Affairs of the Heart [Chapter 2]

Affair of the Heart(9)

AFFAIRS OF THE HEART

Kim Seo Na – Byun Baek Hyun – Byun Hye Ra – Kim Joon Myeon

Romance, Drama, Marriage Life

PG-17

Previous Chapter :

[Chapter 1]

A/N : Aku senang mendapatkan review dari kalian. Awalnya aku takut tidak ada yang menyukai cerita ini. Ya, aku tahu kalau perselingkuhan mereka adalah perbuatan yang buruk tetapi itulah ‘poin utama’ dalam cerita ini, kan? Kalau mereka tidak berselingkuh, tidak akan ada rintangan bagi mereka untuk bersama. Paling tidak pasti ada satu rintangan yang tidak mengijinkan mereka untuk bersama. Dan itu terjadi dalam cerita ini dan disini ada dua rintangan yaitu pasangan mereka masing-masing. Terima kasih atas reviewnya!

C H A P T E R  T W O

Byun Baekhyun membuka matanya ketika sinar matahari mulai menusuk matanya. Ia berkedip beberapa kali, kemudian membelakangi jendela dan menyibakkan selimutnya. Sial, kamarnya terasa dingin. Mengapa sangat dingin?

Ia menoleh ke sebelahnya dan seketika menyadari bahwa Hyera tidak berada di kasurnya. Pantas saja kamar ini terasa dingin. Baekhyun sendirian di kasurnya. Ia berusaha untuk duduk dikasurnya lalu melihat jam yang berada di atas nakas. Jam setengah sebelas. Ia mengerutkan dahinya.

Hyera kemana?

Biasanya Baekhyun yang selalu bangun pertama kali, namun kali ini tidak. Mungkin ia tidur sedikit lebih lama daripada biasanya, alasan utamanya karena ia baru sampai dirumah tengah malam setelah mengantarkan Seona ke rumahnya. Tetapi tetap saja, Hyera bukanlah seseorang yang akan meninggalkan kasur mereka tanpa membangunkannya.

Baekhyun mengakui bahwa jika Hyera bangun lebih awal darinya, biasanya ia membangunkannya karena Baekhyun termasuk seseorang yang akan bangun dengan cepat ketika seseorang tanpa sengaja membangunkannya.

“Kau sudah bangun?”

Baekhyun menolehkan kepalanya ke arah pintu kamarnya. Ia tersenyum ketika melihat istrinya membawakan sebuah nampan berisi sepiring makanan, sepertinya untuk sarapan paginya.

“Wah, kau bangun lebih awal daripadaku. Benar-benar kejadian yang langka. Aku penasaran jika sekarang akan terjadi tornado,” canda Baekhyun. Hyera meletakkan nampan tersebut dipangkuan Baekhyun. Sarapan pagi ditempat tidur, mimpi semua orang ketika bangun di pagi hari. Dan ia sebenarnya ingin sarapan sebelum Hyera mengantarkan makanan ke kamarnya.

“Berisik! Aku bangun pagi untuk meminta maaf padamu tentang semalam. Sebelumnya aku berkata bahwa sebelum tengah malam akan pulang ke rumah tetapi justru aku sampai dirumah pukul dua pagi.” Hyera menggelengkan kepalanya seiring dengan antingnya yang bergerak ke kiri dan ke kanan.

Kemudian ia melanjutkan, “Bahkan kita sampai tidak berhubungan seks.”

“Tidak apa-apa,” ucap Baekhyun seraya mengunyah makannya. Sebenarnya ketika ia tengah di perjalanan pulang kerumah semalam, ia takut jika nantinya ia dan Hyera akan melakukan hubungan intim walaupun sebelumnya ia selalu senang ketika memikirkannya. Tetapi semalam hanya tentang Seona lah yang berada dipikirannya, tidak ada satupun tentang Hyera. Dan ia berfirasat jika ia berhubungan intim dengan istrinya, ia justru akan membayangkan mata cokelat milik Seona bukannya Hyera. Perselingkuhannya dengan Seona sudah cukup buruk baginya dan setidaknya Baekhyun tidak ingin memikirkan wanita lain ketika ia tengah berhubungan intim dengan istrinya.

“Tidak, itu justru masalah,“ ucap Hyera dengan mengerutkan dahinya namun beberapa saat kemudian ia kembali tersenyum. “Tentu saja, pasti ada malam lain.”

Baekhyun menatap Hyera. “Hyera?”

“Hmm?”

“Mengapa tiba-tiba kau sangat ingin berhubungan seks?”

Hyera mengedipkan matanya seakan-akan ia tidak mengerti maksud dari pertanyaan tersebut.  Kemudian ia menghela nafas. “Aku menginginkan anak.”

Tiba-tiba saja Baekhyun tak sengaja menyemburkan kopinya ketika mendengar pernyataan Hyera, sontak saja Hyera mundur ke belakang untuk menghindari kopi yang hampir mengenainya. Kemudian Baekhyun terbatuk-batuk.

“Anak?” tanya Baekhyun dengan tidak percaya.

Hyera menganggukkan kepalanya. “Iya. Aku sekarang sudah siap menjadi seorang ibu dan aku ingin menjadi ibu dari anakmu.”

Baekhyun menelan salivanya. Ini bukanlah jenis percakapan yang ia inginkan sekarang atau dalam waktu dekat. Ketika awal pernikahan, mereka sepakat untuk menunggu beberapa tahun sebelum mempunyai anak. Mereka ingin menghabiskan waktu beberapa tahun untuk diri mereka sendiri.

Jika Hyera mengatakannya seminggu yang lalu, Baekhyun pasti akan membicarakan hal tersebut dengan senang hati. Tetapi semenjak bertemu dengan Seona, semuanya berubah. Ciuman di taman semalam telah membuatnya yakin akan satu hal yaitu Seona pantas untuk diperjuangkan. Baekhyun ingin terus bertemu dengannya, mengetahuinya tentangnya lebih banyak.

“Hyera-”

“Bayangkan saja, Baekhyun! Anak laki-laki yang memiliki wajah sepertimu sedang berlari-lari sambil memanggilmu dengan sebutan ‘Ayah’ atau anak perempuan yang memiliki wajah sepertiku mengatakan bagaimana ia akan berbicara dengan laki-laki yang ia suka.”

“Hyera, aku pikir belum saatnya kita mempunyai anak.” Harapan Hyera seketika hilang ketika mendengarnya.

“Mengapa tidak? Lagipula aku sudah siap.” Itulah salah satu hal yang Baekhyun tidak suka dari Hyera yaitu kesalahannya untuk menyadari ketika orang lain tidak siap. Dipikirannya, jika ia telah siap  maka semua orang juga harus.

“Hyera, aku belum siap. Aku tidak ingin anak.”

Pernyataan Baekhyun membuat mata Hyera membulat dengan sempurna. “Apa?”

Menyadari kesalahannya, ia lantas mengoreksi maksud ucapannya. “Tidak, bukan itu maksudnya. Aku menginginkan anak tetapi bukan sekarang.”

Hyera menyilangkan lengannya di dadanya. “Baekhyun, mengapa kau tidak menginginkannya sekarang?”

Baekhyun menghela nafas. “Aku-Aku hanya tidak siap.” Ia menyingkirkan nampan dari pangkuannya.

“Aku ke kamar mandi, ya?” Baekhyun berdiri dari tempat tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi sebelum menutup pintu tersebut.

Hyera mengerutkan dahinya. Beberapa bulan yang lalu, ia jelas mengingat bahwa Baekhyunlah yang selalu merayunya untuk mempunyai anak. Mengapa sekarang ia berubah pikiran? Hyera mengambil ponselnya dan mengubungi seseorang.

“Dokter? Ini aku, Hyera. Tolong batalkan resep obat pil kontrasepsi untukku.”

“Ya aku tahu. Tetapi aku dan Baekhyun telah berencana untuk mempunyai anak, jadi pil kontrasepsi sudah tidak diperlukan lagi.” Setelah beberasa menit berbicara, Hyera memutuskan sambungan teleponnya dan mengambil nampan yang berada di atas tempat tidur.

Hyera tersenyum, ia tahu bahwa Baekhyun hanya takut mengurus anak. Hyera juga tahu bahwa sebenarnya Baekhyun menginginkan seorang anak. Artinya Baekhyun telah siap dan Hyera pun juga.

.

.

.

Kim Seona memeluk gulingnya dengan erat seakan-akan tidak ingin pergi dari tempat tidurnya. Seketika ia tersentak ketika ponselnya berbunyi. Sambil menggerutu, ia mengambil ponselnya kemudian menjawabnya sambil menguap, “Yeoboseyo?”

Ia mendengar suara seseorang yang tertawa. “Selamat pagi, cantik. Apa yang sedang dilakukan oleh istriku sekarang?”

“Dia sedang mengantuk,” jawab Seona dengan tersenyum. “Bagaimana perjalananmu?”

“Baik-baik saja. Aku sempat telat sampai di hotel dan terpaksa sampai tidak makan malam dan pada akhirnya aku sarapan dengan porsi besar pagi ini. Apa yang kau lakukan semalam semanjak aku tidak berada disana?”

Seona menghela nafas mengingat malamnya dengan Baekhyun. “Aku hanya berada dirumah, membaca buku,” bohongnya.

“Syukurlah, aku pikir kau semalam pergi ke klub, mencari penggantiku sementara aku pergi. Sekarang aku bisa tidur dengan nyenyak,” candanya. “Aku tahu sekarang kau aman-aman saja berada di rumah. Bolehkah aku tahu buku apa yang sedang kau baca?”

“Lover’s Secret.”

“Tentang apa?”

Sejujurnya, Seona belum menyentuh buku tersebut bahkan belum membacanya selembar halamanpun. Buku tersebut hanya tergeletak di atas nakas dekat tempat tidurnya. Ia mengambilnya kemudian membaca sinopsisnya. “Hmm…tentang seorang wanita muda yang telah menikah kemudian ia bertemu seorang pemuda di sebuah acara. Wanita muda itu mulai berhubungan dengan pemuda tersebut yang pada akhirnya menjadi malapetaka ketika suaminya mengetahui dan melakukan apapun untuk menjauhkannya dari pemuda itu bahkan sampai membunuhnya.”

Seona mengedipkan matanya ketika menyadari akan perkataannya. Kebetulan sekali buku yang ia ingin baca hampir sama dengan situasi yang ia hadapi sekarang.

“Sangat menarik.”

Seona memiringkan kepalanya. “Sayang, apakah kau akan membunuh ‘kekasih’–ku jika aku punya keberanian untuk memilikinya?”

Joon Myeon tertawa. “Aku justru ragu akan hal itu, sebab aku tahu bahwa kau sangat mencintaiku jadi jika kau melakukannya, ya-aku tidak tahu. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Kemungkinan aku akan marah. Sangat marah.”

Seona menggigit bibirnya. Joon Myeon mengucapkannya dengan nada sedikit bercanda dan berpikir bahwa ia tidak akan pernah menjalin suatu hubungan terlarang dengan orang lain. Secercah rasa takut menyelimutinya ketika ia membayangkan suaminya membunuh Baekhyun. Tidak diragukan lagi Joon Myeon akan marah jika ia mengetahuinya.

“Hmm, Sayang. Aku harus pergi sekarang. Aku meneleponmu hanya untuk memastikan bahwa kau baik-baik saja.”

Mereka saling mengucapkan selamat tinggal dan kemudian Seona memutuskan sambungan teleponnya. Ia masih tetap  memegang buku ditangannya. Ia sedikit tertarik untuk melihat apakah suami yang berada di cerita tersebut berhasil membunuh kekasih istrinya atau tidak? Tidak semua cerita yang ia baca berakhir bahagia, tetapi ia akan kecewa mengetahui akhir cerita terlebih dahulu bahkan sebelum membaca awalnya.

Satu pertanyaan besar muncul dipikirannya. Akankah situasi yang sekarang ia hadapi akan berakhir dengan bahagia?

Seona meragukannya.

.

.

Kim Joon Myeon menatap layar ponselnya beberapa saat. Ia hampir tertawa untuk dirinya sendiri. Suami mana yang tidak mengetahui apa yang akan ia lakukan jika istrinya ketahuan menjalin hubungan terlarang dengan pria lain? Joon Myeon telah berbohong kepada istrinya. Ia pasti tahu apa yang akan ia lakukan jika istrinya berani memiliki pria lain selain dirinya.

Joon Myeon akan membunuh pria tersebut.

.

.

.

Kim Seona menunjukkan bahan kain terbaru yang ia punya di gudangnya seraya tersenyum. “Ini bahan sutera, jadi ketika kau berbaring di kasurmu yang kau rasakan adalah permukaannya yang halus,” ucapnya kepada kliennya.

“Wow, aku menyukai warnanya!” seru kliennya.

“Data statistik menunjukkan bahwa warna baby blue banyak disukai sekarang. Itu adalah bahan terbaik yang kupunya dengan warna baby blue di gudangku.” Setelah meletakkan kembali bahan material ke dalam rak, Seona kembali ke kliennya. “Nona Young, apakah kau punya foto rumahmu?”

Young Ah–kliennya–menepuk dahinya. “Astaga, aku lupa melupakannya!”

“Nona Young, bagaimana mungkin aku dapat mendekorasi rumahmu jika aku tidak tahu bagaimana bentuk rumahmu?” Seona sedikit menasehati. “Aku harus punya foto setiap ruangan di rumahmu supaya aku dapat memutuskan bahan apakah yang terlihat bagus untuk ruangan-ruangan yang berada dirumahmu. Itu akan menjadi mimpi buruk jika aku memberikanmu warna bantal berwarna cokelat dan dinding rumahmu berwarna merah.”

“Ya tuhan, tidak! Aku tidak akan pernah mau dinding rumahku berwarna merah. Aku lebih memilih warna yang netral seperti putih.”

Seona tertawa. “Ya aku juga. Jadi tolong bawakan aku foto rumahmu secepat yang kau bisa, ya?”

“Iya!” Young Ah mulai berjalan keluar ruangan Seona tetapi ia membalikkan tubuhnya seperti tengah melupakan sesuatu. “Seona-ssi, bisakah kau mengirimkan aku kain sutera tadi? Aku mungkin tidak membutuhkannya tetapi aku akan senang jika mempunyainya.”

Seona tertawa dan akhirnya menganggukkan kepalanya. “Baiklah, Nona Young. Semoga harimu menyenangkan!”

Setelah kliennya pergi, Seona mengeluarkan buku catatannya dan sebuah pulpen. Kemudian ia menulis di buku catatannya supaya ia tidak lupa.

“Kau adalah pramuniagawati yang berbakat.” Seona mendongakkan kepalanya kemudian ia terkejut.

“Baekhyun,” ucapnya dengan tidak percaya.

Baekhyun tersenyum. “Aku memutuskan untuk mampir dan melihat-lihat sebentar. Istri temanku selalu membicaran tentang tempat ini dan pujian pun sering diucapkan.”

“Ah, ya itu sangat bagus,” ucap Seona dengan gugup. Ia melihat ke sekitar ruangannya dan sedikit lega ketika ia tahu bahwa beberapa karwayannya tidak dapat melihat mereka bersama. Jika mereka melihat ia dan Baekhyun bersama, mereka akan berasumsi bahwa ia adalah kliennya dan ia hanya mendiskusikan rencana untuk mendekorasi rumahnya. Bagaimanapun juga, jika Baekhyun terlalu dekat bisa jadi karyawannya dapat mengetahui bahwa mereka sedang menjalin ‘hubungan’ dan situasi akan benar-benar menjadi kacau.

Semua karyawannya mengetahui tentang pernikahannya dengan Joon Myeon dan jika mereka melihat Baekhyun sedang bersamanya, Joon Myeon pun akan tahu. Percakapannya dengan Baekhyun sebelumnya terlintas dipikirannya, tetapi ia buang jauh-jauh. Joon Myeon berkata bahwa ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan dan tidak mengatakan apapun tentang membunuh. Seona merasa itu bagus.

Tapi terlalu beresiko dengan adanya Baekhyun disini. Resikonya sangat besar.

“Seona, kau baik-baik saja?” tanya Baekhyun dengan khawatir.

Seona memberikan senyum yang meyakinkan bahwa ia baik-baik saja. “Ya, itu hanya-” tiba-tiba saja ia tidak tahu apa yang harus ia katakan.

“Biarkan aku yang menduganya. Tidak ada kunjungan pribadi ketika waktu kerja?”

“Terima kasih, Baekhyun!” pikir Seona sebelum menganggukkan kepalanya. “Itu adalah peraturan yang aku buat untuk karyawanku, jadi aku juga harus mengikutinya.”

Kemudian Seona tersenyum. “Bagaimanapun juga, aku punya waktu setengah jam untuk makan siang sekitar-” Ia melihat jam tangannya “-sekarang.”

Baekhyun mengedipkan sebelah matanya. “Jadi bagaimana dengan kencan kedua?”

“Kenapa tidak?” ucap Seona. “Tunggu sebentar. Hati-hati dengan karyawan tertentu disini. Ia mengunakan rayuannya untuk menjual beberapa barang kepada para pria.”

“Mengapa kau tidak memecatnya?”

“Karena taktiknya sangat bagus.”

Baekhyun tertawa saat Seona berjalan meninggalkannya, kelihatannya ia pergi ke ruang belakang. Ia memanfaatkan waktunya untuk melihat-lihat gedung Eye Avenue. Bangunannya besar, tinggi plafonnya kira-kira sekitar sepuluh kaki dan ia tidak pernah melihat rak bahan material sebanyak itu.

Tetapi bangunan ini bagus dan sama sekali tidak terlihat sempit. Bahkan semuanya tertata dengan rapi. Disini ada dua buah meja, dan ia berasumsi bahwa itu digunakan untuk berdiskusi tentang beberapa hal dengan klien.

Saat ini Baekhyun berada di salah satu anak tangga dimana Seona berjalan menaikinya sebelum pergi ke lantai dua. Menurutnya, bangunan ini memberikan atmosfer yang hangat dan nyaman sama seperti Seona.

Ketika ia masuk ke dalam, hanya membutuhkan waktu sebentar sebelum ia menemukannya. Baekhyun melihatnya yang sedang berbicara dengan kliennya dan ia menyadari bahwa pakaian yang dikenakan Seona sekarang sedikit memperlihatkan bentuk tubuhnya. Seona sangat cantik dan ia beruntung telah bertemu dengannya.

Baekhyun menghela nafasnya ketika ia mengingat bagaimana ia telah berbohong kepada istrinya. Hyera terlihat cukup kecewa karena ia tidak menginginkan seorang anak tetapi Hyera tetap terlihat senang seperti biasanya. Hyera sempat mengajaknya makan siang bersama tetapi Baekhyun berkata bahwa ia harus pergi dan makan siang bersama kliennya walaupun sebenarnya bisa dikatakan seperti itu. Dan tadi ketika ia berjalan keluar dari rumahnya, ia berharap istrinya tidak tahu bahwa ia sedang makan siang bersama Seona.

Ini aneh baginya untuk memiliki dua wanita dalam satu waktu dan ini adalah pertama kalinya ia pernah berselingkuh dengan wanita lain. Sial, ia bahkan tidak pernah memutuskan hubungannya hanya karena  ingin bersama wanita lain.

Baekhyun menggelengkan kepalanya dengan pelan. Ia tidak ingin memikirkan tentang hal ini lagi.

“Hmm, apakah Anda datang kesini untuk seseorang?”

Baekhyun membalikkan tubuhnya dan melihat seorang wanita yang lebih tinggi darinya. Sebenarnya Baekhyun cukup tinggi dan ia pun penasaran bagaimana bisa wanita tersebut lebih tinggi darinya.

“Ini karena sepatunya,” ucap wanita itu seraya memperlihatkan sepatunya. “Tingginya tiga inchi. Membuatku lebih tinggi dari kebanyakan pria.”

“Apa yang membuatmu berpikir bahwa aku datang kesini tidak untuk diriku sendiri?”

“Karena kebanyakan pria yang datang kesini biasanya dipaksa oleh istri mereka atau mereka membuat kejutan dengan membelikannya sesuatu disini.”

Baekhyun melihat name tag yang terdapat di blazer wanita tersebut. Ahn Ye Ri.

“Jadi kau yang dimaksud Seona,” ucapnya secara tiba-tiba.

Yeri menatap Baekhyun dengan bingung. “Maksudmu?”

“Ya, kaulah karyawan yang menggunakan rayuanmu kepada para pria, bukan?”

Yeri menyilangkan kedua lengannya di dadanya, seakan-akan tersinggung, tetapi ia tetap tersenyum. “Seona memang aneh mengatakan hal seperti itu padamu.”

“Sebenarnya ia membantuku. Jadi kau tidak perlu khawatir.”

“Kau tidak khawatir? Kebanyakan pria cenderung tetap merayu meskipun telah menikah dan aku menggunakan rayuanku untuk kepentinganku, tetapi mereka selalu berpikir bahwa aku akan mengatakan hal itu kepada istri mereka. Banyak barang yang terjual olehku dibandingkan dengan karyawan lain disini berkat rayuanku, tetapi aku bukan wanita jalang. Aku tidak akan ikut campur urusan dengan pria manapun. Demi tuhan, mereka telah menikah!”

Kemudian Yeri melanjutkan, “Siapa sih orang bodoh yang berselingkuh dibelakang pasangannya? Selain itu siapa sih yang cukup bodoh untuk ‘terlibat’ dengan pria yang telah menikah? Jika kau bertanya padaku, siapapun yang mulai menjalin hubungan terlarang hanya akan menunjukkan bahwa mereka tidak terlalu mencintai pasangan yang telah menikah dengan mereka.”

Yeri melihat pelanggan di belakang Baekhyun. “Ah ada pelanggan lain. Aku akan meninggalkanmu di tangan karayawan lain. Semoga harimu menyenangkan!”

Baekhyun menganggukkan kepalanya sambil melihat Yeri yang berjalan menuju pelanggan lain. Ia melihat mereka berjalan menuju sudut ruangan dan Baekhyun tetap mematung sejenak.

“Aku mencintai istriku,” pikirnya dengan keras kepala. Yeri salah.  Alasan ia memulai hubungan ini bukan karena ia tidak mencintai istrinya. Ia hanya ingin mengenal Seona lebih jauh. Baekhyun menghela nafas.

Baekhyun mulai berkeliling, melihat-lihat tokonya. Ia terhenti ketika ia melihat artikel tentang Eye Avenue diatas salah satu meja. Judul artikel itu tertulis: Eye Avenue adalah salah satu bisnis terbaik di bidang design interior. Baru saja Baekhyun ingin membaca artikel tersebut, tiba-tiba saja suara Seona menghentikannya.

“Aku sudah siap,” ucap Seona seraya menghampiri Baekhyun. Ia membalikkan tubuhnya dan seketika ia terpaku dengan penampilannya. Seona tidak lagi mengenakan blazer, justru ia menggunakan kaus dan celana jeans. Dan rambutnya yang tadinya disanggul, kini telah tergerai bebas.

“Hmm, kita pergi sekarang?”

“Tentu,” jawab Baekhyun.

.

.

.

Hyera mengibaskan tangannya, mencoba untuk mengeringkan cat kukunya. Ia merasa kesal karena ia telah merencanakan untuk berhubungan intim seharian dengan suaminya dan justru suaminya berkata bahwa ia akan makan siang bersama dengan kliennya. Dan ia tahu bahwa Baekhyun tidak akan mau melakukan apapun selain bekerja di kantornya ketika ia kembali nanti, jadi berhubungan intim tidaklah mungkin.

“Dayeon, tolong bawakan aku secangkir teh!”

“Baik, Nyonya.”

Hyera membaringkan tubuhnya di sofa, kepalanya berada di pinggir sofa. Ia mengamati ruang tamunya kemudian mengerutkan dahinya. Ruang tamunya tidak lagi terlihat bagus. Seperti kebanyakan orang, Hyera ingin rumahnya terlihat sempurna. Dan masalahnya adalah ia tidak pandai mendekorasi ruangan. Ia tidak ingin menyusahkan pelayannya dan pasti Baekhyun juga hanya berkata bahwa ruang tamunya terlihat baik seperti biasanya. Hyera membutuhkan seorang perancang interior untuk setiap ruangan di rumahnya.

Hyera kembali duduk saat Daeyeon berjalan kearahnya seraya membawa tehnya.“Dayeon, apakah kau tahu perancang interior yang bagus? Aku ingin merenovasi rumah ini.”

Dayeon berpikir sejenak. “Kim Seona. Ia pemilik Eye Avenue dan banyak yang menggunakan jasanya. Ia pernah tampil di salah satu stasium tv sekali.”

“Apakah ia melakukannya sendiri? Maksudku merancangnya sendiri.”

“Tergantung rumah yang akan ia dekorasi dan juga kalau kliennya mau ia yang merancangnya sendiri.”

Hyera menganggukkan kepalanya. “Kau tahu nomor teleponnya?”

Dayeon menganggukkan kepalanya. “Iya.” Kemudian Dayeon mengambil selembar kertas dan menuliskan nomor teleponnya.

“Aku akan menelpon Nona Kim.”

“Nyonya Kim,” koresi Dayeon. “Nama lengkapnya adalah Kim Seona. Ia telah menikah.”

Detik itu juga Hyera langsung menyukai Seona. Ia selalu menyadari bahwa banyak wanita yang memberika tatapan ‘menggodanya’ kepada suaminya dan ia sedikit khawatir bahwa Baekhyun akan membawa seorang wanita muda yang akan melakukan apapun untuk ‘tidur’ dengan Baekhyun. Mengetahui bahwa Seona telah menikah, itu membuatnya lega setidaknya Kim Seona tidak akan merayu suaminya.

.

.

.

Seona tersenyum lebar setelah mereka berciuman. “Kau bisa memberi tahuku kalau dibibirku ada cokelat.”

“Dan kau akan memikirkan alasan agar aku tidak dapat menciumu?” Seona tertawa ketika Baekhyun mengunyah sepotong kue cokelat yang mereka habiskan bersama. Mereka telah makan makanan utama dan kue cokelat itu hanya sebagai makanan penutup.

“Jadi, dimana tempat yang kau suka untuk kencan ketiga kita?” tanya Baekhyun.

Seona mengusap bibirnya dengan selembar tisu. “Kapan?”

“Besok malam.”

“Besok?”

“Iya. Dan kita akan mengadakan kencan keempat di hari selasa, kelima hari rabu, keenam hari kamis dan ketujuh hari jumat.”

“Jangan bilang kita akan makan malam setiap hari?”

“Tidak. Aktifitas esok hari adalah makan malam, untuk lusanya adalah bermain bowling, setelah itu ke pameran. Aku belum tahu apa yang akan kita lakukan di hari kamis dan jumat.” Baekhyun tersenyum ketika Seona mulai tertawa kembali.

“Aku tidak pernah bertemu dengan pria yang merencakan hampir seminggu untukku.”

“Bagaimana kalau datang kerumahku hari kamis?” tanya Seona tiba-tiba dan hal itu membuatnya sedikit terkejut. Ia merupakan orang yang pemalu tetapi ketika ia bertemu dengan Baekhyun, ia menyadari bahwa ia menjadi sedikit lebih berani. Pertamanya dimulai dari berkencan dengan Baekhyun dibelakang suaminya dan sekarang ia mengundang Baekhyun ke rumahnya. Ia tidak masalah dengan perubahannya justru faktanya adalah ia menyukai sisi keberaniannya. Itu tidak terlalu terlihat namun ia tahu bahwa seiring berjalannya waktu ia tidak akan lagi menutupinya.

“Kau akan memasak makan malam untukku?” Baekhyun bertanya dengan senyum yang terpatri diwajahnya. “Atau juru masakmu yang akan memasakannya?”

Sebenarnya pelayan dirumahku pulang sekitar jam delapan malam, jadi kalau kau datang di atas jam delapan, aku akan membuatkan makanan untukmu.”

“Jadi kau sendirian dirumah setelah pukul delapan malam?”

“Tidak,” jawabnya dan ia tidak berbohong. Ia mempunyai suaminya tetapi ia tidak mengatakannya. “Aku punya penjaga yang disekeliling rumahku saat malam hari.” Dan itu juga benar, ia tidak sepenuhnya jujur tetapi meskipun begitu itulah kebenarannya.

“Tapi apakah itu cukup?” tanya Baekhyun dengan khawatir. Hati Seona tersentuh mendengarnya. “Maksudku, kalau seseorang dapat melewati para penjaga dan memasuki rumahmu?”

Seona menyilangkan kakinya. Ia mencoba untuk menahan tawanya. Ia tahu bahwa Baekhyun sedang berpikir beberapa kemungkinan yang seseorang lakukan jika memasuki rumahnya seperti mencuri semua yang ia punya, memerkosanya, menculiknya bahkan yang lebih parahnya adalah membunuhnya.

Tidak ada satupun hal yang membuatnya khawatir karena ia tahu hal tersebut tidak akan terjadi. Ia memiliki penjaga yang cukup ketat, kamera cctv di sekitar rumahnya. Dan apabila seseorang masuk kedalam rumahnya, ia tidak akan takut. Ia tidak takut akan kematikan. Itu adalah hal yang alamiah dan ia akan menerimanya ketika waktunya telah tiba untuknya meninggalkan dunia. Tetapi bukan berarti ia tidak menginginkan panjang umur, ia juga menginginkannya.

“Apapun yang terjadi, ya terjadi,” jawabnya. “Aku mempercayai penjagaku, sistem alarmku dan beberapa cctv. Jadi tidak perlu khawatir dengan keselamatanku.”

Baekhyun ingin tertawa mendengarnya. Tentu saja Baekhyun khawatir dengan keselamatannya. Demi tuhan ia tinggal di rumahnya yang besar sendirian! Seona terkenal dan pasti ada beberapa orang biadab yang ingin melakukan apapun untuk mendekatinya, terutama seseorang yang terobsesi dengannya. Tetapi, ada sesuatu yang ia khawatir tentang keselamatannya, yaitu istrinya.

Hyera merupakan seseorang yang ambisius dan posesif, ia tahu apa yang ia inginkan. Dan sekali ia menginginkan itu, ia tidak akan melepaskannya. Ada sisi lain darinya yang ia tidak senang. Baekhyun tidak tahu bagaimana atau mengapa ia mempunyai kepribadian seperti itu tetapi ketika Baekhyun menikah dengannya ia tidak terlalu peduli.

Ketika mereka masih berkencan dulu, ia merasa sedikit kesal karena Hyera selalu saja menatap wanita yang mendekatinya dengan tajam. Baekhyun hanya berasumsi bahwa Hyera meragukan hubungan mereka dan Baekhyun pun memastikan Hyera bahwa ia mencintainya.

Setelah mereka menikah, ia berpikir bahwa Hyera tidak akan meragukannya lagi namun justru ia semakin meragukannya. Baekhyun selalu berhati-hati tidak menyebutkan nama wanita siapapun itu kecuali apabila wanita tersebut telah menikah. Hyera merasa lebih aman jika wanita yang Baekhyun ketahui sudah menikah karena menurutnya mereka sudah mempunyai suami dan tidak akan ‘merebut’ suaminya.

Jika ia tak sengaja menyebutkan nama wanita yang masih lajang, Hyera akan cemburu dan ia bisa melihat dari matanya yang seakan-akan akan bertanya tentang wanita yang bersamanya. Tetapi karena Baekhyun mencintai istrinya, ia memaafkannya. Tetapi terkadang ia juga cemburu jika ada pria yang masih lajang mendekati istrinya.

Itu sangat menunjukkan betapa insecure nya kita,” pikirnya dengan pahit. Sebelumnya ia selalu memikirkan bahwa sifat posesif istrinya sebagai hal yang kecil. Namun sekarang, ia takut bahwa sifat posesif istrinya akan berbahaya bagi Seona jika Hyera tahu ia mengencaninya. Hyera pasti tidak akan menyukai bahwa faktanya suaminya sendiri, seseorang yang ia cintai dan yang menurutnya cukup beruntung untuk mendapatkannya cintanya, sedang mengencani orang lain. Walaupun Baekhyun tidak pernah sekalipun melihat kekerasan dalam dirinya, tetapi ia tidak dapat mengatakan bahwa ia yakin Hyera tidak akan melakukan apapun untuk menyakiti Seona.

“Apakah kau tahu kalau anak dari perdana menteri menceraikan istrinya?” Baekhyun tentu saja terkejut dan kagum bahwa Seona mengetahui sedikit tentang politik.

Baekhyun menggelengkan kepalanya. “Tidak. Aku tidak tahu kau menyukai politik.”

“Tentu saja.” Seona mengetahui hal tersebut karena Joon Myeon menyukai politik. Sebenarnya Joon Myeon adalah bagian dari kabinet, jadi ia terus-menerus melihat dan mendengar hampir setiap hari darinya tentang dunia politik.

“Hmm, ini terbalik. Biasanya pria yang menyukai politik sedangkan wanita tidak tahu menahu tentang hal itu.” Baekhyun tersenyum lebar. “Aku sama sekali tidak mempunyai gambaran tentang politik. Perusahaanku hanya berurusan dengan saham, tidak dengan politik.”

“Ah, jadi kau tidak punya waktu untuk mencari tahu tentang politik.”

“Benar sekali.” Seona sedikit lega mengetahuinya. Akan menjadi tidak mudah jika ia berkencan dengan pria yang menyukai politik karena bisa saja Baekhyun mendengar tentang pernikahan dirinya dengan Joon Myeon. Beruntungnya, wartawan tidak terlalu tahu tentangnya dan hanya menyebutkan dirinya sebagai Nyonya Kim, jadi jika Baekhyun mendengar tentang Joon Myeon dan istrinya maka ia tidak akan mengetahuinya.

“Mengapa anaknya menceraikan istrinya?”

“Istrinya ‘tidur’ dengan kakaknya.” Seona tersenyum. “Tetapi setelah ia ‘tidur’ dengan teman baik kakaknya. Satu-satunya alasan ia melakukannya karena suaminya ketahuan ‘tidur’ dengan sepupunya.”

“Ini terdengar seperti cerita fiksi.”

Seona tertawa. “Itu memang cerita fiksi. Sebenarnya yang kukatakan tadi benar bahwa anak dari perdana menteri menceraikan istrinya karena perselingkuhan tetapi selain itu ceritanya berasal dari salah satu novel yang pernah kubaca.”

Baekhyun tertawa pelan. “Berapa lama istrinya berselingkuh?”

“Sekitar satu bulan. Suaminya mengetahuinya ketika istrinya ketahuan hamil. Istrinya berpikir bahwa ia bisa beralasan bahwa itu adalah anak dari suaminya, tetapi suaminya ternyata tidak bisa mempunyai anak jadi ia tahu bahwa bayi yang berada di dalam kandungan istrinya bukanlah anaknya.”

“Wow. Jadi semuanya terbongkar hanya karena kehamilannya?”

Seona menganggukkan kepalanya. “Kita tidak akan pernah tahu bahwa sesuatu yang sangat kecil dan tak bersalah bisa menjadi sebuah kekacauan.”

Baekhyun menahan diri untuk tidak berkomentar apapun dan justru mengalihkan pembicaraan. “Kau belum mendengar jawabanku.”

“Jawaban apa?”

“Untuk datang ke rumahmu hari kamis nanti,” jawab Baekhyun. Kemudian ia melanjutkan, “Aku akan datang sekitar pukul delapan malam, jadi kau bisa membuat makanannya. Aku ingin mencicipi masakanmu.”

“Masakanku sangat enak,” ucap Seona dengan percaya dirinya.

“Aku yakin itu.”

Setelah selesai makan makanan penutup, mereka berjalan keluar dari kafe. Tanpa memikirkan konsekuensinya, Baekhyun mengaitkan jemarinya dengan jemari Seona dan berjalan menuju mobilnya.

Mereka berdua tidak menyadari bahwa seorang wanita mengikuti mereka, matanya memancarkan kecurigaan. Ia melihat mereka berdua saling menggenggam tangan satu sama lain walaupun sebenarnya tidak seharusnya mereka seperti itu.

to be continue…

114 responses to “Affairs of the Heart [Chapter 2]

  1. Baekhyun blm mnydri klo udh jatuh cinta pd pandangan pertama ama Seona…
    Apa Seona gk takut ketahuan ya mau mmbwa Baekhyun msuk rumahnya…
    Sprtinya diem2 Hyeri agk brbhya d lihat dri pnggmbaran Baekhyun trhdpnya…
    Siapa ya wanita yg mngamati gerak gerik Baekhyun n Seona??
    Yeri atau Hyeri kah???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s