari yang ia lihat biasanya. Dan senyuman itu datang bersamaan dengan langkah kaki yang semakin terdengar.

“Young?!”

Kai bisa mendengar suara anak lelaki yang memekik menyebut nama Young. Membuatnya menoleh dan melihat anak lelaki yang berlari ke arah mereka dan mengulurkan kedua tangannya ke arah Young, yang mana Young terima dan dalam sekejap anak lelaki itu sudah berada di pelukan Young.

Kai entah mengapa tiba-tiba tersenyum melihat mereka berdua. Young sudah mengatakan mereka akan menemui adiknya, namun dia tidak mengatakan bahwa adiknya begitu menggemaskan, membuat Kai tersenyum hanya dengan melihat bocah itu.

“Hai!” Kai menyapa anak lelaki itu.

Nyonya Shin kemudian menyadari bahwa ada seseorang yang datang bersama Young, matanya melebar melihat Kai dan bertanya-tanya.

“Kau membawa teman, Young?” tanya Nyonya Shin.

Young melepaskan pelukannya dengan Kwon, adiknya. Melirik Kai sekilas dan menganguk kecil ke arah Nyonya Shin. “Ya.”

“Siapa namamu?”

“Namaku Kim Kai, aku kekasih Lee Young. Senang bertemu dengan anda.” Kai tersenyum lebar mengenalkan dirinya ke Nyonya Shin, yang dibalas dengan mata yang kian melebar dari wanita itu.

Sedangkan Young hanya bisa berkedip sekali dua kali mendengar itu, menatap Kai dengan tatapan tidak percaya. Sedangkan Kwon yang mendengar itu tak bersedia melepaskan tangan Young yang entah sejak kapan digenggamnya.

“Young tak pernah membawa siapapun kemari. Silahkan masuk.” Nyonya Shin menemukan jalannya untuk tersenyum sopan ke arah Kai dan mempersilahkan keduanya masuk, Nyonya Shin bagaimanapun juga sudah menganggap Young sebagai anaknya sendiri.

Kwon mengerutkan keningnya, menarik Young untuk menunduk ke arahnya, mencoba membisikkan sesuatu di telinganya. Namun seperti anak kecil pada umumnya, niat mereka untuk berbisik itu gagal karena suaranya terlalu kencang, membuat Kai bisa mendengarnya.

“Benar dia kekasihmu?”

“Tentu saja! Lee Young adalah kekasihku. Siapa namamu?” tanya Kai bersemangat, membuat Kwon sedikit tersentak kaget.

Kwon semakin mengerutkan keningnya, tanda dia benar-benar tidak suka dengan Kai. “Kau bukan kekasih Young. Young bilang dia akan menungguku besar dulu baru dia akan punya kekasih.”

Kai tertawa mendengar apa yang Kwon katakan, matanyaa beralih ke arah Young. “Siapa namanya?”

“Kwon.”

“Jangan katakan namaku padanya, Young!” Kwon berteriak kesal.

Kai berjongkok di depan Kwon, sebelah tangannya terangkat mengacak rambut milik Kwon. “Jadi Kwon, apakah kau tidak memperbolehkan kakakmu untuk memiliki kekasih?”

“Tidak!”

“Kenapa?”

“Young adalah kakakku, milikku, siapapun tidak boleh memilikinya!”

“Kakakmu bahagia bersamaku. Jadi kau tidak ingin kakakmu bahagia ya?” Kai bertanya santai dan kerutan di kening Kwon menghilang seketika.

Tidak ada jawaban dari Kwon dan Young hanya memandang mereka berdua dengan tatapan kosong. Pertanyaan yang baru saja Kai berikan membuatnya tertegun. Ia tidak mengerti apakah itu sungguhan atau hanya kalimat basa-basi yang ditujukan pada Kwon.

“Kau membuat kakakku bahagia?”

“Ya. Kau tahu, Kwon? Dia memelukku seperti ini jika dia sedih, dia menahan senyum seperti ini setiap kali bersamaku, dia menatapku seperti ini jika aku berada di dekatnya. Dia bahagia bersamaku, Kwon.”

Kai menunjukkan setiap ekspresi, setiap tatapan yang dibuat oleh Young setiap kali mereka bersama. Dan itu membuat Young menyadari bahwa meskipun Kai tak pernah mengatakan apapun, dia mengamatinya selama ini.

“Jadi, apakah kau ingin kakakmu bahagia, Kwon?”

“Tentu saja.”

“Maka dari itu kau harus senang karena dia bersamaku, bisakah?”

Kwon melirik ke arah Young. Menatap kakaknya yang hanya terdiam melihat percakapan mereka berdua. Kwon mungkin saja masih terlalu kecil di mata orang-orang yang lebih besar darinya. Kwon mungkin terlihat seperti anak manja dan nakal secara bersamaan. Kwon mungkin terlihat bahwa dia tidak mengetahui banyak hal tentang dunia. Tapi meskipun dia masih belia, dia masih memiliki alat indra untuk melihat ekspresi kakaknya yang selalu terlihat dingin, mendengar setiap kalimat dengan nada bergetar, dan merasakan pelukannya yang selalu terasa hangat darinya.

“Bisa.”

Kai tertawa dan sekali lagi mengacak rambut Kwon, mengulurkan tangannya ke arah Kwon dan menuntunnya masuk ke dalam rumah. Diikuti dengan Young yang masih berusaha mengira-ngira apakah yang diucapkan Kai adalah sebuah kebenaran atau hanya basa-basi belaka.

Mereka bertiga berakhir di kamar Kwon, dengan Kai yang tiada hentinya tertawa bermain bersama Kwon, dan Young yang masih saja tidak membuka suara. Tampaknya hari ini mungkin adalah hari Kwon dan Kai, bukan dirinya dengan Kwon.

Lalu, dilihatnya Kai yang berdiri dan izin untuk ke kamar mandi. Meninggalkan Kwon dan Young di dalam kamar.

“Young?”

“Ya, Kwon?”

“Kai benar-benar kekasihmu?”

Young merasakan nafasnya tercekat. Haruskah ia mengatakan bahwa Kai bukanlah kekasihnya?

“Kwon, aku-.”

“Kai benar-benar menyenangkan, Young. Jika kau datang lagi, ajak dia ya?”

“Apa?”

“Ajak dia kemari. Aku akan membeli kaset game terbaru dan mengajaknya bermain.”

“Tentu saja.”

Young teringat sesuatu. Ia meraih tasnya dan mengeluarkan sebuah bingkisan dari sana,  kemudian menyerahkannya pada Kwon. “Kwon. Ini untukmu.”

Mata Kwon berbinar, melihat sebuah bingkisan dari Young. Ia menerimanya dan langsung membukanya. Sebuah syal yang panjang untuknya.

“Musim dingin akan segera tiba. Jadi kau akan merasa hangat nanti.”

“Terima kasih, Young.”

“Sama-sama, Kwon.”

Kwon tersenyum lebar dan matanya menangkap mata Young. “Young?”

“Iya, Kwon?”

“Jangan menangis lagi. Kai bilang kau senang dengannya, maka dari itu jangan menangis lagi.”

Young mengerutkan keningnya. “Aku tidak pernah menangis, Kwon. Kau tahu bukan aku ini wanita yang kuat?”

“Tentu saja, Young adalah wanita yang terkuat. Bisa menggendongku berjalan jauh!”

Young tertawa namun di dalam pikirannya, ia tidak mengerti mengapa Kwon berkata demikian. Dia tidak pernah sekalipun menangis di hadapan Kwon, meskipun ketika Kwon tertidur ia akan menangis sejadi-jadinya.

Tapi ada hal yang tidak Young ketahui. Tangisan itu bisa Kwon dengar dalam mimpi. Ia bukan seorang anak lelaki yang tidak mengerti apa-apa. Ia mengerti hanya saja ia tak cukup mengerti. Ia hanya tahu bahwa Young, kakaknya sering bersedih, entah untuk alasan apa.

Kai datang tiba-tiba, membuayarkan keheningan yang tercipta selama beberapa detik. Matanya mendarat pada sebuah syal yang ia ingat betul, ia melihatnya beberapa hari yang lalu. Young membelinya di mall dengannya.

“Ah, jadi syal itu untuk Kwon.”

“Ya, Kai.”

“Kalau seperti itu, aku tidak perlu cemburu. Kukira kau akan memberikannya pada pria lain.”

Young memicingkan matanya menatap Kai, lalu menatap jam dinding. “Sudah sore. Kita harus pulang, Kai.”

“Sepertinya waktu terasa begitu cepat bermain denganmu, Kwon. Sayangnya aku harus pulang, tidak apa-apa, kan?”

Kwon menganguk dan berdiri, mengantarkan keduanya kembali menemui Nyonya Shin, mengutarakan maksud mereka untuk segera pulang.

“Ah, tidak ingin menginap di sini?”

“Terima kasih tapi tidak, Nyonya Shin.”

“Ah, kalau begitu baiklah. Hati-hati di jalan, Young, Kai.”

Kai membungkuk memberikan salam sebelum akhirnya berjalan keluar, namun ia bisa merasakan sebuah tangan mungil meraih tangannya, menariknya mendekat untuk membisikkan sesuatu, menyadari itu Kai hanya bisa menurut dan memberikan telinganya menghadap ke arah Kwon.

“Jangan keras-kerasa ya Kwon. Kau tadi berbisik keras sekali. Kali ini jangan keras-keras,” ucap Kai menggoda.

Kai tersenyum kecil mendengar serangkain kata dari Kwon. Lalu ia berdiri lagi dan menganguk ke arah Kwon. Sekali lagi dia membungkuk ke arah pemilik rumah dan berjalan keluar mendekat ke arah Young.

“Apa yang Kwon bilang?”

“Kau mau tahu, Lee Young?”

“Ya, kurasa?”

Kai tersenyum. “Nanti saja. Sebaiknya kita harus segera melanjutkan kencan kita.”

“Ini kencan kita, Kai. Sebentar lagi kita pulang ke rumah masing-masing.”

“Apa?”

“Ya. Ini sudah kencan kita, Kai.”

Young meliriknya sekilas dan pergi mendahului Kai. Sedangkan Kai hanya bisa berdiri mematung dengan wajah konyolnya, sedetik kemudian dia hanya bisa tertawa dan mengikuti Young dari belakang. Tentu saja, itu adalah kencan mereka. Apa yang ia harapkan?

Mereka berdua naik bus setelah bermenit-menit menunggu. Young yang duduk di samping jendela dan Kai yang duduk di sebelahnya. Young sedari tadi menunggu jika saja Kai akan bertanya tentang Kwon ataupun tentang dirinya. Tentang bagaimana seorang adik kandung yang tidak hidup serumah dengannya. Young menunggu itu semenjak mereka keluar dari rumah kediaman keluarga Shin itu.

“Kwon anak yang menyenangkan ya?” ucap Kai tiba-tiba, mengejutkan Young yang sedari tadi melamun.

“Ya. Kwon benar-benar anak yang menyenangkan.”

Kai melirik Young sekilas. “Berbeda sekali denganmu, Lee Young. Kau tidak menyenangkan seperti dia.”

“Aku memang tidak menyenangkan, Kai. Seperti kau baru tahu itu saja.”

“Tapi semuanya di sekolah menganggapmu menyenangkan, Lee Young. Jangan salahkan aku jika aku juga sempat berpikiran sama dengan mereka.”

“Ya, sebegitu menyenangkannya hingga tak memiliki teman sama sekali.”

Kalimatnya itu membuat Kai mengingat tentang Ahn Soojin, gadis yang ia kira mengetahui tentang Young yang sebenarnya, dan ternyata tak mengetahui apa-apa pula.

“Ahn Soojin berhak bersikap demikian, Lee Young.”

Kalimat Kai membuatnya menoleh menatap Kai. Ia juga tiba-tiba saja mengingat Soojin yang meninggalkannya.

“Kukira dia bisa menerimaku, Kai.”

“Kau berharap dia menerimamu seperti apa, Lee Young?”

“Seperti, tanpa aku mengatakan atau menceritakan apapun, dia akan selalu berada di sampingku, menjadi seorang teman yang baik. Tidak mengharapkanku untuk mengatakan apapun.”

Kai tersenyum kecil. “Kau mengharapkan dia seperti itu, apakah dia tidak boleh berharap kau akan terbuka padanya?”

Young semakin tertegun. Jadi apakah benar bahwa sebuah pertemanan harus terisi dengan berbicara tentang apapun satu sama lain. Young tidak bisa melakukannya, jadi apakah itu berarti dia tak memiliki kesempatan untuk berteman dengan orang lain?

“Tidak semua orang mengerti hanya dengan melihatmu dan mendengarmu berbicara, Lee Young. Tidak semua orang mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Beberapa orang butuh penjelasan, butuh seseorang untuk menjelaskan pada mereka tentang suatu hal. Dan Ahn Soojin adalah salah satu dari mereka, dia mungkin adalah seorang sahabat bagimu, tapi dia tidak cukup paham tentang dirimu, dia butuh penjelasan, dan penjelasan itu harus datang darimu.”

“Bagaimana jika aku tidak bisa mengatakannya, Kai?”

“Itu berarti kau takut, Young.” Apa yang kau takutkan?

“Aku memang takut.”

“Soojin salah dan kau juga demikian. Kau hanya perlu waktu dan Soojin hanya butuh pemahaman.”

Kai tersenyum ke arah Young. Sebelah tangannya terangkat dan mengusap lembut puncak kepala gadis itu. Menariknya untuk bersandar di bahunya, dan Young tidak menolak hal itu, dia mungkin butuh sandaran seperti itu. Sebuah sandaran yang mampu membuatnya tenang meskipun hanya sejenak.

“Kau selalu bisa mengerti, Kai.”

“Ya, tentu saja. Kau pikir aku hanya seorang pemalas ya?”

“Jujur saja iya.”

“Tak usah berterima kasih, Lee Young. Aku tahu aku hebat tanpa kau mengatakan itu.”

“Kutarik kata-kataku tadi, Kai!”

“Bagaimana bisa kau tarik? Aku sudah terlanjur mendengarnya.”

“Sudahlah.”

Kai tertawa kecil. Ia juga menyandarkan kepalanya ke arah Young, menopang satu sama lain. Young menemukan posisis seperti itu benar-benar nyaman, seolah dia tidak ingin berhenti melakukannya.

“Bagaimana rasanya memiliki adik, Lee Young? Aku hanya mempunyai kakak, dan rasanya tidak menyenangkan. Bagaimana rasanya memiliki adik?”

Young kembali mengingat masa-masa sebelum dia pindah ke Seoul. Ketika untuk kesekian kalinya dia bertemu lelaki yang beberapa hari yang lalu datang ke kediaman mereka, lelaki yang ternyata menjadi ayah dari Kwon. Lalu ketika dia mengetahui bahwa Ibunya tengah mengandung seorang anak dari lelaki itu. Dan Young membenci itu.

“Aku dulu sempat membenci Kwon ketika dia masih dalam kandungan Ibuku.”

“Kau tidak ingin punya adik?”

Young menggeleng pelan di sandaran Kai. “Bukan begitu.”

“Lalu?”

“Aku tidak suka dengan Ayah dari Kwon. Aku membencinya.”

Lalu Kai teringat tentang seorang pria yang dikeluarkan paksa oleh Young beberapa hari yang lalu. Ia juga mengingat bagaimana pria itu menyebutkan satu nama berkali-kali, Kwon.

“Kami berdua terlahir dengan ayah yang berbeda.”

“Pantas saja kalian tidak mirip. Wajahnya jauh lebih manis daripada dirimu, meskipun kau cukup cantik.”

Young mengerutkan keningnya, dia mungkin sudah sering mendengar orang-orang menyebutkan bahwa dirinya cantik. Tapi dia tidak pernah merasakan sesuatu yang mengalir aneh di tubuhnya karena mendengar pujian seperti itu.

“Ya. Kami tidak mirip.”

“Seperti apa Kwon untukmu, Young? Aku ingin tahu rasanya menjadi seorang kakak. Karena tadi rasanya begitu menyenangkan bermain dengan Kwon.”

“Kwon? Dia lebih dari apapun di dunia ini bagiku, Kai. Dia mungkin adalah salah satu alasan mengapa aku masih mau bertahan. Dia adalah kebahagiaanku. Kau mungkin sudah mengetahui tentang Ibuku Kai, tentang bagaimana aku yang tak bisa menyerah padanya, namun dia bukanlah sosok Ibu yang baik bagi Kwon. Benar-benar bukan sosok Ibu yang baik. Aku tidak ingin Kwon berada di dalam tangan Ibuku”

“Dan kau tidak ingin dia tumbuh sepertimu, Lee Young?”

Young meletakkan tangannya di lengan Kai. Sedikit meremas baju milik Kai dan memejamkan matanya. Ia mulai merasakan matanya yang memanas dan mungkin saja dia akan menangis. “Ya. Aku tidak ingin dia tumbuh sepertiku. Maka dari itu aku menyerahkannya pada Nyonya Shin, wanita itu mungkin adalah wanita yang cocok menjadi seorang Ibu bagi Kwon, dan aku tidak perlu takut lagi.”

Kai tidak membalas ucapan Young, membiarkan gadis itu semakin mendekat ke arahnya dan Kai melingkarkan tangannya yang bebas untuk menepuk bahu Young ringan, seolah memberikan kekuatan lewat itu.

“Kwon begitu lemah di mataku, dia masih terlalu kecil untuk merasakan dunia yang aku alami, aku tidak ingin dia merasakan apa yang aku rasakan. Ini terlalu berat untuknya.”

Kai mendengarkan setiap kata yang keluar dan senyumnya makin lebar lalu tawa kecil keluar dari mulutnya.

“Kau ini begitu spesial, Lee Young. Kau tidak tahu itu?”

“B-Bagaimana bisa?”

“Tuhan memberikanmu kehidupan yang berbeda dari kebanyakan orang. Dia melakukannya agar kau kuat. Dia ingin kau jauh lebih kuat. Maka dari itu kau benar-benar spesial.”

“Spesial?”

“Ya. Memang akan terasa begitu berat sampai-sampai kau ingin mati. Tapi Tuhan tidak akan memberikan sesuatu yang tidak bisa kau atasi, Dia selalu memberikan segalanya sesuai porsi dan kemampuan kita. Jalani saja dan bersabarlah.”

“Mudah sekali mengatakannya, Kai. Tapi melakukannya benar-benar sulit.”

“Kau hanya harus percaya semuanya akan baik-baik saja. Kau akan mengerti pada akhirnya.”

Young hanya bisa diam. Menyerap semua kata-kata Kai dan kembali memejamkan matanya. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi, bagaimana hidupnya akan terus berlanjut, apakah masa lalunya masih saja menghantuinya. Ia tidak mengerti. Tapi seperti yang Kai ucapkan, ia hanya harus percaya semuanya akan baik-baik saja. Setidaknya percaya.

“Ah, dan jangan ragu untuk menelponku lagi malam-malam. Bahkan jika kau ingin, temui saja aku, kau tahu di mana untuk menemukanku. Tilda.”

“Ya, Kai.”

“Lee Young, meskipun kencan seperti ini bukanlah yang kuharapkan tapi aku menikmatinya. Dan sepertinya kita harus keluar untuk kencan lagi.”

Kai mungkin tak tahu bahwa Young tersenyum di sandarannya, merasakan tenang dan mendengar nada Kai yang selalu terdengar ringan di telingnya. Mengatakan hal-hal yang konyol dan menenangkan secara bersamaan.

“Ya, tentu saja.”

“Kita akan sering berkencan mulai sekarang kalau begitu.”

Young mengangukkan kepalanya kecil. “Kapanpun kau mau.”

67 responses to “Overshade [Chapter 12] – By Isanyeo

  1. Dari ff author yg sebelumnya, sampe ff yg skarang(bad boy) ceritanya semuanya luar biasa bngt. Menginspirasi bngt. Gk tau dah mau komen apa lg. Btw, gara2 ff author ini akhirnya aku buat website dan berhenti jadi sider. Ditunggu bngt cerita selanjutnya:3
    Semangat ya kakk^^)V
    Always support youu~

  2. aku merasa tiap baca ff ini kayak mendapat ilham aja. motivasinya banyak banget. senang banget lah 😀 🙂

  3. Ahhh keren banget …. sukaaa..
    Ahh so sweet banget mreka berdua (Young dan Kai)
    Penasaran denga apa yg Kwon bisikin ke Kai, dan apa Kai bener” nganggep Young pacarnya??

  4. kenapa kai sama young ga kekasih beneran aja maksudnya ga kekasih dimata orang tapi kekasih krna mereka saling cintaaa. Aah ga sabar sama hal itu. Tapi kesian nanti sehun ya?

  5. Tuh kan mereka jd bakal kencan trus..tp blm jelas sm perasaan masing2..kai perhatian bgt sih gw suka gaya loooo hahahaa
    Hayoo si kwon ngomong apa sm kai?? Ehem

  6. Kai & Young sedang menerka2 situasi yg mereka rasakan. Membuat hubungan ini mengalir apa adanya, walau tanpa kata cinta secara nyata. Seakan dngan keadaan it lebh membuat pengertian akan diri masing2 lebh mendalam. Selamat memaknai cinta, Kai & Young.

  7. “Kapan pun kau mau” gue jga mau klo diajak kencan ama Kai, aku jga bakalan jwb kya Young
    Hhuuaaaa senyum” senidir kya wong edan lama” gegara ni ff kkkkk~
    Next ya

  8. emm choco kutip dari kai “semua butuh penjelasan” kak? sebagai penggemar no1 wkwkw choco butuh penjelasan apa yang membedakan sehun dan kai dimata young? kalau jawabannya adalah perasaan. choco rasa perasaan nggak akan muncul tanpa alasan …

    kak? mr.dior?? kita punya idola yg sama kkk walaupun mr.dior bukan yang banyak orang tahu tapi choco bersyukur tau mr.dior kkkk

  9. Yaay younh udh mulai terbuka sama kaii… dan young jga kakak yg baikk bgt yaa,biasanya klo kyk gtu biasanya kakaknya bakalan musuhin adeknya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s