TROUBLEMAKER COUPLE#5

FF ini milik SYAMMER, saya hanya membantu untuk memposting disini ^^

Troublemaker Couple #5

TROUBLEMAKER COUPLE#5

AUTHOR :: SYAMMER

MAIN CAST :: OH SEHUN’S EXO AS SEHUN AND HWANG NANA (OC)||

SUPPORT CAST :: HWANG’S FAMILY, OH’S FAMILY, VARIOUST ARTISTS AND OTHER||

GENRE :: ROMANCE, LIFE SCHOOL, SAD (MAYBE), FAMILY, AND FRIENDSHIP||

LENGHT :: CHAPTER [LONGSHOOT] ||

RATING :: PG 17+ WARNING!!!

 Copyright© 2015 by SYAMMER

PROLOGUE | I GOT {YOU} | {ENGAGEMENT} | {DATING} | TEASER {TOUCH ME} | TOUCH ME | IT’S HURTS

Inspirared :: Olly Murs―Troublemaker

“Wae? Aku sudah biasa mengatakan itu pada Oppa. Jadi buat apa kau cemburu, eo? Lebih baik buatkan daging panggang hanwoo untukku!” Pungkas Nana sambil menatap Sehun yang menatap kesal yang sekarang berdiri dihadapannya lalu memasukkan ponselnya disaku sweater itu.

Wajah Sehun masih berkerut. Nana kemudian menangkup wajah sedangkan melingkarkan kakinya kembali dipinggang Sehun.

Lalu mengecup lembut bibir Sehun. “Cukup? Atau masih kurang?” goda Nana setelah melepaskan ciumannya sambil menatap Sehun yang sudah memerah.

Sehun langsung mengalihkan pandangannya tak menghiraukan pertanyaan Nana. Sedangkan Nana tersenyum lebar saat melihat Sehun nampak sedang merajuklalu kedua tangannya menangkup wajah Sehun untuk mengarahkan kearah wajah.

“Lihat aku!” sambil mengarahkan wajah Sehun menghadap kearahnya. “Jawab aku Sehun? Mau tambah lagi? Kalau kau diam ku anggap kau mau tambah lagi…”

Nana hendak meraup bibir Sehun. “Berhenti…” cegah Sehun menatapnya lurus.

“WAEEEE?!” protes Nana tak terima. Sekelebatan Nana ingat sesuatu. “O… Coklatku mana?”

Nana langsung mendorong dada Sehun buat Sehun sedikit terhuyung kebelakang. Lalu Nana condong kearah kantong plastik itu dengan lincah tangannya bergerak mengeluarkan semua isi kantung plastik berisi yang hanwoo dan bahan baberque. Tapi ia tidak menemukan coklat yang ia beli sampai-sampai ia membalik kantong plastik itu.

“Lho dimana coklatku?” tanya Nana panik. Sedangkan Sehun meninggalkan gadis itu yang masih duduk dicounter meja laluberjalan menuju lemari es disana. Lalu ia membuka pintu lemari es itu mengambil satu bungkus coklat lalu menutup kembali pintu lemari es itu sambil membuka bungkus coklat lalu memakannya seraya menghampiri Nana yang masih duduk disana tapi setelah menggigit sekali coklat itu bahkan memakannya lalu ia menyembunyikannya dibalik punggung lebarnya.

“Mana coklatku, Sehun? Aku ingin sekali makan coklat itu!” ujar Nana kecewa sambil cemberut. “Kau tak membelikanku ya?”

“Kukira sudah kau masukkan kedalam troli tadi!” balas Sehun enteng.

“Sudah! Aku malah beli 2 ukuran besar gratis 1 ukuran kecil.” Yakin Nana.

“Benarkah?” ujar Sehun tak percaya. Tapi Nana kenapa mencium bau coklat yang ia beli tadi ada disekitarnya. Ia lalu membaui lalu mendekat ketubuh Sehun. Ternyata benar. Sehun memakan coklatnya.

“Yak! Mana coklatku, Sehun?” pekik Nana.

Sehun langsung menunjukan coklat itu dari punggungnya. Nana melihat coklat itu sudah terbuka bungkusnya bahkan mata Nana membulat saat memperlihatkan coklatnya ada bekas gigitan besar. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Sehun. Nana dengan cepat menyambar coklat itu dari tangan Sehun namun Sehun lebih cepat menjauhkan dari jangkauan Nana. Iseng. Sehun menggigit lagi coklat milik Nana itu.

Yak! Sehun!”

“Ara! Tapi aku punya permainan ‘siapa cepat yang menghabiskan sesekat kotak coklat ini dia yang dapat’! eottae?” Sehun mengajak taruhansambilmenunjukkan sekat coklat berikutnya.

“Call!” ujar Nana tanpa berpikir panjang ia menyetujui taruhan itu sedangkan Sehun hanya menatap datar Nana tapi didalam dirinya ada senyum iblis. “Call!” balas Sehun tersenyum miring.

“Kau siap?” tanya Sehun sambil menegakkan coklat itu. Lalu mereka memosisikan wajah mereka miring untuk siap menggigit coklat itu bahkan posisi mereka seperti nampak berciuman dengan jarak sangat dekat seperti itu.

Sehun pun mulai menghitung. “Hana…” Nana juga memegang coklat yang digenggam Sehun. Pose mereka seperti prewedding saja. Kekeke~~~!

“Dul…”

“Set…!”

Dengan cepat Sehun menggigit coklat dengan ukuran sedikit besar dan tidak menyisakan untuk Nana sedikit saja. Dengan cepat Sehun menarik coklat itu digantikan dengan bibir Nana yang berada dibibirnya sekarang. Sehun langsung melumat bibir Nana dengan salah satu tangannya menahan tengkuk Nana saat gadis memberontak melepaskan ciuman itu lalu tangan lainnya merapatkan tubuh gadis itu ketubuhnya. Karena Nana sedari tadi berusaha melepaskan ciumannya kemudian Sehun menggigit bibir gadis itu membuat bibir Nana akhirnya terbuka dengan cepat Sehun menjejalkan coklat yang ada dimulutnya lalu menjejalkan kemulut Nana.

Kini coklat itu sudah berpindah mulut. Coklat itu sekarang berada didalam mulut Nana.Namun pria itu malah asyik melumat bibir yang menggoda itu seraya menikmatinya.Sehun akhirnya melepaskan ciumannya perlahan matanya terbuka menatap lurus manik mata Nana yang sama-sama perlahan terbuka dengan jarak wajah yang cukup dekat hanya lima senti saja bahkan hembusan napas mereka masih menerpa kuat mengenai wajah mereka. Sehun pun kembali mengecup lembut bibir mungil nan menggoda itu lalu beralih mengecup lembut pipi mulus itu lalu menjauhkan wajahnya seraya menatap lurus gadis itu yang tengah melototinya dengan tajam bahkan ia hanya tersenyum seringai.

“Yak!” pekik Nana yang mulutnya mengembung penuh dengan potongan coklat yang digigit Sehun.

Sehun langsung menyerahkan coklat itu ketangan Nana. “Bagaimana rasanya?” goda Sehun.

Nana enggan menjawab pertanyaan itu karena mulutnya masih penuh coklat. Tapi entah kenapa pipinya memerah. Membuat Sehun terkekeh senang. Lalu tangan Sehun kembali merangkap tubuh Nana sedangkan Nana yang terkejut langsung menjauhkan tubuhnya dari Sehun.

“Bagaimana rasanya?” tanya Sehun tetap mendesak Nana untuk menjawab.

“Yak! Kenapa kau mengganggu ku?” tanya Nana kesal sambil tangannya menarik coklat yang ada dimulutnya. Lalu mendorong dada Sehun dengan tangan kirinya agar menjauh, “Minggir! Aku mau turun Sehun!”

Tangan Sehun menahan kakinya. “Tidak boleh! Sebelum kau menjawab pertanyaanku terlebih dulu!” tangan Sehun masih merangkul pinggangnya.

Tanpa diduga kepala Sehun menyandar dibahu Nana lalu menyurukkan wajahnya dileher jenjang Nana menghirup aroma tubuh Nana dalam-dalam. Hembusan napas hangat Sehun menerpa leher Nana. Membuat gadis itu merasa tersengat jutaan volt listrik diseluruh tubuhnya. Ia mendadak gelisah.

“Se-Sehun! Ja-jangan begini!” ujar Nana gelisah masih terpaku ditempat lalu mendorong bahu bidang pria itu namun tak bergeming sama sekali.

“N-ne! Aku akan menjawab pertanyaanmu!”lanjut Nana gugup.

Sehun masih sibuk mengendus leher jenjang Nana. Nana menghela napas panjang seraya menggigit bibirnya bagian bawah. “Aku menikmatinya, Sehun-ah!” membuat Sehun menghentikan aktifitasnya lalu kembali menghadap Nana dengan pipi merona. “Aku menikmatinya coklatnya bukan bibirmu!” pungkas Nana sambil menekan pelan bibir Sehun dengan jari telunjuknya. Walaupun Nana berbohong, Nana juga menyukai kecupan menggoda yang diberikan Sehun. Meskipun ia enggan mengakuinya.

Sehun hanya mendengus pasrah―mengalah lalu dengan berat hati melepaskan rangkulannya kemudian manik mata elang itu melirik jam dinding yang tergantung diatas pintu samping menuju halaman samping rumah itu.“Sudah jam setengah 5 sore!” lalu menatap Nana kembali. “Kau tak ingin melihat sinar matahari terbenam? Nampaknya langit sudah cerah lagi.” Sehun melirik ruang dapur terkena sinar matahari disenja hari.

“Benarkah?” tanya Nana tak percaya. Lalu Sehun menurunkan gadis itu dari counter meja.

“Iya. Bahkan kau bisa melihat matahari terbit… disini.” Tutur Sehun lalu menarik tangan Nana agar mengikutinya.

“Kita mau kemana?” tanya Nana bingung.

Sehun hanya diam. Hanya menarik Nana menuju pintu kaca disana lalu mendorong dengan cepat membukanya, mereka melewati pintu itu hanyaberjarak lima meter dari pintu itu. Sehun menarik Nana menaiki tangga yang pijakannya kaca setebal lima senti saja. Sehun bersama dengan Nana menuju atap rumah itu. Sesampainya diatas atap rumah itu Sehun langsung melepaskan genggamannyasembari berdiri tepat disampingnya. Nana tak hentinya ternganga melihat pemandangan dari atas yang begitu indah.

Lalu Nana mengambil ponselnya lalu mengarahkan kamera ponselnya kearah pemandangan sunset di sekitarnya. Tak sengaja Nana mengambil foto, ada sosok tampan disana yang tertangkap kamera ponselnya.

 Troublemaker Couple #5. Setelah kalimat. ( Tapi ada sosok tampan disana lalu Nana mengambil gambar pria itu. )

Bahkan Nana saat mengambil gambar Sehun tanpa sengaja Nana sempat terpaku saat menatap Sehun yang menatapnya dengan menawan. Kini Nana menurunkan ponselnya lalu mengeratkan genggamannya. Entah kenapa jantung Nana berdetak cepat tak terkendali. Membuat Nana salah tingkah akut. Ia memilih menunduk daripada harus menatap wajah Sehun. Ditemani oleh angin senja yang menerpa rambut mereka bahkan melewatkan matahari terbenam diufuk barat.

Hening menyapa di sekitar mereka. Suasana semakin canggung diantara mereka. Sehun berdeham untuk mencairkan suasana seraya menoleh kearah barat.

“Kita melewatkannya!” kata Sehun pelan. Mengalihkan pandangannya diufuk barat.

Sayup-sayup angin sore mulai dingin. Sinar matahari senja menyinari wajah putih Sehun kemudian Nana mengangkat wajah untuk menatap Sehun. Ia melihat pahatan indah didepan matanya dengan jarak dekat apalagi sinar matahari senja menambah indah pemandangan disekitarnya. Kedua tangannya saling memegang sambil meremas. Entah kenapa Nana gugup.

“Aku mencintaimu. Sehun.” ujar Nana spontan yang keluar dari mulutnya.

Sehun terkejut langsung menoleh pada Nana. Sehun ternganga tak percaya apa yang dikatakan Nana beberapa detik yang lalu. Jantungnya tiba-tiba berdetak tak kendali, seperti terkena serangan jantung. Ia terlalu syok apalagi kedua tangan Nana menangkup wajahnya lalu mencium lembut pipinya.

Seluruh darah didalam tubuh Sehun berdesir bahkan mengumpul diwajah tampannya membuat semburat merah diwajah Sehun. Pria tampan itu seolah terjerat sepenuhnya oleh pesona gadis cantik yang berdiri dihadapannya. Hingga membuat Sehun tak bisa mengalihkan pandangan dari gadis itu.

Sedangkan Nana langsung memerah dengan ucapannya tadi. Tapi ia merasa lega karena telah mengungkapkan isi hatinya. Entah kenapa efeknya sangat buruk seperti ini. Karena ia pertama kali mengungkapkan pada seorang pria.

“Kkaja! A-ayo masuk. Udara disini semakin dingin!” ajak Nana gugup.

Langsung berlalu melewati Sehun tanpa menghiraukan pria tampan itu lalu menuruni anak tangga. Sehun sendiri memandang punggung Nana menjauh darinya yang sudah menghilang dari penglihatannya. Kemudian ia berjalan menyusul Nana masuk kedalam rumah.

Sesampainya Sehun masuk kedalam rumah ia melihat Nana berdiri membelakanginya nampak sedang sibuk didapur sekaligus ia mencium aroma sedap daging panggang. Gulp. Ia menelan saliva saat melihat tengkuk dan punggung Nana sekaligus aroma daging itu. Sehun berjalan mendekat tanpa sepengetahuan Nana yang sibuk memanggang hanwoo diwajan teflon milik Sehun yang tersimpan dilemari gantung.

Tiba-tiba lengan kekar menyelinap dipinggang rampingnya lalu dagu pria itu menyandar memberi beban dibahu kanannya. Sontak membuat Nana menjengit terkejut dengan pelukan dari belakang yang dilakukan Sehun namun terasa nyaman bahkan hangat saat menyalar dipunggungnya.

“Nampaknya enak sekali!” gumam Sehun pelan berbisik ditelinga Nana.

Nana memejamkan matanya lalu mendengus panjang. “Berhenti memelukku seperti ini! Lebih baik bantu aku mempersiapkan makan malam kita, Ara!” ujar Nana tegas.

Shireo!” tolak Sehun enteng tapi malah mempererat pelukkan.

Nana langsung mematikan kompor listrik itu karena dagingnya sudah matang. Lalu membalikkan tubuhnya menghadap Sehun sambil menatap Sehun tajam. “Sehun!” desis Nana marah.

Sehun menyeringai lalu mencium bibir Nana super kilat seraya memasang seribu langkah meninggalkan Nana didapur. “Yak!” pekik Nana kesal.

Sekarang menunjukan pukul 17.55 KTS. Langit berubah menjadi sedikit gelap. Udara sedikit lebih dingin. Lalu hanwoo panggan serta bahan makanan pelengkapnya sudah siap diatas meja makan bahkan sudah ditata rapi oleh Nana. Sedangkan Sehun yang tadinya diruang tengah menonton TV mencium aroma hanwoo panggang langsung melesat menuju dapur. Ia melihat makanan itu sudah tertata rapi diatas meja makan ada sosok cantik yang mengenakan sweater merah kebesaran miliknya yang sedang duduk manis yang sedang menunggunya.

Sehun tersenyum lebar sambil menarik kursi lain sembari mendudukan tubuhnya menghadap gadis itu saat itu pula Nana sudah makan terlebih dulu bahkan makan begitu lahap. “Sayang, pelan-pelan kalau makan.” Ujar Sehun lembut memperingatkan Nana.

Nana langsung tersedak daging saat tiba-tiba mendengar ucapan Sehun. Dengan santai Sehun mengulurkan tangannya yang memegang segelas air minum untuk Nana. Tangan gadis itu langsung menyambar gelas yang dipegang Sehun lalu meneguk airnya sampai tandas.

“Kalau sudah selesai makanannya langsung dicuci bekas piringnya!”

Sehun langsung menghentikan aktivitas makannya langsung mendongakkan kepalanya dengan menatap Nana tak suka. “Wae?” protes Sehun tak suka.

Nana langsung berdecak kesal, “yak! Kau ini benar-benar ya? Aku sudah capek-capek membuatkan makan malam untukmu. Seenaknya saja kau menyuruhku mencuci piring gantian kau yang mencuci piring bekas makan malam! Itu hukumanmu karena kau tak membantuku tadi! Tidak ada tapi-tapian untukmu!”

‘Rasakan! Salah siapa kau tak membantuku masak, eo?’ batin Nana sambil tersenyum miring.

“Ara!” jawab Sehun singkat tak tulus.

“Good boy… ani…” puji Nana menggantungkan kalimatnya. ‘Tampan!’ sahut batin Nana bangga sambil menatap Sehun datar. “Makan yang banyak ya, sayang… aku akan menunggumu sampai selesai makan!”

Perasaan Sehun masih kesal dengan sikap Nana hanya bisa mendengus kesal. Lalu berjalan seiring waktu perasaan kesal pada diri Sehun mendadak luntur ketika Sehun menyelesaikan aktivitas makan malamnya. Nana tanpa banyak bicara langsung berdiri lalu tangannya dengan cepat mengambil piring-piring itu lalu menumpuknya menjadi satu dari beberapa mangkuk kecil lainnya seraya membawa piring, mangkuk dan sebagainya ketempat bak cuci piring disana.

Sehun menatap bingung segera beranjak membantu Nana membawa piring mangkuk lalu lainnya menuju tempat Nana berada. Kemudian Nana mengambil sarung tangan lalu memutar keran itu mulai mencuci piring. Sehun datang membawa beberapa piring dengan mangkuk ditangannya.

“Taruh saja disana…” ujar Nana datar tanpa menoleh pada Sehun lalu tangannya masih sibuk mencuci piring.

Sehun bingung sendiri dengan sikap Nana yang tiba-tiba aneh. “Kau marah?” tanya Sehun penasaran.

Nana menggeleng. Sehun mengeryit melihatnya, “Lalu kenapa? Itukan hukumanku, Nana!” tambah Sehun

Nana langsung menoleh kearah Sehun lalu menjinjitkan kakinya bibirnya menggapai ujung bibir Sehun lalu mengecupnya sekilas. Seketika pria itu langsung terdiam. “Bisa diam tidak?” tanya Nana setelah melepas ciumannya.

Nana kembali menunduk melanjutkan acara cuci piringnya, entah kenapa ia tersenyum melihat Sehun jadi penurut seperti itu. Sehun sendiri sejenak terpaku setelah mendapatkan ciuman itu. Sehun hanya berdiri menatap Nana mencuci piring-piring itu sendirian. Kemudian ia membantu mengelap piring yang sudah dicuci Nana lalu memasukkan lagi kedalam lemari gantung depan kepalanya.

Beberapa saat kemudian mereka selesai dengan cuci piring. Nana melepaskan apron warna merah yang sedikit dibantu Sehun lalu menggantungkan didekat lemari es sembari melepaskan sarung tangan itu didekat bak cuci piring.

“Sehun! Aku mau keatas sebentar!” ujar Nana berlalu sambil melewati Sehun.

Sehun hanya mengangguk. Lalu ia melangkahkan kakinya menuju ruang tengah sembarimendudukan tubuhnya disofa panjang warna putih lalu menyandarkan tubuhnya dengan nyaman disandaran sofa lalu menonton tv kemudian matanya melirik jam yang tergantung didinding tepat di atas tv yang berukuran 50 in. Menunjukkan pukul 19.00 KTS.

Sedangkan Nana didalam kamar Sehun ia mengisi baterai ponselnya dimeja baca Sehun lalu beranjak kekamar mandi. Setelah ia membuka pintu kamar mandi lalu menutupnya melihat bra-nya tergantung dibalik pintu. Ia melepas sweater itu lalu mengenakan bra-nya kembali bahkan saat memakainya ia melihat bekas kissmark warna merah keungguan didadanya karena ulah Sehun. Nana mengingat hal ‘itu’ membuat pipinya kembali merona. Ia dengan menggeleng pelan untuk mengenyahkan pikiran itu lalu buru-buru mengenakan sweater itu dengan cepat ia berjalan keluar dari kamar mandi, segera keluar dari kamar pria itu.

 Best House Interior Design

Sehun sedang asyik menonton tv, Nana berdiri disamping pegangan anak tangga lalu melangkah menghampiri Sehun. Namun Nana menghentikan langkahnya menyapu seluruh ruangan itu. Ruangan itu nampak luas berjejer pernak pernik seorang namja disana sini. Begitu simple bahkan nyaman dengan sentuhan minimalis. Lampu bersinar terang memperjelas sosok tampan yang duduk sofa. ‘Apa ini rumahku kelak jika aku menjadi istri seorang Oh Sehun?’ tanya Nana dalam hati.

Sehun menoleh melihat Nana yang berdiri ditengah ruangan yang nampaknya sedang menatapanya lurus. Sehun mengggerakkan kedua jarinya untuk menyuruh Nana menghampirinya sambil menepuk pelan sofa itu seraya menunjukkan tempat untuk duduknya tepat disamping pria itu.

“Kemarilah!” ujar Sehun lembut sambil menepuk sofa kosong disampingnya yang ia duduki.

Nana menurut. Sekarang Nana duduk tepat disamping Sehun. Tangan Sehun merangkul lengan Nana agar gadis itu merasa nyaman, kaki kirinya menekuk didepan dadanya lalu kaki kanan menapat dilantai. Sedangkan Nana menyandarkan kepalanya dibahu kanan Sehun lalu tangan kanannya memeluk pinggang Sehun dengan nyaman kemudian kedua kakinya menekuk kesamping kanan.

“Seperti pengantin baru!” ujar Sehun terkekeh.

Nana tersenyum saja. Lalu Nana penasaran apa yang ditonton Sehun sambil menatap pria tampan itu, “kau menonton apa?”

“Hm? Film act―Ukh!” jawab Sehun tanpa menoleh pada Nana sedikitpun sedangkan dirinya yangtengah asyik menonton Film itu.

Jawaban Sehun terpotong karena Film yang ditonton Sehun tepat dengan adegan ciuman panas. Nana menjengit dengan film yang ditonton Sehun. Ia merasa was-was saat melihat adegan ‘itu’. Alih-alih takut pria yang duduk disampingnya menyerangnya kembali.

Perlahan Nana mendongakkan kepala penasaran dengan ekspresi Sehun kemudian mata mereka bertemu. Nana mendapati Sehun menatapnya begitu intens. Namun perlahan Sehun menunduk bergerak mendekati wajahnya sedangkan Nana menjadi gugup saat wajah Sehun semakin mendekat untuk menggapai bibirnya. Tepat satu senti dari bibir Nana, mata wanita itu sudah terpejam saat hembusan napas hangat menerpa kuat wajahnya. Tiba-tiba…

TIIINNNGG! TUUUNNNG!

Sehun berhenti karena terpotong bunyi bell rumahnya. Sehun mendengus kesal. Mau tak mau ia harus membuka pintu itu. Tak mau kehilangan kesempatan dengan jarak sedekat ini dengan Nana. Bahkan masih sempat-sempatnya Sehun mencium bibir Nana sekilas lalu Nana membuka kedua manik hazelnya, ia juga merasa Sehunsudah melepaskan diri darinya lalu Sehun sembari beranjak berdiri lalu menunduk menatap Nana.

“Jangan kemana-mana! Tetap ditempat!” ujar Sehun posesif. Sehun sebenarnya takut jika ada orang melihat Nana berpakaian seperti itu. “Ara?!”

Nana mengangguk patuh. Sehun langsung melesat menuju pintu masuk lalu membuka pintu itu ternyata petugas langganan laundry yang mengantarkan bajunya―pakaian Nana. lalu membayarnya.

“Gamsahambnida.” Ujar petugas itu langsung berlalu meninggalkan rumah Sehun. Setelah pria itu memberikan uangnya pada petugas laundry itu. Dengan segera Sehun menutup pintu rumahnya dari dalam.

Sehun kembali menghampiri Nana sambil membawa pakaian-pakaian yang selesai dilaundry. Lalu Sehun sudah berada didekat sofa ia melemparkan baju-baju itu sembarang disofa. Lalu Sehun kembali mendudukan tubuhnya disamping Nana dengan ekspresi kesal dengan menyandarkan punggungnya disandaran sofa.

Sedangkan Nana tersenyum menyeringai lalu bergerak cepat menduduk tubuhnya menghadap Sehun duduk dipangkuan Sehun. Pria itu sangat terkejut dengan sikap Nana yang sedikit agresif. Kini Nana berdiri menggunakan kedua lututnya untuk menumpu tubuhnya. Tinggi Nana membuat Sehun mau tak mau mendongakkan wajahnya hanya untuk melihat wajah gadis itu. Wajah Sehun terkena helaian rambut Nana lalu tangannya terangkat da menyibakkan rambut gadis itu dibelakang bahunya.

“Bagaimana kita melanjutkan aktivitas yang tertunda beberapa detik yang lalu?” ujar Nana menggoda Sehun.

Tangan Nana menangkup wajah Sehun. Sedangkan Sehun tersenyum menyeringai tanda menyetujui ajakan Nana sambil kedua tangannya menyelinap masuk kedalam sweater kebesaran yang dikenakan Nana meraba punggung Nana kesana kesini.

“Kenapa dimalam hari kau jadi agresif seperti ini, eo?” ejek Sehun. Nana tak menjawab lebih memilih menikmati aktivitasnya.

Tangannya menelusuri pinggang lalu pantat empuk Nana kemudian mengelus paha putih mulus Nana lalu naik kembali keatas menelusuri pinggang Nana. Sedangkan Nana menunjukkan seringaian dibibir lalu menegakkan tubuhnya merapat ketubuh Sehun dengan menundukkan kepalanya meraup bibir merah Sehun sambil meremas rambut pria itu dengan gairah.

“Kita lakukan 1 jam saja.” Bisik Nana ditelinga Sehun. “Aku ingin women on top!”

“Hm..”

Lalu tangan Nana merangkul leher Sehun lalu menyurukkan wajahnya dileher Sehun ia mencium aroma maskulin ditubuh Sehun membuatnya semakin mabuk untuk terus menyentuh pria yang ada dihadapannya sekarang. Hidungnya mengendus seperti vampir sesekali bibirnya mengecup leher Sehun nampak seperti menandai tempat dimana ia akan menancapkan taringnya, sikap Nana yang membuat Sehun sendiri terkekeh.

“Kau seperti seorang vampir!” ejek Sehun sambil menikmati sentuhan yang berikan Nana. “Kau seperti hausdengan darah segar para bujangan tampan!”

Saat itu juga Nana menjauhkan dari wajahnya dari leher Sehun langsung memasang wajah cemberut lalu duduk dipangkuan Sehun yang sedang menatapnya dengan tertawa geli. Ia tidak suka dengan kata-kata Sehun beberapa detik yang lalu sambil memukul pelan tanpa kekuatan ke dada bidang sebelah kanan milik Sehun.

“Kenapa berhenti? Baru 15 menit, Nana!” goda Sehun. Yang sedari tadi menahan tawa gelinya.

“Wae?” tanya Nana kesal. “Kenapa kau mengejekku seperti itu, eo?”

Sehun menggeleng pelan sembari menatap Nana lurus. Tanpa banyak bicara Sehun dengan cepat merebahkan tubuh Nana disofa lalu mengurungnya dibawah tubuhnya. “Aniyaa! Tapi sekarang gantian giliranku!” kini tangan Sehun merangkap tubuh Nana yang berada dibawahnya tak bisa berkutik.

“Sehun… aku… sudah lelah meladenimu…” keluh Nana sambil menangkup wajah Sehun.

“Benarkah?” sambil mengendus leher jenjang Nana.

“Aku sudah terlalu banyak mengeluarkan energi saat meladenimu tadi siang… bahkan kau tak memperbolehkanku tidur… hanya untuk melayanimu…” ujar Nana sambil memejamkan matanya kemudian melepaskan rangkulannya dari tengkuk Sehun dengan perlahan, Sehun yang mendengarkanpun tersenyum geli saat mendengar kata ‘melayani’ membuat seperti Nana sudah menjadi istrinya saja. “Sehuunn! Geli!” ujar Nana sambil tertawa pelan sambil sedikit mendongakkan kepalanya saat merasakan lehernya diciuman oleh Sehun sembari memukul pelan dada Sehun yang sedang asyik mengendus leher jenjangnya.

“Sehun-ah… kumohon berhenti… aku ingin tidur!” ujar Nana pelan. Ia tahu Sehun masih sibuk dengan kegiatannya. Sulit untuk menghentikan jika dengan kata-kata. Nana pun membenarkan posisi kepalanya, sukses Sehun menarik wajahnya dari leher wanita itu.

Nana sekarang memang benar-benar lelah. Mata Nana terpejam sempurna bahkan mosisikan tubuhnya dengan nyaman walau pun Sehun masih berada diatasnya meski posisinya yang mungkin bisa dikatakan berbahaya tapi Nana sendiri tak menghiraukan itu. Perlahan Sehun menghadapkan kembali wajahnya lalutersenyum lembut lalu mengecup kening Nana dengan lembut kemudian kemudian Sehun beranjak dari atas tubuh Nana seraya menegakkan tubuhnya dengan cepat mengambil selimut yang ada dipinggiran sofa lalu menyelimuti kaki gadis itu. Lalu tangannya mengambil bantal sofa lalu tangannya menaruh bantal itu dibawah kepala Nana.

Nana masih tertidur lalu bergerak pelan menghadap Sehun yang berjongkok didepannya. Sehun melihat wajah polos Nana saat tertidur seperti ini, ia mengulumkan senyuman sambil mengelus sisi wajah Nana lalu mematikan tvnya. Kemudian Sehun beranjak berdiri mengambil bajunya sembari meninggalkan pakaian Nana disofa. Ia meninggalkan Nana sendirian diruang tengah yang sedang tertidur seraya kembali kekamarnya.

Sehun dikamarnya sedang ganti baju untuk siap-siap mengantarkan Nana pulang. Beberapa menit kemudian Sehun keluar dari kamarnya membawa paperbag Nana yang berisi ponsel dan dompet Nana beserta baju yang dibeli Nana tadi pagi. Ia sembari mengotak-atik ponsel gadis itu. Sehun mengeceki galeri, pesan masuk, nomor kontak, hingga akun media sosial gadis itu. Namun ia malah berkutat digaleri gadis itu. Ia tersenyum kulum saat ia menemukan foto Nana yang banyak bahkan berbagai pose. Bahkan ia sedikit terkejut, ia melihat fotonya yang masih kelas X SMA dulu. Bahkan Nana dengan mudahnya mendapatkan dua fotonya yang beragaeyo.

 Sehun aegyeo chap 5

‘Darimana dia mendapatkan fotoku yang ini?’ batin Sehun penasaran entah kenapa membuatnya tersenyum sendiri.

Sembari ia kembali turun kelantai 1 untuk melihat Nana. Setelah sampai diruang tengah tiba-tiba Nana langsung duduk dengan wajah dengan rambut berantakan habis bangun tidur membuat Sehun yang menghampirinya terhenti dan menjengit terkejut.

Nana mengucek-ucek matanya dengan punggung tangannya. Lalu melangkahkan kakinya lalu Sehun mendudukan tubuhnya disamping Nana. “Kau sudah bangun?” tanya Sehun perhatian.

‘Godaan cukup berat untukku, apalagi keadaanmu seperti ini!’ batin Sehun yang masih berperang dengan akal sehatnya, Nana tambah semakin seksi setelah bangun tidur dengan keadaan berantakan seperti itu. Sehun menahan diri untuk tidak menyerangnya saat melihat makhluk yang menggoda didepan matanya sekarang.

Nana mengangguk lalu menguap dengan cepat langsung menutupi dengan telapak tangannya seraya Nana menghamburkan pelukkannya pada Sehun sembari menyerukkan wajahnya dileher panjang milik pria itu. Sehun pun sedikit terkejut lalu beberapa detik kemudian Sehun tersenyumsembari membalas pelukan Nana seraya menyalurkan kehangatan bahkan kenyamanan untuk Nana. Tangan Sehun terangkat bergerak lembut merapikan rambut Nana yang berantakan itu. “Ayo kita pulang. Tapi kau harus ganti baju terlebih dulu Nana!” tutur Sehun. “Inikenakan !” menyerahkan baju itu pada Nana.

Nana langsung berdiri lalu tangannya sudah memegang celananya lalu langsung memakainya. “Yak! Nana kau ini wanita!” semprot Sehun tak suka dengan kelakuan Nana.

Lalu mengambil mantel panjang dengan cepat langsung memakainya, “Memangnya aku peduli! O… Mana ponselku? Dompetku dikamarmu? Coklatku dikulkasmu! Sudah kau masukan semuanya?” ujar Nana setengah sadar.

Sehun hanya mendengus melihat Nana seperti itu lalu mengangguk pelan. Nana berjalan melewati Sehun sambil membawa paperbagnya menuju pintu keluar. Sehun juga. Mereka lupa kalau kemeja Nana tertinggal disofa itu. Sesampainya didepan pintu Nana mengenakan boot high heelsnya. Setelah mengenakan sepetunya itu Nana melihat jam yang melingkat ditangannya menunjukan pukul 20.30 KTS. Sehun langsung mematikan stop kontak listrik disamping itu. lalu mereka keluar dari rumah itu sambil menuju mobil Sehun setelah mereka didalam mobil Sehun langsung melenggang pergi bersama Nana dengan mobilnya.

Tepat pukul 20.55 KTS. Mobil Sehun sudah tiba dipelataran depan rumah Nana di Cheongdam-dong langsung mematikan mesin mobilnya. Sehun rusuh membuka seatbelt yang melingkar ditubuhnya kemudian ia juga membuka seatbelt yang melingkar ditubuh Nana. Sedari tadi Nana hanya tidur saja dimobil, Nana tidak menyadari kalau ia sudah sampai dirumahnya. Sehun menatap lekat wajah tidur Nana sambil tersenyum lembut. Kemudian Sehun mengalihkan tatapnya kearah pintu mobilnya lalu keluar dari dalam mobilnya. Hendak melangkah dihadapannya ada sosok pria muda yang sedang melipat tangan didada membuat Sehun menjengit terkejut.

“Omo…! Hyung kau mengagetkanku saja!”

“Mana Nana?”

“Disana!” ujar Sehun menunjuk Nana yang sedang tertidur didalam mobil. “Tertidur pulas…”

“Dia mabuk lagi?”

“Tidak… Hyung! Dia hanya kelelahan karena aku mengajaknya kemana-mana…” tutur Sehun berbohong sambil tersenyum miring. Nana kelelahan karena meladeninya dari tadi siang. “Aku tidak tega membangunkannya, Hyung! Kau yang membangunkannya saja…”

“Baiklah..”

Sehun dan Changsub mengitari mobil itu kemudian Sehun membuka pintu mobilnya. Sedangkan Changsub hanya mendengus pelan melihat Nana yang tertidur pulas disana. Changsub berjongkok disamping Nana lalu mengguncang pelan lengan Nana. Lalu gadis ituhanya mengerang.

“Yak! Jangan ganggu aku tidur!” ujar Nana masih belum sadar bahkan masih memejamkan kedua matanya.

“Yak! Bangun sapi! Sudah sampai rumah!” seru Changsub membuat Nana langsung membuka matanya lalu menoleh kearah Changsub yang jongkok disebelahnya yang menatapnya tajam.

“Sampai rumah?” beo Nana konyol. “Lalu tunanganku dimana?”

Nana menoleh pada kursi belakang kemudi. Tapi pertanyaan Nana yang polos membuat Changsub dan Sehun terkekeh. Memang belum sepenuhnya sadar kalau orang habis bangun tidur. Changsub yang gemas langsung menyentil jidat Nana. Sehun yang melihatnya langsung tertawa. Nana mengerang langsung mengusap keningnya.

“Akh! Oppa! sakit!” Nana langsung cemberut. Lalu, “Mana Sehunku?”

“Astaga… Bocah ini benar-benar?! Cepat keluar dari mobil tunanganmu!” Changsub geram langsung menarik tangan Nana. Nana hanya menggelengkan kepalanya. Tidak mau. Bahkan sukses membuat Changsub kesal.

“Biar aku saja, Hyung!” Sehun menawarkan bantuan.

Changsub mengangguk, akhirnya berdiri namun digantikan Sehun yang berjongkok didepan Nana. Gadis itu langsung berubah mengulumkan senyuman.

“Ayo keluar…” ajak Sehun lembut.

Nana menggelengkan kepalanya. “Ani…”. Lanjutnya, “Sebelum kau menggendongku!” kemudian Nana berbisik ditelinga Sehun, “apa kau ingin mati ditangan Oppa jika menolak perintahku, eo?”

Lalu Nana menjauhkan wajahnya namun digantikan kedua tangannya kearah Sehun sambil menyunggingkan senyum miringnya lalu mengecup pipi Sehun sekilas dan terakhir bibir Sehun dengan kilat. “Gendong aku dipunggungmu! Palli!” Nana menyuruh Sehun agar membalikkan tubuhnya.

Sehun tak ingin mendapat resiko jika Nana membocorkannya yang ia melakukan hal yang sedikit… ya kalian tahu sendiri. Maka Sehun mengalah untuk ini. Sehun akhirnya menggendong Nana dipunggungnya. Nana merasa nyaman dan hangat ditubuhnya, ia juga pertama kali digendong dipunggung seorang pria. Ia menenggelamkan kepalanya dibahu bidang Sehun lalu berbisik pelan ditelingan Sehun.

“Sehun-ah? Apa kau pernah menggendong kekasihmu seperti ini?” bisiknya. Tangan terkulai lemas sambil membawa paperbagnya dengan salah satunya menggenggam erat baju Sehun.

Sehun masih berjalan pelan menuju pintu utama rumah itu menyusul Changsub. “Belum. Kau gadis pertama yang meminta menggendong dibelakang seperti ini.”

“Hangat sekali tubuhmu, Sehun-ah…” Nana bergumam pelan nyaris berbisik ditelinga Sehun.

Gumaman Nana tak begitu terdengar jelas oleh Sehun namun mata Nana mulai berat untuk membuka mata. Sehun penasaran dengan apa yang didengarkan olehnya. Ia menoleh kearah Nana ternyata Nana sudah memejamkan matanya lagi. Kini Sehun sudah diambang pintu lalu masuk lalu berhenti disamping anak tangga, ia melihat kedua orang tua Nana yang tersenyum lembut kearahnya. Ia langsung membungkuk hormat.

Ibunya―Nana menghampiri Sehun. lalu mengguncang pelan lengan Nana. “Nana, kasihan Sehun. Sedari tadi menggendongmu…”

Tidak dengar secara jelas Nana terpaksa membuka matanya perlahan dengan matanya merah habis bangun tidur. Sesekali Nana menguap tapi malah menggunakan punggung Sehun untuk menutupi mulutnya lalu ia menatap polos ibunya.

“Cepatlah turun… Sehun kelelahan menggendongmu!” tutur ibunya―Nana.

“Sehun turunkan aku…” gumam Nana.

Tanpa banyak bicara Sehun menurunkan tubuhnya. Lalu ia sedikit terhuyung menubruk Sehun karena ia belum menyeimbangkan tubuhnya. Nana dibantu Sehun berdiri. Ibunya langsung tersenyum pada Sehun. Sehun kembali menoleh pada ibunya―Nana lalu membungkuk hormat.

Joseonghamnida. Tadi saya tidak menghubungi Anda kalau saya mengajak Nana kencan. Maaf sudah merepotkan Anda!” ujar Sehun sebelum membungkuk.

Aniiiyaa…” ibunya―Nana mengibaskan tangannya. “Justru kami yang merepotkanmu nak Sehun.”

Sedangkan Nana sedari tadi memeluk Sehun dari belakang tak menggubris ucapan ibunya sendiri. Ia masih ingin memeluk Sehun untuk mencegahnya pergi. Sedangkan Changsub berdiri disamping Sehun dan Nana sambil melipat tangan didada sembari melirik Nana dengan nyamannya memeluk dari belakang bahkan kedua tangan Sehun mencoba melepaskan pelukan Nana seraya matanya beralih menatap Sehun yang sedikit lebih tinggi darinya sembari senyum-senyum tak jelas.

“Aigoo… nampaknya adikku tak ingin melepasmu begitu saja! Bahkan nampak nyaman sekali saat mendekapmu seperti itu. Adikku benar-benar jatuh kepelukanmu, Sehun-ah!” ujar Changsub menggoda Sehun sambil mengerlingkan matanya.

Wajah Sehun nampak memerah setelah Changsub berujar, “lihat tangannya melingkar erat dipinggangmu. Sepertinya… Hwang Nana ingin memilikimu seutuhnya, Sehun-ah! Eottokae?”

“Omo! Lihat! Lihat! Bahkan Nana mengangguk setuju dengan pendapatku!” tambah Changsub yang semakin gencar menggoda Sehun.

Nana tersenyum kulum sambil merasakan hangat bahkan nyaman pada pria yang bertubuh tinggi tegap itu. Changsub masih senyum-senyum tak jelas sembari menepuk pelan bahu lebar milik Sehun. Sehun hanya bisa tersenyum kikuk saat Changsub benar-benar menggodanya apalagi didepan orang tua Nana.

“Kalau begitu saya pamit pulang dulu!” pamit Sehun. Sehun pun memberanikan diri untuk pamit pulang sambil melepaskan pelukan Nana.

“Jangan pulang dulu, aku ingin memelukmu sebentaaaarrrr saja, ne! Semenit saja!” sela Nana mengeratkan tangannya yang hendak Sehun lepas. Membuat pria yang tengah ia peluk mendesah pelan membuat Sehun mengalah lebih memilih menggantungkan kedua lengan disisi tubuhnya.

Semenit berlalu. “Sudah sana pergi!” usir Nana dengan nada ketus setelah melepaskan pelukkannya.

Tapi tidak dengan ucapannyatapi malah merangkul manja dilengan Sehun mengantar Sehun keluar dari rumahnya. Orang tua―kakakanya membuntutinya juga.

“Terima kasih untuk hari ini…” kata Nana bahagia setelah melepaskan Sehun.

Sehun tersenyum lembut menatap Nana sambil mengusap lembut kepala Nana lalu Sehun membungkuk lagi.

“Permisi, mari!” membungkuk hormat pada orang tua dan kakak Nana. “Na kkanda!” menoleh kembali pada Nana sambil tersenyum lembut.

“Eo!” Nana hanya tersenyum tanpa melambaikan tangan karena malu pada orang tuanya lalu melihat punggung Sehun menjauh bahkan menghilang dari balik mobil itu lalu melenggang pergi bersama mobilnya sedangkanNana langsung melesat kedalam rumah menuju kamarnya. Lalu dikamarnya ia menjerit histeris.

“AAAAAAA………….!!!!!!!!” jerit Nana histeris.

Untung kamarnya kedap suara jadi tidak ada yang mendengar teriakannya sambil melepas celana jeansnya, mantel panjangnya lalu sepatu boot high heelsnya.

Diperjalanan. Tepatnya didalam mobil. Sehun sibuk menyetir sambil tersenyum-senyum sendiri mengingat flashback kejadian tadi pagi hingga saat ini. Ia kembali ke hotel Empire milik ayahnya di kawasan elit Cheongdam-dong yang tempatnya tidak jauh dari rumah Nana. Ditengah-tengah perjalanan Sehun mendial up nomor telepon hotel itu.

Selamat malam disini Kim Hyun Woo resepsionis Hotel Empire. Apa ada yang bisa saya bantu tuan?” sapa sopan ramah resepsionis hotel itu.

“O… Tuan Kim, tolong bersihkan ruang kamar 1004. Disana banyak piring kotor disana. Sebentar lagi aku akan kembali 15 menit lagi!” perintah Sehun tegas.

“Maaf ini siapa ya?” tanya pak Kim resepsionis.

“Aku pemilik ruang 1004. Pak Kim! Cepat bersihkan atau ku pecat secara tak hormat!” ujar tegas Sehun. “Aku akan kembali dalam 15 menit lagi. Pak Kim.”

Sehun langsung menutup sambungan resepsionis itu, ia kembali berkonsentrasi dengan menyetirnya. Beberapa menit kemudian Sehun tiba diteras hotel ayahnya. Sehun mematikan mesin mobilnya lalu rusuh membuka seatbeltnya ia beranjak keluar dari mobil saat keluar langsung disambut 90º bow degree oleh para pegawai hotel itu dengan ramah.

Sehun hanya tersenyum kecut. Ia memasuki lobby hotel itu dengan menggenggam paperbag yang berisi baju yang dibelikan Nana, lalu topi kacamatanya. Ia mengambil ponselnya dari dalam saku mantel jasnya kemudian mendial up nomor telepon hotel lalu menempelkan benda tipis itu di telinganya lalu berjalan menuju tempat resepsionis itu.

Selamat malam disini Kim Hyun Woo resepsionis Hotel Empire. Apa ada yang bisa saya bantu, tuan?” sapa sopan ramah resepsionis hotel itu.

Sehun langsung menghentikan langkahnya tepat dua meter dari meja resepsionis lalu menatap begitu mengintimidasi pada resepsionis pria itu.

“Ya. Apa kau sudah membersihkan ruanganku?” tanya Sehun tegas. “Nomor 1004.”

“Maaf Anda siapa ya?” tanya pak Kim bingung masih menatap kebawah.

Sehun masih sabar. “Aku Oh Sehun putra dari Oh Seung Hyun. Pemilik Hotel Empire!”

“Ne?” tanya pak Kim bingung.

Sehun mempercepat langkahnya menuju meja resepsionis. Lalu Sehun berhenti tepat didepan meja resepsionis itu dengan tangan masih menggenggam ponselnya yang menempel ditelingakanannya.

“Pak Kim? Apa kau sudah membersihkan ruanganku?” tanya Sehun dingin dengan menatap pak Kim tajam.

Pak Kim mendengar sumber suara dari telinganya ternyata semakin jelas ditelinganya ia lalu menoleh kearah Sehun. Pak Kim langsung membungkuk hormat begitu juga dengan resepsionis wanita-wanita disampingnya.

“Joseonghammida, Tuan Muda!” pak Kim minta maaf.

“Kau sudah membersihkan ruang kamar nomor 1004?” tanya Sehun sekali lagi dengan nada yang sama.

“N-ne s-sudah Tuan!” ujar pak Kim gugup.

Sehun mematikan sambungannya lalu menaruh ponselnya dalam jasnya. “Baiklah! Jika belum kau akan kupecat! Arasseo!” menatap dingin pak Kim lalu menatap resepsionis wanita-wanita yang berda disebelah pak Kim. “Kalian juga!”

“Appa dimana? Masih diruang kerja? Atau sudah pulang, Pak Kim?” tanya Sehun melunak.

“Sudah pulang beberapa menit yang lalu, Tuan Muda!” ujar Pak Kim mantap.

“Baiklah!” Sehun tersenyum kecut pada tiga orang yang didepannya lalu berlalu meninggalkan mereka.

Keesokkan harinya, Sehun sudah berpakaian rapi yang hendak pergi kesekolah. Ia hanya makan setangkup sandwich, segelas susu coklat hangat. Ia melirik jam yang lingkar ditangannya sudah menunjukkan pukul 07.00 KTS. Lalu ia bergegas meninggalkan kamarnya, ia menyampirkan tas dipunggung kanannya lalu menyumpal earphone ditelinganya menyalakan mp3-nya, entah lagu apa yang diputar lalu ia menyambar kunci mobil.Ia keluar dari tempat itu lalu tak lupa menguncinya dari luar. Ia melangkah menuju lift dibelokan ujung lorong itu sambil mengotak-atik ponselnya lalu nampaknya Sehun mendial up seseorang.

“Ayo angkat!” gumam Sehun sendiri.

Sehun mengentikan mendial up seseorang karena ia sudah berada didalam lift lalu tangannya memencet tombol close tombol B1.

I want to be the only one with the right to protect you. I don’t want to be friends After you walked into my line of sight. Just using words is not enough. Lady! I’ve fallen for you only. Those chaotic and overflowing thoughts. Falling to the floor in front of you. I give you a shoddy confession of love are you ready for love? More beautiful than a diamond I want to steal your eyes away. I just want to stay in those eyes To dream of you―My Lady, EXO.

Ditempat berbeda, Nana masih tertidur diperpustakaannya ia duduk dikursi dengan kepalanya ditenggelamkan dilengannya berada diatas meja belajar. Karena ia belajar hingga setengah empat pagi. Sinar matahari menyelinap masuk tanpa permisi. Cahaya matahari hanya sedikit masuk kedalam ruangan itu. ia hanya bergerak mencari posisi yang nyaman. Wanita paruh baya berjalan memasuki ruang perpustakaan menghampiri Nana yang sedang tertidur tertelungkup dimeja.

“Nona bangung… sudah siang!” bibi Shin bergumam pelansambil mengguncang pelan lengan Nana. “Non bangun sudah siang!”

Nana mengerang sambil merenggangkan tubuhnya lalu menyandarkan punggungnya disandaran kursi belajarnya. “Bib.. 15 menit lagi… aku baru tidur setangah 4 pagi.” Bergumam pelan sambil mata terpejam. “Bangunkan aku 15 menit lagi.”

“Baiklah Non…” bibi Shin tidak jadi membangunkan Nana tapi mungkin 15 menit yang akan datang. Bibi Shin berlalu meninggalkan Nana sendirian di perpustakaan.

Sedangkan Sehun sudah berada diparkiran dan sudah berada didalam mobil. Sehun menghidupkan mesin mobilnya lalu ia melenggang pergi bersama mobilnya meninggal parkiran itu menuju rumah Nana untuk menjemput gadis itu. Beberapa menit kemudian ia sampai dirumah Nana. Sehun memarkirkan mobilnya dipelataran depan rumah Nana. ia mematikan mesin mobilnya lalu melepaskan seatbelt yang melingkar ditubuhnya seraya membuka pintu mobilnya lalu meninggalkan tasnya didalam mobil. Ia keluar sembari membanting pintu itu. sehun melangkahkan kakinya menuju pintu utama rumah itu. kemudian ia menghentikan langkahnya dn berdiri tepat didepan pintu lalu tangannya memencet tombol interkom disamping pintu kualitas eks. Lalu beberapa detik kemudian pintu itu terbuka disambut ramah oleh wanita paruh baya kemudian dipersilahkan masuk.

Sehun mengedarkan pandangannya. Dahinya mengeryit. “Bi? Kenapa sepi sangat sekali? Dimana semua orang?” tanya Sehun penasaran pada bibi Shin.

“Tuan dan Nyonya berangkat pagi-pagi sekali. Tuan Muda berangkat beberapa menit yang lalu. Nona masih tertidur diperpustakaannya, Nona menyuruh saya membangunkan 15 menit lagi.” Jelas bibi Shin pada Sehun.

“Ne? 15 menit lagi?”tanya Sehun tak percaya. “Biar saya saja membangunkan anak itu, bi!”

“Ne, Tuan.” Ujar bibi Shin membungkuk lalu mengundurkan diri dari hadapan Sehun.

Sehun mempercepat langkahnya menuju perpustakaan dimana Nana berada. Sudah sampai di depan pintu perpustakaan lalu rusuh memutar kenop pintu itu sambil mendorongnya pelan bersamaan dengan langkah kakinya memasuki ruangan itu. Sehun melangkahkan kakinya menghampiri Nana yang sedang tertidur pulas dikursi belajarnya. Sehun mendengus berat untuk menahan diri karena harus melihat Nana mengenakan pakaian sedikit sexy hanya mengenakan kemeja pria warna putih yang kebesaran bahkan tidak mengancingkan kancing bagian atas kemeja itu lalu rambutnya yang sedikit berantakan. Sehun menata memasukkan buku-buku pelajaran Nana kedalam tas gadis itu. Lalu ia berjalan menuju jendela yang tertutup tirai yang menutupi ruangan itu membuat ruangan itu redup hanya penerang dimeja belajar saja.

Kemudian Sehun dengan sigap menyingkap tirai itu. sinar matahari langsung menyinari ruangan itu hingga mengenai wajah putih Nana. Lalu menghalau sinar matahari itu dengan telapak tangan karena menyilaukan matanya.

“Bi! Jangan dibuka tirainya!” gumam Nana belum sadar. Nana tidak tahu kalau yang membuka tirai itu Sehun. “Bi! Tutup kembali!”

Nana tidak mendengar suara sahutan bibi Shin. Siapa yang membuka tirai itu? batin Nana. Perlahan ia mengerjapkan matanya, ia melihat sosok pria yang bertubuh tinggi menyandar dijendela sambil menatap datar kearahnya. Tapi Nana masih belum jelas siapa yang berdiri disana. Penglihatannya masih buram karena sinar matahari menyilaukan matanya.

“Oppa??” panggil Nana masih mengerjapkan matanya. Tapi tidak mendapatkan jawabannya.

Lalu mata menyipit mempertajam matanya. Ia langsung menjengit terkejut melihat sosok tampan. Tak lain adalaha tunangannya. Oh Sehun. Matanya langsung terbuka lebar. Sehun langsung berjalan menghampirinya. Berdiri disampingnya sambil meraih taskemudian menarik tangan Nana.

“Sudah siang! Kita bisa terlambat masuk!” ujar Sehun menarik tangan Nana.

Nana menggeleng mantap. Sehun mendengus kesal sambil berkacak pinggang. “Maumu apa, eo?” tanya Sehun to the point.

Nana tersenyum miring lalu melangkah mendekati Sehun kemudian Nana langsung merangkul tengkuk Sehun kemudian menariknya lalu mencium bibir Sehun sekilas. “Aku ingin kau menggendongku seperti kemarin siang!” ujar Nana setelah mencium bibir Sehun sambil menatap Sehun polos. “Palli~~!” Nana langsung melompat melingkarkan kakinya kepinggang Sehun.

“Kau ini benar-benar, ya?” ujar Sehun geli melihat tingkah Nana sambil terkekeh. Sehun akhirnya menggendong Nana berjalan keluar dari perpustakaan.

“Wae?” ujar Nana datar tapi malah merangkul erat leher Sehun.

“Hahaha… Kau ini bau sekali!” ejek Sehun sambil terkekeh. “Tapi entah kenapa nyaman sekali saat untuk dipeluk seperti ini!”

“Dasar perayu!” ejek Nana. “Biiiibbbiii Shiiinnn… bantu akuuuu…” teriak memanggil bibi Shin.

“Yak! Jangan teriak-teriak ditelingaku!” pekik Sehun.

“Nee… Nona…” sahut bibi Shin dari dapur.

Nana mendengar pekikakan Sehun membuat Nana mendekatkan wajahnya kearah Sehun langsung menekan bibir Sehun dengan bibirnya. “Lebih baik kau menggendongku sampai kekamarku, ara!” ujar Nana menjauh wajahnya dari bibir Sehun. Lalu merangkul leher Sehun lagi.

Beberapa detik kemudian Sehun sudah berdiri didepan pintu kamar Nana lalu Sehun menurunkan Nana. Tangan gadis itu melepaskan rangkulannya dari tengkuk Sehun. tangan Nana beralih di kenop pintu kamarnya lalu memutarnya lalu masuk kedalam kamarnya meninggalkan Sehun yang berdiri didepan pintu. Namun hendak menutup pintu kamarnya ia menyebulkan wajahnya dari bali pintu. Membuat Sehun menjengit.

“Dasar tower!” ejek Nana langsung menutup pintunya. Lalu ia kekamar mandi.

“Yak!” pekik Sehun. Kemudian ia menoleh bibi Shin sudah berdiri sampingnya tersenyum padanya kemudian masuk kedalam kamar Nana sambil membawa seragam sepatu Nana.

“Permisi Tuan.”

Sehun mengangguk tersenyum seraya berjalan menuruni tangga menuju ruang tamu rumah itu lalu mendudukkan tubuhnya disofa untuk menunggu Nana selesai. Setengah jam berlalu, Nana keluar dari kamarnya langsung menuju meja makan mengambil setangkup sandwich lalumeneguk segelas susu coklat. Nana hanya menghabiskan setangkup sandwich. Lalu bergegas menghampiri Sehun yang terduduk disofa ruang tamu rumahnya.

Nana melihat Sehun sibuk mengotak-atik ponselnya. “Sehun-ah! Ayo berangkat! Maaf membuatmu menunggu lama!” ujar Nana sambil tersenyum kecut. ‘Kau mengirim pesan pada siapa, eo? Aku sebenarnya sudah sedari tadi menunggumu! Kau malah asyik bermain dengan ponsel buntutmu itu!’ batin Nana kesal.

Nana berjalan mendahului Sehun menuju mobil Sehun yang berada dihalaman depan rumahnya. Sehun menyusulnya.Ia masih melihat Sehun sibuk dengan ponselnya sambil berjalan kearahnya. Nana mendengus langsung membuka pintu mobil Sehun ia langsung masuk kedalam mobil Sehun lalu menutup pintu mobil itu ia langsung memakai seatbelt. Sehun menyusulnya masuk kedalam mobil langsung memasang seatbelt lalu menghidupkan mesin mobilnya melenggang pergi dari rumah Nana menuju ke SHS sekolah mereka.

Didalam mobil, Nana―Sehun hanya berdiam sedari tadi semenjak berangkat sekolah hingga sekarang. Nana memilih menatap keluar daripada melihat orang yang menyebalkan yang duduk dibelakang kursi kemudi disampingnya. ‘Awas saja kau! Sedari tadi mendiamkan!’ batin Nana geram. Tapi ia memilih diam saja.

Beberapa menit kemudian mereka sampai di SHS tapi diparkiran mobil yang tidak jauh dari SHS hanya berjarak 25 meter dari SHS. Nana rusuh langsung melepas seatbeltnya keluar dari mobil pria itu. Nana langsung meninggalkan Sehun yang masih tertinggal disana dengan perasaan dongkol. Sehun langsung berlari mengikutinya merangkul bahunya. Sehun menoleh kearah Nana sambil tersenyum lembut Nana hanya tersenyum terpaksa.

Saat tiba digerbang. Para sahabat Sehun menghentikan langkah mereka lalu mereka iku bergabung dengan Sehun dan Nana. Pas sekali Luhan berjalan beriringan disampingnya. Mereka bertujuh membuah heboh seantero SHS membicarakan tujuh orang itu yang sedang berjalan beriring. Nana menunjukan smrinknya ia melancarkan aksinya. Kedua tangannya kini bebas kemudian Nana menepis tangan Sehun perlahan. Sehun menoleh kearah Nana bingung. ‘Kenapa?’ pikir Sehun. Ia langsung membelakakan mata ketika kedua tangan Nana dengan gampang merangkul lengan Luhan. Luhan sendiri menjengit terkejut langsung menoleh kearah Nana.

“Aku ingin membuatnya cemburu…” bisik Nana pada Luhan. Sang pemilik tangan tersenyum miring mengerti maksud Nana.

Yak!” pekik Sehun. Membuat Minho, Aron, Dongwoon serta Jackson kompak menoleh pada pada tiga orang itu, Sehun, Nana, dan Luhan.

Wae?” goda Luhan sambil tersenyum miring sambil menghentikan langkahnya.

Sehun beralih menatap tajam Nana yang senyum-senyum sendiri, “Yak! Apa aku kurang tampan? Kurang pintar? Kurang romantis, eo?” sergah Sehun.

Tak pelak membuat lima orang sahabatnya terpingkal-pingkal mendengar pertanyaan konyol Sehun yang diajukan pada Nana. Sedangkan Nana hanya menahan tawanya pura-pura tak peduli.

“Hmm…” Nana berpura-pura berpikir keras. Lalu mendongak menatap lamat-lamat Luhan yang juga menatapnya, “Kurang… kurangg…” Nana menggantung kalimatnya bahkan ia menahan tawa sembari melepas rangkulan dilengan Luhan sembari ancang-ancang untuk kabur dari 6 pria itu. “KURANGG CANTIKK SEPERTIII YEOJA!!!!” teriaknya langsung memakai seribu langkah. Kelima orang itu mendengar ejekan Nana yang ditujukan pada Luhan langsung terbahak-bahak. Luhan memekik kesal.

Namun hendak lari tangan Sehun menahan lengannya, “Mau kemana kau, eo?” lalu menariknya kembali keposisi semula.

“Yak! Bocah!” Luhan langsung menyentil kening Nana.

“Kenapa kau membuatku kesal, eo?” tanya Sehun kesal sambil menatap tajam Nana.

Nana tidak menjawab malah tersenyum-senyum sendiri malah menghamburkan pelukan pada Sehun. Nampaknya Nana sedang merajuk dengan cepat Sehun melepaskan pelukannya kemudian menjauhkan dirinya dengan Nana menggunakan tangan. Nana pintar mengambil kesempatan langsung berbalik memunggungi 6 pria itu langsung mengambil seribu langkah menuju kelasnya.

Hari berganti dengan hari. Ada salah satu SHSwa tidak suka dengan kebahagiaan antara Sehun dengan Nana. Tepatnya pukul 10.30 KTS pagi waktu istirahat. SHS dihebohkan lewat foto-foto syur antara Nana dengan Luhan. Kini tersebar di Instagram para siswa-siswi SHS. Sehun langsung terkejut dengan foto itu, percaya atau tidak percaya. Sehun langsung berdiri menarik kuat kerah seragam Luhan. Keempat sahabatnya melelerai mereka. Sehun hanya menatap tajam Luhan lalu menyentak melepasnya. Sehun langsung keluar dari kelasnya di ikuti Jackson dengan Minho. Lalu Aron dengan Dongwoon menemani Luhan yang sedang syok tentang apa yang terjadi. Luhan hanya mempunyai tato itu dengan tunangannya.

Ditempat berbeda dikelas 2C, Nana terkejut melihat foto-foto dirinya berciuman dengan Luhan. selama ini kencan dengan Luhan tidak pernah melakukan hal ini sebelum bertunangan dengan Sehun. Tapi ia menggelengkan kepalanya pelan, ini bukan dirinya. Ia mempertajam penglihatannya, ia melihat leher wanita itu ada tato bertuliskan ‘Yours’.

Suasana mendadak hening ketika Sehun dengan kedua sahabatnya masuk kedalam kelas Nana. gadis itu terkejut sekaligus was-was melihat ekspresi Sehun yang tidak bersahabat sedangkan kedua sahabatnya was-was apa yang akan dilakukan Sehun pada Nana.

“Kau…” Sehun sekarang berdiri disamping Nana dengan ekspresi yang tidak bersahabat.

“Sehun aku tidak melakukannya! Ku mohon kau percaya padaku!”

“Percaya?? Mungkin tidak!”

“Sehun… aku tidak melakukannya!” raut wajahnya berubah sendu.

“Mana mungkin kau akan mengaku, eo? Kurasa tidak!” ujar Sehun dingin kemudian berlalu meninggalkan kelas Nana.

Nana tidak tahu harus menjawab apa lagi. Ia tak pernah melihat Sehun semarah ini, ia juga tidak tahu kenapa ada foto-foto dirinya dengan Luhan seintim itu. Padahal ia bahkan tak menyentuh Luhan sama sekali. Sedangkan Luhan bingung kenapa foto-foto mesum ini tersebar di SHS. Semenjak foto-foto itu beradar di SHS membuat persahabatan Sehun dengan Luhan merenggang apalagi hubungan Sehun dengan Nana semakin jauh.

Bahkan sekarang Sehun jarang sekali menjemput Nana hanya untuk sekedar mengantar dan menjemput sekolah. Nana dapat menghitung dengan jarinya, hanya 4 kali sebulan. Namun hari ini, Sehun menjemputnya tapi Sehun masih enggan masuk kedalam pekarangan rumah gadis itu. Saat Nana keluar dari rumahnya, Nana melihat betapa dinginnya kekasihnya saat menatapnya. Tak ada senyuman dibibirnya, tak ada sapaan lembut lagi, tak ada pelukan hangat darinya. Membuat Nana mematung sejenak saat matanya bertemu dengan tatapan dingin dari kekasihnya.

‘Kenapa kau menjemputku dengan sikap dinginmu itu, eo? Aku lelah dengan sikapmu yang dingin itu… aku benar-benar lelah, sayang. Aku tak tahu harus apa lagi untuk menyakinkanmu dan percaya padaku? Apakah kita harus berpisah dengan seperti ini? Aku sudah lelah, sakit, bahkan kecewa. Tapi apa aku sanggup melepaskanmu, Sehun-ah?’ batin Nana sedih bahkan mungkin perasaannya mulai retak. Sementara raut wajahnya berubah sedikit sendu.

Nana kembali melangkah dengan gugup menghampiri mobil kekasihnya―Oh Sehun. Sedangkan manik mata elang itu mengekori langkahnya.Nana pun masuk kedalam mobil kekasihnya dan mendapatkan sambutan hening tak ada sepatah katapun yang terucap dari bibir mereka mungkin juga hawa dingin dari AC mobil Sehun. Pemilik kursi yang sesungguhnya menduduki kursi itu langsung menciuman semerbak parfum wanita didalam mobil kekasihnya. Setelah duduk dengan nyaman sembari membenarkan seatbeltnya. Mobil itu pun melaju membawa mereka pergi kesekolah. Ia lebih memilih menatap luar jendela mobil itu perlahan matanya terpejam daripada harus memandang pemilik mobil yang ia tumpangi sekarang. ‘Wanita siapa lagi yang kau bawa?’ batin Nana ingin menangis.

Sedangkan Sehun menatap dingin kedepan memandang jalan. Tangannya mengepal kuat dipedal kemudi mobilnya. Hatinya masih berkecamuk, marah, tak percaya, mungkin kecewa. Ya, itulah yang rasakan Sehun saat ini. ‘Kenapa kau melakukan ini, na?’ batin Sehun menjerit marah. Sehun mempercepat laju mobilnya yang ugal-ugalan. Perasaannya masih dikelilingi emosi yang meledak-ledak saat melihat kekasihnya―Hwang Nana.

Nana yang melihat semua itu hanya bisa memejamkan mata namun tanpa sadari cairan bening itu pun lolos dari pelupuk matanya. Ia menangis dalam diamnya tanpa sepengetahuan Sehun. Setibanya diparkiran mobil, Nana rusuh membuka seatbeltnya lalu menoleh pada pria dingin yang duduk disebelahnya yang masih sibuk dengan pedal kemudinya dan lain-lainnya.

The flower petals fell (more and more) and became dirt (no). The burning passion became ash. Why does everything good alway become like this? Evanesce―SUPER JUNIOR.

Nana mencoba tersenyum pada kekasih yang tengah menatap kedepan yang mengacuhkannya dengan tatapan dingin lalu memulai percakapan singkat mungkin yang terakhir untuknya dengan ucapan yang mungkin formal, “gamsahamnida sudah mau repot-repot untuk menjemputku. Kau tak perlu menjawabku, Oh Sehun ssi. Maafkan aku membuatmu marah padaku tapi bukan aku yang melakukannya. Kau tak perlu memaafkanku. Karena itu memang tak pantas untuk kau maafkan.” Nana menghentikan kalimatnya sejenak lalu melanjutkan ucapannya dan harus menelan ludahnya sendiri setelah mengucapakan kanlimatnya, “… pergilah Sehun-ssi! Aku ingin melepasmu! Carilah pengganti yang lebih baik dariku! Lupakan aku dari hidupmu, Sehun-ah! Aku akan ikut bahagia bila kau menemukan yang lebih baik dariku. Terimakasih membuatku jatuh cinta padamu… o… ani membuatku terlalu mencintaimu…” ujar Nana tersenyum kulum dengan airmata sudah berkumpul dipelupuk mata.

Don’t know why (Don’t know why) tell me why (tell me why). Why does love end? Why are thing that will disappear. So beautiful? It’s just a dream, love is like a daydream. Evanesce―SUPER JUNIOR.

‘Dan terimakasih untukmu yang memberikan luka dalam dihatiku… lalu apa aku sanggup untuk lepasmu, Sehun-ah!’ batin Nana menambahkan ucapan yang diutarakan pada Sehun.

Sehun yang mendengarkan ucapan Nana membuat jantungnya mencelos ingin keluar. Membuatnya membeku sejenak, apa Nana benar-benar ingin melepasnya bahkan menyuruhnya mencari penggantinya namun tatapan mata Sehun tetap saja dingin dan angkuh saat menatap kedepan. Nana pun condong kearah Sehun lalu mengecup sekilas pipi Sehun kemudian beralih kepintu mobil itu berniat untuk membuka pintu mobil itu, namun tangannya langsung dicekal langsung ditarik paksa oleh Sehun. Dengan cepat tangan Sehun meraih tengkuk Nana lalu menautkan bibir mereka. Sehun menciumnya melumatnya dengan kasar menyalurkan emosinya mungkin kerinduan lewat ciuman itu bahkan tak memberikan Nana hanya untuk sekedar bernapas sejenak.

Nana yang mulai tak bisa bernapas, gadis itu pun memukul-mukul bahkan mendorong dada Sehun. Namun Sehun tak mengindahkan permintaannya tangan Sehun punmenyentuh yang ia sukai mulaidari dada Nana lalu menurun kepinggul gadis itu kemudian mengelus paha putih mulus gadis itu bahkan menyingkap rok seragam yang dikenakan Nana hingga menyentuh daerah miliknya. Saat itulah perlahan airmata Nana luruh. Bagaimana bisa Sehun melakukan ini. Airmatanya tak bisa berhenti mengalir, terlebih Sehun saat merasakan ciuman terasa asin. Ia tahu Nana menangis tapi tak membuat bergeming untuk melepaskan ciuman yang terkesan memaksa itu. Bahkan bibir Sehun menurun menciuman bahkan menggigit lehernya hingga meninggalkan bekas tanda merah keunguan dilehernya sana.

Nana pun mulai terisak saat mendapatkan perlakuan kasar dari Sehun tak pelak membuat pria itu menghentikan kegiatannya bahkan menatap tajam kearah Nana. Sehun hanya mendesah kasar saat melihat keadaan Nana yang berantakan karena ulahnya. Mata sembab berair, rambut berantakan, seragam yang dikenakan Nana hampir terbuka seluruhnya, dan rok tersingkap keatas memamerkan paha mulusnya karena ulahnya. Nana menangis dalam diamnya menunduk sembari membenarkan seragam yang ia kenakan sekarang karena ulah Sehun―kekasihnya oh tidak mungkin lebih tepatnya tunangannya. ‘Sehun-ah, kenapa kau setega ini?’ batin Nana sedih bahkan masih berlinang airmata.

Setelah ia membenarkan penampilannya, ia buru-buru keluar dari mobil kekasihnya. Melangkah pelan sambil memeluk tubuhnya, ia merasa kotor dijamah dengan mudahnya oleh pria meskipun itu kekasihnya. Sedangkan Sehun sudah merasa puas memuaskan nafsunya pada Nana meskipun melakukannya secara paksa. Sehun tak tahu kenapa ia melakukan pelecahan pada Nana notabenennya kekasihnya sendiri. Mungkin perasaan masih marah dan kecewa yang meledak-ledak pada Nana. Mata Sehun masih mengekor mengikuti langkah Nana yang masih berjalan gontai parkiran yang tidak jauh dari mobil Sehun. Sehun pun kembali keluar dari mobil dengan seragam yang masih rapi untuk menyusul Nana.

Nana masih memeluk tubuhnya dengan mata yang basah namun tatapannya kosong kedepan. Ia masih melangkah kedepan saat lampu merah yang memberi untuk tanda dilarang untuk menyeberang jalan. Banyak yang meneriakinya agar minggir ketepi jalan. Nana masih sibuk dalam lamunannya bahkan tak mengindahkan peringatan itu. Sehun melihat truk yang melaju dengan cepat menuju kearah Nana, Sehun pun langsung panik dan berlari kencang untuk menyelamatkan Nana sembari meneriaki gadis itu, “NAAAAAAAAA!!! AWAAAAASS!!! MINGGGIIIRRR!”

Nana yang mendengarkan teriak Sehun pun malah berhenti ditengah jalan sembari menoleh kebelakang. Ia melihat Sehun berlari kencang kearahnya, lalu dengan cepat menarik tangan Nana kearahnya mendekapnya kedalam pelukkannya. Hanya lima detik saja, jika saja Sehun tidak menariknya mungkin ia sudah tertabrak truk itu. Orang-orang yang berada disekitarnya mendesah lega karena gadis itu sudah selamat dari maut itu dan diselamatkan kekasihnya sendiri―Oh Sehun.

Nana hanya masih terkejut dalam pelukkan Sehun, kedua tangannya masih menggantung bebas disisi tubuhnya. Ia merasakan hangat dipelukan Sehun, namun entah dorongan darimana Nana malah mendorong dada Sehun melepaskan pelukan Sehun yang dada masih naik turun bahkan jantung berdetak cepat dengan napas masih memburu.

“Lepaskan aku!” ujar Nana lirih. Sehun mengiyakan permintaan gadis itu. Namun tangan Sehun malah menyambarkan kasar pergelangan tangan Nana dengan paksa. Sehun tak ingin berbicara sedikit pun.

Sehun menarik tangan Nana agar mengikuti langkah panjang menyebrang jalan. “Sakit Sehun!” Nana meringis kesakitan saat pergelangan tangannya digenggam kuat oleh Sehun.

Sehun hanya diam lalu akhirnya menghempaskan tangan Nana dengan kasar saat tiba diseberang tepat didepan gerbang sekolah. “Kenapa kau menyelamatkanku, eo? Aku sudah lelah bahkan ingin bunuh diri sekarang juga!” Keluh Nana dingin denganmenatap Sehun nanar.

Ucapan Nana benar-benar membuatnya kehilangan kata-kata, “APA YANG KAU KATAKAN, EO?!” bentak Sehun tepat didepan wajah Nana. “NEO MICHEOSSEO?!” Entah kenapa dirinya malah membentak Nana.

Nana kembali menangis semakin keras didepan Sehun, ia tak tahan lagi dibentak-bentak Sehun, ia pun berteriak didepan Sehun, “YA! AKU MEMANG GILA!”

“AKU GILA KARENAMU YANG TAK MEMPERDULIKANKU!” tambah Nana yang teriak didepan wajah Sehun dengan menangis terisak seraya berlalu masuk menuju kelasnya sambil menangis meninggalkan Sehun yang masih mematung bahkan mungkin membeku mendengarteriakan Nana membuat pria itu terpaku didepan pintu gerbang sekolah yang hanya bisa menatap punggungnya.

Banyak mendengarkan percakapan mereka, yaitu teman-teman sekolahnya yang melihat pertengkaran mereka yang hebat. Nana berhasil membuat Sehun angkat bicara dan sedikit menaruh perhatian kepadanya. Namun tetap saja gadis itu masih hatinya masih terluka yang teramat dalam dengan perlakuan kasar yang lakukan Sehun padanya.

Suatu hari saat berada dipintu gerbang masuk, ia harus sakit hati melihat Sehun merangkul bahu gadis cantik, mungkin adik kelas. Tapi air matanya susah ditahan. Ia harus kuat melihat sikap dingin Sehun. Bahkan Sehun tak menganggap dirinya ada. Tapi teman-teman Sehun terkadang menyemangatinya untuk bersabar.

Suatu hari Nana ditanyai Changsub, “kenapa sekarang Sehun jarang sekali menjemputmu, eo?”

Nana terkejut mendengar pertanyaan kakaknya. “O-o, Sehun sering bergadang untuk belajar dia banyak tugas lalu kesiangan dan ia mengikuti bimbingan belajar.” Ujar Nana bohong kalau ia dan Sehun sedang bertengkar.

Changsub mengangguk, Nana beranjak dari kursinya dengan wajah datar tapi sebenarnya hatinya menahan sakit karena sikap dingin Sehun. Nana menutupi perasaannya dengan baik.

“Oppa, aku mau mengerjakan tugasku yang belum selesai… nanti kau tidak keluarkan?” tanya Nana binar jenaka.

“Tidak. Aku sudah lelah. Kenapa?” membuat Changsub terkekeh melihat Nana.

“Ya rahasia donk!” ujar Nana menyengir sambil menjulurkan lidahnya mengejek Changsub dan berlalu menuju perpustakaannya.

“Jincha!”

Beberapa jam kemudian. Jam dinding menunjukan pukul 00.00 KTS sudah menginjak dini hari. Ia sekilas menatap layar ponselnya masih berwarna hitam. Tidak ada pesan mungkin tidak ada panggilan masuk sekalipun. Ia menguap dan menutup mulutnya dengan kedua. Kemudian ia menutup sampul bukunya lalu memasukkan kedalam tasnya. Ia beranjak dari kursinya. Kemudian ia mengedarkan pandangannya menyapu seluruh rungan itu. Tiba-tiba air matanya mengalir perlahan membasahi pipinya. Ia msih mengingat dengan baik dengan pria itu saat ditempat ini.

Perlahan ia mengerjapkan matanya, ia melihat sosok pria yang bertubuh tinggi menyandar dijendela sambil menatap datar kearahnya. Tapi Nana masih belum jelas siapa yang berdiri disana. Penglihatannya masih buram karena sinar matahari menyilaukan matanya.

 

“Oppa??” tanya Nana masih mengerjapkan matanya. Tapi tidak mendapatkan jawabannya.

 

Lalu mata menyipit mempertajam matanya. Ia langsung menjengit terkejut melihat sosok tampan. Tak lain adalaha tunangannya. Oh Sehun. matanya langsung terbuka lebar. Sehun langsung berjalan menghampirinya. Dan berdiri disampingnya sambil meraih tas lalu menarik tangannya.

 

“Sudah siang! Kita bisa terlambat masuk!” ujar Sehun menarik tangan Nana.

 

Nana menggeleng mantap. Sehun mendengus kesal sambil berkacak pinggang. “Maumu apa, eo?” tanya Sehun to the point.

 

Nana tersenyum miring lalu melangkah mendekati Sehun kemudian Nana langsung merangkul tengkuk Sehun dan kemudian menariknya lalu mencium bibir Sehun sekilas. “Aku ingin kau menggendongku seperti kemarin siang!” ujar Nana setelah mencium bibir Sehun sambil menatap Sehun polos. “Palli~~!” Nana langsung melompat dengan cepat melingkarkan kakinya kepinggang Sehun.

 

“Kau ini benar-benar, ya?” ujar Sehun geli melihat tingkah Nana sambil terkekeh. Sehun akhirnya menggendong Nana lalu berjalan keluar dari perpustakaan.

“Wae?” ujar Nana datar tapi malah merangkul erat leher Sehun.

 

“Hahaha… Kau ini bau sekali!” ejek Sehun sambil terkekeh. “Tapi entah kenapa nyaman sekali saat untuk dipeluk seperti ini!”

Nana mengingatnya membuat hatinya terasa remuk bahkan retak. “Aku merindukanmu, Sehun!” ujar Nana dengan nada bergetar. “Tapi kenapa? Apa salahku?” Nana mulai terisak pelan lalu menjatuhkan tubuhnya dikursi kemudian menenggelamkan wajahnya dilipatan tangannya diatas meja.

When my love has all washed away. Only the longing scars remain. Only the words, “good bye” remain. So I cannot forget you. Following the flower petals that yield to the sky. When I meet you, I can tell you now that I longed for you. I long for you so I couldn’t forget you―Hurt, Ali (Rooptop The Prince OST).

Emosinya kini mereda. Matanya kini sembab tapi tak begitu bengkak. Lalu Nana mengusap matanya dengan punggung tangannya. Kini ia harus kuat untuk menghadapi semua ini. Entah dapat pikiran darimana Nana berucap, “Entah kenapa hari ini aku mulai tak mempercayaimu lagi, Oh Sehun. Tapi kenapa hatiku masih mencintaimu? Apa sebaiknya aku harus menenangkan diri dulu? Ya itu lebih baik.”

Nana beranjak dari duduknya kemudian ia keluar dari perpustakaannya berjalan menuju kamar Changsub. Lalu Nana mengetuk pelan daun pintu kamar kakaknya.

“Oppa?” tanya Nana memanggil pelan sambil mengetuk pintu kamar Changsub.

“Ya!” Nana mendengar sahutan dari dalam lalu beberapa detik kemudian pintu itu terbuka melihat kakaknya masih belum tidur. Mungkin mengerjakan tugas kuliahnya.

“Oppa belum tidur?” menatap kakaknya mengenakan kacamata baca. “Aku boleh tidur denganmu malam ini?” Nana langsung masuk kedalam kamar kakaknya ia pun merebahkan tubuhnya diranjang tidur kakaknya lalu menarik selimut sembari memejamkan matanya.

Changsub mendengus lalu menutup pintunya. Ia juga lelah tangannya melepas kacamatanya diatas meja bacanya. Lalu menyusul Nana tidur disamping adiknya itu. ia memasukkan kedua kakinya kedalam selimut yang sama digunakan Nana. Merasakan kakaknya tidur disebelahnya kemudian kepalanya menyadar didada kakaknya dengan nyaman kemudian tangannya memeluk pinggang kakaknya.

“Nana, kau ini kenapa? Tumben kau memelukku seperti ini?” ujar Changsub menggoda Nana sambil terpejam.

“Aku rindu memelukmu seperti ini!” balas Nana. “Aku sudah mengantuk!” Nana langsung memotong agar tidak bertanya lebih padanya. Mereka pun tertidur berdua masih mengenakan pakaian utuh.

Keesokkan harinya, matahari menyinari ruang kamar. Matahari mengenai wajah mereka. Changsub mengerjapkan matanya lalu menunduk menatap ujung kepala Nana yang menyandar didadanya tapi Nana bergerak mengeratkan pelukannya membuat Changsub terkekeh.

“Nana, biarkan aku bangun… Astaga! Kalau begini aku jadi tidak bisa bangun karenamu!” ujar Changsun pelan sambil mengelus ujung kepala Nana.

“Memelukmu seperti ini lebih nyaman oppa!” kini mata Nana terbuka lalu perlahan Nana meringsut dari Changsub. Namun hendak meringsut dari Changsub tiba-tiba tangan Changsub menarik pinggang Nana dan memeluknya kembali.

“Yaaa… katamu kau tak bisa bangun karena aku tapi kau malah tak memperbolehkanku bangun?” menatap Changsub sambil terkekeh sambari Changsub melepaskaan pinggang Nana. Bercanda dengan kakaknya membuat sedikit lupa rasa sakitnya. “Eomma akan memarahi kita, Oppa! Karena tadi malam kita tidur seranjang, Ara!”

Panjang umur, saat detik itu juga ibu mereka mengetuk pintu kamar Changsub kemudian ibu mereka membuka pintu itu. ibu mereka terkejut setengah mati melihat Nana dan Changsub berantakan habis tidur. Seranjang? Astaga! Nana dan Changsub langsung beranjak duduk bersama diatas ranjang

“Astaga kalian? Kalian itu bukan pasangan suami istri! Hwang Changsub!Hwang Nana!” tutur ibu mereka menggelengkan kepalanya. Sambil melipat tangan didada.

“Memang bukan, eomma! Tapi dia oppaku tercinta!” ujar Nana tersenyum miring tapi malah memeluk Changsub.

Ibu mereka mendengus. Lalu, “Kalian memang benar-benar aneh!”

Nana dan Changsub terkekeh senang. “Oppa terima kasih untuk tadi malam!” ujar Nana sambil beranjak dari ranjang Changsub lalu menegakkan tubuhnya sembari meraih ponselnya yang teronggok rapi dinakas dekat ranjang kakaknya kemudian meninggalkan kamar Changsub. Setengah jam berlalu Nana keluar dari kamarnya mengenakan seragam dengan rapi ia sedikit rapi tidak seperti biasanya. Ia melangkah menuju meja makan diruang makan. Ia melihat kedua orang tuanya dengan kakaknya sedang duduk sambil menikmati sarapan paginya.

“Annyeong!” sapa Nana ceria dengan mata berbinar sambil menarik kursi lain disamping Changsub.

“Iya sayang.” Jawab ibunya lembut. “Ayo makan…”

Ditengah-tengah acara makan. Nana tiba-tiba bertanya pada ayahnya, “Appa? Apa aku boleh pindah sekolah yang lebih baik dari SHS?”

Orang tuanya dengan Changsub langsung menghentikan aktivitas sarapan mereka dan seketika menoleh kearah Nana. Ayahnya mengeryit bingung. Lalu, “Kenapa? Apa SHS kurang berkualitas?”

Nana mengangguk mantap, “Ne. Kurikulum pembelajaran sekolah itu memang bagus tapi tak bisa membuat para siswanya tidak maju. Guru selalu menjelaskan materi sedangkan para siswanya terkadang ada yangtidur, bermain permainan diponsel mereka, membaca majalah. Aku sudah terlalu paham dengan materi-materi yang dijelaskan sonsaengnim!”

“Appa! Aku ingin bersekolah di STUY New York! Appa sekolah itu meluluskan para petinggi dunia sekaligus mendapatkan nobel ya seperti di bisnis, pemerintahan dan politik di United States Attorney GeneralEric Holder alumni Stuyvesant,[mereka jadi penasihat senior untukPresiden Obamadan orangnya itu David Axelrod.Bahkan aku sekarang ingin menggantikan posisi Appa saat ini menjadi presdir Hyundai Group! Aku juga sudah ingin jadi mahasiswa seperti oppa!”

“Yang benar saja kau, Nana ya!”ejek Changsub.

“Memangnya SHS punya alumni yang peraih Nobel lalu menjadi petinggi dunia, eo? Pasti tidak adakan?”

Changsub kehabisan kata-kata untuk membalas Nana. Memang Changsub akui Nana mempunyai IQ lebih dari dirinya.

“Appa? Bolehkan? Aku berjanji tidak akan nakal disana dan membuat eomma―appa bangga padaku!” sambil menangkupkan kedua telapak tangannya didadanya. “Karena ini masih semester satu awal jadi lebih mudah. Bolehkan Appa?”

“Lalu tunanganmu bagaimana?” tanya Changsub tiba-tiba.

Pertanyaan Changsub membuatnya terhenyak, “Ha? D-dia pasti mengerti dengan pilihanku ini.” Sedikit gugup.

“Baiklah kalau begitu, nanti appa akan pergi kesekolahmu untuk mengurus surat-surat dan berkas-berkas perpindahanmu. Sekaligus melihat nilai-nilaimu!”

“Benarkah appa?” Nana terkejut tak percaya, bahkan memeluk Changsub gembira bahkan girang. “Tapi appa janji tak boleh menyebutkan tempat dimana sekolah itu berada.”

Ayahnya mengangguk mantap. “Kau harus berjanji disana tidak akan macam-macam disana.”

Nana beranjak dengan ringan. “Eomma, Appa, Oppa. aku berangkat dulu ya!”

“Lo tidak berangkat bersama oppamu?” tanya ibunya.

“Aniya, Eomma! Aku rindu naik bus sekolah! Na kkanda!” langsung berlalu pergi kesekolah.

Because the reason I live is you. With my heart, I hope the remaining, flickering memories will be sent to you. At the end of this road I walk on, At this road that was allowed to me,
I, who used to love and love you more, Remain here alone. My love has all burned up and the only thing remaining. Are the exhausted scars from waiting. I cannot forget a person like you. Only tears fall―Hurt, Ali (Rooptop The Prince OST)

Sehun kini berubah dingin. Ia sering membawa wanita kehotelnya untuk melampiaskan emosinya. Tapi entah kenapa rindu menyusup didirinya tapi dirinya masih didominasi dengan emosi yang meledak-ledak. Sehun kini tidak bertegur sapa dengan Luhan padahal sahabatnya sendiri. Keempat sahabatnya sahabatnya harap-harap cemas melihat dua orang ini dan membuat mereka berempat kasihan adalah Nana. seolah-olah Nanalah yang membuat mereka mereka merengggang.

“Minho-ah, eottokaekaji?” Aron mengacak rambutnya frustasi.

“Sebaiknya kita menyelidiki dalang semua ini. Sebelum masalah ini menjadi berantakan!” saran Dongwoon.

“Matta. Tapi foto-foto itu tersebar dari luar sekolah kita, Dongwoon-ah!” Jackson menambahi.

“Kalau dari luar? Itu pasti perlu membutuhkan waktu yang sedikit lamakan?” timpal Minho.

Semua mengangguk mengerti. Mereka menatap Sehun dengan Luhan bergantian melihat Luhan tertunduk menbaca buku dibangkunya sedangkan duduk dibangku Dongwoon sambil Sehun mengotak-atik ponselnya seperti mengirim pesan.

Aron beranjak dari duduk sambil berbisik pada Dongwoon, “Ayo lihat bagaimana Nana sekarang, aku sedikit mencemaskan dia karena sikap dingin Sehun. Kkaja!”

Aron dengan Dongwoon beranjak dari tembat duduknya, “Kita ingin lihat Nana sekarang. Kalian disini jaga mereka berdua, ara!” Bisik Aron. Minho dengan Jackson mengangguk mengerti.

Ditempat berbeda, dikelas setiap hari Nana hanya melamun. Menatap jendala buram disana. Ia harus tega meninggalkan Sehun untuk meraih cita-citanya. Sekarang ia memantapkan keteguhan hatinya. Harus semangat untuk terakhir bersekolah disini. Bersiap untuk meninggalkan kenangan buruk disini. Nana hendak berdiri tiba-tiba Aron dengan Dongwoon masuk kedalam kelasnya lalu menghampirinya sembari duduk disamping dan didepan bangkunya.

“Kau tak apa sekarang, Nana?” tanya Aron cemas.

Nana hanya mengangguk mantap. “Begini membuatku untuk jadi orang yang lebih baik, Aron-ah!”

“Kalian ini hanya difit―” ujar Dongwoon.

Nana langsung memotong kalimat Dongwoon, “Sekarang kau tak perlu mencemaskanku Dongwoon-ah! Aku baik-baik saja! Kumohon kembalilah kekelas kalian. Jebal~!” ujar Nana memohon pada kedua pria itu agar tidak mencemaskannya dan pergi dari hadapannya.

“Baiklah kalau itu maumu!” ujar Aron tidak tega. “Jaga kesehatanmu!” tambah Dongwoon. Yang sebenarnya tidak tega melihat kondisi Nana saat ini. Mereka akhirnya meninggalkan Nana yang duduk dibelakang.

Sepulang sekolah Nana lebih dulu pulang menggunakan bis sekolah agar tidak melihat 6 orang itu. Secepatnya Nana ingin pulang kerumah untuk mendengarkan kabar baik dari ayahnya. Rasa gembira menyelimuti hatinya kini perlahan perasaan lega. Kini senja beranjak malam, keluarga Hwang berkumpul diruang keluarga. Orang tuanya dan Changsub tersenyum bangga padanya. ‘Ada apa?’ batin Nana.

“Sini sayang!!!” ibunya tersenyum bahagia. “Duduk dipangkuan eomma…”

Wae?” tanya Nana melihat ibunya menangis bahagia. Lalu Nana menghapus jejak airmata ibunya dengan jari ibunya. “Uljima, eomma. Aku tidak suka eomma menangis seperti ini. Ada apa?”

“Kau membuat kami bangga anakku!” ibunya merangkul erat anak gadis satu-satunya. “Nak, kau sudah terdaftar jadi siswi diSTUY. Dan mendapatkan kelas akselarasi. Jadi kau lebih cepat untuk lulus. Dan besok kita berangkat siang, nak!”

Jincha Eomma, Appa?” tanya Nana gembira tak percaya dan mendapatkan jawaban anggukan kepala dari kedua orang tuanya dan langsung memeluk kedua orang tuanya.

Nana menarik tangannya dari tubuh kedua orang tuanya. Lalu Nana menoleh pada Changsub dengan raut wajah sendu. Nana memasang wajah cemberut dan langsung menghamburkan pelukan pada Changsub.

“Jangan mencegahku pergi, Oppa!” ujar Nana kesal.

“Aku akan merindukanmu Nana…” Changsub mengeratkan pelukannya sambil mengelus ujung kepala Nana. “Lalu disana kau tinggal dimana?”

“Tadi aku telepon Kevin, sepupumu Changsub. Dia malah menawarkan Nana untuk tinggal bersamanya dan kata berjanji menjaga Nana.” sahut ayahnya.

Nana langsung melepaskan pelukan dan seketika menoleh pada ayahnya, “Kevin Oppa? Omo! diakan mahasiswa di Colombia!” seru Nana. “Appa? Jika aku nanti lulus dengan nilai bagus dan masuk di Colombia lalu aku kuliah disana, bolehkan?”

Ayahnya hanya mengangguk mantap sambil merangkul istrinya. “Sehun bagaimana?” tanya Changsub lagi.

Nana mendengus. “Kenapa oppa selalu merusak moodku, eo? Sehun tidak bagaimana-bagaimana! Toh kalau dia meninggalkanku ya terserah dia. Aku tidak peduli. Yang kupedulikan cita-citaku. Sekolah di Paman Sam lalu lulus cum laude dengan gelar S2 bisnis. Dan langsung merebut jabatan Appa, hahaha! Wow… Amazing but not easy doing it! And now love is number last! Aku sebaiknya aku bergegas menyiapkan semuanya.” Langsung melesat kekamarnya mempersiapkan segala keperluannya.

Keesokan harinya Nana keluar mengenakan pakaian seragam bersama koper-koper besarnya. Changsub menatap Nana bingung kenapa Nana masih mengenakan seragamnya sekolahnya.

“Kenapa kau memakai seragam itu, eo?” tanya Changsub bingung.

“Aku ingin pamit Oppa,untuk terakhir kali mengenakan seragam ini.” Ujar Nana menyengir. “Tiga jam lagikan berangkatnya dan sekarang masih 10.15 pagi. Biar Pak Hoon yang mengantarku kesekolah. Paling 45 menit aku pulang. Na kkanda!” langsung melesat kemobil Pak Hoon.

Kini Nana sudah berada dimobilnya, ia meneguhkan hati agar tidak kalah dengan Sehun sambil memutar-mutar cincin tunangannya. Ia harus menghadapi sikap dingin Sehun. Harus siap! Nana menyemangati dirinya sendiri.

Sesampainya di SHS bertepatan dengan bel istirahat pukul 10.30 KTS. Ia bergegas keluar dan langsung melesat dengan membawa tas dipunggungnya. Matanya mencari sosok yang dingin itu. Dan akhir berpas-pasan dengan Sehun, Aron dan Dongwoon dengan jarak yang sedikit jauh. Sehun berjalan menuju kearahnya dengan sikap dinginnya dan kedua sahabatnya hanya mengekor.

Tidak ada perubahan sedikitpun dari Sehun. pria itu tidak peduli. Bahkan Sehun tak tegur sapa saat melewati Nana. Hati Nana semakin remuk dan memperdalam retakan itu. Membuat matanya mengembun dan berkaca-kaca ia tidak tahan dengan sikap Sehun. Dan beberapa meter kemudian setelah melewatinya.

“SEHUN BERHENTI!” teriak Nana. Tapi tidak dihiraukan Sehun. “SEHUN BERHENTI!” teriakan Nana seperti terdengar nada kecewa, sedih, dan menangis. Teriakan Nana membuat gaduh koridor lalu para penduduk pun kelas berhamburankeluar dari kelasnya seraya membuat langkah Sehun terhenti dan kemudian membalikan tubuhnya kearah Nana.

“KU MOHON BERHENTI!!”

To be Continue

ANNYEONG!!!!! CHINGU!! EONNI!! SAENG!!!

MIIAAAANHAEEE!! JEONGMAL MIANHAE!!!

MAAPPPPPPP BANGETT BARU BISA NGAPDET SEKARANG!!!!

Soalnya ada sesuatu yang harus aku kerjakan akhir-akhir ini bahkan mungkin sangat sibuk dengan pekerjaan dikantor. 

Maaaffff sekali lagi membuat kalian menunggu lama.

Kemarin dataku hampir hilang ‘SEMUANYA’ termasuk FF ini.

Untung masih ada data FF ini yang masih kusimpan.

Dan aku harus meneliti lagi dari awal bahkan memperbaiki ceritanya.

 Agak PUUUUAAAANNJAAAAANGGGG!!!!!

Kita kembali ke… cerita.

Gimana? Apa tidak ada perubahan? Ceritanya gimana? Aku bingung mendeskripsikan orang yang sakit hati. Hasilnya kurang memuaskan, bukan? Mianhae. Aku tak ingin tanya panjang lebar pada kalian. Aku hanya menunggu komentar, kritik & saran kalian untuk ffku. O… kemarin ada yang bingung sama Changsub, ya? Changsub itu kakak kandung Nana. Mana mungkin Changsub mencintai adiknya sebagai wanita. Mana mungkinlah, kalian tahu sendirikan sifat Changsub yang konyol, dan usil itu apalagi Changsub suka menjahili adiknya dan kekasihnya. Satu lagi satu lagi, aku juga udah pernah apdet FF disini tiga kali tapi versi LUNAS STORY―LUHAN&NANA dengan typo yang masih bertebaran disana sini. Coba klik angka

[ 1, 2, dan 3.]

Ini kalo kalian mau baca. Aku tidak memaksa. Maaf sedari tadi banyak bicara.

Saat bagi-bagi foto

 e59bb3106955454088fcd38f895d8bf2  

OH SE HOON (34) OH SE HOON (63)

Sehun cute, after Baek kiss Sehun jadi sandaran bang baek

Sehun walk as model (orang ganteng mau lewat)

orang ganteng mau lewat

Regrad,

SYAMMER.

147 responses to “TROUBLEMAKER COUPLE#5

  1. ceritanya panjangggg jafi gak bikin cepet selesaI bacanyaaa hahahHa. Awalnya enak banget bacanya, nge feel terus romantis banget jadi senyum senyun sendiri bacanya….. XD
    Dan ngeliat skinshionya mereka itu gabikin jijik.
    tapi pas udah pertengahan jadi kesel sendiri sama sehun yang emosian banget, terus konfliknya agak aneh menurut ku thor masa cuma foto fitnahan itu sehun sampe marah banget terus kelakuannya gak masuk akal banget lagian kan dia bisa liat sebdiri kalo nana gapunya tato. huhh sudahlah lebih baik author mempercepat mempost yang chapter depannya ya soalnya aku penasaran gimana reaksinya sehun tau nana mau pindah T-T)/

  2. diawal2 masih sweet2nya padahal hiks terus mau pisah gini aja masa? hiks well nextnya ditunggu :))

  3. kisah cinta mereka complicated banget siih 😥

    aku keseeeel banget sama sehun, biarin aja dia ditinggal sama nana biar tau rasa hahaha *ketawa jahat*

  4. Akhirnya di update juga klanjutannya^^
    Cerita kali ini gak kalah bagusnya sama yg sblumnya..
    Mudh2an chapter slnjutnya lebih cepat di update ^^
    Keep writing! Fighting~~~

  5. waaahh chapter ini panjaaaaang bangeett.. seru kak.. tapi alurnya kok mulai ngebosenin yaa ?? apa karena belum ada konflik lagi ??

    next chapter ditunggu kak

  6. hahahaha aduh cabeeeeeeeeee (salpok ke foto)
    Aigoo,,, masa kamu pergi gitu aja? nelantarin Sehun?? Sehun nya juga salah, dia terlalu gengsi buat nahan Nana

  7. hoho aku komen aja dulu kali ya udah ketinggalan 2 chap dan ini pun masih baca awal doang yang isinya ‘ehem’ abis buka puasa aja kali bacanya. biar ngena wkwk.

  8. eeyyy setengah manis setenga pahit jadinya campur kayak tajilan gw tiap sore njiirr *plakk
    mian baru komen

    fotonya bikin jungdok

    GOMAWO 🙂

  9. Sehun mah tega bener ma nana.. mampus nana mau pindah.. palingan nnti sehun yg sakit hati di tinggal nana

  10. Wtf siapaaa yang nhebar fotoooo ituuu????? Ah sialan kan sehun sama nana jadi gak akur. Sehun juga masa gak pervaya sama nana? Ah sehun otaknya dangkal nih elah ngeselin bgt. Mampus kan lu hun nana bakal pindah sekolah. Mamam tuhuh

  11. aigoo~ konfliknya jd serumit ini .

    sehun trlalu kbwa emosi smpe bkin nana trtekan sma sikap dingin sehun ..

    hunnieee~ cba prcaya sma nana

    siapa sih org yg nybrin fitnah gtu?

    aku mncurigai 3 org~

    shin yeong mntn sehun yg prnah d tampar nana , mntan nana , mntan sehun yg kcntilan sma tmn tmnnya wktu itu

  12. aduhh moment sehun sena tuh yahhh argh!! bikin envy kkk~

    tp apa dia yakin dgn keputusan dia buat tinggalin sehunnie haha
    next chap ^^

  13. Sehun jahat bngt, masa gak percaya sama tunangannya sendiri, yg nyebarin tuh photo juga setan bngt lah, bikin persahabatan luhan sehun jadi renggang hubungan sehun nana juga jadi kurang baik

  14. Pingback: TROUBLEMAKER COUPLE # 8 | SAY - Korean Fanfiction·

  15. Pingback: TROUBLEMAKER COUPLE #9 END | SAY - Korean Fanfiction·

  16. ku kira author blm update2 trnyata pas d liat d blog pribadi udah ada sequelnyaa… brarti aku ketinggalan jauh nihh…wkwk
    nana bakal pergi dan ninggalin sehun huhu~

  17. Hwaaaaaaaaa sumpah sedih banget
    Yg awalnya mesra skrang mlah jdi brntem
    Mana si nana mau k luar negeri
    T.T

    author imajinasinya daebakkkk

  18. Haduhhh nangis bombay nih sma pasangan ini;( pdhal mereka baik” aja kan masa tiba” marhan sih udah gitu sehun pke ngajak” wanita tiap malem ka hotelnya lah nah ini lu rasain ditunggalin nana, biarin aja syapa suruh gituin nana sehun kali ini bener” dah keterlaluan titik! Pokoknya apapun yg terjadi nana kudu berangkat ke luar negeri biar si sehun sadar gmana skit rasanya ditinggal pacar sndiri😤

  19. Sehun pasti bakalan nyesel banget udah ngediemin Nana..
    Berasanya kalo udah ditinggal, udah sih Nana ngapain pake pamit sama Sehun, tinggalin aja biar Sehun ngerasain sakit ditinggalin..

  20. eh author udah kerja.. pasti sibuk banget ya? haduh mkasih ya eonni udah smpetin buat ff,
    Itu siapa sih yg nyebarin hoax? bich banget. entah knapa aku sneng banget nana mau pindah sekolah, hahaha

  21. Mantan sehun ato si mark yg lakuin hal ini????mmg lebih baik nana pergi…bias mrk sama2 berpikir dewasa…biar sehun jga nyesel…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s