THE SUN [Chapter 8: Days in Jeju] -by ByeonieB

the-sun

THE SUN

ByeonieB Present

Main Cast::

Baekhyun of EXO as Byun Baekhyun

OC/You/Readers as Han Minjoo

Additional Cast::

Bora of Sistar as Yoon Bora

Sehun of EXO as Oh Sehun

And many more

guest star for these chapter: Lu Han {EXO’s Former Member} as Luhan

Genre:: Romance, Life, Drama, Marriage-Life

Length:: Chapter

Rate:: PG-14 – PG-17

Summary::

“You are like the sun.

 The sun that rises in every morning.

The sun that comes after the dark.

Yes, you are just like that.

You are the sun that rise on my life.”

 

Poster by Jungleelovely @ Poster Channel

[Chapter 8: Days in Jeju]

H A P P Y     R E A D I N G

“Yeobo, apa yang kau lakukan?!”

Tuan Byun menaikan suaranya dengan raut wajah yang sangat menyeramkan. Saat ini di hadapannya terdapat seorang wanita tua yang tak lain adalah istrinya.

Sejak kejadian yang menggemparkan di ruang makan tadi, tuan Byun menarik paksa istrinya ke dalam ruangan mereka dan memperdebatkan masalah itu disitu.

“Apa yang kulakukan?” nyonya Byun terkekeh kecil. “Harusnya itu yang kutanyakan padamu! Apa yang kau lakukan?! Kenapa.. kenapa kau selalu membela gadis murahan itu!”

“Jaga bicaramu!” tuan Byun hampir saja mengangkat tangannya untuk menampar istrinya. Untungnya ia masih bisa mengendalikan emosinya. Istrinya benar-benar sudah keterlaluan.

“Dia itu adalah penyelamatku! Tanpanya, aku mungkin tak akan pernah bisa melihat dunia ini lagi!”

Nyonya Byun tak habis pikir dengan pikiran suaminya. Nyonya Byun punya spekulasi sendiri bahwa gadis itu memanfatkan suaminya agar mendapatkan harta mereka. Nyonya Byun selalu berpikir bahwa gadis itu, Han Minjoo, sebelum ia menolong tuan Byun gadis itu telah lebih dahulu mengetahui bahwa suaminya ini pengusaha yang kaya raya. Lalu jika Minjoo menolong suaminya tersebut, gadis itu akan diberikan imbalan dan mungkin merebut harta warisannya. Seperti situasi saat ini.

“Yeobo.. kau terlalu percaya padanya! Tidak kah kau berpikir bahwa gadis itu memanfaatkanmu!?”

Ingin sekali tuan Byun merasuki pikiran istrinya lalu mengubahnya. Benar-benar istrinya ini tipikal wanita sosialita. Yang selalu menganggap kelas sosial itu ada.

Tuan Byun kemudian menghela napasnya dengan berat dan berniat menghentikan perdebatannya ini. “Hentikan omonganmu itu. dan untuk gadis yang kau bawa tadi, aku tak ingin dia ikut bersama kita ke Jeju.”

“Percuma saja.”

Tuan Byun menolehkan kepalanya ke arah istrinya. “Apa maksudmu?”

“Aku sudah memesankan semuanya untuk gadis itu. tiket pesawat dan kamar hotelnya. Semuanya sudah kusiapkan.”

Tuan Byun menggeram kesal dengan telapak tangannya yang mengepal.

“Yeobo.. kau…”

Nyonya Byun pun menatap balik tatapan itu tak kalah sengitnya. “Pernahkah kau memikirkan perasaan anakmu?”

Tuan Byun terdiam di tempatnya.

“Anakmu masih mencintai gadis itu. Hati anakmu hancur ketika kau menjodohkannya dengan gadis yang kau bangga-banggakan itu!”

Tuan Byun mulai meneduhkan tatapannya. Benar. Selama ini yang dia pikirkan hanya bagaimana berbalas budi pada Minjoo tanpa memperdulikan perasaan anaknya. Tuan Byun tahu, bahwa anaknya itu sangat mencintai gadis itu, kekasihnya. Namun tuan Byun tak pernah menyetujui hubungan mereka karena mereka memiliki sifat yang sama. Sama-sama kecenderungan dunia gemerlap.

“Pernahkah kau memikirkan perasaan anakmu…?”

Tuan Byun menghela napasnya. Baiklah, untuk kali ini ia akan membiarkan anaknya itu menjalin hubungan sementara dengan kekasih lamanya. Untuk kali ini saja.

.

.

.

Seorang pria dan wanita sedang berdiri saling menghadap di taman belakang rumah kediaman tuan Byun. Baekhyun menatap wanita di hadapannya itu dengan seribu pertanyaan di kepalanya. Jujur.. ketika Baekhyun melihat kembali gadis itu di hadapannya disaat makan malam tadi, hatinya sedikit berdegup. Menandakan kalau ia masih menyimpan perasaan itu pada gadis itu.

“Kenapa.. kenapa kau kembali?”

Bora hanya menundukan wajahnya tanpa berani menatap Baekhyun. sejujurnya ingin sekali Bora mendekap prianya yang telah ia rindukan selama ini.

“Mana.. mana kekasihmu?”

Bora tak pernah mencintai Kim Junmyeon, musuh Baekhyun, dengan tulus. Ia hanya memanfaatkan pria itu sebagai pelariannya karena dia pikir itu mungkin bisa mengurangi rasa sakit hatinya pada Baekhyun dan mungkin perasaannya pada Baekhyun akan berkurang walaupun hanya sedikit.

Tapi ternyata tidak. Perasaan itu tidak pernah berkurang sampai detik inipun.

“Oppa…”

Baekhyun terkekeh pelan. Sedari tadi Bora hanya menundukkan mukanya dan membisukan mulutnya tanpa mau menjawab satu pun pertanyaan Baekhyun.

“Jangan memanggilku seperti itu..”

Bora meneteskan air matanya. Baekhyun pasti sangat membencinya.

Dan Baekhyun pun berpikir seperti itu. ia sangat membenci gadis ini. Tapi… sangat merindukan gadis ini juga.

“Bukankah kau sendiri yang bilang, bahwa kita benar-benar sudah selesai?”

Ya benar. Ia masih ingat sekali ketika Bora mengatakan padanya bahwa hubungan mereka sudah benar-benar berakhir. Tanpa Bora ingin menjelaskan penjelasannya terlebih dahulu. di tambah lagi baru saja satu bulan berpisah dengannya, gadis itu sudah menjalin hubungan yang baru dengan musuhnya.

“Kita benar-benar sudah selesai, Bora.” Baekhyun memantapkan hatinya. Ia tak ingin terus menerus mencintai gadis ini. Gadis yang telah mengkhianatinya. “Maaf, aku pergi sekarang.”

Baru saja Baekhyun mengambil langkahnya untuk pergi, Bora tiba-tiba melingkarkan lengannya di pinggang Baekhyun. menyalurkan perasaannya lewat itu. dan menangis juga di dalamnya.

“Op-pa.. Mianhae..” Bora terisak di dalamnya. Ia benar-benar tak ingin kehilangan pria ini lagi. “Maafkan aku yang tak mau mendengarkanmu dan mengkhianatimu..”

Baekhyun menjuntaikan tangan di samping tubuhnya. Mencoba untuk meresapi perlakuan gadis ini dan mendengarkan setiap penuturan katanya.

“Aku masih sangat mencintaimu Oppa.. sangat…”

Hati Baekhyun pun terenyuh mendengarkan kejujuran Bora. Ia juga sejujurnya masih menyimpan perasaan itu untuk Bora, perasaan yang diam di dalam hatinya selama 5 tahun ini dan yang kemarin ini sempat tertutupi oleh sesuatu yang baru.

Perlahan Baekhyun mengangkat kedua tangannya dan membalas perlakuan Bora. Merengkuh gadis itu dengan erat. Mencoba membalas perasaan Bora.

“Lalu kenapa.. kenapa kau tak mencoba mendengarkan penjelasanku kemarin ini Bora? Dan kau malah lebih memilih mengkhianatiku dengan menjalin kasih dengan si kerdil itu..”

Bora terkekeh di dalam pelukannya. “Oppa.. dia punya nama..”

“Aku tak peduli..”

Mereka saling memberikan kehangatan masing-masing, dan yang paling utama tentunya saling melampiaskan rasa rindu yang telah terpendam cukup lama di hati mereka. Walaupun sebenarnya salah satu di antara mereka masih ada yang tidak yakin, apakah perasaan rindu itu memang benar masih ada atau sengaja ia rekayasakan karena tak ingin menerima perasaan baru yang muncul di hatinya.

Tak jauh dari taman tersebut, seorang gadis tersenyum pada mereka walaupunn sebenarnya hatinya seperti di sayat-sayat oleh pisau dapur, bagai raganya sedang di cabik-cabik oleh celurit taman. Sungguh sakit rasanya melihat pemandangan itu.

“Ternyata benar.. kau masih mencintainya, Baekhyun-ah.”

Tak dapat Minjoo pungkiri lagi kalau Baekhyun memang benar-benar masih mencintai gadis itu. ia pikir.. kejadian ketika di gedung teater pada waktu lalu.. ketika Baekhyun sempat akan mencuri ciuman pertamanya.. merupakan awal yang baik untuk mereka. Namun nyatanya ia terlalu menaruh harapannya tinggi-tinggi.

“Aku terlalu percaya diri, bukan?” tuturnya sambil terus tersenyum memandang pasangan itu yang sedang berpelukan.

Minjoo tak menemui Baekhyun di sampingnya ketika ia bangun di pagi hari. Bahkan, melihat pria itu naik ke atas ranjangnya pun tidak karena Minjoo lebih dahulu terlelap dalam alam mimpinya. Mengedarkan pandangan keseluruh ruangan, Minjoo tidak bisa menemukan ciri-ciri kehadiran Baekhyun di kamar ini, kamar tamu kediaman tuan Byun.

Ia pun menundukkan kepalanya dan lagi-lagi hatinya harus tercabik-cabik seketika mengetahui fakta Baekhyun tidak tidur bersamanya. Mungkinkah Baekhyun tidur dengan gadis itu, pikirnya.

Minjoo menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak ingin membuat hatinya semakin sakit lagi.

“Ohiya, hari ini hari keberangkatannya ya..” Minjoo pun bergegas pergi dari ranjangnya dan menuju kamar mandi. Ya, hari ini adalah dimana mereka, keluarga Byun, akan pergi berlibur ke pulau Jeju.

Setelah selesai bersiap-siap, Minjoo keluar dari kamarnya dan berniat untuk menuju ke lantai dasar, menuju ruang makan karena sebelumnya tadi salah satu pelayan telah mengingatkannya untuk turun ke meja sarapan.

Minjoo pun melangkahkan kakinya menuju tangga, melewati koridor di mana kamarnya berada. Tepat ketika ia berada di titik tengah lantai ini, ia menjumpai seorang gadis yang berada di koridor di hadapannya. Mereka saling bertukar pandang, dengan hati Minjoo yang sedikit berdegup kencang. Gadis yang berada di hadapan Minjoo tadi pun melangkahkan kakinya dan berdiri di hadapan Minjoo setelahnya.

“Annyeong, Minjoo-ssi.”

Minjoo mencoba untuk tersenyum pada gadis itu. “Annyeong, Bora-ssi.”

Bora menatap Minjoo dari kaki hingga kepala gadis itu. menilai penampilan gadis ini.

“Baekhyun sudah banyak bercerita tentangmu padaku semalam..”

Semalam?

Minjoo menatap koridor yang baru saja Bora pijakan tadi. Bora keluar dari koridor dimana letak kamar Baekhyun berada.

Minjoo dapat merasakan hatinya retak seketika, mendapati jika alasan mengapa keabsenan Baekhyun malam tadi adalah karena ia menghabiskan waktunya bersama kekasihnya.

Minjoo mencoba untuk tetap tersenyum dan menjawab pernyataan gadis itu.

“Ah.. begitu rupanya.. pantas saja kau sudah mengenal namaku..”

“Apakah Baekhyun pernah menceritakanku padamu?” tanya Bora kembali dengan nada yang datar.

Minjoo mengangguk perlahan. “Ya.. dia sering menceritakanmu padaku..”

Bora mengangguk sekali. Lalu dia menatap Minjoo dengan ekspressi yang sangat datar.

“Kalau begitu kau tahu kan jika dia masih sangat mencintaiku?”

Minjoo tahu betul apa yang baru saja di katakan Bora tanpa Bora harus tanyakan kembali pada Minjoo. Baekhyun memang benar masih mencintai kekasihnya.

“Mulai saat ini, kau tidak perlu menaruh perhatian padanya karena aku..”

Minjoo menatap Bora dengan sendu. Ia tahu jika saat ini Bora sedang mengancamnya,

“Aku akan berada di sampingnya lagi..”

Minjoo dapat merasakan hatinya hancur seketika. Harapan yang sebelumnya sempat ada itu kini benar-benar kandas kembali.

Kesempatannya untuk bersama Baekhyun, memang benar-benar tidak ada.

.

.

Baekhyun baru saja selesai memberesi kebutuhannya dan sekarang ini sedang bergegas menuju lantai bawah. Menuju mini bus yang datang untuk menjemput keluarga mereka dan segera untuk memasuki barangnya ke dalam mini bus.

Ia tak menemukan Bora dimana-mana, bermaksud untuk menawari gadisnya itu untuk di bantu.

Tak memperdulikan gadis itu, Baekhyun menggiring koper besarnya menuju keluar. Mini bus itu benar-benar telah berada di hadapan rumahnya. Ia bergegas berjalan ke belakang mobil itu untuk memasukkan barangnya ke dalam bagasi.

Tepat ketika ia sampai di belakang, ia menemukan gadis yang berstatus sebagai istrinya sedang disibukkan dengan mengangkat kopernya yang mungkin cukup berat untuk ukuran tubuhnya.

Baekhyun terkekeh pelan melihat Minjoo, lalu akhirnya dia menghamipirinya.

“Butuh bantuan?”

Minjoo menegangkan tubuhnya. Mengetahui suara siapa yang menginterupsi pendengarannya. Menolehkan kepalanya sedikit, dan benar. Itu Baekhyun.

Tanpa menunggu harus di jawab oleh yang ditanya, Baekhyun segera mengangkat koper Minjoo dan menaruhnya di dalam bagasi. Setelah itu ia melihat ke sekitar Minjoo, tak ada barang lagi di sekitarnya.

“Kau hanya membawa satu koper?”

Gadis itu masih bergeming dengan pikirannya. Dia tak bisa mengeluarkan satu patah kata dari mulutnya karena masih mengingat pembicaraannya dengan Bora tadi.

“Mulai saat ini, kau tidak perlu menaruh perhatian padanya..”

“Minjoo-ya?” Baekhyun mencoba menyadarkan Minjoo dari lamunannya karena gadis itu cukup lama tak membalas pertanyaannya. Minjoo tersadar dan akhirnya hanya mengangguk sekali.

“Baiklah kalau begitu..”

Baekhyun pun segera memasukkan barangnya ke dalam bagasi dan Minjoo hanya memperhatikan setiap gerakan lelaki itu. setelah selesai, Baekhyun berniat untuk mencari Bora kembali namun panggilan Minjoo menahannya.

“Baekhyun-ah”

Baekhyun memutar tubuhnya dan menatap gadis itu.

“Semalam.. kau tidur dimana?” tanyanya dengan ragu-ragu. “Aku.. tidak menemukanmu di kamar pagi ini.”

Baekhyun terdiam kaku. Pasalnya, semalam tadi ia menghabiskan waktunya bersama Bora err.. di dalam kamarnya. jangan berpikiran negatif. Hanya saling menidurkan tubuhnya masing-masing tanpa melakukan apa-apa. Lagipula, itu sudah biasa ia lakukan semasa berpacaran dahulu dengan Bora.

Yang membuatnya bingung untuk menjawabnya, ia kini terlihat seperti seorang suami yang ditanyai oleh istrinya ketika sang suaminya ternyata berselingkuh di belakangnya. Tapi.. Baekhyun kan tidak memiliki hubungan yang benar-benar khusus dengan Minjoo. Mereka.. hanya berteman.

“Aku tidur di kamarku. Maaf tidak memberitahumu semalam.” Memang benar kan jika Baekhyun tidur di dalam kamarnya semalam. Tapi dia tak berniat untuk menjelaskan lebih detail dengan siapanya ia tidur semalam.

Minjoo yang pasalnya sudah tahu jika semalam Baekhyun menghabiskan waktunya dengan Bora merasakan sebuah batu jatuh dari tebing menghantam dirinya. Bora yang memberi tahunya, dan Baekhyun yang mengkonfirmasi faktanya.

Ingin rasanya Minjoo mengeluarkan air matanya saat ini juga. Namun ia tak bisa. Ia tak boleh mengeluarkan cairan bening itu, tidak ingin Baekhyun mengetahui perasaannya. Baekhyun selama ini hanyalah menganggap Minjoo sebagai temannya, dan Minjoo yang selama ini terlalu menaruh harapan pada Baekhyun. ya, Minjoo lah yang salah di situasi ini.

Minjoo perlahan menarik senyumnya, menahan rasa sakit itu, lalu menjulurkan tangannya.

“Selamat Baekhyun-ah..” tutur gadis itu dengan nada suara yang ia buatkan ceria.

“Selamat telah mendapatkan gadismu kembali..”

Deg. tiba-tiba jantung Baekhyun berdetak sangat keras. Beberapa pulih keringat turun dari pelipisnya.

Apakah.. Minjoo mengetahuinya jika Baekhyun semalam tadi tidur dengan Bora? Tapi.. jika pun iya, harusnya Minjoo biasa saja. Dan memang gadis itu biasa saja. Hanya saja.. kenapa. Kenapa Baekhyun yang tidak bisa merasakan biasa saja?

Menatap tangan itu cukup lama, Baekhyun perlahan mengangkat tangannya untuk menyambut uluran tangan gadis itu.

“Mungkin sebentar lagi, Bora-ssi benar-benar akan berada di sampingmu, Baekhyun-ah..”Minjoo kembali menahan sakitnya dengan senyuman. “Aku bisa pastikan itu.”

Harusnya.. harusnya Baekhyun senang mendengar penuturan kata ini. Mendengar bahwa perjodohan ini sebentar lagi akan musnah dan kehidupannya dahulu akan kembali seperti semula, harusnya dia senang.

Tapi.. perasaan bernama “tidak rela” itu tiba-tiba muncul di hatinya. Membuatnya merasakan beban lagi di dalam tubuhnya.

Keluarga tuan Byun telah sampai sekitar dua jam yang lalu.

Ya, liburan pun tiba. Kepulauan Jeju kini telah berada di pijakan keluarga tersebut.

Setelah menitipkan barangnya untuk di antar ke hotel tanpa harus check in terlebih dahulu, mereka sekeluarga (di tambah Bora dan Minjoo) segera bergegas mengunjungi beberapa destinasi yang terkenal di kepulauan Jeju ini.

Mengunjungi kebun raya Yeomiji dengan berbagai warna dan macam bunganya yang membuatnya terlihat seperti pelangi disitu. Mengunjungi gunung tertinggi di Korea Selatan, yaitu gunung Halla dengan udara yang sangat menyejukkan di sekitarnya. Setelahnya mereka mengunjungi air terjun Cheonjeyeon, air terjun yang bisa menyegarkan semua pikiran orang yang mengunjunginya.

Keluarga tersebut menikmati setiap destinasi yang mereka tempuh, meresapi semua keindahannya. Terkecuali untuk seorang gadis yang selalu berjalan di belakang keluarga itu dan seorang lelaki yang selalu mengawasinya dari depan dengan kekasihnya yang selalu menempel di sebelahnya.

Baekhyun sedari tadi memerhatikan Minjoo yang tampak seperti murung, tidak menikmati keindahan-keindahan setiap tempatnya. Gadis itu hanya melihat ke sekitarnya dengan tatapan mata yang tak dapat di artikan. Seperti sedang memikirkan sesuatu yang tak dapat Baekhyun ketahui.

Sesungguhnya sedari tadi Baekhyun khawatir pada gadis itu. ingin sebenarnya ia menggenggam tangan Minjoo karena takut gadis itu kehilangan fokusnya dan berujung jadi salah arah dan tertinggal oleh Baekhyun dan keluarganya. Namun sialnya, kekasihnya yang sedari tadi merangkul lengannya tanpa barang sedikitpun ingin melepasnya, membuat Baekhyun harus memikirkan rencana kedua. Yaitu dengan mengawasi Minjoo oleh matanya.

Kali ini, mereka berada pada destinasi terakhir mereka, yaitu taman batu Mokseokwon. Taman dengan berbagai batu unik di dalamnya dan rata-rata berbentuk wajah.

“Oppa! Aku ingin mengambil foto disini!” Bora menarik tangan Baekhyun lalu berdiri di hadapan sebuah batu. Gadis itu mencari-cari orang yang mungkin bisa memotret mereka sampai akhirnya melihat Minjoo yang berjalan dengan wajah tertunduk ke arah mereka.

“Minjoo-ssi!” Bora memanggil gadis itu dan berhasil membuat Minjoo mendongakkan kepalanya.

“Tolong ambil fotoku bersama Baekhyun oppa disini.” Bora pun menyodorkan ponselnya pada Minjoo.

Minjoo menatap ponsel itu cukup lama. Mencoba untuk meneguhkan dirinya. Beberapa detik setelahnya, Minjoo pun mengambil ponsel Bora dan tersenyum pada gadis itu.

Minjoo memosisikan tubuhnya dan kamera itu, sama seperti Bora yang mulai sedikit membenarkan rambutnya lalu setelahnya merangkul lengan Baekhyun. membuat lagi-lagi hati Minjoo harus teriris.

Baekhyun sedikit risih dengan perlakuan Bora karena ia merasa canggung dengan Minjoo, ia pun sedikit melonggarkan eratan Bora padanya tanpa Bora ketahui.

“Sudah selesai.”

Minjoo mengembalikan ponsel itu kepada Bora dan Bora pun segera melihat hasil jepretannya. Selama Bora sedang melihat hasil jepretannya itu, Baekhyun menatap Minjoo dengan dalam. Mencoba memerhatikan setiap inci tubuh gadis ini. Ia benar-benar khawatir pada keadaan Minjoo sekarang, gadis itu seperti tidak berjiwa.

“Minjoo-ya.. kau tidak apa-apa?”

Minjoo mendongakkan kepalanya yang sedari tadi ia tundukkan. Ia melihat Baekhyun.

Oh Tuhan, seperti ribuan jarum menusuk hatinya, ingin sekali Minjoo bilang pada Baekhyun bahwa ia tidak baik-baik saja. Ia tidak baik-baik saja karena hatinya sungguh teramat sakit sekarang ini.

“Aku baik-baik saja.”

Baekhyun tahu kalau Minjoo sedang berbohong padanya. Bisa ia lihat dari bola mata Minjoo, bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan gadis ini.

Baekhyun hendak meraih tangan Minjoo, namun suara Bora terlebih dahulu menginterupsinya.

“Oppa! Ayo lihat kesana!” Bora menarik tangan Baekhyun dan membuat tubuh pria itu terhuyung menjauh dari Minjoo. Baekhyun masih bisa melihat tatapan gadis itu yang menujunya, tatapan yang entah kenapa membuat dadanya merasa sakit tiba-tiba.

Tubuh Baekhyun pun menghilang di mata Minjoo ketika Bora semakin menariknya jauh. Minjoo hanya bisa tersenyum getir melihat itu dan berjalan kembali mengikuti mereka di belakang dengan pikiran yang melayang.

“Kenapa kau harus merasa sakit Minjoo-ya, kan kalian memang berteman..” gumamnya pada diri sendiri.

Benar, Baekhyun dan Minjoo selama ini tak pernah memiliki hubungan yang lebih dari sekedar teman. menghabiskan waktu bersama itu memang hal yang tidak aneh dalam sebuah pertemanan.

Tapi bagaimana dengan berbagi ranjang bersama dan bertukar cerita sebelum terlelapnya? Bagaimana dengan pelukan yang pernah mereka lakukan sebelumnya? Bagaimana dengan kejadian yang terjadi di gedung teater dahulu, ketika Baekhyun hendak memangkas jarak antara bibir mereka? Apakah itu juga semua hal yang dilakukan oleh teman?

Minjoo terus melayang pada pikirannya tanpa ia sadari ia sedang berjalan ke arah seseorang yang memegang minuman di tangannya sambil mereka bebatuan itu lewat ponselnya.

Sama-sama tidak memiliki fokus pada apa yang di hadapannya, mereka berdua pun saling bertabrakan. Membuat minuman dari yang ternyata seorang lelaki itu tumpah membasahi kaus lelaki itu.

Minjoo yang masih melayangkan pikirannya walaupun ia tahu ia telah menabrak seseorang pun hanya membungkukan tubuhnya dan meminta maaf.

“Saya minta maaf.” Tanpa Minjoo sadari bahwa ia telah menumpahkan minuman itu ke kaus lelaki itu.

Lelaki itu dengan geramnya melihat ke arah Minjoo, “Huh?”

Minjoo pikir, lelaki yang berada di hadapannya ini adalah seorang turis asing. Maka dari itu Minjoo meralat permintaan maafnya.

“Oh, I am Sorry.” Membungkuk sekali lagi lalu setelah berjalan meninggalkan pria itu yang melihat Minjoo dengan api yang menyala di matanya.

Ia terkekeh pelan melihat Minjoo yang mulai menjauh dari pandangannya.

“Mwo?” berdecak kesal, ia melihat ke bajunya yang benar-benar kotor oleh minuman tersebut. “I am sorry?!”

Dia mendongakkan kepalanya kembali, berniat untuk memanggil gadis itu. namun ternyata nihil, gadis itu telah hilang dari pandangannya.

Ia berdecak kesal setelah kehilangan gadis itu, “Ya!! kau mengotori bajuku!!”

.

.

.

Mini bus yang membawa keluarga Byun pun telah sampai di hotel mereka kembali. Sebelum memasuki ruang kamar mereka masing-masing, mereka terlebih dahulu mengisi perut mereka dengan santapan malam yang telah di sediakan oleh hotel ini.

Mereka duduk di sebuah meja makan yang berbentuk bundar dengan urutan posisi duduk Bora, Baekhyun, Minjoo, Tuan Byun dan Nyonya Byun.

Tak lama dari situ, pelayan pun mendorong sebuah troli yang berisi pesanan makanan mereka semua dan setelahnya menaruh di atas meja mereka.

Baekhyun pun melihat ke setiap piring yang tersuguhkan di hadapannya. Melihat satu persatu isi dari piring tersebut.

“Aku tidak bisa memakan ini.” Ia menunjuk sebuah piring dengan hidangan japchae di atasnya.

“Waeyo? Inikan hanya japchae.. tanya Bora pada Baekhyun. Bora mengambil satu sumpit japchae lalu menyodorkannya di hadapan Baekhyun, membuat pria itu memundurkan wajahnya dan menatap makanan itu tidak suka.

“Kau kan suka dengan ini, Baekhyun-ah.”

Japchae itu di campur dengan mentimun.” Minjoo menginterupsi perbincangan mereka. Ia tahu penyebab apa yang membuat Baekhyun tidak bisa memakan japchae tersebut.

“Baekhyun tidak bisa memakan mentimun karena ia tidak tahan dengan baunya, Bora-ssi..” Minjoo mencoba menjelaskan pada Bora.

Tuan Byun terkekeh di sebelah Minjoo, “Wah.. sepertinya pernikahan kalian semakin membaik eoh? Makanan yang Baekhyun tidak suka pun Minjoo tahu..”

Nyonya Byun tahu saat ini pasti suaminya sedang merasa sangat menang karena mendapati Bora yang sudah melupakan perihal makanan yang tidak Baekhyun sukai. Nyonya Byun pun hanya bisa mendelik kesal pada suaminya lalu berdeham sebentar.

“Benar Bora-ya.. Baekhyun paling tidak bisa memakan mentimun sejak kecil. Kau tidak melihat di dalam japchae tersebut ada mentimunnya, bukan?” nyonya Byun mencoba membela Bora dan melihat ke arah tuan Byun dengan kesal. Tuan Byun hanya menatap istrinya itu dengan acuh tak acuh dan mengalihkan pandangannya untuk mengambil makanannya. Jelas-jelas kalau istrinya sedang mencari-cari kebenaran agar Bora terlihat benar di hadapannya.

“Y-ya.. eommonim.. aku tidak.. melihat ada mentimun tadi disitu..” bohongnya. Ia melihat japchae itu memang di campur dengan mentimun dan faktanya bahwa ia telah sedikit lupa dengan makanan yang Baekhyun tidak sukai. “Maafkan aku Oppa…”

Baekhyun mengalihkan pandangannya dengan melirik Minjoo yang berada di sebelahnya. ia pun menaikkan kedua sudut bibirnya, merasa senang karena perhatian Minjoo padanya masih tetap sama walaupun sesuatu telah terjadi sejak kemarin hari yang membuat mereka tampak semakin jauh.

Baekhyun menyukai setiap perhatian Minjoo padanya.

.

.

.

Setelah acara makan malam berakhir, mereka semua pun bergegas menuju kamar hotelnya masing-masing.

Kamar tuan Byun dan nyonya Byun berada di lantai 4, terpisah dengan kamar Baekhyun beserta Minjoo dan kamar Bora yang terletak di lantai 5.

Kamar Bora persis di hadapan kamar Baekhyun dan Minjoo, membuat setelah mereka sampai di hadapan ruang kamar tersebut Bora mengucapkan salam perpisahan dengan Baekhyun.

“Oppa.. aku ingin tidur bersamamu.”

Perkataan itu terdengar oleh Minjoo yang sedang berada di pintu kamarnya. entah sudah berapa kali hari ini hati Minjoo remuk. Mungkin sesungguhnya kali ini hati Minjoo sudah benar-benar tak bersisa kembali.

Baekhyun yang mendengar permintaan Bora pun menegangkan tubuhnya. Merasakan sesuatu yang sangat tidak mengenakkan muncul di dalam tubuhnya.

“Minjoo-ssi.. izinkan aku bertukar kamar denganmu.” Tuturnya tiba-tiba, membuat hati Minjoo benar-benar hancur seketika. “Aku tidur dengan Baekhyun Oppa, dan kau tidur di kamarku.”

Minjoo mencoba menahan rasa sakitnya. Ingin rasanya Minjoo menolak permintaan Bora dan memaki gadis itu karena ia telah mengganggu suaminya. Namun apa daya. Fakta yang menyatakan bahwa mereka saling mencintai membuat Minjoo harus menghancurkan impian itu. ia harus mengalah.

Minjoo memutar tubuhnya dan menatap mereka.

“Tentu saja.” Minjoo segera membuka pintu kamar yang seharusnya menjadi kamarnya dan Baekhyun, lalu menarik keluar kopernya.

“Silakan..” Minjoo mencoba tersenyum di akhir.

Bora pun tersenyum merekah dan setelahnya melakukan persis apa yang dilakukan Minjoo. Ia mengambil kopernya lalu keluar dari kamar yang seharusnya menjadi kamarnya.

“Gomawo, Minjoo-ssi.”

Ia pun menarik Baekhyun yang sedari tadi menatap ke arahnya tidak percaya. Ada perasaan yang aneh muncul di hati Baekhyun ketika Minjoo mengiyakan permintaan Bora. Sesuatu yang sedikit menyakiti hatinya.

Mereka berdua pun hilang di balik pintu dan menyisakan Minjoo yang masih berdiri di hadapan kamarnya.

Minjoo perlahan masuk ke dalam kamarnya lalu menutup pintunya. Ia menyandarkan tubuhnya pada pintu lalu memukul-mukul dadanya perlahan.

“Ya.. kau.. kenapa.. kau menyakitkan sekali,eoh?” gumamnya dengan titik-titik air mata yang berjatuhan di sudut matanya.

Dia dan Baekhyun benar-benar tak memiliki hubungan khusus apapun. Disini, hanya Minjoo lah yang memiliki perasaan dalam situasi yang salah ini. Perasaan yang seharusnya telah ia jaga selama ini dan nyatanya hanya semakin berkembang dan berkembang setiap harinya. Dan dimana hari yang paling ia takuti pun datang. Dimana bahwa kekasih Baekhyun datang kembali dan membuat Baekhyun meninggalkannya.

.

.

Minjoo keluar dari kamarnya dan berjalan menuju lift. Setelah sampai di lantai dasar, ia menemukan keluarga Byun beserta Bora yang telah menungguinya di lobby utama. Mereka akan melanjutkan liburan mereka kembali untuk mengunjungi beberapa tempat di kepulauan Jeju ini.

“Minjoo-ya, apa kau sakit?” tutur tuan Byun setelah Minjoo menghampiri mereka. Tuan Byun melihat wajah Minjoo yang sedikit terlihat pucat dan terdapat sedikit kantung mata disana.

“Tidak, Tuan.. aku.. baik-baik saja.”

Semalaman tadi, Minjoo menghabiskan waktu tidurnya dengan hanya menatap langit-langit ruang kamar hotelnya, untuk mencoba menghilangkan rasa sakitnya. Ia tak sadar, jika ia menghabiskan waktu itu selama 3 jam, yang membuatnya baru saja tertidur pukul 4 pagi.

Baekhyun yang menyadari itu pun menatap Minjoo dengan khawatir. Ia melihat dengan jelas jika wajah gadis itu sedikit pucat dan kantung mata itu terlihat jelas dimata Baekhyun.

“Apakah kau tidur dengan nyenyak?” Baekhyun dengar sergap menanyakan pertanyaan itu pada Minjoo, membuat Bora yang di sebelahnya melihat dengan sebal pada Minjoo.

Minjoo menolehkan kepalanya pada Baekhyun, lalu tersenyum disana. “Cukup nyenyak, Baekhyun-ah.”

Baekhyun bisa melihat dengan jelas di mata Minjoo bahwa gadis itu sedang berbohong padanya.

“Kau berbohong.” Tuturnya dengan datar.

Minjoo menelan salivanya dengan gusar, “Semalam AC di kamarku terlalu dingin, itulah yang membuatku sedikit susah tidur sebenarnya..” bohong gadis itu.

“Tapi aku benar-benar baik-baik saja sekarang..”

Baekhyun menatap gadis itu dan mencoba mencari kebohongan disana. Mendapat tatapan seperti itu, membuat hati Minjoo kembali berdegup dan Minjoo harus menolaknya. Ia mengalihkan pandangannya dan menatap tuan Byun yang sedari tadi juga melihat khawatir kepadanya.

“Aku benar-benar tidak apa-apa, tuan..” Minjoo tersenyum. “Tidak usah mengkhawatirkanku, dan kenapa kita tidak bergegas saja sekarang sebelum terlalu siang?”

Tuan Byun pun menghelas napasnya. Dia tahu sebenarnya Minjoo sedang tidak berada kondisi yang baik. Tapi mau bagaimana lagi? Gadis itu selalu keras kepala dengan pendiriannya dan membuat semua orang harus menuruti apa perkataannya. Tuan Byun membiarkannya percaya pada Minjoo bahwa gadis itu baik-baik saja.

“Aku sedang menunggu rekan bisnisku yang sedang berlibur disini juga. Kebetulan ia menginap di hotel ini juga dan aku berniat mengajaknya pergi bersama..”

Tuan Byun mengedarkan pandangannya ke penjuru arah. Tepat ketika ia melihat pintu lift terbuka, ia membulatkan matanya dan tersenyum setelahnya.

“Itu orangnya..”

Terdapat sepasang suami istri dan seorang lelaki muda berkacamata hitam yang menghampiri mereka.

“Maaf membuatmu menunggu lama, tuan Byun..” sepasang suami istri itu pun membungkuk hormat pada tuan Byun setelah berada di hadapannya. Lelaki muda berkacamata hitam itu tak memperhatikan orang tuanya yang ternyata sedang menyibukkan dirinya dengan ponselnya itu.

“Tidak apa-apa, tuan dan Nyonya Lu..” tuan Byun tersenyum pada mereka. Lalu setelahnya melirik lelaki muda berkacamata hitam tadi yang berada di belakang mereka. “Apakah itu anakmu?”

Tuan Lu menyenggol lengan lelaki muda berkacamata hitam tadi yang notabenenya adalah anaknya. Lelaki muda itu pun tersadar lalu menaruh ponselnya kedalam sakunya. Setelahnya ia membungkuk hormat pada tuan dan nyonya Byun.

“Iya ini anakku. Luhan.”

Luhan menegakkan posisi tubuhnya kembali lalu melihat ke arah orang yang berada di belakang tuan dan nyonya Byun.

Matanya membulat ketika melihat gadis yang menggunakan dress bermotif bunga-bunga dan cardigan yang menutupi lengannya.

“Ah, ini anakku, Baekhyun, Bora temannya dan—“

“Kau…” Luhan membuka kacamatanya dan menunjuk ke arah Minjoo.

Minjoo menatap Luhan  dengan kerutan di keningnya.

“Kau siapa—“

“Saya minta maaf.”

“Huh?”

“Oh, I am sorry.”

“Ah!” Minjoo teringat dengan kejadian tempo hari. “Kau yang kemarin kutabrak, bukan?”

Tuan Byun menghentikan aktivitasnya untuk mengenalkan Minjoo pada keluarga Lu. Melihat sepertinya mereka telah saling mengenal.

“Aku minta maaf karena telah menabrakmu, eoh?” Minjoo tersenyum di akhir kata. Ia pun membungkukan tubuhnya juga setelahnya.

Luhan mendesis kesal melihat Minjoo, “Ya. kau pikir dengan meminta maaf aku akan memaafkanmu?”

Tuan Lu yang mendengar penuturan kata anaknya itu pun sedikit menginterupsi pembicaraan mereka, “Luhan-ah, jaga bicaramu.”

Luhan tak memperdulikan perkataan Ayahnya dan setelah Minjoo menegakkan kembali tubuhnya ia menarik tangan Minjoo.

“Kau harus mencuci bajuku yang tumpah oleh minuman karena di tabrak olehmu!”

“Mwo?” Minjoo membulatkan kedua matanya tidak percaya. “Mencuci bajumu?”

Luhan tidak memperdulikan lagi perkataan Minjoo dan dengan lekas menarik tangan gadis itu dengan paksa. Membuat tuan Lu dan nyonya Lu menggeleng pelan atas perlakuan anaknya.

“Maaf tuan Byun, tapi anakmu ini membuat kesalahan dan aku harus menghukumnya. Jadi, saya akan membawa dia terlebih dahulu.” Luhan membungkuk hormat di akhir setelahnya menarik Minjoo dengan paksa walaupun gadis itu sedikit meronta-ronta meminta untuk di lepaskan. Tuan Byun pun hanya tersenyum kecil lalu mengangguk setelahnya. Membiarkan Minjoo bertanggung jawab atas kesalahannya.

Baekhyun yang melihat itu ingin sekali memukul Luhan dan menarik Minjoo darinya. Bukankah ia keterlaluan? Hanya karena Minjoo menabraknya dan membuat bajunya kotor lalu harus mencuci bajunya itu sungguh berlebihan. Baekhyun hendak berjalan menghampiri mereka yang sudah berada jauh di hadapannya

Namun Bora mencegah pria itu.

“Oppa mau kemana?” Bora merangkulkan tangannya lebih erat pada Baekhyun. “Kita akan pergi sekarang..”

Ingin sekali Baekhyun melepas tangan Bora darinya. Tapi kenapa, ia tak bisa melakukan itu.

Akhirnya ia pun menuruti keinginan Bora dan membiarkan Minjoo di bawa oleh Luhan untuk bertanggung jawab tadi.

.

.

“Ya! Apa kau tak terlalu berlebihan, eoh?!” Minjoo memekik pada Luhan yang berada di hadapannya. Sekarang ini Minjoo sedang mencuci baju Luhan yang ia kotori karena menabraknya kemarin di kamar mandi kamar hotel Luhan. “Aku bisa mengganti baju ini jika kau mau, kenapa kau berlebihan sekali!!”

Luhan mendesis kesal pada Minjoo, “Shireo. Aku tak mau baju itu digantikan oleh apapun. Aku ingin kau membuatnya bersih seperti semula!”

“Memangnya seberapa pentingnya baju ini untukmu, hah!? Baju ini tampak terlihat sama saja dengan baju yang lain-lainnya!”

“Itu bukan urusanmu.”

Minjoo menggeram dengan kesal seraya terus berucap sumpah serapah dalam hatinya. Mimpi apa ia semalam harus bertemu dengan pria semenyebalkan ini.

“Kau lihat?!” Minjoo pun mengangkat baju itu dan menunjukkan di hadapan Luhan. “Sudah bersih seperti semula. Kau puas?!”

Luhan memperhatikan setiap detail bajunya ini, tak ingin jika masih ada setitik noda di dalam baju itu.

Nihil ternyata. Baju itu memang telah bersih kembali.

Luhan tersenyum, “Sekarang kau jemur baju itu di luar sana.” Luhan menunjuk balkon kamarnya dengan dagunya.

“Kenapa mesti aku lagi?!” Minjoo memekik dengan amat keras. Astaga, pria ini benar-benar menyebalkan. Lebih menyebalkan dari Baekhyun ketika gadis itu pertama kali bertemu dengannya.

“Karena kau yang telah mengotorinya.”

Minjoo mencoba berucap doa di dalam batinnya, doa yang berartikan bahwa ia harus bersikap sabar dengan apapun yang di tempuhnya. Ia pun menatap nyalak pada Luhan, lalu berjalan melewatinya dan menjemur pakaian itu di balkon kamar.

“Kau puas?!”

Luhan mengangguk sekali, “Sangat puas.”

Minjoo pun menutup matanya dan menggeram kembali di dalam batinnya.

“Aku harus sabar, aku harus sabar..” gumamnya.

“Apa yang kau lakukan disana?” tutur Luhan menginterupsi gumaman Minjoo, “Cepat, kita akan menyusuli keluargaku dan keluargamu di Gua Hyeopjae.”

Luhan pun memutar tubuhnya dan bergegas menuju pintu kamarnya. membuat Minjoo melihatnya sambil menggeleng-geleng kan kepalanya.

.

.

.

Luhan memerhatikan gadis yang berada di hadapannya dengan kerutan di keningnya. Pasalnya, sedari tadi, semenjak mereka sedang menyusuri gua Hyeopjae ini, gadis itu berjalan dengan pandangan yang tidak fokus. Bahkan, sudah beberapa orang yang hampir menjadi korban tabrakannya lagi kalau saja orang tersebut tidak menyadarinya dan tidak melangkahkan kakinya untuk menjauhi Minjoo.

“Kenapa dengan gadis itu?”

Luhan terus menatap gadis itu dari belakang. Keluarga mereka berada di hadapan mereka, namun cukup jauh juga dari posisi mereka.

Tadinya Luhan hendak mengacuhkan gadis itu dan berjalan mendahuluinya.

Namun kejadian itu pun terjadi.

“Argh!”

Luhan memutar tubuhnya dan melihat kejadian tersebut. Minjoo telah berhasil menabrak seorang turis asing dan lagi membuat baju turis asing itu kotor oleh karenanya.

“What are you doing, huh?!”

Minjoo tersentak kaget karena nada tinggi pria yang di tabraknya.

“I a-am so-sorry..”

“Sorry? You didn’t see what you’ve done to my shirt huh?!” pekik turis yang ternyata berasal dari negeri bagian barat itu pada Minjoo.

Luhan bisa lihat jika Minjoo ketakutan disana. Ia bahkan menundukkan wajahnya dalam-dalam.

Ia pun menghembuskan napasnya kasar, lalu berjalan menghampiri mereka.

“You hear what she has said?” Luhan menginterupsi perkataan turis asing tadi. Membuat Minjoo mendongakkan kepalanya.

“She said sorry. Isn’t that enough?”

Turis asing itu melihat Luhan dengan mendelik, “Who are you?”

“I’m his brother.” Luhan pun melihat ke arah kaus turis asing itu yang kotor karena Minjoo. Ia pun mengambil dompet dari saku belakangnya. Lalu ia mengeluarkan beberapa lembar uang dari sana. “I’ll pay for that. In near here, theres a laundry shop which is you can wash it in there”

Turis asing itu mengambil uang dari tangan Luhan dan segera meninggalkan mereka. “You’d better watch your sister.”

Setelah turis asing itu pergi, Luhan menghadapkan tubuhnya pada Minjoo.

“Kau ini memang memiliki hobi menabrak dan mengotori baju orang-orang, huh?”

Minjoo menatap Luhan di matanya. “Terima kasih telah menolongku.” Lalu tersenyum di akhirnya.

Luhan semakin mengerutkan keningnya, kenapa gadis ini menjadi lemah seperti ini. Tidak seperti tadi ketika di kamarnya, Minjoo membentak-bentak Luhan terus menerus. Setelah berterimakasih, Minjoo melanjutkan jalannya kembali, menyusuli keluarga Luhan dan keluarganya. Dan Luhan pun mengikutinya dari belakang seraya masih menatapnya dengan bingung.

.

.

Kali ini, keluarga Luhan dan keluarga Baekhyun mengunjungi pantai yang tak jauh dari gua yang baru mereka kunjungi, yaitu pantai Hyeopjae. Mereka menaiki perahu listrik yang membawanya mengelilingi pantai tersebut.

Mereka semua menikmati pemandangan itu, menghirup udara hangat yang menerpa kulit mereka dan mencoba untuk menyegarkan pikiran mereka. Namun lagi lagi, terkecuali seorang pria dengan kekasihnya yang selalu berada di sebelahnya dan seorang gadis yang tepat berada di belakangnya dan menatap punggung pria itu dengan sendu.

Mereka berdua sama-sama memiliki pemikiran yang tak jauh berbeda. Ada sesuatu yang mengganjal di hati mereka, yang membuat mereka tidak bisa menikmati indahnya pantai ini.

Sesuatu yang membuat hati mereka hampa dan kehilangan.

Sejak Bora datang pada waktu itu, entah kenapa Baekhyun tidak merasakan hal yang sama seperti mereka dahulu berpacaran. Maksudnya, seharusnya perasaan itu masih ada di dalam hatinya. Dan Baekhyun selama beberapa hari ini selalu meyakinkan bahwa perasaan itu masih ada disana.

“Oppa.. kau kenapa diam saja sedari tadi, huh?” Bora semakin merekatkan lengannya pada Baekhyun, lalu menjatuhkan kepalanya pada pundak Baekhyun. “Ada sesuatu yang tidak benarkah?”

Baekhyun memerhatikan Bora dari ekor matanya. perasaan ini.. tidak semenggebu dahulu ketika mereka bersama. Tidak senyaman ketika mereka dahulu bersama. Baekhyun ingin sekali perasaan yang dahulu itu tetap berada di hatinya. tapi ego dan hatinya tidak pernah selaras seperti dahulu. sesuatu yang baru itu memang benar-benar telah tumbuh disana.

Minjoo yang berada di belakang Baekhyun dan melihat pemandangan itu, lagi-lagi hanya bisa menahan rasa sakitnya.

Baekhyun benar-benar masih mencintai Bora dan kesempatan untuk Minjoo berada di dalam hati Baekhyun sudah hilang.

Tanpa Minjoo sadari, gadis itu menurunkan air matanya dari sudut matanya. perasaanya tak bisa ia bendung lagi.

Pasalnya setiap manusia memiliki batas kesabaran yang telah Tuhan berikan padanya. Dan kali ini, Minjoo tidak bisa lagi menahannya. Pertahanannya runtuh, hatinya benar hancur, bubuk seperti halnya jika kau terus menumbuk gula batu dan menjadikannya gula pasir.

“Hapus air matamu.” Luhan menyodorkan sapu tangan di hadapan Minjoo. “Kalau ingin menangis jangan disini. Bisa-bisa aku disangka penyebabnya.”

Minjoo mendesis kesal pada Luhan lalu menghapus air matanya dengan punggung tangannya.

“Aku tidak menangis.”

“Tidak menangis?” Luhan terkekeh kecil. “Ya. punggung tanganmu basah setelah kau mengusap pipimu. Memangnya air dari mana itu, hm?”

Minjoo menatap Luhan dengan sebal lalu setelahnya ia mengalihkan pandangannya menatap lautan yang menjuntang luas di hadapannya. Mengacuhkan pria itu, tak berniat berdebat dengannya kembali.

Sedari tadi, Luhan memerhatikan gadis yang duduk di sebelahnya, Minjoo. Ia melihat Minjoo menatap punggung anak tuan Byun dengan sendu dan lambat laun mengeluarkan air matanya. ia yang menyadari itu pun langsung menyodorkan sarung tangannya tadi dengan sejuta pertanyaan di kepalanya.

“bukankah dia anak tuan Byun? Lalu kenapa dia menangis?” gumam Luhan dalam hatinya.

Malam ini terdapat pesta pantai mingguan di pantai Hyeopjae. Beberapa warga disana dan tentunya wisatawan pun menghadiri pesta pantai tersebut. pesta ini telah menjadi tradisi untuk warga disana, selain untuk meramaikan pantai tentunya untuk menambah penghasilan dari pesta tersebut.

Alunan musik reggae menginterupsi setiap pengunjung pesta, di terangi beberapa lampu kerlap kerlip dan api unggun yang menghiasi. Membuat pesta itu semakin menarik pengunjungnya.

Beberapa orang pun sedang melakukan beberapa permainan seperti menari salsa, memainkan hula hoop, dan bahkan ada sebuah pertunjukan api disana. Membuat pesta itu semakin hidup.

Baekhyun terduduk dikursinya dan melihat ke seorang gadis yang berada jauh darinya namun masih bisa tertangkap oleh netranya. Gadis yang terduduk di meja sendirian sambil melihat ke sekitarnya dengan pandangan kosong.

Lagi-lagi, Minjoo selalu berhasil membuatnya khawatir. Seharian penuh ini Baekhyun menyadari kalau Minjoo sedang tidak baik-baik saja. Ia selalu menangkap pandangan Minjoo yang terlihat kosong namun setelah Baekhyun menatapnya, Minjoo tersenyum padanya seakan-akan tidak ada apa-apa dengannya. Membuat Baekhyun ingin sekali menarik tangan gadis itu dan meminta penjelasan padanya.

“Oppa.. kau tidak ikut menari kesana, huh?” Bora datang dari kerumunan yang sedang menari salsa tadi. Gadis ini memang senang sekali dengan keramaian.

“Aku tidak suka. Terlalu ramai.”

Bora mengerutkan keningnya, “Sejak kapan Oppa tidak suka ramai? Oppa kan selalu menghabiskan waktu Oppa di bar dahulu.”

Perkataan Bora barusan membuatnya tersadar akan sesuatu hal. Selama ini, Baekhyun menyadari, banyak sekali perubahan yang terjadi di dalam dirinya. ia sudah jarang sekali memakai uang dari Ayahnya yang memang masih sering Ayahnya kirim kan ke rekeningnya. Baekhyun lebih sering menggunakan uang dari hasil kerjanya selama magang di perusahaan Ayahnya kemarin ini. Dan untuk yang baru saja Bora katakan, benar, ia sudah sangat jarang sekali mengunjungi hal-hal gemerlap seperti bar itu. mungkin terakhir kali ia mengunjunginya adalah ketika Bora memutuskannya kurang lebih 5 bulan yang lalu.

Kenapa itu semua bisa terjadi padanya? Ia tak tahu itu. ia pun menatap gadis itu kembali, gadis yang telah hadir dalam hidupnya untuk beberapa bulan ini. Gadis yang mungkin sebenarnya menjadi jawaban dari pertanyaannya.

.

.

“Ini untukmu.” Luhan menaruh sebuah gelas berisi orange juice di hadapan Minjoo. Minjoo pun tersadar dari lamunannya lalu melihat ke arah Luhan.

“Kau sepertinya tidak menyukai pesta seperti ini, huh?” tanya Luhan yang sedari tadi memerhatikannya dari jauh dan mendapati gadis itu masih dengan tatapan yang sama seperti siang tadi.

“Ini terlalu ramai. Aku tidak terlalu suka keramaian.”

Luhan menganggukan kepalanya setelahnya mereka di landa keheningan yang cukup lama.

“Kaus itu merupakan pemberian dari mantan tunanganku.”

Mendengarkan penuturan kata Luhan, Minjoo menolehkan kepalanya dan melihat ke arah Luhan.

“Aku putus dengannya karena dia salah paham padaku. Dia menganggap kalau aku telah selingkuh darinya selama aku di China kemarin..” entah kenapa Luhan jadi menceritakan dirinya karena keheningan tersebut. “Maka dari itu, kaus itu sangat berharga untukku.”

Minjoo menatap Luhan dengan bersalah, “Ya.. kenapa kau tidak bilang kalau begitu? Aku jadi merasa bersalah kan..”

Luhan terkekeh kecil, “Aku hanya tidak ingin membuka kenangan pahit itu lagi.”

Minjoo menatap Luhan dengan bingung. “Tapi, kau tidak benar-benar selingkuh darinya kan?”

Setelah mendengar perkataan barusan, Luhan menolehkan kepalanya dengan cepat dan menatap Minjoo dengan sedikit garang. “tentu saja tidak! Aku sangat mencintainya, bahkan sampai detik ini pun aku masih mencintainya..”

“Salah seorang sahabat tunanganku yang menyukaiku, memfitnahku dan bilang bahwa dia hamil karenaku. Tanpa mau mendengarkan penjelasanku terlebih dahulu, ia dengan begitu saja memutuskan hubungan kami..”

Ternyata Minjoo salah dengan orang ini. Luhan juga memiliki masalah yang cukup berat di hidupnya. ia kira Luhan yang menyebalkan ini hidup tanpa beban dan bertingkah seenaknya saja.

“Kenapa kau tidak mencoba mengejarnya? Apakah kekasihmu orang Korea?”

“Aku sedang melakukannya. Setelah selesai berlibur darisini, aku akan pergi ke Seoul dan menghampirinya. Menjelaskan semuanya padanya.”

Minjoo mengangguk, “Bagus kalau begitu..”

Luhan menghembuskan napasnya lalu melihat ke arah Minjoo dengan mata memicing.

“Sekarang giliranmu. Aku ingin tahu kenapa kau menangis ketika berada di perahu listrik siang tadi?”

Minjoo menegangkan tubuhnya. Melihat Luhan dengan gelagapan.

“dan juga aku ingin tahu.. apa hubunganmu sebenarnya dengan saudaramu, Baekhyun?”

Minjoo menaikkan alisnya. Saudara?

“Ya.. kau pasti salah paham..” Minjoo tertawa kecil setelahnya. Ia melihat Luhan membuat kerutan di dahinya sambil menatapnya. Mungkin, tak ada salahnya jika Minjoo menceritakan ini pada Luhan, toh Luhan juga sudah bercerita tentangnya. Luhan pasti bisa menyimpan rahasia ini.

“Baekhyun itu.. suamiku.”

Luhan membulatkan matanya. ekspresi yang sudah Minjoo tebak sejak sebelumnya.

“Mwo?!”

“Aku menikahinya karena perjodohan. Sekitar 7 bulan yang lalu, Ayahnya mengalami kecelakaan maut dan aku lah yang menyelamatkannya pada saat itu. Ayahnya ingin berbalas budi padaku dan.. ya beginilah. Ia menjodohkanku dengan Baekhyun..”

Luhan menatap Minjoo tidak percaya, dengan mulutnya setengah terbuka.

“Wah.. kukira perjodohan seperti itu sudah tidak ada di permukaan bumi ini..”

Minjoo mengangkat kedua bahunya acuh, “Aku pun tak percaya bahwa aku menjadi tokoh utama dalam kejadian tersebut.”

Luhan terkekeh sebentar. Lalu setelahnya ia menatap Minjoo kembali dengan lurus.

“Biar kutebak, Kau jatuh hati padanya, bukan?”

Luhan menembak pertanyaannya dengan jitu. Membuat Minjoo diam seribu bahasa. Ia tak bisa menjawab pertanyaan tersebut atau bisa-bisa harga dirinya jatuh seketika.

“Hey tak usah diam seperti itu. dari raut wajahmu saja terlihat jelas kalau pertanyaanku barusan sebenarnya menghasilkan jawaban ‘Iya’”

Minjoo menolehkan kepalanya pada Luhan. “Kau..”

Luhan mengangkat bahunya acuh. “Sudahlah, aku tahu kejadian seperti ini pasti akan terjadi. Maksudku, kalian sudah tinggal cukup lama dan perasaan itu tidak mungkin tidak muncul kan?” Luhan menegus orange juicenya kembali. “Tidak usah takut, aku tak akan memberitahunya.”

Mau bagaimana lagi? Luhan sudah mengetahuinya tanpa Minjoo berkata sedikitpun. Biarlah, biarkan Luhan menjadi orang kedua yang mengetahui perasaannya pada Baekhyun setelah Yubi.

“Dan gadis yang sedari tadi berada di sampingnya itu pasti kekasihnya, bukan?”

Lagi-lagi Luhan menembak pertanyaan dengan jitu. Minjoo bingung, Luhan bilang ia tak percaya dengan kenyataan bahwa perjodohan seperti ini masih ada tapi mengapa ia bisa menebak setiap alurnya dengan benar. Apakah Luhan seorang cenayang.

“Minjoo-ssi.. aku turut perihatin padamu, eoh?” Luhan mencoba tersenyum pada Minjoo, menyalurkan rasa simpatinya. Minjoo pun hanya bisa mengangguk dan membalas senyuman itu

“Gomawo. Terima kasih telah mau mendengarkan ceritaku.”

Luhan mengangguk-angguk, “Bukan masalah.”

Luhan mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru arah.

“Nah, karena kita ini merupakan orang yang sedang patah hati, bagaimana jika kita menonton pertunjukan itu!” Luhan menunjuk pertunjukan api yang tak jauh darinya.

Minjoo melihat ke arah yang Luhan tunjuk, lalu tertawa setelahnya. “Call!”

Mereka pun beranjak dari kursi mereka, lalu menuju ke pertunjukan itu. membuat lelaki yang sedari tadi menatap mereka dari kejauhan mengepalkan tangannya.

Luhan dan Minjoo pun menikmati pertunjukkan api itu. seorang lelaki akan meminum sesuatu yang terlihat seperti air lalu setelahnya akan menyemburkan nya ke arah obor apinya dan mengeluarkan api dari sana. Ia pun bermain-main juga dengan tongkat api yang ia pegang tanpa pelindung apapun di tangannya. membuat Luhan dan Minjoo berdecak kagum melihatnya.

Ketika orang tersebut menyemburkan apinya ke arah tanah, tak sengaja api itu menimbulkan efek yang cukup besar hingga membuat kaki kanan Minjoo menjadi korbannya.

“Argh!” Minjoo merintih kesakitan ketika api itu membakar kaki kanannya. Membuat sang pemain api itu menghentikan aksinya dan orang-orang yang di sekitar menatap Minjoo dengan perihatin.

“Agasshi.. a-aku m-minta ma-af..” pekik pemain api tadi dengan gemetar. Takut-takut ia dilaporkan ke polisi atas perlakuannya.

Luhan yang berada di sebelahnya pun langsung tersentak keget dan dengan segera memeriksa kaki kanan Minjoo. Kakinya terbakar cukup parah, membuat kulitnya sedikit melepuh karena gadis itu tadi melepas sepatunya ketika menonton pertunjukan yang berarti api tersebut benar-benar membakar kulit kakinya.

“Kau bisa berjalan? Kita harus segera mengobatinya..” tanya Luhan pada Minjoo dengan sedikit panik. Minjoo pun mengangguk pelan, setelahnya Luhan memegangi pinggang Minjoo dan membantu gadis itu berjalan.

“Argh..” Baru saja Minjoo mengambil satu langkahnya, rasa pedih mencuat dari kakinya dan terasa amat sakit sekali.

“Kurasa aku tidak bisa berjalan, Luhan-ah..”

“Baiklah, tidak apa-apa..” Luhan pun menempelkan lengannya di bawah paha Minjoo dan menaruh lengan yang satunya lagi di punggung Minjoo. lengan Minjoo pun terotomatia mengalung di lehernya, mempermudah ia untuk mengangkat gadis itu.

“Maaf karena lancang mengangkatmu seperti ini.” Tuturnya kemudian segera membawa Minjoo pergi kerumunan dan menuju kamar hotel gadis itu.

Baekhyun yang melihat kejadian itu dari kejauhan hanya bisa mengepalkan lengannya. Awalnya ia berencana untuk merebut posisi Luhan dan segera memberikan pertolongan gadis itu.

“Siapa lelaki itu sebenarnya.” Gumamnya dengan kesal.

.

.

“Aaw.. pelan-pelan Luhan-ah..”

Luhan kali ini sedang menutupi luka Minjoo dengan perban, setelah berhasil membersihkan lukanya dengan alkohol dan memberikan salep agar luka melepuhnya tidak terlalu lama.

“Ini sudah pelan-pelan, Minjoo-ya. kau ini cerewet sekali.”

Minjoo memanyunkan bibirnya dengan sebal pada Luhan dan melihat kembali ke arah kaki kanannya.

“Sudah selesai.” Luhan pun mengikat menempelkan pengerat pada lilitan terakhir, agar perban tersebut tidak rusak. “Aku tidak bisa memastikan jika kulitmu tidak menimbulkan bekas luka bakar, namun tadi aku telah mengolesinya dengan salep yang bisa setidaknya membuat lukamu tidak terlalu membekas nantinya.”

Minjoo mengangguk-angguk. “Gomawo, terima kasih telah menolongku.”

Luhan mengangguk sekali, “Kau berhutang padaku, ok?”

Minjoo menatapnya dengan memicingkan matanya, “Kau.. benar-benar hitungan sekali..”

Luhan tertawa mendengar perkataan Minjoo, setelahnya ia membantu Minjoo untuk mengangkat kakinya ke atas kasurnya dan menyandarkan punggungnya di sandaran ranjangnya.

“Kau membutuhkan bantuan lain?”

Minjoo menerawang sebentar, “Aku ingin kau membelikanku buah-buahan, ayam, soda, snack—“

“Ya!! kau pikir aku pembantumu hah?!”

Minjoo pun tertawa dengan puas, “Aku bercanda. Sepertinya tidak ada…”

Luhan tertawa menanggapi jahilan Minjoo tadi, “Baiklah kalau begitu.” Luhan melihat ke arloji di tangannya. “Ini sudah terlalu malam, kurasa aku harus kembali ke kamarku..”

Minjoo mengangguk kembali, “Terima kasih sekali lagi, Luhan-ah..”

Luhan menunjukkan jempolnya, “Tak masalah Chingu!”

Mereka pun terkekeh dan akhirnya Luhan berjalan menuju pintu keluar kamar Minjoo.

Tepat ketika Luhan berada di luar kamar Minjoo, ia menemukan Baekhyun sedang berdiri di hadapan kamar Minjoo.

“Baekhyun-ssi?” Luhan menutup pintu kamar Minjoo perlahan. “Kenapa kau kemari?”

“Bagaimana keadaannya? Apakah lukanya cukup serius?”

Luhan menatap Baekhyun dengan tajam. Baekhyun tidak berada di sekitarnya ketika kejadian tadi, seingatnya. Luhan tahu bahwa ketika di pesta pantai tadi, Baekhyun menghabiskan waktunya dengan kekasihnya. Dan tak pernah sedikit pun melihat Baekhyun berada di sekitarnya.

“Bagaimana kau bisa tahu? Kurasa kau tak berada di sekitarnya sedari tadi..”

Baekhyun pun terdiam di tempatnya. Ia ketahuan bahwa ia telah memerhatikan Minjoo ketika gadis itu terkena insiden di pertunjukan api itu. bahkan, Baekhyun telah mengawasinya ketika ia masih duduk sendirian di meja tadi, sebelum Luhan menghampirinya

Melihat gelagat Baekhyun seperti ini, Luhan pun menemukan jawabannya. ia menaikkan kedua sudut bibirnya.

“Kau mengawasinya sedari tadi, bukan?”

Baekhyun menatap Luhan tidak suka. Pria ini terlalu mengurusi dirinya. masalah Baekhyun mengawasinya atau tidak bukan urusan pria ini.

“Aku bertanya, apakah dia baik-baik saja? Apakah lukanya parah?”

Luhan terus mempertahankan senyumnya tanpa mau menjawab pertanyaan Baekhyun. oh, ternyata ia salah. Ia pikir, cerita Minjoo menceritakan betapa perihnya cinta bertepuk sebelah tangan itu. betapa menyedihkannya mencintai seseorang yang telah memiliki kekasih hati. Terlebih ini adalah sebuah perjodohan yang dimana lebih menyedihkannya lagi, orang yang seharusnya sudah sah menjadi milikmu mencintai orang lain.

Tapi Luhan salah. Ini bukanlah cerita cinta bertepuk sebelah tangan.

“Kalau kau mengkhawatirkannya, kenapa kau tidak menanyakan saja langsung padanya, Baekhyun-ssi?”

Baekhyun mengepalkan tangannya dan menatap Luhan semakin tidak suka.

Benar, Ini bukanlah cerita tentang cinta bertepuk sebelah tangan. Ini menceritakan bagaimana egoisnya ego mereka untuk menahan perasaan mereka masing-masing untuk tumbuh semakin besar.

—TBC—

Halo guys…. Maaf ya ini apaan loh menurutku…. Aku bikinnya ini ngebut banget dan harusnya sih ada angstnya gitu. Tapi ini menurutku nggak ada sama sekali.

Aku kembali merasa gagal menulis ff ini…. Mianhamnida /sujud di hadapan kalian/

Ohiya aku mau ngasih tau sama kalian, berkat doa kalian kemarin, Alhamdulillah aku keterima di salah satu jurusan yang aku inginkan di salah satu ptn yang berada di sekitar wilayahku!! Terimakasih, aku benar-benar terimakasih atas doa kalian kemarin!! Tapi maaf aku belum bisa balas terima kasih kalian dengan menulis ff dengan benar.. chapter ini.. garing menurutku….

Sudah lah… maafkan aku ya…..

dan kalo ada typo(s) maafkan aku juga ya….

koleksi-bunga-di-rumah-kaca

Kebun Raya Yeomiji

gunung-halla

gunung Halla

images

air terjun Cheonjeyeon

jeju-island

taman batu Mokseokwon

-Baek’s sooner to be fiancée again-

342 responses to “THE SUN [Chapter 8: Days in Jeju] -by ByeonieB

  1. Makin keren aja ceritanya . ihh..tapi sebel banget sama bora kenapa sih dia harus ikut kan kasihan minjoo, baekhyun juga gak nyadar2 sama perasaannya
    next bacanya hehe ^^

  2. Aku kesel sam Baekhyun disini u.u nempel mulu sama Bora. Ga liat apa Minjoo sampe menyendiri gitu, untung ada Luhan. Baekhyun harus bisa lebih peka ><

  3. yaoloohh bora ganjen banget sih.
    minjoo yang sabar yah okehh-
    ciee baek cemburuu.. baek gapekaan sih. greget sungguh:””
    ini nyonya byun juga nyebelin sekali csung

  4. kesel banget sama baekhyun kenapa dia gak sama minjoo aja sih padahal dia juga khawatir sama minjoo malah dia kalo sama bora lemah banget gitu ya hmm.
    tapi gapapalah seenggaknya minjoo maduh ada yang jaga yee ada luhan hihi.
    entar luhan deket sama minjoo terus.
    makin keren kak
    aku baca next chapternya dulu

  5. minjoo sabar banget yaaa… suami nya bergandenfan tangan sma cwe lain aja dia gak marah2… kli aju yang jadi minjoo mungkin aku akan marah2 sma si baek and si boraaa… huh. see you next chap ya

  6. Hyaa mama Byun keterlaluan, msa Boora diajak liburan kluarga sih T.T
    kasian Minjoo😦 Minjoo nya ama Lulu aj deh😄 /plak/
    Baek nya jg juhut ngpain ngurusin Boora sih, kn Minjoo istrimu Baek aduh T.T
    aaa g kerasa uda chap 8, 11 chap lg mnju akhir(?) fighting!!! :*

  7. tau gak sih, aku tuh dari tadi nungguin sehun supaya ada di sisi minjoo >< kasian banget dia mesti ngerasain sakit tanpa ada yg di deket dia tapi syukurlah ada lulu ^^ jadi baek bisa ngerasain jealous liat minjoo sama lulu, lulu berasa kayak malaikat pelindung :v haha

  8. Pengen ngebunuh bora!!
    Kesel banget ih nempel mulu sama baek
    Luhaann si penyelamat minjoo
    Ini couple pada egois semua ga mau ngakui perasaan masing”

  9. Untung ada luhan jdi minjoo gak bete2 bgt….baek kmu sebenernya udah cinta sama minjoo…udah blg aja ke si bora kli udah gak cinta sma dy

  10. Uwaaaahh makin rame. Kasian minjoo nya pasti sakit harus nahan itu semußa. Baek nya juga terlalu gengsi sih. tapi untung ada luhan. pdhl bikin luhan nya suka aja sama minjoo. Trs kita liat baek marah&cemburu ga kkkk. tapi sebenernya ff ini udh tamat kan eon? okelah aku baca chap selanjutnya.

  11. Ini bulan madu tapi yang ikut rame banget wkwkwkkwkw
    Tapi aku suka dan makin suka sama jalan critanya
    Baek cemburu sm luhan. Sama luhan aj gitu yah?
    Author keren ah ide ny munculin luhan, jadi imbang gitu posisi minjo sm baek. Saking cemburu
    Izin lanjut baca

  12. Iya bener mereka sama-sama egois😢😢
    Btw kenapa mesti luhan .-. Paling gak bisa kalo suruh milih baekhyun apa luhan/? Gakkk :v wkwk ijin lanjut baca ya kak😘

  13. issshhhh si bora minta di garuuuuuk. tuan byun gatau ya kalo si bora nempel2 terus sama si baek? terus ko si minjoo manggil tuan sih ke tuan byun -,- pdhl kan udah jd mantu.
    syukurlaaaaah, aku kira luhan bakal suka nanti nya sana minjoo ternyata dia juga punya nasib miris yaa. semiga luhan bisa nyatuin baek sama minjoo aminn

  14. GAADA ANGST SAMA SEKALI GIMANANYA KAKAK???! ㅠㅠㅠㅠㅠㅠ aku nangis bacanya :’3 yawla kesian ㅠㅠ bora brengsek. bangsadh.sialan! arghh..
    untungnya ada lulu muncul.. aku kira luhan bakal nambah runyem masalah eh taunya keliatan kek yg ada niat baik pas aku baca akhirnya…semoga luhan bersikap dewasa ngebantu masalah mereka. aku berharap disini authornim😄 oke deh lanjut baca yo~ saranghae:*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s