THE SUN [Chapter 9: Days in Jeju Part. II (시선 둘, 시선 하나/ Both Eyes, One Eye)] -by ByeonieB

the-sun

THE SUN

ByeonieB Present

Main Cast::

Baekhyun of EXO as Byun Baekhyun

OC/You/Readers as Han Minjoo

Additional Cast::

Bora of Sistar as Yoon Bora

Sehun of EXO as Oh Sehun

And many more

Guest star for these chapter: Lu Han {EXO’s Former Member} as Luhan.

Genre:: Romance, Life, Drama, Marriage-Life

Length:: Chapter

Rate:: PG-14 – PG-17

Summary::

“You are like the sun.

 The sun that rises in every morning.

The sun that comes after the dark.

Yes, you are just like that.

You are the sun that rise on my life.”

 

Poster by Jungleelovely @ Poster Channel

Reccomended song: What If by EXO

Before: [Chapter 8]

[Chapter 9: Days in Jeju Part II (시선 둘, 시선 하나/ Both Eyes, One Eye)]

H A P P Y   R E A D I N G

Seluruh keluarga Byun kini berada di dalam kamar Minjoo sejak mendengar bahwa Minjoo mengalami insiden kaki terbakar saat menonton pertunjukan api.

Tuan Byun duduk di tepi ranjang Minjoo dan menatap gadis itu dengan kasihan. Berbanding terbalik dengan yang di lakukan istrinya, nyonya Byun malah hanya melihat datar pada gadis itu. tak berniat menaruh simpati padanya.

“Minjoo-ya, apakah kau benar-benar tidak apa-apa?” tanyanya dengan lembut.

Minjoo tersenyum sambil membenarkan posisi duduknya yang bersandar pada sandaran kasur, “Aku sangat baik-baik saja tuan..” ia pun membenarkan posisi kaki kanannya yang masih terasa cukup nyeri jika digerakkan. “Hanya kakiku saja yang sedang tidak baik-baik saja.”

“Apakah kau yakin tidak perlu di bawa ke rumah sakit?”

Minjoo menatap Ayah mertuanya dengan kesal, “Tuan.. kau berlebihan..”

Baekhyun hanya bisa bungkam melihat perbincangan antara Ayahnya dan istrinya ini. Sesungguhnya perasaan khawatir ini sudah terbendung sejak semalaman penuh, yang membuatnya ingin sekali memukul kepalanya karena ia merasa menjadi suami yang sangat buruk. Di saat ia melihat istrinya terbakar oleh api tadi malam, ia hanya terperangah dan tidak bergerak sama sekali untuk membantu istrinya. Ia malah membiarkan orang lain yang menolongnya istrinya tersebut.

“Kau harus di bawa ke rumah sakit.”

Minjoo menolehkan kepalanya ke arah Baekhyun. “Tidak perlu, Baekhyun-ah..”

“Lukamu bisa semakin menjadi parah jika tidak mendapatkan pertolongan yang lebih lanjut, Minjoo-ya.” tuturnya dengan tegas. Gadis ini senang sekali membantah perkataannya.

Minjoo menatap Baekhyun melembut, memberikan kepercayaan lewat sana. “Aku benar-benar baik saja, Baekhyun-ah. Semalam Luhan-ssi telah mengobati lukanya dan sepertinya itu berhasil.” Minjoo sedikit menyentuh perban kakinya. “Kurasa siang ini aku akan membuka perbannya juga.”

Baekhyun dapat merasakan bahwa udara di sekitarnya memanas. Kenapa harus pria itu lagi yang keluar dari mulut Minjoo? Semalam kemarin mereka menghabiskan waktu bersama dan di tambah pria itu lah yang mencuri start untuk menolong Minjoo. Apakah pria itu sebegitu pentingnya untuk Minjoo? Mereka hanya baru berkenalan mungkin dua hari. Tapi kenapa mereka dengan mudah bisa sedekat itu.

“Kalau begitu aku akan menemanimu sampai kau membuka perbanmu.”

Bora yang sedari tadi berada di sebelah Baekhyun membulatkan kedua matanya. hari ini keluarga Byun akan melanjutkan liburannya dengan mengunjungi beberapa destinasi lagi di kepulauan Jeju. Namun ketika mereka mengetahui bahwa Minjoo mendapatkan insiden semalam, membuat mereka harus menjenguk Minjoo terlebih dahulu.

“Oppa lalu bagaimana denganku? Bukankah kita akan mengunjungi tempat indah bersama-sama?”

Baekhyun melirik ke arah Bora lalu menatapnya dengan tidak suka. “Dia sedang sakit Bora-ya. Bagaiamana pun juga dia masih istriku. Aku yang harus bertanggung jawab ketika dia sedang seperti sekarang ini.”

Bora menatap Baekhyun tak percaya. Rasa sesak muncul di dadanya seiring dengan air mata yang mulai turun dari pelupuk matanya. “Oppa kau..”

Minjoo pun bisa merasakan jika situasi menjadi mencekam. Nyonya Byun yang menatap tak percaya pada Baekhyun dan tuan Byun yang tersenyum puas mendengar perkataan Baekhyun terlihat di manik mata Minjoo.

“Y-ya.. Baekhyun-ah.. kau tidak usah berlebihan seperti itu, sudah kubilang aku—“

“Ayah sudah pukul 9. Pasti bus nya sudah datang. Lebih baik Ayah pergi sekarang jika tidak ingin terlambat.” Baekhyun menatap Ayahnya dengan datar. “Dan aku akan tetap disini.”

Bora yang tidak habis pikir mengapa Baekhyun dengan mudahnya lebih memilih gadis itu dibanding dirinya kini benar-benar telah mengeluarkan cairan mata di kedua sudut matanya. ia pun memutar tubuhnya dan segera meninggalkan kamar Minjoo.

“Bora-ya!” Minjoo memanggil Bora namun sayangnya Bora tidak mendengar itu. Nyonya Byun ikut memutar tubuhnya bermaksud mengejar Bora. Sebelum nyonya Byun benar-benar meninggalkan kamar Minjoo, ia menatap benci ke arah Minjoo.

Membuat tuan Byun yang melihat kejadian tersebut hanya menggeleng-geleng pelan. Tak lama dari kepergian Nyonya Byun dan Bora, tuan Byun mengangkat tubuhnya berdiri.

“Apakah tidak apa-apa jika aku pergi sekarang Minjoo-ya? Atau aku harus membatalkannya saja..”

“Jangan. Kumohon tuan.” Minjoo menatap memohon pada tuan Byun. “Aku tak ingin mengacaukan liburan kalian dan Baekhyun-ah..” ia menatap ke arah Baekhyun yang berdiri di samping ranjangnya. “Kau sebaiknya ikut pergi juga..”

“Kau.. mengusirku?” tanya Baekhyun dengan mata yang membulat.

“Bukan.. aku tidak bermaksud untuk mengusirmu hanya saja—“

“Hanya saja apa Minjoo-ya? memangnya salah jika aku ingin disini? Memangnya salah jika aku ingin merawatmu?”

Minjoo menatap Baekhyun dengan pandangan yang sulit di artikan. Dengan sifat Baekhyun yang seperti inilah yang selalu sukses membuat hati Minjoo menumbuhkan harapan itu lagi. Tapi ia tak bisa memunculkan harapan itu lagi yang pada akhirnya hanya akan membuat hatinya sakit, terluka.

Melihat suasana yang semakin mencekam, tuan Byun pun tidak ingin mengikut campuri permasalahan mereka.

“A-aku akan keluar.. kalian berbicaralah dahulu dan tolong jaga emosi kalian masing-masing.” Nasehat tuan Byun yang setelahnya ia benar-benar meninggalkan mereka berdua di dalam kamar Minjoo.

Baekhyun mendudukan dirinya di tepi ranjang dan menatap Minjoo dengan teduh.

“Aku hanya ingin bertanggung jawab sebagai suamimu saja, Minjoo-ya.” ia menarik tangan Minjoo lalu menggenggamnya dengan lembut. “Apakah tidak boleh aku melakukan itu?”

Ingin sekali Minjoo meresapi setiap sentuhan yang Baekhyun torehkan pada tangannya saat ini. Merasakan kehangatan dan kelembutan disana, membuat hati Minjoo berdesir seketika. Tapi lagi-lagi ia tak bisa. Kejadian dimana Baekhyun memeluk Bora ketika berada di taman belakang kediaman tuan Byun, dan hari-hari yang mereka habiskan bersama selama di pulau Jeju ini, mecuat di pikirannya dan membuat ia tersadar dari harapannya.

Minjoo menatap Baekhyun dengan sendu, lalu perlahan melepaskan tangan Baekhyun darinya.

“Kumohon.. pergilah. Kejar Bora-ssi dan minta maaf padanya.” Minjoo menahan setiap air mata yang mulai memanas di pelupuk matanya. “Aku benar-benar baik-baik saja..”

Baekhyun dapat merasakan sebuah batu dari grand canyon telah jatuh tepat di atasnya. Membuat raganya hancur seketika ketika Minjoo melepaskan genggaman tangannya dan menolak sentuhan hangat yang Baekhyun coba torehkan padanya.

Baekhyun menatap Minjoo dengan intens, mencari suatu alasan mengapa dia melakukan ini. Ini bukanlah Minjoo yang ia kenal selama ini. Minjoo yang ia kenal selalu menyambutnya dengan hangat tanpa menolak dengan sedingin ini. Ia merasa jika Minjoo seperti sedang menjauhinya.

“Kau.. mengapa kau melakukan ini?”

Minjoo mencoba untuk tersenyum walaupun sejujurnya hatinya sudah tercabik-cabik di dalam sana.

“Aku melakukan ini untukmu Baekhyun-ah..”

Baekhyun masih menatap Minjoo dengan intens seiring dengan hatinya yang mulai berdenyut nyeri.

“Aku ingin memberimu kesempatan kedua. Kesempatan yang telah aku hancurkan. kesempatan agar kau bisa kembali bersama dengannya, dengan..” Minjoo menahan katanya, merasa sakit jika harus mengucapkan itu. “..orang yang kau sayangi..”

Baekhyun bisa merasakan hatinya berdenyut cukup keras, membuat efeknya yang cukup menyesakkan di dalam tubuhnya.

Minjoo.. secara tidak langsung memberitahu padanya bahwa perasaan yang baru itu tidak boleh semakin tumbuh mengembang di dalam hatinya.

Harusnya Baekhyun senang dengan hal itu.

Tapi kenapa.. ini terlalu menyesakkan baginya?

“Dan kenapa kau harus melakukan itu, Minjoo?”

Minjoo menatap netra Baekhyun dalam-dalam, meneriaki mata itu isi hatinya yang sesungguhnya. Tapi.. Baekhyun tidak pernah bisa menangkap hal itu semua.

“Karena kita teman.” Minjoo tersenyum walaupun ia bisa merasakan hatinya jatuh ke lubuk dasar paling dalam dan membuatnya hancur berkeping-keping.

Sama seperti yang Baekhyun rasakan.

Ya, benar. Mereka hanya berteman. Tidak lebih.

Perasaan itu tidak boleh menumbuh. Benar-benar tidak boleh.

Baekhyun menatap datar pada Minjoo lalu setelahnya terkekeh pelan, “Ya. Kita hanya teman.”

Tanpa ingin menatap mata Minjoo, Baekhyun mengankat tubuhnya untuk berdiri dan bergegas meninggalkan gadis itu sendirian di kamarnya.

Selepas kepergian Baekhyun, Minjoo langsung menundukkan wajahnya dan menutupnya dengan kedua tangannya. ia menjatuhkan beberapa air mata dari sana.

Sungguh pertahanannya benar-benar tak dapat ia bangun lagi. Ia sakit. Merasakan 1000x lebih sakit dibanding ketika sang pemain api semalam membakar kakinya. Hatinya sangat merasa sesak. Jika saja tabung oksigen bisa memulihkan rasa sesak itu, ingin Minjoo membelinya sekarang juga.

“Baekhyun-ah.. aku menyukaimu.. sangat..”

.

.

Luhan berjalan memasuki lobby utama hotel dimana ia tinggal sambil menjinjing dua kantung keresek yang berisikan berbagai makanan di dalamnya. Berjalan bak model dengan kaca mata hitam yang hinggap di hidunya, ia pun memasuki lift hotel tersebut.

Lantai 1.

Lantai 2.

Lantai 3.

Lantai 4.

Lantai 5.

Ting, pintu lift pun di buka setelah sampai di lantai yang di tuju Luhan. Ia berjalan melewati koridor dan menuju sebuah kamar yang terletak di sebelah kirinya dan berada 3 blok kamar lagi dari tempatnya berdiri sekarang.

“504. 505. 506.” Luhan menghentikan langkahnya di sebuah kamar.

Ia menaruh kantung keresek tadi di lantai lalu mengetuk pintu itu setelahnya.

Tok. Tok.

“Aku tidak butuh pelayanan kamar, maaf” teriak seorang gadis dalam kamarnya.

Luhan pun mengangakan mulutnya, tak percaya apa yang baru saja gadis di dalam kamar ini teriakan padanya. Ia membuka kacamatanya dan menaruhnya di kerah bajunya.

“Aish.. gadis ini selain menyebalkan, ia tak tahu sopan juga ternyata.”

Luhan pun mengetuk pintu itu lagi, namun sedikit lebih keras dari sebelumnya. Membuat debuman yang cukup keras juga tentunya.

Ia mendengar suara derap langkah menuju pintu lalu tak jauh dari situ pintu itu terbuka.

“Aku tidak butuh—“

Luhan melipatkan kedua tangannya di hadapan dadanya.

“Luhan-ssi?”

Luhan terkekeh kecil lalu menggeleng-geleng kan kepalanya. “Ya.. kau ini selain menyebalkan ternyata tidak punya sopan santun juga, hm?”

Minjoo, gadis itu melihat Luhan dengan enggan karena sungguh suasana hatinya masih belum membaik sejak pagi tadi.

“Kenapa kau bisa ada disini? Bukankah kau sedang berlibur dengan keluargamu dan keluargaku?”

“Aku sudah ke pulau ini sebanyak 3 kali. Semua destinasi sudah ku kunjungi jadi aku sudah bosan.”

“Lalu apa yang kau lakukan disini?”

Luhan mengangkat kembali kantung keresek yang ia bawa tadi. “Menjengukmu.” Lalu ia pun melangkahkan kakinya, hendak masuk ke dalam kamar Minjoo.

Namun tepat sebelum Luhan memasuki kamarnya, Minjoo menahan tubuh Luhan untuk masuk dan mendorongnya sekuat tenaga hingga membuat tubuh Luhan sedikit terhuyung ke belakang.

“Aku sedang tidak ingin di jenguk oleh siapapun, maaf.”

Minjoo pun menutup pintunya. Tapi sayang, Luhan lebih gesit di banding dirinya yang membuat pintu itu pun tertahan oleh tangannya.

Minjoo menatap sebal pada Luhan, “Minggir.”

Luhan memperhatikan lekuk wajah gadis ini. Mukanya tampak sedikit pucat, dengan mata yang membengkak.

“Apakah kau baru saja menangis?”

Luhan selalu saja bisa menebak keadaan Minjoo dengan sempurna. Minjoo menundukkan mukanya semakin dalam dan memilih untuk tidak menjawab pertanyaan ‘retorik’ itu.

“Kubilang minggir.” Minjoo menarik pintunya semakin kuat, berusaha melawan tangan Luhan yang menahan pintunya.

Tapi apadaya, kekuatan seorang gadis dan seorang pria memang tak pernah bisa di sandingkan. Luhan menekan pintu itu semakin dalam yang akhirnya membuat pintu itu terbuka sepenuhnya.

“Ya!” Minjoo memekik keras pada Luhan dan membuat wajahnya menatap Luhan. Pria itu bisa melihat jelas bahwa masih terdapat sisa genangan air mata di pelupuk mata gadis itu.

“Kau kenapa, huh?”

“Bukan urusanmu.” Minjoo pun mendorong tubuh Luhan perlahan tanpa kekuatan. Membuat Luhan semakin yakin kalau ada yang tidak beres dengan gadis ini. “Kumohon Luhan-ssi. Pergilah.”

Luhan pun menurunkan pandangannya pada kaki Minjoo.

“Ya. perbanmu belum kau lepas?” Luhan menahan tangan Minjoo lalu setelahnya ia menurunkan tubuhnya menghadap kaki Minjoo. “Ini harus segera di lepas, Minjoo-ya..”

Minjoo diam di tempatnya. tak menghiraukan Luhan yang berbicara padanya.

.

.

Luhan terduduk di lantai sambil perlahan-lahan melepaskan perban yang mengikat di kaki Minjoo. Setelahnya lelaki itu pun membersihkan luka Minjoo yang sedikit membaik dengan mengolesi salep bekas semalam pada luka bakar itu.

“Selesai.”

Luhan mengangkat tubuhnya lalu membawa sampah berkas perban tadi dan membuangnya ke tong sampah.

Ketika ia berbalik, Ia melihat Minjoo terduduk di tepi ranjang dengan pandangan yang kosong.

Luhan menghembuskan napasnya pelan lalu berjalan dan menduduki tubuhnya di sebelah Minjoo.

“Berniat untuk menceritakan sesuatu padaku?”

Minjoo terus terdiam selama beberapa detik sampai akhirnya sesuatu yang muncul dari pelupuk mata Minjoo menginterupsi netra Luhan.

“Kenapa ini menyakitkan, Luhan-ah..”

Air mata itu berhasil lolos melewati pipi Minjoo. Luhan masih terus memperhatikan Minjoo dengan iba. Ia tahu masalah apa yang sedang Minjoo hadapi kali ini.

“Aku bilang padanya bahwa aku baik-baik saja, tapi..” Minjoo menolehkan kepalanya menatap Luhan. Beberapa air mata lolos kembali dari mata Minjoo seraya menunjuk-nunjuk dadanya.

“Tapi mengapa disini terlalu sakit…”

Luhan lagi lagi menghembuskan napasnya perlahan. Setelahnya ia menghapus jarak tubuhnya dengan Minjoo dan menaruh tubuh gadis itu di dekapannya. Membuat Minjoo terisak di sana.

Luhan tidak berkata apa-apa pada Minjoo. Cukup dengan menepuk perlahan pundak Minjoo saja disana. ia hanya mencoba membuat Minjoo tidak menanggung bebannya sendirian disana. Ia tahu persis apa yang membuat Minjoo sakit seperti sekarang ini. Minjoo yang tak bisa berbuat apa-apa selain menunggu si bodoh Baekhyun menyadarinya.

Cukup lama Minjoo terisak di dalam dekapan Luhan dengan pria itu yang setia menunggu gadis ini sampai berhenti menangis.

“Ya.. mau berapa lama lagi kau menangis, eoh?” Luhan akhirnya membuka suaranya setelah dirasa bahu Minjoo sudah tak bergetar lagi. “Bajuku sudah pasti sangat basah ini..”

Minjoo memundurkan wajahnya lalu terkekeh pelan pada Luhan, “Mian..”

Luhan menatap Minjoo dengan lembut, “Sudah baikan?”

Minjoo mengangguk sekali. “Gomawo Luhan-ah. Terima kasih telah meminjamkan eratanmu untuk menampung tangisku.”

“Ini tidak gratis hm..” Luhan memicingkan matanya dan di tanggapi Minjoo dengan kekehan kembali. Pria itu mengedarkan pandangannya keluar jendela, bermaksud mengecek situasi di luar sana.

“Udaranya sangat bagus di luar sana.” Luhan melihat ke arah kaki Minjoo. “Dan kurasa kakimu sudah membaik.”

Minjoo menunggu perkataan Luhan selanjutnya.

“Mau mengelilingi kota dengan sepeda?”

Minjoo pun tersenyum merekah. Mungkin saja ini bisa sedikit menghilangkan rasa sakitnya.

“Tentunya!”

.

.

.

Benar kata Luhan, cuaca di pulau Jeju pada hari ini benar-benar sangat cerah. Angin yang berhembus menerpa wajah mereka sangat menyegarkan, membuat pikiran dan hati mereka menjadi tenang. Terlebih untuk gadis itu, Minjoo.

Pemandangan kota Jeju memang benar-benar menakjubkan. Banyak sekali taman-taman kota yang terletak di setiap sudutnya. Membuat setiap pasang mata pengunjung pulau ini berdecak kagum akan keindahannya. Untungnya Luhan mau berbaik hati dengan menggayuh sepeda ini tidak terlalu kencang, membuat Minjoo bisa menikmati pemandangan setiap jalan yang ia lewati dengan dalam.

“Luhan-ah.. kau mendapatkan sepeda ini darimana eoh…”

“Aku tidak meminjamnya.” Luhan melirik dengan ekor matanya ke belakang, “Aku mencurinya dari satpam hotel.”

Minjoo pun membelalakan matanya dan segera mencubit pinggang Luhan.

“Ya!! Kau gila?!”

Luhan pun mengaduh kesakitan, “Minjoo-ya! hentikan!!”

Minjoo terus menerus mencubiti pinggang Luhan yang alhasilnya Luhan tidak bisa mengemudikan sepeda dengan fokusnya. Membuat sepedanya berjalan dengan tidak teratur dan hampir beberapa kali menabrak pengunjung jalan.

“hentikan sepedanya! Aku ingin turun!” protes Minjoo masih tetap mencubiti pinggang Luhan.

“Argh! Sakit Minjoo-ya!”

Luhan tidak menyadari bahwa tak jauh dari hadapannya terdapat sebuah tiang listrik.

“Hentikan atau—“ Minjoo menyadari keberadaan tiang listrik tersebut dan membulatkan matanya.

“Ya!! awas di depanmu!!”

Luhan melihat lurus ke depannya dan ketika satu sentimeter lagi menabrak tiang listrik itu, ia menarik rem sepedanya. Menyelamatkan nyawa mereka berdua.

Dengan napas yang tersenggal, Luhan memutar tubuhnya dan menatap Minjoo dengan nyalak.

“Lihat! Kau hampir membunuh kita berdua! Kau ini bodoh atau apa?!”

Minjoo pun tidak menggubris pertanyaan Luhan dan malah bangkit dari kursi penumpangnya.

“Aku tidak mau menaiki sepeda hasil curian! Kau yang gila dan bodoh, Luhan!”

Luhan pun berdecak sebal. “Ya.. aku bukan mencurinya ok? Aku ralat, aku meminjamnya.”

“Tapi?” Minjoo melipatkan tangannya dan menaruhnya di depan dada.

“Tapi..um..Aku meminjamnya tanpa bilang terlebih dahulu pada satpam itu..”

Minjoo memukul bahu Luhan cukup kencang dan yang lagi-laginya membuat pria itu mengaduh kesakitan.

“Ya!! Sakit Minjoo-ya!!”

“Itu sama saja mencuri bodoh.. heol..” Minjoo memutar bola matanya, “Kau ini benar-benar..”

Luhan pun mengusap-usap bahunya mencoba untuk menghilangkan rasa sakit itu, “Aish, oke oke, nanti aku akan pasti mengembalikannya lagi dan di tambah meminta maaf padanya! Kau puas?!”

“Tetap saja aku tak mau! Bagaimana jika satpam itu menyadari kalau sepedanya sudah hilang dan saat ini sedang melaporkannya pada polisi? Kau mau bagaimana?!”

Luhan terus menyumpah serapahkan wanita yang ada di hadapannya. Yang awalnya Luhan berniat ingin menghibur gadis itu kini berubah ingin memakan wanita itu hidup-hidup. Selain menyebalkan wanita ini banyak omong, pikirnya.

“Kita akan kembali ke hotel sebelum satpam itu pulang, kupastikan satpam itu belum melaporkannya pada polisi! Kau sudah lebih puas?!”

Minjoo menatap Luhan dengan intens. “Benarkah?”

Luhan menggeram di tempatnya, benar-benar Minjoo ini menyebalkan pikirnya. Ia pun menarik tangan Minjoo dan menyuruhnya untuk naik kembali ke kursi penumpang di belakangnya.

“Iya maka dari itu kita harus cepat-cepat, kau hanya mengulur-ulur waktu saja Minjoo-ya..”

Minjoo pun mencoba untuk mempercayai Luhan dengan naik kembali ke atas kursi yang berada di belakang Luhan.

“Jika kau di tangkap polisi, aku tidak ingin bertanggung jawab Luhan-ah..”

Setelah Minjoo berhasil menumpangi kursi kembali, Luhan mulai menggayuh sepedanya kembali.

“Terserah padamu sajalah.”

.

Mereka menghabiskan waktu bersama-sama. Mengunjungi beberapa taman, melihat pemandangan disana. Lalu mengunjungi sebuah pantai walaupun hanya bermaksud untuk jalan-jalan disana saja tanpa berniat membasahi tubuh mereka ke dalam air di pantai tersebut.

Minjoo benar-benar sudah melupakan perihal masalahnya dengan Baekhyun saat ini. Ia tahu sebenarnya ini tidak baik. Tak seharusnya ia pergi bersama lelaki lain karena ia sudah berstatus sebagai seorang istri sekarang. Ia bahkan menolak ajakan suaminya itu untuk menjaganya tadi di kamar hotel dan pada akhirnya malah menerima tawaran dari pria lain untuk pergi bermain bersamanya.

Ia tahu ini salah, tapi dia benar-benar sedang membutuhkan semua ini. Untuk menghilangkan rasa sakitnya.

“Ya! Minjoo-ya lihat burung itu!”

Sehabis mereka mengunjungi pantai, Luhan mengajak Minjoo untuk mengunjungi salah satu kebun binatang yang terdapat di dekat pantai.

“Dia jelek sepertimu.” Luhan pun terkekeh dengan puas setelah mengatakan itu.

Minjoo pun menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya menghadap Luhan.

“Mwo?!”

Luhan menunjuk-nunjuk burung yang berada di dalam sangkarnya, se ekor burung beo dengan berbagai warna di bulunya.

“Lihat paruhnya yang begitu panjang. Dia jelek sepertimu, Minjoo-ya.” Luhan terus terkekeh sambil membandingkan wajah Minjoo dan burung beo itu. “Dan di tambah ia banyak berbicara sepertimu, semakin terlihat jelas kalau kalian tak jauh berbeda.”

Minjoo menatap Luhan tak percaya lalu terkekeh pelan juga setelahnya.

“Ok aku tak masalah jika aku jelek seperti yang kau pikirkan.” Minjoo menatap wajah Luhan. “Daripada dirimu, memiliki wajah yang cantik seperti wanita. Kau waria ya?!”

Luhan menghentikan tawanya dan menatap Minjoo dengan tajam.

“Ya!! Apa kau tak keterlaluan?!”

Minjoo menjulurkan lidahnya lalu berlari menjauhi pria itu, “Dasar waria!”

Luhan menatap Minjoo yang sudah berada jauh dari pandangannya. Ia masih bisa melihat jelas gadis itu tertawa dengan puas sambil beberapa kali menjulurkan lidahnya pada Luhan.

Luhan tak berniat mengejar gadis itu. ia malah menatap gadis itu dan sebuah senyuman pun keluar dari bibirnya.

Ia berhasil membuat gadis itu tertawa lagi. Luhan merasa sangat kasihan pada situasi yang Minjoo alami, setelah melihat sendiri bahwa gadis itu menangis terisak di pelukannya. Ia bisa merasakan betapa beratnya hidup Minjoo dengan Baekhyun. membuatnya merasa iba pada gadis itu.

“Syukurlah kalau kau sudah melupakannya, Minjoo-ya.”

.

Luhan dan Minjoo berjalan berdampingan kembali setelah keluar dari kebun binatang. Kali ini mereka ingin memakan sesuatu untuk memenuhi perutnya yang mulai berteriak-teriak ria meminta asupan.

Sambil berjalan keluar dan menuju parkiran sepeda, Minjoo tak sengaja melihat sebuah kedai tteokpokki yang terdapat di sebrangnya. Membuat matanya berbinar cukup cerah.

“Luhan-ah! Ayo kita makan tteokpokki itu!”

Luhan memutar tubuhnya dan melihat ke arah kedai yang Minjoo tunjuk. Setelahnya ia melihat lagi ke arah Minjoo dan menjumpai gadis itu sedang menatap dengan binar-binar. Membuat Luhan terkekeh kecil melihatnya.

“Baiklah. Ayo.”

Mereka pun mengunjungi kedai itu dan segera memesan kepada ahjumma yang berjualan di balik meja.

“Ahjumma, kami pesan dua tteokpokki!”

Ahjumma itu pun dengan segera menyiapkan dua tteokpokki dan beberapa menit kemudian dia telah kembali dengan dua cup berisi tteokpokki di tangannya.

“Ini untuk pasangan muda seperti kalian.”

Minjoo dan Luhan pun membelalakan matanya secara serentak.

“Kita bukan pasangan!” mereka berkata dengan detik yang sama. Membuat sang ahjumma mengkerutkan keningnya.

“Oh kalau begitu kalian adik kakak? Ah tapi kalian tidak mirip..”

Luhan pun mengibas-ngibaskan tangannya di hadapan Ahjumma, “Kita hanya teman biasa..”

Minjoo pun mengangguk-angguk pernyataan Luhan, “Benar, kita hanya teman biasa..”

Ahjumma itu pun mengkerutkan keningnya, namun tak lama dari situ ia tersenyum pada Luhan.

“Oh.. kalau begitu, kau sedang mendekatinya bukan?” tanya sang ahjumma sambil sedikit berbisik pada Luhan walaupun itu masih terdengar jelas oleh Minjoo dan di tanggapi Minjoo dengan mulutnya yang terbuka.

“Dia sudah memiliki suami, ahjumma!” Luhan menaikkan suaranya tinggi karena ia kesal pada ahjumma yang banyak bertanya ini. Membuat sang ahjumma membulatkan kedua matanya

“Mana tteokpokki kami, kami akan pergi sekarang.” Tuturnya dengan dingin.

Ahjumma itu masih membulatkan kedua matanya, lalu setelahnya ia memukul bahu kecil.

“Ya! tak seharusnya kau mendekati gadis yang sudah bersuami!”

Luhan tercengan dengan apa yang dilakukan ahjumma ini padanya, berani sekali dia memukul Luhan seperti itu.

“Dan kau juga! Kalau kau sudah bersuami, kenapa kau masih jalan dengan lelaki lain? Tak malu kah kau pada statusmu itu? kau seharusnya terus bersama dengan suamimu, kau tahu!”

Perkataan Ahjumma yang di lontarkan pada Minjoo itu membuat dirinya terdiam seketika. Perasaan sakit itu pun muncul kembali di hatinya, mendenyutkan nyeri yang teramat sakit.

Luhan yang melihat Minjoo terdiam seperti itu pun langsung menatap ahjumma dengan garang.

“Ahjumma! Tak seharusnya ahjumma berbicara seperti itu!” dia menatap Minjoo dengan khawatir kembali. Takut-takut Minjoo semakin terpuruk, Luhan pun menarik tangan gadis itu menjauh dari kedai.

“Kami tak jadi membeli! Bagaiamana kedai ini bisa di buka jika penjualnya seperti ahjumma!”

Luhan pun terus menarik tangan Minjoo untuk menjauhi kedai dan menuju ke tempat dimana sepeda mereka terparkir kembali.

“Astaga! Aku tak menyangka ada penjual semenyebalkan seperti itu!” Luhan terus menyumpah serapahkan penjual tadi tanpa menyadari kalau Minjoo masih terdiam kaku di tempatnya.

“Aku benar-benar tak habis pikir kenapa—“ Luhan melihat Minjoo yang mulai menjatuhkan air matanya.

“Minjoo-ya.. kau kenapa menangis kembali..”

Perkataan ahjumma tadi benar-benar menusuknya. Dia tentunya ingin sekali terus bersama dengan Baekhyun. menemani Baekhyun menghabiskan hari-harinya. Selalu berada di sampingnya, itulah angan-angan yang Minjoo harapkan selama ini.

Tapi.

Ingatan dimana Baekhyun memeluk Bora itu selalu tercuat di pikirannya. Membuatnya lagi-lagi harus menghapus angan-angan itu.

“Ya..ya..” Luhan menginterupsi pemikiran Minjoo. Ia memegang kedua bahu Minjoo, membuat gadis itu mendongakkan kepalanya menghadap dirinya. dengan kesempatan itulah, Luhan perlahan menghapus air mata yang mengalir di sudut mata Minjoo.

“Tadi kau sudah tertawa bersamaku.. kenapa menangis lagi..” Luhan memerhatikan mata Minjoo, melihat jika sudah tak ada lagi bekas air mata disana. “Kau menangis karena perkataan ahjumma tadi ya?”

“Benar kata ahjumma itu Luhan-ah..aku tak seharusnya disini bersamamu..”

Luhan pun menatap iba dan bersalah pada Minjoo. Ya, tak seharusnya mereka menghabiskan waktu bersama karena status Minjoo.

“Aku ingin kembali ke hotel, Luhan..”

“Baiklah jika itu maumu.” Luhan menarik tangan Minjoo dan membawanya ke tempat dimana sepeda mereka terparkir.

Tanpa mereka sadari, sebuah mini bus melintas di dekat mereka dan seorang lelaki di dalamnya melihat ke arah mereka.

Hati lelaki itu berdenyut sakit dan merasakan hawa panas di sekitarnya ketika melihat Luhan menarik tangan Minjoo.

“Oh. Jadi maksudmu tak ingin kutemani adalah karena lelaki itu, Han Minjoo?”

.

.

Luhan terus menatap Minjoo dengan iba. Gadis itu, sepanjang perjalanan mereka untuk kembali ke dalam hotel terus menerus menekukan wajahnya ke dalam.

Bagaimana tidak? Rasa sakit itu muncul kembali setelah bagaimana bahagianya dia hari ini. Perkataan ahjumma kedai tadi seakan-akan mengingatkannya pada realita yang sebenarnya.

“Terimakasih untuk hari ini, Luhan-ah.”

Mereka berhasil sampai di depan kamar Minjoo.

Luhan melihat ke arah Minjoo yang tersenyum sendu padanya. Menyiratkan kembali bagaiamana sedihnya ia. Luhan sebenarnya tak tega harus meninggalkan gadis ini sendirian lagi di kamarnya karena pasti gadis itu akan merasa terpuruk kembali.

“Apakah perlu kutemani dahulu, Minjoo-ya? kurasa kau tidak baik-baik saja…”

Minjoo mencoba mencerahkan wajahnya walaupun itu gagal sama sekali. “Tak perlu Luhan-ah, aku baik-baik saja..” lalu ia pun tersenyum kembali pada Luhan. “Aku butuh waktu sendirian.”

Luhan pun menghela napasnya berat, mencoba mengiyakan permintaan gadis ini. Sepertinya Minjoo memang benar-benar butuh waktu sendirian.

“Baiklah kalau begitu.” Luhan mengacak rambut Minjoo perlahan. “Kalau ada apa-apa, hubungi saja aku.”

Minjoo mengangguk-angguk lagi pada Luhan, menyetujui perkataan pria itu.

Luhan memutar tubuhnya, bermaksud pergi meninggalkan Minjoo.

“Oh, Baekhyun-ssi?”

Minjoo yang mendengar penuturan kata Luhan, langsung menolehkan kepalanya dan melihat ke arah yang Luhan lihat.

Pria itu disana, tak jauh dari hadapan Luhan sambil menatapnya mereka dengan tajam.

“Kau sudah pula—“

Bugh.

Baekhyun menghantam wajah Luhan hingga membuat Luhan tersungkur ke lantai.

“Baekhyun-ah!” Minjoo memekik kaget dan setelahnya menghampiri Luhan.

Terdapat bercak merah di sudut bibir pria itu.

“Kau.. jangan pernah dekati istriku lagi!”

Minjoo pun menatap Baekhyun dengan kerutan di dahinya. Ia tak mengerti kenapa Baekhyun melarangnya seperti ini.

Minjoo berdiri kembali dan menghadap Baekhyun, “Apa maksudmu?”

“Kau.. kau ini sudah menjadi istriku! Kenapa kau pergi bersamanya ketika sebelumnya kau menolakku untuk bersama dengan dirimu?”

Minjoo semakin tak mengerti dengan perkataan Baekhyun, mengapa ia mengatakan ini padahal jelas-jelas bukankah Baekhyun seharusnya berterimakasih pada Minjoo bahwa gadis itu melepasnya dan menyuruhnya untuk kembali pada Bora.

“Aku sudah menjelaskan padamu tadi, aku memberikanmu kesempatan untuk bersama Bora.” Minjoo pun melihat ke arah Luhan. “Dan lagi pula, aku dan Luhan hanya sebatas teman saja.”

“Teman?” Baekhyun mendesis, “Apakah yang Luhan lakukan tadi adalah ungkapannya sebagai pertemanan?”

“Baekhyun-ah.. aku tak mengerti dengan perkataanmu, kenapa kau bisa berpikiran seperti itu?”

“Justru aku yang tak mengerti denganmu, Minjoo! Kenapa kau menolakku yang berstatus sebagai suamimu tadi pagi dan malah pergi bersama lelaki yang bahkan kau baru bertemunya dua hari yang lalu?”

“Baekhyun-ah, sudah kubilang kami hanya—“

“Kau ikut aku sekarang!”

Baekhyun pun hendak menarik tangan Minjoo untuk membawanya pergi menjauhi pria ini dan bermaksud untuk meminta penjelasan pada Minjoo.

Namun, Minjoo menolaknya. Ia melepaskan tangan Luhan secara kasar. Membuat hati Luhan retak secara tiba-tiba.

“Aku tak bisa. Kau menghantam Luhan dan membuatnya terluka.”

Minjoo menghampiri Luhan yang masih tersungkur di lantai lalu membantu pria itu untuk berdiri.

“Maafkan aku Baekhyun, dan kumohon singkirkan pikiranmu itu mengenai diriku dan Luhan karena kami benar-benar hanya berteman.”

Minjoo dan Luhan pun menghilang di balik pintu kamar gadis itu.

Meninggalkan Baekhyun yang terdiam kaku disana.

Bagaikan sebuah bom telah mendarat di sekitarnya, Baekhyun bisa merasakan bahwa seluruh raga hancur seketika. Minjoo lebih memilih pria itu di bandingkan dirinya. membuatnya ingin sekali siapapun sekarang menghantamnya sampai ia mati, kalau bisa. masih teringat jelas bagaimana Minjoo melepaskan tangannya secara kasar. Membuat dadanya bergemuruh dan udara disekitarnya menjadi dingin, menusuk setiap kulitnya.

.

.

“Minjoo-ya, apa kau tidak berlebihan?”

Mungkin sudah ke 3 kalinya Luhan mengatakan itu sejak Minjoo membawanya ke dalam kamarnya dan mengobati luka pria itu. Minjoo tidak menanggapi perkataan Luhan, mendiaminya dan terus melakukan pekerjaannya mengobati Luhan.

Merasa kesal dengan aksi diamnya Minjoo, Luhan pun menarik tangan Minjoo yang sedang berada di bibirnya.

“Ya! kenapa kau tak mendengarkanku!?”

Minjoo menatap Luhan dengan datar, bagaikan tak ada jiwa di dalamnya. Luhan pun perlahan merenggangkan eratan tanganya, menyadari bahwa gadis itu sedang tidak baik-baik saja.

“Aku hanya ingin membantumu, apa itu salah?”

Luhan hanya menatap netra Minjoo dengan bersalah, “Minjoo-ya, aku tidak apa-apa sungguh. Dan kurasa tadi kau terlalu berlebihan pada Baekhyun..”

Minjoo menarik tangannya dari genggaman Luhan dan melanjutkan kembali membersihkan luka Luhan.

“Aku tak mengerti dengan apa yang di katakan Baekhyun. maksudku, seharusnya ia berterima kasih padaku bahwa aku memberinya kesempatan untuk bisa kembali lagi pada kekasihnya itu.”

Luhan menatap tak percaya pada Minjoo.
“kenapa ia malah menghantammu dan menyuruhmu menjauhiku? Kita kan hanya berteman. Lalu bagaimana dengan dirinya yang selalu bersama Bora? Aku tidak pernah marah..”

Luhan terkekeh pelan sambil menyumpah serapah gadis di hadapannya.

Baekhyun dan Minjoo memiliki pemikiran yang sama. Sama-sama bodoh.

“Ya. jadi kau tak mengerti kenapa dia bersikap begitu?”

Minjoo mengangkat bahunya acuh, “Tentu saja. Aku heran padanya.”

Sungguh gadis ini dan suaminya memang pasangan yang cocok. Sama-sama bodoh. sama-sama tidak menyadarinya.

Luhan pun mengangkat tubuhnya berdiri dan lekas pergi meninggalkan Minjoo.

“Ya! Luhan-ah! Lukamu belum kuobati!”

Luhan menghiraukan gadis itu dan terus berjalan menuju pintu keluar.

Ada sesuatu yang harus ia jelaskan.

.

.

Baekhyun menekukan wajahnya ke dalam. Angin malam yang berhembus ke tubuhnya membuat rambutnya bergidik dingin, menandakan betapa dinginnya udara malam ini. Tapi entah kenapa, udara yang dingin itu tidak terasa oleh Baekhyun sama sekali.

Amarah dan rasa sakit yang sedang menerjang tubuhnya sekarang lebih mendominasi dibanding udara dingin itu

Kejadian dimana Minjoo melepaskan tangannya secara kasar dan memilih Luhan di banding dirinya terus menerus berputar di kepalanya.

Membuatnya ingin menghancurkan ingatannya saat ini juga.

“Kopi hangat?”

Baekhyun menolehkan kepalanya kepada suara tersebut. pria yang menjadi objek amarahnya berada di sebelahnya dan menyodorkan sebuah cup kopi.

“Pergi kau.” Jawab Baekhyun dengan datar.

Luhan tahu jika Baekhyun pasti sangat marah dengannya. Luhan pun acuh tak acuh mendudukan dirinya tak jauh dari Baekhyun dan menaruh kopi tadi di sebelah yang lainnya. Membuat Baekhyun menegakan tubuhnya dan menatap marah pada Luhan.

“Apa yang kau lakukan huh?!”

“Ini kan tempat umum. Kenapa kau melarangku untuk duduk disini?”

Baekhyun mengepalkan tangannya keras, ingin sekali dia menghantam wajah pria itu untuk sekali lagi. Tak ingin membuat keributan Baekhyun pun mengangkat tubuhnya dan bergegas untuk pergi.

“Dia menyukaimu.”

Perkataan itu membuat Baekhyun menghentikan langkahnya. Lalu perlahan memutar tubuhnya menghadap Luhan.

“Apa yang kau maksudkan?”

Luhan mengambil cup kopi tadi lalu sedikit meminumnya.

“Aku dengannya tak memiliki hubungan seperti yang kau pikirkan. Percayalah padanya bahwa kami hanya berteman.”

Luhan menolehkan wajahnya lalu menatap Baekhyun.

“Dan dia menyukaimu. Kau harus percaya perkataanku yang ini.”

Angin malam yang berhembus dingin itu menerpa kulit Baekhyun. harusnya pria itu merasa betapa dinginnya dan menusuknya udara tersebut. namun, sayangnya mengapa ia merasakan tubuhnya menghangat seketika mendengar pernyataan Luhan.

Minjoo menyukainya?

Entah mengapa itu semua membuat hati Baekhyun merasa.. lega?

.

.

Minjoo keluar dari kamarnya untuk mendapatkan sarapan di restoran hotel ini bersama keluarga Byun.

Tepat pada saat ia keluar dari kamarnya, Baekhyun ikut keluar dari kamarnya juga. Membuat Minjoo menegangkan tubuhnya dan menatap Baekhyun takut.

Ia tahu, pasti saat ini Baekhyun sedang marah padanya perihal kemarin.

“Selamat pagi Baekhyun—“

Baekhyun pun melenggang pergi meninggalkan Minjoo tanpa mendengarkan penuturan kata itu. membuat hati Minjoo di pagi hari ini hancur seketika. Padahal ini baru awal hari dan Baekhyun telah melakukan itu padanya.

Minjoo pun akhirnya berjalan di belakang Baekhyun, menuju lift sama seperti pria itu.

Kebetulan sekali, tepat ketika mereka berada di depan lift, pintu lift terbuka dengan keadaan sangat kosong. Baekhyun memasuki lift tersebut dan Minjoo berdiri di luarnya. Merasa canggung jika harus ikut masuk ke dalam juga karena pasti mereka akan di tinggalkan berdua selama di dalamnya.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Baekhyun dengan datar dan menyandarkan tubuhnya pada dinding lift. “Cepat masuk. Orang tuaku sudah menunggu kita.”

“Ah.. baiklah.” Minjoo pun ikut masuk ke dalam lift tersebut dan ia berdiri di hadapan Baekhyun. tak ingin berdampingan dengannya karena masih takut perihal semalam dan tentunya yang tadi Baekhyun lakukan.

Benar saja, suasana di dalam lift sangat hening. Bagaikan kedua orang itu saling tak mengenal.

Sebenarnya, Baekhyun sudah tak marah lagi pada gadis itu. ia hanya sedang berperang melawan egonya semenjak mendengar ungkapan Luhan kemarin padanya.

“Dia menyukaimu.”

Ia lalu menolehkan kepalanya, menatap gadis ini dengan intens.

Baekhyun dan Minjoo telah menikah untuk kurun waktu yang cukup lama. Banyak sekali efek yang Minjoo berikan pada Baekhyun selama mereka tinggal bersama. Salah satunya dimana Baekhyun telah meninggalkan dunia malamnya dan emeng-emeng anak manjanya. Selama ia tinggal dengan Minjoo, Baekhyun merasa, menghabiskan waktu bersama gadis ini ketimbang harus pergi mengunjungi bar itu lebih berharga. Waktu ketika mereka saling berbagi cerita dan tawa, terasa lebih menyenangkan dibanding dunia gemerlap itu.

Baekhyun merasakan kenyamanan ketika bersama gadis ini.

“Apakah Bora-ssi tidak ikut bersamamu?”

Baekhyun tersadar dari monolognya dan melihat wajah Minjoo yang membelakanginya.

“Dia sudah berada disana lebih dahulu.”

Baekhyun dapat melihat jika gadis itu menganggukan kepalanya. Lalu setelahnya suasana pun hening kembali.

Apakah benar Minjoo menyukainya? Tapi kenapa Minjoo bisa menyukainya padahal selama ini Baekhyun tidak pernah menaruh perhatian lebih pada gadis itu. malah sesungguhnya terbalik, Minjoo lah yang selalu memberikan perhatian pada Baekhyun. mengurusinya sebagaimananya tugas seorang istri.

Memikirkan jawaban untuk pertanyaan itu membuat kepala Baekhyun pening seketika.

Ting. Pintu lift terbuka. Mereka sudah pada lantai dasar hotel ini.

Baekhyun berjalan terlebih dahulu dari Minjoo dan kemudian gadis itu menyusulinya di belakang.

Tepat ketika Baekhyun berada di belokan lobby hotel ini, Baekhyun melihat seorang pria yang ia temui tadi malam di lobby utama tersebut.

Baekhyun menghentikan langkahnya.

Ia menggeram kesal. Maksudnya, apa yang dilakukan pria itu? Apakah dia bermaksud menunggu Minjoo dan berniat menemuinya?

Baekhyun memutar tubuhnya dan mendapati Minjoo yang masih berjalan ke arahnya.

“Han Minjoo.”

Mendapat panggilan seperti itu, Minjoo menghentikan langkahnya dan menatap Baekhyun.

“Apa kau telah memiliki janji lagi dengan Luhan?” tanya dengan nada suara yang dingin.

Minjoo mengkerutkan keningnya. “Aku tidak memiliki janji apa-apa dengannya.”

“Lalu kenapa pria itu berdiri disitu seperti sedang menungguimu!” Baekhyun sedikit menaikan suaranya dan menunjuk seseorang yang berada di lobby utama tadi.

Minjoo melihat pandangan yang di tunjuk Baekhyun dan benar, ia menemukan Luhan berdiri disana seperti sedang menungguinya.

Minjoo kembali menolehkan wajahnya lalu menghembuskan napas perlahan.

“Baekhyun-ah.. kumohon percaya padaku, aku benar-benar tak memiliki janji dengannya pagi ini dan aku benar-benar hanya berteman dengannya..”

“hanya berteman..” Baekhyun kembali teringat ucapan Luhan semalam yang mengatakan bahwa ia hanya berteman dengan Minjoo. Membuatnya sedikit panas karena mengapa mereka mengatakan hal yang sama.

“kenapa kau mengatakan hal yang sama seperti dia lagi?!”

Minjoo mengerutkan keningnya, “Sama seperti dia lagi?”

Baekhyun tersadar. Sepertinya Luhan tak memberitahu gadis ini bahwa Minjoo menemuinya.

“Apakah Luhan menemuimu semalam?”

Baekhyun bingung tak tahu harus menjawab bagaimana. Terlebih lagi ia sedang teramat emosi karena ia berpikir bahwa Luhan sedang menunggu gadis itu disana dan berniat mengajaknya pergi lagi.

Tak ingin Minjoo di bawa pergi oleh Luhan, Baekhyun pun membuat keputusannya.

“Ikut aku sekarang.”

Baekhyun menarik tangan Minjoo dan membawanya pergi keluar melewati pintu yang berada di sebelah barat. Minjoo pun semakin mengerutkan dahinya namun ia tetap menuruti perintah Baekhyun dan membiarkan tubuhnya terhuyung di tarik oleh Baekhyun.

Mereka berhasil keluar dari hotel ini dan setelahnya Baekhyun membawanya ke halte bus terdekat. Lalu mereka menaiki salah satu bus yang menghampiri hal tersebut.

Baekhyun terus menarik tangan Minjoo sampai akhirnya mereka duduk di salah satu kursi di dalam bis.

Baekhyun melepaskan tangan Minjoo lalu setelahnya ia menutup mulutnya rapat-rapat dan menatap lurus ke depan tanpa memerhatikan Minjoo yang sedari tadi melihat ke arahnya.

Minjoo bingung dan sedikit takut, mengapa Baekhyun membawanya pergi keluar? Memangnya apa yang akan Baekhyun lakukan padanya? Menghukum gadis itukah?

Minjoo pun tak dapat menanggung rasa takutnya lagi lalu membuka suaranya perlahan.

“Baek..hyun-ah.. kita akan.. kemana?”

Baekhyun masih mempertahankan posisinya dengan menatap lurus ke depan dan melipat kedua tangannya di hadapan dadanya.

Ia pun telah membulatkan keputusannya. Ia harus mengalahkan egonya sekarang.

Ia menolehkan kepalanya dan menatap Minjoo cukup dalam dan tajam. Namun tak lama dari situ ia melembutkan pandangannya lalu menghadapakan tubuhnya pada Minjoo.

Menurunkan pandangannya pada tangan Minjoo, Baekhyun menarik tangan Minjoo dan merebahkan tangan gadis itu di atas pahanya. Setelahnya ia menaruh telapak tangannya di atas tangan Minjoo dan perlahan menautkan jemarinya pada jemari Minjoo.

“Tidakkah kau merasa aneh dengan liburan ini?” Baekhyun menatap Minjoo cukup dalam. “Ini bulan madu kita tapi kita sama sekali belum pergi bersama-sama.”

Minjoo dapat merasakan suata sengatan listrik berkekuatan ratusan volt menghantam tubuhnya ketika Baekhyun menautkan jarinya disana. Menyengatkan organ tubuh Minjoo yang bernama jantung dan membuatnya berdetak sangat kencang.

Baekhyun pun merasakan hal yang sama seperti Minjoo. Ketika ia menautkan jemarinya pada Minjoo, gadis itu berhasil mendenyutkan jantung Baekhyun cukup keras. Membuatnya memompa darahnya sangat deras dan.. perasaan hangat itu teralir ke dalam tubuhnya.

“Kita akan pergi kencan, Minjoo-ya. kencan pertama kita sebagai suami dan istri.”

Minjoo dapat merasakan dadanya yang bergemuruh cukup kencang, merasakan sentuhan permukaan kulit Baekhyun padanya. Membuatnya merasa tenang dan nyaman dan tak ingin melepaskannya.

Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Ingin rasanya ia menolak tawaran Baekhyun karena semuanya seperti terasa salah.

Tapi.

Tautan jari Baekhyun pada jemarinya, yang membuatnya perlahan menautkan jarinya pada Baekhyun dan Minjoo mengangguk pelan.

Benar. Ini bulan madu mereka, tapi mengapa mereka tidak menghabiskan waktunya bersama-sama?

.

.

Baekhyun membawa Minjoo mengunjungi beberapa tempat seperti yang sebelumnya telah mereka kunjungi bersama orang tua mereka. Taman bunga Yeomiji lalu setelahnya mengunjungi museum teddy bear, dimana Baekhyun mengunjunginya kemarin hari tanpa Minjoo.

Baekhyun begitu menikmati semua ini, bahkan sampai sekarang pun ia tak berniat untuk melepaskan genggaman tangannya pada jemari Minjoo. Ia merasakan kehilangan ketika melepaskan jemari indah itu darinya.

Wajah Minjoo begitu menyejukkan. Membuat siapa saja yang mendalami akan masuk ke dunianya dan merasakan betapa tenangnya wajah itu. betapa nyamannya dengan hanya menatap wajah itu.

Baekhyun tak pernah henti-hentinya bersyukur pada Tuhan karena telah menorehkan keindahan pada wajah gadis ini dan dengan beruntungnya Tuhan berikan untuknya. Baekhyun masih terus bersyukur pada Tuhan akan satu hal keindahan ini.

Setelah mengunjungi tempat-tempat tadi, Baekhyun berniat mengajak gadis itu untuk mengunjungi pantai yang untungnya tak jauh dari tempat ini.

Mereka pun menyusuri jalanan sambil menikmati pandangan di jalanan. Banyak sekali pemain musik jalanan berada disana, membuat alunan musik yang seperti sedang melatar belakangi suasana mereka.

Sampai akhirnya mereka berhasil berada di pintu utama untuk masuk ke pantai itu. membuat Baekhyun semakin menyunggingkan senyuman yang entah sejak kapan ia sungging kan di bibirnya.

Namun, langkah mereka terhenti karena Minjoo melihat sesuatu.

“Baekhyun-ah, lihat..” Minjoo menatap iba ke arah seorang penjual bunga yang ternyata adalah seorang gadis cilik. Tampang gadis itu begitu lusuh dan bunga-bunga yang ia jual pun seperti tidak di terlihat oleh para pengunjung pantai.

“Kasihan sekali dia..”

Minjoo melepaskan tautan tangannya pada tangan Baekhyun, membuat pria itu sedikit menceloskan hatinya karena merasa kehilangan.

Minjoo melihat ke sekitar, seperti sedang mencari sesuatu. Ketika ia melihat market yang berada tak jauh darinya, ia pun membinarkan matanya.

“Kau tunggu disini sebentar Baekhyun-ah, aku akan membelikan beberapa makanan untuknya.”

Minjoo pun melangkah pergi meninggalkan Baekhyun yang akhirnya permintaan gadis itu ia turuti.

Tak butuh waktu lebih dari 10 menit, Minjoo telah kembali lagi dengan sebuah kantung plastik berisikan beberapa roti dan minuman di dalamnya. Ia pun berjalan menghampiri gadis cilik penjual bunga tadi.

“Adik kecil.. ini untukmu.” Minjoo menyodorkan kantung plastik itu di hadapan gadis kecil itu. lalu setelahnya ia mengeluarkan beberapa lembar uang padanya. “Dan juga ini untukmu beberapa hari kedepan. Mohon gunakan dengan baik.”

Gadis cilik itu pun tak dapat menyembunyikan binaran di matanya.

“Benarkah.. ini untukku?”

Minjoo menaikan kedua sudut bibirnya ke atas. Lalu menaruh kantung plastik beserta uang tadi di tangan gadis cilik itu.

“Tentu saja..”

Baekhyun tak dapat menyembunyikan senyumannya disana.

Selain Tuhan menorehkan keindahan pada wajahnya, Tuhan juga dengan menaruh jiwa baik hati pada gadis itu.

Membuat dada Baekhyun semakin bergemuruh dengan cepat ketika melihat Minjoo.

Gadis cilik itu pun tersenyum merekah dan menaruh makanan beserta uang tadi di tempatnya. lalu ia mengambil sesuatu dari balik tubuhnya.

“Aku tak bisa memberimu apa-apa, tapi..” gadis itu pun menaruh sebuah gelang kaki di atas tangan Minjoo. Gelang kaki dengan terdapat satu bola yang berbentuk mutiara disana.

“terimalah ini. Mutiara selalu menunjukan betapa cantiknya ia. Mutiara disana melambangkan dirimu, yang terlihat cantik di luar maupun dalam, nona.”

Minjoo memerhatikan gelang kaki yang berada di tangannya. ia pun tersenyum pada gadis itu.

“Terima kasih. Terima kasih telah memberikanku ini.”

Minjoo bangkit , bermaksud untuk pergi. “Hiduplah dengan baik, gadis manis.”

Manusia adalah makhluk sosial. Dimana yang artinya mereka adalah makhluk yang tak bisa hidup tanpa bantuan dari orang lain.

Sebagaimananya yang telah di ajarkan semua agama di dunia ini, Tuhan selalu menyuruh kita untuk membantu sesamanya yang kesusahan. Tidak perduli mereka beda agama, ras, suku atau pun bangsa.

Karena antar manusia dengan manusia yang lainnya selalu saling membutuhkan di dalam hidup ini.

Itulah yang orang tua Minjoo ajarkan padanya dahulu kala, Minjoo selalu di ajarkan untuk saling tolong menolong pada sesamanya walaupun sebagaimana susahnya ia jika ia merasa masih mampu menolong, ia harus tetap melakukannya.

Minjoo pun menatap Baekhyun lalu tersenyum, “Ayo kita masuk ke pantai.”

Minjoo baru saja melangkahkan kakinya satu langkah namun Baekhyun cepat-cepat menarik lengannya.

Baekhyun mensejajarkan kembali tubuhnya dengan Minjoo. Ia pun menurunkan pandangannya ke arah tangan Minjoo lalu menyatukan jemari mereka lagi dengan cepat.

“Jangan pernah melepaskan ini lagi tanpa perintahku. Kau mengerti?”

Minjoo dapat merasakan jantungnya berdetak sangat kencang sampai ia takut jika Baekhyun akan mendegarnya.

“Kajja. Ayo kita pergi.”

Sentuhan itu terasa seperti alat kenjut jantung untuk kedua belah pihak.

.

.

Suasana malam hari di pantai memang terasa sangat dingin. Udaranya seperti menusuk permukaan kulit siapapun yang sedang berada di sana.

Seperti Minjoo dan Baekhyun yang masih enggan untuk kembali ke hotelnya karena ingin menikmati suasana pantai di malam hari. Mereka membakar beberapa ranting kayu untuk dijadikan sebagai penghangat mereka. Rembulan dari atas sana memancarkan sinarnya ke pantai dan membuat pantai itu semakin enggan untuk di tinggali

Angin pantai pun menerpa rambut dan menyingkirkannya dari wajah Minjoo. memperlihatkan keindahan wajah gadis ini walaupun suasana gelap sekalipun. Jarak mereka begitu dekat, semakin mempertegas keindahan wajah gadis ini.

Baekhyun begitu menikmati pemandangannya.

“Baekhyun-ah.. kenapa kau menatapku seperti itu?”

Baekhyun tersadar dari lamunannya lalu terkekeh pelan.

“tidak ada apa-apa, Minjoo-ya..”

mereka menciptakan suasana hening yang begitu menenangkan. Membuat kedua belah pihak meresapi semua kenangan yang mereka buat hari ini.

Minjoo mengambil sesuatu dari balik saku dressnya. Gelang kaki yang gadis cilik tadi berikan padanya.

“Ini begitu cantik bukan, Baekhyun-ah?

Baekhyun pun turut memandangi gelang kaki itu lalu setelahnya ia mengambilnya dari tangan Minjoo.

“Mutiara itu selalu terlihat cantik sekalipun ia terbenam lumpur pantai. Bagaikan matahari ataupun bulan yang menyinarinya ia selalu terlihat terang.”

Baekhyun sejujurnya sedang mengatakan gadis itu. ia tahu jika gadis itu memiliki nama yang artinya mutiara. Sama persis seperti yang gadis cilik itu katakan, mutiara ini melambangkan dirinya.

“Mau kupasangkan di kakimu?”

Minjoo mengangguk pelan, menyetujui usulan Baekhyun. pria itu pun memajukan tubuhnya dan mencondongkan tubuhnya pada kaki Minjoo. Ia mengaitkannya disana.

Gelang kaki itu tampak cantik di kaki nya yang begitu indah juga. Bahkan luka bakar yang kemarin tertorehkan itu tak bisa membuat keindahannya hilang.

Astaga. Apakah ini Baekhyun yang berlebihan atau memang benar apa adanya?

“Sudah selesai.”

Minjoo memerhatikan kakinya dan melihat gelang kaki itu. ia tersenyum puas melihatnya.

Setelah dengan puasnya memandangi gelang tersebut, Minjoo tersadar akan sesuatu hal.

“Baekhyun-ah.” Ia membuka suaranya dengan sedikit takut. “Bagaimana jika Bora-ssi mencarimu dan mengetahui jika pergi bersama-sama?”

Baekhyun merasa tiba-tiba amarah dari dalam tubuhnya mencuat kembali. Minjoo merusak momen yang telah Baekhyun ciptakan dengan menyebutkan nama gadis itu.

“Bisakah kita tak membahasnya untuk hari ini saja, Minjoo-ya?” Baekhyun mengalihkan pandangannya lurus ke depan. “Aku sudah berusaha untuk tidak membahas dia tapi kenapa kau menyebutkan namanya.”

“Bukan begitu maksudku Baekhyun-ah..” Minjoo gelagapan bingung harus menjawab bagaimana. “Baiklah.. aku.. minta maaf..”

Baekhyun menghembuskan napasnya kasar. Entahlah, ia benar-benar sedang tak ingin mengingat gadis itu dan benar-benar hanya ingin menghabiskan seluruh waktu nya sampai malam berakhir dengan Minjoo. Tak ada lagi yang Baekhyun inginkan selain itu, ia tak peduli jika ketika ia kembali ke hotel nanti Bora akan marah padanya dan tak ingin berbicara padanya. Ia sudah tak memperdulikan itu.

“Kau tak perlu minta maaf. Aku hanya saja benar-benar tak ingin membahas dia atau siapapun itu saat ini.” Baekhyun menatap teduh mata Minjoo. “Bisakah kita melakukan itu?”

Minjoo mengangguk perlahan lalu menaikkan kedua sudut bibirnya perlahan. “Baiklah..”

“Minjoo-ya, aku ingin menanyakan suatu hal padamu.”

“Apa?”

“Apa kau.. sudah memiliki kekasih sebelum menikah denganku?”

Minjoo menatap Baekhyunn dengan gelagapan. Ini pertanyaan yang terlalu dalam untuknya.

Minjoo belum pernah memiliki kekasih sepanjang hidupnya.

Bukan, bukan karena ia tak menarik atau apa. Sudah beberapa kali pria-pria di Busan dahulu mendekatinya dan menginginkan dirinya untuk dijadikan sebagai pasangan mereka. Hanya saja Minjoo tak  pernah memikirkan hal itu karena yang selalu ia pikirkan hanyalah bagaimana caranya ia bertahan untuk hidup di dunia ini.

Sampai-sampai akhirnya dimana tuan Byun mempertemukan Minjoo dan Baekhyun dan pernikahan itu pun terjadi. Dimana Minjoo merasakan pertama kali dalam hidupnya, sebuah detak jantung yang cukup kencang ketika menatap mata lelaki tersebut.

Lelaki yang berada di hadapannya ini yang saat ini juga pun membuat dadanya bergemuruh.

“Ah.. maafkan aku. Mungkin tak seharusnya aku menanyakan ini bukan?” Baekhyun merasa bersalah karena Minjoo tak menanggapi perkataannya cukup lama, merasa pertanyaan tersebut terlalu dalam untuknya.

“Tidak. Aku tidak memiliki kekasih sebelum aku menikah denganmu.”

Baekhyun merasakan hatinya membuncah kali ini.

“Aku tidak bisa memikirkan untuk jatuh cinta karena untuk bertahan hidup pun aku sudah pusing untuk memikirkannya. Maka dari itu, aku belum pernah merasakan jatuh cinta.”

Baekhyun tak dapat menahan senyuman di bibirnya setelah mendengar perkataan Minjoo. Minjoo belum pernah memiliki kekasih yang artinya dia bisa menjadi yang pertama untuk Minjoo.

Eh apa yang kau pikirkan, Baekhyun!

“Kalau begitu.. tipe ideal lelakimu seperti apa?”

Sepertimu, Byun Baekhyun

“Aku tak memiliki tipe ideal lelaki apapun, Baekhyun-ah. cukup seorang pria yang membuatku nyaman ketika berada di dekatnya saja..”

Apakah itu aku, Han Minjoo?

“Kalau dirimu..? bagaimana dengan tipe ideal wanitamu?”

Baekhyun pun menatap wajah Minjoo dalam-dalam. Mencoba menceritakan sesuatu dari sana.

Ia menatap mata Minjoo. Mata yang memancarkan binar seperti bintang di malam hari. Baekhyun selalu menyukai mata Minjoo. Membuatnya ketika menatapnya masuk ke dalam dunia gadis itu.

“Aku menyukai gadis yang mempunyai mata yang indah. Membuatku seakan-akan tak ingin berhenti menatapnya lalu masuk ke dunianya dan terjebak di dalamnya..”

Ia menurunkan pandangannya menuju hidung Minjoo. Hidungnya yang membentuk sudut 70 derajat itu sungguh semakin mempercantik karya Tuhan. Menempelkan pada miliknya mungkin adalah hal yang paling terindah pernah Baekhyun lakukan pada dirinya.

“Gadis berhidung mancung akan sangat menggemaskan untuk bisa saling menempelkan hidung kami. maka dari itu aku menyukai gadis berhidung mancung..”

Terakhir, ia menjatuhkan pandangannya pada benda tipis berwarna merah kemudaan milik gadis itu. teringat ketika Minjoo menyunggingkan senyumannya disana. Membuat hati Baekhyun merasa tenang jika melihatnya.

Baekhyun pernah hampir merasakan benda tipis itu.

Hampir pernah merasakan betapa manisnya bibir itu.

Betapa lembutnya bibir gadis itu.

Membuat jantungnya tiba-tiba berdegup kencang saat ini.

Minjoo menyadari bahwa sedari tadi ketika Baekhyun menceritakan tentang tipe ideal gadisnya, lelaki itu seperti meneliti setiap lekuk wajahnya.

Membuatnya diam terkaku disana dengan dada yang bergemuruh sangat kencang.

“Dan aku menyukai gadis yang memiliki bibir berwarna merah muda.”  Baekhyun menatap intens mata Minjoo.

“Sama seperti milikmu.”

Minjoo bisa merasakan jika udara di sekitarnya berubah menjadi panas. Membuatnya terdiam kaku seketika dan merasakan berbagai kembang api telah memporak-porandakan perutnya.

Ya Tuhan tolong hentikan ini.

Tak lama dari situ, Suara ledakan kembang api pun memecah suasana hening mereka.

Ingin rasanya Minjoo bersujud syukur pada Tuhan karena telah mengabulkan permintaannya.

Membuat mereka (atau lebih tepatnya Minjoo) memutuskan kontak mereka.

Minjoo mencoba menghilangkan rasa gugupnya dengan memandang ke arah kembang api yang meledakan warnanya di langit.

“Baek-baekhyun-ah.. a-y-yo kita lihat lebih dekat lagi..”

Baekhyun bisa melihat jika Minjoo sedang gugup kali ini karena perkataannya tadi. Membuatnya terkekeh pelan lalu bangkit dari duduknya.

Ia mengulurkan tangannya pada Minjoo.

“Ayo kita ke tepi pantai untuk bisa melihat lebih dekat.”

Minjoo menatap Baekhyun ragu karena sungguh ia masih bisa merasakan degupan jantungnya yang teramat keras disana. Ia tak ingin memperparah keadaan jantungnya dengan menyambut ulurang tangan itu.

Terlalu lama Minjoo tak menerima uluran tangannya, Baekhyun dengan lantas menarik tangan Minjoo dan membuatnya berdiri seketika.

“Apa yang kau lakukan? Kau tak ingin kehabisan untuk melihat kembang api itu bukan?”

Minjoo pun tersadar, ia harus bisa menetralisir hatinya. ia pun mengangguk lalu segera berjalan ke arah tepi pantai yang setelahnya di susuli oleh Baekhyun.

Mereka menikmati setiap kembang api yang di ledakkan di atas langit disana. Membuat langit gelap semakin bercahaya.

Minjoo selalu menyukai kembang api.

Ia tahu jika kembang api tidak memproduksi warna-warna itu oleh dirinya sendiri melainkan di campur tangani oleh manusia.

Tapi ia tidak memperdulikan itu, karena kembang api selalu memberikan warna-warna indah disana. Memberikan cahaya ketika gelapnya langit malam.

Minjoo selalu tersenyum ketika melihat kembang api.

Baekhyun pun menolehkan kepalanya dan menatap wajah Minjoo yang tersenyum merekah melihat kembang api tersebut.

Tuhan memang sangat baik padanya.

Mengirimi dirinya seorang karya cipta terbaikNya untuk dirinya yang pada awalnya ia rasa itu merupakan kutukan dari Tuhan.

Setiap keindahan gadis ini selalu berhasil mencuri perhatiannya.

Membuatnya seakan-akan merasa nyaman dan tak dapat berpikir jernih.

Bibirnya.

Hidungnya.

Dan terlebih matanya.

Kembang api pun berhenti menyala. Membuat Minjoo menghela napasnya lalu menolehkan wajahnya ke samping.

“Baekhyun-ah.. ayo kita pulang. Kurasa ini sudah terlalu malam.”

Jangan.

Baekhyun tak ingin jika hari ini telah berakhir.

Hari dimana ia membuat momen-momen yang bahagia bersama Minjoo. Baekhyun benar-benar tak rela jika hari ini harus berakhir.

Minjoo memutar tubuhnya lalu melangkahkan kakinya untuk kembali.

Tak ingin kehilangan gadis itu, Baekhyun pun menggenggam lengan Minjoo.

Membuat Minjoo menghentikan langkahnya lalu memutar tubuhnya kembali menghadap Baekhyun.

“Ada apa, Baekhyun-ah?”

Baekhyun pun menurunkan tangannya dan menggenggam setiap jemari Minjoo dengan lembut. Lalu perlahan mengangkat tangan yang lainnya menyentuh pipi gadis itu. Merasakan betapa halusnya kulit gadis itu di jemarinya.

Sesuatu telah mendorong tubuh Baekhyun untuk menghapus jarak mereka.

Baekhyun masih tetap membuka matanya, tak ingin menghilangkan kesempatan untuk mengcopy wajah itu untuk otaknya. Baekhyun dapat merasakan napas Minjoo yang menerpa wajahnya, hangat. Membuat dadanya semakin bergemuruh.

Saat hidung mereka bersentuhan, Minjoo mulai menutup matanya. Membuat Baekhyun tersenyum. Lalu benar-benar menghapus jarak mereka. Menyapukan benda tipis miliknya pada benda tipis gadis itu. Membuatnya merasakan betapa manis dan lembutnya bibir Minjoo. Membuat darahnya mendesir ujung kaki sampai ujung kepalanya

Beberapa detik mereka menempelkan bibir mereka, Baekhyun kemudian memundurkan wajahnya beberapa senti dari Minjoo.

Ia bisa melihat Minjoo membuka matanya perlahan dan ketika ia menatap netra Baekhyun, Baekhyun langsung mengunci pandangan mereka.

Baekhyun bisa melihat jika wajah Minjoo memerah seketika dan kulit wajahnya pun memanas di jemarinya.

Baekhyun terkekeh pelan, astaga gadis ini benar-benar menggemaskan.

“Kau sangat manis, Minjoo-ya..”

Minjoo bisa merasakan jika kini ribuan kupu-kupu telah menghinggapi perutnya. Membuatnya tergelitik lemas. Untung saja Baekhyun menahan tubuhnya, memberikan pendirian pada gadis ini.

Tak kuasa untuk menyicipinya lagi, Baekhyun pun kembali memangkas jarak mereka dan mencium lembut bibir gadis itu.

Meresapi setiap sentuhan yang berada pada benda tipisnya. Membuat dadanya bergemuruh semakin tak karuan. Membuat rasa panas mencuat dari dalam tubuhnya. Membuat hormon dalam tubuhnya mendominasi akal sehatnya yang pada akhirnya, Membuat Baekhyun melingkarkan tangannya pada pinggang Minjoo dan menekan tengkuk gadis itu untuk memperdalam ciuman mereka.

Setiap sentuhan itu memberikan sensasi yang menyengat untuk Baekhyun. membuat hawa tubuhnya memanas dan semuanya berjalan tidak lancar.

Tapi Baekhyun menyukai sensasi itu.

Bulan yang menjadi penerangan mereka, bintang yang menyaksikan dan ombak lautan yang ribut tak dapat menghentikan mereka.

Yang pada akhirnya mereka ketiga benda itu pun hanya bisa menjadi saksi.

Saksi dimana pada akhirnya hati pasangan tersebut telah menang melawan ego mereka selama ini.

—TBC—

Hello guys…..

Ini apaan sih ya Tuhan T.T

Aku merasa tulisanku jadi semakin aneh semakin kesini…

Ah gimana dooongggg T.T

MAAFIN IH. JEONGMAL MIANHAEEE bikin kalian kecewa terus huftt T.T

Ini aku mau jelasin deh, jadi karena beberapa orang komen “Ih ada Luhan, jadi baper deh..”

Aku memutuskan Luhan hanya sebagai guest star di chapter kemarin sama yang ini. Nggak memutuskan sih, tapi emang udah di rencanakan begitu dari awalnya. HAHAHA

Yang pengen Luhan jadi orang keempatnya, maaf kalian harus menutup harapan rapat-rapat. Aku gak mau masukin Luhan disini karena dia udah jadi main cast di ff series ku yang belum kulanjutkan lagi karena belum dapat ideee T.T

ini seriesnya kalo kalian belum baca dan berminat membaca:)

[1] REAL FICTION [2] OUR NIGHT [3] MY JEALOUSY MAN

Jadi intinya Luhan cuman numpang lewat atau jadi model aja disini. BAHAHAHAHAHA

Nah kali ini aku bawa kabar buruk untuk kalian..

Aku. Akan. mengHIATUSkan. Ff. ini.

“KENAPA IH AUTHOOOORRRRR NYEBELIIIN”

Kan mau lebaran atuh, masa iya aku terus nulis mulu:’’’’) kebetulan aku udah mudik nih jadi ya mana mungkin kan aku nulis selama lagi di rumah nenek ku:’’’’) I have real life too guys:’’’’)

Dan aku nggak tau kapan buat ngelanjutinnya lagi karena setelah lebaran aku udah mulai disibukkan lagi disuruh bikin pkm untuk ospek kampusku. Astagfirullaaah T.T

Maafin yah, aku usahain buat update secepatnya. Tapi aku nggak bisa janji yah:’’’’’)

Kalian dari skrg harus mulai sabar ya, sabar baper gara2 ff ini sama sabar nungguin aku:’) BAHAHAHAHA

Udah ah aku panjang banget cuap-cuapnya, eh btw niatnya aku ini mau ngepost malam jumat loh. Tapi nggak jadi karena KALIAN WAJIB TAKBIRAN. Ya bagi yang mau lebaran sih wkwkwk.

Oke fix ini kkeut nggak akan ngomong lagi.

LOVE YAAAA

Happy Eid Mubarak btw for all moslems in here^^

4d3e4810jw1esy4hfja86j21kw11s11y

나는 멀리서나마 / Even from a far

712b4464gw1et44y57oppj215o0rsq81

난 마음속으로나마 / Even from inside my heart

0068sMwPjw1esods9up8bj31kw11y12b

너를 따스하게 비춰줄게 / I’ll continue to warmly light your way

-Baek’s sooner to be fiancée again-

232 responses to “THE SUN [Chapter 9: Days in Jeju Part. II (시선 둘, 시선 하나/ Both Eyes, One Eye)] -by ByeonieB

  1. Yaaaa ampunnnnnnnnn
    Kencannnnnyaaaa bikin envyyyy
    Semoga selanjutnya hubungan mereka lebih baik lgi
    Bora out aja lah

  2. aduh awalnya kok nyakitin sih kasihan minjoo. pengen deh punya temen kayak luhan aduh.
    dan untung baekhyun udah mulai sadar sama perasaannya terua gak mentingin ego lagi buat tetep suka sama bora.
    yee udah mulai membaik.
    aku baca next chaptermya dulu ya kak

  3. kjlasan prsaaan mrka mulai trliht, tlong jgn biarkn moment ini lenyap hnya krna ego mrk lgi/ krna orng yg ingin mrka brpisah

  4. Waaa authornim😄 kupu” diperutku jg bkin geli/abaikan/
    ayolah Baek qm scr g lgsung blang klo qm suka ama Minjoo, lepasin aj tuh Boora, ah empet w nyebutin namanya :’v
    ah ini bgus kog authornim😄 g bkin kecewa :3 ceritanya bkin greget, gakebayang wjahnya mama Byun ama Boora kl tau Minjoo n Baek g ikut tour terakhir :v
    fighting yaa authornim!!! :*

  5. Akhirnya mereka kissing jugaa *eh
    Romantis banget pengen punya pacar kayak baek
    Ga pengen hubungan mereka berakhir
    Bora nya masuk jurang aja deh
    Semangat thor!!

  6. maaf ya kak baru bisa comment di chapter sembilan, karena menurutku kedelapan chapter itu udah sempurna untuk menjadi sebuah karya yang baik. nah tapi di chapter sembilan aku baca beberapa kalimat yang typo seperti his brother harusnya her brother. terus pas seharusnya part nya Baekhyun malah jadi luhan.

  7. uwaaaahh eommaaaa.. rame banget… gakuat sama moment nya. Aduh baek nya cemburuan lucu banget. Sukaaa><
    akhirnya baek ngaku juga sama perasaan nya. Tapi plis minjoo harusnya tegas. Harus nya dia nanya kenapa baek lakuin ini kalo baek masih sayang bora? Minjoo nya kurang tegas:((
    tapi tetep rame tetep makin menarik ceritanya. Fighting eonn!!!!

  8. Aaaaa, akhirnya…… Semoga aja bora garese wkwkwk keren thorrr, makin kesini makin suka ma ff ini!! Keep writing thorrr!:)

  9. Paraahhhhhh….. Kelewat merinding aku bacanya
    Manis banget. Romantis abis!!
    Suka banget author. Aku seneng bgt ketemu ff sebagus ini, dan ga di protect ff ny, makasih banyak ya author..

  10. Anjwayy terbang masa kak😢😢akhirnya ada kiss scene juga huahahahaha :v #evillaugh yahhh kenapa luhan gak jadi orang ke4-_____- padahal rame kalo dia ikutan :3 suka banget pas bekyun cemburu soalnya wkwk

  11. Duh…….emg pasangan bodoh wkwkw bener kata luhan😂 tidak saling menyadari perasaan satu sama lain dalam artian baekhyun gak bisa nangkep perasaan minjoo dan sebaliknya wkwk dan lebih nya lagi baekhyun yg masih bingung sama perasaannya.
    Semangat buat bora! Lebih baik cari yang lain yaaa cantik hehe

  12. Anjaaahhh sweet ganana yawlahㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠ yah walopun awalnya nyesek sampe bacanya perih gegara nahan nangis eh taunya banjir pas akhirnya cuit cuit gini.. kaka keren buat suasana tuh sekaan sungguhan ngebayanginnya. Argh geli sendiri bayangin jadi minjoo nya xD geli geli hangathh gitulah/? 😂😂
    Mendingh lanjuth ajah yah kakh(?) 😂
    Ily, readers loves you🙆❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s