A bed of yews (1/2)

a bed of yews copy

A bed of yews

 

Author: Windbeee

Cast: Oh Sehun |Ahn Hyejin (OC) |Cha Hyesung (OC) |Other casts || Rating: Pg-16+ ||Genre: Angst, Hurt, Romance, Marriage life ||Length: Two shoots

 

Disclaimer: The idea is not totally mine, because the story itself is already too cliché.

Note: Ide dasar fanfiction ini sama seperti Marigold (or not really, I don’t know by the way so,,,), tapi saya rombak menjadi cerita dengan setting dan alur yang berbeda (anggap saja saya orangnya tidak kreatif). Jadi tolong jangan berharap lebih.

Hati-Hati dengan Flashback parts yang akan muncul..

Untitled-1 copy 

 

Satu setengah abad yang lalu, teknologi yang dibuat oleh manusia mulai mengambil sebagian besar kehidupan mereka. Bukan dalam artian miring dimana mesin mengambil alih manusia dan bumi. Tidak. Hanya saja, beberapa hal yang dilakukan secara natural berabad-abad lalu, kini manusia percayakan kepada mesin buatan mereka.

Dan cinta masuk didalam listnya.

Bukan mereka tidak percaya akan cinta, bukan. Hanya saja rasa percaya mereka terhadap mesin buatan mereka lebih tinggi ketimbang perasaan mereka sendiri yang selalu mereka anggap sebagai hal yang bodoh dan tabu, karena tidak rasional.

Tapi bukankah cinta tidak pernah rasional.

“The Mour” sebutan mesin yang manusia percayakan untuk mencari pasangan sehidup semati mereka. Sekali pun pasangan mereka berada dibelahan dunia lainnya, mereka pasti akan bertemu satu sama lain untuk melangsungkan janji sehidup semati mereka.

Jadi bisa dipastikan, jika kebanyakan pasangan yang menikah belum pernah bertemu sama sekali dengan pasangan mereka. Tapi tak jarang orang yang akan mereka nikahi adalah orang yang tak pernah mereka duga.

Seperti orang-orang yang selalu bersama mereka, orang yang memang sejak lama selalu mereka sayangi.

Ataupun

Orang yang tak pernah ingin mereka temui lagi.

.

.

Sehun melangkahkan kakinya kedalam ruangan yang ada didepannya. Saat dia membukanya, dua orang gadis duduk diatas sofa, dan terlihat sibuk yang membuat mereka tidak menyadari keberadaan Sehun yang sudah berada didalam ruangan.

Mengetuk sepatunya diatas lantai marmer yang dia pijaki, Sehun membuat kedua gadis tersebut menarik perhatian mereka.

“Eoh, Sehun anyyeong!” sapa salah satu dari mereka.

Anyeonghaseo, Aku Cha Hyesung.  Apa unni mengenal Sehun?”  tanya Hyesung pada gadis yang ada disampingnya, yang hanya memakai celana jeans dengan kaos putih polos sebagai atasannya. Berbeda dengan Hyesung yang memakai dress selutut pas dengan badannya yang berwarna merah maroon.

Lima minggu lagi mereka bertiga akan mengucapkan sebuah janji suci untuk satu sama lain.

Oh Sehun dengan kedua istrinya, Cha Hyesung dan Ahn Hyejin.

The Triangle…

 

The Triangle,merupakan panggilan yang selalu orang-orang berikan kepada yang memiliki tiga orang dalam hubungan yang diputuskan oleh The Mour. Berbeda dengan diamond yang merupakan pasangan umum, dimana sebuah hubungan memiliki dua orang dalam sebuah hubungan.

10.000 : 1

Itulah perbandingan yang sering digunakan untuk pasangan diamond dan The triangle. Dan dari fakta tersebut membuat pasangan The Triangle sangat jarang terjadi.

.

.

Karena The Triangle harusnya memang  tidak terjadi, kecuali benang merah yang tuhan berikan kepada mereka melewati benang merah lain dan mulai menjalin jalinan rumit.

Cinta selalu diberikan kepada sepasang hati yang saling mencintai satu sama lain, tidak lebih. Yang membuat mereka melengkapi satu sama lain, dan menjadi diamond.

Kalau pun tidak,

Satu-satunya cara yang membuat cinta melengkapi satu sama lain dalam hubungan The Triangle, hanyalah satu.

Sacrifices…

.

.

.

.

.

Saat mereka sampai didalam apartemen yang orangtua Sehun berikan kepada mereka. Interior minimalis menyambut mereka.

Dinding ruangan yang dicat berwarna cream, ditambah ruangan tamu hanya diberi beberapa furniture membuat kesan menimalis semakin terasa. Walaupun begitu, kesan hangat yang ingin disampaikan tidak tertinggalkan.

Saat Hyesung mencoba mencari kamar tidur untuk mereka. Dia menemukan sebuah pintu berwarna coklat tua berada disisi kanan ruangan dari ruang tamu. Hanya ada satu kamar tidur.

“Hanya ada satu kamar tidur, dengan satu tempat tidur. Aku takut tempat tidur tersebut tidak bisa digunakan oleh tiga orang, ja—“ belum sempat Hyesung melanjutkan kalimatnya, Sehun sudah lebih dulu menyelanya.

“Kamar itu hanya untuk kau dan aku” ucap Sehun datar. Yang membuat Hyesung cukup terkejut.

“Ta—pi, tapi, bagaimana de—“

“Oh, tidak apa-apa Hyesung-ah, aku akan tidur disofa” berjalan kearah sofa panjang, Hyejin pun duduk disana, “jadi wilayah ini akan menjadi miliku, dan hei jangan memasang wajah seperti itu” sela Hyejin.

“Aku baik-baik saja” lanjutnya dengan senyuman tenang yang bermain dibibirnya. “Aku harus berangkat bekerja sekarang, jadi nikmati” Hyejin langsung bangkit dan berjalan kerah tempat dia menaruh ransel hitamnya tadi, saat dia akan keluar, dia melambaikan tangannya kepada Hyesung, mencoba meyakinkan jika dia memang benar baik-baik saja.

Hyejin melangkahkan kakinya keluar dari gedung apartemen dengan langkah pelan. Bibirnya terus mengucapkan kata-kata yang selalu membuatnya kuat selama empat tahun terakhir ini.

“Aku, baik-baik saja, aku baik-baik saja, aku baik-baik saja…” ulangnya. Dan akan terus mengulanginya hingga dia tidak bisa mengetahui berapa kali dia mengatakannya.

Bukankah empat tahun belakangan ini dia selalu baik-baik saja?

Lagipula dia memang pantas mendapatkannya.

“Sehun, apakah Hyejin akan benar baik-baik saja?” tanya Hyesung, bukannnya dijawab, Sehun justru berjalan kearah kamar mereka sekarang, meninggalkan Hyesung yang masih terlihat kurang yakin dan bingung tentang apa yang sebenarnya terjadi.

.

.

.

.

.

Nine years ago.

 

Sehun melangkahkan kakinya dengan tenang. Hari ini adalah hari pertamanya bersekolah di Sekolah menengah atas.

Suasana jalanan mulai menjadi ramai seiring menaiknya matahari dipagi hari ini.

Memasukkan kedua tangannya kedalam saku celanannya, Sehun menjalani paginya dengan cukup baik hari ini. Berhenti ditepian zebra cross, Sehun menunggu lampu lalu lintas menjadi warna hijau untuk para pejalan kaki.

Tahun ajaran baru telah dimulai untuk dari hari ini. Dimulai bersama sisa udara hangat dari musim panas masih terasa dipagi hari ini.

Setelah lampu menunjukkan warna hijau, Sehun pun menyebrangi jalan. Bersama dengan pejalan kaki lainnya.

Ajakkan ayahnya hari ini untuk mengantarnya di tolak dengan alasan ingin pergi kesekolahnya sendiri. Dan Sehun tidak menyesalinya. Dia menyukai perasaan dimana dia tidak akan bergantung dengan orang tuanya.

Terlalu asik dengan pemikirannya, tanpa Sehun sadari dirinya sudah sampai didepan gerbang sekolah. Dapat dia lihat beberapa orang yang melewatinya sesekali akan mencuri pandang kearahnya. Melihatnya Sehun hanya bisa memutar matanya bosan.

But still,

Welcome to High School’s life Oh Sehun!

.

.

Minggu ke-empat, Sehun menjalani High School’s life milikinya dengan tenang dan menyenangkan quote and quote. Dia sudah memiliki beberapa teman yang akan bersamanya saat makan siang atau sekedar belajar bersama. Seperti sekarang.

Baekhyun, yang duduk didepannya tampak sibuk menertawai lelucon menyedihkan yang dilontar oleh Junmyeon, seperti biasa. Tidak jauh dari tempat duduk Baekhyun, Chanyeol, terlihat tersungut-sungut karena kalah bermain game dari Kyungsoo. Jadi satu-satunya orang yang memakan makanannya sama seperti Sehun adalah Jongin, sahabat Sehun sejak kecil yang duduk disampingnya.

Dan sejauh ini, semuanya masih berjalan seperti biasa dan teratur. Seperti hidup Sehun yang selalu dia jalani selama enam belas tahun.

.

.

.

.

Hyejin pulang ke-apartemen, milik suami-nya pukul satu dini hari lebih. Saat dia membuka pintu apartemen, ruangan gelaplah yang menyambutnya. Menandakan jika semua orang sudah tertidur. Tanpa perlu menghidupkan lampu, dia berjalan kearah sofa panjang yang menjadi tempat tidurnya untuk hari ini atau mungkin seterusnya.  Memikirkannya Hyejin hanya bisa tersenyum kecil.

Dia sudah biasa seperti ini.

Hidup sebagai Unfortunate child membuatnya sudah terbiasa hidup sendiri dan dikucilkan.

Unworthy…

Worthless…

 

Diatas sofa panjang yang ada diruangan, sebuah selimut dan bantal sudah disiapkan.

‘Pasti Hyesung yang menyiapkannya’ pikirnya, sebelum berbaring disana dan membungkus tubuhnya dengan selimut tebal, dan menutup matanya pelan.

.

.

.

.

Saat Sehun melawati gym sekolah, sebuah pemandangan menangkap mata Sehun. Seorang gadis memunguti semua bola yang ada di gym sendirian. Walaupun hal tersebut hal biasa. Tapi sekarang, gadis tersebutlah yang menarik perhatian Sehun.

Hampir dua bulan lebih Sehun bersekolah disini, berarti hampir dua bulan lebih tanpa Sehun sadari dia terus memperhatikan gadis tersebut.

Gadis yang selalu berjalan sendirian saat melewati gerbang sekolah. Selalu berjalan sendirian melewati hall sekolah, dan selalu duduk sendirian saat makan siang ataupun jam istirahat. Bahkan Sehun sendiri bisa menghitung berapa kali gadis tersebut berkomunikasi dengan orang-orang disekitarnya.

Pemikiran Sehun langsung buyar saat Baekhyun meneriaki namanya dari ujung lorong.

Dengan langkah berat, Sehun meninggalkan tempatnya berdiri tadi.

Meninggalkan gadis yang sekarang menatap punggungnya dari  kejauhan.

.

.

.

.

Saat merasakan sinar matahari menyinari matanya yang tertutup dari sela-sela tirai jendela, Hyejin langsung terbangun.

Suasana apartemen masih sama seperti saat dia tidur tadi malam. Melihat jam dinding yang ada diruangan. Sekarang jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.

Bangkit dari tempatnya, Hyejin langsung bangun dan berjalan menuju dapur.

Membuka kulkas yang ada disana, dapat dia lihat bahan bahan keperluan dapur sudah memenuhi kulkas. Menandakan, setelah Hyejin meninggalkan Sehun dan Hyesung kemarin, mereka mungkin pergi ke super market untuk membeli keperluan dapur.

Menggulung rambutnya keatas, Hyejin mengeluarkan beberapa bahan makanan dari dalam kulkas. Memulai harinya dengan memasak sarapan untuk kedua orang yang menjadi keluarganya sekarang, adalah hal yang baik untuk memulai harinya hari ini.

.

.

Saat dia menata makanan yang dia masak diatas meja  makan, sebuah deritan pintu dari arah belakang mengalihkan perhatiannya. Hyesung terlihat berdiri didepan pintu masih dengan pajama tidur berwarna putih miliknya.

Mengucek salah satu matanya dengan cara yang lucu, tanpa Hyejin sadari dia yang melihatnya langsung tersenyum kecil. ‘Hyesung adalah orang yang sangat sempurna’ pikirnya. Fakta tentang Hyesung yang merupakan paling muda diantara mereka membuat Hyejin berpikir ‘jika dia bisa, Hyejin pasti akan memberikan semua kebahagiaan didunia kepada Hyesung’. Hyesung adalah gadis yang baik dan manis.

“Kau sudah bangun, jadi ayo sarapan. Dan apa Sehun sudah bangun?”

“eoh, unni. Maafkan aku tidak membantumu membuat sarapan untuk hari ini. Untuk Sehun, dia sedang bersiap-siap.”

Berjalan mendekat kearah meja makan, Hyesung langsung duduk disalah satu kursi. Didepannya, sebuah sup hangat sudah terhidang, dan terlihat sangat mengguyah selera makannya dipagi hari ini.

“Kau bisa makan lebih dulu, aku akan membersihkan dapur” ucap Hyejin saat dia mendapati Hyesung sudah menatap sup buatannya dengan lapar.

Mendengar ucapan Hyejin, Hyesung langsung mengambil sendok yang sudah disediakan disamping piring yang dia gunakan , “unni, gomawo” jawabnya saat sudah melahap sendok-an pertama.

Saat Hyesung hampir menyelesaikan sup miliknya, Sehun keluar dari ruang kamar, dengan rapi dan lengkap dengan tas kerja miliknya.

“Sehun, sarapanlah” ucapnya Hyesung, kepada Sehun yang tampak mendekat kearahnya. Saat sudah berada disamping  tempat duduk Hyesung, dengan sekilas dia melirik meja makan sebelum merendahkan sedikit tubuhnya agar setara dengan Hyesung.

Hyesung yang melihatnya, mengarahkan kepalanya kearah Sehun dan menaikkan kedua alisnya, menandakan dia sedang bingung.

Dengan cepat Sehun mengecup bibir Hyesung sekilas sebelum kembali berdiri “aku harus pergi, aku sudah cukup terlambat.” Sehun pun mengusap lembut ujung kepala Hyesung sebelum berbalik  dan keluar dari apartemen.

Meninggalkan, Hyesung yang sekarang sedang sibuk bersemu dan Hyejin yang tak berani mengangkat kepalanya.

Mengingat tentang keberadaan Hyejin. Hyesung langsung mengalihkan pandangannya kearah Hyejin. “Unni? apa..”

Perkataan Hyesung terpotong saat, Hyejin langsung menjawabnya dengan kibasan tangan dan senyuman dibibirnya. Menandakan dirinya baik-baik saja. “Apa yang akan kau tanyakan? Sup-nya tentu saja ini sangat lezat” ucap Hyejin dengan nada lelucon disetiap katanya, sebelum menyendok-kan satu sendok sup kedalam mulutnya.

“Ahh sangat lezat” lanjutnya, sambil mengeluarkan ekspresi yang melebih-lebihkan, yang membuat Hyesung tertawa kecil.

Empat tahun membuatnya sudah sangat pintar menyembunyikan semuanya.

Dan untuk sekali lagi. Dia memang pantas mendapatkannya.

.

.

.

.

Jongin yang menyadari Sehun seperti menatap sesuatu, mengikuti tatapan Sehun. Sebuah senyuman misterius muncul dibibirnya.

“Apa yang sedang kau lakukan?” bisik Jongin tepat ditelinga Sehun, membuat Sehun langsung terkejut. “Apa kau sedang menatapnya?” tanya Jongin sambil menggunakan dagunya untuk menunjuk seseorang yang Sehun pandangai sedari tadi.

Sehun pun menganggukan kepalanya.

“Dari yang aku dengar, dia adalah unfortunate child, dan mungkin karena alasan tersebut orang-orang tidak terlalu mau dekat dengannya.” Ucap Jongin sambil mengaduk jus jeruk miliknya.

Unfortunate child.

Seseorang yang tidak memiliki satu pun keluarga atau lebih tepatnya tidak tau dimana keluarganya, selalu dipandang rendah oleh orang-orang dijaman sekarang. Bahkan keberadaan mereka sering disamakan seperti para outcast yang merupakan kasta paling bawah dari kehidupan disosial sekarang.

Walaupun begitu status mereka tetaplah menjadi the unfortunate child. Yang memiliki nasib dimana kedua orang tua mereka ‘tidak menginginkan’ kehadiran mereka. Tidak seperti para outcast yang merupakan orang-orang yang sudah dikatakan putus asa akan hidup dan menjalani hidup dibawah nama kriminalitas.

Keberadaan anak-anak the unfortunate child memang selalu diperlakukan seperti memang tidak diinginkan didunia ini oleh orang-orang disekitar mereka, karena kedua orang tua mereka sendiri juga tidak menginginkan keberadaan mereka, sehingga membuat mereka dibuang.

Dijaman dimana semuanya sudah pasti akan terkontrol dan sudah dipastikan membuat jumblah orang-orang dengan identitas sebagai Unfortunate child pasti akan jarang ditemukan.

Dan semua Unfortunate child rata-rata akan ditanggung oleh pemerintah dan akan di berikan fasilitas dan perawatan oleh pemerintah Negara sampai mereka menginjak umur 21 tahun.

Mendengarnya Sehun langsung menatap Jongin terkejut. Dia tidak menyiapkan dirinya untuk mendengar fakta tersebut secepat ini. “Darimana kau tau?” tanya Sehun, bahkan dirinya sendiri merasa terkejut dengan nada bicaranya sekarang yang terdengar sangat tertarik. Oh Sehun bukanlah orang mudah tertarik akan sesuatu!

Jongin yang melihatnya reaksi Sehun langsung menyeringai kecil. “Yang benar, siapa namannya?” ucap Jongin sambil memunguti alat makannya keatas nampan yang dia bawa tadi.

“Dia” Jongin mengarahkan dagunya kearah gadis yang Sehun perhatikan sejak tadi. “Ahn Hyejin” selesai Jongin sebelum bangkit dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan Sehun yang sekarang kembali menatap gadis ‘misteriusnya.’

“Ahn Hyejin” bisik Sehun.

Untuk pertama kalinya, Sehun menyebutkan nama gadis tersebut dari bibirnya.

“Ahn Hyejin” ulang Sehun sekali lagi, sebelum sebuah senyuman muncul dibibirnya.

.

.

.

.

Sehun hanya menatap gedung apartemennya dengan kosong. Sekarang sudah lebih dari tiga minggu mereka bertiga hidup bersama. Dan pernikahan mereka akan berlangsung kurang dari dua minggu lagi.

Pertama kali dia menerima surat couple­-nya dari The Mour, jujur saja dia tidak tau reaksi apa yang harus dia berikan atau bagaimana hatinya bereaksi saat itu. Dia melupakannya dan ingin melupakannya.

Hatinya sudah terlalu lama mati yang membuat dirinya sendiri lupa akan rasa yang harus dia rasakan dihari dimana yang ibu-nya katakan akan sebagai hari yang paling mendebarkan untuk semua orang. Mungkin Sehun masuk dalam pengecualian. Satu-satunya rasa yang tersisa disudut hatinya hanyalah rasa dimana yang selalu mengingatkan dirinya jika dia memang sudah terlalu lama mati.

Numb

Mungkin hanya kata tersebut yang bisa dia sampaikan dengan kata jika dia ingin mengungkapkan perasaan hatinya.

Terlalu lama tenggelam, membuatnya lupa bagaimana jantungnya dulu berdebar kencang hanya untuk seseorang. Satu-satunya dan mungkin akan menjadi yang terakhir.

Sehun jatuh terlalu dalam untuk seseorang yang membiarkannya sendirian didalam lubang dalam yang dia pilih.

Membiarkan Sehun sendirian, yang perlahan tapi pasti membuatnya menjadi dingin dan selalu tertawa getir saat dia mendengar seseorang berbicara tentang cinta.

Love is destruction

 

Karena dirinya sendiri hancur karena hal bodoh yang orang-orang sebut cinta.

Menghembuskan nafasnya dalam, Sehun melangkahkan kakinya kedalam gedung. Dia ingin berlari menjauh, tapi sekarang dia sudah terlalu lelah untuk berlari. Dia seperti berlari didalam lingkaran besar yang menjebaknya selama ini, membuatnya harus kembali kearah titik yang sama. Titik awal yang selalu ingin dia hindari.

Saat Sehun membuka pintu apartemen, satu-satunya orang yang menyambutnya adalah Hyejin, yang sekarang tampak sibuk dengan computer dan tablet drawing yang ada didepannya.

Untuk dua hari kedepan, Hyesung tidak akan pulang karena trip sekolah yang harus dia hadiri. Menjadi seorang guru menengah pertama, membuatnya harus mengikuti trip untuk mengawasi murid-muridnya.

Hyejin yang mendengar suara ‘klik’ dari arah pintu langsung mengarahkan pandangannya kearah sana, dilihatnya Sehun melepaskan sepatunya.

Bangkit dari tempat duduk Hyejin mendekat kearah Sehun. “Apa kau ingin ku siapkan minuman atau makanan?” tanya Hyejin sambil terus melihat gerak yang Sehun lakukan. “Bagaimana dengan air hangat? Apa kau ingin mandi sekarang?” tanya Hyejin sekali lagi, sambil mengikuti dari belakang.

Bukannya menjawab Sehun langsung masuk kedalam kamar dan menutup pintu kamarnya dengan cukup kasar didepannya Hyejin.

Hyejin yang melihat perlakuan Sehun hanya bisa tersenyum getir.

“Aku baik-baik saja, aku baik-baik saja, aku baik-baik saja.”

Untuk sekali lagi, Hyejin kembali mengulang mantra yang sekarang mulai membunuh dirinya secara perlahan.

.

.

.

.

Semuanya terasa seperti sebuah takdir yang memang dituliskan untuk Sehun.

Saat Sehun masuk kedalam ruangan kelas yang hanya berisi sembilan siswa termasuk dirinya sendiri. Diujung ruangan dapat dia lihat Jongin, menyeringai kearahnya, yang hanya dia balas dengan mata bosan.

Art Class.

Jongin-lah yang membuatnya masuk kedalam kelas yang selalu menjadi musuhnya sejak pertama kali dia menginjakkan kakinya ditempat yang bernama sekolah.

Mengambil kertas pilihan Extra Kurikuler milik Sehun tanpa sepengetahuannya, dan se-enak jidatnya, membuat Sehun masuk kemari.

Sehun bukanlah orang yang memiliki jiwa artistry tinggi. Hell, membuat lingkaran saja dia tidak becus, apalagi menggambar bentuk lain yang lebih rumit.

Dia adalah salah satu nerd yang akan lebih memilih bergelut dengan angka-angka yang ada dibuku kalkulus miliknya ketimbang, bermain dan membuat garis dengan pensil dan buku gambar.

Mengambil tempat duduk didepan Jongin, Sehun tak melirik Jongin sekali pun.

Karena dia tau dengan pasti, jika sekarang Jongin sedang mengejeknya dengan senyuman aneh miliknya.

Saat, Sehun sibuk memperhatikan beberapa lukisan yang dipajang di-dinding, pintu ruangan kembali terbuka. Sehun membawa pandangannya kearah sana.

Hyejin memasuki ruangan dengan kedua telinganya yang tersumpal earphone. Langsung membalikkan tubuhnya kearah Jongin dengan cepat, Sehun memberikan tatapan tak percaya kepada Jongin, yang dibalas dengan kedipan mata Jongin. Dan dapat Sehun tangkap jika Jongin sedang menahan tawanya sekarang.

‘Shit’ Sehun tidak memikirkannya. Dia lupa jika Jongin adalah orang yang sangat sensitive terhadap sekitarnya. Tapi Sehun tidak menyangka jika tingkat ‘ke-peka-an’ Jongin sampai dalam level ini. Tapi apa dia peka akan Sehun yang sedang dalam kondisi cukup krisis sekarang.

Menghembuskan nafasnya kasar, Sehun menjatuhkan kepalanya diatas meja yang menghasilkan bunyi ‘thud’ yang cukup keras, yang membuat orang-orang yang ada dikelas menatap Sehun dengan bingung.

Termasuk Hyejin, yang duduk sendirian di sudut kelas.

.

.

.

.

Hidup sebagai seorang Digital Artist yang sudah memiliki cukup nama yang baik dikhalayak, membuat pekerjaan Hyejin, semakin hari semakin meningkat.

Untuk mempermudah dirinya sendiri dalam mengatur, semua hal tentang pekerjaannya. Satu setengah tahun belakangan ini, dia memasuki sebuah perusahaan yang memang memberikannya jaminan yang cukup menjanjikan.

Dan entah takdir memang sangat senang mempermainkannya. Salah satu temannya yang semasa Menengah Atas dan kuliah juga ada diperusahaan tersebut bahkan satu department dengannya, sebagai Digital Artist. Yaitu, Kim Jongin.

Sejak Menengah Atas, Jongin-lah satu-satunya orang yang pertama kali ingin dekat dengannya. Sama-sama bergelut dan tertarik dibidang Seni, terutama seni dua dimensi, langsung membuat mereka berdua menjadi cepat dekat hanya dalam beberapa hari.

Awal pertemuan mereka terjadi, saat hari pertama sekolah.

Hyejin ingat betul bagaimana Jongin yang masih merupakan siswa baru, terlihat cukup bingung dengan lingkungan sekolah yang memang sangat luas.

Tanpa sengaja, Jongin melihat Hyejin yang saat itu duduk sendirian dibawah pohon maple yang ada dibelakang sekolah, lengkap dengan alat-alat gambarnya.

Tertarik, Jongin pun mulai berbicara dengannya, dan membuat mereka menjadi teman yang cukup baik.

Hyejin mengeratkan badannya yang terasa sedikit kaku akibat berkutat terlalu lama dengan computer dan tablet-nya. Saat dia melihat jam, waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Sekarang waktunya untuk makan malam.

Melirik pintu coklat yang sejak tiga jam yang lalu ditutup dan sampai sekarang tidak dibuka, membuat Hyejin menghela nafas.

Bangkit, Hyejin langsung berjalan kearah pintu coklat tersebut, lalu mengetuknya pelan saat dia sudah berada didepannya. “Sehun, apa kau menginginkan makan malam?” setelah beberapa saat, pertanyaan Hyejin tak kunjung dijawab. Untuk sekali lagi Hyejin mengetuk pelan pintu tersebut, “apa kau tidak ingin makan malam?” tak dijawab untuk sekali lagi, Hyejin pun kembali ketempatnya, dan kembali melanjutkan pekerjaannya.

Saat jam menunjukkan pukul sebelas malam, pintu kamar Sehun dan Hyesung terbuka. Terlihat Sehun keluar dari sana, lengkap dengan celana jeans dan hoodie abu-abu miliknya. Tanpa mengatakan apapun, dia melewati Hyejin begitu saja, dan keluar dari apartemen.

Hyejin yang melihatnya hanya melanjutkan pekerjaannya dalam diam.

.

.

.

.

Sehun tidak memperhatikan guru yang menjelaskan tentang bagaimana sebuah mata memiliki peran penting dalam pembuatan sebuah portrait gambar. Hell, dia akan mengingat semua penjelasan guru tersebut.

Saat, Go Songsaenim menyelesaikan penjelasannya, dan menyuruh semua siswa yang ada dikelas mencari partner masing-masing, dan menggambar wajah satu sama lain, tapi untuk hari ini hanya salah satu partnerlah yang harus menggambar wajah partner mereka.

Saat, Sehun melihat sekeliling ruangan, hampir semua orang sudah memiliki pasangan, bahkan Jongin, sahabat baiknya quote and quote, yang mengatakan jika artwork seperti wajahnya tidak pantas digambar oleh orang amatiran seperti Sehun, yang hanya membuat Sehun semakin geram, akan Jongin.

Sehun pun mengalihkan pandangannya saat merasakan tepukan ringan dipundak kirinya. Hyejin sedang berdiri dibelakangnya sekarang, lengkap dengan kedua tangan yang memegang alat-alat gambar.

“Oh, Hi. Jika kau tidak keberatan” Sehun menunggu setiap kata yang Hyejin ucapkan dengan sabar, “jika kita bisa menjadi…”

“Oh tentu saja, kau bisa menjadi partnerku” jawab Sehun cepat. Ternyata kesabaran Sehun cukup singkat.

“Eoh” Hyejin yang mendengarnya cukup merasa terkejut, tapi dengan cepat dia mengendalikan ekspresinya.

“Oke, baguslah kalau begitu” ucap Hyejin sambil menarik salah satu kursi yang dekat dengan tempat Sehun “jadi siapa yang akan menggambar untuk hari ini?” tanya-nya sambil mengeluarkan semua alat-alatnya dan menaruhnya dengan teratur diatas meja yang dekat dengannya.

“Kau bisa melakukannya” jawab Sehun, dengan pandangannya yang tak lepas dari Hyejin.

Merasakan pandangan Sehun, Hyejin langsung mengangkat kepalanya dan menatap Sehun. “Apa ada yang salah denganku? Kau terus menatapku sedari tadi”

“Tidak, hanya saja kau terlihat cantik” balas Sehun ringan, yang langsung membuat kedua pipi Hyejin bersemu.

Karakter Oh Sehun yang selalu mengatakan apa yang dia rasakan dan pikir membuatnya terlihat cukup aggressive sekarang.

“Aku tidak tau, kenapa kau mengatakannya. Tapi terimakasih atas pujianmu, ?” menghentikan kalimatnya, Hyejin menatap Sehun. Mengerti, Sehun langsung mengulurkan tangannya dan dibalas oleh Hyejin.

“Aku, Oh Sehun”

“Sedangkan gadis yang kau katakan cantik ini bernama, Ahn Hyejin” balas Hyejin dengan senyumannya.

Mendengarnya, wajah Sehun seperti terbakar. “Tapi kau memang cantik, Hyejin-shi” balas Sehun, sebelum membenarkan cara duduknya agar menjadi sedikit tegap, saat dia melihat mulai bersiap-siap untuk menggambarnya.

“Kau memiliki selera humor yang cukup menyedihkan, Sehun-shi. Tapi aku menyukai humor yang menyedihkan” Hyejin mulai menggores kertas putih yang ada didepannya.

“Itu bukan lelucon, kau memang benar-benar cantik” sahut Sehun, sambil menatap Hyejin yang kini juga menatapnya.

Menatap satu sama lain cukup lama, Hyejin langsung memutuskan pandangannya, kembali kearah kertas yang hanya berisi beberapa goresan dasar.

“Kalau begitu, untuk sekali lagi terimakasih” jawab Hyejin dengan senyuman dibibirnya dan semu merah dikedua pipinya.

.

.

.

.

Saat Sehun kembali ke apartemen, jam yang ada ditangannya sudah menunjukkan pukul setengah tiga dini hari.

Berjalan-jalan disisi sungai Han ditengah malam selalu menjadi kebiasaannya saat dia mulai merasa penat akan pekerjaan atau kehidupan sehari-harinya sendiri.

Saat dia masuk kedalam apartemennya, lampu ruanga tengah masih menyala, menandakan Hyejin masih belum tertidur.

Saat dia menginjakkan kakinya diruang tengah, dia masih mendapati Hyejin masih berkutat dengan pekerjaannya, yang bahkan tidak menyadari keberadaan Sehun.

Tiga minggu tinggal bersama, berarti sudah tiga minggu dia tidak mengucapkan sepatah kata pun pada Hyejin.

Berhenti ditengah jalan, Sehun kembali menatap punggung Hyejin yang memunggunginya sekarang. Melihat jam tangannya sekali lagi, Sehun merasa cukup ragu sekarang. ‘Apa dia selalu bekerja hingga selarut ini?’ pikir Sehun.

Ingin langsung masuk kekamarnya, tapi tubuh Sehun justru seperti berkata lain. Dia berjalan mendekat kearah Hyejin.

“Tidurlah” ucap Sehun pelan. Sebelum berbalik dengan cepat dan masuk kedalam kamarnya, tanpa menghiraukan Hyejin yang terlihat cukup terkejut.

Hyejin yang melihat tingkah laku Sehun, tanpa dia sadari, sebuah senyuman kecil tercetak dibibirnya.

.

.

.

.

Sesekali Sehun akan tertawa kecil saat dia mendengar lelucon kecil yang akan Hyejin lontarkan dalam pembicaraan mereka. Ini lebih mudah dari yang dia duga.

Sehun tidak tau jika dirinya bisa menjadi nyaman dalam waktu kurang dari 7 jam disekitar Hyejin.

Menurut Sehun, Hyejin sangat tau bagaimana mengatasi seseorang seperti Sehun, yang memang akan menjadi canggung saat bertatap muka dengan seseorang untuk pertama kalinya.

Tanpa mereka berdua sadari, tiga setengah jam lebih waktu sudah berlalu, menunjukkan kelas extra kulikuler untuk hari ini sudah selesai. Suara bell pun terdengar menyusul yang menandakan jam makan siang sudah dimulai.

Hyejin pun mulai menghentikan gerakan tangannya untuk mengambar, lalu mulai memasukkan alat-alat gambar kedalam tas miliknya.

“Jadi, selamat bertemu satu minggu lagi, Sehun-shi” Hyejin pun beranjak dari tempat duduknya dan berjalan melewati Sehun.

Sehun yang menyadarinya langsung mengejar dan menghalangi langkah Hyejin.

“Apa kau sudah menyelesaikan gambar milikmu?” tanya Sehun, tanpa peduli bagaimana orang-orang kini mulai memperhatikannya karena berbicara dengan salah satu unfortunate child yang ada disekolah ini. Atau bagaimana Hyejin sendiri yang menatapnya cukup terkejut.

“Aku bisa menyelesaikannya dengan sendiri.”

“Tapi bukankah lebih bagus jika kau mengeyelesaikannya jika melihat wajahku?”

Hening menyelimuti mereka.

Sebelum sebuah senyuman muncul dibibir Hyejin “Tentu saja.”

.

.

Jadi disinilah Sehun sekarang. Memakan makan siangnya hanya berdua bersama Hyejin dibelakang sekolah. Tepatnya dibawah pohon maple.

Dan Sehun sudah tau paling sedikit banyak tentang, kakak kelas yang satu-satunya orang yang membuat Sehun tertarik.

Ahn Hyejin, kelas 11 A yang merupakan kelas elite yang dikhususkan untuk siswa yang memiliki nilai diatas rata-rata, dan dipenuhi oleh nerd sekolah.

Jadi untuk sejauh ini, Hyejin merupakan orang yang memiliki kepintaran yang bisa dibilang sama dengan Sehun, karena Sehun sendiri juga masuk kelas A, tepatnya kelas 10A.

Memakan sandwitch yang dia beli tadi dikantin sekolah, sekarang Sehun hanya memperhatikan Hyejin yang sedang terlihat serius dengan gambar yang ada ditangannya.

“Jadi, apa kau akan menerus mengambil kelas seni sebagai extrakurikuler di semester selanjutnya Sehun-shi?” tanya Hyejin setelah suasana hening menyelimuti mereka cukup lama.

“Aku tidak tau, ini kali pertama aku mengambil kelas seni” mendengarnya Hyejin langsung mengangkat kepalanya dan  menatap Sehun penuh tanda tanya.

Hyejin rasa, Sehun adalah orang yang cukup aneh. Mendekati dirinya yang merupakan unfortunate child dimana orang-orang disekolah selalu menghindarinya, kecuali beberapa anak yang memilki takdir sama sepertinya.

“dan bisakah kau tidak menggunakan formalitas kepadaku, aku merasa tidak nyaman dengan formalitas yang ada” lanjut Sehun.

“Oke, tuan Oh Sehun. Apa kau tau jika kau orang yang cukup aneh?”

“Terimakasih atas pujianmu, nona Ahn Hyejin. Dan tolong jangan tanya aku, karena aku sendiri tidak tau.” Jawab Sehun dengan toothy smile miliknya.

Melihatnya tingkah Sehun, tawa kecil lolos dari bibir Hyejin. Dan untuk sekali lagi, jantung Sehun berdegup sangat kencang.

“Aku harap kita bisa menjadi lebih dekat, Hyejin” ucap Sehun, dan bahkan dirinya sendiri merasa cukup terkejut dengan nada lembut yang dia gunakan.

Dan untuk sekali lagi, Hyejin menjawabnya dengan senyuman manis miliknya.

.

.

Sekarang, Jongin hanya tersenyum aneh kearah Sehun. Mereka sedang belajar bersama dikamar milik Sehun. Dengan Jongin yang duduk diatas kasur milik Sehun, sedangkan Sehun sendiri, berbaring diatas lantai yang dilapisi dengan karpet berwarna hitam dilantai kamarnya.

Merebahkan badannya, Jongin menggeserkan sedikit badannya untuk mendekat kearah Sehun. “Aku tidak tau jika, Mister Oh sahabat kecilku ini bisa se-agresive itu” ucap Jongin, yang dibalas dengan lemparan buku paket IPA milik Sehun. Menangkapnya dengan gesit, Jongin menyelamatkan wajahnya dari lemparan buku dengan 600 halaman tersebut.

“Kau terlalu naïf Oh Sehun. Tapi jika kau perlu bantuanku, aku bisa membantumu.” Dan sekarang balasan yang Jongin dapatkan adalah pukulan keras disekujur tubuhnya.

.

.

.

.

Sehun berdiri didepan podium dengan cukup tenang, untuk ukuran orang yang akan melangsungkan pernikahan hanya dalam beberapa menit lagi.

Saat pembawa acara memulai acara, semua hadirin berdiri yang merupakan hanya  dari teman dan kerabat miliknya, Hyesung dan Hyejin.

Saat pintu ruangan terbuka, Hyesung terlihat masuk dan didampingin oleh ayah mertuanya. Lalu disusul oleh Hyejin yang didampingi oleh ayahnya sendiri. Melihatnya, membuat hati kecil Sehun seperti teremas, walaupun sedikit, tapi Sehun masih bisa merasakannya dengan jelas.

Melepaskan putri kesayangannya disamping Sehun, Tuan Cha menepuk pelan pundak Sehun.

Saat, ayahnya dan Hyejin sampai didepannya. Dapat dia rasakan, nafasnya seperti terhenti sejenak, saat dia bisa melihat bagaimana cantiknya wajah Hyejin dari balik kerudung tipis yang dia kenakan sekarang. Melepaskan tangan Hyejin, Oh Su Won tersenyum kearah anaknya dan kedua menantu cantik miliknya, sebelum turun dan berjalan menuju tempat istrinya berdiri.

Acara pun dimulai dengan tenang dan teratur. Semuanya terasa sangat singkat, tapi tetap terasa tersentuh.

Oh Sehun, Ahn Hyejin, Cha Hyesung.

Mengikat diri mereka kepada satu sama lain hingga maut menjemput dihari itu, detik itu, saat itu.

Atau mungkin saat Hyejin atau Hyesung, akan melapaskan diri mereka dari ikatan takdir mereka dengan sacrifice.

.

.

.

.

Sehun hanya memandangi gambar yang Hyejin perlihatkan dengan ternganga. ‘wow, apa itu benar wajahnya’ pikir Sehun.

“Kau tidak menambahkan sesuatu didalam gambar hanya untuk membuat diriku terlihat lebih tampan-kan?”  ucap Sehun, lalu mengarahkan pandangannya kearah Hyejin. “Wow, tuan Oh. Kau memiliki kepercayaan diri yang cukup tinggi rupanya” jawab Hyejin sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, dan berpura-pura memasang wajah tak percaya, yang terlihat sangat berlebihan.

Sehun yang melihatnya langsung menyentil dahi Hyejin dengan mudah, karena Hyejin memang lebih rendah darinya. “Hadiahku, sebegai ucapan terimakasih” ucap Sehun saat dia menerima tatapan tak terima milik Hyejin.

“Kau ben—“

Belum sempat Hyejin membalas ucapan Sehun, Go Songsaenim sudah lebih dulu masuk kedalam kelas dan memulai pelajaran. Yang membuat Hyejin mau tak mau harus kembali ketempat duduknya, yang sekarang dua meja disamping Sehun.

.

.

Sehun hanya menatap, kertas putih didepannya dengan tatapan sulit, sebelum dia bergantian menatap Hyejin yang sedang duduk  tidak jauh didepannya. Kembali menatap kertas gambarnya, lalu menatap Hyejin.

Begitu, Go Songsaenim, menyuruh para muridnya untuk kembali duduk dengan pasangan masing-masing dan mulai menyuruh mereka berganti peran dan mulai menggambar. Saat itu juga, otak Sehun seperti ditimpa oleh sesuatu yang sangat berat.

Hyejin yang memperhatikan Sehun sejak tadi, mulai tak sabaran. “Apa ada sesuatu?” tanya Hyejin pada akhirnya.

“Aku—aku—aku, tidak bisa menggambar” Dan dapat Hyejin dengar volume suara Sehun seperti semakin mengecil saat dia mengatakan kata terakhirnya.

“Huft, aku rasa, aku harus merelakan wajahku dijadikan percobaan.” Hyejin bangkit dari tempat duduknya dan berjalan kearah Go Songsaenim yang terlihat sedang membantu salah satu muridnya.

Dapat Sehun lihat jika sekarang Hyejin seperti membicarakan sesuatu, sebelum akhirnya Go Songsaenim terlihat menganggukkan kepalanya.

Kembali ketempatnya Hyejin, pun mulai memasukkan alat-alatnya kedalam tas miliknya. “Kemasi barang-barangmu tuan, kau akan belajar banyak dariku hari ini.” Hyejin pun mengendong tas punggungnya. Melihatnya, dengan cepat Sehun memasukkan semua barang-barangnya, sebelum berjalan mengikuti Hyejin dari belakang untuk meninggalkan kelas.

Dan dapat dia lihat jika Jongin sedang menyeringai kearahnya, dibalik canvas yang dia gunakan.

.

.

Sehun mulai memperhatikan Hyejin, dengan seksama yang sedang menjelaskan tetang struktur dasar sebuah wajah.

Ditemani dengan suasana sunyi, halaman dan angin akhir musim panas. Dibelakang sekolah. Dibawah pohon maple. Ditempat yang seminggu ini selalu menjadi tempat bersama untuk, Sehun dan Hyejin.

Ditambah Jongin.

.

.

.

.

Tidak ada resepsi, untuk pernikahan mereka. Tapi setelah pernikahan, Keluarga Sehun dan keluarga Hyesung melangsungkan makan malam di-kediaman keluarga Oh, bersama dengan beberapa teman terdekat mereka.

Suasana makan malam diselimuti oleh Suasana hangat dari kedua keluarga. Ibu Hyesung, dan Kim Cho Rim, ibu Sehun sedang berbincang hangat dengan Hyesung yang juga menemani mereka. Sehun, terlihat sedang sibuk berbicara dengan teman-temannya.

Dan disinilah Hyejin, mengamati semua pemandangan hangat yang ada didepannya dalam diam. Meneguk wine yang ada ditangannya, Hyejin melangkahkan kakinya keluar dan berjalan menuju, balkon belakang keluarga Oh.

Hyejin memeluk tubuhnya, saat dia merasakan angin berhembus kearahnya, yang hanya mengenakan gaun pengantin tanpa lengan.

Sebelum dia merasakan sebuah jas tersampir dipundaknya. Membalik tubuhnya, sekarang didepannya, ayah mertuanya berdiri dengan senyuman dibibirnya.

“Paman, kau tak perlu melakukan ini” berusaha, menurunkan jas yang ada dipundaknya, tangan Hyejin dicegah oleh, ayah mertuanya.

“Pakailah, dan jangan panggil aku paman, tapi panggil aku ayah. Karena aku adalah ayahmu mulai hari ini” ucapnya tenang, masih dengan senyuman yang terpaut dibibirnya.

Menggeser sedikit tubuhnya, Hyejin membiarkan Tuan Oh yang sekarang menjadi ayahnya berdiri disampingnya.

Menikmati halaman belakang luas yang tertata rapi, dalam keheningan diantara mereka berdua membuat suara angin yang berhembus semakin terdengar jelas.

“Hyejin-ah, maafkan ayah karena tidak bisa menjagamu empat tahun yang lalu”

Mendengarnya, Hyejin hanya bisa tersenyum miris. “Kau tidak memiliki kesalahan apa-apa ayah. Sekalipun ibu mertua. Semuanya adalah kesalahanku disini. Aku yang mendorongnya untuk menjauh” Hyejin menghentikan kalimatnya, seketika kerongkongannya terasa kering hanya untuk melanjutkan beberapa kata “aku yang salah disini. Jadi aku pantas mendapatkan perlakuannya ayah.”

Hyejin tak berani menatap balik ayah mertuanya yang sekarang menatapnya lekat dari samping. “Aku yang salah disini” bisiknya untuk sekali lagi.

.

.

Hampir dua bulan lebih mereka bertiga bersama. Suasana apartemen masih sama seperti sejak pertama kali dia menginjakkan kakinya disini.

Hyesung membalikkan tubuhnya, sehingga dia bisa melihat wajah Sehun yang tertidur disampingnya. Dan sejak mereka sampai disini, sejak saat itu juga Hyesung belum pernah sekalipun melihat Sehun tersenyum ataupun mengeluarkan sebuah ekspresi, selain menggunakan wajah poker face miliknya.

Menatap langit-langit kamar dalam kegelapan, Hyesung menghembuskan nafasnya panjang.

Walaupun begitu, dia sangat tau bagaimana Sehun selalu mengkawatirkan dirinya.

Terlalu banyak sisi misterius yang Sehun selalu tunjukkan.  Termasuk, Hyejin sendiri.

Walaupun Hyejin selalu tersenyum dan selalu membuat Hyesung tertawa dengan lelucon konyol yang dia lontarkan. Tapi semuanya berubah saat Sehun berada didekat Hyejin. Begitu juga Sehun sendiri. Semuanya terlihat sangat jelas jika mereka berdua berdekatan satu sama lain.

Walaupun Hyesung sudah mengetahuinya sejak awal pertemuan mereka bertiga.

Tapi dirinya terlalu takut untuk masuk kedalam lingkaran aneh yang Sehun dan Hyejin punya untuk satu sama lain.

Membuatnya untuk memilih menutup erat kedua mata dan telinganya, menganggap tidak ada yang salah terjadi diantara Sehun dan Hyejin.

Hyesung lebih memilih menjadi gadis naïf yang akan selalu melihat dan berpikir semuanya baik-baik saja.

.

.

.

.

Waktu berjalan sangat cepat. Saat musim gugur mulai datang dan membuat daun-daun pohon maple dibelakang sekolah berwarna merah dan mulai berguguran. Lalu tak berdaun saat musim dingin menyelimuti Seoul.

Hyejin yang berdiri dibawahnya, sesekali akan menangkupkan kedua tangannya untuk membuatnya menjadi sedikit lebih hangat.

Awal bulan Desember sudah datang bersama dengan salju putih yang selalu turun hampir disetiap pagi hari. Mengeretkan jaket tebalnya, Hyejin mengarahkan pandangannya kesumber suara yang memanggilnya dari arah belakang.

Sehun terlihat baru saja berlari, yang membuat nafasnya seperti terburu.

“Jika kau terlambat, seharusnya kau mengirimiku pesan daripada terburu-buru.”

“Maafkan aku” ucap Sehun sambil berjalan mendekat kearah Hyejin.

“Jadi apa yang ingin kau katakan sampai-sampai menyuruhku untuk keluar, saat aku sedang menikmati liburan musim dinginku.”

“Ayolah, aku tau kau tak melakukan apa-apa noona” cibir Sehun, lalu duduk disamping Hyejin yang sudah duduk diatas bangku panjang yang disediakan.

Hyejin yang mendengarnya hanya, memutar matanya bosan. “Jadi cepat katakan apa yang ingin kau katakan, aku kedinginan” pinta Hyejin, dia sedang tidak berbohong sekarang, karena dia memang tidak bisa berdiam diri terlalu lama diudara dingin.

Begitu duduk disamping Hyejin, Sehun langsung menarik kedua tangan Hyejin dan menghangatkannya, dengan cara menghembuskan nafas hangat diantaranya. Tidak ada yang mengejutkan. Skinship. Mereka selalu melakukannya, dari hanya sentuhan-sentuhan kecil sampai memeluk satu sama lain sudah mereka lakukan.

“Jadi apa yang ingin kau katakan?”

Melepaskan kedua tangannya, Sehun menatap Hyejin. Dia baru mengenal Hyejin kurang dari setengah tahun. Tapi itu sudah menjadi cukup untuknya.

“Apa kau mau menjadi kekasihku?” tanya Sehun sambil berusaha menenangkan detak jantungnya.

Hyejin yang mendengar pernyataan Sehun langsung menaikkan kedua alisnya. Menaikkan tangannya kearah dahi Sehun, mendiamkannya beberapa saat. “Kau sedang tidak sakit sekarang. Apa kau mabuk? Tapi aku tau kau bukanlah orang seperti itu. Dan bulan april masih lima bulan lagi, jadi sekarang terlalu cepat untuk april mop, apa kau—“

“Apa kau mau menjadi kekasihku?” tanya Sehun untuk sekali lagi, dan kali ini terdengar jauh lebih percaya diri daripada yang sebelumnya.

“Apa Jongin yang menyuruhmu untuk mengatakannya? Aish anak itu seharusnya mengatakan sendiri jika dia ing—“

“Nona Ahn Hyejin, apa kau mau menjadi kekasihku?” sekarang nada bicara Sehun mulai terdengar sedikit kesal.

“Aku adalah unfortunate child”

“Aku mengetahuinya”

“Aku tidak secantik soojung yang seangkatan denganmu”

“Sangat jelas”

“Aku tidak memiliki pribadi yang menyenangkan seperti Ahyeon”

“Mungkin tidak”

“Aku tidak sekaya kau”

“Bukan aku, tapi orangtua ku”

“Aku sangat jelek Oh Sehun” sekarang, semakin kesini nada bicara Hyejin terdengar seperti sedang mengeluh kepada kekasihnya, paling tidak itulah yang Sehun anggap.

“Oh Sehun, aku rasa kau mengucapkannya kepada orang yang salah”

“Tapi yang aku rasa tidak”

“Kau akan menyesalinya nanti”

“Jadi apa sekarang kau sudah menjadi kekasihku?”

“Tapi, bagaimana,,, bagai—“

Hyejin langsung terdiam saat bibir dingin Sehun mengecup bibirnya. Hanya kecupan singkat dan manis, tapi sudah cukup membuat perutnya dipenuhi dengan kupu-kupu yang berterbangan kesana kemari.

“Kekasihku ini sangat cerewet” ucap Sehun sambil menepuk kedua pipi chubby Hyejin.

“Aigoo, kau sangat lucu sekali”

“Ya!! Siapa yang mengatakan jika aku mau menjadi kekasihmu. Lalu! Kenapa se-enak jidatnya mencium bibirku! Dan jangan menyentuh pipiku, bagaimanapun juga aku lebih tua darimu Oh SEHUN!!!”

Sehun yang menerima pukulan dari Hyejin hanya bisa tertawa, sambil menahan pukulan yang Hyejin layangkan kepadanya.

For sure love is the silliest thing in the world.

Yet, love is the most beautiful thing in the world.

Tentu saja Hyejin menerima Sehun. Karena Sehun adalah orang pertama yang membuatnya merasa lebih berharga dan dihargai untuk berada didunia ini.

For the first time, somebody made her feels worthy about being alive.

part 2

56 responses to “A bed of yews (1/2)

  1. Hyejin sama sehun punya masalah apa sampe sehun jadi dingin ke hyejin? Padahal mereka dulu sweet banget -_-

  2. Aku jadi bingung sehun punya 2 istri tapi dia tidak memperlakukan hyejin sbg istri bahkan dia dingin ke hyejin
    Beda kalo sama hyesung
    Aku mendukung sm hyejin sebenernya
    Aku penasaran kok sehun bisa menikahin hyejin tapi bersikap dingin dan bagaimana bisa dia punya 2 istri *oh ya ampun aku jadi istri keberapanya oh sehun kalo gini* *plakk
    Pokoknya keren banget aku jadi kasian hyejin

  3. Omo omoo!! Sehun punya 2 istri? Terus kenapa hyejin dikacangin, bukannya sehun tu cintanya ama hyejin ya? /mulaisoktau/ aduh mellow banget, kasihan hyejin huaaaa :”

    keren keren

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s