Affairs of the Heart [Chapter 6]

Affair of the Heart(9)

AFFAIRS OF THE HEART

Kim Seo Na – Byun Baek Hyun – Byun Hye Ra – Kim Joon Myeon

Romance, Drama, Marriage Life

PG-17

Previous Chapter :

[Chapter 1] [Chapter 2] [Chapter 3] [Chapter 4] [Chapter 5]

C H A P T E R  S I X

“Bagaimana dengan awan itu?” bisik Baekhyun.

“Kelihatannya seperti seekor kelinci,” jawab Seona seraya terkekeh.

“Itu sih memang menurutmu semua awan terlihat seperti kelinci,” cibir Baekhyun.

Seona tertawa. “Well, menurutku awan-awan itu mempunyai bentuk yang sama.”

Mereka berada di taman, berbaring di atas sebuah selimut di tempat yang sama ketika mereka bercinta. Tidak ada seorangpun yang datang ke tempat ini jadi mereka mengklaim tempat tersebut menjadi milik mereka.

Seona merasa seperti mereka telah berada di sana selama satu jam, tetapi kenyataannya hanya setengah jam. Seona menghela nafas seraya merapatkan tubuhnya ke pelukan Baekhyun. Ia tersenyum ketika Baekhyun mengeratkan pelukannya.

Seona merasa sangat nyaman yang membuatnya hampir melupakan tekanan yang ia rasakan selama seminggu ini. Ia tidak pernah berpikir bahwa ia membutuhkan perjuangan untuk menghindari Baekhyun dan Joon Myeon tidur dengannya. Ia telah mengatakan berbagai macam alasan  tentunya.

Tetapi walaupun komitmennya untuk tidak melakukan seks dengan Joon Myeon masih besar, sedangkan dengan Baekhyun perlahan melemah. Dan itu aneh karena Joon Myeonlah yang lebih menginginkannya sementara Baekhyun tidak pernah menyebutkan hal itu kembali.

Tetapi ia harus tetap kuat. Sejauh ini semuanya baik-baik saja dan tidak ada seorangpun yang mengetahui bahwa ia tidak kembali menjalin hubungannya dengan Baekhyun bahkan Nara pun tidak tahu. Nara tetap berpikir bahwa Baekhyun telah pergi dari kehidupannya.

Seona memilih untuk tetap merahasiakannya.

“Kau membutuhkan sebuah imajinasi yang lebih besar, Seona.” Baekhyun membalikkan tubuhnya diatas Seona, menahan tubuhnya dengan sikunya sehingga ia tidak akan jatuh diatas Seona. “Aku punya sebuah pertanyaan untukmu.”

Seona menaikkan sebelah alisnya. “Apa?”

“Kita telah bertemu satu sama lain kira-kira selama dua minggu, kan?”

Seona menganggukkan kepalanya.

“Apakah kau ingin pergi ke suatu tempat akhir pekan ini denganku?”

“Kemana?”

“Aku pikir Italia.”

Seona membulatkan matanya dengan terkejut sekaligus gembira. “Benarkah?”

Baekhyun menganggukkan kepalanya. “Iya.”

“Apakah ini sebuah perjalanan bisnis?”

“Tidak. Lebih tepatnya liburan dengan kekasihku.”

Seona terdiam sejenak.

“Kekasih?” tanya Seona dengan sangat pelan. “Aku……kekasihmu?”

Baekhyun tersenyum padanya. “Tentu.” Ia melihat bibir Seona mengembang menjadi sebuah senyuman. Baekhyun menundukkan kepalanya, tetapi bibirnya tidak menyentuh bibir Seona. “Jika kau menciumku, aku akan menganggapnya kau setuju untuk ikut denganku.”

Seona tahu bahwa pondasi yang ia buat untuk melingkarkan lengannya ke leher Baekhyun dan memintanya untuk bercinta dengannya. Tetapi Seona menginginkannya. Seona menginginkannya dengan sepenuh hati.

Seona mengedipkan matanya.

“Well,” gumam Seona. “Ada rumah yang sedang aku hias ulang. Klienku menginginkannya selesai secepat mungkin.”

“Tidak bisakah orang lain yang melakukan untukmu?”

Seona berpura-pura untuk berpikir. “Ya, kupikir. Tetapi itu sangat tidak professional bagiku untuk mengambil cuti di akhir pekan untuk alasan pribadi.”

“Apakah kau sering melakukannya?”

“Tidak. Ini akan menjadi yang pertama kali.”

“Kalau begitu tidak apa-apa.” Baekhyun mengerutkan dahinya, dimatanya terlihat jelas bahwa ia tidak sabar. “Jadi apakah kau akan menciumku, iya atau tidak?”

Seona tertawa pelan sebelum ia mengangkat kepalanya agar bibir mereka saling bertemu. Baekhyun suka mencium bibir Seona. Ia mengangkat kepalanya and turun kebawah agar ia dapat mengistirahatkan kepalanya di perut Seona.

Baekhyun menghela nafas, setengah senang dan setengah menyesal. Akhir pekan ini akan menjadi sangat menyenangkan dengan Seona, tetapi ia tidak akan bisa melupakan sebab utama mengapa ia ingin pergi ke Italia bersama Seona. Ia ingin menjauhi Hyera.

Semalam, Baekhyun pulang ke rumah setelah mengantarkan Seona pulang. Ia berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air tetapi Hyera telah berada disana.

“Haus, Sayang?” tanya Hyera seraya mengangkat segelas air.

“Ini hari kamis, mengapa kau masih bangun? Bukankah kau ada janji bertemu dengan dokter besok pagi?” Baekhyun menjawab seraya mengambil segelas air dari genggaman Hyera.

“Ya, tetapi aku ingin menunggumu.”

Baekhyun meminum segelas penuh air.

Dan selanjutnya hal yang ia tahu adalah ia terbangun pagi ini tanpa mengingat apapun kejadian semalam. Yang lebih buruk adalah Hyera berada di sampingnya, tanpa mengenakan apapun.

“Betapa menakjubkannya semalam,” gumam Hyera padanya. Baekhyun baru menyadari bahwa ia juga tidak mengenakan apapun.

“Apa yang kita lakukan?” Mau tak mau Baekhyun bertanya. Itu seharusnya sudah jelas tetapi ia masih tidak percaya apa yang telah mereka lakukan semalam.

Hyera memberikan tatapan bingung padanya. “Kita bercinta.”

Sekarang, saat Baekhyun membaringkan kepalanya di atas perut Seona, ia tidak bisa percaya bahwa ia telah tidur dengan Hyera. Tentu saja, itu tidak salah karena mereka adalah pasangan suami istri. Tetapi sejak ia bertemu dengan Seona, ia berjanji untuk tidak ‘tidur’ dengan Hyera. Dan sekarang ia tidak mengerti bagaimana dan mengapa ia mengingkari janjinya. Ia bahkan tidak mengingat kejadian semalam.

Tetapi Baekhyun merasa bahwa ia telah mengkhianati Seona. Itu ironis bahwa Baekhyun merasa telah mengkhianati Seona karena tidur bersama istrinya sendiri. Dan akhir pekan ini adalah caranya untuk menghindari Hyera dan memperbaiki hubungannya dengan Seona.

Baekhyun benci harus menyimpan rahasia ini dari Seona. Ia benci takdirnya yang membuatnya bertemu dengan Seona setelah ia sudah menikah, memaksanya untuk berbohong kepada Seona. Tetapi terkadang ia berterima kasih kepada Tuhan setidaknya telah mengizinkan dirinya bertemu dengan Seona, bahka jika waktunya tidak tepat. Baekhyun memiliki banyak penyesalan di dalam dirinya. Ia menyesal telah berselingkuh dan melanjutkan hubungannya, ia menyesal berbohong kepada istrinya tetapi yang paling penting, ia menyesal berbohong kepada Seona.

Benar, proitasnya tidak lagi-, tetapi itu tidak penting kecuali Seona dan kebahagiannya yang dibawa oleh Seona. Mungkin ia adalah seorang pria yang buruk karena tidak peduli bahwa ia telah mempunyai seorang istri, mengabaikan rasa penyesalannya, memiliki wanita dalam satu waktu dan bahkan berbohong kepada mereka.

Tetapi Baekhyun benar-benar beruntung mempunyai Seona di dalam hidupnya.

“Baekhyun, jam berapa kita akan pergi?”

“Nanti malam jam 9. Mau aku yang menjemputmu?”

Akhir-akhir ini Seona berusaha untuk tidak membiarkan Baekhyun menjemputnya dari rumah, jadi Baekhyun telah memperkirakan bahwa Seona akan mengatakan tidak.

“Ya.”

Baekhyun mengangkat kepalanya dengan terkejut. “Benarkah?”

“Ya. Ada masalah?”

“Tidak apa-apa. Hanya akhir-akhir ini kau tidak ingin aku menjemputmu.”

“Oh. Itu hanya…kau bersikeras untuk membayar semuanya dan aku tidak ingin kau menjemputku juga.”

Baekhyun menatap Seona. “Baiklah, sayang. Walaupun itu tetap tidak memperjelasnya.”

Seona terkekeh. “Aku tahu. Kupikir aku menginginkan untuk memiliki sedikit harga diri kewanitaan. Maksudku,kau tidak membiarkanku untuk membayar apapun lebih tepatnya kau tidak memberiku kesempatan untuk membayarnya.”

Baekhyun tersenyum mendengarnya. “Oh ya, tentu. Tetapi untuk kebanyakan orang itu akan seperti aku memiliki katakanlah sugar daddy*.”

*sugar daddy adalah seorang pria tua kaya yang memberikan banyak hadiah sebagai imbalan kepada wanita muda karena sudah menemaninya ataupun memberikan kenikmatan seksual.

“Tidak benar, seorang sugar daddy akan memberikanmu banyak hadiah, sedangkan aku tidak memberikan hadiah apapun padamu.”

“Baiklah, aku ragu kalau aku harus marah atau tidak. Tetapi omong-omong karena kau telah membayar semuanya, aku tidak ingin kau juga menjadi supirku.”

“Jadi apa yang berubah?”

“Aku tidak ingin mengendarai mobil ke bandara.”

“Baiklah,” ucap Baekhyun dengan tersenyum.

.

.

.

Joon Myeon menatap Seona ketika mereka sedang duduk di kursi ruang tamu dan meminum kopi.

“Kau apa?”

“Aku akan pergi ke Italia.” Seona mengulang ucapannya dengan tenang. “Bisnis. Disana ada vagab tabf ingin kulihat.”

“Tetapi bisakah kau meminta mereka untuk mengirimkan contohnya saja?”

“Aku sudah memintanya. Tetapi bahan tersebut akan terkena biaya pengiriman kalau aku meminta mereka untuk mengirimkannya kesini. Lebih baik aku melihatnya sendiri dan aku juga tidak ingin membelinya tanpa melihatnya terlebih dahulu.”

Joon Myeon mengontrol keinginannya untuk memerintah Seona agar ia tetap di rumah. Tetapi justru ia berkata, “Aku sangat tidak yakin membiarkanmu di Italia sendirian.”

“Joon Myeon, kau akan pergi sendirian. Apa yang salah kalau aku pergi sendirian juga?”

Joon Myeon meletakkan kopinya di atas meja. Kalau ia menuntut Seona untuk tetap disini, itu tidak akan berhasil. Jadi Ia hanya akan mengatakan kerugian berada di Italia padanya dan biasanya selalu berhasil.

“Pikirkan, sayang. Kau akan bosan disana sendirian.”

“Itu tidak apa-apa. Aku akan mencoba untuk mencari sesuatu yang bisa kulakukan.”

“Kau tidak memiliki penjaga yang melindungimu dari pria-pria Italia itu.”

“Aku tidak punya penjaga yang melindungiku dari pria-pria disini.”

“Bagaimana kalau sesuatu terjadi padamu? Disana tidak ada yang memberitahu kita tentang hal itu karena kau adalah seorang turis.”

“Ada paspor dan tanda pengenalku.”

“Dan kalau seorang pencuri mengambilnya?”

“Setiap negara di dunia ini memiliki beberapa database dari negara-negara lain. Jadi yang mereka butuhkan adalah DNA-ku kemudian mereka akan memasukan datanya kedalam komputer. Kalau sesuatu terjadi padaku, mereka akan tahu siapa aku dan memberitahumu.”

Joon Myeon menjadi frustasi. Tidak pernah sebelumnya Seona melawan setiap peringatannya. Jika ia tidak mencari alasan lain, maka Seona akan pergi.

“Bagaimana aku akan menghubungimu, Seona?”

Seona menyeruput kopinya. “Ponselku.”

“Aku tidak ingin kau pergi kesana sendirian. Kalau kau harus pergi setidaknya tunggu sampai aku kembali.”

Seona menggelengkan kepalanya. “Maafkan aku, tetapi semuanya telah diurus. Aku sudah membayar tiket–”

“Tanpa persetujuanku?!”

Mata Seona membulat, terkejut karena tiba-tiba Joon Myeon menghardiknya

“Persetujuanmu?”

“Ya. Kau tidak bisa membeli apapun kalau aku tidak mengizinkanmu.”

“Sejak kapan?”

“Sejak dulu. Aku menolak untuk membiarkanmu pergi ke Italia!”

Seona meletakkan cangkirnya di atas meja lalu berdiri. Ia menatap Joon Myeon dengan marah karena Joon Myeon berpikir bahwa ia memiliki hak untuk mengontrolnya

“Kau tidak bisa menghentikanku, Joon Myeon. Kau tidak mengontrolku!”

“Sekarang aku melakukannya. Aku menyarankan agar kau duduk dan diam karena aku tidak senang apabila istriku sendiri tidak menghargaiku. Lakukan seperti apa yang aku katakan!”

“Aku tidak seharusnya mendengarkan semua omong kosong ini.” Seona membalikkan badannya dan mulai berjalan menjauhi Joon Myeon.

Joon Myeon berdiri disana sejenak. Ia tidak dapat percaya bahwa istrinya-. Ia sangat marah, bahkan ia tidak peduli lagi untuk mengontrol dirinya. Sejak mereka menikah, Joon Myeon harus mengontrol keinginannya untuk memerintah Seona. Ia mempelajari bagaimana ayahnya mengontrol ibunya. Joon Myeon selalu tahu bagaimana mengontrol Seona tanpa membiarkan Seona tahu bahwa dirinya sedang dikontrol olehnya.

Tetapi sekarang, Joon Myeon lupa tentang semua yang ada dipikirannya. Joon Myeon terlihat marah ketika ia melihat istrinya berjalan menjauhinya. Ia tidak akan membiarkannya.

Joon Myeon berjalan dua langkah kedepan lalu menarik lengan Seona dan membalikkan tubuhnya agar menghadapnya.

“Berani-benarinya kau berjalan menjauhiku! Dengar dan dengarkan baik-baik, sayang. Itu akan menjadi hari yang buruk sebelum aku membiarkanmu pergi ke Italia tanpa persetujuanku dan juga sebelum aku membiarkanmu tidak menghargaiku. Kau adalah seorang istri dan tempat seorang istri berada di belakang suaminya.”

“Jadi kau berpikir kau adalah majikanku dan aku adalah pelayanmu?” Seona meraih pergelangan tangan Joon Myeon dan memaksanya untuk melepaskan genggamannya. “Asal kau tahu, aku lebih dari istrimu. Aku seorang wanita mandiri yang tidak memerlukan persetujuanmu untuk pergi ke Italia. Kau tidak bisa menghentikanku.”

Joon Myeon tidak dapat percaya apa yang terjadi. Seona menggenggam pergelangan tangannya dan menatapnya dengan tekad yang kuat, sesuatu yang Seona tidak pernah lakukan sebelumnya. Dengan marah dan tenaga yang lebih dari ia butuhkan, Joon Myeon mengangkat tangannya dari cengkramannya.

Dan tangannya menyentuh pipi Seona dengan keras.

Kepala Seona tertoleh ke sebelah dan disaat yang bersamaan ia terhuyung kebelakang. Perlahan, Seona menolehkan wajahnya dan menatap Joon Myeon. “Kau menamparku.” Seona tidak berteriak ataupun berbisik, melainkan mengatakannya dengan datar.

Joon Myeon tidak dapat percaya apa yang telah ia lakukan. Itu benar-benar tidak disengaja. Seona telah menggenggam pergelangan tangan Joon Myeon di dekat bahunya dan ketika Joon Myeon melepaskan pergelangan tangannya dari cengkraman Seona, ia melayangkan tangannya ke arah diagonal yaitu ke pipi Seona. Tetapi rasanya menyenangkan ketika menamparnya walaupun itu bukan disengaja.

Tetapi Joon Myeon tidak mengatakan hal itu pada Seona. Ia bahkan tidak dapat bergerak. Ia hanya melihat Seona menggerakkan bibirnya dengan kata ‘brengsek’. Kemudian Seona berbalik dan berlari dari ruang tamu.

Joon Myeon menghela nafas lalu duduk di sofa, mengusap wajahnya. Sekarang Seona pasti akan pergi ke Italia dan ia tidak bisa menghentikannya bahkan mungkin Seona tidak ingin berdekatan dengannya.

Setelah kejadian tadi, Joon Myeon tidak ingin melihat Seona sebelum ia pergi. Joon Myeon khawatir bahwa dirinya mungkin saja akan menamparnya kembali, kali ini disengaja. Ia tidak menyangka bahwa rasanya benar-benar menyenangkan.

.

Seona berlari menuju kamar tidurnya dan menghempaskan dirinya di tempat tidurnya yang besar. Seona menangis, karena rasa sakit dan amarahnya. Joon Myeon telah menamparnya. Ia tidak pernah menamparnya. Seona mengangkat tangannya ke pipinya dan meringis seperti tersengat. Ia bahkan tidak menyentuh pipinya setelah suaminya sendiri menamparnya, seorang pria yang ia percaya.

Bagaimana bisa Joon Myeon menamparnya?

Bagaimana bisa Joon Myeon mencoba untuk mengontrolnya?

Yang ia ingin lakukan adalah menghabiskan akhir pekannya bersama Baekhyun, dan ia berakhir mendapatkan sebuah tamparan di wajahnya. Dan semua apa yang ia katakan pada Joon Myeon adalah bahwa ia pergi ke Italia untuk melihat sebuah contoh bahan. Itu adalah sebuah kebohongan, tentunya, tetapi Joon Myeon tetap marah karenanya.

Ketika rasa sakit dan amarahnya berakhir, Seona membaringkan tubuhnya kebelakang lalu menatap langit-langit kamarnya. Pipinya masih terasa sakit dan mungkin matanya memerah karena menangis tetapi kepalanya tidak lagi terasa sakit. Sekarang ia bisa berpikir dengan jernih.

Seiring berjalannya waktu, Seona menyadari bahwa tamparan tersebut tidak disengaja. Melihat dimana Seona mencengkram pergelangan tangan Joon Myeon,  Seona berpikir ketika Joon Myeon menginginkannya untuk melepaskannya, justru tanpa sengaja Joon Myeon menamparnya bukan dengan telapak tangannya melainkan dengan punggung tangannya.

Tetapi apa yang membuatnya tidak mengerti adalah bagaimana Joon Myeon mencoba untuk mengontrolnya, bagaimana Joon Myeon mencelanya dari seorang wanita mandiri menjadi seorang istri yang seharusnya berlindung di bayangan suaminya.

Saat ini Seona tidak peduli. Ia akan pergi ke Italia bersama Baekhyun dan suaminya tidak akan menghentikannya.

.

.

.

“Berapa lama kau akan berada di Amerika?” Hyera bertanya saat melihat Baekhyun sedang berkemas.

“Hanya dua hari.”

“Tidak bisalah kau mengirimkan seseorang untuk melakukannya?”

“Tidak. Mereka ingin aku pergi dan aku tidak ingin orang lain pergi menggantikanku. Ini adalah pertemuan yang sangat penting, Hyera. Jika ini berjalan baik, Byun’s Corp akan diketahui secara internasional. Kau tau betapa banyak publikasi yang Byun’s Corp dapatkan disana?” Baekhyun berbohong. Ia tidak akan mengatakan kepada siapapun kemana sebenarnya ia akan pergi.

Hyera cemberut. “Aku tidak ingin kau pergi. Aku akan kesepian, Baekhyun.”

Hyera mendengar Baekhyun bergumam, “Aku tidak menyangka kau tidak berteriak padaku.”

“Ya. Aku akhir-akhir ini suasana hatiku sedang tidak stabil. Aku menyesal tidak percaya padamu, Sayang. Aku benar-benar menyesal. Kau benar. Aku harus percaya padamu.” Hyera tersenyum licik. “Bukankah aku sudah membuktikan kepercayaanku padamu semalam?”

Baekhyun tidak menjawabnya.

“Aku tahu seharusnya aku tidak berteriak padamu dan ketika kau mengatakan akan pergi ke suatu tempat, maka itulah tempat yang kau tuju.”

“Bagus.” Baekhyun melirik ke arah jam. “Aku akan mandi. Apakah kau keberatan menyelesaikannya?”

“Tentu saja tidak, Sayang.”

Hyera melihat Baekhyun memasuki kamar mandi dan menutup pintunya. Dengan tersenyum ia membereskan pakaian yang telah dipilih oleh Baekhyun untuk diambil dan diletakkan di koper Baekhyun. Ketika Hyera telah selesai, ia berbalik dan berjalan menuju cermin.

Hyera hamil.

Seharusnya ia haid beberapa hari yang lalu, tetapi ia tidak. Dan ia tidak pernah telat. Ia selalu menyukai keuntungan menjadi seseorang yang haid tepat waktu karena ia selalu siap ketika waktunya telah datang.

Terlebih lagi, Baekhyun akan berpikir bahwa itu adalah anaknya. Kemarin akhirnya Hyera mendapatkan obat bius yang ia butuhkan. Setelah meletakkannya di dalam gelas berisi air, Hyera menunggu Baekhyun pulang ke rumah. Begitu Baekhyun meminumnya, ia mulai terlihat pusing dan meminta bantuannya untuk menaiki tangga dan ke tempat tidur.

Baekhyun pingsan ketika mereka sudah berada di tempat tidur. Kemudian Hyera melepaskan pakaian Baekhyun dan juga pakaiannya sebelum ia ikut berbaring disebelah Baekhyun. Hyera melingkarkan lengan Baekhyun ke lengannya dan ia meletakkan kepalanya di atas dada Baekhyun kemudian tersenyum sebelum ia tertidur.

Hyera hampir menyesal ketika Baekhyun bangun lebih awal dan bingung dengan apa yang telah terjadi. Tetapi Hyera hanya berpura-pura bahwa mereka telah bercinta ketika Baekhyun mencoba untuk mengingat sesuatu yang tidak pernah terjadi. Tetapi Hyera tidak peduli. Ia telah mendapatkan apa yang ia inginkan. Baekhyun tidak akan tahu bahwa bayi yang berada di kandungannya milik pria lain.

“Hyera?”

Hyera menoleh ke arah pintu dan melihat Yi Fan berjalan ke dalam seraya membawa nampan berisi secangkir teh. “ Ini teh yang kau pesan.”

“Terima kasih.” Hyera berjalan ke arah Yi Fan dan mengambil tehnya. “Kau tahu bahwa Baekhyun pergi nanti malam, kan?” gumam Hyera.

“Ya.”

“Jadi, kau dan aku akan menghabiskan waktu bersama selama akhir pekan ini.”

“Hyera, kau tahu bagaimana perasaanku padamu. Tetapi aku rasa tidak benar menjadi kekasihmu. Kalau Bai Xian mengetahuinya, seluruh rencana kita akan hancur.”

“Ia tidak akan mengetahuinya. Yi Fan, Sayang. Aku membutuhkanmu. Kumohon jangan gelisah.”

“Kalau Bai Xian mengetahuinya, ia akan menceraikanmu, Hyera. Mengapa kau tidak takut?”

“Karena aku tahu ia tidak akan pernah mengetahui tentang kita. Jadi, kumohon, akankah kau datang ke kamarku nanti malam?”

Yi Fan menghela nafas, lebih tepatnya menyerah, sebelum ia menggelengkan kepalanya. “Tidur denganmu memang satu hal yang kuinginkan, tetapi tidur denganmu di tempat tidur suamimu bukanlah keinginanku.”

“Kalau begitu haruskah aku yang pergi ke kamarmu?”

Yi Fan menganggukkan kepalanya. “Maukah kau, sayangku?”

Hyera ingin sekali memutar bola matanya, tetapi justru ia memberikan sebuah ciuman di pipi Yi Fan. “Tentu.”

Yi Fan tersenyum sebelum membalikkan badannya dan keluar dari kamar tersebut. Hyera berjalan kembali menuju cermin.

“Aku seperti seorang perempuan yang buruk,” gumam Seona masih menatap cermin. “Aku hamil dengan anak Yi Fan dan ia bahkan tidak mengetahuinya. Justru, aku akan memberitahu hal tersebut di pesta nanti bahwa aku hamil anak Baekhyun. Dan Baekhyun akan memperhatikanku dan bayi ini.”=

Hyera menghela nafas. “Kalau saja apa yang terjadi semalam benar-benar terjadi. Suamiku adalah suami yang luar biasa bahkan lebih dari Yi Fan dan itu sangat disayangkan bahwa aku tidak akan pernah tidur dengannya lagi karena begitu bayi ini lahir maka Baekhyun akan menghilang dari muka bumi ini, tidak akan pernah terlihat lagi.” Hyera tertawa pelan seraya mengusap perutnya.

Yi Fan berdiri di sebelah pintu. Awalnya ia ingin kembali untuk bertanya jika Hyera menginginkan sepotong kue dengan tehnya, tetapi justru ia mendengar setiap kata-kata liciknya yang keluar dari mulutnya.

“Dasar wanita pembohong.”

Hyera berbohong padanya. Hyera mengandung anaknya. Ketika Hyera datang padanya dua minggu yang lalu, Hyera berkata bahwa ia mengandung anak Baekhyun. Dan sekarang ia mengetahui bahwa Hyera hamil karenanya.

Yi Fan, dan pelayan lainnya di rumah ini tahu rencananya dan tahu Baekhyu akan ‘menghilang’. Tetapi mereka semua diberi tahu bahwa itu adalah anak Baekhyun. Mereka semua tahu apa yang akan terjadi begitu Hyera melahirkan dan Baekhyun ‘menghilang’. Hyera akan menyingkirkan bayinya.

Berani-beraninya wanita itu menggunakannya untuk membuatnya hamil dan mencoba untuk mengklaim bahwa anak yang dikandung Hyera adalah anak dari pria lain! Yi Fan memang seorang pria yang jahat, tetapi ia tidak sejahat itu yang tidak peduli tentang anaknya yang belum lahir. Ia peduli. Ia bahkan tidak pernah menyukai ide Hyera untuk menyingkirkan anak Baekhyun dengan membunuhnya. Bayi itu tidak seharusnya dibunuh.

Dan sekarang, bayi kecilnya berada di dalam kandungan Hyera. Walaupun bayi itu belum lahir bahkan baru saja terbentuk tetapi itu merupakan bayinya. Yi Fan harus melindunginya.

Firasatnya langsung berkata untuk mengatakan semuanya kepada Baekhyun tetapi itu hanya akan membuatnya dipecat dan dipenjara. Ia tidak bisa dipenjara. Tetapi jika ia tidak mengatakan semuanya kepada Baekhyun…..semuanya akan berjalan sesuai rencanya. Baekhyun akan menghilang dan bayinya akan dibunuh. Ia tidak bisa membiarkan hal tersebut terjadi. Ia tidak bisa. Ia harus menghentikannya.

Bahkan jika itu artinya harus menyabotase rencananya yang telah dibuat lama sebelum Hyera dan Baekhyun pernah bertemu.

.

.

Menarik” bisik Chen sambil mengamati bentuk gambar di foto putih. Dia berada di sebuah ruangan kecil yang gelap, hanya diterangi dua lampu merah yang menghasilkan cahaya merah gelap.

Di meja ada beberapa panci berisi air, masing-masing dari mereka memiliki gambar di dalamnya. Chen menggantung gambar lainnya untuk dikering pada sebuah tali yang menggantung dari satu ujung ruangan ke kanan lain di atas deretan panci. Tumpukan foto yang telah menering berada di sudut, membuat tumpukan besar.

“Sangat menarik.” Dia meraih gambar menggunakan sepasang penjepit dan meraih klip, melampirkan pada gambar yang masih basah sebelum melampirkan ujung klip pada tali tersebut. Dia tersenyum sambil memandang pasangan yang berada di foto itu. Dia ingat beberapa malam yang lalu ia berjalan menyusuri jalan kemudian ia melihat Nyonya Kim berciuman dengan seorang pria yang bukan suaminya. Lantas ia mengeluarkan kameranya untuk mengambil gambar sebelum ia berbalik dan berjalan kembali menyusuri jalan.

Punggung kekasihnya membelakanginya jadi Chen tidak tahu siapa pria itu. Tapi sekarang itu tidak penting. Untuk saat ini, mengetahui bahwa dia berselingkuh pun sudah cukup. Dia hanya membutuhkan beberapa foto lagi seperti salah satu yang ada di depan wajahnya dan itu sekarang adalah gambar terbaik yang pernah diambil.

Kemudian, setelah ia cukup memiliki foto-foto tersebut, dia akan pergi mencari kekasih dan mendapatkan wajahnya untuk difoto.

Dan itu akan sangat menarik.

.

.

.

Sebuah senyuman terlihat di wajahnya ketika Baekhyun melihat Seona berjalan melewati pagar seraya membawa kopernya. Baekhyun hendak keluar dari mobilnya untuk membantu Seona masuk kedalam mobil. Tetapi sebelum ia melakukannya, Seona mulai berjalan dengan cepat. Seona meraih pintu mobilnya sebelum Baekhyun keluar dari mobilnya.

“Mengapa kau berlari?”

“Aku tidak berlari,” jawabnya ketika memasuki mobil lalu meletakkan kopernya di kursi belakang. “Aku berjalan cepat.”

“Baiklah, mengapa kau berjalan cepat?”

“Karena dingin dan aku tidak ingin menunggumu untuk keluar dari mobil dan membukakan pintu untukku.”

“Betapa egoisnya kekasihku,” ejek Baekhyun lalu ia tersenyum lebar.

“Dan betapa mengagumkannya kekasihku.” Seona mencondongkan tubuhnya ke depan untuk memberikan Baekhyun sebuah ciuman. Baekhyun menyambutnya dan mengangkat sebelah tangannya ke pipi Seona.

Baekhyun mendengar Seona meringis dan Baekhyun tiba-tiba sedikit mendorong tubuh Seona lalu melepaskan tangannya dari pipi Seona.

“Ada apa?” tanya Baekhyun dengan khawatir.

“T–Tidak apa-apa,” jawab Seona setengah berbisik, sebisa mungkin menghindari tatapan mata Baekhyun. Justru Seona menatap jendela, kepalanya membelakangi Baekhyun sehingga Baekhyun hanya dapat melihat rambut cokelatnya.

Dengan sedikit keberanian, Baekhyun meletakkan tangannya di pipi Seona agar ia dapat memalingkan wajah Seona menghadapnya tetapi Seona kembali meringis dan melepaskan tangan Baekhyun dari wajahnya. Baekhyun mengerutkan dahinya saat kecurigaan terlintas dipikirannya.

Apakah seseorang menamparnya?

Baekhyun menyalakan lampu mobil yang membuatnya dapat melihat-. Baekhyun meraih dagu Seona agar Seona menatapnya. Ia menghiraukan usaha Seona untuk menjauhinya dan tetap memegang dagunya dengan kuat.

Baekhyun terkejut ketika ia melihat pipinya yang memar. Seluruh pipi kiri Seona berwarna hitam kebiru-biruan.

“Siapa yang memukulmu?!” tanya Baekhyun melalui giginya yang terkatup, ia marah pada siapapun yang berani menampar Seona dan juga pada Seona yang tidak mengatakan tentang hal itu.

Seona menatap Baekhyun, matanya membesar karena rasa takut dan menyesal. Baekhyun sangat marah, ia tidak melihat mata Seona yang mulai memerah.

“B-Baekhyun, t-tenanglah-“

Baekhyun hampir berteriak. “Tenang?!”

Baekhyun melepaskan dagu Seona dan meletakkan kedua tangannya di bahu Seona. “Seseorang telah menamparmu dan bahkan kau tidak mengatakan padaku! Aku tahu kau mengarapkan aku tidak menyadarinya, kan?!”

“T-Tidak seorangpun yang menamparku-“

“Omong kosong, Seona. Itu sudah jelas seseorang telah melakukan kekerasan padamu dan aku ingin tahu siapa yang telah melakukan itu!”

Seona menggelengkan kepalanya marah. “Tidak seorangpun yang menamparku.” =

“Jangan berbohong padaku!”

“Kumohon, Baekhyun-”

“Katakan padaku, Seona!”

Seona memejamkan matanya, tidak seperti sebelumnya kali ini ia benar-benar takut. Ia mengutuk Joon Myeon yang telah membuatnya berada di situasi seperti ini. Jika ia mengatakan pada Baekhyun siapa yang telah menamparnya, Baekhyun akan tahu bahwa ia telah menikah. Seona tidak dapat mengatakannya pada Baekhyun, tidak sekarang. Mungkin suatu hari nanti, ia akan mengatakan pada Baekhyun bahwa ia berbohong mengenai statusnya. Ya, Seona mungkin kehilangan pria tampan dan menganggumkan yang membuatnya merasa beruntung pernah bertemu dengannya. Ya, Seona mungkin tidak akan pernah lagi melihat mata hitamnya yang pekat ketika ‘waktunya’ datang.

Tetapi tidak sekarang……tidak sekarang……

Seona membuka matanya, air matanya membasahi pipinya. “Aku terjatuh!”

“Aku terjatuh dan pipiku terbentur meja.”

“Kau berbohong!”

“Aku tidak!” Seona terisak.

Baekhyun tidak melihat air mata Seona. Satu-satunya yang ia lihat di pikirannya adalah pria yang menampar Seona dan itu membuatnya naik darah.

“Lee Seona, lebih baik kau katakan siapa yang melakukan kekerasan padamu karena kalau kau tidak mengatakannya, aku akan memaksa masuk ke dalam rumahmu untuk mencari jawaban yang sudah jelas kau tidak ingin katakan padaku! Sekarang katakan padaku siapa yang menamparmu!”

“Kau menyakitiku!”

Kalimat tersebut membuatnya tersadar dari kemarahannya. Tiba-tiba ia sadar bahwa tangannya telah mencengkram erat di lengan Seona. Ia bahkan bisa merasakan tulang Seona yang seperti akan hancur saat ini juga. Baekhyun melonggarkan genggamannya dan melihat air mata mengalir di pipi Seona. Baekhyun melihat rasa sakit dan takut di matanya dan itu membuatnya benar-benar menyesal.

Dan terlebih lagi, Baekhyun tahu bahwa ia adalah seseorang yang telah membuat Seona menangis.

Baekhyun mencondongkan tubuhnya ke depan dan mencium pipi Seona sekaligus menghapus air matanya. Itu sangat lembut bahkan Seona hampir tidak dapat merasakannya. Seona memejamkan matanya, berharap Baekhyun akan membiarkannya pergi agar ia dapat berlari ke rumahnya dan menghempaskan dirinya ke tempat tidurnya untuk menangis. Seona benar-benar ingin sendirian sejenak. Tetapi mungkin Baekhyun tahu apa yang ingin ia lakukan karena Baekhyun tidak membiarkannya pergi, dan perlahan Seona karena ia tersadar bahwa ia tidak ingin sendirian dan tidak ingin menangis kembali.

Seona tidak ingin apa yang Joon Myeon telah lakukan pada pipinya akan menghancurkan liburannya dengan Baekhyun. Semua yang ia inginkan adalah bersama Baekhyun dan ingin dilindungi olehnya. Seona tahu Baekhyun tidak akan pernah menyakitinya dengan sengaja.

Seona membuka matanya ketika ia merasa Baekhyun menjauhinya, dan di mata Baekhyun ia melihat kesedihan dan penyesalan karena menyakitinya. Tidak lagi kemarahannya dan Seona bersyukur karena kemarahannya membuatnya takut. Baekhyun marah pada Joon Myeon, walaupun Baekhyun tidak mengetahuinya, karena Joon Myeon menamparnya. Tetapi bagaimana kemarahannya nanti begitu Baekhyun mengetahui rahasianya yang telah ia tutupi darinya? Seona tidak ingin kemarahannya mengarah padanya.

Baekhyun tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Seona karena wajahnya terlihat kosong. Baekhyun menatap lengan Seona yang sedang ia genggam dan sedikit menurunkannya sehingga kedua tangannya berada di siku Seona. Baekhyun memejamkan matanya sejenak, memaki dirinya sendiri. Ketika ia melihat lengan atas Seona berwarna kemerahan kemudian tiba-tiba Baekhyun memeluknya dengan erat.

“Aku menyesal,” bisik Baekhyun. “Aku tidak bermaksud untuk menyakitimu. Aku tidak bermaksud untuk menakutimu. Tetapi pikiran mengenai pria yang menyakitimu, membuat aku sangat marah dan itu semakin membuatku marah ketika kau tidak mengatakan padaku siapa dia.”

Seona tidak langsung melingkarkan lengannya dipunggung Baekhyun, dan hal tersebut membuat Baekhyun berpikir bahwa ia telah membuat Seona merasa sangat takut. Tetapi Baekhyun merasakan lengan Seona melingkari lehernya, memeluknya seperti sedang mencari perlindungan.

Mereka cukup lama tetap berada di posisi seperti itu, saling memeluk satu sama lain.

Seona memecah keheningan. “Aku tidak ingin merusak acara liburan kita ke Italia.”

“Tidak akan. Tetapi aku tidak bisa berjanji padamu bahwa aku tidak akan marah setiap kali aku melihat luka memar di pipimu.” Baekhyun meletakkan sebelah tangannya di pipi Seona yang tidak memar. “Seiring berjalannya waktu kau akan mengatakan padaku siapa yang menamparmu.”

Seona mengalihkan tatapannya.

“Tidak, Seona, kumohon jangan menghindariku. Katakan padaku.”

Seona terdiam sejenak. “Mengapa kau tidak percaya aku hanya terjatuh?”

“Karena aku tahu itu hanya sebuah kebohongan.”

Seona menatap Baekhyun. “Aku pikir aku bisa menutupinya darimu.”

“Apa yang membuatmu berpikir bahwa aku tidak akan melihatnya?”

Seona mengangkat bahunya. “Aku tidak tahu. Aku hanya berharap kau tidak menyadarinya walaupun itu hanya angan-angan saja.”

Awalnya Baekhyun ragu-ragu, namun ia memutuskan untuk menyentuhkan bibirnya dengan bibir Seona. “Aku tidak bisa melindungimu kalau kau bahkan tidak mengatakan padaku siapa yang menamparmu.”

“Aku–” Seona berhenti. “Aku tidak ingin membicarakan hal ini lagi.”

Baekhyun ingin memaksanya, tetapi ia tahu bahwa ia tidak akan mendapatkan apapun dari Seona. Setidaknya belum. Ia akan tahu siapa yang menamparnya, tidak peduli berapa lama waktu yang diperlukan. Dan kamudian ia akan mencari bajingan itu dan kemudian membunuhnya.

Tetapi yang pertama ia butuhkan adalah melihat Seona tersenyum. Ia tidak bisa tahan melihat kesedihan di mata Seona.

“Baik, kita tidak akan membicarakan tentang hal ini sekarang.” Baekhyun tersenyum pada Seona. “Begitu kita sampai di Italia, aku akan menghalangi siapapun yang datang ke kamar kita dan bercinta denganmu tanpa henti dan aku akan menggeram pada siapapun yang berani mengganggu kita.”

“Kau mengingatkanku dengan seekor serigala.”

Baekhyun terkekeh kemudian mencium Seona dengan penuh gairah sebelum Baekhyun melepaskannya dan mulai menghidupkan mesin mobilnya.

“Baiklah, ayo kita pergi sebelum ketinggalan penerbangan kita.”

Seona tersenyum menatap Baekhyun. Hanya Baekhyun yang dapat membuatnya melupakan semua masalahnya

.

.

.

Nara sedang membersihkan ruangan Seona, menyiapkannya untuk hari esok, dan tiba-tiba telepon diruangan Seona berbunyi. Nara mengangkatnya dan meletakkan diantara telinganya dan bahunya.

“Eye Avenue,” jawabnya langsung seraya ia membawa dua buku ke rak buku yang berada di sisi kiri ruangan.

“Yeoboseyo, ini Hyera.”

Nara tersenyum. “Oh hai, Hyera. Namaku Nara dan aku yang akan menghias rumahmu akhir pekan ini. Apakah Seona mengatakannya padamu?”

“Oh ya. Ia telah menelponku tadi.”

“Bagus. Aku ingin kau tahu bahwa ia telah memberikan padaku semua idenya untuk ruang kerjamu.”

“Terima kasih. Aku ingin kau tahu bahwa aku ingin rumahku siap secepatnya. Aku lupa mengatakan padanya, tapi ketika ia kembali dari Italia akankah kau membantuku dan mengatakan padanya bahwa aku akan sangat menyukai hasil kerjanya kalau ia mengerjakan rumahku lebih cepat.”

“Tentu sa-” Mata Nara membulat. “Italia?”

“Ya. Bukankah ia mengatakan padamu kalau ia akan pergi ke Italia?”

Ia tidak mengatakannya.

“Hmm, ya. Ya ia mengatakannya. Aku lupa. Ia pasti telah mengatakan padaku ketika aku sibuk mengurus pekerjaanku. Bisakah kau mengatakan padaku alasan ia pergi ke sana?”

“Tentu. Dia berkata bahwa disana ada bahan yang baru dan langka, dan ia ingin melihatnya tetapi mereka tidak memberikan contoh untuknya dengan gratis. Jadi ia memutuskan untuk pergi kesana daripada membayar contoh bahan dengan biaya setidaknya 300 dollar.”

“Oh, ya! Sekarang aku ingat!” Nara mengigit bibirnya.”Terima kasih, Hyera.”

“Tidak masalah. Sampai bertemu besok.”

“Ya, sampai bertemu besok.”

Nara menutup teleponnya, matanya menyipit dengan marah.

Seona berbohong padanya.

Seona telah mengatakan padanya bahwa ia membutuhkan sedikit istirahat jadi ia akan tinggal di rumah pribadinya dan tidak ingin siapapun mengganggunya. Dengan kata lain, ia tidak ingin siapapun datang kesana ataupun menelponnya.

Dengan penuh tekad, Nara mengangkat teleponnya lagi dan menghubungi nomor sahabatnya.

Tidak ada satupun yang menjawab panggilannya. Nara tahu bahwa pelayan di rumah Seona pulang sekitar jam 8 malam, tetapi jika Seona dan Joon Myeon pergi ke luar negeri makan seseorang selalu berada disana untuk menjaga rumahnya.

Akhirnya, seseorang menjawab panggilannya.

“Kediaman Kim.”

“Yeoboseyo. Apakah Seona dirumah?”

“Maaf, tetapi Nyonya sedang liburan ke luar negeri. Italia.”

“Baiklah, terima kasih.”

Nara menekan tombol memutuskan panggilan dan ketika ia mendengar nada sambung, ia menelpon Bandara Incheon. Ketika seseorang mengangkatnya, Nara bertanya, “Aku penasaran, apakah penerbangan Kim Seona telah lepas landas?”

Nara mendengar orang tersebut mengetik di computer.

“Kita tidak memiliki penumpang dengan nama tersebut di database kami, Nyonya.”

Nara mengerutkan dahinya. “Bagaimana dengan Lee Seona?”

“Ya, kami memiliki penumpang dengan nama tersebut. Dua tiket telah di pesan oleh Byun Baekhyun, satu tiket untuk Nona Lee dan satu tiket lainnya untuk Tuan Byun.”

“Baiklah, apakah pesawat mereka telah pergi?”

“Tunggu sebentar……Ya. Pesawat mereka telah berangkat setengah jam yang lalu.”

“Terima kasih banyak.”

Seona masih melanjutkan hubungannya. Aku tidak percaya itu. Dan mengapa ia mengatakan padaku dan Hyera dua alasan yang berbeda kalau ia mengetahui bahwa aku yang akan menggantikan posisinya?

Selama lima menit, Nara tidak melakukan apapun melainkan marah kepada sahabatnya. Beraninya Seona berbohong padanya?

Seona membutuhkan seseorang untuk membuatnya sadar. Kalau aku tidak bisa melakukannya, mungkin…

Nara mengangkat teleponnya untuk keempat kalinya dan menghubungi seseorang. Itu membutuhkan waktu cukup lama sebelum suara kasar dan sedikit mengantuk menjawab.

“Hello?”

“Yeoboseyo, ini Nara. Maaf menelponmu malam-malam.”

“Malam? Ini jam setengah sembilan pagi!”

“Oh, sial. Aku benar-benar lupa. Maafkan aku. Apakah aku membangunkanmu?”

“Ya, tapi tidak apa-apa. Aku biasanya lebih pagi tetapi hari ini aku libur.”

“Maafkan aku. Dengar, aku menelpon karena Seona.”

“Seona? Apakah sesuatu terjadi padanya?”

“Ia berselingkuh.”

Keheningan menyelimuti mereka sejenak. “Berselingkuh?”

“Ya. Aku melihatnya berciuman dengan seorang pria beberapa minggu yang lalu dan ketika aku berhadapan dengannya, ia mengakuinya. Aku berbicara padanya tentang hal itu dan aku pikir aku telah berhasil mengatakan padanya untuk mengakhirinya tetapi aku baru menyadari bahwa ia akan menghabiskan akhir pekan ini dengan kekasihnya!”

“Dengar, aku mengenal Seona dengan baik. Ini mungkin hanya sebuah kesalahpahaman besar.”

“Tidak. Ia berbohong padaku. Kau tahu ia tidak pernah sama sekali berbohong padaku tentang semuanya. Ia telah mengatakan padaku bahwa ia akan tinggal di rumah pribadinya dan ia tidak ingin diganggu. Aku bahkan telah menghubungi bandara dan mereka mengonfirmasi bahwa ia pergi ke Italia dengan pria itu.”

Nara melanjutkan, “Dengar, aku penasaran kalau kau datang ke Seoul untuk beberapa hari.”

“Mengapa?”

“Untuk menyadarkannya. Kalau aku, sahabatnya, tidak bisa menyadarkannya maka mungkin kau, kakaknya, bisa.”

“Aku tidak tahu, Nara.”

“Dongwook, kumohon! Hubungan ini hanya akan menjadi malapetaka baginya, aku yakin itu!”

Lee Dongwook menghela nafas, menyerah. Nara tahu bahwa ketika itu melibatkan adik kecilnya, ia akan sangat mudah untuk menerimanya. “Baiklah. Aku akan cuti minggu depan dan datang kesana. Aku masih berpikir ini hanya sebuah kesalahpahaman.”

“Begitu kau berbicara dengannya, kau akan tahu bahwa itu bukan.”

“Okay, fine.”

“Terima kasih, Dongwook. Aku tahu kau sangat tidak menyukai Joon Myeon.”

“Itu bukan berarti aku tidak menyukainya. Aku hanya tidak memercayainya.”

Nara sedikit menggigit bibirnya, memutuskan untuk mengatakan apa yang ada dipikirannya. “Dongwook, aku akan mengatakan pada Joon Myeon semuanya.”

“Apa?” Nada bicara Dongwook terdengar tajam, tidak seperti sebelumnya.

“Aku akan mengatakan pada Joon Myeon mengenai hubungan Seona dengan pria itu. Aku memberinya sebuah kesempatan, bukannya ia memikirkan masa depannya justru ia memutuskan untuk melanjutkan hubungannya dengan pria itu dan menghiraukan suaminya yang ia punya dirumah. Joon Myeon harus tahu.”

“Jangan menceritakan apapun padanya. Satu-satu alasannya aku menoleransinya karena ia membuat adikku senang. Kalau ini hanya sebuah kesalahpahaman maka kau bisa menghancurkan kebahagiaannya.”

“Itu bukan sebuah kesalahpahaman!”

“Dengar, hanya jangan kau mengatakan apapun sampai aku berbicara dengannya. Dan kalau ia benar-benar berselingkuh, maka aku pikir kau harus menutup mulutmu dan biarkan Seona mengatakan padanya.”

“Ia tidak akan.”

“Itu berbeda. Ketika aku akan berada di sela-sela, kau sibuk mencoba untuk berada di tengah-tengah. Kalau siapapun harus mengatakan apapun pada Joon Myeon, itu seharusnya Seona.”

Nara merasa jengkel. “Baik. Terserah. Seona yang akan berbicara dengannya. Tetapi kalau ia tidak mengakhiri perselingkuhannya, aku yang akan memaksanya untuk mengaku pada suaminya.”

“Nara, kau masih mencoba untuk mencampuri urusan mereka!”

“Dongwook, pada akhirnya Seona tidak mengatakan padanya! Ia akan tetap mengulur-ulur waktu.”

“Nara–”

“Bagaimanapun caranya, Joon Myeon akan tahu. Aku tidak peduli kalau orang-orang akan melihatku sebagai orang yang suka ikut campur masalah orang lain. Rahasia Seona akan terbongkar. Bagaimanapun caranya.”

to be continue…

90 responses to “Affairs of the Heart [Chapter 6]

  1. Gapapa sih eon update nya lama tapi jangan kelamaan jugaa, yang penting cerita perchapternya lebih panjang😀
    aish si hyera ternyata iblis banget! masih gak tau sih rencananya hyera sama yifan, chapter selanjutnya diceritain ya eon?
    Kalo si junmyeon belum tau sisi jahatnya, tapi dia jahat juga ya eon?
    Kepo penasaran apalah apalah sama ini fanfic ;;)
    Next eon!! Jiayou🙂

  2. Astagaaaa hyera minta dikatain wkwkwkwk
    Duh byun baek udahlah ngaku aja udah beristri ndee please greget liatnya wkwk

  3. Augh yaampun bapak suho udj berani nampar istrinya amd dia bilang menyenangkan(?) Heoll kayaknya dia bakal sering nyiksa lamalama.-.
    Istri baekhyun pula gila licik banget sih.-. awalnya aku kira istrinya baik + jadi yg tersakiti eh ternyata…
    Semoga liburannya menyenangkan ya ‘-‘
    Ditunggu nextnya fighting^^

  4. huh ha huh hah, tarik napar keluarka tarikkkkkkkkkk kelua,, kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa hyera dasar licik gua kira yg tersakiti lu ternyata,, suhooo lu apa’an maen tampar, noh kekasihnya marah lu tega lu, suami macem ape lu KDRT lu,, huh kasion seona nye,, huhuhuhu kejam,
    keep writing ,ane tunggu kelanjutannya kagak sabarrrrrrr😉 bbuing bbuing😉

  5. hem.. baekseona udah saling berpaling2 ke pasanganya masing2 nyampe rela ngelakuin apa aja buat liburan berdua mereka jodohnya kesalahan kali.. si hyera hamil anaknya yifan dan kayanya seona pasti bakal hamil anaknya baekhyun. pada greget sama nara aku juga greget ama dia ikut campur dia tuh kaya ga bener2 peduli ama seona pasti ada sesuatu sama nara ..yahh lama bgt seminggu bakal penasaran bgt.. ditunggu ya

  6. Adduhhh junmyeon ketagihan nmpar cheonsa yaaampunn -_- apa yg trjdi?! Junmyeon kau gilaaaa, yaampunn nara greget slow ajaa sihhh -_- , nnti klo hubungan baek ma seona ancur gmn?! Next chap-nya ditunggu HWAITING!!!

  7. hubungan yang rumit,, banyak melibatkan banyak orang..
    apakah seona akan menemukan kebahagiaannya?? apakah kebahagiaannya terletak pada baekhyun?? semoga saja

  8. yah lama dong updatenya?ya udah deh gak apa2 ak tunggu pokoknya🙂 semangat buat ngetiknya😀

  9. ih nara gatau yah malahan kalau suho tau malah kasian ke seona
    makin makin aja yah si hyera ,takut keburu hyera ngomong kalau dia hamil kan bisa gawat .chanyeol cepet sadarkan baekhyun kalau hyera itu licik
    ih baca ini tuh gereget banget

  10. Takut banget sama joonmyun, gimana kalau entar dia ngelakuin kekerasan ke seona?😦
    Syukur deh ternyata yang di telfon nara itu dongwook bukan joonmyun. Gak bisa bayangin kalau nara telfon joonmyun ._.
    Hyera udah hamil😮 semoga aja yi fan gagalin rencana hyera

  11. Gak lama banget kok thor kalau cuma nyampe minggu depan postnya. Ya ampun hyera ternyata jahat bingiiiit. Jadi sebel. Eh ada dongwook ternyata. Makin gak sabar baca lanjutannya.

  12. joonmyeon psycho apa gimana ya masa nampar orang menyenangkan yakali dah
    kesel sih hyera bisa bisanya bohongin baek kayak gitu heuu
    hiyaa aku kira nara nelfon joonmyeon taunya…terus kesel sih nara terlalu ikut campur dia aja gak tau joonmyeon aslinya kayak apa😒😏
    ditunggu kelanjutannya, fighting^^

  13. apaan bngt sih nara sok2an bngt ikut campur. kesel bngt sama tuh si nara. kirain aku nara hubungin joonmyeon ternyta bukan. udah deg2an aja. maaf naru bisa baca chap ini. izin baca author. ff ini bikin aku berpikir selingkuh itu ada alasannya jga. jadi aku suka deh sama ff nya

  14. Nara sangat jahat, walaupun tujuannya baik tapi bukankah mencampuri urusan orang lain itu sangat tidak baik. Terlebih ini urusan rumah tangga. Jangan jangan dia menyukai Junmyeon, sangat jelas dengan kelakuannya. Sama liciknya dengan Hyera ternyata!!! Bahkan lebih jahat daripada Hyera. Sekali dia bicara maka akan banyak yang terluka oleh omongannya itu.

  15. Nara lu ikut campur urusan org aja walau niatnya baik tapi lu kan gatau junmyeon sifa aslinya gimaanaaaa heuhhh
    junmyeon hyera mereka sama2 jahat gilaaa
    kezel bgt

  16. Weooo baper banget sama ff ini :’)
    gak nyangka aja suho dijadiin karakter kek gini :’3
    dan hyera itu siapa sebenernya?? krn ada part yg seingetku ttng hyera ngerencanain sesuatu sebelum ia menikah dgn baekk..

  17. sebenernya joonmyeon itu sosok kaya apa sih ? rasa penasaran makin meluap luap. dan ini si nara kenapa heboh banget sih pake bilang ke kakanya seona

  18. tuh kan joonmyeon sedeng, masa nampar istri sendiri ‘menyenangkan’, udah seona sama baekhyun jujur aja lah kalo emang mereka masing2 udah nikah terus tinggalin joonmyeon sama si licik hyera. jadi ikutan greget sama nara, sok ikutan segala, sahabat sih sahabat tapi ya ngga gitu juga kali, belum tau dia joonmyeon aslinya kaya apa -.-

  19. Sebenernya aku kesel sama Nara disini karena dia tetep bersikeras ngasih tau Jun Myeon. Kenapa sih dia gak ngasih kesempatan Seona? Dan lagi kenapa sih Hyera licik banget dan aku harap rencana yang Yi Fan buat itu gak bakal nyakitin Baekhyun hmm… biarin mereka selingkuh walaupun gak bener tapi mereka bahagia humm…

  20. duuh ini ko makin ngeri yaa. baekhyun seona terancam nii. dan hyera ternyata sejahat itu mau menghilangkan baekhyun, emang baekhyun punya salah apa sama dia sih?? semoga aja yifan mau berubah pikiran dan ngomong ke baekhyun yaa. aduuh pusing akuuu

  21. Lama2 aku jadi gak suka sama Nara, terlalu mencampuri rumah tangga org lain. Gelar sahabat bukan dipergunakan seperti itu. Kkanya aja gak pengen mencampuri, mereka udh cukup dewasa untuk menyelesaikan masalah.
    Junmyeon, spertinya aku juga jadi gak percaya sama dia. Semacam ada hal buruk yg dia sembunyikan, karakternya itu loh.
    Yi Fan sama Hyejin, udahlah… aku benci mereka

  22. kirain joonmyeon dan hyera itu pasangan yang baik untuk baekhyun dan seon,eh ternyata mereka lebih parah -_-
    hyera nya juga selingkuh sampai hamil pula,trus pake mau nyingkirin baekhyun,duuh ngeselin hyera nya

    joomyeon nya juga sama aja,masa nampar istrinya dibilang menyenangkan

  23. Pulang2 dri Italia Baekhyun bklan trkejut klo Hyera udh hamil,,,
    Seona n Baekhyun smkin romantis aja hehe
    bgmna ya reaksi Chen klo slingkuhan Nyonya Kim adlh Baekhyun???
    Kebohongan Seona trbongkar sudah oleh Nara…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s