THE SUN [Chapter 7: U Smile] -by ByeonieB

the-sun

THE SUN

ByeonieB Present

Main Cast::

Baekhyun of EXO as Byun Baekhyun

OC/You/Readers as Han Minjoo

Additional Cast::

Bora of Sistar as Yoon Bora

Sehun of EXO as Oh Sehun

And many more

Genre:: Romance, Life, Drama, Marriage-Life

Length:: Chapter

Rate:: PG-14 – PG-17

Summary::

“You are like the sun.

 The sun that rises in every morning.

The sun that comes after the dark.

Yes, you are just like that.

You are the sun that rise on my life.”

 

Poster by Jungleelovely @ Poster Channel

Before: [Chapter 6]

Reccomended song for this chapter-> U Smile by Justin Bieber.

 [Chapter 7: U Smile]

H A P P Y  R E A D I N G

Baekhyun’s POV

Aku mengedip-ngedipkan mataku, terbangun dari tidur nyenyakku yang cukup indah. Kemudiannya aku mengedarkan pandanganku seluruh arah, melihat jendela dengan tirai yang masih menutupinya. Kalau tirai masih tertutup, berarti Minjoo belum bangun karena gadis itu selalu bangun lebih dahulu di banding diriku selama ini.

Melirik ke sebelah dan benar saja, dia masih disana. Tertidur dengan selimut kami berdua yang menutupi setengah badannya.

Aku pun menghadapkan tubuhku pada Minjoo yang kebetulan ia tertidur dengan menghadapku sambil menaruh satu tangannya di bawah bantal. Ah sial, guling pembatas itu menghalangi pandanganku. Aku menurunkan guling itu perlahan dan akhirnya pandanganku sudah tak terhalang oleh apa-apa.

Wajah teduh gadis itu saat tertidur selalu menjadi favoritku. Melihat lekuk wajahnya yang begitu indah, pasti Tuhan saat menciptakannya menggunakan bahan-bahan berkualitas. Maksudku, lihatlah dia. Matanya tidak terlalu sipit namun tidak terlalu lebar juga. Alisnya begitu terjejer rapih di atasnya, melindungi mata indah itu. hidungnya membentuk sudut 70 derajat, bisa di bilang seperti seluncuran. Dan.. bibir pink gadis itu yang tampak seperti tersenyum walaupun ia sedang tertidur membuat hatiku berdegup seketika.

Deg. Deg.

“Ya!” aku memukul-mukul dadaku. Dia tidak boleh berdegup seperti itu, benar-benar tidak boleh. Kenapa? Maksudku.. bukan kah ini salah? Aku tidak boleh…menyukainya, kan?

Minjoo merenguh kecil ketika suaraku memukul-mukul dada memekakan telinganya. Perlahan namun pasti dia mengedip-ngedipkan matanya dan mulai membuka matanya. sebelum tepat ia membuka matanya, aku kembali menutup mataku untuk berpura-pura masih tertidur. Agar tidak ketahuan kalau aku sedang memerhatikannya.

“Jam berapa ini..” tuturnya kemudian. Sepertinya ia mengecek jam di ponselnya sekarang.

“Astaga…” aku dapat merasakan jika Minjoo mendudukan tubuhnya. “Baekhyun-ah! Bangun! Kau terlambat kerja!” katanya sambil menggoyangkan tubuhku.

Aku sedikit menggeram kesal. Dia memiliki satu poin plus untuk…kecantikannya. Tapi dia memiliki 1000 poin minus dalam dirinya. salah satunya seperti sekarang ini.

Aku membuka mataku dengan kesal lalu menepis tangannya cukup kasar. “Ya! tak ingatkah kau sekarang hari apa?!”

Dia menatap mataku sambil menerawang disana. Kemudian ia mengambil ponselnya kembali dan melihat disana.

Iya, dia pelupa. Sangat.

“Hari Minggu..” kemudian ia menyengir kuda. “Maafkan aku, Baekhyun-ah.. kau bisa melanjutkan tidurmu kembali..”

Aku meringis sebal padanya. “percuma saja. Mimpiku sudah kau hancurkan. Aku tak mau tidur kembali.” Bohongku padanya, aku kan sudah bangun sebelum ia bangun sedari tadi.

Aku bangun dari tempat tidurku dan pergi meninggalkannya menuju kamar mandi.

.

.

.

Hari minggu ini lagi-lagi kuhabiskan hanya untuk bersantai di rumah. Tidak banyak hal yang kulakukan selain menonton televisi yang sangat membosankan. Kemudian mengedarkan pandanganku pada seluruh ruangan, dan aku mulai tersadar sesuatu. Minjoo, kemana gadis itu. aku terakhir kali melihatnya ketika pagi tadi, di meja makan. Setelahnya aku pergi keluar sebentar untuk membeli beberapa kaset dvd yang baru kutonton tadi. Dan aku baru benar-benar sadar, Minjoo tak ada di dalam rumah.

Aku berjalan menuju dapur, siapa tahu dia ada di dapur. Namun ternyata, nihil. Dan juga, aku tak menemukan Ahn ahjumma disana. Setelah nya aku berjalan kembali menuju lantai atas, siapa tahu ia menonton tv di lantai atas namun sama juga, nihil. Aku pun mengecek kamarku, siapa tahu ia mungkin sedang baca majalah di sana dan sama lagi, nihil. Kemana gadis itu?

Aku berjalan ke balkon kamarku, mencoba untuk tidak memperdulikan kemana gadis itu walaupun sebenarnya hatiku sedikit was-was, takut gadis itu menghilang. Ketika aku sedang mengedarkan pandanganku ke seluruh pekarangan taman yang berada di belakang rumah, netraku menangkap sesosok tubuh kecil sedang berada di tamanku itu. aku menemui gadis itu.

Gadis itu mengenakan overall pendek dengan kaus putih di dalamnya. Tak lupa juga ia mengikat rambutnya ke atas karena aku melihat tangannya kotor penuh dengan tanah itu. ia sedang bertanam.

Fiuh. Syukurlah dia ada disana.

Aku memutar tubuhku kembali, lalu berjalan menuju lantai dasar, bermaksud akan menghampirinya.

Setelah berhasil menghampirinya, aku mencoba untuk memanggilnya. “Minjoo-ya, apa yang sedang kau lakukan?”

“Aku sedang menanam bunga lily, Baekhyun-ah. Itu akan terlihat sangat bagus jika bunganya sudah tumbuh.”

Aku membulatkan mulutku selama beberapa detik lalu setelahnya diam memerhatikan gadis itu.

“Ingin membantuku?” tawarnya padaku.

“Tidak mau. Aku tidak suka bermain dengan tanah.”

Aku melihatnya menolehkan kepalanya menghadapku lalu mengendus setelahnya. “Dasar manja.”

Aku mendesis ke arahnya dan setelahnya ia memfokuskan dirinya lagi untuk menanam bunga tersebut.

“Tapi.. karena aku sedang bosan..” aku menjongkokkan tubuhku di sebelahnya, lalu berusaha membantunya. “Jadi aku akan membantumu..”

Dia tertawa kecil lalu menyodorkan beberapa bibit tanaman, sebuah pot, pupuk dan tanahnya.

“Lihat seperti yang sedang kulakukan, pertama-tama kau harus menaruh sedikit pupuk di dalamnya, lalu setelahnya kau masukkan tanahnya seperti ini..” Minjoo menjelaskan segala sesuatunya padaku dan langsung kutanggap mengerti. Aku langsung melakukan perkerjaan itu setelahnya.

Cukup lama bagi kami masing-masing memfokuskan diri menanam bunga itu yang membuat suasana menjadi sangat hening, sampai akhirnya Minjoo membuka suara.

“Baekhyun-ah.. aku ingin bertanya padamu sesuatu..”

“Tanya saja.”

“Apakah kau masih menyayangi kekasihmu?”

Aku menghentikan kegiatanku seketika. Bora. Sudah hampir 2 bulan lamanya aku tak bertemu dengan Bora semenjak kejadian itu. dimana aku baru mengetahui jika ia menjalin kasih dengan orang yang paling aku benci, cowok lemah itu, Kim Junmyeon.

Jujur sebenarnya aku tak tahu apa yang harus kujawab dari pertanyaan gadis ini. Aku memang sedikit merindukannya karena hei.. aku telah bersamanya untuk periode waktu yang lama. 7 tahun. Setiap harinya waktuku selalu kuhabiskan dengannya. Aku sudah terbiasa dengannya yang masuk ke dalam kehidupanku sampai-sampai aku terpukul sakit ketika gadis ini datang dan membuat hubunganku hancur seketika. Sesuatu yang telah menjadi kebiasaan sehari-hariku, menghilang.

Tapi.. itu ketika 4 bulan yang lalu. Aku tak yakin jika perasaanku pada Bora masih sama seperti yang dahulu. karena sesungguhnya ada sesuatu yang lebih baru yang membuat jantungku bergetar dari biasanya. Sesuatu baru yang aku tak mau mengakuinya.

“Baekhyun-ah?”

“Iya?” aku tersadar dari monologku.

“Apa kau mendengarku?”

Aku mengangguk kecil. Aku harus masih menyayangi Bora. Tak boleh membiarkan sesuatu yang baru itu berkembang semakin besar. “Ya, aku masih menyayanginya.”

Minjoo mengangguk sekali lalu kembali menghadapkan pandangannya pada pekerjannya lagi. “Aku ingin minta maaf sekali lagi…karenaku, hubungan kalian benar-benar hancur…”

Aku menatapnya diam. aku jadi teringat perkataan Asisten Kim ketika dahulu. Minjoo memang benar-benar bukan seseorang yang patut di salahkan dalam kejadian ini. Ia juga merupakan korban walaupun aku lah korban yang mengalami ‘luka’ lebih parah itu.

“Ya… sudahlah, itu sudah berlalu. Lagi pula aku sudah tak ingin membahasnya lagi.” Tuturku mencoba meyakinkannya.

“Tapi tetap saja Baekhyun-ah, jika saja aku menolak permintaan Ayahmu waktu itu, mungkin kau akan masih dengan—“

“Berhenti.” Aku kesal dengannya yang terus menyalahkan dirinya. mungkin benar jika dia memang bersalah di situasi ini, tapi tidak bisakah dia membiarkan yang berlalu biarlah berlalu? Aku tak suka dengannya yang terus menyalahkan dirinya sendiri. Membuatku selalu merasa bersalah karena aku lah penyebabnya juga ia merasa bersalah seperti ini. “Aku sudah memaafkanmu dan bisakah kita tak usah membahasnya lagi?”

Minjoo menoleh ke arahku karena ia pasti mendengar perkataanku yang dingin padanya tadi. Tapi sepertinya tidak, karena ia menatapku dengan binar-binar di matanya.

“Baekhyun-ah.. kau benar-benar memaafkanku?”

Aku mengangguk ragu-ragu. Merasa aneh dengan tingakahnya kali ini.

Sedetik kemudian ia menaruh tangannya yang kotor itu ke pipiku dan menggoyang-goyangkannya, “Gomawo Baekhyun-ah, Gomawooo..” tuturnya.

Aku menepis tangannya kasar, lihatlah wajahku sekarang pasti penuh dengan kotoran tanah itu. aku bisa merasakannya dan bahkan bau tanah itu terserap di hidungku.

“YA! Apa yang kau lakukan?!” aku membersihkan wajahku dengan bajuku. “Kau membuat wajahku kotor!!”

Dia mengigit bibirnya dengan gemas sambil tersenyum, “Mi-mian.. Baekhyun-ah..”

Aku menggeram padanya, sangat kesal. “Kau.. kau juga harus merasakannya!”

Aku menarik tangannya lalu mengusap beberapa permukaan tanganku yang kotor oleh tanah itu ke wajahnya. Membuatnya menutup mata dan pasti ia merasakan apa yang kurasakan sekarang.

“Rasakan itu!” setelahnya aku melepaskannya dan berdiri di hadapannya. Ia membuka matanya lalu mengusap wajahnya pelan.

“Baekhyun-ah.. kau terlalu berlebihan!” dia mencoba membersihkan wajahnya dari kotoran tanah tadi. “Lihat, wajahku terlalu penuh dengan tanah sedangkan kau hanya pada pipimu saja!”

Aku mengangkat bahuku acuh, tak memperdulikannya. “Kau yang memulai, kau yang harus menerima balasannya dengan lebih.”

Dia menggeram kesal lalu membangunkan tubuhnya di hadapanku. “Kau juga harus kubalas!” setelahnya ia mengusapkan tangannya kembali di hampir seluruh permukaan wajahku. Astaga, bahkan bau tanahnya pun sudah sangat terlalu menyengat di hidungku!

“Rasakan itu!” ia menjulurkan lidahnya lalu setelahnya berlari menjauhiku.

“YA!” Aku pun berlari mengejarnya dan pada akhirnya kami saling berkejaran untuk saling melemparkan tanah pada tubuh kami. Tubuh kami sangat kotor, layaknya anak kecil yang habis bermain di pasir. Baju putih Minjoo pun sudah tampak sangat kecoklatan, akibat tanah-tanah itu. jangan tanya bagaimana akhir dari penanaman bibit bunga itu.

“Ya.. ya.. berhenti berlari. Aku lelah. Kita harus membersihkan ini.” Minjoo pun berhenti berlari dan memutar tubuhnya. Wajahnya sudah tampak sangat kotor walaupun sebenarnya hanya ada beberapa noda-noda tanah di kedua pipi dan dahinya itu.

“Benar-benar berhenti ya? kau tidak sedang mengerjaiku, bukan?”

Aku memutar tubuhku dan mengambil selang yang tersedia untuk menyiram pekarangan taman. Menjawab pertanyaan gadis itu.

Minjoo pun menghampiriku setelah tahu bahwa aku sedang tidak berbohong padanya.

“Sini aku bersihkan dahulu wajahmu.”

“Tidak, Baekhyun-ah. Biar aku duluan saja yang membersihkan wajahmu.” Dia pun mengambil selang yang ku pegang tadi dan mencoba untuk membasuh kulit wajahku. Aku mencoba untuk menutup kedua mataku, agar jika air itu di semprotkan ke arah wajahku tak akan menyakiti mataku.

Byur.

Aku membuka mataku dengan gusar setelah ternyata Minjoo mengerjaiku. Ia menyiramkan air itu ke mukaku dengan kencang dan membuatnya sedikit membasahi tubuhku.

“YA!!” aku memekik dengan kesal padanya. Gadis ini benar-benar.

Ia hanya terkikik tak tertahan melihat ke arahku. Aku pun langsung merebut selang itu dan menyemprotkan airnya ke tubuh Minjoo. Ia menutupi wajahnya dengan tangan dengan alhasil membuat bajunya lebih basah dariku. Dan dia hanya bisa tertawa lepas dengan itu.

“Ya! benar-benar hentikan, aku sangat lelah..” rengekku padanya. Ia pun mencoba untuk menghentikan tawanya lalu menghampiriku kembali.

“Aku tidak akan membalasnya lagi karena aku tidak ingin kita berakhir dengan tubuh seperti habis kehujanan dan jatuh sakit pada esok harinya.” Ia mengambil selang dari tanganku. “Aku akan benar-benar membersihkanmu terlebih dahulu. serius kali ini.”

Aku terdiam melihatnya membasahi tangannya lalu menghimpit jarak antara tubuh kami. kakinya sedikit ia jinjitkan untuk menyetarakan wajah kami yang akhirnya hanya berjarak beberapa centi dari wajahku. Ia mengusap pelan wajahku, bermaksud untuk membersihkannya. Jemarinya yang halus itu menyentuh kulit wajahku, membuat sensasi tersendiri untukku. dari jarak sedekat ini, wajah cantiknya benar-benar terlihat sempurna. Membuatku dengan gusar menelan salivaku dan netraku yang nakal ini memandangi setiap inci lekuk wajahnya.

“Wajahmu benar-benar kotor Baekhyun-ah..” tuturnya sambil terkekeh pelan, menunjukkan senyumannya.

Apa yang akan terjadi jika pada saat itu Minjoo menolak penawaran Ayah untuk menikahiku? Mungkin aku tetap menjadi pewaris tunggal Byun’s Group tanpa harus berjuang mendapatkannya seperti sekarang dan hubunganku dengan Bora mungkin akan sampai ke jenjang pernikahan.

Tapi, apakah aku bisa menikmati setiap perhatian gadis ini kepadaku nantinya? Apakah aku bisa menikmati lukisan indah yang Tuhan torehkan pada wajahnya? Apakah aku.. bisa merasakan sensasi tersendiri ketika sentuhannya berada di kulitku? Apakah aku bisa merasakan ketenangan ketika ia menorehkan senyumnya padaku?

Ingin sekali aku menghapus semua kalimat yang baru saja kupikirkan tadi, dan memilih untuk menyetujui pendapat Minjoo. Seharusnya ia tidak datang pada kehidupanku.

Sayangnya hatiku malah memilih yang sebaliknya.

Minjoo’s POV

“Baekhyun-ah.. bangun.” Aku membangunkan Baekhyun dari ranjang sebelahku. Sambil memerhatikan lekuk wajahnya yang begitu tampan. Ia tak menjawab apa pun dan malah masih menutupkan kedua matanya, bermesraan dengan mimpinya.

Aku masih sangat menyukainya sampai detik ini. Seharusnya ketika ia mendeklarasikan pertemanan denganku, ketika ia bilang bahwa ia masih menyayangi Bora, aku sudah berhenti mulai menyukainya. Tapi bagaimana? Nyatanya perasaan ini semakin hari semakin tumbuh saja. Setiap hari aku selalu bersamanya, saling bertukar cerita, menghabiskan waktu di rumah bersama.. apakah dengan begitu perasaanku bisa sedikit demi sedikit menghilang?

“Baekhyun-ah.. kau tak akan berangkat kerja?” tuturku kembali membangunkannya. Mungkin kali ini berhasil, karena dia sedikit memejamkan matanya lalu merenguh sebentar.

“Sebentar lagi Minjoo-ya, sebentar lagi, eoh?” rengeknya padaku dengan mata terpejam.

Lihatlah tingkah lakunya yang begitu menggemaskan. Ingin sekali aku mencubit kedua pipinya itu.

Aku tahu ini salah. Tidak seharusnya aku membiarkan perasaan ini tumbuh terus menerus. Tapi mau bagaimana lagi?

.

.

.

Aku menyibukkan diriku di dapur dengan berbagai peralatannya, menyiapkan sarapan untukku dan Baekhyun juga tentunya. Mendengar suara derap langkah kaki dari tangga, aku memutar tubuhku untuk melihat siapa yang turun. Laki-laki itu, Baekhyun.

“Selamat pagi, Baekhyun-ah” sapaku padanya. Ia melihat ke arahku lalu setelahnya memfokuskan dirinya menuruni tangga kembali. “Oh, pagi Minjoo-ya.”

Haha. Memang sejak aku dan Baekhyun menjadi teman, ia mulai membalas semua sapaanku. Aku pun tersenyum merekah.

Baekhyun mendudukan dirinya di kursi meja makan, dan seperti biasa ia akan membaca koran pagi hari yang selalu Ahn ahjumma sediakan disana.

Sarapan pun jadi, aku membawanya ke atas meja makan, hadapan Baekhyun. menyadari itu, Baekhyun menghentikan kegiatan membacanya lalu mulai mengambil makananku tadi ke atas piringnya.

“Oh ya, Baekhyun-ah, hari ini tidak apa-apa kan jika aku tak mengirimu bekal makan siang?” tanyaku padanya yang mulai menyuapkan satu sendok nasi ke mulutnya.

“Kenapa?” tanyanya menatapku sedikit kecewa. “Kau tidak sempat memasak memang?”

“Bukan..” aku memotong perkataanku. “Aku akan pergi hari ini.. mungkin baru pulang sore hari nanti.”

“Kemana?” tanya pria itu menginterogasiku.

“Ke Busan.”

“Untuk apa?”

Aku menghela napasku sedikit ringan. malas untuk menjelaskan perihal ini sebenarnya.

“Hari ini 9 tahun sejak kematian orang tuaku, Baekhyun-ah.”

Iya, ini adalah hari ke 3285 semenjak orang tuaku meninggal. setiap tahunnya, aku pasti (dan selalu) mengunjungi makam mereka. Oh bahkan setiap bulannya pun aku selalu mengunjungi makam mereka. Hanya saja, sejak aku menikah dengan Baekhyun, sudah lama sekali aku tak mengunjungi orang tuaku. Mungkin terakhir kali itu sekitar 5 bulan yang lalu. Iya, sebelum aku menikah dengan Baekhyun.

“Ah..” Baekhyun menatapku dengan pandangan yang sulit di artikan. Aku tahu ia pasti merasa tak enak mendengar pembahasan semacam ini, karena walaupun kami sudah banyak bertukar cerita selama beberapa waktu ini, aku belum pernah menceritakan soal orang tuaku pada Baekhyun. malas untuk mengingat masa lalu.

“Kalau begitu akan aku antar. Kau pergi jam berapa?” tuturnya.

Eh? Di antar? Dia kan harus kerja, aku pun mengangkat tanganku di hadapannya lalu mengibas-ngibaskannya, “Tak usah Baekhyun-ah, aku bisa pergi dengan Bus. Kau tenang saja, aku hapal kok untuk naik bus ke Busan.”

“Tidak. Akan aku antar.” Dia menjawabku dengan nada dinginnya. Kenapa dengan dia?

“Tak usah Baekhyun-ah, aku benar—“

“Kubilang ku antar ya aku antar. Kenapa kau harus membantah?” jawabnya dengan sedikit menaikan volume suara. “Kenapa kau tak pernah menceritakan soal orang tuamu padaku?” tanyanya kemudian dengan mengintimidasi.

“Ah.. Baekhyun-ah..”

.

.

.

“Jadi.. orang tuamu meninggal sejak kau berumur 12 tahun?”

Kami berdua, aku dan Baekhyun, berdiri di hadapan dua batu nisan yang berdampingan. Batu yang berada di sebelah kiri kami bertuliskan “Han Joong Won” dan yang sebelah kanan kami bertuliskan “Lim Ye Jin”. Batu nisan Ayah dan Ibuku.

Aku telah menceritakan pada Baekhyun setelah kami mencapai tempat ini. Menceritakan semua kenangan pahit yang aku alami 9 tahun silam. Kejadian orang tuaku yang meninggal ketika dalam perjalanan bisnis menuju Seoul. Membuat hatiku berdenyut nyeri kembali jika mengingat itu semua.

“Mereka meninggalkanku sendirian di dunia ini..” aku menceritakan kembali kenangan pahitku pada Baekhyun.

“Awalnya, aku sangat membenci mereka. Bahkan aku tak ingin datang ke pemakaman mereka karena menurutku mereka sangat egois..”

aku mulai menjatuhkan air mataku. Benar, di minggu awal ketika orang tuaku meninggal dahulu, aku benar-benar tak ingin menghadiri pemakaman mereka. Aku sangat membenci mereka karena mereka meninggalkanku.

“Aku sangat membenci mereka sampai-sampai hati ini selalu sakit Baekhyun-ah.. sakit jika mengingat mereka..”

aku memukul-mukul dadaku mencoba untuk meredakan rasa sakit itu yang berdenyut kembali.

“Aku.. merindukan mereka.. Baekhyun-ah..”

Pandanganku pun mengabur karena terhalangi oleh sesuatu yang panas muncul dari mataku. Air mata itu mengalir dari mataku, membuat aliran sungai kecil disana.

Aku selalu begini jika mengingat orang tuaku. Mengingat betapa aku merindukan mereka. Betapa sendirinya aku di dunia ini tanpa mereka. Aku selalu merutuki diriku, kenapa.. kenapa pada waktu itu aku tak ikut pergi bersama mereka untuk pergi ke Seoul? Jika aku ikut ke Seoul pada waktu itu, Aku mungkin akan hidup dengan bahagia bersama mereka di atas sana, bukan? Aku tak akan merasa kesepian selama 9 tahun ini, bukan?

Tubuhku tiba-tiba terhuyung ketika seseorang menarik tubuhku dan menjatuhkanku ke dalam dekapannya. Hangat. Satu hal yang langsung kurasakan, hangat.

“Menangislah. Jika kau merasa sakit. Menangislah.” Tutur kata lelaki yang mendekapku saat ini.

Aku pun menaikan tanganku yang semula terjuntai di samping tubuhku, perlahan memegang ujung-ujung kemejanya. Setelahnya aku benar-benar menangis disana, meluapkan semua apa yang ada di dalam hatiku. Mencoba untuk membagi rasa sakit yang kuderita, kupendam selama ini kepadanya. Untungnya dia tak memprotes perihal itu.

“Tapi satu hal yang pasti..” Baekhyun mengelus-elus rambutku dengan lembut. “..kau sudah tak sendirian lagi, Minjoo-ya.”

Aku mencoba untuk terus memfokuskan pendengaranku. Sakit di hatiku sudah mulai mereda, tergantikan oleh perasaan hangat ini.

“Ada aku disini.”

Aku mendengarkan setiap penuturan katanya. Tangisku sudah mulai mereda, rasa sakitku sudah sedikit hilang atas dekapannya ini. membuatku bisa mengambil kesempatan untuk menghirup aroma tubuhnya yang mengkuar-kuar.

“Percayalah padaku kalau aku benar-benar disini.”

Ingin sekali aku mempercayai perkataan Baekhyun barusan. Percaya bahwa dia benar-benar ada disisiku untuk periode waktu yang lama (kalau bisa di sisiku untuk selamanya).

Namun, mengingat perkataannya tempo hari lalu, yang berkata bahwa ia masih menyayangi kekasihnya, membuat nyaliku untuk percaya padanya berkurang. Cepat atau lambat, suatu saat nanti, pasti Baekhyun akan kembali pada kekasihnya itu.

Tapi.. bolehkah aku membiarkan diriku mempercayainya untuk sekarang ini? Untuk memperkuat ragaku, bolehkah aku?

Author’s POV

Baekhyun menekan tombol di remote tv nya, mengganti-ganti channel di televisinya. Ini hari sabtu, kebetulan Baekhyun tidak memiliki perkejaan apapun di kantornya, yang membuatnya hanya melakukan pekerjaan ‘menonton tv’ di rumah sejak tadi pagi.

“Aish.. ini akhir pekan tapi mengapa tidak ada acara yang bagus..” Baekhyun mengeluh pada dirinya sendiri.

Minjoo, gadis itu pun baru muncul dari dapur, dari taman belakang mereka setelah ia menyiram tanaman bunga lilynya yang ia tanam bersama Baekhyun beberapa waktu lalu.

Menyadari kehadiran Minjoo, Baekhyun memutar kepalanya.

“Minjoo-ya, kau darimana?”

Minjoo melangkahkan kakinya dengan mantap ke sofa tengah, lalu mendudukannya sedikit jauh dari Baekhyun. “Aku habis dari taman belakang, menyiram bunga lily..”

Baekhyun hanya membulatkan mulutnya, membuat huruf O selama dua detik disana. Kemudian ia memfokuskan pandangannya kembali ke arah tv yang kali ini sedang menampilkan acara berita harian.

“Ah.. itu sungai Han kan, Baekhyun?”

Baekhyun membalas pertanyaan Minjoo dengan sebuah anggukan kecil. Kemudian mereka sama-sama memerhatikan acara berita tersebut.

Acara berita tersebut menampilkan betapa bagusnya cuaca di sungai Han pada pagi ini. Banyak sekali penduduk kota yang datang ke sungai Han untuk menikmati segarnya angina udara pagi serta untuk sekedar berjalan-jalan di taman tersebut.

“Pasti sangat menyegarkan disana..” tutur Minjoo dengan pikiran yang melayang-layang. Membayangkan dirinya berada disana, menikmati udara itu.

Baekhyun pun melirikan wajahnya ke arah Minjoo, melihat gadis itu yang sepertinya sangat tertarik untuk datang kesana.

“Baekhyun-ah, ketika aku datang ke festival sungai Han waktu itu, udara malamnya pun benar-benar segar.” Tuturnya dengan wajah yang merekah. Membuat Baekhyun tak bisa menahankan senyumannya. “Ah sungai Han benar-benar destinasi favorit kota Seoul..”

Melihat senyuman itu, jujur membuat hati Baekhyun bergemuruh tanpa ia sadari. Membuat Baekhyun kehilangan dunianya seketika. Sebuah senyuman pun bisa menjadi obat candu untuk seorang Baekhyun.

“Kalau begitu, kau ingin kita kesana?”

Minjoo lantas menolehkan kepalanya ke arah Baekhyun, menatap pria itu kebingungan. “Apa yang kau baru saja bicarakan, Baekhyun-ah?”

Baekhyun menghadapkan tubuhnya ke arah Minjoo, meyakinkan gadis itu. “Hmm.. begini..” Baekhyun membuat nada bicaranya tampak serius. “Kita sudah berteman cukup lama.. biasanya teman itu selalu hangout bersama.”

Minjoo menatap Baekhyun masih dengan raut yang sama seperti sebelumnya.

“Bagaimana kalau kita hangout bersama? Ke sungai Han?” Baekhyun kemudian menggigit bibirnya berpikir. “Hari ini?”

Minjoo mengedip-ngedipkan matanya tak percaya. “Kau serius?”

“Sangat serius.”

Minjoo tak dapat menyembunyikan senyumannya kembali. Ia melengkukan bibirnya, membentuk senyuman disana.

Call!

Baekhyun terus tersenyum pada Minjoo. Sejujurnya Baekhyun pun tak tahu mengapa ia melakukan ini semua. Yang dia pikirkan hanyalah,

“Bagaimana agar senyuman it uterus tertera disana?”

.

.

.

“Baekhyun-ah..” Minjoo merentangkan kedua tangannya di udara lalu memejamkan kedua matanya. angina-angin yang menerpa ke kulit wajahnya sungguh menyegarkan. “Ini sangat menyenangkan!”

Baekhyun hanya terkekeh pelan sambil terus menggoseh sepeda sewaannya dan menyusuri taman sungai Han.

“Tapi Baekhyun-ah..” Minjoo memegang kembali ujung-ujung baju Baekhyun, untuk menjaga keseimbangan tubuh gadis itu yang duduk berada di kursi belakang sepeda ini. “Kau terlalu mengemudikannya dengan cepat..”

“Benarkah?” Baekhyun pun berniat untuk menjahili gadis itu, maka ia menambah kecepatan pada gosehannya tersebut. “Siap-siap saja, Minjoo-yaa..”

Minjoo pun mencengkram kedua ujung baju Baekhyun dengan lebih kuat. Sungguh Baekhyun memang mengemudikannya terlalu cepat, sampai rasanya Minjoo tak bisa merasakan pantatnya lagi. Dan Baekhyun yang menyadari itu pun hanya bisa tertawa-tawa. Tanpa melihat ke depannya, terdapat sebongkah batu yang cukup besar yang akan menabrak sepeda mereka.

“Baekhyun-ah! Awas!”

Baekhyun tersontak kaget dan dengan cepat menarik rem yang berada di kemudi sepeda mereka dan membelokkan sepedanya menghindari batu tersebut. Baekhyun berhasil melewati bongkahan batu itu.

Tapi.

Ada sesuatu yang membuat jantungnya tiba-tiba berdegup secara keras.

Deg.

Ia menurunkan pandangannya ke bagian perutnya.

Terdapat sepasang tangan yang merengkuhnya begitu erat. Membuat darahnya berdesir dari lutut kaki sampai ke kepalanya. Membuat hawa di tubuhnya tiba-tiba panas seketika. Hanya perlakuan sekecil ini, Baekhyun merasakan beberapa kembang api sedang di porak poranda kan di dalam perutnya.

Minjoo pun yang menjadi pelaku itu, sedikit merenggangkan rengkuhannya dan memutar kepalanya melihat ke arah batu yang baru saja mereka lewati. Tanpa sadar apa yang telah dilakukannya pada lelaki itu.

“Ya.. Baekhyun-ah.. kupikir aku akan jatuh kau tahu.” Tutur Minjoo dengan kesal. Setelahnya ia melihat ke arah tangannya yang masih merengkuh di bagian perut Baekhyun. membulatkan matanya, merutuki apa yang ia lakukan, Minjoo perlahan menurunkan tangannya dari perut Baekhyun.

Namun gagal. Pria itu menahan kedua tangan Minjoo dengan salah satu tangannya.

“Jika kau tak ingin jatuh, maka tetaplah seperti ini. Kupastikan kau tak akan jatuh.”

Wajah Minjoo memanas seketika setelah mendengarkan perkataan Baekhyun. membuat hatinya berdegup tak karuan, dan seperti ribuan kupu-kupu menghinggapi perutnya.

Kedua manusia ini sejatinya tidak menyadari perasaan mereka masing. Padahal, Tuhan sudah sangat dengan baiknya memberikan akal pada manusia untuk berpikir dan merasakan. Pohon, bunga, bahkan udara pun tahu, bahwa sebenarnya di antara mereka bukanlah sekedar ‘pertemanan’. Ada sesuatu yang muncul dari hati mereka masing-masing meskipun mereka selalu menolaknya.

.

.

.

Selepas mereka bersepeda di sungai Han, mereka menghabiskan waktu mereka untuk berjalan-jalan di sekitar kawasan tersebut. mengunjungi beberapa toko pernak-pernik dan souvenir, membeli es krim, menonton para pemain musik jalanan. mereka benar-benar menghabiskan waktu bersama-sama.

Ketika mereka berada di depan salah satu gedung teater (yang biasa di pakai para artis/musisi mengadakan konser musical disana), Baekhyun menghentikan langkahnya. Menatap gedung teater tersebut.

“Kenapa Baekhyun-ah?” tanya Minjoo yang menyadari Baekhyun menghentikan langkahnya. Minjoo mengikuti arah pandang Baekhyun, pada gedung teater ini. “Kenapa dengan gedung teater ini?”

“Apakah ini sudah di tutup?” Baekhyun bertanya entah pada siapa. Minjoo menolehkan pandangannya pada Baekhyun. melihat ke arah lelaki itu.

Baru saja Minjoo akan menjawab pertanyaan lelaki itu, Baekhyun sudah lebih dahulu melangkahkan kakinya menuju pintu utama gedung ini. Mencoba untuk membukanya namun ternyata tidak bisa.

Minjoo menghampiri Baekhyun yang kepayahan membuka pintu tersebut. “Kenapa Baekhyun-ah?”

Baekhyun menolehkan pandanganya menatap Minjoo. “Ada sesuatu yang ingin kutunjukan padamu Minjoo-ya..” kemudian ia melihat ke arah kiri dan kanannya sambil berpikir. “Namun gedung ini sudah tertutup sepertinya.”

Minjoo pun mengerutkan keningnya. Apa yang Baekhyun ingin tunjukkan padanya?

Setelahnya Baekhyun menjetikkan jarinya tiba-tiba lalu menarik tangan Minjoo pergi ke sisi lain dari gedung ini. Tepatnya ke belakang gedung ini. Di belakang gedung teater ini, terdapat sebuah tangga kecil, yang sepertinya merupakan akses lain—tersembunyi—untuk memasuki gedung teater. Baekhyun tetap menggenggam tangan Minjoo dan menaiki tangga tersebut. setelah menaiki beberapa anak tangga, Baekhyun menemukan sebuah pintu dan sebuah jendela disana. Pintunya terkunci, tapi tidak untuk jendelanya.

“Aku akan masuk duluan, nanti setelahnya kau yang masuk.” Minjoo hanya mengangguk dan menuruti perintah Baekhyun. Baekhyun membuka jendela tersebut lalu masuk lewat sana. Setelahnya, ia memegang sisi pinggang tubuh Minjoo dan mengangkatnya perlahan untuk masuk ke dalam.

Mereka pun berhasil masuk ke dalam gedung tersebut. tampak sangat gelap, bahkan Baekhyun pun menggunakan cahaya dari ponselnya.

Minjoo sedikit bergidik ngeri dan menggenggam tangan Baekhyun cukup erat. “Baekhyun-ah.. apa ini tidak apa-apa?”

Baekhyun menurunkan pandangannya, melihat tangannya yang di cengkram begitu erat oleh Minjoo. Ia tersenyum, gadis ini pasti sangat ketakutan, pikirnya.

“Tak apa, Minjoo-ya.. aku akan mencari lampunya.” Baekhyun pun berjalan semakin dalam. Ia tahu persis gedung ini. Gedung ini merupakan salah satu sejarah yang penting untuk hidupnya.

Klik. Baekhyun berhasil menemukan lampunya.

Lampu pun menyala, walaupun hanya menyorotkan cahayanya pada panggung yang berada di tengah di sana, di lantai dasar, cahayanya dapat terlihat untuk di sepenjuru ruangan gedung ini. Darisitulah Minjoo baru menyadari kalau mereka saat ini sedang berada di lantai dua, tempat penonton kelas menengah.

“Ini…”

“Gedung teater musikal. Tempat dimana dulu memperjuangkan cita-citaku.”

Minjoo mengerutkan keningnya. Cita-citanya?

“Kau pasti bingung kan?” Baekhyun pun menuntun gadis itu untuk turun ke lantai dasar. Setelahnya ia membawa Minjoo untuk menuju panggung utama.

Di atas panggung tersebut, terdapat sebuah grand piano yang belum tampak usang. Masih sangat bagus walaupun terdapat bercak-bercak debu di sekitarnya.

Baekhyun membersihkan kursinya lalu mengajak Minjoo untuk duduk di sebelahnya. Ia pun membuka penutup piano, dan melentikkan jarinya di atas sana. Suara piano tersebut masih sangat jernih rupanya.

“Aku sangat ingin sekali menjadi pianis terkenal. Itu adalah cita-citaku sejak aku kelas 4 di sekolah dasar..” tuturnya sambil memainkan beberapa nuts di atas piano tersebut.

“Namun, Ayahku sangat menolak cita-citaku tersebut. karena aku merupakan satu-satunya anak mereka, Ayahku menyuruhku untuk meneruskan perjuangannya di perusahaan itu.” tuturnya dengan nada kecewa. “Mulai dari situlah aku membangkang pada orang tuaku..”

Minjoo menatap sendu pada pria ini. Dia pikir tuan Byun yang ia sayangi, yang ia kenal sebagai orang yang sangat baik hati, tidak memiliki sisi jahat sedikit pun. Tapi nyatanya, tuan Byun merenggut cita-cita pria ini. Merenggut apa yang telah pria itu idam-idamkan dari umurnya yang masih sangat kanak-kanak itu demi perusahaannya semata.

“Tunjukanlah padaku, Baekhyun-ah..” tutur Minjoo, mencoba menghangatkan suasananya. “Nyanyikanlah satu lagu untukku.”

Baekhyun pun menatap Minjoo. Meneliti wajah gadis itu lalu setelahnya ia menemukan lagu apa yang ia ingin mainkan.

Ia memulai menaruh jemarinya di atas piano tersebut, lalu menari dengan indah. Membuat nada yang sangat indah untuk di dengarkan

I’d wait on you forever and a day

Hand and foot

Your world is my world

Ain’t no way you’re ever gon’ get

Any less than you should

Cause Baby

You Smile, I Smile

Cause Whenever

You Smile, I Smile

{U Smile by Justin Bieber}

Ya lagu itu lah yang terpintas di pikiran Baekhyun saat ini. Saat menatap gadis itu, lagu itu memang benar-benar merupakan gambaran gadis itu. Han Minjoo.

“Wah.. kau memang calon pianis yang berbakat Baekhyun-ah..” tuturnya sambil menatap Baekhyun dalam-dalam.

Gadis itu pun mencoba menarikan jemarinya di atas piano dan menekan tuts dengan asal-asalan. Membuat nada yang sedikit memekikan.

“Aku payah dalam hal ini..” kekehnya di akhir.

Baekhyun pun ikut terkekeh mendengar penuturan kata gadis ini.

“Kau pasti bisa memainkannya.. ikuti aku.”

Baekhyun pun menekan beberapa tuts pada piano. “Cause Whenever..”

Minjoo mengikuti nada Baekhyun dan menekan tuts di piano bagian sisinya. Nadanya masuk.

You Smile, I Smile.” Baekhyun menekan beberapa tuts lagi sambil memerhatikan jemari gadis itu.

Minjoo pun mengikuti kembali nada-nada yang Baekhyun baru mainkan. Berhasil lagi.

Cause Whenever.. You Smile, I Smile.” Baekhyun memainkan nada pada sepenggal lirik itu secara langsung, memadukan nada-nada yang baru saja tadi ia ajarkan pada Minjoo.

Minjoo pun menarikan jemarinya di atas piano dan benar-benar mengikuti apa yang Baekhyun ajarkan padanya sebelumnya.

Cause Whenever.. You Smile, I Smile.” Minjoo berhasil memainkan nada pada lirik tersebut. “Baekhyun-ah aku bisa memainkan ini.” Katanya sambil tersenyum merekah.

Dengan cahaya dari lampu sorot yang menyinari mereka berdua, Baekhyun menatap Minjoo begitu dalam dengan perasaannya yang begitu menggebu-gebu. Pria itu merasakan ketenangan dan kedamaian setiap kali ia merincikan detil demi detil lekuk wajah Minjoo. Ia merasakan bahwa Minjoo memberikannya kekuatan tersendiri pada tubuhnya. Membuat jantungnya mengalirkan darah dengan sempurna ke seluruh tubuhnya, membuat alveolusnya bekerja dengan cepat untuk menukar oksigen dan karbon dioksida dan membuat saraf neuronnya bekerja dengan simpatik. Semuanya terasa berjalan dengan sempurna hanya dengan menatap wajah gadis ini.

Minjoo menolehkan wajahnya, menatap wajah Baekhyun kemudian. Melihat wajah tampan pria itu yang sedang menatapnya. Membuat jantungnya tiba-tiba berdegup cukup keras sekali.

Deg.

Mereka berdua saling terhanyut pada pikiran mereka. Membuat seakan-akan dunia sedang milik mereka berdua dengan hanya tatapan itu. membuat salah satu dari mereka tanpa dia sadari memajukan wajahnya untuk menghapus jarak mereka. Pelaku itu adalah sang pria, Baekhyun.

Minjoo tersontak kaget dan menegangkan tubuhnya melihat Baekhyun yang terus menerus menghimpit wajahnya. Minjoo hanya bisa terdiam mendapati perlakuan seperti itu dan bodohnya ia malah menutupkan kedua matanya ketika Baekhyun tepat 5 centi dari wajahnya.

Mendapatkan sinyal hijau seperti itu, Baekhyun turut menutup kedua matanya lalu meraih tangan Minjoo, menggenggamnya dengan lembut.

Hidung mereka mulai saling bersentuhan, membuat dada mereka semakin bergemuruh dan aliran darah mereka semakin kencang. Merasakan hembusan napas dari kedua belah pihak yang memanas ke wajah mereka. Mencoba untuk meresapi dengan apa yang selanjutnya akan terjadi

“Apakah ada orang disini?”

Baekhyun dan Minjoo membuka matanya serentak lalu saling menjauhkan muka mereka.

“Apakah ada orang disini?”

Suara berat itu menginterupsi indra pendengaran mereka. Minjoo membulatkan kedua matanya, menyadari ada seseorang yang datang.

“Baekhyun-ah! Suara siapa itu?” pekiknya tanpa suara pada Baekhyun.

Mereka pun dilanda kecemasan mendengar suara derap langkah yang mendekat ke arah panggung. Tak ingin ketahuan, Baekhyun pun berdiri dan bergegas menarik tangan gadis itu dan menyembunyikan tubuh mereka di antara tirai-tirai yang menjuntai.

“Oh tidak ada siapa-siapa” pria yang sepertinya merupakan penjaga dari gedung teater ini pun berada di bawah panggung, tepat di hadapan panggung tadi. “Tapi kenapa lampu nya menyala?”

Sedangkan Baekhyun dan Minjoo menyembunyikan tubuh mereka dengan hatinya yang masih sangat bergemuruh.

.

.

.

Mobil mewah bermerk audy itu membelah jalanan Seoul yang mulai hening. Maklum saja, ini sudah pukul 9 malam, pasti banyak warga yang sedang istirahat di dalam rumahnya.

Sama seperti suasana di dalam mobil itu, di landa oleh keheningan yang berkepanjangan. Selepas mereka berhasil kabur dari penjaga gedung teater tadi, tak ada satu pun dari mereka berdua yang memberanikan diri untuk membuka pembicaraan.

Kejadian tadi, di kursi piano tadi lah penyebab ini semua. Mereka berdua sama-sama terbawa suasana dan hampir saja “sesuatu” itu terjadi. Mereka pun tak tahu apakah mereka harus berterima kasih atau malah merutuki penjaga tadi.

Baekhyun pun berdeham seketika, mencoba membuka suaranya. Ia rasa, ia lah yang salah dalam situasi tadi. Ia yang lebih terdahulu menghapus jarak mereka dan menghimpit tubuh Minjoo untuk mendekat padanya dan hampir memulai sesuatu itu terjadi. Tapi tepat, sepenuhnya bukanlah salah Baekhyun. salahkan juga wajah gadis itu yang terlalu meneduhkan bagi Baekhyun, membuatnya tak bisa berpikir jernih.

“Maaf..maafkan aku atas perlakuanku yang tadi..” tutur Baekhyun tanpa berani sedikit pun untuk menolehkan kepalanya ke arah kursi di sampingnya. Hawa di dalam mobilnya begitu panas, bahkan air conditioner yang sudah berada pada suhu 16 derajat pun tak terasa olehnya.. “A..ku.. terlalu terbawa.. suasana..”

Minjoo pun merasakan hal yang sama seperti Baekhyun. di tambah hatinya yang cukup bergemuruh pun membuatnya sama sekali tak berani untuk menatap Baekhyun. “E..oh.. aku ju..ga.. minta.. maaf..” katanya sambil terputus-putus. Astaga bisakah Tuhan mempercepat waktu sekarang ini, pikirnya. “A..ku.. juga..terbawa.. suasana..”

Baekhyun mengangguk-angguk pelan, menyetujui perkataan gadis itu. setelahnya ia tak membuka suaranya lagi dan lebih memilih untuk memfokuskan dirinya mengemudi mobilnya dan cepat-cepat untuk sampai di rumah.

.

.

Baekhyun berhasil mengendarai mobil dengan selamat sampai rumahnya walaupun dengan keadaan seperti tadi. Karena saking tidak maunya dia melihat ke arah Minjoo, tanpa ia sadari gadis itu telah terlelap sejak 15 menit yang lalu.

Baekhyun memutar tubuhnya dan menghadapkannya pada gadis itu. ia melihat Minjoo yang sedang tertidur disana.

“Dia pasti lelah sekali..” tuturnya sambil terus menatap lekuk wajah Minjoo, menatap wajah teduh gadis itu ketika tertidur.

“Minjoo-ya..” Baekhyun mencoba membangunkan gadis itu walaupun sebenarnya ia tak tega harus membangunkannya dari mimpi indahnya. “Bangun.. kita sudah sampai..”

Minjoo merenguh sedikit lalu menuturkan kata-katanya sambil tetap memejamkan matanya. “Sebentar lagi Baekhyun-ah.. aku sangat mengantuk.” Lalu ia terlelap kembali sambil menghadapkan wajah ke arah Baekhyun.

tak tega untuk membangunkan Minjoo kembali, Baekhyun pun memutuskan untuk keluar dari mobilnya lalu berjalan ke arah bangku Minjoo. Ia membuka pintunya lalu menundukkan tubuhnya, menyamakan tingginya dengan tubuh Minjoo di dalam mobil. Baekhyun menyelipkan kedua tangannya di bawah paha Minjoo dan di bawah punggung Minjoo. Mengangkatnya pelan-pelan lalu menutup pintu mobil dengan kakinya.

“Astaga.. apakah aku sedang mengangkat sebuah kapas?” gumamnya pelan. Ia mengangkat tubuh Minjoo sambil memasuki rumahnya.

Setelah berhasil menaiki tangga dan memasuki kamarnya, Baekhyun dengan segera membaringkan tubuh Minjoo di atas kasurnya dengan perlahan.

Ia meluruskan kaki Minjoo lalu dan membenarkan posisi gadis itu. Lalu ia mendudukan tubuh di tepi ranjang, memerhatikan wajah Minjoo yang sedang tertidur.

Lagi-lagi, Minjoo selalu berhasil membawa Baekhyun pada dunianya. Entah kenapa, hanya dengan memerhatikan lekuk wajah gadis itu, Baekhyun seperti lupa akan apa namanya dunia sekarang. Lihatlah matanya, ia menutup tapi Baekhyun tahu disana ada dua pasang bola mata coklat yang indah. Perhatikan juga hidung gadis itu, membuat Baekhyun ingin sekali lagi menempelkan hidunya disana (lagi). Pipinya yang kemerahan itu pun membuat darah Baekhyun berdesir cukup kencang. Gadis ini terlalu cantik. Sungguh. Tuhan memang benar-benar sangat berada di dalam mood yang baik ketika menciptakan gadis ini.

Baekhyun menjatuhkan pandangannya pada bibir pink yang tipis itu. yang hampir saja ia rasakan bagaimana rasanya. Melihat bibir itu, membuat hati Baekhyun bergemuruh sangat kencang.

Bibir itu terlalu menggoda untuknya.

Terhanyut oleh pikirannya, Baekhyun tiba-tiba sedikit membungkukan tubuhnya, mencoba meraih bibir gadis itu.

Matanya terus menatap wajah gadis itu, bahkan sampai hidung mereka telah saling bertautan kembali pun Baekhyun masih terus merinci wajah Minjoo.

Baekhyun menghentikan gerakannya. Dan lagi-lagi menatap dalam-dalam wajah gadis itu. meneliti setiap inci wajahnya, mengambil kesempatan emas untuk memotret wajah cantik Minjoo dalam otaknya.

Baekhyun tersenyum. “Tak seharusnya aku mencuri ini.” Gumamnya perlahan.

Baekhyun pun memundurkan wajahnya sedikit. Benar, ia tak bisa mencuri kecupan dari seorang gadis yang sedang tertidur. Itu benar-benar tidak boleh.

Pria itu terus menatap Minjoo dengan perasaan yang bergemuruh. Entah sejak kapan ia mulai menolak degupan kencang ini di jantungnya. Baekhyun selalu menikmati degupan kencang itu, yang seharusnya benar-benar tak boleh ia rasakan. Minjoo lah yang membuatnya seperti ini, Minjoo kembali lagi mengacaukan hidup Baekhyun. tepatnya hari pria itu.

Kemudian ia mengangkat tangannya, menyingkirkan beberapa anak rambut yang menghalangi kening gadis itu. Baekhyun juga mengelus rambut Minjoo perlahan, jangan sampai membuat gadis itu terbangun dari tidur cantiknya.

Tak bisa mencuri kecupan di bibir gadis itu, Baekhyun pun menutup matanya dan menyatukan bibirnya dengan kening Minjoo. Memberikan kehangatan untuk Minjoo tanpa dia ketahui.

“Selamat Malam, Minjoo-ya..”

Akhir pekan pun selesai dan semua orang telah di sambut dengan hari-hari yang melelahkan. Seperti Minjoo yang kembali fokus pada kuliahnya dan Baekhyun yang sibuk dengan pekerjaannya kembali.

Seperti hari biasanya, Minjoo selalu sudah berada di rumah sebelum pukul 7 malam dan untuk Baekhyun sendiri ia sudah berada di rumah  setelah pukul 7 malam.

Namun berbeda untuk hari ini, Baekhyun pulang lebih awal dari biasanya. Ia sudah berada di rumah pada pukul 5 sore.

“Baekhyun-ah, kau sudah pulang?” tanya Minjoo yang menghampirinya di pintu utama.

Baekhyun mengangguk menanggapi, “Kau sudah diberitahu Ayah, bukan?” dan di jawab oleh Minjoo oleh sebuah anggukan.

Siang tadi, Ayah mereka menyuruh mereka untuk datang mengunjungi kediaman tuan Byun. Tuan Byun juga menyuruh mereka berdua untuk membawa bekal pakaian yang cukup banyak. Entah untuk apa.

“Kau sudah mempersiapkannya?” tanya Baekhyun.

“Iya, sudah. Yang punyamu juga sudah kecuali…” Minjoo memotong perkataannya dengan sedikit ragu. “..pakaian dalammu..”

Baekhyun terkekeh pelan, sungguh ekspressi gadis ini menggemaskan.

“Gomawo. Aku akan mempersiapkan sisanya.”

Minjoo mengangguk lalu tersenyum kikuk. Setelahnya Baekhyun menaiki tangga berjalan menuju kamarnya.

.

.

.

Baekhyun dan Minjoo telah sampai di kediaman tuan Byun sejak 30 menit yang tadi. Kali ini mereka berdua sedang berada di meja makan kediaman tuan Byun dengan Baekhyun dan Minjoo duduk bersebelahan, tuan Byun berada di kursi paling utama yang tepat berada di sebelah Baekhyun sedangkan nyonya Byun yang berada di hadapan Baekhyun, berada di sebelah kiri tuan Byun.

“Apa kabarmu, Minjoo-ya?” tanya tuan Byun memecah keheningan. Sebenarnya sudah tidak ada keheningan lagi di antara Baekhyun dan Minjoo, hanya saja.. suasana ini terlalu mencekam untuk mereka berdua.

“Baik Ap—“ Minjoo menatap nyonya Byun yang makan dengan tenang. Semenjak kehadirannya disini tadi, nyonya Byun sama sekali tidak menatapnya. Entah sengaja atau tidak. Tapi Minjoo rasa, nyonya Byun memang sengaja melakukan itu. “Baik, tuan Byun.”

Tuan Byun menghela napasnya berat lalu melirik ke arah istrinya. Ia tahu, jika istrinya masih sangat tidak menyukai Han Minjoo sejak pernikahan itu di laksanakan. Sama seperti Baekhyun, menurutnya.

“Baikah.. aku ingin mengatakan sesuatu pada kalian..”

Semua orang yang berada di meja pun menghentikkan kegiatan makan malamnya dan melihat ke arah tuan Byun. Nyonya Byun pun menengadahkan wajahnya dan menatap Minjoo sekilas dengan benci.

“Kalian berdua belum medapatkan bulan madu kalian, bukan?”

Minjoo dan Baekhyun pun tersontak kaget dan menegangkan tubuh mereka.

“Besok kita akan berangkat. Sekeluarga. Menuju pulau Jeju untuk berlibur. Sekalian melaksanakan bulan madu kalian.”

Baekhyun dan Minjoo pun menelan salivanya dengan gusar. Bulan madu? Apakah itu tidak berlebihan untuk mereka? Mereka ini menikah tidak di landasi cinta. Untuk pasangan yang menikah karena cinta, bulan madu mungkin menjadi hal yang wajib bagi mereka. Tapi Bagaimana dengan Baekhyun dan Minjoo, walaupun mereka berdua sama-sama tahu perasaan itu mulai tumbuh, tapi tetap saja?

“Aku.. mempunyai kejutan untukmu, Baekhyun anakku.” Tutur Nyonya Byun tiba-tiba. Membuat semua pasang mata tak terkecuali tuan Byun menatapnya dengan kebingungan. Nyonya Byun tidak pernah memberitahunya tentang kejutan ini, pasalnya.

“Apa, Ibu?” Baekhyun menjawab perkataan Ibunya.

Nyonya Byun pun menyuruh pelayannya untuk membawa kejutan itu.

Seorang gadis dengan dress di atas lutut beberapa centi memasuki ruang makan, membuat Tuan Byun, Baekhyun dan tentunya Minjoo pun sama-sama membulatkan matanya tak percaya. Terlebih tuan Byun yang tak lama dari situ langsung meggebrakan mejanya dengan kesal.

“Yeobo!”

Baekhyun menatap gadis yang baru saja datang itu dengan tatapan yang sulit di artikan. Ia perlahan membangkitkan tubuhnya, berusaha memastikan apakah benar ini gadisnya itu.

“Annyeong.. Oppa” tutur gadis itu dengan senyum yang merekah di wajahnya.

Minjoo melihat ke arah gadis yang berada di hadapan mereka sekarang ini. Gadis yang sama ketika ia lihat beberapa waktu silam. Gadis yang waktu itu beradu mulut dengan Baekhyun di depan kantor dengan Baekhyun yang menangis disana meminta gadis itu kembali padanya. Gadis yang Baekhyun sebut.. kekasihnya.

“Bora…”

—TBC—

HALO GUYYYSSSSSS!!!!!!!

Maaf ya lama banget aku updatenya, kemarin ini aku lagi disibukkan dengan acara buka bersama dimana-mana /so ngeksis elu thor/ hahaha tapi serius, minggu kemarin ada dua acara bukber yang harus aku hadiri jadi nggak sempet aja buat lanjutin ff ini. Mianhamnidaaa…

Oke gimana nih chapter ini? Niatnya sih chapter ini tuh buat di jadiin side story gitu, full of Baekhyun-Minjoo moment gitu. Tapi ya karena itu akhirnya banget, pas sebelum tbc nya banget kaya gitu.. aku memutuskan ini untuk dijadikan chapter selanjutnya aja…. Bete yak kalian akhirnya kek gitu? Selamat kezhal ria ya HAHA /ketawa evil/ ohiya! Itu aku pakein lagu dari Justin Bieber yang U Smile karena kebetulan yang moment pas mereka di gedung teater itu terinspirasi dari mv nya si mas Bieber itu. Jadi I was a belieber. Hard belieber. Terus pas kemaren2 ini aku gabut gak tau harus ngapain dan aku nonton2in mv Bieber yang tersarang di hard disk ku dan bam! Pas nonton mv nya yang U Smile jadi ke inspirasi deh.. ihihihi..

Untuk chapter selanjutnya, tolong kalian siapkan bantal atau apapun buat nahan emosi kalian, karena untuk chapter depan ini konfliknya udah aku mulai-in. udah bakal aku munculin orang ketiganya siapa. Udah ketebak lah ya siapa orang ketiganya tanpa aku harus kasih tau? So congratulation buat kalian yang nebak dengan benar /kedip kedip/

Dan yang nanya “Thor Sehun kapan dateng lagi?” TENAAAANGGG.. dia dateng lagi kok, dia gak cuman jadi pemain bayaran(?) aja disini. dia punya andil yang cukup besar buat kehidupan Minjoo so tunggu aja ya kehadirannya kembali. Mas Sehun ku lagi aku tahan di rumah dulu(?) /kabur/

Ohiya! Buat chapter selanjutnya, sepertinya akan sangat telat. Sepertinya yaaa… karena aku harus mengurusi beberapa hal dulu buat kelanjutan pendidikanku jadi waktu buat nulisnya agak kesita deh.. maafin ya! tapi aku usahain cepet deh, aku berharap ff ini beres sebelum bulan juli.. soalnya kalau belum beres takutnya aku bakal lupa jalan ceritanya dan keburu sibuk sama real life aku…

Aku minta doanya ya guys, kamis ini aku pengumuman kelulusan buat perguruan tinggi nih. Doa kan yang terbaik ya! heheeee..

Udah ah aku banyak bacot, maaf ya kalau chapter ini gak sesuai harapan kalian. Kalo jelek pun maaf..da aku mah apa atuh, cuman author baru /sad/ oke yang mau komentar silakan, yang pengen baca aja tanpa harus komentar juga silakan.. aku gak mempermasalahkan kok!^^

See you again on chapter 8……………….really………………SOON! BYE!

005zS4cnjw1era3ue2os8j315o0rs441

Uri Light!

7a1e2b4djw1etr4iz9zzkj21kw14145c

Please keep this smile for us, B!^^

-Baek’s sooner to be fiancée again-

296 responses to “THE SUN [Chapter 7: U Smile] -by ByeonieB

  1. ih sumpah baca awalnya yaAllah switttt bgtt sih switttt, kenapa sih itu penjaga gak asik bgttttt wkwkwk.
    btw borah ngapain deh borahhh kamu itu merusak saja, ibu byun tolong deh kamu itu buuu sudah tua juga bikin masalah ajaaa!!!! ishhhh kezel

  2. AAaaaaa sebel sebel sebel,, nyonya byun emang ngeselin kenapa harus bawa bora segala kesellllll. Sabar ya jadi minjoo

  3. ITU EMAKNYA BAEKHYUN JAAD BANGET SAOLOHHH, PADAHAL BAEKHYUN SAMA MINJOO UDAH MULAI ADA SWEET SWEET NYA, BORA KENAPA MUNCUL LAGI WOYYY
    ADOOHH BORAA -______-

  4. Seneng banget ngeliat moment Baekhyun-Minjoo disini. Tp agak bete juga pas Ibunya Baekhyun malah ajak Bora ke rumah Byun. Kenapa ada Bora lagi pleaseee u.u

  5. Hahaha…aku malah ketawa bca comenanx…!!!
    Kekekeke emang emaknya cabe bikin KZL…
    Sumpil emaknya cabe mintak dirujak…hahahaha
    Good job kaka author yg telah bkin kisah swit gni :* (kiss for author emuahh hahaha)

  6. lho ih kok ngeselin sih pas scene tbc udah kau seneng mereka mau bulan madu eh malah ada penggangu.
    lagian nyonya kok bisa suka sama bora sih disini. kesel.
    semiga liburan mereka ga berantakan dan baekhyun masih suka sama minjoo
    aku baca next chapternya dulu ya kak

  7. makin penasaran, bkin tegang aja ni critanya
    itu pak satpam nganggu moment aja deh
    laah itu si bora ngpain?? jgn blng dia mau rebut baek dri minjoo
    hikshiks gak rela

  8. Wth mama Byun ngapain ngundang Boora sih -_-
    aaaa mama Byun don’t do this D’X
    Baek n Minjoo kn uda baikan, ngpain jg mlah mantannya diundang” gtu :@
    Minjoo ah yg sabar ne! Baek uda mlai suka sm qm kog, fighting!!!
    Buat authornim, fighting jg !!😀 :*

  9. Ya ampun ny byun…apa2an sih…pdahal baek n minjoo udah adem2….sehun kok lom muncul lgi sih…klo bisa bkin baek cemburu sama kedekatan sehun n minjoo…kkkkkk

  10. Makin ramee eonn… kenapa mamahnya baek nyebelin bgt sih. Jadi org suudzon aja. Malah bawa bora lagi padahal baek sama minjoo udh mulai saling suka. Aahh cerita nya makin makin menarik. Fighting trs eon😄

  11. Ihhh, kesel ama boraaaaaaaaaaaaaa~ ama emaknya baek juga sih-_- aaaaaah, baek ama minjookan udah sweet gitu, nyebelinlah~ next thor! Keren bgt ceritanyaaa!:D

  12. omo!ngapain bora dstu???andwee…><
    kesel bgt dh ma ibunya baekhyun…minjoo,fightinggg…!!jgn smpe baek drebut lg ma bora..

  13. Meleleh….. Ga sabar bulan madu ny mereka
    Nyebelin banget ibu mertua jaman skrg gitu yah.
    Asik lanjut lg ah. Makasih udah buat crita sebagus ini wkwkkwwkkw

  14. tinggal nempel dikit lagi eh keburu penjaga teater nya masuk :”
    Wkwkkwk aku kira bora udah ikhlasin gitu aja, lah malah dia balik lagi-_- eomma nya bekyun ngeselin amat sih elah

  15. Gila. Itu si Bora ngapain. Walaupun gw nge fans bgt sama Bora di dunia nyata tapi disini beda jauh banget deh. Ny.byun lagi kurang aja bgt ya. Eon maaf ya ada yg gak aku comment chap sebelumnya soalnya ada masalah jaringan. Keep writing eon.

  16. Author satu tingkat diatasku namun berada di tahun kelahiran yg sama?, lalu aku harus manggilnya gimana “Kak?” Atau gimana, huhu biar lebih akrab,

    Ff nya bener* bagus dan aku harap tian byun ngajak sehun juga biar imbang

  17. ahhh mereka udah sweet padahal kenapa harus muncul hama sih, well emang ga bakal seru sih kalo gada konflik. semoga nantinya jd bumbu2 cinta yg bisa lebih nguatin cinta baekhyun minjoo (apadeh) hahaa
    baek sopan juga ya, pdhl kalo mau nyium mah cium aja hahhaa
    heuh nyonya byun minta di gerus ini mah

  18. Demiapa saking penasarannya aku baca diangkot brangkat, istirahat skolah dan diangkot pulang sekolah juga😂 dan apa? sepanjang baca senyum2 udah kek orang gila😂😂 ampun ni awal ff cuit bgtㅠㅠ tapi itu penjaganya minta dimutilasi🔥ni ff keren sampe aku nyolong2 waktu trus utk baca.. lanjut next ya 😁 btw aku udh ada bantal so siap bgt buat gebukin bora /lah?😄 love you unni❤

  19. Ih, si penjaga gedung ngga bisa kompakan banget dah… Hahahhaa kan jadinya ngga asyik..
    Itu lagi si bora ngapain pake datang segala..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s