[CHAPTER] DAY DREAM – MARRY ME? #4 (APPLYO)

Day-Dream-poster.png

Title: Day Dream – Marry me #4 by APPLYO

Author: Applyo (@doublekimj06)

cast:

– Kim Jongin

– Yoon Ji  Hyun

Genre: Romance, Marriage Life, Drama.

Lenght: Multichapter  

Rate:  PG-16

Poster by leesinhyo @ ART Fantasy

TeaserChapter 1 Chapter 2 – Chapter 3 

I want to softly go
to you and lean on you
But the distance between
us is not narrowing
[PLAY -> YOO MIRAE – TOUCH LOVE]

**

Wanita paruh baya dan pemuda kecil itu duduk sangat manis di tepi danau, kedua nya nampak terkesima menatap hamparan laut kecil hasil tangan manusia itu, kedua nya saling melempar senyum satu sama lain tak lupa tangan sang wanita terus mengelus tangan kecil pemuda itu.

“Ibu, kau bahagia tinggal disini?” tanya sang pemuda pada wanita paruh baya yang ia sebut ibu, seseorang yang paling-pemuda kecil itu rindukan saat ini bahkan tangan kecil nya tak pernah berhenti untuk menggenggam tangan ibunya itu –seakan takut kehilangan sosok itu.

Sang ibu hanya tersenyum lalu memeluk putra kecil nya itu dan menggendongnya untuk duduk di atas pangkuan nya “Sangat bahagia putraku, kau semakin tampan, ibu sangat merindukanmu pangeran kecil” bisiknya lalu menyisir helaian-helaian kecil rambut pemuda itu. “Kau ingat pada perkataan ibu waktu itu?” ujar wanita paruh baya itu lalu menatap mata hitam putranya, pemuda kecil itu hanya menggeleng lemah.

“Dengar ibu baik-baik nak, kelak ada ribuan anak sepertimu, akan ada ribuan wanita seperti ibu dan akan ada jutaan ayah seperti ayahmu dan kau salah salah satu ayah dari ribuan calon ayah itu.” ujar nya melanjutkan lalu tersenyum manis dan terus menyisir helaian rambut pemuda kecil itu.

“Benarkah? Tapi aku tak mau jadi seorang ayah bu- aku benci menjadi seorang ayah, aku tak ingin menjadi ayah seperti ayahku yang telah menelantarkan ibu dan aku.” balas pemuda kecil itu dengan wajah polosnya yang benar benar menggemaskan.

“Ckck, kau tak boleh begitu putraku, seberapa buruk ayahmu tetaplah dia seorang ayah untukmu dan ibu. Ayahmu sangat baik dan pengertian pada ibu. Mungkin sekarang ayahmu sibuk nak jadi dia lupa pada kita.” ungkap sang ibu.

Pemuda kecil itu hanya mengganguk kecil lalu tersenyum pada ibunya “Bu, kalau aku jadi ayah aku berjanji akan merawat anak-anaku sepeti ibu dan aku tak akan menyibukan diriku seperti ayah, aku berjanji.” ujarnya lalu mengacungkan jari kelingking nya pada sang ibu.

“Ayayaya~~ kapten Kim!” balas sang ibu lalu membalas acungan kelingking putra nya sebagai tanda bahwa ia menyetujui janjinya.

Janji itu di akhiri dengan tawa bahagia dari keduanya dan tak lama kemudian sang ibu berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menjauh dari putranya itu.

“Ibu mau kemana?” tanya sang pemuda kecil heran karena melihat ibunya yang terus berjalan jauh meninggalkan dirinya sendiri di tempat itu. “Ibuuu, jangan tinggalkan aku disini sendiri ibuuuu—“ teriak pemuda kecil itu tapi langkah sang ibu terus menjauh.hingga menghilang.

.

“IBUUUUUUU!!—–“

Kim Jongin mengerjapkan matanya beberapa kali, berusaha meyesuaikan keadaan dirinya saat ini lalu menatap ke arah sekelilingnya. Pemandangan yang sama seperti yang ia lihat setiap pagi. Suasana kamar yang sepi dan tak ada siapapun disana.

Pria Kim itu mengusap wajahnya gusar dan teringat alasan ia terbangun secara tiba tiba dan berteriak memanggil ibunya, setelah cukup lama akhirnya ibunya kembali muncul dalam mimpinya dan kali ini ibunya membawa ulasan ketika ia kecil dengan sebuah janji, Ibunya seolah mengingatkan tentang janji itu padanya sekarang.

Jongin menatap langit langit kamarnya yang gelap, ia mencoba menerawang dan mengartikan maksud mimpinya itu, ia seolah teringat tentang masalah yang akan ia hadapi hari ini, besok dan hari hari selanjutnya, ya masalah yang benar-benar berat untuknya saat ini dan ia tak tahu apa yang harus ia perbuat sekarang.

Jihyun.

Berkali kali Jongin memikirkan gadis itu sejak semalam dan entah darimana ia harus memulai memikirkan gadis itu, setiap detik bayang bayang perkataan dokter semalam menghantui nya dan menghujam pikirannya yang benar benar kosong.

Jongin meraih ponselnya, lalu menatap foto sang ibu yang sengaja ia simpan di ponselnya, pria itu tersenyum kecil dan mengingat ngingat kembali mimpinya, dalam mimpi itu ibunya kembali mengingatkan janji Jongin saat kecil, janjinya untuk menjadi seorang ayah yang akan merawat anak anaknya sepeti ibunya dan tak akan menyibukan diri seperti ayahnya dulu.

Sejujurnya Jongin benar benar benci pada ayahnya sejak ia berusia 10 tahun dan sejak ia mengetahui bahwa ayahnya sering memukul ibunya sendiri, sejak saat itu ia tak pernah berkesan baik pada ayahnya bahkan sebuah sapaan pun tak pernah ia lontarkan untuk ayahnya sendiri, ia selalu melakukan hal apapun dengan ibunya dan saat Jongin bilang bahwa ayahnya selalu menelantarkan mereka, ibunya selalu menyangkal dan menutupi itu dengan berkata bahwa ayahnya sibuk bahkan di saat saat terakhir saat ibunya tengah sakitpun, ayahnya seakan tak peduli dengan semua itu dan ia hanya menyibukan dirinya dengan perusahaan bahkan hingga ibunya meninggal dan saat ini Jongin masih membenci ayahnya sendiri.

Seakan teringat janjinya, karena kali ini ia akan benar-benar menjadi seorang calon ayah tapi apakah ia akan menjadi ayah yang akan merawat anak anaknya sepeti ibunya dan tak akan menyibukan diri seperti ayahnya dulu? Atau ia harus mengingkari janji itu?

Jongin menutup wajahnya dengan kedua tangan kemudian mendesah frustasi.

Sebenarnya ia ingin lari dan menjadi seorang pengecut sekarang, tapi nyalinya menciut kala ia teringat mendiang ibunya, ia seakan melakukan kejahatan yang benar benar keji jika harus lari begitu saja dan membiarkan gadis itu menanggung semua penderitaan nya sendirian, tapi jika ia tak lari apa yang harus ia lakukan? Menikah dengan gadis itu lalu merawat anak itu bersama sama dengan orang yang jelas jelas membenci dirinya sendiri?

Kala Jongin tersadar akan semua beban itu ia menyadari ada hal lainnya juga yang saat ini harus ia pikirkan yaitu Hyunjo yang notabennya adalah teman Jihyun sekaligus kekasihnya sendiri, jika gadis itu tahu Jihyun hamil oleh dirinya apa yang akan terjadi?

Pemuda itu kembali menatap sekeliling kamarnya yang gelap lalu menghela napasnya berat.

“Aku yakin, aku harus melakukannya, maafkan aku- Hyunjo”

**

Jihyun merasakan sakit di kepalanya kini cukup membaik setelah beberapa saat yang lalu dokter memberinya obat penghilang rasa sakit dan membuat keadaannya cukup baik di banding semalam. tapi ada satu hal yang membuat Jihyun heran; saat ia bertanya apa yang terjadi, dokter itu seolah bungkam dan tak ingin menjelaskan apapun dan ia hanya berkata bahwa seseorang akan menjelaskan nya nanti.

Gadis Yoon itu mencoba bangkit dari tempat tidurnya dan merubah posisi tubuhnya untuk duduk, ia menghela napasnya sesaat lalu kembali terbayang kejadian semalam saat tiba tiba ia memeluk Jongin dan kehilangan kesadaran dalam pelukan pria itu, seulas senyuman tergambar dari sudut bibirnya membayangkan hangatnya pelukan itu walau hanya beberapa detik, entah apa yang membuatnya ingin memeluk pria itu. seharusnya ia memaki Jongin, menghajarnya dan yang utama adalah membencinya dengan alasan yang sudah jelas.

Oke, Yoon Jihyun lupakan masalah pelukan itu karena yang terpenting sekarang adalah apa yang di maksud dokter tentang seseorang yang akan menjelaskan keadaannya hari ini, dan siapa orang yang akan menjelaskan keadaanya? Lalu memangnya apa yang terjadi padanya hingga harus orang itu yang mejelaskan nya dan bukannya dokter itu sendiri?

Jihyun menggeleng lemah lalu beranjak dari kasurnya dan mencoba mencabut inpusan yang mengait pada tangannya, ia lelah jika harus bertanya tanya seperti ini dan berdiam diri di ruangan ini menunggu orang ‘itu’ yang menjelaskan, ia harus mencari tahu sendiri tentang keadaannya lalu pergi dari rumahsakit ini dan mulai memikirkan lagi jalan hidupnya yang sudah berantakan.

Aw” rengek Jihyun saat kabel inpusan itu tercabut dari tangannya, rasanya cukup sakit jika mencabutnya dengan paksa dan oleh orang awam sepertinya.

“Nona, apa yang anda lakukan.” ucap seorang suster yang tak sengaja lewat di depan ruang inap Jihyun dan tak sengaja mendengar jeritan kecil dari ruangan itu.

Jihyun menatap ke sumber suara lalu mengerucutkan bibirnya “Hanya melepas ini, bukankah keadaanku sudah lebih baik?” sangkal nya pelan.

Tapi sayangnya suster itu hanya menggeleng lalu mengambil kembali kabel inpus yang terjatuh di lantai “Tapi nona masih harus di rawat menggunakan ini.” ucapnya lalu mencoba kembali memasangkannya lagi di tangan Jihyun.

“Tapi ini menyakitkan, memangnya aku kenapa hingga harus selalu menggunakan inpusan?” tanya Jihyun lalu membiarkan suster itu memasang kembali kabel inpusan di tangannya.

“Nona Jihyun, keadaan anak nona melemah karena nona terlalu banyak mengkonsumsi alkohol hingga akhirnya nona di rawat disini bukan?” ucap suster itu polos lalu tersenyum sangat ramah.

Jihyun terdiam beberapa saat lalu ia menyadari ada sesuatu yang salah yang suster itu katakan “anak?” ulangnya pelan dengan raut wajah yang benar benar terkejut.

Suster itu hanya mengganguk di iringi senyuman “Anda sedang hamil nona, Bahkan tuan muda tampan itu, em– maksudku suami anda berkata bahwa dia yang akan mengatakannya padamu hari ini, apa dia belum mengatakannya?”

Jihyun terdiam dan tak berniat sama sekali untuk menjawab pertanyaan suster itu, ia menatap kosong pandangan di hadapannya.

“Apa dia Kim Jongin?” tanya Jihyun pelan lalu menatap ke arah suster itu yang masih tersenyum.

“Benar nona. apa anda baik baik saja?” tanya suster itu khawatir setelah melihat raut wajah Jihyun yang berubah menjadi sangat keruh dan terkejut.

“Bisakah kau meninggalkanku sendiri? Aku ingin istirahat.” ujar Jihyun lalu kembali membaringkan tubuhnya di atas ranjang dan memunggungi suster yang ada di belakangnya.

“Baiklah, jika ada sesuatu yang anda butuhkan anda bisa memanggil saya.” pamit suster itu lalu meninggalkan Jihyun dan menutup kamar inap Jihyun.

Jihyun memejamkan matanya erat-erat setelah mendengar pintu kamarnya tertutup, gadis itu lalu meremas ujung bantal yang ia gunakan, dan bulir bulir bening itu terus meluncur turun dari sudut mata Jihyun, ia merasa kehidupannya seakan gelap total sekarang. Bahkan tangis nya tak akan mampu membuat keadaanya berubah sedikitpun, ia merasa hari demi hari adalah penderitaan untuknya, dan sekarang ia merasa penderitaan itu mencapai klimaks dalam hidupnya.

Jihyun menangis terisak, merasakan dadanya bergemuh sakit dan sesak, ia tak pernah berpikir bahwa kehidupan sulit itu akan hadir untuk kedua kalinya, jika dulu ia kehilangan orangtuanya lalu hidup sebatang kara di usia muda lalu sekarang ia hamil tanpa status yang jelas di tambah keadaannya yang sedang terpuruk sekarang.

Jihyun teringat sesuatu, ia teringat ayah ibunya yang telah pergi dan dulu ia memiliki keinginan untuk ikut pergi bersama mereka, pikiran aneh itu terbersit dalam benak Jihyun sekarang dan tanpa menunggu lama Jihyun bangun dari tidurnya lalu melepas paksa inpusnya dan berjalan keluar dari ruang inapnya.

“Jika aku mati mungkin semuanya akan lebih baik.”

Jongin berjalan melewati koridor lantai 1 lalu memasuki lift dan turun di lantai 4 –tempat ruang inap Jihyun, pria itu berjalan sedikit terburu buru dengan kantong plastik hitam berisi bubur untuk Jihyun, pria itu yakin jika gadis itu belum sarapan pagi ini, ia berharap Jihyun sudah bangun agar buburnya bisa cepat di makan dan ia akan menjelaskan keadaan gadis itu.

Tapi langkahnya tiba tiba terhenti dan pemuda itu heran karena saat ia tiba di depan ruangan Jihyun- pintu kamarnya terbuka dan tanpa menunggu lama Jongin segera masuk dan ia menatap sekeliling kamar yang tak ada siapapun disana, keadaan tempat tidurnya masih rapih tapi kemana pergi nya penghuni kamar itu?

“Suster, Suster!” teriak Jongin cukup keras hingga beberapa detik kemudian salah seorang suster masuk ke ruangan itu, tanpa menunggu lama tatapan Jongin langsung mengarah pada suster itu. “Kemana dia? Bukankah aku sudah bilang untuk menjaganya disini hingga aku kembali?” ujarnya sedikit berteriak.

“Ya tuan, tapi tadi nona Jihyun bilang ingin istirahat sendirian.” jawabnya pelan lalu tersenyum ramah “mungkin ia jalan jalan keluar?”

Jongin menggeleng pelan lalu mengira-ngira kemana Jihyun pergi dan kenapa gadis itu pergi begitu saja? Dengan cepat Jongin menatap tajam ke arah suster di hadapannya “Apa kau memberitahu tentang kehamilan nya?” selidik Jongin to the point.

Suster yang biasa di panggil suster Jung itu kembali tersenyum ramah “Ya tuan karena tadi—“

Ishh!” potong Jongin kesal lalu mengusap wajahnya frustasi dan dengan segera ia pergi dari ruang inap itu berlari ke sekeliling ruangan lainnya untuk mencari Jihyun.

“Kumohon jangan pergi……..lagi!”

Gadis Yoon itu menghentikan langkahnya tepat di ujung pagar pembatas gedung, ia menatap hamparan kota seoul di pagi hari yang nampak riuh berirama, gadis itu sedikit tersenyum lalu menatap jam di ponselnya yang menunjukan pukul 07:05, waktu yang cukup pagi untuk beraktifitas.

Kaki tanpa alas itu kembali melangkah lagi hingga ia benar-benar berada di ujung pembatas gedung tanpa pengaman apapun dan genap satu langkah lagi tubuh itu akan suskes melesat ke bawah dari ketinggian duapuluh lantai.  Namun entah mengapa ia masih enggan melangkahkan kakinya untuk maju lagi, ada perasaan takut yang menghantuinya ketika ia mengingat tubuhnya yang kini tak sendiri tapi melainkan ada dua nyawa dalam tubuhnya, ia takut dan benar benar takut menjadi seorang ibu yang harus menyerah seperti ini hanya karena nasibnya yang tak beruntung.

Apa aku ibu yang jahat bagimu nak?

Apakah aku tak pantas di panggil seorang ibu?

Apa kau membenciku karena menyerah begitu saja?

Perlahan angin sepoi-sepoi menghilir, mengusik tubuh gadis itu, menghilirkan rambut nya ke arah kanan lalu kiri mencoba menyanjung hilaian itu. Matanya tak pernah berhenti mengeluarkan bulir bulir bening dari pelopak matanya seakan hal itu menjadi hal termutlak yang bisa ia lakukan saat ini. Hatinya seakan teriris belati yang sangat tajam dan menusuk ke dalam jantung membuat nya sakit dan benar benar sakit.

Jihyun menolehkan matanya ke arah ponselnya  kala menemukan benda itu terus berdering, gadis itu tersenyum miris kala menemukan alasan kenapa ponselnya terus berdering, hanya satu alasannya yaitu karena sebuah panggilan dan yang membuat Jihyun tersenyum miris adalah orang yang menghubunginya saat ini.

‘Kim Jongin’

Seakan enggan mengangkat panggilan itu Jihyun membuka cassing handphonenya lalu melepas batterainya dan melemparkan benda itu ke sembarang arah, ia tak peduli dengan itu karena yang terpenting saat ini Jongin tak akan menghubunginya lagi.

“Jangan membuatku menyesal, kumohon!” batin Jihyun.

Angin bertiup semakin kencang, menghilir ke kanan dan kiri mencoba menari di hadapan tubuh Jihyun dan menuntun tubuh itu untuk kembali melangkah. Jihyun kembali melangkah dan kali ini ia merentangkan tangannya untuk siap meloncat dari atas ketinggian lantai 20.

“Maafkan aku———–“ Ucapan terakhirnya lalu ia menutup matanya rapat-rapat dan…

“JANGAN MELAKUKAN HAL ITU!” teriak seseorang menarik pinggang Jihyun dan menariknya mundur hingga mereka sedikit menjauh dari pagar pembatas.

“Ku bodoh hah? Apa kau gila melakukan hal seperti ini? Apa kau tak punya perasaan pada anakmu sendirii!!!!” teriaknya sangat keras dan membuat Jihyun menangis sangat kencang.

“Jongin—aku memang bodoh!, aku memang jahat!,. Jongin kumohon biarkan aku mati bersama anak ini- aku- aku- aku-benci hidupku-ak—“ ucap Jihyun tak kalah berteriak

Jihyun melepas cengkraman tangan Jongin di tangannya dan mencoba kembali berjalan ke arah pagar pembatas tapi dengan cepat Jongin menarik tangan Jihyun lalu menyeret tubuhnya agar menjauh dari pagar pembatas atap gedung rumah sakit itu, lalu memeluk tubuh Jihyun erat erat, menyembunyikan kepala itu di atas dada nya.

790205-bigthumbnail

“Yoon Jihyun, bisakah kita menikah saja?”

**

Hyunjo kini tengah sibuk mengaduk cream dan kopi panas dalam cangkirnya yang hampir selalu ia buat di kantor setiap harinya—bisa dikatakan itu minuman yang membuat rasa kantuknya hilang saat bekerja. Tak sengaja saat ia di pantry  ia mendengar teman kantornya tengah  membicarakan gosip-gosip terbaru di kantor mereka yang tentunya tengah heboh, dan yang membuatnya harus menguping obrolan mereka adalah gosip tentang salah satu sahabatnya yang baru saja di pecat dari kantor ini, -Jihyun.

Kedua orang itu jelas-jelas Hyunjo kenal karena salah satu di antara mereka adalah sekretaris presdir Cho, mereka membicarakan bagaimana Jihyun bisa di pecat lalu mencaci maki Jihyun karena masuk ke kantor ini dengan cara koneksi lalu duduk di jabatan terbaik di kantor itu dengan keahlian Jihyun yang bisa di bilang pas-pas an saat itu.

“Hei, Shin Mikyung, apa bergosip menjadi keahlianmu saat ini?” tanya Hyunjo sepontan dan membuat kedua rekan kerjanya yang tengah menggosip itu menolehkan kepalanya.

“Hyunjo sedang apa kau disini?” ucap gadis bermata sipit dengan mini skrit hitam, pakaian andalan seorang sekretaris itu dengan ekspresi wajah yang sedikit terkejut.

Hyunjo mengacungkan gelasnya menunjukan bahwa ia sedang membuat kopi lalu tersenyum sinis “Lain waktu kita bisa minum kopi sambil menggobrol tentang kebenaran dan bukan kebohongan apalagi cacian, bukankah itu lebih baik nona Shin Mi.Kyung.?” ujar Hyunjo tajam lalu berjalan pergi meninggalkan kedua orang itu.

“Luhan, Chanyeol!” panggil Kyungsoo pada Luhan dan Chanyeol yang tengah bermain game playstation di cafe milik ibu Chanyeol. Kedua pria tampan itu segera mengalihkan perhatian mereka lalu tersenyum cumringah kala tau siapa yang memanggil mereka.

“Kukira kau tak akan datang, Kyungsoo.” ujar Chanyeol lalu menyimpan stick playstation nya dan mengalihkan perhatiannya pada nampan yang dibawa Kyungsoo.

“Tak ada alasan untuk melewatkan spaghetti nyonya Park secara gratis.” ucap pria bermata bulat itu lalu menunjukan deretan giginya yang kecil dan dengan segera mengambil sumpit lalu melahap spaghetti yang berada di nampan nya.

do1

“Ibuku selalu mengeluh jika kau datang kesini lalu meminta semangkuk spaghetti, ia selalu bilang ‘temanmu tak bermodal tinggi’ sungguh itu membuatku sakit kepala” ujar Chanyeol di iringi tawa renyah.

Kyungsoo hanya tertawa dan memukul tangan Chanyeol “Mulai besok aku akan membayar ini agar kau tak sakit kepala tuan dobi! Kau puas?” ujar nya lalu kembali melahap spaghettinya hingga habis.

Sementara Luhan yang mendengar percakapan dua temannya itu hanya bisa ikut tertawa dan ia menyadari seseorang yang biasanya bersama Kyungsoo tak ada. “Apa Jongin tak ikut kesini?”

“Ku pikir dia sakit karena hari ini ia tak masuk kuliah dan ponselnya mati.” ucap Kyungsoo dengan mulut penuh saus spaghetti, dan terus menyuapkan mie asal italia itu kedalam mulutnya hingga mulutnya penuh dengan mie.

Chanyeol yang tengah meminum teh-nya menaikkan kedua alisnya tinggi, kemudian pemuda Park itu menatap Luhan dan Kyungsoo bergantian. “Benarkah Jongin sakit?”

Luhan hanya bersikap acuh tak acuh lalu mengeluarkan ponselnya dari dalam saku, pria berdarah china itu seolah tak peduli dengan keadaan Jongin, malas membahas pria itu lebih lanjut dan ia benar benar menyesal karena menanyakan keberadaan pria itu tadi, sungguh ia benar benar menyesal.

“Lu, kau mau menelpon Jongin?” tanya Chanyeol saat melihat Luhan yang tiba tiba mengeluarkan ponselnya.

Luhan hanya menggeleng lalu menaikan sebelah alisnya “Kenapa aku harus menghubunginya? Bukankah dia sakit?” ucapnya seadanya.

“Hey, hey broo, apa kau mulai tak peduli pada Jongin? Dia teman kita juga bro” balas Chanyeol lalu kembali meminum tehnya dan menatap Luhan sedikit tajam.

“Dia sudah besar Chanyeol, berhenti mengkhawatirnya. Hanya itu saja, apa perkataan ku salah?” balas Luhan lalu melipat kedua tangannya di atas dada dan memutar bola matanya malas.

“Kau benci pada Jongin karena Sena masih menyukai Jongin?” umpat Kyungsoo secara langsung dan membuat Chanyeol menyikut tangannya mengisyaratkan bahwa Kyungsoo salah bicara.

“Em—maaf- maksudku—“ lanjut Kyungsoo terbata lalu menggaruk tengkuk nya yang tak gatal.

“Aku ada urusan lain.” potong Luhan lalu berlalu pergi sebelum Kyungsoo benar benar menyelsaikan perkataan terakhirnya, karena Luhan tau apa yang akan Kyungsoo katakan, Ia muak jika semua orang terus membahas tentang Jongin dan Sena saat ini, lebih baik Luhan pulang.

**

“Aku antar kau pulang.”

Sontak Jihyun menolehkan kepalanya ke arah pintu ruang inapnya, sumber suara tersebut. Terlihat Jongin yang tengah bersandar pada pintu sembari menenteng beberapa lembar kertas, mungkin itu resep obat Jihyun atau mungkin juga itu kertas tagihan rumah sakit ini, entahlah Jihyun seolah tak peduli dengan apa yang Jongin bawa karena saat ini otaknya berputar cepat ketika Jongin mengatakan ‘pulang’.

“Apa? Pulang?”

Jihyun menatap Jongin sesaat lalu mengalihkan perhatiannya ke arah lain “Apartemenku sudah di sita.”

Jongin sedikit terkejut tapi ia mencoba menstabilkan wajahnya dan bersikap dingin seperti biasanya, “Oh, lalu kau tinggal dimana sekarang?” tanya nya dengan ekspresi yang benar benar datar.

Jihyun hanya menggeleng “entahlah, aku sendiri bingung”  gadis yoon itu hanya berdiri terdiam di samping ranjangnya. “Emm, Jongin-“

“Ya.”

“Bisakah aku tinggal di apartemenmu beberapa hari saja sampai aku dapat rumah baru?”

Jihyun sempat ragu untuk mengatakan itu, tapi apa yang bisa ia perbuat sekarang selain meminta bantuan pada Jongin, satu satunya orang yang mungkin membantunya, tapi harga dirinya seakan benar-benar runtuh begitu saja,

Hem tentu, mungkin tak lama lagi kau juga akan tinggal bersamaku.” ucap Jongin dengan nada terdengar cuek dan dingin.

“Oh, ya.” balas Jihyun pelan sedikit menunduk “Kita akan menikah, tapi dengan satu syarat.”

Jongin bergeser sedikit dari posisinya lalu mencondongkan tubuhnya menghadap ke arah Jihyun masih dengan tatapan dingin nya, “Syarat?”

Jihyun menganguk “Kita akan bercerai jika anak ini lahir.” ujarnya pelan lalu mengukir sedikit senyuman di wajahnya, Hidup adalah pilihan dan bagi Jihyun ini adalah pilihan. Ketika ia berusaha untuk mati tapi takdirnya berkata lain maka pilihan itu adalah ini, menikah dengan orang yang membuat pilihan itu ada.

“Tapi-“ sela Jongin tak terima.

“Aku sudah tau resiko nya, kumohon ini permintaanku.”

Jihyun kembali tersenyum lalu berjalan mendekat ke arah Jongin dan menatap manik mata Jongin “Kau boleh pergi jika kau mau, tapi sekarang kumohon tolong hidupku karena kau membuatku kembali kesini, kau yang membuat pilihan itu. Aku tau ini terlalu menyakitkan jika Hyunjo mengetahuinya jadi kumohon jangan beritahu dia dan tetaplah ada disisinya.”

“Aku mengerti.”

“Mobilmu di cafe milik temanku, semalam Minseok Hyung yang menggantar mobilmu ke cafe temanku.” ucap Jongin di sela-sela kemudi nya setelah hampir 15 menit Jihyun dan dirinya tak berbicara apapun.

“Em, begitu.” gumam Jihyun pelan tanpa menolehkan kepalanya ke arah Jongin, ia hanya sibuk menatap ke arah luar jendela menatap jalanan yang ramai di siang hari.

“Boleh aku bertanya sesuatu?” tanya Jongin pelan lalu menatap Jihyun sesaat dengan wajah datarnya. “Kenapa apartemen mu di sita? Bukankah itu milikmu? Dan-”

“Itu bukan milikku, itu milik mantan kekasihku, Junmyeon.” Sela Jihyun dengan nada yang kurang enak di dengar, mungkin Jihyun merasa itu kenangan pahit yang tak seharusnya orang tanyakan saat ini.

“Aku hanya bertanya.”

“Itu bukan masalah penting, kau keberatan aku tinggal di apartemenmu?” selidik Jihyun to the point, lalu dengan cepat Jongin menggelengkan kepalanya dan melambaikan sebelah tangannya di depan dada.

“Bukan, bukan itu.” sangkalnya dengan cepat, “hanya saja aku heran kenapa semua benda milikmu harus di rampas oleh mantan kekasihmu itu.”

Jihyun tertawa kecil tanpa menolehkan kepalanya kearah Jongin ia sibuk menatap ke arah luar jendela, “Karena aku tak punya apa-apa dan itu hanya pinjaman berjangka dari mantan kekasihku.” lanjutnya lalu tertawa kecil.

Oh-“ Jongin hanya mampu ber-oh  ria sekarang, sesekali ia menolehkan kepalanya ke arah Jihyun yang memunggunginya, dalam diam ia tersenyum menatap gadis itu fokus menatap ke arah luar, entah apa yang Jihyun tatap sejak tadi dan tepat ketika mobilnya terhenti Jongin mengikuti arah pandang Jihyun di luar jendela, tatapan nya tertuju pada anak-anak kecil yang tengah bermain di taman kota.

“Kau menatap anak-anak itu?” tanya Jongin pelan,

Em– aku benar benar bodoh karena berpikir untuk mengakhiri hidupku dan menghilangkan nyawa anak kecil tak berdosa hanya karna kemalangan nasibku.” lirihnya pelan mungkin terdengar seperti berbisik di telinga Jongin.

Jongin hanya tersenyum lalu menatap punggung Jihyun dan pemandangan anak-anak yang sedang bermain secara bergantian.

“Kau beruntung, aku yakin!” batin Jongin

.

Keduanya berjalan dalam diam. Sejak keduanya keluar dari mobil, tidak ada satu pun yang mau membuka mulutnya untuk memecah keheningan entah itu Jongin ataupun Jihyun. Keduanya terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing dan sepertinya Jihyun tampak terlihat masih sakit dengan wajahnya yang kini pucat lagi, walau sebelum pulang dokter memberinya obat penghilang rasa sakit dan juga vitamin untuk bayinya.

Hingga keduanya baru menyadari bahwa keheningan itu berlangsung cukup lama bahkan hingga keduanya tiba di depan pintu apartement Jongin.

Jihyun yang baru menyadarinya lantas mengekori Jongin lalu masuk ke dalam appartemen itu dan tepat ketika pintu tertutup Jongin menghentikan langkahnya lalu menoleh menatap Jihyun karena teringat sesuatu.

“Password nya 1401 ingat baik-baik.” ujarnya dingin berlalu pergi ke arah dapur dan melepaskan jaket yang sebelumnya ia gunakan lalu melemparnya asal ke arah kursi.

Sementara Jihyun? Gadis itu masih betah berdiri di ambang pintu tanpa melakukan gerakan apapun lalu sekilas matanya menatap ke arah samping dan ia menemukan 2 kopernya ada disana, entah sejak kapan koper itu tinggal disana yang jelas Jihyun lupa kalo ia benar-benar membawa koper itu ke klub malam kemarin.

Jihyun menarik kedua kopernya lalu menggusur benda itu ke arah kamar, belum genap ia melangkah tiba tiba sosok Jongin muncul dari arah dapur dengan segelas air mineral di tangannya,

“Mau kau kemanakan benda itu?” ujar Jongin lalu menunjuk koper Jihyun dengan dagunya.

“Kamar. Kau pikir koperku ini sampah yang hanya di taruh di depan pintu hah?” Jihyun melanjutkan kembali langkahnya dan berusaha tak peduli dengan Jongin.

“Disini hanya ada satu kamar, memangnya kau mau tidur satu ranjang denganku?”  Pemuda itu mendengus dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada, lagi-lagi menatap Jihyun dengan tatapan sedikit menggoda.

“Kau pikir aku harus tidur di sopa begitu? Lagipula apa salahnya jika kita tidur di ranjang yang sama, kau keberatan?” balas Jihyun lalu memutar bola matanya bosan dan tersenyum sedikit meremehkan.

‘Toh aku sudah hamil olehmu, memangnya apalagi yang mau kau lakukan hoh? Memperkosaku lagi  -___-‘ batin Jihyun

Jongin hanya tersenyum singkat lalu menghampiri Jihyun yang kini nampaknya tengah sibuk dengan pikirannya lalu membungkukan tubuhnya yang tinggi agar sejajar dengan wajah Jihyun “Kau benar, memangnya apa yang salah toh aku akan jadi suamimu juga.” bisik Jongin di depan wajah Jihyun.

tumblr_inline_nuolggtk7y1rxaqax_500

“…” Jihyun hanya menundukan kepalanya tanpa menjawab apapun, ia terlalu kikuk membicarakan hal itu dengan Jongin dan kalau boleh jujur ia malu di tatap sedekat ini oleh Jongin, paras pemuda Kim ini memang tampan dengan rambut coklatnya yang berantakan dan Kaos putihnya yang melekat sangat pas di tubuhnya membuat otot otot tangannya terlihat lebih kekar dan membuat gadis manapun akan meleleh jika di tatap sedekat ini.

Pemuda Kim itu semakin mendekatkan lagi wajahnya hingga membuat Jihyun menutup matanya rapat-rapat “Kau terlalu pervert noona Yoon Jihyun.” bisiknya lagi di depan bibir Jihyun lalu tertawa melihat wajah Jihyun di depannya yang kini berubah menjadi merah padam dengan mata yang masih tertutup, dengan segera Jongin menarik koper di tangan Jihyun dan berlalu pergi meninggalkan Jihyun mematung dengan menutup matanya.

“Kau kenapa Jihyun?” sela Jongin dalam tawanya lalu berlalu pergi masuk kekamar dengan kedua koper Jihyun dan tertawa benar-benar keras karna membuat Jihyun salah tingkah.

**

Jam tengah menunjukan pukul empat sore dan pembelajaran hari ini di hentikan begitu saja karena jam perkuliahan harus berakhir di jam empat sore dan mau tak mau dosen itu harus segera membereskan barangnya dan berlalu pergi dari kelas itu sebelum salah seorang mahasiswa menuntutnya karena melakukan pembelajaran melebihi waktu yang telah di tentukan.

Jongin mengemasi barangnya lalu bangkit dari posisi duduknya dan berjalan ke arah luar kelas tersebut, Saat Jongin hendak melangkahkan kakinya memasuki ruang loker, tiba-tiba saja ia merasakan sebuah tangan yang menarik lengan jaketnya. Sontak Jongin menolehkan kepalanya dan memberikan tatapan terkejut sekaligus dingin.

Jongin oppa! Jangan menatapku begitu eoh— ayo kita ber’main’ di apartemenku.” ujar seseorang yang menarik lengan jaket Jongin yang ternyata adalah Hyerin.

Min Hyerin, si gadis berwajah cantik dengan bentuk tubuh S Line yang terlihat sangat sexy menggunakan pakaian apapun, gadis itu tersenyum sangat manis dengan rambutnya yang terurai ke samping membuatnya terlihat seperti anak kecil yang meminta sesuatu dari ibunya.

“Aku pria keberapa yang kau ajak bermain di apartemenmu?” ujar Jongin dingin lalu melepas tangan Hyerin yang memegangi jaketnya, dan melanjutkan lagi langkahnya ke arah loker.

Seakan tak mengerti dengan ucapan Jongin, gadis itu berjalan mengekori Jongin lalu merangkul tangan Jongin dengan manja dan memaksakan diri untuk menyandar pada tangan itu. “Oppa! Apa maksudmu eoh, tentu saja kau yang pertama” ujarnya lalu kembali tersenyum.

Jongin seakan tak peduli dan ia membuka lokernya lalu mengambil beberapa barangnya termasuk tas dan jaket mantelnya, “Oh, aku yang pertama ya? Lalu Jeon Jungkook, Jung Yonghwa, Kim Kibum dan Yunho itu yang keberapa ya—“ ucap Jongin dingin lalu menatap Hyerin tanpa sebuah senyuman sedikitpun “Kau pikir aku tak tau?”

Senyuman di wajah Hyerin seakan luntur dan rangkulan tangannya di tangan Jongin kini mengendur, wajah gadis itu menjadi pucat pasi setelah mendengar beberapa nama pria yang memang ia kenal. “Jongin oppa, kumohon maafkan aku—mereka hanya teman dekatku.” jawab gadis itu dengan gugupnya lalu berusaha menarik-narik lengan jaket Jongin.

Pria Kim itu menaikan sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman lalu menutup pintu lokernya sangat keras membuat beberapa orang di sekitarnya menjerit termasuk Hyerin yang kini menjadi benar-benar gugup dan kedua tangannya kini bergetar karena ketakutan.

“Apa seorang teman boleh menciummu sesuka hatinya lalu berkunjung ke apartemenmu di jam-jam yang tak seharusnya? Kau pikir aku bodoh? Min Hyerin” ujar Jongin lalu menghempaskan tangan Hyerin dan meninggalkan gadis itu yang kini nampak mulai menangis terisak.

Jongin berjalan menjauh dari ruang loker lalu menaikan ujung bibirnya menunjukan senyuman yang benar-benar licik.

“Bodohnya gadis itu karena aku tau hal ini bahkan sebelum kau mau jadi kekasihku dan inilah umpan terbaik ketika aku bosan padamu” batin Jongin.

“Kau dimana, Yoon Jihyun?” tanya Jongin lalu menyandarkan punggungnya pada tembok. Pemuda itu terpaksa harus menunggu di depan gedung kampus nya karena kini jalanan tengah hujan deras dan ia lupa tak membawa payung untuknya berjalan ke arah parkiran dan mengambil mobilnya dari parkiran di gedung sebrang.

“Droptop(*nama kedai coffee), ada apa?” nada suara Jihyun terdengar sangat pelan dan kecil membuat Jongin harus menempelkan ponselnya benar benar rapat dengan telinganya demi mendengar suara Jihyun.

“Aku akan menjemputmu, tunggu aku disana 10 menit lagi.” Ujar Jongin lalu mematikan ponselnya begitusaja.

Pemuda bermarga Kim itu tersenyum polos ketika mengakhiri panggilannya, ia yakin jika kini Jihyun tengah meruntuk dan memaki ponselnya sendiri. setelah beberapa hari ia tinggal satu atap dengan Jihyun ada beberapa sifat yang kini Jongin ketahui tentang gadis yang notaben nya lebih tua darinya itu; Jihyun suka bangun siang, gadis itu tak bisa memasak, dia benci bau parfum, dan sifatnya yang terlalu angkuh dan percaya diri membuat Jongin tau bahwa gadis itu benar benar aneh, dan yang membuat Jongin selalu tertawa adalah ketika ia menggoda Jihyun dengan membicarakan hal-hal yang bersifat ‘pribadi’ bagi seorang wanita.

Jongin yakin wajah gadis itu akan memerah sangat cepat dan itu terlihat sangat lucu baginya, karena baru kali ini ia melihat seorang gadis malu membicarakan hal-hal seperti itu dengan seorang pria.

Saat pemuda Kim itu sibuk dengan pikirannya tiba tiba ponselnya kembali berdering dan dengan wajah sumringah Jongin meraih ponselnya lalu mendapati seseorang mengirimnya sebuah pesan, dan saat tau siapa pengirimnya wajah Jongin berubah, nampak dingin.

From: Hyun-jo

Perlahan tangannya hendak membuka pesan itu tapi secara tiba-tiba terhenti karena sebuah panggilan masuk,

‘Jihyun’

Dengan segera Jongin mengangkat panggilan itu lalu menunggu hingga orang di sebrang sana berbicara terlebih dulu.

Hallo, Jongin—bisakah kau datang lebih cepat? Kepalaku terasa benar benar pusing, aku lupa makan obatnya tadi siang—“ ucap si penelpon-Jihyun dengan suara yang benar benar kecil.

“Jangan kemana-mana, aku akan datang sebentar lagi.” potong Jongin lalu memasukan kembali ponselnya ke dalam saku dan berlalu pergi menerobos derasnya hujan.

Entah sejak kapan ia menjadi sangat perhatian terhadap Jihyun, dan Jongin merasa ia selalu khawatir pada gadis itu terutama pada janin yang di kandungnya, ia selalu merasa benar-benar menyesal jika tak mencemaskan gadis itu sebentar saja.

Jihyun mengecek ponselnya, lalu sesekali tersenyum malu melihat puluhan pesan singkat di ponselnya yang berasal dari Jongin.

‘Kau sudah makan siang?’

‘Apa obatmu sudah kau minum?’

‘Aku ada kelas tambahan hari ini -3- jika kau mau kau boleh melakukan fitting baju terlebih dulu dan aku akan menyusul nanti’

‘Kau dimanaaa Yoon Jihyun?’

Wajahnya terus tersenyum berseri membaca pesan singkat dari kontak yang sama, Kim Jongin. Pria itu benar-benar mengirimkan pesan-pesan itu setiap harinya, menanyakan kabarnya, apa yang ia lakukan, lalu pesan-pesan lainnya yang sukses membuat Jihyun selalu tersenyum.

Dan alasan kenapa ia bisa berada di droptop sekarang adalah karna saat ia berjalan menuju butik untuk  melakukan fitting baju tiba-tiba naluri di dalam perutnya berkata kalau ia harus mampir ke kedai kopi dan meminum sesuatu disana, mungkin itu naluri dari anak yang Jihyun kandung, karena biasanya orang hamil memang seperti itu, dan hal lain setelah ia mendapat kopinya tiba tiba cuaca di luar  hujan dan mengharuskan dirinya menunggu hingga hujan reda dan tentunya menunggu Jongin menjemputnya juga.

Jihyun melirikkan matanya pada jendela yang berada di sampingnya. Dari sana, ia melihat hujan turun sangat deras. Kaca yang berembun dan tetes-tetes air yang menempel pada kaca membuktikan hujan di luar cukup deras dan dingin, Jihyun memeluk tubuhnya sendiri karena sekarang ia merasa tubuhnya mulai kedinginan.

Jihyun menghela nafasnya berat saat dirasanya kini bukan hanya tubuhnya yang mengigil tapi kepalanya mulai terasa pusing “Oh astaga, aku lupa meminum obatnya tadi siang.” gerutu Jihyun lalu memijat pelipisnya perlahan tapi rasa sakit di kepalanya menyerang sangat cepat dan benar-benar menyakitkan.

Dengan segera tanganya meraih ponselnya lalu menghubungi seseorang- “Hallo, Jongin—bisakah kau datang lebih cepat? Kepalaku terasa benar benar pusing, aku lupa makan obatnya tadi siang—“ ujarnya dengan suara pelan.

Setelah mendengar bahwa Jongin akan tiba lebih cepat dengan segera Jihyun memasukan ponselnya ke dalam tas lalu berjalan ke arah luar droptop.

“Astaga, hujan turun benar-benar deras.” gerutu Jihyun ketika dirinya menapaki ambang pintu dan disambut oleh hawa yang benar benar dingin.

Gadis itu memeluk dirinya sendiri dan merapatkan jaket yang ia gunakan dan ketika ia merasa hawa dingin semakin menusuk tiba tiba seseorang melampirkan jaket ke tubuhnya dan detik itu juga Jihyun menatap ke arah samping dan mendapati Jongin tengah tersenyum.

tumblr_o06bocpw661u2eifmo1_1280

Hyunjo menatap handphone nya beberapa kali, ia menatap benda itu di tangannya lalu mengecek apakah ada pesan masuk untuknya? Tapi hasilnya nihil karena tak ada satu pesan pun untuknya.

Jam kantor sudah berakhir sekitar setengah jam yang lalu dan kini ia tengah berdiri di sebuah halte bus menunggu hujan yang tak kunjung reda, gadis itu kembali melirik ponselnya berharap pesan balasan untuknya dari Jongin. Beberapa saat yang lalu Hyunjo mengirim sebuah pesan singkat untuk Jongin dan ia berharap Jongin membacanya.

To: Mr. Kim ^^)

‘Jongin bisakah kau menjemputku? Disini hujan deras dan tak ada bus untukku pulang. Aku kedinginan menunggu disini seorang diri, aku akan menunggumu disini. Di halte bus di sebrang droptop.’

Hingga hampir setengah jam Hyunjo berdiri disana tak ada pesan balasan dari Jongin, bahkan pria itu tak mengucapkan ya/tidak.

Hyunjo memegang perutnya yang di rasa kini mulai kelaparan karna menunggu hujan lalu detik berikutnya terbersit dalam benaknya untuk menerobos hujan dan berlari masuk ke droptop untuk mengganjal perutnya.

Gadis itu lalu menatap ke arah jalanan yang kini terlihat sepi dan niatan untuk menerobos hujan semakin tinggi tapi detik berikutnya seulas senyuman menggembang di wajah Hyunjo kala ia melihat sosok yang ia kenal keluar dari pintu droptop di sebrangnya.

“Jihyun!” ujar Hyunjo lalu menatap ke arah kanan dan kiri jalanan hendak menyebrang untuk menghampiri Jihyun yang memang ada di depan droptop juga, setelah dirasa jalanan agak sepi Hyunjo melangkahkan kakinya untuk mendekat ke arah pintu droptop tapi langkahnya terhenti saat ia melihat kini Jihyun tak sendiri, ada seorang pria yang muncul dari arah kanan lalu melampirkan sebuah mantel di tubuh Jihyun dan tersenyum pada Jihyun.

Dari kejauhan, Hyunjo nampak tak asing dengan pria yang berdiri bersama Jihyun, semakin penasaran kakinya melangkah untuk semakin mendekat ke arah Jihyun dan pria itu hingga jarak mereka cukup tak jauh lagi hanya terlahang sebuah mobil,

Hyunjo membelalakan matanya sangat lebar saat tau siapa sosok pria itu, perlahan ia melangkahkan kakinya untuk mundur dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya.

large

Dia terkejut, Sakit Hati? Tentu saja.

Gadis Kim itu tak peduli jika kini tubuhnya basah tersiram air hujan yang benar benar dingin, ia tak peduli dengan itu karena kini hatinya benar benar membeku melihat pemandangan di hadapannya.

Pria itu tersenyum lalu menarik tangan Jihyun untuk lebih mendekat dan membelai pipi Jihyun dengan ekspresi yang sepertinya sangat cemas, Hyunjo tak mempercayai penglihatannya ini, tapi kedua matanya jelas-jelas tak salah lihat, pria itu mengelus puncak kepala Jihyun lalu menggengam tangan Jihyun dan berlalu pergi ke arah trotoar di sebelah kanan dengan sebuah payung yang menaungi keduanya.

“Jongin, kenapa kau bisa bersama………..Jihyun temanku?”

..

To Be Continue..

Annyeonghaseyo^^ Lyo backk guyss😀
Duh maafkan lyo ya kalo ff ini lama banget buat di publisnya, sejujurnya tanggal 28 Mei ff ini udah selesai di ketik dan tinggal di publis tapi sayangnya Lyo sibuk banget uas dan ampe lupa kalo ff ini belum publis wkwk😀
Oyeaa~~ karena keterlambatan inilah mungkin Lyo juga akan mempercepat untuk mempublis chapter #5 nya jadi sabar menunggu ya? Tapi Lyo janji gak akan nyampe sebulan ato 3 minggu😀 #author #mulai #pede #emangnya #ada #yang #nungguin #ye #thor :v wkwk
Sekali lagi Lyo mintaa maaf ya, dan Lyo lupa buat berterima kasih sama readers karena chapter #2 sampe masuk top post wkkw😀 makasihhh guysss, Lyo seneng banget waktu itu bahkan sampe jingkrak-jingkrang di kamar haha :v semoga chapter ini dan selanjutnya kalian juga suka ya?
Disini konflik drama nya mulai terasa, jadi siapin tisu buat penggemarnya Hyunjo dan siapin mental juga kalo tiba-tiba Jongin berpaling hati ke gueeee #doh #apalah #apalah #ini :v
 See you next chapter ya guys, jangan lupa komen, saran, kritik, dan like nya ya~ Cerita ini di lanjut kalo kalian juga mensupportnya, ya kalo engga say goodbye ajah sama author wkwk😀

187 responses to “[CHAPTER] DAY DREAM – MARRY ME? #4 (APPLYO)

  1. Ko jongin jadi baik ya hihihi
    Why so cute gitu jihyun hahaha kalo udh sama jongin😄
    tapi itu hyunjo? Gimana wey;(
    keep writing author!!!

  2. Nah loh, ketauan tuh. Aduh hyunjo bakal ngerelain gak ya?? Mudah2an iya. Kasian juga kn anak yg dikndung jihyun

  3. Aku rasa sbentar lg juga akan terbongkar -,-
    hmmm baiklah keadaan mulai semakin memanas sekarang hihihi

  4. Pingback: [CHAPTER] DAY DREAM – THINKING OUT LOUD #10 (APPLYO) | SAY KOREAN FANFICTION·

  5. Ohmygod, secepat inikah Hyunjoo tau tentang Jongin-Jihyun? langsung mesem-mesem sendirilah, pas Jongin nawarin nikah ohmygoddddd, demi apa.. aku gak nyangka Jongin punya rasa tanggungjawab yang patut diacungin jempol. tapi syarat menikah mereka? haruskah, Jihyun membuat syarat itu?????

  6. Naaahloh hyunjo mergokin mereka, rada kasian juga ke hyunjo kalo aku ada di posisi dia, tapi jihyun jugaa waah penasaran apakah joonmyeon bakalan muncul lagi(?) Izin lanjut bacaaa

  7. Eonniiiiiii ahhhh aku suka banget sama alurnya … Kasian juga sih sama si hyunjo tpi aku juga ga tega sama sii jihyun … Nnti sii junmyun bakal muncul lgi ga ?

  8. Seingatku ini 2 chapter terakhir yang aku baca sebelum menghilang. sifat jongin yg awal” dingin kini jadi manis banget aku jadi terharu dan pengennnn hahaha. Hyunjo bagaimana perasaanmu ngelihat pacar dan kekasihmu ketauan berduaan pasti sakit banget yah.pasti lah itu. Nggak sabar buat liat hubungan manis jongin sama jihyo.

  9. yaaahhh hyunjo tau dengan cara seperti ituu..kacau banget ga siih???
    tapi serba salah sih kalo menyangkut hal kaya gini. haduuuhhh

  10. Pingback: [CHAPTER] DAY DREAM – TEARS LIKE TODAY #11 A (APPLYO) | SAY KOREAN FANFICTION·

  11. Aaaaaaaaaaaaaa masalah semakin pelik,,, huhuhuhuhu
    Gk tau musti memihak yang mana,,, di sisi lain kasian Jihyun,, tapi jg kasian ama Hyunjo,.,,aaaaaaaaaaaa
    Busyeeeeetttt
    Harusnya Jongin jujur ama Hyunjo dripada Hyunjo makin sakit hati,apalagi skrg di liat dgn mata kepalanya sndiri kalo Jongin bgtu khawatir ama Jihyun,,,aaaaaaaaaa

  12. Pingback: [CHAPTER] DAY DREAM – I’II CRY #11 B (APPLYO) | SAY KOREAN FANFICTION·

  13. Aaaaah Hyunjo liat juga Jongin sama Jihyun..
    Gimana reaksi Hyunjo kalo tau Jihyun hamil?? Apa dia bakal mutusin Jongin? Atau malah dia benci sama Hyunjo??
    Penasaraaaaan, aku lanjut baca next chapternya dulu ^^

  14. whaaaa….tikungan mulai menahan…kkkk
    seru bgt….plus menyakitkan dan ngenes abis….
    keep writing!!!!!

  15. Hyunjo km ng!s aja gpp nak,aq tw pzti bkalan nangis n skt hti.tp gmn lg?ky’a kyu ada hati deh hehe #feelsosotoy

  16. Tuh kan katauan juga klo jongin selingkuh hahaa
    Kayaknya next chapt ada perang dunia ke 3 nih wkwkwkk
    Kasian hyunjo tapi lebih kasian si jihyun hadeuh saya galau milih yg mana

  17. Huahhhhh pasti hyunjo kgt and pasti y sakit hati bgt da….wahhh naluri jongin sebagai ayah y khawatir ma jihyun trzz

  18. Pingback: [CHAPTER] DAY DREAM- BECAUSE I MISS YOU TODAY #12 (APPLYO) | SAY KOREAN FANFICTION·

  19. Akhirnya hyunjo tau….konflik udah dimulai…
    Apa jongin nantinya bkalan jatuh cinta yaaa sma jihyun?

  20. Ya ampun sweet ya lgi hamil diperhatiin walau awalnya pada benci.. mgkin itu bawaan anak yg dikandung jihyun :’) tp kasian hyunjo. Gmna reaksinya klo tau. Dan psti dia bakal benci jihyun. Pdhl itu sm skali bukan salah jihyun. Si jongin kn kena bisikan valak yg kmaren 😭😭😭😭😭

  21. Andwaeee. Ketauan Hyunjo. Gmn kl hyunjo jd benci sm Jihyun:'( trs jihyun knp pake ngasi syarat segala-_- hmm

  22. Feelingnya jongin sama Ji-hyun langsng ada yah disini,gk butuh wkt lama.mereka sudh keliatan saling sayang. Exited di next chaptnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s