THE SUN [Chapter 10: The Confession] -by ByeonieB

the-sun

THE SUN

ByeonieB Present

Main Cast::

Baekhyun of EXO as Byun Baekhyun

OC/You/Readers as Han Minjoo

Additional Cast::

Bora of Sistar as Yoon Bora

Sehun of EXO as Oh Sehun

And many more

Genre:: Romance, Life, Drama, Marriage-Life

Length:: Chapter

Rate:: PG-14 – PG-17

Summary::

“You are like the sun.

 The sun that rises in every morning.

The sun that comes after the dark.

Yes, you are just like that.

You are the sun that rise on my life.”

 

Poster by Jungleelovely @ Poster Channel

before: [Chapter 9]

[Chapter 10: The Confession]

H A P P Y   R E A D I N G

Baekhyun kerap kali melihat ke arah pergelangan tangannya, melihat ke jam tangan yang terpasang disana sambil menatap ke pintu lobby utama hotel ini juga. Ia sedang menunggu seseorang yang sudah sejak sedari tadi belum memunculkan tubuhnya di hadapannya.

Hari ini adalah hari dimana liburan keluarga Byun berakhir dan pagi ini mereka berniat untuk check out dari hotel lalu langsung menuju bandara untuk mengambil penerbangan ke Seoul.

Mini bus di hadapannya masih memasukkan barang muatan yang di bawa mereka oleh petugas kecuali barang muatan Han Minjoo yang belum turun sedari tadi.

“Oppa.. Kau sebenarnya seharian kemarin kemana?”

Baekhyun berpura-pura tidak mendengar pertanyaan Bora sejak tadi karena ia tidak mungkin harus menjawab pertanyaannya dengan “Aku berkencan dengan istriku.”

Mengingat kencan itu membuat darah Baekhyun mendesir seketika dan membuatnya mau tak mau menaikan kedua sudut bibirnya ke atas.

Ia mencium gadis itu. entahlah, hanya satu hal yang ia ingat mengenai hari kemarin.

Hari terindah di sepanjang hidupnya, menurutnya.

“Oppa..”

Baekhyun pun mencoba  mengalihkan pertanyaan Bora dengan melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung hotel.

“Aku akan mencari Han Minjoo sebentar.”

.

.

Entah sudah berapa puluh kali Luhan menghentak-hentakan kakinya pada lantai sambil berkacak pinggang. Ia berdiri di lobby utama dekat lift utama dimana jika Minjoo turun dari lantainya akan keluar dari pintu tersebut.

Hari ini adalah kepulangan Minjoo kembali ke Seoul. Luhan tahu itu dan sebenarnya kemarin ia berniat mengajak gadis itu untuk menghabiskan hari terakhirnya di kepulauan Jeju. Namun, ketika kemarin ia telah menunggui gadis itu berjam-jam, ia tak menemukan gadis itu yang pada akhirnya ia membatalkan niatnya untuk pergi dengan gadis itu.

Ting.

Pintu lift terbuka dan mencuri perhatian Luhan.

Luhan melihat ke arah pintu lift, mencari seseorang yang mungkin keluar dari sana.

Minjoo pun keluar dari pintu lift tersebut sambil menggiring kopernya. Ia melihat ke arah Luhan lalu menghampirinya.

“Untunglah kau disini, tadinya aku berniat untuk mengunjungi kamar hotelmu tapi karena aku sudah kehabisan waktu aku memutuskan untuk tidak berpamitan dahulu padamu” katanya sambil terkekeh di akhir kata.

“Ya! Kau ini jahat sekali..” Luhan mempoutkan bibirnya sebal pada Minjoo. “Sebenarnya kemarin aku ingin mengajakmu pergi untuk menghabiskan waktu terakhirmu disini, tapi ternyata kau tidak ada. Kemana saja kau kemarin?”

Minjoo pun memerahkan wajahnya seketika mengingat hari kemarin. Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang.

Satu hal yang ia ingat perihal hari kemarin adalah malam di pantai.

Malam dimana Baekhyun menciumnya tepat di benda kepemilikannya.

Mencuri ciuman pertamanya.

“Ya!!”

Luhan memekik kencang sehingga menyadarkan Minjoo dari lamunannya.

“A..aku.. kemarin.. pergi bersama..” Minjoo menelankan salivanya perlahan.

“Baekhyun..”

Luhan menatap Minjoo dengan senyuman merekah di bibirnya. Pantas saja kemarin hari juga ia tak menemukan Baekhyun ketika mereka makan malam bersama keluarga tuan Byun.

“Jadi itu alasannya..” Luhan bergumam dalam hatinya. “Si bodoh itu mulai menunjukkannya, hm?”

Luhan pun mengangguk mantap pernyataan Minjoo lalu setelahnya mengelus-elus kepala Minjoo perlahan.

“Baguslah kalau begitu. Ada kemajuan, bukan?”

Minjoo menatap Luhan dengan ragu-ragu, “Aku tak yakin…”

Luhah menghembuskan napasnya lagi. Gadis ini terlalu bodoh atau si bodoh Baekhyun yang masih bermain-main dengan gengsinya.

“Ya.. kalian menghabiskan waktu seharian kemarin ini. Kau masih tak yakin itu adalah sebuah kemajuan?”

Minjoo menatap Luhan dengan dalam dan mencoba berpikir sejenak.

Memang kemarin hari adalah hari dimana Minjoo melihat sisi Baekhyun yang lainnya. Sisi Baekhyun yang selama ini jarang sekali Baekhyun tunjukkan padanya walaupun memang sebelumnya Baekhyun sedikit demi sedikit menunjukkan padanya.

Baekhyun memang menciumnya, sangat dalam. Seperti menyalurkan sebuah perasaan lewat sana.

Tapi.

 

“Apa kau masih mencintai kekasihmu?”

“Ya. Aku masih mencintainya.”

Perkataan Baekhyun selalu terngiang di pikirannya dan membuat hatinya lagi lagi harus memendam perasaan itu. harus memendam harapan dimana ciuman itu adalah pertanda Baekhyun menyukainya. Memendam bahwa itu semua terjadi karena hanya terbawa oleh suasana.

Dan yang lagi-lagi membuat Minjoo harus merasakan hatinya berdenyut sakit.

Luhan tahu bahwa gadis ini masih tidak percaya bahwa itu adalah sebuah kemajuan karena ia tahu, pasti Baekhyun tidak mengungkapkannya.

Ia tahu Baekhyun pasti masih menyimpan gengsinya itu.

Menolak bahwa pria itu menyukai Minjoo.

“Dengarlah..” Luhan menatap Minjoo dengan serius. “Kau harus berjuang untuk hubunganmu dengan Baekhyun, hm? Aku sangat yakin hubungan kalian pasti menemukan titik keindahan pada akhirnya.”

Minjoo mengaminkan perkataan Luhan di dalam hatinya.

Luhan pun melihat ke  arah sekitarnya lalu ia menemukan seseorang yang berdiri tak jauh dari mereka berdua yang berada di balik punggung Minjoo.

Pria  tersebut menatap mereka tidak suka dan membuat Luhan memunculkan sebuah ide jahil untuk dirinya.

“Ini untuk si bodoh itu.. aku ingin memberinya pelajaran karena sampai sekarang ia belum minta maaf perihal ia memukul wajahku.” Gumam Luhan yang di dengar oleh Minjoo dengan kerutan di dahinya.

“Apa maksudmu—“

Luhan menarik tubuh Minjoo untuk masuk ke dalam dekapannya.

Membuat Baekhyun yang berdiri disana mengepalkan tangannya dan menaikkan suhu di daerah sekitarnya.

Luhan yang melihat wajah Baekhyun itu pun tertawa puas dalam hatinya.

“Berbahagialah Minjoo-ya. kau harus bahagia..” Luhan terus mendekap tubuh Minjoo, membuat Baekhyun semakin erat mengepalkan tangannya disana.

“Ini saranku. Kurasa kau harus memancing lelaki itu.”

Minjoo yang sedari tadi hanya terdiam kaku di pelukan Luhan dengan tangan yang menjuntai di kedua sisi tubuhnya pun bingung dengan perkataan Luhan sedari tadi. Ia pun bingung mengapa Luhan memeluknya saat ini.

“Memancing bagaimana?”

“Nyatakanlah perasaanmu padanya. Itu saranku.”

Luhan melepaskan pelukannya lalu melirik ke arah Baekhyun sekilas.

“Aku yakin itu satu-satunya cara agar dia bisa menyadarinya.”

Minjoo semakin mengerutkan keningnya bingung. Setiap perkataan Luhan yang di lontarkan padanya ia tak mengerti itu.

Luhan bisa melihat bahwa Minjoo terbingung disana oleh kata-katanya. Membuatnya harus menghembuskan napas berat. Gadis ini benar-benar.

“Baiklah. Kurasa sudah saatnya kau harus kembali menuju mini bus mu. Kau sudah sangat terlambat.”

Minjoo pun mengangguk-anggukan kepalanya, mencoba melupakan perkataan Luhan.

“Baiklah Luhan, kurasa ini perjumpaan terakhir kali kita disini..” Minjoo memotong perkataannya lalu menatap Luhan sambil mencoba menahan air matanya. Luhan sudah sangat banyak menolongnya walaupun mereka baru kenal beberapa hari saja.

Ia merasa sudah sangat dekat dengan Luhan sebagai kakaknya.

“Aku harap kita akan bertemu lagi nanti, Luhan-ah..”

Luhan tak dapat menyembunyikan tawanya melihat air mata yang sedikit menggenang di pelupuk mata Minjoo.

“Ya.. kau menangis?! Astaga kau ini seperti aku akan meninggal saja!” Luhan memicingkan matanya, “Aku tidak akan meninggal Minjoo-ya!”

Minjoo mendengus kesal pada Luhan. “Aku tidak bermaksud seperti itu, aish Luhan kau masih tetap menyebalkan..”

Luhan terkekeh pelan, “Aku akan ke Seoul sebentar lagi. Untuk menemui mantan tunanganku, ingat? Dan ketika aku sudah di Seoul, kita pasti bertemu lagi.”

Minjoo melebarkan senyumannya, “Janji?”

“Janji!”

Mereka pun terkekeh pelan lalu setelahnya Minjoo menarik koper jinjingannya dan bergegas untuk pergi darisana.

“Sampai jumpa Luhan, kutunggu kau di Seoul nanti!”

Luhan mengangguk mantap sambil menunjukkan jempolnya. “Pasti!”

Minjoo pun benar-benar membalikkan tubuhnya lalu berjalan ke pintu lobby utama.

Ketika ia menatap lurus ke depan, ia melihat Baekhyun disana.

Menatapnya dengan dalam.

Membuat dadanya lagi-lagi harus bergemuruh disana.

“Bae..Baekhyun-ah..”

“Apa yang kau lakukan dengannya?” tanya Baekhyun langsung tanpa ingin menyapa panggilan Minjoo.

Minjoo mengerutkan keningnya. Kenapa lagi dengan perihal dia dan Luhan.

“Aku hanya berpamitan padanya. Apa itu salah?”

“Berpamitan dengan berpelukan?” Baekhyun mendesis kesal. “Zaman sekarang benar-benar berubah.”

Luhan yang melihat kejadian itu pun tak dapat menyembunyikan senyuman di bibirnya. Melihat seorang lelaki cemburu menyenangkan rupanya.

“Ya!” Luhan pun mencoba menginterupsi perbincangan mereka, membuat mereka melihat ke arahnya.

“Sudah kubilang bukan kalau aku dengan Minjoo tidak ada apa-apa bukan?!” Luhan terkekeh pelan lalu melanjutkan kembali perkataannya. “Jangan marah padanya!”

Baekhyun tahu jika Luhan melakukan hal tadi adalah untuk mengerjainya karena ketika Luhan memeluk Minjoo tadi Baekhyun bisa melihat bahwa lelaki itu menyeringai di balik punggung Minjoo padanya.

Membuatnya ingin sekali lagi memukul wajah pria itu.

Kesal dengan teriakan Luhan, Baekhyun pun menarik koper Minjoo lalu mengenggam tangan Minjoo oleh tangan yang lainnya.

“Kita sudah terlambat. Ayo pergi.”

Minjoo bisa merasakan dadanya yang berdegup kencang lagi dan lagi ketika jemari Baekhyun menyentuh jemarinya. Membuatnya merasakan perasaan itu lagi. Perasaan yang semalam kemarin tubuh lalu setelahnya Minjoo mencoba untuk tidak membiarkan perasaan itu semakin tumbuh lagi.

Ini tidak boleh semakin bertumbuh.

Minjoo pun perlahan melepaskan jemari Baekhyun lalu menundukkan kepalanya. Tak berani menatap Baekhyun.

Baekhyun yang mendapati perlakuan seperti itu pun menghentikan langkahnya dan menatap Minjoo.

“Kenapa, Minjoo-ya?”

Minjoo mencoba mencari alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan Baekhyun. ia tak mungkin kan menjawab dengan yang sebenarnya.

“Ehm.. Aku takut jika Bora melihat…” Minjoo pun mencoba menarik kopernya dari tangan Baekhyun. “..Aku takut jika ia berpikir yang tidak-tidak, Baekhyun-ah..”

Minjoo pun melangkahkan kakinya dengan segera meninggalkan Baekhyun. tak ingin membuat hatinya meledak seketika jika terlalu lama disitu.

Tapi, ia membuat Baekhyun merasakan hatinya mencelos ke dalam.

“Kenapa ia harus berpikir seperti itu lagi..”

Asisten Kim mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang tertera pada speedometer menunjuk angka 40-50. Menunjukkan bahwa mobil itu melaju pada kecepatan yang berada di rata-rata.

Dibelakangnya, terdapat tuan Byun yang sedang menatap ke arah jalanan sambil memerhatikan setiap pejalan kaki yang berlalu lalang disana. Melihat kesibukan masing-masing orang dari sana.

Tak jauh dari situ pun, tempat tujuan yang dituju tuan Byun telah terlihat. Membuat asisten Kim perlahan menurunkan kecepatannya lalu menyisikan mobilnya ke sisi jalan.

“Tuan, kita sudah sampai?”

Di hadapan tuan Byun telah terpampang jelas gerbang dengan gapura yang bertuliskan “Chengju University”. Tuan Byun berniat untuk menjemput salah satu mahasiswi dari sana setelah mereka berjanjian siang tadi.

Tak perlu waktu lama tuan Byun menunggu, Minjoo pun keluar dari gerbang tersebut dan langsung melihat ke arah mobil yang ia ketahui adalah mobil tuan Byun.

Tuan Byun membuka jendelanya agar memperyakin perkiraan Minjoo.

“Minjoo-ya.. masuklah.”

Minjoo pun tersenyum sambil mengangguk. Ia berjalan menuju pintu yang berada di sisi lain dari kursi tuan Byun lalu masuk ke dalamnya.

“Selamat siang, tuan Byun dan asisten Kim..”

Asisten Kim pun hanya mengangguk melewati spion mobil. “Apakah sekarang kita melanjutkan kembali perjalanannya, tuan?”

Tuan Byun mengangguk sigap, “Tentu.”

Mobil pun kembali di nyalakan dan berjalan di atas jalanan Seoul menuju tempat yang telah tuan Byun titahkan pada asisten Kim.

“Sebenarnya kita akan pergi kemana, tuan?” Minjoo masih tidak tahu kemana akan mereka pergi ini karena ketika tadi tuan Byun ingin bertemu dengannya dan mengajaknya ke suatu tempat, Minjoo belum sempat bertanya kemana mereka akan pergi sebenarnya.

“Aku punya sesuatu yang special untukmu.” Tuan Byun tersenyum sambil membayangkan betapa senangnya Minjoo nanti ketika tahu apa yang telah di persiapkannya. “Dan panggil aku Appa jika tak ada Baekhyun eomma, mengerti?”

“Ah..” Minjoo tersenyum kikuk, “Baiklah, Appa..”

Minjoo pun menutup mulutnya dan tuan Byun pun melakukan hal yang sama. Minjoo membiarkan rasa penasarannya mendominasi di banding harus bertanya lagi dan mendapatkan jawab yang nihil kembali.

.

.

Tuan Byun menyuruhnya untuk memasuki sebuah apartemen kecil yang letaknya tak jauh dari rumahnya bersama Baekhyun.

Minjoo melihat setiap detail apartemen ini, sofa di ruang tengah, sebuah dapur kecil yang terletak paling belakang ruangan lalu ruang tamu yang menyatu dengan ruang televisi. 3 buah ruangan di dalam apartemen ini, dua buah kamar tidur dan satu buah kamar mandi.

“Appa.. memangnya apartemen siapa ini?”

“Kau pikir untuk siapa memang?”

Suara seorang lelaki yang Minjoo ketahui bukan suara tuan Byun maupun asisten Kim merasuki telinganya. Ia memutar tubuhnya dan mendapat seseorang yang sudah berdiri di dekat pintu utama.

“Sehun-ah!!”

.

“Appa.. kenapa Appa tidak bilang kalau Sehun akan pindah kesini?”

Minjoo merengek pada tuan Byun yang duduk di salah satu sofa. Tuan Byun terkekeh pelan.

“Ya nanti bukan kejutan dong namanya kalau kubilang terlebih dahulu..”

Sehun yang duduk di sebelah Minjoo pun ikut terkekeh pelan melihat ekspresi gadis ini.

“Kau juga!” Minjoo menepuk pundak Sehun pelan namun Sehun tetap meringisi disana, “Kenapa kau tak bilang padaku, hm?”

Sehun mengangkat bahunya acuh. “Seperti yang Ahjussi bilang, nanti tidak akan menjadi kejutan namanya.” Lalu ia terkekeh setelahnya.

Minjoo mendengus sebal, “Kalian ini menyebalkan memang..”

“Haha.. sudahlah, Appa harus kembali lagi ke kantor hm? Kalian berbincang saja dahulu disini, lagipula rumah Minjoo dan apartemen Sehun tidak jauh kan? Jadi nanti Sehun bisa mengantar Minjoo pulang kalau sudah selesai berbicara..”

“Aku tidak mau mengantarnya pulang. Biarkan saja dia sendiri..”

“Siapa juga yang ingin berbincang denganmu? Aku akan pulang sekarang!”

“Kau yakin? Kau tidak merindukanku?”

Minjoo menggeram kesal sambil mengepalkan tangannya. Sehun yang menyebalkan memang tak pernah berubah.

“Sudahlah kalian hentikan perdebatan kalian, aku yakin masing-masing dari kalian pasti banyak hal yang harus di ceritakan..” tuan Byun mengangkat tubuhnya untuk berdiri, disusul asisten Kim yang sedari tadi juga ikut memerhatikan mereka.

“Aku pergi, ok? Tolong jaga dia, nak Sehun..”

Sehun dan Minjoo ikut berdiri lalu membungkukan tubuh mereka hormat

“Terimakasih sekali lag, Ahjussi. Terima kasih telah memberikanku tempat tinggal ini.”

Tuan Byun tersenyum, “Bukan masalah. Kau juga ikut membantuku ketika aku kecelakaan dahulu. sudah sepantasnya aku memberikanmu hal yang sama seperti Minjoo.”

Tuan Byun pun melangkahkan kakinya pergi menuju pintu lalu setelah hilang di balik pintu beserta dengan asisten Kim.

Minjoo langsung memutar kepalanya dan menatap Sehun dengan memicing.

“Kau berhutang penjelasan padaku, Oh Sehun..”

“Kau juga berhutang cerita padaku, Han Minjoo..”

.

“Jadi Appa menyuruhmu untuk tinggal di Seoul karena ia ingin kau untuk menjagaku disini?”

Sehun mengaduk-aduk ramyeon kemasan yang sedang ia masak di atas kompor sekarang dengan Minjoo yang berdiri tak jauh dari dirinya.

Sehun telah menjelaskan semuanya pada Minjoo, dari mulai mengapa ia bisa pindah ke Seoul ini.

“Appa terlalu berlebihan memang. Memangnya aku anak kecil?”

Sehun mendesis, “Ya. itu dia lakukan karena dia sayang padamu, bodoh.”

Minjoo memutar tubuhnya sambil menatap Sehun yang mematikan kompor gasnya.

“Lalu Ibu bagaimana Sehun-ah? Ibu pasti sangat kesepian disana.. kau tak seharusnya menerima tawaran Appa Sehun-ah..”

Sehun memindahkan ramyeon buatannya ke dalam dua mangkuk yang telah ia sediakan.

“Ibu bilang aku harus pergi ke Seoul, sudah saatnya Ibu melepaskanku karena Ibu tahu jika aku menerima tawaran Ahjussi, aku akan mendapatkan tempat kuliah yang lebih bagus disini. Ibu ingin aku belajar dengan lebih baik dan ia juga menyuruhku untuk menjagamu. Ibu sangat khawatir padamu..”

Minjoo pun terenyuh mendengar perkataan itu. Ibu Sehun selalu  menjadi Ibu terbaik kedua dalam hidupnya setelah Ibu kandungnya sendiri. Ibu Sehun telah mengambil peran banyak dalam hidup Minjoo, mulai dari ikut serta merawat Minjoo, membantu Minjoo, membesarkan Minjoo sampai detik kemarin sebelum ia menikah.

Ibu Sehun merupakan Ibu kedua untuk Minjoo di hidupnya.

“Lalu bagaimana denganmu?” Sehun memindahkan kedua mangkok itu ke atas meja makan yang berukuran untuk dua orang saja.

“Bagaimana dirimu selama ini disini?”

“Banyak hal yang berubah Sehun-ah.”

Minjoo kembali pada ingatan dimana ia pertama kali bertemu dengan Baekhyun. mengingat bagaimana mata Baekhyun menatapnya dengan kilatan api membara di dalamnya, penuh dengan kebencian. Bagaimana Baekhyun dengan tidak sudinya untuk menjawab setiap pertanyaan ataupun perkataannya. Bagaimana Baekhyun dengan jijiknya menolak setiap kali Minjoo hanya mencoba untuk menyentuh kulitnya.

Semuanya berubah. Baekhyun mulai mencoba menerima dirinya dengan melakukan banyak hal.

“Dia kali ini kerap sekali berbicara padaku, kali ini sering sekali mengeluarkan ocehannya di hadapanku. Kadang menjengkelkan tapi itu terdengar menyenangkan di telingaku.”

Baekhyun yang dahulu tak mau tidur satu ranjang dan pada akhirnya membatasi ranjang mereka dengan guling pun sudah tidak ada lagi. Baekhyun kerap kali menurunkan guling itu lalu menatap Minjoo, memulai perbincangan mereka sebelum mereka pada akhirnya masing-masing terlelap.

“Dia kali ini menjawab setiap sapaan atau pertanyaan yang aku lontarkan padanya. Walaupun kadang hanya sepatah-dua patah kata, tapi aku bersyukur dia mau membalasnya.”

Baekhyun yang dulunya tak mau menyapa Minjoo atau bahkan menjawab pertanyaan Minjoo, kini menjawab semua sapaan Minjoo bahkan bisa dikatakan Baekhyun cukup sering menyapa Minjoo terlebih dahulu.

“Dia sering menggenggam jemariku atau bahkan memelukku jika aku membutuhkan seseorang disampingku. Seperti ia memberikanku kekuatan disana..”

Baekhyun yang dulunya sangat tidak mau atau bisa di sebut jijik jika Minjoo menyentuh permukaan kulitnya, kini membiarkan Minjoo berada di dekatnya, menyentuh permukaan kulit Minjoo atau menggenggam setiap jemari Minjoo dan bahkan membiarkan gadis itu masuk ke dekapannya untuk kadar yang banyak.

Bahkan, Baekhyun membiarkan benda berharga miliknya di tempelkan pada benda berharga milik Minjoo ketika di kepulauan Jeju tempo lalu.

Menyalurkan sesuatu disana yang sampai saat ini Minjoo tak tahu apa maksudnya dan tidak berniat untuk mengetahuinya.

Membuatnya tak dapat melanjutkan perkataannya mengingat hal itu dan memerahkan mukanya kembali.

“Minjoo-ya? kau tak apa-apa?”

“Aku tak apa-apa..” Minjoo mengalihkan perhatiannya dengan mencoba untuk memasuki mulutnya ramyeon disana. “Sungguh tak apa-apa..”

Sehun pun menatap Minjoo dengan bingung ditambah curiga.

Minjoo sedari tadi menceritakan semua kebaikan Baekhyun padanya dan menceritakan semua hal yang Baekhyun lakukan padanya. Dimulai dari tentang perbincangan sampai dimana ia bilang bahwa Baekhyun mendekapnya.

Sehun bingung, apakah Baekhyun benar-benar melakukan itu pada Minjoo? Apakah kali ini Baekhyun sadar bahwa sesungguhnya Minjoo bukanlah orang yang tepat untuk pria itu benci? Tapi Sehun tidak pernah yakin, karena tuan Byun selalu bilang padanya bahwa sifat Baekhyun belum benar-benar hilang.

Bahkan Sehun mendengar ketika mereka libur di kepulauan Jeju kemarin, Baekhyun membawa kekasihnya yang berarti ia membiarkan istrinya disana.

Dan yang membuatnya curiga, mengapa Minjoo menceritakan ini semua padanya dengan binar-binar di matanya?

Seakan-akan Baekhyun adalah pria yang ia suka.

“Kau menyukainya, Minjoo-ya?”

Minjoo pun tersontak kaget dan menghentikan aktivitasnya. Membuat kecurigaan Sehun semakin bertambah.

“Kau.. benar-benar menyukainya?”

Minjoo menelan salivanya pelan lalu mencoba untuk mendongakkan wajahnya perlahan.

“Iya.. aku.. menyukainya..”

Sehun menatap Minjoo dengan iba. “Minjoo-ya….”

“Aku tahu, aku salah.” Minjoo mencoba untuk tersenyum walau di paksakan. “Aku tak seharusnya menyukainya bukan?”

Sehun semakin menatap iba pada Minjoo.

Perasaan memang paling tidak bisa di salahkan, terlebih lagi ini adalah kondisi dimana seorang wanita dan seorang pria tinggal di dalam satu rumah yang sama dan terikat oleh status pernikahan.

Tidak pernah ada kejadian dimanapun di belahan dunia ini ketika seorang pria dan wanita di biarkan tinggal dalam serumah apalagi sekamar tidak saling jatuh cinta.

Sehun merasa kasihan pada Minjoo yang menyukai Baekhyun untuk pihaknya saja, yang berarti ia harus menanggung rasa sakit itu sendirian tanpa Baekhyun ketahui.

“Minjoo-ya.. bukannya aku ingin menjatuhkan harapanmu tapi..” Sehun mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk ia katakan walaupun pada akhirnya rangkaian kata itu tetap menyakitkan di telinga Minjoo.

“Aku mohon kau untuk jangan membiarkan perasaan itu tumbuh dalam dirimu..”

Satu kalimat yang paling Minjoo benci tapi yang menyakitkannya adalah bahwa itu kenyataan.

Sehun benar, Minjoo tak bisa membiarkan perasaan itu tumbuh lebih jauh lagi.

Cukup sampai sebesar ini saja perasaannya pada Baekhyun walaupun Minjoo tahu ‘besar’nya itu sebesar apa.

Minjoo tak bisa menyukai Baekhyun, tak boleh lebih tepatnya.

Baekhyun menutup mobilnya dan menekan tombol alarmnya setelah tadi ia berhasil memarkirkannya pada garasi rumahnya.

Kemudian ia berjalan keluar dan menuju pintu utama rumahnya, berniat memasuki rumah tersebut.

Suasana dalam rumah sudah cukup hening, menandakan bahwa pemilik rumah ini sudah berada di singgasananya.

Baekhyun melangkahkan kakinya menuju lantai dua atau lebih tepatnya menuju kamarnya.

Ketika ia membuka kamarnya, ia menemukan seseorang yang ia ketahui istrinya sudah meringkuk di atas kasurnya.

Membuatnya menghela napas berat.

“Lagi dan lagi ia pasti sudah tertidur.”

Baekhyun menghampiri istrinya lalu perlahan duduk di tepi ranjangnya, mencoba untuk tidak menimbulkan suara dari sana agar Minjoo tidak terbangun dari alam mimpinya.

Perlahan ia menarik selimut Minjoo dan membetulkannya agar menutupi tubuh Minjoo.

Lalu ia mengalihkan pandangannya menatap wajah teduh gadis ini ketika tertidur. Membuat gerak refleksnya mengangkat tangannya dan mengelus kepala Minjoo perlahan.

Sudah 2 pekan ini, Minjoo menghindari dirinya.

Minjoo tidak pernah lagi menunggu Baekhyun untuk pulang pada malam hari dan Baekhyun selalu menemuinya telah terkapar di atas kasurnya.

Di pagi hari pun sama, kadang Baekhyun menemukan Minjoo atau lebih seringnya Baekhyun hanya menemukan note di atas meja makannya yang berisikan bahwa gadis itu memiliki jadwal kuliah pagi dan mengharuskannya berangkat sebelum Baekhyun turun ke meja.

Baekhyun tak tahu mengapa Minjoo melakukan ini semua padanya, setahunya Baekhyun tidak memarahinya ataupun menyakiti hatinya.

“Kenapa denganmu.. Minjoo-ya..”

.

.

Jam menunjukkan pukul 12 siang. Menunjukkan bahwa istirahat makan siang telah di mulai. Baekhyun berjalan keluar dari kantornya untuk menuju kantin yang berada di lantai satu gedung ini.

Sudah beberapa hari ini Minjoo tidak mengiriminya bekal siang dengan alasan yang sama. Gadis itu masih memulai aksinya untuk menghindari Baekhyun.

Baekhyun sungguh ingin sekali membuka otaknya lalu melihat seluruh memorinya, apakah pria itu pernah menyakiti Minjoo sebelumnya?

Ya memang pernah, namun maksudnya dalam waktu dekat ini. Ketika hubungan mereka sudah baik.

Tenaga dan pikiran Baekhyun terkuras banyak untuk memikirkan itu di bandingkan mengurusi pekerjaannya.

Membuatnya ingin sekali menjeduki kepalanya sampai pecah kalau bisa.

Baekhyun berjalan keluar dari lift sambil melihat ke sekitarnya.

Beberapa karyawan sudah mulai keluar dari meja atau ruang kantornya dan mulai berhamburan menuju kantin. Tak terlalu ramai tapi bisa di bilang cukup banyak karyawan di sini.

Baekhyun sampai di lobby utama, dimana setelahnya ia harus menuju pintu keluar yang notabenenya ia tak ingin makan di kantin kali ini karena alasan tadi. Terlalu banyak karyawan disana.

Ketika ia sedang menatap sekitar, tak sengaja netranya menangkap sebuah tubuh manusia yang sangat ia kenali.

Tubuh seorang gadis yang selalu mengenakan dress–bahkan saat ini pun sedang ia kenakan—sedang berdiri di depan meja satpam sambil berbicara pada satpam tentunya.

Baekhyun yang bisa langsung memastikan siapa gadis itu pun dengan cepat melangkahkan kakinya menuju meja satpam, tak ingin kehilangan gadis itu disana.

“Kau pasti mengirimiku bekal makanan bukan?”

Minjoo yang terinterupsi suara Baekhyun pun langsung terdiam kaku di tempatnya. ia kepergok basah.

Baekhyun melirik ke arah kantung yang sedang di genggam oleh security itu yang ia bisa pastikan adalah kotak makannya dan dengan segera menarik paksa dari security itu.

“Benar, kan? Ini kotak makan untukku?”

Minjoo pun mengangguk ragu. Mau bagaimana lagi? Percuma saja jika Minjoo mengelak, nyatanya itu memang untuk Baekhyun.

Baekhyun yang melihat itupun tak dapat menyembunyikan senyumnya. Rupanya Minjoo tak sepenuhnya menghilangkan rasa perhatiannya pada Baekhyun.

“Kalau begitu, kau ikut aku ke kantorku, ok?” Baekhyun menarik tangan Minjoo. “Temani aku makan.”

“Aku tak bisa—“

Baekhyun memotong perkataan Minjoo dengan menyeret gadis itu untuk berjalan menuju lift dan tentunya kantornya.

Minjoo pun tidak bisa apa-apa jika Baekhyun sudah begini.

Setelah sampai di ruang kerja Baekhyun, Baekhyun mendudukan tubuh Minjoo di salah satu sofa dalam ruangannya dan Baekhyun ikut serta duduk di sebelahnya.

“Kau memasak apa, Minjoo-ya?” Baekhyun membuka kotak bekal Minjoo dan melihat isi di dalamnya.

“Bulgogi dan Japchae, hm?”

Minjoo tidak berniat sama sekali untuk membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Baekhyun. membuat pria itu harus sedikit lebih bersabar lagi pada Minjoo.

“Biar aku coba,” Baekhyun menyumpit japchae dan memasukannya ke dalam mulutnya.

“Ini enak, Minjoo-ya..”

Minjoo masih melekatkan erat-erat kedua bibirnya, tak berniat untuk membuka perbincangan dengan Baekhyun.

“Baekhyun-ah.. aku harus pergi sekarang.” Minjoo mengangkat tubuhnya, ia memutuskan untuk pergi. Ia tidak bisa jika harus terlalu lama berdekatan dengan Baekhyun seperti ini.

“Aku pergi dulu sekarang, permisi.”

Ketika Minjoo melangkahkan kakinya, ia mendengar sebuah suara benda yang di bantingkan ke atas meja. Membuatnya menghentikan langkahnya dan bergidik ngeri.

Ya, Baekhyun sudah tak bisa menahan kesabarannya lagi. Tuhan tidak memberinya kadar kesabaran cukup banyak.

“Sampai kapan kau akan begini terus, Han Minjoo?”

Minjoo menelan salivanya perlahan. Keringat dingin mengucur dari pelipisnya, hatinya bergemuruh ketakutan karena nada bicara Baekhyun yang menusuk dirinya.

Baekhyun berdiri dari duduknya lalu berjalan ke hadapan Minjoo.

“Kau ini kenapa, sih?”

Ingin rasanya Minjoo meneriakan “Aku menyukaimu, Baekhyun-ah”

Tapi ingatan itu selalu menahan perkataan itu.

“Aku tidak kenapa-kenapa, aku harus benar-benar pergi, Baekhyun-ah..”

Minjoo mencoba mengambil langkah.

Namun Baekhyun menghalanginya dengan menaruh tangan yang berada pada tembok di dekatnya.

“Bukan jawaban itu yang aku butuhkan.”

Minjoo pun bersikeras untuk menghindari Baekhyun. maka ia pun mengambil jalan yang berada di sisi Baekhyun yang lainnya.

Namun gagal kembali.

Baekhyun menghadang jalannya dengan mendorong tubuhnya ke tembok dan menaruh kedua tangannya tepat di kedua sisi kepalanya.

Membuatnya mau tak mau harus menatap mata pria itu dan membiarkan dadanya berdetak kencang.

“Apa salahku, Minjoo-ya?”

Baekhyun mencoba mencari alasan dari sorot mata gadis itu. berusaha mengingat setiap hal yang ia lakukan bersama gadis itu pada waktu sebelumnya.

“Apa karena waktu itu..aku menciummu?”

Minjoo bisa merasakan jika kulit wajahnya memanas ketika Baekhyun kembali membuka ingatan itu. membuatnya mengeluarkan perasaan yang telah ia coba tahan beberapa waktu ini dengan tanda dadanya yang bergemuruh kencang.

Minjoo tidak menjawab pertanyaan Baekhyun. membuat Baekhyun semakin yakin atas pertanyaannya.

“Aku minta maaf jika benar-benar karena itu, Minjoo-ya..” Baekhyun mencoba menurunkan salah satu tangannya dan menggenggam jemari gadis itu.

“Aku mohon, maafkan aku.”

Tak dapat Minjoo pungkiri lagi jika hatinya membuncah sangat bahagia. Perasaan itu kembali lagi mendominasinya ketika Baekhyun selalu berhasil mengungkapkan kalimat manis padanya.

Entahlah, kalimat itu memang tidak terlalu penting, tapi sangat bermakna untuk Minjoo.

“Permisi tu—“

Minjoo dan Baekhyun pun serentak melihat ke arah pintu yang terbuka tiba-tiba. Menampakkan asisten Kim yang menatap mereka dengan mulut yang sedikit terbuka.

Baekhyun masih memojokkan Minjoo pada dinding ruangan dan terlebih lagi jarak tubuh mereka bisa di katakan sangat tipis.

Membuat asisten Kim merasa bersalah karena telah menganggu mereka.

“A-ah.. maafkan aku tuan dan nona..”

Minjoo berniat mengambil kesempatan emas ini untuk melepas tubuhnya dari Baekhyun dan pergi darisana.

Tapi Baekhyun semakin menggenggam tangannya erat, tanpa mau melepaskannya barang sedikit pun.

“Lain kali ketuk terlebih dahulu, asisten Kim.” tuturnya membuat asisten Kim semakin kikuk.

“A-ah iya maaf tuan, lain kali aku akan mengetuk terlebih dahulu..” asisten Kim menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, “K-kalau begitu, aku akan kembali nanti saja, permisi..”

Asisten Kim menutup kembali pintu dan menyisakan mereka berdua kembali.

Baekhyun mengalihkan wajahnya dan menatap netra Minjoo disana.

“Minjoo-ya kumohon.. maafkan aku.”

Perasaan itu benar-benar mendominasi pikiran akal dan seluruh tubuh Minjoo saat ini. Membuat gadis itu berniat untuk menghentikan aksi menghindarinya pada Baekhyun.

“Iya, aku masih mencintai kekasihku..”

Perkataan itu selalu berhasil merobohkan harapan Minjoo.

“Aku harus pergi, Baekhyun-ah..” Minjoo perlahan melepaskan eratan tangan Baekhyun pada jemarinya walaupun ia merasa kehilangan disana. “Kumohon izinkan aku untuk pergi..”

Baekhyun bisa merasakan hatinya meretak perlahan mendengar perkataan gadis itu. hanya rangkaian kata memang, tapi sangat ampuh membunuh setiap sel-sel tubuh Baekhyun dan menimbulkan rasa sakit disana.

Minjoo pun mengambil langkah untuk pergi dari hadapan Baekhyun. meninggalkan lelaki itu yang masih merasa tersakiti disana.

Benar memang pemikiran Baekhyun selama ini. Minjoo memang sedang menghindarinya. Minjoo telah memutuskan untuk menutup perasaannya pada Baekhyun dengan memutus kontak hubungan dengan pria itu.

Minjoo tak ingin memperjuangkan kebahagiannya hanya harus membiarkan Baekhyun menderita di bawahnya.

Minjoo memutuskan untuk berhenti menyukai Baekhyun, walaupun ia berpikir bahwa hal itu tidak akan berhasil.

“Selamat tuan atas keberhasilan anda.”

Para pejabat tinggi itu tak henti-hentinya menyalami tangan Baekhyun, memberikan lelaki itu ucapan selamat atas keberhasilannya mengembangkan proyek pembangunan hotelnya yang sudah resmi akan di bangun dalam waktu dekat ini.

“Wah anda memang benar-benar berbakat. Kemampuan Ayah anda benar-benar mewarisi ke dalam diri anda.” Tutur tuan Lee, salah satu investor proyek Baekhyun.

Baekhyun terkekeh pelan, “Semua ini berkat anda juga tuan-tuan, tanpa ada investasi dari anda semua, proyek ini tidak mungkin terlaksana.”

Para pejabat tinggi itu pun terkekeh pelan, “Lalu kapan penaruhan batu pertama sebagai simbol resminya proyek kita ini tuan?”

“Akan di lakukan pada sabtu siang lalu dilanjutkan dengan pesta pada malam harinya, bagaimana tuan?”

Tuan Choi pun mengangguk-angguk mengerti, “Berarti sabtu ini merupakan pesta untuk kita, bukan?”

Baekhyun tertawa, “Tentunya.”

“Baiklah kalau begitu, kami tunggu di pestamu tuan muda Byun! kami akan pergi sekarang.”

Para pejabat tinggi itu pun satu per satu meninggalkan ruangan rapat, meninggalkan Baekhyun sendirian pada akhirnya.

“Kurasa aku harus membagi kebahagiaan ini dengan seseorang..”

Baekhyun membuka ponselnya lalu ia mengklik kontak list nya. Ia menscroll setiap nama sampai akhirnya ia menemukan sebuah nama.

Han Minjoo.

Baekhyun tersenyum sumringah dan hendak menekan tombol berwarna hijau sebelum ia teringat sesuatu.

Baekhyun teringat oleh pikirannya pada tempo hari lalu, dimana Minjoo jelas-jelas menghindarinya. Melepaskan genggaman tangan Baekhyun lalu pergi tanpa memberikan alasan ketika Baekhyun menanyakan mengapa Minjoo menghindarinya.

Baekhyun bisa merasakan hatinya berdenyut nyeri seketika mengingat hal itu.

Yang pada akhirnya membuat dirinya mengurungkan niatnya untuk menelepon gadis itu.

Ia malah menscroll kontak listnya lagi lalu menemukan nama seorang gadis yang berstatus sebagai kekasihnya.

Yoon Bora.

“Sudah lama aku tidak mengajaknya untuk berkencan lagipula.”

Baekhyun pun menekan tombol hijau di ponselnya, menelepon gadis itu.

“Halo, Bora-ya. Apakah kau mempunyai waktu luang hari ini?”

“Tentu saja aku punya jika itu untuk oppa! Memangnya kenapa oppa?”

“Mari kita berkencan, Bora.”

.

.

“Oppa es krim ini enak sekali…”

Bora melekatkan setiap jemarinya ke lengan Baekhyun tanpa mau sedikit pun melepaskannya. Mereka kali ini sedang berjalan-jalan di sekitar taman kota Seoul, melaksanakan kencan mereka.

“Ohiya Oppa.. Oppa kenapa tiba-tiba ingin mengajakku berkencan? Kau merindukankukah?”

 

“Karena aku sedang tidak dalam keadaan yang baik bersama Minjoo”

“Kurasa begitu..” jawab Baekhyun walaupun ada pikiran itu mengganggunya.

“Kurasa?” Bora mengerecutkan bibirnya, “Oppa tidak merindukanku, hm?”

“Ya,ya.. kuralat. Aku merindukanmu, ok?”

Bora pun tersenyum kembali lalu memasukan suapan terakhir es krim ke mulutnya dan setelahnya membuangnya ke tempat sampah yang ia lihat.

“Oppa, kau belum pernah menceritakan soal istrimu padaku. Coba ceritakan tentang dia!”

Pertanyaan dari Bora membuat Baekhyun melayangkan pikirannya dimana ia sedang menghabiskan hari-harinya dengan Minjoo.

“Han Minjoo terlalu berisik untuk seorang wanita. Dia terlalu banyak berbicara padaku.”

Baekhyun mengingat setiap sapaan yang Minjoo katakan padanya. Setiap pagi, sebelum Baekhyun berangkat kerja, kadang gadis itu mengiriminya pesan ketika istirahat siang, ketika Baekhyun pulang ke rumah dan bahkan ketika sebelum tidur.

Minjoo memang banyak berbicara, yang pada awalnya Baekhyun sama sekali benci pada hal itu.

“Han Minjoo merupakan gadis yang membosankan. Yang ia suka hanyalah mengurusi tanaman yang ia tanam di pekarangan rumah kami.”

Baekhyun mengingat hari itu, hari dimana Baekhyun dan Minjoo menanam bunga lily di taman belakang mereka.

Mengingat betapa senangnya Minjoo ketika mengotori wajah Baekhyun lalu membasahi tubuhnya dengan air dari selang.

Hari itu dimana hari Baekhyun menyadari betapa cantiknya Han Minjoo.

“Han Minjoo seorang gadis yang terlalu mencari perhatian padaku. Ia kerap kali mencoba mencuri perhatianku dengan melakukan banyak hal seperti memasak untukku.”

Bukan hanya memasak saja yang Minjoo lakukan pada Baekhyun. Minjoo menyiapkan kebutuhan Baekhyun yang lainnya juga seperti memakaikan dasi pada kerah Baekhyun.

Ketika Baekhyun sakit dahulu pun, Minjoo merawatnya dengan sabar walaupun Baekhyun selalu mengoceh yang tidak jelas padanya.

“Jadi intinya kau membenci gadis itu kan, Oppa?”

Baekhyun pun melirik ke arah Bora, menatap gadis itu.

“Iya. Aku membencinya.”

Membencinya karena ia telah membuat Baekhyun nyaman ketika berada di sampingnya.

.

.

Baekhyun dan Bora pun masuk ke dalam sebuah supermarket, berniat untuk membeli untuk kebutuhan apartemen Bora setelah kencan mereka berakhir.

Mereka berdua pun melangkah menyusuri setiap lemari-lemari yang berisi makanan lalu mengambil beberapa darisana.

Bora menyuruhnya mengambil sebuah snack yang berada di rak ketiga, yang tak bisa ia raih. Maka dari itu Baekhyun pun mencoba untuk mengambilnya.

“Oh, Minjoo-ssi?”

Baekhyun terinterupsi oleh nama itu lalu setelahnya ia memutar kepalanya dan melihat seseorang yang tak jauh darinya.

Han Minjoo pun tersenyum padanya sambil sedikit membungkuk hormat pada Bora.

Bukan, bukan hal itu yang membuat Baekhyun terdiam sambil memandangnya.

Namun pada seseorang yang sedang berdiri di samping saat ini.

“Sedang berbelanja jugakah Minjoo-ssi?” Bora pun ikut melirik ke arah lelaki yang disamping Minjoo, “Oh dan siapa pria ini?”

Minjoo menatap Baekhyun yang sedari tadi melihatnya dengan wajah datarnya. Minjoo tahu pasti saat ini Baekhyun ingin sekali menanyakannya secara langsung jika saja taka da kekasihnya disampingnya saat ini.

“Dia temanku, perkenalkan namanya Oh Sehun.”

Sehun yang berada di samping Minjoo membungkukkan badannya sedikit lalu tersenyum pada mereka berdua.

“Temanmu? Apakah kalian tidak sedang berkencan?”

Mendengar pertanyaan Bora membuat hati Baekhyun terasa panas seketika. Benar juga, di dunia ini jarang sekali ada seorang lelaki dan seorang perempuan menghabiskan waktu bersama-sama tanpa ada hubungan di antara mereka.

“Maaf kami tidak berkencan, nona. Kami hanya berteman.” Tutur Sehun membenarkan perkataan Bora walaupun itu masih belum bisa mendinginkan hati Baekhyun.

Kemarin ini Luhan lalu sekarang Sehun.

Apakah Minjoo sepopuler itu di kalangan lelaki?

“Benar apa yang ia katakan, kami hanya berteman. Ia teman kecilku ketika di Busan dahulu..”

Baekhyun masih belum bisa menerima dengan setiap alasan yang mereka berikan sebelum Minjoo benar-benar menjelaskannya secara empat mata padanya.

“Sepertinya aku mengganggu kencan kalian.. kurasa aku akan permisi sekarang.”

Minjoo pun membungkuk hormat pada Baekhyun dan Bora lalu disusul Sehun juga dan setelahnya mereka meninggalkan Baekhyun dan Bora.

Membuat Baekhyun semakin geram karena hal itu.

.

Baekhyun mendudukkan tubuhnya di atas kasur sambil terus menatap ke arah pintu kamarnya dengan geram.

Pasalnya, Minjoo belum juga pulang sampai selarut ini ketika Baekhyun selepas kencannya tadi sore pun sudah terlebih dahulu berada di rumah.

Membuat Baekhyun memunculkan pikiran negatifnya, seperti

Kemana Minjoo pergi?

Apakah Minjoo masih bersama lelaki tadi di supermarket itu?

Kalau iya, kemana mereka pergi sampai selarut ini?

Dan lagi, apa yang mereka lakukan?

Memikirkan pertanyaan kalimat akhir hanya membuat Baekhyun semakin memanaskan suhu tubuhnya.

Cklek.

Pintu pun terbuka dan menampakkan seorang gadis disana.

“Darimana saja kau?”

Tanpa basa-basi lagi, Baekhyun pun langsung melontarkan pertanyaan itu pada Minjoo.

Minjoo pun terlonjak kaget dan menatap Baekhyun sebentar.

“Aku baru pulang dari rumah Sehun.”

“Mwo?! Kau baru pulang dari rumah lelaki sampai selarut ini?!” Baekhyun terkekeh kesal, “Ya! tak ingatkah statusmu sebagai apa sekarang ini, Han Minjoo?”

Minjoo menarik napasnya pelan, “Aku ingat. Dan aku minta maaf.”

“Hanya minta maaf?”

“Baekhyun-ah kumohon.. jangan berpikiran negative seperti yang kau lakukan ketika aku bersama Luhan dahulu di pulau Jeju. Aku dan Sehun sama persis seperti hubunganku dengan Luhan, kami hanya berteman.”

“Ya tapi apa yang kau lakukan sampai selarut ini di rumah pria itu, Han Minjoo?!” Baekhyun meninggikan suaranya karena kesal dengan jawaban gadis ini.

“Ayahmu mengajak kami berdua untuk berpesta kecil di apartemennya karena Sehun baru saja pindah kemari.”

Ayah Baekhyun? mengapa Ayahnya bisa mengenalinya, pikir lelaki itu.

“Sekarang kau percaya?”

“Kenapa.. kenapa Ayahku mengenal Sehun? Apa hubungan mereka?”

Minjoo lagi-lagi harus menarik napasnya dan bersabar menghadapi pria ini

“Dia adalah temanku ketika di Busan terdahulu dan merupakan salah satu penyelamat Ayahmu ketika kecelakaan di Busan terdahulu. Ia juga ikut merawat Ayahmu ketika Ayahmu mengalami amnesia selama beberapa bulan, Baekhyun-ah. kau tak perlu mencurigainya..”

Baekhyun membulatkan mulutnya, menandakan jika pria itu mengerti dengan situasi dan kondisi.

Mungkin, Sehun bukan merupakan ancaman baginya, pikirnya.

“Baiklah kalau begitu..”

Minjoo pun berniat untuk melangkahkan kakinya pergi dari hadapan Baekhyun untuk menuju kamar mandinya.

“Minjoo-ya”

Namun Baekhyun menahan tangannya dan menghentikkan langkahnya.

“Aku telah berhasil membuat proyek pertamaku hari ini.”

Minjoo memutar tubuhnya lalu menghadap Baekhyun.

Ingin sekali Minjoo memeluk Baekhyun saat ini untuk mengucapinya selamat karena Minjoo tahu seberapa kerasnya Baekhyun berjuang demi menjalankan proyek itu.

Tapi bagaimana lagi,

Minjoo benar-benar harus menghindarinya.

“Selamat, Baekhyun-ah.. selamat atas kerja kerasmu..”

Baekhyun sedikit kecewa dengan penuturan kata Minjoo yang tidak seimbang dengan ekspetasi nya  ketika ia mengatakan hal itu.

“Minjoo-ya, sabtu ini kantorku akan mengadakan pesta perayaan keberhasilan ini.. kau mau kan datang denganku?”

Minjoo tidak bisa pungkiri kalau ia sangat senang dengan ini.

Baekhyun mengjaknya untuk datang ke pesta bersamanya.

Berdampingan dengan Baekhyun yang memakai tuxedo pun tentu sangat menyenangkan untuk hanya menjadi imajinasinya saja.

Namun lagi-lagi Minjoo tidak bisa merealisasikan harapannya itu.

“Maaf Baekhyun-ah.. aku tidak bisa..”

Baekhyun bisa merasakan pisau menikam hatinya kembali saat itu.

“Kau harus datang dengan Bora-ssi, Baekhyun-ah. dia kekasihmu, bukan aku.”

Seperti sebuah batu besar yang menghantamnya saat ini, Baekhyun merasakan tubuhnya meremuk dalam waktu sekejap.

Fakta itu selalu menjadi alasan mengapa Baekhyun tidak bisa untuk bersama dengan Minjoo.

“Kau benar.” Baekhyun terkekeh pelan sambil melepaskan tangannya dari Minjoo perlahan.

“Aku seharusnnya mengajak Bora, bukan dirimu.”

Mereka berdua, baik sang pria maupun sang wanita, sama-sama merasakan rasa denyutan sakit yang menyerang hati mereka pada waktu yang bersamaan pada saat itu.

Sakit mengetahui fakta yang sama-sama mereka saling tolak dari diri mereka masing-masing.

.

Auditorium yang cukup luas ini di dekorasi sebaik mungkin untuk sebuah pesta yang di laksanakan saat ini. Musik yang mengalun dari band rumah yang berada di sudut ruangan, memperlihatkan keeleganan pesta ini. Pesta ini pun hanya di hadiri oleh para pejabat-pejabat tinggi Korea selatan yang tentunya merupakan orang-orang terkaya di Korea Selatan. Semakin memperlihatkan bagaimana mewahnya pesta ini.

Hari dimana pesta itu pun di selenggarakan. Setelah sebelumnya pada siang hari Baekhyun dan para rekan bisnisnya menaruh batu pertama di tanah yang akan mereka jadikan sebagai hotel mereka sebagai simbol di mulainya pembangunan hotel itu pun dimulai, Baekhyun menyelenggarakan pesta cukup mewah di sebuah auditorium di kota Seoul.

Baekhyun tidak menemui Minjoo ketika mereka di rumah tadi karena Minjoo menghabiskan waktu yang sangat lama untuk mendadani dirinya. membuat Baekhyun akhirnya langsung saja pergi menuju apartemen Bora dan menjemput gadis itu.

Bora pun dengan setia menempel di lengan Baekhyun, mengikuti kemanapun setiap pria itu melangkah.

“Tuan muda Byun, siapa wanita ini?” tuan Jun menanyakan ketika Baekhyun menghampiri sebuah kerumunan yang nyatanya mereka semua adalah rekan bisini Baekhyun.

“Ini.. kekasihku. Yoon Bora.” Jawab Baekhyun dengan keraguan. Pasalnya rekan-rekannya ini tau jika Baekhyun sudah menikah dan yang ia nikahi adalah Han Minjoo.

“Kekasihmu? Apa kau sudah bercerai dengan istrimu?” tuan Ji pun langsung menyambar ketika Baekhyun menuturkan jawabannya.

“Ti-tidak.. aku belum bercerai dengannya—“

“Tuan-tuan, memangnya anda tidak tahu jika Baekhyun itu menikah karena di jodohkan?”

Ketika Bora menuturkan kata-katanya para rekan bisnis Baekhyun pun membulatkan kedua matanya.

“Apakah itu benar, Baekhyun-ssi?” tanya tuan Choi pada Baekhyun yang mulai kikuk.

“Ia tidak mencintai istrinya itu karena ya itu hanya perjodohan dan sebelum mereka menikah, Baekhyun sudah terlebih dahulu menjalin kasih denganku..”

Apa yang di katakan Bora memang benar apa adanya. Tapi mengapa Baekhyun merasa bahwa itu terasa seperti salah.

“Ah begitu rupanya..” tutur tuan Jun dengan kikuk, “Maaf aku tidak bermaksud menanya seperti itu..”

Baekhyun tersenyum dengan ragu, “Tidak apa-apa tuan Jun, tidak usah sungkan..”

“Ah.. ah.. aku punya berita bagus untuk kalian” tuan Ji pun kembali bersuara mencoba untuk menghindari pembicaraan tadi, “Kudengar sebuah perusahaan di China ingin ikut menginvestasi di proyek kita ini. Perusahaan itu perusahaan nomor satu di China yang bahkan sudah bisa menembus jendela internasional!”

“Wah itu pasti sangat akan menguntungkan sekali untuk proyek kita!”

“Tentunya, dan kudengar juga kalau ia akan—astaga tuan Byun.”

Baekhyun menatap tuan Ji dengan kebingungan. Ia melihat tuan Ji menatap seseorang di baliknya dengan mata yang sangat berbinar.

Membuat Baekhyun penasaran dan akhirnya memutar tubuhnya melihat sesuatu di baliknya.

Baekhyun memusatkan matanya pada seorang gadis yang datang dari pintu utama.

Gadis dengan balutan dress berwarna merah tanpa lengan.

Rambutnya ia gerai, menutupi punggung belakangnya yang terbuka.

“Istrimu sangat cantik tuan Byun.. astaga..” tutur tuan Ji dengan mata yang berbinar.

Bora yang berdiri di sebelah Baekhyun pun hanya bisa menahan amarahnya ketika melihat gadis itu datang dan yang nyatanya memang lebih cantik daripada ia.

“Tapi siapa yang berdiri di sampingnya, tuan Baekhyun?”

Ia melihat Minjoo tidak datang sendirian kemari, ia datang dengan seorang lelaki yang ia temui bersama Bora tempo hari lalu. Lelaki itu mengenakan tuxedo mewah yang membuatnya semakin elegan dan terlihat pas bersama Minjoo.

Membuat hawa tubuh Baekhyun memanas seketika.

“Itu temannya saja.”

“Oh temannya saja? Tapi kenapa ia datang ke pesta ini dengan dirinya, bukan dengan kau..?”

“Ya! tuan Jun! kan sudah di bilang kalau tuan Byun ini menikah karena perjodohan, kau ini…”

Tuan Jun pun hanya bisa tersenyum, “ohiya maaf..”

Baekhyun tak melepaskan sama sekali pandangannya pada tubuh Minjoo. Melihat setiap gerakan gadis itu yang melewati kerumunan dan berjalan menuju tempat di mana Ayahnya berdiri.

Baekhyun bisa melihat jika Minjoo menyadari dirinya yang sedang mengamatinya.

Membuat gadis itu sedikit kikuk lalu mencoba mencari perhatian menghadap tuan Byun yang sedang berbicara padanya.

“Minjoo-ya, kenapa kau datang bersama Sehun? Memangnya Baekhyun datang dengan siapa malam ini?”

“Dia datang bersama kekasihnya, Appa. Dengan Bora-ssi.”

Tuan Byun pun lalu mengedarkan pandangannya lalu menemukan seseorang yang membuatnya sedikit menaikkan emosi ketika Minjoo memberitahunya tadi.

“Lelaki itu benar-benar..”

Minjoo pun hanya bisa mengecutkan senyumannya melihat Baekhyun dengan Bora yang tak jauh darinya. Kali ini Baekhyun sudah tak menatapnya lagi,

Bahkan Baekhyun telah berjalan menuju kerumunan, menyapa para rekan bisnisnya dengan Bora di sampingnya.

Layaknya sepasang kekasih atau bahkan suami-istri.

Mereka berdua tampak serasi.

memang seharusnya Bora bersama Baekhyun, batin Minjoo yang membuat hatinya semakin berdenyut sakit saja.

.

Cuaca malam hari ini sangat dingin.

Membuat Minjoo harus menggosokan kedua telapak tangannya lalu menempelkannya di lengannya yang terbuka.

Minjoo tidak menyukai kebisingan seperti di dalam pesta saat ini.

Ia meninggalkan Sehun yang masih berada di dalam pesta sambil berbincang dengan tuan Byun lalu memutuskan untuk pergi ke taman belakang yang terdapat di komplek gedung itu.

Ia menatap langit-langit lalu melihat isinya disana, bintang-bintang berkerlap-kerlip dengan indahnya disana.

Ingin rasanya ia mengajak Baekhyun untuk melihat ini, tak ingin melewatkan kesempatan emas untuk melihat pemandangan yang indah ini.

Tapi sayang,

Ia tidak bisa melakukannya.

Minjoo sangat merindukan Baekhyun berada di sampingnya.Merindukan lelaki itu ketika bersamanya dan ketika mereka menghabiskan waktu bersama. Namun jika ia terus melakukan semua hal itu, ia hanyalah membuat perasaan di dalam hati Minjoo semakin tumbuh membesar.

Membuat Minjoo lagi-lagi harus menahannya.

“Bertahanlah Minjoo-ya.. mungkin sebentar lagi kau bisa melupakannya..” gumamnya dalam hati sambil tersenyum menatap langit berbintang itu.

“Apa yang kau lakukan?”

Sebuah suara yang menginterupsi pendengarannya dan sebuah jas yang terpasang di tubuhnya secara tiba-tiba membuat hati Minjoo berdetak seketika.

Ia melihat seorang lelaki berjalan melewatinya lalu mengambil tempat duduk di sebelahnya.

“Disini sangat dingin. Terlebih bajumu terbuka seperti itu.” Baekhyun menatap Minjoo dengan serius, “Jangan pernah memakai baju terbuka seperti itu lagi, Han Minjoo.”

Minjoo pun hanya bisa menundukkan wajahnya tanpa berniat melihat ke muka Baekhyun.

“Tapi, kau sangat cantik malam ini Minjoo-ya. Sangat.”

Minjoo bisa merasakan darahnya mendesir di seluruh tubuhnya. Membuat suhu tubuhnya meningkat hingga membuatnya panas. Dan dadanya memacu dengan cepat seakan-akan ia akan meledak saat itu juga.

Minjoo hanya bisa menelan salivanya pelan dan masih tak ingin melihat ke arah pria itu.

Ini tidak boleh.

Detakan jantung ini salah.

Ia tak boleh berdetak seperti ini lagi, membiarkan perasaannya terus menumbuh dan menghancurkan pertahanannya.

“Maaf, Baekhyun-ah. aku harus pergi sekarang.”

Maka Minjoo pun melepaskan jas Baekhyun lalu menaruhnya di sebelahnya, di kursi yang tak di duduki oleh Baekhyun lalu Minjoo mengangkat tubuhnya dari kursi lalu berniat untuk pergi meninggalkan Baekhyun.

Namun Baekhyun berhasil mencegahnya dengan menarik tangan Minjoo dengan kasar lalu membuat gadis itu terduduk kembali dan menghadapnya.

“Sebenarnya kenapa dengan kau ini Han Minjoo?! Apa salahku?!”

Baekhyun menatap amarah pada Minjoo dan meninggikan suaranya. Membuat Minjoo menatapnya dengan takut dan hatinya yang berdenyut sakit.

“Apa yang kulakukan padamu sehingga membuatmu marah?! Apa karena dulu aku sering memarahimu?! Apa karena aku selama ini merepotkanmu?!”

 

Bukan. Bukan itu yang membuatku marah, Baekhyun-ssi.

“Apa karena aku.. menciummu??”

Baekhyun sedikit meneduhkan matanya pada Minjoo.

Napasnya sedikit tersenggal-senggal setelah mengucapkan rentetan kata itu tanpa henti.

“Tolong beri aku alasan mengapa kau menghindariku.. Minjoo-ya..”

Minjoo menatap dalam mata Baekhyun. mata yang selalu menjadi mata favoritnya selama 21 hidupnya. mata yang bisa membuat Minjoo meluluh seketika Baekhyun mengunci pandangan mereka.

Memori-memori yang mereka habiskan selama ini muncul melalui mata Baekhyun.

Membuat Minjoo merasakan hatinya berdenyut sakit mengingat hal itu.

Yang lambat laun membuat matanya memanas dan mengeluarkan cairan bening dari sudut matanya.

“Kau mau tahu mengapa aku menjauhimu?” Minjoo tersenyum getir pada Baekhyun dengan air mata yang masih mengalir di pipinya.

“Karena aku membencimu.”

Baekhyun bisa merasakan sebuah pisau menikam hatinya saat ini ketika Minjoo mengatakan hal itu.

Ternyata, itukah alasannya?

“Aku benci merasakan… perasaan nyaman ketika berada di sampingmu.”

Namun perkataan itu membuat luka yang tadinya tergores di hatinya terbalut seketika oleh perasaan bahagia.

“Aku benci merasakan kehangatan yang mengkuar dari tubuhmu ketika kau mendekapku. Aku benci tawa yang kau keluarkan ketika kau bersamaku. Aku benci ketika kau..”

Minjoo merasakan dadanya sesak, oksigen di sekitarnya habis karena ia pakai untuk mengkuras tenaganya untuk berbicara dan menangis dalam waktu yang sama.

“Menciumku pada malam itu. membuat dadaku bergemuruh tak karuan dan merasakan sensasi tersendiri yang membuatku bahagia. Aku membenci itu, Baekhyun-ah..”

Minjoo mengambil satu napas kembali untuk mengucap kalimat terakhirnya.

Ia tahu seharusnya ia tak melakukan ini.

Tapi, dinding pertahanannya benar-benar sudah runtuh saat ini.

Yang membuktikan bahwa gadis itu tidak bisa menahan perasaannya yang semakin membesar setiap hari.

“Aku benci untuk menyukaimu.. Baekhyun-ah..” Minjoo mengalirkan kembali air mata di sudut matanya.

“Aku..menyukaimu, Byun Baekhyun..”

Baekhyun bisa merasakan perasaannya di campur aduk saat ini.

Sakit dan lega dalam satu waktu di dalam hatinya saat ini.

Sakit karena melihat gadis itu menangis karenanya.

Lega karena mengetahui gadis itu menyukainya.

Minjoo menyatakan perasaannya pada Baekhyun yang entahlah mengapa itu membuat Baekhyun sangat lega dan tentunya membuat dadanya bergemuruh seketika.

Baekhyun memajukan tubuhnya pada Minjoo dan meraih bahu Minjoo.

“Minjoo-ya.. gomawo. Gomawo karena telah menyukaiku.”

Baekhyun menyunggingkan senyuman di sudut bibirnya lalu lambat laun memangkas jarak mereka.

Berniat untuk menyentuh benda tipis milik gadis itu, mencoba menjawab gadis itu.

Minjoo yang melihat Baekhyun menutupkan matanya dan memangkas jarak tubuhnya pun menegang.

Apakah.. apakah.. Baekhyun akan menciumnya lagi?

Tapi mengapa Baekhyun menciumnya kembali? Bukankah Baekhyun seharusnya marah pada gadis itu karena telah menyukainya?

Napas mint Baekhyun telah menerpa kulit wajahnya.

Membuat pipinya memanas dan seiring dengan hidung mereka yang mulai bersentuhan, Minjoo ikut menutup matanya.

Membiarkan sesuatu yang akan terjadi pada selanjutnya

DORR.

“Arrggh..”

Minjoo membuka matanya dengan segera setelah mendengar suara yang memekik itu.

Ia melihat ke arah Baekhyun yang memegang bahu kirinya.

Terdapat aliran darah yang mengalir di permukaan kemeja Baekhyun dan mengotori tangannya.

Membuat mata Minjoo memanas dan mengeluarkan cairan mata itu lagi.

“Minjoo-ya..”

Dan pada saat itu, Baekhyun menjatuhkan tubuhnya pada sandaran kursi taman.

Terkapar dengan tidak berdaya.

“Baekhyun-ah!!!!!”

Minjoo memegang bahu Baekhyun dan mencoba menahan pendarahan yang terus mengalir.

“Kumohon Baekhyun bertahanlah—“

“Diam di tempatmu!!!”

Lima orang kawanan berbalut hitam serta topeng yang menutupi wajah mereka datang menghampiri Minjoo dan Baekhyun.

Menodongkan pistol yang mereka genggam ke arah mereka berdua.

“Kalian siapa!?” Minjoo teriak dengan histeris, “Apa mau kalian!?”

Kawanan itu pun tak menjawab pertanyaan Minjoo dan dua orang dari mereka langsung menarik tubuh Minjoo dengan paksa.

“Kau ikut dengan kami sekarang.”

Minjoo meronta, melepaskan setiap tangan yang hendak menyentuh tubuhnya. Ia terus mengalirkan air matanya karena sungguh yang ia pikirkan bukan karena ia takut akan di bawa para penjahat ini.

Melainkan Baekhyun yang lambat laun mulai kehilangan kesadarannya.

Hatinya lebih sakit melihat hal itu di banding dengan apa yang akan terjadi padanya selanjutnya.

“Dia akan mati jika kalian biarkan begitu saja, kumohon..”

Salah satu lelaki itu pun terkekeh pelan, “Dia akan mati sebentar lagi, kau tak usah memohon seperti itu gadis manis…”

Lelaki itu pun berhasil menarik tubuh Minjoo dan menyekap gadis itu. membuat Minjoo semakin menangis histeris.

“Tolong!!!  Tolong!!!”

“DIAM KAU—“

“Tolongg!! Tolongg—“

Salah satu dari lelaki itu pun memukul tengkuk Minjoo dan seketika membuat Minjoo kehilangan kesadarannya dan terjatuh dalam dekapan mereka.

“Ayo kita pergi sekarang sebelum orang-orang curiga.”

“Jangan bawa dia..”

Baekhyun menautkan jemarinya di jemari Minjoo, mencoba mengumpulkan kekuatan dan menahan tubuh Minjoo.

“kumohon..”

Lelaki itu pun terkekeh kembali, “Kau lebih baik menyimpan nyawamu untuk menyelamatkan istrimu nanti.. atau mungkin kau akan mati? Haha.”

Salah satu dari kawanan itu pun melepaskan tangan Baekhyun secara paksa, membuat pria itu terhuyung jatuh ke bawah tanah dan luka di bahunya pun semakin memperparah keadaannya.

“Ayo kita pergi sekarang!!”

Baekhyun masih bisa melihat tubuh Minjoo yang tak sadarkan diri di bawa oleh para kawanan itu menjauh darinya.

Ia mencoba mengumpulkan tenaganya kembali untuk berdiri dan mengejar para kawanan itu dan mencegah mereka untuk membawa Minjoo.

Namun ia tak bisa.

Darah dari bahunya sudah mengalir cukup deras, menguras kesadarannya.

Yang bisa ia lakukan hanya meneteskan air mata di sudut matanya saat ini.

Merasakan sakit di hatinya yang sama sakitnya seperti bahunya yang tertembak.

“Minjoo-ya..”

Dan pandangannya pun menghitam saat ia tidak melihat lagi Minjoo dan kawanan yang membawa gadis itu.

—TBC—

HALO IH GUYYYYSSSSSS!!!!!

MISS ME GAK, MISS ME GAK??!!!!

MISS ME DONG YAAAAH UDAH 10 HARI NIH GAK UPDATE *.*

Wkwkwkwk gimana liburan kalian? Menyenangkan kah? Senang dong pastinya yaaa!!!

Yang udah sekolah selamat belajar lagi, jangan baca ff aja!!!! Semangat semangat!!!

OHIYA!

Minal aidzin wal faidzin yah, maaf ini so so late^^

Oke ini untuk pembahasan cerita, ff ini bukan bergenre action kok.

Aku hanya mempunyai ide aja kayak gini, nanti di reveal kenapa bisa kayak gini dengan seiringnya chapter berjalan.

Ya namanya orang terkenal+kaya, mana mungkin gak punya musuh sih? Dan lagi, kejadian kayak gini mungkin saja terjadi kan?

Maaf ya kalau makin geje T.T MIANHAMNIDAAAAAA

Ohiya, kalau aku updatenya dengan waktu seginian gimana? Gak apa apa ya? gak apa apa dong ya kan aku yang nulis, MUEHEHEHE gak deng canda…

Gak apa apa ya?! beneran ih sekarang mah akunya juga totally sibuk baget ih gusti, pkm juga belum aku kerjain malah ngerjain ff ini duluan:’’’’’’)

Maaf yah, mohon sabar menunggu^^

Okedeh sekian, see you soon on 11th!!!

19348591454_cb4b7a8fa9_o

내 우주는 전부 너야 / My entire universe is you❤

-Baek’s sooner to be fiancée again-

289 responses to “THE SUN [Chapter 10: The Confession] -by ByeonieB

  1. Yawlaa kenapaa ini lagii :” :” duhh request dongg 1 chapter baek-minjoo semuaa :”” huwaaa kerenn bangett aku mauu nangiss fixx😦😦 /pukk puk\

  2. Shock parahhh!! adegan terakhirnya bikin kaget bangett. Padahal moment Baekhyun Minjoo udh tepat. Ko bisa sih Baekhyun di tembak? penasaran ><

  3. ah seneng perkembangan lagi sama hubungan baekhyun-minjoo.
    honestly aku kesel banget sama minjoo yang pesimis banget sama perasaannya kenapa dia memperjuangkan cintanya malah mikir orang lain yang belun tentu mikirin dia malah orang lain ngebenci dia. tapi dia nyatain cintanya juga dan baekhyun seneng horee..
    asli kak mungkin kamu sama aku kalo ydah gabung mungkin ga bisa berhentu ngoceh apalagi kalo udah udah bahas baekhyun ‘baekhyun addict’ aku lagi berusaha buat ngurangin rasa ke baekhyun malah baca fanfic kakak yang baekhyun ah.
    yaudahlah lah ya wkwkw
    aku baca next chapter dulu kak

  4. Akhir.a minjoo ungkapin perasaan.a juga, haduhh udh enk2 sweet moment aku kira bunyi dorr itu kembang api?! Eee baek ditembak huaaaa konflik apalagi ini muncul-.-

  5. Aaaa papa Byun sayang bgt ah ama Minjoo, bner” beruntung Minjoo ya :’)
    itu Boora pngen w suapin sendal smvah -=- nyebelin bgt sih ah, kepedean gtu jd org ktiga d prnikahan hadeh, hrusnya kn malu, mlah bangga gtu -,-
    Baek nya jg plinplan aahh, wae Baek wae?? Qm kn sukanya ama Minjoo T.T
    itu siapa yg nembakin Baek? Ap mafia msuh perusahannya? Ap junmyeon? Eh bukan deh, kl Junmyeon dy bkal tau, trus siapa dnk? Prasaan Baek gapunya musuh kn?T.T
    aaa lnjut bca ah,, fighting authornim!!! :*

  6. loh siapa yg nembak baekhyun dan kenapa juga dia bawa minjoo >< apa si jumyeon yg nyuruh?
    ya ampun ada aja masalah baru, sama bora dan ibunya baek aja belum kelar tapi nambah lagi sekarang, makin complicated.

  7. AARRGHH
    ITU SIAPA YANG NEMBAK SUMPAH PERUSAK MOMEN AJA DEH
    Baek lagi bahagia dpt pengakuan cinta malah ditembak
    Gua sumpahin ntar deh yaa
    Gregetan baca ceritanyaa
    Jempol deh buat author

  8. Langsung serasa film action ada tembak2an nya kkkk… punya firasat yg jahat bora. Atau mungkin eomma baek? Entahlah. Uwaaah makin rame. Yeay minjoo udh ngaku suka. Tinggal baek nih kenapa sih gengsi banget.
    Fighting eon makin seruu

  9. Yaaaaaaa! Kenapa pas lagi sweet moment ada tembak2an gituuuuuu:( ngefeel bgt ini ff, bener deh thor!!! Keep writing thorrr!:)

  10. omo!!!sp mrk???ada apa sbnrnya???
    andweee…baekhyun jgn mati…
    sehun cptan dtg…ksian minjoo kl smpe dculik…><

  11. Itu siapa pula gerombolan pake topeng?
    Ahhh bikin penasaran dan gemes.
    Author aku salut sama ide ceritanya selalu fresh dan ga bosenin
    Feel ny dapet bgt. Kata2 ny mudah dimengerti,
    Keep writting!

  12. etdaaaaah apalagi dah tuh, ora g lagi so sweet2 nya . mereka siapa? suruhan nya si bora? atau nyonya byun? atau penjahat yg nyasar? yaelah second kiss nya kaga jadi ahhaa

  13. Bazeeng lagi nunjukin masing2 perasaannya malah ada masalah lagi. kampret bgt aslinya tu yg nembak.. kenapa mesti nembak haa gregetㅠㅠ
    Ah klo udh ada masalah kantor kek gini ah udahlah pasti susah diketemuinnya kan? Haaaa jangan😭😭😭😭 biarkan mereka bersama atulah😢
    Ampun kak jan mainin prasaan aku dong :’3 kapan mereka bersatu??!! 😭😭😭😭

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s