Affairs of the Heart [Chapter 1]

Affair of the Heart(9)

Kim Seona dan Byun Baekhyun telah berkomitmen dengan orang lain namun justru mereka memulai berhubungan setelah tanpa sengaja bertemu pada suatu malam dan hal tersebut membuat hidup mereka dalam resiko yang besar.

.

.

.

AFFAIRS OF THE HEART

Kim Seo Na – Byun Baek Hyun – Byun Hye Ra – Kim Joon Myun

Romance, Drama, Marriage Life

PG-17

Disclaimer:

credit

.

.

.

.

.

C H A P T E R  O N E

.

.

.

.

.

Byun Baekhyun melihat seorang wanita yang tengah duduk di sebuah kursi kecil dekat bar. Ia memerhatikanya yang sedang menyeruput sebuah wine. Terlihat beberapa pria yang berjalan meninggalkannya setelah wanita tersebut menolak ajakan mereka untuk berdansa.

Beberapa saat kemudian wanita tersebut menyadari bahwa dirinya tengah di perhatikan oleh seseorang dan Baekhyunpun tidak dapat memungkiri bahwa betapa cantiknya wanita tersebut. Rambut cokelat mudanya yang hampir sepinggang dan manik mata cokelatnya menatap gelas wine tersebut dengan bosan. Wanita tersebut terlihat tengah menunggu seseorang karena ia secara terus-menerus melihat ke arah pintu masuk.

Dan Baekhyun pun penasaran mengapa wanita tersebut sendirian disini.

Dimana kekasih atau suaminya?

Apakah itu sebabnya ia terus melihat ke arah pintu masuk?

Tetapi, apakah ia mempunyai salah satu diantara kedua? Kekasih? Suami?

Baekhyun sendiripun berharap wanita tersebut tidak mempunyai kedua-duanya. Dan ia terkejut akan pemikirannya.

Ia bahkan lebih terkejut ketika ia berdiri dari kursinya dan mulai berjalan ke arah wanita tersebut. Ia tidak bisa menghentikan langkahnya, walaupun ia sudah mencobanya.

“Hai. Byun Baekhyun.” Baekhyun memperkenalkan dirinya seraya mengulurkan tangannya.

Wanita tersebut terkejut. Ia terlihat ragu namun pada akhirnya ia menjabat tangan Baekhyun dan menyapa balik dengan suara halusnya, “Hai. Lee Seona.”

Baekhyun tersenyum melihat tingkah Seona. “Kau tidak perlu gugup seperti itu, Seona-ssi.” Ia mengambil tangan Seona kemudian menciumnya. “Aku akan segera pergi jika kau menginginkannya.”

Kemudian Baekhyun melanjutkan, “Aku memutuskan untuk datang kesini karena kau terlihat sendirian dan aku berpikir sepertinya kau membutuhkan seseorang untuk menemanimu.”

Seona terlihat sedikit lega ketika mendengarnya. “Kau benar, aku membutuhkan seseorang untuk menemaniku,” ucapnya dengan wajah yang sedikit tersipu.

Kemudian mereka berduapun berbincang mengenai banyak hal. Dari percakapan tersebut Seona dapat mengetahui banyak hal tentang Baekhyun mulai dari usianya yang beranjak dua puluh tujuh tahun, yang faktanya hanya berbeda satu tahun dengannya. Dan juga ia mempunyai sebuah perusahaan besar di Seoul.

Percakapan mereka terhenti  ketika ponsel Seona berbunyi, dengan segera ia mengambil ponselnya. Seona berusaha menyembunyikan rasa kecewanya ketika ia melihat nama seseorang yang tertera di layar ponselnya. Tetapi sepertinya ia tidak pandai menyembunyikannya karena Baekhyun langsung mengomentari ekspresinya. “Tak apa, kau tidak perlu terlihat kecewa untuk menjawab teleponmu. Aku akan menunggu disini sampai kau kembali.”

Seona tersenyum minta maaf dan hanya mengikuti ucapan Baekhyun, bukannya menjelaskan alasan sebenarnya mengenai ekspresinya. Ia meninggalkan Baekhyun dan mencari sebuah tempat yang terpencil.

“Yeoboseyo,” jawabnya.

“Chagi–ya.”

Seona menggigit bibirnya. “Kau tidak datang,kan?”

Ia mendengar suara desahan kecewa. “Tidak, Sayang. Aku sangat sibuk dengan pekerjaanku. Mungkin besok malam.”

“Besok adalah hari sabtu, Sayang. Kau ada acara perjalanan bisnis, ingat? Dan kau akan pergi setidaknya dua minggu.”

“Oh iya, benar. Kau disana sendirian?”

Seona melirik kea rah Baekhyun yang sedang memesan sebuah minuman. “Tidak, aku baru saja berkenalan dengan seseorang disini.”

“Pria atau wanita?”

Seona ragu kemudian ia menjawab, “Wanita.”

“Bagus. Aku senang temanmu bukan seorang pria atau mungkin saja aku akan berpikir bahwa ia sedang menggoda istriku.”

Seona tertawa kecil. “Tidak. Tidak ada seorang pria pun yang sedang menggodaku.”

“Bagus. Sampai jumpa nanti malam. Aku mencintaimu.”

“Aku juga mencintaimu,” jawabnya hampir berbisik sebelum memutuskan sambungan teleponnya. Ia tidak percaya bahwa dirinya telah berbohong kepada suaminya sendiri. Dan ia juga tidak percaya bahwa dirinya tidak memberitahu kepada Baekhyun bahwa ia telah menikah selama dua tahun.

Ia bukanlah seseorang yang pertama kali memulai semua ini, justru Baekhyun yang memulai. Dan Seona pun tidak punya banyak waktu untuk mengatakan semuanya kepada Baekhyun. Seona masih di tempat terpecil tersebut kemudian ia menatap Baekhyun dengan kagum.

Tampan. Satu kata yang dapat menggambarkannya. Matanya berwarna hitam pekat serta rambutnya yang tertata rapi, membuatnya tampak ‘berbahaya’ dan maskulin. Saat ini, Baekhyun menggunakan jas kantornya yang berwarna abu-abu dan hal tersebut menunjukan bahwa ia baru saja tiba dari kantornya. Seona tidak dapat mengatakan apakah Baekhyun berotot atau tidak, tetapi insting kewanitaannya mengatakan bahwa Baekhyun memiliki tubuh yang ‘bagus’.

Seona berdeham kemudian berjalan menuju tempat Baekhyun berada. Sebenarnya Seona mempunyai keinginan untuk pulang, tetap ketika ia telah tiba dihadapan Baekhyun, Seona tahu bahwa ia tidak dapat pulang. Bukan sekarang, setidaknya.

“Siapa tadi?” tanya Baekhyun dengan santai.

Seona berpikir bahwa sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengatakan hal sebenarnya tentang pernikahannya, tetapi entah mengapa ia justru mengubah pikirannya dan mengatakan, “Temanku.”

Dua kali ia telah berbohong. Kebohongan yang sangat besar.

Baekhyun menatap wajah cantik Seona kemudian tersenyum lega. Sebenarnya pada awalnya Baekhyun sudah merasa khawatir bahwa telepon tersebut dari suaminya atau kekasihnya namun ia senang mengetahui bahwa itu hanya seorang teman.

Mengapa ia harus khawatir? Ia bahkan tidak seharusnya merayu ataupun menggodanya. Dan Baekhyun mengakui bahwa ia adalah pria munafik yang pernah memanggil dirinya sendiri seorang gentleman namun tetap bermain mata dengan wanita ini. Tetapi entah mengapa daya tarik Seona sangatlah kuat untuk menarik dirinya seperti sebuah magnet.

“Mau pergi ke suatu tempat denganku?” tanya Baekhyun secara tiba-tiba.

“Sekarang?” Seona melihat jam tangannya. “Sekarang sudah jam tujuh malam!”

Baekhyun tersenyum lebar. “Aku tahu.”

Baekhyun menarik lengan Seona keluar klub tersebut. Ia melirik Seona dan melihat ekspresi wajahnya yang khawatir. “Jangan khawatir, aku tidak menggigit.”

Seona menganggukan kepalanya seraya Baekhyun menarik lengannya ke mobilnya. Ketika mereka telah memakai seat belt, Baekhyun menyalakan mesin dan mulai mengendarai mobilnya menuju jalan raya.

“Kau membawaku kemana?” tanya Seona dengan gugup.

“Suatu tempat yang kupikir kau akan suka.”

Setelah Baekhyun menjawab pertanyaan Seona, tidak ada satupun dari mereka yang memulai pembicaraan kembali. Beberapa menit kemudian, Seona mengedipkan matanya berkali-kali ketika mobil yang dikendarai Baekhyun mendekati sebuah taman. “Taman?”

“Ah, iya.” Baekhyun mengedipkan sebelah matanya seraya keluar dari mobilnya. Ia berlari dengan terburu-buru dan membuka pintu mobilnya untuk Seona. “Aku cukup yakin kau tidak pernah ke sini saat malam hari.”

Seona menggelengkan kepalanya. “Kau benar, aku tidak pernah.” Dan bahkan sekarang, Seona tidak yakin ini adalah ide yang baik pergi ke taman pada malam hari bersama pria yang baru saja ia kenal.

Baekhyun menarik lengan Seona dan berjalan menjauhi mobilnya dan menuntunnya berjalan melewati jalan kecil di taman tersebut. Tiba-tiba saja Baekhyun memutar tubuhnya menghadap Seona. “Sekarang tutup matamu.”

Seona hanya terdiam menatap Baekhyun-sambil beberapa kali mengedipkan matanya-dengan penuh tanda tanya. Sebenarnya ia tidak ingin memercayai seorang pria yang baru saja ia kenal beberapa jam yang lalu, tetapi ketika ia melihat senyum Baekhyun dan detik itu juga ia tahu Baekhyun adalah seseorang yang dapat dipercaya. Akhirnya Seona menutup matanya, dan Seona merasakan Baekhyun menuntun dirinya ke suatu tempat.

Tidak seharusnya ia memercayai Baekhyun hanya karna senyumnya. Beberapa pria telah menggunakan trik tersebut untuk meyakinkan para wanita agar mereka dapat ‘mempersetubuhi’ nya.

Tetapi ada sesuatu tentangnya yang ia sendiri tidak mengerti. Bahkan ketika Baekhyun menghampirinya, seketika ia menjadi gugup namun bukan karena ia takut tetapi karena daya tarik Baekhyun yang ia rasakan. Ia tidak pernah merasakan hal seperti itu sebelumnya, bahkan tidak pernah dengan suaminya. Hal tersebut membuatnya panik ketika mengetahui bahwa daya pikat Baekhyun lebih besar dibandingan dengan pria lain bahkan dengan suaminya sendiri.

Beberapa menit kemudian, Baekhyun berdiri di belakang Seona dan meletakkan kedua tangannya di bahu Seona. “Buka matamu,” bisiknya.

Seona membuka matanya dengan perlahan dan kemudian ia tersentak. “Cantik,” bisiknya ketika melihat kunang-kunang yang berterbangan di sekitar mereka. Seumur hidupnya, ia belum pernah melihat kunang-kunang sebanyak ini.

“Aku pikir kau menyukainya.”

Seona berbalik, lantas Baekhyun menurunkan kedua tangannya dari bahu Seona. “Tidak pernah seorangpun…” Seona mengibaskan kedua tangannya dengan perlahan keseluruh penjuru untuk menunjukkan kunang-kunang yang berterbangan di sekitar mereka.

“Anggap saja kau telah membuatku terkejut,” lanjutnya.

Baekhyun mengangkat tangannya untuk mengusap pipi Seona dengan lembut. “Itu adalah rencananya.”

Mereka menatap satu sama lain dengan intens. Seperti magnet, mereka pun mulai mendekatkan wajah mereka kemudian menutup matanya dan bibir mereka akhirnya bertemu. Ciuman tersebut awalnya terasa lembut dan ‘ringan’ namun beberapa saat kemudian Baekhyun menarik tubuhnya sejenak lalu ia menciumnya kembali. Kali ini Baekhyun memperdalam ciumananya dan Seona tidak sungkan-sungkan untuk membalas ciuman Baekhyun.

Mereka menarik kembali tubuh masing-masing untuk mengambil oksigen dan merekapun sedikit terengah-engah karenanya.

“Itu bukanlah bagian dari rencana,” ucap Baekhyun, tidak menginginkan Seona untuk berpikir bahwa ia telah merencanakan ciuman tersebut. Dan ini benar-benar murni bukan bagian dari rencananya. Dengan adanya kunang-kunang yang berada di sekitar Seona, membuatnya tampak berkilauan seperti seorang malaikat dan ia tentu saja tidak dapat menahan dirinya untuk mencium seseorang yang kemungkinan tidak nyata. Tidak ada seorangpun yang dapat terlihat sangat cantik seperti ini kecuali Seona, dan Baekhyun mengakui itu.

“Aku yakin, itu bukan,” ucap Seona.

“Tetapi sekarang, ini adalah rencana,” bisik Baekhyun kemudian mencium Seona kembali dan menyadari bahwa makhluk tuhan yang berada dihadapannya kini adalah nyata.

.

.

.

Seona berjalan menuju kamar tidur di rumah besarnya. Sebisa mungkin ia tidak membuat keributan, untuk berjaga-jaga kalau suaminya sudah berada di rumah. Ketika ia melihat kamar mereka kosong, ia menyadari bahwa ia tidak perlu lagi untuk tidak membuat keributan.

Seona menghela nafas, kemudian ia menuju ke kamar mandi dan mengganti pakaiannya dengan baju tidur. Ia meninggalkan kamar mandi dan berjalan menuju kasur berukuran besar yang terdapat di kamarnya. Seona benar-benar tidak mempercayai bahwa ia baru saja beciuman dengan pria lain yang bukan suaminya. Dan ia juga menyetujui ajakan Baekhyun untuk berkencan besok malam. Bagaimana bisa ia berselingkuh kepada suaminya yang ia cintai dengan sepenuh hati?

Seona meletakkan kepalanya di atas bantal kemudian menutup matanya. Ia tertidur dan memimpikan tentang Byun Baekhyun.

.

.

.

Seona berbaring di sebuah sofa bed sambil membaca buku. Ia sedikit mendongakkan kepalanya kemudian melihat Joon Myeon–suaminya–berjalan melewatinya entah sudah berapa kali Seona melihat Jun Myeon kesana-kemari, memastikan bahwa ia tidak meninggalkan barang yang ia butuhkan untuk perjalanan bisnisnya nanti.

“Sayang, kau benar-benar tidak membutuhkan bantuanku?” tanya Seona, nada suaranya terdengar sedikit khawatir. Mendengarnya, membuat Joon Myeon menghampiri Seona kemudian ia tersenyum lebar.

“Tidak perlu, aku sudah selesai berkemas,” ucap Joon Myeon seraya memberikan kopernya kepada supir pribadinya. Joon Myeon duduk disamping Seona dan beberapa detik kemudian terdengarlah suara tawa. Ternyata Joon Myeon menggelitik Seona dan hal tersebut membuat Seona mengeluarkan sedikit air matanya. Karna tidak tahan, akhirnya Seona menggunakan salah satu cara yang iya yakini dapat membuat Joon Myeon mau melepaskannya.

Seona mulai mencium bibir Joon Myeon. Dan ekspetasinya benar bahwa Joon Myeon akhirnya menghentikan aksi menggelitiknya. Namun beberapa saat kemudian Joon Myeon kembali menggelitik Seona.

“Hentikan, Jun Myeon!” perintah Seona, masih terdengar gelak tawanya. Joon Myeon tertawa sambil mendongakan kepalanya. “Aku akan merindukanmu,” ucapnya.

“Tentu saja!”

Seketika Joon Myeon memberikan tatapan tajamnya ke Seona. “YA! Seharusnya kau mengatakan ‘aku akan merindukanmu juga’!”

Seona tersenyum lebar. “Haruskah? Walaupun pada akhirnya kau juga tahu bahwa aku akan merindukanmu?”

Joon Myeon berpura-pura memikirkan pertanyaan Seona. “Kau benar.”

“Semua koper sudah berada di dalam mobil, Tuan,” ucap seorang supir pribadi Joon Myeon. Lantas ia berdiri dari sofa bed kemudian berjalan menuju pintu utama rumah mereka.

Seona mengikuti Joon Myeon dari belakang. Joon Myeon menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Seona. “Sepertinya sekarang waktunya aku pergi,” ucapnya seraya sedikit menurunkan kepalanya kemudian mencium Seona.

Seona merespon seperti biasa namun entah mengapa pikirannya tiba-tiba mengingat ciumannya dengan Baekhyun semalam, dan Seona sadar bahwa ia telah membandingkan ciuman Joon Myeon dengan Baekhyun, yang ia sadari bahwa ciuman Joon Myeon terasa biasa saja.

“Sampai jumpa dalam dua minggu kedepan. Aku mencintaimu,” ucap Joon Myeon kemudian meninggalkan Seona yang menatap kepergiannya.

Seona menghela nafas, ia kembali masuk kedalam rumah. Ia mengambil bukunya dan meletakkannya di sebuah meja kecil. Seona menatap ke seluruh penjuru ruangan. Ia menyukai rumahnya yang besar, namun bukan berarti ia menyukainya karna rumahnya yang besar dan menunjukkan betapa kayanya ia dan suaminya tetapi karena ia yang telah mendekorasinya. Seona sangat menyukai mendekorasi ruangan dan karena itulah ia memiliki sebuah perusahaan kecil di bidang dekorasi interior.

Seona melihat jam tangannya, ternyata sudah pukul lima sore. Ia merenggangkan tubuhnya kemudian menuju kamar mandi dan bersiap-siap untuk acara kencannya dengan Baekhyun nanti malam.

.

.

.

Baekhyun tertawa sambil melempar sebuah bantal ke istrinya, Byun Hyera.

YA! Kau melemparkannya tepat di hidungku!” Hyera menyengir lebar sambil mengambil bantal yang berada di lantai. “Suamiku tercinta, apakah kau berpikiran untuk menjelaskan mengapa kau melemparkan bantal ke arahku?”

“Untuk mendapatkan perhatianmu,” jawab Baekhyun dengan santai. “Rumah ini sangatlah besar, dan aku tidak ingin mengganggu salah satu pelayan disini, jadi aku memutuskan untuk melempar bantal ke arahmu ketika kau melewati pintu kamar.”

Hyera memutar kedua bola matanya kemudian meletakkan kembali bantal tersebut ke tempat semula. “Mengapa kau menginginkan perhatianku?”

“Hanya ingin tahu jam berapa kau akan pergi nanti malam.”

Hyera menatap Baekhyun dengan penuh tanda tanya. “Mengapa?”

“Hanya ingin tahu berapa jam yang aku punya sekarang sebelum kau pergi untuk bersenang-senang dengan temanmu.”

“Kau punya-” Hyera melihat jam tangannya “-tepatnya dua jam sebelum aku pergi.”

Baekhyun tersenyum, dan mengetahui bahwa ia tidak perlu ‘mengusir’ istrinya terlalu cepat sebelum ia berganti pakaian untuk kencannya nanti malam. “Jam berapa kau akan kembali?”

“Sebelum tengah malam,” jawab Hyera dan beberapa detik kemudian ia tersenyum licik. “Semoga saja aku tidak akan terlalu lelah untuk aktifitas apapun nanti ketika aku sampai dirumah.”

Baekhyun tahu apa yang dimaksud istrinya dan ia cukup tergoda untuk mengatakan bahwa sepertinya Hyera harus membuang jauh-jauh rencana yang ada dipikirannya, tetapi ia menahannya. “Semoga saja,” gumam Baekhyun, berusaha bertingkah seperti biasanya, kemudian ia mencium istrinya.

“Tidak sekarang, sayang,” bisik Hyera sambil mendorong tubuh Baekhyun menjauhinya. “Aku harus bersiap-siap.”

Baekhyun menatap Hyera dengan tidak senang. “Sekarang? Kau masih punya waktu dua jam-”

“Aku tahu. Tetapi aku tidak ingin terlalu terburu-buru nanti.”

Baekhyun melihat istrinya yang pergi ke kamar mandi, kemudian ia mengambil ponselnya dan sebuah kertas kecil berisi nomor telepon seseorang. Dengan cepat, ia menghubungi nomor tersebut. Baekhyun mendekatkan ponselnya ke telinganya, namun ia tetap melihat ke arah pintu kamarnya, memastikan istrinya tidak kembali. Beberapa detik kemudian, Baekhyun mendengar suara Seona.

“Yeoboseyo?”

Baekhyun tersenyum. “Apa yang sedang kau lakukan sekarang?”

Ia mendengar suara gelak tawa Seona. “Kau terlalu to the point, Baekhyun. Seharusnya kau bertanya bagaimana kabarku.”

“Baiklah, lain kali aku akan bertanya seperti itu. Tapi, apa yang sedang kau lakukan sekarang?”

Ia mendengar Seona tertawa pelan sebelum menjawab. “Aku baru saja selesai mandi.”

Baekhyun sedikit terkejut ketika melihat seorang pelayan melewatinya dan ia pun menunggu sampai pelayan tersebut menjauhinya sebelum bertanya kembali. “Jadi, apa yang akan kau kenakan nanti?”

“Aku tidak akan memberi tahumu, tentunya kau harus menunggu.”

Baekhyun tertawa pelan. “Benar. Sebenarnya alasan aku menelponmu karena aku tidak tahu dimana harus menjemputmu nanti. Berikan aku alamatmu, Seona.”

Baekhyun mendengar suara Seona yang terdengar sedikit ragu. “Mungkin aku hanya dapat bertemu denganmu dimanapun kita pergi.”

“Tidak! Aku benar-benar ingin menjemputmu,” ucap Baekhyun dengan nada sedikit memohon. Sejak kecil Baekhyun memang sudah dibesarkan menjadi seorang gentleman yang akan menjemput pasangan kencannya. Baekhyun tersenyum kecut. Betapa ironisnya ia menjadi seorang gentleman ketika menjemput Seona tetapi untuk setia kepada istrinya saja, ia bahkan jauh dari kata seorang gentleman.

Seona menghela nafas. “Ah, baiklah.”

Dengan segera, Baekhyun mengambil sebuah kertas kecil dan pulpen kemudian ia mencatat alamat rumah Seona yang telah disebutkan olehnya. “Baiklah, aku akan menjemputmu sekitar jam setengah tujuh malam.”

“Aku akan bersiap-siap.”

Mereka mengucapkan selamat tinggal dan Baekhyun memutuskan sambungan teleponnya. Ia tersentak ketika Hyera secara tiba-tiba duduk disampingnya. “Kau tadi berbicara dengan siapa?”

Baekhyun cepat-cepat berpikir mencari alasan. “Ah, klien dari perusahaanku.”

“Di hari sabtu?” tanya Hyera dengan sedikit tidak percaya.

Baekhyun memberikan senyuman terbaiknya. “Beberapa orang tidak pernah tahu kapan untuk bersantai.”

.

.

.

Byun Baekhyun sedikit membuka mulutnya ketika ia memasuki area pelataran rumah Seona. Rumah miliknya cukup besar namun rumah milik Seona ternyata lebih besar dibandingkan rumahnya. Pintu pagar terbuka otomatis, ia hendak keluar dari mobilnya tetapi terhenti sejenak ketika ia melihat Seona yang keluar dari pintu rumahnya menggunakan dress merah berbahan sutera, menutupi tubuhnya hingga mata kaki serta selendang transparan yang menutupi bahunya.

Baekhyun keluar dari mobilnya dan menghampiri Seona dengan senyum terbaiknya. “Aku terkejut,” ucapnya sambil menatap Seona dari atas hingga ke bawah.

Seona tersenyum kecil. “Bagus, itulah yang memang aku inginkan.”

Baekhyun mengambil dan menggenggam tangan Seona kemudian ia menuntunnya menuju mobilnya. “Kita akan pergi kemana?” tanya Seona ketika mereka memakai seat belt masing-masing.

“Park Hyatt Hotel,” jawab Baekhyun sambil menyalakan mesin mobilnya kemudian mulai mengendarainya.

Seona mengangkat sebelah alisnya. “Kita makan malam disana?”

“Tentu saja. Aku tahu disana sangat mahal, tapi tenang saja aku punya uang,” ucap Baekhyun dengan santai kemudian ia melanjutkan dengan nada sedikit menggoda, “Dan kelihatannya kau juga punya banyak uang.”

Baekhyun bersumpah bahwa ia melihat pipi Seona memerah. “Iya benar, aku menghasilkan uang yang cukup banyak,” ucap Seona, membenarkan ucapan Baekhyun.

“Apa pekerjaanmu?”

“Aku seorang perancang interior dan aku memiliki bisnis kecil yang bernama Eye Avenue.”

Baekhyun melirik Seona, terlihat sedikit terkejut ketika mendengarnya. “Eye Avenue? Kau pemiliknya?”

“Iya.”

Tiba-tiba saja Baekhyun tertawa dan hal tersebut membuat Seona berpikir bahwa Baekhyun menertawakannya karena ia adalah pemiliknya. Apakah hal itu sulit untuk dipercaya?”

“Bisnis kecil dari nenek moyang!” seru Baekhyun. “Itu adalah salah satu perusahaan besar di Korea Selatan.”

Dalam hatinya, Seona lega kemudian ia tersenyum. “Ya, itulah yang- hmm…yang orang lain katakan.” Baekhyun tetap tertawa kecil dan ia tidak menyadari bahwa Seona sedikit gugup ketika mengatakannya. Seona hampir saja mengatakan ‘suamiku’, tetapi untung saja ia cepat menyadarinya.

Seketika Seona menjadi khawatir. Bagaimana jika Baekhyun mengetahui tentang pernikahannya? Baekhyun orangnya terlihat sangat baik tetapi ia mempunyai firasat bahwa Baekhyun sepertinya membenci kebohongan. Dan itulah yang tengah ia lakukan sekarang.

Seona tahu ia salah ketika tidak terus terang mengatakan bahwa ia sudah bersuami, namun itu juga salah Baekhyun tidak bertanya apakah ia masih lajang atau tidak. Dan tidak hanya itu, Baekhyunlah yang pertama kali menghampirinya, menggodanya, menciumnya bahkan mengajaknya kencan. Dan Seona menerima semua perlakuan Baekhyun terhadapnya. Ia tahu bahwa tidak seharusnya ia menyalahkan semuanya kepada Baekhyun.

Ketika mereka memasuki pelataran parkiran, Baekhyun memarkirkan mobilnya. Kemudian ia melingkarkan salah satu lengannya ke bahu Seona dan menuntunnya masuk kedalam restoran tersebut.

“Walaupun sudah beberapa kali datang ke tempat ini, aku selalu saja menahan nafasku ketika melihat interior restoran ini,” ucap Seona dengan nada terkagum.

“Aku juga.”

Setelah duduk di kursi masing-masing dan memesan beberapa menu, lantas mereka tenggelam dalam sebuah percakapan. Suara tawa pelan terdengar dan mereka pun berbicara tentang hal apapun tanpa membicarakan tentang pasangan mereka masing-masing.

“Dan aku pikir kakakku yang paling menyebalkan, tetapi ternyata anaknya lebih menyebalkan dibandingkan dengan kakakku.” Seona tertawa cukup keras dan Baekhyun hanya tertawa kecil mendengar ceritanya.

“Apakah ia tetap tinggal disini?” tanya Baekhyun dengan penasaran.

Seona menggelengkan kepalanya. “Tidak, ia telah pindah beberapa tahun yang lalu dan sekarang tinggal di Beijing.”

“Bagaimana dengan orang tuamu?”

Seona menghela nafas. “Meninggal. Ibuku meninggal karena penyakit langkanya ketika aku berumur tiga tahun dan Ayahku meninggal dua tahun yang lalu karena kecelakaan mobil.”

“Aku turut berduka cita.”

Seona menepis permintaan maaf Baekhyun. “Tak apa. Aku telah menerima kematian mereka.”

Sebuah musik mulai terdengar. “Mau berdansa?” ajak Baekhyun dan Seona tersenyum mengiyakan.

Mereka berjalan ke lantai dansa dan Baekhyun melingkarkan lengannya di pinggang Seona dan Seonapun meletakkan kedua tangannya di bahu Baekhyun. Mereka menikmati alunan musiknya, dan perlahan Seona mengistirahatkan kepalanya di dada Baekhyun.

Baekhyun melirik kebawah, melihat Seona kemudian ia tersenyum. Seona benar-benar cantik. Dia bukanlah wanita tercantik yang pernah Baekhyun temui tetapi ia benar-benar wanita yang paling memiliki daya pikat yang sangat besar. Baekhyun tidak pernah bertemu seseorang sepertinya, dan ia tahu bahwa wanita satu ini tidak akan pernah membuatnya bosan.

Tetapi ia sadar bahwa Seona seperti buku terbuka. Jika ia terluka pasti ia akan hancur, setidaknya itu menurutnya. Dan jika ia mengetahui tentang pernikahannya, ia benar-benar akan ‘hancur’. Baekhyun tahu itu terlalu cepat untuk menganggap bahwa kebohongannya akan menyakiti Seona secara emosional. Dan Baekhyun menyadari jika Seona mengetahui tentang Hyera, itu akan menjadi sebuah tamparan bagi Seona dan pasti ia akan mengabaikannya bahkan membencinya.

Jika mereka sering menghabiskan waktu bersama bahkan sampai menjalin hubungan yang cukup serius, Baekhyun tahu dan yakin bahwa Seona akan terluka. Jadi, ia harus membuat keputusan apakah itu mengakhiri atau mulai menjalin hubungan dengan Seona.

Hubungan terlarang, ia hampir meringis memikirkannya. Ia tidak dapat membayangkan untuk memanggilnya dengan sebutan ‘simpanannya’ bahkan ia tidak akan menoleransi siapapun yang memanggil Seona dengan panggilan itu. Seona terlalu berharga baginya dan Baekhyun bodoh jika membiarkan Seona pergi meninggalkannya. Dan Baekhyun tidak membiarkan hal itu.

Tidak peduli jika ia sudah mempunyai istri.

Sial. Ia tidak pernah terpikirkan sekalipun bahwa ia akan menghadapi situasi seperti ini. Ketika ia bertemu dengan Hyera, ia berpikir bahwa ia merupakan satu-satu wanita yang ia cintai. Hyera merupakan wanita yang mengagumkan. Hidupnya tidak pernah biasa saja atau bosan dengannya, dan selingkuh di belakangnya benar-benar tindakan yang bodoh.

Baekhyun dan Hyera cukup terkenal di sekitar sini dan kemungkinan besar orang-orang akan tahu bahwa Seona bukanlah istrinya.

Apakah ia cukup berani untuk mengambil resikonya? Apakah ia mempunyai keberanian untuk menghadapi perceraian dan resiko kehilangan semuanya, istri bahkan reputasi hanya karena ia terpikat dengan seorang wanita di sebuah klub?

.

Kim Seona menggigit bibinya. Ia juga penasaran jika ia menyetujui hubungan ini. Seona tentu saja mencintai Joon Myeon sejak hari dimana ia bertemu dengannya dan jika ia kehilangan Joon Myeon, hal tersebut  akan membuatnya hancur. Mereka menghabiskan waktu bersama dan jarang sekali bertengkar. Joon Myeon memperlakukannya seperti seorang tuan puteri dan ia telah membangun sebuah rumah tangga yang bahagia dengannya. Mereka bahkan telah merencanakan untuk mempunyai anak dalam waktu dekat.

Hubungan terlarang ini bukanlah sesuatu yang ia harus lakukan. Ini salah, dan jika orang tuanya masih hidup pastinya mereka tidak menyetujuinya. Dan pada akhirnya, semua orang tidak akan menyetujuinya dan mereka akan mengatakan bahwa ia terlalu bodoh untuk mengambil resiko kehilangan semuanya hanya karena ingin bersama seorang pria asing yang baru saja ia kenal.

Seona hampir meringis ketika memikirkannya. Perempuan baik-baik? Semua orang berpikir bahwa ia adalah perempuan baik-baik selama seumur hidupnya, dan hal itu membuatnya muak. Ia tidak lagi menginginkan menjadi seseorang yang munafik. Ia tidak ingin harus selalu berhati-hati dalam berbicara dan bertingkah, ia tidak ingin bersikap seolah-olah baik terhadap seseorang yang ia benci. Dan saat ini adalah kesempatan yang sangat tepat.

Tetapi ia tahu bahwa di dalam hatinya ia tidak ingin memanfaatkan Baekhyun. Ia tidak ingin memanfaatkan Baekhyun hanya untuk menunjukan kepada orang-orang bahwa ia terkadang bisa menjadi seseorang yang tidak baik. Jika ia ingin bersama Baekhyun ketika ia masih berstatus menikah maka itu adalah karena keinginannya.

Ia tidak tahu jika ia harus menanggung resiko terhadap semuanya, pernikahannya, hidupnya hanya untuk Baekhyun?

.

Ketika musik telah selesai, perlahan mereka berhenti berdansa. Mereka sedikit membuat jarak tetapi tetap menatap satu sama lain.

“Ini benar-benar menakjubkan,” ucap Seona dan ia benar-benar serius akan ucapannya. Seona membuka mulutnya untuk mengucapkan sesuatu tetapi lidahnya menolak untuk mengatakan hal yang sebenarnya tidak ingin ia katakan dan ia justru bertanya, “Haruskah kita kembali?”

Suara musik kembali terdengar dan Baekhyunpun menarik tubuh Seona agar sedikit mendekat dengannya. “Bagaimana kalau berdansa satu kali lagi?” ajaknya dengan suara paraunya. Baekhyun senang berada dekat dengan Seona dan ia belum merasa siap untuk membiarkannya pergi.

Seona ingin menolaknya lalu mengatakan bahwa mereka harus pulang dan tidak harus bertemu kembali. Ia bahkan hampir mengatakannya tetapi justru ia hanya mengangguk saja. Ia merasa bodoh untuk tidak menolaknya. Mereka mulai berdansa kembali dan entah mengapa ia merasa aman berada dipelukan Baekhyun.

Tetapi apakah rasa nyaman ini benar-benar patut diperjuangkan dibandingkan kehilangan suaminya?

.

Setelah berdansa, mereka membayar bill dan pergi dari restoran tersebut. Bukannya jalan menuju pelataran parkiran, justru mereka memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar di sekitar taman yang tepat berada di belakang restoran tersebut.

“Apakah kau tahu ketika sepasang kekasih berjalan melewati taman dan melihat bintang jatuh di langit, itu pertanda bahwa mereka berarti untuk satu sama lain?” gumam Seona.

Baekhyun mendongakkan kepalanya sedikit untuk menatap langit yang tak berbintang malam ini. “Bintang jatuh tidak sering muncul.”

Kemudian Baekhyun melanjutkan, “Apakah kau percaya hal seperti itu?”

“Apa maksudmu?”

“Apakah kau yakin akan takdir?”

Seona memikirkan hal itu sejenak. “Aku setengah percaya. Seperti ketika orang tuaku meninggal, aku merasa lebih baik tahu bahwa itu adalah waktu yang tepat bagi mereka untuk pergi. Jika mereka pantas untuk melanjutkan kehidupan, maka mereka akan selamat dari kecelakaan itu. Bagaimana denganmu?”

Baekhyun menggelengkan kepalanya. “Tidak. Tidak pernah percaya sama sekali. Aku benci bahwa aku tidak dapat mengontrol hidupku sendiri seperti kau adalah aktornya dan apa yang kau lakukan dikontrol oleh seorang sutradara. Aku juga termasuk pria yang lebih mengutamakan logika.”

“Jadi, agar kau percaya maka kau harus melihatnya terlebih dahulu?” tanya Seona dengan tidak percaya.

Baekhyun mengangguk.

“Bagaimana dengan perasaan? Kesedihan, kebahagiaan….cinta. Kau bahkan tidak melihatnya.”

“Tetapi aku dapat merasakannya.” Baekhyun tersenyum dan menarik tubuh Seona agar mendekatnya dengan melingkarkan lengannya di pinggang Seona. “Aku merasakannya dan itulah yang membuatnya tampak nyata.”

Mereka terdiam sejenak. “Apakah ini awal dari sesuatu, Baekhyun?” tanya Seona dengan pelan. “Atau ini hanya sesuatu yang terjadi sekali?”

Baekhyun mendekatkan dahinya ke dahi Seona. “Aku tidak tahu. Kencan pertama bukanlah hal yang dapat memperkirakan apakah ini awal sebuah hubungan atau tidak.”

Terlebih lagi ketika kau telah menikah, mereka berpikir serempak.

“Mungkin setelah kencan kedua, kita akan mengetahuinya,” lanjut Baekhyun.

Seona menaikan alisnya. “Kedua? Maksudmu berarti akan ada kencan selanjutnya?”

“Ah iya, pastinya akan ada kencan kedua.” Baekhyun tersenyum lebar.

Seona tertawa dan Baekhyun kembali mencium Seona dengan lembut. Dan beberapa saat kemudian Seona dan Baekhyun memperdalam ciuman mereka. Ciuman ini adalah terlarang dan keduanya mengetahui hal itu tetapi mereka tidak dapat memungkiri perasaan masing-masing.

Setelah mereka menutup mata, keduanya terhanyut ke dalam dunia yang hanya mereka yang dapat merasakannya. Dan mereka pun kehilangan kesempatan melihat bintang jatuh yang muncul di langit yang tak berbintang malam ini.

to be continue…

134 responses to “Affairs of the Heart [Chapter 1]

  1. kirain byun hyera itu adiknya , ternyata bukan :v tapi istrinya baekhyun
    aku bingung mau ngomong apa , mereka gregettt bgtt :3

    oke next

  2. Alur ceritanya terlalu cepet…pertemuan pertama mereka g terlalu berkesan n terlalu terburu buru,
    Klo menurut aq y… emm maaf saeng bukan bermaksud menyinggung, aq hanya memberikan pendapat aja hehe..tp ttp aq menghargai usaha km ko saeng
    Ttp semangat y
    Smoga ceritanya bisa lebih baik lagi

  3. woaah…. nice ff.. baekhyun perannya jd suami yg selingkuh, gk percaya rasanyaa…. Gmn akhirnya ya sma kdua pasutri ni.. penasaran euy… nice nice nice…

  4. ff nya bgus. tp pertemuan bacon sma itu trlalu cpt tdk ada yg mengesankan. Maaf aq hanya memberikan komentar saja mudah2an bsa d perbaiki. Tp selain itu, semuanya sdh bgus ;3

  5. Oh my gosh…. Ini benar benar….
    Mereka berdua masing masing sudah terikat hubungan perkawinan… Ttp entah knapa ketika seona sama baekhyun bersama terasa cocok sekali…
    No comment deh… Dilematis antara memihak keromantisan mereka berdua atau kesakralan pernikahan yg sudah mereka jalani masing masing… Hueee

  6. baru kali ini aku nemu ff yang keduanya udah nikah terus selingkuh😀 apresiasi banget buat ff ini, semoga banyak pelajaran yang bisa dipetik dari cerita ini yaa.. buat authornya salam kenal, keep writing yaa

  7. Astagaa mereka selingkuh bungg..
    Dua2 nya sama2 selingkuh dari pasangannya, ntar salah satu ketauan udah pada punya pasangan yang satu marah ngga ya? Ngerasa idah dibohongin, yah padahal dia ngga beda..
    Jjangg!!

  8. oh my God..!!!
    inni affair bener2 affair yaa..woaahhh, meskipun aku lebih suka baekhyun dibanding joonmyeon, tapi inii ga bisa dilanjutin kan..inii ga bener.
    masa pernikahan yg udah dibangun indah harus hancur karna perasaan tiba2 mereka seperti itu. aaakkhhhh jangan jangaannnn

  9. Miris…. Pasti karena kesibukan masing” jd kayak gitu. Klo msh pacaran gakpapa lah ya, tp ini udh nikah…. Sedih bgt deh pasangannya klo tau

  10. Dikirain byun hera adiknya baekhyun.. Itu kurang apa coba yaa pasangan masingmasingnya? Seona suaminya udah kaya raya begitu masih aja mau selingkuh haha😂

  11. Bener2 hubungan yg terlarang NOOOOOO….!!!
    Pdhl pernikahan mereka berdua baik2 saja, kenapa harus sprti ini ….. Baek 😢😢😢😢 *aku yg terlalu lebay* haha😄

  12. Emm… ><
    waktu tau ternyata mereka udah nikah… rasanya jleb~ antara, jangan selingkuh dong, walaupun cuman ff, sama, perasaan mereka yang bener bener menyatu, sayang kalo ngga disatuin…
    aihhh… no comment, masih syok/? :'D

  13. aku baru nemu ff ini
    dan aku langsung tertarik,jarang nih ada ff yg konfliknya begini
    aku kira tadi byun hyera itu adiknya,dan ceritanya itu,kayak mereka berdua itu masih sama” lajang,eh ternyata mereka udh punya pasangan,aku mau lanjut baca yg kedua 😀

  14. Smua org berhak mrasakan ‘cinta’ trmsuk Baekhyun n Seona…
    Tp keadaan merekalah yg mmbuat rasa cinta itu salah pd keduanya..
    Rasa cinta itu akan merusak hubungan pribadi keduanya,,cepat akhiri saja sblm trlmbat hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s