Breakable Heart (Part 8)

image

Thanks to uri saengi cedarpie24 for the nice pic ^^

Hidup. Sebuah kata sederhana yang ketika semasa kecil dulu ia pahami sebatas kegiatan menghirup oksigen dan mengeluarkan karbondioksida, karena ketika seseorang dinyatakan tak memiliki kehidupan lagi maka indikasi pertama adalah menghilangnya fungsi pernafasan itu sendiri.

Di usianya kini, Jung Hyo Rim akhirnya memahami hidup bukanlah sebatas menyerap dan mengeluarkan udara melalui lubang hidung. Hidup adalah hidup, dimana bukan hanya menghitung perputaran jarum jam dari angka dua belas untuk kembali lagi di angka yang sama atau menunggu berjalannya dari hari senin hingga hari minggu, lebih dari itu semua. Ada asa yang diperjuangkan, ada harapan bahwa hari ini akan lebih baik dari kemarin dan esok harus lebih baik dari hari ini.

Hyo Rim menutup krim wajah lalu menaruhnya kembali di tempatnya. Ia menatap lurus bayangan yang terpantul di cermin. Hyo Rim melihat seorang perempuan berusia dua puluh tiga tahun, rambut coklat kemerahan bergelombang terurai mengelilingi wajah ovalnya. Sepasang mata perempuan di depannya masih nampak bengkak karena menangis setiap malam. Bibir itu juga sedikit terlihat kering karena lupa menggunakan lipbalm.

Perempuan di dalam cermin mengangkat sebelah tangan dan menyentuh permukaan pipinya. Untunglah masih terasa lembut, namun entah apa yang akan terjadi pada satu hingga dua tahun ke depan pada kulit ini jika perempuan itu masih tetap seperti sekarang. Hanya diam meratapi nasib tanpa melakukan apapun untuk merubah keadaan.

Hyo Rim mendengus, pantas saja suaminya memilih perempuan bermarga Hwang itu. Ia kalah jauh dari perempuan itu, atau perempuan-perempuan lainnya yang akan berdatangan nanti untuk berebut perhatian Kyuhyun. Hyo Rim tak dapat terus berdiam diri, ia membenci posisinya yang hanya dapat duduk dan menunggu keajaiban datang.

Ada yang harus dirubah, mulai detik ini. Pernikahan mereka memang berbeda  dengan pernikahan pasangan lainnya, tapi tetap hanya ia yang menjadi Nyonya Cho saat ini. Meski Kyuhyun tak mencintainya sebesar Hyo Rim mencintai pria itu bukan berarti ia tak berhak untuk memperjuangkan hubungan mereka.

Setelah berganti pakaian, Hyo Rim keluar dari kamar dan turun ke bawah berniat mencari  Han Ahjussi untuk mengantarnya ke salon kecantikan. Benar, memperbaiki penampilan menjadi pilihan pertamanya. Laki-laki adalah makhluk visual, dari sanalah Hyo Rim berpendapat ia harus nampak lebih menarik dari sebelumnya. Namun belum sempat Hyo Rim menuruni seluruh anak tangga Lee ahjumma telah menghadangnya di ujung tangga.

“Maaf Nyonya, Tuan memerintahkan saya untuk meminta anda tetap tinggal di rumah, meski untuk mengunjungi Honeybear.” Ujar Lee Ahjumma dengan perlahan.
Pada mulanya Hyo Rim tak memberikan respon apapun, ia hanya menatap kosong pada barisan anak buah Lee Ahjumma yang berdiri berjajar di belakang wanita paruh baya itu. Beberapa detik kemudian, barulah Hyo Rim mencerna kalimat Lee Ahjumma namun tetap tak dapat memahami maksud perintah Kyuhyun yang memintanya tak keluar dari rumah. Hyo Rim ingat jelas, pria itu yang memaksanya mengelola Honeybear.
“Kyuhyun menghubungimu?” Tanya Hyo Rim ragu sekaligus tak percaya, mereka sepasang suami istri tapi berkomunikasi melalui asisten rumah tangga.
Lee Ahjumma tak menjawab, ia hanya menunduk sebentar memahami nada tersinggung dalam ucapan Hyo Rim.
Hyo Rim mendecak, ia berjalan menuju pesawat telepon namun gerakan tangannya terhenti di atas angin begitu melihat kabel yang tak terpasang pada tempatnya.
“Apa lagi ini?” desis Hyo Rim, ini keterlaluan! Pengabaian serta sikap dingin masih dapat ia maafkan tapi kali ini keterlaluan. Kyuhyun telah mengekang kebebasannya.
Dengan gusar, Hyo Rim menadahkan tangannya pada Lee ahjumma, “Pinjamkan aku ponselmu!”
“Untuk apa Nyonya?”
Hyo Rim tahu ia sudah bersikap tak sopan pada Lee Ahjumma tapi ini sangat mendesak, setelah masalah pengurungan ini selesai sesegera mungkin Hyo Rim akan meminta maaf pada Lee Ahjumma dan membeli ponsel baru tentunya.
“Aku harus menghubungi pria gila itu, sebenarnya apa rencananya kali ini?”
“Ia hanya ingin kau menikmati hari mu bersamaku dan Ibu.”
Hyo Rim menoleh ke sumber suara dan menemukan Sa Eun baru saja memasuki ruang keluarga bersama nenek.
“Ko-mo?” Tanya Hyo rim sangsi, bagaikan mimpi di siang bolong mendapat kunjungan keluarganya sendiri.
000oooo000
“Pengobatan nenek sudah selesai?” Tanya Hyo Rim begitu pelayan pergi meninggalkan mereka bertiga di taman belakang.
Sa Eun menghela nafas berat, “Nenek tak begitu betah disana, berkali-kali menangis ingin bertemu denganmu.”
Hyo Rim menatap intens nenek yang kini tengah asyik memberi makan ikan. Beberapa hari setelah pernikahannya, Kyuhyun mendaftarkan nenek ke klinik yang khusus menangani pasien penderita Alzheimer. Klinik itu berada di Jepang dan inilah pertama kalinya Hyo Rim bertemu dengan keluarganya.
“Bagaimana keadaan Nenek sekarang?”
Sa Eun mengikuti arah pandang Hyo Rim lalu tersenyum, “Tak begitu banyak perubahan yang terjadi, kau sendiri tahu Alzheimer bukan penyakit yang dapat disembuhkan. Kita hanya bisa berusaha agar Ibu tak lagi melakukan hal-hal yang dapat mencelakai dirinya sendiri.”
“Kalau begitu, hentikan saja pengobatannya. Setidaknya aku tak perlu lagi hanya bertemu dengan rumah kosong setiap kali pulang.” Rajuk Hyo Rim seperti anak kecil.
Sa Eun tergelak melihat tingkah keponakannya, dengan lembut Sa Eun merangkul bahu Hyo Rim lalu mengusap pelan pipi Hyo Rim. Ada penyesalan menghinggapi begitu melihat Hyo Rim pertama kalinya setelah menikah. Dulu salah satu pertimbangan Sa Eun mengijinkan Kyuhyun menikahi Hyo Rim selain karena keadaan ekonomi juga karena ia tahu, keponakannya itu mencintai Kyuhyun. Sa Eun mengira keputusannya dulu adalah keputusan yang benar, tapi hari ini Sa Eun menyesalinya. Hyo Rim tak lagi seperti Hyo Rim yang Sa Eun besarkan, gadisnya kini tak lagi ceria seperti dulu.
Skandal itu, Sa Eun merenung. Pertama kali melihat berita itu di internet, Sa Eun hanya tertawa miris, wartawan telah kehabisan ide sehingga mengarang cerita yang bukan-bukan.Tetapi  beberapa menit kemudian, Kyuhyun menghubunginya dan meminta mereka untuk pulang menjaga Hyo Rim, Sa Eun menyadari ada yang salah di sini. Tak akan ada asap jika tak ada api. Sa Eun pernah bertemu dengan Choi Siwon beberapa kali ketika pria itu mengantar Hyo Rim pulang. Meski tak begitu intens,  dari sikap serta perhatian yang Siwon tunjukan pada Hyo Rim, Sa Eun memang sempat mengira ada hubungan khusus diantara mereka. Namun tak mungkin jika Hyo Rim sampai hati bermain api.
Ada yang janggal, pernikahan keponakannya tak berjalan seperti semestinya.
“Bagaimana dengan Samchon?”
Sa Eun lagi-lagi menghela nafas, “Tak ada harapan, pamanmu masih bersikeras untuk kembali membuka kasus klinik kecantikannya.”
Hyo Rim menoleh dan mengernyit, “Bukankah semuanya telah selesai, produk berbahaya itu bukan milik Samchon dan nama baik Samchon juga sudah dibersihkan. Apalagi yang Samchon inginkan?”
“Kebenaran. Jung So ingin tahu kenapa krim sebanyak itu bisa ada dalam kliniknya dan siapa sebenarnya yang menaruh krim itu disana? Bagi pamanmu, sebesar apapun kebencian keluarga Park pada salon kecantikan kita, tetap tak mungkin mendorong mereka hingga berani memfitnah Jung So. Biaya memproduksi krim berbahaya itu tak sedikit, sedangkan kau tahu sendiri bagaimana keadaan keluarga Park. Jika mereka memiliki uang sebanyak itu, kenapa tak membuat klinik yang lebih besar,  dibanding dengan menjatuhkan klinik Jung So? Ada pihak lain yang menyokong mereka. ”
Sa Eun memainkan cincin pernikahannya, lalu memejamkan mata sejenak, “Terkadang, aku mengerti kenapa Jung So bersikeras ingin mengetahui siapa dalang dibalik kasus itu. Aku juga sepertinya, aku marah karena jika bukan karena kasus itu, kami tak akan kehilangan bayi kami. Tidak-seandainya saja saat itu aku tak berlari mengejar Jung So yang ditangkap polisi, mungkin aku tak akan keguguran. Aku juga bersalah karena telah bertindak gegabah saat itu, hanya saja Jung So tak seperti ku. Ia sama sekali tak memiliki kesalahan karena itu pantas baginya kini menuntut kebenaran terungkap. Jung So hanya ingin mengetahui, bayi kami tak pergi dengan sia-sia.”
“Ko~mo, tak ada yang sia-sia di dunia ini. Aku yakin, sepupuku sudah bahagia dan tenang di surga. Kalian tak perlu mengkhawatirkannya, lagi.” Hibur Hyo Rim, ia menghapus air mata Sa Eun dengan punggung tangannya.
Sa Eun mengangguk, “ Aku tahu-aku tahu.”
000ooo000
Selama satu hari penuh, Hyo Rim ditemani Nenek juga Sa Eun di rumah dengan berbincang di taman belakang dan hanya masuk ke dalam rumah ketika waktu makan siang dan makan malam. Quality time, meski hanya satu hari, Hyo Rim merasa diantara hari-hari yang telah dilewatinya di rumah ini, hari itulah ia benar-benar merasa bahagia. Hyo Rim dapat mengungkapkan apa saja yang ia ingin katakan dan ada seseorang yang mendengarkannya, ia tak lagi hanya berhadapan dengan tembok tebal atau kursi kosong.
“Kimchi nya kurang pedas, aku tak suka!” Gerutu Nenek di tengah acara makan malam mereka, Nenek menaruh sumpit di samping mangkuk dan melipat kedua tangan di dada seperti anak kecil.
“Ibu, kau harus mengurangi makan pedas, ingat pencernaanmu.” Bujuk Sa Eun sambil meraih tangan Nenek agar memegang sumpitnya lagi.
Nenek menolak dan beralih pada Hyo Rim, “Hyo, suruh pelayanmu mengambil Kimchi yang lebih pedas, ya!”
Baik Hyo Rim maupun Sa Eun membeku di tempat, keduanya menatap takjub Nenek yang memanggil cucunya dengan nama bukan lagi ‘Nona’ sementara yang diperhatikan tak menyadari apapun, Nenek masih memasang wajah memelasnya memohon agar mereka menghidangkan Kimchi yang lain di atas meja.
“Ya Tuhan!”Sa Eun tak kuasa menahan tangis, ia menutup mulutnya sendiri dengan tangannya yang bebas memegang sumpit.
Isakan tangis bahagia Sa Eun jelas terdengar di ruang makan itu, meski bukan ia yang di ingat Nenek, Sa Eun tetap bersyukur. Delapan tahun lebih Nenek terjebak dalam ingatannya sendiri hingga membuatnya lupa pada keadaan sekitar, satu kemajuan besar hadir malam ini. Nenek mengingat Hyo Rim. Dan Hyo Rim, malam pertama kalinya ia merasa bersyukur telah menikah dengan Cho Kyuhyun, pria itulah yang membuat Nenek dapat berobat hingga akhirnya mengingat kembali keluarganya. Akhirnya Hyo Rim dapat tersenyum ketika mengingat nama itu.
000ooo000
Lebih dari satu jam yang lalu keluargaku meninggalkan pekarangan rumah ini, tapi badanku masih belum beranjak dari ambang pintu. Euphoria akibat tanda-tanda kesembuhan nenek masih terasa jelas, aku tak lagi merasa berat membiarkan Nenek berobat di Jepang meski dengan pengorbanan pertemuan kami yang langka. Apapun, demi mengembalikan keluarga kami seperti dulu. Mataku fokus menatap gerbang masuk ketika melihat pergerakan disana.
Cho Kyuhyun, pria itu akhirnya kembali.
Hah, kembali. Nampak sekali aku yang tengah menantikannya pulang dengan berdiri di sana sementara hari sudah gelap. Ia menyadari kehadiran ku, namun tak ada perubahan sedikitpun pada wajah lelahnya. Jet lag, aku berusaha meyakinkan wajah kusut itu hanya karena jet lag bukan karena keterpaksaan harus kembali dan meninggalkan kekasihnya di luar negeri.
Aku mengikuti setiap gerak-gerik Kyuhyun yang berjalan memasuki rumah. Ia nampak sangat kacau, beban terlihat jelas dari kerutan di sekitar keningnya. Apa Mi Young mencampakkannya? Benar, mungkin itu satu-satunya alasan kenapa pria ini pulang. Haruskah aku bersorak dan menyumpahi nya karena akhirnya ia juga merasakan sakitnya diabaikan seperti yang kurasakan? Aku sungguh ingin melakukannya, tapi sepertinya aku tak mampu. Karena kenyataannya sejak melihat keadaannya, jantungku sesak.
“Kenapa berdiri di sini? Sedang banyak angin.” Kyuhyun membuyarkan lamunanku, tanpa terasa ia sudah berdiri di depanku, kami hanya terpisah satu anak tangga.
Aku meraih tas bepergiannya dan sebelum berbalik masuk ke dalam rumah, tanpa dapat kukendalikan aku mengatakan, “Masuk dan mandi dengan air hangat, aku akan meminta Lee ahjuma menyiapkan bubur abalone.”
Apa yang kulakukan?! Aku menjerit dalam hati, secara tak langsung sekarang aku sedang mengambil peran sebagai seorang istri yang baik! Ini di luar kendaliku sendiri.
000ooo000
“Terimakasih untuk bubur abalone nya.” Lagi-lagi pria itu mengejutkanku dengan kehadirannya yang tak kusadari.
Ia kini duduk di sampingku dengan kaki yang sama-sama menjuntai keluar dari balkon kamar. Kami nampak seperti anak kecil sekarang. Untunglah lingkungan Seongbokdong terbilang cukup sepi sekarang, sehingga tak aka nada yang melihat dan menertawakan tingkah kami.
“Sudah kukatakan, itu buatan Lee Ahjumma. Jadi berterima kasihlah padanya.”
“Eoh, aku tahu. Tapi, terima kasih.”
Aku tertawa hambar, ini aneh. Mendapat perlakuan sopan darinya setelah ditinggalkan berhari-hari tanpa kabar malah membuatku ingin tertawa.
“Apa yang lucu?”
“Kau tak perlu tahu,” Aku merasakan Kyuhyun tengah menatapku intens, aku jengah hingga tak mampu bergerak,
“Kau baik-baik saja?” Tanya Kyuhyun, nada khawatir terdengar jelas dalam suaranya membuatku menoleh dan bersitatap dengannya.
“Ne? seharusnya itu pertanyaanku, kau jelas nampak tak baik setelah terbang tadi.”
Kyuhyun mengangguk pelan, namun tetap tak mengalihkan pandangannya. Ini semakin membuatku risih. Aku memutar otak mencari pengalih perhatian agar ia tak terus menatapku.
“Ah, iya terima kasih untuk pengobatan Nenek. Benar apa yang kau katakan, keadaan Nenek jauh lebih baik sekarang. Kau tahu, tadi Nenek mengingat namaku.” Aku tersenyum dan berharap ia segera menghilangkan wajah sedih itu di depanku, “Sekali lagi terima kasih.”
Berhasil, akhirnya Kyuhyun tersenyum meski samar namun aku yakin ia sempat tersenyum tadi, ia menekuk kedua kakinya dan menumpukkan kepala di atasnya lalu memejamkan mata.
“Syukurlah, setidaknya ada satu hal berguna yang kulakukan.”
Kami lagi-lagi terdiam menikmati keheningan yang tercipta. Pernahkah kukatakan aku lebih menyukai keadaan seperti ini? Cukup hanya berada di sampingnya meski tak ada yang kami lakukan atau katakan, telah mampu membuatku bahagia. Ini lebih dari cukup, aku hanya berharap semoga Kyuhyun tak lagi pergi meninggalkanku begitu saja. Naifkah aku? Aku pikir seperti itu. Tapi aku tak peduli.
“Hyo, besok pagi ikut denganku, ya.” Bujuk Kyuhyun masih dengan mata tertutup.
“Hum, kemana?”
“Jeju-do, kita berlibur.”
Aku tak mampu menyembunyikan keterkejutanku, dengan mulut terperangah aku menegakkan kepalaku. Semua orang tahu destinasi macam apa itu Jeju-do. Hanya dua alasan seseorang memilih berlibur kesana, untuk menjalin kasih atau menghibur hati yang patah hati. Yah, sekali lagi aku terlalu terbawa efek drama televise. Tapi bukankah itu benar? Setelah diabaikan kini aku harus menemani suamiku yang ingin menghibur dirinya sendiri dari patah hati.
0000oooo0000
Han ahjussi tersenyum sumringah ketika melepas kami di bandara menuju Jeju-do. Bahkan, selama di mobil tadi tak henti-hentinya ia bersenandung kecil.
“Selamat bersenang-senang, Tuan-Nyonya.” Pesan Han Ahjussi sebelum menyerahkan koper kami pada Kyuhyun.
Aku bergidik ngeri dan memilih berjalan mendahului Kyuhyun. Namun Kyuhyun mencekal lenganku dan membuatku berjalan beriringan dengannya. Beberapa detik kemudian kusadari ada yang aneh, tiga pria bertubuh besar dan berpakaian menyeramkan mengelillingi setiap langkah kami. Membuat ku dan Kyuhyun seperti berada di dalam lingkaran khusus diantara calon penumpang yang lain. Dan keanehan lainnya, Kyuhyun sama sekali tak terganggu dengan kehadiran mereka, apa ini yang disebut bodyguard?
“Eumh, Kyu.” Panggilku dengan bisikan, entah kenapa aku tiba-tiba khawatir tiga orang ini menguping pembicaraan kami.
“Ada apa?”
“Apa setiap bepergian, kau selalu mendapatkan pengawalan seperti ini?” Tunjukku pada salah satu pria besar di depanku.
“Pengawalan apa? Jangan berpikiran aneh. Mereka penumpang seperti kita.”
“eish! Kau kira aku anak kecil dapat kau bodohi!”
“Kau bukan anak kecil, tapi kau orang yang kecanduan novel thriller.”
Aku mendengus, dan akhirnya memilih diam. Percuma mengorek-ngorek hal yang tidak penting seperti ini.
“Klik!”
Entah kenapa aku merasa tadi seperti bunyi blitz kamera, dan meski rasanya tak mungkin aku merasa sedang diperhatikan. Sensasinya mirip seperti ketika dihukum berdiri di depan kelas karena tak mengerjakan pekerjaan rumah. Setiap mata tengah memerhatikanmu. Aku melirik Kyuhyun yang telah mengenakan kaca mata hitamnya dan tenggelam memainkan ponselnya.
Ah benar! Lagi-lagi aku lupa membeli ponsel.
“Kau lihat apa?” Tanya Kyuhyun
“Ani,” Aku menggeleng, “Aku hanya ingat harus membeli ponsel, setelah turun nanti. Tolong antar aku, ya. Aku belum tahu Jeju.”
“Kau tak perlu membeli yang baru. Aku sudah menyiapkannya untukmu. Tapi tertinggal di rumah.” Kyuhyun melepaskan kacamatanya dan menunjukan senyum yang dikiranya paling menawan, “Jadi sementara ini bersabarlah.”
Jantungku-jantungku. Kumohon, jangan bermain-main sekarang.
0000ooo000
Mobil kami berhenti di depan hotel dan seorang pelayan hotel menghampiri kami kemudian mengantar kami menuju meja resepsionis. Kyuhyun yang mengurus administrasi sementara aku lebih memilih mengagumi pemandangan Pulau Jeju di luar. Setelah keluar dari pesawat aku tak berhenti mendecak kagum dengan pemandangan yang tersaji di depanku. Indah, tak heran banyak orang menyebut Jeju-do sebagai surga dunia. Udara di sini jauh lebih segar di bandingkan Seoul, angin yang berhembus juga seakan-akan mengajak untuk bersantai membiarkan semua kepenatan kota terpendam untuk sementara. Terlebih warna kuning cerah dari hamparan bunga canolla yang tengah bermekaran. Sangat kontras dengan hijaunya dedaunan dan langit luas yang biru, sangat memanjakan mata. Aku tak akan menyesali pilihanku mengikuti Kyuhyun pergi berlibur. Pemandangan yang kudapatkan adalah harga yang sangat pantas.
“Kau mau melihat kamar kita atau berjalan-jalan dulu?” Tanya Kyuhyun
Aku mengerjap dan mendapati seorang roomboy berdiri beberapa langkah dari kami. Ia menunggu keputusanku.
Aku mengangguk, “Simpan dulu barang-barang.”
Kamar yang kami tempati untuk satu minggu ke depan adalah Honeymoon Suite. Aku mengetahuinya setelah seorang pelayang mengetuk pintu kamar dan mengantarkan kereta dorong yang berisi sampanye dengan es, dua gelas Kristal berukuran tinggi serta sekotak besar coklat. Ia mengatakan semua itu termasuk kedalam paket bulan madu yang Kyuhyun pesan. Tanganku bergetar ketika meraih kartu kecil yang diletakan di atas kereta. Kartu ucapan dari Direktur Hotel.
“Dear, Mr. and Mrs. Cho,
Terima kasih telah memilih hotel kami sebagai tempat anda merayakan pernikahan, kami dengan senang hati akan melayani kebutuhan anda dan memastikan bulan madu kali ini menjadi bulan madu yang tak terlupakan.”
Cho Kyuhyun, tolong berhenti. Kalau terus seperti ini, aku tak yakin dapat menahan diriku sendiri untuk tak menjadi egois.
000ooo000
Kami berlari saling mengejar di bibir pantai seperti anak kecil. Terakhir kali Kyuhyun berhasil membuat kaus bagian depanku basah kuyup dengan air laut, kini giliranku membalasnya. Dengan sekuat tenaga kuhentakkan kakiku di atas permukaan pasir mengejar Kyuhyun. Pria itu tergelak melihat tingkahku yang sesekali kehilangan keseimbangan karena permukaan pantai yang tak stabil.
“Yak! Berhenti di sana Cho!” Teriakku nyaring.
Kyuhyun berjalan mundur sambil terus menertawakanku, “ Menyerah saja, Hyo! Kau kalah, malam ini kau tidur di sofa!”
Aku menggeram, menyesali ide bodoh yang kuusulkan sendiri tadi. Meski telah menikah berbulan-bulan, semalam adalah kali pertama kami tidur di satu ruangan yang sama. Aku canggung, karena itu ketika sarapan tadi setengah mati aku mengusulkan agar kami tidur terpisah.Dalam artian, sebagai pria sejati seharusnya Kyuhyun mengerti dan mengalah tidur di sofa. Tapi pria labil itu malah mengajukan syarat, ia baru akan melakukan apa yang kuminta jika aku sanggup mengalahkannya.
Dan demi Tuhan! Ia memilih permainan anak kecil seperti ini.
“Dalam mimpimu, aku tak akan menyerah. Tempat tidur itu milikku.” Desisku, peluh mulai membasahi keningku. Ini hampir lima belas menit kami kejar-kejaran.
“Kalau kau bisa membalasku, aku mengaku kalah.” Kata Kyuhyun dari kejauhan, ia berhenti berjalan mundur dan berdiri dengan berkacak pinggang.
Tenggorokanku kering, aku membungkuk sejenak untuk mengatur nafas. Dari ujung mata, kulihat Kyuhyun berjalan mendekat.
“Hyo,” Panggil Kyuhyun,
Aku membungkuk semakin dalam dan memejamkan mata, pandanganku memang sempat mengabur tadi akibat dehidrasi.Tapi aku masih sanggup untuk berlari bahkan puluhan kilometer lagi, lelah ini tak sebanding dengan pegal-pegal yang kualami jika aku kalah dan membuatku harus tidur di sofa. Yah, sebenarnya tidur di sofa juga tak terlalu buruk mengingat kami menginap di Hotel bintang lima tapi harga diriku sebagai perempuan tak mengijinkanku untuk kalah.
“Kau tak apa?” Nada khawatir kentara sekali dalam suaranya, aku menyeringai. Kena kau, Cho!
Ketika Kyuhyun sudah berada tepat di depan ku, aku menegakkan tubuh dan berniat menarik ujung kausnya. Tapi entah gerakanku yang lamban atau Kyuhyun memiliki refleks yang sangat bagus, aku hanya menangkap angin.
“Kau cu—“ Kalimat Kyuhyun terpotong karena berikutnya yang terdengar adalah suara benturan dan pekikan seorang perempuan di balik punggung Kyuhyun.
Sontak Kyuhyun berbalik dan aku melihat seorang gadis berambut coklat kemerahan jatuh terduduk sambil memegangi pelipisnya. Tak jauh dari sana, aku melihat sebuah bola pantai berwarna biru muda yang kuyakini milik gadis itu.
“Nona, kau baik-baik saja?” Tanya Kyuhyun, ia kini berjongkok di samping gadis itu.
Aku juga ikut mendekatinya, tapi debaran jantungku membuatku enggan berjalan lebih dekat dari ini.Perasaan buruk tiba-tiba menerpaku, kukira awalnya karena kemungkinan gadis itu mengajukan tuntutan karena Kyuhyun tak sengaja melukainya tadi. Namun, hati kecilku berkata ini lebih dari itu, aku merasa hal yang lebih buruk akan segera dimulai.
“Nona, kau terluka.”Kyuhyun merujuk pada pelipis gadis itu yang mengeluarkan darah dari sela-sela jarinya, “Maafkan aku, aku akan bertanggung jawab.Tapi biarkan kulihat lukamu.”
Gadis itu perlahan menjauhkan tangan yang menutupi wajahnya dan semua seperti adegan slow motion dalam film ketika gadis itu menurunkan tangan dan mengangkat wajahnya.Aku sadar sedang berada di arena terbuka, dan kapasitas oksigen secara wajar tak mungkin menghilang begitu saja, namun sayangnya aku merasa paru-paruku kesulitan mendapatkan oksigen ketika akhirnya gadis itu menunjukkan wajahnya.
“Haneul-a” Panggil Kyuhyun lirih.
Akhirnya aku tahu, firasatku terbukti benar. Sesuatu yang buruk baru dimulai.

000ooo0000

Benturan tadi memang cukup keras, bahkan bunyinya mirip suara bola pantai yang tengah dipukul. Ketika berusaha menghindar dari tangkapanku tadi Kyuhyun tanpa sengaja menyikut Haneul yang tengah mengambil bola pantai yang jatuh tepat di belakang Kyuhyun. Pantas saja jika  luka di pelipis Haneul lumayan parah beruntung kurasa tak ada yang sobek, meski darah tak lagi keluar tapi tetap menimbulkan lebam yang cukup besar dan jelas di sana.
Haneul terus memijit sekitar lebam di keningnya sambil sesekali meringis.Kami bertiga sekarang berada di kamar hotel ku dan Kyuhyun, karena kamar kami yang terdekat. Haneul duduk di sofa yang tadinya menjadi kursi pesakitan untukku nanti malam, sementara aku berdiri di ambang pintu kamar mandi seperti orang bodoh memerhatikan Kyuhyun merapikan kotak P3K.
Aku tahu ini murni kecelakaan dan sepantasnya aku juga membantu Kyuhyun mengobati Haneul sebagai bentuk pertanggungjawaban.Tapi aku tak mau, kalau saja orang itu bukan Haneul aku bahkan rela menggantikan Kyuhyun sekarang. Tapi ini Kim Haneul, aku tahu ia hanya menginginkan Cho Kyuhyun.
“Oppa, sejak pagi aku belum sempat sarapan.”Kata Haneul setengah merengek.
Kyuhyun menghentikan gerakannya yang tengah memasukan kotak P3K kembali ke tempatnya.Ia melihatku, meminta pendapatku –kami tahu kemana arah perkataan Haneul –Aku tak mengatakan apapun, hanya melirik jarum jam dinding dan memutar mata malas.
Yang benar saja, ini sudah pukul sebelas siang. Dengan jelas tadi gadis itu bermain volley pantai, kalau benar belum sarapan mungkin ia sudah pingsan sejak tadi.
“Aku sebenarnya tak keberatan makan sendiri, tapi kepalaku sangat pusing sekarang. Kalau tiba-tiba aku—“
“Baiklah, kita turun sekarang.”Potong Kyuhyun segera.
Haneul serentak meloncat bangun karena senang, aku tanpa sadar mendecak kesal. Haneul menyadari itu, dan berbalik menghadapku.
“Oenni ikut, kan?”Ia bertanya tapi aku yakin ia sedang mengancamku.
Tak perlu  diancam pun aku enggan berada dekat mereka berdua sekarang.
“Kalian makan berdua saja, aku ingin mandi.”
“Kalau begitu kita makan setelah Hyo Rim mandi.” Ujar Kyuhyun seketika membuat Haneul merenggut tak suka.
Aku menaikkan sebelah alisku menatap tanya yang Kyuhyun jawab dengan gedikkan bahu. Ternyata hingga kini, ia masih membutuhkanku untuk mengatasi Haneul.
000ooo000
“Oppa, makan ini.”Kata Haneul seraya menaruh daging kepiting di atas sendok Kyuhyun.
Aku berusaha mengabaikan itu semua dengan membabat habis semua makanan di depanku. Aku merasa kepiting-kepiting itu mirip dengan Haneul, jadi karena tak ingin melihatnya lebih lama lebih baik kumakan saja mereka. Saking semangatnya, aku bahkan lupa mengunyah dengan sempurna sehingga beberapa tersangkut di tenggorokan dan membuatku tersedak.
Tanpa berpikir aku meneguk segelas air yang diberikan Kyuhyun. Kyuhyun menepuk pelan punggungku berusaha melancarkan aliran makanan yang masuk.
“Onnie, sekarang kau cantik, ya!Pantas Kyuhyun Oppa mau menikahimu.”
Anak ini, jadi ia bermaksud mengatakan aku dulu jelek! Dari sudut mataku, kulihat Kyuhyun menatap geli wajahku yang mungkin kini merah padam, pipiku memanas menahan amarah. Tenang, Hyo. Bersikaplah dewasa. Aku berusaha mensugesti diri sendiri.
“Kalau aku tahu begini, dulu aku akan menolak saran appa kuliah di Amerika. Aku menyesal meninggalkan Oppa.” Lanjut Haneul, “Onnie, kau hanya beruntung.”
“Begitu ya, tapi Haneul-a, kurasa jika dulu kau tak ke Amerika mungkin hidungmu yang indah itu tak pernah ada.”Aku menghela nafas, dan memasang wajah menyesal, aku tak bisa hanya diam dan tak membalas apapun, “Aku sangat menyesal membuat hidungmu patah dulu, Mian.”
Sontak wajah Haneul merah padam, ia semakin mirip kepiting yang kini bersemayam di perutku. Rasakan itu Shin Haneul! Kalau saja ada bola basket di dekatku rasanya aku tak keberatan melemparkannya lagi ke depan perempuan ini untuk kedua kalinya. Meski mungkin kali ini aku benar-benar akan mendapatkan masalah, dan bukan hanya membersihkan perpustakaan seperti di sekolah dulu. Setiap kali berhadapan dengan Kim Haneul, entah kenapa badanku memanas. Cemburu? Mungkin. Entah saat masih di sekolah atau sekarang, kehadirannya selalu mengacaukan suasana hatiku.
Kim Haneul dulu adalah hoobae kami saat di sekolah menengah, ia putri kepala sekolah dan mungkin itu yang membuatnya besar kepala dan lebih berani mendekati Kyuhyun dibandingkan siswa lainnya. Awalnya Kyuhyun tak begitu bermasalah dengan gadis ini, tapi lama kelamaan ia merengek dan memintaku membantunya membuat Haneul jera. Aku tertawa sendiri mengingat hari-hari aneh itu,  Berusaha menjauhi Haneul sama halnya dengan berusaha melepaskan permen karet yang menempel di ujung sepatu, semakin Kyuhyun menjaga jarak dengan Haneul, semakin gencar Haneul mendekatinya.
Tunggu, kenapa sekarang aku merasa aku tak jauh berbeda dengan Haneul? Kami sama-sama mengejar Kyuhyun dan Kyuhyun juga pada akhirnya menjauhi kami.
Kau hanya beruntung, Oenni!
…karena kebahagiaan Kyuhyun adalah bersamamu.
Kalimat Haneul dan ayah mertuaku silih berganti berdengung di telingaku. Aku tak tahu mana yang benar.
“Oppa, aku berlibur bersama keluargaku, mereka akan mengunjungi pabrik makguli di Sorang, bagaimana kalau kita juga kesana? Oppa belum mencicip makguli dari Jeju, kan?”
Aish!! Apa itu? Aku menggenggam sumpitku erat-erat tanpa khawatir sumpit itu mungkin saja patah di tanganku.
“Maaf, Haneul-a. Terima kasih untuk undanganmu tapi kami sudah memiliki rencana sendiri.” Tolak Kyuhyun halus.
Aku menyeringai dalam hati, baguslah sepertinya Kyuhyun benar-benar tak lagi peduli pada gadis ini.
Ooo000ooO

Matahari tepat berada di atas kepala ketika Haneul berpamitan kembali ke kamarnya. Sementara Hyo Rim dan Kyuhyun kembali berjalan-jalan di tepi pantai.
“Memangnya rencana apa yang kita punya?” Tanya Hyo Rim penasaran
Kyuhyun menghentikan langkahnya dan berbalik sambil menyeringai, “Seharian di kamar.”
Hyo Rim diam mematung, tak perlu otak pintar mengartikan kalimat tadi. Perempuan itu tiba-tiba gugup dan tak sanggup membalas tatapan Kyuhyun.
Kyuhyun lalu tertawa terbahak-bahak hingga membungkuk, “Wajahmu lucu sekali!”
Kyuhyun yang terus tertawa membuat Hyo Rim sadar pria itu sedang menjahilinya.
“Yak!” Teriak Hyo Rim tak terima sambil berusaha menendang tulang kering Kyuhyun namun dengan cepat Kyuhyun menghindar.
“Seharusnya aku memfoto wajahmu tadi, itu sangat lucu!”
Dengan kesal Hyo Rim menggertakan gigi dan berjalan mendahului. Hyo Rim tak tahu akan berjalan kemana, ia hanya ingin menyembunyikan wajahnya yang memanas. Terdengar langkah kaki mendekati, ia tahu siapa pemilik langkah kaki itu, karena itulah Hyo Rim mengenakan sunglasses sambil mengangkat wajah pura-pura bersikap sombong ketika Kyuhyun telah berjalan mensejajarinya.
“Hyo, wajahmu tadi lucu sekali!”
“….”  Tak ada jawaban
“Kau marah, Hyo?”
“….” Hanya deburan ombak yang terdengar, mereka kini telah berjalan menjauhi keramaian.
“Hyo Rim-ah?”
“Hyo,” Panggil Kyuhyun, ia mencolek-colek bahu istrinya seperti anak kecil.
“Kenapa?” Akhirnya Hyo Rim berhenti dan berbalik, melepas sunglasses  nya sejenak dan memberi Kyuhyun tatapan terdingin yang ia miliki.
“Kau marah?”
“A-ni,” Jawab Hyo Rim terbata-bata, sejujurnya ia bukan marah karena Kyuhyun menjahilinya tetapi lebih karena rasa malu, bagaimana bisa ia memikirkan tentang itu ketika mendengar perkataan Kyuhyun barusan?
Hyo Rim lalu duduk di sebuah batang pohon tua yang melintang di tepi pantai. Ia mengibas-ngibas kedua tangan di depan wajah, kembali rasa panas karena malu menjalari seluruh wajahnya. Kyuhyun mengekori Hyo Rim dan menatapnya lekat, rasa penasaran masih tergambar jelas di matanya.
“Lalu kenapa—“
“Jangan di bahas lagi!” Pekik Hyo Rim malu
Kyuhyun terkikik, “Baik, kau marah.”
“Cho!” Geram Hyo Rim
“Ok!” Kyuhyun mengangkat kedua tangan tanda menyerah, “Aku mengaku bersalah, dan juga berterima kasih untuk bantuanmu. Terima kasih.”
“Terima kasih, untuk?”
Kyuhyun mengangguk, “ Terima kasih karena telah mau ikut denganku, terima kasih telah sabar menghadapi semua sikapku dan terima kasih karena telah hadir dalam hidupku.”
“Tak perlu berterima kasih, kau tahu jelas apa alasanku.”Gumam Hyo Rim, ia menatap Kyuhyun sekilas lalu memandang hamparan laut luas di hadapan mereka, “Lebih dari lima tahun berlalu tapi aku tetap tak mampu melepaskan semuanya. Aku masih mencintaimu.”
“Aku tahu, kata sacral itu belum kehilangan sihirnya. Dan justru karena itulah aku berterima kasih. Hyo, selama di LA aku memikirkan semua ini kembali. Aku membayangkan seandainya kita tak pernah bertemu, akankah hari ini kita berada di sini? Atau seandainya kita tak bertemu di sekolah menengah, lebih awal sepuluh tahun misalnya, mungkin semuanya akan lebih mudah.”
“Tak dapatkah kita menyebutnya takdir?” Tanya Hyo Rim,
Kyuhyun diam, ia ingin menyetujui saran Hyo Rim. Menganggap semua ini takdir yang Tuhan gariskan bagi mereka. Dengan begitu mereka hanya perlu mempertahankan apa yang telah Tuhan berikan. Namun sekali lagi, ia tak memiliki keberanian untuk memilih jalan itu. Kyuhyun hanya takut merasakan kehilangan lagi.
“Sudahlah, ucapanku tadi tak perlu dipikirkan.” Hyo Rim mencoba mencairkan suasana, ia khawatir melihat ekspresi Kyuhyun yang tiba-tiba aneh, “Seperti apa yang kau katakan tempo hari, kita berteman saja. Mengenai kehidupan pribadimu, aku tak akan mencampurinya lagi. Sungguh. Aku juga tak akan melarangmu menemui Mi Young atau membawanya tinggal bersama kita. ”
Kyuhyun menoleh mendengar penjelasan Hyo Rim, selama ini memang gadis itu tak pernah menghalangi kegiatan Kyuhyun tapi mendengar sendiri Hyo Rim mengakui kekalahannya, membuat Kyuhyun merasa menjadi pria yang brengsek. Sejak awal memang ini yang Kyuhyun rencanakan, membuat Hyo Rim menganggapnya a bad man hingga akhirnya Hyo Rim sendiri yang akan meninggalkannya, namun entah kenapa ia membenci melihat Hyo Rim lemah seperti sekarang.
“Kau boleh melakukan semua hal yang sebelum pernikahan ini terjadi selalu kau lakukan. Dan aku tetap akan berada di posisiku. Aku akan ada menunggumu, menjadi rumah untukmu kembali.”
Kejadiannya begitu cepat dan hanya terjadi selama sepersekian detik. Ketika tatapan Hyo Rim terkunci pada wajah Kyuhyun yang berada begitu dekat dengannya, dan ketika ciuman pertamanya dicuri begitu saja oleh suaminya.
TBC

12 responses to “Breakable Heart (Part 8)

  1. kya akhir nya up date juga kangen nie ff
    wahh chap ini KyuRim moment..
    ciee lagi bulan madu nie…

    next di tunggu banget 🙂 ♡♡

  2. Bagian awal trllu bertele2. Tpi pas bagian mereka ke pantai udah mulai ok. Apalagi pas bagian akhir. Kata2 Hyo nyentuh banget.

  3. satu kata ………. “membingungkan”
    jadi mau dibawa kemana hubungan mereka nantinya
    masak ya mau diem”an aja belum ada perkembangan

  4. ada beberapa bagian yg aku sedikit bingung…
    Sebenernya Kyuhyun sekarang cinta enggk sama Hyo Rim??thor kok ngk ada perkembangan hubungan mereka??

  5. bingung mau komen apa, feelnya kurang dapet beda sama part sebelumnya jadi cuma begini doang aku komennya. maaf klok komennya mengecewakan 😦

  6. Ya ampun. Kyuhyun. Cepet cepet beritau hyo rim tentang apa yang dulu keluarga mu perbuat ama keluarga jung, sebelum tercuri start oleh jong woon. Kyuhyun.. dasar ya emang. Pengecut kau. Tak bisa mengungkap kan semuanya pada hyo rim

    Buat kak author, semangat teruus ^^9

  7. Pingback: Breakable Heart (Chap 13) | SAY KOREAN FANFICTION·

  8. Wehhh cie cie smoga ini pertanda yg baik utk mreka haishh tp si masa lalau iyu msh ad mnghantui si ndut yg bsa ngebuat ai hyorim prg lg dr ndut aehhhh smoga mreka bgitu” aja splng dr jeju kekek
    #very nice

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s