[CHAPTER] DAY DREAM – CONFUSED #5 (APPLYO)

Day-Dream-poster.png

Title: Day Dream – Confused #5 by APPLYO

Author: Applyo (@doublekimj06)

cast:

– Kim Jongin

– Yoon Ji  Hyun

Genre: Romance, Marriage Life, Drama.

Lenght: Multichapter  

Rate:  PG-17

Poster by leesinhyo @ ART Fantasy

TeaserChapter 1 Chapter 2 – Chapter 3 – Chapter 4

Will it show or not? I can’t see inside your heart
Will you be caught or not? You’re getting farther away
I can’t be in love, I can’t love you
I let out a cry, tears fall
[PLAY -> AOA – CONFUSED]

**

 

Jongin menatap sosok Jihyun yang tengah tertidur dan memejamkan matanya rapat. Tampak begitu damai, dan tenang. Setelah beberapa saat yang lalu dokter Shin memeriksanya lalu memberikan beberapa obat penghilang sakit kepala, Dokter Shin bilang itu adalah hal yang wajar dialami seorang wanita yang baru mengandung di usia muda dan gejala itu bisa muncul kapan saja apalagi jika gadis itu terlalu stress.

Mata Jongin tidak lepas menatap wajah Jihyun, seraya bertanya-tanya apa yang Jihyun pikirkan hingga membuatnya stress lagi, apa itu karenanya lagi? Ataukah ada masalah lainnya? Tapi seingat Jongin, beberapa hari belakangan Jihyun selalu menghabiskan waktunya di rumah dan memilih beristrirahat untuk tidur dan baru kemarin siang gadis itu keluar rumah. Apa sesuatu terjadi saat ia keluar rumah?

Jongin melepaskan tatapan matanya dari wajah Jihyun, lalu beralih menatap handphone Jihyun yang mengangur di atas meja, perlahan ia meraihnya tanpa mengeluarkan suara apapun lalu berlalu pergi meninggalkan Jihyun sendiri di kamar.

Pemuda itu menggeser layarnya untuk membuka kunci handphone itu, tak ada notifikasi apapun dan tak ada pesan apapun yang gadis itu terima hari ini, hanya beberapa pesan darinya.

Jongin mendudukan dirinya di sofa ruang tengah dengan mata yang tak lepas dari handphone Jihyun, iseng-iseng pemuda itu membuka gallery foto di handphone Jihyun lalu membuka satu persatu fotonya, sesekali pemuda itu terkikik kecil kala melihat selca narsis sang pemilik.

Jongin tertawa kecil mengingat betapa tingginya harga diri Jihyun, tapi di balik itu semua ternyata gadis itu sama seperti gadis lainnya, memiliki sisi cute walau notabennya Jihyun termasuk orang yang cuek dan tak banyak bicara.

Tangannya kembali menggeser layar handphone itu, dan sebuah selca narsis kembali muncul, tapi kali ini tawa Jongin luntur dan berubah dengan wajah dinginnya, bukan karena foto nya- yang tidak lucu tapi karena orang yang berfoto bersama Jihyun—Hyunjo.

Pemuda itu menatap senyuman di foto Jihyun lalu beralih ke sebelah kanan—Hyunjo. Gadis itu juga tersenyum sangat ceria dan keduanya nampak sangat asyik berfoto narsis.

“Aku membuat hubungan persahabatan kalian hancur, aku minta maaf.” lirih Jongin pelan lalu menyandarkan kepalanya pada sofa dan menatap langit langit apartemennya.

Pandangannya kosong, jauh ke angan-angan membayangkan betapa kecewa nya Hyunjo pada dirinya lalu betapa menyedihkan nya Jihyun jika ia benar-benar pergi begitu saja, keadaan seperti ini membuatnya benar-benar terjepit dalam posisi yang rumit, dan beberapa hari lagi pernikahannya akan di langsungkan bersama Jihyun.

Merasa teringat sesuatu, dengan segera Jongin bangkit dari posisi duduknya dan langsung menghampiri handphone nya yang terbaring di atas meja dekat televisi. Tapi sayangnya, benda itu dalam keadaan mati sekarang, Baterainya habis dan menyebabkan benda itu tak menyala sedikitpun. Buru-buru Jongin berlari kecil ke arah nakas di bawah lemari tv  untuk mengambil charger dan saat benda itu di temukan dengan segera pemuda itu menyambungkannya pada handphone untuk mengisi baterainya.

Sambil menunggu, akhirnya Jongin memutuskan untuk membuka laptopnya dan mengerjakan beberapa tugas kuliahnya yang hampir ia lupakan. Kesibukannya sebagai seorang mahasiswa semakin bertambah karena sekarang dirinya hampir memasuki penghujung smester akhir.

Jam kini menunjukan pukul 12 malam dan Jongin masih menyibukan dirinya dengan beberapa lembar kertas dan layar laptopnya. Pemuda itu benar-benar bekerja keras dan baru kali ini ia bersungguh-sungguh mengerjakan tugasnya, biasanya pria itu tak peduli pada tugasnya dan memberikan lembaran-lembaran kertas itu pada Kyungsoo dan menyuruh pemuda bermata bulat itu untuk mengerjakannya.

Jongin menatap jam di layar laptopnya yang menunjukan hampir larut malam lalu ia memutuskan untuk pergi tidur karena matanya mulai benar-benar mengantuk dan lelah, dengan cepat ia membereskan barang barangnya lalu menyimpan dokumen dokumen tugasnya kedalam tas.

Perlahan Jongin melangkahkan kakinya menuju kamar tapi ia merasa, ia melupakan sesuatu lalu memilih kembali ke arah sofa dan menatap benda-benda di sekitarnya, mengingat-nginat kembali apa yang ia lupakan.

Perasaan lega menghampiri Jongin kala matanya menatap meja di sebelah televisi, menatap ponselnya yang sudah terisi penuh. Tanpa membuang waktu pemuda Kim itu dengan segera menyambar ponselnya lalu menekan tombol sebelah kanan untuk mengaktifkan ponselnya.

Setelah handphonenya menyala banyak pesan masuk menghampiri handphonenya dan dengan sigap Jongin membuka satu persatu pesan itu dan ia teringat pada pesan Hyunjo tadi sore, pesan yang belum sempat ia baca. Jongin menscrool layar handphone nya hingga ia menemukan nama Hyunjo.

From: Hyun-Jo

‘Jongin bisakah kau menjemputku? Disini hujan deras dan tak ada bus untukku pulang. Aku kedinginan menunggu disini seorang diri, aku akan menunggumu disini. Di halte bus di sebrang coffee trop.’ ——- 16:35.

‘Kau sibuk ya?’ ——— 17:30.

Ishh! Aku baru membacanya.” gerutu Jongin lalu menepuk dahinya sendiri, merasa benar-benar bodoh karena melupakan pesan itu.

Tak ingin berpikir lebih lama dengan segera Jongin menekan tombol ‘dial’ di handphone nya lalu menunggu hingga telpon nya tersambung tapi nampaknya Hyunjo sudah tertidur karena panggilannya tak kunjung terjawab.

“Mungkin dia sudah tidur.”

**

BRAK!!

Hyunjo menutup pintu apartementnya sangat keras lalu melepas mantelnya yang basah dan menaruh benda itu di lantai begitu saja, gadis itu menyeret kakinya menuju kamar lalu membaringkan tubuhnya ke tempat tidur, tak peduli jika tubuhnya kini mengigil kedinginan.

Hyunjo menatap langit-langit kamarnya yang gelap tanpa sinar lampu, gadis itu lebih memilih menyembunyikan dirinya dalam gelapnya kamar, ia tersenyum samar lalu kembali membayangkan kejadian tadi, kejadian saat tiba tiba Jongin datang menghampiri Jihyun lalu melampirkan mantelnya yang hangat pada pundak Jihyun dan menghadiahi gadis itu dengan senyuman tentunya.

Hati Hyunjo seakan teriris-iris melihat pemandangan itu, dan yang membuat dirinya tak habis pikir adalah mengapa bisa Jihyun dan Jongin sedekat itu? Berbagi satu payung yang sama dalam pelukan Jongin dan seakan tak ada perasaan bersalah dalam wajah Jihyun, itulah yang Hyunjo pikirkan saat ini.

Hyunjo terdiam selama beberapa detik sebelum akhirnya ia melihat sebuah panggilan masuk ke handphonenya.

Mr. Kim’

Setelah tahu siapa yang menelponnya dengan segera Hyunjo melempar benda itu ke sembarang arah lalu menyembunyikan kepalanya di bawah bantal.

“Aku benci padamu, Jongin”

**

Chanyeol dan Luhan kini sibuk menyantap sushi yang mereka makan, kedua pemuda tampan itu menghabiskan waktu makan siangnya bersama seperti biasa dan nampaknya agenda makan siang kali harus tergangu karena banyak nya gadis yang memperhatikan mereka makan bahkan beberapa diantara mereka menggunakan ponselnya untuk memotret keduanya-mengabadikan momen makan siang kedua pemuda itu.

Entah sejak kapan Luhan dan Chanyeol menjadi artis dadakan di kampusnya tapi mereka yakin kepopuleran mereka muncul bahkan sejak mereka masih duduk di bangku sekolah menengah dan sekarang penggemar mereka semakin banyak dan tersebar dari berbagai kelas dan jurusan.

Bukannya risih atau tergangu dengan yang gadis-gadis itu lakukan, Chanyeol malah dengan senang hati tersenyum lalu melambaikan tangannya pada beberapa gadis, pemuda bertubuh tinggi itu terlalu baik pada setiap wanita dan tak ada alasan wanita tak menyukainya, dia tampan, baik, tinggi perhatian pula.

“Lu, kau mau berkunjung ke cafe Kyungsoo untuk makan takoyaki buatan pria kecil itu?” tanya Chanyeol dengan nada yang terdengar sangat gembira.

Luhan hanya menganguk “Kenapa tidak. Ayo!”.

Kedua pria tampan dan populer itu bergegas pergi meninggalkan beberapa sushi yang belum seutuhnya habis.

Kyungsoo baru saja keluar dari dapur dan secara tiba-tiba ia di kejutkan dengan kedatangan Luhan dan Chanyeol di depan cafe nya. Kedua pemuda itu hanya tersenyum lalu melambai sangat gembira ke arah Kyungsoo.

“Jangan katakan kau ingin balas dendam tuan dobi-dobi.” celetuk Kyungsoo saat dirinya tiba tepat di hadapan kedua pria itu.

Chanyeol hanya tersenyum sangat lebar lalu memeluk tangan Kyungsoo yang jelas lebih pendek darinya. “Ku dengar kau belajar membuat takoyaki? Bisakah kita makan siang dengan itu?” ujar Chanyeol santai lalu mengedipkan sebelah matanya— terlihat genit.

Kyungsoo dan Luhan hanya menatap Chanyeol ragu lalu dengan cepat Kyungsoo menyingkirkan tangan Chanyeol yang memeluk tangannya, “Kau mulai gila nampaknya.”

Luhan tertawa melihat perdebatan kecil antara si pendek dan si tinggi, tak lama berselang tawa Luhan tiba-tiba memudar setelah melihat sosok lain dari arah pintu. Sontak Kyungsoo dan Chanyeol mengikuti arah pandang Luhan ke pintu.

“Jongin! Tumben kau datang.” ujar Kyungsoo cukup hangat menyapa teman dekatnya itu, yang belakangan sering menghilang entah kemana.

Ke tiga pria itu menatap sosok Jongin agak heran dan takjub mungkin karena perubahan penampilan yang pria itu lakukan sekarang— Rambut berwarna pink kecoklatan dengan gaya cassanova yang sangat kental.

 

“2 hari tak bertemu membuat kau nampak berbeda.” ujar Luhan sedikit dingin di iringi senyuman yang sedikit di paksakan.

“Baru hari ini aku merubah style rambut, kalian terlalu berlebihan menatapku seperti itu.” ujar Jongin di iringi tawa kecilnya.

Tak berpikir lama Kyungsoo dengan segera menyuruh semua teman-teman nya untuk duduk di dalam ruangannya karena nampaknya beberapa pelanggan terlihat memperhatikan ke empat pria itu sejak tadi dan pria bermata bulat itu tak ingin jika pelanggannya tergangu karena kedatangan teman teman nya yang terlihat memang menggangu.

Ini sudah kedua kalinya Luhan kalah dalam permainan yang Kyungsoo buat, sebuah permainan sederhana tentang true or dare. Mungkin semua orang sering memainkannya dan nampaknya kegiatan  ini cukup seru di lakukan di acara makan siang bersama teman-temanya itu.

Truth.” untuk kali ini Luhan lebih memilih kata truth yang mengartikan bahwa dirinya harus jujur mengungkapkan sesuatu setelah sebelumnya ia memilih dare dan mengharuskan dirinya makan makanan pedas yang Kyungsoo sajikan, pria keturunan china itu bersumpah tidak menyukai makanan pedas khas korea.

“Bagaimana hubunganmu dengan sena?” tanpa menunggu lama dengan segera Jongin mengapit kesempatan itu untuk membubuhi Luhan dengan pertanyaan yang membuat hubungannya dengan Luhan menjadi sangat dingin beberapa waktu terakhir.

Chanyeol dan Kyungsoo yang melihat hanya menganguk dan mereka juga ikut penasaran dengan hubungan Luhan karena beberapa minggu ini Luhan selalu datang sendirian ke bar. Biasanya pria itu selalu datang dengan Sena—kekasihnya.

“Kami putus. Sena memutuskanku dan ia pergi ke LA untuk satu tahun ini.” jawab Luhan dingin lalu menatap satu persatu mata temannya yang terlihat syok tapi tidak dengan Jongin. Pria itu hanya diam menunduk.

“Kenapa kalian putus?” tanya Kyungsoo kelewat penasaran dan disambut baik oleh Luhan.

“Dari awal aku dan Sena memang tidak cocok—bukankah begitu Jongin?” ujar Luhan diiringi senyuman dan penekanan di akhir kalimatnya lalu menatap tajam Jongin yang duduk di hadapannya.

“Kenapa kau bertanya padaku Lu, harusnya kau lebih tau tentang hubunganmu dengan Sena.” ujar Jongin tanpa tawa ataupun senyuman, dan lagi pria itu hanya memilih menunduk di banding menatap Luhan yang bertanya padanya.

“Em, kau benar.” jawab Luhan lalu tersenyum.

“Suasana selalu berubah jika kalian selalu membicarakan tentang Sena”  ujar Chanyeol lalu mengambil botol yang di pegang Luhan dan kembali memutarnya lagi. Pria bertubuh tinggi itu malas jika setiap saat Luhan dan Jongin bersikap dingin hanya karena satu perkara.

**

Kini Jihyun yakin bahwa dirinya benar-benar sedang hamil di usia muda, gadis itu mengelus perutnya yang masih datar dan merasakan bahwa ada nyawa lain yang selalu ia bawa kemana-mana, perlahan seulas senyuman kembali tergambar di wajahnya hingga ia tak sadar seseorang memanggil namanya berulang kali.

“Nona Yoon Jihyun, Nona Yoon..” ucap seorang wanita dengan perawakan tinggi dan kaca mata berbingkai persegi yang membuat wanita itu nampak ellegan.

“Ya, aku disini.” ujar Jihyun lalu merapihkan pakaiannya dan berjalan maju ke arah sumber suara di depannya.

“Anda yakin bisa membawa gaun ini sendirian? Apa tidak sebaiknya di antarkan saja?” tawar wanita itu lalu tersenyum dan menyerahkan sebuah kotak berukuran cukup besar pada Jihyun.

“Terimakasih, tapi aku bisa membawanya.” balas Jihyun singkat lalu berlalu pergi dari hadapan wanita itu dan membawa kotak berisi gaun pernikahannya.Wanita yang biasa disapa Nona Lee itu hanya menganguk lalu mempersilahkan Jihyun untuk keluar, ia terlihat sangat ramah sebagai seorang manajer di butik itu.

Jihyun bukanlah orang yang suka merepotkan oranglain dengan bersusah payah menolongnya hanya karena kotak ukuran 20x40cm itu, walaupun kini pandangannya tertutup benda itu seutuhnya—ia terlalu gengsi.

Baru tiga langkah ia berjalan keluar dari butik itu, tiba tiba seorang pemuda muncul dari ujung jalan dan menubruknya secara cuma-cuma membiarkan kotak berisi gaun nya jatuh begitu saja.

“Maaf..” ucap pemuda itu spontan lalu dengan segera memungut kotak besar itu dan terpaku beberapa saat, menatap isi kotak itu. entahlah—apa pemuda itu terkejut dengan isinya atau tak pernah melihat sebuah gaun pernikahan, yang jelas Jihyun heran melihatnya.

“Ehm!”

“—ah maaf aku tak sengaja menubrukmu.” ucap pemuda itu mendongkakan kepala lalu menatap Jihyun.

Lagi, wajah pemuda itu berubah terkejut ketika melihat wajah Jihyun.

“Kau?—“

Luhan baru saja keluar dari sebuah toko buku di daerah Gangnam. Pria itu membulak balik sampul buku yang ia pegang, membuka lembar demi lembarnya—, buku berjudul ‘The Goddes of Love’ dengan sampul berwarna kuning lusuh itu nampak menarik untuk Luhan baca sepanjang jalan, oh ya katakanlah Luhan bukan orang yang suka membaca seperti ini, tapi nampaknya pria itu benar benar penasaran dengan isi buku yang baru ia beli itu.

Tak peduli dengan jalanan, Luhan terus melangkahkan kakinya dengan kedua tangan mencengkram isi buku itu, ia membuka lembaran- lembaran berikutnya, membaca dengan teliti setiap kata-kata yang berderet disana dan sebuah kutipan dalam buku itu membuatnya tersenyum amat manis.

‘Kala kau tersenyum oleh seseorang itu artinya kau jatuh cinta, benar atau tidak kau cari tahu jawabannya..’

‘Saat matamu menatap senja, katakanlah itu lembaran terakhir untuk kisahmu’

Lagi, jelas-jelas ini bukan gaya Luhan membaca kutipan bernuasa romantis di pinggir jalan, nampaknya pria itu benar benar terkena sindrom aneh setelah makan takoyaki buatan Kyungsoo tadi siang dan sialnya ia semakin penasaran untuk membuka lembaran selanjutnya saat ini.

Luhan bukanlah pria yang gemar membaca sebuah novel tapi berkat dosen bahasa dan sastra korea, mau tak mau ia mengharuskan dirinya menyukai sebuah novel berkisah cinta— ini demi tugas, tentu saja.

Novel karangan Barbara cartland itu sukses membulak-balikan fakta bahwa Luhan benci karya fiksi, dan kini pria itu asyik membaca novel romantisnya di jalanan, hingga ia tak sadar telah menubruk seseorang dan membuat orang yang di tubruknya menjatuhkan benda yang ia pegang ke bawah.

“Maaf..” ujar Luhan spontan lalu mengabaikan novelnya dan dengan segera memungut sebuah kotak besar yang di jatuhkan oleh orang yang di tubruknya.

Luhan terpaku sesaat, melihat isi kotak itu. Sebuah Gaun pengantin berwarna putih, terlihat sederhana tetapi berkilau.

“Ehm!”

“—ah maaf aku tak sengaja menubrukmu.” ucap Luhan mendongkakan kepalanya untuk melihat orang yang ditubruknya.

Dan detik itu juga Luhan merasa bahwa ia bermimpi, bertemu dengan gadis yang tak sengaja ia temui di bar tempo hari. Gadis yang membuatnya kagum. “Kau— Yoon Jihyun?” ujar Luhan dengan senyuman yang sangat indah.

“Apa? Kenapa kau tau namaku? Hey—” ucap gadis itu sedikit terkejut lalu kembali menatap Luhan dengan pandangan menerka-nerka. “Tunggu, Tunggu—apa namamu Luhan? Kau tinggal di Cheondamdong 71?”

Luhan hampir saja kembali menjatuhkan kotak milik Jihyun karena terlalu terkejut, seingatnya ia tak pernah mengenalkan dirinya sendiri pada Jihyun waktu itu bahkan memberitahu Jihyun tentang alamat rumahnya sendiri.

Luhan mengerutkan dahinya lalu menatap Jihyun penasaran “Hey—darimana kau tau?”

.

At Droptop.

Disinilah mereka, Luhan dan Jihyun. Seseorang yang tanpa sengaja bertemu dan berakhir mengobrol hangat tentang bagaimana keduanya bisa saling tahu nama masing-masing.

Luhan menjelaskan tentang bagaimana ia tahu nama Jihyun, tentang pujiannya pada Jihyun di bar waktu itu lalu kejadian saat ia akan mengantarnya pulang tapi sayangnya di gagalkan oleh seseorang (Chapter 3) dan sebaliknya Jihyun menjelaskan kenapa ia tahu nama Luhan dan alamat rumah pria itu. (Chapter 1)

Keduanya asyik membicarakan pertemuan mengejutkan itu, walaupun Jihyun tak terlalu mengenal sosok Luhan tapi Jihyun yakin Luhan adalah orang yang baik. Di lihat dari cara berbicaranya yang sangat ramah dan lembut sangat berbanding terbalik dengan Jongin yang selalu berbicara padanya dengan intonasi yang sangat dingin dan kasar.

Sesaat tatapan Luhan tertuju pada kotak besar berisi gaun yang Jihyun bawa, lalu dengan ragu pemuda itu bertanya “Kau akan menikah yah?”

“Emm—besok.” Jawab Jihyun enteng.

Sesaat Jihyun merasakan tatapan kecewa dari raut muka Luhan saat tau ia akan menikah tapi detik itu juga, pemuda itu dengan segera menutupi kekecewaannya dengan sebuah senyuman walau Jihyun tak tau untuk alasan apa Luhan terlihat kecewa mendengarnya akan menikah.

“Selamat ya, kuharap kau bahagia.” Ujar Luhan masih dengan senyumannya.

Jihyun menyesap coffee americano kesukaannya itu sedikit lalu tersenyum miris, “Ya—tapi ini hanya sebuah status.” ujarnya lalu meletakan cangkir berisi coffee nya di atas meja.

“Status?” ulang Luhan bingung.

Em begini, aku tidak mencintai pria itu— tapi nyatanya kami harus hidup bersama karena suatu alasan dan pernikahan ini hanya sebagai penunjang untuk menutupi alasan itu. Jadi percuma saja kami menikah karena pada kenyataannya kami punya jalan hidup masing-masing.” ujar Jihyun dengan tatapan mirisnya.

Entah sejak kapan Jihyun suka menceritakan kehidupan pribadinya pada orang yang baru ia kenal tapi saat melihat Luhan, gadis itu merasa bahwa Luhan adalah orang yang memang bisa ia percaya walaupun begitu toh Luhan tak akan tau dengan siapa ia akan menikah atau karena alasan apa ia menikah, jadi intinya tetap sama saja.

“Aku yakin pernikahan ini membuatmu sangat tertekan hingga kau mabuk seperti waktu itu.” tebak Luhan.

“Mungkin ya.” Balas Jihyun.

Luhan mengehentikan mobil Audi kesayangannya tepat di depan sebuah minimarket di daerah Apgujeong, pria itu menatap sekeliling lalu memastikan apa alamat rumah Jihyun memang disini, apa Jihyun tinggal di sebuah minimarket?

Tapi dilihat dari penampilan Jihyun yang bisa di bilang cukup mewah dengan label pakaian dan tas liminted edition yang Luhan yakini bahwa Jihyun bukanlah orang biasa-biasa yang dengan mudah mengkoleksi barang-barang mahal seperti itu dan tinggal di sebuah minimarket.

“Kau yakin disini?” tanya Luhan memastikan.

Jihyun sibuk menggunakan jaketnya lalu menganguk dan tersenyum melihat ekspresi Luhan yang terlihat kebingungan. “Aku tinggal di Apartemen tak jauh dari sini. Tak usah terkejut seperti itu” ujar Jihyun lalu membawa kotak gaun nya di jok belakang mobil Luhan. “Terima kasih tumpangannya.”

Luhan hanya tertawa pelan lalu melambaikan tangannya “Bye, semoga pernikahanmu berjalan sukses besok.”

“Ya.” balas Jihyun lalu turun dari mobil Luhan.

Jongin kembali menatap plastik berisi makanan dan beberapa bungkus kimci kemasan kesukaan Jihyun, pria itu menyunggingkan senyumnya kala ia teringat bahwa gadis itu sangat suka Kimchi kemasan dan Jongin berharap usahanya mampir ke minimarket bukannlah tujuan yang salah.

Jongin mengeluarkan sebuah kartu kredit dari dompetnya lalu memberikan benda itu pada kasir untuk membayarnya.

“Terimakasih.” ujarnya pelan lalu berjalan ke arah pintu keluar minimarket.

Tapi barusaja ia hendak keluar dari minimarket sebuah mobil Audi berhenti di depannya lalu menurunkan sosok Jihyun darisana, gadis itu tersenyum pada pengemudi audi tersebut lalu melambaikan sebelah tangannya dan satunya lagi memegang sebuah kotak besar.

Semakin penasaran dengan siapa Jihyun pulang, Jongin melangkahkan kakinya mendekat tapi dengan cepat mobil audi itu pergi melesat kembali bersatu dengan jalanan yang ramai sebelum Jongin benar-benar melihat sosok si pengemudi tapi yang jelas dia seorang pria.

Tapi siapa? Pacar barunya kah?

Mengabaikan tebakannya dengan segera Jongin mengejar sosok Jihyun yang sudah berjalan lebih dulu, lalu memotong jalan Jihyun membuat gadis itu terlonjat kaget dengan kemunculan Jongin yang tiba-tiba.

“Siapa yang mengantarmu barusan?” tanya Jongin dingin tapi terlihat penasaran.

Jihyun menghembuskan napasnya kasar lalu menatap Jongin yang lebih tinggi darinya “Apa aku harus memberitahumu?” dengusnya terlihat kesal lalu menubruk tubuh Jongin  dan kembali berjalan ke arah appartemen.

Dan Jongin? Hanya memaku terdiam. Ia tidak terima? Tentusaja.

**

Wedding Day’s.

Jongin menatap lekat-lekat tempat yang di hiasi cat putih dan bunga mawar putih yang menghiasi setiap sudut tempat itu, mengedarkan pandangannya pada orang-orang yang jelas ia tidak ketahui sama sekali.

Ya—sebuah gedung pernikahan kecil yang hanya di hadiri beberapa kerabat dan sisanya hanya tamu bayaran yang segaja Jongin sewa sebagai pendamping pengganti keluarga Jihyun, awalnya Jongin berpikir kalau Jihyun mungkin akan mengundang keluarga jauhnya atau salah satu temannya tapi kenyataannya gadis itu tak mengundang siapapun dan lebih memilih menyembunyikan kartu undangannya di bawah tempat tidur.

Suasana hari minggu yang cerah terasa semakin menyilau kala ujung pintu gedung itu terbuka dan menampakan sosok seorang gadis dengan gaun putih panjangnya memegang sebuket mawar dengan warna serupa.

Gadis itu berjalan didampingi seorang pria paruh baya yang Jongin sewa sebagai ayah mertua palsunya, sungguh pernikahan ini seperti bukan hal yang penting karena ayah Jongin pun tak datang ke acara tersebut.

Jongin hanya mampu berpura-pura tersenyum dengan semua yang ia lalui, menikahi seorang gadis yang memang ia tak cintai hanya karena alasan janin yang di kandung oleh gadis itu, sungguh—bukan hal mudah mempercayai takdir dimana sebentarlagi ia akan menjadi seorang calon ayah dan suami dari teman kekasihnya sendiri.

 

‘Aku bodoh Hyunjo— harusnya kau pergi menjauh sejak dulu dan tak mempercayakan hatimu pada pria idiot sepertiku yang kini bersanding dengan temanmu sendiri di altar, memasangkan sebuah cincin dan berjanji untuk sehidup semati dengannya.

Aku hanya mampu tersenyum dan menangis menatap takdir yang membuatku mengucapkan sumpah suci ‘Aku akan mencintaimu bahkan disaat apapun’ pada gadis yang belum tentu aku cintai seumur hidupku,

Dan saat gadis itu berkata “Aku juga”. Hatiku menjerit berusaha menolak tapi kenyataanya tubuhku berkata lain dan tersenyum padanya. Hyunjo maapkan aku’

daydream-03

**

Malam semakin larut, Jam di layar laptop Hyunjo kini menujukkan pukul sembilan lewat lima belas menit. Jam kantornya bahkan sudah berakhir sejak empat jam yang lalu tapi kenyataanya Hyunjo masih asyik duduk di depan layar laptopnya, tidak berniat pulang apalagi beranjak dari tempat duduknya.

Sesaat Hyunjo menatap nuansa ruangannya yang berwarna putih lalu menatap beberapa lukisan yang terpajang di ruangannya dan tangannya terulur menarik laci ke empat di mejanya dan mengambil sebuah kotak kecil dengan hiasan pita lucu di atasnya.

Perlahan tangannya membuka satu persatu isi dari kotak itu, hingga pencariannya terhenti pada sebuah polaroid dan name tag seseorang yang selalu ia simpan baik-baik dalam kotak rahasianya.

“Y-o-o-n       J-i-h-y-u-n”

Hyunjo menatap polaroid dan name tag itu bergantian dan detik berikutnya yang gadis itu lakukan adalah melempar pollaroid dan nametag itu ke tempat sampah dan ia menyungginkan sebuah senyuman miring dari bibirnya.

“Kau yang memulainya.” Ujar Hyunjo pelan lalu meraih ponselnya dan menekan beberapa digit nomor disana untuk melakukan panggilan.

Gadis Kim itu tersenyum sinis kala panggilan nya tersambung dan terdengar suara wanita yang menjawabnya—“Hallo Yuri, kau tau nomor ponsel Yoon Jihyun yang baru?”

“—“

Emm tidak tahu ya—kalau dia menghubungimu tolong beritahu aku ya.” Ujar Hyunjo pelan lalu mengakhiri panggilannya dan melempar benda persegi panjang itu asal.

“Kau bahkan mau merebut Jongin, begitu? Inikah caramu setelah putus dengan Junmyeon? Berusaha merebut kekasih temanmu yang lebih kaya—dasar pecundang.” Ujar Hyunjo dengan senyum sinisnya lalu meremas tangannya sendiri, meluapkan emosinya pada diri sendiri.

**

‘Tidak selamanya hidup dengan seorang pria lebih baik, bahkan disaat kau sedang hamil sekalipun’

Dan asumsi itu kini tengah menjadi canduan hangat di bibir Jihyun, setiap saat dimana ia berusaha untuk sendiri memfokuskan dirinya pada suatu aktifitas Jongin selalu datang mengajaknya mendebatkan sesuatu atau bertanya hal tak penting bagi Jihyun seperti nama anak mereka nanti ataukah panggilan anaknya padanya dan lainya yang jelas itu tak penting untuk di pertanyakan apalagi di debatkan.

“Jihyun, kau belum mau tidur? Biasanya jam segini kau sudah tidur.” Ujar Jongin dari arah dapur membawa segelas susu yang dengan segera ia sodorkan pada Jihyun dan gadis itu hanya mengambilnya lalu meminum susu itu.

Kali ini hati Jihyun seakan meleleh begitu saja, seorang pria seperti Kim Jongin membuatkannya sebuah susu hangat dimalam hari? Bukankah itu hal yang aneh? Karena sifat Jongin yang bisa di bilang dingin dan kasar tapi terkadang pria itu berubah menjadi sosok yang hangat dan peduli padanya.

“Cepat tidur, sebelum aku tiduri kau.” ujar Jongin menyeringai dan terlihat seperti sebuah ancaman dimata Jihyun.

“Lakukan jika kau berani.” elak Jihyun tak peduli lalu meletakan gelasnya di meja dan segera beranjak dari sofa untuk pergi ke kamar.

Tapi tiba-tiba Jongin menarik tangan Jihyun, membuat tubuhnya berbalik dan jatuh tepat di pangkuan Jongin. “Aku berani, kenapa tidak.” Bisik Jongin pelan lalu dengan segera menyerang gadis itu dengan melumat bibirnya ganas. Ia menyudutkannya ke ujung sofa membuat tubuh Jihyun kini bersandar pada sofa, mengunci sang gadis diantara dirinya dengan sofa berwarna merah menyala itu.

 

Sebelah tangan Jongin memegang tengkuk Jihyun untuk memperdalam ciumannya dan satunya lagi ia gunakan untuk menahan tangan Jihyun yang terus bergerak memukul dadanya, entah Jihyun menolak atau ia menyukainya tapi pada akhirnya gadis itu membuka mulutnya dan melumat bibir Jongin bergantian. Keduanya berciuman sangat panas, bahkan kini tangan Jongin beralih menelusup kedalam kaos yang Jihyun gunakan, mengelus perut datar Jihyun membuat sensasi tersendiri terhadap tubuh Jihyun.

Namun kegiatan malam hari itu tiba-tiba terhenti saat sebuah suara membuat perhatiannya keduanya teralih menatap ke arah pintu dan dengan segera Jihyun mendorong tubuh Jongin menjauh dan merapihkan kaosnya yang hampir terbuka, lalu menatap Jongin dengan tatapan tajam.

Bell pintu rumah itu terus berbunyi.

“Buka pintunya.” ujar Jihyun pelan membuat Jongin bangun dari tempatnya dan menghampiri pintu, pria itu mengkerutkan keningnya melihat jam yang tengah menunjukan tengah malam.

“Siapa tamu malam malam begini.” desis pemuda itu lalu dengan segera membuka pintu apartemennya.

“Selamat malam.” desis seseorang ketika pintu itu terbuka.

Jongin hanya mampu membulatkan matanya lebar-lebar, dan tangannya tiba-tiba bergetar gugup lalu menatap sosok itu tak percaya sekaligus terkejut luar biasa.

“Hyunjo. Ada apa kau kesini malam-malam.”

..

to be continue..

Annyeonghaseyo^^ Lyo comeback di bulan July 😀

Duh maapkan Lyo ya kalo ff ini harus di pubis di bulan suci ramadan yang indah ini T^T Lyo minta maaf loh yang sebesar-besarnya😦 apa daya Lyo udah janji kan bakal ngeshare ff ini gak lebih dari sebulan😀

..

Guys makasih buat yang udah koment + like di chapter-chapter sebelumnya😀 Lyo sampe haru baca komenan nya haha😀

Sekali lagi maafkan Lyo ya kan sebentar lagi hari raya idul fitri ^^) see you next chap epribadih ^^J

218 responses to “[CHAPTER] DAY DREAM – CONFUSED #5 (APPLYO)

  1. Mendingan ceritain yg sbnr y…jd g salah paham…
    Ehhehhehh ko jongin berani nyium jihyun..udh mulai suka yach…

  2. Pingback: [CHAPTER] DAY DREAM- BECAUSE I MISS YOU TODAY #12 (APPLYO) | SAY KOREAN FANFICTION·

  3. Iyaaa mendingan jujur aja ke hyunjo nyaaa….kan kasihan jihyun dibenci sma sahabat sndiri

  4. Kasian jihyun jdi di benci hyunjo. Pdhl ini sama sekali bukan salah jihyun. Knapa jongin gak jujur aja. Toh kn udah nikah juga.
    Jgn smpe hyunjo keburu berubah jdi valak -,-
    Bisa bisa di bnuh entr jihyun..
    Kasian kasian ya allah

  5. waduh hyunjo dateng disaat yang ngga tepat, tapi kasihan juga hyunjo serasa di php sama jongin, apa yang bakal di lakuin hyunjo ntar yaa

  6. Wooww. Hyunjo dtg dwkt yg nggk tepat. Gmn reaksiny kl tau Jihyun tinggal sm Jongin-,- eiyyyy, mereka mau mlm prtama ya? Enggk deng, mlm kedua, tp gagal wkw

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s