#3 HAMARTIA (SWEET REVENGE)

hamartia

Tittle : Hamartia (Means Fatal Flaw)

Author : Jongchansshi

Rating : Parents Guide

Genre : Angst, Romance, Psychology, fluff

Cast :

EXO’s Kai as Kim Jongin

OC as Song Jiyoon

Additional Cast :

WINNES’S Jinwoo as Kim Jinwoo

OC as Lee Yura

Luhan.as Luhan

EXO’s Sehun as Oh Sehun

Disclaimer : This was only fanfiction. just fiction.

SERIES SEBELUMNYA : TEASER, FATAL FLAWLOST IN YOU

He did love her, you know… It was a selfish, possessive love, but it was all he knew how to give.

Jongin tidak mengerti apa yang salah dengan dirinya ketika jantung yang awalnya berdetak normal dan suasana hati yang tadinya begitu tenang tiba tiba berubah berantahkan hanya dalam sepersekian detik. Dia mencegah kakinya untuk berjalan lebih jauh, berhenti tepat di depan pintu yang terbuka lebar dan memperhatikan sesuatu yang tidak pernah ingin ia saksikan.

“Is this my favorit food?” Gadis itu bertanya, dijawab oleh anggukkan beserta senyuman dari Kim Jinwoo yang berada didekatnya. 10 hari lebih semenjak ia sadar, ini untuk pertama kalinya Song Jiyoon mau makan tanpa ada paksaan. And she looks so well.

Kenapa mudah sekali bagi Jinwoo untuk membuat gadis itu nyaman apabila berada didekatnya? Sedangkan Jongin, dia berusaha mati matian, sekeras yang ia bisa dan tetap saja, berakhir gagal. Apakah dunia sesenang itu berlaku tidak adil padanya?

Setidaknya Jongin sudah terbiasa dengan hal seperti ini. Yang pertama adalah yang paling menyakitkan, yang kedua dan yang ketiga kalinya terasa lebih mudah. Tapi tetap saja, dia benci perasaan ini. Perasaan kesepian, menyedihkan, tidak diinginkan, dan dikalahkan. Namun, masih dapat merasakan rasa sakit itu lebih baik, pikirnya. Justru ketika seseorang tidak bisa merasakan sakit lagi, itu berarti dia benar benar berada dalam kesulitan yang nyata.

Jongin menghela napas frustasi, tidak seorangpun diantara mereka yang sadar bahwa dia berdiri terpaku disana. Menikmati pemandangan menyakitkan dari jarak yang cukup dekat dan tidak terlihat, menyiksa diri sendiri.

“Kau makan apa saja. Kecuali sayur.” Jinwoo membalas dengan suaranya yang lembut. Bahkan Jinwoo bisa mengobrol pada Jiyoon dengan begitu tenang, tanpa harus salah tingkah.

“Kau seorang koki?”

“Bukan…” Jinwoo menggeleng geli. Dia tidak pernah berpikir untuk menjadi seorang koki, meskipun rata rata orang yang menyicip makanan yang ia buat selalu berkomentar bahwa dia bisa bersaing dengan Christina Tosi dalam hal masak memasak. “Aku seseorang yang bekerja untuk membela keadilan.”

kau keren.” gadis itu memuji dengan sungguh sungguh, matanya menatap Jinwoo sebentar, mengabaikan makanan laut yang begitu lezat dipangkuannya, terlalu takjub dengan segala sesuatu yang ada pada seorang pria dihadapannya.

Jongin terlalu sibuk menahan diri sampai sampai tidak sadar bahwa seorang pria berambut pirang sudah berdiri dihadapannya. “Kenapa berdiri disini? Tidak masuk?” tanya Luhan, merasa aneh dengan raut Jongin yang pucat. Pria berkulit tan itu terlihat tidak enak badan.

Jongin memaksakan senyumnya yang terlihat canggung, “aku ada urusan mendadak. Aku titip Jiyoon sebentar.” Jongin menepuk bahu Luhan pelan sembari pamit meninggalkan rumah sakit yang berada di pusat kota Seoul tersebut. Dia bersumpah, ini terakhir kali dirinya menjadi seorang pengecut.

***

Pria berkulit tan itu menekan bel sebuah Kondominium mewah berkali kali, sayangnya, tidak ada sahutan apapun dari dalam. Dengan malas, dia menekan beberapa angka untuk password membuka pintu, dan yeah, tentu saja terbuka. Masa bodoh dengan pemilik Kondominium yang akan mengamuk karena untuk kesekian kalinya, dia tidak sopan masuk kerumah orang.

“Ya! Siapa yang menyuruhmu masuk?” Sehun baru keluar dari kamar dengan kondisi baru mengancing celana panjangnya yang berwarna hitam, Jongin hampir bersuara, tapi seorang perempuan setengah telanjang di belakang Sehun membuat nya reflek memalingkan muka kearah lain.

“Baru lagi?” tanya Jongin menyindir. Dia sudah lelah dengan kebullshitan Sehun yang selalu ganti wanita tiap akhir pekan.

Sehun membalas sindiran Jongin dengan seringai sinis, kemudian dia memeluk erat pacar barunya yang berbadan bak model papan atas, memamerkan kemesrahan. “Jongin, perkenalkan. Ini Hyena, pacarku. Dan yeah, sayang kau harus mengenal dia, sahabatku, Kim Jongin.”

“Dia CEO SC Group, kan?” Hyena memastikan, masih bergelayut manja di lengan Sehun yang telanjang. Tapi matanya diam diam mencuri pandang kearah pria yang tak kalah sexy dari pancarnya itu.

“Wow, kau cukup terkenal, bro.” Sehun memuji, tapi terdengar bagaikan ejekan ditelinga Jongin. Melihat Jongin yang tampak tidak peduli dan tidak memperhatikannya, pria berkulit putih itu berbisik ditelinga pacarnya, “Sayang, pakai kembali bajumu dengan baik.” Jongin bahkan dapat mendengar kecupan kecupan menjijikan dari arah mereka sebelum gadis itu kembali ke dalam kamar Sehun.

Sehun mengekori pria berkulit tan yang sekarang duduk di kursi ruang tamunya, “dia cantik, kan?”

“Biasa saja.” Jawab Jongin malas.

“Dia adalah yang paling cantik yang pernah aku temui. Kurasa aku serius dengan yang ini.”

“Kau bertemu dia dimana?” tanya Jongin sambil membuka tutup beer yang disediakan Sehun. Well, Sehun selalu suka memacari gadis sembarangan, alasannya itu menantang, Jongin berani bertaruh jika dia tidak tahu menahu tentang latar belakang gadis itu.

“Paradise Club. Banyak perempuan cantik disana, jika kau mau satu, aku akan mencarikannya untukmu.”

“Aku hanya mau Jiyoon.”

Sehun tertawa. “dasar idiot.” Tuturnya sinis, kurang lebih Sehun sudah menduga Jongin akan menjawab begitu. “Kau tidak bisa menikmati hidup jika hanya menikmati satu wanita.”

“Kau juga tidak bisa menikmati hidup jika tidak ada yang benar benar kau inginkan.”

Sehun mencibir, lalu dia tertawa miris “sayangnya, kau benar… brengsek.” Kutuknya. Sehun sendiri tidak ingat sejak kapan dia bergonta ganti pacar, yang jelas, semuanya bermula dari kejadian menyakitkan itu, yang membuatnya tidak mau berkomitmen dengan siapapun dan membuatnya tidak pernah lagi merasakan cinta kepada wanita manapun. Baginya, wanita itu sama saja. Hanya sebagai teman tidur, tidak lebih.

“Sehun, apakah masih lama?” Suara teriakkan Hyena yang disertai desahan mengganggu membuat Jongin berdecak kesal.

“Tidak bisakah kau suruh pulang simpanan baru mu itu?”

“Dia bukan simpananku, kawan. Dia pacarku.”

“Terserah.”

“Aku pinjam supirmu untuk mengantar Hyena pulang, ok?”

Jongin hanya memberikan Sehun tatapan mencemooh dan pria itu langsung menghilang dari hadapannya setelah mengucapkan, “terimakasih Jongin.” Setidaknya, tidak perlu ada lagi orang asing yang membuatnya merasa tidak nyaman berada disini. Ayolah, dia mau menenangkan diri, tapi Sehun dan pacar barunya itu malah membuatnya semakin frustasi.

Jongin menyenderkan punggungnya di sofa empuk berwarna Maroon milik Sehun, matanya terpejam lekat lekat, pikirannya kemana mana. “Aku pamit dulu, Kim Jongin.” Hyena bersuara ramah, tapi Jongin mengabaikannya. Dia masih terlalu sibuk dengan pikiran pikiran kacau yang mengganggu dirinya sendiri.

“Ada apa denganmu?” tanya Sehun to the point ketika dia kembali duduk di hadapan Jongin, percakapan sebelumnya murni basa basi. Seingat Sehun, beberapa hari terakhir kondisi Jongin benar benar jauh lebih baikkan. Tapi apalagi sekarang? Kenapa dia terlihat sedepresi ketika Jiyoon masih koma?

“Aku baik baik saja.” Jongin menjawab, masih memejamkan mata. Well, bukan Jongin jika dia langsung to the point terhadap apa yang ia rasakan ataupun ada dalam benaknya. Dia suka memendam apapun yang ia alami seorang diri, tidak mau berbagi. Tapi, Sehun suka memaksa, dia tidak akan berhenti memancing sebelum Jongin mengungkapkan segalanya.

“Apa yang kau inginkan sebenarnya? Jiyoon sudah sadar, lalu apalagi maumu?”

Mata pekat Jongin terbuka, menatap dalam kearah Sehun, “She is mine, right?”

“It sounds sweet but….”

“She must stay with me or I will die.” Potongnya. Sehun dapat merasakan keputusasaan dari nada suara teman dekat ini.

“Wow, kurasa kau tidak akan seperti ini lagi.”

“Kupikir juga begitu.” Sekali lagi, Jongin mengeluarkan helaaan napasnya yang terasa berat, “tapi aku tidak bisa rela melihatnya bersama orang lain.”

“Yasudah, bikin saja dia hamil.” Ucap sehun santai. Sesantai dirinya mengajak Jongin bertanding playstation. “Dia akan stuck denganmu jika dia hamil anakmu.”

Pria berkulit tan itu menatap kesal kearah Sehun, apakah ada saran yang lebih idiot dari ini? Jongin melemparkan kaleng beernya ke arah Sehun sebelum bedesis, “Kemudian dia akan membenci anakku seumur hidupnya karena tidak pernah menginginkannya, begitu?”

Sehun mengerjapkan mata nya yang terasa kering, menatap Jongin takjub. Dia tahu bahwa Jongin memang begini, “that’s why you are my friend. Kau selalu berpikir jauh kedepan, kawan.”  Pujinya kagum. “kau bahkan berpikir sangat jauh ketika memutuskan untuk menyiksa Jiyoon, kan? Sayangnya, akhirnya tidak sesuai dugaanmu.”

Kata kata Sehun barusan bagaikan memberi ide besar untuk Jongin. Sebentar. Sehun benar, dia selalu berpikir jauh, sangat jauh sebelum memutuskan untuk melakukan sesuatu. Dan senyum jahat tiba tiba terukir di raut wajahnya yang begitu dingin. Dia yakin bahwa sekali lagi, dia akan memenangkan pertandingan ini.

“I know she is mine.” Ucapnya sinis tiba tiba, membuat Sehun bingung. Ini yang dia tidak sukai dari Jongin, mood pria ini terlalu cepat berubah.

“Kau berguna juga, kawan.” Jongin mengatakan itu yang disertai dengan senyuman terbaiknya, yang malah membuat Sehun ngeri. Dia berjalan kearah pintu, tapi berhenti karena mengingat sesuatu. Mobilnya dipakai untuk mengantar si perempuan simpanan Sehun. “Aku pinjam mobilmu!” ujarnya. Sehun melempar kunci mobil Rolls Royce miliknya kearah Jongin dengan tidak iklas.

“Apakah kau tidak mau ikut? Aku mau kerumah sakit.” Jongin menawarkan, mengingat Sehun pasti tidak akan kerjaan di sabtu pagi yang cerah ini.

“Boleh, jika kau mau menungguku mandi dulu.”

“Yasudah.” Setidaknya, mood Jongin sudah berganti menjadi jauh lebih baik sekarang.

Because loving her couldn’t even worse than losing her. Mencintai gadis itu memang menyakitinya, tapi kehilangan gadis itu akan jauh lebih menyakitinya.

***

“Pagi Jiyoon.” Sehun menyapa gadis yang sedang sibuk mengganti channel TV tersebut, tidak ada satupun siaran bagus menurutnya, bosan setengah mati karena Jinwoo dan Luhan sudah pergi dan kembali sibuk dengan urusan mereka masing masing.

“Ini sudah siang, tahu.” Cibirnya kesal, tidak tertarik melihat kearah Oh Sehun yang datang bersama Jongin.

Sehun pura pura mengecek jam tangan Rolex nya. “Jam 11 siang. Berarti masih pagi, sayang.”

“Jangan panggil dia sayang.” “Jangan panggil aku sayang.”

Jongin dan Jiyoon berkata berbarengan dan membuat dua orang itu reflek saling bertatapan, kemudian salah tingkah. Sehun tertawa, tawa nakal penuh sindiran, “amazing.” Tuturnya. Terkadang Sehun melihat Jiyoon yang ia kenal bertahun tahun lalu pada diri perempuan dihadapannya sekarang, tidak sekosong seperti terakhir Sehun berbicara banyak padanya berbulan yang lalu. Mungkin, Jiyoon yang pendiam, Jiyoon yang tidak suka digoda, Jiyoon yang dingin, Jiyoon yang blak blakan jauh lebih baik daripada Jiyoon yang mati rasa. Dan dia yakin, Jongin juga setuju dengan pendapatnya yang ini.

“Aku pulang hari ini.” ucap Jiyoon pada Jongin, dia terlalu muak dengan orang asing yang berlalu lalang disekitarnya di tempat ini, pura pura peduli padahal tidak sama sekali. “Kau sudah berjanji.”

Yes. You stay with me.” Jongin menjawab datar, juga langsung keinti.

Jiyoon menatapnya, reflek memperhatikan pria berkemeja hitam yang berdiri tegap dihadapannya, “Why should I stay with you?”

“Kau memang tinggal bersamaku.”

“Aku ingin tinggal bersama Jinwoo, he cooks well.”

“Because you are mine.” Jongin menjawab dengan nada suaranya yang terbiasa datar. Meskipun perawakannya begitu tenang, tapi dari mata nya yang pekat jelas terlihat jika dia mati matian menahan amarah. “I can cook too.” bohongnya. Suara tawa mencemooh Sehun menjelaskan itu semua.

Jiyoon memutar bola matanya kesal, “You look like a psycho.” komentarnya asal, tanpa beban.

Pancingan yang bagus. Song Jiyoon! Sehun mengelus tengkuknya yang tiba tiba terasa tidak enak, merasakan aura menyeramkan berada disekitarnya. Dia melirik Jongin, meskipun wajahnya tetap datar dan sinis, tapi dari tangannya yang terkepal kuat menjelaskan bahwa Jongin mungkin akan melakukan sesuatu yang buruk sesaat lagi.

“I dont care.” desisnya. “But you are my wife. I have the right of you.”

Setelah Jongin berkata begitu, Sehun langsung menarik tangannya dengan paksaan agar keluar dari ruangan Jiyoon, menyiksakan gadis yang sama sekali tidak tahu menahu bahwa baru saja  berbuat kesalahan fatal itu seorang diri.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Jongin kesal sembari menghempaskan tangan Sehun. Dia bahkan nyaris meninju muka mulus sahabatnya tersebut.

“You should stop.”

“Stop what?”

“Stop hurting her. You promise about that.”

“Aku tahu.”

“Jadi kenapa kau masih mau melakukannya?”

“Melakukan apa?”

“Kau mau memukulnya, kan? Tanganmu bahkan sudah siap. Aku mengenalmu, Jongin. kau marah, kau emosi dan kau tidak bisa mengontrolnya. Lalu kau akan melewati batas.” Sehun berkata dengan napas yang memburu.

Jongin membalas tatapan panic Sehun akibat ulahnya menggunakan mata pekatnya yang terlihat menyedihkan. “Aku tahu aku bodoh. Tapi aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama dengan sengaja.” Ucapnya dingin penuh penekanan. “Aku lebih baik memukul diriku sendiri daripada memukulnya.”

Sehun bernapas lega pada akhirnya, dia membiarkan Jongin kembali masuk ke ruang inap Jiyoon, ia mengikutinya di belakang.

Your wife? Sehun menggeleng gelengkan kepalanya disertai senyum nya yang terlihat puas. Tentu dia ingat jika Jongin pernah memintanya untuk buatkan surat nikah, Jongin selalu punya rencana licik yang bahkan tidak terpikirkan oleh orang sepertinya sebelumnya. Bagusnya, surat itu sudah ditanda tangani oleh Jiyoon. Itu asli secara bukti hukum, tapi palsu secara fakta. Meskipun Sehun kerap kali berpikir bahwa Jongin tidak pernah mencintai Jiyoon dalam artian yang sebenarnya, gadis itu adalah pemenuhan atas ego Kim Jongin yang kelaparan. Tapi terkadang Sehun juga merasa bahwa Jongin begitu tulus, lebih tulus dari siapapun yang menyayangi Song Jiyoon.

“That’s why you are my friend. You always keep your words” Kata Sehun bangga. Well, Sehun yakin bahwa sifat buruk bisa diubah. Tapi tidak sepraktis itu, butuh waktu. Dan terkadang waktunya tidak sebentar. Setidaknya Jongin mau mencoba untuk tidak berbuat hal yang salah lagi, meskipun ia begitu ingin. 

Sehun nyaris memasuki kamar rawat Jiyoon ketika handphonenya berbunyi. Dari Hyena, pacar barunya itu memaksa agar Sehun menemuinya segera. Pria tinggi berkulit putih pucat itu memutar bola matanya malas, kenapa gadis ini manja sekali dan kenapa harus Sehun selalu mengikuti maunya?

“Jongin, Jiyoon aku pamit duluan.” Teriak Sehun dari luar, tidak berniat menggunakan cara yang lebih sopan. Well, pertemuannya dengan Hyena tentu akan berakhir dengan perlakuan Sehun yang mencampakkan gadis itu.  Bahkan ketika Sehun berpikir bahwa dia akan serius, itu hanyalah angan angannya saja.

***

“Rumahmu terlalu besar.”

“Terlalu banyak orang asing.”

“Kenapa tidak sekalian saja kau jadikan rumah mu sebagai lapangan bola.”

“Kau tinggal dengan siapa saja disini?”

“Aku tidak suka dengan orang asing.”

“Aku tidak suka siapapun.”

“Aku juga tidak menyukaimu.”

“Bahkan aku juga tidak suka Jinwoo. Dia suka sibuk sendiri.”

“Apakah aku tinggal disini sebelumnya?”

“Aku sudah mengatakannya. Aku akan merepotkanmu.”

“Mungkin aku lebih cocok berada di rumah sakit jiwa.”

“Kenapa perasaanku tidak enak?”

“Aku terus merasa kau itu penjahat dan psychopath.”

“Aku selalu berpikir setiap orang yang kutemui adalah penjahat.”

“Kau tidak memiliki niat buruk kepada ku, kan?”

Terlalu banyak ocehan ocehan tidak jelas yang keluar dari mulut Song Jiyoon semenjak Jongin membawa, lebih tepatnya memaksa agar gadis itu tinggal dirumahnya, bersamanya. Luhan sudah mensetujui, tidak ada alasan bagi Luhan untuk menolaknya ngomong ngomong. Dan semakin Jongin membalas kata demi kata yang keluar dari bibir gadis itu, semakin Jiyoon tidak berhenti bertanya maupun menjawab. Ayolah, seingat Jongin, Song Jiyoon selalu hemat dalam perkataan.

“Jika aku punya, aku sudah melakukannya dari kemarin.”

“Lagipula jika kau punya, apa yang harus aku takutkan?” Dia berkata pelan, lebih dikhususkan untuk dirinya sendiri sepertinya. Gadis itu pura pura tidak tahu menahu dengan pandangan mata Jongin yang begitu tajam kearahnya. She still wants to die, anyway. “Kenapa kau tidak mau aku mati?”

Sebelumnya, Jongin selalu berpikir jika tidak ada yang harus di takuti dunia yang sangat jahat ini. Tapi semenjak dia bertemu Song Jiyoon, terlalu banyak hal yang ia takutkan. Sekarang, satu satunya hal yang paling ia takuti adalah gadis itu meninggalkannya. Jawabannya begitu simple, dia takut. Hanya itu.

“Jawabannya panjang.” bohongnya.

Jiyoon memandang Jongin dengan tatapannya yang datar, “Kau pasti memiliki dosa paling besar padaku dulu.” Tebaknya.

“Yeah, kau benar.”  Pria berkulit tan itu membalas canggung.

Jiyoon mengabaikan raut bersalah Jongin dan dengan bantuan pria itu, berjalan memasuki ruangan yang dikatakan Jongin sebagai kamarnya, melihat lihat isi didalamnya. “aku tidur sendiri, kan?”

Jongin mengangguk membenarkan. Seingin apapun dia satu tempat tidur dengan Song Jiyoon, gadis itu pasti tidak akan mau.

“Uh, kamarnya luas sekali.” Gumam Jiyoon, sekali lagi dengan nada protes.

“Kau tidak suka?”

Tidak ada yang dia sukai, ngomong ngomong.

“Lumayan. Tapi tidak masalah. Kamarmu dimana?” Tanyanya. Matanya menelusuri ruangan nyaman berdinding putih itu. Cukup lama, tidak ada jawaban dari Jongin. Gadis itu melihat kearahnya kemudian, Jongin sedang memainkan handphoenya. Dia sama sekali tidak sadar bahwa Jiyoon diam diam terus mengamatinya.

Satu alis Jongin terangkat ketika mendapati mata coklat yang begitu ia kagumi  itu secara tidak sengaja, membuat debaran jantungnya semakin terpacu cepat. “Kenapa?”

“Siapa yang mensmsmu?”

“Lee Yura.”

“Gadis itu. Luhan menyukainya.” Jiyoon berucap, bermaksud memanas manasi Jongin. Dia sendiri tidak tahu apa tujuannya melakukan perbuatan konyol itu. Yang jelas dia ingat, ketika Lee Yura menjenguknya dirumah sakit beberapa hari yang lalu dengan senyum yang begitu manis, perasaannya sama sekali tidak enak. Seperti ketika pertama kali dia melihat kehadiran Jongin didekatnya. Rasanya begitu sesak.

“Oh.” Jawab Jongin santai, seperti tidak peduli. Jauh dari dugaan Jiyoon yang mengira bahwa Jongin akan patah hati dihadapannya. Tapi, tentu dia tidak lupa bahwa pria ini sangat poker face “Kau sebaiknya mandi dulu.”

Jongin baru saja mau beranjak untuk keluar dari salah satu kamar di rumahnya yang mewah tersebut. Tapi ucapan Jiyoon yang begitu polos membuat tubuhnya terasa beku dan kaku.

“Aku tidak tahu caranya mandi.”

What the fuck is this?

“Kau mau mengerjaiku, ya?”

***FIN***

Aku tidak mau mendengar kata2 “ini pendek.” TOLONG JANGAN ya. that annoys so much for your information. sependek ini aja bikinnya 8 jam huhu.

Anyway, si Jiyoon ini se’dark’ itu loh. Di part selanjutnya ditunjukkin kalau dia sesengsara itu gara2 pikirannya sendiri TT part ini hanyalah pemanasan (yah) dan sebenarnya segala perbuatan nyebelin Jongin di AO ntar dilakuin Jiyoon disini (dengan tidak sengaja)

i know she is annoying in your point of view. Tapi aku tidak bisa membuat karakter kesayangan seperti dia yang penurut, baik hati, pekerja keras, diam aja kalau ditindas, tapi dibalik sifat ga menyenangkan dia itu, juga ada sifat2 positif kok.

Yaudah ya segini aja. I wait for your though about this weird story. hehe

429 responses to “#3 HAMARTIA (SWEET REVENGE)

  1. aku gak tau dan aku baru sadar selama ini aku baca langsung chapter 4, maklum dulu masih pake hp jadul, jadinya susah kalo mau search..

    disini jiyoon emang kelewat polos atau emang penyakitnya parah jadi mandi ajah gak tau (?) tapi kalo di bayang jong in mandiin jiyoon ?? hadeuhhh yadongmodeon nihh -_-

  2. Disini jongin yg dikasiani..jiyoon itu memang pandai membalas perbuatan jongin tanpa menyentuh..hanya kata kata sja..walopon amnesia..

  3. Jongin otaknya emang udah kongslet inih…
    But i like jiyoon right now…
    Kekx amnesia jiyoon bkal ngebuat hdup kim jongin penuh warna hahaha alias bkin darah tinggi…

  4. Kek nya otaknya kim jongin emang uda kongslet deh…
    But i like jiyon right now…
    Amnesia jiyoon ini bkal ngebuat hdup kim jongin penuh warna deh alis bkin darah tinggi kekeke

    Duh…jaringan jelek komentx susah 😭😭😭 tpi saya reader yg baek kok… kyak baekhyun *nah loh

  5. omg… Apa jiyoon jd manja msa mandi aja gk bsa bkin gw snyum aja. Sehun lucu jga, bsa deh jd penghbur buat jong in yg lg stress.

  6. Omoo jadi jiyoon akhirnya mandi sendiri atau dimandiin jongin(?) *yadongkumat
    Seneng deh jongin sekarang udah berubah, tp sayangnya jiyoon malah hilang ingatan😦

  7. Amazing!!
    Baru kli ini lyat jiyoon secerewet itu..
    Ahahaha…😂😂😂😂😂😂
    Make acara gtw cara mandi lagi…
    Bbeeeuuuhh !!!
    Siksaan jongin sepertinya baru saja dimulai..
    Rasakan itu kim jongin, hahaha…😅😅😅

  8. separah itukah amnesia mu jiyoon ? sampek lupa caranya mandi lo -_-
    cma tiggal basahin tubuh, pake sabun abis itu d bilas, kelar deh mandinya …
    ammpun dah si jiyoon d part ini ngeselin bnget,,
    jongin sabar ya, , ,

  9. “Aku tidak tahu caranya mandi.” Omg! Dia lupa cara mandi dan bilang ke jongin jangan bilang pengen di mandiin? /gamungkin/ /apaan?/ jiyoon sepertinya itu lupa ingatannya parah bgt,sampe lupa cara mandi ya? Ya ampun dia harus banyak belajar😂 Tapi seneng liat dia cerewet gt😂

  10. Ahahah lucu bgt, massa iya nggk tau cranya mandi, jdi pnsaran deh apa yg dilakuin jong in selanjutnya🙂

  11. Hadewww…mbak jiyooon kalo sampeyan ga tau cara mandi tinggal kiat tutorial d google ato youtube..ntar juga paham kok…modus dehhh -_-||

  12. “Aku tidak tau caranya mandi”
    Ahhahaha
    Knp pulak si jiyoon tiba” blg gt ?
    Nti kalo jongin terpancing bs bahaya kan ?😀

    Kata” yg keluar dr mulut jiyoon itu bener semua yaaa
    Si jongin kayak ngerasa disindir trs, walaupun gak sengaja

  13. Omfg gw lama lama sebel jg ama jinwoo *poke jongin si jiyoon mentang2 amnesia suka rese ya pake minta dimandiin😢😄😂 ga inget aja dia gimana kerasnya siksaan jongin :v nice kak

  14. Astaga, kok aku malah fokusnya ke Sehun sama pacarnya itu sih, aku sakit hati bacanya Huhuu. :’v
    Btw pas mau end ngakak banget aku, ternyata segitu parahnya Amnesia sampai mandi aja nggak tahu :v
    Dan disini sifat Jiyoon berubah 180 derajat :’v

    Udah, izin baca chapter berikutnya dan Keep Writing😀

  15. Hahahahaha akhirnya si psycopath jongin bisa membawa jiyoon ke rumahnya, iyalah semuany bisa jongin dapatkan tapi entah entar klo jiyoon udah kembali ingat , paling jiyoon ketakutan liat jongin.
    Jajajajjaja
    jiyoon terlalu banyak ngoceh haha
    what oh god demi apa. Gabisa carany mandi oh myyy god. Jongin udah mandiin ajah hahaha

  16. Jiyoonnya kode nih pngem dimandiin sama jongin 😂bagus ceritanya makin greget. Author the best 😘

  17. wkakkaka ini lumayan panjang kok😂aku juga pernah sampe jam 2 malem, perasaan tu udah banyak eh pas dibaca ulang pendek bett haha*abaikannnnn—–,——

  18. untung jongin tobat yaalloh:’))
    yang kuat kamu nak!
    btw ff nya keren kaa:( gabisa move on dari AO terus kesiniiii huhu semangatttt

  19. Busetdah segitunya sampe gatau caranya mandi astaga😂 si jiyoon bener bener minta di rape sama jongin nih😂😂

  20. Yeah akhirnya jiyoon pulang, tpi kok berubah jadi agak cerewet yeah, manja lagi, hm gpp-lah manjanya kan sama jongin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s