[Baek-SeNa Couple] Pregnant Effect — By Byunniexo

Tittle : Pregnant Effect || Author : Byunniexo || Starring : Byun Baekhyun ‘EXO’ and Park Se Na ‘OC’ || Genre : Marriage Life, Romance || Rating : PG-13

Previous Story : [My Husband is an Angel] | [Red Lipstick]  | [Your Baby, Byun?]

Sorry for typo(s)

***

 

 

Wanita itu memejamkan matanya rapat-rapat. Piyama tidur bermotif bunga masih melekat di tubuh mungilnya. Rambut panjangnya ia ikat dengan asal. Dan tangan kanannya memegang benda kecil tipis berwarna putih. Jantungnya masih berdetak dengan kencang. Mulutnya sedari tadi tak henti-hentinya komat-kamit untuk melafalkan jimatnya—mungkin. Wanita itu menghembuskan nafasnya dengan tenang. Kemudian membuka matanya dengan perlahan.

 

Dua garis merah.

 

Se Na—wanita itu—tersenyum dengan lega dan senang. Jadi, ia akhirnya akan mempunyai seorang bayi? Membayangkannya pun sudah membuat bahagia tersendiri bagi Se Na. Wanita itu mengelus perut datarnya dengan lembut. Rasanya senang sekali ketika menyadari bahwa sebentar lagi ia akan menjadi seorang ibu.

 

Se Na menghentikan aktivitas tangannya, kemudian menatap pantulan wajahnya di cermin. Oh, tapi ada yang membuatnya kesal pagi ini. Byun Baekhyun. Akhir-akhir ini lelaki itu selalu berangkat kerja pagi-pagi sekali dan pulang larut malam. Bahkan Se Na beberapa kali tak melihatnya dalam satu hari. Bagaimana tidak? Lelaki itu berangkat ketika Se Na belum bangun dari tidurnya dan pulang ketika Se Na sudah terlelap dimimpinya. Yeah, sama seperti pagi ini. Ketika Se Na membuka mata. Pertama kali yang dilihatnya adalah note kecil yang ditempelkan pada bantal yang seharusnya menjadi tempat untuk tidur suaminya. Selalu seperti itu. Jadi, bagaimana Se Na tidak kesal?

Dan lagi, setiap pagi, siang dan malam hari Se Na hanya akan menyantap makanannya seorang diri. Ia juga akan melihat sendiri drama kesukaannya di malam hari. Bahkan ia harus tidur sendiri di ranjang king size miliknya. Ya, selalu seperti itu.

 

Sempat terkadang Se Na berfikiran bahwa ia seperti seorang istri yang ditinggal mati suaminya. Atau jika tidak, ia merasa seperti seorang istri yang diceraikan suaminya. Well, terdengar miris memang. Tapi itu yang Se Na rasakan. Sebenarnya sudah beberapa kali ia ingin memarahi Baekhyun ketika lelaki itu sudah tiba di rumah. Tapi selalu gagal. Alasannya? Yang pertama, ia tak tega memarahi Baekhyun ketika suaminya pulang dengan wajah kelelahan. Dan yang kedua, ia selalu tertidur lebih dulu sebelum Baekhyun pulang. Jadi tak ada kesempatan untuk ia memarahi pria itu.

 

 

 

 

 

 

Se Na menatap malas layar datar dihadapannya. Tidak ada acara televisi yang menarik di siang ini. Beberapa kali wanita itu mengganti channel televisi tapi semua sama-sama membosankan. Wanita itu mengambil makanan ringan yang tadi diambilnya dari lemari pendingin. Kemudian mulai memakannya dengan malas.

 

Ia menoleh kearah pintu yang berdecit. Kemudian megalihkan pandangannya ke jem dinding yang terpasang diatas televisi. Masih pukul sebelas siang. Dan kalian tahu siapa yang muncul di depan pintu itu? Suaminya, Byun Baekhyun.

 

“Yeobo.” Se Na tak menatap orang yang memanggilnya. Ia justru terdiam sambil menikmati makanan ringan di pangkuannya. Sesekali wanita itu tertawa menatap layar televisi. “Se Na-ya.”

 

Baekhyun berjalan mendekati sang istri sambil melepas jas dan dasinya. Pria itu mendaratkan tubuhnya di samping Se Na. “Bisa buatkan aku coffee?” Baekhyun bertanya sambil menatap Se Na yang masih tak teralihkan dari layar televisi.

 

“Kau bisa buat sendiri kan?”

 

Baekhyun menghela nafasnya dengan berat. Oh ayolah, Baekhyun sedang lelah. Tetapi kenapa sang istri menyambut kedatangannya dengan seperti ini?

 

“Kau tidak kasihan pada—” Baekhyun tersenyum kecil ketika Se Na sudah terlebih dahulu berdiri dan pergi menuju dapur yang berada tak jauh dari ruang tengah. “Good girl.”

 

Baekhyun berdiri. Kemudian mengikuti gadis itu menuju dapur. Ia menatap sang istri yang membuat secangkir coffee dengan wajah yang tidak bersahabat. Oh, istrinya sedang marah kah?

 

Lelaki itu menatap meja makan. Kosong, tidak ada makanan apapun. Padahal ia berencana untuk makan siang di rumah, kali ini.

 

“Sayang, kau tidak memasak?”

 

Se Na menaruh secangkir coffee di meja makan. Sedangkan Baekhyun segera duduk di sana sambil mendongak menatap Se Na. “Untuk apa aku memasak? Bukankah kau tidak pernah makan di rumah? Oh tunggu dulu. Kenapa kau sudah pulang, tuan Byun? Bukankah jadwal pulang mu seharusnya tengah malam?”

 

Baekhyun mendesah. Jadi wanita ini marah karena hal itu? “Kau tahu berapa waktu yang diperlukan dari seoul ke busan? Itu memerlukan waktu dua setengah jam, sayang. Artinya aku harus berangkat dua setengah jam sebelum pukul delapan. Dan pulang terlambat dua setengah jam dari pulang biasanya.”

 

“Aku tidak tanya masalah itu.” Se Na menjawab tanpa menatap Baekhyun. Ia masih berdiri sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Sedangkan Baekhyun kembali mendesah.

 

“Aku harus mengawasi pembangunan perusahaan di sana, Se Na-ya.”

 

“Aku juga tidak tanya tentang hal itu, Byun Baekhyun!” Se Na sedikit meninggikan nada bicaranya. Di sertai tatapan kesal kearah Baekhyun.

 

“Hei, kenapa kau justru marah padaku? Memangnya kau bertanya apa, eoh? Aku bahkan menjawab pertanyaanmu.”

 

“Kau bahkan tidak tahu pertanyaanku. Aku bertanya kenapa kau sudah pulang? Tapi jawabanmu mengarah kemana-mana. Jadi pertanyaan mana yang sudah kau jawab?” Se Na mengakhiri kalimatnya dengan hembusan nafas kasar.

 

“Astaga Park Se Na. kenapa kau suka sekali marah-marah, eoh? Baiklah, hari ini aku sudah pulang karena ini hari terakhir aku melakukan pengawasan disana. Kau sudah puas?” Baekhyun menggelengkan kepalanya. Kemudian ikut berdiri mensejajarkan tubuhnya dengan Se Na.

 

“Aku sudah lelah mengemudi kesana-kemari, Se Na-ya. Kuharap kau jangan memicu emosiku dengan marah-marah yang tidak jelas seperti itu. Kau tahu, kan? Aku pergi pagi dan pulang malam untuk bekerja, bukan untuk hal lain. Ini semua demi memenuhi kebutuhan kita.”

 

Se Na menajamkan tatapan matanya. Sepersekian detik, mata itu memerah dan berkaca-kaca. “Jadi kau fikir, aku marah-marah tidak jelas? Kau fikir apa yang kau rasakan ketika pagi, siang, malam kau makan di meja makan ini seorang diri padahal kau punya suami? Apa yang kau rasakan ketika tidur di ranjang besar itu sendiri padahal sebelumnya selalu berdua? Apa yang kau rasakan ketika tertawa sendiri ketika melihat drama di malam hari? Aku kesepian! Kau tidak paham dengan perasaanku, Byun! Dan kau justru mengataiku marah-marah tidak jelas?”

 

“Bukan begitu Se Na sayang, hanya saja—”

 

“Hanya saja aku berlebihan? Karena ini semua demi kita? Demi mencukupi kebutuhan kita? Ya, aku tahu itu semua. Tapi kau tidak sendiri, Baek. Kau bisa menyuruh bawahanmu, kan? Kau bahkan bisa mempercayakan salah satu orang di busan untuk mengawasi pembangunan itu.”

 

“Tapi sayang—”

 

“Aku membencimu, Byun Baekhyun!” Se Na memukul dada bidang Baekhyun. Kemudian berlari menuju kamar dan menguncinya.

 

“Ya! Park Se Na! buka pintunya, Se Na-ya.” Baekhyun mengetuk pintunya berulang-ulang. Tapi wanita itu tidak menggubrisnya. Se Na terduduk sambil membelakangi pintu. Wanita itu menyembunyikan wajahnya di balik telapak tangannya. Kemudian menangis sesenggukan.

 

Oh ayolah. Sebelumnya ia tak pernah seperti ini. Menangis hanya karena pertengkaran kecil dengan Baekhyun. Oh, seharusnya ia juga lebih memahami suaminya.

 

 

 

 

 

 

Baekhyun sibuk menata makanan yang dibuatnya di atas meja makan. Pria itu tersenyum kecil melihat istrinya yang berjalan keluar dari kamar tidur. Kemarin wanita itu mengurung diri di dalam kamar hingga pagi ini. Hal itu tentu saja membuat Baekhyun khawatir. Bagaimana tidak? Pria itu sudah hampir ratusan kali menggedor pintu kamar, tapi istrinya sama sekali tidak menjawab panggilannya ataupun membuka pintunya. Dan kemarin malam Se Na juga sama sekali tidak makan. Jadi bagaimana Baekhyun tidak khawatir?

 

Se Na mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi. Kemudian menatap beberapa makanan yang sudah terhidang disana.

 

“Seharian kemarin kau tidak makan, sayang. Kau pasti lapar. Jadi makanlah.” Baekhyun mengambil satu mangkuk dan diletakkannya di depan Se Na. Kemudian ia mengambil dua gelas teh hijau. Baekhyun duduk di hadapan Se Na sambil tersenyum dengan lembutnya.

 

“Cepat makan. Kalau kau tidak memakannya, akan aku suapi.” Se Na mengambil tangan kanan Baekhyun dan memberikan sendok ditangannya, membuat Baekhyun mengangkat sebelah alisnya.

 

“Suapi aku.” Pria itu tersenyum miring. Kemudian mengambil mangkuk dihadapan Se Na dan menyendok makanan dari sana.

 

“Jadi jelaskan padaku, kenapa kau marah sampai mengurung diri di kamar seperti kemarin, hm?” Tanya Baekhyun ketika sukses memasukkan satu sendok makanan ke mulut Se Na. Wanita itu hanya diam sambil mengunyah makanannya.

 

“Aku hanya kesal padamu.” Jawab Se Na singkat kemudian membuka lebar-lebar mulutnya. Baekhyun kembali memasukkan satu sendok makanan kedalam mulut Se Na sambil tersenyum kecil.

 

“Baiklah. Aku minta maaf, Se Na sayang. Kau memaafkanku, kan?”

 

“Dengan satu syarat.”

 

“Apa?”

 

“Aku ingin bekerja di restoran eommonim.”

 

“Tidak. Kecuali itu. Pekerjaan di sana berat.”

 

“Memangnya apa? aku bisa bekerja di kasir, kan?”

 

“Eomma sudah punya pelayan khusus kasir, Se Na.”

 

“Hei, tidak ada salahnya kalau aku menggantikan sebentar. Aku juga bisa membawa beberapa makanan ke pelanggan.”

 

“Ya! Banyak pelanggan eomma yang berjenis kelamin pria. Bisa jadi kau digoda mereka. Tidak, aku tidak setuju.”

 

“Memangnya kenapa? Kalau aku digoda bukankah itu berarti aku terlihat cantik?”

 

“Ya! Tapi kau hanya milikku! Tidak ada yang boleh menggodamu kecuali aku. Tidak, kau tidak boleh bekerja di sana.”

 

“Lalu kau akan membiarkanku kesepian di rumah? Ayolah Baek—” Se Na menyatukan kedua telapak tangannya.

 

“Hei, panggil aku oppa.”

 

“Shireo! Huh, kau memang lelaki paling menyebalkan.” Se Na mengerucutkan bibirnya. Kemudian mengalihkan tatapannya dari Baekhyun. Sedangkan Baekhyun masih membawa satu sendok makanan yang sudah berada di depan mulut Se Na.

 

“Ayo makan lagi.”

 

“Tidak mau.”

 

“Hei kau—”

 

Ting tong~

 

Baekhyun mendesah kesal. kemudian meletakkan satu sendok makanan di mangkuk. Ia lantas berdiri dan berjalan menuju pintu. “Eomma?” Pria itu tersenyum sekilas melihat kedatangan sang Ibu.

 

“Se Na ada di rumah?”

 

“Kau selalu mencari menantumu, dari pada putramu.” Ucap Baekhyun sambil tersenyum kecil. “Se Na ada di rumah. Dia sedang berada di ruang makan.” Baekhyun mempersilahkan sang Ibu untuk memasuki rumahnya. Kemudian membawanya menuju ruang makan.

 

“Eommonim.” Se Na menyapa sang mertua sambil tersenyum ramah pada wanita paruh baya itu.

 

“Bagaimana keadaanmu?”

 

“Baik eommonim.”

 

“Dia mengurung diri seharian, kemarin.” Sahut Baekhyun sambil melirik kearah Se Na. sedangkan yang dilirik hanya memanyunkan bibirnya. Baru saja wanita itu akan mengeluarkan suaranya, tapi ia justru menutup mulutnya dengan telapak tangan. Perutnya serasa di aduk-aduk dan berakhir dengan rasa mual. Gadis itu masih diam sambil menutup mulutnya. Sedangkan dua orang yang ada di sana hanya menatapnya bingung.

 

Sepersekian detik kemudian, Se Na berlari menuju kamar mandi. “Hoeekk.. hoekk..” Baekhyun khawatir mendengarnya. Pria itu segera mengikuti Se Na ke kamar mandi. Ia memijit tengkuk Se Na dengan khawatir. “Hoek..”

 

Wanita itu membasuh wajahnya dengan air. “Kau tidak apa-apa? Kau sakit? Wajahmu pucat. Kurasa kau perlu ke dokter. Aku takut kau kenapa-kenapa, Se Na-ya.” Se Na menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Baekhyun yang bertubi-tubi.

 

“Tidak. Tidak apa-apa.”

 

“Tidak apa-apa bagaimana. Kau sakit. Kau perlu ke dokter.”

 

PLETAK

 

Satu pukulan sukses mendarat di kepala Baekhyun. Pria itu sedikit terkejut dengan pukulan itu. ia kemudian berbalik dan menatap sang ibu yang sudah berdiri di ambang pintu dengan menggelengkan kepalanya.

 

“Sakit bagaimana? Istrimu hamil dan kau tidak tahu?”

 

“Eoh?” Baekhyun membulatkan mata sipitnya. Tatapannya beralih kearah Se Na. wanita itu berjalan keluar dari kamar mandi. Kemudian diikuti Baekhyun di belakangnya.

 

“Benarkah? Kau hamil?” Tanya pria itu sambil mengimbangi langkah Se Na. sedangkan sang Ibu hanya menggelengkan kepalanya sambil menuntun Se Na untuk duduk di sofa ruang tengah.

 

“Sebenarnya kemana saja kau, Byun Baekhyun?” Tanya sang Ibu sambil menatap putranya heran.

 

“Dia terlalu sibuk dengan dunianya, eommonim.”

 

“Ya! Jawab pertanyaanku dulu.” Kedua orang yang sudah duduk itu mendongak menatap Baekhyun yang berdiri dengan dipenuhi seribu pertanyaan.

 

“Apa aku harus berkata seribu kali dulu, baru kau percaya, huh?” Balas nyonya Byun yang disambut lengkungan di bibir Baekhyun. Pria itu tertawa dengan lebar.

 

“Hei, jadi aku akan menjadi ayah?” Se Na berdehem pelan. Membuat Baekhyun lagi-lagi tersenyum senang. Pria itu segera menarik Se Na kedalam pelukan.

 

“Terimakasih, sayang.” Ucap Baekhyun disertai ciuman-ciuman kecil yang ia daratkan di kening Se Na. “Hei, jadi aku tahu alasan kau marah-marah tidak jelas seperti kemarin.” Baekhyun melepaskan pelukannya sambil tersenyum menggoda kearah Se Na.

 

“Ya! Kau harus menuruti permintaanku, oppa. Eommonim, aku boleh ikut bekerja di restoranmu kan?”

 

“Tidak, Se Na. Sekarang aku lebih tidak mengijinkan lagi. Kau sedang hamil, dan kau tidak boleh bekerja keras.”

 

“Gwaenchana, Se Na-ya. Kau bisa bekerja di bagian kasir.”

 

“YA! Eomma!”

 

 

 

Fin.

 

 

Gimana? Gak jelas ya? Maaf deh kalau gak jelas. Ini buatnya agak gak mood gitu sebenernya. Tapi aku ingatkan. Ff ini beda sama ‘He is My Husband’ ya. Soalnya ini series Baek-SeNa yang waktu itu. jadi ini gak ada hubungannya sama ff HIMH.

Yaudah gitu aja.

Tinggalkan komentarnya. J

 

Regards,

 

Byunniexo

 

 

 

Advertisements

107 responses to “[Baek-SeNa Couple] Pregnant Effect — By Byunniexo

  1. Baek jgn protective sama wanita hamil wkwkwk biarin aja sena kerja wkwkwk
    Ahh romantis couple ♥

  2. wah suka suka ngaakak bacanya hehe 🙂 Ada lanjutannya dong pastinya aku tunggu deh pokoknya 😀

  3. ini ga bakalan di lanjutin lagi ya kak byunniexo? sayang loh seru kak.
    ayolahhhh.. ayolahhh lanjutkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s