METEOR GARDEN CHAPTER 4 – ALPHA PHOENIX

poster

Title : Meteor Garden chapter 4

Author : alphaphoenix

Main cast : Oh Sehun (EXO) | Choi Ahra (OC/You) | Kim Jongin (EXO)

Genre : Fantasy, romance, sci-fi

Length : Chapter

Rating : PG-15

Note:

Cerita ini bukanlah cerita drama Taiwan yang terkenal dengan F4 nya itu di awal tahun 2000-an. Tolong jangan berharap cerita ini ada sangkut pautnya dengan drama Taiwan itu. Cerita ini akan berbeda jauh dengan drama Meteor Garden. Disini saya akan tetap membawa unsur astronomi sebagai penyedap unsur cerita dan tujuan saya adalah memang ingin memasyarakatkan imu astronomi di Indonesia *eakk* dengan menulis ff ini.

Selamat membaca. Please leave comment. DON’T BE A SILENT READER!!

Previous Chapter

 Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3

Meteor Garden Chapter 4

Suara bip pelan dari luar terdengar oleh telinga Sehun. Ia mendongakkan kepalanya sedikit agar bisa melihat siapa yang masuk ke flatnya. Meskipun Sehun tinggal sendirian di flat kecilnya ini dan tidak ada yang tahu soal dirinya (tidak peduli), Ia tetap waspada dan membiarkan orang tersebut masuk ke dalam perangkap Sehun. Ini cukup lumayan jika yang masuk adalah perampok atau pembunuh, karena Sehun tidak sungkan untuk langsung membunuhnya. Di tambah lagi dengan keadaannya seperti ini, luka kutukan kembali muncul. Kali ini lebih jelas dan semakin menjalar. Ia harus cepat-cepat mencari mangsa.

Well, Sehun lupa soal tidak-ada-yang-mempedulikannya. Park Chanyeol dengan tubuhnya yang jangkung menyamai Sehun masuk pelan-pelan dan menutup pintunya lagi. Ia sempat memicingkan matanya karena lorong menuju ruang tengah agak gelap. Sehun mendesah pelan. Ia lebih mengharapkan yang masuk adalah perampok, daripada Chanyeol.

“Terakhir kali aku kesini, posisi sepatumu masih sama. Apa kau tidak berniat untuk memungutnya dan meletakkannya di rak?” kata Chanyeol jengkel sambil memungut sepatu Sehun dan meletakkannya di rak sepatu.

“Oh Sehun. Apa kau tidak bisa mengurus flatmu? Kau benar-benar…..” tambah Chanyeol lagi ketika dilihatnya bungkus-bungkus snack dan kertas-kertas berserakan dimana-mana. Chanyeol yang tidak tahan melihatnya mau tak mau memungutnya dan menaruhnya di tong sampah. Sementara si tuan rumah hanya berdiam, berbaring di sofa empuknya dan matanya mengikuti arah gerakan Chanyeol.

“Buat apa? Disini hanya ada aku…” sahut Sehun ketika Chanyeol menarik kursi dan duduk bersamanya.

“Tidak bisakah kau membuatkan minum untukku. Ah, aku benar-benar haus untuk sampai kesini..”

“Aku tidak menyuruhmu datang..”

Chanyeol menatap balik Sehun yang sepertinya tidak suka dengan kedatangan Chanyeol.

“Kau tidak masuk kuliah lagi. Itu masalahnya. Kau juga tidak memberitahuku. Bagaimana kalau kau sudah mati. Bagaimana kalau polisi tahu ternyata selama ini kau pembunuhnya?” sembur Chanyeol dengan beberapa pertanyaan. Di antara kekhawatiran Chanyeol dan marahnya dia, Sehun bisa mendengar kepedulian terhadap dirinya. Aura kepedulian Chanyeol langsung terpancar begitu ia selesai mengoceh.

“Terima kasih. Tapi ngomong-ngomong, yang tersisa di kulkasku hanya beberapa minuman kaleng coke saja.” Kata Sehun. Ia bangkit dari sofanya dan berjalan menuju kulkasnya. Diambilnya 2 kaleng coke dan satunya ia lempar ke Chanyeol. Dengan cekatan Chanyeol langsung menangkapnya dan membuka kalengnya.

“Kenapa kau tidak masuk kuliah?” tanya Chanyeol.

Sehun langsung menggulung lengan kemeja sebelah kanannya. Chanyeol mendapati luka Sehun terlihat lagi. Kali ini lebih hitam legam dan seperti biasa berbentuk seperti akar pohon.

“Sudah mulai sakit. Ah, aku lupa apakah sebentar lagi hujan meteor lagi. Kenapa waktunya berdekatan?” tanya Sehun lalu kembali merapikan kemejanya.

“Hujan meteor berlanjut hampir setiap hari, Sehun. Dan yah, hujan meteor yang terjadi tahun ini cuku besar frekuensinya. Mungkin itu penyebabnya.”

“Yeah, biasanya ada selang beberapa bulan. Ini hanya beberapa minggu, bahkan beberapa hari saja..” kata Sehun.

“Jadi, kau kapan berburu lagi? Kau ini, seperti vampir saja…” kata Chanyeol mencoba melucu.

“Kau mau ku bunuh. Mungkin saja kau orangnya…” sergah Sehun.

Wajah Chanyeol langsung berubah mimiknya. Ia yang tadinya tersenyum menatap Sehun langsung berdiam begitu Sehun bilang akan membunuhnya.

“Kalau kau ingin bunuh aku, kenapa tidak dari dulu saja. Dasar bocah…” kata Chanyeol gusar, lalu ia meninju pelan tubuh kekar Sehun.

“Hahahaha.. Aku bercanda. Lagipula kau terlalu baik padaku. Aku tidak akan bisa membunuhmu meskipun nyatanya kau adalah musuhku.” Kata Sehun, ia lalu meneguk Coke nya.

“Kau terlalu baik. Bunuh saja aku…. aku terlalu kasihan melihatmu menderita sepanjang hidupmu..” sahut Chanyeol pelan. Ia terdengar bersungguh-sungguh.

Sehun menggeleng pelan. Ia sudah memegang teguh pendiriannya. Selama orang itu selalu punya hati dan berperilaku baik-dan untungnya Sehun benar-benar tahu manusia mana yang punya hati dan tidak-, ia tidak akan membunuhnya.

“Saranku. Kau kalau ingin mencari mangsa agak jauh sedikit. Jangan disekitar kota. Bagaimana kalau kau tertangkap, pasti mereka akan mencariku juga, menginterogasiku dan menjadikanku saksi. Aku tidak mau…”

“Ya! Kukira kau akan menangis dan bersedih karena aku tertangkap, ternyata karena kau takut masuk penjara juga…” kata Sehun yang diikuti dengan tepukan di jidat Chanyeol.

“Ya.. Aku ini lebih tua darimu, dasar bocah.” Balas Chanyeol lalu menjitak jidatnya.

“Hahaha… Maaf, hyung. Tapi kau tak pernah menyuruhku memanggilmu hyung.”

“Yeah, aku tidak suka terlalu tua dihadapanmu.” Kata Chanyeol yang akhirnya diam. Mereka berdua akhirnya berdiam sambil tersenyum melihat tingkah laku mereka berdua yang seperti anak-anak.

“Kau sungguh-sungguh?” tanya Chanyeol.

Sehun mengerutkan keningnya.

“Soal apa?” tanya Sehun balik, ia mengerlingkan matanya kepada Chanyeol.

“Soal kau yang tak akan membunuhku jika ternyata akulah orangnya?” tanya Chanyeol serius.

Sehun menurunkan botol coke nya. Ia berjanji, dan janji itu tidak pernah di rusaknya. Ia tidak akan pernah membunuh orang yang pernah berlaku baik padanya. Ia sama sekali tak memikirkan orang-orang yang berperilaku baik padanya ternyata adalah musuhnya yang selama ini ia cari.

“Mengapa kau bertanya seperti itu, memangnya apakah kau orangnya?” tanya Sehun kesal. Ia kesal jika sudah diberi 2 pilihan soal ini. Ia tetap sakit atau ia kehilangan teman terbaiknya.

“Bukan. Tentu saja bukan. Aku ini tidak mengerti soal silisiah keluargamu dan keluarga musuhmu itu. Jelas. Aku bukan keturunan dari nenek moyang musuhmu. Aku jamin..”

“Oh. Baguslah..”

“Tapi bagaimana kalau hal itu yang terjadi?” tanya Chanyeol balik. Ia benar-benar penasaran dengan pendapat Sehun.

“Itu tidak akan terjadi. Aku jamin. Oleh karena itu, aku sangat hati-hati jika beteman dengan orang. Ya! Chanyeol.. Berhentilah bertanya soal ini. Auramu mengangguku.. Aku tidak suka auramu sekarang..” kata Sehun kesal.

“Baiklah-baiklah…” kata Chanyeol lesu. Chanyeol lalu memperbaiki posisi duduknya dan memperhatikan isi seluruh flat Sehun. Entahlah apa yang ada di pikiran Chanyeol. Flat ini terlalu berantakan sehingga Chanyeol susah untuk mendeskripsikannya. Ini lebih dari sekedar tempat tinggal.

“Cobalah kau rapikan sedikit flatmu ini. Apa kau nyaman-nyaman saja dengan ini?” kata Chanyeol yang matanya masih menyapu seluruh isi ruangan.

“Aku nyaman-nyaman saja. Sudah kubilang, hanya aku dan kau yang sering kesini. Buat apa aku harus membereskannya?” jawab Sehun santai. Ia lalu ikut memandang isi flatnya. Menurutnya ini baik-baik saja, tidak terlalu parah berantakannya.

“Cobalah cari kekasih. Pasti ia akan membantumu membereskan flatmu ini. Aku yakin.”

Sehun hampir terlonjak kaget mendengar Chanyeol mengatakan ia harus mencari seorang kekasih. Sehun tidak pernah memikirkan untuk mencari seorang kekasih. Lagipula tidak mungkin ada yang tahan dengan Sehun, ia yakin 100% jika ada perempuan yang menjadi kekasih Sehun, perempuan itu akan melapor ke polisi karena pacarnya adalah seorang pembunuh.

“Kau gila.. Dengan keadaanku yang seperti ini, pastilah tidak ada yang mau denganku..” sergah Sehun cepat.

“Tidakkah kau tahu kau itu cukup populer di kampus. Ah, banyak sekali yang ingin menjadi kekasihmu.”

“Yeah, aku tahu. Makanya aku tidak suka berada di kampus, aura para perempuan disana aneh-aneh. Aku tidak bisa berkonsentrasi jika dikampus..” otomatis Sehun langsung teringat dengan Ahra.

Well, tidak semua perempuan… timpal Sehun dalam hati.

“Mengapa kau diam?”

“Mwo?”

“Kau. Mengapa kau tiba-tiba berdiam ketika soal perempuan di kampus tadi? Kau memikirkan Ahra?” tanya Chanyeol cepat.

Sehun yang sedang meneguk cokenya, tersedak. Ia menyemburkan minumannya tepat di wajah tampan Chanyeol. Kini wajah tampan Chanyeol, kemejanya dan kaos Chanyeol basah bewarna coklat dan beraroma cola. Namun bukannya Chanyeol marah, ia tertawa keras melihat Sehun terkejut dan menyemburkan coke nya.

“Hahahahaha… Astaga, Sehun-ah. Aku tidak berharap untuk benar. Aku hanya sekedar bilang saja.. Mengapa bisa kau memikirkannya?” tanya Chanyeol yang masih tertawa. Ia memegang perutnya karena terlalu sakit untuk tertawa lagi.

“Aishh.. Kau tidak punya kekuatan bisa membaca pikiran,kan?” tanya Sehun jengkel sembari membersihkan kemejanya yang basah. Ia lalu masuk ke kamarnya dan mengambil kaos lengan panjang bewarna khaki. Yup, rata-rata semua baju Sehun berlengan panjang. Biarpun di musim panas, Sehun tetap memakai baju berlengan panjang.

“Anni. Aduh, astaga. Itu lucu sekali….” jawab Chanyeol yang masih susah payah menahan tawanya untuk berbicara. Matanya sampai berair karena mentertawakan Sehun.

“Berhentilah tertawa…” perintah Sehun.

“Baiklah-baiklah.. Tapi, mengapa kau memikirkannya?”

“Aku tidak memikirkannya. Hanya kebetulan saja aku mengingatnya..” jawab Sehun.

Sehun lupa, ia belum menceritakan soal kejadiannya bersama Ahra tempo hari. Dimana Ahra menyaksikan sendiri Sehun muncul di depannya ketika waktu terhenti.

“Sebenarnya ada yang belum kuceritakan…..”

“Wah, sepertinya Ahra benar-benar menarik perhatianmu? Apakah kau akan berpacaran dengannya?” tanya Chanyeol bersemangat.

“Astaga… berhentilah berpikir soal wanita, Park Chanyeol. Aku benar-benar serius kali ini…” Sehun merasa jengkel dengan Chanyeol.

“Baiklah. Ada apa dengannya?” tanya Chanyeol yang tiba-tiba langsung memasang wajah serius.

“Kau tahu kan kalau aku bisa menghentikan waktu..”

“Yeah, aku tahu. Kau sering mengerjaiku dengan kekuatanmu itu..”

“Dan kau tahu juga kan kalau aku bisa merasakan aura orang lain..”

Chanyeol mengangguk pelan. Ia juga ikut berpikir kearah manakah pembicaraan ini berlangsung.

“Dan itu berlaku untuk seluruh manusia yang kutemui. Termasuk dirimu….” kata Sehun diikuti dengan acungan telunjuknya mengarah ke Chanyeol. Chanyeol kaget dan matanya menatap tajam jari telunjuk Sehun yang mengarah padanya.

“Maksudnya?”

“Kau tidak pernah tahu kan kalau aku sedang menghentikan waktu?”

Chanyeol menggeleng.

“Bagaimana aku bisa tahu, aku juga ikut membeku..” timpal Chanyeol.

“Itulah masalahnya….” kata Sehun sambil menjentikkan jarinya.

“Mwo?”

“Dari awal aku bertemu dengannya, aku tidak pernah bisa merasakan auranya…” kata Sehun akhirnya.

“Benarkah? Mungkin ia terlalu jauh waktu itu..”

“Chanyeol-ah, waktu itu kita satu kafetaria dengannya. Seluruh aura di ruangan itu aku bisa merasakannya. Tapi perempuan yang satu itu…….” Sehun sengaja tidak menyelesaikan kalimatnya.

“Dia kosong. Begitu?” kata Chanyeol menebak.

Sehun mengangguk tanda setuju dengan Chanyeol.

“Dan soal saranmu untuk mencari mangsa di luar kota sepertinya akan kulakukan..”

“Baguslah. Aku tidak ingin kau ditangkap..” jawab Chanyeol.

“Sebenarnya aku sudah ketahuan..” kata Sehun hati-hati.

Chanyeol sontak membelalakkan matanya. Ia menatap Sehun lebih dalam, meminta penjelasan lebih lanjut.

“Ahra melihatku.. Dan sialnya, ia mengenaliku..”

Chanyeol membulatkan mulutnya, sekarang terbentuk huruf O sempurna di bibirnya. Ia mencoba mengatakan sesuatu. Beberapa kali ia membuka mulutnya, namun buru-buru menutupnya lagi.

“Ahra tidak ikut membeku ketika aku menghentikan waktu….” jelas Sehun yang menjawab kegelisahan Chanyeol.

“Mwo??” kata chanyeol nyaring.

“Apakah ia tahu kalau kau.. kalau kau yang menghentikan waktu?” tanya Chanyeol gagap.

“Sepertinya ia belum tahu. Tapi ia sudah melihatku malam itu aku dari hutan kecil dekat pegunungan observatorium..” jelas Sehun.

Sekarang percakapan ini menjadi lebih serius dan tidak main-main. Ini menyangkut hidup mati nya Sehun. Chanyeol berusaha untuk mencari solusi dari kejadian aneh ini.

“Tapi ia tidak menceritakan pada siapapun. Mungkin bukan tidak, tapi belum menceritakan pada siapapun..” tambah Sehun yang tak sabar melihat Chanyeol tak mengeluarkan suara.

“Oh? Benarkah? Apa kau mengancamnya?”

“Mungkin…”

“Pasti ia sekarang ketakutan kepadamu…”

“Entahlah. Aku tidak bisa menebaknya. Raut wajahnya tidak memperlihatkan rasa takut sama sekali…” Sehun teringat dengan pertemuan singkatnya dengan Ahra di perpustakaan waktu itu. Perempuan itu malahan memperlihatkan rasa penasarannya dengan kejadian itu.

“Lagipula, apa yang dia lakukan malam-malam seperti itu sendirian? Di tempat sepi pula..” kata Chanyeol gusar.

“Kau lupa ia mahasiswa jurusan astronomi. Ia tidak sendirian, ia bersama temannya. Entahlah, mungkin kekasihnya. Kim Jongin, pria itu selalu bersamanya…”

“Ah, jadi Ahra sudah punya kekasih…”

“Aku kan bilang ‘mungkin’. Bisa saja mereka hanya teman..”

Sehun kesal mendengar perkataan Chanyeol yang mengatakan bahwa Ahra sudah memiliki kekasih. Ia hanya bilang ‘mungkin’. Chanyeol langsung mendelik ke arah Sehun.

“Hey, ada apa denganmu, Oh Sehun? Kau cemburu?” sembur Chanyeol dengan senyum menyindirnya.

“Kau mengatakannya seakan-akan kaulah kekasihnya…” balas Chanyeol masih memasang senyum menyindirnya ke arah Sehun. Sehun pun dibuat mati kutu dengan perkataan Chanyeol tadi.

“Lupakan…” kata Sehun datar.

“Pastilah ia tahu soal hujan meteor. Ah, kau harus menjauhinya Sehun-ah. Jangan dekat-dekat dia..” saran Chanyeol, ia membuang kaleng coke nya yang sudah kosong ke dalam tong sampah.

“Justru aku ingin mengawasinya, dia sudah melihat kejadian itu. Aku hanya tak ingin ia memberitahu orang lain…” kata Sehun yang mengikuti gerakan Chanyeol, ia melempar sekaleng botol coke nya ke dalam keranjang sampah, seperti menembak bola basket ke arah ring basket.

***

Ahra buru-buru membolak-balik surat kabar dan membaca surat kabar pagi hari ini, ia terfokus pada headline berita hari ini. Seorang wanita ditemukan tewas di sekitar observatorium tempatnya biasa melakukan pengamatan. Meskipun ia sempat merinding membacanya, Ahra tetap melanjutkan membaca untuk mendapatkan informasi yang lebih lanjut. Matanya dengan saksama menyapu seluruh artikel di surat kabar tersebut dan mencernanya dengan baik dalam otaknya.

Ahra merasa ngeri sekarang. Ia tak akan lagi mau pulang sendirian, minimal Jongin atau Baekhyun harus bersamanya. Dan ia juga tak mau lagi menginap di observatorium, disana juga terlalu menyeramkan. Ditambah lagi di artikel tersebut dikatakan yang terbunuh adalah seorang perempuan buronan yang ternyata pembunuh juga.

Ah, pastilah orang yang membunuh perempuan tersebut lebih mengerikan dibandingkan perempuan itu. Bayangkan saja. Seorang perempuan. Lalu ia pembunuh, dan ia dibunuh. Sampai sekarang polisi masih mencari pelaku pembunuhan tersebut.

Buat apa ia mencari pembunuhnya? Perempuan itu pantas mendapatkannya… batin Ahra dalam hati.

Perempuan tewas..

Dekat observatorium…

Teriakan perempuan..

Otak Ahra secara otomatis memutar balik peristiwa malam dimana ia mendengar teriakan seorang perempuan. Teriakannya begitu nyaring dan memekakkan telinga. Namun Ahra yakin dirinya saja yang mendengarnya, karena waktu itu terjadi ‘penghentian waktu’ yang membuat Ahra merinding. Mungkin saja perempuan itu, mungkin saja itu tepat ketika ia akan dibunuh.

Oh Sehun..

Ahra berdecak kesal ketika nama itu melintas di otaknya. Mengapa akhir-akhir ini Ahra sering memikirkannya? Ia juga sempat kesal akhir-akhir ini ia tak menemukan pria itu lagi. Kemana perginya dia? Apakah ia pindah? Atau sekedar keluar kota? Berlibur mungkin?

Semenjak pertemuan terakhirnya yang gantung yang membuatnya jatuh sakit masih menyisakan pertanyaan besar. Mengapa ia menyuruhnya diam? Berarti Sehun tahu penyebab waktu terhenti itu.

“Chogiyo…”

Ahra melirik dibalik surat kabar yang dibacanya. Baru saja itu suara Sehun. Ia hanya memastikan bahwa pria itu tidak sedang mengajaknya bicaranya. Namun sialnya, pria itu sedang berdiri dihadapannya. Ia menenteng tas ranselnya. Tatanan rambutnya yang bewarna hitam legam dengan model hampir menutupi matanya, mengenakan kemeja denim bewarna biru jeans dan memakai celana jeans dengan warna senada. Ia sempat heran mengapa pria ini mengenakan kemeja denim yang cukup tebal dan menutupi seluruh badannya. Sebentar lagi musim panas, biasanya orang-orang akan mengenakan kemeja dengan lengan setengah atau Polo T-Shirt. Tubuhnya yang tinggi dan putih serta cara bicaranya yang sopan membuat siapa saja terpukau. Wajahnya yang proposional dan badannya yang bagus serta dadanya yang bidang. Ia lelaki sempurna.

Dan Ahra masih belum bisa melepaskan teorinya mengenai Oh Sehun seorang vampir. Ditambah lagi pria ini tidak membawa makanan atau minuman sedikit pun.

“Emm.. bisakah aku duduk disini? Tempat yang lain sudah penuh?” tanya Sehun lembut.

Ahra melirik keadaan kafetaria. Ia benar-benar tak sadar bahwa keadaan kafetaria benar-benar sesak. Seluruh meja telah penuh dengan anak-anak yang sekedar ngumpul. Hanya meja Ahra yang memang diisi oleh 1 orang. Akhir-akhir ini ia lebih suka menyendiri di kafetaria dibandingkan dengan Yerin, Jongin dan Baekhyun. Bahkan Ahra tidak memberitahu Yerin kalau ia sekarang berada di kafetaria langganan mereka.

“Oh.. silahkan..” balas Ahra sopan. Matanya mengikuti gerak Sehun dari menarik kursi hingga duduk.

Bahkan cara ia duduk saja benar-benar menarik. Ah, Choi Ahra kau tak boleh terpukau olehnya…batinnya kesal.

Sehun sadar bahwa Ahra sedang menatapnya. Ia melirik Ahra sedikit.

“Maaf membuatmu terganggu…” kata Sehun memecah keheningan diantara mereka.

“Oh… gwenchana.. gwenchana. Aku baik-baik saja. Jangan salah paham…” kata Ahra buru-buru. Ia takut kalau Sehun salah paham soal dirinya.

“Aku agak menyeramkan,ya? Pertemuan pertama kita kurang bagus…” kata Sehun sambil tersenyum indah.

Kontrol dirimu, Ahra.. Kontrol..

“Jadi, itu dirimu? Dimalam hari di observatorium? Kau yang……”

“Hampir menciummu..” kata Sehun memotong omongan Ahra. Ia tersenyum malu dan menahan tawanya melihat Ahra yang bersemu merah.

Ahra mendesah kesal. Sekarang ia di depan Ahra, mengajaknya bicara dan menganggap bahwa kejadian waktu itu hanya lelucon baginya.

“Aku Oh Sehun…” kata Sehun memperkenalkan dirinya.

“Choi Ahra..” jawab Ahra datar.

“Senang berkenalan denganmu…” kata Sehun sambil tersenyum manis. Ahra hanya sanggup membalasnya dengan senyuman yang terpaksa. Ia terpaksa menarik bibirnya agar terbentuk senyuman.

Dan setelah itu keheningan mengisi diantara mereka berdua. Baik Ahra dan Sehun sama-sama bingung ingin membahas tentang apa. Namun di dalam pikiran mereka, satu hal yang sama. Mereka sama-sama penasaran dengan satu sama lain. Ahra sempat menangkap Sehun mencuri pandang kepadanya lalu cepat-cepat ia memalingkan wajahnya agar tidak ketahuan oleh Ahra.

“Apa yang kau rasakan ketika bertemu denganku? Kau takut?” Kata Sehun memecah keheningan.

“Mwo?”

Ahra mengerutkan keningnya. Pertanyaan aneh. Biasanya orang-orang akan bertanya pertanyaan membosanan seperti dimana kau tinggal, kuliah di jurusan apa, apa hobimu, kau suka musik apa. Dan ia bertanya apakah Ahra takut dengan Sehun, seakan-akan Sehun adalah orang yang berbahaya.

“Anni…” jawab Ahra ketus. Malah, Ahra kesal dengan Sehun.

“Lalu, mengapa kau diam saja soal kejadian waktu itu?”

“Memangnya apa yang kau lakukan jika aku memberitahu yang lain? Kau akan membunuhku?” tanya Ahra.

Sehun langsung membeku dan ia tidak bisa mengiyakan pertanyaan Ahra.

“Kau… tidak mengerti….” kata Sehun akhirnya.

“Oleh karena itu juga, aku tidak mengerti. Aku tidak memberitahu yang lain karena aku tidak mengerti. Bisa-bisa mereka akan mentertawakanku…”

Sehun terbatuk kecil, menyamarkan suara tawa pelannya.

“Mengapa? Lucu?” tanya Ahra ketus lagi.

Sehun menggeleng pelan.

“Tidak. Pemikiran kita sama….”

Ahra tak habis pikir dengan pria yang satu ini. Apa sebenarnya keinginannya? Mengapa ia tiba-tiba datang kepada Ahra?

“Baiklah.. Akan kuberitahu sedikit. Aku.. tidak tidak.. Kau. Kau susah ditebak.” Jelas Sehun cepat, ia bingung bagaimana mendeskripsikannya.

“Jadi, maksudmu.. kau cukup pintar menebak sifat orang?”

“Ya. Aku bisa merasakan sifat-sifat orang di kafetaria ini. Tapi kamu, kau kosong. Apakah kau punya semacam pelindung?” tanya Sehun kritis, ia memicingkan matanya.

Ahra sekarang benar-benar takut. Apa maksudnya hanya Ahra saja yang tidak bisa ia tebak sifatnya? Maksudnya Ahra adalah orang jahat.

“Kau bukan vampir,kan?” celetuk Ahra penasaran.

“Bukan.. aku hanya… manusia aneh.”

“Aneh?”

Oh baguslah ia sendiri sadar kalau dia aneh… kata Ahra dalam hati.

“Tunggu.. tunggu, jadi maksudmu aku juga manusia aneh?” tanya Ahra merasa tersinggung.

“Bukan… bukan itu maksudku…”

“Lalu?”

“Mungkin kau perempuan spesial, yang luar biasa…”

Ahra tertegun mendengar pernyataan Sehun. Ia juga mengatakannya tidak main-main, sorot matanya tajam. Ia tidak sedang bercanda.

“Pasti kau juga spesial. Kau bukan manusia biasa…” kataku.

Sehun tertawa masam. Ia tak setuju dengan pendapat Ahra.

“Aku dalam kondisi yang berbeda.. Aku tidak spesial..” jelas Sehun.

“Jadi benar,kan? Kau vampir?”

“Astaga Ahra, mengapa kau pikir aku vampir?” tanya Sehun kesal.

“Kau tampan…”

Ahra buru-buru menutup mulutnya.Tak pernah dipikirkannya untuk mengucapkan hal itu. Kalimat itu langsung meluncur lewat mulutnya. Ia sama sekali tidak berpikir soal itu. Wajah Ahra memerah, ia malu. Rasanya ia ingin menggesek wajahnya di aspal agar Sehun tidak melihat betapa malunya dia.

Dan dugaan Ahra benar, Sehun terkekeh pelan melihat tingkah Ahra yang berusaha menahan malunya.

“Bukan… bukan itu. Jangan salah paham. Kau memang tampan tapi aku hanya sekedar bilang. Kau.. kau…” kata Ahra gugup, ia berusaha mencari alasan yang tepat.

“Neo.. neo..kenapa kau tidak memesan makanan? Atau minuman? Ini kan kafetaria!” kata Ahra nyaring. Suara nyaringnya membuat semua orang melihat ke arah Sehun dan Ahra. Semua orang nampak kaget melihat Sehun bisa mengobrol dengan orang lain kecuali Chanyeol.

“Memangnya harus memesan sesuatu kalau hanya ingin duduk disini?” tanya Sehun ketus.

“Tentu saja! Kau duduk disini tanpa memesan sesuatu? Bagaimana jika ada orang yang memang ingin memesan makanan atau minuman disini dengan serius?” kata Ahra hampir berteriak, ia hampir bangkit dari kursinya. Ahra tak sengaja menangkap tatapan sekelompok anak yang bingung melihatnya. Ia lalu memutar kepalanya sedikit dan ternyata seluruh orang menonton Ahra dan Sehun.

Ahra yang masih membeku tak bisa bergerak, menatap sekelilingnya, dipaksa duduk oleh Sehun. Sehun memegang punggung Ahra sampai Ahra bisa duduk dengan sempurna.

“Kecilkan suaramu…” kata Sehun sinis. Ia telihat tidak nyaman juga.

“Oh.. sorry..” jawab Ahra malu.

“Jadi, kau ingin aku pergi?” tanya Sehun, ia sudah berniat untuk menenteng tasnya dan hampir berdiri, sebelum akhirnya Ahra menahannya.

“Bukan. Astaga, Sehun.. Jangan salah paham..” kata Ahra sambil memegang lengan Sehun. Sehun melirik lengannya yang sedang di pegang Ahra, dan Ahra tahu apa maksudnya. Cepat-cepat ia melepasnya.

“Ah.. maaf. Maaf.. Jangan salah paham lagi, okay?” kata Ahra buru-buru memperingatkan sebelum Sehun memancingnya lagi.

Sehun akhirnya duduk kembali sambil tersenyum menang. Sedangkan Ahra, ia terlihat kesal karena harus merayu Sehun dengan cara seperti ini. Rasanya harga dirinya baru saja jatuh di depan Sehun.

“Kau cukup lucu…” kata Sehun terkekeh pelan.

“Dan memalukan. Ah….” sambung Ahra sambil menutup sebagian wajahnya karena malu.

“Tidak.. tidak. Itu tidak memalukan, hanya lucu…”

“Jadi, kenapa kau tidak memesan sesuatu?” tanya Ahra langsung mengganti topik.

“Aku kenyang dan tidak haus. Hanya ingin duduk saja disini…” jawab Sehun santai.

Ahra memicingkan matanya kearah Sehun, ia curiga.

“Jinjja? Hanya ingin duduk-duduk saja?” tanya Ahra semakin sinis.

“Well, sebenarnya aku menunggu Chanyeol. Ia bilang akan menungguku di kafetaria. Jadi, disinilah aku. Kau?” tanya Sehun.

“Aku? Oh.. aku hanya ingin sendiri. Terlalu banyak hal aneh yang terjadi akhir-akhir ini..” jawab Ahra lesu.

Sehun hanya mengangguk pelan.

“Jadi, kau bukan vampir,kan?” tanya Ahra lagi. Ia masih tertarik dengan teori Sehun-adalah-vampir.

“Anni..”

“Bisa kau buktikan?” tantang Ahra.

“Baiklah. Aku akan mentraktirmu makan. Kau bisa pesan apa saja. Aku ajan mengajakmu makan bersama…”

“Mwo?”

“Kau tidak mau?” tanya Sehun.

“Ya! Bukan itu maksudku. Kau.. kau… Mengapa kau pintar sekali memancing pertanyaan?” jawab Ahra kesal, ia mendesis pelan. Ia dengan kesalnya membuka surat kabarnya lagi dan melanjutkan membaca berita di surat kabar yang belum ia selesaikan.

Sehun hanya bisa tertawa pelan melihat tingkah Ahra yang tidak mau terlihat memalukan di depannya, meskipun ia sudah sangat memalukan. Sehun hanya bisa melihat rambut Ahra, wajahnya ia sembunyikan di balik surat kabar yang ia baca. Surat kabar itu tidak tembus pandang, padahal Sehun inging melihat ekspresi Ahra sekarang. Sedangkan Ahra dibalik surat kabarnya, ia mengumpat kesal. Ia sama sekali tidak berniat untuk membaca surat kabarnya. Sehun kagum dengan perempuan satu ini. Zaman sekarang hanya sedikit anak muda yang ingin menghabiskan waktunya untuk membaca surat kabar ala-ala orang tua, apalagi seorang perempuan.

Sampai akhirnya Sehun tak sengaja menangkap berita di halaman depan, berita headline. Berita tersebut berisi tentang ditemukannya seorang perempuan yang tewas dekat observatorium universitasnya. Raut wajahnya mendadak berubah. Ia menjadi takut.

“Ahra-ssi…”

Ahra melirik dari balik surat kabarnya lagi, ia menjaga ekspresinya agar tidak membuat wajah yang memancing Sehun untuk menggodanya lagi.

“Boleh aku pinjam surat kabarnya?” tanya Sehun.

“Eh? Kau ingin membaca apa?”  tanya balik Ahra, ia melihat tatapan Sehun mengarah pada berita headline di halaman depan.

“Oh.. kasus pembunuhan itu..” celetuk Ahra.

“Kau sudah membacanya?” tanya Sehun.

“Sudah. Dan pembunuhan itu terjadi dekat observatorium universitas kita. Sekarang aku tidak akan pulang sendirian ataupun menginap disana..” kata Ahra bedecak kaget.

Sehun menjaga ekspresinya agar tidak terlihat aneh. Ia tidak tahu harus merespon dengan berkata apa.

“Oh, aku mahasiswa astronomi. Makanya aku sering di observatorium…. Kau mahasiswa akuntasi tapi mengapa kau keluar malam-malam waktu itu? Bukankah agak menyeramkan?” tanya Ahra.

“Darimana kau tahu kalau aku mahasiswa akuntasi?”

Matilah aku. Ah, Ahra kau bodoh sekali…. kata Ahra dalam hati, wajahnya mengernyit.

“Kau cukup populer di kampus.Berhentilah membuatku merasa tersudut…” kata Ahra jengkel.

Sehun sekali lagi dibuatnya tertawa pelan.

“Aku ada urusan, kebetulan aku sedang lewat jalan disitu..” jawab Sehun asal.

“Kan ada jalanan besar, mengapa harus melewati hutan itu?” tanya Ahra balik.

Sehun berdiam saja, ia sudah muak mendengar pertanyaan Ahra yang tidak ada habisnya. Dan Ahra juga sepertinya tidak menuntut pertanyaan ini.

“Hmm.. baiklah. Tapi, aku curiga. Apakah perempuan yang tewas ini adalah perempuan yang waktu itu?” kata Ahra, ia berbicara pada dirinya sendiri.

“Maksudnya?” tanya Sehun hati-hati.

“Oh.. bukan apa-apa..” bantah Ahra.

“Kau mengenal perempuan itu?”

“Tidak, hanya saja.. Aku sempat mendengar suara teriakan perempuan beberapa hari lalu. Waktu itu mendung, dan hujan deras..” jelas Ahra.

Nafas Sehun tersengal. Rahangnya mengeras, ia tidak bisa menggerakkan mulutnya. Namun ia berusaha untuk tetap fokus dan menjaga ekspresi wajahnya agar tidak terlihat terkejut. Ahra, untung saja ia tak memperhatikan Sehun. Ia menatap surat kabarnya, berusaha mengingat kejadian waktu itu.

“Itu cukup mengerikan…” celetuk Ahra.

“Yeah, pasti mengerikan jika bisa mendengar teriakan seorang perempuan di malam hari yang sepi…” timpal Sehun.

“Ketika itu, waktu juga terhenti. Itu pertama kalinya bagiku…” kata Ahra, tatapannya kosong.

Ternyata ia sadar… sahut Sehun dalam hati.

Ahra langsung menatap Sehun, membuatnya salah tingkah.

“Apakah kau tahu soal ini? Mengapa aku tidak membeku ketika waktu terhenti? Mengapa kau juga tidak membeku? Pasti kau tahu jawabannya…” kata Ahra kasar.

“Aku juga tidak tahu, Ahra….” jawab Sehun.

“Jangan berbohong!” perintah Ahra.

Iya, aku berbohong..Akulah yang menghentikan waktunya.

“ Aku juga tidak sadar waktu itu, mengapa waktu bisa terhenti? Kau dan aku….”

Ahra menghela nafas panjangnya..

“Aneh rasanya. Mengapa perempuan itu menjerit?” tanya Ahra ngomong sendiri.

“Apakah pembunuhnya….” sambung Ahra.

Tidak, tidak.. jangan menebaknya…

“Memiliki kekuatan menghentikan waktu?” tebak Ahra

Hati Sehun mencelos. Ahra terlalu cepat menebak sesuatu yang benar.

“Tidak mungkin. Maldo Andwae!!” kata Ahra sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Pikiran tersebut terdengar kekanak-kanakan baginya.

Sehun akhirnya bisa bernafas lega mendengar perkataan Ahra barusan.

“Itu terdengar aneh,kan? Bisa menghentikan waktu.. Memangnya di zaman modern seperti ini masih ada orang kuno seperti itu? Huh…” kata Ahra sambil tertawa pelan.

Kuno? Hati Sehun cukup tersakiti mendengar Ahra yang secara tidak langsung mengatakan dirinya orang kuno.

“Kuno?” tanya Sehun balik, ia terdengar tak setuju.

“Iya. Mengapa? Kau percaya kalau di zaman sekarang ada orang yang memiliki kekuatan seperti itu?”

“Iya.. Pasti ada seseorang diluar sana. Contohnya aku…” kata Sehun sambil menunjuk dirinya sendiri.

“Hei! Kau ini orang aneh, bukan yang punya kekuatan gaib.” Jawab Ahra gusar.

Sehun tertegun mendengar pernyataan Ahra.

“Ya.. itu maksudku. Orang aneh. Kau juga orang aneh,kan?”

“Kan kau bilang aku spesial..” Cukup bagi Ahra, cukup membuatnya jengkel pertanyaan konyol Sehun yang satu ini.

“Jam berapa ini?” tanya Ahra, ia lalu melirik arlojinya. Matanya membulat.

“Oh. Astaga.. Mian, aku harus masuk kuliah. Bye..” kata Ahra buru-buru, ia lalu pergi sambil menenteng tasnya dan ia tinggalkan surat kabar yang ia baca.

“Ambil saja, aku sudah selesai baca. Dan oh, kau masih berhutang beberapa pertanyaan dariku dan soal traktiranmu. Jangan kira aku lupa..” kata Ahra sambil berjalan keluar. semakin dekat dengan pintu keluar, ia semakin meninggikan suaranya.

Sehun lalu mengacungkan jempolnya tanda setuju, ia tersenyum puas. Setelah Ahra hilang dari hadapannya, Sehun cepat-cepat meraih surat kabar dan langsung membaca beritanya baik-baik.

To Be Continued.

 

.

Advertisements

68 responses to “METEOR GARDEN CHAPTER 4 – ALPHA PHOENIX

  1. Musuhnya sehun siapa seh? dr awal ak curiga sama chanyeol tp ntahlah hehehe
    ahra ini sebenarnya siapa? Si Jongin aja samoe jd pelindungnya yg dtg dr langit. Aaaah penasaran

  2. Jongin itu emg beneran malaikat pelindung ahra? Ato manusia biasa? Kalau emg bener…kenapa jongin ikutan beku saat waktu berhenti? .-. Ternyata chanyeol udah tau semuanya ya XD nextnya ditunggu thor 🙂 sumpah ff ini bikin penasaran XD keep writing 🙂

    • Iya.. dia itu angel (into your world) *ini kan lagu eksoh?*
      Tapi dia emang bedalah..
      Iya Chanyeol itu sudah tahu semuanyaah..
      Iya.. makasih ya uda komen. saranghae love love love

  3. Jd trnyta chanyeol jga tau yaa kalo sehun yg ngebunuh org? Aku msh pnsaran sma siapa musuh sehun. Dan ap yg mnybabkan sehun terkena kutukan. Dan mnyebabkan org tua sehun meninggal. Aku pnsaran dina! Aah pokok ee next chapt lh. Aku tggu ya. Keep writing and hwaiting chingu^^

    • Iya sehun emang blm aku jelaskan secara gamblang siapa dia sebenarnya…tpi nnti next next semuany akan semakin jelas. Ditunggu aja ya.. thanks :*

  4. salut sma chanyeol,, udah tau sehun punya kekuatan dan bunuh org tpi tetep jadi tmen dketnya
    aku kira chanyeol gk tau apa2 soal sehun
    kok dipart ini gk ada bagian jongin yg biasanya dket sma ahra,,
    next chap dah author nim
    keep writing

  5. Jongin pelindung Ahra. Chanyeol teman Sehun, dia menerima kenyataan bahwa sehun aneh dan saat Sehun melakukan aksinya (lebih tepatnya mengerjahi Chanyeol) Chanyeol pun tak bergerak tapi Ahra tidak. Mungkinkah Ahra, Hmmmmmm…… next and fighting…… ^^

  6. masih penasaran siapa musuh sehun, apa mungkin chanyeol? Terus juga kai itu malaikat atau bukan? Masa pas waktu berhenti kai juga ikut berhenti kecuali sehun sama ara, tapi aku udh seneng akhirnya dipart ini sehun sama ara akhirnya ngobrol juga/? Hehe

  7. aku jadi penasaran sm ahra..kok keliatannya ada sesuatu hal didirinya yaa..?? tapi apa..???
    .ehh si sehun..kok bisa lngsung akrab gitu sih ma ahra..hayooo..
    keliatannya dari percakapan yeol sehun tadii ada yg udah tumbuh niih perasaan aneh ke ahra..hahaha,.jangan mengelakk dong..
    .aku nunggu” moment HunRa iniiii..ughh pengen bgt baca yg sweet” dari mereka…
    semangatt ngepostnya ya chingu…

    • Memang ada. kan Ahra manusia aneh nan spesial.
      bunga bunga cinta bermekaran… *bacanya jangan sambil nyanyi ya :D*
      okeh. tunggu aja yang sweet sweet nya 😉

  8. Waaaaaaaaaattttttt ????? Udah TBC aja nih, gantung banget kan yaa -,-
    Chanyeol kok bisa tau kalo sehun bukan manusia ? Jangan* chanyeol juga sebangsa sama sehun ? Sama* orang “aneh” ? Terus sebenernya musuhnya sehun itu siapa ? Kok nyangkut pautin silsilah keluarga sehun tadi kutukannya, terus sehun kok bisa kena kutukan ? Emang sehun ngelakuin apa kok sampe kena kutukan ? Ya ampuuunn, banyak banget pertanyaan aku, abisnya cerita ini bikin penasaran sih yaa, tapi yang pasti cerita ini asli keren banget, fantasi astronomi, keren gilaak 😁
    Pokonya next chapternya aku tunggu banget lo dina, semangat terus yaaa !! ^^

    • hehehehe.. mian ya kak main TBC TBC aja.wkwkwk..
      Chanyeol itu… nanti dijelaskanlah di next next siapa itu dia..
      Makasih ya kak.huhuhu.. saya terharu *nangis di pundak dyo*
      gamshamnida ayurukmi 🙂

      • Ehehee, emang fanfic kamu keren kok, jadi ya pantes aja dapet pujian 😁
        Oiya, jangan panggil aku kak dong, kita se-line kok, panggil ayu aja, oke ? 😁
        Okedeh, semangat terus ya dina, aku tunggu chapter 5 nya yaa ^^

  9. Musuh Sehun siapa sih? Bukan Ahra kan ya? Jadi penasaran deh. Ditunggu next chapternya. 화이팅^^

  10. Bagus banget fanficnya, kaya ngerasa aku bener-bener masuk dalem cerita. Jarang banget fantasy yang kaya gini. 5 jempol deh buat kamuuu 👍👍👍👍👍

  11. Hiyaaa gak sabar baca chapter selanjutnya, eonni dapet pencerahan/? dari mana sih? keren banget ffnya, udah gitu ada sehunnya lagi, ditunggu ya next chapternya, semangat nulisnya eonni, fighting!!^^♡

  12. Maaf thor baru baca.. Sebenernya tadi pagi udh baca tp aku stop dulu karna sekolah 😀
    keren ff nya.. Bikin penasaran sebenernya musuh si sehun siapa? Chanyeol? Keknya gak mungkin deh. Dia kan somplak (?)
    entahlah hanya author dan Tuhan yg tau 😀
    lanjut ya thor.. Ditunggu bgt!!
    Fighting!

  13. Okay2.. Tebakn sehun bner. Ahra pny pelindung. Jongin kh?
    Ak tkut klo chnyeol trnyt bner2 msuh sehun, n mreka tau x telat -_-
    suka sm character x sehun. Sopan XD. N buat ahra… Hahaha…. Bnyk bgt malu x XD.
    Siapa ahra sbnrny? Ap nnti sehun d hruskn ngbunuh ahra?
    Sehun jdi hrus mngwsi ahra. Oh y thor, ak suka sm prckpn mreka XD.
    D tnggu chp slnjut x, fighting n keep writing thor!:)

  14. waahh bang chanyeol baik banget mau bersihin flat sehun walau gk smua,hwoaaa trnyara yeolie udah tau sehun mahluk aneh dan pembunuh,tpi hebatnya dia mau sahabatan sma sehun kkk,takut kalo bener yg jadi musuh sehun itu ahra,kalo emang bner kira2 sehun bunuh ahra gk yah??
    ditunggu nextnya! fighting!

  15. ak kira chanyeol itu belum tau kalo sehun ska ngbunuh saat meteor jatuh.
    bener2 bikin penasaran sama musuhnya sehun.
    btw ko jonginnya gk muncul dipart ini sih…

  16. aduh.. sebenernya sehun itu siapa??? dan ahra itu siapa?? kok sehun sampai g ak bisa baca auranya ahra. apa jongin pelindung ahra?? aduh…. banyak bangt pertnyaan ya…
    oh ya salam kenal,, panggil dina aja ya.. maaf telat #telat komen
    dtunggu next chap nya….

  17. Wah Daebak rasanya seperti masuk ke dalam cerita ini deh KEREN!!!
    Tapi romancenya kurang nih thor, dan masalahnya blm terlihat Lanjut Thor penasaran nih FIGHTING ✊

  18. Ahra terlalu pintar untuk menebak, dia juga teliti, cukup peka, mungkin itu juga sebabnya dia bisa ada di fakultas astronomi karna dia pintar-dan ini gak ada hubungan sama cerita nya sama sekali-

    Btw aku seneng banget ChanHun sahabatan, selalu seneng klo di ff yg aku tunggu2 banget kelanjutannya itu ternyata ada ChanHun yg sahabatan disitu, tapi juga kenapa Chanyeol bisa tau segala sesuatu tentang Sehun? Kenapa Chanyeol gak takut atau menghindar gitu pas tau soal Sehun, justru peduli? Dan aku masih penasaran kutukan apa yg Sehun punya sebenernya? Siapa Ahra yg sebenarnya?

    Masih banyak misteri, so ditunggu chap 5 nya ^^ Fighting!!

  19. ninggalin jejak lagi
    maaf komen aku waktunya berdekatan bgt
    selisihnya tpis bgt kan
    sebenernya aku baca ini kemarin tpi karena blm konek internet jadi nggak bisa langsnung komen deeh
    maklumi lah
    aku bukan sider ….aku new reader kok…beneran *semoga author percaya hing~ *itu abaikan aja….curhatan aku doang*
    untuk ceritanya
    sehun sma ahra makin deket aja yaa….
    apa jangan” ahra itu musuhnya sehun makanya nggak terpengaruh sma waktu yg sehun hentikan dan auranya nggak bisa kebaca
    tpi masa sih ahra…..tpi bisa jadi juga yaa
    di tunggu nextnya

  20. ahra itu titisan dewa ya? #apaannih -_- kok nggak bisa sehun baca sih aura dia.
    apa karena ada kai yg menjadi pelindung ahra makanya nggak mempan gitu.
    apa mungkin kai juga ditugasin buat lindungin ahra makanya dia turun dari langit?
    trus apa sebenarnya penyakit sehun? siapa yg membuat tanda kutukan itu pada sehun? siapa musuh sehun?
    eh… banyak banget yak pertanyaannya :-V

  21. Musuhnya sehun itu siapa sih.?? Aku sih berpendapat kalo itu ahra yha, gk tau kenapa…soalnya cuma dia yg gk kena pengaruh wktu sehun dan sehun gk bisa baca aura dari ahra..
    Gk tau lah, next chap ditunggu thor

  22. Pingback: METEOR GARDEN CHAPTER 5 | SAY KOREAN FANFICTION·

  23. musuhnya sehun itu siapa sih???? kalau menurut aku ungkin itu keluarganya ahra. tapi aku nggak mauuuu…..
    soalnya ahra sama sehun cocok bangeet….
    tapi terserah sih ini ff kan bukan aku yang buat 😀

  24. makin complicated bgt cerita’y..

    huaaa baca chap 5 dl deh abis uda penasaran tingkat dewa nih,hehehe!!!!

    publish chap 6 dan seterus’y jangan lama2 ya saeng!!

  25. uhh seru bgt obrolannya chanhun, kyaa chanyeol sahabat yg baik banget yah jadi terhura wkwkwk. jarang atau bahkan kayanya baru kali ini baca ff yg sehun karakternya kaya gini sopan, baik, gak jutek biasanya sehun kalo gak pendiem, jutek, dingin, kasar. tapi ini gak lah yahh ahh bagus lah pokoknya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s