Ambition [Chapter 5] by Sehun’Bee

Ambition

Sehun’Bee

.♥.

Sehun – Hanna – Skandar

.♥.

Kai – Jenny

.♥.

Romance – Drama

.♥.

PG-17

.♥.

Credit >> poster and Header Title by : popowiii | SHINING VIRUS

..♥..

First Sight [1]Nice to Meet You [2]Plan [3] I lose, You Fall [4]

You’ll be mine [Now]
.
.
Happy Reading^^

-Ambition-

.: Previous :.

Entah iblis darimana, Sehun tiba-tiba mendorong bahu mungil Hanna hingga punggungnya mendarat ke sofa. Membuat wajah tanpa ekspresi itu tepat berada di bawahnya. Jemarinya kembali bergerak, menyentuh bulu mata lentik Hanna, hingga mata itu refleks mengerjap.

“Sebenarnya, ini sangat sulit untukku, Hanna. Aku laki-laki, dan laki-laki tidak sehebat perempuan dalam menahan hasrat. Dan kau … kau terlalu menggoda untukku. Bahkan dari awal, aku sudah tergoda olehmu.” Sehun berujar, seduktif. Tangannya pun tak berhenti menggoda Hanna dengan sentuhan-sentuhan kecil di wajahnya.

“….” Hanna diam menikmati, tak berkutik sama sekali. Manik Sehun pun semakin leluasa mengagumi setiap pahatan sempurna wajah itu, hingga berhenti di bibir mungil berbentuk hati miliknya.

“Kau pernah berciuman?” tanyanya tiba-tiba, tergoda ingin melakukan lebih.

“Tidak.”

“Bolehkah aku jadi yang pertama?”

.: Ambition (5) :.

Tubuh Hanna terasa remuk. Kepalanya pening—sakit sekali. Berkali-kali gadis itu hembuskan napasnya kasar tanpa berniat beranjak dari tempat tidurnya. Padahal sudah bermenit-menit berlalu semenjak ia membuka mata, namun rasa sakit di sekujur tubuh sekaligus di kepala itu tak kunjung reda. Duduk diam dengan punggung yang bersandar pada kepala ranjang pun menjadi pilihan. Ia tak lupa, semalam Blue Agave Tequila telah berhasil mengambil alih semua kesadarannya. Tak heran jika ia berakhir menyedihkan di pagi hari.

Hah..

Hembusan napas kasar untuk yang terakhir pun menjadi awal bangkitnya Hanna. Gadis itu lantas berjalan dengan sempoyongan ke dalam kamar mandi. Ia ingat, ada jadwal ke New Jersey hari ini. Ia tak boleh bermalas-malasan lebih lama, meski tubuhnya menginginkan istirahat lebih. Umpatan demi umpatan dalam hati pun tak henti-hentinya gadis itu lontarkan. Bagaimana bisa ia melupakan fakta bahwa tubuhnya amat lemah terhadap alkohol? Sial. Tidak seharusnya ia minum berlebihan semalam.

Saat tiba di dalam kamar mandi, Hanna menatap pantulan dirinya di depan cermin. Rambut bergelombangnya terlihat berantakkan. Wajah tanpa senyumnya terlihat buruk. Namun Hanna tak peduli. Tangan kanannya segera menurunkan tali lingerie yang melekat manis di bahunya. Tubuhnya pun lantas berbalik ke arah keranjang pakaian kotor, diikuti fokusnya yang juga tertuju ke arah yang sama. Kejanggalan pun dilihatnya. Hanna menemukan lapisan kimononya sudah berada di dalam sana. Saat itu juga Hanna sadar, tubuhnya hanya berbalut lingerie transparan itu. Alisnya seketika bertaut bingung, namun tak lama …

“Astaga …,” Hanna membungkam mulutnya sendiri dengan sebelah tangan, “—Sehun,” tubuhnya lemas seketika. Hanna lupa, semalam ia tidak sendirian. Tubuhnya lantas kembali berbalik menghadap cermin. Ia juga ingat, semalam rambutnya dicepol bervolume namun kini, anak rambutnya sudah menjuntai bebas. Oh God!

Hanna panik.

Tangannya refleks menyibak rambutnya asal, mencari sesuatu yang janggal di area leher, bahu, beserta dadanya. Namun mulus. Tak ada warna aneh di sana. Gadis itu bisa sedikit bernapas lega sekarang. Setidaknya Sehun tidak melakukan hal kotor terhadapnya. Namun siapa yang tahu jika memang pria itu tidak menyentuhnya? Aargh. Hanna frustasi. Tumitnya pun kembali memutar haluan—hendak mencari pria yang sudah membuatnya gelisah itu. Namun terhenti, Hanna terlihat berpikir sejenak sebelum akhirnya kembali berbalik lantas meneruskan acara melucuti bajunya.

Hanna butuh ketenangan. Ia akan terlihat bodoh jika langsung mencari Sehun sekarang. Dan akan lebih bodoh lagi jika Hanna meminta penjelasan dengan nada panik. Mandi terlebih dahulu pun menjadi pilihan gadis itu. Setelah itu, Hanna akan mencari Sehun.

Kurang lebih satu jam Hanna memperbaiki penampilannya. Polesan make up tipis pun menjadi penutup dari semua rangkaian rutinitas paginya. Jam yang sudah menunjukkan pukul sembilan pagi pun membuat gadis itu mendesah. Hanna tak akan sempat turun ke tempat kerjanya. Pertemuan dengan CEO Ritz-Carlton Hotel di New Jersey akan dilaksanakan pukul satu siang nanti. Itu berarti, Hanna harus berangkat paling lambat pukul sepuluh. Dan sebelum itu, Hanna harus mencari di mana Sehun. Huh…

Hanna menyesal sudah membiarkan pria itu menemaninya minum semalam. Padahal jika ia menolak, mungkin gelisah itu tidak akan ada. Pening di kepalanya pun semakin berat terasa saat memorinya terus dipaksa berputar—mengingat kembali apa yang sudah dilakukannya bersama Sehun. Namun sayang, tak ada gambaran pasti dari potongan ingatan itu. Hanna tak bisa mengingatnya. Bahkan Hanna tak ingat mengapa dirinya bisa berakhir di tempat tidur sementara seingatnya, ia dan Sehun minum di ruang tamu. Argh!

Tak ingin larut, Hanna putuskan untuk segera beranjak mencari Sehun. Siapa tahu pria itu masih berada di sini, di gedung ini, meski Hanna tahu sekarang sudah memasuki jam kerja. Tumitnya pun mulai melangkah keluar dari ruang pribadinya. Kemudian ditutupnya perlahan pintu itu sebelum kembali melangkah menuruni anak tangga. Fokusnya seketika berpendar, menelanjangi setiap sudut ruang yang ada saat kaki jenjang beralaskan pump shoes miliknya menapak di lantai dasar. Aroma lezat masakan Italia pun menyapa. Menghipnotis Hanna hingga mencari dari mana aroma itu berasal. Em… Hanna tergoda, dapur pun menjadi titik fokus terakhirnya. Sayang tubuhnya menegang setelah itu.

Sementara yang diperhatikan terlihat sibuk menata olahan tangannya. Hanna tak menyangka, orang yang dicarinya bahkan tak pergi ke mana pun. Pria itu terlihat asyik dengan dunianya sebelum menyadari kehadirannya. Senyum tipis pun Hanna lihat dari bibir mungil pria itu, seolah menyambutnya dari atas singgasana. Sayang, wanita yang menjadi alasannya berkutat di dapur tersebut hanya diam membatu.

“Selamat pagi ….” sapanya. Tangannya bergerak santai melepas apron di tubuhnya. Merapikannya sesaat sebelum mengembalikannya ke tempat semula. Hanna yang semula diam pun mulai melangkah menghampiri. Penasaran akan apa yang sudah Sehun lakukan di dapurnya.

Sehun sendiri hanya diam memerhatikan Hanna dari bawah hingga ke atas. Senyum tulus pun semakin lebar tercetak di wajah blasterannya saat melihat long sleeves dress berwarna biru dongker yang Hanna kenakan menutup rapi tubuhnya. Double-breasted yang menghiasi bagian depan tubuh pun menambah desain anggun dress itu.

LSD

Sehun amat senang melihat gadisnya berpakaian tertutup seperti itu. Meski dress tersebut tetap jatuh di atas lutut namun setidaknya bagian atas tubuhnya terlindungi. Sehun pun bisa tenang sekarang.

“Sehun, apa yang—” Hanna tak meneruskan ucapannya. Pengelihatannya sudah terlanjur memberikannya jawaban. Apa ini? Lasagna? Sehun memasak? Wow. Gadis itu membatin kagum melihat makanan tradisional khas Italia yang sudah berjejer rapi di atas meja makan. Aroma pasta dengan white souce dan bolognese, berpadu dengan taburan keju yang meleleh di atasnya pun tak henti-hentinya menggelitik hidung Hanna. Sungguh nikmat aroma itu. Hanna tergoda untuk mencicipinya.

Ia bahkan tak sadar saat tangan Sehun meraih tubuhnya hingga merapat dengan perut rata miliknya. Namun tangannya bergerak refleks menahan bahu lebar pria itu. Fokusnya pun beralih lantas terperangkap dalam sorot kelam nan tajam penuh pesona tersebut. Sehun sendiri terlihat tak peduli pada pertanyaan tak sampai gadis itu. Dengan tubuh yang bertumpu santai di bibir meja, pria itu mampu membuat posisi mereka terasa nyaman.

“Kau baik-baik saja, kan?” tanyanya kemudian, ada nada khawatir di dalamnya. Mengingat apa yang terjadi semalam.

“….” Hanna hanya diam, masih terperangkap. Aroma shampoo dan body wash yang sama dengannya pun Hanna cium. Sepertinya Sehun menggunakan peralatan mandinya. Namun Hanna tak mempermasalahkan itu. Ia begitu menyukai perpaduan wangi tubuhnya dan aroma maskulin tubuh Sehun. Jas yang dipinjamkan pria itu pun masih disimpannya dengan baik, enggan mengembalikannya pada sang pemilik.

Sesaat Hanna sadar. Gadis itu merasa bodoh akan buaian feromon tersebut. Namun kembali larut saat menyadari warna rambut Sehun yang tak lagi cokelat. Rambutnya berwarna hitam legam sekarang. Tatanan rambutnya sendiri asal tanpa gel pengeras. Sehun juga hanya mengenakan kemeja berwarna biru dongker, warna yang sama dengan dress-nya. Skinny jeans-nya sendiri berwarna cream. Sungguh perpaduan warna yang sempurna. Dan sungguh bodoh dirinya karena kebiasaan memerhatikan fashion orang lain itu muncul di saat yang tidak tepat.

Hah… Hanna menutup matanya perlahan. Mencoba untuk mengesampingkan kebiasaan buruk itu dan kebodohannya.

“Kenapa? Kau pusing?” tanya Sehun, lagi. Melihat Hanna yang hanya diam saja dengan mata yang tertutup membuatnya semakin bertanya. Kekhawatirannya pun bertambah.

“Kau tidak berangkat kerja hari ini?” astaga, pertanyaan macam apa itu? Alih-alih menjawab pertanyaan Sehun atau menanyakan pertanyaan yang sedari tadi mengusiknya, Hanna justru mengajukan pertanyaan bodoh itu.

“Esok dini hari aku harus pergi ke Jerman. Ada rapat umum para pemegang saham Bertelsmann dari 63 negara anggota di sana. Dan hari ini, aku ingin bersamamu.” jawab Sehun, menyatakan bahwa dirinya tidak pergi bekerja hari ini lantaran esok dirinya tak bisa bertemu kembali dengan gadis itu. Sungguh konyol.

“Lusa, hari sabtu … lelang tender untuk desain interior 520 Park Avenue akan dilaksanakan di Dubai. Kita akan bertemu lagi di sana.” Hanna sungguh tak menyangka, Sehun sampai segila ini terhadapnya, “Hari ini aku harus pergi ke New Jersey dan a—“

“Aku tahu! Aku yang akan mengantarmu ke sana, menggantikan tugas sekretarismu … dan kami sudah sepakat untuk itu—untuk bertukar posisi hari ini. Tapi sebelum itu, kau harus mengisi perutmu terlebih dahulu.” sela Sehun, enteng.

“Apa?” Bagaimana bisa? Lanjut Hanna membatin.

-Ambition-

Kai mengacak rambutnya frustasi. Ini sudah ke-4 kalinya pria itu melakukan hal yang sama di ruangan yang masih asing baginya itu. Jenny yang melihatnya pun tak henti-hentinya tersenyum. “Nona Hanna akan baik-baik saja, Kai … Sehun mencintainya, dia tidak akan melukainya …,”

“Mereka tidur bersama. Bagaimana bisa aku tenang?” sela Kai. Kedatangannya ke apartemen Hanna tadi pagi sukses membuatnya kacau sampai saat ini. Dimana tak ada lagi Hanna yang datang menyambutnya dengan pakaian minim, melainkan seorang Oh Sehun dengan bathrobe di tubuhnya. Pikir kelelakiannya pun bangkit saat itu. Sehun sendiri hanya menjawab apa adanya saat pria itu bertanya, “Apa yang sedang Anda lakukan di sini, Tuan?”

“Aku menginap semalam. Hanna masih tidur. Semalam ia tidur amat larut. Jangan bangunkan dia, jika ada perlu biar aku yang menyampaikannya …, ” Sehun yang ditanya seperti itu seolah mengerti maksud dari kedatangannya. Kai bahkan tak berani bertanya lebih lanjut. Lagi pula, akan sangat lancang jika ia sampai bertanya hal-hal yang berbau pribadi pada Sehun, meski itu menyangkut sahabatnya.

“Nona ada jadwal menggantikan Ayahnya untuk pergi ke New Jersey hari ini pukul sepuluh nanti.” ujarnya kemudian. Berjuta pertanyaan pun Kai kubur dalam-dalam. Ia akan bertanya pada Hanna langsung perihal kedekatannya dengan rivalnya tersebut.

“Aku tidak yakin Hanna akan baik-baik saja setelah bangun. Tetapi jika ia ingin tetap berangkat, aku sendiri yang akan mengantarnya. Anda tidak keberatan, kan?” tanya Sehun, semakin menimbulkan tanda tanya besar bagi Kai. Wajahnya pun sudah pucat pasi. Pikiran buruk itu terasa semakin nyata.

“Maaf, Tuan—“

“Kita bertukar posisi untuk hari ini. Pergilah ke kantorku. Temani Jenny menyelesaikan semua pekerjaannya …,” sela Sehun, penuh akan daulat. Tak ingin dibantah. “Aku percaya padamu. Dan percayalah padaku, sahabatmu akan baik-baik saja bersamaku …,” Sehun tersenyum sebelum kembali menutup pintunya. Membuat Kai hanya bisa berdiri kaku selama lima belas menit lamanya.

“Ah, tunggu … Mencintainya?” Kai bertanya, sadar telah melupakan satu kata terpenting.

“Hm, sepupuku itu sedang jatuh cinta.”

“Benarkah?”

Senyum Jenny menjadi jawaban. Tubuhnya pun semakin rapat pada Kai yang tengah bersandar pada sofa di ruang kerja Sehun tersebut. “Biarkan saja. Ini untuk pertama kalinya aku melihat Sehun jatuh cinta lagi setelah hubungannya kandas dengan gadis masa lalunya.” Tangan Jenny bergerak menepuk dada bidang pria itu. Menenangkannya dalam diam.

“Papa bilang, wanita itu seperti halnya barang. Jika dicintai maka akan terawat dengan baik, namun jika hanya dibutuhkan barang itu akan cepat rusak. Seperti halnya kau terhadapku. Kau mencintaiku maka kau tidak akan membiarkanku rusak. Sehun pun demikian. Ia mencintai Nona Hanna, dan aku yakin, dia tidak akan merusaknya sebelum Nona Hanna resmi menjadi miliknya … Aku mengenal Sehun, Kai. Kau tidak perlu khawatir …,” ujar Jenny. Matanya terpejam sempurna, menikmati wangi tubuh pria yang menjadi sandarannya itu.

“Tidakkah itu terlalu cepat?” Kai menunduk, menatap Jenny yang masih betah pada posisinya. “Tuan Oh, aku rasa dia pria yang sudah ‘berpengalaman’ ” Kai membuat tanda kutip dengan jarinya, “—sangat tidak mungkin ia bisa jatuh cinta dalam waktu cepat.” lanjut Kai, Jenny pun membenarkan.

“Dia memang senang mempermainkan wanita untuk kepentingannya sendiri. Setiap wanita yang menjadi teman kencannya pun tak pernah ada yang berwajah buruk, semuanya cantik. Namun hanya dengan Nona Hanna dia seperti itu. Maksudku, berubah sedikit lebih aktif dalam berbicara, menjadi pencemburu, bahkan mudah bosan dengan pekerjaan hanya karena ingin bertemu dengan Nona Hanna.” Jenny mengingat-ngingat kembali semua perubahan Sehun semenjak bertemu dengan Hanna. “Apa itu belum cukup untuk membuktikan bahwa dia sedang jatuh cinta?”

“Entahlah, aku hanya takut Nona Hanna kehilangan apa yang selama ini ia jaga. Kemudian ditinggalkan begitu saja—“

“Aku sendiri yang akan membunuh Sehun jika pria itu sampai berani melakukan hal buruk pada Nona Hanna.” sela Jenny cepat. Senyum pun tercipta di bibir pria berkulit tan itu.

“Bagaimana jika semalam sepupumu itu sudah melakukannya? Kau sanggup membunuhnya sekarang?”

“Kalau begitu, kita cari tahu sekarang …,” Jenny terbakar. Mudah sekali baginya berubah pikiran. Tadi, gadis itu yakin Sehun tak akan melukai Hanna. Namun kini, apa yang dipikirkan Kai pun ikut dipikirkannya.

“Ya, tapi setelah ini—” ujar Kai menggantung. Namun gerakan tiba-tibanya cukup membuat Jenny membatu. Matanya pun tertutup perlahan. Membiarkan gejolak di dada beserta sensasi yang tak lagi asing itu menyapu lembut permukaan bibirnya. Tangannya yang semula menempel di dada bidang pria itu pun perlahan beralih menahan tengkuknya. Mencoba untuk memperdalam sentuhan satu sama lain hingga bibir itu semakin basah oleh saliva.

Kini, keduanya tak lagi memperdebatkan masalah Sehun dan Hanna. Masalah mereka jauh lebih penting sekarang.

-Ambition-

Terbang dari Bandara International Rafik Hariri, Lebanon, dan mendarat dengan sempurna di Bandara International John F. Kennedy, New York City—tak membuat pria itu letih. Ia bahkan meminta asisten pribadinya untuk membawanya ke Battery Park City daripada pulang ke Maryland. Lagi pula, esok Ayahnya pun akan berkunjung ke Fifth Avenue, Manhattan. Memantau bisnis keluarga Willard di sana sekaligus menemui sahabatnya yang juga sedang berada di Borough mewah tersebut.

“Mr. Willard?” Yang dipanggil hanya mengalihkan perhatiannya dari tablet putih di tangan. “Who you want to meet?” lanjutnya bertanya.

“Miss Khaza, I want to meet her.” jawabnya dengan senyum. Satu Minggu di Lebanon (mengunjungi Kakek dan Nenek) setelah perjalanan bisnis ke Macau membuatnya begitu merindukan Amerika. Ah, tidak, bukan Amerika yang ia rindukan. Pria itu merindukan hal lain. Hanna. Gadis itu, gadis yang dikenalkan Ayahnya saat di Macau, ia merindukannya. Ia ingin bertemu kembali dengannya. Bahkan kini, pria itu lebih memilih Ritz-Carlton Tower di Battery Park City sebagai tempatnya untuk pulang dan istirahat.

“Apa itu untuk urusan bisnis, Tuan?”

“Stop being so formal with me, Mr. Park!” sadar terus dipanggil tuan oleh asisten pribadinya membuat pria itu jengah sendiri. Tawa pun didengarnya sebagai jawaban.

“Baiklah, Skandar … apa yang membuatmu ingin datang menemuinya?” tanyanya lagi.

“Aku merindukannya.” jawabnya, singkat namun bereaksi hebat. Terbukti dari nada ‘uugh’ menggoda yang keluar dari dalam mulut asistennya.

“Kau sedang jatuh cinta, eh?” godanya lagi, semakin menjadi.

“Kita bersama sejak kecil, Chanyeol. Aku yakin kau sudah mendapat jawabannya …,” Skandar menjawab sekenanya. Wajahnya berpaling ke arah jendela di samping tubuh. Matanya pun lincah memerhatikan hiruk pikuk jalanan Manhattan. Namun senyum manis itu tak kunjung pudar dari wajah blasteran Maryland-Lebanonnya.

“Satu kali bertemu, kau langsung jatuh cinta?” Pria bermarga Park itu terlihat (sedikit) tak percaya. Ayolah, ia hanya berniat menggoda tadi, tetapi Skandar menyatakan keseriusannya. “Ini konyol. Aku rasa kau hanya tertarik padanya.” bantahnya kemudian, senyum Skandar dari spion pun dilihatnya sebagai jawaban. Jadi benar? Astaga. Keluarganya sudah sejak lama mengabdi pada keluarga raja hotel J. Willard Marriott, dan ia tumbuh dilingkungan yang sama dengan cicit pendiri hotel ternama tersebut. Namun kali ini, Chanyeol benar-benar tak habis pikir pada Skandar yang sudah dianggapnya adik tersebut.

“Hm, awalnya aku hanya mengaguminya … Aku menyukai cara bicaranya yang tenang saat memberikan sambutan pada seluruh peserta rapat di Macau. Dan keanggunannya yang mampu menarik semua perhatian para bangsawan kala itu. Namun, selama satu Minggu aku berada di Lebanon, sosoknya tak kunjung pergi dari ingatan. Aku bahkan merasa sangat merindukannya, ingin kembali berjumpa dengannya, dan bertegur sapa dengannya. Apa itu yang dinamakan tertarik?”

“…..” Chanyeol diam. Adiknya itu benar-benar sedang jatuh cinta rupanya. Diingatnya kembali sosok Hanna saat dirinya ikut serta menemani Skandar dan Ayahnya di Macau. Satu memori penting dari sosok itu pun didapatnya. “Dia pernah menjalin hubungan dengan salah seorang ahli waris Rockefeller Group.” ujar Chanyeol tiba-tiba. Pria itu pun sempat tertarik pada Hanna hingga mengetik namanya di google pencarian. Informasi seputar masa lalu gadis itu pun tersebar di media karena melibatkan salah satu keluarga terkaya di dunia, Rockefeller. Bahkan kedekatan keduanya didukung oleh kedua keluarga (Ritz-Carlton dan Rockefeller).

“Apa? Rockefeller?” Skandar membeo tak percaya. Masa lalu Hanna saja sudah berasal dari keluarga sekelas Rockefeller. Meski Marriott International cukup terkenal, namun tetap saja, kekayaan mereka tak sebanding dengan kekayaan keluarga raja minyak sekaligus penguasa real estate tersebut. Tanah tempat markas PBB dibangun pun pemberian dari keluarga Miliarder tersebut.

“Sayang hubungan mereka kandas di tengah jalan. Padahal, kedua keluarga sudah merencanakan pernikahan keduanya setelah lulus dari bangku universitas.” Chanyeol kembali berucap. Diliriknya wajah gelisah Skandar dari balik kemudi. “Kau tahu? Jika sang ahli waris Ritz-Carlton itu menikah dengan ahli waris Rockefeller, mungkin saat ini Ritz-Carlton sudah menjadi bagian dari Rockefeller Group.” lanjutnya.

Apa? Menikah? Benarkah? Sejauh itukah hubungan keduanya? Skandar semakin kalut. Merasa bukan apa-apa jika dibandingkan dengan mantan kekasih gadis incarannya itu. “Apa yang membuat hubungan mereka berakhir?” tanyanya kemudian. Rasa penasaran itu menyelimuti.

“Tidak tahu. Tak ada penjelasan. Kau bisa tanyakan langsung pada gadis itu …,” jawab Chanyeol, enteng.

“Kau menyebalkan!”

 

-Ambition-
Pemandangan yang terlihat dari jendela mobil di samping tubuhnya hanya menjadi pelarian semata. Tangannya terlipat di bawah dada, namun sesekali sebelah tangannya itu bergerak tanpa sadar—memainkan bagian bawah bibirnya. Mengelusnya lembut, kadang juga memberikannya sedikit cubitan. Kebiasaan itu selalu muncul ketika ia sedang merasa bosah ataupun ketika sedang berpikir. Kebiasaan yang sebenarnya sudah lama Hanna hilangkan, namun kembali hanya karena gundah memikirkan apa yang telah dilupakan.

Pelan-pelan, apa yang Hanna coba untuk ingat itu akhirnya datang silih berganti. Membuka setiap lembaran memori yang menumpuk. Sampai pada satu titik, tubuh Hanna menegang karenanya. Bahkan tanpa sadar, gadis itu menggigit kuku jarinya sendiri.

Sehun yang sedari tadi diam mengemudi pun tertarik untuk memerhatikan, tanpa menghilangkan fokus dari jalanan di depannya. Ia tahu Hanna sedang gelisah, tetapi lidahnya kelu untuk sekedar bertanya. Bahkan semenjak mereka memasuki mobil, tak ada percakapan yang berarti di antara keduanya. Sehun sudah terlanjur kehilangan semua kata-katanya untuk mencari topik pembicaraan lain dengan gadis itu. Ia merasa sudah terlalu banyak bicara saat di apartemen tadi. Padahal sesungguhnya pria itu hanya bicara sekenanya. Menanyakan kabar Hanna hari ini, menjelaskan mengapa ia masih berada di apartemen gadis itu, mengapa ia yang mengantar, dan terakhir mengajak gadis itu sarapan. Hanya itu.

“Sehun?” Hanna memanggil. Memecah keheningan di antara keduanya.

“Ya?” Sehun melirik sesaat.

“….” Hanna diam. Matanya terpejam sempurna. Ingatan terakhir itu benar-benar membuatnya panas-dingin. Dalam hati, Hanna merutuki lidahnya yang sudah bergerak sesuka hati—menceritakan keinginan Mr. David dan Ayahnya untuk mempererat hubungan kedua keluarga pada Sehun.

“Bolehkah aku jadi yang pertama?” Aargh! Suara pria itu pun terus terngiang dalam ingatan. Membuat Hanna semakin kalut karenanya. Tak hanya itu, Hanna juga ingat saat wajah Sehun semakin mendekat, namun setelahnya ia tak ingat apa yang terjadi. Sial.

“Ada apa?” tanya Sehun, tak sabaran. Hanna menatapnya dengan sorot yang sulit diartikan. “Apa yang kau lakukan padaku semalam?” ungkap Hanna pada akhirnya. Suaranya terdengar tenang seperti biasa, namun Sehun tahu, ada kekhawatiran yang mendalam di balik itu. Seringai pun tercipta di wajah tampannya. Pria itu tak lantas menjawab pertanyaan Hanna. Ia justru sibuk mencari tempat untuk memarkirkan mobilnya di tempat tujuan mereka tersebut.

Hanna semakin gelisah dibuatnya. Gadis itu tahu Sehun tak tuli, jadi tak perlu untuknya mengulang kembali pertanyaan itu. Saat Sehun selesai menempatkan mobilnya di area kosong, barulah fokusnya teralih menatap Hanna.

“Kau yakin tak mengingatnya?” tanyanya, mempermainkan.

“Aku bertanya karena aku tak mengingatnya!” suara Hanna, datar. Sehun melepas seat belt-nya lantas memiringkan tubuhnya—menghadap Hanna. Senyumnya terlihat menggoda kali ini. Hanna pun semakin tak nyaman dibuatnya. “Kita ulangi saja. Bagaimana?” tanya Sehun, semakin menjadi. Sadar akan adanya otot tegang di balik wajah datar Hanna. Tangannya pun terulur, melepas seat belt gadis itu.

Hanna yang terus memerhatikan gerak-geriknya pun hanya bisa menggeser posisi duduknya. Sehun yang melihat itu justru mendekat hingga punggung Hanna menyentuh pintu mobil. “Menjauh dariku …!!” titah Hanna, tegas.

“Aku hanya ingin menjawab pertanyaanmu,” Jemari Sehun bergerak, menyibak helai rambut Hanna hingga ke belakang telinga. Tubuhnya kembali bergerak, jarak antar wajah pun semakin terkikis. Kedua tangan Hanna refleks menahan bahu pria itu. Wajahnya berpaling—menghindar. Matanya pun tertutup rapat. Gadis itu merasa kaku untuk melakukan perlawanan lebih. Lidahnya pun kelu untuk sekedar memaki, bahkan semakin kelu saat bagian kanan lehernya merasakan sapuan hangat napas Sehun. Bahkan semakin menjadi saat tak hanya napas yang Hanna rasa menyentuh permukaan kulitnya.

“Sehunn …,” Kedua tangannya refleks meremas bahu pria itu hingga kusut. Suaranya terdengar lemah. Tubuhnya lemas bahkan sedikit bergetar. Namun sang pemilik nama masih enggan menjauhkan inderanya dari leher putih itu. Meski ia yakini, apa yang dilakukannya tak pernah Hanna alami sebelumnya bersama pria lain. Tangannya bahkan sudah memeluk posesif pinggang gadis itu. Sementara tangan Hanna sudah dibuat dingin olehnya.

Setelah merasa cukup menyentuh Hanna dan mengisi paru-parunya dengan aroma gadis itu, akhirnya Sehun beralih mendekatkan bibir mungilnya ke arah telinga. “Hanya itu. Jangan khawatir …,” ujarnya kemudian. Halus bak angin, namun menggoda Hanna. Kecupan di pipi pun menjadi akhir kegilaan Sehun.

Tak lama, Sehun jauhkan wajahnya dari Hanna. Ditatapnya wajah gadis itu. Reaksi yang sama seperti halnya semalam pun dilihatnya dari Hanna. Namun semalam, tubuh gadis itu tak bergetar—Hanna tak ketakutan. Gadis itu menikmati apa yang dilakukannya. Ah, semalam gadis itu berada di bawah pengaruh alkohol. Tak heran jika Hanna hanya diam membiarkan bibir mungilnya menjamah leher jenjangnya. Ya, Tuhan, wajah Sehun panas mengingat apa yang terjadi saat itu.

“Aku yakin, aku pria pertama yang berani selancang ini padamu, Hanna … dan akan aku pastikan, hanya aku yang akan melakukan hal itu lagi padamu ….” ungkap Sehun kemudian. Hanna masih diam. Gadis itu sibuk mengatur debaran dalam dada. Tanpa memedulikan perubahan warna pada pipi tirus pria itu. Hanna hanya takut. Perasangkanya sudah buruk. Ia pikir Sehun akan melakukan hal gila terhadapnya di dalam mobil. Jantungnya pun terus memompa abnormal. Sebisa mungkin Hanna mencoba untuk tetap tenang, meski sesungguhnya, ia sangat ingin menampar Sehun sekarang.

“Kau gila, ” kata-kata kasar itu kembali terlontar dari mulut mungil Hanna. Sehun tersenyum mendengarnya. Sudah dua kali Hanna mengatainya gila dan itu bukan masalah untuk Sehun. Ia memang sudah gila karenanya.

“Aku tahu … dan aku tak masalah selagi itu karenamu …,”

Emosi itu semakin tak terkendali. Berkali-kali Hanna hembuskan napasnya kasar. Berkali-kali pula Hanna mencoba untuk menahan diri agar tak memaki. Jam yang sudah menunjukan pukul lima sore di layar ponselnya pun membuatnya semakin jengah. Itu berarti sudah satu jam Sehun mengajaknya berputar-putar tak tentu. Terhitung semenjak ia selesai menandatangani surat kuasa untuk CEO Ritz-Carlton Hotel di New Jersey.

“Sehun, kita tidak sedang berada di New York. Hilangkan kebiasaan burukmu itu …!!!” Akhirnya Hanna kembali bersuara. Gadis itu hanya tak habis pikir dengan apa yang tengah Sehun lakukan saat ini.

“Tidak, sayang … aku tidak sedang memutar jalan, aku hanya lupa jalan …,” jawab Sehun, enteng. Wajahnya terlihat tenang meski sedang kebingungan.

“Apa?” Hanna mengerjap tak percaya. Ia pikir, Sehun tengah memutar jalan seperti biasanya setiap kali mengantarnya pulang. Namun ternyata … ah, sudahlah. Hanna lelah. Malas berdebat.

“Aku ingin membawamu ke suatu tempat, tapi karena sudah lama tidak kemari, aku lupa ke mana jalannya …,” jelas Sehun, sadar akan aura tak bersahabat dari gadis itu. Namun tak ada kebohongan di sana. Sehun benar-benar lupa. Ia bahkan tak ingat kapan terakhir kali dirinya menginjakkan kaki di New Jersey.

 

“Kau seorang pemimpin perusahaan ternama. Saat pertama melihatmu, kesan baik yang aku lihat darimu. Namun setelah mengenalmu … ternyata aku salah. Kau bahkan tak lebih dari pria konyol di mataku.” ungkap Hanna, tanpa melihat lawan bicaranya. Lampu merah di depan pun Sehun gunakan sebagai kesempatan untuk menatap gadis itu.

“Konyol?” Sehun membeo, tak terima. Hanna tak peduli. Gadis itu terlihat sibuk menatap keluar jendela. Seorang lelaki tua dengan sapu di tangan pun menjadi titik fokusnya kala itu. Hanna larut memerhatikannya. Heran, mengapa terlihat bahagia sekali wajah pria itu, meski pekerjaannya hanya menyapu. Berbeda sekali dengan orang-orang berpangkat di luar sana. Dimana wajah mereka terlihat masam meski mengerjakan pekerjaan dengan upah tinggi.

Sehun yang merasa diabaikan pun tertarik untuk memerhatikan hal yang sama. Pemahaman yang sama pun didapatnya dari apa yang dilihat Hanna tersebut. “Apa yang kau lihat dari kakek tua itu?” Sehun menyibak helai rambut Hanna. Berharap bisa kembali mendapat perhatian gadis itu.

“Dia terlihat amat bahagia mengerjakan pekerjaannya, padahal esok pagi pun kotor lagi …,” jawab Hanna. Ada pemaham lain yang didapatnya dari apa yang dilihatnya itu.

“Seperti hakikat hidup, benar?” sambung Sehun. Perhatian Hanna pun teralih, “sampah bisa datang setiap saat, seperti manusia yang bisa berbuat salah kapan pun dan di mana pun. Baik disengaja ataupun tidak … Dibersihkan setiap hari pun akan datang lagi dan lagi. Tetapi setidaknya, sampah itu tidak menumpuk.” lanjut Sehun dengan senyumnya, “Jadi, maafkan aku ya …,” rampungnya, menyentuh pipi Hanna.

Hanna yang mendengar dan melihat ketulusan pria itu pun tak bisa menahan untuk tidak melakukan hal yang sama. Cara Sehun mengakui kesalahannya sungguh manis. Ia tak menyangka, ternyata Sehun benar-benar pintar menyusun kata. Rasa kesal karena kesalahan bodoh pria itu pun menguap begitu saja. Sepertinya, Sehun harus berterima kasih pada kakek tua dengan sampah berserakan itu. Karenanya, ia bisa melihat senyum gadis itu untuk hari ini. Namun tak lama, suara klakson mobil di belakang menyadarkan Sehun dari euphorianya. Menuntutnya untuk segera kembali menjalankan kemudi. Dengan berat hati Sehun alihkan fokusnya dari Hanna. Sehingga keheningan kembali mengisi suasana di antara keduanya.

“Kau bisa menggunakan GPS,” saran Hanna. Gelengan kepala pun dilihatnya sebagai jawaban. Alis gadis itu pun terangkat, bertanya.

“Jika aku memakai itu, tempat yang kucari akan dengan mudah ditemukan.”

Ya, Tuhan. Hanna kembali menghembuskan napasnya lelah. Tersesat pun Sehun jadikan kesempatan untuk berlama-lama dengannya di dalam mobil. Sungguh gila. “Kita pulang saja. Aku ingin pulang. Lagi pula aku tidak suka berlama-lama di New Jersey.”

“Kenapa?” tanya Sehun, penasaran. Menurutnya tak ada yang buruk dari New Jersey. Lagi pula, bukankah sang penemu bola lampu —Thomas Alva Edison— lahir di sini. Rumah beserta museumnya pun masih berdiri kokoh di negeri ini, di kota Edison. Meski bangunan-bangunannya sudah sedikit lusuh, namun peninggalan berupa bola lampu yang pecah beserta kertas bertuliskan rumus-rumus masih tertata rapi di sana.

“Tak ada alasan untuk itu.” jawab Hanna sekenanya. Gadis itu hanya berdusta mengatakan kebenciannya pada negeri yang terletak tepat di sebelah Utara New York tersebut. Dengan harapan Sehun menghentikan kegilaannya.

“Baiklah, kita pulang …,” Sehun mengalah untuk kali ini. Ingat akan kondisi Hanna yang sebenarnya tidak sedang baik-baik saja. Hanna yang mendengar itu pun menahan senyum liciknya.

“Em, Hanna … apa warna kesukaanmu?” tanya Sehun tiba-tiba, kembali mengisi kesunyian. Ia ingin memahami Hanna lebih dalam lagi. Karena gadis itu amat sulit untuk dipahami meski Sehun sudah mengenalnya lebih dari dua Minggu. Sehun juga merasa banyak hal yang Hanna sembunyikan di balik aura dingin yang ditunjukkannya.

“Merah dan hitam.” Jawab Hanna tanpa menaruh rasa curiga sedikit pun karena memang Hanna sudah tahu apa yang ingin Sehun ketahui.

Merah dan hitam. Sehun mengulang dalam hati. Merah melambangkan kekuatan, kesehatan, dan vitalitas. Mereka yang menyukai warna merah biasanya memiliki kepribadian yang terbuka, agresif, impulsif, dan penuh semangat. Mereka juga optimisme, amat disiplin, dan dinamis. Tak hanya itu, penyuka warna merah juga terlalu ambisius, subjektif, dan cendrung mudah menghakimi orang lain. Benar-benar sesuai dengan Hanna … ah, tunggu, agresif? Benarkah Hanna agresif? Sehun tidak tahu. Namun, suatu saat nanti dia akan tahu. Itu pun jika ia berhasil menjadikan Hanna istrinya. Ah, Sehun tidak sabar untuk itu.

Sementara warna hitam melambangkan pribadi yang bermartabat, dihargai orang lain, tetapi tidak terlalu menonjolkan diri. Kesan misterius-lah yang paling ditonjolkan oleh penyuka warna hitam ini. Pola pikir mereka juga sulit diterka sebab tak tampak dari penampilan luar. Tak hanya itu, mereka juga pandai menahan hasrat dan keinginan duniawi. Sehun mengangguk kecil. Saat pertama melihat Hanna memang kesan misterius-lah yang paling menonjol dari gadis itu. Dan saat mengenalnya, Sehun baru tahu gadis itu amat menjunjung tinggi kehormatannya.

“Lalu, makanan seperti apa yang kau sukai?” tanya Sehun, lagi. Teringat akan istilah ‘you are what you eat’ karena jenis makanan yang disukai pun bisa menggambarkan karakter seseorang. Dr. Alan Hirsch ahli neurologi asal Chicago pun membenarkan lewat bukunya; What Flavor Is Your Personality? …

Hanna tak langsung menjawabnya. Gadis itu terlihat berpikir. Selama ini Hanna tidak terlalu memerhatikan makanan jenis apa yang disukainya. Ia hanya makan makanan yang cocok di lidahnya. Apa pun jenisnya. “Aku tidak tahu pasti karena aku selalu memakan makanan yang menurutku enak. Tetapi, mungkin makanan manis yang paling kusukai …,” Hanna mengendikkan bahunya tak acuh.

Sehun tersenyum mendengarnya. “Berarti benar kau keras kepala?!”

“Apa?” Hanna menatap lawan bicaranya, namun Sehun terlihat tak peduli. Pria itu fokus mengemudi. Ujung Jembatan George Washington sudah dilihatnya. Rencana-rencana untuk kembali mengulur waktu pun sudah Sehun susun.

george washington bridge

“Dalam Journal of Personality and Social Psychology menyebutkan bahwa mereka yang menyukai makanan manis cenderung ringan tangan, mudah diajak berunding, namun keras kepala … Bukankah sangat sesuai dengan pribadimu?” tebak Sehun benar adanya. Hanna pun tak membantah. Gadis itu kembali mengalihkan perhatiannya ke arah Sungai Hudson. Namun tak lama, fokusnya kembali beralih saat menyadari Sehun menuju arah yang berlawanan dengan Battery Park City.

“Central Park. Temani aku ke sana ya,” Sehun sadar akan tatapan tajam yang menghunus ke arahnya itu. Hembusan napas lemah pun didengarnya dari Hanna.

“Jika aku yakin akan langsung mati setelah melompat dari mobilmu, mungkin sudah aku lakukan sejak tadi.” ujar gadis itu. Senyum merekah pun nampak di wajah Sehun—sadar akan Hanna yang sudah dibuat frustasi olehnya.

Pukul 6.35. p.m. keduanya tiba di taman terbesar yang berada di Manhattan tersebut. Dengan wajah tanpa dosanya Sehun membukakan pintu untuk Hanna, bahkan berani meraih bahu gadis itu untuk berjalan di sampingnya. Hanna yang sudah amat lelah menanggapi semua perlakuan Sehun pun hanya diam membiarkan.

Diliriknya sekilas pria yang tengah memeluknya posesif itu, sebelum menangkap sebuah kacamata hitam yang tersangkut di kerahnya. Tanpa ragu, Hanna mengambil benda itu lantas memakainya guna menghalangi sinar matahari yang cukup silau sore itu. Sehun yang melihatnya pun hanya bisa tersenyum dibuatnya, “Cantik …,” pujinya kemudian.

Hanna masa bodoh. Gadis itu hanya mengikuti ke mana Sehun membawanya. Hingga pada satu titik, Hanna merasa dadanya mulai bergemuruh. Langkahnya pun mulai pelan, sampai-sampai Sehun menyadari perubahannya. Namun lagi-lagi, pria itu hanya tersenyum.

“Tempat favoritmu, benar?” tanyanya kemudian. Tangannya sendiri beralih menarik Hanna untuk duduk di kursi taman. Gadis itu ingat, tempat ini merupakan tempat di mana untuk pertama kalinya Sehun mengajaknya bicara. Tempat pertemuan pertama bagi Hanna, namun menjadi tempat pertemuan kedua bagi Sehun. Karena pria itu sudah tertarik memerhatikan Hanna sejak pertama melihatnya di sebuah restoran. Sayang, Hanna tak menyadari kehadirannya saat itu.

“…..” Hanna masih diam. Dilepasnya perlahan kacamata yang bertengger manis di hidungnya itu. Tak hanya ingatan akan pertemuan pertamanya dengan Sehun yang membuatnya bungkam seribu bahasa. Namun hal terbesar yang mengendalikan dirinya selama inilah yang membuatnya bisu.

Seharian ini, Hanna merasa telah melupakan ambisinya. Hanna merasa sudah melupakan sesuatu yang tidak pernah ia lupakan sebelumnya. Dan itu semua hanya karena kehadiran seorang pria di sisinya. Sungguh bodoh. Hanna mengumpat. Gadis itu larut dalam keterdiamannya. Ambisinya pun kembali menguasai. Sehun tak sadar telah melakukan kesalahan besar dengan membawanya kemari. Pria itu tak tahu, apa yang dilakukannya sama saja dengan membangunkan Hanna dari mimpinya. Dan mengingatkan gadis itu bahwa ia adalah orang yang harus disingkirkan.

Hanna pun bertanya, bagaimana bisa Sehun mengetahui semua hal tentangnya hingga sedetail itu? Apa Sehun mendalami ilmu psikologi hingga ia bisa mengetahui semua hal tentangnya hanya dengan melihat semua gerak-geriknya? Ah, tidak, tidak seperti itu. Hanna lupa, dirinya dan Sehun merupakan seorang entrepreneur.

Orang-orang seperti mereka memang sudah dilatih untuk memahami mekanisme pasar, strategi pasar, juga pergerakan lawan. Tak heran jika Sehun bisa mengetahui semua hal tentangnya. Meski begitu, Hanna yakin, masih banyak hal yang belum Sehun ketahui.

Sehun sendiri hanya diam memerhatikan. Pria itu pun bisa mengambil kesimpulan bahwa benar ini tempat favorit gadis itu. Terlihat dari keterdiamannya yang tak kunjung menjawab pertanyaannya. Kedua sudut bibirnya pun lantas tertarik hingga lengkung. Dengan gerakan lembut, Sehun raih bahu Hanna hingga kembali ke dalam jangkauannya. Fokusnya sendiri tertuju pada The San Remo yang sejajar dengan matahari terbenam. Sementara Hanna untuk yang kesekian kalinya tidak menolak perlakuan pria itu. Gadis itu tahu, segala macam bentuk penolakannya hanya akan berakhir sia-sia. Jadi, lebih baik diam—membiarkan. Meski hatinya kalut memberontak.

SanremoApartments

“Neo klasik berpadu dengan gotik …,” Sehun kembali bersuara, setelah membiarkan atmosfir aneh memegang kendali.

“The San Remo?” tebak Hanna.

“Hm, kau menyukai gaya arsitektur seperti itu, kan?” tanya Sehun—mencari tahu semakin dalam.

“….” Lagi-lagi Hanna hanya diam. Gadis itu merasa Sehun sudah mendapat jawabannya.

“Jadi, kau ingin membangun 520 Park Avenue dengan arsitektur yang sama dengan The San Remo?” tanya Sehun lagi, masih menebak.

“Tidak. Aku ingin lebih. Perpaduan romantik, neo klasik, dan gotik. Aku ingin semuanya ada.”

“Romantik dan neo klasik, bukankah sesuatu yang saling bertentangan?” Tangan Sehun mulai bermain, mempermainkan anak rambut Hanna.

“Aku ingin membuat sesuatu yang bertentangan itu menyatu.” jawab Hanna. Lagi-lagi, Sehun tersenyum dibuatnya. Diposisikannya kepala gadis itu agar nyaman di bahunya.

Bukankah kita saling bertentangan? Tetapi di sini, hanya aku yang menginginkan kita bersatu. Batin Sehun. Tak berani mengungkapkan.

“Sudah bertemu dengan Robert? Bukankah kau menginginkan proyek ini agar bisa melobinya untuk menggambar gedung seperti yang kau inginkan? ” pupil Hanna melebar mendengar pertanyaan Sehun. Kepalanya pun sedikit bangkit demi menatapnya—bagaimana bisa kau tahu? Tanyanya dalam diam, namun Sehun masih setia menatap gedung setinggi 27 lantai tersebut.

“Do whatever you want. Aku tak masalah. Tetapi pastikan kau membuatnya dengan risiko kerusakan alam seminim mungkin.” Sehun balas menatap Hanna.

“Kau memberikanku kuasa, tetapi masih mengaturku.” ujar Hanna, malas. Kepalanya kembali bersandar pada bahu lebar pria itu. Gadis itu menghiraukan segala macam bentuk pemberontakan dalam hatinya. Bahu Sehun terlalu nyaman untuk ditolak.

“Bukan begitu, sayang. Seperti yang kau tahu, bumi ini sudah tua. Jika kita melakukan pembangunan dengan alasan masa depan, tetapi tak memikirkan dampak yang akan terjadi di masa depan, tentu itu akan merugikan kesejahteraan orang banyak—“

“Aku tidak bodoh.” sela Hanna cepat. Sehun tersenyum mendengarnya. “Aku tidak akan membuat gedung berdinding kaca dan membuat Manhattan seperti Almeria, Spanyol. Dimana sejauh mata memandang yang terlihat hanya bangunan berkaca.”

almeria

“Hm, itu sangat buruk. Tata bangunan di Almeria memang tak sebaik New York. Di sini, para pengusaha real estate dan para arsitek dituntut untuk membuat bangunan yang ramah lingkungan.” timpal Sehun. Dihirupnya dalam puncak kepala gadis itu. Tak peduli status mereka yang sesungguhnya.

“Tetapi, kebutuhan energi listrik terhadap kota-kota metropolitan di negara besar seperti New York,

pemandangan-keren-kota-new-york-di-malam-hari-dari-ketinggian-7500-kaki-2

Los Angeles,
los angeles

Jepang,

SONY DSC

SONY DSC

dan kota metropolitan lainnya amat sulit dibendung. Iklan peduli lingkungan yang gencar disuarakan pun bagai angin lalu. Padahal sesungguhnya, bukanlah hal sulit untuk menghemat penggunaan listrik di rumah jika memang orang itu peduli terhadap masa depan. Sayangnya orang hanya tahu energi fosil (berupa batu bara) yang digunakan sebagai sumber energi pembangkit listrik semakin menipis, tanpa mau peduli energi itu akan habis dalam hitungan tahun. Dan penggunaan bahan bakar batu bara secara berlebihan membuat CO2 semakin mengudara, sementara banyak hutan yang kini gundul. Aku bahkan tidak yakin, 50 tahun yang akan datang masih bisa menghirup udara segar.”

Sehun tanpa sadar menggigit bibir bawahnya. Untuk masalah energi listrik ia merasa menjadi salah seorang yang tidak bertanggung jawab. Dimana semua kebutuhannya terhadap air, cahaya lampu, baterai handphone dan laptop, mesin elektronik di kantor dan apartemennya, kesemuanya membutuhkan energi listrik. Sehun tak bisa hemat untuk masalah itu. Lagi pula, hidupnya memang tidak pernah mengenal kata hemat. “Apa Fallacy of Composition berlaku di sini?” tanya Sehun, terdengar bodoh. Hanna bangkit dari sandarannya.

“…..”

“Apa yang baik dalam skala kecil, belum tentu baik dalam skala besar. Hidup hemat memang baik untuk individu, tetapi secara makroekonomi jika seluruh individu hidup hemat tentu itu akan menurunkan pertumbuhan ekonomi.” sambung Sehun, membela dirinya sendiri lantaran merasa tersinggung oleh Hanna.

“Opportunity Cost, Sehun. Kesempatan akan hilang bila kita memilih alternatif lain. Krisis energi listrik akan terjadi di masa depan jika kita terus berlaku boros. Kita akan kehilangan kesempatan untuk menikmati masa depan.” Hanna terlihat tak setuju akan pembelaan Sehun.

“Tetapi, energi listrik tak hanya didapat dari energi fosil berupa batu bara. Listrik juga bisa didapat dari energi terbarukan seperti angin, air dan panas bumi. Negara-negara OECD (the Organization for Economic Co-operation and Development) bahkan sudah banyak yang beralih pada energi terbarukan tersebut.” Sehun masih berusaha membela diri.

“Ya, tapi di USA sendiri 53.42% energi listrik berasal dari batu bara. Lantas, bagaimana dengan negara-negara berkembang yang bukan bagian dari organisasi ekonomi kelas dunia tersebut?”

“Oke, aku akan berhemat. Tetapi asal kau tahu, kadang orang ingin peduli tapi ketika sudah menyangkut apa yang dibutuhkan itu sulit.” Sehun mengalah. Hanna mengerti, orang-orang seperti mereka memang sulit untuk berhemat. Ia pun demikian, namun hanya untuk masalah barang-barang mewah.

“Tak hanya itu, kepadatan penduduk di satu tempat pun menjadi masalah pada setiap negara di seluruh dunia. Dan yang paling mengerikan terjadi di Mexico,

Mexico_City
Dimana 20 juta lebih penduduk tinggal di dalamnya. Tingkat kejahatan dan pemerintahan yang penuh akan gejolak pun menjadi masalah utama.” Hanna mengangkat masalah lain. Ada sesuatu yang ingin ia sampaikan pada pria itu.

Sehun sendiri kembali larut dalam ucapannya. Ia ikut teringat akan pemandangan Mexico City dari atas udara yang begitu mengerikan. Datarannya bak amblas sebagian, seperti habis diguncang bumi.

“Manhattan pun sudah sangat padat,” timpal Sehun pada akhirnya. Hanna menahan senyum. ” —lahan semakin sempit dan harganya semakin mahal. Modal pembangunan pun mengembang.” Sehun tak bodoh untuk bisa menangkap maksud lain dari masalah terakhir yang Hanna utarakan.

Kini, ia pun mengerti mengapa Hanna begitu menginginkan 520 Park Avenue menjadi miliknya. Karena jika gadis itu tak mendapatkannya, maka selamanya Hanna tak akan bisa membangun gedungnya di atas tanah Manhattan. Namun tidak dengannya. Saat ini, Random House Tower yang dipimpinnya sedang melakukan pembangunan besar-besaran. Tak tanggung-tanggung, ia membangun Random House Tower sepanjang 10 blok ke arah utara 55th street. Meski begitu, Sehun masih menginginkan 520 Park Avenue menjadi miliknya. Bahkan Hanna pun ingin dimilikinya. Sungguh serakah. Namun memang seperti itulah seorang entrepreneur.

“Begitulah.” Hanna bangkit dari duduknya hingga mengambil alih semua fokus Sehun. Ia rasa sudah cukup memberikan Sehun pengertian, meski dengan contoh kota yang berbeda. Gadis itu yakin Sehun bisa menangkap maksud dari kata-katanya itu. Meski Hanna tak yakin Sehun mau berubah pikiran. Ya, katakan saja ia bodoh jika berharap Sehun akan melepas apartemen tersebut.

“Mau ke mana?” Sehun ikut bangkit saat gadis itu mulai melangkah.

“Aku ingin pulang.” Hanna tetap meneruskan langkahnya.

“Aku akan mengantarmu—“

“Tidak mau. Kau akan membawaku memutar jalan lagi.” sela Hanna, tanpa memedulikan pria yang berjalan di belakangnya itu. Sementara Sehun sudah tersenyum kecil dibuatnya, “Tidak lagi.” ujarnya kemudian. Diraihnya tangan Hanna, lantas digenggamnya kuat—agar tak lepas.

“Apa mereka sudah jadian?” pertanyaan itu terlontar begitu saja saat melihat pemandangan tersebut dari jauh. Niat awal yang hanya ingin menikmati sore bersama justru berakhir dengan aksi menguntit. Sementara pria di sampingnya hanya diam memerhatikan. Rasa ingin tahunya pun tak kalah besar dengan gadis itu.

“Tidak. Tidak mungkin.” setelah terdiam beberapa menit akhirnya pria itu bersuara. “Hanna memiliki pengalaman buruk saat menjalin hubungan dengan salah seorang pria. Gadis itu tidak mungkin membiarkan pria asing masuk dalam kehidupannya dalam waktu cepat … Lagi pula, Hanna bukan gadis murahan, hal terparah yang pernah dilakukannya hanya membiarkan seorang pria mencium kening beserta pipinya. Tak lebih …,” lanjutnya, menyangkal. Tanpa tahu Hanna sudah mendapat pengalaman baru saat bersama Sehun. Hatinya pun berkecamuk, ragu. Mengingat semalam Sehun tidur di apartemen Hanna.

“Salah seorang pria? Aku pikir Nona Hanna tidak pernah menjalin hubungan …,” Gadis itu, Jenny, kembali berucap.

“Pernah. Bahkan bertahan sampai 14 bulan lamanya. Namun kandas saat keduanya lulus universitas … Karena hal itulah, Hanna sulit mempercayai orang lain dan menjadi pribadi yang jauh lebih dingin dari sebelumnya.” Kai menunduk. Matanya terpejam. Hatinya terus berkecamuk. Ia takut Hanna kembali disakiti jika benar Sehun telah berhasil mengikatnya.

“Apa yang membuat hubungan mereka berakhir?” Jenny bertanya penasaran.

“Taruhan. Hanna dijadikan bahan taruhan hanya untuk uang 3 juta Dollar oleh kekasihnya sendiri. Pria itu sendiri sudah meminta maaf dan meminta Hanna untuk kembali padanya. Namun Hanna selalu menghindar, padahal ia sendiri masih menaruh hati pada pria itu—“

“Apa? Siapa pria bodoh itu?”

“Seorang ahli waris perusahaan Real Estate dari keluarga Miliarder terkemuka, Rockefeller Group.”

“APA?”

“Ya. Lebih baik kau nasehati sepupumu itu untuk menjauh dari Hanna. Itu pun jika kau tak ingin melihatnya hancur … Percayalah, mantan kekasih sahabatku itu amat posesif. Dan jika ia tahu Hanna tengah dekat dengan pria lain, maka permainan kekuasaan pun akan dimulai.”

Sehun tak lagi memutar jalan, namun menghentikan mobilnya di pinggir jalan tepat di depan sebuah toko aksesoris yang tak jauh dari Sungai Hudson. “Aku tak menemukan tempat yang aku cari di New Jersey. Di sini pun sama saja …,” jelas Sehun. Hanna hanya diam. Gadis itu sudah amat malas menanggapi semua kegilaan pria itu. Bahkan saat Sehun menariknya keluar, Hanna hanya menurut.

Tempat sederhana penuh akan aksesoris manis pun Hanna lihat. Tak ada kesan mewah di sana. Alisnya bahkan sedikit terangkat menyadari itu. Sehun sendiri terus menyeretnya dan berhenti tepat di tempat di mana gelang dan cincin ditata. Pria itu lantas terlihat sibuk memilih—mengabaikan semua rasa ingin tahu Hanna.

“Sehun?”

“Ini bagus.” Sehun mengangkat tangan Hanna yang berada dalam genggamannya. Mencocokkannya dengan gelang sewarna platinum yang dipilihnya. “Cocok.” ujarnya kemudian. Tak lama dipasangkannya gelang tersebut hingga melingkar sempurna pada tangan ramping Hanna. Gelang serupa pun diperlihatkannya pada Hanna.

swiss bracelet
“Bracelet couple?” tanya Hanna pada akhirnya. Yang benar saja? Sehun membelikannya gelang seperti ini? Oh, ayolah, Hanna yakin, uang Sehun lebih dari cukup untuk membelikannya sepuluh mobil mewah sekaligus. Tapi mengapa gelang murahan seperti ini yang Sehun berikan? Ya, meski sesungguhnya tak sepenuhnya murahan. Mengingat merek SWISS yang tercetak pada tempatnya. Toko yang mereka singgahi pun tak sepenuhnya sederhana. Selera Hanna saja yang terlalu tinggi.

“Hm, kau wanita karir dengan harta kekayaan yang melimpah. Penghasilanmu sendiri pun lebih dari cukup untuk membeli apa pun yang kau inginkan. Namun ada satu hal yang tidak akan pernah kau sentuh ataupun beli … barang sederhana.” ungkap Sehun. Diarahkannya tangan gadis itu untuk memasangkan miliknya hingga melingkar sempurna di tangan kanannya.

Hanna pun mengakui, cara Sehun membuatnya terikat sungguh tak biasa. Pria itu tahu, barang mewah sudah menjadi hal biasa untuknya, dan barang murahan seperti itu tentu akan terasa beda untuknya.

“Haruskah aku mengingatkanmu bahwa kita hanya rekan bisnis?” Hanna memuntahkan hal yang mengganjal pikirannya. Ia merasa Sehun terlalu berlebihan sekarang.

“Untuk sekarang, tapi tidak untuk nanti. You’ll be mine, Hanna …,” jawab Sehun, ringan sekali. Dengan gerakan lambat namun pasti, pria itu kembali membuat Hanna merasakan betapa lembut bibir mungilnya. Tak lama, hanya sesaat. Namun cukup membekas Hanna rasa. Ujung bibirnya bahkan terasa kaku setelah mendapat kecupan di sana. “Aku bersumpah akan menggeser posisi itu jika kau berani melepasnya.” acam Sehun kemudian, membuat Hanna semakin tak bisa berkutik. Wajahnya bahkan merona saat menyadari tempat yang mereka kunjungi tidaklah sepi.

Ya, Tuhan, ingin sekali Hanna marah, namun sulit sekali ia lakukan. Semua perlakuan Sehun benar-benar mampu membungkamnya. Bahkan selama perjalanan pulang pun Hanna masih tak mampu berucap. Jantungnya terus bergerilya di dalam sana. Akan tetapi, Hanna ingat, Sehun hanya orang asing baginya. Dan hanya orang bodoh yang mau menjalin hubungan dengan orang yang belum lama dikenalnya. Gadis itu pun semakin larut dalam perang batin yang tercipta. Ia tak ingin menjadi orang bodoh itu. Hanna tak ingin terluka dikemudian hari. Mobil Sehun yang sudah kembali menepi pun tak Hanna sadari.

Sehun sendiri sudah keluar dari dalam mobilnya, kemudian berputar demi membukakan pintu untuk gadis itu. “Hanna?” Sehun mengerutkan alisnya bingung, melihat Hanna yang hanya diam saja. “Kita sudah sampai …,” lanjutnya, menyadarkan Hanna dari lamunan. Ditatapnya pria yang sudah berdiri membukakan pintu untuknya itu, sebelum beralih meraih jabatan tangannya.

“Maafkan aku sudah membawamu berkeliling di saat kondisimu tidak sedang baik …,” sesal Sehun. Rasa bersalahnya sungguh datang terlambat. Ditatapnya gadis yang berdiri tepat di depannya itu.

“Tak masalah. Itu sudah terjadi. Terima kasih untuk hari ini …,” Hanna tersenyum tipis, sebelum berlalu. Hatinya gundah. Ingin segera menjauh. Sayang pria itu tak membiarkannya pergi begitu saja. Tangannya sudah kembali berada dalam kekangannya. Dan untuk kesekian kalinya Hanna tak bisa menolak saat Sehun kembali menuntunnya untuk menuju lift. Pria itu bahkan tak lagi berucap. Hingga hanya suara hak yang menemani langkah keduanya.

Susana pun semakin hening saat Sehun menghentikan langkahnya. Pria itu hanya menekan tombol dengan tanda panah ke atas agar lift di depannya terbuka. Hanna sendiri masih sibuk berperang dengan batinnya. Kepalanya sedikit menunduk dengan mata yang terpejam rapat. Ia tak pernah sekalut ini sebelumnya. Beribu kali Hanna ingatkan bahwa Sehun adalah orang yang harus disingkirkan. Hingga iblis kembali datang menghampirinya. Menggodanya untuk mempermainkan Sehun jika memang ia tak mau membuka hati. Tidak itu jahat. Tapi Hanna sudah melakukannya. Ia membiarkan Sehun berdiri di sampingnya tanpa berniat membuka hatinya untuk pria itu. Bukankah itu sama saja dengan memberikannya harapan palsu? Oh, ya, Tuhan.. Apa yang sudah aku lakukan?

Hanna semakin kalut dalam keterdiamannya. Dan semakin menjadi saat pintu di depannya terbuka. Membingkai dua orang pria di dalamnya. Jantungnya lantas bergemuruh hebat di dalam sana. Tangannya bahkan tanpa sadar meremas tangan Sehun hingga pria itu menoleh ke arahnya.

“Kenapa?” tanyanya khawatir.

“Nona Hanna?”

Sehun kembali menoleh. Dua orang pria dengan setelan jas rapi pun dilihatnya di dalam sana. Bibir mungilnya pun bergerak, mengecap nama.

“Willard..”

“Bertelsmann..”

 

To Be Continued

 


New Cast, Skandar Keynes as Skandar Willard

Skandar_keynes

Pernah menjadi salah satu pemeran utama  The Chronicles of Narnia sebagai Edmund. 91 liner, dalam cerita seusia dengan Sehun. Aslinya berdarah campuran London-Lebanon. Begitu terobsesi ingin menguasi bahasa Arab dan sangat ingin memiliki kewarganegaraan ganda (Lebanon dan Inggris).

Joseph Gordon Levitt as Jo Khaza

joseph gordon

Entah kapan, tapi ada yang nanya. Kak, yang jadi papanya Hanna masih Om kece itu bukan? Ya, si Om kece tetep jadi papanya Hanna. Dari dulu ga pernah berubah. Aku ngepens sama si Om soalnya.

Author’s Note

Sebelumnya, Minal aidzin wal faidzin ya…/aku tau ini telat/ tapi Maafin semua kesalahan aku ya… Aku sadar banyak salah sama kalian, sering bawel, suka ngaret, banyak typo, jarang buka sosmed, balesin pw lamaa, de el el pokoknya… dari mulai yang terkecil sampe besar… Maafin ya *bow

Sejujurnya aku masih sibuk, aku bahkan sampe lupa hari dan baru sadar sekarang hari sabtu waktu denger orang-orang ngobrol kemaren, alhasil semaleman aku begadang baca ulang chapter ini.. Karena emang FF ini udah selesai dari lama cuma belum dibaca ulang sama edit… Maafkan *bow

Maaf juga kalau hasilnya kurang memuaskan setelah membuat kalian menunggu selama dua bulan lebih lamanya. Aku bahkan ga yakin masih ada yang mau baca. Hah..

Tapi terima kasih buat kalian yang masih mau baca, comment, dan support aku… Merci ^^

Sampai jumpa di next chapter yaa…

Bye Babee… Lobee youuu…!!!!

Regards,

Sehun’Bee

 

899 responses to “Ambition [Chapter 5] by Sehun’Bee

  1. Sebenernya rada puyeng klo udah ngebayangin part yg ngomongin bisnis…
    Haha lebay bgt gue pke ngebayangin sjauh itu

  2. Klo aq jd hanna mungkin ga bakal bisa buat sehun seteguh pndirian gtu..
    Bisa aja malah jd godain dehun.. ekwkwk
    Ehh ato mlah gue yg trgoda.. uppss

  3. Baru tau ada cogan yang diphpin. Kkkkk. Poor uri sehun. Kasian sekali lu hun wkwk.
    Mana hanna suka pakai baju sekseeeh. Kasian juga sehun buat nahan diri kkkk.
    Konflik mulai muncul.
    Orang ketiga mulai munculll

  4. Sehun tu cowok paket lengkap . Ganteng kaya manis kayakkk gulaa. apa yg akan mereka lakukan? Can’t wait

  5. ya ampun sehun jangan mainin hati aku eh salah maksudku hanna tapi entah kenapa jadi nge feel banget, btw ijin lanjut

  6. Pas bagian sehun hanna meng analogi kan suatu kasus jd nilainkehidupan sehari2 itu asli bikin aku cengo kak wkwkkwkw lagian semua pake di kait2 in
    Tapi gapapa de yg penting alurnya asik nggak ke buru2😉

  7. apa sehun tadi ketemu sama skandar ya,,,wah wah kayanya hanna jadi rebutan nih.@94Rini
    Oh yak bee aku suka ff bee karena di setiap chapter selalu ada gambarnya dan membuat ff nya semakin menarik,dan dapat menambah pengetahuan bagi kita yg tak mengetahui.
    Gomawo eonni FIGHTING 😆 buing buing

  8. apa sehun tadi ketemu sama skandar ya,,,wah wah kayanya hanna jadi rebutan nih.@94Rini
    Oh yak bee aku suka ff bee karena di setiap chapter selalu ada gambarnya dan membuat ff nya semakin menarik,dan dapat menambah pengetahuan bagi kita yg tak mengetahui.
    Gomawo eonni FIGHTING 😆

  9. Ugghhhh.. sumpahhh sehun it so sweetnya mimta ampun… sampai senyum” sendri dgn kata” sehun …
    Oh ttg pnjelasan ttg bangunan” it sumpah aku agak pusing hihihhi kebanyakan..

  10. sehun jahat, gua jadi meleleh tau. romantis bgt sihh, bikin si kutub es (read:hanna) ikut meleleh juga. hihihi

  11. haha sehun ambigu banget ngomong nya pantesan kai jadi pusing:v makin banyak penjelasan mengenani bisnis perusahaan ky gitu dan aku makin pusing dibuatnya gangertiiiiii-_- dan aku seneeeeng pake banget skandar dilibatkan dalam ff ini yeeee kapan lagi coba masuk ff(?) aku seneng sama dia abisnya uhhh tapi rasa nya ga segede rasa ke sehun ko💕 (hueek)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s