[Prologue] The Diary of a Daddy

DIARY

Presented by

A.S. Ruby

 

Maincast: Park Chanyeol & Jackson Dokjun Morrow || Other Cast: Solar Kim (OC) with the special appearance of EXO’s members || Genre: Marriage Life, Family, Fluff, a little of Comedy, etc || Rated: T/PG-15 || Length: Series

 

Disclaimer

The title is inspired by “Diary of a Wimpy Kid” written by Jeff Kinney, while the storyline is based on the reality show “The Return of Superman” that has got much attention from Korean public. I own nothing except the ideas and the poster—there’s no money-making here of course.

 

 Ø

 

Specially presented for the little beloved kiddo Jackson Dokjun Morrow

 

Ø

 

  

Hei, tunggu!

 

Apa ini sebenarnya?

 

Ah, entahlah. Aku juga tidak tahu keterangan lebih lanjutnya mengenai hal aneh yang satu ini; sesuatu yang begitu sulit untuk dijelaskan dengan pembendaharaan kata mana pun yang pernah ada di dunia. Ini sebuah kisah, namun terlalu aneh untuk disebut kisah, disebut sebuah karangan juga tidak pantas, lantaran sama sekali tidak memenuhi kriteria sebuah karangan yang baik dan benar. Jadi, sebagai keputusan yang mungkin kuambil sepihak (aku sama sekali tidak menanyakan pendapat siapa pun, bukan?) sebut saja tulisan ini sebagai sebuah diari.

Ya. Diari.

Haruskah aku mengejanya ulang?

 

D-I-A-R-I.

 

Bukan diare, tetapi diari. Biar kutegaskan sekali lagi bahwa sekumpulan paragraf aneh yang kutulis kali ini merupakan sebuah catatan sinting yang sengaja kubuat untuk mengabadikan perjalanan hidupku yang gila sekaligus penuh warna.

Mungkin kedengarannya agak feminim; bukankah kebanyakan kaum yang menulisi diari adalah perempuan?

Hm, ya, mungkin seperti itu—bisa jadi.

Tetapi aku bersumpah, diariku jelas berbeda dengan diari lainnya yang pernah ditulisi oleh orang mana pun di dunia. Lantaran diari ini bersifat benar-benar maskulin. Bercerita tentang aku, Park Chanyeol, yang melewati masa baru perjalanan hidupku sebagai seorang ayah—sang pemimpin keluarga.

 

Penasaran?

  

Lanjutkan jika kau mau tahu!

 

  

Tertanda, Park Chanyeol yang luar biasa tampan.

  

Ø

 

Tahu tidak bagaimana aku bisa menikahi ibu dari anak-anakku sekarang? Mengapa aku bisa memutuskan untuk memacarinya—lalu selanjutnya, dengan gila memutuskan menikahinya di usia yang tergolong cukup muda?

Well, kau tahu sesuatu—dan anggap ini sebagai rahasia kita berdua—aku memutuskan untuk menikahi wanita itu ketika umurku bahkan belum genap menginjak usia dua puluh dua tahun!

Ya, aku bersumpah, usiaku bahkan belum genap dua puluh dua tahun tatkala aku memutuskan untuk menikah pada pertengahan Juli di musim panas tahun dua ribu empat belas silam. Pernikahan kami sederhana; tidak banyak tamu yang diundang, sekadar kerabat dekat juga beberapa sahabat, tidak lupa pula seorang pendeta yang memberkati pernikahan kami; dan semuanya pun selesai.

 

Aku menikahinya; ibu dari anak-anakku yang luar biasa mengagumkan.

 

Walaupun sesungguhnya, kalau aku boleh jujur, ada banyak gadis di luar sana yang berpenampilan jauh lebih menarik darinya di mataku. Ada wajah juga tubuh yang lebih sempurna, banyak aspek luar yang memiliki nilai atraksi lebih tinggi dibandingkan sosok ibu dari anak-anakku kini. Namun entah mengapa, sosok perempuan yang satu itu punya kekuatannya tersendiri untuk mengungkung perasaanku di antara genggamannya; membuatku menyerahkan hatiku sepenuhnya kepadanya.

 

Dulunya dia sahabat kecilku; Solar Kim namanya.

 

Dari namanya saja sudah aneh; berhubungan dengan antariksa dan hal-hal lainnya yang sama sekali tidak menarik untukku. Tetapi aku bersumpah, Solar sudah membuatku jatuh hati semenjak aku menyadari betapa indah hatinya dibandingkan gadis lain yang pernah kukenal.

Dia luar biasa.

Dulu, aku sudah jatuh cinta selama beberapa kali kepada sejumlah gadis di sekolah, namun Solar yang kukenal semenjak usiaku masih sembilan bahkan tak pernah meninggalkanku sejenak pun. Dia seorang gadis kutu buku yang baik hati, setiap harinya membantuku mengerjakan tugas-tugas yang sulit, sementara di lain sisi, sebagai timbal balik dari persahabatan kami yang aneh—antara seorang berandal sekolah dan bintang kelas teranyar—aku pun selalu berupaya sebaik mungkin membuatnya tertawa.

Membuatnya bahagia.

 

“Kau tahu kenapa ketika sin kuadrat dijumlahkan cos kuadrat maka akan dihasilkan satu?”

  

“Untuk apa aku harus tahu? Gadis-gadis tentu tidak akan menanyaimu hal itu jika kau memintanya untuk jadi pacarmu,”

  

“Park Chanyeol…”

  

“Solar Kim; aku tidak mau peduli,”

  

“Kau akan ujian! Aku tak mau dengar kau mengadukanku permasalahan remedial-remedial tolol itu kembali!”

  

Aku tahu semenjak dulu diriku sudah menyebalkan; dari lahir bahkan. Tetapi entah mengapa, Solar masih dengan sabarnya mengajariku segala hal.

Dia seperti seorang profesor saja; nyaris tahu segala hal. Dimintai penjelasan mengenai teori fisika, jelas dia akan menjelma menjadi seorang fisikawan—atau fisikawati?—entahlah; dimintai menguraikan penurunan rumus matematika, dia akan berubah menjadi salah satu saingan terberat pencipta hukum Aljabar—bahkan ketika dimintai menjelaskan teori biologi, sejarah, atau bahkan ekonomi, Solar mampu melakukannya.

Tidakkah anak itu betul-betul jenius, huh?

 

“Aku yang terlalu tolol atau kau yang terlalu pintar, Solar?”

  

Pernah suatu hari aku memutuskan untuk bertanya kepadanya; pantaskah aku menjadi temannya sementara kebanyakan orang pasti beranggapan sosokku terlalu bodoh untuknya?

Solar seharusnya bergaul dengan makhluk-makhuk ilmuwan sekolah, mereka bisa membahas banyak teori, menyelesaikan persoalan, serta melakukan banyak hal jenius lainnya yang tak bisa kulakukan. Namun anehnya, alih-alih melakukannya, Solar justru kerap menggelengkan kepalanya seraya tersenyum simpul, “Aku tidak peduli apa kata orang; atau bahkan apa katamu tentang pertemanan kita,”

 

Pertemanan sama halnya dengan cinta—terlihat berbeda, namun nyatanya mendekati satu sama lain,”

 

Aku ingat betul ketika dia berujar perlahan kepadaku hari itu.

 

Kau tidak perlu menjadi hebat, tampan, atau pintar untuk menjadi teman seseorang; begitu pula sebaliknya jika kau seorang perempuan. Karena pertemanan yang sesungguhnya akan menembus dimensi-dimensi tertentu yang biasanya menimbulkan diskriminasi terhadap manusia yang satu terhadap manusia yang lainnya. Dan selama ini, aku selalu berharap dapat menjalin pertemanan yang terbentuk karena ketulusan—bukan karena paksaan, atau pula alasan terselubung lainnya,”

 

Sebagaimana cinta yang tak memandang siapa pun dirimu, seperti itu pula pertemanan terjalin; tanpa pandang bulu. Aku senang menjadi temanmu, Chanyeol,

 

Meskipun aku menyebalkan?”

 

Meskipun kau menyebalkan.”

 

Walau mantan pacarku dalam setahun belakangan sudah lebih dari sepuluh?”

 

Ya. Bahkan ketika mereka sudah lebih dari sepuluh,”

 

“Bahkan ketika kebanyakan guru benci kepadaku dan mengharapkanku untuk keluar?

  

“Walaupun seperti itu.”

  

“Aku ini jelek, menyebalkan, tidak sopan, tidak pintar—dan tidak pernah baik kepadamu…”

  

“Tapi kau sahabatku. Tetap sahabatku.”

  

Ø

 

Hei, jangan terlalu iri dengan kisah cintaku—juga jangan terlalu banyak berharap bahwa aku akan menjabarkan segala rinciannya kepadamu!

Selain karena sebagai seorang pria aku juga punya privasi, ada banyak hal yang tidak sepantasnya kukatakan pula di sini karena Solar akan membunuhku jika kedapatan menuliskan bagian-bagian itu. Dia sempat mengambil kelas beladiri Taekwondo semasa sekolah menengah dulu, pencapaian sabuknya di atas rata-rata gadis lainnya, aku bersumpah. Mati saja aku jika berani mengutarakan hal macam-macam jauh dari sepengetahuannya; istriku memang lembut, tetapi terkadang dia mengerikan—aku serius.

Jadi, biar kupersingkat saja: aku ini seorang pria dan dia wanita, ketika dua pasang manusia berbeda gender bertemu, sesuatu yang lebih dari sekadar berpegangan tangan pasti terjadi; aku agak nakal, namun Solar—ya—dia pintar menjaga diri.

Di sisi lain, aku juga takut tidak mampu menjelaskan segalanya dengan bahasa yang indah (aku itu tipe pria romantis dalam bertindak, bukan berkata-kata, oke). Aku takut tidak mampu menyampaikan kepadamu betapa berharganya Solar di dalam hidupku; dia yang baik hati, dia yang tidak pernah meninggalkanku, di saat aku sedang menggila ataupun terpuruk, Solar selalu ada.

Jika banyak pria mengatakan bahwa wanita pujaan hatinya membuat mereka menjadi sinting, jelas aku kebalikannya. Lantaran presensi seorang Solar Kim justru membuatku menjadi waras. Aku yang menyimpang menjadi lurus, otakku yang rusak menjadi sedikit terperbaiki, tingkahku yang kekanak-kanakan menjadi lebih dewasa, dan itu semua terjadi karena Solar.

 

Istriku.

 

Awalnya sekadar sahabat, namun seketika saja, sewaktu usiaku menginjak kepala dua untuk pertama kalinya, Solar membuatku tersadar bahwa dialah orangnya.

Solar adalah perempuan yang kucari selama ini, untuk dijadikan tambatan hati. Aku tidak harus menjelajah lebih jauh.

Memang, ada banyak sekali gadis yang menyenangkan untuk digoda; mereka yang tanggap serta cepat tertarik kepada karisma dan ketampananku. Tetapi kau tahu apa, bagiku, Solar adalah perempuan yang pantas untuk dicintai sepanjang hidup—bukan untuk digoda atau pula dipermainkan sesuka hati. Lantaran dirinya seperti berlian, begitu mahal dan sangat dihargai—cintanya bukan untuk diobral, namun untuk dijaga sebaik-baiknya oleh sang pembeli.

Dirinya malaikat, bukan wanita murahan biasa; dialah Solar, ibu dari anak-anakku.

Aku menikahinya pada musim panas tahun dua ribu empat belas dengan kebahagiaan yang bukan kepalang. Pertama kalinya aku benar-benar mampu tersenyum melihat dunia; tidak ada beban atau pula ketakutan, karena Solar akan selalu bersamaku.

 

“Hari ini, aku berjanji di hadapan Tuhan dan seluruh umat manusia, bahwa aku akan menjadi seorang pendamping yang baik…”

  

“Menjadi suami yang penuh kasih…”

  

“Menjadi istri yang membawa cinta serta kehangatan…”

  

“Menjadi ayah yang baik…”

  

“Menjadi ibu yang baik…”

  

“Tetap menjadi sahabatnya…”

  

“—yang selalu mendengarkan dan saling menasihati…”

  

“Terus mencintai satu sama lain—selama-lamanya.”

  

“Selama-lamanya.”

  

Dia masih sahabatku; pendamping hidupku hingga aku mati nanti.

Solar adalah perempuan yang akhirnya kupilih sebagai pelabuhanku yang terakhir, tempatku berpulang setelah mengarungi samudera yang luas. Bersamanya, aku membina keluarga baru yang akan penuh dengan warna. Di setiap pagi, wajahnyalah yang pertama kali akan muncul dengan tenang di sisiku, dan pun sampai aku tua nanti, hangat genggam tangannyalah yang akan terus bertahan pada jemariku yang mengerut—hingga rambutku abu-abu lantas memutih, aku akan tetap mencintainya.

Aku ingat ketika hari itu dia menghampiriku yang sedang menikmati kue buatannya yang luar biasa, lantas seketika saja Solar berbisik lembut kepadaku, “Kau akan jadi ayah, Yeol.”

 

Pernahkah kau mendengar kata-kata seajaib itu?

  

“Di dalam perutku sedang tumbuh seorang Chanyeol kecil; buah hati kita, Yeol. Dia yang kita harapkan kini benar-benar hadir; malaikat cilik kita—Chanyeol kecil kita…”

 

Oh Tuhan, aku bahkan nyaris tidak bisa bernapas lagi ketika mendengar kata-kata itu terlontar lembut dari bibirnya. Tak pernah kubayangkan di dalam hidupku bahwa akan datang seorang wanita kepadaku, kemudian dia berbisik: kau akan menajadi ayah, Sayang—maksudku, ini gila! Sungguh gila!

Benar-benar gila!

Seluruh organ pencernaanku berjumpalitan tak karuan di dalam perut, nyaris saja aku berteriak keras apabila jemari lembut Solar, istriku, tak tanggap dalam menahanku untuk bersuara keras. Kupandangi wajah indahnya hari itu, dan aku tahu bahwa dia benar-benar akan menjadi ibu dari anak-anakku tatkala wajahnya tampak semakin bersinar indah. Ada aura yang lembut, suatu hal luar biasa yang tidak pernah kubayangkan akan dapat kulihat—apalagi kurasakan.

Menjadi calon ayah adalah sesuatu yang berbeda; rasanya unik sekaligus luar biasa.

Lamat-lamat, buku-buku jariku bergerak menyentuh perut Solar yang jelas masih sangat rata, sama sekali tidak percaya bahwa telah tumbuh satu kehidupan paling ajaib di dalam sana. Kemudian aku, Park Chanyeol yang gila, seorang mantan berandal sekolah dengan segudang mantan kekasih, kontan berbisik lembut ke dalam sana, “Hei, Nak…

Aku terkekeh mendengar diriku sendiri berkata seperti itu—benar-benar tolol.

Calon buah hatiku bersama Solar membuatku seketika menjadi semakin tolol saking berbahagianya.

 

“Ini Appa,”

  

“Salam kenal, Nak. Teruslah tumbuh sehat, lalu dalam sembilan bulan ke depan, sampai jumpa di dunia! Kita akan bertemu segera!”

  

Appa menyayangimu…”

 

“Sangat menyayangimu.”

 

Ø

 

Sudah kubilang bahwa aku ini tolol, bahkan ibuku menegaskannya sekali lagi beberapa waktu silam kepadaku.

Persis bertepatan sembilan bulan lamanya semenjak Solar memberitahukanku perihal kehamilannya, malaikat kecil kami pun akhirnya mulai berontak untuk dikeluarkan dari dalam perut sang ibu. Mungkin lantaran terlalu jenuh berada di dalam sana, dia pasti juga ingin melihat dunianya yang indah (ditambah lagi ayahnya yang tampan)—dan segalanya pun terjadi dengan jalan yang tak pernah terbayangkan di dalam hidupku.

Solar tengah mengandung sembilan bulan, namun aku dengan tololnya meminta izin untuk pergi malam itu lantaran memenuhi undangan Jongin untuk menonton pertandingan bola bersama hingga larut malam. Sementara aku beserta Jongin serta sahabat-sahabat karibku yang lain sibuk berteriak merayakan kemenangan Real Madrid atas Barcelona malam itu, ibuku meneleponku sembari berteriak-teriak dari balik telepon.

  

“Chanyeol, ke mana saja kau, Nak?!”

  

Bayangkan saja suara seorang perempuan paruh baya yang dikeluarkan dalam nada tinggi dan penuh emosi—seperti itulah suara ibuku saat itu.

 

“A—ada apa, Umma?!”

  

“Solar, Chanyeol!”

  

“A—ada apa dengan Solar, Umma?! Apakah di rumah ada perampokan—aku sudah memastikan seluruh keamanan sebelumnya! Tidakkah Jeongu bekerja dengan baik sebagai anjing penjaga rumah kami?! A—atau…”

  

“Umma, apakah telah terjadi kebakaran?! Apakah Solar baik-baik saja?!”

  

“U—umma…”

  

Aku nyaris tidak bisa menahan diri untuk meluapkan seluruh kekhawatiranku melalui telepon. Ibuku menelepon dan caranya bersuara seolah beliau sedang berupaya menunjukkan betapa krisisnya keadaan yang kini seharusnya kuhadapi secara langsung; ada apa dengan Solar-ku? Apa yang terjadi di sana? Aku khawatir, benar-benar ketakutan—dan merasa tolol…

  

“HYUNG!!!”

  

Aku masih ingat jelas bagaimana malam itu Sehun memukul kepalaku geram, lantas berteriak kepadaku, “Solar Noona, Hyung! Masa kau tak memikirkan apa yang terjadi kepadanya sekarang?! Kau tolol atau apa?!”

 

“PARK CHANYEOL!!!”

  

Ibuku menggeram menahan emosi dari balik telepon.

 

“KAU TOLOL, HYUNG!!!”

  

“A—ada apa?! Katakan kepadaku?!”

  

“A—apa yang sebenarnya terjadi?! Bilang kepadaku!”

  

Seluruh euforia yang awalnya kami rasakan pada akhir pertandingan sepak bola kontan berubah drastis dengan ibu serta para sahabatku yang sibuk berteriak serta meraung geram kepadaku. Tidak Jongin, Sehun, Baekhyun, atau pula siapa pun yang berada di sana—bahkan Jongin memukul bahuku cepat, kemudian cepat-cepat menyeretku keluar dari pintu rumahnya; aku diusir dari sana, sungguh diusir dalam keadaan kebingungan.

Apa yang sesungguhnya terjadi?

Di dalam hati aku bertanya-tanya, sementara Sehun dengan sigap menyalakan mobilnya dari dalam garasi dan Jongin segera mendorongku masuk ke dalam. Manik matanya menatapku tajam, buru-buru para sahabatku yang lain ikut menyusul menyalakan mobil mereka dari belakang, bersiap mengekori mobil yang membawaku saat ini.

Entah gerangan apakah yang membuat mereka berbuat sesigap ini—aku bahkan masih belum paham sama sekali.

Ada Baekhyun serta Kyungsoo yang memutuskan untuk menaiki mobil yang sama lantaran Baekhyun kehabisan bahan bakar untuk mobil pribadinya, Yixing yang datang jauh-jauh dari Cina hanya untuk melakukan reuni kecil-kecilan kami, Minseok serta Jongdae yang sesungguhnya baru pulang bekerja lembur, Junmyeon dengan ferrari-nya; kami bergerak menelusuri jalanan seolah hendak melakukan konvoi besar-besaran di Kota Seoul yang tak pernah lengang meski pada dini hari.

 

“Kau harus langsung tanggap, Bodoh! Sebab istrimu sedang mempertaruhkan hidup dan matinya untuk manusia yang tercipta karenamu! Solar akan melahirkan anakmu, Tolol!”

  

“A—APA??!!”

  

“SOLAR AKAN MELAHIRKAN, IDIOT!!!”

  

Ø

Hari itu, pada tanggal dua puluh lima September di tahun dua ribu lima belas,aku dan teman-temanku tiba di rumah sakit dengan tampang kelewat bodoh.

Aku bersumpah, masih lengkap dengan seragam khas Real Madrid yang kompak kami kenakan bersama, konvoi mobil gila pada dini hari tersebut pun tiba di rumah sakit. Buru-buru aku berlari menelusuri lorong rumah sakit, sama sekali tidak mempedulikan pandangan sejumlah orang yang memandangku aneh—karena aku bersumpah, demi Tuhan, istriku akan melahirkan, Bangsat!

 

“SOLAR!!!”

                

“DI MANA SOLAR-KU??!!”

  

“SOLAR, KAU DI MANA, SAYANG??!!”

  

Layaknya seorang idiot, aku berteriak panik hari itu, ketakutan setengah mati karena salahkulah segalanya berlangsung seperti ini. Sudah tahu istriku tengah mengandung, sedikit lagi mencapai masa akhir kehamilannya dan aku meninggalkannya, dengan amat sangat ceroboh, hanya untuk menonton pertandingan bola tengah malam bersama teman-temanku. Untuk Real Madrid yang kucintai semenjak masih sekolah dasar dulu aku mengabaikan anak serta istriku sendiri. Tolol.

 

Shit—astaga, andai saja aku tak sedungu ini, semuanya pasti tidaklah terjadi.

  

“PARK CHANYEOL!!!”

  

“SOLAR KIM!!!”

  

“A—AKU TIDAK TAHAN LAGI, CHANYEOL! B—BAYIMU…”

  

“P—PARK CHANYEOL!!!”

  

Solar langsung berteriak keras begitu menyadari keberadaanku di ruang persalinannya, dan sekali lagi demi Tuhan, aku bersumpah bahwa sebenarnya semuanya benar-benar kacau!

Aku dengan seragam bolaku yang tolol, Solar yang berteriak menahan sakit, para dokter beserta perawat yang sibuk mengelilingi istriku—aku bahkan nyaris pingsan begitu menyadari betapa banyak darah yang tercecer di lantai sana; maksudku, astaga…

Ibuku tak pernah bilang bahwa prosesi melahirkan akan terjadi dengan semengerikan ini, lebih mengerikan dibandingkan sederet film horor yang pernah kutonton bahkan. Pertama kalinya di dalam hidupku, sepasang manik mataku memperhatikan secara langsung bagaimana seorang wanita berjuang hebat untuk melahirkan buah hatinya ke dunia; yang mana dalam kasus ini, Solar-kulah yang melakukannya untuk bayi kami juga untukku, ayah dari malaikat kecil kami.

 

“Ayo, Sayang, aku tahu kau bisa!”

  

“C—Chanyeol, kenapa kau pergi meninggalkanku?!”

  

“A—aku sudah meminta izinmu, Solar! Dan kaubilang ‘iya’—kaubilang aku boleh pergi! Begitu katamu, Sayang!”

  

Sembari menggenggam pergelangan tangan pucatnya yang berpeluh, secara tak sadar aku dan istriku menciptakan percakapan yang bahkan tak perlu dibentuk dalam situasi segenting ini; kami bertengkar lagi. Maksudku, dia sedang melahirkan, sementara aku sedang mengkhawatirkan keadaannya serta bayi kami setengah mati, dan Solar—aku tahu semenjak dulu dia sudah jenius, penuh logika juga alasan serta penjelasan—dan dia masih memintaku memenuhi penjelasanku untuknya?!

 

“K—kaubilang hanya sampai pukul dua belas, Yeol!”

  

“A—aku…”

  

Oke, waktu itu aku mulai gelagapan, tak tahu harus membantah dengan alasan apa lagi, karena sungguh, aku memang lupa akan janjiku kepadanya hari itu. Oh Tuhan, maafkan aku, Solar—aku tahu betul bahwa aku tidak diciptakan untuk menjadi suami terbaik bagimu, maafkan aku, maafkan si tolol yang satu ini.

  

“PARK CHANYEOL, BAYIMU!!!”

  

“L—lihat kepalanya sudah muncul!”

  

Di tengah-tengah pertengkaran kami, aku lantas berteriak keras begitu menyadari para perawat memberiku isyarat bahwa hanya dalam waktu sesaat lagi aku benar-benar akan mendapatkan gelar ayah untuk pertama kalinya. Bayiku akan lahir, sementara Solar masih terus berteriak berusaha melanjutkan diskusi panasnya bersamaku sembari terus menahan kesakitan yang sekiranya mencapai ubun-ubun tersebut.

 

“K—KAU MENYEBALKAN, PARK CHANYEOL!!!”

  

“Ayo, Sayang, sedikit lagi!”

 

“AKU MENYETIR SENDIRI KEMARI!!!”

  

“Ayo, Solar!”

  

“AKU BENCI PADAMU!!!”

  

“AKU MENCINTAIMU!!!”

  

Ø

  

Well, itu baru bagian awal kisah hidupku sebagai seorang ayah, dan kau tahu apa, kisah ini masih akan terus berlanjut dengan banyak cerita lainnya mengenai pengalamanku sesudah bayi kecilku dan Solar dilahirkan di dunia pada tanggal dua puluh lima September silam. Masih ada banyak kegilaan yang kulalui; dimulai dari pengalaman pertamaku untuk melihat rupa buah hatiku sendiri, bagaimana sensasi yang pertama kali kurasakan ketika mulai menggendong anakku, caraku belajar membuat susu serta memasang popok, dan segalanya masih terus berlanjut sampai saat ini.

Dulunya, aku tak terlalu menyukai anak kecil, lantaran sungguh, siapa yang mau dekat-dekat dengan mesin tangis berkepala besar itu? Mereka hanya bisa tidur, menangis, minum susu, buang air besar, dan terus melakukan hal yang sama setiap saat—siklus para bayi terus berjalan seperti itu, sementara aku secara umum sama sekali tidak menyukainya.

Kupikir memiliki anak itu sangat merepotkan; penuh kegilaan serta ketegangan yang ganjil, apalagi apabila akulah yang melakukannya.

 

Menjadi ayah membuatku menjadi benar-benar gugup—aku nyaris jadi sinting karenanya!

 

Kita lihat saja bagaimana kisah ini akan berlanjut ke depannya; akankah aku sukses menjalani hidupku yang baru sebagai seorang suami juga ayah?

Akankah aku mengakhiri hidup bayiku sendiri dengan merebusnya di dalam panci karena salah mengiranya sebagai kalkun paskah saking gugupnya dalam mengurusi mereka? Apakah Solar, sekali lagi, akan dibuat kesal lantaran ketololanku dalam menjalani urusan dunia dewasa sesungguhnya yang satu ini?

Sudah kubilang, kisah ini tidak akan berhenti di tempat—diari ini akan terus berlanjut, sebab aku masih punya lebih dari segudang cerita yang perlu kuceritakan kepadamu mengenai pengalamanku menjadi ayah.

 

Awalnya, aku hanyalah si berandal Park Chanyeol yang kerap mempermainkan hati para gadis, namun segalanya berubah semenjak aku jatuh cinta kepada sahabatku sendiri, lantas memutuskan membina rumah tangga di usia muda bersamanya.

 

Awalnya, aku hanyalah seorang manusia brengsek bernama Park Chanyeol yang kerap melarikan diri dari kelasnya di sekolah, tetapi Solar datang, kemudian mengubahku menjadi jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya.

 

Awalnya, aku hanyalah Park Chanyeol, pemuda biasa yang tak memberikan partisipasi penting apa pun di dunia ini.

 

Namun kini, sungguh, aku belajar banyak dari hidupku yang berubah secara drastis semenjak malaikat kecilku—bolehkah aku memanggilnya seperti ini?—terlahir di dunia oleh perempuan yang paling kucintai, Solar Kim namanya.

 

Baiklah, kurasa cukup pada bagian ini saja aku membuka kisah dari diariku yang lain dari biasanya. Aku masih punya sejumlah pekerjaan lain yang harus kubereskan secepatnya, Solar membutuhkan bantuanku untuk membereskan perpustakaan kecilnya di kediaman mungil kami, ada piket mingguan yang harus kukerjakan berdua bersamanya untuk merapikan apartemen yang belakangan ini kerap berantakan, lalu aku juga harus segera mengisi laporan kantorku untuk presentasi minggu depan—ah, hidupku benar-benar sibuk, bukan?

Jadi, sampai jumpa di lain waktu (apabila aku punya waktu senggang lagi untuk menulis diari ini)—jangan terus memikirkan wajah tampanku, oke?

Diariku bukan literatur indah yang ditulis sedimikian rupa oleh para pujangga. Tidak ada kata-kata indah atau pula menyentuh yang mungkin akan membuatmu menangis haru atau pula meleleh lantaran terlalu bahagia. Ditulis dengan sama tololnya oleh seorang pria tolol bernama Park Chanyeol, kutuliskan kisah ini untukmu yang ingin tahu betapa berartinya hidupku setelah menjadi seorang ayah—benar, sangat berarti.

 

Well, sekali lagi, sampai jumpa di lain waktu! Dah!

 

 

NB: Jangan merindukan ketampananku. Titik.

 

Fin

June 24th 2015

 

 

A/N

Thank you for reading until this part, Guys!

Terima kasih seperti biasa untuk para reader baik hati yang sudi untuk membaca fic bulukanku ini. Agak berbeda dibandingkan tulisanku sebelumnya, “The Diary of a Daddy” ini jelas punya kesan yang lebih light, ngga terlalu berat buat dicerna. Dan, well, sekali lagi, aku payah untuk genre komedi, but I’ll work harder if you support me more, Guys.

 

I give you the bonus with the photos of my one and only one beloved kiddo: Jackson Dokjun Morrow!

CAM0gCUWMAAss7x

11147855_392189304297720_2222999536317328070_n

11081011_381885981994719_3289373223178898983_n

11102746_388012954715355_2852998810954109088_n

10407094_382136941969623_5922302251770343733_n

21180_382840908565893_886320591586697799_n

11053626_388012801382037_8895953577569534661_n

10986038_349320041930088_415338959_n

10356144_382840935232557_4346424509994662385_n

 

Thank you for capturing noona’s heart really hard, little kid!

He’s well known as the little Park Chanyeol for further information; his mama is still really young, she’s even younger than Chanyeol, Park Dayoung is 93 liner. But too bad, his father has passed away on January this year: Joseph Alexander Morrow—he’s still quite young too, Alex is 90 liner like our Xiumin, Lulu, and Fanfan.

Here is the source: Joseph Morrow Obituary

 

Well, once again, thank you and have a good day for everyone.

 

Love and regards,

A.S. Ruby

 

Advertisements

135 responses to “[Prologue] The Diary of a Daddy

  1. Ya ampun ini ff lucu bgt😅😅😅😅
    Di ff ini chanyeol sering memuji ketampanan nya tp dia sering nunjukin ketololan nya, ah greget..
    Demi apa, solar nyetir mobil ke rumah sakit,, luar biasa bgt dah solar.
    Ditunggu diary chanyeol slanjut nyaaa

  2. Njirr dasar chanyeol suami tolol wkwk ehh sekarang udah jadi bapak ya ? Ngakak gue , kok lu bisa dungu gitu sihh, gak peka banget bini mau lahiran malah blah bloh gak jelas untung temen” nya waras terus ngingetin dia wkwk sumpahh chanyeol koplak cocok sama muka lu bang , gue tunggu tulisan diari lu selanjutnya yeol wkwk 😀

  3. Whoaaaa,, ngakak bacanya apalagi pas bagian mereka bertengkar karena hal2 yg sepele pas Solar melahirkan. Astaga yeol😲😱 oke fix ngomong2 soal Dokjun Morrow a.k.a Jeksen *read: Jackson* plisss itu anak cubang cubang pen gw cubit pipinya tapi sedih gegara dia udh kehilangan appa-nya sekecil itu😭😭 u,u

    Oke fix, gw tunggu series/Chapter selanjutnya di diary ParkChanyeol😉😉

    Seeyou againn😍😍😍

  4. waduh kekonyolan chanyeol bener2 kelewatan kali ini.. udah gau ustrinya hamil tua tp malah seneng2 reunian sambil bmnonton bola.. duh itu melahirkan aja masuh sempet marah2 sambil ngomel wkwk
    aku gak nyangka bakal ada cerita yg kyk ff ini, ceritanya gak berat dan bagus bgt wkwk
    keren deh nih ff!!!

  5. Pingback: [First | Jealousy] The Diary of a Daddy | SAY - Korean Fanfiction·

  6. Selalu iri sama orangbyg bisa mengutarakan idenya ke dalam tulisan. Karena saya tidak bisa melakukan itu. One word: 대박

  7. yaampun ketawa terus daritadi ngebaca nya :v
    Bingung mau komen apa, aku cuman tau jackson yg mirip chanyeol itu, tapi gak pernah tau real life nya, kalo eomma nya yg 93l aku tau, tapi appa nya yg passed away itu aku baru tau pas baca notes mu 😥

  8. Pingback: [Second | Protective ] The Diary of a Daddy | SAY - Korean Fanfiction·

  9. Chanyeol tingkat kepedeannya dewa bgt, iyaalaahh kau gnteng chanyeol smw tw -_- diari chanyeol keren abissss

  10. aku kaget pas solar bilang dia nyetir sendiri -__- strong banget dia wkwkwk..
    overall ini keren kak, berasa banget kalo lagi baca diary-nya chanyeol wkwkwk

  11. Pingback: [Third | Cheesy One vs Evil Ones] The Diary of a Daddy – by A.S. Ruby | SAY - Korean Fanfiction·

  12. Pingback: [One | Staying] Living My Life with You; The Side Story of The Diary of a Daddy – by A.S. Ruby | SAY - Korean Fanfiction·

  13. Pingback: [Fourth | Crazy Vacation] The Diary of a Daddy – by A.S. Ruby | SAY - Korean Fanfiction·

  14. ya ampun chanyeol seharusnya udah tau dong istri mau melahirkan eh dianya malah nonton bola udah gitu ke rs pake baju bola lagi -_- kkkk aku suka ceritanya

  15. Gila,, ngakak bgt baca ff ini,,,, chanyeolnya tolol ameet,,, n jg kepeean nya tinggi amet, yaaa emng d akui klau bang chanyeol t emng tmpan,,,

  16. Pingback: [Two | Standing] Living My Life with You; The Side Story of The Diary of a Daddy – by A.S. Ruby | SAY KOREAN FANFICTION·

  17. Pingback: [Fifth | Daddy’s Love] The Diary of a Daddy – by A.S. Ruby | SAY KOREAN FANFICTION·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s