SIERENES: THE UNTOLD STORY

Seirenes Poster

SEIRENES


THE UNTOLD STORY

.

Scriptwriter: Heo Min Jae

Casts: Victoria Song [f(x)], Kahi, Nana [AFTER SCHOOL], Sulli [f(x)], Slight!Han Chae Young [Actress], Slight!Choi Jin Hyuk [Actor], Slight!Lami [SMROOKIES]

Genre: Mistery, Tragedy, Myths.

Rating: PG-13

.

.

Terinspirasi dari mitos Siren, dan kisah dari salah satu dewi Yunani, Persephone.

.

.

Characters:

Victoria Song as Victoria

Kahi as Katharyn

Nana as Bellanca

Sulli as Arthemisia

Goddess Demeter = visualized by Actress Han Chae Young

The Great Zeus = visualized by Actor Choi Jin Hyuk

.

.

.

“Kisah ini benar-benar terjadi. Hanya saja kisah ini tak pernah diketahui orang-orang.”

.

.

.

.

.

WARNING!

This story is just an imagination with mythology-based. Do not put any trust that this story is really happened. This story doesn’t exist in any mythologies.

***

 

Alkisah, dalam Olympus yang megah dan mulia, dimana pusat singgasana para dewa dan dewi berada. Akan tetapi, suatu seketika nasib buruk menimpa Olympus. Ini dialami oleh Demeter, Dewi Pertanian yang juga sekaligus istri Zeus. Putrinya diculik Dewa Hades. Bukan, bukan Persephone. Itu sudah terjadi berpuluh-puluh tahun yang lalu, dan lagipula dirinya telah merelakan takdir putri sulungnya itu yang kini telah menjadi Ratu Dunia Bawah bersama Hades. Ia sebetulnya masih teramat sedih akan Persephone sampai saat ini. Meskipun putrinya sempat kembali padanya, namun takdir sudah menggariskan putrinya untuk menetap di dunia bawah dan menjadi ratu disana bersama Hades.

Namun setelah berpuluh-puluh tahun kemudian, Hades kembali mengambil putrinya yang lain. Sapphira. Putrinya yang anggun nan cantik jelita, kepribadian yang melambangkan keanggunan wanita di seluruh dunia, kini telah diculik oleh Hades. Demeter tidak mengerti pada Hades. Apa yang membuat Hades sepicik ini? Dan kenapa selalu putrinya?

“Apa salahku, wahai Dewa Agung? Kenapa ini selalu terjadi padaku?” ucap Demeter meratapi kesedihannya di hadapan Zeus.

“Kumohon engkau bersabarlah, Dewi. Sesungguhnya ini sudah menjadi suratan takdir. Saat ini tiada satupun dari kita bahkan aku yang bisa mencegah apa yang telah dilakukan oleh Hades.”

“Tapi kenapa harus Sapphira, putriku?”

“Tidak ada satupun yang mengetahui motifnya, Dewi. Apakah ini akan sama seperti halnya pada Persephone, atau ada motif lain Hades melakukan ini. Kita masih belum dapat memastikannya.”

“Kalau begitu Engkau harus memastikannya, Dewa Agung. Aku tidak ingin kembali kehilangan putriku.”

“Aku akan berusaha, Demeter.”

“Aku mohon kali ini jangan hanya berkata-kata saja, Dewa, seperti halnya pada Persephone dulu. Jika tidak, aku benar-benar tidak akan pernah lagi menginjakan kakiku di Olympus ini.”

***

Sementara itu, suasana di kediaman Demeter tampak cukup heboh. Banyak dayang-dayang yang berlalu-lalang, berjalan-jalan di sepanjang kediaman dengan tampang panik yang masing-masing kentara di wajah yang mereka perlihatkan. Ya, para dayang Demeter memang tengah panik saat ini, kala mendengar kabar mengejutkan tentang penculikan yang dilakukan oleh Dewa Hades terhadap Sapphira, putri dari Dewi Demeter.

“Aku sungguh tidak percaya hal ini akan terjadi untuk kedua kalinya.”

“Kenapa harus pada Dewi kita?”

“Ya, bahkan Dewi Sapphira sendiri telah menganggap kita sebagai saudarinya sendiri.”

“Aku turut prihatin pada Dewi.”

Keempat dayang yang tengah berbicang di sepanjang lorong memang merupakan para pengasuh Dewi Sapphira, putri dari Dewi Demeter. Mereka telah diberi anugerah khusus oleh Demeter untuk menjadi pengasuh Sapphira sekaligus teman bagi putrinya. Dan jika diperhatikan, penampilan mereka pun sebenarnya cukup berbeda dibandingkan dayang-dayang lainnya.

Keempat dayang wanita—yang sesungguhnya memiliki paras cantik—itu sebenarnya merupakan makhluk mortal dari bumi. Mereka masih termasuk kaum naiad, makhluk dari kaum nimfa—makhluk berwujud wanita—yang tinggal di air sungai. Mereka merupakan para putri Dewa Akheloios. Namun berkat anugerah Dewa Zeus, mereka diutus untuk menemani putrinya Dewi Sapphira pula istrinya Dewi Demeter.

“Katharyn, apakah kau sudah yakin akan mengatakan ini pada Dewi?” ucap salah satu dayang yang cukup tinggi dibanding ketiga saudarinya.

“Bukankah ini adalah keinginan kita semua? Lalu, apa yang kau khawatirkan, saudariku Victoria? Ini demi Dewi Demeter. Kita melakukan ini untuk menghilangkan kesedihannya.”

“Lagipula, kakakku Victoria, bukankah kita juga ingin agar Dewi Sapphira kembali?” timpal dayang lainnya yang tampak termuda diantara saudari-saudarinya.

“Benar, Victoria, kita mengorbankan hidup kita demi melakukan ini. Demi Dewi Sapphira. Demi Dewi Demeter,” ucap saudari lainnya.

Keempat dayang wanita yang masing-masing bernama Katharyn, Victoria, Bellanca, dan Arthemisia, saat ini tengah berjalan menuju ruang tuan mereka, yaitu Dewi Demeter. Ada sesuatu hal yang ingin mereka bicarakan pada tuan mereka mengenai putrinya. Namun satu diantara mereka, yaitu Victoria, nampaknya masih ragu akan keputusan mereka. Bahkan ketika mereka telah berhasil berdiri di depan pintu singgasana Demeter, Victoria masih saja tampak berpikir.

“Sudahlah, Victoria. Tidak ada yang perlu kau ragukan lagi. Kita sudah berada di depan singgasananya sekarang,” ucap Katharyn.

Victoria menghela nafas dan menghembuskannnya secara perlahan, lalu kemudian ia menenggakan kepalanya dan menoleh kepada saudari-saudarinya.

“Baiklah. Ayo, kita masuk.”

Mereka pun dengan hati-hati memohon izin kepada Demeter untuk meminta menghadapnya. Kemudian Demeter pun menerima izin mereka dan menitah untuk segera masuk. Katharyn beserta ketiga saudarinya yang lain segera bersimpuh dihadapan Demeter.

“Ada perlu apa gerangan kalian datang menemuiku?” tanya Demeter.

Setelah terdiam cukup lama, Katharyn pada akhirnya mengajukan diri untuk memberitahukan maksud kedatangan mereka menemui Demeter. Mereka hendak menawarkan diri mereka untuk mencari dan mendapatkan kembali Sapphira. Mereka begitu merasakan keempatian yang dalam ketika mendengar putri Demeter, Sapphira, diculik oleh—lagi-lagi—Hades. Sebelum Sapphira terlanjur menjadi bagian dari dunia bawah, mereka ingin membawa pulang Sapphira. Untuk itulah mereka menawarkan diri untuk membantu. Awalnya Demeter terkejut mendengar pengajuan itu, namun Demeter pada akhirnya senang mendengarnya, meskpun ia meragukannya.

“Kalian yakin? Bahkan Dewa Agung saja tak bisa membujuk Hades. Lagipula, saudari-saudari kalian sebelumnya sudah pernah mencoba melakukannya untuk putriku sebelumnya, Persephone. Parthenope, Ligeia, dan Leucossia, mereka sudah pernah melakukannya. Namun mereka justru melalaikan tugas mereka dan tinggal di pulau Anthemoussa. Untuk itulah mereka kuhukum.”

Katharyn, Victoria, Bellanca, dan Arthemisia merenung seketika. Benar. Ketiga orang yang baru saja disebut Demeter, yaitu Parthenope, Ligeia, dan Leucossia, mereka adalah saudari-saudari tertua mereka yang sebelumnya dikutuk Demeter karena telah melalaikan kewajiban mereka untuk mencari Persephone. Mereka dikutuk dengan wujud setengah burung mereka, akibat mengikuti para Muses bernyanyi ketimbang menjalani kewajiban mereka. Untuk itulah, Demeter mengutuk mereka bahwa siapapun pelaut yang bisa menolak nyanyian mereka maka saat itu pula mereka akan musnah. Mereka akan selamanya terus bernyanyi dan menggoda para para pelaut yang melewati ataupun singgah di pulau mereka sehingga mereka dapat menghabisi pelaut tersebut beserta kapalnya agar mereka dapat bertahan hidup dan terhindar dari ramalan yang juga kutukan itu.

Maka dari itulah, kisah itu kemudian membuat mereka dikenal dengan nama Sirens—atau Seirenes dalam bahasa Yunani, makhluk setengah burung yang memiliki nyanyian menggoda.

Keempat dayang bersaudari tersebut amat sedih sebab harus kembali mengingat kejadian menyakitkan yang menimpa ketiga saudari tertua mereka. Mereka menjadi teramat bingung tentang apa yang harus dilakukan oleh mereka.

Namun Victoria memiliki tekad dalam dirinya. Ia tak mau lagi melihat wajah dewinya sendu. Maka dari itulah, kemudian, ia berkata, “Apapun akan kami lakukan demi anda dan begitu pula putri anda, Dewi.”

“Apakah sudah yakin? Tahukah kalian tempat seperti apakah putriku berada?”

Keempat dayang itu saling menatap seraya berpikir. Benar juga. Sapphira kini sudah bersama dengan Hades yang merupakan penguasa dunia bawah. Mereka menjadi berpikir, pula alam bawah sadar mereka yang bahkan mengatakan bahwa jika ingin membawa kembali Dewi Sapphira, itu berarti mereka harus bisa mencapai dunia bawah yang penuh dengan kegelapan dan kepedihan dimana-mana, demi membawa kembali Sapphira, takkan peduli betapa beratnya rintangan yang harus mereka lalui.

“Kami tak keberatan, Dewi.” ujar Bellanca.

“Baiklah. Aku tidak bisa menghentikan permintaan kalian. Akan tetapi untuk dirimu, Victoria—”

Victoria menengadahkan kepalanya. Berharap dewinya segera melanjutkan perkatannya. Ia bingung, pula ketiga saudarinya yang lain.

“—aku memberikan pengecualian untuk dirimu.”

Victoria, Katharyn, Bellanca, dan Arthemisia terperangah mendengar penuturan Demeter. Terutama Victoria, ia terheran-heran. Apa maksudnya? Apa artinya ia tidak akan ikut serta dengan ketiga saudarinya?

“Dewi—”

“Kau masih sangat kuperlukan disini. Aku tak tahu harus ke mana ku mengadu. Tak mungkin aku ke pusat Olympus. Aku sudah berikrar untuk menjauhi semua dewa-dewa itu.”

Victoria seketika menunduk kembali. Ia teramat sedih melihat kondisi dewinya saat ini.

Sementara Katharyn, Bellanca, dan Arthemisia, mereka justru bingung apa yang harus mereka lakukan. Di satu sisi mereka sedih sebab salah satu saudari tertua mereka setelah Katharyn tidak ikut serta, namun disisi lain mereka prihatin melihat Demeter.

Akan tetapi kemudian, Katharyn bersuara, “Wahai, Dewi, kami sanggup melakukan tugas ini meskipun salah satu dari kami tak ikut serta. Aku, Bellanca, dan Arthemisia, akan tetap melakukan tugas ini, demi menghilangkan kesedihan anda, Dewi.”

“Akan tetapi, Dewi—” Arthemisia dengan cepat menyela segera setelah Katharyn menyelesaikan perkataannya. Kemudian ia kembali melanjutkan, “—bagaimana caranya kami mencari putri anda, sedangkan jalan yang harus kami tempuh tidaklah mudah? Akan memakan waktu yang lama pula jikalau hanya kaki-kaki ini saja yang bisa kami gunakan.”

Semuanya mengarahkan tatapan ke arahnya, meminta penjelasan lebih lanjut apa yang baru saja Arthemisia utarakan.

Namun sepuluh detik kemudian, Bellanca dapat mengerti maksud saudarinya dan lantas dengan inisiatif berkata, “Dewi, apa yang dikatakan saudariku benar, bahwa hanya dengan menggunakan pijakan kaki ini saja akan sangat memakan waktu. Menelusuri bumi bukanlah perkara mudah. Banyak sekali halang-rintang, pula teksturnya yang berkelok dan tak rata. Kami harus menempuh tingginya gunung, tingginya gelombang lautan, belum lagi, perubahan cuaca dan bencana yang begitu ekstrim. Meskipun kami ini perwujudan dari air sungai di alam bumi yang merupakan asal kami, namun kaki dan tubuh ini tak mampu menahan semua peristiwa alam yang merupakan sudah menjadi kodratnya. Terutama, menembus dunia bawah merupakan tantangan besar untuk kami. Andai saja ada wujud lain dari kami yang dapat menahan segala halang-rintang yang akan dilalui, pastilah akan sangat mudah untuk kami.

Seperti halnya pendahulu kami, yang rela tubuh manusia mereka diganti dengan tubuh seekor burung. Namun mereka tetap tak kehilangan rupa menawan, kecantikan, dan keelokan yang ada pada wajah mereka. Wajah mereka tetaplah wanita. Meskipun, mereka menjadi hina dan terkutuk dengan dicap sebagai makhluk pemangsa. Dan kini mereka sudah musnah. Akan tetapi, itu tidak mengubah tekad yang ada pada diri kami.”

Bellanca menghela nafas sejenak dari tuturan panjangnya. Sementara, tuturannya justru meninggalkan keheranan pada Demeter dan ketiga saudarinya. Mereka secara perlahan mulai menemukan sedikit titik terang yang membayangi pikiran mereka.

Selang beberapa detik, Bellanca kembali bersuara, “Kami berjanji, Dewi, bahwa kami tidak akan mengulangi kesalahan yang serupa… untuk yang kedua kalinya.”

Demeter terkejut mendengar penuturan terakhir Bellanca. Ia mulai paham ke mana arah pembicaraan wanita ini. Begitu pula Victoria dan Katharyn—pengecualian untuk Arthemisia, mereka pun turut tercengang.

“Tunggu, Bellanca. Jangan katakan padaku bahwa kau menginginkan permintaan yang sama seperti pendahulumu.”

Seketika Bellanca bersimpuh di kaki Demeter. “Maafkan aku, Dewi. Tapi itu cara terbaik,” ucapnya memohon ampun.

“Tetapi—”

“Maafkan aku, Dewi,” Victoria seketika menyela ucapan Demeter. “Bolehkan kami berbicara dengannya sebentar?” ucap Victoria memohon izin pada Demeter.

“Silahkan.”

“Kalau begitu, kami permisi sejenak, Dewi,” pamit Katharyn.

Diikuti Victoria dan Arthemisia, Katharyn menarik paksa Bellanca lantas menjauhi singgasana Demeter agar dapat leluasa berbincang lebih serius dengan Bellanca.

Setelah sekiranya aman, Victora dan Katharyn menghempas Bellanca cukup kasar ke dinding. Sementara Arthemesia hanya terbengong menyaksikannya.

“Ke manakah larinya akal sehatmu, Bellanca?! Sadarkah apa yang baru saja kau katakan kepada Dewi?” bentak Victoria.

“Itu artinya kita pun takkan berbeda jauh dengan tetua kita, Bellanca!” timpal Katharyn seraya mengguncangi bahu sang intimidator—Bellanca. Sementara Bellanca hanya terdiam pasrah menerima perlakukan kedua saudari tertuanya.

“Apakah kau menginginkan kita menjadi pemangsa ganas di samudera sana, hah?!” lanjut Katharyn yang sudah tak kuasa menahan emosi pada dirinya. Arthemisian berusaha menenangkannya kemudian.

“Tunggu dulu, wahai kakakku. Apakah kau berencana untuk merubah wujud kita menjadi layaknya ketiga pendahulu kita yang kini telah berubah menjadi makhluk bernama sirens itu?” ucap Arthemisia yang nampaknya mulai mengerti masalah yang sedang terjadi.

Diam. Tak ada perdebatan lagi diantara mereka selama—kurang lebih—satu setengah menit. Mereka saling menunduk dan merenung.

“Kakak, dan adikku Arthemisia, dengarkan aku,” Bellanca mulai bersuara, saudari-saudarinya pun tenggah dan memerhatikannya. Lantas, ia kembali berkata, “…memang sudah suratan kita—para putri Ankheloios—untuk menjadi wujud setengah burung. Tidakkah kalian ingat, apa yang Parthenope katakan sebagai sumpahnya sebelum mencari keberadaan putri Persephone?”

Mereka merenung. Sekelebat ingatan mengganggu pikiran mereka seketika. Saat-saat dimana saudari-saudari mereka sebelumnya—Parthenope, Lucossia, dan Ligeia, bersimpuh pada Demeter, ketika mereka memohon untuk membantu mencari putrinya, Persephone, pula ketika mereka meminta merubah wujud mereka menjadi burung.

“Dewi, jika kami gagal memenuhi kewajiban ini, ataupun kami tak mampu dan lalai, maka kami akan bersumpah. Kami rela menerima hukuman bahkan kutukan seberat apapun yang Dewi berikan kepada kami, Kami akan menjadi makhluk yang terbuang, terhina, bahkan ternista. Kami pun rela rupa kami tandas. Dan saat itu terjadi, maka seluruh keturunan Akheloios akan menyerupai kami yang berwujud setengah burung ini, tepat ketika menginjak usia kami.”

Ya, mereka ingat. Saat itu usia mereka masih terbilang cukup muda—menurut penanggalan disana—ketika mereka tak sengaja mendengar percakapan itu. Wajah mereka seketika suram mengingat memori tersebut.

“Benar—” ucap Victoria setelah hening cukup lama. “Ketika itu menjadi kenyataan, Dewi benar-benar mengabulkan permintaan mereka.”

“Kalau begitu…” Katharyn pun turut bersuara. “….tidak ada pilihan lain.”

.

.

.

.

.

“Apakah kalian yakin dengan keputusan kalian itu?”

Mereka tertunduk diam. Dihadapan Demeter, mereka telah mengutarakan keputusan mereka. Demeter tak sangka akan hal itu. Seraya bersimpuh selayaknya dayang kepada majikannya, mereka menimang tuturan kata yang hendak diutarakan untuk menjawab pertanyaan Demeter.

Selang setengah menit, Katharyn akhirnya bersuara, “Kami teramat yakin, Dewi.”

“Baiklah, aku pun tak punya pilihan lain. Ini telah menjadi jalan takdir kalian. Pergi dan rebutlah putriku dari sisi Hades. Tubuh setengah burung milik kalian akan muncul dengan sendirinya ketika telah menginjak waktu yang tepat—aku yakin kalian pasti tahu akan hal ini.”

Demeter nampak memunculkan sesuatu dari tangan kosongnya, yang kemudian diketahui bahwa itu merupakan sebuah kantung. Sebuah kantung yang terbuat dari bahan benang nilon emas. Kantung itu kemudian diserahkan kepada Katharyn.

“Apa ini, Dewi?”

“Kantung itu berisi semua yang kalian perlukan. Ada pula sayur dan buah didalamnya untuk persediaan pangan kalian.”

“Terima kasih, Dewi,” mereka berterima kasih seraya menghamba di kaki Demeter.

Lalu kemudian, dewi tersebut pun merespon dengan mengangkat satu tangan kanannya dan meletakkan kelima jarinya tepat diatas kepala mereka. Lantas, ia berkata, “Diberkatilah. Sekarang… berangkatlah kalian bertiga.”

Dengan dihantar oleh Victoria yang tak ikut serta, mereka pun mulai melangkahkan kaki meninggalkan singgasana Demeter. Melangkah jauh melewati seluruh Olympus hingga mencapai pintu gerbang utama yang begitu megah. Sesampainya disana, mereka belum bisa pergi dan berjalan keluar melewati gerbang itu begitu saja. Teringat bahwa salah satu saudari mereka, yaitu Victoria, yang tak ikut serta, membuat langkah mereka terhenti sejenak dan menoleh ke arah samping mereka—melirik Victoria. Wanita itu yang rupanya telah berusaha menahan arus air matanya sudah semenjak dia menghantar dari tempat Demeter sampai di gerbang ini dimana ia harus dan dengan sangat terpaksa ditinggalkan oleh ketiga saudarinya.

“Kakak…”

“Victoria. Jagalah dirimu baik-baik.”

“Kakak, doakan kami berhasil.”

“Selalu. Jagalah diri kalian.”

Setelah perkataan Victoria tersebut, berangkatlah Katharyn, Bellanca, dan Arthemisia. Mereka mulai berjalan melewati gerbang utama. Tepat satu langkah mereka berhasil keluar dari gerbang Olympus, berubah pulalah ketiga wujud dayang wanita itu menjadi jelmaan wanita setengah burung yang elok mempesona, dengan sayap yang membentang indah di punggung mereka masing-masing. Victoria yang hanya dapat menyaksikan jauh dari dalam gerbang pun terenyuh dan menatap penuh dengan air mata kebahagiaan pada ketiga saudarinya itu.

Ketiga dayang yang telah berwujud menjadi setengah burung tersebut mulai mengepakkan sayap dan pergi secara bergilir meninggalkan Olympus. Terbangnya mereka ke angkasa cakrawala menandakan bahwa saat itulah petualangan mereka sudah dimulai.

.

.

.

.

Teramatlah sedih bagi Victoria pada hari itu. Selain sedih karena menyaksikan kepergian saudari-saudarinya, ia justru lebih sedih karena tinggal dirinyalah satu-satunya yang berwujud lain di Olympus ini. Ya, Victoria pula mewujud menjadi wanita setengah burung, tak hanya ketiga saudarinya saja. Ia bingung dan sedih bagaimana ia harus beradaptasi dengan wujud barunya ini.

Ia bersimpuh diri di hadapan Demeter dengan lesu. Demeter tahu sekali perasaan Victoria. Beliau perlahan berjalan menghampiri Victoria lalu memegang bahu wanita itu dengan lembut.

“Aku tahu perasaanmu.” Diturunkanlah tubuhnya untuk mensejajarkan diri dengan dayang bernama Victoria itu. Lantas kembali melanjutkan tuturan menenangkannya, “Kau tenang saja. Tidak akan terjadi apa-apa, baik kau dan ketiga saudarimu. Mereka akan segera kembali dengan membawa serta putriku. Aku yakin itu.”

Kesedihan pada diri Victoria yang berusaha keras ia tahan semenjak kepergian ketiga saudarinya yang telah bermenit-menit lalu, akhirnya tumpah pula. Dihadapan Demeter, Victoria dilanda hujan tangis yang sudah tak sanggup lagi ia tahan. Demeter turut empati melihat itu. Ia sendiri pun mengalami seperti halnya Victoria alami, yaitu kehilangan putri terkasihnya.

“Maafkanlah hamba, Dewi. Hamba sudah tak sanggup lagi menahannya.”

Demeter memeluk Victoria dengan penuh empati dan kasih sayang. Seiringan dengan itu, ia berusaha membangkitkan Victoria yang terduduk lemas.

“Tak apa, Victoria. Kau sudah kuanggap sebagai anakku sendiri. Untuk itulah, aku ingin kau tetap tinggal dan menemaniku disini.”

Victoria bersimpuh di bawah kaki Demeter selayaknya seorang pelayan pada majikannya. Demeter tersenyum seraya mengelus rambut Victoria dengan amat lembut, meskipun sebenarnya tak dapat menyurutkan perkabungannya.

“Aku yakin, kau dan mereka tak akan mengalami hal yang terjadi pada ketiga saudari tertuamu.”

Victoria tak bisa berbuat apa-apa. Ia masih bersimpuh dengan tangis yang melimpah. Ia tak sanggup untuk bicara. Namun, sementara itu, ada gumaman yang keluar dari bibir Demeter beberapa detik setelah ucapannya. Dan, itu sama sekali tak dapat didengar oleh Victoria.

“Semoga saja…”

.

.

.

.

.

.

.

Two Weeks Later

“Berminggu-minggu kita mengarungi lautan dan daratan. Tapi tak ada yang bisa kita lakukan. Aku sudah tak sanggup melanjutkannya. Bisakah kita berhenti?”

“Tidak, Arthemisia! Kita tidak boleh berhenti selama kita belum dapat menyelesaikan tugas ini. Kita tidak boleh melanggar, Arthemisia, atau kita akan bernasib sama seperti tetua kita. Mengerti?!”

“Akan tetapi, wahai kakakku Katharyn, kita tidak akan mungkin bisa menjangkau dunia Dewa Hades, kakakku. Usaha kita akan sia-sia. Sebaiknya kita menyerah saja.”

“Sudahlah, kakak. Tidak lihatlah kondisi kita saat ini sudah memperihatinkan?”

“Kalian benar. Kita menyerah saja. Kita pergi dari sini dan cari tempat persembunyian yang aman dan jauh dari jangkauan Olympus. Ayo!”

.

.

.

.

“TIDAK!!”

Victoria terlonjak dan seketika tersadar dari renungan panjangnya. Wajahnya luar biasa panik, alur nafasnya terengah-engah. Ia bahkan kesulitan menormalkan kembali deru nafasnya. Apa yang baru saja ia alami?

“Wahai, Dewa Agung, apa yang baru saja kulihat dalam renunganku? Apakah ini semacam pertanda darimu?”

Ia yang tengah berada dalam ruang istirahatnya kemudian keluar dengan segera dari sana. Ia berjalan dengan tergerupuh menuju singgasana Demeter. Ia patut menceritakan hal yang dilihatnya pada dewinya.

“Dewi, mohon maafkan aku.”

“Ada apa, Victoria?”

“Aku mulai khawatir tentang ketiga saudariku, Dewi.”

“Apa yang kau khawatirkan?”

Ia semakin sesak dan sulit untuk mengatur nafasnya sendiri. Ia bingung dan sedikit panik bagaimana harus memulainya. “Dewi.. aku melihat—”

“Aku tahu, Victoria…”

Victoria tercengang. Ia tak mengerti ucapan dewinya. Mimiknya penuh kebingungan. Ia lalu menyejajarkan posisi kepalanya, namun enggan menatap dewinya, ia masih duduk bersimpuh dengan tubuhnya yang diam mengeras bagai patung.

Tapi kemudian ia berkata, “Apa maksud anda, Dewi?”

Demeter kasihan melihat dayang kesayangannya. Eksperesinya begitu menyedihkan, tatapannya nanar, di satu sisi wanita itu terheran ketika mendengar ucapan Demeter yang begitu ambigu.

“Aku mengetahui apa yang kau lihat. Mari, ikut aku.”

.

.

.

.

Seluruh aliran yang berada di dalam tubuh Victoria seakan terhenti saat itu juga ketika ia dibawa oleh Demeter menuju pusat Olympus dimana singgasana Dewa Agung Zeus berada. Badannya seakan telah membatu ketika Zeus memperlihatkan maksud dari tuturan Demeter sebelumnya. Melihatnya, ia menyaksikannya. Semua itu membuatnya pening seketika.

“Dewa Agung, ini…” Suaranya teramat menggetar.

“Ya, Victoria. Itu semua benar adanya. Persis seperti apa yang ada dalam renunganmu. Aku sengaja memperlihatkannya dalam renunganmu. Ketahuilah, wahai saudari muda dari sirens yang telah berkhianat, ketiga saudarimu itu pun melakukan kesalahan yang sama. Mereka melalaikan apa yang seharusnya menjadi kewajiban mereka!”

Victoria menyucurkan air mata ketika kembali menyaksikan gambaran itu. Katharyn, Bellanca, Arthemisia, mereka dengan santainya bersandar pada batu-batu karang di sebuah pulau terpencil seraya mengeluarkan senandung yang luar biasa indah, begitu lembut, mempesona, dan sedikit menggoda. Ekspresi mereka tampak damai sekali seolah tak ada beban apapun yang dipikul mereka. Disana ditampilkan juga sebuah kapal laut yang secara kebetulan sedang melintas di sekitar pulau itu. Namun seketika saja kapal itu karam.

“Kau lihat itu? Senandung ketiga saudarimu itu memesona mereka. Secara tidak sadar, mereka sedang menuju ke arah dimana senandung memabukkan itu berada dan melupakan tujuan utama mereka,” ucap Zeus dengan amarahnya yang menggema ke penjuru ruangan. Memerhatikan itu, rasanya lutut Victoria sudah tak mampu berpijak. “—dan pada akhirnya kapal itu karam juga, karena sesungguhnya naluri pemangsa yang dimiliki oleh siren sudah mulai mencuat didalam tubuh ketiga saudarimu itu…. tanpa mereka sadari sedikitipun. Dengan itu, maka kutukan sudah dimulai….. bahwa mereka selamanya akan tetap seperti itu sepanjang tidak ada yang berani menolak senandungan mereka. Ketika itu ada dan terjadi, maka saat itu juga mereka akan musnah.”

.

.

.

Kembali kepada ketiga siren itu. Ditengah-tengah suasana tenang dan juga nyanyian indah yang mereka senandungkan, juga kedamaian yang sedang mereka rasakan di pulau berkarang itu, seketika Zeus membelah langit dengan petirnya yang luar biasa dahsyat. Bahkan menghancurkan lautan dan daratan yang ada disekitarnya. Tak hanya itu saja, angin topan dan badai pun mengeringinya menghancurkan gelombang lautan serta beberapa dan pohon yang beterbangan membentuk gulungan angin yang besar. Ketiga bersaudari yang kini telah berubah menjadi siren itu amat terkejut menyaksikan badai dahsyat dihadapan mereka.

“Dewa Agung sedang menunjukan amarahnya kepada kita…” ucap Arthemisia dengan ketegangan dan ketakutan yang luar biasa. Badai semakin menggila tepat ketika perkataannya ini berakhir.

“Bellanca, Arthemisia, nasib yang tak seharusnya kita ambil kini telah menjadi jalan takdir kita,” ucap Katharyn kemudian.

 Mereka panik luar biasa. Gelombang lautan begitu besar. Gulungan di langit  yang terdiri dari perpaduan angin, tanah, dan air, begitu dahsyat menerjang lautan dan daratan, dan pula menghalau mereka untuk kembali ke pulau. Mereka terjebak di atas batu karang itu, ditengah amukan badai Lautan Aegean. Katharyn beserta kedua adiknya tengah kalang kabut saat ini.

“Ini merupakan bencana untuk kita. Setelah ini takdir kita tak akan jauh berbeda dengan ketiga saudari terdahulu kita.”

.

.

.

.

“Kau tahu, Victoria, sudah menjadi kutukan untuk kalian—termasuk dirimu—ketika semua itu benar-benar terjadi. Kalian beserta seluruh keturunan dibawah Parthenope, Ligeia, dan Leucosia, telah dikutuk oleh ketiga pendahulu kalian itu. Meskipun tidak melakukan kesalahan, kau dan seluruh keluargamu tetap akan menerima kutukan itu. Itu yang dijanjikan oleh pendahulumu dulu,” tutur Zeus. Penuturan tajamnya ini seketika menghunus Victoria tepat di ulu hatinya. Sudah tak ada yang bisa ia lakukan.

“Maafkan hamba, Dewa Agung. Tapi hamba mohon, ampunilah kami, Dewa.” Victoria menangis sejadi-jadinya melihat peristiwa itu. Lututnya sudah tak dapat lagi menahan pijakannya.

“Ini sudah menjadi jalan takdir kalian. Begitu pula dengan Parthenope, Ligiea, dan Leucossia—ketiga saudari tertuamu itu, aku sudah lama mengetahui bahwa saudarimu akan menjadi seperti ini. Dan untukmu—”

“Hukum saja aku, Dewa. Jika benar kami semua adalah makhluk yang sudah terkutuk, maka aku pun harus dihukum juga, Dewa.”

“Kau memang akan aku hukum juga. Tapi kau tidak akan aku tempatkan bersama dengan mereka.”

Victoria tergelak mendengar ucapan Zeus. Ia tidak akan bersama-sama dengan ketiga saudarinya itu? Ia akan terpisah dengan mereka?

“Apapun aku bersedia menerimanya, Dewa.”

“Apa boleh buat. Kalian dan keturunan setelah kalian telah tertulis dengan jelas di atas kertas dengan tinta darah yang tak lain adalah darah ketiga saudari terdahulu kalian yang menuliskan takdir kalian disana sebagai sumpah atas apa yang mereka perbuat.”

Dengan pembawaan seorang raja dari para dewa Olympus, Zeus mengangkat tongkat petirnya tepat diatas kepala Victoria. Wanita itu sudah terpejam sejak Zeus mengatakan frasa yang diungkapkannya barusan. Dalam hati ia meyakinkan dirinya sendiri ketika Zeus sedang mengucapkan komat-kamit kepada dirinya.

“Apapun dan bagaimanapun diriku untuk kedepannya, aku bersumpah aku akan menerimanya dengan suka rela karena sesungguhnya itulah jalan takdirku.”

Tak lama, Victoria pun menghilang dari ruangan itu.

***

Beijing, China.

15 September 2020.

Di sebuah kota metropolitan yang merupakan ibukota dari negeri tirai bambu, Beijing, jutaan bintang yang bergantungan di angkasa sana tampak bersinar gemerlapan dan membuat kota itu semakin indah. Pertanda betapa cerahnya malam hari langit Beijing.

Tapi ini adalah sebuah kota metropolitan. Tidak ada yang peduli betapa indahnya langit yang dihiasi bintang-bintang ini. Mereka tidak akan peduli, yang ada mereka justru sibuk mengurusi urusan masing-masing. Sibuk mengurusi urusan di kantor, sibuk memerhatikan jalan yang begitu ramai karena sedang menunggu waktunya untuk pulang, bahkan ada yang sibuk sampai frustasi menghadapi kepadatan lalu lintas yang menggila. Dalam situasi seperti itu, siapa yang akan peduli indahnya langit diatas sana?

Berkebalikan dengan itu, sepasang ibu dan anak terlihat tengah berdiri berdampingan di atas beranda apartemen mereka yang terletak di lantai 14. Mereka tampak asyik memandangi bintang-bintang di atas langit sana yang seolah-olah saling berlomba siapa yang paling terang. Sang anak berkilatan mata melihatnya.

“Lho, mama, hanya segitu saja?” tutur sang anak, Lami namanya. Ya, mamanya saat ini sedang menceritakan kisah tentang siren padanya. Namun entah kenapa mamanya berhenti ditengah-tengah cerita.

“Bukan begitu, sayang. Ini sudah terlalu malam. Sudah saatnya bagimu untuk tidur,” ucap sang mama, Song Qian-lah namanya.

“Tapi, mama, aku masih tidak mengerti dengan inti ceritanya. Mama bahkan belum menceritakan Victoria akan seperti apa setelah dihukum oleh Dewa Zeus. Aku tidak akan bisa tidur jika ini masih menggantung di kepalaku.”

“Mm…”

Song Qian mulai berpikir. Ia sedang menimbang apa sekirannya yang akan ia katakan kepada putrinya mengenai inti dari kisahnya.

“Apa, ma?”

“Baiklah, baiklah. Dasar anak mama tidak sabaran sekali. Kisah Siren yang satu ini pada intinya menceritakan tentang ketiga wanita bersaudari yang gagal melakukan kewajiban mereka, mereka pun dikutuk atas itu. Juga, menceritakan para pelaut yang mudah sekali tergoda hanya dengan nyanyian siren dan melupakan tujuan utama mereka. Victoria juga ikut terimbas atas kesalahan ketiga saudarinya,” Lami tampak mengangguk seakan ia sudah paham dengan perkataan mamanya.

“Tapi, ma, aku belum pernah mendengar kisah ini di manapun. Apa ini sungguh berasal dari motologi Yunani?” Lami menyukai kisah-kisah dari mitologi Yunani. Ia sudah mengetahui bebarapa kisah didalamnya, karena ia gemar sekali membaca terutama kisah mitologi Yunani. Ia juga sering meminta mamanya untuk menceritakan sebuah kisah dari mitologi Yunani setiap malam sebelum ia tidur. Kisah siren ini, ia sudah pernah membaca kisah ini sebelumnya. Akan tetapi, kisah yang diceritakan mamanya ini benar-benar belum pernah ia dengar ataupun ia temukan.

“Kisah ini benar-benar berasal dari mitologi Yunani, sayang. Hanya saja kisah ini tak pernah diketahui orang-orang.”

“Benarkah, mama? Lantas, mama tahu dari mana kisah ini?”

Song Qian terdiam sejenak. Ekspresi wajahnya terlihat seolah ia kebingungan. Namun tak lama kemudian, wanita itu tersenyim simpul seraya berkata kepada anak gadisnya, “Dari buku, sayang.”

“Benarkah? Mana bukunya?” Lami tampak berbinar-binar ketika mendengar kata buku dari mamanya. Itu berarti gadis itu akan punya kesempatan untuk membaca lanjutan kisahnya, karena kisah yang diceritakan mamanya ini nampak belum selesai.

“Nanti saja, sayang. Sekarang kau harus tidur.”

“Ah, mama!”

“Besok mama lanjutkan. Tapi sekarang kamu harus tidur. Ayo, kita pergi ke kamarmu.”

“Baiklah kalau begitu.”

.

.

.

.

THE END or TO BE CONTINUED?

.

.

.

.

Bagaimana, readers? Entah FF ini mau sampai sini aja atau mau dilanjut, terserah readers.

Ini FF aku setelah hiatus yang begituuuu lama. Aku berharap ada banyak komen dari kalian 😉

Jadi, mau sampai sini aja FF ini atau mau dilanjut?

Aku tunggu jawaban dari kalian 😉

Sincerely,

허민재

HEO MIN JAE

Advertisements

13 responses to “SIERENES: THE UNTOLD STORY

  1. Keren thor,, aku juga suka baca mitologi yunani :3 eh ntu mamanya jangan jangan si victoria lagi #sotoy 😀
    next thor.. Fighting!!

  2. HYAAAA ada juga yg bikin fanfic mitologi yunani gini :””” aaa seneng banget sumpah aduh jingkrak2 pas buka skf tba2 ada ff dgn judul bgini. Dan fanfic keselutuhannya pun ga mengecewakan! Tbc aja eon atau dibikin seri lain kayak cupid ama pysce klo gasalah? Keep writing !!!!

  3. aaa.. ni akhirnya dapat ff mitologi kayak gini.. seneng bngtt sumpah … ceritanya bener* keren ni authornya daebak …

  4. Ide ceritanya keren bgt.. sampe dari mitologi Yunani..
    Jangan” Victorian di hukum Zeus jadi manusia, trus song qian itu victoria yg berubah jadi manusia. Karena itu ia tahu cerita tentang Siren karena dia pernah mengalaminya, iya kan thor??
    Btw Lami kan anaknya victoria, emang dia nikah sama siapa??
    Next dong thor, ceritanya masih gantung

  5. Waaa… daebak!! jjang! aku suka ceritanya.. apalagi tentang mitologi yunani.. Terus itu kelanjutannya gimana? jadi penasaran kann..
    Yang jadi Song Qian itu victoria bukan sih? diliat dari kata-katanya udah mencurigakan.. apa victoria dihukum Zeus jadi manusia biasa??
    Please dilanjut yaa.. Fighting!!

  6. Lanjuttt aja…
    Seru ceritanya, bkin penasaran, sbnrnya hukuman victoria dimana, dy jd manusia ya hmmm…
    Pertamanya kirain ini cm cerita mitologi aja titik ternyata nyambung ke kisah manusia modern…

  7. kerennnn :d ceritanya seru banget, apakah victoria itu mamanya lami ya ?, next ya next :v, di tunggu loh next chapternya :d keep writing ><

  8. Wahh itu mamanya lamk victoria?? Song Qian kan emang victoria 😮 *sotoy

    Keren ini, wajib lanjut 😀

  9. Ah ‘dikutuk’ jadi manusia yah . Gak ada cast cowok nya nih thor , ah iya genre nya bukan romantic -_- tapi aku ingin ada romantisnya haha
    Tapi aku suka sama cerita dewa dewi Yunani , film clash of titan aku paling suka . Apapun kan cerita tentang dewa dewi suka . Sukaaaa 😀

  10. kereeeeeeen
    telat bacaaaaa huaaaaaa
    suka cerita begini
    baru kemarin” pengen baca tentang mitologi yunani eeh udah ada yg buat jadi ff

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s