MOON THAT EMBRACE OUR LOVE [II]

mteol-1

MOON THAT EMBRACE OUR LOVE [II]

2015 © SANGHEERA

Cast :: Cheon Sera (Original Character), Luhan as Xiao Luhan and Xiao Luxien, Byun Baekhyun of EXO || Support Cast :: Hwang Shiina (OC), Kim Seukhye Ulzzang, Kim Jinhwan of iKON, Zhou Yumin (Vic Zhou) as Xiao Yumin, Ren of NU’EST as Liu Ren, Choi Seunghyun (T.O.P) of BIGBANG, Mimosa Song (OC), Johnny Seo/Seo Youngho (SR15B), Kim Yoojung (OC), and many more || Genre :: Campus Life, Romance, Fantasy, Comedy, Family, Fluff || Lenght :: Multi Chapter || Rating :: PG 17+

Read this first :: [0] PROLOG, [I] Man From the Moon

Recommended Song :: Sunmi – Fullmoon, Vanilla Acoustic헤픈 남자 (Wastefull Man), Vanilla Acoustic그런 사람 (Hello),  JuB (Sunny Hill) & Yi Jeong (History) – Confusing (The Girl Who Sees Smells OST – Part 1), Raspberry Field – What A Feeling, Hey! Say! JUMP – Aing-aishiteru

Previous Chapter : Cheon Sera dan Xiao Luhan memiliki kehidupan yang saling bertolak belakang. Sejak kematian ayahnya 3 tahun lalu, Cheon Sera tinggal sendiri di sebuah kota kecil di pulau Jeju, Korea Selatan. Ia sebatang kara, hidup pas-pasan, tapi ia bahagia karena di kelilingi orang-orang yang menyayanginya. Sedangkan Luhan, pemuda tampan itu hidup bergelimang kemewahan dan hingar bingar kota besar Beijing, China. Sang Pangeran harusnya bahagia, tapi bayang-bayang kematian saudara kembarnya—Xiao Luxien—dan masalah di dalam keluarganya membuatnya menjadi pemuda yang murung dan sinis.

Mereka berbeda dan terpisahkan oleh jarak ribuan kilometer. Tapi malam itu, musim semi di tanggal 6 Maret 2015, bulan yang sama bersinar menyinari mereka berdua. Ketika Sera dan Luhan menatap sang purnama, sebuah keajaiban terjadi. Entah bagaimana, Luhan berteleport ke tempat Sera berada. Memangkas jarak ribuan kilometer itu, hingga kini menyisakan jarak 7 meter yang semakin hari semakin menipis.

Two people connected by RED THREAD are DESTINED lovers regardless of time, place or circumtances. This magical cord may stretch, or tangle, but NEVER BREAK – Chinese Porverb

red-thread (1)

[II] UNBROKEN RED STRING

decorative-lines-25_large2

Sera tercengang. Syok. Tidak mengerti.

Laki-laki di depannya ini siapa?

Kenapa ia bisa…

Sera menelan ludah dengan susah.

Kenapa ia bisa… jatuh dari langit?

Tegang. Sera memasang mode siaga di tubuhnya. Siap melenting menjauh jika pemuda itu mendekat. Ini sulit sekali dipercaya, tapi Sera jelas-jelas melihat laki-laki asing itu turun dari langit. Oh, Sera pasti sudah gila… apa ia sudah terlalu mengantuk sehingga berhalusinasi yang tidak-tidak seperti ini? Angin malam yang jahat sepertinya telah sukses membuat otaknya eror.

Tapi tempatnya berada ini adalah atap ruko tertinggi dengan 3 lantai. Di sekitarnya hanya ada rumah-rumah 2 lantai, dan ruko lain yang memiliki 3 lantai berada lebih dari 10 meter jauhnya. Jadi laki-laki itu tidak mungkin loncat dari gedung lain. Kemungkinan terasionalnya hanyalah bahwa lelaki itu terjun dari dalam pesawat yang melintas di atas langit sana—tanpa parasut? Oke, kemungkinan ini juga mustahil—atau Sera yang memang benar berhalusinasi.

Beberapa saat yang lalu, Sera sedang melamunkan masa-masa saat ayahnya masih hidup sambil mendongak menatap bulan yang berada hampir tepat di atas kepalanya, ketika tiba-tiba pandangannya pada bulan terhalang oleh sesosok tubuh berkemeja putih yang melayang di udara. Tubuh pemuda itu turun ke arahnya dengan cepat. Sera memekik, memejamkan mata, mengira ia akan kesakitan saat tubuh itu menimpa tubuhnya. Tapi perkiraannya salah. Seolah ada tangan tak kasat mata yang mengerem laju cepat tubuh pemuda itu, ia terjatuh dengan begitu lembut melingkupi tubuh Sera.

Sera membeku. Tidak sanggup mencerna apa yang terjadi dengan cepat. Matanya mengerjap beberapa kali sebelum bau alkohol yang tajam, bercampur dengan aroma parfum maskulin dan wangi samphoo, menghentak kesadaran Sera. Gadis itu buru-buru berontak, tapi bersamaan dengan itu, tubuh yang menimpanya bangun. Bertopang dengan kedua sikunya, orang itu memberikan jarak beberapa senti dengan tubuh dan wajah Sera. Sedetik dua detik, Sera kembali tak bergerak dan hanya mampu menatap manik mata asing yang memerangkap tatapannya.

Uh oh… Bukankah ini posisi yang berbahaya? Seorang pemuda tak dikenal telah lancang memeluk tubuhnya! Byuntae!!

“Aaaargh!!!”

Sekuat tenaga Sera mendorong tubuh pria itu agar menjauh dari dirinya. Entah karena dorongan Sera yang memang sangat kuat, atau karena pengaruh alkohol yang membuat keseimbangan tubuhnya buruk, pemuda itu terhuyung-huyung ke belakang dan akhirnya jatuh terjengkang di atap berlapis semen itu.

Saat ini, Sera dengan perasaan was-was menjaga jaraknya dari lelaki asing itu, memandanginya seolah laki-laki itu alien dengan tentakel-tentakel menggeliat di belakang punggung dan di kakinya. Lelaki muda yang sedang duduk bersila di permukaan teras rumahnya itu nampak sama bingungnya seperti Sera. Matanya mengedar ke sekitar, mempelajari posisinya saat ini. Keningnya terlipat karena tak mengenali tempatnya berada, dan dari bibir tipisnya keluar kalimat-kalimat berbahasa asing yang tak Sera mengerti tapi bernada gusar.

Nu-nuguseyo?”tanya Sera terbata.

Pemuda itu kini menatapnya. Tatapan mata yang jauh dari kata ramah itu membuat Sera reflek memundurkan tubuhnya meski jarak mereka cukup jauh. Lagi-lagi pemuda itu menggumam. Gumaman dengan bahasa yang tidak Sera mengerti.

Bahasanya seperti… bahasa mandarin?

Ne?”Sera kembali buka suara. Mengisyaratkan pemuda itu untuk memperjelas ucapannya.

Kali ini, pemuda itu tidak menggumam, ia bicara pada Sera. Tapi bahasanya… kenapa pemuda itu menggunakan bahasa yang tidak Sera mengerti? Apa ia sedang mempermainkannya? Astaga!! Sebenarnya siapa pemuda asing ini!!!

“Aku tidak mengerti!”seru Sera setengah frustasi. “Bicaralah dengan bahasa yang aku pahami!”

Keryitan muncul di antara alis pemuda itu. Wajahnya yang tidak ramah, semakin tampak menakutkan. “Kenapa kau bicara dengan bahasa Korea?!”tanya pemuda itu—akhirnya—dengan menggunakan bahasa korea yang berlogat aneh.

“Karena ini di Korea, tuan!!”sahut Sera kesal. Pertanyaan dari pemuda itu terdengar sangat bodoh. “Aigho, sepertinya anda benar-benar sedang mabuk berat!!”

“Korea?!” Nampak terkejut, pemuda itu kembali memandang ke sekelilingnya. Ia berdiri dan berjalan pelan ke pagar pembatas yang ada di atap gedung berlantai 3 itu. Sera mengikuti pergerakan pemuda itu dengan lensa matanya. Tak menurunkan sedikitpun prasangka dan kewaspadaannya.

Ketika pemuda itu—yang tak lain adalah Luhan—sibuk mencermati pemandangan di hadapannya, Sera tak sengaja melihat sesuatu melilit kelingking tangan kiri Luhan. Sebuah tali atau benang. Dengan serat-serat mengkilap namun nyaris transparan berwarna merah terang. Diameternya cukup tebal, seukuran kawat besi.

Sera menatap aneh pada benang merah yang menjuntai dari kelingking Luhan. Matanya menelusuri untaian benang itu, yang berkumpul di lantai atap, mencari ujungnya. Benang itu ternyata menjalar hingga ke kaki meja tempat Sera berada, lalu naik ke atas meja, terus memanjang…

Hingga ke kelingking jari tangan kanannya. Melilit ketat di sana.

Mata Sera melebar.

“Apa yang kau lakukan padaku sebenarnya?!”Tubuh Sera diguncang keras, membuat Sera yang masih dikuasai keterkejutannya akan benang yang melilit jari tangannya, semakin kesulitan memfokuskan pikirannya. Luhan telah berada di depannya. Menatapnya nyalang, menuntut. “Kenapa aku bisa berada disini, huh? Jawab aku, perempuan asing!!”

“Aku tidak tahu…”gumam Sera akhirnya. Kini matanya mencari-cari kelingking kiri Luhan, memastikan kalau apa yang ia lihat tidak salah. Ketika Sera menemukan tangan Luhan di bahunya, Sera langsung meraihnya. Ia juga menunjukkan kelingkingnya yang terikat benang saat bertanya, “Benang ini benang apa? Kenapa terkait padaku?”

Luhan sepertinya juga baru menyadari adanya benang di jarinya. Ia terlihat bingung saat melihat benang merah itu melilit kelingking jarinya.

“Sejak kapan kau mengikatku, huh? Lepaskan!”tuduh Luhan sambil menyodorkan kelingkingnya ke depan wajah Sera.

Dituduh sembarangan seperti itu, membuat Sera semakin kesal. “Bukan aku!”serunya sambil menampik tangan Luhan agar menjauh dari depan wajahnya.

“Lalu siapa lagi kalau bukan kau?! Mana mungkin benang ini terikat sendiri di jariku?!”

“Aku tidak tahu!! Kau sendiri, bagaimana bisa kau tiba-tiba muncul di teras rumahku, huh? Kau ini siapa?!”

“Bukankah ini semua ulahmu!! Aku sedang berada di beranda rumahku saat tiba-tiba kau membawaku kemari!”

“Apa kau mau bilang kalau aku membuatmu berteleport ke tempat ini, tuan berbau alkohol? Maldo andwae!! Jangan terus-terusan menuduhku!! Mana mungkin aku melakukan hal itu! Aku ini manusia, bukan penyihir. Dan yang lebih penting, aku sama sekali tidak mengenalmu!!”

Luhan menarik napas dengan bibir terkatup rapat. Berusaha meredakan amarahnya. “Kau bilang ini di Korea?”

“Ne…”jawab Sera jengah.

“Kalau kubilang beberapa menit yang lalu, sebelum aku berada disini, aku sedang berada di beranda rumahku, apa kau akan percaya?”

Sera mengerutkan keningnya sebelum menjawab. “Aku mungkin saja salah lihat, aku bahkan merasa sedang tidak waras saat ini. Tapi aku hampir sepenuhnya yakin kalau kau jatuh dari langit sana. Jadi aku akan percaya, lalu setelah itu aku membutuhkan penjelasan yang logis tentang ini semua.”

“Bahkan jika aku bilang aku tadinya berada di beranda rumahku yang ada di Beijing, kau pun akan percaya?”

Bibir Sera ternganga. “Jangan bercanda!”

“Ck, apa aku kelihatan sedang bercanda sekarang?!”Luhan mengacak rambutnya kasar. Ia juga tidak percaya, tapi inilah kenyataannya. “Entah bagaimana aku bisa berteleport kemari. Ya Tuhan!! Ini sama sekali tidak masuk akal! Jika bukan karena huruf-huruf hangul yang ada di depan toko-toko itu, aku mungkin tak akan mempercayainya. Tempat ini juga terlalu terpencil untuk ukuran kota Beijing. Dan lagi… di Beijing tidak ada gunung sebesar itu.” Luhan mengedikkan dagunya ke arah Gunung Halla yang ada jauh di selatan. “Hei, tanggal berapa hari ini?!”

“Tanggal 6 Maret,”jawab Sera pelan. Masih belum mampu mencerna penjelasan yang sangat ganjil itu. Pemuda asing ini berasal dari Beijing? Karena itu kah ia menggunakan bahasa mandarin saat bicara dengannya tadi? Karena itu kah bahasa koreanya berlogat aneh?

“Brengsek!! Jadi aku benar-benar berteleport! Ini hari yang sama…”Luhan melihat arloji di tangannya. Jarum jam menunjukkan pukul 11.15 waktu China. “…bahkan waktu baru berjalan 15 menit sejak aku ada di rumahku!”

“Ini tidak masuk akal!!!”bentak Sera.

“Kau pikir aku percaya dengan semua ini!”balas Luhan, tak kalah keras.

Tubuh Sera lemas. Oke. Ia memang mempercayai keajaiban, mukjizat, dan sejenisnya. Ia juga penikmat berbagai macam anime dan manga jepang bergenre fantasy, sci-fi, supernatural dan lain sebagainya. Tapi ini terlalu membingungkan. Bagaimana bisa manusia di dunia nyata melakukan teleportasi?

Lalu benang ini…

“Sial!”desis Luhan yang membuat Sera kembali menatap ke arahnya. Pemuda itu sedang berusaha melepas benang yang mengikat jarinya, tapi tidak berhasil. Sekuat apapun ia mencoba untuk mengurai benang itu, tidak berhasil!! Benang itu sama sekali tidak terlepas dari jarinya.

Sera pun melakukan hal yang sama, ia mencoba menarik benang merah itu. Tapi benang merah itu melekat erat dengan kulit kelingkingnya. Seolah merupakan satu kesatuan yang tak mungkin dipisahkan. Seperti pembuluh darah. Sera ngeri, jari kelingkingnya sampai sakit karena tertarik.

“Ini…” Suara pemuda itu terdengar putus asa. Ia menggigit benang itu dengan giginya. Tapi sampai giginya sakit pun, benang itu bahkan tidak nampak tergores sedikitpun. “… ini apa?! Kenapa begini?!!”teriaknya frustasi.

Sera tertegun melihat pemandangan di depannya. Kegusaran Luhan, menunjukkan bahwa bukan hanya Sera yang panik dan tidak memahami kondisinya saat ini. Pemuda yang mengaku berasal dari Beijing itu juga merasakannya. Jika benar ia telah berteleport dari Beijing ke Jeju, kondisi ini sangat tidak menguntungkan baginya. Tiba-tiba berada di tempat yang asing, pasti membuatnya takut.

Setengah berlari, Sera berjalan menuju pintu rumah mungilnya. Ini sudah lewat tengah malam, kota kecil Bijarim sudah lelap sejak berjam-jam yang lalu. Tidak ada suara apapun kecuali suara lolongan anjing di kejauhan dan derik jangkrik. Dengan kondisi sesepi ini, Sera bahkan bisa mendengar suara napas dan suara jantungnya yang bertalu-talu di dalam rongga dadanya.

Semua keanehan ini membuatnya kalut.

Di dalam rumahnya yang minimalis, Sera mencari pisau yang ada di meja dapur. Ia menaruh helaian benang itu di meja dan berusaha keras memotongnya dengan pisau.

“Tidak mempan,”gumam Sera, tak percaya. Benang merah itu tak tergores sedikitpun.

Ngeri, Sera menyalakan kompor gasnya, dan dengan cepat melemparkan helaian benang merah itu ke dalam api. Membakarnya.

Tapi benang merah itu ternyata juga tahan api. Tak bergeming sedikitpun.

“Apa kau pernah melihat yang seperti ini sebelumnya?”

Suara berat Luhan yang berasal dari arah belakang, mengejutkan Sera. Gadis itu berbalik dan mendapati Luhan telah melepas sepatu hitam mengkilapnya, dan ikut masuk ke dalam rumah mungil Sera. Matanya berkilat terkena cahaya api.

“Benang ini aneh. Tidak bisa putus…”ujar Sera, ada kecemasan di nada suaranya. Jika benang ini tidak bisa dipotong, lalu bagaimana nasibnya setelah ini? Benang itu membuatnya terikat dengan pemuda asing yang jatuh dari langit. Bayangkan! Apa lagi yang lebih memusingkan daripada hal itu?

Luhan menghela napas panjang, lalu mengusap rambut bagian belakangnya. “Bagaimana caraku pulang kalau begini,”gumamnya, cukup keras untuk sampai ke telinga Sera.

“Kau bukan alien atau semacamnya kan? Atau jangan-jangan kau ini masih satu almamater dengan Harry Potter?”tanya Sera, curiga.

“Apa kau pikir ini dunia fantasi? Yaaah… aku tidak heran jika otakmu tercemar hal-hal tak masuk akal melihat kondisi rumahmu ini…”komentar Luhan, sambil menatap sekeliling.

Rumah Sera yang kecil itu penuh sesak dengan buku-buku komik jepang yang tertumpuk di sudut-sudut ruangan. Lalu beberapa poster karakter anime dan boyband-boyband Jepang juga nampak terpajang di dinding. Bagian langit-langit kamar Sera bahkan di lapisi poster besar bergambar antariksa dengan bintang-bintang dan planet-planet ganjil berwarna warni pastel. Rumah itu berlantai 2, lantai 1 diisi meja dapur yang minimalis, tivi di meja rendah dan sofa panjang dengan meja di depannya dan kamar mandi di dekat pintu masuk, sedangkan lantai 2-nya hanya berupa sebuah void yang berisi tempat tidur dan meja belajar berkaki pendek.

Bentuk rumahnya seperti ini

Bentuk rumahnya seperti ini

“Memangnya kenapa dengan rumahku?”tanya Sera, tersinggung.

“Terlalu penuh barang-barang produksi otak kanan,”jawab Luhan enteng. Ia berjalan ke sofa dan merebahkan dirinya disana. Kakinya dengan santai ia angkat ke atas meja.

Sera ternganga melihat gaya santai Luhan. Bahkan belum ada satu jam pemuda itu berada di rumahnya, tapi ia sudah bersikap seolah rumah ini adalah miliknya.

“Yak! Siapa bilang kau boleh duduk di situ?”

“Aku bahkan akan tidur disini malam ini, jadi tentu tidak masalah kan kalau aku menduduki sofamu?”

Mwo? Apa maksudmu kau akan tidur disini? Aku bukan gadis gila yang membiarkan pemuda tak jelas asal usulnya untuk tidur di rumahku…”Sera meraih tangan Luhan dan berusaha menariknya agar Luhan enyah dari atas sofa. Tapi tubuh Luhan terlalu berat bagi tubuh kurus Sera. “…aku bahkan tidak seharusnya membiarkanmu masuk ke rumahku. Yak!”pekik Sera ketika Luhan menyentakkan tangannya kasar, dan membuat Sera sedikit terhuyung ke belakang.

“Aku bukan pemuda tak jelas asal-usulnya!”protes Luhan. “Bukankah sudah kubilang kalau aku berasal dari Beijing?!”

“Itu tidak membuktikan kalau kau bukan penipu, tuan alkohol?”

“Namaku bukan ‘tuan alkohol’, perempuan asing. Aku Xiao Luhan dan kau bisa aku tuntut karena menuduhku sebagai penipu, penyihir dan alien!!”ujar Luhan sombong.

“Kau yang lebih dulu menuduhku sembarangan, Xiao Luhan-ssi!! Dan aku juga bukan ‘perempuan asing’! Aku punya nama. Cheon. Se. Ra.”Sera menekankan namanya.

Luhan mendengus jengah. “Baiklah, nona Cheon. Sekarang, memangnya apa yang bisa kau lakukan, huh? Kau tidak bisa mengusirku kecuali kau ikut aku tidur di luar. Benang ini sepertinya tidak berniat untuk memisahkan kita.”

Sera bergidik mendengar kalimat ‘kita’ dari bibir pemuda itu. Seolah mereka satu kesatuan. Ia menoleh ke api biru yang masih dibiarkan merendam benang itu dalam kobaran panasnya. Bahkan setelah beberapa menit berlalu, benang itu masih tetap sama. Tak ada tanda-tanda terbakar. Menyerah, Sera mematikan kompornya.

“Apa yang sebenarnya terjadi sampai kau bisa jatuh…”Sera menelan ludahnya, masih merasa ngeri. “…dari langit sana?”

Mata Luhan menyorot kearah Sera, sebelum menjawab. “Aku sedang memandangi bulan purnama…”

“Aku juga tadi sedang melakukan hal yang sama,”batin Sera.

“Lalu tiba-tiba cahaya bulan bersinar begitu menyilaukan, seolah-olah hendak menelanku. Aku rasa tubuhku tersedot ke depan, dan jatuh bebas. Mungkin saat itu lah aku berpindah ke tempat ini.”

Sera ternganga. Tidak tahu harus bereaksi bagaimana lagi mendengar penjelasan Luhan. Sedangkan Luhan sendiri, memilih memandang langit-langit. Fokus pada saturnus yang entah kenapa digambar menyerupai bongkahan eskrim warna pink dengan kepingan coklat mengitarinya.

“Apa kau tidak membawa ponsel? Kau tidak mencoba menghubungi keluargamu? Mereka pasti cemas jika kau hilang tiba-tiba…”tanya Sera akhirnya. Memilih mengabaikan cerita Luhan yang tak mampu dicerna otak kirinya itu.

“Aku ragu mereka akan cemas,”jawab Luhan, datar. Nampak tak peduli. “Aku tidak membawa ponsel. Seingatku aku menaruh ponselku di kantong dalam jasku, dan aku meninggalkan jasku di rumah.”

“Kau tidak ingat nomor ponsel ayah ibumu?”

“Tidak.”

“Telepon rumah?”

Luhan menggeleng.

Sera berdecak kesal. “Kalau begitu besok pagi kita harus ke kantor polisi, mereka pasti bisa menghubungi kedubes China, jadi…”

“Buat apa?”potong Luhan. Mata pemuda itu kini tertuju kembali pada Sera. Tatapannya begitu meremehkan, seolah Sera adalah manusia paling tak berotak yang pernah ditemuinya. “Aku tidak membawa paspor dan visa. Bisa dibilang saat ini aku adalah imigran gelap karena masuk ke Korea tanpa ijin. Kau mau aku dideportasi? Apa kau lupa tangan kita terikat?”

Oh iya!! Lagi-lagi, Sera lupa dengan kondisinya saat ini.

Mereka terikat.

Jika Luhan dideportasi ke China, ia harus terpaksa ikut! Dan Sera tentu tidak mau hal itu terjadi.

“Mau bagaimana lagi…”gumam Sera lemas. “…tidak ada yang bisa kita lakukan saat ini.”

Luhan mendengus, dan menaruh punggungnya ke sandaran sofa yang keras dan jauh dari kata nyaman jika dibandingkan dengan sofa Luhan di rumah. Jujur, meskipun ia nampak santai dan tak peduli, sebenarnya sejak tadi otaknya tak henti-henti berpikir keras. Apa yang terjadi? Kenapa bisa begini? Logika apa yang bisa menjelaskan semua ini? Tapi tak ada satu pun pertanyaannya itu yang terjawab.

Kini, ia tidak ada pilihan lain selain tinggal di rumah Sera yang bahkan tidak sebesar kamarnya di Beijing. Membayangkan harus tidur di tempat sempit ini saja sudah membuatnya kesal.

“Kau bisa tidur dengan ini.” Sera yang sebelumnya naik ke lantai atas, kini turun dengan menyeret selimut tebal dan alas tidur.

Kening Luhan mengeryit. “Kau menyuruhku tidur di lantai?”

“Kau mau tidur di sofa?”tanya Sera balik sambil menjatuhkan selimut dan alas tidur yang berat itu ke lantai. “Sofa itu tidak cukup panjang untuk tubuhmu. Besok kau bisa pegal…”

“Kau tidak punya tempat tidur lain?”

“Tidak, hanya satu,”tunjuk Sera ke lantai atas.

Luhan beranjak dari duduknya, “Kalau begitu aku tidur di atas. Aku tidak keberatan berbagi tempat tidur denganmu.”

“Yak! Yak! Yak!!”Sera buru-buru menarik kemeja bagian belakang Luhan, mencegah pemuda itu menaiki tangga kayu menuju kamarnya. “Apa kau sudah gila?!”bentak Sera geram. “Mana mungkin kita tidur bersama!”

“Jangan sungkan. Lagipula aku tidak tertarik padamu,”sahut Luhan cuek.

ANDWAE!!! Kau mungkin sudah terbiasa tidur dengan wanita yang bahkan tidak kau kenal dalam satu ranjang, tapi aku tidak!! Apa ini modusmu sebenarnya, huh? Dasar byuntae!!”

“Ck… arasseo-arasseo, kenapa kau histeris begitu?!”Luhan menarik bajunya yang sejak tadi dipegangi Sera kuat-kuat agar terlepas, wajahnya kembali cemberut. Ia tersinggung karena Sera memanggilnya ‘byuntae’.

“Kau yang membuatku begini! Kau pikir mudah bagiku untuk menerima kenyataan bahwa aku terikat dengan pria asing sepertimu? Aku tidak mengenalmu, wajar kan jika aku takut padamu.”

“Yayaya…”gumam Luhan malas. Tubuhnya mulai terasa lelah, ia enggan berdebat lebih lanjut dengan Sera. Tidur, sepertinya menjadi pilihan yang bijaksana. Tapi…

Ige mwoya, ige?”tanya Luhan dengan nada protes sambil menendang tanpa perasaan gundukan selimut di lantai. Bukan sembarang selimut, karena kain tebal itu bergambar wajah 9 orang pemuda Jepang. Mereka semua tersenyum, seolah sedang mengolok kesialan Luhan saat ini. Di bagian atas selimut tercetak tulisan besar-besar warna ungu. Hey! Say! JUMP.

“Yaaaaak!!! Kenapa kau menendang Yuya-kun?!”jerit Sera, sambil menjatuhkan diri dan memeluk selimutnya erat-erat layaknya ibu yang memeluk anaknya yang dianiaya.

“Apa kau tidak punya selimut yang lebih normal, hah?”

“Apa kau tidak bisa bersikap lebih sopan, hah?! Wahai tamu tak diundang!!”balas Sera tak kalah ketus. “Waeyo? Kau tidak mau tidur diselimuti oleh oppa-oppa Hey! Say! JUMP ku? Kalau begitu silahkan pilih, selimut Sexy Zone, Arashi, atau Kis My Ft2 (Kisumai Futatsu)…?”Sera menggulung selimutnya dan mengangkatnya dari lantai. “Aku tidak punya yang ‘lebih normal’ dari itu.”

Luhan tidak kenal nama-nama yang disebutkan oleh Sera tadi, tapi ia tahu kalau selimut-selimut itu tidak akan jauh berbeda dengan selimut Hey! Say! JUMP ini. “Sudahlah, aku pakai ini!”kata Luhan sambil merebut selimut di pelukan Sera dan memosisikan tubuhnya di alas tidur berupa kasur lipat itu dan menyelimuti tubuhnya. Tidak seempuk tempat tidurnya di rumah, tapi ini tidak terlalu buruk.

“Lalu… tambahan…”

“Eung?”

Sera berjongkok di samping Luhan. “Kau tidak berpikir aku akan membiarkanmu tidur disini begitu saja kan, Xiao Luhan-ssi?”

Mata Luhan melebar, saat Sera tiba-tiba menarik tangan kanannya dan memasangkan borgol di sana. Ujung-ujung borgol itu disambung oleh rantai yang cukup panjang. Luhan terlambat bereaksi. Ia terlalu terkejut. Ketika kesadarannya terkumpul dan dirinya siap memberontak, Sera telah memasangkan lingkaran borgol satunya pada gagang laci dapur paling bawah.

“YAK!! KAU GILA!!!”

“Melakukan hal ini justru menunjukkan bahwa aku waras, tuan Xiao!! Tolong dimaklumi! Aku hanya berusaha melindungi diriku sendiri!”

“Sial!!”desis Luhan. “Kau mau mati, hah?! Lepaskan aku!”Luhan menyentak tangannya kasar, membuat laci dapur Sera berderak keras. Sera sempat was-was Luhan akan merusak engsel pintu lacinya jika pemuda itu terus saja memberontak seperti itu.

“Sudahlah. Lebih baik kau tidur, ini sudah lewat tengah malam. Besok aku akan melepasmu…”ujar Sera.

Luhan memandang gadis di depannya ini dengan sorot mata penuh kemarahan. Luhan tahu, memberontak hanya akan membuat tangannya sakit. Gadis ini cukup berani, ia tidak akan melepaskan Luhan begitu saja hanya karena Luhan mengancamnya.

Sebenarnya, Sera merasa gentar ketika dipandangi setajam itu oleh Luhan. Tapi ia cukup mampu untuk mengabaikannya. Dengan langkah yang disantai-santaikan Sera berjalan ke kamar mandi. Ia ingin membersihkan diri sebelum tidur.

Di dalam kamar mandi itulah, Sera merasakan kakinya lemas. Ia terduduk menyandar pada pintu. Tangannya memeluk lutut. Hembusan napas berat keluar dari bibirnya.

Bulan purnama dan…

Sera mengarahkan telapak tangannya ke depan wajah, hingga ia bisa melihat benang merah yang mengikat jari kelingkingnya dengan jelas.

…benang merah aneh ini.

Lagi-lagi hembusan napas berat keluar. Kali ini disertai airmata yang memenuhi rongga mata indahnya.

Firasatnya mengatakan bahwa malam ini tidak akan berakhir dengan damai begitu saja. Benang merah ini, akan menjadi awal mula sebuah bencana. Entah apa yang terjadi pada dirinya dan pemuda bernama Xiao Luhan itu, yang jelas mereka berdua akan melewati hari yang berat setelah ini.

Sera menggeleng kuat-kuat. Berusaha menepis pikiran buruknya itu.

Tidak. Ketika ia bangun tidur nanti, ia akan menemukan bahwa benang merah dan pemuda manja yang aneh itu ternyata tak lebih dari bunga tidurnya.

Semua ini pasti hanya mimpi.

“The most incredible thing about miracles is that they happen.” – G.K. Chesterton

Luhan tidak bisa membuat dirinya lelap. Ia terbangun setiap setengah jam dan itu membuat kepalanya pusing. Tiap kali ia terbangun, ia terus saja dibuat terkejut dengan kondisinya yang tidur beralaskan kasur tipis dan berselimutkan wajah 9 pemuda Jepang di atas lantai kayu. Benang merah itu masih melilit kelingkingnya. Terhubung pada jari kelingking gadis asing bernama Cheon Sera yang tidur di lantai atas. Sedangkan tangannya yang lain, masih terborgol di gagang laci.

Ruangan sempit yang disebut oleh gadis aneh itu sebagai rumah, dalam kondisi gelap karena lampu dimatikan. Tapi di langit-langit sana, lukisan planet-planet unik glow in the dark berpendar cantik. Warna warni. Keluar dari pakem antariksa yang nyaris monokrom. Sepertinya, hanya lukisan itu yang Luhan sukai dari rumah ini.

Ketika memandanginya, benak Luhan terseret ke kenangan masa lalu.

“Kau percaya pada cerita Yumin-gege?”tanya Luhan saat itu pada Luxien yang asyik memandangi bulan dari jendela kamar mereka berdua. Sedangkan Luhan, ia duduk di meja belajarnya, di hadapan sebuah komputer yang menyala. Saat itu dirinya dan Luxien baru berumur 12 tahun.

“Tentu saja!”jawab Luxien yakin. “Bulan terbelah itu nyata, Han. Bahkan ilmuwan sudah menemukan bekas potongannya. Ada batu-batu yang terbelah dengan bentuk yang tidak wajar, seolah ada yang sengaja membelahnya.”

“Itu bulan, Xixien. Bukan semangka. Coba pikir bagaimana caranya benda sebesar itu dibelah?”

“Itu semua kekuasaan Tuhan, mana mungkin kita yang manusia ini bisa menebaknya.”

Luhan mendengus. “Kalau kau sudah bawa-bawa nama Tuhan, berarti debat kita selesai sampai disini.”

Cengiran jenaka menghiasi wajah Luxien. “Tuhan selalu menang, bukan?”

“Yaya…”jawab Luhan sambil kembali menekuni komputernya. “Semua yang ada di dunia ini adalah rumus matematika, bahkan apa yang kau lakukan sekarang adalah hasil dari konspirasi alam semesta. Di dunia ini tidak ada yang namanya kebetulan, semua dihitung secara matematis oleh alam. Hal-hal kecil akan membangun suatu kejadian besar. Jadi masalah bulan itu, tidak mungkin hanya terjadi karena doa seorang manusia.”

“Kau terlalu banyak berpikir dengan otak kiri, Lu. Itu lah yang membuatmu jadi manusia yang membosankan.”

Luhan menatap Luxien tajam, “Aku lebih suka menjadi manusia membosankan tapi logis daripada tukang khayal seperti dirimu,”balas Luhan ketus.

Luxien tersenyum. Hembusan angin dari luar jendela menggoyangkan rambutnya yang dibiarkan panjang hingga menyentuh kerah baju. “Kau benar ketika bilang bahwa tidak ada kebetulan di dunia ini. Tapi manusia terlalu lemah untuk menghitung secara matematis semua kejadian yang menimpanya. Saat hal besar tiba-tiba terjadi, kau tak selalu mampu menguraikan hal-hal kecil apa yang ada dibaliknya. Karena kita hanya manusia. Jadi, terimalah hal besar itu sebagai keajaiban yang menyenangkan atau musibah yang harus dihadapi. Berpikirlah dengan otak kanan, maka kau akan lebih mudah menerima semua kebesaran Tuhan.”

Berpikirlah dengan otak kanan…

Luhan tersenyum kecut. Luxien yang ada di ingatannya selalu nampak seperti manusia yang berasal dari dunia lain. Luxien selalu percaya pada keajaiban, otaknya penuh dengan imajinasi, seolah dirinya telah melihat dengan mata kepalanya sendiri ketika Cinderella disihir menjadi putri jelita oleh sang ibu peri.

Keajaiban ya? Apa semua yang terjadi padanya saat ini juga termasuk keajaiban? Jika iya, apakah yang harus Luhan lakukan hanya menerimanya begitu saja? Tanpa mencari alasannya?

Karena kita hanya manusia?

Luhan mengeluarkan kalung berliontin dari balik kemejanya. Matanya memandangi liontin berbentuk bulan itu lama. Lagi-lagi sembari membayangkan Luxien.

Jika Luxien yang berada di posisinya sekarang, apa yang akan dia lakukan?

Sebenarnya, Luhan punya satu orang yang bisa ia hubungi saat ini—Choi Seunghyun, bodyguardnya. Luhan tidak berbohong ketika ia bilang ia tidak ingat nomor telepon orang tua-nya dan nomor telepon rumah, tapi ia ingat nomor telepon Seunghyun karena Seunghyun selalu menyuruhnya mengingat nomor ponsel Seunghyun untuk mengantisipasi keadaan darurat seperti ini. Selain itu, tentu saja ia bisa mencari nomor telepon perusahaan Tian-C dengan mudah jika ia membuka web.

Tapi Luhan sedang tidak ingin menghubungi siapapun di rumahnya saat ini.

Ia teringat pada upacara peringatan kematian Luxien yang menguras emosi. Ia teringat keputusan ayahnya yang ingin menjadikan Luhan pewaris perusahaan, mengabaikan keberatan Luhan dan terutama—mengabaikan perjuangan Yumin selama ini. Ia juga teringat pertunangannya dengan putri keluarga Kim yang akan dilakukan seminggu lagi, pertunangan yang tidak ia inginkan.

Setelah semua itu, Luhan merasa Tuhan telah membukakan jalan untuknya.

Jika, Luxien yang berada pada posisinya sekarang, ia pasti akan menikmati keajaiban yang terjadi padanya ini. Tapi dirinya bukan Luxien, dirinya adalah Luhan. Dan sebagai Luhan, ia akan memanfaatkan kesempatan ini untuk melarikan diri.

“Aku berangkat agak siang hari ini…”ucap gadis berambut panjang itu. Luhan menatapnya dengan tangan ditopang di dagu dan duduk bersila di lantai.

Sera yang subuh tadi sempat menjerit histeris, karena menemukan kenyataan bahwa Luhan dan benang merah di kelingkingnya bukanlah mimpi, kini sudah begitu sibuk dengan handsfree melekat di telinga, tangan mengaduk sup taoge, dan menggoreng ikan. Multitasking. Sepertinya ia mencoba untuk terus menyibukkan diri agar tidak larut  memikirkan keberadaan Luhan dan benang merah itu.

“Kuliahku masih sehabis jam makan siang. Iya. Aku tidak masuk kelas pagi. Haha… Aku hanya sedang tidak ingin ikut kuliah. Tidak, Baek, aku tidak apa-apa. Hanya malas. Iya.”Sera melirik pada Luhan ketika meletakkan piring berisi 2 ikan goreng di meja. “Kau tidak pulang hari ini? Waeyo? Aaahh… persiapan untuk bazaar. Iya, aku tidak apa-apa pulang sendiri.”

Luhan mendengar Sera berbasa-basi sebentar sebelum gadis itu melepas handsfree-nya dan mengambil panci berisi sup untuk ditaruh di atas meja. Luhan melongok ke atas panci, dan hidungnya langsung mengeryit ketika melihat makanan di dalamnya. Baunya lumayan. Tapi sup tauge, ikan goreng, telur gulung dan nasi bukanlah makanan yang biasa ia makan saat sarapan. Bahkan selama ini ia tidak pernah makan dengan menu sesederhana ini.

“Tanganmu masih sakit?”tanya Sera ketika melihat Luhan yang masih memegangi pergelangan tangannya yang semalaman ia borgol.

“Menurutmu?”balas Luhan ketus.

“Mianhae, aku kan hanya mencoba untuk melindungi diriku sendiri,”ujar Sera setelah memosisikan dirinya duduk di seberang Luhan. “Jam 1 siang aku ada kuliah. Jadi, mau tak mau kau harus ikut denganku ke kampus. Tapi, apa yang harus kita lakukan dengan benang ini? Orang-orang akan menganggap kita aneh jika melihat ini.”

“Kau tidak punya roti?”tanya Luhan, mengabaikan ucapan Sera. Urusan perut dirasanya lebih darurat daripada mengurusi benang. Jika diingat-ingat, ia hanya mengisi perutnya dengan alkohol sejak siang kemarin. Pantas perutnya terasa lapar sekali pagi ini.

“Tidak,”jawab Sera singkat, sedikit kesal. “Makanlah apa yang ada, Tuan Xiao.”

“Aku tidak terbiasa makan pagi seperti ini.”

“Kondisi kita tidak sedang ‘biasa’, jadi maklumilah. Sudah syukur aku mau memberimu makan.”

“Ck, menyebalkan…”keluh Luhan. Ia mengambil sedikit sup tauge buatan Sera, dan merasakannya. Tidak buruk. Meski Luhan tetap tidak menyukainya.

Mata Sera menyipit melihat sikap ogah-ogahan Luhan. Seumur hidup, ia tidak pernah melihat pria semenyebalkan dia. Untung Sera selama ini telah ditempa untuk banyak bersikap sabar, jadi ia tidak akan tega menyuruh Luhan tidur di luar dan tidak membiarkannya kelaparan. Tapi Luhan terus saja memancing emosi Sera dengan tingkahnya yang seenaknya. Padahal mereka sama sekali tidak mengenal.

“Kenapa kau tidak makan?”

“Supnya masih panas, aku menunggunya dingin.”

Luhan mengangkat sebelah alisnya, merasa aneh pada jawaban Sera. Tapi ia malas untuk bertanya lebih lanjut.

Hening. Tidak satu pun dari mereka yang berminat untuk membuka percakapan ketika mulut masing-masing sibuk mengunyah sarapan. Sera mengambil kesempatan itu untuk diam-diam mempelajari sosok Luhan. Kemeja pemuda itu kusut, lengan kemejanya digulung asal hingga siku, rambutnya masih berantakan karena tidak disisir dengan benar, wajahnya kusut dan masih nampak mengantuk. Tapi harus Sera akui, itu semua tidak melunturkan ketampanan Luhan. Ya, pria Beijing yang semalam jatuh ke teras rumahnya itu memiliki wajah yang tampan. Bersih. Bahkan nyaris cantik.

Melihat dari betapa bagus kemeja, celana dan sepatu yang Luhan pakai dan betapa terawat kulitnya, Sera bisa menebak kalau Luhan pasti anak orang kaya. Jika benar, maka hal itu bisa menjelaskan mengapa ia memiliki sikap manja dan sok seperti itu.

“Setelah sarapan, lebih baik kau mandi. Baekhyun meninggalkan beberapa potong baju…”

Duk. Duk. Duk.

Belum selesai dengan ucapannya, terdengar suara pintu diketuk yang mengejutkan Sera dan Luhan. Sedetik kemudian, suara panggilan terdengar dari luar.

Noona!!”

“Omo, Jinhwan!”seru Sera pelan, sambil reflek menutup mulutnya.

Nugu?”tanya Luhan.

Sera mulai panik. “Jinhwan, tetanggaku…”jawabnya cepat sambil menepuk-nepuk lengan Luhan, mengisyaratkan pemuda itu untuk segera menaruh sendoknya dan bersembunyi. Tapi, Luhan yang masih tidak mengerti duduk permasalahannya, masih tak bergeming. “Yak!! Aku tidak mau Jinhwan tahu kalau ada pria asing di rumahku dan makan sarapan bersamaku!”

“Memangnya kenapa? Apa salahnya—heii!”

Karena tidak sabar, Sera langsung menarik tangan Luhan.

“Naiklah ke atas!”perintah Sera.

Luhan mencebikkan bibirnya. Siapa gadis ini berani memerintah seenaknya? Tapi karena ia terlalu malas untuk berdebat, Luhan akhirnya memilih patuh. Ia menunduk untuk mengambil mangkuk nasi dan piring ikannya. Sera yang mengira Luhan hendak duduk lagi, langsung melotot kesal. Padahal Luhan hendak membawa makanannya ke atas agar ia bisa melanjutkan acara sarapannya disana. Kesal, karena dipelototi oleh Sera, Luhan balas melotot.

Duk. Duk. Duk.

Nooonna… kau di dalam kan?”

Satu dorongan pelan dari Sera, dan Luhan langsung berlari naik ke lantai atas. Sepertinya kepanikan Sera akhirnya menular juga padanya. Dari pagar pembatas lantai atas Luhan mengamati apa yang terjadi di bawah.

“Oh, apa yang harus kulakukan dengan benang ini?”gerutu Sera sambil berusaha menyembunyikan benang itu di belakang tubuhnya. Bisa gawat jika Jinhwan melihat benang ini dan mencari ujung yang satunya. “Haii, Jinhwan-a!”sapa Sera yang tanpa sengaja terdengar terlalu ceria. Jinhwan yang pagi ini telah terbalut sempurna dengan seragam sekolahnya, mengangkat sebelah alis ketika mendengar sapaan Sera. Kenapa pagi-pagi Sera noona sudah salah tingkah seperti ini?

Jinhwan menampakkan senyum manisnya. Tangannya sedikit terangkat, menunjukkan apa yang ia bawa pada Sera. “Taraaa… roti bakar untuk noona!”

“Wahh… kebetulan sekali!” Luhan tadi mencari roti untuk sarapan, bukan?

“Kebetulan?”

“Iya. Tadi Lu… eh, maksudku, aku sedang ingin makan roti, hahaha…”Sera merutuk dalam hati. Hampir saja ia keceplosan! Ia mengambil piring berisi 3 tangkup roti coklat keemasan yang menggoda dengan tangan kanannya.

Tangan kanan?

Mata Sera otomatis membulat dan ia reflek menarik tangannya saat melihat benang merah di kelingkingnya. Untung Jinhwan masih memegangi piringnya, jika tidak roti bakarnya pasti telah menyatu dengan ubin.

Waegure, noona?”tanya Jinhwan bingung. Sikap Sera semakin aneh saja.

“Eh, ani… bukan apa-apa.”

Tapi Jinhwan tidak semudah itu percaya. Terdorong oleh rasa penasaran dan khawatir, ia menarik tangan kanan Sera. Mengamatinya.

“Jin…”Sera terlambat bereaksi. Jinhwan sudah terlanjur melihat jari-jarinya. Terlanjur melihat benang merah aneh membelit kelingkingnya. “Ah… aku iseng mengikat kelingkingku dengan benang merah itu, jadi…” Sera menelan ludah saat Jinhwan memfokuskan pandangannya pada kelingking Sera. “…karena terlalu kencang, aku tidak bisa melepasnya.”

“Apa kelingking noona luka? Sakit?”tanya Jinhwan cemas.

“Eh? Oh, tidak! Tidak sakit kok…”

“Aku kaget karena noona tiba-tiba menarik tangan noona, kupikir ada yang sakit.”

“Ah, tidak…”Sera tersenyum tanggung dan mengibaskan tangannya. “Aku hanya takut kau berpikir aku aneh karena mengikat benang merah di kelingkingku, hahaha…”

“Benang merah?”tanya Jinhwan.

“Iya… benang merah ini…”Sera menunjukkan kelingking kanannya pada Jinhwan.

Jinhwan menelengkan kepalanya, keningnya berkerut. “Benang merah apa, noona? Di kelingking noona tidak ada apapun?”

“Eh?”

Sera sepertinya harus mulai membiasakan diri dengan kejutan-kejutan jika tidak ingin kesehatan jantungnya kembali terganggu. Tidak ada habisnya. Kali ini, ia harus sekali lagi menerima kenyataan yang sulit masuk di akal.

Matanya jelas-jelas melihat benang merah mengkilat sebesar kawat yang melilit jarinya. Tapi Jinhwan tidak melihatnya!

Apa itu berarti, hanya dirinya dan Luhan yang bisa melihat benang merah ini?

Setelah Jinhwan pergi, Sera segera mencari Luhan. Ia mendongak ke lantai atas, tempat Luhan berada.

“Kau dengar tadi? Jinhwan tidak bisa melihat benang merah ini?”ujar Sera.

Luhan menyandarkan dagunya di pagar pembatas. “Yah…benang merah ini semakin aneh. Sepertinya aku harus mulai percaya kalau sihir itu ada.”

“Memang sihir itu ada kan?”sahut Sera sambil berkacak pinggang. “…kita sedang mengalaminya sekarang.”

Angin semilir yang sejuk membuat langkah Luhan terhenti. Ia berdiri di pinggir jalan beraspal sederhana. Trotoarnya pun hanya tanah yang ditumbuhi rumput liar. Di depannya kini terpampang pemandangan yang jarang ia lihat secara langsung.

Sawah dan kebun-kebun sayuran terhampar sejauh mata memandang. Di kejauhan sana nampak Gunung Halla yang berdiri megah dan begitu hijau. Beberapa warga Bijarim yang sejak pagi sudah sibuk mengurus tanaman mereka, menatap Luhan heran. Bijarim hanyalah desa kecil, hampir semua warganya saling mengenal. Wajah asing dan tampan Luhan tentu menarik perhatian mereka.

“Hei, nak! Apa kau pendatang baru disini?”tanya seorang bapak yang belepotan lumpur di bajunya.

Luhan yang ditanya, tersenyum kecil. Sebelum keluar rumah, Sera sudah dengan jelas menyebutkan bahwa mereka akan berjalan berjauhan agar tidak ada seorang pun yang tahu kalau Luhan dan Sera saling mengenal. Sera pikir, akan gawat jika orang-orang tahu bahwa Luhan tinggal di rumahnya. Apalagi orang-orang desa sudah tahu bahwa Sera berpacaran dengan putra pemilik Guest House terkenal di daerah mereka. Lagipula, benang di jari mereka tak kasat mata bagi orang lain, jadi jika mereka jaga jarak dan berhati-hati pasti tidak akan ada yang curiga.

Lihatlah Sera sekarang, gadis itu sudah berjalan 7 meter di depan, meninggalkan Luhan.

“Saya turis dari China dan menginap di Guest House Tuan Byun, ahjussi,”jawab Luhan lancar, sesuai dengan jawaban yang sudah dirancangkan Sera agar Luhan ucapkan jika ada yang bertanya tentang siapa dirinya.

“Kenapa kau berjalan sejauh ini, nak?” Seorang ahjumma yang mendengarkan percakapan mereka, menimpali. “Apa kau tersesat?”

Ups… untuk pertanyaan ini, Sera tak menyiapkan jawabannya untuk Luhan. Luhan tak menurunkan senyumnya. Karena malas merangkai kebohongan lain, ia menjawab, “Tidak.”

Jawaban yang terlampau singkat dan senyuman yang terlampau ceria, sepertinya berhasil membuat paman dan bibi petani itu tidak ada ide lagi untuk bertanya. Luhan tidak peduli tatapan aneh dari kedua orang itu. Masih dengan keramahan yang berlebihan, Luhan membungkuk hormat dan pamit untuk melanjutkan perjalanannya.

Sera yang berada 7 meter di depan sana, nampak menunggu dengan tidak sabar. Tangannya yang terentang ke depan terlihat ganjil. Tapi setelah Luhan melangkah ke depan untuk menyusulnya, Luhan mengerti kenapa tangan Sera terentang ke arahnya.

Benang ini hanya memiliki panjang 7 meter, yang artinya mereka tidak bisa berjarak lebih dari 7 meter.

Karena alasan itulah, tidak memungkinkan bagi Luhan dan Sera untuk berpisah.

Sera harus kuliah, dan Luhan tidak bisa tidak ikut. Luhan terlalu malas berdebat, lagipula ia tidak ada kerjaan. Jadi tanpa paksaan, Luhan bersedia untuk ikut ke kampus Sera.

Untung kemeja kotak-kotak, kaos warna biru muda dan celana jeans panjang milik pacar Sera muat di tubuh Luhan. Meskipun baju murahan dan sama sekali bukan style Luhan, tapi Luhan harus memakainya jika ia tidak mau terus-terusan memakai kemeja Armani-nya yang sudah bau keringat dan kusut karena dipakai sejak semalam.

Luhan melangkah tak bersemangat. Entah kapan terakhir kali ia terlepas sepenuhnya dari mobil-mobil sport mewahnya seperti ini. Dalam jarak kurang dari 7 meter di belakang Sera, Luhan bisa melihat sosok gadis itu dengan jelas.

Kemejanya terlalu besar untuk tubuhnya yang kurus. Rambutnya yang panjang, dicepol tinggi. Kakinya yang hanya lumayan bagus itu dibalut celana jeans yang warnanya sudah pudar karena terlalu sering dicuci. Tas punggung dan sneaker menjadi pelengkap kostum kampus Sera. Gadis itu bahkan tidak mau menyibukkan diri di depan meja rias untuk mempercantik wajahnya.

Apa adanya. Tidak menarik.

Terbiasa dikelilingi gadis-gadis cantik dengan dandanan berkelas, tidak lantas membuat Sera nampak istimewa karena perbedaannya. Luhan benar-benar hanya memandangnya seperti gadis-gadis lusuh lain yang ia temui di jalan. Ketika ia berada di mobilnya dan sedang menatap keluar jendela, ia bisa dengan mudah menemukan gadis-gadis sederhana seperti Sera di jalanan kota Beijing.

Sera sama sekali tidak membuatnya terkesan.

Hal itu semakin membuatnya heran.

Dari milyaran gadis yang ada di bumi, kenapa benang merah ini mengikat Luhan dengan gadis seperti Cheon Sera?

Tunggu!! Bukankah benang merah di kelingking ini terasa familiar? Luhan pernah mendengar tentangnya. Sebuah kisah. Salah satu dari sekian banyak kepercayaan-kepercayaan warga China.

Luxien pernah menyinggungnya. Ya. Kisah-kisah tak masuk akal selalu menjadi spesialisasinya bukan? Si manusia otak kanan itu pernah bercerita pada Luhan tentang benang merah. Kalau tidak salah, saat itu mereka sedang berada di suite room hotel bintang lima. Luxien versi umur 14 tahun itu memakai tuxedo hitam, ah benar, hari itu mereka baru saja selesai menghadiri pesta yang diselenggarakan oleh keluarga Kim di Seoul.

Mulai lagi. Mengkhayal yang tidak-tidak…”protes Luhan saat itu.

Hei, intuisiku ini tajam, Han. Sekali melihatnya saja aku langsung tahu. Gadis kecil itu—”

“Luhan-ssi!!”

Luhan tersentak dari lamunannya.

Mwohaeyo?! Cepat naik!!”

Sera melambai ke arah Luhan. Wajahnya nampak kesal melihat Luhan yang bengong dan tak segera bergegas. Setengah badan Sera telah berada di dalam bus.

Oh… Luhan segera tersadar bahwa ia harus segera naik ke atas bus. Benang ini hanya sepanjang 7 meter dan tidak bisa putus bahkan setelah dibakar. Tidak lucu kan jika Luhan tertinggal bus dan harus berlari-lari mengejarnya karena takut jaraknya semakin menjauh? Benang ini memang nampak ringkih, tapi Luhan tahu ia harus merelakan tangannya putus jika sampai tertarik oleh laju bus.

“Magic exists. Who can doubt it, when there are rainbows and wildflowers, the music of the wind and the silence of the stars? Anyone who has loved has been touched by magic. It is such a simple and such an extraordinary part of the lives we live.” ― Nora Roberts

Sera menghela napas panjang. Ia kesal. Amat sangat kesal.

Baekhyun sekarang ada di hadapannya, tampan luar biasa meski bibirnya belepotan saos ayam goreng. Tapi sejak tadi bukannya fokus pada Baekhyun, Sera justru tak tahan untuk tidak mengarahkan matanya ke sosok pemuda yang duduk berjarak 3 meja di belakang Baekhyun. Si Pemuda aneh yang jatuh dari langit, Xiao Luhan.

Luhan sepertinya sengaja benar memprovokasinya. Pemuda itu duduk diam, tapi dengan tatapan mata yang terus-terusan tertuju pada Sera. Sepertinya Luhan tahu, Sera tidak nyaman karena menyembunyikan sesuatu dari sang pacar. Jari-jari Sera berkali-kali tanpa sadar memegangi kelingkingnya, tempat benang merah—yang untungnya tak bisa dilihat Baekhyun itu—mengikatnya. Karena itu Luhan usil menggodanya. Seringai pria China itu begitu menyebalkan.

Harus Sera akui, Luhan benar-benar pria luar biasa. Ia bisa bersikap biasa saja seolah orang-orang sekitar—terutama para gadis—yang memandanginya masih sejenis dengan tumbuhan. Pemuda tampan seperti Luhan tentu menjadi magnet bagi kaum hawa dan itu membuat pergerakannya selalu menarik perhatian. Semua orang mulai kasak-kusuk bertanya tentang dirinya. Dan kenyataan bahwa Luhan tak bisa berada jauh dari Sera, membuatnya cemas.

Sera pikir tak akan jadi masalah jika Luhan ikut dengannya ke kampus. Toh, ini JNU dimana ada ratusan ribu orang yang beraktivitas di tempat ini. Menyusupkan satu orang saja tak akan ada orang yang tahu.

Tapi Sera tidak mempertimbangkan hal ini, bahwa ketampanan Luhan terlalu mencolok. Meski Sera dan Luhan tak saling bertegur sapa dan bahkan tak menipiskan jarak mereka, tapi bukan berarti mereka tidak akan dicurigai bukan? Luhan selalu ada di tempat Sera berada. Sera takut nantinya ada yang menyadari hal ini.

Untungnya sejak tadi Luhan tidak menggubris siapapun yang mengajaknya bicara. Ia bersikap dingin bagai es pada gadis-gadis di sekitarnya.

“Hai!!”tiba-tiba 3 orang mahasiswi memblokir pandangan Sera ke Luhan. Ini sudah perempuan ke lima yang menghampiri meja Luhan sejak setengah jam yang lalu.

“Boleh kami duduk disini?”tanya salah satu dari 3 mahasiswi itu.

Metode klise. Buat apa mereka mau duduk di 3 kursi kosong yang ada di meja Luhan padahal ada meja-meja lain yang semua kursinya masih kosong jika bukan untuk mengajak Luhan berkenalan. Mereka bertaruh, mungkin Luhan akan tertarik pada salah satu di antara mereka.

Luhan tersenyum, membuat ketiga gadis itu langsung berbunga-bunga. Salah satu diantara mereka bahkan langsung mengambil tempat duduk dan mendudukinya dengan ekspresi senang.

Pikyeo! Aku sedang tidak ingin bicara dengan orang asing saat ini!”katanya tajam, masih dengan senyum yang kini jadi tampak mengerikan.

Ketiga gadis itu membeku. Tak percaya Luhan akan mengusir mereka setelah melepaskan senyum manis nan mematikan itu.

“Eiii… jangan bercanda seperti itu…”

“Apa otak kalian hanya sebesar biji kedelai? Tidak mengerti arti kata ‘pikyeo’?”

Huh. Cara mengusir yang menyebalkan. Sera sudah cukup menjadi saksi mata bagaimana Luhan mengucapkan kata-kata melecehkan dan menyakitkan, setelah menyunggingkan senyum dan menampakkan wajah malaikatnya. Kepribadian yang sungguh aneh!

“Apa yang sedang kau lihat?”tanya Baekhyun tiba-tiba yang langsung membuat Sera mengalihkan tatapannya dari Luhan.

“Bukan apa-apa, Baek!”Sera menangkap pipi Baekhyun, mencegah pria itu memutar kepala ke belakang. “Ada saus di bibirmu…”ujarnya sambil mengusap bibir Baekhyun dengan jari-jari tangannya. Berusaha mengalihkan perhatian Baekhyun.

Baekhyun tersenyum. Ia menangkap tangan Sera saat Sera menariknya dari bibir Luhan. Pipi Sera langsung memanas begitu Baekhyun membawa jari-jari yang terkena saus itu ke bibirnya dan menjilatnya.

“Ya—yak! Kofu!”bisik Sera panik. Ia takut ada orang lain yang melihat.

“Aku selalu suka makan sesuatu yang berasal dari tanganmu…”rayu Baekhyun.

“Cih…”Sera buru-buru menarik tangannya. “Bilang saja kalau kau mau aku suapi!”

“Hehehe… aku kan berusaha untuk lebih romantis. Kenapa kau tidak menghabiskan makan siangmu, Kiara?”tanya Baekhyun sambil mencomot ayam goreng bumbu di piring Sera dan memakannya.

“Aku sedang tidak nafsu makan…”Sera mendorong piringnya ke depan Baekhyun, meminta pria itu untuk menghabiskannya. Baekhyun tidak keberatan. Ia terbiasa memakan makanan yang tidak mampu Sera habiskan, meski ia sendiri sudah habis 1 piring penuh.

“Satu suapan lagi…”pinta Baekhyun. Sera menurut dan memakan nasi ayam yang Baekhyun sodorkan padanya. “Apa ada masalah?”

Sera menggeleng. “Tidak,”jawabnya berbohong. “Kofu, bagaimana dengan tawaran beasiswa keluar negeri itu? Kau akan menerimanya.”

Baekhyun langsung menggeleng.

Waeyo? Aku sejak dulu ingin sekali bisa ke luar negeri. Tapi kau malah menyia-nyiakan kesempatan itu. Profesor Kim menyukaimu, ia mau membawamu ke Amerika semester depan dan membiayai kuliahmu. Apa kau pikir semua orang bisa mendapatkan kesempatan langka itu? Dasar bodoh!”

“Yak! Bagaimana mungkin aku bisa pergi?”Baekhyun mempautkan bibirnya dan menggumam. “Aku tidak bisa meninggalkanmu. Lagipula, aku tidak tertarik mempelajari manajemen bisnis internasional. Aku hanya ingin meneruskan pekerjaan abeoji mengelola guest house. Di kota kita yang damai ini,”Baekhyun mengusap kepala Sera dan tersenyum lembut. “Bersamamu…”

“Aigho… kau pasti sangat mencintaiku, Kofu.”

“Tentu saja, karena itu jangan berani berpikiran untuk meninggalkanku, oke? Aku mungkin bisa mati nanti. Kau tidak ingin menjadi tersangka pembunuhan kan?”

Sera menampakkan ekspresi ingin muntah. “Uh, so cheesy~!”

Baekhyun tertawa.

Tawa Baekhyun terdengar hingga ke telinga Luhan. Ia terpaku, pada bagaimana Sera bisa tersenyum sebahagia itu hanya karena melihat tawa kekasihnya. Gadis itu benar-benar sedang jatuh cinta sepertinya.

Benang merah yang mengikat kelingking Sera berkilat tertempa matahari. Tidak kasat mata bagi orang lain tapi kasat mata bagi Luhan dan Sera.

“Menarik,”gumam Luhan sambil mengusap benang merah di kelingkingnya. “Benang merah ini benar-benar menarik…”

Hari ini turun hujan. Perpustakaan JNU tidak seramai biasanya. Luhan duduk termenung menatap hujan. Kaca-kaca jendela buram terkena tetesan air. Seharian ini ia tidak melakukan apapun selain mengikuti Sera dalam diam. Anehnya, ia tidak merasa keberatan. Berada di tempat asing juga tidak membuatnya merasa rikuh. Luhan justru menikmatinya. Menikmati bagaimana ia menjadi tak dikenal, menjadi bukan Xiao Luhan sang pangeran TianC Group.

Luhan melirik jari tangannya. Benang merah di kelingkingnya bergerak-gerak, kadang mengetat kadang merenggang.  Pergerakan benang merah itu menyesuaikan pergerakan Sera. Gadis itu sedang melakukan pekerjaan wajibnya di perpustakaan, apalagi kalau bukan menata buku-buku. Kali ini buku yang ia tata adalah buku-buku yang baru saja kembali setelah dipinjam oleh mahasiswa.

Sera menarik trolinya, melintasi rak demi rak buku. Tapi tiba-tiba langkahnya terpaksa terhenti. Tangannya tertarik ke belakang, seolah ada tambang baja yang menariknya.

“Oh, tidak lagi…”keluh Sera. Ia berbalik dan melihat benang merah di kelingkingnya mengetat kaku. Ia sudah berada di zona 7 meter, dan Sera tidak bisa melangkah lebih jauh lagi. Uh, yang benar saja!!

Kesal, Sera mencoba menarik paksa tangannya. Ia memberi sinyal kepada ujung satunya agar bergerak mendekat. Tapi ujung benang yang tertambat pada Luhan, tak bergeming. Ya, Luhan menahan kuat-kuat tangannya agar tidak tertarik. Dan sebagai pria, tenaga Luhan secara matematis lebih kuat daripada Sera. Bisa diduga siapa pemenang pertandingan tarik-menarik ini.

“Iiish… apa sih yang sedang ia lakukan?”desis Sera marah.

Senpai?”

Suara familiar di belakangnya membuat Sera terkejut dan segera berbalik. Ia langsung menghentikan usahanya menarik benang di kelingkingnya saat melihat Shori Sota, hobae yang bekerja bersamanya di perpustakaan.

“Shori-kun!”Sera tersenyum canggung. Apa dia melihatnya? Melihat Sera yang berpose seperti orang streaching karena tangannya terangkat ke udara dan tubuhnya condong ke belakang. Pemandangan ini pasti akan nampak ganjil di mata orang biasa karena mereka tidak melihat benang tegang yang ada di jari Sera. Aih, memalukan!

“Apa yang kau lakukan, senpai?”tanya mahasiswa semester 2 dari Jepang itu.

“Ahaha… aku Cuma sedang olahraga sedikit,”jawab Sera sambil memutar-mutar lengannya dan memasang ringisan di bibirnya. “Badanku pegal sekali.”

Senpai mau istirahat sebentar? Ini biar aku saja yang selesaikan…”tawar Shori sambil mengambil alih troli yang dibawa Sera.

Hontou ni (benarkah)?”tanya Sera ragu. Sebenarnya ia memang membutuhkan seseorang untuk menggantikannya saat ini. Ia tidak bisa berjalan lebih maju ke depan, tidak sebelum Sera menjitak kepala pria menyebalkan bernama Luhan dan memaksanya untuk menggerakkan kakinya agar tidak menjauh dari Sera.

“Ne, senpai. Istirahat lah.” Shori menyunggingkan senyumnya. Senyum yang selalu membuat Sera dan banyak gadis di luar sana rela melakukan apapun untuk melihatnya. Uuuuh, jika saja ia belum memiliki Baekhyun, Sera pasti akan dengan suka cita menjatuhkan cintanya pada Shori ^^

Domo arigatou, Shori-kun! Maaf merepotkanmu.”

Iie, doitashimashite ^^”

Setelah memindah tangankan trolinya pada Shori, Sera bergegas ke tempat Luhan berada. Perasaan geram membuatnya nyaris berlari karena tidak sabar.

“Yak!”sentak Sera pada Luhan. Ia sejenak lupa sedang ada dimana. Beberapa orang yang berada di meja baca sekitar Luhan, menoleh padanya karena terganggu. Sera yang menyadari kesalahannya langsung memasang senyum dan meminta maaf. Tapi tatapannya berubah tajam menusuk ketika beralih pada Luhan.

“Aku ingin bicara denganmu,”ujar Sera. Tanpa menunggu persetujuan Luhan, Sera langsung menarik lengan Luhan menjauh dari ruang baca. Luhan tidak melawan, ia berjalan dengan ekspresi bosan sambil terus mengikuti Sera.

“Kupikir kau tidak ingin terlihat sedang bicara denganku…”tanya Luhan.

“Karena itu aku mengajakmu kesini,”jawab Sera sambil menghentikan langkahnya dan berbalik menghadapi Luhan. Saat ini ia berada diantara rak buku sosiologi, area perpustakaan yang paling sepi. Tidak ada satu orang pun di tempat ini.

“Orang akan salah paham jika memergoki kita berduaan di tempat sesepi ini, Cheon Sera…”

“Biarkan saja!”balas Sera ketus.“Apa yang kau lakukan sebenanrnya? Kenapa kau diam saja saat aku menarik benangnya? Panjang benang ini hanya 7 meter. Aku tidak bisa bekerja jika kau duduk diam disini.”

“Lalu aku harus mengikutimu terus menerus begitu?”

“Paling tidak bersikap peka-lah. Jika aku menarik benangnya, bukankah itu berarti aku membutuhkan kau agar mendekat padaku?”

“Jadi kau tidak ingin aku jauh darimu? Kau butuh aku ada di dekatmu?”

“Kau tahu kan bukan itu maksudku sebenarnya?!”bentak Sera geram, masih dengan nada suara yang rendah. “Benang terkutuk ini benar-benar merepotkan. Kenapa pula aku harus terikat dengan orang yang tidak peka sepertimu? Aku butuh pekerjaan ini, jadi kumohon bekerja samalah, Luhan-ssi.”

“Jadi begitu?”Luhan menaruh ke dua tangannya di kantong celana, tatapannya sinis. “Terikat bersamaku ternyata adalah kutukan bagimu?”

Sera menghentakkan kaki kanannya. Kesal kuadrat. “Jebal. Fokus pada poin utamanya, Luhan-ssi. Sikap acuhmu itu membuatku tidak bisa bekerja. Aku harus keliling area perpustakaan dan itu—”

“Kaulah yang melewatkan poin utamanya, Cheon Sera,”potong Luhan. Tangannya tiba-tiba memerangkap Sera, membuat gadis itu tersudut rak buku.

Mwo-mwohaneunggoya?” Gugup, karena posisi Luhan yang terlalu dekat, Sera mencoba untuk mendorong Luhan. Tapi Luhan tak bergeming.

“Apa menurutmu benang merah ini tidak berarti apapun selain kesialan?”

Ne?”

Senyuman Luhan nampak aneh. Penuh misteri, tapi juga menunjukkan bahwa ia tahu segalanya sedangkan Sera tidak. Tatapannya meremehkan. Seolah Sera hanyalah kelinci kecil bodoh yang menggelikan. “Bagaimana jika tidak ada kebetulan di dunia ini, CheonSe?”

Kerutan di kening Sera semakin dalam. “Aku tidak mengerti apa maksudmu, Xiao Luhan!”

Luhan mendekatkan wajah tampannya, begitu dekat hingga napasnya terasa menyapu wajah Sera. “Bagaimana jika kau dan aku memang sudah terikat seperti ini sejak dulu—oh, tidak, kata dulu mungkin kurang jelas untukmu. Bagaimana jika kukatakan kalau kita memang sudah terikat seperti ini sejak lahir, hanya saja dulu kita tidak bisa melihat benang merah ini.”

“Omo…”Sera tertawa hambar. Lebih untuk menutupi rasa gugupnya. “Apa kini kau mulai berpikir dengan otak kanan, huh? Mulai mengkhayal?”

Tatapan Luhan menajam, senyumnya menghilang dan wajahnya mengeras. “Dengar ini, Cheon Sera,”desisnya pelan, penuh peringatan. “Mulai sekarang kau harusnya memperlakukan aku dengan baik. Karena mungkin, seumur hidupmu, kau tak akan bisa lepas dariku.”

“I truly believe we can either see the connections, celebrate them, and express gratitude for our blessings, or we can see life as a string of coincidences that have no meaning or connection.
For me, I’m going to believe in miracles, celebrate life, rejoice in the views of eternity and hope my choices will create a positive ripple effect in the lives of others. This is my choice.”
Mike Ericksen, Upon Destiny’s Song

To be continued…

DOMO SUMIMASEEEEEEN, MINNA~!! #deepbow.

Oyurushi kudasai karena dua bulan aku nggak mempertemukan kalian dengan kelanjutan Moon. Maaf yaaa~~ Ada banyak masalah selama 2 bulan ini yang menyedot seluruuuuh mood baikku buat nulis. Aku juga nggak nyangka bisa se-writer block ini. Biasanya kalau sibuk juga pasti bisa sempat nulisnya. Ini jangka waktu terlamaku gak update FF kan ya? Sekali lagi, domo sumimaseeen T_T

Meskipun aku udah ngecewain kalian, tapi aku yang tidak tahu malu ini ingin banget minta bantuan doa dari kalian.

Tolong bantu doanya agar Pak Yudhi—pembimbingku yang kayak Bang Toyib—dilancarkan segala urusannya dan beliau punya banyak waktu untuk bertemu dengan anak-anaknya yang sering terlantar. Dan semoga aku bisa segera nyelesaiin skripsi paling lambat awal Juli. Alhamdulillah kemarin sudah selesai penelitian, jadi ini tinggal nyelesaiin bab 4 dan 5. Setelah semua selesai, paling tidak bebanku terangkat dan aku bisa nulis FF tanpa rasa bersalah, huhuhu…

—–

Aku punya wattpad, mungkin aku juga bakal posting disana ^^ coba aja cari seara_sangheera ya?

Ada yang suka J-Pop disini? Yang jadi cameo di chapter ini si Shori Sota Sexy Zone ^^

 sexy-zone-shop-type-s 4503_original 22073302

Aku lagi jatuh suka sama dia, hehe. Manis banget siiiiih… Yang gak tahu Hey! Say! JUMP, Kis My Ft2, atau Sexy Zone itu apa, mereka boyband dari Jepang. 3 bb ini masih sodaraan di Johnny Entertaiment—Fyi, agensi ini khusus mendebutkan cowok-cowok kece ^^ Nggak ada girlband dan bahkan trainer cewek disana, kan asyik tuh, hahaha… Aku sekarang juga menobatkan diri sebagai JUMPER, fansnya Hey! Say! JUMP (boybandnya Yamada Ryosuke Wild Boy). Karena member-membernya lebih sering tersenyum saat nyanyi daripada sok galau, lagu-lagu dan konser mereka yang super ceria, mood-ku jadi membaik. Jadi tolong dimaklumi kalau Sera kubuat sebagai fans fanatiknya mereka ya? Hihihi…

Ada kritik? Pasti banyak. Ada saran? Huwaaa, makasih banget. Males komen? Iya deh gak papa. Males baca? Hiks.

Sampai jumpa di chapter 3 yaa…

 

Best regard,

Seara Sangheera

 

 

Advertisements

417 responses to “MOON THAT EMBRACE OUR LOVE [II]

  1. ini yang waktu sera di kasih yogurt kan? itu yang ngasih luhan, terus yang cerita bulan terbelah itu luxien? gitu kan ya kak? wkwk
    ngomong2 karna aku baru ngikutin project kakak yang ini aku masih asing sama kata2 jepang yang suka muncul hehe

  2. Hahaha kasihan juga sih sera nya. Mau jujur sama baek tapi benang merahnya aja ga kelihatan. Gak tega aja gitu kalau nanti sera kayak nyakitin baek padahal bukan niatnya

  3. Kejadian kelingking mereka terikat itu lucu huhu dan romantis ekekekkke lanjut deh. Fighting ya kak^^

  4. Eon…penasaran. Ah,Baek bikin galau ini. Nanti hubungan Sera ma Baek gimana? Luhan…so misteriusly,I think. But,aku penasaran bgt ma kelanjutannya. ><
    Eonni,aku ijin lanjut baca yak
    Semangat buat kegiatan eonni yg kayaknya menyibukkan bgt,tapi salut,eonni masih bisa ciptain chapter 2 sebagus ini. FIGHTING,ne!!^^

  5. AAH SERIUS DEMI APA AKU LUPA DULU GAK LANJUT BACA KARNA APA SIH TERNYATA SERU GINI LOH HUWEEE..

    Tapi pas di author notes sangheera bilang mau lanjut di wattpad, sedangkan aku udh menjelajah wattpadmu sebelum ini tapi gak nemuin story ini, sangheera nim?

    AAH JEBAL TBTB AKU MERASA TAKUT FF INI TERNYATA BLM SELESAI 😭

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s