Arrows of Love – Angelina Triaf

kkkk

Angelina Triaf ©2015 Present

Arrows of Love

Kim Jinwoo (Winner) & Han Hyunna (OC) | Fluff | G | Ficlet

0o0

“Aku penasaran, berapakah hasil dari 12 dibagi 12?”

 

Jinwoo membuka matanya saat ia merasakan sesuatu yang lengket menempel di keningnya. Ah, sebuah sticky note dengan tulisan cantik berwarna hijau. Apa itu? Bahkan anak sekolah dasar tahu bahwa dua belas dibagi dua belas hasilnya adalah satu. Jinwoo melepaskan kertas itu dan berguling ke kiri, melihat sesuatu dengan warna senada menempel pada bantal di sampingnya.

“Kenapa harus berguling ke kiri? Bahkan anak sekolah dasar pun tahu jika sekarang waktunya kamu pergi ke tempat kerja. Mau bolos lagi? Aku tak peduli.”

 

Tanpa sadar, ia tersenyum kecil mendapati kertas aneh ini. Kembali dilepasnya kertas itu dan ia satukan dengan kertas yang sebelumnya. Jinwoo bangkit menuju kamar mandi, berjalan gontai karena jam masih menunjukkan pukul enam pagi. Ayolah, orang gila mana yang bangun sepagi ini hanya untuk bersiap ke kantor?

“Aku kenal orang gila ini. Tiap pagi sangat sulit untuk membuatnya bangun. Huh, menyebalkan.”

 

Kali ini sticky note berbentuk bebek yang menempel di sikat gigi kesayangannya. Apa katanya? Orang gila? Sepertinya sang kriminal ini harus segera diberi hukuman begitu Jinwoo bertemu dengannya. Dengan secepat kilat Jinwoo menggosok giginya, mengabaikan peraturan bagaimana cara menggosok gigi yang baik dan benar. Biarlah, toh giginya tetap baik-baik saja selama dua puluh empat tahun hidupnya ini. Setelah yakin gigi dan wajahnya sudah bersih, ia beranjak keluar kamar mandi—dan lagi-lagi melihat secarik kertas dengan tulisan berwarna yang cantik.

“Aku tahu ini di luar kebiasaanmu. Tapi, bisakah kamu pergi ke dapur dan meminum air putih yang banyak? Itu baik untuk kesehatan.”

 

Mengabaikan ada hal aneh di depannya, Jinwoo tetap melangkahkan kakinya menuju dapur, membuka lemari pendingin dan mengambil botol air yang masih penuh. Dituangnya air itu ke gelas berkaki tinggi dan diminumnya perlahan. Merasa kurang hanya satu gelas, Jinwoo kembali menuangkan airnya dan meminum habis gelas keduanya.

“Haus? Perhatikanlah kesehatanmu. Oh ya, mandilah. Aku tahu kamu pasti belum mandi. Sepuluh menit, jangan lama-lama!”

Jinwoo tertawa kecil karena lagi-lagi menemukan kertas aneh dengan tulisan yang tak kalah aneh. Setelah memasukkan botol air kembali ke tempatnya, Jinwoo berjalan menuju kamarnya. Mengambil asal handuk dari gantungannya, ia memasuki kamar mandi dengan langkah pelan. Ia benci mandi, bahkan ibunya sangat tahu hal itu.

“Kucing zaman sekarang saja sudah senang mandi dan pergi spa. Kamu lebih buruk dari kucing.”

“Siapa juga yang ingin pergi spa jika kau bisa mandi dengan kekasihmu yang tampan ini?” gerutunya pelan dan mulai menyalakan shower, membuat rintikan air perlahan membasahi tubuhnya. Jinwoo penasaran, mengapa semua yang tertulis di kertas ini merupakan jawaban yang tepat. Dan yang terakhir ini ia temukan di dekat sabunnya. “Bagaimana bisa aku tidak melihat ini tadi?”

“Sepertinya kamu butuh kacamata, sayang.”

 

Apa lagi ini? Sebuah catatan berbentuk sapi menempel tepat di samping kacanya. Oke, ini mulai horor. Bagaimana bisa Jinwoo tidak melihat kertas itu tadi? Karena merasakan bulu kuduknya yang berdiri, ia mempercepat acara mandinya dan ingin segera keluar dari situasi menyebalkan ini. “Kamu tak akan selamat, Hyun,” umpatnya sembari mengeringkan tubuhnya. Pintu pun ia buka, bergegas menghampiri lemari pakaian dan mengambil salah satunya untuk dikenakan.

“Harus pakai yang ini. Harus!”

 

“Huh, kekanakan sekali. Dan, kenapa harus piyama kelinci?!” Jinwoo benar-benar tak bisa menahan dirinya lagi. Baru saja ia hendak melemparkan piyama itu ke keranjang pakaian kotor, ia—lagi-lagi—melihat sticky note berbentuk bunga menempel di keranjang pakaian itu. Baiklah, Jinwoo menarik napas dalam-dalam. Sabar, Jinwoo…

“Bunga adalah hal yang indah sepanjang hidupku. Kamu merupakan salah satunya.”

 

Pandangannya meredup. Jinwoo sadar ia tak akan pernah bisa benar-benar marah pada orang itu. Kali ini saja, dan selanjutnya jangan harap akan terjadi hal-hal seperti ini lagi, mungkin itulah yang dikatakan lubuk hati Jinwoo yang terdalam.

Setelah beberapa menit, dan tara! Jinwoo sangat lucu dengan piyama biru laut bermotif kelinci. Oke, mari kita luruskan. Jinwoo memang sangat menyukai kelinci. Tapi itu kelinci, bukan piyama dengan motif kelinci. Catat itu sebagai pengingat jika kalian lupa. Jinwoo berjalan menghampiri cermin besar miliknya, menemukan secarik kertas lagi dengan warna pastel yang lucu.

“Lihatlah betapa lucunya dirimu! Baiklah, tinggal satu hal kecil lainnya. Bisa tolong buka kotak di dalam nakas mejamu?”

 

“Tidak akan pernah jika di dalamnya terdapat hal aneh sejenis dengan piyama ini,” ucap Jinwoo lantang, siapa tahu ada yang mendengarnya. Namun baru langkah pertamanya meninggalkan cermin, ia menginjak suatu kertas di dekat kursi mera rias.

“Ayolah… Apa kamu tidak sayang padaku?”

 

“Argh! Baiklah!” Dengan langkah cepat Jinwoo menghampiri meja nakasnya, membukanya perlahan karena firasat buruk menguasai akal sehatnya. Oh Tuhan, bunuh Jinwoo sekarang juga.

“Terima kasih. Oh, bisakah kamu datang ke halaman belakang sekarang? Kuharap kamu masih suka kejutan.”

Kertas kecil itu menempel pada sebuah cute stuff yang tak akan pernah mau Jinwoo lihat seumur hidupnya. Bando… kelinci… Kali ini Jinwoo benar-benar ingin terjun dari gunung tertinggi saja.

“Tuhan, bunuh aku sekarang.”

0o0

Setelah menenangkan pikirannya dan berpikir berkali-kali lipat, Jinwoo benar-benar melangkahkan kakinya menuju halaman belakang rumahnya. Berbalutkan piyama lucu dengan bando telinga kelinci yang menjuntai panjang berwarna merah muda serta sandal berbulu yang lembut dan terlihat menggemaskan, Jinwoo melangkahkan kakinya dengan cepat, benar-benar ingin segera memberi hukuman yang pantas bagi tersangka yang telah membuatnya terlihat konyol seperti sekarang ini. Namun daripada konyol, saat ini Jinwoo terlihat sangat menggemaskan.

Di sana, di bawah pohon jeruknya itu ia melihat seorang gadis dengan rambut purple ombre-nya yang manis sedang duduk membelakanginya. Tepat di hadapannya tersedia berbagai makanan dan juga terdapat kue cokelat besar di tengahnya. Jangan bilang kalau…

“Hyunna?”

Klik!

Oppa, selamat ulang tahun!”

Masih syok dengan kejadian barusan yang sangat cepat, Jinwoo terdiam karena berusaha mencerna semua yang terjadi. Hari ulang tahun… Difoto dengan mengenakan pakaian yang sangat memalukan ini…

Ya, Han Hyunna! Jangan lari kau!”

“Wuah! ada kelinci paskah mengamuk!”

“Kita lihat bagaimana kelinci paskah ini akan mengamuk padamu di ranjang nanti! Han Hyunna!”

Ya seperti itulah, acara ulang tahun yang manis dan ramai sekali dengan segala teriakan Jinwoo yang mengamuk. Mari kita biarkan mereka asyik dengan kegiatan kejar-kejaran mereka dan lupakan fakta bahwa Hyunna benar-benar akan memamerkan foto lucu Jinwoo tadi di akun jejaring sosialnya. Dari tempat kejadian perkara, laporan selesai.

FIN

11 responses to “Arrows of Love – Angelina Triaf

  1. unyu pastinya jinwoo oppa. pengen liat kelinci pasca tampannya!!!!!
    oppa ngamuknya gak jauh dari ranjang yaa???? huuuft. . dasar!!!!
    fluff banget dam bikin gemes.
    sequel ya kaka???

  2. Coba aja ada yg gituin gua pas ultah :’3 miris, faktor jonezzzzz :’v
    Tapi bener sweet banget ,suka kak^^

  3. Seru ceritanya, lucu dan ringan bgt..
    Btw gimna tuh caranya si Hyunna bisa nulis di note dgn tepat dan akurat?? (Hanya tuhan dan author yg tahu)

  4. Kok bisa pas bgt sticky note nya? Hyunna jjang 👍👍 dan semoga berhasih ngehindar dari kelinci paskah kerasukan itu 😸

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s