[Freelance] Aquagenic pruritus

kaa

Author : lightmover0488

Main Cast : byun baekhyun, seo ji rin

Genre : angst, family

Lenght : One Shoot

FF ini sebagai salah satu persembahan dalam peringatan

hari kelahiran Byun Baekhyun^^

Desclaimer : Ide cerita diangkat dari kisah nyata (hasil

browsing di mbah google) dan banyak ditambahkan

cerita dari pemikiran saya sendiri :))

Happy reading!

Kalian pernah mendengar alergi air? Atau disebut

aquagenic pruritus. Seseorang yang menderita

aquagenic pruritus setiap terkena air, kulitnya akan

mulai merah dan gatal-gatal, serta terasa

menyakitkan.

Yang paling parah, hanya setetes air liur juga bisa

menyebabkan kulitnya meradang dan berwarna merah.

Belum lagi jika harus minum air atau mandi. Mereka

yang mengidap penyakit ini tak bisa mandi terlalu lama

karena tubuhnya akan memerah dan gatal-gatal.

Sementara itu, ketika harus minum air dingin,

tenggorokan pun akan membengkak namun mereka bisa

minum air hangat atau jus yang tidak dingin.

Satu tetes air hujan saja akan menyebabkan reaksi

alergi yang menyakitkan dan bertahan hingga beberapa

jam. Bahkan jika terkena air mata dan keringat,

termasuk darahnya sendiri jika terkena kulit. Sangat

pelik ketika seorang wanita datang bulan, darah

menstruasinya akan membuat kulit sekitar vaginanya

gatal dan akan terasa menyakitkan.

Alergi Air tersebut memang aneh, dokter ahli pernah

mencoba memberikan obat anti histamine dan therapy

sinar Ultraviolet terhadap penderita, namun tidak juga

berhasil. Penyebab sebenarnya belum ditemukan dan

juga belum ditemukan obatnya.

Sangat menyeramkan bukan? Mengingat 70% bagian

dari tubuh manusia adalah air.

Bagaimana jika orang disekitarmu mengidap penyakit

ini?

Apa yang akan kau lakukan?

Hujan masih setia mengguyur kota seoul sejak pagi

mungkin karena masih pertengahan musim gugur. Ji rin

hanya bisa meringkuk diatas kasurnya dan menyelimuti

tubuhnya dengan selimut yang tidak terlalu tebal, jika

ia terlalu hangat tubuhnya akan mengeluarkan

keringat dan keringat tersebut akan membuat kulitnya

gatal yang lama kelamaan akan sangat menyakitkan.

Seo Ji Rin wanita berusia 23 tahun ini telah mengidap

aquagenic pruritus sejak usianya 12 tahun, tidak ada

yang tahu apa penyebabnya.

Keluarga Seo sudah putus asa, yang dapat mereka

lakukan adalah membantu ji rin mengurangi sentuhan

langsung dengan air dan memberi ji rin obat penahan

rasa sakit jika alerginya menyerang.

Sejak kecil Ji rin adalah anak yang aktif, dia hobi

sekali berenang dan melakukan hal-hal baru. Ketika

tiba-tiba dokter memfonisnya mengidap aquagenic

pruritus sikap ji rin berubah 180°. Ji rin hanya

menghabiskan waktunya didalam kamar. Ia ingin sekali

menangis tapi air mata nya akan menambah rasa sakit

pada tubuhnya. Ia ingin berteriak tapi keringat yang

muncul saat ia lelah akan membuatnya semakin

menderita. Maka Ji rin kecil hanya bisa diam dan

mengubur dalam-dalam kesedihannya. Pasti Tuhan

sangat menyayangi Ji rin hingga memberikan ji rin

penyakit langka ini. Karena hanya orang terpilihlah

yang akan tetap bersyukur walau dalam keadaan yang

paling mengenaskan sekalipun.

Sejak usianya 12 tahun ji rin menjalani home schooling,

orang tua ji rin selalu siap menjaga ji rin 24 jam

sehari. Tuan dan Nyonya Seo sangat berusaha keras

mencurahkan kasih sayang hanya untuk putri

tunggalnya. Ji rin sangat bersyukur telah lahir

dikeluarga ini.

Sepertinya hujan sudah mulai reda, ji rin mulai bangkit

dari posisinya dan menyingkirkan selimut yang menutupi

tubuhnya. Ia berjalan menuju jendela, dulu ia sangat

suka hujan tapi sekarang keadaannya tidak

memungkinkan untuk ji rin menyukai hujan lagi. Ia

melihat pemandangan diluar dari balik jendelanya yang

masih berembun, ji rin ingin sekali berada disana dan

menghirup udara setelah hujan.

Ji rin masih termenung menatap pemandangan diluar

rumahnya tapi ia sedikit terusik karena merasakan ada

seseorang yang sedang memperhatikannya dari luar

sana. Ada seorang pemuda yang menatapnya dari balkon

rumah yang berada tepat didepan rumah Ji rin. Ji rin

menatap pemuda itu sebentar dan langsung menutup

tirai menutupi jendela kamarnya.

“Baekhyun, ayo turun. Kau tidak ingin makan?”

“Iya eomma, aku turun sekarang,”

Baekhyun menyudahi kegiatannya memandang rumah

yang berada disebrang rumahnya. Sejak ia pindah

kerumah barunya 5 bulan lalu hingga sekarang ia masih

penasaran siapa perempuan yang sering menatap

pemandangan luar dari balik jendela dan baekhyun belum

pernah sekalipun melihat perempuan itu keluar dari

rumahnya tapi mungkin saja perempuan itu keluar

rumah saat baekhyun tidak melihatnya.

“Eomma tahu tidak siapa yang tinggal disebrang rumah

kita?” Baekhyun langsung bertanya pada ibu nya saat

tiba di ruang makan.

“Rumah yang bercat coklat itu?”

Baekhyun mengangguk menjawab pertanyaan dari

ibunya.

“Itu keluarga Seo, kenapa kau bertanya? Tidak

biasanya,”

“Tidak ada apa-apa, aku hanya bertanya saja,”

baekhyun mengangkat bahunya dan memasukan kimchi

kedalam mulutnya, “Eomma?”

“Hm?”

“Apa keluarga Seo punya anak perempuan?”

“Kenapa kau cerewet sekali?”

“Eomma jawab pertanyaanku,” baekhyun merengek pada

eomma nya.

“Iya iya, keluarga seo punya satu anak perempuan, dia

lebih muda satu tahun darimu, kenapa? Kau tertarik

padanya?”

“Eomma pernah melihatnya?”

“Eum tentu saja,”

“Kapan? Kenapa tidak memberitahuku?”

Ny.Byun sontak memukul kepala anaknya dengan sendok

yang sedang ia pegang, “Habiskan makananmu,”

Baekhyun merenggut dan menghabiskan makanannya

dalam diam.

Ji rin pov

Prang

Aku tiba-tiba terbangun dari tidurku, sepertinya ada

barang pecah. Hoaaamm~ sekarang jam berapa?

Aku melihat jam yang ada diatas nakas, jam 2 pagi.

Sebaiknya aku melihat kebawah, mungkin ada kucing

yang menyusup kedapur dan memecahkan piring.

Keadaan diluar kamar selalu terang jadi aku tidak usah

repot-repot membawa senter atau mencari saklar

lampu. Perlahan-laham aku menuruni tangga.

Sepertinya ada orang yang sedang berbicara dibawah,

apa mungkin eomma dan appa belum tidur selarut ini?

Saat tiba dibawah aku mendengar suara-suara dari

arah dapur, aku berjalan menuju dapur dan berhenti di

ruang makan, ruang makan dan dapur dipisahkan oleh

dinding. Aku mendegar suara eomma dan appa, mereka

sedang bertengkar?

“Aku lelah mengurus anakmu itu,”

“Dia juga anakmu,”

“Kirimkan saja dia kepanti asuhan,”

“Kau terlalu berlebihan, soo young,”

“Kau tidak pernah merasakan apa yang aku rasakan,

setiap hari kau pergi bekerja dan meninggalkanku

hanya berdua dengan ji rin, aku lelah,”

“Tapi dia darah daging kita Soo young,”

“Kenapa dia tidak cepat mati?”

“STOP..! bagaimana jika ji rin mendengarnya?”

“Kau tidak usah sok suci, bukan hanya aku yang

menginginkan ji rin mati. Kenapa sih penyakitnya itu

tidak membuatnya mati?!”

Eomma dan appa menginginkan aku mati? Seperti itu

kah? Pasti aku terlalu menyusahkan mereka.

Ji rin sekuat tenaga menahan air matanya, jika ia

harus mati ia tidak ingin penyakit ini yang

membunuhnya karena akan terasa sakit sekali. Ji rin

harus mencari cara agar kematiannya berlangsung

cepat dan dia tidak merasakan sakit.

Dengan perlahan ia berjalan menuju pintu depan,

jangan sampai eomma dan appa nya tahu jika ji rin

mendengar semuanya. Saat pintu terbuka udara dingin

langsung menyapanya, sepertinya hujan baru saja

berhenti. Ia tidak peduli jika sekarang hanya memakai

piyama dan sandal rumah. Ji rin berjalan tanpa tujuan.

Mungkin ia harus menuju jalan raya jika ingin cepat

mati, mobil yang melintas dijalan raya saat ini pasti

seperti di arena balap karena ini masih jam setengah 3

pagi.

Baekhyun terbangun dari tidurnya, tidak biasanya dia

langsung bangkit dan menuju jendela. Hatinya tergerak

untuk melihat kesana. Ia sempat mengira ada hantu

saat melihat rumah yang ada disebrang. Seorang

wanita memakai piyama berwarna putih sedang berdiri

didepan rumah keluarga Seo, rambutnya hitam sebahu

terurai. Baekhyun merinding tapi saat melihat kaki

wanita itu baekhyun yakin bahwa dia bukan hantu

karena kakinya masih menapaki tanah.

Baekhyun semakin menyipitkan matanya.

“Bukankah dia yang sering aku lihat dari jendela?

Sedang apa ia disana? Bahkan ini belum pagi,”

Karena penasaran baekhyun mengambil coatnya dan

berniat memantau tetangganya. Dia sedikit khawatir.

Saat baekhyun sudah keluar dari rumah ia sangat

terkejut karena tidak menemukan sang tetangga

didepan rumahnya. Baekhyun menengok kekiri dan kanan

berharap sang tetangga bisa ia temukan.

Baekhyun memutuskan mencari sang tetangga kearah

kanan, mungkin saja dia menuju jalan raya. Anggap

saja ini olah raga pagi (sangat pagi), sudah lama

baekhyun tidak jogging karena baru beberapa menit

berlari dia merasa lelah. Payah!

Setelah 15 menit berlari baekhyun menemukan

tetangganya sedang berjalan dengan kepala menunduk,

ia ingin menghampiri tapi takut dikira penjahat jadi ia

hanya mengikuti dari belakang sambil mengatur

napasnya sehabis berlari.

Baekhyun lelah sekali, ia haus dan dia merasa kakinya

sebentar lagi akan copot. Berlebihan sekali.

Karena terlalu sibuk memikirkan kakinya yang sebentar

lagi akan copot baekhyun tidak sadar jika sekarang

tetangganya berjalan menuju jalan raya. Saat dia

mendongak tetangganya sudah berada ditengah jalan

dan ada mobil yang menuju kearahnya. Ini gawat

sekali.

Baekhyun segera berlari ketengah jalan dan menarik

tetangganya kepinggir trotoar dan mereka berdua

terjatuh tapi untung saja lukanya tidak separah jika

tertabrak mobil.

Baekhyun lega sekali, dia tidak peduli jika kaki dan

tangannya lecet-lecet yang penting dia berhasil

menyelamatkan tetangganya.

“Kau tidak apa-apa? Ada yang luka?”

“Kenapa kau menyelamatkanku?”

“Hah?”

“Kenapa kau tidak membiarkan aku mati?”

“Kepalamu tidak apa-apa?” Baekhyun bingung kenapa

orang yang dia selamatkan malah berbicara seperti itu

bukannya berterima kasih.

“KENAPA DUNIA BEGITU KEJAM?”

baekhyun kaget mendengar teriakan dari tetangganya.

“Kau baik-baik saja?” Baekhyun memegang bahu

tetangganya.

“Lepas, biarkan aku mati,”

Baekhyun langsung menarik tetangganya kedalam

pelukannya.

“Hiks.. hiks.. sakit.. sakit sekali,”

“Bagian mana yang sakit?”

“Semuanya, hiks.. hiks,”

Baekhyun mengelus-elus rambut ji rin.

“Menangislah sepuasnya agar kau lega,”

“Aku.. hiks.. tidak boleh menangis,”

“Wae?”

Ji rin berusaha menghentikan air matanya. Pipinya

terasa gatal dan sakit sekali terkena air mata.

Ji rin melepas pelukan baekhyun dan menghapus sisa-

sisa air matanya.

Baekhyun hampir saja memekik saat melihat muka dan

tangan ji rin memerah.

“Kau tidak apa-apa? Kenapa kulitmu memerah begini?”

“Aku tidak apa-apa, nanti juga hilang,”

“Hm sebaiknya kita duduk disana,” baekhyun menunjuk

halte yang tidak jauh dari mereka. Baekhyun baru akan

membantu ji rin berdiri tapi ji rin sudah terlebih dahulu

berdiri dan berjalan menuju halte yang baekhyun

maksud.

Mereka duduk bersebelahan dan baekhyun baru tersadar

jika ji rin hanya memakai piyama, pasti dia kedinginan.

Baekhyun melepaskan coat yang dia pakai dan

menyampirkannya dibahu ji rin.

“Kau saja yang pakai,” ji rin melepaskan coat dan

menyerahkannya kembali.

“Tapi kau kedinginan,”

Ji rin tersenyum “tidak apa, jika aku pakai coatmu

pasti aku akan berkeringat,”

Baekhyun bingung dengan jawaban tetangganya itu

tapi tidak dia hiraukan, “hm kita belum berkenalan, aku

baekhyun, byun baekhyun,” baekhyun mengulurkan

tangannya dan disambut oleh ji rin.

“Aku Seo ji rin,”

“Aku tinggal disebrang rumahmu,”

“Oh, hm jadi kau yang aku lihat tempo hari?”

Baekhyun menggaruk kepalanya yang tak gatal

kemudian mengangguk, dia malu sekali.

“Aku tidak pernah melihatmu keluar dari rumah, Apa

kau sering keluar jam segini? Ng.. maksudku ini

pertama kalinya aku melihatmu diluar rumah.”

“Hm,” ji rin tersenyum manis sekali “ini pertama

kalinya aku keluar rumah sejak 11 tahun yang lalu,” ji

rin masih tersenyum tapi binar matanya meredup.

“11 tahun lalu?”

“Dan ini pertama kalinya aku berbicara dengan orang

lain selain eomma dan appa,”

“Aku tidak mengerti,”

“Panjang sekali jika diceritakan, sekarang jam

berapa?”

“Jam 4 pagi,”

“Sebaiknya aku pulang, terima kasih baekhyun,”

“Kita pulang sama-sama,”

“Hm baiklah,”

Mereka berjalan beriringan dalam diam. Baekhyun

bingung dengan keadaan ji rin. Ia ingin sekali bertanya

tapi sepertinya ji rin enggan bercerita.

Setelah setengah jam berjalan akhirnya mereka sampai

didepan rumah keduanya.

“Aku duluan, sekali lagi terima kasih baekhyun,”

Baekhyun tersenyum dan melambaikan tangannya.

Baekhyun masih memandang punggung ji rin sampai ji

rin masuk kedalam rumahnya. Dan baekhyun enggan

sekali beranjak.

Ji rin membuka pintu rumahnya dengan perlahan.

Suasananya masih sepi mungkin setelah bertengkar

eomma dan appa nya melanjutkan tidur. Setelah sampai

dikamarnya ia langsung merebahkan tubuhnya.

Harusnya tadi ia berhasil mati jika tidak ada baekhyun.

Huft

Dadanya jadi sesak lagi. Ji rin kau tidak boleh

menangis!

Sudah seminggu sejak kejadian ji rin mendengar

pertengkaran kedua orang tuanya, orang tua ji rin

masih bersikap seperti biasa, perhatian eomma ji rin

masih berlimpah tapi hati ji rin sakit saat melihat

eomma dan appa nya memperhatikannya seperti hanya ji

rin yang mereka cintai. Jika eomma dan appa membenci

ji rin kenapa mereka sebaik ini?

Ji rin lelah,

Ji rin ingin pergi dari rumah agar tidak merepotkan

kedua orang tuanya lagi tapi ia harus kemana?

Teman tidak punya, saudara?

Hm mungkin ji rin bisa tinggal dirumah nenek untuk

sementara, ah tidak tidak tidak, ji rin tidak boleh

merepotkan siapapun lagi. Apa ia nekat saja, kabur

dari rumah? Tapi jika nanti eomma dan appa nya

mencari bagaimana? Ah tapi bahkan mereka ingin ji rin

mati. Menyedihkan sekali hidupmu ji rin.

Ji rin basah kuyup. ia lari dari rumah karena

mendengar pertengkaran kedua orang tuanya lagi.

Sekujur tubuhnya gatal dan perih. Ia sudah tidak kuat,

kapan rasa sakit ini akan berakhir?

Dan disinilah ia sekarang, dihalte bus tempatnya

pertama kali berbicara dengan baekhyun.

Ji rin memeluk lututnya, tidak ada gunanya dia

berteduh karena tubuhnya sudah basah tapi jika

semakin lama ia berada dibawah guyuran hujan pasti ia

bisa mati, tiba-tiba ia takut mati.

entah kenapa sekarang ia merindukan baekhyun,

padahal mereka baru sekali berbicara tapi kesan yang

baekhyun tinggalkan sungguh mendalam, mungkin

karena sudah terlalu lama ji rin tidak berkomunikasi

dengan orang lain selain kedua orang tuanya.

Hujan masih setia mengguyur kota seoul, sekujur

tubuh ji rin sudah memerah seperti kepiting rebus.

“Ji rin?”

Sayup-sayup ji rin mendengar seseorang memanggil

namanya tapi dia tidak bisa melihat dengan jelas

karena pandangannya kabur oleh air mata.

“Ji rin? Kenapa kau disini? Astaga kau basah kuyup,”

“Baek.. hyun?”

“Iya ini aku baekhyun, kenapa kau ada disini? Ayo kita

pulang.” Baekhyun menyampirkan coatnya ditubuh ji rin

yang sudah basah kuyup dan segera mengangkat tubuh

ji rin, tapi belum sempat dia mengangkatnya mata ji

rin sudah terpejam.

“Ji rin buka matamu, kumohon.. yaaa! ji rin, kau tidak

boleh mati.. bahkan kita belum bercerita banyak.”

Baekhyun panik, ia tepuk-tepuk pipi ji rin tapi tidak

ada respon. “Ji rin kumohon,”

Air mata baekhyun jatuh saat dia merasa ji rin tidak

bernafas lagi.

“Eomma.. appa.. maaf selalu merepotkan kalian.

Jaga kesehatan kalian.

Terima kasih untuk semuanya^^

Aku mencintai kalian eomma , appa ♥ ”

Seo ji rin

 

 

Fin

11 responses to “[Freelance] Aquagenic pruritus

  1. Ya ampun ji rinnya meninggal sungguh sangat disayangkan apalagi dipangkuan baekhyun saat kematiannya.
    Sayang sekali jika memiliki keluarga palsu yang pura2 membuat kita bahagia tetapi dibelakang kita ia sangat membencinya.
    Tapi alhamdulillah ada baekhyun yang dapat membuat ji rin tidak bersedih akibat keadaannya

  2. emak dan bapaknya ji rin jahat banget
    ckckckck
    mereka hanya berpura”manis aja di depan ji rin tapi di belakang ji rin mereka berharap ji rin cepat meninggal
    😥
    di tunggu karya”lainnya
    keep writing thor 🙂

  3. Ji rin meninggal.?? Ya ampuun, hidupnya udah menderita bnget dari kecil dan orang tuanya sendiri mlah gk bisa terima kalo dia sakit kyak gitu..

  4. Pingback: [Freelance] My answer is .. you chapter 7 | SAY - Korean Fanfiction·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s