Like a Cat – Angelina Triaf

ki

Angelina Triaf ©2015 Present

Like a Cat

Kim Junmyeon/Suho (EXO) & Hyun Jiya (OC) | Fluff | G | Ficlet

0o0

Pagi hari memang waktu yang tepat untuk bersantai dan berguling-guling di ranjang empuk yang sangat nyaman. Mengarahkan pandangan ke arah kiri, terlihatlah Junmyeon yang masih dengan senyum termesum abad ini tengah memeluk guling kesayangannya, bahkan tak jarang pula menciuminya. Mimpi apa pemuda tampan nan manis itu?

Lain hal, lain cerita. Di ruang tengah gadis dengan rambut oranye lurus yang masih agak berantakan itu terlihat kebingungan mencari sesuatu. Mulai dari bawah sofa, dalam laci, lemari kaset, serta tempat-tempat kecil lain telah Jiya jelajahi. Namun nihil, sesuatu yang ia cari itu tak kunjung ditemukan. Ya ampun, benda penting apakah itu?

Melirik jam dinding, Jiya mengembuskan napas lelah ketika jarum pendek itu dengan cantiknya menunjuk angka sembilan. Ini sudah siang, terlebih lagi ia sedang kesulitan mencari benda berharganya yang hilang. Tapi….

“Junmyeon Oppa tidur atau mati, ya? Kenapa belum keluar kamar?”

Seumur hidupnya, itu adalah hal terkejam yang pernah Jiya ucapkan, terlebih pada kekasihnya sendiri. Apa? Mati? Memangnya Junmyeon kucing yang bisa disebut dengan kata ‘mati’?

Ah, bicara soal kucing….

“Nina.. Aish, Junmyeon Oppa, bantu Jiya mencari Nina!” teriak gadis berpipi chubby yang kini sangat sulit dibedakan apakah itu benar pipi atau bakpao—terlebih lagi Jiya mengembungkan pipinya sembari mengentakkan kakinya kesal. Akankah terjadi gempa bumi lokal di rumahnya?

Merasa kesal karena Nina—kucing kecil imut kesayangannya—tak kunjung ditemukan, terlebih lagi Junmyeon yang tak terlihat batang hidungnya karena masih tertidur nyenyak, Jiya memutuskan untuk membangunkan sang kekasih yang sepertinya memang mati jika saja Jiya tak melihat kejadian menjijikkan itu.

Tepat di depan matanya, Junmyeon masih senyum-senyum dengan waw amazing-nya—jika senyum-senyum mesum sambil menciumi guling dan bergumam tak jelas masuk dalam kategori amazing. Jiya hanya mampu geleng kepala. Padahal Junmyeon lebih tua darinya—bahkan tak jarang Jiya memanggilnya Ahjussi—namun mengapa miris sekali melihatnya dalam keadaan seperti ini?

Ke mana Junmyeon Oppa-ku yang manly dengan pancaran aura pelindungnya?

Ya, benar, itulah suara hati Jiya yang miris semiris-mirisnya. Masih betah memandangi Junmyeon yang kini semakin brutal menciumi gulingnya, Jiya bahkan sampai melupakan keberadaan kucing kecil kesayangannya itu. Hari Minggu yang menyebalkan bagi Jiya.

Menghela napas sekali lagi, Jiya memutuskan untuk membangunkan Junmyeon apa pun resikonya. Bahkan kalau perlu sekalian saja menyiram Junmyeon dengan seember air panas dari kamar mandi. Lama-lama Jiya semakin menghayati dalam memikirkan rencana-rencana jahat yang terdengar sangat psikopat sekali.

Oppa…”

Mengabaikan pikiran-pikiran jahat yang bergentayangan di kepalanya, Jiya lebih memilih membangunkan sang kekasih dengan lembut dan penuh cinta. Walaupun memalukan seperti ini juga Jiya sudah terlanjur cinta, jadi mau bagaimana lagi?

“Junmyeon Oppa…”

“Iya, sayang… hihihi…”

What the hell….

Jiya membulatkan matanya dengan jawdrop sebagai pemanis tampangnya yang sangat mengenaskan saat ini. Hari ini Jumat tanggal tiga belas kah? Kenapa ia bisa mengalami kejadian ajaib seperti sekarang ini?

YA! JUNMYEON OPPA, JANGAN MIMPI YANG—“

Dengan mata masih setengah terpejam dan jari telunjuk yang membungkam bibir Jiya, Junmyeon berbisik sangat seduktif dengan suara serak-serak-seksi minta dicium, “Sssttt… Hyun, please keep silent and don’t disturb—“

Oppaaa, Nina hilang…” Jiya merengek seperti bayi kecil. Ia mengembungkan pipinya seraya menatap Junmyeon dengan tatapan sadis, yang menurut Junmyeon terlihat sangat menggemaskan.

“Kalau Nina lapar nanti ia akan datang dengan sendirinya,” ucap Junmyeon santai, dan bahkan ia belum membuka sempurna matanya! Entah nyawanya kini sedang berada di mana.

“Tapi, Oppa…” mata Jiya meredup. Ia benar-benar takut kehilangan Nina yang bahkan lebih kecil daripada ukuran bukunya.

Mendengus lelah, Junmyeon akhirnya membuka matanya dan menatap mata Jiya dalam. “Hyun sayang, mungkin Nina hanya main, namanya juga anak-anak (maksud Junmyeon anak kucing), kan? Sudahlah, asal Hyun tahu, tadi Oppa mimpi melihat gadis-gadis di pantai dengan—ups!” Bodoh, Junmyeon malah membuka rahasia yang sejak berjam-jam lalu menjadi pertanyaan semua orang.

Apa yang Junmyeon mimpikan sampai mampu merubah wajah manis itu menjadi super mesum? Jawabannya adalah hal yang baru saja Junmyeon ucapkan di hadapan Jiya. Bagus, Junmyeon.

“Dengan apa?! Ya, Oppa!”

Miaw…”

Dua sejoli yang tengah ‘bermesraan’ itu menoleh ke arah sumber suara. Terlihatlah seekor kucing kecil yang memang sangat imut berwarna putih-hitam-oranye, kepalanya yang kecil itu menyembul dari balik tumpukan pakaian kotor milik Junmyeon. Mungkin tak hanya Jiya saja yang menyukai harum khas Junmyeon, bahkan Nina pun menyukainya.

“Nina! Ah, Oppa lihat, kan? Nina sangat menggemaskan seperti itu—ya, Oppa!”

Begitulah teriakan menggemaskan Jiya saat melihat Nina muncul dengan lucu seperti itu, lalu dengan paksa ditarik ke dalam pelukan Junmyeon yang memang hangat dan nyaman. Tak ada kata yang terucap oleh keduanya, namun selang sebentar Junmyeon memulai gombalannya di pagi hari.

“Di mata Oppa, kamu lebih kecil dan lebih menggemaskan dari kucing itu.”

Blushing adalah kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan Jiya saat ini. Ia menatap langit-langit kamar—tak ada cicak lewat. Pandangannya teralih pada pintu—tidak ada orang yang akan masuk. Yang jelas Jiya memandang segala benda kecuali seonggok daging tampan bernama Kim Junmyeon.

Terkikik kecil dalam hati, Junmyeon kembali melanjutkan gombalannya, “Hm, karena kamu telah mengganggu mimpi indah Oppa…”

Mata Jiya membulat saat melihat kucing cantiknya itu melompat keluar keranjang dan berjalan santai menuju pintu, meninggalkan Jiya bersama dengan kekasih yang sumpah demi apa pun sedang kerasukan setan mesum yang sangat mengerikan.

Ya, Oppa! Jangan macam-macam! Jiya besok ada ujian Matematika!”

Oppa malah harus sidang kelulusan besok,” ujar Junmyeon santai yang kini sedang asyik mencubiti pipi dan hidung Jiya.

“Huaaa! Nina, tolong Jiya!”

Ya, begitulah Minggu pagi mereka, diselimuti peristiwa tak terduga yang aneh dan sangat ajaib. Mari tinggalkan pasangan yang sedang bermesraan—dengan backsound suara teriakan Jiya yang imut—dan beralih melihat Nina yang tengah asyik memakan ikan di dekat meja makan, yang memang sengaja Jiya siapkan untuk sarapan Nina sebelum gadis manis itu menyadari ‘hilangnya’ sang kucing.

“Junmyeon Oppa, pipi Jiya sakit! Jangan dicubit terus, ya!”

Mereka pasangan yang sangat manis. Benar kan, Nina?

Miaw…”

FIN

7 responses to “Like a Cat – Angelina Triaf

  1. Duh lucunya Si Nina (?) gakebayang punya kucing lucu kek nina(?) wkwkwkwkkw

    Bagus thor! Semangat terus ya ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s