COMPULSION LOVE [CHAPTER 4] ~By ParkFitri~

compulsion love 22

COMPULSION LOVE [CHAPTER 4] || author : IE  / ParkFitri

main cast : Oh Sehun (EXO) ; Choi Eun Ha (OC) ; Park Chanyeol (EXO) other cast ||

Romance, Hurt, Sad, Marriage life, angst, fluff ||

Chaptered || PG- 15

[prolog] [chapter 1] [chapter 2] [chapter 3]

disclaimer : fanfiction ini hasil dari otak saya. bila ada kesamaan nama, kejadian, tempat mungkin karena ketidak sengajaan. selalu biasakan membaca note dibawah dan RCLnya 🙂

“istri CEO salah satu perusahaan terbesar di Korea telah meninggal dunia kemarin malam. Beliau meninggal di RS di Canada dan kini akan disemayamkan di gedung persemayaman X Korea. Keluarga sangat terpukul atas meninggalnya wanita yang dikenal ramah dan dermawan itu, terlebih suami dan anaknya Oh Sehun. Terlihat beberapa tamu penting te,-….”

Eun Ha menutup mulutnya ketika orang yang ia rindukan tersorot meski dari jauh, bisa dilihat pengambilan gambar itu dari luar ruangan. Di gambar itu terlihat Sehun tengah diam memandang foto ibunya . Meski Sehun hanya muncul sebentar saat namanya disebut oleh wartawan itu, Eun Ha merasakan sakit di ulu hati melihatnya.

Ia berdiri dari duduknya hendak pergi dari tempat itu. namun, ia ditahan oleh tangan Chanyeol yang menariknya. Eun Ha baru menyadari ada seseorang disana. Matanya beralih menuju mata namja yang mencekram tangannya itu.

“kau sudah berakhir dengan Sehun,” ujar Chanyeol datar. Dilihat yang diajak bicara hanya diam, ia pun melanjutkan.

“aku takkan membiarkanmu tersakiti oleh dia lagi. Biarkan orang itu mendapatkan balasannya karna telah menyakitimu…”

Eun Ha masih memandang Chnayeol, bahkan ia masih dengan posisi tangannya digenggam oleh namja itu.Seperti tengah bimbang, antara ia tetap disini atau pergi. Eun ha hanya memilih diam.

“belajarlah tuk melepasakan hal-hal yang terus membuatmu terluka. Jika kau memang berarti baginya, ia takkan memberi luka padamu seperti di masa lalu,”

“aku bukan tak berarti baginya. Hanya saja aku belum berarti apa-apa padanya,” Eun Ha mulai menemukan suaranya. “kita sebagai menusia takkan bisa memaksa perasaan orang lain. Takkan pernah. Kita hanya bisa mengubahnya menjadi lebih baik. Dan itu yang ingin aku yakinkan pada Sehun,”

Chanyeol menangkap kata itu dengan khawatir. “kau menyukai Sehun ?”

Eun Ha terlihat terkejut dengan pertanyaan Chanyeol barusan. Ia bahkan baru menyadari apa yang ia katakana sebelumnya. ‘Bagaimana ia bisa mengatakan halitu?’ Setelah mengerjapkan matanya beberapa kali ia baru menjawab dengan datar. “aku tidak tau,”

Benar ia tak mengetahui perasaannya kini dengan Sehun. Ia sendiri masih terus memikirkannya. Lalu, ia kembali teringat ia tentang meninggalnya mertuanya itu.

“biarkan aku pergi Chanyeol-ah. bagaimanapun ia masih suamiku, dan yang meninggal adalah mertuaku sendiri,”

Mendengar yeoja itu masih menyebut dengan kata ‘suami’, Chanyeol merasakan bersalah telah mengurug dan menahan istri orang lain. Lalu, ia segera melepas tangannya yang sedari tadi menggenggam tangan Eun Ha posesif.

Melihat kesempatan itu Eun Ha pergi dari apartemen Chanyeol. Sedangkan namja itu hanya memandang punggung yeoja yang mulai pergi dari ruangannya lalu berkata.

“takkan lama lagi,” kata Chanyeol sebagai balasan atas kata Eun ha terakhir kali sebelum meninggalkan tempatnya, meski kata itu hanya didengar oleh telinganya sendiri.

***

Na Ra memasuki gedung dimana banyak orang mengenakan pakaian serba hitam disana. Ketika ia hendak berbelok ke gedung utama, ia bertemu dengan tuan Oh-ayah Sehun-. Segera ia membungkukkan badan dengan sopan.

“aku turut berduka Mr. Oh. Semoga Mrs Oh tenang disana. Tadi Sehun menel,-

“bisa kita bicara sebentar Na Ra-ssi?” Tanya tuan Oh menyela kata Na ra.

Na Ra sempat mengerjapkan mata dua kali sebelum akhirnya mengangguk dan mengikuti tuan Oh. Mereka berdua berhanti di sebuah halaman belakang gedung, disana sepi tak ada wartawan ataupun tamu lain. Hanya ada beberapa orang mengobrol namun, lumayan jauh dari tempat tuan Oh dan Na Ra berdiri.

“ada sesuatu yang ingin Mr Oh katakan padaku?” Tanya Na Ra

“Ada,” jawab tuan Oh dengan wajah serius. “mulai sekarang jauhilah Sehun,”

Mata Na Ra melebar. Sepengetahuannya ia tak pernah memiliki kesalahhan terhadap Sehun dan keluarganya. Ia pernah bertemu keluarga Sehun saat di luar negeri, ketika Mr Oh dan Mrs Oh mengunjungi Sehun, dan Na Ra meyakinkan dirinya bahwa pertemuan pertamanya itu berlangsung dengan baik. Sekarang ia dibuat bingung dengan perkataan Tuan Oh.

“dengan Sehun? Kenapa Mr Oh?”

“dia sudah menikah 2 bulan yang lalu sebelum kau kembali ke Korea. Dia menikah dengan yeoja pilihan istriku. apa Sehun belum memberi tahumu?”

Seperti jatuh dari langit mendengar Sehun telah menikah. Itu bukan perasaan yang indah. Namun menyakitkan. Bahkan lebih menyakitkan ketika yang mengatakan kenyataan itu adalah ayah Sehun, bukan darimulut namjanya sendiri. Seperti jatuh dari langit diatas tumukan paku yang siap menusuk tubuhnya.

“belum,” jawab Na Ra setengah sadar. Hati Na Ra mengalami disorientasi mendengar kenyataan yang terlalu pahit dari obat paling mengerikan didunia.

Ayah Sehun menghela nafas berat. “aku sudah meminta Sehun untuk segera mengatakannya padamu. Tapi sepertinya ia sangat sulit melepasmu….,” mimik wajah tuan Oh berubah sedih.

“… aku tau ini berat untukmu dan Sehun. Maka dari itu aku membiarkan dia sendiri untuk mengatakannya sendiri. Namun, kulihat hubunganmu dengan Sehun membuatku dan almarhum istriku khawatir. Sehun mungkin tak bisa menghindarimu, dia juga sulit mendengarku. Kini hubungan kalian bergantung padamu…” ayah Sehun masih memandang Na Ra yang hanya bisa terdiam.

“Eun Ha adalah orang yang sangat baik. Dia pemilik hati yang sangat kuat dan lembut. Melihatnya seperti melihat cerminan istriku. Aku tak ingin 2 wanita yang kusayangi itu tersakiti dan aku takkan membiarkan itu terjadi. Jadi aku memintamu secara pribadi untuk menjauhi Sehun…,”

Tuan Oh memegang bahu kanan Na Ra dengan sayang seperti kepada anaknya sendiri. “Na Ra kau adalah wanita yang baik,aku yakin kau bisa merasakan perasaan apa yang Eun Ha rasakan jika suami telah mengkhianatinya, dan aku yakin wanita manapun tak ingin merasakan itu. Dengar kau sangat sempurna Na Ra, kau bisa mendapatkan pria yang belum menikah manapun didunia ini. jadi kuminta padamu lepaskanlah Sehun,”

Sebenarnya tanpa ayah Sehun minta pun, Na Ra pasti akan menjauhi Sehun jika tau namja itu telah menikah. Namun, ia tetap merasa sakit dihatinya.kakinya lemas serasa ingin jatuh kapan saja, mengingat ia masih bersama ayah Sehun, menganggukkan kepala lalu membungkukan badan dan pergi dari tempat itu. Dengan setengah berlari ia menuju mobilnya sambil menutup mulut dengan punggung tangan. mencoba menahan tangisannya.

Na Ra membuka pintu mobil dan masuk kedalamnya. Tangisannya pun pecah tanpa bisa ia tahan lagi. Kemudian ia menghidupkan mobilnya dan mengendarai menjauh dari tempat itu. Niatnya untuk bertemu Sehun dan menenangkannya hilang dan kini nyeri yang ia rasakan dalam hatinya.

Apakah ia harus bersyukur atau menyesal telah mengetahui tentang namja yang ia cintai sudah menikah. Ada banyak perasaan yang ia rasakan sampai ia bingung mana perasaan yang mewakili dirinya sekarang.

Tidak! Tidak semudah itu melupakan orang yang lama tinggal dihati kita. Bahkan jika hatinya sudah ditebang pun masih ada akar-akar kenangan yang menancap kuat disana. Dan akar itu semakin menekannnya pada sebuah kenyataan pahit. Membuat hatinya sakit luar biasa hingga hampir meledak.

‘haruskah ia merelakan Sehun?’

***

Sehun masih berdiri ditempatnya-didepan foto ibunya- sejak 2 jam yang lalu. Gedung yang sedari tadi penuh dengan lautan manusia. Kini tinggal beberapa orang didalamnya. Sebagian besar mengantar ke tempat pemakaman bersama ayahnya, dan diantara keluarga hanya Sehunlah yang tinggal didalam gedung itu.

Ia memandang bingkai foto itu tanpa ekspresi apapun. pikirannya tengah memutar kenangan dirinya bersama ibunya semasa ia ingat saat kecil sampai sebelum meninggal. Tiba-tiba ia merasakan tangan mungil melewati pinggang, memeluknya dari belakang. Seketika kehangatan menjalar keseluruh tubuhnya. Ia bahkan baru menyadari dirinya dapat merasakan kehangatan itu.

Untuk sesaat ia membiarkan perlakuan ini, meski ia sendiri belum memastikan siapa yang memeluk dengan hangat seperti ini. ia membutuhkan ini sekarang, seakan pelukan itu membuatnya sedikit tenang.

Lama mereka dalam posisi itu. Sehun membalikkan badan dan matanya sedikit membelak sesaat. Dilihatnya seorang wanita dengan wajah yang selalu terlihat sayu dimatanya, berdiri dan menatapnya. ‘apakah matanya selalu sebam?’ banyak pertanyaan menari dipikirannya, hingga sebuah suara pelan yeoja itu membuyarkannya.

“apa kau sudah lama disini?” Tanya Eun Ha membuka suara, karna sedari tadi mereka hanya saling memandang satu sama lain. Sehun membalas pertanyaan Eun Ha dengan anggukan.

“kajja kita pulang!” ajak Eun Ha dengan menarik tangan Sehun. Namja itu tampak terpenjat sesaat kemudian menuruti Eun Ha.

***

Suara operator kembali menjawab panggilan Sehun terhadap Na Ra. Sudah 5 kali ia menghubungi tanpa ada balasan. Sepanjang hubungannya dengan Na Ra tak pernah dia mengabaikan panggilan Sehun sebanyak ini. ‘apa yang terjadi padanya’ ujarnya dalam hati. Sehun menyerah untuk mengubunginya. Lalu, ia mengetik pesan yang ditunjukan kepada Na Ra.

To           : My Angel

I Need You. . .

Ia memang membutuhkan yeoja itu sekarang. Hatinya sedih dan hancur karena kehilangan ibunya. ia butuh seseorang untuk menenangkannya sekarang. ia butuh gadis itu sekarang. Tak lama sebuah panggilan masuk di ponsel Sehun. Dengan tersenyum ia menerima panggilan itu segara.

“hubungan kita selesai sekarang!” Nada dingin itulah yang terdengar bahkan ketika Sehun belum mengucapkan salam.

“apa maksudmu, sayang?”

“sadarlah Oh Sehun kau sudah menikah. Kita tak bisa bersama lagi!” kini nada membentak dari seorang Kim Na Ra membuat Dahi Sehun berkerut.

“dari mana kau tau?” darah Sehun menaik mendendengarnya. Bagaimana wanitanya itu mengetahui rahasia ini? apa Chanyeol yang memberitahunya? Atau wanita itu? pikiran Sehun berkelut tentang pelaku yang menyebarkan rahasianya.

“tidak penting bagaimana aku bisa mengetahuinya. Dimasa depan jangan temui dan hubungi aku lagi,”

“bagiku penting siapa yang memberitahumu! Katakan siapa yang memberitahumu?!!” tanpa sadar sehun mengatakannya dengan nada tinggi. Terdengar suara terepenjat dari Na Ra, kemudian sambungan telpon itu terputus.

“SH*T!!” Sehun membanting ponselnya kelantai hingga pecah beberapa bagian ponsel tersebut. Ia meremas rambut hitamnya dan berteriak frustasi. Lalu, ia mendudukkan dirinya ditempat tidurnya dan pandangannya kosong seketika tubuhnya melemah.

Disinilah Eun Ha berada didepan pintu kamar Sehun dengan perasaan khawatir. Langit sudah menggelap dan namja itu berada dikamarnya -sejak mereka sampai dirumah. Ia berdiri dengan nampan berisi makan malam ditangannya. Tadi Eun Ha sudah mengetuk pintu kamar itu dan mengajak Sehun makan malam. Namun, tak ada jawaban. Hal itu sudah ia lakukan setidaknya sebanyak 3 kali.

Eun Ha kembali mengetuk pintu itu, dan jawabannya sama. Hening tanpa balasan. Dengan tangan yang berkeringat dan gemetar ia membuka pintu kamar Sehun. ia menghampiri namja yang terbaring diatas tempat tidur, lalu meletakkan nampan diatas meja kecil diruangan itu.

“Se-sehun-ssi?” panggil Eun Ha dengan takut-takut. Namun, hanya angin dari jendela diruangan itu yang menjawab.

“sehun-ssi, kau belum makan,” masih belum ada jawaban dari Sehun.

Lalu, dengan perasaan khawatir karna tak ada jawaban apapun dari namja itu, tangan Eun Ha terulur diatas tubuh Sehun. Namun, belum menyentuhnya karna bimbang. Ada perasaan takut dalam diri Eun Ha. takut jika namja itu akan memukulnya atau bahkan melakukan hal menyakitkan lainnya.

Namun, kembali ke perasaan awal yang khawatir dengan namja itu, ia menyentuh bahu Sehun yang berbaring membelakangi Eun Ha. Ia menyentuh bahu Sehun dengan sangat hati-hati. Seperti takut jika sentuhannya itu menyakitkan. Padahal tidak sama sekali. Saat itulah ia merasakan tubuh Sehun bergetar pelan.

“Sehun-ssi. Apa kau tidak apa-apa?” ujar Eun Ha Khawatir.

“tinggalkan aku sendiri!” terdengar suara Sehun dibalik tubuhnya.

“tapi, kau belum makan apapun sejak siang,”

“pergilah! Aku ingin sendiri!” Sehun terbangun dan berteriak, membuat mata Eun Ha membelak karna terkejut.

Namun, Eun Ha tak pergi seperti perintah Sehun. Ia memandang mata namja itu seperti berkata lain. Tenggelam dalam pandangan namja itu, Eun Ha dapat merasakan kesedihan yang mendalam yang dirasakan namja didepannya.

Sehun masih memasang wajah marahnya. Hingga tiba-tiba sebuah cairan bening menetes tanpa ia sadari. Eun Ha membelak melihat emosi Sehun yang tak ia mengerti. Tangannya terulur hampir menyentuh wajah tampan namja itu. namun, ditepis Sehun.

“kenapa kau tak meninggalkanku juga? Sama seperti mereka!!” teriak Sehun. “pergilah!! Kubilang pergilah!”

Tiba-tiba Eun Ha memeluk Sehun erat. Tangannya melingkar disekitar leher dan membenamkan disisi kepala namja itu.

“maaf. Maafkan aku,”

Eun Ha merasakan tubuh Sehun bergetar kemudian terdengar isakan-isakan kecil dibalik tubuhnya. Sehun menangis. Ia mencoba melepaskan pelukan namun, Sehun menahannya dengan memeluk lebih erat.

Sehun semakin menenggelamkan kepala disela leher dan membuat basah bahu yeoja itu. mencium wangi freesia lembut dari tubuhnya. Eun Ha hanya diam dengan mata yang membelak karena Sehun memeluknya erat dengan menagis. ‘apa yang harus aku lakukan?’ pikirnya.

“semua pergi. Kenapa semua pergi meninggalkanku?” Eun Ha mendengar kata namja itu membuat tangannya tergerak untuk mengelus punggung bidang namja itu dengan sayang.

“menangislah jika itu menenangkanmu,” ia mengatakannya karna melihat Sehun seolah menahan rasa sedihnya sejak digedung tadi. Setidaknya menangis menandai namja itu memang manusia yang memiliki perasaan.

“semua meninggalkanku,” ucap Sehun lagi.

“tidak. Aku tidak akan meninggalkanmu,”

Eun Ha merasa pelukannya melonggar. Lalu, ia memandang Sehun dengan sisa air mata diwajah yang bisa dikatakan sempurna itu. Karena penerangan dikamar hanya dari sinar bulan yang masuk melewati jendela, sehingga Eun Ha tak dapat melihat jelas wajah namja itu ketika menangis. namun, ia bisa melihat jelas mata elang Sehun menatapnya seperti menuntut penjelasan atas kata Eun Ha.

Sedangkan yeoja itu membalas tatapan Sehun tanpa adanya ketakutan disana seperti biasanya. Masih dengan wajah yang tak dapat Sehun artikan, Eun Ha kembali berucap. “aku tidak akan meninggalkanmu bahkan jika jantungku berdetak untuk terakhir kalinya. Aku takkan meninggalkanmu. Bersamamu,”

Lalu, sebuah senyuman terukir diwajah Eun Ha, entah kenapa membuat otak Sehun kosong karena tenggelam oleh senyum yeoja itu. Sehun seperti kehilangan kendali dirinya karna selanjutnya yang ia rasakan bibirnya menyentuh permukaan bibir yeoja didepannya.

Eun Ha membelak ketika Sehun menciumnya. Awalnya hanya permukaan bibir yang menyetuhnya. Lalu, Sehun menenggelamkan ciuman itu. apakah ini rasa ciuman pertama? Karna yang ia rasakan begitu.. hangat.

Ia memang belum pernah berciuman dengan siapapun. Bahkan teman lelakinya hanya Chanyeol. Eun Ha hampir terlena dalam ciuman itu hingga Sehun melepaskannya perlahan. Sedikit rasa kehilangan saat ciuman itu terlepas. Namun, Eun Ha segera menyadarkan dirinya.

Eun Ha meletakkan jari didepan mulutnya dan berdiri. Wajahnya hampir meledak sekarang. lalu, ia hendak pergi dari tempat itu. Namun, tangannya ditahan oleh Sehun.

“kau bilang takkan meninggalkanku,”

Eun Ha heran dengan namja itu yang berkata dengan datar. Tak lihat wajahnya sudah menjadi kepiting rebus? Bahkan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.

“ma-maksudku tadi,-aaa,” pekik Eun Ha ketika tubuhnya ditarik diatas tempat tidur.

Sehun menggenggam tangan Eun Ha dalam posisi mereka berdua sama-sama berbaring. Namja itu mendekap tangan Eun Ha didepan dadanya dan menutup matanya.

Eun Ha hendak membuka mulut. Namun, ia tutup kembali karena melihat Sehun sudah memejamkan matanya. Ia menghela nafas tanpa suara mencoba menenangkan jantung yang tak normal itu. Sepertinya ia takkan bisa tidur dengan posisi seperti ini.

***

Keesokannya Eun Ha mengajak Sehun menuju tempat pemakaman Nyonya Oh. Disanalah ia dapat melihat dengan jelas wajah Sehun ketika menangis. Ia kembali mengingat ketika dirinya kehilangan ayah dan ibunya. Tanpa ia sadari air mata ikut menetes. Padahal ia berjanji pada ibunya untuk tak menangis jika mengingat dirinya.

Mereka sama-sama kehilangan orang yang mereka sayangi. Sama-sama merasa sendiri meski banyak cinta lain tengah menjaga mereka.

Sepanjang perjalanan mereka berdua hanya diam, dan hening disekeliling mereka. Malam ini mereka akan menginap dirumah orang tua Sehun karena ingin menemani serta menemani Tuan Oh sementara waktu.

Sehun melirik Eun Ha tanpa sengaja lalu tersadar sesuatu dan itu mengganggu. Kemudian, ia memutar kembali mobilnya melewati jalur lain. Tersadar mobil Sehun bukan pada jalan menuju rumah Eun Ha bertanya, “kita mau kemana?”. Pertanyaan itu dijawab diam oleh Sehun. Bahkan menengokpun tidak. Eun Ha memilih untuk menurut dan diam dengan dinginnya namja itu.

Tak lama mobil sport Sehun berhenti didepan sebuah butik yang terdapat salon didalamnya. Eun Ha menatap bangunan dan matanya langsung tertuju pada papan kecil dipintu masuk.

“une rev,-“ tanpa sadar Eun Ha mengucapkan kata itu ketika membaca.

Mendengar ejaan yeoja itu begitu payah, Sehun membacakannya. “Une rêve est la moitié d’une réalité. Sebuah mimpi adalah separuh dari kenyataan,”

Kepala Eun Ha langsung tertuju pada namja disampingnya dengan mata terbelak tak percaya. “kau bisa bahasa perancis?”

“masuklah!”

Baiklah, Sehun kembali menjadi Sehun si dingin menyebalkan sekarang.Eun Ha memberengut sambil membuka pintu butik yang terlihat mewah itu. Mulutnya hampir membuka melihat isi butik itu. Memang ruangan itu tak banyak berisi rak penuh pakaian. Namun, satu rak hanya tergantung beberapa pakaian. Bahkan sebagian terpakai dipatung dengan lampu yang menyinarinya. Ini bukan pertama kalinya ia mendatangi butik mewah. Pertama kali saat ia mencoba gaun pengantinnya dan setelah itu dengan Sehun. selain itu ia belum sama sekali mengunjungi tempat berkelas seperti ini.

Mereka disambut oleh seorang pelayan perempuan. Setelah menanyakan apa bisa pelayan itu bantu, Sehun menjawab, “aku ingin memperbaiki rambutnya?”

Alis Eun Ha mengerut dalam. Ia memandang rambut hitam yang tergerai dan sedikit kering itu. ‘ada apa dengan rambutnya? kenapa ingin memperbaiki rambut saja harus tempat semewah ini?’. pikiran Eun Ha penuh spekulasi hingga ia merasakan tangannya ditarik oleh pelayan itu.

“mari saya antar. Salon berada di lantai 2 VIP” ujar pelayan dengan ramah.

“tunggu. Sehun-ssi..” Eun Ha memandang Sehun yang berjalan menuju tempat lain diruangan itu. ia menengok kebelakang saat tangannya masih ditarik pelayan untuk mencari Sehun. Namun, Sehun hilang dari ruangan itu.

Butuh waktu yang lama bagi Eun Ha untuk sekedar merapikan rambutnya seperti kata Sehun tadi. Rambutnya sedikit lebih pendek dari sebelumnya, dan kini berwarna coklat yang terlihat segar untuk wajahnya. Sebagai sentuhan akhir pelayan mengambil beberapa helai rambut dan disampirkan kebelakan lalu disematkan sebuah pita yang cocok dengan baju yang ia kenakan sekarang.

2019b4f3e185c5b68c050439594a4561

Ia baru menyadari penampilan itu terlihat snagat cocok padanya. Seharusnya ia memakainya sejak dulu. Pikir Eun Ha pada diri sendiri. Ngomong-ngomong dimana namja itu. Apakah ia ditinggal namja itu sendiri disini? Eun Ha memasang wajah sedikit merinding karena ia pergi kesini dengan Sehun tanpa membawa sepersehpun. Bahkan ia telah meninggalakan tas berisi identitas dan ponselnya didalam mobil Sehun.

Tangannya dingin memikirkan hal memalukan. Berani memasuki salon mahal tanpa membawa apapun. hampir wajahnya terlihat pucat, suara berat membuyarkan lamunannya.

“kau bisa merobek pakaianmu sendiri jika begitu,”

Eun Ha terlonjak. Matanya tertuju pada tangannya yang meremas dress sederhana yang ia kenakan. “dari mana saja kau, sehun-ssi?”

“tidak buruk. Setidaknya kau lebih terlihat terawat jika seperti itu,”

Apa yang barusan Eun Ha lihat? Sehun tersenyum? Meski sekilas dan sangat singkat. Ia yakin namja itu menarik ujung bibirnya membentuk senyuman. Lalu, ia merasakan jantungnya berdebar tanpa acuan.

“kau tak ingin mengatakan seusatu?”

“oh?” Eun Ha terkesiap dan mengerjapkan mata dua kali baru bisa menemukan suaranya. “te-terima kasih,” ujarnya sambil menundukkan kepala karena merasa wajahnya pasti seperti orang idiot sekarang.

“bagus!” lalu Sehun berjalan meninggalkan butik itu, diikuti Eun Ha mengekor dibelakangnya.

Setelah memasuki mobil sport yang mereka kendarai tadi, Eun Ha yag sedari tadi penasaran setengah mati akhirnya memberanikan diri untuk menanyakan. “Sehun-ssi kenapa kau tiba-tiba mengajakku ketempat itu?”

Sehun terlihat terpenjat dan menatap Eun Ha sekilas. “karna penampilanmu tadi sangat merusak mataku,” ia berharap nada suaranya tak terdengar seperti berusaha untuk bersikap dingin. Namun, disadarinya Eun Ha diam tanpa membalas, membuat Sehun setidaknya tak perlu memikirkannya lagi.

***

Sehun kembali menghirup aroma kopi dari cangkir kesayangannya. Aroma lembut itu langsung merelaksasikan pikirannya serta menjadi penghangat tubuhnya di pagi musim gugur. Bibirnya tertarik seiring minuman itu memasuki kerongkongannya dengan perlahan. Ditambah ia menikmati kopinya dengan pemandangan seorang yeoja yang terlihat lihai memainkan alat masak didapur yang memang berdekatan dengan ruang makan tempat dirinya menikmati kopinya.

Memang didepan bukanlah pemandangan yang indah seperti Manarola atau danau Bled yang mengagumkan. Namun, Sehun sangat menikmati kopinya dengan background seorang wanita yang tengah memasak dengan peluh yang mulai keluar dari dahi meluncur ke leher putihnya. Damn! Bahkan dirinya menatap peluh yang keluar dari tubuh gadis itu.

Dengan gerakan lincah seakan sudah hafal betul tempat peralatan serta tahap untuk memasak yeoja itu malah terlihat seperti gugup ketimbang berusaha cepat menyelesaikan makannya. Yeoja itu merintih ketika tangannya salah memegang panci yang masih panas dengan tangan hampa. Sehun tersentak dan hendak berdiri. Namun, segera tangan yeoja itu langsung memegang telinganya sendiri, sebagai pertolongan pertama. Untung baginya, Eun Ha tak mengetahui Sehun hampir berlari padanya. Lalu, ia kembali menyesap kopinya sembari mengawasi gerakan gadis itu. bisa saja dengan ceroboh dan otak ikan, yeoja itu memasukkan tangan ke minyak yang panas.

Eun Ha memegang telinganya setelah merasakan sengatan panas pada beberapa jarinya. Sudah menjadi keyakinannya telinga merupakan tempat dengan suhu yang netral. Bodohnya ia bisa lupa memakai sarung tangan untuk mengangkat panci panas. Ini gara-gara namja itu. Iya! Namja yang tengah duduk diruang makan itu, yang menyesap kopi buatannya dengan memerhatikannya sejak turun 15 menit lalu.

Apa Sehun mau mengawasi jika saja Eun Ha memasukkan racun ke dalam sarapannya? Biasanya namja itu tak pernah seperti ini. melihat dirinya memasak. Sehun akan turun ketika makanan sudah tertata rapi diatas meja bahkan terkadang Eun Ha harus mengetuk pintu kamar namja yang masih menatapnya.

Ia merasa tak nyaman diperhatikan seperti ini. Memasak bisa seperti berjalan digurun pasir jika namja itu memerhatikan setiap gerak-geriknya. Mungkin membuat sarapan pagi ini akan membutuhkan waktu yang banyak.

Setelah mereka berdua menikmati sarapan Eun Ha hanya memakan sebagian makanannya. Ia benar-benar tak habis fikir dengan Sehun beberapa hari ini. Setelah membuatnya menderita saat memasak tadi, kini ia tak bisa menghabiskan sarapannya karna melihat cara makan Sehun yang berbeda dari biasanya. Dihari normal Sehun akan memakan sarapan ataupun makan malamnya secepat mulutnya berkerja, hari ini berbanding terbalik. Lihatlah bahkan Sehun tak memprotes ketika telur yang ia buat terdapat daun bawang disana.

“enak,” Eun Ha hampir tersedak saat Sehun menyendokkan sup kentang yang ia buat dan mengatakan kata yang tak pernah diucapkan seorang Oh Sehun selama ini.

Kata itu terdengar aneh jika dikatakan oleh si dingin Sehun. Selama ia hidup dengan namja itu tak pernah namja itu memuji suatu makanan. Alih-alih mengatakan kata kritikan karena masakan kurang atau kelebihan bumbu.

“kau mau kemana?”

Eun Ha menoleh kearah Sehun sambil merapatkan mantelnya “belanja,” jawabnya dengan wajah tanpa dosa. Membuatnya terlihat seperti penipu umur.

“dihari sabtu?” Tanya Sehun bahkan wajahnya yang datar.

ne. biasanya aku memang belanja dihari sabtu karna biasanya banyak diskon,” ia mengangkat kedua bahunya.

“baiklah! Ayo aku antar!”

“wae?” Sehun yang baru berdiri mengerutkan dahi mendengar Eun Ha yang seperti setengah berteriak. DIlihat yeoja itu membelakkan mata khas seperti orang shock. Sehun sendiri belum bersuara karna juga terkejut.

Melihat banyak kerutan didahi namja itu, Eun Ha meralat katanya. “m-maksudku aku bisa sendiri. Lagipula bukankah biasanya kau berkerja?” akhirnya ia dapat menetralkan jantungnya yang baru saja marathon. Kenapa tiba-tiba namja itu mau mengantarnya belanja? Apa dia terbentur semalam?

“ah… aku tidak ada urusan dikantor sekarang. jadi aku bisa mengantarmu. Lagi pula aku ingin membeli sesuatu. Jadi jangan salah paham,”

Ya, memang Sehun tak bohong dengan tak ada pekerjaan dihari ini. bahkan dihari sabtu dimasa lalu. Karna setiap hari sabtu-minggu dan setelah pulang kantor dihari biasa Sehun akan menemui Na Ra. Entah kenapa dadanya seperti dicubit mengingat hal itu.

“aku tunggu dimobil,” Sehun segera menuju pintu, menghindari yeoja itu bertanya pertanyaan yang dapat menyudutkan dirinya nanti.

“tapi-tapi….” Eun Ha hendak membantah namun kalah oleh langkah Sehun yang usdah mencapai pintu.

Memang tak aneh seorang suami mengantarkan istrinya belanja. Namun, yang menjadi halangan pikirannya adalah dia seorang Oh Sehun. namja paling dingin yang pernah ia temui selama hidupnya. bahkan mungkin kutub utara lebih baik daripada sifat dingin Sehun. Hari ini dia begitu menakutkan bagi Eun Ha.

Ia juga ingat kemarin Sehun pulang lebih awal. Pukul 3 sore. Padahal biasanya dia selalu pulang saat makan malam sekitar jam 7. Terkadang malah melewatkan makan malam dengan pulang jam 11 malam. Membuatnya tertidur disofa ruang tamu karena menunggunya.

“ah molla,” Eun Ha menggeleng membuang pikiran tentang namja yang telah membuatnya seperti memikirkan rumus fisika yang sulit ia pecahkan. Dan dia lemah dalam pelajaran itu.

***

“kau hanya ingin membeli ini?” Eun Ha mengangkat satu alisnya tinggi, mengakibatkan kerutan didahinya. “kau hanya ingin ramyun ini?” ulangnya sekali lagi, seperti tak percaya Sehun mengantarnya. Ralat, menemaninya-karena Sehun juga ikut masuk kesupermarket- belanja hanya untuk beberapa bungkus persegi yang sudah masuk kedalam troli. Dilihatnya dia hanya mengangguk dengan wajah datar.

Eun Ha menghela nafas. “kau bisa menitipkannya padaku jika kau ingin beberapa ramyun. Jadi, kau tak usah mengantarku hingga kemari,”

‘bahkan sampai ikut berbelanja dan membawakan troli’ tambahnya dalam hati.

“kau mengusirku?” ujar Sehun. berpikir kenapa yeoja ini sangat tak ingin ia ikut dengannya. apa dia akan bertemu pria itu dan belanja bersama? Hingga sepertinya tak ingin Sehun ikut belanja? Pria yang dimaksud adalah namja yang selalu mengejar Eun Ha, Chanyeol.

Tiba-tiba dirinya tak menyukai apa yang dipikirannya itu.

“ti-tidak!” Eun Ha hampir berteriak mengatakannya. Seperti orang yang membela dirinya ketika ketahuan mencuri.

“ma-maksudku aku hanya belum terbiasa kau ikut berbelanja dengaku,” Eun Ha menunduk menatap kakinya untuk menyembunyikan rasa malunya. Akhirnya ia bisa mengatakan alasannya.

Dilihat beberapa detik kemudian Sehun mendorong trolinya pergi. Eun Ha menatap punggung namja itu yang mendahuluinya. Apa yang ia katakan barusan? Setelah mengerjapkan matanya ia baru sadar Sehun Sudah jauh beberapa langkah darinya. Eun Ha berlari kecil mengikuti Sehun dari belakang. Ia terlalu malu untuk berada disamping namja itu, setelah mengatakan alasannya tadi.

Sehun tak tersenyum mendengar alasan sebenarnya yeoja itu. ia yakin yeoja itu pasti malu setelah mengatakannya. Terbukti dia tak berani berjalan disampingnya dan malah mengekor dibelakangnya. Terkadang yeoja itu terlihat lucu juga.

Tanpa sadar karna Sehun melirik kebelakang untuk melihat Eun Ha, trolinya menabrak sesuatu didepannya. Ternyata menabrak troli didepannya. Sehun hendak mengatakan maaf namun membisu seketika melihat pemilik troli didepannya.

Eun Ha hampir menabrak punggung Sehun karna berhenti seketika. ia ingin membuka mulutnya namun kembali menutup mulutnya ketika melihat seseorang didepan mereka. Seorang yeoja dengan rambut hitam kelam yang lurus, kulit yang seputih porselen didepan mereka. Ekspresinya mungkin sama dengan mereka kini. Terkejut.

Eun ha mengawali berbicara, karena tak ada dari mereka bertiga yang bersuara selama beberapa saat.

annyeonghasseo,” Eun Ha menyapanya. menurutnya wajah wanita itu tak asing baginya. ia pernah bertemu atau melihatnya. Namun, ia bingung dimana.

Yeoja itu terlihat sedikit terkejut ketika Eun Ha menyapanya dengan ramah. Wanita itu membalas dengan anggukan kepala. Lalu hendak berpamitan.

“maaf aku harus pergi,”

“tunggu! Aku ingin bicara,” tahan Sehun

“tidak! Jangan ikuti aku,”

Yeoja itu menarik trolinya memutar pergi dari Sehun dan Eun Ha.

“Na Ra!” tahan Sehun mapuh membuat Na Ra berhenti ketika sudah memunggungi mereka. Namun, hanya sesaat. Na Ra kembali melangkah pergi. Bahkan berlari meninggalakan trolinya disana.

“Na Ra!” melihat Na Ra berlari meninggalkan trolinya. Sehun menyusulnya.

Melihat seperti drama kecil didepannya membuat kerja otak Eun Ha melambat. Lalu perkataan Chanyeol lalu ketika ia hendak pergi dari apartemen namja itu terngiang dikepalanya.

“apa kau tak sadar kau telah dibodohinya selama ini? dia berpacaran dengan wanita sejak lama. Bahkan mereka kuliah diluar negeri bersama. Aku yakin mereka masih saling mencintai bahkan setelah menikah denganmu. Untuk apa kau mengharapkan dari seseorang seperti dia?!! Kau bahkan tak ada dipikirannya sama sekali…”

‘apakah wanita itu yang dimaksud?’ pikir Eun Ha.

lalu sebuah kejadian terulang diotaknya. Sehun berciuman panas dengan seorang wanita. Tak salah wanita malam itu adalah wanita yang kini dikejar Sehun. Na Ra.

Ia kembali tersadar dalam alamnya ketika melihat Sehun mengejar yeoja itu. melihat fakta itu terasa nyeri dihatinya. Ia tak bisa terus seperti ini. ia tak bisa membiarkan ini lagi. Setidaknya ia harus memastikan sesuatu.Eun Ha mengejar Sehun hingga keluar dari supermarket menuju pelataran parkir.

“Na Ra aku ingin bicara!”

Sehun mengejar Na Ra hingga pelataran parkir ketika wanita itu sudah memasuki mobilnya. Sehun sudah mencapai pintu mobilnya namun Na Ra menancap gas mobilnya meninggalkannya disana. Tak ingin buang waktu Sehun berlari menuju mobilnya yang jauh dari sana.

“sehun-ssi?” Ia merasakan tangannya ditahan ketika baru membuka pintu mobil.

“aku ingin mengatakan sesuatu,” Sehun melihat nafas Eun Ha yang tersenggal-senggal. Sepertinya dia mengejarnya hingga seperti itu. bahkan dia meninggalkan troli belanja mereka didalam.

“maafkan aku,”

Setelah mengatakan maaf Sehun memasuki mobilnya dan meninggalkan Eun Ha yang masih berdiri ditempatnya.

“apa kau masih mencintai wanita itu?” Tanya Eun ha pada udara melihat mobil Sehun yang mulai jauh meninggalkannya. Tiba-tiba rasa sakit menyerang hatinya, seperti ada yang memukul dan meremasnya didalam. Tanpa sadar air mata lolos dari kelopaknya-lagi.

Akhirnya ia tau apa yang ia rasakan pada Sehun. ia menyadari perasaan itu lama muncul. Bahkan ketika dialtar saat pernikahan mereka. Itu semua jawabn dari rasa sabarnya menghadapi Sehun dan rasa jantungnya yang berdebar bahkan hanya saat namja itu menatap dirinya. Eun Ha menyadari telah menyukai Sehun sejak lama.

TBC

wkwkw ada yang udah lupa?
maaf ya atas lamanya. aku harap di chapter ini bisa menembus kurangnya feel di chapter sebelumnya. Dan untuk lamanya maaf sepertinya aku masih belum bisa publish ff dalam waktu yang cepat. karna yaa begitulah aku, harus pake mood kalo nulis. sebenernya aku benci jika moodku sudah dititik bawah. apalagi minggu kemarin adalah minggu terburukku. aku merasakan patah hati wkwkwk….
ah… tapi moodku kembali naik ketika baca koment kalian lagi. maaf aku belum bisa balas kalian satu-satu. maaf juga kalo di sosmed ak membalas sapaan kalian agak(?) lama haha..

oh iya ngomong-ngomong soal readers aku mau makasih banget sama semua reader yang selalu memberi semangat 😀 dan dukungan:D. bahkan ada yang kasih aku poster – thank Hamida :)- mungkin poster kmu ada di chapter depan. See Ya ❤
twitter : https://twitter.com/FitriAndMaratus

Line : Fefofitriiyeol
email : fitriki7@gmail.com

225 responses to “COMPULSION LOVE [CHAPTER 4] ~By ParkFitri~

  1. Pingback: [ ANNOUNCEMENT BY PARK FITRI ] – HIATUS ! | SAY - Korean Fanfiction·

  2. AAAAAAAAAAAA demia apa chapter ini ni yang paling aku suka hwwwaaa.. tapi di akhir akhirannya ku sedikit ga suka… hwwaa gemes banget. mau lagi moment yang kaya gitu ke thor….
    sebelum hiatus itu in yang chap 5 nya ke thor… aku pennnasarran 😀 … tapi kalo ga bisa ga papa sih aku ga maksa-_-
    keep writing aku pasti bakalan kangen banget sama sehun di ff ini T_T

  3. yaampun krg nyesek apa cba jdi eunha tiba2 dtinggalin dsupermarket gtu, lagian knp jg sehun hrus ktmu nara hiiihh sehunya jg ga mkir lg ihhh kesel bgt pkknyaaa
    dtunggu ya kelanjutannya jgn lama2~

  4. thor.. greget bnget pas baca chap ini .. beneran.. kapan di lanjutin? oiya keep writing yeth! 🙂

  5. eonnie, FF ini kapan dilanjutnya? aku udah kangen banget sama FF ini eonnie 😥 jebal eonnie !!!! 😥 lanjutin dong !!! T.T

  6. Akhirnya sehun memandang eunha juga, meskipun belom seberapa, tapi udah bikin yg baca ini jadi seneng. 🙂
    Tapi kok sehun ketemu nara lagi.
    Tapi dia lumayan sopan juga bilang “maafkan aku” sebelum ninggalin eunha. Ahh seneng banget akhirnya oh sehun q jadi baik.
    Ternyata oh sehun bisa berubah jadi baik gara2 ditinggal nara, intinya nara lah yg bikin oh sehun jadi jahat ke eunha

  7. andweee…. sehun kan mulai lg… kejar aja trus naranya… nanti g krsa deh eunhanya uda keburu d ambil chanyeol.
    lanjutt yaa eon

  8. sehun apa yg kau lakukan , knapa kau mengejar nara dn meninggalkan eunga , jahat sekali ..
    aku kira inu chapter akhir eh taunya msih tbc ..
    hemm next chapter lama2 cingu , ayo dong update ..

  9. kak kok lama banget ngepostnya.aku masih nunggu nih,semoga cepet diposting ya kak chapter 5-nya.udah 4 bulan kakak hiatus.jangan dilamain lagi ya kak.

  10. Pingback: COMPULSION LOVE CHAPTER 5 ~ by ParkFitri | SAY KOREAN FANFICTION·

  11. apakah mereka akan beneran berpisah,,
    soale aqu ngerasa kalao sehun dan nara sdah tdk bisa di pisahkan lagi…

  12. na ra mau melepaskan sehun. sehun mau masih suka sama na ra. eun ha baru sadar kalau selama ini ia suka sama sehun dan chanyeol berusaha untuk mendapatkan eun ha ? cerita makin seru. tunggu dichapter selanjutnya 😉

  13. Sehun kira2 suka jg gk y sm eun ha :/
    Trs itu eun ha di tinggal gitu aja Gezz.. pdhl sehun sendiri yg bilang mau nganter ><
    Eun Ha baik bgt sih udh di gituin sm sehun masih aja baik 😀 😀

  14. Kasihan bgt sama eunha… q kira sehun dah berubah, emang sih dia pengin bicara sama na ra tp jg jgn sakitin hati eun ha

  15. Part ini rasanya bikin perasaan jungkir balik. Abis seneng karena sikap sehun yang udah mulai berubah perhatian sama eun ha dan mereka yang mulai deket tiba2 harus langsung nyesek ngebayangin eun ha yang ditinggal sehun buat ngejar na ra. Pasti sakit banget tuh jadi eun ha

  16. Sehun uda mulai luluh ya, tp knp msti ktmu ama NaRa lg T.T //serah authornya dnk nat//
    jgn blang EunHa bkal nnggu Sehun ampe dy jmput d market, Sehun psti lupa, yakin -_-
    fighting yaa ParkFitri, n keep writing 🙂

  17. ternyata yang meluk sehun itu eunha
    nahloh akhirnya nara tau jugakan sehun udah nikah tapi sehun nggak tau kalau yang beri tau nara itu ayahnya
    tapi aku seng banget lo di chapter ini sehun sma eunha jadi deket banget tapi sayangnya pas belanja bareng itu sehun pake acara ngejar nara

  18. Sejauh ini, ini chapter terseru karna Sehun udh mulai menerima Eunha tp masih labil ya ttg Nara haha
    Aku kyk bisa ngerasain perasaannya Eunha, rasanya kyk baru berharap abis itu langsung dihempaskan #apalah –“

  19. jadi yang meluk sehun itu eunha aku kira nara tapi disini sehun udah mulai deket sama eunha seneng banget tapi apa dia udah beneran bisa lupain nara?

  20. bener Eun Ha yg meluk Sehun!!!!
    bener deh..aku suka chap yg ini!!
    Nara udh d bilangin tuan Oh klo Sehun udh nikah ama Eun Ha…
    dan,,,aku seneng mreka kayak pasangan yg bener gitu…walau si Eun Ha agak gimanaa gitu sama sikap ny Sehun…
    mreka belanja bareng..eeh tapi malah ketemu ama Nara,,dan Sehun malah ngejar Nara padahal masih ada Eun Ha..ckck..sehunn
    baca next chap ny!!

  21. Sedih dan mengharukan yg part Sehun sedang membutuhkan pelukan,apalagi pelukannya dr Eunha. Dan Sehun sdh mulai cinta sm Eunha,tp knp Na Ra dtng disaat hubungan mereka sdng baik??? 😭 jd semakin seru ceritanya thor…👏👏 Daebakkk

  22. Hwaaaaa sedih bangetttt
    Ngeliat eun ha yg terus sakiti sama sehun
    Sehun harusnya lebih mengerti eun ha
    Tapi kasian juga sehun, selain d tnggal mamanya skrang d tinggal nara juga

    Sehun PHP ahh masa eun ha d tnggal sdri
    Kasian kan dia

    Autorrrr semangaaattt
    Saranghaeeee ♡

  23. Mereka baru aja akur tapi kenapa masalah baru muncul –” pengen banget liat Eun Ha sama Sehun itu benar benar saling mencintai.

    Apa Sehun ga punya rasa? kasihan Eun Ha 😦
    keren banget kak, feelnya selalu dapat

  24. Sudah ku katakan sehun seperti om limbad menyimpan banyak kejutan yang tak terduga. Kayanya doi masih bimbang hatinya, semoga doi pilih aku(?) lah maksudnya eunha gitu, biar nara sama cahyo oke sip. Semangat ya kak!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s