Affairs of the Heart [Chapter 5]

Affair of the Heart(9)

AFFAIRS OF THE HEART

Kim Seo Na – Byun Baek Hyun – Byun Hye Ra – Kim Joon Myeon

Romance, Drama, Marriage Life

PG-17

Previous Chapter :

[Chapter 1] [Chapter 2] [Chapter 3] [Chapter 4]

Disclaimer:

The plot isn’t mine, it’s Nariko-one of my favorite authors-who writes this story but I just translated it into bahasa. And i’m happy to know if you are appreciate this story and my translation, of course!

C H A P T E R  F I V E

Seona merasakan sakit diseluruh tubuhnya. Ia membuka matanya, namun kembali menutup ketika sinar matahari bersinar tepat diwajahnya. Sebuah tawa terdengar disebelahnya yang membuat Seona membuka matanya kembali.

‘Wow, kau terlihat lebih cantik ketika sinar matahari mengenai wajahmu,” bisik Baekhyun kemudian ia mencium dahi Seona.

Oh. Pantas saja tubuhnya terasa sakit. Seketika ia mengingat kejadian semalam yang membuatnya tersenyum seraya merapatkan tubuhnya ke pelukan Baekhyun. Jaket panjang Baekhyun adalah satu-satunya yang menutupi tubuh mereka dan pakaian lainnya dijadikan sebagai bantal.

“Kau tahu? Semakin lama kita berada disini, semakin berbahaya kalau seseorang melihat kita disini.”

“Lalu?” tanya Seona.

“Aku tidak berpikir para orang tua akan mengizinkan anak mereka datang kesini ketika melihat dua orang dewasa berada di atas rumput seperti ini bahkan sama sekali tidak menggunakan sehelaipun. Mungkin anak mereka tidak tahu apa-apa, tetapi orang tua mereka pasti tahu.”

Seona menghela nafas. “Aku hanya merasa sangat nyaman berada disini.”

Mereka terdiam sejenak sebelum Baekhyun mengubah posisinya agar ia dapat berhadapan dengan Seona. “Mengapa kau mengakhiri semuanya, Seona?”

Seketika senyum Seona menghilang dan ia menggigit bibirnya. “Apakah itu penting?”

“Untukku iya. Kau mengakhiri semuanya tanpa alasan.”

“Aku sedang tertekan di kantor.”

“Tapi itu bukan alasan untuk mengakhiri semua ini, Seona.”

Seona tidak tahu apa yang harus ia katakana pada Baekhyun. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa ia mengalami mimpi buruk yang membuatnya sadar betapa sulit baginya untuk melanjutkan hubungan mereka.

“Aku takut, Baekhyun. Aku pergi ke rumah klienku dimana pelayannya memberikanku tatapan tajamnya dan aku merasa bahwa ia tengah memusuhiku. Itu mungkin hanya kekhawatiranku saja karena telah menjumpai orang sepertinya. Tetapi itu tidak pernah terjadi sebelumnya. Tidak ada satupun yang seketika itu juga menatapku seperti itu, tidak ada seorangpun yang membuatku seperti…seperti ia akan menyakitiku.”

Itu benar. Seona merasakan hal seperti itu ketika ia mengakhiri hubungannya dengan Baekhyun. Ia takut dengan pelayan Hyera, setidaknya ia jujur tentang hal itu kepada Baekhyun. “Aku takut. Dan ketika kau datang, aku merasa bahwa aku harus mengakhiri semuanya. Bagaimana jika pelayan itu benar-benar ingin menyakitiku? Ia mungkin saja akan memanfaatkanmu. Aku tahu aku sudah berpikiran terlalu jauh, tetapi-”

“Maaf,” bisik Seona. “Mungkin itu terdengar konyol dan aneh tetapi itu benar.”

Seona memberikan sebuah senyuman kepada Baekhyun. “Tetapi sekarang, kita bersama kembali.”

Baekhyun membalas senyuman Seona, tetapi dibalik senyumannya, banyak pertanyaan yang berputar dikepalanya. Semua pertanyaan tersebut tertuju pada pelayan misterius yang telah membuat Seona takut dan merasa bahwa Seona harus mengakhiri hubungan dengannya. Baekhyun ingin tahu siapa dia, diaman dia bekerja. Baekhyun ingin tahu jika pelayan tersebut mampu membunuh orang yang baru saja dikenalnya terutama seorang wanita yang tidak melakukan apapun.

Firasat Baekhyun kerap mengatakan bahwa Seona tidak mengatakan seluruh kebenarannya. Seona mengakhiri hubungan dengannya karena sesuatu hal yang lain. Tetapi ketika Baekhyun melihat mata Seona, mata Seona tidak menunjukkan bahwa ia menyembunyikan sebuah rahasia tetapi sebuah janji. Dan ia tahu bahwa Seona akan mengatakan padanya nanti jika Seona sudah siap.

Baekhyun meraih beberapa helai rambut Seona dan menggulungnya di jari-jarinya. Ia merasa senang bahwa ia telah kembali bersama dengan Seona.Seona telah membuatnya senang dan ia adalah sebuah ‘harta karun’ yang sangat berharga untuk dibiarkan pergi begitu saja. Lain kali, jika ada lain kali, Baekhyun tidak akan membiarkannya mengakhiri hubungan dengannya bahkan jika Seona memaksanya.

“Kita harus bangun,” ucap Baekhyun walaupun ia tidak menginginkannya.

“Aku tahu,” bisik Seona seraya melingkarkan lengannya di sekitar leher Baekhyun.

“Tetapi, akankah kita akan seperti ini kembali?”

Lantas  Baekhyun merubah posisi tubuhnya menjadi di atas Seona. “Bahkan kau tidak perlu meminta.”

.

.

.

Kim Joon Myeon berjalan menuju kursinya di pesawat dan duduk dikursinya. Seorang pramugari mendatanginya, sebuah senyuman menggoda terpatri di wajahnya. “Apakah ada sesuatu yang Anda inginkan?”

Joon Myeon tersenyum kepada pramugari tersebut. Joon Myeon menatapnya dari atas sampai kebawah, bahkan ia tidak mencoba untuk menyembunyikan rasa ketertarikannya. Joon Myeon menahan tawanya ketika ia melihat betapa gembiranya pramugari tersebut saat wajahnya kembali menatapnya.

Martini on the rocks,” ucap Joon Myeon.

Pramugari tersebut mengangguk dan berjalan menuju sebuah tirai. Ia mencoba untuk melirik matanya ke arah Joon Myeon saat ia melewati tirai yang memisahkan antara sebuah bar dengan penumpang.

“Sepertinya kau menyukainya.” Sebuah suara pria terdengar dari sebelahnya. Joon Myeon menoleh dan melihat seorang pria bertubuh besar dengan kepalanya yang hampir tak berambut. Pria itu tersenyum dengan lebar, menunjukkan giginya yang kuning. Perokok, itulah yang ada dipikiran Joon Myeon ketika ia melihat giginya. Pria itu juga terlihat sangat lelah. Kemungkinan besar akibat Jetlag.

“Namaku Abuzakar Zeshin. Aku telah mencoba untuk mendapatkan perhatiannya sejak menaiki pesawat ini. Sepertinya ia lebih memilih pria yang lebih muda dibandingkanku dan juga kelihatannya kau menyukainya.”

Joon Myeon tersenyum lebar. “Tidak. Aku sudah menikah. Aku mencintai istriku tetapi sebagai pria, mau tidak mau, membiarkan mataku melihat ‘kemana-mana’.”

“Ya benar. Istriku dirumah mengurusi anak-anak. Tetapi ketika aku pergi, aku melakukan hal yang lebih dari itu. Jika kau mengerti maksudku.”

Joon Myeon mengerti apa yang ia maksud. “Apakah istrimu tahu?”

Abuzakar mendengus. “Tidak. Bahkan jika ia tahu, aku tahu dengan pasti bagaimana caranya untuk membereskannya. Hanya membutuhkan waktu lima menit untuk membiarkan istriku tahu aku dapat melakukan apapun yang ku mau, dan kapanpun aku inginkan.”

Seorang penakluk istri, ternyata. Joon Myeon menjadi tertarik. “Bagaimana kau dapat mengatasinya?”

Abuzakar mengangkat bahu. “Aku dulu memukulnya kemudian mengurungnya di suatu tempat. Akhir-akhir ini, aku membutuhkan sebuah pukulan dan mungkin beberapa tendangan untuk membawanya ke tempat dimana biasanya ia dikurung. Tentu saja aku memukulnya dimana tidak seorangpun yang dapat melihat lukanya. Aku pernah sekali menendangnya sangat kencang di perutnya yang membuat istriku keguguran. Saat itu aku tidak tahu kalau ia sedang hamil.”

Kemudian Abuzakar melanjutkan, “Jika kau membunuh bayimu, maka kau telah membunuh sebagian dari dirimu. Aku tahu itu salahku karena telah melampiaskan rasa frustasiku padanya. Tetapi, seiring berjalannya waktu, aku memaafkan diriku sendiri dan istriku juga memaafkanku.”

Joon Myeon menggumam, “Menarik.”

Seorang pramugari kembali dan memberikan minuman kepada Joon Myeon. Kali ini senyuman wanita itu lebih seduktif bukannya menggoda seperti sebelumnya. “Ada lagi?”

Joon Myeon menggelengkan kepalanya. Ketika pramugari itu pergi, Abuzakar menyikut Joon Myeon. “Menjadi setia pada istrimu dapat dimengerti. Tetapi, ketika seorang wanita sepertinya menghampirimu, lebih baik kau tidak membiarkannya pergi. Kau akan bersama istrimu selamanya, tetapi wanita tersebut tidak akan lama berada dekat denganmu.”

Abuzakar mengedipkan sebelah matanya. “Lakukanlah.”

Satu jam kemudian, Abuzakar tertidur dan ketika seorang pramugari melewatinya, Joon Myeon menarik lengannya. “Ada tempat untuk sedikit privasi?”

.

.

.

Tepat siang hari, Baekhyun berjalan masuk ke dalam rumahnya. Suasana hatinya sangat baik, senyuman lebarnya tak lepas dari wajahnya. Semalam merupakan kejadian yang sangat luar biasa, pengalaman yang tak akan pernah ia lupakan.

Yi Fan, seorang pelayan dirumahnya, menghampirinya ketika Baekhyun melewati ruang tamu. “Bai Xian, Hyera ingin bertemu denganmu.”

Baekhyun membeku, seketika senyumnya menghilang. Baekhyun tidak pulang ke rumah semalam karena ia bersama dengan Seona…bahkan ia ‘tidur’ dengan seorang wanita yang bukan istrinya!

Ia mengkhianati istrinya, bahkan lebih buruk daripada itu.

Bahkan Baekhyun tidak ‘melindungi’ Seona.

Baekhyun mulai berkeringat ketika ia menyadari bahwa ia tidak menggunakan pelindung. Tetapi yang sangat menganggunya adalah ia tidak pernah berpikir bahwa itu akan terjadi padanya.

Sama sekali.

Insting yang ada di setiap pria mengatakan padanya untuk memiliki, mengklaim dan menyatukan yang semuanya telah ia lakukan.

Tuhan, ia telah tidur dengan wanita lain tanpa menggunakan ‘pelindung’. Yang paling buruknya adalah ia ingin melakukannya lagi.

Dan lagi, dan lagi, dan lagi.

Baekhyun mengangguk dengan kaku kepada pelayannya, tidak yakin jika ia masih mempunyai suara. Baekhyun berjalan menuju tangga dan berjalan keatas. Ia memanfaatkan waktunya, mencoba untuk menerima kenyataan bahwa ia telah bersetubuh dengan seseorang yang bukan istrinya.

Sudah berapa kali ia berpikir bahwa ketika seorang pria mengkhianati istrinya,  ia bukanlah apa-apa melainkan seorang pria berengsek? Sekarang Baekhyun berada dalam situasi yang sama dengan pria lain yang mengkhianati istrinya yaitu berbohong kepeada istrinya.

Hyera membalikkan tubuhnya dengan cepat ketika Baekhyun membuka pintu kamar mereka. “Kau kemana saja?!” teriak Hyera.

“Hyera, kau harus tenang.” Tak disangka-sangka, suara Baekhyun terdengar tenang seperti tidak alasan lain bagi Hyera untuk mengkhawatirkannya.

“Tenang?! Tenang?! Kau tidak pulang semalam! Aku pikir kau telah dibunuh atau diculik!”

“Tetapi aku tidak. Aku berada di kantor semalam. Klienku mempunyai masalah dan membutuhkan waktu semalaman untuk mengurusinya. Aku seharusnya menelponmu tetapi aku benar-benar lupa.”

“Oh, jadi kau lupa dengan istrimu dirumah? Kau lupa bahwa ia mencintaimu dan sangat khawatir karena kau tidak pulang?”

“Hyera-”

“Aku khawatir, Baekhyun! Aku sangat takut bahkan semalaman aku tidak tidur nyanyak karena aku khawatir denganmu!”

Baekhyun tidak mengatakan apapun. Ia menatap Hyera yang sedang mengatur nafasnya. Rambutnya yang telah diikat, mulai berjatuhan karena tubuhnya yang bergetar akibat ia berteriak. Wajah Hyera memerah, matanya terlihat seakan-akan tengah terbakar.

“Aku menyesal,” ucap Baekhyun dengan datar. Baekhyun tidak menghampiri Hyera bahkan tidak menyuruh Hyera untuk datang padanya. Baekhyun hanya berdiri disana, menatap Hyera dengan datar. “Aku tahu, kau telah mengkhawatirkanmu. Aku seharusnya menelponmu, bahkan pulang ke rumah walaupun hanya sebentar. Aku minta maaf. Klienku yang satu ini sangatlah penting dan aku tidak bisa membiarkannya begitu saja. Aku akan mencari cara untuk menyelesaikan masalah kita.”

Baekhyun melirik jam tangannya. “Aku harus kembali ke kantor. Aku akan pulang nanti malam,” janji Baekhyun, tetapi ia tidak mengatakan jam berapa ia akan pulang.

Tanpa mengucapkan apapun lagi, Baekhyun membalikkan tubuhnya kemudian berjalan keluar kamar mereka. Hyera masih tetap menatap tempat dimana Baekhyun berdiri.

Hyera mengedipkan matanya berkali-kali.

Ini bukanlah sesuatu yang harus terjadi. Baekhyun seharusnya datang padanya, membawanya ke pelukannya dan bersetubuh dengannya. Hyera membalikkan tubuhnya dan melihat dirinya melalui pantulan cermin.

Hyera memang khawatir semalam, tetapi tadi ia telah membesar-besarkan saja. Ia bahkan tidur nyenyak semalam. Ia mengetahui suaminya dengan baik. Baekhyun mampu melindungi dirinya sendiri. Baekhyun tidak akan membiarkan seorangpun untuk menculiknya bahkan membunuhnya. Hyera sedikit merah ketika Baekhyun tidak pulang, tetapi biasanya Baekhyun akan melakukan apapun untuk membuatnya bahagia kembali.

Itulah mengapa Hyera berakting dengan berteriak sangat histeris, Tetapi tak disangka, Baekhyun tidak mengampirinya seperti apa yang biasanya ia lakukan, bahkan tidak mencoba untuk menyelesaikan masalah dengannya tapi ia tahu, tanpa ragu, ia tidak akan bersetubuh dengannya untuk menyelesaikan masalah dengannya. Akhir-akhir ini Baekhyun terlihat seperti sedang menghindarinya,

Itu buruk. Hyera sudah berjanji akan hamil dalam waktu dekat dan ia tidak bisa mengingkarinya. Hyera harus membuat Baekhyun ‘tidur’ dengannya walaupun Hyera sendiri sudah ‘tidur’ dengan pria lain. Ia telah melakukannya sejak ia menghentikan minum pil kontrasepsinya, jadi ia tidak memerlukan Baekhyun lagi untuk bersetubuh dengannya. Tetapi ia membutuhkan Baekhyun untuk tidur dengannya agar Baekhyun mengakui bayi yang ia lahirkan nanti sebagai anaknya.

“Klien bodoh! Begitu saja tidak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri,” gerutu Hyera seraya merapikan rambutnya. Beberapa saat kemudian Hyera membeku.

“Jika Baekhyun berada di kantor membantu kliennya, mengapa ia datang ke rumah lalu pergi kembali?” Hyera bertanya pada dirinya sendiri.

Itu tidak membutuhkan waktu lama bagi Hyera untuk menyadarinya. Baekhyun telah berbohong padanya. Baekhyun tidak berada di kantor semalam. Ia berada di tempat lain. Tetapi mengapa berbohong padanya?

Mungkin alasan yang paling umum adalah sebuah perselingkuhan. Tetapi Baekhyun telah dibesarkan dengan sangat baik oleh orangtuanya, jadi tidak mungkin Baekhyun melakukan hal seperti itu. Itu pasti ada sesuatu yang disembunyikannya.

Dan Hyerapun akan mencari tahu.

.

.

.

Seona termenung ketika ia memasuki Eye Avenue. Seona sedang melamunkan sesuatu sehingga ia tidak menyadari bahwa karyawannya tersenyum dengan lebar padanya dan saling berbisik satu sama lain.

Semalam sangat…Seona bahkan tidak memiliki sebuah kata untuk menggambarkannya! Menakjubkan mungkin merupakan kata yang pantas untuk menggambarkannya. Mungkin nanti ia akan membiarkan dirinya berpikir tentang bagaimana tidur dengan Baekhyun dapat memengaruhi masa depannya, tetapi untuk sekarang…untuk sekarang yang ia inginkan adalah kebahagiaan.

Seona berjalan ke atas menuju ruangannya. Seona melewati ruang penyimpanan, kamar mandi dan dapur kecil dimana para karyawannya dapat menghangatkan makanan di microwave atau di kompor dan menyimpan makanan mereka di kulkas. Seona membuka pintu ruangannya dan seketika ia membeku.

“Hai, Sayang.”

Seona tidak dapat bernafas. Sejenak semua menjadi buram kecuali pria yang berada di ruangannya ini. Joon Myeon duduk di atas mejanya dengan menyilangkan salah satu kakinya. Salah satu tangannya memegang sebuah buku jurnalnya dan satu tangan lainnya berada di pahanya.

Tiba-tiba Seona menjadi marah karena Joon Myeon melihat buku jurnalnya. Suami atau tidak, ia tidak berhak untuk melihatnya. Tetapi rasa marahnya tidak sebesar rasa kekejutannya, jadi Seona tidak mengatakan apapun selain menatap Joon Myeon dengan mata membulat dan mulut yang sedikit terbuka. Joon Myeon seharusnya sampai di bandara pada malam hari nanti. Tetapi justru ia sampai beberapa jam lebih awal dan bahkan sampai berada di kantornya padahal sebelumnya Joo Myeon tidak pernah berada di dalam kantornya terutama ruangannya.

Seona merasa privasinya diganggu oleh Joon Myeon disini. Tempat ini merupakan wilayahnya. Di rumah, Joon Myeon yang mengontrol semuanya mulai dari ruangan hingga pelayan. Tetapi Seona tidak peduli karena ia senang untuk tidak mengkhawatirkan semua hal itu. Disamping itu, ia dapat melakukan apapun yang ia mau dengan uangnya dan ia juga dapat menjalani hidupnya tanpa perlu mengatakan pada Joon Myeon kemanapun ia pergi dan berapa lama ia akan tinggal disana.

Tetapi Eye Avenue adalah miliknya. Ia mengontrol semuanya disini. Dengan adanya Joon Myeon disini, Seona merasa Joon Myeon seperti ingin mengontrolnya seperti dirumah.

Joon Myeon tertawa kecil seraya meletakkan buku jurnal milik Seona di atas meja kemudian ia berdiri. “Sepertinya aku telah membuatmu sangat terkejut,” ucap Joon Myeon dengan pelan ketika ia menghampiri Seona lalu memeluknya dengan erat.

Akhirnya Seona kembali tersadar dari rasa terkejutnya dan memaksakan suaranya terdengar ceria ketika ia berbicara. “Hmm..ya. Aku seharusnya pergi menjemputmu di bandara nanti malam.”

“Aku tahu. Tetapi aku sangat ingin bertemu denganmu. Aku mencintaimu. Berada sangat jauh denganmu dalam satu minggu penuh sangat menyiksaku dan tentu saja tidak menyenangkan ketika kau tidak berada disana denganku.”

Seona menyakinkan dirinya untuk tersenyum ketika Joon Myeon melepaskan pelukannya.

“Aku berharap kau tidak mempunyai rencana hari ini, karena hari ini kita akan menghabiskan waktu bersama. Hanya kau dan aku.”

“Seharian?” tanya Seona.

“Seharian.”

Seona menggigit bibirnya ketika Joon Myeon memeluknya kembali. Seona harus menelpon Baekhyun dan membatalkan rencana yang telah ia buat dengan Baekhyun. Seona berharap Baekhyun akan mengerti.

.

.

.

Baekhyun menandatangani sebuah formulir sebelum meletakkannya di sebuah berkas.

“Ini.  Kalau seandainya ada sesuatu yang salah dengan angka pada saham di formulir itu. Tinggal tanda tangan di kertas lain dimana yang ada tanda x dan kirimkan padaku.”

Pria muda tersebut mengangguk sebelum meninggalkan ruangan. Baekhyun berdiri dan mengambil salinan formulir tadi dari mejanya, berjalan menuju lemari arsip yang berada di sebelah kirinya. Sebuah ketukan pintu terdengar.

“Tunggu sebentar,” ucap Baekhyun saat ia meletakkan salinan formulir di sebuah berkas dan meletakkannya di lemari arsipnya.

“Oke, Baekhyun. Satu menit.”

Baekhyun menutup lacinya dengan membantingnya, tetapi ia tidak bergerak untuk berbalik. Baekhyun tahu suara itu. Suaranya terdengar sama–bahkan setelah dua tahun ketiadaannya.

Baekhyun tahu itu siapa.

“Apa yang kau lakukan disini?” Baekhyun menggeram ketika membalikkan tubuhnya untuk melihat pria muda yang berada di ruangannya. Park Chanyeol masih terlihat sama. Ia tinggi, masih memiliki rambut yang berwarna cokelat terang dan tampaknya ia tidak menggunakan kacamatanya lagi tetapi menggunakan lensa kontak.

“Aku hanya mampir dan mengucapkan ‘hai’.”

“Setelah dua tahun?” Keluar, Park Chanyeol!”

Baekhyun tidak memanggil Chanyeol menggunakan marganya sejak pertama kali ia bertemu dengannya di sekolah dasar. Itu terasa aneh, tetapi setelah Chanyeol tidak datang ke pernikahannya dengan Hyera, Baekhyun tidak ingin memanggilnya tanpa marganya kembali. Bahkan, ia tidak ingin melihat wajah mantan sahabatnya.

Chanyeol menghela nafas, ia sedikit terluka ketika Baekhyun memanggilnya dengan marganya. “Aku tahu kau marah-”

“Marah? Tidak. Aku tidak marah. Mengapa aku harus marah? Lagipula rekan kerjaku, sekaligus sahabatku, yang seharusnya menjadi pengiringku di pernikahanku tidak menunjukkan dirinya dan tidak pernah menghubungiku lagi. Jadi, mengapa aku harus marah?”

“Baekhyun, apakah benar-benar diperlukan untuk menggunakan sindiran?”

“Kau tahu? Kau benar. Aku sangat marah dan aku ingin kau pergi dari kantorku!”

“Aku kembali karna sebuah alasan. Aku tidak akan pergi sampai aku menyelesaikan masalah yang berhubungan denganmu.”

“Oh tidak, Park Chanyeol. Aku tidak peduli masalah apa yang ingin kau selesaikan.”

“Itu juga menyangkut Hyera.”

Baekhyun menatap Chanyeol dengan tajam. “Jangan bawa-bawa Hyera. Dia bukan urusanmu.”

Chanyeol tahu bahwa Baekhyun akan bereaksi seperti ini. Chanyeol tetap bersikap tenang saat ia melihat Baekhyun duduk di kursinya. “Baekhyun, aku tidak datang kesini hanya untuk berdebat denganmu.”

“Kalau begitu lebih baik kau pergi. Ini sudah jelas, Park Chanyeol. Aku memintamu untuk menjadi pengiringku di pernikahanku. Kau adalah temanku sejak kecil dan aku memintamu untuk menjadi bagian dari hari yang paling penting dalam hidupku. Tetapi justru kau pergi. Kau benar-benar menghilang dan bahkan tidak menghubungiku selama dua tahun penuh. Jadi pergilah, sekarang kau tahu dengan pasti bahwa aku membencimu.”

Chanyeol hampir saja mengatakan bahwa ia tidak membenci Baekhyun. Chanyeol juga ingin mengatakan bahwa Hyera merupakan seorang penipu tetapi ia menahannya. Justru, Chanyeol mulai berpikir mungkin memberikan petunjuk menyangkut Hyera tidak akan berhasil. Baekhyun bahkan tidak memberikan kesempatan padanya untuk menjelaskan apapun. Chanyeol sekarang tahu bahwa ia tidak bisa membuang waktunya untuk berdebat dengan Baekhyun. Ia hanya perlu menjelaskan secara langsung dan memeringatinya. “Apakah Hyera belum hamil, Baekhyun?”

Kepala Baekhyun terangkat. Ia telah melihat beberapa berkas atau setidaknya ia berpura-pura melakukan itu agar Chanyeol mengerti maksudnya dan pergi, tetapi pertanyaan yang dilontarkan Chanyeol mengundang perhatiannya.

“Apa maksudmu, Chanyeol?”

“Setidaknya ia tidak memanggilku dengan margaku,” pikir Chanyeol.

“Haneul?” panggil Chanyeol. Baekhyun melihat seorang wanita yang memasuki ruangannya. Baekhyun langsung menyadarinya. Tidak mungkin ia akan melupakan wanita bersurai panjang itu atau mata Amethystnya. “Hai, Baekhyun.”

“Kalau aku marah padanya, aku marah padamu. Jadi jangan pernah mencoba untuk bertingkah manis padaku.”

Haneul menghela nafas dan menatap suaminya. Chanyeol memberikannya sebuah tatapan yang mengatakan bahwa Chanyeol harus memeringati Baekhyun.

“Apakah dia hamil, Baekhyun?”

“Tidak,” bentak Baekhyun. “Kau senang? Apakah kau akan pergi?”

“Terima kasih Tuhan,” bisik Haneul.

“Baekhyun, aku perlu kau mendengarkanku. Ini akan terdengar sangat mengejutkan, oke?”

Baekhyun mengusap wajahnya menggunakan tangannya. Jika ia tidak mendengar apapun yang mereka katakan, mereka tidak akan pergi. Jadi ia memaksa dirinya untuk mendengarkannya.

“Apakah kau ingat bayi kami, Baekhyun?”

“Ya,” ucap Baekhyun pelan, sedikit bersimpati. Bayi mereka seorang laki-laki yang langsung lahir setelah Haneul dan Chanyeol menikah tiga tahun yang lalu. Sebenanya, dengan hamilnya Haneul lah yang membuat mereka mempercepat pernikahannya. Jika tidak, mereka akan menunggu sampai mereka merasa sudah siap. Sayangnya, Haneul mengakui bahwa ia pernah diperkosa dan ia tidak yakin anaknya merupakan anak Chanyeol atau bukan. Chanyeol tidak peduli, ia tetap bersikeras bahwa itu adalah anaknya, apapun yang terjadi. Tetapi bayi mereka meninggal karna insiden kecelakaan ketika Chanyeol kehilangan kendali saat menyetir mobilnya.

“Hyera tahu mengenai bayi kami,” ucap Chanyeol dengan datar.

Wajah Baekhyun tampak kosong, tetapi sebenarnya ia sangat terkejut. Hyera tidak mungkin tahu mengenai bayi mereka. Tidak ada satupun yang mengatakan padanya tentang hal itu.

“Dan dengan informasi itu, ia memutarbalikkan fakta dan mengancam kami untuk pergi dari sini tepat di hari pernikahan kalian.”

“Omong kosong!” teriak Baekhyun. “Hyera tidak memiliki alasan untuk mengancam kalian.”

“Itu bukan omong kosong kalau melibatkan bayiku,” ucap Haneul dengan cepat. “Kau tahu bahwa ketika bayiku meninggal, hal tersebut meninggalkanku sebuah luka yang sangat dalam selama ini dan aku hampir berhenti membicarakan tentangnya. Aku menyayangi bayiku, Baekhyun. Aku tidak akan menggunakannya sebagai cara untuk mendapatkan mendapatkan sisi baikmu.”

“Oke, katakanlah Hyera mengancam kalian untuk pergi dari sini. Mengapa ia mengancam kalian?”

Sebelum Chanyeol menjawabnya, Sekretaris Baekhyun mengetuk pintu dan membukanya. “Tuan Byun?  Tamu Anda sudah berada disini.”

“Lihat, kau harus pergi,” ucap Baekhyun saat sekretarisnya pergi. “Jangan berbicara denganku lagi. Aku tidak akan pernah ingin melihat kalian berdua lagi, dan aku tidak ingin mendengar kebohongan kalian lagi.”

“Tapi, Baekhyun-” ucapan Haneul terhenti ketika Chanyeol menggenggam lengannya.

“Baik. Jangan dengar ucapan kami. Tetapi jangan membuat Hyera hamil, karna sekali ia hamil dan bayi itu lahir, itu akan sangat terlambat.”

Chanyeol dan Haneul keluar dari ruangan Baekhyun. “Apakah kau berpikir ia setidaknya peduli dengan peringatanmu?”

“Aku berharap iya,” gumam Chanyeol.

Saat Baekhyun duduk dikursinya, ia memikirkan apa yang diucapkan Chanyeol. Chanyeol berbohong, iya yakin itu. Tetapi sesuatu tetap bertanya mengapa Chanyeol memeringati untuk tidak membuat Hyera hamil. Baekhyun tahu ia tidak akan menghamilinya-ia sendiri sudah kehilangan keinginannya untuk mempunyai anak dengannya. Tetapi mengapa dengan tidak hamilnya Hyera sangat penting bagi mereka?

Tetapi yang sangat mengganggunya adalah apa yang telah Haneul katakan. Haneul benar. Haneul berada dalam masa-masa depresinya ketika bayinya meninggal dan ia mulai berhenti membicarakannya. Haneul hampir menangis ketika seseorang menanyakan tentang anaknya dan karena itu orang-orang mengerti untuk tidak menyebutkan anaknya lagi. Jadi mengapa tiba-tiba ia membiarkan Chanyeol untuk membicarakan tentang anaknya, terutama untuk berbohong tentang Hyera?

Tetapi Hyera tidak akan pernah mengancam mereka untuk pergi dari sini. Baekhyun sangat bingung. Dan ia berusaha menyingkirkan rasa kebingungannya ketika tamunya memasuki ruangannya. Ia tidak akan memikirkan hal itu lagi, karena tidak ada yang masuk akal.

Itu akan lebih baik jika mereka tidak kembali, daripada memberitahukan sebuah informasi ini di benaknya ketika pikirannya sudah cukup banyak.

.

.

.

Seona memeriksa ruang tamu rumah Hyera.

“Mungkin aku harus meletakkan beberapa panjangan berupa naga di atas dinding ruangan ini,” pikirnya saat melihat sudut ruangan dimana atap dan dinding menyatu.

“Jadi apa yang akan kau ganti di ruangan ini?”

Seona sebisa mungkin tidak menggertakan giginya di depan Joon Myeon. Padahal ia sudah mendapatkan ide-ide tetapi Joon Myeon menghancurkan semua idenya. Ia tidak tahu mengapa Joon Myeon memaksa untuk datang bersamanya. Ia ingat bahwa ia tidak bisa membatalkan apapun yang berhubungan dengan rumah Hyera karena Hyera sendiri ingin rumahnya sebisa mungkin cepat di renovasi. Seona berpikir bahwa Joon Myeon akan memberikan sedikit kebebasan untuknya ketika ia mengatakan situasinya pada Joon Myeon. Justru tersenyum dan berkata bahwa ia akan pergi dengannya dan melihat apa yang akan Seona lakukan.

Sekarang Seona berbalik dan memberikan sebuah senyuman pada Joon Myeon, tidak membiarkan ia menunjukkan rasa kejengkelannya. “Orang yang tinggal disini sebagian orang Cina. Aku berpikir bahwa mungkin aku akan memberikan sedikit hiasan yang akan mengingatkan mereka pada kampung halamannya.”

Joon Myeon menganggukkan kepala saat Seona membalikkan tubuhnya kembali dan menuliskan ide yang telah ia pikirkan, sebelum Joon Myeon membuka mulutnya. “Bagaimana kalau mereka tidak menyukainya?” tanya Joon Myeon.

Mengapa ia datang? Batin Seona. Seketika ia menjadi jengkel. “Kalau begitu mereka akan mengatakan padaku dan aku akan menggantinya.”

“Dan bagaimana jika kau tidak bisa?”

“Aku akan mencari caranya, Sayang.”

“Tetapi bagaimana jika mereka memberikanmu tenggat waktu dan kau kehabisan waktu?”

“Aku akan menyelesaikannya tepat waktu, Sayang.”

“Tetapi bagaimana jika kau tidak?”

“Sayang.” Seona hampir membentak. Ia menarik nafas dalam-dalam, mencoba untuk mengeluarkan semua kejengkelan yang ia rasakan sekarang.

“Kau tahu? Aku hampir selesai. Aku tahu apa yang akan aku lakukan di setiap ruangan yang ia ingin hias ulang dan aku perlu ke Eye Avenue untuk mengambil semua bahan material dan memesan beberapa barang yang aku butuhkan. Dan aku akan melakukannya nanti. Ayo kita pulang, oke?”

Seona tetap menundukkan kepalanya saat mereka melewati Yi Fan yang menatapnya dengan tajam. Mereka masuk ke dalam mobil dan mengendari mobil keluar dari rumah Hyera. “Kau terlihat tegang, Seona. Apa ada sesuatu yang salah?”

Ya. Kau selalu bertanya dan pelayan itu menatapku dengan tajam.

“Tidak,” ucapnya, benar-benar berbanding terbalik dengan apa yang ia pikirkan. “Aku hanya ingin pulang kerumah.”

Mereka terdiam sejenak, kemudian Joon Myeon memecah keheningan. “Di pesawat, aku duduk di sebelah pria yang terus-menerus merayu seorang pramugari. Itu tidak menyenangkan sejak aku duduk di kursi tengah dan pria itu duduk di samping jendela.”

“Itu pasti sangatlah mengerikan.”

“Ya, bahkan aku berpikir mereka menuju kamar mandi bersama untuk melakukan seks karena ia tidak kembali selama sejam. Dan ketika ia kambali, ia memiliki senyuman bodoh di wajahnya.”

Seona tersenyum, walaupun suasana hatinya masih tidak bersahabat. Setelah Joon Myeon menceritakan hal tersebut, mereka berdua terdiam. Ketika mereka sudah samapi dirumah, Seona lantas keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu. Ia membukanya dan lantas terkejut ketika tiba-tiba saja tubuhnya terangkat.

“Joon Myeon!”

Joon Myeon tersenyum lebar kepadanya lalu menutup pintu menggunakan kakinya. Joon Myeon membenarkan posisi Seona di lengannya saat ia berjalan ke atas melewati tangga, tidak peduli jika para pelayan melihat mereka. “Aku telah berada jauh denganmu sangat lama.”

Oh tidak. Seona menelan salivanya ketika Joon Myeon membawanya menuju kamar mereka. Seona harus menghentikannya. Joon Myeon menginginkan seks dan Seona tidak akan membiarakannya. Seona telah tidur bersama Baekhyun semalam dan pagi ini. Ia tidak bisa tidur dengan Joon Myeon selama ia tidur dengan Baekhyun.

“Joon Myeon-” Joon Myeon mencium bibirnya, mencegahnya untuk mengatakan apapun. Joon Myeon berusaha agar bibir mereka terus menyatu sampai menuju kamar mereka. Joon Myeon menggunakan bahunya untuk membuka pintu dan menggunakan kakinya untuk menutupnya.

“Joon Myeon-”

“Hush.”

“Tapi-”

Tidak peduli berapa kali Seona mencoba protes, Joon Myeon menghentikannya untuk menyuarakan apapun dengan menciumnya. Seona tidak bisa melakukan apapun, jadi ia hanya menutup mata dan membiarkan Joon Myeon melakukan apapun yang ia suka.

Kemudian, ketika Joon Myeon berada di kamar mandi, Seona hanya berbaring di tempat tidurnya dengan selimut yang menutupi tubuhnya lalu menatap jendela. Ia sempat menangis ketika Joon Myeon menuju kamar mandi. Ia tidak tahu bahwa ia menangis sampai ia merasakan air matanya jatuh melewati pipinya.

Seona terus memaki dirinya sendiri. Ketika Joon Myeon bersetubuh dengannya, ia membayangkan bahwa itu adalah Baekhyun. Ia terus menyebut dirinya sendiri seorang wanita jalang. Ia benar-benar lupa bahwa Joon Myeon akan menginginkan untuk bersetubuh dengan istrinya. Bagaimana ia dapat lupa bahwa Joon Myeon akan menginginkannya?

Seona berkali-kali mengatakan pada dirinya sendiri bahwa ia telah mencoba protes dan menghentikannya untuk melakukan hal itu. Tetapi tidak peduli berapa kali ia semngatakannya, ia tidak dapat menghentikan rasa bersalahnya. Ia tahu jika ia mengejar Baekhyun dan memohon untuk kembali padanya, itu akan menjadi rumit dan semua rasa bersalahnya semakin menumpuk dibenaknya.

Ponselnya tiba-tiba berbunyi dan Seona mengangkatnya. “Yeoboseyo?”

“Hei.” Terdengar suara Baekhyun.

Seona tersenyum. “Bagaimana kabarmu?” tanyanya, ia lega bahwa suaranya tidak tersendat. Ia duduk di tempat tidurnya.

“Aku baik-baik saja, hanya merindukan keberadaanmu. Bagaimana kabarmu?”

“Oh, aku baik-baik saja. Setelah pagi ini, itu sebuah keajaiban aku masih tetap bisa berjalan.”

Baekhyun tertawa. “Kita akan tetap bertemu nanti malam?”

Seona mengigit bibirnya. Joon Myeon mengatakan bahwa ia akan menghabiskan waktu dengannya seharian. Bisakah ia pergi selama satu jam? Ia benar-benar ingin bertemu dengan Baekhyun. Ia tidak ingin membatalkan rencananya.

“Kemana kita akan pergi?”

“Ke klub dimana pertama kali kita bertemu. Kita akan merayakan hari jadi kita yang ke seminggu.”

“Bukankah hari jadi kita kemarin? Kita bertemu hari jumat.”

“Benar, tetapi aku tidak menghitung kemarin. Aku menghitung dari pertama kali kita berkencan.”

Ia benar-benar sangat baik dan hal tersebut membuatnya tidak bisa mengatakan tidak. “Baiklah. Aku akan bertemu denganmu disana pukul delapan malam.”

“Bagus.” Baekhyun berhenti sejenak. “Kita juga perlu berbicara.”

Seona mendengar suara Baekhyun yang menjadi serius. “Tentang?”

Semalam…hmm, aku lupa untuk ‘melindungi’–mu.”

Seona mengerutkan dahinya. “Melindungiku? Bagaimana-”

Tiba-tiba saja ia teringat bahwa semalam mereka tidak menggunakan ‘pelindung’. Kemudian wajah Seona memucat ketika ia menyadari bahwa ia tidak menggunakan ‘pelindung’ dengan Joon Myeon. Ia sangat tidak teratur dengan haidnya, jadi ia tidak tahu apakah itu mungkin ia hamil kali ini.

“Aku tidak berpikir aku hamil,” ucap Seona, tidak ingin membuat Baekhyun menjadi takut. Ia tidak ingin hamil. Seingatnya terakhir kali ia haid sekitar tiga minggu yang lalu. Jadi bukankah itu sedikit terlalu telat untuk membuatnya hamil?

“Itu bukan waktu yang tepat,” lanjutnya. Seona mendengar Baekhyun mengela nafas, lega. “Bagus, itu hanya terlalu cepat bagumu untuk hamil. Kalau begitu, aku akan menjemputmu nanti.”

Tiba-tiba Seona menolaknya. “Tidak! Aku akan bertemu denganmu disana.”

Seona tahu bahwa Joon Myeon akan tahu tentang Baekhyun jika ia menjemputnya.

“Tapi-”

“Aku harus mampir ke rumah seseorang untuk mengantarkan sesuatu dan baru aku akan menuju klub untuk bertemu denganmu,” bohongnya.

“Ya….baiklah.”

Seona tersenyum lega. Ia mendengar suara shower berhenti dan tahu bahwa Joon Myeon telah selesai mandi. “Aku harus pergi sekarang. Aku ingin bersiap-siap secepatnya.”

“Ini baru jam empat sore,” ucap Baekhyun.

“Aku tahu tapi aku membutuhkan waktu lama untuk bersiap-siap dan juga aku harus mengirimkan barang terlebih dahulu sebelum bertemu denganmu.”

“Baiklah kalau begitu. Sampai jumpa nanti.”

“Ya, nanti.” Seona menutup ponselnya dan meletakkannya di atas nakas ketika Joon Myeon masuk ke kamar mereka.

“Siapa yang kau telepon?” tanya Joon Myeon dengan penasaran.

“Oh bukan siapa-siapa. Hanya mengecek jam.”

“Tapi jam berada tepat disampingmu. Mengapa kau membutuhkan ponselmu?”

Seona mengedipkan matanya dan menoleh untuk menatap jam yang menampilkan waktu dengan angka berwarna merah besar yang berada tepat di samping ponselnya. “Oh. Aku tidak ingin memaksakan leherku untuk melihat jam itu.”

“Tetapi kau duduk di tempat tidur. Kau tidak perlu memaksakan lehermu untuk melihat jam itu.”

Apakah ia menyadari semuanya? Seona berpikir panic. “Oh ya, Nara menelponku dan mengajakku untuk ke klub nanti malam tetapi aku mengatakan tidak karena aku ingin menghabiskan waktu denganmu.” Seona berbohong kembali, berharap Joon Myeon akan memercayainya.

Joon Myeon tertawa kecil. “Mengapa kau berbohong padaku tentang hal itu?”

“Karena aku merasa sangat bersalah. Itu merupakan acara ulang tahun suaminya tantenya sepupunya sahabatnya kakak Nara dan ia ingin aku ikut dalam acara itu.” Seona tertawa dengan gugup.

Karena Joon Myeon mengenal Nara, dan ia merupakan bagian terpenting bagi keluarga kecilnya, Joon Myeon merasa ia setidaknya harus membiarkan Seona untuk datang ke acara tersebut. Walaupun ia merasa sedikit aneh bahwa Nara akan mengadakan sebuah acara untuk seseorang yang sudah jelas saudara jauhnya. “Oh ya, aku akan membiarkanmu pergi selama beberapa jam.”

“Beberapa jam? Terima kasih Tuhan,” batin Seona. “Oh, terima kasih sayang.”

“Tidak masalah.” Joon Myeon mencium pipi Seona. “Tetapi sampai kau pergi, kau dan aku hanya akan berbaring di tempat tidur.”

Joon Myeon menuju balik selimut dan menarik tubuh Seona ke pelukannya.

“Omong kosong,” batin Seona. Ia tahu bahwa Joon Myeon menginginkan lebih selain berbaring di tempat tidur. Ia menerimanya dengan menghela nafas. Joon Myeon adalah suaminya dan ia berhak untuk ‘melakukan apapun’ yang ia mau. Tidak peduli bahwa Seona telah ‘melihat’ orang lain selain suaminya.

Seona hampir meringis.

Tidak. Ia tidak bisa melakukan itu. Ia bukanlah seorang wanita jalang-oke, mungkin memang benar ia seorang wanita jalan karena ia telah tidur dengan pria lain. Tetapi ia tidak akan mengizinkan Joon Myeon untuk melakukan hal itu dengannya lagi. Begitu pula dengan Baekhyun. Tidak ada satupun dari mereka yang akan tidur dengannya. Ia hanya tidak bisa tidur dengan kedua-duanya. Itu akan lebih masuk akal jika ia mengakhiri hubungannya lagi dengan Baekhyun, tetapi ia tidak bisa. Ia sudah menyadari bahwa Baekhyun sangatlah penting baginya untuk dibiarkan pergi. Tidak, satu-satunya pilihan adalah mencegah mereka bersetubuh dengannya sampai hubungannya dengan Baekhyun berakhir-jika itu terjadi.

Seona tersadar dari lamunannya ketika ia merasakan Joon Myeon menggigit lehernya.

“Aku ingin masak!” ucap Seona secara tiba-tiba seraya turun dari tempat tidurnya, meraih jubah tidurnya dan memakainya.

“Hei!”

“Ayolah, Joon Myeon. Kita bisa membuat makan malam bersama,” ucapnya seraya mengikat tali jubah tidurnya, dan berjalan menuju pintu kamar mereka.

“Tatapi ini sangat-”

“Oh, siapa yang peduli? Aku ingin membuat sesuatu yang besar untuk merayakan telah kembalinya kau! Mungkin steak atau daging panggang? Atau bahkan mungkin sebuah kue?”

“Mengapa tidak membiarkan palayan yang membuatnya?”

“Aku ingin membuatnya sendiri special untukmu.”

Seona pergi dari kamarnya, tidak peduli jika Joon Myeon mengikutinya atau tidak. Ia masih menoleransi ciumannya, tetapi ia tidak akan membiarkannya bersetubuh dengannya. Tetapi ia tahu, ia akan kembali beralasan lagi. Ini tidak akan bertahan lama dan seiring berjalannya waktu Joon Myeon akan dapat mencari caranya sendiri untuk bersetubuh dengannya. Tetapi ia harus tetap mencegah Joon Myeon melakukannya, termasuk dengan Baekhyun. Jika ia ingin mencegah dirinya dari tekanan mental, maka ia harus mencegahnya!

.

.

.

Hyera menatap ke luar melalui jendela ketika melihat Baekhyun pergi. “Suamiku yang bodoh,” desisnya melalui giginya yang terkatup.

Hyera telah menuntut kejujuran kemana Baekhyun akan pergi karena Hyera sendiri tidak percaya alasan Baekhyun tentang kliennya yang membutuhkan bantuannya, sama seperti ia tidak percaya alasan yang Baekhyun berikan ketika ia tidak pulang ke rumah semalaman.

Baekhyun justru membalasnya dengan marah, mengatakan betapa tidak percayanya Hyera dengannya.

“Aku tahu kau tidak akan menemui klien.” Hyera hampir berteriak padanya.

“Terserah kau mau percaya atau tidak,” ucap Baekhyun dengan cepat.

Setelah itu Baekhyun bergegas keluar bahkan tanpa melirik ke belakang. Sekarang Seona duduk dekat jendela di ruang tamu,  menahan amarahnya. Tidak ada satupun rencananya yang berhasil. Dalam seminggu ini Baekhyun terlihat menjauhinya dan kerenggangan diantara mereka semakin besar dan besar. Semuanya telah berjalan seperti rencananya, dan ketika itu waktunya untuk hamil, Baekhyun memutuskan untuk mulai berbohong dan menjauhinya.

Ponselnya berbunyi dan Hyera meraihnya. “Apa?” bentaknya.

Sabar, sabar. Ada masalah apa, Sayangku?”

“Aku benci ini. Aku ingin semuanya cepat selesai.”

“Hyera sayang. Kita tidak bisa melakukan apapun sampai kau hamil. Omong-omong, apakah kau sudah hamil?”

“Terlalu cepat untuk mengatakan hal itu. Aku benar-benar teratur ketika itu sudah menyangkut datang bulan. Jika aku tidak haid di tanggal yang biasanya, maka aku akan hamil.”

“Lebih baik kau hamil karena kau telah berjanji padaku bahwa kau akan hamil.”

“Kalau kau percaya padaku, jangan memulai rencananya sampai aku mengatakan padamu bahwa aku hamil dan aku akan menunjukkan tes kehamilanku padamu.”

“Aku percaya padamu.”

“Bagus. Tapi ada satu masalah kecil.”

Hyera mendengar sebuah erangan dan Hyera menghela nafasnya.

“Apa masalahnya?”

“Baekhyun tidak tidur denganku. Aku pikir ia menghindari itu.”

“Jadi bagaimana kau bisa hamil jika kau dan dia tidak tidur bersama?”

“Aku mengkhianatinya. Jadi aku akan hamil. Tetapi aku perlu berhubungan seks dengannya jadi setidaknya Baekhyun akan mengakui bayi yang ia lahirkan nanti sebagai anaknya.”

“Dengar, aku tidak peduli bagaimana pun caranya. Kau hanya perlu hamil seperti yang telah kau janjikan. Jika kau tidak, aku sendiri yang akan menanganimu.”

Hyera tersentak ketika orang tersebut membanting ponselnya ke bawah. Hyera perlahan meletakkan ponselnya di atas sofa.

Bagaimana aku bisa membuat Baekhyun tidur denganku?

Hyera mengambil segelas wine dan sedikit mengguncangkan gelasnya, melihat cairan wine tersebut berputar.

Aku tidak bisa membuatnya mabuk. Baekhyun sulit sekali untuk mabuk. Mungkin aku akan memukulnya agar ia pingsan. Ia hanya perlu percaya bahwa kita tidur bersama. Tetapi bagaimana kalau aku benar-benar melukainya? Tidak, aku perlu cara lain. Sesuatu yang tidak akan melukainya.

Tiba-tiba saja Hyera tersenyum.

Tentu saja! Aku akan membiusnya!

Hyera meletakkan gelasnya di atas meja, lalu berdiri dan berjalan menuju sebuah laci. Ia membukanya dan menggeledah semuanya sebelum mengeluarkan buku teleponnya.

Ketika aku sudah mendapatkannya, aku akan menaruhnya di sebuah minuman dan memberikan minuman itu padanya kemudian ke ranjang bersamanya. Dan ketika ia bangun nanti, ia akan berpikir bahwa kita tidur bersama. Dan ketika aku hamil nanti, ia akan berpikir bahwa itu adalah anaknya. Ia akan membayar semuanya selama kehamilanku dan kemudian….semuanya berakhir.

to be continue…

82 responses to “Affairs of the Heart [Chapter 5]

  1. Waaah makin rumit ini ceritanya. Gimana kalau entar seona hamil anaknya baekhyun?
    Hyera tuh sebenernya pingin apa sih dari baekhyun? Duit nya? Atau apa? Hyera ngeselin banget deh u,u
    Aku ngeri pas waktu baca ceritanya abuzakar, duh semoga joonmyun gak sampai nyakitin seona ya :’ abuzakar bikin suasana makin runyam deh. Baekhyun harus percaya sama chanyeol, jangan sampai baekhyun tidur sama hyena

  2. Makin tegang aja…. Bacanya
    Bner2 daebakkkkkk…….
    Aq hrap jngan dlu ktauan hububgan Baekhyun Seona ato gk mrka jngan dlu two klo mrka smaa2 berkhianat hahaahha aq msh seneng sma kisah2 semu mrka kerennnnnnn

  3. Wow liciknya hyera, ini semakin seru semakin rumit masalahnya. Sebenarnya ini topik berat meskipun terlihat biasa. Ada apa dengan seona yang tidak mau tidur dengan junmyeon? Siapa yang menelpon hyera dan mengharap kehamilannya. Jangan jangan itu junmyeon, untuk menjatuhkan baekhyun. Dan juga apa hubungannya dengan chanyeol. Mungkin chanyeol adalah kata kuncinya makanya dia disingkirkan oleh hyera. Pasti dia tahu rahasia besar hyera. Dan intinya orang orang yang selingkuh disini adalah orang orang yang kesepian. Sekali berbohong seterusnya dia akan menambah kebohongannya untuk melindungi dirinya. Menurut mereka selingkuh itu indah kali ya…

  4. demi apapun thor-nim ..
    junmen menghayati bgt jd orang kurang ajar 😆😅
    nmanya org rumah tangga duh .. 😑
    lnjut thor-nim yaa .. di tunggu
    semangat buat nulisnya 😊☺

  5. itu si hyera punya rencana apa?._. masih gak ngerti sama chanyeol dan istrinya, dia punya masalah apa sebenernya sama hyera.-. ditunggu lanjutannya, fighting!💪

  6. Hyera licik bgt ih. Kasian baekhyun cuma dimanfaatin kan?
    Chanyeol sama haneul itu ada masalah apa sih sama hyera(?) baekhyun gak percaya bgt lagi sama ucapannya chanyeol, pdhal chanyeol baik gak mau baekhyun hancur hidupnya cuma gara2 hyera..

  7. Maaf sering jadi silent reader~ aduh ceritanya seru banget :””” pengen cepet” baca lagi thor ~ )): hyera ternyata jahat banget ya.. baekhyun jgn pulang ke rumah! *-*

  8. Aku sebenernya rada males kalo baca ff yg masih ongoing , suka hilang felling kalo gak baca sampe tuntas . Tapi kalo baca ff yg udh ada ending nya tuh lebih berasa baper habis baca nya , kadang aku bakalan baper smpe 1 minggu abis baca seluruh chapter 1 ff😀
    Aku belom baca ff author sih tapi udh disimpan di bookmark niat nanti mau baca pas udh end biar berasa baper nya hahah picik bgt kan aku
    Maafkan yah author jangan blacklist aku yah T.T

  9. gk joon myeon gk hyera sama jahatnya bahkan mungkin sangat kejam
    dan keadaan seona makin terpojok
    siapa sich yang nelpon hyera dan pastinya bukan yi fan

    chanyeol ama haneul pasti akan susah buat ngingetin baekhyun kalo hyera dan seseorang sedang merencanakan perbuatan jahat padanya

    kalo pada akhirnya nanti seona emang hamil moga aja itu anak baekhyun ya bukan joon myeon

  10. Hyera tuh jahat banget sih bikin jengkel aja . Udah deh Seona gak usah ragu buat balikan lagi sama Baekhyun tinggalin aja Joonmyeon yg sama liciknya kaya hyera hihihi
    Lanjuuuttttt thoor jangan lama lama dongs updatenya , bener bener ditunggu dan penasaran abis😀

  11. gimana sama seona??? Nanti kalo dia hamil anak siapa duh

    Hyera picik bgt sama kaya joonmyeon bzzz enxah kalian/g

  12. joonmyeon bener bener ya ckck gaknyangka hyena juga busuk banget heu
    kayaknya bakal terjadi sesuatu nih hahaha
    btw ini chapter udah lama banget ya tp baru baca sekarang hehe-_-

  13. HYERA lo licik bgt parah
    udh baek sama seona ajjaaaaa
    aaa aku bingung mau komen apa kak
    maafkeun wkwkw harusnya kemarin sih jadi ya gini kan bingunh mau komen apa kalo sekalian gini; ((

  14. permainan? permainan apasih hyera? apasuh yang direncanain sama hyera? dan siapa kawannyaitu? janganjangan junmyeon?ahhh rumit.. lanjut baca deh ya ^^ penasaran hahahah

  15. itu sih joonmyeon ikut2an selingkuh jg ? dia ngelakuin seks di pesawat sama pramugari itu kah ? dan aku mulai pusing sama sosok hyera ? sebenernya ada apa kah ?

  16. joonmyeon itu juga ‘main’ sama pramugari pesawat? udah seona tinggalin aja joonmyeon. apaan sih hyera, jangan-jangan nanti kalo berhasil dia bilang itu anaknya baekhyun terus mau hartanya doang😀 udah deh baekhyun percaya dong sama yang dibilang chanyeol terus tinggalin hyera terus seona juga tinggalin joonmyeon terus baek-seona nikah😀 hihihi

  17. Hmm setelah aku pikir2 di part ini semua tokoh utama itu sama2 bejat dan bermuka dua. Mereka sama2 sudah berselingkuh dan berhubungan seks bukan bersama pasangannya. Jadi yaa, aku hanya akan mengikuti alurnya dan melihat hasil akhirnya. Berharap bekhyun dan sena bersama dan mereka berhenti dengan pasangan mereka masing2 dengan cara yang baik-baik saja.
    Sebenarnya apa alasan dibalik rencana hyera agar baekhyun mau berhubungan seks bersamanya? Apa yang sedang dia rencanakan? Kenapa dia harus hamil, bertepatan dengan waktu yang sudah ditentukan dengan orang lain? Apa itu bersangkutan dengan peringatan dan kejadian masa lalu chanyeol-haneul? Bagaimana dengan suho? Dia tertarik dengan cerita penyiksaan suami kepada istrinya yang diceritakan oleh orang yang duduk tepat disebelahnya, apa dia berniat melakukan hal yang sama agar istrinya bertekuk lutut padanya? Oh, tolong bilang jangan. Aku masih punya hati untuk bisa merasa tidak tega melihat wanita itu disiksa oleh suaminya, secara aku juga seorang wanita. Maaf aku membuat komentar ini hampir menjadi sebuah drabble fic dengan part-of-view-ku sendiri. TerimaSehun, Jjangg!!

  18. kalo mereka berdua kathuan habislah sudahhh hnggg
    jd hyera itu jahat, aku kira hyera istri yg begitu polos ternyata kebalik–
    emang knp harus hamil

  19. Hyera itu kenapa ya? Apa yang dia mau dari Baekhyun? Dan sama siapa dia kerjasama? Terus si Jun Myeon aku yakin yang diceritain dia di pesawat itu dirinya sendiri jelas-jelas dia yang narik pramugari kan tadi kenapa dia malah seakan-akan ngomongin orang. Semoga aja hubungan Baekhyun sama Seona gak akan ketahuan dalam waktu dekat yaaa

  20. ribet yaa ribeet. jadi ada orang lain lagi di belakang hyera untuk njatuhin baekhyun?
    harusnya baekhyun dengerin chanyeol dulu, ga ada salahnya kan. semoha chanyeol ga nyerah gitu aja yaa

  21. Seona kalo hamil anaknya baekhyun gimana? Itu hyera jahat amat dah:( jadi makin ribet urusannya ini mah gera:(

  22. Hyera sgt bkrja keras rupanya ingin hamil,,tp syg Baekhyun sll sja mnghindrinya.. Smg sja Hyera hamil anak org lain,, lalu Seona kyknya bkal Hamil anak Baekhyun deh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s