[ONESHOOT] Beautiful

BEAUTIFUL

Tittle : Beautiful

Nama Author : Minwuu

Main Cast : Kwon Yuri, Kim Jongin

Genre : Romance, Fluff, Horor

Rating : PG 16

Length : Oneshoot

Summary : Sebuah dunia sempit mengenahi seorang vampire modern yang sedang pubertasi.

Let’s Begin!

.

.

.

“Setiap tiga tahun sekali akan terjadi sebuah titik pertemuan antara matahari, bumi dan bulan. Hanya berlalu kurang lebih selama 15 sampai 30 menit. Disanalah para vampire bertemu untuk memberikan sesembahan agar mereka semakin kuat dan hidup abadi selamanya. Sebuah upacara sacral yang dilakukan para keturunan pemburu darah diseluruh dunia.

 

Bukan sembarang manusia yang dapat mereka jadikan sesembahan. Hanya mereka yang memiliki jiwa bersih dan bersinar. Hanya mereka yang memiliki darah termanis. Dan hanya mereka yang dapat membuat keturunan vampire dapat tetap hidup hingga akhir jaman.”

Artikel seperti itu tengah menjadi perbincangan hangat masyatakat Seoul akhir akhir ini. Ditemukannya pegawai donor darah yang meninggal secara misterius membuat kabar mengenahi vampire merajalela. Ditambah lagi stock seluruh darah hilang begitu saja.

“Artikel macam apa ini?!” Dengan memanyunkan bibirnya Yuri, yeoja berusia 18 tahun itu segera menutup ponselnya. Ia adalah seorang vampire. Ya, ia adalah seorang vampire modern di jaman sekarang.

Vampir sekarang sudah jauh berbeda dengan vampire pada jaman dahulu. Walaupun mereka tetap identik dengan meminum darah, namun itu hanya dilakukan beberapa kali dalam satu minggu. Mereka dapat memakan makanan apapun, pizza, ramen,tteobokie, hotdog, caramel, apapun itu asalkan mereka tidak kekurangan asupan darah manusia dalam tubuh mereka. Karena meskipun begitu, tubuh vampire hanya dapat menyerap gizi dari darah manusia. Bahkan mereka dapat hidup selayaknya manusia. Sekolah, bekerja, dan berkeluarga di kalangan masyarakat.

Matahari? Mereka tidak akan menjadi vampire bakar walaupun terpapar sinar matahari secara terus menerus. Sejak mereka lahir, telah disuntikkan imunitas untuk tahan dengan cahaya matahari. Hanya saja mengkin mata mereka akan berubah menjadi merah ketika menatap matahari secara langsung tanpa menggunakan kacamata atau pelinggung lainnya. Dan itu akan mengakibatkan demam untuk beberapa hari.

Walaupun mereka meminum darah manusia, tapi bukan berarti mereka membunuh manusia. Mereka hanya meminum darah yang dikirimkan oleh pusat. Akan tetapi kejadian pencurian stock donor darah itu bisa saja terjadi karena vampire yang jahat dan kelaparan. Jika manusia ada yang jahat dan tidak, begitu pula dengan vampire.

Dikehidupan yang menuntut mereka untuk hidup damai berdampingan dengan manusia, mengharuskan mereka menahan nafsu untuk memangsa para manusia. Biasanya keinginan itu hanya tertuju untuk manusia yang memiliki darah manis. Dan tidak semua manusia berdarah manis. Dan mereka harus mati-matian menjaga status mereka sebagai seorang vampire.

“ Kenapa mereka harus makan darah? Bukankah itu menjijikan?” celoteh Taeyon yang baru saja membaca artikel hangat disebuah website. Ia teman akrab Yuri sejak 5 bulan yang lalu kepindahana Yuri disekolah baru.

“Iuh.. aku juga tidak mengerti. Mungkin mereka pikir memakan darah seperti memakan hotdog?” Jawab Yuri seadanya sambil menatap sebuah hotdog ditangannya. Ia harus menutupi jati dirinya, walaupun itu artinya melecehkan speciesnya sendiri.

“Tidakkah kau curiga jika ada vampire yang menjelma di sekolah kita?”

“Benarkah seperti itu? Apa kau vampire ? Ah.. kurasa aku vampirenya, sini kumakan darahmu! Hahaha, dasar bodoh.” Taeyon hampir saja terjatuh karena Yuri yang mendadak mendekati lehernya.

Kericuhan dikelas segera berhenti ketika Jonghyun seongsanim memasuki kelas jam pertama. Murid murid berhamburan menuju bangku mereka masing-masing. Guru muda dengan kedisiplinan yang ketat, ia masuk tepat pukul 7.00. Selain mengajar maple matematika, ia juga wali kelas yang bertanggung jawab atas kelas 2-1.

“ Selamat pagi anak-anak. Hari ini, ah- maksudku kita akan kedatangan siswa pindahan baru dari Busan. Kurasa seharusnya dia ikut bersamaku saat ini, tapi kemana anak itu pergi? Mungkin dia belum siap bertemu teman teman baru. Jadi mohon bantuannya untuk besok ia akan mulai masuk ke kelas.”

Kericuhan kembali memenuhi kelas. Pertanyaan mengenahi bagaimana, mengapa, seperti apa , dan dimana anak baru itu mulai menjadi pembicaraan.

“Yul.. apa menurutmu dia adalah namja yang tampan, cool, dan semacamnya?Ah kenapa dia harus bolos. Aku penasaran. Bagaimana menurutmu?”

“Entahlah, aku tidak tertarik.” Yuri yang sama sekali tak memalingkan pandangannya ke arah Taeyon yang berada disebelahnya. Ia benar benar tidak perduli.

“ Arraso,arraso. Kau sama sekali tidak tertarik dengan siapapun juga. Bahkan ketika seluruh namja disekolah ini mengejarmu, kau bahkan tetap sama. Tidak tertarik. Aku iri padamu.”

‘ aku lebih iri kepadamu, karena kau manusia.’ Tiba tiba Yuri tak dapat mendengarkan apapun, bahkan penjelasan dari Jonghyun seongsanim. Hal ini membuat Yuri dengan tibatiba berdiri. Ia merasa kepalanya terasa begitu berat, nafasnya sesak, dan ia bingung kenapa hal ini terjadi begitu saja. Namun yang ia pikirkan saat ini adalah untuk segera pergi sebelum ada seseorang yang membawanya ke klinik.

“Seongsanim, bolehkan aku ke toilet?” Dengan energy yang ia punya, Yuri berlari keluar pintu kelas.

 

‘Ada apa denganku, sebelumnya aku tidak pernah seperti ini. Seingatku aku tidak melewatkan makan darah. Lalu apa yang terjadi padaku? Aku harus pulang, aku harus segera pulang.”

Tubuhnya yang terlalu lemas membuat jalan Yuri sempoyongan. Ia berjalan dengan merambat dinding-dinding sekolah. Namun semakin ia memaksakan kakinya untuk melangkah, semakin gelap pula pandangannya. Braakk!

~*~

Putih langit-langit ruangan yang pertama kali Yuri lihat. Dan seorang namja yang tengah memperhatikannya dengan serius.

“Gwencana?” Sapa namja itu yang terlihat sedikit panik. Namun entah apa yang terjadi, Yuri melihat sesuatu yang lain dari namja itu.

“ Nuggu- ya? Dimana ini?”

“Kau pingsan tepat dipelukanku, jadi aku bawa kau ke klinik sekolah. Tapi penjaga klinik masih belum masuk.”

“Mwo ?!” Yuri segera bangun dari tempat tidur dan memakai sepatunya untuk segera meninggalkan tempat itu. Setidaknya ia masih memiliki kesempatan hidup sebelum para penjaga klinik datang. Namun rupanya tubuhnya yang masih lemas membuat Yuri terjatuh untuk kesekian kali.

“Yyaa, kau mau kemana? Kondisimu masih sakit.”

“ Aku harus pulang. Kumohon, aku harus pulang.”

“Baiklah tapi setelah penjaga klinik memeriksamu. Mereka pasti akan mengantarmu pulang.”

“Aniyo, kau harus mengantarku. Ku mohon.”

‘Kenapa baunya sangat berbeda?’

‘Kenapa darahnya tercium begitu tajam?’

‘Kenapa leher ini terlihat begitu nikmat?’

‘Kenapa aku tidak dapat mengendalikan pikiranku.’

‘Aku tidak boleh menggigitnya!’

‘Tapi tubuhku lemas, kurasa aku kekurangan darah manusia.’

‘Haruskah ak..’

‘Sebenarnya apa yang kupikirkan!’

‘Apa yang terjadi padaku? Biasanya aku masih bisa mencegah diriku sendiri, tapi ini, terasa berbeda.’

 

“yya, noona. Sebenarnya dimana rumahmu? Aku sudah menggendongmu sejak tadi, tapi kenapa belum juga sampai? Kau bilang rumahmu dekat dari sekolah?”

“Tinggal beberapa rumah lagi. Aku sangat lapar, kumohon lebih cepat lagi..” Jawab Yuri dengan suara yang terdengar sangat lemas. Namun bukan langkah yang lebih cepat yang ia dapatkan. Namja itu justru berhenti dan menurunkan Yuri. Dengan tenaga seadanya Yuri hanya dapat berpegangan pada dinding jalanan.

“Jadi .. kkau seperti ini hanya karena lapar?! Kau menyuruhku menggendongmu untuk makan dirumah? Kenapa kau tidak mengatakan dari tadi huh? Kau bisa makan di kantin. Dan aku tidak perlu repot repot menggendongmu!”

“Kau tidak mengerti..” Jawab Yuri dengan tenaga seadanya. Merasa berhenti dibawah sinar matahari langsung dapat menyerap energinya lebih banyak, Yuri memutuskan untuk berjalan sendiri kerumah dengan tenaga seadanya. Dan sebelum ia kehilangan kendali atas pikirannya.

“Baiklah tinggal beberapa rumah, punggungku masih kuat. Naiklah, kita sudah sejauh ini. Aku tidak mungkin membiarkanmu pingsan dipinggir jalan.” Ajak namja itu.

“Shirro..” Yuri menolak mentah mentah ajakan itu. Karena ia rasa semakin sulit mngendalikan pikirannya sekarang. Ia terlalu lapar. Ia takut jika ia kehilangan kendali jika terlalu dekat dengan namja berbau lezat itu.

“Kau bisa pingsan, naiklah. Biar kau segera makan sepuasmu dirumah!” Dengan tiba tiba namja itu memaksa Yuri untuk naik kepunndungnya. Dan rupanya kontak kulit yang namja itu lakukan membuat Yuri benar benar kehilangan pikirannya. Ia naik keatas punggung namja itu. Dan taring-taring itu mulai bermunculan, begitu pula dengan mata merahnya. Kali ini Yuri benar-benar kelaparan.

Tepat beberapa detik sebelum gigi gigi tajam Yuri berhasil menembus leher namja berbau lezat itu. Seorang Ahjussi menarik Yuri dari belakang. Lalu menenggelamkan wajah putrinya sebelum namja itu berbalik dan melihat wujud Yuri yang sesungguhnya.

“ Yuri! Gwencana? Ini appa. Gwencana? ”

“ Appa..”

“ Apa yang terjadi?” Pertanyaan appa Yuri yang menatap kearah namja yang baru saja menolong anaknya.

“Dia tibatiba pingsan disekolah. Aku membawanya ke klinik tapi..”

“Jangan pernah bawa dia ke klinik! Ah- mianhe. Ya sudahlah, terima kasih sudah membawa Yuri pulang. Itu adalah yang terbaik untuk putriku. Sekarang kau bisa kembali ke sekolah. Sekali lagi terima kasih.”

Namja itu hanya diam sambil melihat Yuri digendong oleh appanya memasuki sebuah rumah. Walaupun namja itu masih tidak mengerti dengan apa yang mereka katakan, tapi ia merasa mereka sangat aneh.

~*~

Dua hari berlalu. Yuri rasa badannya sudah lebih baik sekarang. Ia bahkan tidak masuk sekolah selama dua hari. Keteledorannya meminum darah basi yang menjadi masalah. Seperti halnya manusia yang keracunan akan makanan basi, vampire juga demikian.

Kereta nampak begitu penuh, selalu penuh dipagi hari. Semua orang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Begitu juga dengan Yuri. Yeoja itu lebih memilih berdiri sendiri sambil mendengarkan lagu dari earphonenya. Daripada mendengar beberapa siswi SMP yang mengagung-agungkan penampilan Yuri. Memang, vampire selalu memiliki karismatik tersendiri untuk memikat para manusia.

Gerbong pemberhentian terakhir baru saja tertutup. Membuat seisi gerbong semakin berdesakan. Seseorang baru saja menyenggol Yuri dan membuat handphonenya terjatuh.

“Ah Mianhe.” Seseorang mengambilkan handphonya dan memberikannya pada Yuri.

“Kau.. si aneh?” Entahlah, mungkin ini kesekian kalinya bagi Yuri. Beberapa orang berlagak seakan akan mereka mengenal Yuri agar mereka dapat berkenalan dengan yeoja cantik itu. Apalagi seorang vampire memiliki daya ingat yang cukup rendah.

“Nde. Kau mau minta no ponselku? Maaf aku tidak dapat memberikannya padamu. Kau bisa mencari yeoja lain.” Hanya hal itu yang Yuri katakan. Bahkan tanpa mengatakan terima kasih. Dan namja itu hanya terdiam tak mengerti dengan ucapan gadis itu.

“Apa yang yeoja aneh itu bicarakan?!”

Sekolahan, walaupun ia bukanlah manusia tapi ia sangat suka berada disekolah. Setidaknya dengan begitu iya dapat merasa menjadi manusia.

“Kwon Yuri!!!!” Yuri mengehntikan langkah kakinya. Berbalik, dan mendapati Taeyon yang berlari mengahmpirinya dengan pelukan.

“Yaa.. nomu-nommu-nommu bogoshipeo! Gwencana? Kau sudah sembuh kan? Jonghyung seongsanim bilang kau demam ? Jinja?”

“ sebenarnya aku keracunan makanan. Tapi sekrang sudah tidak apa-apa. Aku sudah sexy lagi kan haha.”

“ndeee arraso. Kwon Yuri adalah yeoja paling sexy disekolahan! Ya.. kau sudah bertemu dengan siswa pindahan dari Busan ? Ah kaku pasti belum bertemu dengannya. Dan kau tahu, dia tepat seperti dugaanku. Tinggi, cool, dan famous dalam sekejap mata! N”

“ Murid pindahan? Dari Busan?”

“Dasar kau! Kenapa kau selalu lupa! Bahkan Jonghyun seongsanim memberitahu kabar ini pada hari saat kau tiba-tiba sakit dan pulang kerumah. Dia bernama Kim Jongin, Jong-In. Ah sudahlah, Kajja masuk kelas!”

“Aku? ”

Yuri terdiam. Langkahnya terhenti di depan pintu kelas. Dan terputar klise kejadian beberapa lalu di kepalanya. Saat seorang namja menolongnya, menggendongnya pulang, dan saat ia hampir saja memangsa namja itu. Dan dengan tiba tiba Yuri membalikkan haluannya. Namun tubuhnya tersungkur ke lantai kelas karena seseorang berada tepat dibelakangnya.

Seluruh murid kelas yang menyaksikan kejadian itu sangat terkejut. Anak baru itu. Apa yang ia lakukan kepada idola sekolahan yang terkenal dingin itu?

“Kau lagi..?” Sapa namja itu. Kali ini ia sama sekali tak membantu Yuri untuk berdiri.

 

‘Ah aku ingat. Aku ingat bau lezat ini. Kenapa dia bisa memiliki aroma seperti ini? Sial!’

Yuri segera berdiri dan berlari menuju ke bangkunya. Apapun itu ia takkan mendekati namja itu. Ia tak mau merubah dirinya menjadi monster lagi. Namun sialnya, mereka akan menjadi teman satu kelas.

~*~

Bayang-bayang mengenahi namja itu masih berkemuluk di dalam pikirannya. Entah kenapa bau itu tercium sangat lezat hingga Yuri tak dapat mengontrol dirinya sendiri. Bahkan beberapa kali Taeyon bertanya kepadanya tentang apa yang terjadi diantara mereka, Yuri sama sekali tak ingin membicarakan hal itu.

‘bernama Kim Jongin, Jong-In.’ucapan Taeyon baru saja berterbangan di pikiran Yuri. Dan satu kata yang dapat ia petik “Jongin.”

Suara decitan pintu tibatiba terbuka. “ Yuri ah, saatnya makan malam.”

“Nde eomma.”

Makan malam ini seperti biasa. Appa,eomma, Yuri , dan Jongsuk oppa Yuri. Sebuah keluarga vampire yang komplit bukan? Dengan semangkuk darah segar menjadi menu utama. Keluarga Yuri tergolong keluarga yang ceria, mereka menikmati makan malam sambil tertawa-tawa. Namun kali ini ada yang berbeda, Yuri. Ia hanya diam sejak tadi.

“Yuri..” Suara appa Yuri membuat suasana mendadak menjadi serius.

“Nde ..”

“ ngomong- ngomong siapa namja yang mengantarkanmu kemarin? Dia terlihat tampan juga hahaha! Tapi kau harus berhati-hati.”

“Entahlah appa, dia anak pindahan dari Busan. Wae?”

“Dia memiliki tetesan darah dewa. Saat itu appa sedang membersihkan kebun, tapi appa mencium darah dewa dari kejauhan. Jadi appa keluar untuk mengeceknya. Dan ayah mendapati kau akan menggigitnya.”

“ Benarkah Yuri? Siapa namja itu?” Sahut eomma Yuri.

“ Kurasa namanya Jongin. Kim Jongin. Entahlah saat itu aku sangat lapar, dan bau yang ia keluarkan sangat lezat appa. Mianhe, aku tidak akan memangsa manusia manapun juga, aku berjanji!”

“ Nde. Tapi kurasa kau harus mengatur siklus dalam dirimu. Siklus dimana kau harus mengontrol emosi dan pikiranmu sendiri sehingga tidak membuatmu terjerumus dalam hal yang buruk. Dalam bahsa manusia sepertinya itu disebut dengan ‘pubertas’ haha! Namun bedanya kau tidak menstruasi seperti mereka, hahaha!”

“Apa hal seperti itu terjadi pada vampire juga appa?” Jongsuk angkat bertanya. Dan Yuri berhenti makan, ia merasa lebih tertarik dengan topic pembicaraan mala mini dari pada makanan. Lagi pula ia sudah cukup kenyang.

“ya! Apa yang kau pikirkan Jongsuk? Haha! Saat kau seumuran Yuri kau bahkan hampir bersetubuh dengan manusia karena kau menginginkan darahnya. Haha! Dasar vampir bodoh, hahahaha.” Dan ucapan Appa Yuri membuat sausanan kembali hangat.

~*~

‘ Darah dewa? Pubertasi? Apa sebenarnya yang dibicarakan appa semalam?’

Gerbong kereta terakhir telah tertutup lagi – lagi, dan namja itu datang lagi. Yuri melihat namja itu, Jongin. Ia baru saja masuk dari balik pintu masuk. Dan tanpa sengaja sepasang mata itu saling bertukar pandangan. Yuri segera memalingkan wajahnya, ia mulai berpura pura tidak mengetahui kehadiran Jongin didalam kereta. Namun rasanya nasib buruk beralih alih padanya. Jongin justru berjalan mendekatinya.

‘ Jangan mendekat, kumohon jangan mendekat!’ Yuri mencoba menepis rasa takutnya dengan menutup mata.

“Huaaah!!!!”

Yuri berteriak. Seluruh orang di dalam gerbong memandanginya. Karena saat yeoja itu membuka mata, wajah Jongin berada hanya beberapa centi dari wajahnya. Dan dengan spontan ia menumpahkan kopi hangat yang ia bawa ke arah jas sekolah Jongin.

‘Oh appa, apa yang harus kulakukan.’

“Mii- mianhe..” Hanya kalimat itu yang dapat keluar dari mulut Yuri. Dan bau yang Jongin keluarkan mulai membuat kepalanya pusing. Ini aneh, seharusnya Yuri tidak menjadi tiba tiba lapar seperti ini karena baru saja semalam ia makan darah. Tapi nalurinya berkata lain, tubuhnya menginginkan Jongin.

Tidak, tidak di gerbong kereta. Tidak mungkin dengan tiba tiba Yuri berubah menjadi monster bergigi tajam dan memangsa Jongin di depan banyak orang. Yuri tidak mau, dia terlalu ingin untuk hidup damai berdampingan dengan manusia. Tanpa menyakiti satupun dari mereka. Dan untuk menghindari nalurinya yang semakin tajam, Yuri memilih untuk pergi menjauh.

Satu hari berlalu. Bahkan hari ini Yuri harus mati-matian menjaga jarak. Duduk paling depan bukanlah type seorang gadis cantik seperti Yuri. Dia bukan tergolong kutu buku yang selalu ingin duduk paling depan. Tapi bagaimana lagi, ia harus menjauhi aroma Kim Jongin yang duduk paling belakang.

Bahkan saat jam istirahat berbunyi ia segera meninggalkan kelas dan berlari menuju ke atap sekolah. Setidaknya disana ia dapat sendiri. Dan banyak angin sehingga ia tak harus berkemuluk dengan aroma tubuh namja bernama Jongin yang dapat membuatnya berubah menajdi monter secara tibatiba.

“Eothokee!! Aku tidak bisa seperti ini teruss!! Berlari, bersembunyi. Apa aku harus pindah sekolah lagi? Andwee!!!”

Yuri mencoba menenangkan dirinya. Setidaknya dngan berteriak – teriak perasaannya menjadi lebih tenang.

“Ku rasa sebaiknya begitu!”

Sebuah suara terdengar dari balik tumpukan matras. Jongin, entah kenapa namja itu berada dimana-mana. Ia keluar dengan mata sayupnya. Dan Yuri mulai khawatir jika aroma itu menusuk dirinya lagi.

“ Beberapa hari yang lalu saat kau tak masuk sekolah tempat ini begitu nyaman untuk tidur siang. Tapi sekarang tempat ini menjadi tempat yang berisik!”

“ Ini tempat umum, terserah aku mau berteriak atau tidak!” Kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulut Yuri. Dan sepertinya kali ini yeoja itu menyesal dengan ucapannya. Apapun yang terjadi, ia harus lari sebelum semua ini berlarut larut. Sepertinya aroma itu semakin menusuk karena kini jongin berjalan mendekati Yuri.

Sebelum Jongin benar-benar berada di dekatnya, Yuri mengambil kesempatan untuk berlari. Namun sayangnya Jongin berhasil menangkap tangan Yuri dan mncegah yeoja itu kabur lagi. Dengan gerakan yang nampaknya sudah terlatih, kini tubuh Yuri berada didalam pelukan Jongin. Dan dengan buru-buru Yuri menutup mulut dan hidungnya menggunakan sebelah tangannya untuk berjaga –jaga jika taringnya tibatiba muncul begitu saja.

“ mwo? Kenapa kau selalu lari jika bertemu denganku? Dan sekarang kau bertindak seakan-akan aku akan menciummu? Lepaskan tanganmu, aku tidak akan melakukan hal itu padamu.”

“Aniyo! Ku-kumohon lepaskan aku!”

“Jawab dulu pertanyaanku baru ku lepaskan.”

“ Aku berlari dan menutup hidungku karena aku tidak suka dengan aromamu.Puas? lepaskan aku!”

“mwo?!”

Jongin nampaknya terkejut dengan jawaban Yuri. Ia menepati janjinya untuk melepaskan yeoja itu. Dan dengan segera Yuri mengambil kesempatan itu untuk berlari menjauh sejauh jauhnya dari Jongin sebelum taringnya muncul dengan penuh.

“ Dia menjauh, berlari, dan menutup hidung karena aromaku? Hah! Dasar yeoja aneh”

Bel masuk sudah berbunyi sejak 20 menit yang lalu. Tapi Yuri belum juga nampak didalam kelas. Bahkan hingga pelejaran sudah dimulai, Yuri belum juga kembali. Eun Suk seongsanim meminta relawan untuk mencari dimana Yuri. Dan saat itu kelas dihebohkan karena Jongin berdiri bersama dengan Taeyon untuk mnegajukan diri mencari Yuri.

“ Biar saya saja seongsanim.” Jongin menundukan badan dan segera keluar dari kelas. Membuat tanda Tanya besar bagi anak-anak kelas mengenahi apa yang terjadi antara Yuri dan Jongin.

Sejak kejadian di atap tadi, Yuri berada di kamar mandi. Mengunci dirinya sendiri. Untung saja Jongin melepaskannya tepat waktu. Karena hingga kini Yuri bersembunyi untuk menunggu taringnya menghilang. Biasanya dibutuhkan waktu hingga 25 menit hingga gigi gigi tajam itu hilang. Dan kini Yuri merasa lega karena gigi taringnya sudah hilang. Ia keluar dan berkaca didepan wastafle.

‘Gwencana Yuri. Lama-lama kau pasti terbiasa dengan aroma itu. Ah tapi kenapa aromanya tercium lezat sekali, aku ingin- Andwe! Apa yang baru saja ku ucapkan! Babbo ya!” Gerutu Yuri sendiri. Namun dari luar kamar mandi samar –samar Yuri mendengarkan suara seseorang memanggil-manggil namanya. Yuri mencoba mengintip keluar, namun dengan segera ia segera masuk lagi ke kamar mandi dan kebingungan sendiri setelah melihat Jongin yang memangil-manggil namanya.

“eothoke?! Kenapa dia yang menacariku? Eothookee aku harus bagaimana jika dia masuk kemari?!”

“Yuri! Kwon Yuri. Apa kau ada di dalam ? Haruskah aku masuk ke kamar mandi wanita untukmu?”

“Nde. Gwencana. Kau bisa meninggalkanku. Katakan pada seongsanim jika aku sedang sakit perut. Kau tak perlu mengkhawatirkanku. Pergi sana!”

Kenapa dia tibatiba sakit perut? Aneh sekali. Kau yakin? Tidak ingin kuambilkan obat saja ?”

“ Aniyo! Kau kembali saja ke kelas sanaa!”

“arraso, jika perutmu sudah baikan. Segera kembali ke kelas!”

Hah, setidaknya Yuri dapat bernafas sedikit lega saat ini. Ia rasanya Si lezat itu sudah benar-benar kembali ke kelas. Tapi nampaknya itu hanya sedangkal pemikiran Yuri saja. Namja itu masih menunggu Yuri di depan toilet wanita.

‘Aish! Kenapa dia masih berada disini? Tapi mau tak mau aku harus keluar, jika tidak ia pasti masuk dan menanyakan keadaanku. Aissh terkadang aku benci dengan resiko karisma yang vampire miliki!’

Dengan terpaksa Yuri keluar dari kamar mandi. Dan Jongin yang berjongkok di lantai segera berdiri.

“Sudah baikan?”

“nde. Sebaiknya kita segera kembali ke kelas. Dan, bisakah kau jaga jarak denganku. Aku benar benar tidak menyukai aromamu.”

“Mwo?! Aishhh yeoja ini! Arraso!”

Dan merekapun berjalan bersama menuju ke kelas. Dengan Yuri 3 meter berada di depan Jongin. Membuat Jongin semakin penasaran tentang seorang Kwon Yuri.

~*~

Minggu pagi adalah saat yang tepat untuk jogging. Jongin memakai jaket parasut dengan celana pendek dan sepatu olharaga yang serasi. Sudah hampir 1 jam ia berlari, dan tiba tiba ia berhenti ketika menyadari kawasan yang ia masuki.

“Bukankah ini dekat dengan rumah Yuri?”

“Ya, apa kau tersesat? Ada yang bisa ku bantu?” Seseorang menepuk bahu Jongin. Seorang namja berusia berkisar 21 tahun dengan paras wajah yang tampan.

“Ah, aku hanya familiar dengan daerah ini. Ah kenalkan namaku Kim Jongin.”

“Jongin? Haha! Arraso, namaku Jongsuk. Kau bisa memanggilku hyung, karena aku lebih tua beberapa tahun darimu haha.”

“huh? Benarkah ?wajahmu, ku kira kita sebaya. Baiklah hyung.”

“ Bagaimana kalau balap lari mengelilingi kompleksku 15 kali? Jika kau menang kau bisa sarapan gratis dirumahku, bagaimana?”

“Yuri, ambilkan mentega di dalam kulkas. Setelah itu tolong tunggu ini mendidih. Eomma sakit perut, hehe”

“nde eomma-nim”

“ Jika oppamu sudah pulang suruh dia mandi dulu. Jangan ijinkan ia makan sebelum mandi.”

“Memangnya oppa kemana?”

Suara decitan pintu terdengar. Seorang namja dengan tubuh jangkung yang nampak mandi keringat mendekati Yuri dan memeluk tubuh adiknya itu.

“Ya oppa! Kau penuh kerigat! Jangan dekat dekat denganku!”

“ Aku pulangg. Dimana eomma?”

“Sedang di kamar mandi. Kau tidak boleh menyentuh makanan sebelum kau mandi!”

“Yahh.. Padahal aku membawa seseorang untuk sarapan pagi ini. Kau ambilkan air minum dan temani dia dulu ya selagi aku mandi!” Jongsuk mnekan kecil ujung kepala adiknya sambil melangkah menuju lantai atas untuk bergegas mandi.

“Aissh!”

Oppanya memang menyebalkan. Namun bagaimanapun rumah akan sepi tanpa adanya pertengkaran anatar mereka berdua. Yuri mengambil sebuah gelas dan ia tuangkan air limun kedalamnya. Menaruhnya kedalam nampan bersama dengan sepiring cookies buatan eomma dan membawanya pada teman oppanya. Yuri berjalan menghampiri namja yang duduk membelakanginya. Tinggall beberapa meter lagi jarak diantara mereka, namun Yuri mengehentikan langkahnya.

‘Aroma ini? Jongin?!’

Belum sempat Yuri membalik haluan, namun Jongin sudah membalikkan tubuhnya terlebih dahulu. Entahlah, dunia terasa begitu sempit ketika masalah remaja ini datang pada Yuri.

“Kau? Apa yang kau lakukan disini?” Sapa Jongin yang berdiri menghampiri Yuri sebelum yeoja itu lari lagi darinya dan menyahut sebuah cookies yang Yuri bawa. Namun yeoja itu tetap diam. Yuri sedang berusaha menahan nafas untuk saat ini. Walaupun ini berada dirumahnya, dan tidak masalah jika tibatiba ia berubah, tapi tetap saja ia harus belajar untuk mengontrol dirinya. Untuk melewati masa pubertasi ini.

“Kau yang membuat cookies ini? Mashita!” Jongin mengajukan kedua jempolnya dengan mulut penuh cookies. Tapi Yuri masih saja diam. Bahkan kini tenggorokan itu terasa tercekik.

“Kau bisu ya?” Kini jongin mengambil gelas berisikan limun dingin. Lalu menempelkannya pada pipi Yuri. Dan dinginnya air limun membuat Yuri membuka mulut untuk mengambil udara sebanyak-banyaknya. Bahkan Yuri menyahut limun yang hampir saja Jongin minum.

“ Aniyo. Pertama ini rumahku. Kedua bukan aku yang membuat. Dan ketiga, bagaimana kau mengenal oppaku? Disini tidak aman untukmu. Pulanglah!”

“Mwo? Kau mengusir tamu dirumahmu?”

“Iya! Aku tidak ingin keluargaku dibuat gila dengan aromamu.. Aduh!” Yuri mengaduh ketika Jongsuk menjenggung kepalanya dari belakang.

“Ya bocah! Beraninya kau mengusir tamuku.” Bentak Jongsuk kesal.

“Oppa, dia –jangan sakiti dia oppa!” Jongin menatap kea rah Yuri. Ia terkejut dengan ucapan yeoja itu. Selama ini ia menghindarinya dan sekarang ia berkata agar Jongsuk tidak menyakiti dirinya? Sekarang Jongsuk terlihat berbisik pada Yuri.

“Ya babbo! Aku tidak tertarik dengan darahnya. Aku sudah melewati masa pubertasiku. Jadi aku tidak akan terpengaruh dengannya, tidak seperti dirimu!”Bisik Jongsuk. Lalu ia menyuruh Yuri untuk masuk ke kamar.

~*~

Malam ini langit terlihat indah. Bintang bertaburan diseluruh langit Seoul. Menciptakan nuansa tersendiri bagi setiap orang yang memandangnya. Termasuk Jongin. Sejak ia pulang dari rumah Jongsuk pikirannya terus terangan angan oleh nama Yuri, Kwon Yuri. Ah tidak, tidak sejak pulang dari rumahnya, namun sejak pertama kali mereka bertemu di sekolah, saat yeoja itu tiba tiba pingsan dihadapannya. Ada sesuatu yang berbeda. Yang selalu mebuat penasaran. Tentang seperti apa Kwon Yuri.

Jongin beranjak dari posisinya yang berebah di atas lapangan basket setelah usai latihan. Terasa nyeri di bagian punggungnya. Jongin memutar mutar sendi di ujung lengannya. Mencoba merilexkan rasa nyeri tersebut.

“Kenapa dia berat sekali. Hingga tanganku seperti ini? Dasar babbo..”Dan tibatiba simpulan senyum nampak di bibirnya. Namun ia segera membinasakan senyuman itu ektika menyadarinya.

“Wae? Wae? Kenapa aku jadi seperti ini!”

Pikiran Yuri melayang layang. Ia baru saja mengatakan akan mengerjakan tugas tugas sekolahnya, tapi pensil di tangannya hanya bergerang naik turun membuat suatu ketukan nada dengan meja.

“Kenapa dia selalu ada di dimana mana?”

“Kenapa dunia terasa sempit setelah kedatangannya?”

“Dan kenapa aku tak bisa berhenti memikirkannya?”

 

Suara celetukan makanan membuyarkan pikiran Yuri. Nampaknya Jongsuk tengah berbaring diatas tempat tidur Yuri sambil mulutnya mengunyah ngunyah snack yang ia bawa.

“Ya! Sejak kapan berada disini? Keluar , aku mau belajar!”

“ Sejak pertama kali kau memegang pensil itu. Tapi aku sama sekali tak melihatmu belajar. Kau hanya melamun hingga tak menyadari kehadiranku bukan? Haha.”

“Jongsuk!”

“Yyaa yyaa! Aku ini oppamu! Sebenarnya aku tahu apa yang sedang kau pikirkan, namja tadi pagi kan? Jongin? Ya dia memang namja yang baik, dank au benar ia memiliki aroma yang lezat. Tapi tetap saja, kau vampire dan dia manusia.” Pernyataan Jongsuk baru saja mengubah suasana men jadi serius. Dan tanpa Yuri sadari kini perasaanya campur aduk setelah menjengar penjelasan oppanya.

“Aku tidak menyukaa –“ Sebelum Yuri menyelesaikan ucapannya, Jongsuk menangkap bibir Yuri dengan tangannya dan menguncinya rapat-rapat.”Jawab Jujur pertanyaanku..”

“Kau terus memikirkanya?” Tanya Jongsuk, Yuri mengangguk.

“Kau teringat akan dirinya?” Tanya Jongsuk, Yuri mengangguk.

“ Kau rasa hanya ada dia akhir-akhir ini?” Tanya Jongsuk, Yuri mengangguk.

“ Kau menginginkannya?” Tanya Jongsuk, Yuri mengangguk.

“Karena darahnya ?” Tanya Jongsuk, Yuri diam.

“Kau menyukainya?” Tanya Jongsuk, Yuri mengangguk. Namun Yuri terkejut, ia segera mengganti jawabannya, ia tak sadar menjawab dengan anggukan. Ia menggeleng- gelengkan kepalanya. Ia tidak ingin oppanya salah sangka.

“Gotcha! Sudah kuduga..”

“Ani –Aniyo! Aku tidak, aku sama sekali tidak menyukainya. Oppa kenapa kau melakukan ini padaku!!” Yuri merengek-rengek di depan oppanya sambil menendanginya.

“Haahaha. Sudahlah, kau terbuka saja dengan oppa. Oppa akan membantu jika bisa. Namun ini masalahnya, dia manusia, ank au vampire. Kau harus mengingat kasta kita sebagai vampire murni Yul. Apa kau ingin mengakhiri kasta keluarga kita sebagai vampire murni?”

*NB : Vampire murni adalah vampire keturunan dari pernikahan vampire asli dengan vampire asli.

 

“ Tidak oppa.”

“Kau harus bisa melewati masa pubertasimu dengan baik Yul. Semuanya tersrah padamu, kau yang akan memutuskan.

~*~

Bel pulang tengah berbunyi. Seharian ini Jongin terus memandangi Yuri yang duduk di bangku paling depan. Gadis itu, aneh. Seahrian ia terlihat lebih diam dari apda hari biasanya yang terus menggosip dan mengoceh bersama teman-temannya. Dan entah kenapa JOngin ingin sekali bertanya ‘Kau kenapa?’

Sekali lagi, Yuri melamun. Ia melamun sambil berjalan. Perkataan Jongsuk semalam terus membeyangi dirinya. Ia tak tahu jika dirinya bisa menjadi sebimbang ini hanya karena seorang Jongin.

“Ya Yuri!” Yuri membalikkan badan ketika mendengar seseorang memanggil namanya. Namun rupanya itu Jongin. Tidak lagi, ia harus pergi.

DUKK! Sayangnya, ketika Yuri membalikkan badannya lagi, sebuah tiang listrik sialan sudah tepat berada di hadapannya tanpa ia sadari. Dan Jongin segera berlari menolong Yuri.

“Gwencana?”

“Aaaish! Nde, gwencana.”

“Aku memanggilmu agar kau tidak terbentur tiang. Tapi kau malah berbalik lagi. Kau tadi berjalan seperti tanpa nyawa. Kau juga terlihat diam dikelas. Ada apa ?”

“Bukan urusanmu.” Yuri tidak ingin terlalu lama larut dalam pembicaraan bersama Jongin. Ia berusaha melarikan diri, namun sepertinya Jongin sudah mulai hafal gerak gerik Yuri untuk kabur darinya. Jongin menahan gadis itu dengan memegang tangannya erat

“ya! Lepaskan Jongin-ah!” Ronta Yuri

“ Aniyo, Kau berhutang beberapa hal padaku. Jadi sekarang aku menagih hutangmu.” Yuri hanya diam, ia rasa ini bukanlah sesuatu yang baik, mungkin.

“ Pertama kau membuat punggungku sakit selama hampir 1 minggu karena menggendongmu pulang, dan kedua kau sempat menumpahkan kopi ke jas sekolahku tapi kau lari begitu saja. Aku ingin kau membayar semua ini dengan waktumu. Temani aku hari ini.”

“mwo?!”

“Sudahlah, aku sudah meminta ijin pada Jongsuk, dan kau tak usah berusaha untuk kabur, karena sekarang kita terkunci.” Jongin mengeluarkan sebuah borgol dan mengaitkannya pada pergelangan tangan Yuri dan tangannya.

“yaa! Apa-apaan ini.”

“sssssttt, diam dan temani aku.” Entah berapa kali jantung Yuri berdegub lebih kencang saat ini. Jongin menutup bibir Yuri dengan tangannya, dan namja itu sepertinya sangat senang mendekatkan wajahnya dengan wajah yeoja seperti Yuri.Dan hal itu berhasil membuat Yuri diam.

Mereka terlihat seperti orang konyol karena terikat oleh borgol. Namun mereka tidak memperdulikannya. Arena bermain Taman Raya menjadikan hari ini menyenangkan. Bahkan sekarang Yuri terlihat bahagia walaupun yang berada didekatnya adalah Jongin. Nampaknya yeoja ini mulai terbiasa dengan aroma darah yang Jongin miliki. Yang ia tahu, ia merasa nyaman untuk saat ini.

Usai sudah bermain kora-kora, roller coaster, Bianglala, masuk rumah hantu, dan lain sebagainya. Bahkan Yuri mendapatkan sebuah boneka bebek setelah Jongin berhasil memenangkan suatu permainan. Kini mereka tengah duduk disebuah bangku taman dengan sebuah eskrim ditangan mereka masing-masing.

“Kau terlihat sangat bodoh saat naik roller coaster, kau hanya diam dan menutup mata. Dasar, seharusnya kau keluarkan semuanya. Berteriak dan mengangkat tanganmu seperti ini’ aaaaaa’ begitu!”

“ yyaa, itu memalukan. Walaupun saat di arena bermain pun aku harus menjaga image ku. Bagaimana jika ada yng memperhatikanku tapi aku bertingkah seperti itu, aku terlalu cantik untuk melakukan hal itu.”

“Arraso! Bahkan jika aku yang memandangimu, kau masih terlihat cantik.”

“Huh? Ap –apa yang kau katakan ?”

“Aniyo! Kajja, lebih baik kita pulang sudah hampir malam.”

Mereka sampai didepan rumah Yuri. Dan hari sudah malam. Yuri melepaskan jaket yang tadi Jongin berikan padanya. Dan Jongin membukakan borgol itu dari tangan mereka.

“baiklah, hutangmu sudah terlunasi noona!” Jongin mengusap usap ujung kepala Yuri.

“Nde. Kalau begitu aku masuk dulu ya.”

Sekali lagi. Jongin berhasil menciptakan suasana drama dalam kehidupan nyatanya. Ia menarik tangan Yuri sebelum yeoja itu berjalan menjauh. Dan jarak anatara mereka berdua berhasil terhapus. Bibir keduanya saling bertemu. Tak ada tolakan dari keduanya.Entahlah, keduanya terlihat menikmatinya. Ini adalah kali pertama bagi mereka berdua untuk berciuman. Dan biasanya ciuman pertama adalah ciuman yang tak pernah terlupakan.

1 menit, 2 menit, 3, menit, Yuri merasa nalurinya berubah dengan tibatiba. Apa karena ciuman ini? Yuri segera mendorong Jongin menajauh darinya sebelum gigi gigi tajamnya keluar. Dan betapa terkejutnya Jongin ketika membuka mata dan mendapati bola mata Yuri berbubah menjadi merah.

“Yuri, matamu.. gwencana?” Jongin mendekati Yuri lagi, namun yeoja itu mundur perlahan lalu berlari memasuki rumah.

‘Yuri, mianhe..’

Malam itu Yuri menangis sepanjang malam. Ia tidak tahu harus menyesali perbuatannya atau tidak. Saat Jongin menciumnya entah kenapa ia tak bisa menolak hal itu. Padahal hanya berdekatan dengan namja itu saja bisa berbahaya. Tapi kali ini bahkan untuk pertama kalinya Yuri memperlihatkan wujud aslinya didepan seorang manusia.

Ia menceritakan semuanya kepada oppanya. Dan malam itu juga keluarga Yuri memutuskan pindah untuk kesekian kalinya.

~*~

Setelah kejadian hari itu, Yuri sama sekali belum masuk sekolah. Setiap sepulang sekolah Jongin selalu menyempatkan diri untuk lewat rumah Yuri, namun rumah itu sepi. Ia juga berusaha menguhubungi ponselnya, namun tak ada respon. Ia juga sempat mencari Jongsuk di tempat kerjanya, tapi Jongsuk juga tidak ada. Ia berkali kali bertanya pada Taeyon, tapi yeoja itu juga tidak tahu. Entah kenapa Jongin merasa sepi, tanpa Yuri.

Sepi, setiap hari terasa sepi. Jongin hanya duduk dengan kepala yang bersandar diatas meja kelas. Ia sudah putus asa memandangi bangku Yuri tanpa pemiliknya selama beberapa hari.

‘ Yuri-ah nommu-nommu bogoshipeo.’

Jonghyun seongsanim memasuki kelas. Membuat kelas yang awalnya ricuh menjadi tenang. Semua anak memasang sikap siap kecuali Jongin. Namja itu masih menggeletakkan kepalanya di atas meja.

“Pagi ini saya membawa dua buah kabar. Kabar baik dan kabar buruk. Kabar baiknya, liburan awal musim dingin diajukan minggu depan. Jadi kalian bisa mengemasi isi loker kalian. Jangan meninggalkan barang berharga di dalam loker selama libur musim dingin.” Semua siswa terlihat senang mendengar kabar itu. Beberapa diantaranya membicarakan dafter liburan mereka, dan agenda selama libur. Namun Jongin tidak tertarik, ia bahkan mengadendakan hari liburnya untuk mencari tahu dimana Yuri.

“Dan kabar buruknya adalah Kwon Yuri sudah pindah sejak 2 hari yang lalu. Ketua kelas tolong kembalikan bangku yang kosong ke gudang sekolah.” Satu kelas mengganti topic pembicaraan agenda liburan dengan pertanyaan mengenahi kenapa Yuri pindah mendadak.

Dan berita ini berhasil membuat Jongin terbangun. ‘PINDAH?’

“Baiklah jika tidak ada pertanyaan, kita memasuki materi..”

“Seongsanim..” Jongin mengangkat tangannya.

“huh?”

“ Kemana Yuri pindah ? Tak ada kata perpisahan dari Yuri untuk kami ?”

“Ah –dia mengucapkan selamat tinggal kepada kalian. Entahlah aku juga tidak tahu dengan pasti dia pindah kemana.”

Namja itu marah, marah dengan dirinya sendiri. Ia berlari meninggalkan pelajaran, meninggalkan sekolah. Jongin berlari dengan perasaan menyesal, ia berlari menuju rumah Yuri. Tapi rumah itu terlihat sepi, dan sudah kosong.

~*~

Hari terakhir masuk sekolah. Jongin berjalan menuju lokernya. Dibukanya loker berwarna merah itu. Dan ia menemukan sepucuk surat berwarna biru didalamnya. Jongin celingukan, ia tak tahu siapa pengirim surat itu. Ia kembali duduk di bangkunya dan mulai membuka isi suratnya.

Dear, Jongin

          Annyeong, sudah dua minggu kita tidak bertemu.Aku yakin kau merindukanku, merindukan kecantikanku bukan? Hehe.

          Jongin, terima kasih untuk semuanya. Terima kasih kau sudah membantuku sejak pertama kali kita bertemu. Mianhe, karena pergi tanpa berpamitan. Aku terlalu takut untuk bertemu denganmu. Tapi aku tidak bisa menjelaskan ketakutanku kepadamu. Aku terlalu malu menceritakannya, aku juga takut jika kau membenciku, bahkan menghindar dariku. Mianhe Jongin. Aku sangat bahagia bisa mengenalmu.

 

Saranghe..

Yours,

Kwon Yuri

~*~

Satu minggu kemudian

“Yuriii!! Bangunn!Gadis ini! Ini sudah jam berapa kau belum bangun juga huh?”

“Eomma, 10 menit lagi.”

“Bangun sekarang, dan berbelanja ke supermarket. Eomma sedang memasak. Palli!!”

“Oppa saja, aku masih mengantukk”

“Oppamu sudah berangkat sejak tadi pagi, cepat laahh bangun Yul”

Dengan setengah sadar Yuri membeli beberapa kebutuhan rumah. Ia berjalan sempoyongan menuju pintu keluar, namun nampaknya tidak sengaja yeoja itu menakbrak seseorang. Sehingga tas orang tersebut terjatu. Yuri segera mengambilkannya dan berbungkuk sebagai rasa hormat “ Mianhamnida.” Lalu Yuri kembali berjalan sempoyongan lagi.

“Setiap kita bertemu, bisakah kau tidak terlihat sempoyongan seperti ini, noona.” Kalimat dan suara itu, berhasil membuka mata Yuri lebar-lebar. Namun ia belum berani menoleh untuk melihat siapa pemilik suara tersebut. Hingga ia merasakan orang itu memegang tangannya dan menariknya. “ Jongin –ah “

“Selama liburan ini aku mencari segalanya tentangmu. Tapi sepertinya kau benar benar mengemas kepergianmu dengan rapih. Beberapa hari yang lalu aku bertemu dengan Jongsuk di sebuah bar tempat ia bekerja. Sebuah pertemuan yang benar benar tak terencanakan. Aku menceritakan semua yang kurasakan padanya. Dan akhirnya ia memintaku untuk menemuimu. Namun aku belum siap. Dari kemarin entah berapa kali aku hanya mondar-mandir didepan rumahmu seperti maling ahha. Tapi kita justru bertemu disaat seperti ini.”

Yuri hanya tersenyum sedikit. Ia masih merasa tidak enak karena pergi begitu saja.

“Kenapa kau pergi?” Yuri masih diam mendengar pertanyaan Jongin. Ia terlihat celingukan, terlalu banyak orang disni untuk menjelaskannya. Melihat ekspresi Yuri yang seperti itu, Jongin menarik tangan yeoja itu menuju kesebuah lorong kecil, disana sepi.

“Sekarang tidak ada orang. Kenapa kau pergi?” Tanya Jongin sekali lagi.

“ aku tidak bi –“

“Kenapa kau pergi?” Tanya jongim untuk kesekian kalinya.

“Karena aku vampire!” Yuri sudah muak menahan semua ini. Bagaimanapun juga Jongin sudah pernah melihat dirinya yang sesungguhnya. Yeoja itu tertunduk menahan air matanya.

“Lalu kenapa?” Jawaban itu. Yuri mengkat wajahnya. Ia heran kenapa Jongin menanggapi hal ini dengan sangat santai.

“ Ap –apa kau tak takut? Kau bisa berlari jika kau mau.” Jawab Yuri polos.

“ Ada satu hal yang barus kau catat dalam otakmu. Aku tidak perduli. Aku bahkan tidak perduli jika aku harus mati di tangan orang yang kucintai. Aku tidak perduli dengan semua itu.” Yuri terbelalak. Ia tak pernah menyangkan Jongin akan menjawab dengan jawaban seperti ini. Seakan –akan namja itu sama sekali tak takut akan mati.

“Aku sudah tahu semua itu sejak pertama kali bertemu denganmu. Saat kau pingsan, tak ada seorang penjaga klinik disana. Dan aku melihatmu sangat lemas. Ku pikir seharusnya aku bisa memasangkan infus untukmu. Tapi saat aku mencobanya, darahmu keluar berwarna hitam. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Jadi aku tidak jadi memasangkan infuse itu untukmu. Sejak saat itu kau selalu menghindar dariku, dan asal kau tahu itu membuatku semakin penasaran tentang seperti apa dirimu. Kau bilang kau tak suka aromaku, hingga aku mencuri parfum milik appaku. Tapi anehnya kau tetap mengatakan tak menyukai aromaku. Dan setelah aku menciummu, aku menyadari seutuhnya jika kau bukan manusia. Walaupun saat itu aku tak tahu makhluk apa kau sesungguhnya, tapi yang aku tahu pasti aku tidak bisa hidup tanpamu. Setiap hari aku mencarimu. Kumohon jangan pergi lagi Yul.”

Yuri tertegun mendengar penjelasan Jongin. Ia benar benar tidak menyadari bahwa Jongin akan mencintainya. Bahkan hingga seperti ini. Yuri tidak tahu harus mengatakan apa. Ia tak tahu harus berbuat apa.

Untuk kedua kalinya, Jongin mencium bibir Yuri. “Saranghe, apapun dirimu, aku mencintaimu. Ubah aku menjadi yang kau mau, asal aku dapat selalu bersamamu.”

THE END

Author note :

For more story by minwuu, please visit at minwuukingdom.wordpress.com ^^

19 responses to “[ONESHOOT] Beautiful

  1. keyenn*-* reaksi jongin tak terduga>< aku sempet kaget yang pas nemu kata" //seinget aku " Jantung yuri berdetak lebih cepat-menahan napas-dll"
    Yuri vampire pan? seterahlah yang penting ff kaka seru ^hehehe:D

    • wehehe. emang vampire gak nafas ? Menurutku mereka juga hidup kok. Pas di seriesnya twillight waktu bella ngelahirin tuh juga punya jantung hehe.. yaa syudahlah wakkaka

  2. keren. Asli thor
    Jongin so sweet sekalee, rasanya pengen gua bawa pulang aja itu orang 😀

  3. Kereen, so sweet bgt, aku suka ceritanya thoor, jongin sampe segitunya karna suka sama yuri, keren bgt pokok nya thor, ditunggu ff mu selanjutnya author 😀

  4. iihh ff-nya lucuuuu.. cuman rada kaget yaa ternyata vampire-nya punya detak jantug hhehe..

    ohiya, sempet ada beberapa part perpindahan POV ya ?? tapi nggak ada sekat buat mindahin perpindahan POV itj, jadi sempet bingung ini POV-nya siapa ??

    overall keren lho ffnyaa.. ditunggu next projectnya

  5. sweet banget sih, jongin.
    ternyata jongin sudah mulai curiga sejak awal kalo ada yang aneh dari yuri.
    biasanya yg jadi manusia cewenya dan pengen dirubah jadi vampire biar bisa hidup bersma org dicintainya tapi ini kebalikannnya.
    wah keren, ak suka ak suka….

  6. Woaahh,, daebakk. Ff.a keren. Jongin sweet begeteh. Kim jongin saranghae,, :3 haha,,, author-nim, neomu neomu daebak. Keep writting author-nim…

  7. daebak! aku speecless..
    yg jelas aku suka sama cerita ini. ff ini tuh kaya campuran dari semua film2 tentang vampire & aku terkesan 🙂

    & aku berharap ada lanjutannya :3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s