[FINAL SERIES] STUPID LOVERS (HAPPILY EVER AFTER) by noonapark

large

¶ Author : noonapark | Title : STUPID LOVERS (HAPPILY EVER AFTER) | Cast : Park Chanyeol and YOU/OC | Genre : Romance—Comedy—Marriage Life | Ratting : 19+ Warning!!! | Lenght : Oneshot |

Previous : DON’T READ THIS! » PLEASE READ THIS! » GOOD MORNING DARLING! » LEARN TO BE PERVERT » T – SHIRT »TRAP » REVENGE » WHO??!! » JEALOUS TO THE MAX  »  PIMPLE » W-WHAT?! MARRIED?!! » PASSIONATE KISS » BEAUTIFUL GIFT » GOOD NEWS »HUBBY » FIRST DAY, FIRST NIGHT » MR. AND MRS. SEDUCTION

***

.

.

Chanyeol dan Eunsoo selalu menjalani hari-hari mereka dengan hal-hal yang—menurut mereka—sangat menyenangkan.

Dan kebiasan pagi yang selalu mereka jalani menjadi satu dari sekian banyak hal yang begitu menyenangkan untuk mereka lewati bersama.

“Ah.. baunya enak.”

Eunsoo tidak bisa menahan senyuman setelah menghirup aroma dari kari yang baru saja selesai Ia masak. Wanita itu kemudian mencicipinya dan menunjukkan senyuman semakin puas setelahnya.

Eunsoo sadar Ia tidak memiliki kemampuan memasak yang handal seperti suaminya, Chanyeol. Tapi Eunsoo selalu berusaha untuk menunjukkan kemampuan memasaknya dan beruntung, setelah Chanyeol sering mengajarinya, setelah Chanyeol dengan senang hati menghabiskan makanan dengan berbagai rasa yang aneh yang Eunsoo buat, setidaknya kali ini Eunsoo bisa merasa bangga. Karena ini adalah kali pertama Ia akan menyajikan makanan enak yang Ia buat untuk sang suami tercinta.

Eunsoo mematikan kompor. Ia tengah mengaduk kari dalam panci saat merasakan kedua tangan kokoh kini melingkar di perutnya.

“Eunsoo-ya, dasiku.”Chanyeol bergumam, sembari membenamkan wajahnya di leher Eunsoo, memeluk Eunsoo semakin erat membuat wanita itu langsung menoleh ke belakang—ke arahnya.

Dan Eunsoo tahu apa yang harus Ia lakukan setelah itu. Ia akan berbalik dan menghadapkan tubuhnya pada Chanyeol, mendorong tubuh Chanyeol menuju meja konter yang ada di dapur.

Setelah itu, Chanyeol pun tahu apa yang harus Ia lakukan. Ia akan mengangkat tubuh Eunsoo dan mendudukkan wanita itu di atas meja konter dapur. Melingkarkan kedua kaki Eunsoo di pinggangnya sementara kedua tangan Chanyeol sendiri akan melingkar di pinggang Eunsoo.

Hingga kini, Chanyeol bisa memandangi wajah Eunsoo lekat-lekat, sementara wanita itu sibuk membetulkan dasi yang melilit di lehernya.

“Chanyeol-ah.”

“Hm?”

“Aku membuat kari yang saaaangat enak. Kau harus mencobanya.”

Eunsoo selalu berkata seperti itu pada Chanyeol. Ya, meskipun rasa masakannya terkadang terlalu asin, atau hambar, atau aneh namun Chanyeol akan selalu memberikan tanggapan yang sama.

Tersenyum bahagia.

“Benarkah?”

Eunsoo mengangguk cepat. “Eum! Kau bisa mencium aromanya?”Eunsoo menghirup napas dalam-dalam. Mencoba menghirup aroma kari yang asapnya terlihat masih mengepul di atas panci tak jauh dari mereka. “Ah! Ini seperti masakan Ibu. Kau bisa menciumnya?”

Chanyeol pun menurut. Ikut menghirup aroma kari dengan cara mengirup napas dalam-dalam. Seraya menutup kelopak matanya. “Woah!”dalam hati Chanyeol merasa sedikit lega. Okay, kali ini baunya benar-benar enak. Maka Chanyeol pun cepat-cepat membuka mata dan menatap Eunsoo dengan mata berbinar. “Baunya enak. Yeay! Istriku sudah bisa memasak.”lalu Chanyeol memberikan kecupan cinta di bibir Eunsoo sebagai apresiasi atas keberhasilan wanita itu.

Eunsoo pun menunjukkan senyuman senang. Ia kemudian meletakkan kedua tangannya di atas pundak Chanyeol dan memperhatikan penampilan pria itu.

Rambutnya, wajahnya, dasi, kemeja beserta jas dan… ketika Eunsoo semakin menundukkan pandangan, Ia tidak bisa menyembunyikan ekspressi terkejut saat mendapati bagian bawah tubuh Chanyeol hanya dibalut dengan boxer bewarna biru tua.

Parahnya, pria itu padahal sudah mengenakan sepasang kaus kaki bewarna abu-abu.

“CHANYEOL!!!”Eunsoo memekik kesal, lalu menatap Chanyeol juga dengan tatapan kesal. “Kenapa kau tidak memakai celanamu?! Kau benar-benar tidak tahu malu!”

“Kenapa aku harus malu? Ini ‘kan rumahku! Kau istriku! Kenapa aku harus malu?”sahut Chanyeol tak mau kalah.

Eunsoo langsung menatapnya dengan tatapan horor. Ya, apa yang dikatakan Chanyeol ada benarnya.

“Ta-tapi..”Eunsoo mengerjap pelan. “Tapi tetap saja—“

“Kenapa?”sela Chanyeol, mendekatkan wajah mereka membuat ujung hidung mereka kini bersentuhan. “Kau seharusnya bersikap biasa saja Eunsoo. Lagi pula..”Chanyeol tiba-tiba nyengir. “Kau sudah biasa melihatnya. Hihi! Melihat adik kecil.”lalu mengecup gemas bibir Eunsoo. Membuat kepala Eunsoo bahkan sampai mundur beberapa senti dan setelah itu, Chanyeol berbalik, lalu berlari keluar dari dapur disertai tawa yang terdengar jelas.

Meninggalkan Eunsoo yang kini terdiam di tempatnya.

.

.

.

.

.

Orang bilang, menikah adalah saat dimana kita harus belajar untuk bersikap lebih dewasa.

Ya, itu benar.

Tapi bagi Chanyeol dan Eunsoo, mereka lebih menginginkan kedewasaan itu tumbuh dengan sendirinya. Dan menghabiskan waktu dengan cara mereka sendiri sepertinya jauh lebih menyenangkan.

“Chanyeol-ah! Kenapa kau mematikan televisinya?!”Eunsoo berseru sembari melemparkan satu bantal sofa ke wajah Chanyeol. “Kau kejam!”

“Aku ‘kan tidak suka acara kecantikan!”balas Chanyeol sembari melempar bantal itu ke lantai.

“Tapi aku menyukainya Chanyeol!”

“Untuk apa kau menonton acara kecantikan jika kau sendiri adalah wanita paling cantik di dunia ini?”

Okay, Eunsoo merasa ada sebuah komet yang barusaja mendarat di atas kepalanya. Ia benar-benar terkejut dan tidak tahu harus bereaksi seperti apa saat ini.

Ekspressinya terlihat kosong.

“Hmm!”Chanyeol tersenyum gummy. Ia semakin mendesak, menangkup wajah Eunsoo dengan kedua tangan lalu mengecup bibir wanita itu dengan gemas. “Mumumu~ istriku benar-benar cantik.”Chanyeol menarik kembali wajahnya. “Dan seksi.”

Setelah Chanyeol menarik tangannya, Eunsoo langsung menunjukkan senyuman gummy. Lalu menangkup wajah Chanyeol dengan tangan dan mengelusnya berulang kali. “Terima kasih suamiku, aku mencintaimu.”kemudian mengecup ujung hidung Chanyeol membuat pria itu tersenyum geli.

“Eunsoo-ya, kau mau bermain?”

Eunsoo menatapnya bingung. “Bermain?”

Chanyeol mengangguk cepat. “Eum! Bermain.”lalu duduk bersila di atas sofa dan menghadapkan tubuhnya pada Eunsoo. “Apa yang tidak kau sukai di dunia ini?”

Eunsoo menatap Chanyeol dengan tatapan semakin bingung.

“Waktumu lima detik!”seru Chanyeol. “Satu. Dua. Tiga.”

Eunsoo panik. “Ya! Aku—“

“Empat!”

“YEJIN!!”

Chanyeol terdiam dengan mulut setengah menganga.

“A-aku tidak suka Yejin.”Eunsoo cemberut. “Dia pernah menciummu saat itu.”lalu Eunsoo menunduk seraya jari jemarinya memilin-milin ujung kaos yang Ia kenakan. Dan pemandangan itu benar-benar membuat Chanyeol tidak tahan untuk tidak menciumnya.

Kali ini Chanyeol memberikan kecupan di pipi Eunsoo.

Aigoo.. kau masih mengingatnya?”tanya Chanyeol setelah menarik wajahnya kembali, kemudian mengacak pelan puncak kepala Eunsoo sembari tersenyum kecil. “Okay, kita mulai lagi.”

Sepertinya Eunsoo mulai tertarik. Terlihat saat Ia ikut duduk bersila di atas sofa dan menghadapkan tubuhnya pada Chanyeol, membalas tatapan Chanyeol dengan tatapan antusias. “Ayo, kita mulai!”

Chanyeol pun tersenyum senang. “Siapa orang yang paling kau sukai di dunia ini?”

“L OPPAAAAAA!!!!”

Dan saat Chanyeol melihat Eunsoo melontarkan jawaban itu dengan senyuman bahagia, Chanyeol langsung menatapnya dengan tatapan teramat kesal.

“EUNSOO-YA!! AKU SUAMIMU! SEHARUSNYA KAU MENYEBUTKAN NAMAKU! KENAPA KAU MALAH MENYEBUTKAN K-L-M-N ITU HUH?!”

Eunsoo mengerjap pelan. “Kau bertanya siapa orang yang paling aku sukai ‘kan? Bukannya siapa orang yang paling aku cintai. Jika kau bertanya siapa orang yang paling aku cintai di dunia ini, tentu saja aku akan menyebutkan namamu.”

Chanyeol terdiam. Namun tiga detik kemudian, Ia langsung mendekat dan mendaratkan bibirnya pada bibir Eunsoo.

Dan mengulum senyuman setelah itu. “Aku mencintaimu.”gumamnya, lalu kembali duduk dengan tegap.

Eunsoo hanya mencibirnya pelan.

Okay, sekarang giliran aku yang bertanya padamu.”

Chanyeol bersiap-siap. “Baik. Aku siap.”

“Chanyeol-ah..”Eunsoo menunjukkan senyuman manja. “Siapa yang paling kau cintai di dunia ini?”

Chanyeol tersenyum sembari mengangkat kedua tangannya. “EUNSOO!”

Eunsoo tersenyum geli. Lalu menahan senyuman sebelum akhirnya kembali bersuara. “Lalu.. apa yang paling kau benci di dunia ini?”

“SAAT EUNSOO DATANG BULAN!”

Eunsoo mendelik.

Sementara itu, Chanyeol melatakkan kedua tangannya di atas pangkuan lalu menunjukkan senyuman tanpa dosa. “Karena saat Eunsoo datang bulan adik kecil ku akan kese…”

Eunsoo meraih bantal di belakang tubuhnya. “Kau…”

“….pian.”Chanyeol langsung turun dari kursi. Dan berlari. “AKU TIDAK BERCANDA EUNSOO!”

“CHANYEOOL!!”

“TIDAK! MAKSUDKU AKU BERCANDA!!”

“CHANYEOL! KEMARI KAU!!”

“AAAAAA!!!”

“YA!!”

.

.

.

.

.

Orang bilang, tidak ada satu manusia pun yang akan hidup tanpa masalah.

Ya, itu benar.

Dan masalah itu pun akhirnya datang dalam kehidupan rumah tangga Chanyeol dan Eunsoo.

“Siapa wanita itu?”

“Eunsoo-ya.”

Eunsoo membanting ponsel Chanyeol ke permukaan lantai di sisi tempat tidur. “Siapa wanita itu?!!”pertahanan Eunsoo runtuh, sekuat apapun Ia mencoba menahannya, air bening itu akhirnya berhasil membobol dinding pertahannya. “Kenapa dia mengirim pesan seperti itu padamu? Memanggilmu oppa. Mengajakmu bertemu dan memesan sebuah kamar di hotel untuk tidur berdua. Apa dia simpananmu?”Eunsoo mendekat pada Chanyeol dan memukuli dada pria itu dengan kedua tangannya. “Apa yang kau lakukan, huh?! Apa yang kau lakukan!!”

“Eunsoo dengarkan aku.”Chanyeol mencoba menenangkan Eunsoo namun wanita terus melawan.

“Apa yang kau lakukan di belakangku? Park Chanyeol!!!”

Chanyeol menarik paksa tubuh Eunsoo ke dalam pelukannya. Mendekapnya erat-erat membuat Eunsoo kini tidak bisa bergerak dengan leluasa.

“Eunsoo-ya, dengarkan aku.”

Dalam hitungan beberapa detik kemudian, pergerakan tubuh Eunsoo terhenti perlahan. Isakannya pun mulai mereda sehingga Chanyeol kini bisa memeluknya semakin erat.

“Dengarkan aku, Eunsoo-ya..”

Pada akhirnya mereka merebahkan tubuh mereka di atas tempat tidur, dengan posisi saling berhadapan. Melewati waktu selama beberapa menit dengan saling memandang dalam diam.

“Eunsoo-ya.”Chanyeol menyentuh pipi Eunsoo, mengelusnya dengan hangat. “Hani hanya senior baru di kantor.”

“Kenapa dia berani mengirim pesan seperti itu padamu?”sahut Eunsoo dengan mata yang masih terlihat memerah. “Aku istrimu.”suara Eunsoo terdengar lirih, Ia kembali mengeluarkan air mata sehingga Chanyeol langsung memeluk tubuhnya.

“Dia tidak tahu jika aku sudah menikah, sepertinya. Kami hanya baru saling mengenal dua hari ini. Itupun tidak terlalu dekat. Dan aku tidak tahu mengapa dia mengirim pesan seperti itu padaku.”jelas Chanyeol, mengelus rambut Eunsoo lalu melanjutkan. “Aku janji, aku akan segera menjelaskan semuanya pada Hani.”

Eunsoo melepas pelukan Chanyeol, menatap pria itu dengan tatapan kesal. “Eoh, katakan padanya bahwa kau memiliki istri yang paling cantik dan seksi. Kau mengerti?”

Meskipun Chanyeol merasakan matanya tengah memanas, tapi Chanyeol tidak bisa menahan senyuman setelah mendengar sederet kata yang terlontar dari bibir wanita itu. “Eum.”Chanyeol mengangguk. “Aku akan mengatakan pada Hani jika aku sudah menikah. Aku memiliki istri yang cantik, seksi, pintar memasak dan aku sangat mencintainya.”

Eunsoo menatap Chanyeol selama beberapa saat, lalu mengelap kasar air mata dengan punggung telapak tangannya. Mendekat ke arah Chanyeol kemudian memeluk Chanyeol erat-erat, sembari mebenamkan wajahnya di dada bidang pria itu.

“Aku akan menghukummu.”gumam Eunsoo. “Jika kau melepas pelukanku.. aku akan memukulmu. Kau mengerti?”

Chanyeol menghembuskan napas yang terdengar lega. Lalu membalas pelukan Eunsoo dan meletakkan dagunya di puncak kepala wanita itu.

“Eum, aku mengerti.”

Suasana hening kemudian menyelimuti mereka hingga beberapa saat kemudian.

“Chanyeol-ah..”

“Hm?”

Eunsoo menatap lekat-lekat permukaan dada Chanyeol yang terbalut dengan kaos putih polos rumahan, yang berada tepat di depan wajahnya. “Maaf, karena aku marah padamu.”

Chanyeol tersenyum sembari mempererat pelukannya. “Kau marah.. itu artinya kau mencintaiku, Eunsoo. Dan aku juga mencintaimu.”

Eunsoo menutup mata perlahan.

“Aku sangat mencintaimu, Eunsoo-ya.”

.

.

.

.

.

Seiring berjalannya waktu, perubahan itu pasti akan terjadi.

“Chanyeol-ah..”

Chanyeol tidak bisa menyembunyikan raut kecemasan yang kini terpetak jelas di wajahnya. Sungguh, melihat Eunsoo terbaring lemah di atas tempat tidur dengan wajah yang pucat benar-benar membuat hatinya terasa terluka.

Saat ini Chanyeol sudah siap dengan pakaian kantornya—minus jas. Ia kemudian memeluk Eunsoo dengan hangat sembari mengelus pelan lengan wanita itu. “Kau ingin sesuatu sebelum aku pergi?”

Eunsoo menggeleng lemah, matanya yang memerah kemudian menatap Chanyeol dengan tatapan dalam. “Sudah siang, kau akan terlambat.”

Chanyeol melepas pelukannya, lalu menatap wajah Eunsoo lekat-lekat seraya satu tangannya kini mengelus lembut permukaan pipi wanita itu. “Dokter mengatakan usia kandunganmu sudah dua bulan.”Chanyeol tersenyum. “Kau tenang saja, beberapa bulan lagi aku yakin kau tidak akan seperti ini lagi.”lalu memberikan kecupan hangat di bibir Eunsoo—cukup lama. Dan menarik wajahnya kembali setelah itu. “Eunsoo-ya. Aku harus pergi.”

Eunsoo mengangguk. “Eum.”

Helaan napas yang berat terdengar dari Chanyeol. Ia bangkit, duduk dan menutupkan selimut hingga batas dada Eunsoo. “Jangan lupa memakan sarapanmu. Aku sudah meletakkannya di meja, dan jangan lupa meminum susumu.”

Eunsoo mengangguk sekali lagi. “Eum.”

Benar-benar membuat Chanyeol sedih jika harus meninggalkan Eunsoo seperti ini.

“Chanyeol, kenapa kau tidak pergi?”Eunsoo bertanya setelah Chanyeol terus duduk terdiam di sisi tubuhnya.

Pria itu tidak menjawab. Terus memandangi Eunsoo dengan raut wajah yang cemas.

“Chanyeol-ah, cepat pergi. Kau akan terlambat.”kata Eunsoo sembari menyentuh tangan Chanyeol.

Chanyeol mendesah pelan. “Ah..”wajahnya terlihat frustasi. “Eunsoo, aku…”

“Apa?”

Setelah terdiam cukup lama. Chanyeol mendengus. Lalu merebahkan tubuhnya di samping Eunsoo dan turut masuk ke dalam selimut, lalu memeluk Eunsoo erat-erat.

“Chanyeol? Kau tidak pergi?”

Chanyeol tersenyum lebar. “Kau tenang saja, Ayah adalah atasanku. Aku akan mengatakan padaya jika kau sakit dan aku tidak akan bekerja hari ini.”

Eunsoo tersenyum senang. Ia kemudian menghadapkan tubuhnya pada Chanyeol dan turut melingkarkan satu tangannya di tubuh Chanyeol. “Eum, aku ingin ditemani hari ini.”lalu Eunsoo menunduk, mengarahkan telapak tangan Chanyeol untuk menyentuh permukaan perutnya yang masih terlihat rata. “Kurasa anakmu juga. Dia juga ingin ditemani.”

Chanyeol memberikan kecupan singkat di kening Eunsoo. Ia menunduk, memperhatikan tangannya yang masih berada di perut Eunsoo dan…

“Dum..dum..dum..dum..dum..”Chanyeol menggerakkan tangannya perlahan, ke atas, semakin ke atas. “Dum..dum..dum..dum..dum!”dan berhenti saat telapak tangannya berhasil menangkup salah satu gundukan milik Eunsoo yang menjadi kesayangannya.

“Chanyeol.”Eunsoo langsung menatapnya dengan wajah tanpa ekspressi.

“Eunsoo-ya.”namun Chanyeol jutru menunjukkan kilat-kilat penasaran yang terpancar jelas di matanya. “Semenjak kau hamil, ini terlihat semakin besar dan kenyal. Kenapa?”

“Tentu saja. Karena wanita hamil akan memproduksi air susu yang lebih banyak. Untuk bayi mereka nanti.”

“Ah.”Chanyeol mengangguk paham. Lalu tersenyum gummy dan memainkan gungukan itu semakin antusias. “Kau tahu? Jika seperti ini aku jadi ingin menyentuhnya setiap saat.”Chanyeol bahkan memasukkan tangannya ke dalam kaos Eunsoo. Dan jangan tanyakan lagi apa yang dilakukan tangan Chanyeol di dalam sana.

“Ya! Chanyeol-ah.”

“Aku menyukainya. Hihi!”

“…….”

.

.

.

.

.

Tiga bulan usia kandungan Eunsoo…

“Aku pulang!!”

“Woah! Dumpling!!”

Eunsoo langsung berlari mendekati Chanyeol yang tengah sibuk melepas sepatu di depan pintu apartemen. Eunsoo kemudian merampas plastik besar berisi kotak dumpling lalu membawanya berlari menuju dapur.

Melupakan Chanyeol yang terlihat kesulitan melepas sepatunya.

“Y-ya! Eunsoo tunggu!”

Setelah berhasil melepas sepatu, Chanyeol langsung mengikuti Eunsoo dan berlari menuju dapur.

Mereka duduk bersebelahan. Chanyeol tampak tersenyum puas memperhatikan Eunsoo tengah menyantap dumpling yang Ia beli sepulang dari kantor.

“Kau menyukainya?”

“Eum!”sahut Eunsoo dengan mulut penuh makanan.

Entah apa yang merasuki wanita itu. Chanyeol bahkan sampai heran. Mulutnya setengah menganga sementara matanya seolah tak berkedip saat memperhatikan Eunsoo menghabiskan tiga kotak dumpling dalam waktu yang terbilang singkat.

“Eunsoo, pelan-pelan.”gumam Chanyeol pelan.

Selesai menghabiskan tiga kotak, dan dengan mulut yang masih penuh dumpling, Eunsoo menarik sekotak dumpling yang semula berada di hadapan Chanyeol.

“Aku akan menghabiskan semuanya.”

“Apa?!”Chanyeol melotot. “Semua?!”

Eunsoo mengangguk dan menunjukkan senyuman gummy. “Eum. Aku sengaja tidak makan hari ini dan menunggu kau pulang, Chanyeol.”lalu mengelus-elus pipi Chanyeol dan mengabaikan Chanyeol yang menunjukkan ekspressi sedih.

Sebenarnya Chanyeol juga lapar. Ia belum makan dan pada awalnya, Ia berniat menyantap dumpling itu bersama Eunsoo.

Namun.. ah, sudahlah.

“Uhuk!”Eunsoo tiba-tiba tersedak.

“Eunsoo, kau tidak apa-apa?”Chanyeol tampak cemas. “Aku akan mengambilkan air untukmu.”

Chanyeol berniat berdiri namun Eunsoo mencegahnya. “Aku akan mengambilnya sendiri.”katanya, kemudian bangkit dan berjalan cepat menuju meja panjang yang berada tak jauh dari kulkas.

Chanyeol menatap punggung Eunsoo dengan tatapan cemas. Dan detik itu, ekor matanya tak sengaja menangkap dumpling yang tersisa satu di kotak.

Chanyeol melirik dumpling itu. Melirik Eunsoo yang tengah meneguk air. Lalu kembali melirik dumpling itu dan menelan samar salivanya. Eunsoo pasti sudah kenyang; pikirnya.

Lantas dengan gerakan cepat Chanyeol pun mengambil dumpling itu, lalu memasukkannya ke dalam mulut dalam sekali suapan.

Chanyeol tengah mengunyah dumpling itu dengan senyuman bahagia dan perasaan lega saat Eunsoo kembali mengenyakkan tubuh di sampingnya.

“Oh? Dimana dumplingnya?”Eunsoo bertanya sembari memandangi kotak itu dengan teliti.

Dan detik selanjutnya, Chanyeol langsung menghentikan pergerakan mulutnya. Lalu menatap Eunsoo dengan tatapan horor sementara wanita itu kini mulai menatapnya curiga.

“Chanyeol.”

Chanyeol mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Lalu menggeleng.

“Kau memakannya?”tanya Eunsoo, kemudian menusuk-nusuk pipi Chanyeol dengan jari telunjuknya, membuat wajah Chanyeol memerah lantaran mati-matian menahan rasa geli. “Kau memakannya?”Eunsoo menunjukkan wajah seolah ingin menangis, lalu menarik tangannya kembali. “Chanyeol kau memakan dumplingnya?”

“Tidak! Aku tidak…”

Seharusnya Chanyeol tidak bicara. Karena itu hanya membuat dumpling di dalam mulutnya kini tampak nyata di mata Eunsoo.

“Chanyeol kau…”wajah Eunsoo terlihat sedih.

“Eunsoo-ya. Aku tidak sengaja—“

“Aku masih ingin memakannya.”dan mata Eunsoo benar-benar terlihat memerah.

“Eunsoo jangan menangis—“

“CHANYEOOLL!!!”Eunsoo benar-benar menangis. “Aku ingin dumpling itu Chanyeol! Aku ingin dumpling itu!!!”

Chanyeol mengerti bahwa seseorang yang tengah hamil muda akan lebih sensitif dan akan cenderung marah jika kemauannya tidak dituruti. Maka Chanyeol langsung beranjak dari kursinya.

“Aku akan membelinya lagi untukmu Eunsoo. Kau tunggu saja, eoh?”kata Chanyeol. Lalu melesat pergi dan keluar dari apartemen dengan sandal rumah yang masih melekat di kakinya.

Beruntung, tadi Ia membeli dumpling yang dijual di sebuah kedai yang tak jauh dari apartemen.

Pada akhirnya Eunsoo bisa kembali tenang setelah Chanyeol membelikan dua kotak dumpling lagi untuknya. Wanita itu pun memakannya dengan lahap hingga tersisa satu dumpling di dalam kotak saat ini.

Eunsoo mengambil dumpling itu dan membiarkannya terus berada di tangan hingga beberapa saat. Chanyeol pun langsung menatapnya bingung. Namun saat Eunsoo melirik, Chanyeol langsung membuang pandangan ke arah lain.

“Chanyeol-ah.”

Chanyeol masih tidak ingin menatapnya. Merajuk, sepertinya. Melihat itu membuat Eunsoo akhirnya mendesis pelan. Lalu wanita itu bangkit dari kursinya dan beralih mendekat pada Chanyeol, lalu duduk di pangkuan Chanyeol hingga kini Chanyeol menatapnya dengan tatapan tak mengerti.

Eunsoo menunjukkan senyuman gummy. Menggigit setengah bagian dumpling itu kemudian merangkulkan kedua tangannya di leher Chanyeol. Dan mendekatkan wajah mereka.

“Eung!”erang Eunsoo.

Chanyeol mengerjap pelan. “Kau.. ingin aku memamakannya?”

Eunsoo mengangguk.

Setelah memperhatikan wajah Eunsoo dan dumpling di mulut Eunsoo selama beberapa kali, Chanyeol akhirnya tersenyum senang. Merangkulkan kedua tangannya di pinggang Eunsoo lalu mendekatkan mulutnya pada dumpling di mulut Eunsoo.

“Eunsoo-ya, kita akan melakukan dumplingkiss?”

“Eung?”

“Jika di drama, biasanya orang-orang akan melakukan stroberi—kiss, cokelat—kiss, kirm—kiss, dan kita akan melakukan dumplingkiss?”Chanyeol tersenyum lebar. “Kita seharusnya memasukkan dumplingkiss di dalam drama. Haha!”

“Eungg!!!”Eunsoo hanya bisa mengerang geram karena tidak bisa berbicara leluasa.

Seolah mengerti dengan Eunsoo yang sudah terlalu lama menunggu, Chanyeol pun mengangguk. Lalu menggigit sebagian dumpling di mulut Eunsoo dan memibiarkan bibir mereka terus bersentuhan hingga beberapa saat kemudian.

“Ya!”Eunsoo menjauhkan wajahnya dari Chanyeol. Mengunyah dumpling itu dengan santai dan melanjutkan. “Kau selalu mencari kesempatan. Ck!”

Chanyeol tersenyum gummy. Ia berniat mengunyah dumpling di mulutnya namun Eunsoo lebih dulu bersuara.

Omo!”Eunsoo tiba-tiba menahan kedua pipi Chanyeol, lalu menunjukkan wajah seolah ingin menangis. “Chanyeol-ah, kau mengambilnya terlalu banyak dariku.”

Huh?”

Sementara Chanyeol menatapnya dengan ekspressi kosong, Eunsoo justru mempertemukan bibir mereka kembali. Menarik tengkuk Chanyeol sembari mengambil dumpling itu dari dalam mulut Chanyeol.

Atau.. sebenarnya bukan dumpling itu yang menjadi tujuan utama Eunsoo. Karena Ia tampak menikmati dan tersenyum tipis meskipun Ia sudah menelan habis semua dumpling di dalam mulutnya dan dumpling yang Ia dapat dari dalam mulut Chanyeol.

Dan sangat muda bagi Chanyeol untuk mengerti situasi seperti ini.

Kelopak mata mereka masih sama-sama tertutup. Bibir mereka pun kini saling membalas lumatan dan kedua tangan mereka saling menarik membuat tubuh mereka semakin mendempet.

Setelah beberapa saat kemudian, mereka memisahkan bibir mereka perlahan.

Adalah Eunsoo yang kemudian menghembuskan napas lega, lalu merapikan rambut Chanyeol sembari menatap wajah pria itu lekat-lekat.

“Kau lapar?”

Chanyeol mengangguk dan tersenyum. “Eum, aku sangat lapar.”

“Kau tenang saja, aku sudah memasakkan daging untukmu.”

“Benarkah?”

“Hm.”

Chanyeol tersenyum senang. “Kalau begitu aku ingin makan. Tapi…”

“Tapi?”

Chanyeol nyengir. “Aku ingin dicium. Lagi.”

Eunsoo pun langsung mengecup gemas bibir Chanyeol.

“Cukup?”

“Lagi.”

Eunsoo melakukannya lagi.

“Cukup?”

“Lagi.”

Dan Eunsoo melakukannya lagi.

“Cukup?”

“Lagi.”

“……”

“Cukup?”

“Lagi.”

“…….”

“Cukup?”

“Aku mau lagi. Hihi!”

“…….”

“Bagaimana? Cukup?”

“Lagi Eunsoo! Lagi!”

“…….”

Oh.. Sepertinya mereka benar-benar menggunakan waktu mereka dengan baik.

.

.

.

.

.

Empat bulan usia kandungan Eunsoo…

Hari ini, Chanyeol pulang dari kantor hingga larut malam. Sepasang kakinya bergerak dengan langkah lelah membawa raganya menuju ke ruang dapur yang hanya disinari bias lampu dari ruang tengah.

Chanyeol membuka kulkas, mengambil sebotol air dingin lalu menuang air ke dalam gelas. Dan meminumnya.

“Chanyeol..”

Chanyeol berbalik.

“Bruuuuzzzhh…”pria itu langsung menyemburkan air dari dalam mulut ketika tak jauh di hadapannya saat ini, Eunsoo tengah berdiri dengan penampilan yang sangat aneh—atau menakutkan lebih tepatnya. “Eu-Eunsoo-ya..”

“Chanyeol-ah..”

Chanyeol pun langsung menekan saklar lampu yang berada tak jauh dari kulkas. Kemudian menatap Eunsoo. Dan terdiam memperhatikan penampilan Eunsoo dari ujung kaki hingga kepala wanita itu.

Eunsoo tampak mengenakan celana tidur milik Chanyeol yang berwarna putih dengan corak garis tipis. Terlihat kebesaran di tubuh Eunsoo. Eunsoo bahkan harus menahannya di salah satu sisi pinggang agar celana itu tidak jatuh dari kakinya. Eunsoo juga mengenakan baju hangat Chanyeol yang berwarna putih, dengan lengan panjang. Dan panjangnya membuat jari jemari Eunsoo bahkan tidak terlihat.

Oya, jangan lupakan rambut Eunsoo yang dalam keadaan berantakan.

“Eunsoo, k-kau sakit?”tanya Chanyeol.

Eunsoo menunjukkan wajah sedih. Lalu berjongkok. Dan menangis. “Kenapa kau pulang di jam seperti ini? Kenapa kau meninggalkanku sepanjang hari? Chanyeol-ah.. aku merindukanmu.. Aku harus bagaimana Chanyeol­-ah.. aku benar-benar merindukanmu..”

Sebenarnya Chanyeol kasihan melihat Eunsoo dengan kondisi seperti itu. Tapi entahlah, disaat bersamaan Chanyeol juga merasakan sesuatu yang terasa menggelitik di dalam hatinya, terasa geli membuat Chanyeol kini menahan senyuman.

“Chanyeol-ah.. aku merindukanmu..”Eunsoo terus menangis.

Chanyeol pun kemudian menghampirinya dan membawa tubuh Eunsoo berdiri, lalu mengangkat tubuh Eunsoo ala bridal hingga Eunsoo pun cepat-cepat merangkulkan kedua tangannya di leher Chanyeol. Dan menyandarkan kepalanya di dada Chanyeol.

“Kau makan apa hari ini sampai-sampai kau benar-benar merindukanku? Kau menelfon sembilan belas kali saat aku sedang mengikuti rapat.”

Eunsoo memeluk Chanyeol semakin erat. “Kau bisa diam?”ujarnya pelan. “Chanyeol-ah, bisakah kau tidak langsung mandi setelah ini? Aroma tubuhmu.. aku menyukai yang seperti ini.”

Chanyeol menilik wajah Eunsoo dan mengangguk. “Eum, tentu saja. Kalau begitu ayo, kita harus pergi ke kamar.”

Chanyeol mulai mengambil langkah untuk pergi.

Tak peduli selelah apapun tubuhnya saat ini, Chanyeol hanya merasakan bahagia. Perasaan bahagia yang begitu meluap-luap di dalam hatinya ketika Ia bisa menjalani setiap waktu bersama Eunsoo seperti saat ini.

“Eunsoo-ya.”

“Hmm.”

“Kenapa kau memakai bajuku yang itu?”

“Karena kau sering memakainya.”

“Bukan. Hanya saja.. saat kau berada di ruangan yang gelap, kau terlihat seperti han—“

“KAU MENGEJEKKU SEPERTI HANTU YA?!”

“Bu—bukan! Aku tidak—”

“KAU PIKIR ADA HANTU YANG CANTIK DAN SEKSI SEPERTIKU?!”

“………”

“Aku ingin dicium.”

H-huh?”

“Aku ingin dicium Chanyeol!”

“Tu-tunggu. Jangan bergerak! Tubuhmu berat. Aku akan meletakkanmu dulu di kasur—“

“TIDAK MAU!!”

“……….”

“Aku ingin dicium.. aku benar-benar merindukanmu, Chanyeol-ah…”

“……….”

“Cukup?”

“Lagi.”

“……….”

“Cukup?”

“Lagi. Aku mau lagi. Lagi. Lagi dan lagiiiiii!!!”

“………”

.

.

.

.

.

Perasaan cemas dan takut terus menghantui Chanyeol. Mungkin wajar, mengingat ini adalah kali pertama Ia menghadapi detik-detik menegangkan seperti saat ini.

Menunggu kelahiran buah cinta pertamanya bersama Eunsoo.

“Kenapa lama sekali? Kenapa mereka tidak keluar juga?”Chanyeol menggerutu cemas seraya berjalan mondar-mandir di depan pintu ruang operasi.

“Tenang Chanyeol, Eunsoo akan baik-baik saja.”Nyonya Park berusaha menenangkan Chanyeol. Menepuk-nepuk pundak Chanyeol setelah pria itu menghentikan pergerakannya.

“Ayah dulu juga seperti ini saat menunggu kelahiranmu. Kau tenang saja, semuanya akan baik-baik saja.”tambah Tuan Park.

Chanyeol menunduk, matanya memerah namun saat ini Ia bisa merasa sedikit lebih tenang.

Tak jauh dari Chanyeol berdiri, Ibu dan Ayah Eunsoo tampak duduk di kursi tunggu disertai raut cemas yang tergambar jelas di wajah mereka. Dan disamping kedua orang tua Eunsoo, Baekhyun, Kai, Sehun, Kyungsoo dan Joonmyeon tampak duduk dengan mata yang terlihat berat.

Okay, saat ini jam dua malam dan para pemuda itu tak mengerti mengapa Chanyeol tiba-tiba menelfon mereka satu jam yang lalu. Berteriak dan mengatakan bahwa ini adalah detik-detik menegangkan dimana para sahabat itu harus wajib menyaksikannya.

Chanyeol bahkan sempat mengancam Kai akan menendang bokongnya jika Kai tidak datang ke rumah sakit.

Kyungsoo yang selalu menjuluki Kai sebagai tukang tidur, merasa maklum ketika Kai barusaja menyandarkan kepala di pundaknya, dan pria berkulit gelap itu kembali terlelap.

“Ibu kenapa lama sekali?”Chanyeol kembali menggerutu.

Nyonya Park menghembuskan napas lelah. “Chanyeol, ini kelahiran pertama bagi Eunsoo. Dokter juga mengatakan bahwa Eunsoo harus menjalani operasi. Lagi pula operasinya baru berjalan dua puluh menit. Kau tahu? Ibu membutuhkan waktu lima jam untuk mengeluarkanmu.”

Chanyeol membeku.

Dan di deretan kursi tunggu, Sehun dan yang lainnya—minus Kai—langsung duduk tegap dan menatap nyonya Park dengan mata membulat.

“APA?! LIMA JAM?!”

“Ya, lima jam.”

“………”

“………”

“………”

“………”

“………”

“………”

.

.

.

.

.

Semua orang kini bisa bernapas dengan lega. Setelah dua hari yang lalu, para orang tua dan kerabat dekat menunggu selama kurang lebih enam jam, rasa lelah dan kantuk karena menunggu itu seolah terbayar karena kehadiran seorang bayi laki-laki yang terlahir selamat dari dalam perut Eunsoo.

Di ruang bayi saat ini, kedua orang Chanyeol dan kedua orang tua Eunsoo tampak mengelilingi sebuah kotak bayi berukuran sedang, mereka tengah memperhatikan bagaimana bayi laki-laki itu tidur dengan pulas di dalam sana.

“Haruskah kita merawatnya terlebih dahulu?”gumam nyonya Shin.

“Ya, kau benar. Eunsoo tidak pernah menyukai anak kecil.”timpal tuan Shin.

“Tapi dia sudah menikah. Bagaimana jika ternyata Eunsoo sudah berubah?”sahut nyonya Park.

“Aku bekerja setiap hari bersama Chanyeol, dia mengalami banyak kemajuan. Kurasa Eunsoo juga.”tambah tuan Park.

Mereka akhirnya kembali berdiri dengan tegap, lalu saling memandang bergantian dengan tatapan penuh arti.

Pada akhirnya, mereka keluar dari ruangan itu. Bersama bayi kecil yang saat ini berada dalam dekapan nyonya Park.

Menyisakan sebuah kotak bayi yang kosong di sana. Yang terdapat beberapa tulisan di bagian depan…

‘Park Hoon; Putra dari Tuan Park Chanyeol dan Nyonya Park Eunsoo’

.

.

.

Ruangan bercat serba putih itu diselimuti rasa haru dan bahagia. Di ranjang rawat, Eunsoo yang masih lemah tampak duduk dengan menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang rawat. Chanyeol tampak setia duduk di sampingnya dan di pangkuan Eunsoo saat ini, bayi itu tampak menguap kecil.

“Ya! Ya! Ya! Anak kita menguap Eunsoo.”Chanyeol menatap putranya dengan gemas. Lalu jari telunjuknya kini mengelus pelan pipi sang bayi yang kembali tidur dengan tenang.

Eunsoo pun tersenyum senang melihatnya. “Chanyeol-ah, kau lihat? Hidungnya mirip sekali denganmu.”

“Benarkah?”Chanyeol semakin mendempet. “Hmm.. lihat bibirnya. Bibirnya mirip sekali denganmu, Eunsoo.”

“Kurasa matanya akan mirip denganmu.”

“Dan alisnya sama persis seperti milikmu.”

Mereka kemudian saling memandang, berbagi senyuman bahagia membuat para orang tua yang sedari tadi berdiri tak jauh dari mereka turut menyunggingkan senyuman bahagia.

Nyonya Shin bahkan tidak sadar bahwa setitik air bening barusaja jatuh dari sudut matanya. Dan sang suami yang melihat itu hanya menyentuh kedua pundaknya, lalu tersenyum dan membawa nyonya Shin keluar dari ruangan.

Kedua orang tua Chanyeol pun turut keluar, membiarkan Chanyeol dan keluarga kecilnya terus diselimuti rasa bahagia yang begitu meluap-luap.

“Lihat tangannya Eunsoo. Tangannya kecil sekali.”

Eoh, kakinya juga. Kulitnya sangat halus.”

“Apa anak kita akan tumbuh menjadi pria yang tampan?”

“Eum, tentu saja. Sepertimu.”

Mereka kemudian saling memandang, lalu berbagi ciuman tanpa menyadari bahwa bayi kecil mereka, Park Hoon, barusaja membuka matanya perlahan-lahan.

Dan pemandangan pertama kali yang bisa Hoon lihat dari kedua orang tuanya benar-benar pemandangan yang tampak indah di matanya.

Entah bagaimana, bibir tipis Hoon tiba-tiba menyunggingkan senyuman tipis. Ia kembali menutup matanya, kemudian tidur bersamaan dengan Chanyeol dan Eunsoo yang juga melepas ciuman mereka.

“Aku mencintaimu, Eunsoo-ya.”gumam Chanyeol. Tersenyum hangat, memeluk Eunsoo dan Hoon bersamaan lalu melanjutkan. “Dan anak kita, Park Hoon.”

.

.

.

.

.

Detik berganti dengan menit. Menit berganti dengan jam dan akan seterusnya seperti itu.

Waktu terasa begitu singkat jika kita menjalaninya dengan perasaan yang bahagia.

Ya, mungkin seperti itu.

“EUNSOO! DI MANA DASIKU YANG BERWARNA BIRU?!”

Eunsoo langsung mematikan kompor, dengan apron bunga-bunga yang masih melekat di tubuh dan spatula yang masih berada di tangan, wanita itu langsung berlari dari dapur setelah mendengar teriakan Chanyeol menggema dari dalam kamar mereka.

Meninggalkan seorang bayi berusia sembilan bulan yang saat ini tengah duduk tenang di kursi khusus miliknya. Di depan meja makan, balita itu tampak duduk sembari memperhatikan potongan apel di tangannya, lalu mengemutnya dan menggigiti apel itu menggunakan gusi depannya yang masih polos.

Hoon menoleh ke arah pintu penghubung dapur saat mendengar derap langkah mendekati ruangan itu. Seraya terus mengemut apel yang Ia genggam, mengabaikan sedikit air liurnya yang terkadang menetes dari sudut mulut.

“Eunsoo-ya!”

“Pasang sendiri Chanyeol!”

“Aku tidak mau!”

Chanyeol terus mengekor di belakang Eunsoo sembari menyodorkan dasinya pada Eunsoo. Namun wanita itu seperti mengabaikannya dan lebih peduli dengan masakannya yang belum beres di atas kompor.

Maka Chanyeol tidak punya pilihan lain selain memeluk erat-erat sang istri dari belakang, lalu membenamkan wajahnya di leher Eunsoo, menggelitiki leher Eunsoo menggunakan dagunya.

“CHANYEOL-AH!!!”

Hoon terlonjak kaget karena pekikan sang Ibu. Ia pun mendiamkan apel di tangannya kemudian menatap Chanyeol dan Eunsoo dengan mata bolanya.

“Pasangkan untukku, eoh?”Chanyeol merampas paksa spatula dari tangan Eunsoo, lalu membawa Eunsoo dan memojokkan wanita itu di sisi meja konter dapur. “Pasangkan untukku, sayang.”kata Chanyeol, menyodorkan dasi miliknya di hadapan Eunsoo sembari menunjukkan senyuman gummy.

Eunsoo menatapnya selama beberapa saat. Mendengus. Dan Eunsoo yakin, ini tidak akan selesai jika Ia tidak cepat-cepat mengambil dasi itu lalu memasangkannya di leher Chanyeol.

Dan menariknya.

“AAA—Ya! kau ingin membunuhku?!”seru Chanyeol ketika Eunsoo terlalu kuat menariknya.

Wanita itu menunjukkan senyuman manis dibuat-buat. “Maaf!”lalu menunjukkan wajah datar. “Minggir Chanyeol, aku belum selesai memasak.”

Eunsoo berniat pergi namun Chanyeol menahan kedua lengannya.

“Sebenatar Eunsoo, sebentar.”katanya, mendekatkan wajah mereka dan melanjutkan. “Kiss?”

Eunsoo mengerjap pelan, lalu melirik Hoon yang berada tak jauh dari mereka. Yang saat ini tengah bertepuk tangan sembari menatap kedua orang tuanya dengan tatapan antusias.

Eunsoo membuang napas kasar. Menatap Chanyeol dengan geram lalu memukul lengan atas pria itu. “Ya!”

“Aw! Eunsoo-ya!”

“Jangan di depan Hoon.”

Chanyeol langsung menoleh, mendapati Hoon yang kembali sibuk dengan potongan apel di tangannya.

“Hoon-ie, tidak melihat Eunsoo.”gumam Chanyeol kemudian.

Eunsoo menggigit bibir bawahnya dengan geram, lalu…

“CHANYEOOLL!!!”

“IYAAAA!! Iya! Iya!” Chanyeol pun langsung menjauh dari hadapan Eunsoo, lalu berlari kecil mendekari Hoon dan memberikan kecupan dalam di pipi gembul Hoon, membuat Hoon mengerang tertahan. Balita itu bahkan mulai berteriak saat apelnya lepas dari genggaman dan jatuh ke lantai akibat perlakuan sang Ayah padanya.

“Eee…”Hoon bersiap menangis, namun mengurungkan niat setelah Chanyeol melepas ciumannya. Hoon kemudian menoleh ke arah Chanyeol dan mendapati sang Ayah tengah tersenyum padanya.

“Ayah mencintaimu, Hoon-ie sayang. Jaga Ibu baik-baik selagi Ayah bekerja, hm?” Lalu Chanyeol memberikan kecupan dalam di bibir Hoon, membuat Hoon bahkan harus memundurkan kepala sejauh beberapa senti.

Ditengah-tengah perlakuan Chanyeol pada Hoon, Eunsoo baru menyadari sesuatu.

Ia melotot.

Ya Tuhan, Chanyeol belum memakai celana—lagi. Padahal Ia sudah memakai kaus kaki.

“Chanyeol-ah.”

Chanyeol langsung berdiri. “Apa? Kau juga mau di cium?”

“Kenapa kau belum memakai celanamu?”

Chanyeol tersenyum ringan. “Kupikir kau ingin melihat adik kecil—AAA EUNSOO!!”

Dan Hoon hanya bisa terkikik geli menyaksikan kedua orang tuanya yang kini tengah berlari saling mengejar mengitari meja makan. Mengelilinginya. Hoon kembali bertepuk tangan. Ia melupakan apelnya dan memilih menikmari waktu menyenangkan bersama kedua orang tuanya.

“Ya! Kemari kau Chanyeol!”

“Jika kau akan menciumku aku akan mendekatimu!”

“CHANYEOOL!!!”

“Hahaha! Lihat Hoon-ie, wajah Ibu memerah!”

“Ya!”

Sungguh, Hoon bahagia. Menjalani setiap waktu bersama keluarga kecilnya.

.

.

.

.

.

“Yang satu untuk Ayah. Yang satu untuk Hoon-ie.”

Hanya Park Chanyeol, yang akan berkata seperti itu pada balita yang tidak tahu apa-apa.

Di atas tempat tidur, Eunsoo yang terlentang di antara Chanyeol dan Hoon hanya bisa menghembuskan napas yang terdengar berat. Lalu menunduk dan memperhatikan Chanyeol yang barusaja meletakkan satu telapak tangan Hoon ke salah satu payudaranya. Sementara payudara yang satunya lagi kemudian tertutupi oleh telapak tangan sang suami.

“Hihi!”Chanyeol nyengir. “Begini ‘kan lebih adil. Hoon-ie setuju?”

Hoon menarik tangannya dari dada Eunsoo, Ia yang semula tidur memeluk Ibunya kemudian bangkit, merangkak naik di atas perut Eunsoo lalu menjatuhkan diri di antara Eunsoo dan Chanyeol.

“Hoon-ie!!”seru Chanyeol tertahan. “Ini sudah lebih dari satu minggu! Ayah dan Ibu tidak—“

“Chanyeol.”

Okay, tidak boleh bicara seperti itu di depan Hoon-ie. Tapi Eunsoo?!”

Sementara Chanyeol menunjukkan wajah frustasi, Hoon justru ikut terlentang di samping Ibunya, di samping Chanyeol, balita itu mengemut beberapa jemarinya sembari menatap Chanyeol disertai kekehan kecil. Kedua kakinya bahkan mulai digesek-gesekkan di permukaan kasur membuat Chanyeol yang melihat itu tidak tahan untuk tidak menciumnya.

Hoon mengerang tertahan. Lalu mencengkram apapun yang bisa dijapai oleh tangannya—kali ini telinga sang Ayah.

“Akh—Ya!”ringis Chanyeol. Melepas ciumannya lalu menatap Hoon dengan wajah cemberut. “Hoon-ie, kenapa kau menarik telinga Ayah?”

Hoon terkikik geli; karena Ayah sangat lucu.

Okay, sudah malam. Kita akan tidur.”Chanyeol akhirnya menarik selimut dan menutupkan selimut itu hingga batas dada mereka.

Kini, Eunsoo langsung menghadapkan tubuhnya pada Hoon begitupun Chanyeol. Setelah itu terdengar ocehan pelan yang terlontar dari bibir Hoon seraya kedua kakinya terus bergerak-gerak di permukaan kasur.

Sungguh, Hoon selalu merasa senang dan aman jika berada di antara kedua orang tuanya seperti saat ini.

Benar-benar membuatnya merasa bahagia.

“Hoon-ie.”Chanyeol mendekatkan mulutnya pada Hoon. Lalu berbisik. “Besok kau harus tidur di tempat tidurmu. Kau tahu? Ayah sudah bekerja pagi hingga sore dan Ayah juga ingin menghabiskan waktu bersama Ibu.”

Eunsoo yang mendengar itu hanya menyunggingkan senyuman kecil.

“Janji?”

Hoon meraih uluran jari kelingking Chanyeol, menggenggamnya dengan kedua tangan.

Lalu mengemutnya.

“Ya! Ya! Ya!”

Hoon menggigiti kelingking Chanyeol dengan gemas. Dan itu benar-benar terasa geli membuat Chanyeol tidak bisa menahan tawanya.

“Hoon-ie hentikan.”

Eunsoo tersenyum disertai kelopak mata yang mulai terasa berat. “Sudah malam, sebaiknya tidur.”

Chanyeol pun langsung menarik tangannya dari mulut Hoon, lalu mendekap Hoon dengan hangat dan mengajak Hoon untuk memperhatikan Eunsoo.

“Hoon-ie, kau lihat? Ibu sudah mengantuk, kau harus segera tidur. Kau mengerti?”

Hoon mengoceh seraya menepuk tangan sekali.

“Anak pintar.”gumam Chanyeol, mengelus puncak kepala Hoon yang ditumbuhi rambut halus kecokelatan. Chanyeol kemudian setengah bangkit, memberikan kecupan hangat di bibir Eunsoo dan kembali merebahkan tubuhnya dengan nyaman. “Hoon-ie, kau tidak ingin mencium Ibu?”

Hoon mengerti karena setiap malam Ia selalu melakukan ini. Yang perlu Ia lakukan hanya bangkit dan duduk, lalu merangkak ke arah Ibunya dan mendaratkan bibirnya pada bibir sang Ibu. Setelah itu, Hoon akan berputar dan melakukan hal yang sama pada sang Ayah. Kemudian kembali merebahkan tubuhnya dan memandangi kedua orang tuanya bergantian disertai senyuman yang terukir di bibir tipisnya.

“Selamat malam.”gumam Eunsoo, memeluk Hoon dan Chanyeol bersamaan. Kemudian menutup mata.

Chanyeol pun turun mengulurkan satu tangannya untuk memeluk Hoon dan Eunsoo bersamaan. “Selamat malam.”

Dan Hoon sendiri akan menghadapkan tubuhnya pada sang Ibu, memeluk tubuh wanita itu dengan tangan mungilnya dan mengoceh pelan, sampai rasa kantuk akhirnya datang menghampiri.

Terkadang, Chanyeol terbangun di pertengan malam.

Seperti saat ini. Sekedar bangun untuk membetulkan selimut yang menutupi tubuh mereka atau memberikan kecupan di kening Eunsoo dan Hoon.

“Aku mencintaimu.”

Kelopak mata Eunsoo terbuka perlahan. Wanita itu kemudian tersenyum. “Aku juga mencintaimu.”

“Eunsoo, kau belum tidur?”tanya Chanyeol semakin mendekat.

Eunsoo melirik Hoon yang terlelap di tengah-tengah mereka, lalu melirik sesuatu yang bergerak di balik kaosnya.

Di dadanya.

Dan menatap Chanyeol dengan kelopak mata yang kembali tertutup perlahan. “Jangan bergerak lagi Chanyeol, aku ingin tidur.”

Chanyeol tersenyum getir dan mengangguk. “Eum.”lalu mendekatkan mulutnya pada belakang kepala Hoon dan berbisik. “Hoon-ie, karena kau tidur, dua-duanya jadi milik Ayah. Hehe..”

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

*finish*

Aku selesai ngetik ini kira-kira jam satu malam. WOW! Haha. Mulainya malam juga sih. Jadi langsung post aja.

Well, aku mau ngucapin terima kasih untuk semua penikmat Fanfiction Series STUPID LOVERS’ ini. Baik yang aktif komen maupun yang baca abis itu langsung pergi gitu aja. Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk membaca fiction absurd dari yang ter-absurd seperti ini.

Ya, benar. Ini series terakhir. Itu artinya aku ngga bakal lanjutin Fanfiction Series ini lagi. Selain.. rasanya lelah gitu ya, ini adalah kali ketiga aku buat Series Chanyeol—Eunsoo yang ada Hoon-nya. Yang satu udah tamat. Yang satu masih On-Going (kadang-kadang) dan yang ini bakal aku STOP sampe sini. Aku harap kalian bisa mengambil sisi positif dari Fanfiction ini (kalo memang ada /uhuk/) dan jangan hiraukan yang negatif-negatifnya.

Ah! Pokoknya banyak-banyak terima kasih dan BIG LOVE

At last, BIG THANKS FOR YOU GUYS. YOU’RE THE BEST!! 😉

CHIywwpVIAAUPxK

+

6580-04kvp0o1km

=

baby-mason

247 responses to “[FINAL SERIES] STUPID LOVERS (HAPPILY EVER AFTER) by noonapark

  1. Gila, ngakak bgt pas bagian si Chanyeol.jawab oertanyaan si eunsoo tentang hal yg ping gk disukai. Wkwkwk. Annyeong Park Hoon… akhirnya kamu munucul, walau cuman 1 series doank. Wkwkwk

  2. author keren banget bisa bikin ff , imajinasinya bagus , kocak deh , ga mainstream ,dan jalan cetanya juga bagus , dan santai juga , ga terlalu kaku, pokoknya aku suka , duh sampe nulis ff ini dari jam 1 malam , eonni gomawo udh nyempetin bikin ff yang bagus banget , gomawo manjain readers sama ff ff nya eon yg Daebak , lucu , punya kesan tersendiri , aku suka banget , aku kalo baca ngacak eon chapternya hehe , tapi aku pasti comment kok 🙂 aku bakal jadi readers setia yg ngikutin aturan , Gomawo Fanfiction nya eonni , hwaiting yah nulis2 lagi nyaaa , ditunggu 🙂 Gomawo

  3. hwaaaaaa….. :'((((((((
    udah end aja nih seriesnya…. :'(((
    gak kerasa….., aku ketawa ketiwi sendiri pas bagian si hoonnya lagi makan apel :D, terus pas eunsoo melahirkan , hahhaha….. gak kebayang mukanya temen temen si chanyeol, yang nunggu eunsoo melahirkan sampe 6 jam >,<

  4. belom sempet baca ternyata udh ending aja.

    chanyeol always mesum yah. tobat yeol, inget bulan ramadhan haha.

    aduhh pasti bakal kangen sama story ini. lucu abis, unik juga hihi.

    see you in another chansoo story kak.

  5. aaaa 😟😟 udah abis aja … bakal kangen sama sifat pervert chanyeol dan eunsoo yang comel 😂 aku suka ff ini 😉

  6. aku nganga …sambil bengong bacanya ..
    gila chanyeol emang udah gila aduh tuh orang harus dimasukin kerumah sakit jiwa.. wkwkwk
    aduh tuh anaknya bakalan ngikutin chanyeol kaga ya….
    AAAA aku jadi kepikiran mesumnya chanyeol dia bias utama aku lo #gananya wkwkkwk….
    ya author abis deh ceritanya… tapi ending nya bagus ko aku suka … keren banget nih ff walau hanya oneshot tapi sangatt daebak.. feellllll nya selalu dapet dan bikin ngiri aku dan mungkin semua pembaca.. dan juga adegan mesum chanyeol yanng sumpah dah ngegemeain banget wkwkkwkkk
    pokonya di tunggu karya karya yang lainnya.. ok ok

  7. Wah udah end ini ya ???
    Ternyta ga nyangka ya klo dr awal bca series ini, ktika hbungan mreka msih skdar sahabat, pacaran smpe nikah, dan trnyta skrg sdh punya ank…
    Aq sring berkhyal, seandaina mnti khidupn RT q nnti bisa semanis hidup RT Yeoll & Eunsoo…
    Mereka sungguh manisn harmonis…
    Okeh dc aq mau ngubek2 lg ya dsni,,
    Ditunggu krya slnjutnya ya noonapark…
    Tetep semangat yaaa 😉

  8. Aaaaaa lucu banget lucu banget lucu banget lycu banget. Gila min romantisnya dapet bgt wow akhirnya selesai dah ini ff nya yeayy seneng bgt kekekeke pasangan eunsoo Chanyeol emg jjang!!! Disini sifat chanyeol juga kaya aslinya ahhh pokoknya bagus bgt ff nya makasih buat authorbyg udah membuat ff ini it is amazing. Endingnya juga bener2 daebak ahh gabisa stop bilang ini bagus. Big thanks to admin.

  9. Ya ampun author kesayangan emng paling aduh ai deh ff nya cintaaaaaaaaa bngt, makasi thor udh bikin ff sebagus ini, sbg reader aku jg bnyk kurangnya mngkin aku kdng suka lupa kasih komen, tp yg jelas aku slalu suka sama ff bikin kaka author(canggung manggilnya) hehe, apalagi series chanyeol-eunsoo ini ya ampun bikin nagih, tp skrng udh tamat berasa kaya lega aja dan seneng bangeeet happly ever after gtuuu. Thanks yaa thor, jgn brenti bikin karya ff yg bagus2, fighting!
    Much love ❤ :*

  10. ya ampun duh.. chanyeol km bner2 mesum.. hahahaha
    duh kluarga kcil ini pnuh kbahagiaan..
    keep writing ^^

  11. Huhuhu.. Happy ever after chan-soo ..😁😁
    Kak sorry ya bru sempet komen disini.. Soalnya setiap mau komen kagak bisa..*masalah email nya mungkin* tpi sekarang udah bisa.. Jadi aku bakalan komen semua ff kakak.. Sorry ya kak.. Tpi ini cerita nya keren abis… Suka deh sma ff karangan kk .. Keep writing 💪

  12. woahhhh part terkeren di ff ini ,akhirnya ending juga, dari awal sampai ending bahagia ya ^^ ,

  13. Hi!! Eon salam kenal, saya reader baru disini, suka aja sama ff series yang eonnie bikin… Eon kalau ada waktu lanjuti lagi ya 🙂 HHë‘hë‘hë‘hë H…

    Fighting!

  14. Wahaha mereka kejar-kejaran didepan hoon coba 😀 hihi hoon lucu banget 😀 jangan lupa pake celana lagi park chanyeol 😀 yang terakhirnya kaaakk chanyeol pervert banget -_- jangan sampe hoon gedenya kaya chanyeol ya 😀

  15. Endingnya itu lhoo XD
    Parah parah parah chanyeol mesum parah. Besar kemungkinan anak chanyeol dan eunsoo bakalan mesum kayak bapaknya. Astag.
    Bener” keluarga bahagiaaaa :3 jadi pengen… kkkkk
    Authornim keren! Keep writing! Hwaiting! ^^♥

  16. YAAMPUUUNN AKU SUKA INIII❤️❤️❤️
    Chanyeol nya bertanggung jawab /? Ya waktu si eunsoo nya ngidam wkwkwk XD aku ngakak guling2 waktu baca yang chanyeol telpon sahabat2 nya sambil panik-an gitu wkwkwkw XD etdaahh chanyeol udh jadi suami org juga dia teteup aja begitu XD
    Nama anak mereka kiyut yaaah Park Hoon duh jatuh cinta sama keluarga mereka disini!! 😍😍
    Ini belum end kan yah? Ada kelanjutannya kan? Yang daddy’s trick itu?
    Okeeyy~~ next next~~
    Fighting!!

    Smooch ! ❤

  17. lucu pas baca eunsoo nya ngidam
    hoon ie ayah mu mesum banget sayang
    moga hoon ie nanti besar kelakuan nya gak seperti ayahnya mesum -_-

  18. Ini ff keren banget!
    Manis banget ceritanya
    Bahasanya bagus
    Ceritanya menarik
    Ga ngebosenin
    aku suka banget sm tulisan author ini💕
    Terusin bikin ff yang manis kayak gini yaaa! Aku suka banget. Aku fans author ini💖💖💖 hihihi

  19. happily ever after, waah hoon-ie beruntung yah punya orangtua absurd kayak chanyeol sama eunsoo,hahaha basicly i totaly love this!

  20. aaaa keluarga kecil ini bener2 bikin iriii, suatu saat semoga punya keluarga kecil kaya gini yaa, hidup bahagia dengan pikiran positif dan selalu bahagia…huaahhhh…^^

  21. ngakak banget sumpah yaampun chanyeol kayanya kalo aku jadi istrinya aku bahagia banget meskipun chanyeol mesum kekeke~ gabisa ngomentar apapun selain aaahhh daebakk thor :v tapi aku ketinggalan banyak banget dan oh iya thor typonya masih banyak 🙂 keep writing yaa

  22. Endingnya keren….. Woahh… Aku suka. Ada konflik tapi gak terlalu panjang terus romantis lagi. Komedi tetep dapet.

    Ketika Eunsoo lemas karena Morning Sickness, Chanyeol perhatiaaaannnn banget huhuhu…. Nyampe gak masuk kerja. Dan selama hamil Chanyeol begitu perhatian sama Eunsoo. Love it.

    Masa ya semuanya ditelepon pas Eunsoo melahirkan hahaha mana Jam 1 mlm. Pake acara ngancem lagi hahaha…. Mereka itu (Kai, Sehun, Jeonmyoon, Kyungso) disini teman kuliah ya ceritanya, aku melewatkan apa aku lupa ya?

    Chanyeol yang meskipun udah punya baby tetep aj seperti Chanyeol sebelumnya. Hahahaha

    Seneng bgt ya Happy family :*

    Dan jangan lupakan ketika Chanyeol bilang pada Hoon untuk berbagi hahahaha ya Ampuunnnn…..

    Park Hoon… Lucu banget di fotonya. Cakep mirip ayah nya hehehe

    Meskipun udah selesai tapi tetep aj masih penasaran sama kehidupan Chanyeol, Eunsoo dan Hoon-ie. Mudah-mudahan masih terus ada ya cerita-cerita tentang mereka.

    Semangat terus ya buat NoonaPark. ^^

  23. Akhirnya selesai baca dari awal sampe final *strech* demi apalaaah ini cerita keren banget ! Mulai dari pacaran sampe punya Hoon, semua ceritanya bikin ngakak. Adaaaa aja ulahnya yeol ataupun eunsoo yang kocak. Sama sekali gak ngebosenin XD
    Penuturan ceritanya juga keren, dapet banget feelnya.
    Pokoknya ini jadi couple*atau keluarga ya?* favorit ♥♥
    Ditunggu cerita lainnya ya ~ fighting ^^

  24. Ahhhhhh akhirnya selsei juga. Ff nya bagus banget noona, psti ga bisa move on deh sm ff ini, aku bru prtama kali bac ff yg genre nya romance comedy, tp lgsg jtuh cinta. Dan asli ini ff nya lucu tiap part nya pasti bkin aku ketawa2 sndiri haha.
    Bahagia bnget khidpan mreka, awalnya tmenan dr kcil ampe gede lgsg pcrn, trus nikah, trus punya anak aduuhhh bkin iri. Eunsoo cntik bnget lagi, anaknya jg gnteng. Jtuh cinta bnget pkokx sm ff ini unn, bhs nya pun gmpang dimengerti, gmpang dibayangin, trus ga brtele2. Suka suka suka…….

  25. Daebak! Keluarga yg bahagia, selalu harmonis juga penuh kelucuan. Seru bgt bacanya bikin ketawa2 sendiri 😀

  26. wow…
    happy family…
    😉 🙂
    sukaaaaa bgt sma kluarga ini selalu bahagia hidupnya dwarnai kebersamaan n saling melengkapi.. harmonis bgt couple ini…
    sayang ini series terakhir..
    tp ttp daebaaakkk… ❤ ❤ ❤ 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s