MOON THAT EMBRACE OUR LOVE [III]

mteol-42yMOON THAT EMBRACE OUR LOVE [III]

2015 © SANGHEERA

Cast :: Cheon Sera (Original Character), Luhan as Xiao Luhan and Xiao Luxien, Byun Baekhyun of EXO || Support Cast :: Hwang Shiina (OC), Kim Seukhye Ulzzang, Kim Jinhwan of iKON, Zhou Yumin (Vic Zhou) as Xiao Yumin, Ren of NU’EST as Liu Ren, Choi Seunghyun (T.O.P) of BIGBANG, Kim Yoojung (OC), and many more || Genre :: Campus Life, Romance, Fantasy, Comedy, Family, Fluff || Lenght :: Multi Chapter || Rating :: PG 17+

Read this first :: [0] PROLOG, [I] Man From the Moon, [II] Unbroken Red String

[III] Old Man Under The Moonlight

PEOPLE SAY THAT RED IS THE COLOR OF FATE, RIGHT?
— Zen Wistaria, Akagami no Shirayukihime —

“Dengar ini, Cheon Sera,”desis Luhan. Sera menahan napas, penuh antisipasi dengan apa yang akan Luhan ucapkan. “Mulai sekarang kau harusnya memperlakukan aku dengan baik. Karena mungkin, seumur hidupmu, kau tak akan bisa lepas dariku.”

Mata Sera membulat. Terkejut mendengar kata-kata Luhan yang bernada ancaman itu.

“Kau pernah mendengar istilah benang merah takdir?”tanya Luhan melanjutkan ucapannya. Pemuda itu nampak puas melihat wajah kebingungan Sera. Gadis ini tidak tahu apa-apa, kasihan sekali.

“Benang merah takdir?”beo Sera. Istilah itu begitu familiar. Tapi rasa-rasanya tidak mungkin mitos itu benar-benar ada. Mitos tentang benang merah magis yang mengikat jari kelingking seseorang dengan…

“Tidak mungkin!!”tolak Sera spontan ketika menyadari arti benang merah itu.

Luhan tersenyum, tangannya menyandar nyaman pada pembatas rak buku yang terbuat dari kayu. Tubuhnya yang agak membungkuk ke arah Sera membuat wajahnya berada begitu dekat dengan wajah gadis itu. Hujan masih menderas di luar, bahkan sekarang petir pun mulai ikut berpartisipasi. Kilat menyambar dan membuat ruang tempat Sera dan Luhan berada sejenak terang benderang. Sedetik kemudian, suara gemuruhmya membuat Sera menjengit kaget. Ia menyumpah dalam hati sebelum kemudian fokusnya kembali pada Luhan. “Kenapa tidak mungkin?”tanya Luhan, menuntut jawaban Sera.

“Aku tidak mengenalmu!”argumen Sera yang pertama. Argumen yang lemah karena semua orang pasti berawal dari saling tak mengenal baru kemudian berproses menjadi mengenal. Untuk itu dengan cepat Sera melontarkan argumen kedua. “Aku tidak mempunyai perasaan apapun padamu!”Lagi-lagi bukan argumen yang kuat. Kenyataannya tidak banyak pasangan yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Cinta pun butuh proses. “Aku sudah memiliki Baekhyun!!”tandas Sera tegas. Kali ini Sera tak mau memikirkan seberapa kuat argumennya karena baginya itu adalah argumen terkuat yang tak akan mampu Luhan goyahkan.

Sera mencintai Baekhyun, begitu pula sebaliknya. Sudah lebih dari 3 tahun mereka berpacaran. Selama ini cinta mereka tak pernah tergoyahkan. Bahkan beberapa kali keluarga Baekhyun menyinggung tentang pernikahan mereka yang PASTI akan diselenggarakan setelah Baekhyun dan Sera selesai kuliah. Semua orang sudah merestui mereka. Semua orang di Bijarim menyukai pasangan Baekhyun-Sera.

Sialan sekali Luhan! Berani-beraninya lelaki yang baru Sera temui semalam itu mengklaim dirinya sebagai jodoh Sera!! Hanya karena kelingking mereka diikat oleh benang magis yang berwarna merah, bukan berarti itu ‘benang merah takdir’ bukan?

“Kenapa kau yakin sekali bahwa Baekhyun adalah jodohmu? Apa buktinya?”tantang Luhan.

“Buktinya…” Sera tergagap. Tidak menyangka Luhan tidak begitu saja menyerah mendengar jawaban Sera. Dan ia lebih terkejut lagi karena tidak memiliki jawaban atas pertanyaan Luhan itu. “…buktinya…”

“Mungkin Baekhyun adalah pacar pertamamu, karena itu kau menganggap dia adalah jodohmu. Kalian saling mencintai dan tidak terpisahkan. Naif sekali,”Luhan tersenyum mengejek. “Kuberi tahu ya? Aku ini sudah berkali-kali pacaran. Ketika kau punya pacar pertama, kemungkinan besar kau akan punya pacar yang kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya. Yumin-gege, kakakku, dulu pernah berpacaran dengan seorang gadis saat SMP, mereka bertahan hingga 7 tahun lamanya. Tapi saat pertengahan kuliah, Yumin-ge dan pacarnya itu putus. Dan sekarang, gadis itu sudah menikah dengan pria lain.”

Sera menggertakkan giginya. “Kau pikir aku akan termakan ucapanmu itu, Xiao Luhan!”

“Iya…”jawab Luhan ringan, tanpa dosa.

“Cih, jangan mimpi!! Aku tidak peduli dengan orang lain, tapi aku yakin aku dan Baekhyun akan terus bersama selamanya. Aku akan membuktikan kalau ucapanmu salah. Bahwa benang ini tidak berarti apapun selain kutukan! Aku akan memutusnya dan membuatmu kembali ke Beijing. Lalu aku akan menikah dengan Baekhyun!!”tekad Sera, berapi-api. Ia benci pada Luhan karena meragukan kekuatan cintanya dengan Baekhyun. Siapa Luhan? Ia bahkan tidak tahu apa-apa tentang Sera dan Baekhyun. Tentang apa yang telah Baekhyun lakukan selama ini untuk Sera. Luhan tidak tahu apa-apa!! Dia tak berhak bicara seenaknya seperti itu!!!

Luhan menjauh, melepaskan Sera dari kungkungan tubuhnya. “Wah, menarik sekali. Memangnya kau bisa?”tanya Luhan sangsi.

“Tentu saja!! Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin!!”jawab Sera yakin.

“Kalau benang ini benar-benar benang merah jodoh bagaimana?”

“Sudah ku bilang kan? Aku akan memutusnya apapun yang terjadi, lalu aku akan ikat benang merah milikku dengan benang merah milik Baekhyun!”

Luhan bersedekap. Tubuhnya kini menyandar santai di rak buku yang ada di belakang tubuhnya. “Jadi, kau juga berniat memutus benang merah yang mengikat Baekhyun dengan jodohnya?”katanya, tanpa emosi.

Sera terdiam mendengar ucapan Luhan. Jika Sera terlihat gusar dengan situasi ini, Luhan justru terlihat menikmatinya. Ia tertarik melihat tekad Sera. Sepertinya ini akan jadi tontonan seru. Lumayan lah untuk mengisi waktunya yang selama ini begitu membosankan.

“Kau tidak mungkin memaksa menjadikan Baekhyun jodohmu tanpa menyingkirkan dulu jodoh Baekhyun bukan?”kejar Luhan. “Yaaak, Cheon Sera, apa kau pernah mendengar ungkapan ini? Jika cintamu sangat penting, berarti cinta milik orang lain juga sama pentingnya. Apa kau akan bersikap egois dengan membuat benang merah milik gadis lain putus, bahkan tanpa tahu penyebabnya?”

Geurae!”Mata Sera berkaca-kaca saat menjawabnya. Mau tak mau ia mengakui logika Luhan membuatnya goyah. “Aku tidak peduli meski akan menyakiti orang lain, aku tidak akan pernah melepaskan Baekhyun.”

Seringai puas terbit di wajah Luhan. Pemuda itu kembali mendekat dan meletakkan telapak tangannya di puncak kepala Sera. Wajahnya mensejajari wajah Sera. “Kita lihat seberapa keras usahamu menemukan cara untuk memutus benang merah ini. Kau tahu kan percuma memutusnya dengan pisau atau bahkan dengan membakarnya…”

“Pasti ada caranya. Pasti!”

“Bagus!”Luhan mengusap kepala Sera, membuat rambut di puncak kepala Sera sedikit berantakan. “Baguslah kau berbeda dengan gadis lain yang langsung menempel padaku karena ketampananku. Entah apa yang salah dengan matamu itu, tapi aku bersyukur karenanya.”

“Hah?”Sera ternganga, jijik dengan kata-kata Luhan yang penuh muatan kenarsisan itu.

“Aku tidak suka terikat dengan gadis manapun, jadi kuharap kau cepat menemukan cara untuk memutus benang ini.”

“Kalau begitu kau juga harus membantu, Luhan-ssi!”

Luhan mengibaskan tangannya. “Aku akan lakukan apa yang aku bisa.”

“Yak!”Sera buru-buru menahan tangan Luhan yang hendak melangkah menjauh. “Apa maksudmu? Kau juga harus berusaha.”

Arasseo…”sahut Luhan cepat, tidak ada kesan serius di nada suaranya.

“Dan kau juga harus melakukan sesuatu untuk membayar sewa rumah dan makanan selama kau tinggal di rumahku.”

Mwo?”kaget Luhan.

“Di dunia ini tidak ada yang gratis, Xiao Luhan!”

“Okay. Okay. Itu bukan masalah, aku akan membayarmu 2 kali lipat setelah kau bisa memutus benang ini dan aku bisa pulang ke Beijing.”

“Apa?? Memangnya aku bodoh membiarkanmu pergi begitu saja sebelum membayar. Kau juga harus menemukan pekerjaan. Setidaknya kau harus membeli baju untuk dirimu sendiri.”

“Kau tidak mau meminjamiku baju lagi?”

“Kalau kau mau memakai kemeja lama ayahku—”

“Ok! Deal!!”putus Luhan begitu saja sambil melepaskan tangan Sera di lengannya dan melangkah menjauh dengan gaya cueknya yang menyebalkan.

“Yak! Xiao Luhan!!”

“APA?!”balas Luhan tak kalah galak sambil memutar tubuhnya. “Cepat jalan, gadis cerewet! Kau harus bekerja bukan? Aku akan mengikutimu berkeliling perpustakaan, jadi cepat pakai kaki pendekmu itu, sebelum aku berubah pikiran!”

Urat marah Sera berdenyut. Brengsek!! Luhan benar-benar pria brengsek berlidah ular super menyebalkan yang amat sangat menyusahkan!! Dan dia bilang Sera berjodoh dengannya?? Jangan bercanda!! Lebih baik Sera terjun ke lautan magma daripada terikat seumur hidup dengan pria menjijikkan seperti Luhan!!

Sera termangu, matanya menerawang ke kejauhan. Di dalam bangunan bercat putih yang nampak benderang di antara rerimbunan pohon di sana, ada Baekhyun. Itu adalah gedung Fakultas Ekonomi tempat Baekhyun dan kawan-kawan organisasinya menyiapkan bazaar dan acara ulang tahun fakultas. Gedung itu berada di utara kampus dan berjarak kira-kira 100 meter dari tempat Sera berada. Jika saja kondisinya tidak ‘begini’, Sera pasti sudah menyusul Baekhyun. Mengobrol sebentar sebelum pulang, atau bahkan mungkin berbagi sedikit ciuman.

Tapi…

Kepala Sera berputar ke arah pemuda yang sedang sibuk berjongkok sambil membenarkan tali sepatunya yang lepas. Siulan santai pemuda itu membuat Sera ingin menimpuk kepalanya dengan sepatu!

Aish! Gara-gara pria brengsek sialan itu, Sera jadi tidak bisa bertemu dengan pacarnya! Sial! Sial! Sial!!

“Baekhyun lama-lama bisa curiga jika menyadari Luhan selalu ada setiap kali dia bertemu denganku. Aku juga tidak ingin ada teman Baekhyun yang melihat Luhan. Untuk saat ini, mumpung Baekhyun juga sedang sibuk, aku harus rela meminimalisir pertemuan kami berdua. Jangan dekat-dekat Gedung Ekonomi dan jangan biarkan Baekhyun datang ke rumah!”pikir gadis berambut hitam panjang itu.

Sera mengelus dadanya, merasa nelangsa. Ia harus bersabar, karena jika Baekhyun tahu ia pasti akan terkejut sekali dan mungkin akan marah. Mana mungkin Baekhyun tidak marah melihat pacarnya tinggal satu rumah dengan pria lain, bukan? Membayangkannya saja Sera sudah merasa ngeri. Tipe ceria dan manis seperti Baekhyun, akan seram sekali ketika marah. “Demi Baekhyun, aku harus segera memutus benang merah sialan ini,”batin Sera lagi, sambil menatap penuh tekad ke arah Gedung Ekonomi. Berharap keberadaan Baekhyun disana akan lebih mengobarkan semangatnya.

Mwohae (sedang apa)?”tanya Luhan sambil—dengan kurang ajarnya—menonyor kepala Sera hingga membuat gadis itu limbung. “Kkaja!”

“YAK!”jerit Sera tak terima. Luhan terus saja melangkah santai meninggalkan Sera, tak merasa bersalah sama sekali. Sera tak percaya, padahal Sera tadi dengan ikhlas menunggu Luhan yang sedang membenarkan tali sepatunya, dan sekarang pemuda itu malah berjalan meninggalkannya. Dasar kaki jerapah!! Jangan jalan terlalu cepat!! Kau tidak bisa menjauh lebih dari 7 meter, bodoh!!

“Apa kau tidak bawa payung?”tanya Luhan, tanpa menoleh.

Sera yang berusaha berjalan cepat di belakangnya menjawab ketus. “Hujannya tidak deras, hanya gerimis!”

“Gerimis pun bisa membuatmu sakit.”

“Apa sekarang kau sedang mencemaskanku?”

“Tidak. Kalau kau sakit, aku yang repot nanti. Aku tidak mau tertular!”

Sera ternganga. Manusia setengah setan menyebalkan!!

Perjalanan di bus, terasa begitu singkat karena Sera tertidur. Rasanya ia lelah sekali hari ini, mungkin bukan lelah secara fisik tapi lebih ke lelah secara batin. Guncangan halus bus sukses meninabobokannya.

Sedangkan Luhan, ia memilih menikmati pemandangan Jeju di malam hari. Kota Jeju tidak sepadat kota Beijing. Udaranya juga lebih bersih. Apalagi Kota Gyorae tempat Sera tinggal ini berlokasi di kaki Gunung Halla, jadi udaranya begitu sejuk dan berubah menjadi dingin menggigit ketika habis hujan seperti ini.

“Hatchi!!”Luhan bersin tepat ketika ia turun dari bus.

“Jangan sampai sakit, nanti aku bisa repot. Aku tidak mau tertular, ara?!”ejek Sera yang berdiri di halte. Puas sekali karena bisa membalas Luhan.

Luhan mencebikkan bibir, ingin sekali menjitak kepala Sera, tapi urung ia lakukan karena tiba-tiba angin berhembus kencang dan membuatnya menggigil kedinginan. Luhan mendekap tubuhnya, menggerutu dalam hati.

Huh, gadis cerewet itu tidak ada manis-manisnya sama sekali! Coba Sera berdandan lebih feminim dan memperbaiki cara jalannya yang seperti ayam itu, mungkin dia akan nampak sedikit lebih cantik. Tubuhnya kurus, tidak montok berisi seperti badan Hyuna—mantan pacar Luhan yang punya tubuh paling seksi—, dadanya itu pasti hanya cup-A atau paling banter cup-B. Dan kemeja kebesarannya itu benar-benar membuatnya nampak seperti orang-orangan sawah.

Kurus, tidak berlemak dan memakai kemeja setipis itu, apa ia tidak merasa dingin, eh?

“Hatchi!!”

Tuh…

“Tidak lucu kalau kita berdua sakit,”ujar Luhan sambil berjalan menjajari langkah Sera dan menggamit lengannya. “Lebih baik kita panaskan tubuh kita…”

“Eh?”

Sera terlambat bereaksi. Terlambat mencerna maksud kata-kata Luhan. Saat tiba-tiba Luhan sudah menarik tangannya begitu saja. Melangkah cepat, setengah berlari dan berlari….

Kaki Sera yang tak sepanjang kaki Luhan kepayahan mengikuti. Terseok-seok. Gadis itu memekik, menyumpah-nyumpah saat Luhan terus saja berlari tanpa mempedulikannya. Pemuda China itu justru tertawa, berpikir bahwa angin yang diterjangnya terasa begitu menyenangkan. Di kanan-kiri mereka adalah sawah yang menghijau. Lampu-lampu jalan berpenerang seadanya, suara jangkrik yang berpadu dengan suara katak, gemericik air, dan tubuh yang semakin menghangat seiring dengan laju kaki dan detak jantung. Sungguh menyenangkan!

“YAK! XIAO LUHAN!!”jerit Sera. Napasnya sudah mulai terengah.

Wae? Percepat larimu, Cheon Sera! Kau lambat sekali!!”

“Kau yang terlalu cepat, bodoh!!”Sera terbatuk kecil. “Dasar kaki jerapah!!”

“Hahaha…” Bukannya membalas omelan Sera, Luhan justru tertawa. Lepas. Ia menolehkan wajahnya sembari berkata dengan penuh semangat, “Ayo!! Sekencang apapun aku berlari, aku tidak akan melepaskan tanganmu, jadi kau tidak akan tertinggal, Cheonse!”

Cheonse—Cheon Sera sejenak terhenyak ketika melihat wajah dan tawa Luhan. Kemana pria setengah setan yang ia benci tadi? Saat ini pemilik punggung yang berlari di depannya seolah berubah menjadi malaikat yang sedang ingin terbang bebas. Benang merah yang ada di kelingkingnya berpendar. Lebih dari itu, genggaman Luhan di pergelangan tangannya terasa hangat. Genggaman itu lebih nyata dan entah kenapa tak bisa Sera tepis.

Chak-chakkaman! Aku tidak kuat. Berhenti—hh—berhenti menarikku, Lu!”

“Hei, kau ini tidak pernah olahraga ya? Cuma segini saja masa—eh?”Luhan menghentikan langkahnya dan segera berbalik menghadap Sera yang nampak begitu kepayahan sambil memegangi dadanya. “Yak! Cheon Sera, kau baik-baik saja?”

Napas Sera nampak berat.

“Apa kau sakit? Hei, jawab aku!”

Sera meringis, sambil mendongakkan kepalanya pelan. Matanya nampak sayu, ia mendesis kesakitan sebelum bilang…

“Dasar bodoh!!”umpatnya sambil sekuat tenaga menendang kaki Luhan, tepat mengenai tulang kering yang langsung membuat Luhan memekik kesakitan dan terlompat-lompat sambil memegangi kakinya.

“YAISH!!”bentak Luhan, tangannya tak henti mengusap-usap bekas tendangan Sera.

“Hhhh… aku capek sekali,”keluh Sera sambil duduk menjeplak di pinggir jalan. Pantatnya ia taruh begitu saja di jalan aspal yang masih setengah basah. Kakinya ia selonjorkan ke depan, ke atas rerumputan. Tubuhnya menghadap ke perkebunan warga. Di kejauhan sana, Gunung Halla bagai raksasa hitam pekat. Tidak ada bintang malam ini. Semua sepenuhnya tertutup mendung. Pukul 21.30 di Desa Bijarim, jalanan sudah sangat lengang.

“Kenapa malah duduk disini?”tanya Luhan.

Time out! Istirahat sebentar!”ujar Sera masih terengah. “Lagipula, apa-apaan kau mengajak orang berlari malam-malam begini? Kurang kerjaan!”

“Itu untuk membakar lemak, ara? Supaya kita tidak kedinginan, dan tidak terserang flu,”jawab Luhan sembari mengambil posisi duduk di samping Sera.

“Memangnya tak ada cara lain apa?”Sera menghirup napas banyak-banyak, lalu berusaha meredakan kecepatan napasnya agar kembali normal. “Kakiku pegal, baka (‘bodoh’ dalam bahasa Jepang)!”

“Tentu saja ada cara yang lain…”jawab Luhan.

Sera menoleh, hendak bertanya, “Ap—?”

Tapi belum selesai kata tanyanya terucap, Luhan tiba-tiba menarik tubuhnya dan mendekap tubuh Sera. Membuat Sera membeku seketika di pelukan Luhan. Wajahnya bisa merasakan panasnya dada pria itu meski tertutup kemeja, dan hal itu serta merta membuat pipinya memanas.

“Dengan saling berpelukan, mengalirkan panas tubuh ke tubuh lainnya. Ini sangat manjur untuk menghangatkan tubuh…”kata Luhan di dekat kepala Sera.

AISH!!” Kedua tangan Sera mendorong tubuh Luhan sekuat tenaga, hingga dekapan Luhan terlepas dan Luhan jatuh ke belakang. “Byuntae!”umpat Sera sambil menendang sepenuh hati kaki Luhan.

“Aku bukan byuntae!”sahut Luhan tak terima sambil membenarkan posisi duduknya. “Kau tadi kan tanya apa ada cara yang lain atau tidak. Karena itu aku menunjukkan cara yang setauku paling praktis. Tidak butuh alat apapun, hanya butuh panas tubuh.”

“Tetap saja! Kau cari-cari kesempatan!”

“Apanya? Memangnya aku senang memelukmu? Dada rata seperti itu…”

“YAK!!!”Tangan Sera melayang, hendak memukul Luhan. Tapi Luhan lebih sigap.

“Hap!”serunya sambil menangkap tangan Sera. Sera melotot, satu tangannya yang masih bebas segera ia layangkan ke kepala Luhan, tapi…

“Hap. Kau tidak bisa memukulku lagi, Cheonse.”

Grrrr… Sera semakin geram. Sayangnya kaki Sera tertekuk—posisi bersimpuh—saat hendak memukul Luhan, jelas dengan posisi seperti itu ia tidak bisa melayangkan tendangannya pada Luhan seperti tadi. Tak pantang menyerah Sera mencoba untuk menarik tangannya, tapi Luhan juga kekeuh memegangi tangan Sera.

Oh, bukan Sera namanya kalau gadis itu tidak banyak akal.

Duk!

“AW!!”

“Auw, ittaii~ (‘sakit’ dalam bahasa Jepang)!”

Luhan dan Sera kompak memekik kesakitan. Luhan mengelus-elus keningnya dengan cepat, berusaha meredakan nyeri yang menyengat disana. Sedangkan Sera tak kalah gusarnya dengan Luhan, sibuk memegangi kepalanya yang berdenyut menyakitkan.

“Apa kau bodoh, hah?!”umpat Luhan kesal. Sambil terus mengusap keningnya.

Ya, ya, Sera barusan—entah dapat wangsit darimana—karena tidak bisa memukul Luhan dengan tangan, akhirnya memilih memukul jidat Luhan dengan sundulan kepalanya.

Keputusan yang akhirnya Sera sesali karena bukan hanya Luhan, ia pun ikut kesakitan, ckckck…

“Duh, ternyata rasanya sakit sekali…”pikir Sera. Padahal kalau di film action, aktor yang melakukannya tidak pernah nampak kesakitan. Apa ia telah ditipu, eh?

“Kau lahir di sini?”tanya Luhan tiba-tiba, entah mencomot topik pembicaraan dari mana. Mata bening pemuda itu kini menatap ke arah bulan purnama yang mulai nampak dari sekat-sekat mendung yang mulai menyingkir.

“Tidak,”jawab Sera sambil menggeleng pelan. Mata gadis itu juga sedang menatap objek yang sama. “Aku lahir di pulau Imja, pulau yang ratusan kali lipat lebih kecil dan lebih sepi daripada Jeju. 5 tahun lalu aku pindah ke sini bersama appa.”

“Lalu dimana appa-mu sekarang? Kalian tinggal terpisah?”

“Hum!”Sera mengangguk mantap. “Sekarang appa sudah tinggal bersama Tuhan di surga.”

“Ah, maaf…”lirih Luhan, ia menyesal menanyakan hal itu pada Sera.

Gwaenchanayo, appa sudah pergi sejak 3 tahun lalu, jadi aku sudah terbiasa.”

“Lalu ibumu?”tanyanya lagi. Sejak kapan Luhan penasaran dengan hidup orang lain? Entahlah. Luhan pikir, untuk beberapa hari ke depan ia akan tinggal di tempat Sera, jadi tidak ada salahnya untuk mencari tahu sedikit tentang gadis ini, bukan? Paling tidak Luhan harus memastikan Sera bukan psikopat yang akan diam-diam membunuhnya saat Luhan sedang terlelap. Oh, baiklah, sepertinya ia terlalu berlebihan.

“Aku tidak punya ibu,”jawab Sera cepat.

“Eh?”Luhan menoleh. Itu bukan jawaban wajar yang Luhan harapkan.

“Aku tidak punya Ibu,”ulang Sera sambil ikut menolehkan kepalanya ke arah Luhan. Mereka saling bertatapan. Wajah Sera begitu tenang tanpa emosi. Sedangkan Luhan nampak bingung dengan kerutan di antara alisnya.

“Kau lahir dari perut ayahmu?”tanya Luhan, terdengar bodoh.

“Begitulah,”jawab Sera, cuek, tak kalah bodohnya.

Sedetik-dua detik, Luhan masih mencoba membaca ekspresi Sera. Tapi tak ada apapun disana. Sera tak bohong, tapi jawabannya tadi tentu juga tidak sepenuhnya benar. Entah apa yang terjadi pada gadis itu di masa lalu, Sera pasti sangat membenci ibunya.

“Bagaimana dengan keluargamu? Ayah? Ibu? Kakak? Adik?” Gantian Sera yang kini bertanya.

“Ayah…”jawab Luhan. Ia terdiam sejenak. “Dan dua orang ibu.”

“Wow!”seru Sera, matanya membulat.

“Kakak tiri, bibi dan saudara sepupu…”Lagi-lagi Luhan berhenti sejenak. Mendung telah sepenuhnya tersingkap, sehingga bulan bisa dengan leluasa memancarkan cahayanya. Tangan Luhan tanpa sadar menyentuh liontin di balik kemejanya. “…lalu, dulu, aku juga punya saudara kembar.”

“Oooh…”gumam Sera. Kepalanya terangguk-angguk. “…dulu.”

Luhan kembali menoleh pada Sera, menarik perhatian gadis itu untuk ikut menoleh ke arahnya. Luhan menunjukkan smirknya sembari berkata penuh misteri. “5 tahun lalu aku membunuhnya…”

Mata Sera membulat. Terkejut dengan pernyataan Luhan. “Kau meledekku ya? Kau pikir aku akan percaya, huh?”

“Kenapa tidak?”Luhan menelengkan kepalanya ke samping. “Memangnya aku tidak pantas menjadi pembunuh? Kupikir wajahku cukup kejam!”

“Aighooo… babo! Dengan kepribadian menjengkelkanmu, kau memang cocok menjadi psikopat berdarah dingin. Tapi, melihat dirimu yang nampak begitu khawatir saat aku—yang bukan siapa-siapamu—‘pura-pura’ kesakitan, aku tahu kau tidak akan sanggup melukai siapapun apalagi keluargamu sendiri.”

“Aku tidak pernah khawatir padamu!”bantah Luhan, wajahnya entah kenapa terasa panas.

“Sudahlah, aku juga tidak butuh pengakuanmu!”Sera mengibaskan tangannya di depan wajah. Memandang remeh Luhan yang terlalu enggan menunjukkan perasaannya yang jelas-jelas terlihat. “Jika kau benar-benar membunuh saudara kembarmu, aku yakin itu pun bukan karena kau sengaja. Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri dan menganggap dirimu jahat. Kau tidak seperti itu! Orang yang dikutuk terikat padaku seperti ini…”Sera menggenggam benang merah yang tergulung diantara mereka. “…tidak mungkin orang yang jahat. Tuhan tak sekejam itu hingga Dia tega mengirimkan orang jahat ke padaku. Oh! Ada mobil!!”

Mengabaikan Luhan yang terdiam mendengar kata-katanya, Sera bangkit hendak menghentikan mobil yang nampak di kejauhan. Tapi tiba-tiba tangannya ditahan oleh Luhan. Sera menundukkan kepalanya, ke arah Luhan yang masih duduk di aspal jalan.

“Tahu apa kau tentang hidupku?!”desis Luhan. Wajahnya gelap, matanya berkilat penuh emosi.

Ditatap seperti itu oleh Luhan, anehnya tidak membuat Sera merasa takut. Ia justru merasa iba. “Aku memang tidak tahu apa-apa. Aku bahkan baru mengenalmu kurang dari 24 jam. Jadi wajar jika aku mungkin salah menilaimu bukan? Kalau benar begitu, anggap saja aku sial. Tapi sampai akhir aku akan tetap dengan pendapatku tentang dirimu. Kau bukan orang jahat dan aku akan mempercayai itu. Oke?”Sera tersenyum. “Dan hentikan wajah meranamu itu, Xiao Luhan. Ck, kau nampak jelek sekali!”

Sera melepas genggaman Luhan di tangannya dengan halus. Lalu gadis itu berlari ke tengah jalan dan melambai untuk menghentikan sebuah mobil pick up warna biru yang berjalan ke arahnya. Manik mata Luhan tak lepas dari sosok gadis itu. Mengikuti setiap pergerakannya, ekspresi wajahnya dan bagaimana cara ia bicara. Sera bukan gadis yang istimewa. Ia hanya satu dari jutaan gadis biasa-biasa saja di dunia ini.

Tapi lihatlah, kenapa hanya dengan kalimat asalnya Luhan menjadi merasa begitu lega? Dadanya terasa lapang. Dan liontin yang ada di lehernya sudah tidak terasa begitu memberati lagi seperti sebelumnya. Sudah berapa ratus kali Seunghyun menasehatinya untuk tidak menyalahkan dirinya sendiri atas kematian Luxien. Sudah berapa ribu kali ia bertengkar dengan Baba-nya hanya demi menuntaskan rasa frustasinya selama ini. Sudah berapa juta kali dadanya sakit setiap kali ia tidak bisa tidur di malam hari. Tapi tak pernah Luhan merasa sedamai ini.

Hembusan angin kembali menggelitik saraf di kulit Luhan. Membawa segarnya udara malam, bau hujan dan menggerakkan rambut indah gadis yang kelingkingnya terikat oleh benang merah itu. Sera tertawa bersama dengan sopir pick up—yang sepertinya adalah tetangga dekatnya—dan ibu-ibu paruh baya di kursi penumpang. Wajah ramah gadis itu seperti memancarkan cahaya, kontras dengan mata tajamnya yang teguh. Tanpa sadar seulas senyum pun ikut terukir di bibir Luhan.

“Lu… ayo! Kita menumpang mobil Jung-ahjussi!”kata Sera sambil menggamit tangan Luhan dan menariknya, menggenggam pergelangan tangan pria itu erat.

“Naik pick up?”tanya Luhan tak percaya ketika Sera membawanya ke belakang mobil, ke bagian bak terbuka. “Di belakang?!”Luhan nyaris berteriak histeris.

“Iya!”jawab Sera ringan, tak sadar dengan nada tak suka yang Luhan lontarkan. Oh man, Luhan terbiasa naik Limosine, Ferarri dan mobil-mobil mewah sejenisya, lalu sekarang gadis desa ini mengajaknya naik di mobil bak terbuka? Bersama dengan karung-karung sayur busuk yang tidak layak jual? Yang benar saja!!

“Maaf ya! Mungkin di belakang baunya agak tidak enak, hahaha…”seru sang sopir. Luhan otomatis mendelik kesal mendengar kata-katanya.

“Ini lebih baik daripada berjalan kaki kan?”ujar Sera saat ia dan Luhan sudah berada di atas mobil. “Tenang saja, aku bilang kalau kau adalah saudara sepupuku yang berasal dari Seoul jadi paman dan bibi tidak curiga,”jelas Sera saat melihat wajah Luhan yang nampak tegang. Bukan itu! Luhan berpegangan pada pinggir bak pick up dengan wajah tegang dan tubuh kaku bukan karena takut dicurigai oleh paman dan bibi Jung itu, tapi ia takut terjengkang ke belakang saat mobil pick up ini melaju.

Sera berseru senang, abai sama sekali dengan perasaan Luhan. “Ayo jalan, ahjussi!

Mobil menggerung saat mesinnya dinyalakan. Asap putih mengepul bergulung-gulung dari knalpotnya, membuat Luhan terbatuk. Mobil pick up biru itu tersentak pelan sebelum mulai berjalan. Pelan menyusuri jalanan di desa Bijarim. Membawa Sera yang tertawa senang dan Luhan yang bersungut-sungut dengan rambut berantakan di terpa angin.

Baekhyun menguap lebar-lebar. Badannya terasa remuk luar biasa setelah seharian ini mondar-mandir mengurus banyak hal untuk persiapan acara ulang tahun fakultasnya. Ia bertugas sebagai ketua penyelenggara yang berarti bertanggung jawab penuh memastikan acara berjalan lancar. Banyak hal yang harus di cek. Termasuk laporan dana yang masuk dari sponsor. Hwang Shiina, sahabatnya, yang bertugas menjadi bendahara, menatapnya simpati.

“Tidur sajalah!”katanya. “Dua hari ini kau hanya tidur sebentar sekali. Pulang sana dan tidur dengan nyenyak!”

“Aku tidur disini, hari ini. Sudah pukul 10, tanggung jika harus pulang dan besok harus kembali ke sini pagi-pagi. Kau sudah mengerjakan tugas dari Kim Sangjin-gyosungnim? Aaah, aku belum menulis satu huruf pun untuk tugas makalahnya.”

“Mau menyontek punyaku?”tanya Shiina sambil menopangkan dagunya di kedua tangan dan mengedip pada Baekhyun.

Senyuman lebar terbit di bibir Baekhyun. “Boleh?”

“Tidak.” Shiina menjulurkan lidah, mengejek.

“Ish!”Jari-jari Baekhyun dengan cepat menghadiahi sentilan ke dahi Shiina. Hadiah karena Shiina telah sukses membuatnya gemas.

“Yak! Iiisssh. Pulang sana! Ini bahkan belum hari H acara, tapi wajahmu sudah seperti orang mau mati. Kau bisa mengecek laporan itu di bus.”

Shireoyo, Shiina.”Baekhyun kembali mengarahkan tatapannya ke deretan angka-angka yang ada di tangannya. “Kau menginap disini kan malam ini? Untuk menemani Sanghee.”

“Ne,”jawab Shiina. “Pekerjaan Sanghee harus selesai malam ini. Aku juga berencana untuk sekalian mengerjakan tugas kelompok dengannya. Tugas dari Lee Inyoung-gyosungnim.

Geurae, karena itu aku harus tidur lagi disini malam ini. Aku tidak mau dipukul paman karena membiarkanmu menginap sendirian di kampus.”Baekhyun menoleh pada Shiina. Mencubit kedua sisi pipi tembam sahabat sekaligus tetangganya sejak bayi itu. “Pekerjaan utamaku malam ini justru adalah menjagamu, hime-sama (tuan putri).

“Ish!”Shiina menepis tangan Baekhyun, lalu menekan-nekan pipinya yang terasa ngilu. “Aku tidak butuh penjagaanmu, aro? Aku bisa menjaga diriku sendiri. Lagipula aku tidur disini bersama teman-teman, tidak sendirian.”

“Tetap saja, sebagian besar teman-teman kita adalah laki-laki. Bisa apa kau kalau sudah berhadapan dengan tenaga lelaki. Kau juga kenapa memakai celana pendek seperti itu? Sengaja mengundang eh? Ganti dengan celana panjang!”

“Heol! Menyebalkan. Kenapa semakin tua kau semakin terdengar seperti Appa, Baek? Aku bukan anak perempuanmu, oke?”

“Kau sahabatku. Sahabatku tersayang…”Baekhyun mengusap puncak kepala Shiina. Membuat jantung gadis itu berdebar. Shiina mengeluh dalam hati. Kapan ia bisa menata hatinya jika Baekhyun terus memperlakukannya seperti ini? Laki-laki bodoh itu, sudah tanpa sadar menjebak Shiina dalam friend zone yang menyesakkan. Membiarkan gadis itu jatuh cinta sendirian dan diam-diam.

“Kalau aku appa-mu, aku pasti sudah memukul bokongmu sekarang dan menyeretmu pulang, hime-sama,”lanjut Baekhyun yang dibalas Shiina dengan dengusan sebal.

Handphone Baekhyun yang berada di atas meja bergetar. Baekhyun mengambilnya dan membaca apa yang terpampang di layar. Sebuah pesan. Yang serta merta membuat senyum Baekhyun terbit.

“Dari Sera?”

Baekhyun mengangguk, sambil dengan cepat mengetik sebuah balasan. “Aku merindukannya.”

Dan aku merindukan kata-kata itu diucapkan olehmu untukku, Baek, batin Shiina perih.

“Dia tidak mampir hari ini?”

“Tadi pekerjaannya di perpustakaan selesai agak terlambat. Aku menyuruhnya segera pulang agar tidak kemalaman sampai di rumah. Kau tahu sendiri jarak dari halte ke rumahnya cukup jauh. Dan aku tidak bisa mengantarnya pulang. Syukurlah, dia sudah sampai di rumah, katanya ia bertemu dengan Kim ahjussi di jalan. Pedagang sayur itu. Sera menumpang pick up-nya,”jelas Baekhyun, bahkan tanpa Shiina minta. Cerita sesederhana itu, hal sekecil itu, tidak penting tapi terkait tentang Sera—pacarnya, sudah mampu membuat Baekhyun kembali riang. Wajah lelahnya mendadak berubah lebih cerah.

“Kau sangat menyukainya, ya?”tanya Shiina yang langsung ia sesali. Sialan, ia sudah menabur garam ke lukanya sendiri.

“Ani,”jawab Baekhyun. “Aku mencintainya. Sangat.”

Shiina tersenyum. Senyum yang muncul karena tertular senyum Baekhyun. Meski ada kegetiran disana. Sudah sejak lama—lama sekali—Shiina menaruh hati pada pria yang begitu penyayang itu. Tapi Shiina tak cukup beruntung karena pada akhirnya Baekhyun jatuh cinta pada gadis yang baru pindah ke Bijarim bersama ayahnya. Shiina bahkan masih ingat bagaimana wajah terpesona Baekhyun saat melihat Sera pertama kali di halte bus, 5 tahun lalu. Meski telah merebut cinta Baekhyun, tapi Shiina tak pernah bisa membenci Sera. Shiina justru sangat sayang pada gadis malang itu. Dan rasa sayangnya itu lah yang membuat hatinya semakin pedih.

“Aku akan mencarikanmu kopi,”ujar Shiina sambil beranjak pergi. Meninggalkan Baekhyun yang telah asyik dengan ponselnya. Berkirim pesan dengan gadis yang telah merebut hati Baekhyun sekaligus merenggut harapan Shiina.

Benang merah magis yang mengikat Sera dan Luhan begitu unik. Ketat, tidak bisa dipotong, tidak bisa dibakar, tidak bisa dihancurkan, intinya tidak bisa putus meski dengan cara sekeras apapun. Lebih anehnya lagi—yang sungguh tidak bisa diterima oleh akal—benang merah itu tembus jika melewati benda dan manusia lainnya. Manusia lain bisa dengan mudah melewatinya tanpa takut tersandung. Sera dan Luhan juga bisa dengan mudah melepas dan memakai pakaian mereka tanpa takut tersangkut. Mereka juga bisa bergerak kemanapun bahkan jika harus berpisah ruangan karena benang merah itu dapat menembus dinding.

Fleksibel, tapi begitu mengikat ketat.

Alkisah di zaman pemerintahan Kaisar Tang Taizong di China, seorang pria bernama Wei Gu akan melangsungkan pernikahan dengan putri seorang mantan pejabat istana bernama Pan Fang. Wei Gu yang telah gagal menikah berkali-kali sangat yakin bahwa rencana pernikahannya kali ini akan berhasil. Wei Gu yang tak sabar menunggu hari pernikahan, pergi ke kuil pagi-pagi buta. Disana ia bertemu dengan kakek tua yang membawa sebuah tas dan sedang membaca buku di bawah sinar bulan. Wei Gu penasaran dengan apa yang sedang dibaca kakek tua itu, maka ia bertanya padanya. “Buku apa yang sedang anda baca tuan?”

“Ini buku tentang pernikahan. Aku hanya perlu menggunakan benang merah dalam tas ini untuk mengikat dua orang dan mereka akan berjodoh untuk menikah.”

Utkijima…”gumam Sera. “Ini semua hanya dongeng, benar kan?”tanya Sera sambil berbalik ke arah Luhan yang sedang tiduran di sofa sambil membaca komik jepang milik Sera. Selesai makan malam, Sera berinisiatif mencari informasi tentang benang merah takdir di internet. “Lagipula aku tidak pernah bertemu dengan kakek tua yang membaca buku di bawah sinar bulan? Tiba-tiba saja benang merah ini sudah di jari. Aigho, sejak awal cerita saja sudah aneh, kakek-kakek yang membaca di bawah sinar bulan? Apa matanya tidak sakit, eh?”

“Jangan bicara kurang ajar seperti itu pada dewa kalau tidak mau dikutuk.”

“Kau percaya pada cerita klasik macam ini?”

“Kau lupa kalau aku orang China?”

Oh, benar… mitologi, cerita-cerita kuno seperti ini, kebanyakan berasal dari China. Orang-orang jaman dulu memang hebat. Imajinasi mereka luar biasa.

Sera melanjutkan membaca.

Wei Gu yang penasaran, bertanya siapakah istrinya di masa depan nanti. Apakah gadis yang akan dinikahinya besok, Pan Fang putri dari pejabat istana itu? Ternyata jawabannya ‘bukan’. Lelaki tua itu menunjukkan siapa gadis yang terikat benang merah dengan Wei Gu. Sang calon istrinya nanti. Dia adalah seorang gadis cilik berusia 3 tahun yang memiliki seorang wanita tua yang salah satu matanya buta. Keduanya nampak sangat kotor dan jelek.

“Kau akan menikah dengannya saat gadis itu berusia 17 tahun,”jelas sang lelaki tua.

Wei Gu marah, tidak terima memiliki jodoh yang miskin dan jelek seperti itu.

Wei Gu bertanya dengan marah, “Bolehkah saya membunuhnya?” Orang tua itu menjawab, “Gadis ini ditakdirkan untuk menjadi sangat kaya dan menikmati anugerah kehidupan bersama dengan kamu. Bagaimana kamu bisa membunuhnya?” Lalu orang tua itu menghilang. 

Mengabaikan ucapan sang pria tua, Wei Gu pulang ke rumah dan mulai mengasahnya. Lalu ia mengutus seseorang untuk membunuh gadis cilik itu.

Sera menghela napas panjang. Manik mata gadis itu terus menelusuri tiap-tiap kata sampai cerita tentang Wei Gu berakhir. Apa yang terjadi selanjutnya setelah Wei Gu mengutus seorang pembunuh bayaran itu telah membuatnya kecewa. Akhir yang tidak ia inginkan. Tidak ketika ia memiliki harapan yang sama seperti Wei Gu.

“Apa ini artinya meskipun aku mencoba membunuhmu, kemungkinan besar aku akan gagal dan benang merah ini akan tetap mengikatku denganmu, begitu?”simpul Sera. Luhan mengangguk, tanpa mengalihkan tatapannya dari komik yang ia baca.

“Yak! Apa kau tidak terlalu santai?”tegur Sera yang mulai jengah dengan sikap Luhan. “Apa kau mau terus-terusan terikat seperti ini, huh?”

“Hei, apa kau percaya lelaki tua di bawah sinar bulan itu ada?”Luhan balik bertanya. Ia meletakkan komiknya dan membenarkan posisi duduknya. Kali ini ia duduk dengan benar di kursi, tubuhnya agak condong pada Sera yang duduk di lantai.

Sera menatap Luhan lama sebelum menjawab. “Yah… itu hanya mitos kan? Walaupun aku percaya keajaiban, tapi soal kakek tua yang bertugas mengikat benang merah takdir, sepertinya tunggu dulu, aku harus mencari buktinya.”

“Ini.”Luhan mengangkat kelima jarinya, menunjukkan benang merah yang mengikat kelingking. “Apa ini bukan bukti?”

Sera menelan ludah.

“Sampai kapan kau mau lari dari kenyataan, Cheon Sera,”ujar Luhan dengan nada setengah mengejek. “Di China, para pengantar di upacara perkawinan disebut ‘laki-laki tua di bawah sinar bulan’, kau mengerti apa alasannya kan kenapa mereka disebut begitu?”

“Ya…”Sera memalingkan wajahnya.

“Dan kau tahu apa yang membuat ini semakin aneh?”

“Apa?”tanya Sera, matanya kembali menatap Luhan. Penasaran.

“Saat benang merah ini muncul, bukankah kita sama-sama sedang berada di bawah sinar bulan purnama? Kita bahkan sedang sama-sama menatapnya bukan?”

Mata Sera membulat. Bibirnya ternganga. Sukses terperangah. “Kau benar, jadi bulan itu… oh, mungkin jika kita kembali bersama-sama melihat bulan purnama. Semuanya akan kembali seperti semula? Kau bisa kembali ke China, Lu!”

“Tidak. Itu tidak akan terjadi.”

Waeyo?”

“Kita sudah melakukannya tadi. Saat duduk di pinggir jalan. Aku sedang menatap bulan purnama dan kau juga. Tapi tidak ada yang terjadi.”

Bahu Sera melorot. Cahaya harapan yang sekilas nampak tadi, kini padam. Gelap gulita lagi.

“Seandainya kita bisa menemui ‘pria tua di bawah sinar bulan’ itu, mungkin kita bisa memohon padanya untuk memutus benang merah ini.”

Luhan melirik Sera. “Jadi kau percaya kalau benang merah ini benang merah takdir, bukan benang merah kutukan?”

“Jika itu takdir bersamamu, itu sama artinya dengan kutukan bagiku!”

Luhan melotot. Tidak terima. “Wae? Apa aku seburuk itu?”

“Eo! Coba lihat. Baru sehari kau menumpang di rumahku, kau sudah pandai sekali bersikap seperti tuan rumah. Apa kau tidak punya rasa canggung sedikitpun?”

“Rumahmu memang berada jauh dari standar layak kuhuni. Jujur, aku cukup terkejut dengan daya adaptasiku yang luar biasa ini. Ternyata aku bisa juga menolerir banyak hal.”

“Apa kau ini chaebol? Orang kaya? Gayamu sok sekali, aighooo…”

“Eo. Apa tidak terlihat dari tampangku? Aku jelas berada di atas levelmu, Cheonse.”

“Berhenti memanggilku Cheonse!”

“Aku memanggil siapapun dengan nama yang aku suka. Wae? Apa kau mau kupanggil ‘kaki ayam’?”

Mwoya? Jangan memanggilku dengan nama aneh, Xiao Luhan! Ish, apa kau tidak mencemaskan orang tuamu. Mereka pasti sekarang kebingungan mencarimu.”

“Tidak. Aku malah ragu mereka sadar aku hilang dari rumah. Aah, tapi Seunghyun mungkin sadar, dan melapor pada Baba. Tapi aku tak peduli.”

Geurae, geurae. Khas drama korea. Kau pangeran bermasalah rupanya.”

“Ne…”Luhan menyunggingkan senyum miringnya. “Keren bukan?”

Sera mencibir. “Keren apanya? Tukang mengeluh, sombong, tidak mandiri, cerewet–”

Geumanhae…”desis Luhan.

“Narsis, childish, kasar, dimana dari bagian dirimu yang keren huh?”

“Yak!”Luhan mendekatkan wajahnya pada Sera. Mereka berdua saling menatap tajam. Tak ada yang mau mengalah. “Di Beijing, banyak yang antri hanya demi bisa kusapa, ara? Apa kau tahu betapa populernya aku disana? Tidak ada gadis yang tak bisa kudapatkan. Tentu saja. Aku kaya, pintar, selera fashionku tinggi, dan yang jelas aku punya wajah yang tampan. Josimhaera~! Aku tidak mau bertanggung jawab jika kau jatuh cinta padaku.”

“Hah…”Sera tertawa hambar. “Tingkat kenarsisanmu itu luar biasa, Xiao Luhan. Membuatku ingin muntah. Jika kau memang sebegitu kerennya, telpon orang tua kayamu itu. Mereka pasti punya banyak cara untuk memutus tali merah ini kan? Mereka pasti punya cukup banyak uang untuk bisa menemukan ‘pria tua di bawah sinar bulan’ itu. Dari referensi drama-drama korea, aku yakin orang tuamu tidak akan suka jika tau anaknya tinggal di gubuk menyedihkan milikku ini. Mereka pasti akan melakukan segala cara untuk memisahkan kita bukan? Ah, lagipula aku tidak mau menjadi cinderella, aku tidak suka berurusan dengan pangeran sepertimu.”

Sera beranjak, sesampainya di ujung tangga langkahnya terhenti. “Josimhaera, pangeran-lah yang lebih dulu jatuh cinta pada cinderella. Jika itu terjadi, kau tahu kan berapa prosentase dirimu ku tolak? 100%!”

Luhan menoleh ke arah Sera, matanya berkilat marah. Harga dirinya terluka oleh ucapan Sera. Gadis itu benar-benar pintar bicara. Dan sekarang ia begitu berani membalas tatapan Luhan, untuk membuktikan bahwa ia tidak takut pada pria itu.

Tatapan Luhan beralih pada benang merah di kelingkingnya ketika Sera telah melangkah menaiki tangga. “Benang merah sialan!”desis Luhan.

Bulan bertahta dengan indah malam ini. Awan hitam yang sebelumnya bagai tirai kelam yang menutupi cahayanya, kini telah menyingsing pergi. Membiarkan sang penguasa malam memenuhi keajaibannya kini.

Baekhyun menutup sambungan teleponnya. Ia tersenyum sambil memandangi layar handphone yang menunjukkan gambar wallpaper dirinya dan Sera. Beberapa saat yang lalu, ia baru saja berbicara dengan Sera. Rutinitas malam hari yang selalu membuatnya senang saat melakukannya. Berbicara dengan Sera, mendengar cerita gadis itu tentang apa saja, dan sesekali menyanyikan lullaby untuk gadis itu. Setelah yakin bahwa Sera telah tertidur di seberang sana, Baekhyun baru mematikan sambungan teleponnya.

Angin berhembus cukup kencang. Merontokkan dedaunan yang telah menguning di musim gugur. Baekhyun yang sedang ada di lantai tiga gedung fakultasnya, memandangi sang bulan yang mengintip dari balik dedaunan. Masa-masa purnama hendak berlalu, bulan itu tak sepenuhnya bundar.

Mwohae?”Shiina yang datang dari arah kamar mandi menghampiri Baekhyun. Di lehernya tersampir handuk kecil. “Habis menelepon Sera?”

Baekhyun mengangguk. “Kkaja!”ajaknya sambil merangkul bahu Shiina akrab dan mendorong gadis itu pelan. Mereka harus kembali ke kantor sekretariat untuk tidur disana bersama teman-teman organisasi yang lain.

Seperti yang Baekhyun duga, Sera telah terlelap. Tangannya yang menggenggam handphone terkulai di atas kasur. Napasnya naik turun dengan teratur. Sementara di lantai bawah, Luhan masih belum mampu melelapkan dirinya. Matanya nyalang menatap langit-langit. Bagaimanalah ia bisa tidur jika di kamar atas Sera sibuk berbincang dengan pacarnya lewat telepon. Luhan tak berniat menguping, suara Sera terdengar begitu jelas karena ruangan rumah yang terlalu kecil.

Tapi saat suara gadis itu tak terdengar lagi, Luhan justru merasa kecewa. Aneh. Suasana sepi ini justru membuatnya tak nyaman.

“Apa dia sudah tidur?”gumam Luhan pada dirinya sendiri. Tentu saja tak ada jawaban.

Luhan menghela napas panjang. Lebih baik aku tidur, pikirnya sebelum kemudian memejamkan mata. Beberapa saat kemudian, ia telah jatuh tertidur berselimutkan selimut Hey! Say! JUMP yang hangat.

Saat itulah, terjadi keajaiban. Di bawah sinar bulan yang menembus masuk melalui kaca jendela yang tak tertutup, benang merah yang mengikat Luhan dan Sera bersinar dalam gelap. Merah berkilau seperti ruby. Benang merah itu bergerak pelan. Menyusut masuk ke dalam jari Luhan dan Sera. Membuat panjangnya berkurang.

Setiap malam, setengah meter.

Suasana pagi itu bahkan lebih canggung daripada pagi sebelumnya. Luhan tak bicara selama sarapan, dan Sera sama sekali tak berminat mengajaknya bercakap. Pertengkaran semalam sepertinya masih membekas.

Ini hari kedua, dan benang merah itu masih mengikat.

Kali ini Luhan meminjam baju lama mendiang ayah Sera untuk pergi ke kampus. Kemeja usang dengan motif kotak-kotak dan kaos oblong. Sera kemudian sibuk memilihkan celana jeans ayahnya untuk Luhan. Tubuh Ayah Sera tidak gemuk, bahkan cenderung kurus dan tinggi. Cukup memakai ikat pinggang, sepertinya akan cukup untuk Luhan pakai.

Baru saja Sera berbalik untuk menyerahkan celana jeans biru terbaik ayahnya pada Luhan, gadis itu memekik kaget melihat Luhan sudah bertelanjang dada di belakangnya. Reflek Sera melemparkan celana di tangannya ke tubuh Luhan.

Mwohaneungoya?!”tanya Sera setengah menjerit.

Luhan mendengus geli melihat reaksi Sera yang menurutnya berlebihan. “Aku hanya sedang ganti baju, memangnya kau pikir aku sedang apa?”

“Jangan ganti baju disini, bodoh!”

“Kau tidak memberiku kamar! Lalu dimana aku bisa berganti baju, huh?! Kau pikir aku suka mengumbar tubuh berhargaku ini di depanmu!”

“Kau bisa ganti baju di kamar mandi kan?”

“Malas.”Luhan berujar cuek sambil mengancingkan kemejanya. “Kenapa kau ini histeris sekali? Memangnya kau tidak pernah melihat tubuh pria telanjang, eh? Sepertinya kau tidak sepolos itu.”

Sera ternganga. Pipinya sukses memanas mendengar tuduhan Luhan yang—sialnya—benar.

Pemuda China itu menyeringai, “Lebih bagus mana tubuhku dengan tubuh Baekhyun, hm? Kau pasti pernah kan melakukan itu dengan kekasih tercintamu itu?”

Uuuukh, kepala Sera serasa mendidih dan siap meledak. Otaknya sudah sibuk memunculkan gambaran ini dan itu. Terutama pada malam itu, saat ia dan Baekhyun…

“Dasar brengsek!!”Dengan sekuat tenaga Sera mencoba melayangkan kakinya untuk menendang Luhan, tapi pemuda itu ternyata lebih sigap menghindar. Luhan mengangkat kakinya yang hendak menjadi sasaran Sera dan menggeser tubuhnya ke samping. Membiarkan Sera menendang udara hingga kehilangan keseimbangan dan terjerembab ke depan.

Bruk!

“Aw! Uhhh…”Luhan meringis. Miris dengan cara jatuh Sera yang pasti… menyakitkan.

Tubuh gadis itu beringsut bangun dengan sedikit gemetar. Setelah berhasil menegakkan tubuhnya, Sera menoleh pada Luhan. Menunjukkan wajah kesalnya, mata tajamnya yang berair dan hidungnya yang mimisan.

“Kau tidak…”

“Aku tidak apa-apa!”potong Sera cepat. Berusaha tegar, meski sebenarnya ia malu setengah mati dan hidungnya sakit karena terantuk lantai. Sera mengumpat pelan, sambil memutar tubuhnya dengan cepat. Setengah berlari, Sera menuruni tangga menuju lantai bawah. Bergegas ke kamar mandi untuk sembunyi.

“Yak! Hati-hati jalannya! Nanti kau jatuh lagi!”

“Dasar manusia setengah setan! Aku membencimu!”teriak Sera dari arah kamar mandi.

Tawa Luhan meledak.

Tidak ada yang hebat hari ini, Sera menjalani hari-harinya dengan rutinitas yang sama. Rumah, kampus, perpustakaan, lalu pulang lagi ke rumah. Luhan heran, bagaimana bisa gadis itu menjalani hidup dengan begitu membosankan namun tetap nampak bahagia? Dia bahkan tak memiliki apapun. Keluarga, uang, nama besar, penampilan, Sera tak punya itu semua. Tapi ternyata, tanpa itu semua manusia masih bisa tersenyum begitu lebar.

Hari kedua, ketiga, dan keempat…

Luhan patuh, mengikuti kemanapun Sera membawanya pergi. Ia masih berbaik hati mentolerir semua aktifitas gadis itu karena menganggap ini sebuah pengalaman baru untuknya. Naik bus dan berjalan kaki kemanapun ia pergi adalah salah satunya. Kedua hal itu nampaknya sepele, tapi bagi Luhan yang tidak pernah seumur hidupnya pergi dari satu tempat ke tempat lain hanya dengan kakinya dan transportasi umum, ini adalah hal baru yang membuatnya bangga karena bisa menjalaninya. Selama ini Seunghyun selalu siap mengantarnya kemanapun, menyediakan semua keperluannya, dan Luhan hanya tinggal membuka mulut untuk memerintah.

Sejak tinggal bersama Sera, gadis itu tidak pernah membiarkannya untuk diam. Untuk makan pun, Sera sudah tidak mau lagi melihat Luhan hanya berpangku tangan menunggu masakannya matang. Seperti saat ini, jelas-jelas Luhan sudah menguap dua kali di depan hidungnya tapi Sera tetap saja menyuruh Luhan memotongi ekor taoge satu per satu. Luhan mengomel, mengatai-ngatai Sera, tapi gadis itu juga punya segudang kata-kata untuk membalas Luhan. Jika tidak mau bekerja, tidak boleh makan. Jika tidak menurut, tidur di luar. Dengan ancaman-ancaman itu, mau tak mau, meski dengan hati dongkol, Luhan memutuskan untuk menurut.

Bagi Luhan, Sera tak ubahnya seperti penyihir jahat yang menyandera pangeran tampan seperti dirinya. Apanya yang cinderella, Sera bahkan tidak memenuhi kualifikasi untuk itu.

Ini sudah hari keempat, sudah empat hari Sera melewati kesehariannya bersama Luhan. Bertengkar setiap hari, saling ejek dan bahkan saling pukul, sudah biasa. Segala hal yang mereka temui seolah adalah bahan wajib untuk di debatkan. Luhan masih belum bosan mengeluhkan rumah Sera yang kecil, tapi ia selalu bersikap seolah itu adalah rumahnya. Luhan masih protes setiap kali Sera menghidangkan makanan di meja, tapi Luhan selalu lahap menghabiskannya. Luhan kesal setiap kali Sera memberinya baju usang dan menolak untuk membelikannya baju baru (Luhan tidak punya uang sepeser pun saat ini), tapi ia tetap memakainya dan selalu berakhir dengan rentetan pujian pada dirinya sendiri setiap kali berkaca (‘Aaah, tentu saja! Aku memang selalu tampan mengenakan apapun’). Luhan merepotkan, tapi setidaknya ia terus diam dan menurut untuk mengikuti Sera kemanapun.

Mengurus pria itu ternyata tidak mudah, tapi Sera mulai terbiasa dengannya.

Yang membuat masalah benang merah ini semakin rumit justru adalah Sera sendiri. Sera takut keluarga Kim tahu tentang Luhan, karena itu Sera selalu berangkat ke kampus setelah Jinhwan berangkat sekolah dan Seukhye pergi bekerja. Tuan dan Nyonya Kim sudah pulang di malam kedua Luhan tinggal di rumah Sera. Malam itu, selama tiga jam penuh Luhan harus menunggu di luar rumah karena Sera dipaksa ikut makan malam bersama keluarga Kim dan benang merah mereka ternyata tidak cukup panjang untuk Luhan bisa tetap tinggal di dalam rumah.

“Apa masalahnya kalau mereka tahu? Di jaman ini, lelaki dan perempuan tinggal bersama tanpa menikah bukan lagi hal yang aneh, kan?”protes Luhan saat itu. Ia kedinginan dan bosan setengah mati menunggu di luar rumah tanpa bisa bergerak bebas, wajar jika ia menumpahkan kekesalannya pada Sera.

“Ini Bijarim, desa tempatku tinggal, bukan Kota Beijingmu, Xiao Luhan. Tentu saja menjadi masalah jika aku ketahuan tinggal bersama laki-laki asing di rumahku! Mau ditaruh dimana mukaku dan nama baik appa-ku yang telah tiada!”

“Kita punya alasan kuat untuk tinggal bersama, lagipula kita tidak melakukan apapun.”

“Memangnya siapa yang akan percaya dengan penjelasan kita? Apa kau lupa? Benang merah ini tidak bisa dilihat orang lain!”

Sera takut keluarga Kim tahu, dan dia lebih takut lagi jika Baekhyun tahu. Untunglah pemuda itu begitu sibuk mengurus kegiatan kampusnya. Ia hanya sempat menengok Sera saat makan siang.

“Maaf ya?”ujar Baekhyun ketika lagi-lagi mereka hendak berpisah selesai makan. “Sudah beberapa hari ini aku membiarkanmu pulang sendiri.”

“Yak!”Sera menonjok pelan perut Baekhyun, sambil tersenyum geli. “Gwaenchanayo, tuan khawatiran. Aku sudah besar, sudah bisa pulang sendiri.”

“Aku hanya takut kekasihku yang cantik ini diculik orang,”canda Baekhyun sambil mengusap-usap kepala Sera penuh sayang.

“Memangnya siapa yang berani usil denganku, pacarku kan seorang master hapkido!”

“Hooo, benar sekali. Aku akan memberi label dirimu agar tidak ada orang yang berani mengganggumu, oke?”

“Label?”

Cup.

Secepat kilat, Baekhyun mendaratkan ciuman di kening Sera. Membuat mata gadis itu membulat sempurna. Dan Luhan yang sedang diam-diam menikmati tontonan itu, tersedak minumannya.

Entah bagaimana Baekhyun jika pemuda itu tahu kekasih yang begitu ia sayangi terikat benang merah aneh dengan pria lain. Luhan tidak tega membayangkannya.

Usaha Sera untuk memutus benang merah itu sama sekali tidak menunjukkan hasil. Sera sudah mencoba me-lasnya, merendamnya di air selama berjam-jam berharap benang itu melunak, menaruhnya di microwave sejam penuh, dan bahkan menggergajinya dengan gergaji potong milik paman Shim si tukang kayu. Tapi tetap saja, benang merah itu tak terputuskan, tergores sedikitpun saja tidak. Tidak ada tanda-tanda benang merah itu menghilang, yang berarti juga tak ada tanda-tanda Luhan bisa segera lepas dari Sera dan kembali ke Beijing.

Berkali-kali Sera mengingatkan Luhan untuk mengabari keluarganya, dan berkali-kali itu pula Luhan menolak. Ia tidak peduli pada Baba dan Mamanya, dan berpikir bahwa lebih baik mereka tidak pernah menemukan Luhan sekalian. Lusa, adalah hari pertunangannya dengan Kim Yoojung—gadis Korea, putri mitra usaha Babanya yang dijodohkan dengannya. Luhan bisa membayangkan betapa marah Babanya karena tidak menemukan anaknya itu dimanapun. Luhan justru mengkhawatirkan Seunghyun. Bodyguard setianya itu pasti kelimpungan mencarinya. Ia pasti yang pertama disalahkan atas menghilangnya Luhan karena dianggap tidak becus menjaga tuannya.

Sera memberinya ponsel usang bekas mendiang ayahnya, dan selama ini entah sudah berapa puluh kali Luhan mengetik nomor ponsel Seunghyun di ponsel usang itu hanya untuk ia hapus lagi. Luhan belum membutuhkan Seunghyun, atau lebih tepatnya ia belum ingin menukarkan kebebasannya ini. Tinggal bersama Sera tidak terlalu buruk, oh, ralat, tidak buruk sama sekali jika dibandingkan tinggal di rumah besar nan sepi itu.

“Masih saja tidak ada kabar dari Luhan?”tanya Xiao Yumin. Choi Seunghyun yang berdiri di hadapannya mengangguk pelan. Wajahnya nampak keruh, ia tidak mengerti sama sekali bagaimana Luhan bisa menghilang begitu saja. Seunghyun yakin 4 hari lalu ia meninggalkan Luhan di kamarnya dan tidak melihat tuan mudanya itu keluar lagi dari kediamannya. Tapi keesokan harinya Luhan tidak bisa ia temukan di manapun. Mobil, dompet, ponsel, semuanya masih ada di tempat, tidak Luhan bawa. Bagaimana caranya Luhan bertahan selama ini tanpa benda-benda itu?

Diculik. Kemungkinan itu sudah terpikirkan oleh Seunghyun. Tapi selama apapun ia memelototi rekaman CCTV, hingga merelakan dirinya tidak tidur selama 2 hari, Seunghyun tetap tidak menemukan adanya tanda-tanda orang tak dikenal masuk ke pekarangan rumah keluarga Xiao. Semuanya normal. Tapi kenormalan itu justru membuat tanda tanya besar. Karena selain tidak menemukan tanda-tanda orang asing masuk, dari kamera CCTV itu Seunghyun juga tidak menemukan rekaman ketika Luhan meninggalkan rumah 4 hari lalu.

Putra bungsu keluarga Xiao itu bagai hilang ditelan bumi.

“Baba marah sekali…”kata Yumin lagi dari balik meja kerjanya. Ia memijit kepalanya yang pening. Bekerja sambil terus menerus mengkhawatirkan adiknya yang pergi tanpa kabar, membuat kepalanya serasa mau pecah. Luhan memang sering kabur dari rumah, tapi ini lain, pemuda itu sama sekali tak meninggalkan jejak, sekaligus juga tidak membawa apapun bersamanya.

“Mama juga sangat mengkhawatirkannya. Apa sebenarnya yang ada dipikiran Luhan hingga pergi tanpa membawa apapun dan tanpa memberi kabar seperti ini? Dimana dia sekarang?”tanya Yumin, entah untuk keberapa kali.

“Saya sudah menghubungi teman-teman tuan muda di Amerika dan Inggris, dan mereka bilang tuan muda tak ada disana. Mereka juga berjanji untuk ikut mencari dan mengirim kabar segera. Tuan muda Han tidak menggunakan SNS dan smartphone, karena itu saya semakin kesulitan mencarinya.”

“Phobianya…”gumam Yumin. “Sejak kejadian itu ia tidak pernah lagi menyentuh ponsel canggih apalagi komputer.”

“Ya…”

“Kau sudah mengabari keluarga Kim Yoojung? Kita mungkin akan membatalkan pertunangannya jika sampai besok Luhan tidak muncul juga.”

“Tuan besar melarang saya melakukan itu, kata beliau mungkin tuan muda sengaja pergi untuk menghindari pertunangan dengan nona Kim Yoojung sekaligus membalas tuan besar karena pertengkaran mereka yang terakhir. Karena itu, tuan besar membiarkan acara itu tetap berjalan dan meminta semua orang dikerahkan untuk mencari tuan muda Luhan.”

“Baba tetap saja keras. Aaah, aku juga tidak bisa menyalahkan Baba, Luhan memang sulit sekali diatur. Ia seperti sedang bermain-main dengan emosi Baba setiap waktu. Entah sampai kapan perang antara mereka berdua berakhir. Ketika Yin bertemu dengan Yin, harus ada salah satu yang dikalahkan bukan? Sayangnya, sang Yang, yang mampu menetralkan Yin, sudah tidak ada lagi disini.”

Yang yang anda maksud… Tuan Luxien?”

Yumin mengangguk. “Baba dan Luhan punya cara unik untuk mengekspresikan perasaan mereka bukan? Baba memilih merindukan Luxien dengan cara bersikap dingin pada Luhan, sedangkan Luhan memilih merindukan Luxien dengan cara membencinya.”

Sera menepuk tangannya tiga kali di depan wajah. Luhan mengikutinya dengan tampang bosan. Mata pemuda itu menatap tanpa minat patung budha yang ada di depannya. Hari ini, demi mengamalkan hikayat China tentang benang merah takdir, Sera membawa Luhan pagi-pagi buta ke Gunung Halla. Tepatnya ke sebuah kuil yang untuk mencapainya harus mendaki ribuan tangga.

Sujud puluhan kali di depan patung budha, komat-kamit berdoa selama berjam-jam, dan menyiram dengan air suci belasan kali, tapi benang merah itu masih sama saja. Kuat, merah berkilau dan mengikat erat-erat kelingking Sera dan Luhan. Tak berubah.

“Haaah, padahal kita sudah jauh-jauh kesini, tapi tidak ada hasilnya,”keluh Sera sambil menjatuhkan diri di anak tangga. Duduk disana tanpa peduli menghalangi jalan pendaki lain. Ia lelah dan usahanya yang tak memperoleh hasil membuat dirinya kesal.

“Yasudah, ayo kita pulang!”ujar Luhan sambil menepuk puncak kepala Sera tiga kali dan berjalan mendahului gadis itu.

“Apa maksudmu pulang?”tanya Sera. Ia menuruni tangga, menyusul Luhan. “Kita harus ke perpustakaan, Lu.”

Wae? Kenapa kita harus kesana? Kau bilang hari ini kau tidak ada kuliah.”

“Iya, tapi itu tidak berarti aku tidak bekerja hari ini!”

Mwoya?!”seru Luhan kesal, siap memuntahkan keluhannya. “Kau tahu aku bangun jam berapa hari ini demi memenuhi permohonanmu datang kesini? Jam 5! Aku baru tidur 3 jam dan kau—”

“Kenapa kau tidak segera tidur semalam? Aku kan kemarin sudah bilang kalau kita harus bangun pagi-pagi hari ini.”

“Aku tidak bisa tidur. Memangnya aku bisa tidur dengan kasur tipis semacam itu!”

“Aku sudah memberimu kasur lipat terbaik yang kupunya, dan kau masih saja mengeluh? Dasar tuan komplain menyebalkan!”

Mwo? Kau sendiri, gadis cerewet kejam! Selama 4 hari ini aku sudah mengikutimu kemanapun, apa kau memikirkan perasaanku? Kau selalu menyeretku kesana kemari tanpa mau mendengarkan pendapatku terlebih dulu.”

“Kau seharusnya menganggap itu sebagai bayaran karena telah tidur dan makan gratis di rumahku! Kalau kau tidak mau terus menerus mengikutiku, berikan aku uang dan ayo kita berdiskusi kemana kita akan pergi hari ini.”

“Aku kan sudah bilang akan memberimu uang pengganti 2X lipat setelah kau berhasil memutus benang ini!”

“Ckckck… kenapa kalian bertengkar dan menghalangi jalan seperti ini, anak muda!”

Luhan dan Sera kompak terdiam dan menoleh mendengar teguran itu. Seorang kakek tua, berambut sepenuhnya putih dengan jaket gunung yang bagus dan tas punggung, berdiri di sisi tangga yang lebih tinggi. Wajah lelaki tua itu begitu ramah. Ia terkekeh kecil saat Luhan dan Sera mengucapkan maaf dan menyingkir dari jalan dengan teratur.

“Benang merah yang bagus. Berkilau dan kuat sekali…” Gumaman sang kakek tertangkap oleh telinga Luhan dan Sera ketika kakek itu berjalan melewati mereka. Luhan dan Sera tersenyum, masih tidak menangkap betapa aneh kata-kata kakek tadi. Benang merah Luhan dan Sera memang nampak indah terutama jika tertempa sinar matahari. Merah berkilau seperti ruby. Tapi tetap saja, seindah apapun wujudnya, benang merah itu begitu merepotkan. Untung saja orang lain tidak ada yang bisa melihat benang merah itu.

EH?

Chakkamanyo!”Sera sudah berlari menuruni tangga untuk menghentikan sang kakek. Luhan mengikuti di belakangnya. Raut mereka berdua begitu serius. “Harabeoji, bisa melihat benang merah ini?”tanya Sera.

“Ne…”jawab kakek, ringan saja. Seolah hal itu sama biasanya seperti kemampuan kakek melihat hidung Sera saat ini.

“Bagaimana bisa?” Kali ini Luhan yang bertanya.

“Kenapa tidak?”balik kakek itu, sambil terkekeh senang. “Kalian anak muda yang beruntung. Kenapa kalian bertengkar jika kalian tahu ada benang merah yang mengikat kalian? Nikmati dunia ini, nak. Bermanja-manja dengan satu sama lain pasti lebih menyenangkan daripada bertengkar, bukan? Ah, ya, dan kalian punya waktu seumur hidup untuk melakukannya bersama.”

“M-maksud kakek?”Sera terbata. Ngeri mendengar ucapan kakek aneh di depannya ini. Apa maksudnya seumur hidup? Apa maksud kakek itu Sera dan Luhan akan terikat seumur hidup? Selama-lamanya? Hiiiiii~~

“Kakek bisa melihat benang merah takdir ini? Kakek siapa?”tanya Luhan penasaran.

“Aaah, aku bukan siapa-siapa,”jawab kakek itu sambil mengibaskan kedua tangannya di depan wajah.

Harabeoji jangan-jangan… lelaki tua di bawah sinar bulan?”

Sera terperangah. Ia menatap Luhan dan kakek tua di depannya itu bergantian. Mungkinkah?

“Aku adalah aku, anak muda. Mana ada sinar bulan di pagi hari seperti ini, hahaha…”

“Tapi anda…”

“Benang merah kalian kuat, itu artinya kalian akan menghadapi masalah bertubi-tubi untuk menguji kekuatan benang merah itu. Jangan berkecil hati, sekuat apapun badai berhembus, tak akan mampu memutus benang merah kalian.”

“Bagaimana—bagaimana jika kami ingin memutusnya, harabeoji? Apakah harabeoji tahu caranya?”tanya Sera memberanikan diri. Kakek itu nampak terkejut mendengar pertanyaan Sera.

“Kenapa kau ingin memutus benang merah ini, agashi?”

“Karena…”Sera menelan ludah. “Aku mencintai orang lain.”

Kakek itu ternganga, lalu memandang Sera dan Luhan bergantian. Khusus untuk Luhan, sang kakek itu menatapnya agak lebih lama. Seolah sedang membaca sesuatu di wajah Luhan, atau mungkin di dalam hati pria itu. Luhan yang menyadari tatapan sang kakek yang begitu dalam padanya, memilih menunduk. Tidak nyaman.

Hembusan napas berat keluar dari bibir sang kakek. “Ada milyaran manusia yang tersebar di muka bumi ini. Jutaan dari mereka menempati sebuah wilayah, pulau, bersama-sama. Ribuan dari mereka akan tinggal di kota, desa, bersama-sama. Setiap hari manusia bertemu dengan ratusan orang, di jalan, di rumah makan, di kantor, di sekolah. Ada beragam jenis manusia yang mereka temui setiap hari. Tapi, Tuhan telah merencanakan seseorang yang spesial untuk mereka. Satu orang yang telah ditakdirkan untuk setiap manusia sejak sebelum mereka lahir. Namun, ikatan nasib itu tak nampak oleh mata manusia.”Kakek itu meraih tangan Sera dan menggenggamnya. Genggaman tangan tua dan keriput itu terasa begitu hangat. “Dan meskipun orang yang ditakdirkan untukmu tak kau ketahui, tapi ia terhubung denganmu. Oleh benang merah di jari kelingkingmu itu.”

“Tapi, harabeoji…”Sera hendak membantah, tapi kakek tua itu segera menimpali.

“Jika manusia bisa melihat benang merah di kelingking mereka, mereka pasti akan sibuk menggulung benang itu. Tak peduli melintasi lautan atau benua. Tapi untukmu, Tuhan memberi keajaiban, nak. Lihat, kau dipertemukan dengan pemilik ujung benangmu, diperlihatkan seberapa indah benang merah yang kau miliki, dan sekarang kau ingin memutusnya?”

Sera mengangguk mantap. Di pikirannya terlintas wajah Baekhyun.

Kakek tua itu menoleh pada Luhan, “Kau juga, anak muda?”

“Ya, aku tidak menyukai gadis ini…” Tunjuk Luhan pada Sera, yang langsung dihadiahi tatapan sebal oleh Sera.

“Hhh… kalian ini benar-benar.”

“Caranya ada kan, harabeoji? Tolong beritahu kami!”pinta Sera, setengah memaksa.

Eobseoyo…”jawab kakek itu sambil mulai melangkah menuruni tangga. Sera buru-buru menahannya.

Harabeoji~~”rengek Sera, dengan tatapan memohon.

Kakek itu menghela napas panjang. Menatap Sera dan Luhan bergantian, lagi. Ia menggeleng pelan sebelum akhirnya berkata, “Kalian terhubung oleh masa lalu. Carilah benda yang menghubungkan kalian itu, dan hancurkanlah. Mungkin itu bisa menghancurkan pula benang merah yang menghubungkan kalian.”

“Maksud harabeoji? Aku tidak mengerti, aku dan Luhan terhubung oleh masa lalu?”

“Ne! Bukankah kalian pernah bertemu sebelum ini, hm?”

Luhan dan Sera saling berpandangan. Tatapan mereka menyuarakan tanya yang sama. Kapan?

To be continued

Apa kabar? Long time no see~~ ^^

Aaaah… oke. Pasti banyak yang mau ngomel kenapa part III ini postingnya lama nian, uh, aku nggak mau bicara apa-apa ya. No comment. Intinya aku minta ma’aaaaaaf sekali pada semua readerku yang—kalau ada—masih setia nungguin. Ma’aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaf banget karena uda menelantarkan cerita ini sampai berminggu-minggu lamanya. Aku bahkan udah lupa kapan terakhir kali posting FF.

Oh ya, Minal Aidzin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir Batin buat yang kemarin ngerayain lebaran. Seru kah lebaran kalian? Semoga semua amal ibadah kita di bulan suci kemarin diterima oleh Allah, dan sekarang kita telah berhasil kembali ke fitrah. ^^

Makasih yaaa uda baca. Sampai jumpa di chapter mendatang ~~ love you all, mumumu~~
tumblr_inline_npe7k3B1Dt1reddj0_500

3244605890_1_3_s0HG983D tumblr_n60zsl9QPr1tcx8leo1_500

Best Regard,

Seara Sangheera

333 responses to “MOON THAT EMBRACE OUR LOVE [III]

  1. Yakk!! Liontin itu! Ya liontin itu pasti benda penghubung dari masa lalu.. Ayoo hancurin liontin or kalung or apalah kek itu!! *dicincang fans LuSera* ayolahh please ancurin tu liontin keburu baekhyun tau masalah ini.. Huhuhu aku garela bgt klo baek dibuat sedih.. Demi apa aku keknya bakalan nangis buat beberapa eps kedepan😭 garela bgt pokonya garela apalagi klo udah liat tulusnya sayang baekhyun ke sera😭 haa😭😭

  2. wihh so long for this chap..
    ya ampun luhan kelakuanya semena mena banget apalagi pas noyor sera haha aku ketawa disitu aku suka sama karakter yg kaya gu jun pyo gitu, bener kata sera kalo hidup luhan kaya drama korea apalagi kelakuanya gitu tapi tetep aja aku lebih mihak baekhyun walaupun nnt akhirnya mungkin bakalan sama sahabatnya itu.
    benda itu pasti liontin bulan duh bakal gimana nih

  3. Pingback: MOON THAT EMBRACE OUR LOVE [VII] – BEAUTIFUL DARKNESS | SAY KOREAN FANFICTION·

  4. nah kan bener, mungkin mereka ketemu yg pas kecil dulu kan thor? pas chapter pertama?
    duuuuh imaginasinya mantep banget mah ini👍
    tapi kasian sama baekhyunnya thor beneran😭😭 kalo jodohnya sera si luhan mah gapapa jugaaa hehee

  5. Whoaaa akhirnya bisa baca lanjutannya juga ..
    Luhan cuek bgt sih, kaya udah prepare ajaa nerima sera jadi takdirnya hahahaha

  6. Nah bnerkan dugaanku kalo yg ketemu sma hanna dlu itu si luxien itu.
    Pertanyaan aku kan yg ketemu sama hanna si luxien trus knpa malah siluhan yg keiket benang merah itu sma sera?

    Btw “malam itu” yg baekhyub maksud wktu itu sma “malam itu” yg sera pikirin apaan zihhh kok gw mikirnha jdi kesana sini wkwkwk😅

  7. wow wow wow akhirnya ad jg kakek d bawah sinar matahari kkkkkk akhirnya mreka menemukan caranya n tinggal mencari kalung itu… brti kalung yg d pake sera it punya luxien ato punya luhan? trus kalung yg d pake luhan itu punya luhan sndri atw punya luxien. btw q msh pnasaran luxien mati knpa

  8. Ahkk jgn jgn benda masa lalu itu liontin bulan itu ya?? Please sera jgn dihancurkan.. aku pengen bgt mrk berdua bersatu.. biarkan baek sakit hati *dihujatfansbaek-__-

  9. woaaa makin seru banget >< sera memang ditakdirkan untuk luhan.. dan mungkin baekhyun ditakdirkan untuk shiina kan?? aku penasaran sama benda apa yg dimaksud kakek itu. dan aku jg mikir gmn pendapat ayah luhan soal anaknya yg berjodoh sama sera..
    pokoknya ini keren!

  10. Wah thor ceritanya makin seru, akhirnya ketemu juga sama kakek2 :v

    Eh thor juga nonton akagami no shirayuki ya ?

  11. baca ff ini tuh ya ampun aku nyolong waktu banget kak saking sibuk sama capenya hahaha untung masih bisa baca XD
    nah kan bener, ini itu ada hubungannya sama liontin yang dikasih luxien ke sera kan? tapi kok sera sama luhan ga ngasih liat liontin itu ke salah satunya?

  12. Waw waw jadi tuh benang merah uda menghubungkan luhan dan sera sejak lahir trs karena setiap malam benang itu memendek setengah meter jdnya tinggal kurang lebih 7 meter diusia luhan dan sera sekarang yaa. Ih menarik>< terus benda yang menghubungkan mereka dimasa lalu pasti kalung yang dipakai luhan! WAAAHHHHHHHHH DAEBAK. Ff ini butuh tingkat nalar yang tinggi mhehehe aku sukaa ih! Sukses ya kakk untuk nuntaskan ff ini, semangat😍😍😍😍

  13. Apa barang yg dimaksud itu kalung liontin nya?
    Keren bgt.. sayang bgt klo dihncurin.
    Ou iyaa.. klo setiap malam benang berkurang stgh meter.. brrti klo smpe 14 hri gk bisa kepisah lgi dong.. ahh bikin penasaran aja nih.. mau lnjut baca semngt thorr ^^

  14. Hhuwwwaaa eonni,udah kelihatan so sweet nya ini. Tapi tegang juga sih,liontinnya harus dihancurin ya? Ah,jgan dipisahin dong TT
    Ide ceritanya bagus eon. Ini potensi banget buat hubungan LuSera complicated. Aku suka FF LuSera eonni,salah satunya, konfliknya tuh bisa banget nguji kekuatan cinta mereka.
    Johaaa banget deh,pokoknya. Makasih banget udah menyisihkan waktu buat ngelanjutin FF ini,di sela2 kesibukan eonni. Salut! FIGHTING!!^^

  15. annyeong eonni.. maafkan daku karna baru komen disini.. BTW ni ff bagus bgt, fantasy lagi *genre favorit* oh ya lagi.. disitu terikatnya tnggal 6 maret?? tanggal lahir aku?? wahh jadi ++ bapernya *elllahh malah curcol.
    emmm fighting nulisnya eon. jan lama” hiatusnya, masa hiatus 1 tahun sih?? 😢

  16. OO UWOOH ADA BEGITU BANYAK YG MAU AKU SAMPAIKAN! TAPI RASANYA SAKING BANYAKNYA SAMPE LUPA 😭

    Pertama tuh tadi entah ngerasa lega karna kayanya benangnya baek gak jauh-jauh deh, shiina gak sih? Sempet baper disini huhu entahlah sedih bgt gak sih pemilik ujung benangnya shiina lagi kesemsem sama perempuan lain sedangkan dia HUWEEEE SEDEEH!

    TRUS APA LAGI YA TADI HIYA LUPAK!
    SERIUS ADA LAGI YG KUPIKIRIN LAGI T___T bener emang ya gak semudah di wattpad yg bisa langsung komen diparagraf itu, jadi pas mau komen disimpen dulu malah lupa ujungnya.

    OHYA! aku tuh cuman ngerasa ngeri aja kalo sampe harus drama pas semua terungkap, maksudnya sera harus boong buat nyakitin baek dan sera jadi pihak yg gak tau malu gak bertanggung jawab didepan keluarga baek dan warga desa karna ninggalin demi pria lain atau apa —PLEASE AKU BENERAN BERHARAP INI GAK AKAN TERJADI. Entah kenapa aku yakin sangheera punya jalan cerita lain kan kan kan? Jebal uuhuhu aku ingin setidaknya minimal baek tau lah atau sera jujur gitu HUWEEEE.

    Pokoknya beneran ku antisipasi itu nanti cara terungkapnya gimana, MOST ANTICIPATED! (?)

    AAH SAMA INI! Tentang benda masa lalu itu, aku rasa kalung bulan gak sih? ;___; akhirnya setelah nebak-nebak aku yakin sekarang kalo pemuda yg dulu nyamperin sera itu luhan, dan pemuda yg kasih tau teori bulan terbelah sama kasih kalung itu luxien. Awalnya aku rada ketuker mana luhan mana luxien pas saat kecil itu, TERNYATA SUDA JELAS PEMIRSAH UWAIYAAAH!

    Huh aku beneran gak rela kalo lusera nemuin kalung itu dan di ancurin ;___; semoga luhan gak terlalu tega ngancurin beda yg keliatannya berharga bgt gak sih like peninggalan satu-satunya dan terkuat gitu sebagai kenangan akan luxien. DAN SEMOGA SAAT KETEMU PUN MEREKA UDH MULAI JATUH CINTA GITU KEK HUHUHU..

    Plijeu aku beneran dugun-dugun bacanya 😭

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s