Affairs of the Heart [Chapter 9]

Affair of the Heart(9)

AFFAIRS OF THE HEART

Kim Seo Na – Byun Baek Hyun – Byun Hye Ra – Kim Joon Myeon

Romance, Drama, Marriage Life

PG-17

Previous Chapter :

[Chapter 1] [Chapter 2] [Chapter 3] [Chapter 4] [Chapter 5] [Teaser Chapter 6] [Chapter 6] [Chapter 7] [Chapter 8]

C H A P T E R  N I N E

Seona menatap Nara dengan marah. “Aku tidak bisa percaya kau membawanya ke dalam masalah ini.” Seona membentak saat ia berjalan masuk ke dalam ruangannya. Seona membalikkan tubuhnya dan menatap Nara, kemudian menatap pria bertubuh tinggi di sebelah Nara. Pria itu bersurai hitam serta bermata hitam. Pria itu sedang menatapnya dengan khawatir. Ia terlihat lelah tetapi masih tetap terlihat tampan.

“Dan kau mengatakan hal ini padaku sementara aku sedang bekerja! Ini sangat tidak profesional, Nara. Seharusnya kau menungguku sampai aku selesai bekerja.”

“Seona, itu sama saja baik di sini ataupun ketika kau di rumah bersama Joon Myeon, dan kami tidak akan melakukan hal ini kalau kau tidak berbohong dan justru kau mengatakan akan mengakhiri perselingkuhanmu yang faktanya bahwa kau tidak melakukannya. Tidakkah kau pikir aku sangat baik dengan memutuskan untuk melakukan hal ini ketika kau disini bukannya dirumah?”

“Tidak, sebenarnya aku tidak pikir seperti itu. Tapi kau membawa kakakku ke dalam masalah ini! Kau pikir ia akan membuatku sadar? Mengapa kau melibatkan semua orang ke dalam masalah yang bahkan bukan masalahmu!”

Seona menatap kakaknya. “Seberapa banyak ia mengatakan padamu?”

Lee Dongwook menghela nafas. Ia tahu adik kecilnya akan bereaksi seperti ini. Menjadi tujuh tahun lebih tua, ia merupakan satu-satunya yang selalu dapat mengontrol emosinya dan ia biasanya ragu-ragu sementara Seona akan sangat marah bahkan hanya karena hal terkecil.

“Bahwa kau berselingkuh.” Dongwook menatap Seona. “Apakah itu benar? Apakah kau mengkhianati suamimu?”

Seona tidak menjawab walaupun sebenarnya ia tidak ingin menjawabnya. Tetapi Dongwook tahu bahwa semua yang harus ia lakukan adalah menunggu dan menatap balik sampai Seona menyerah.

Hanya semenit berlalu sebelum Seona menjawabnya. “Ya.”

Dongwook mengerang ketika ia menyadari bahwa ia telah salah. Itu bukan sebuah kesalahpahaman.

“Nara, bisakah kau keluar?”

Nara mengangguk sekali dan pergi.

Dongwook menghela nafas dalam-dalam. “Siapa dia?”

Seona menghindari tatapan Dongwook. “Aku bertemu dengannya di sebuah klub.”

Dongwook menaikkan sebelah alisnya. “Aku tidak pernah melihat kau menjadi seorang wanita klub, Kerdil.”

Seona tidak menyukai nama panggilan itu. Dongwook mencoba untuk tidak tersenyum. Ketika mereka masih kecil, Dongwook biasa memanggilnya ‘monster’ tetapi itu hanya sampai Seona berumur enam belas tahun, kemudian Dongwook menggantinya menjadi kerdil karena tinggi badan Seona hampir tidak sampai bahu Dongwook. Tetapi ketika Seona berumur dua puluh satu tahun, Dongwook memaksakan dirinya sendiri untuk mulai memanggilnya ‘Seona’ walaupun kadang-kadang ia akan memanggilnya kerdil.

“Tidak.” Seona menjawab pertanyaan Dongwook. “Hanya kadang-kadang aku pergi kesana.”

Dongwook terdiam sebelum melanjutkan pertanyaan selanjutnya, jadi Seona mengambil kesempatan untuk bertanya. “Kapan kau datang?”

“Hari senin, tiga hari yang lalu. Aku akan balik ke Kanada hari senin depan.” Dongwook terdiam sejenak. “Berapa lama kau telah bertemu pria ini?”

Seona menggigit bibirnya. “Tingga minggu, sejak hari sabtu.”

Seona mendapati dirinya dapat menjawab pertanyaan Dongwook dengan mudah. Tidak seperti Nara, Dongwook bertanya dengan tenang bukannya menuntut dan tidak ada judgement di matanya. Itulah salah satu hal yang Seona suka tentang kakaknya. Dongwook tidak memberikan sebuah opini sampai ia mendapatkan semua faktanya.

Seona menatap Dongwook yang berjalan menuju sofa di ruangannya dan duduk disana. Dongwook menepuk kursi di sebelahnya, mengatakan padanya untuk duduk di sebelahnya.

“Apakah kau dan Joon Myeon memiliki masalah?”

Seona menggelengkan kepalanya, walaupun ia hampir mengatakan padanya tentang kepribadian Joon Myeon yang baru-baru ini terlihat. Sejauh ini, Joon Myeon bertingkah seperti biasanya tetapi ia merasa sifat kerasnya seperti sedang menunggu untuk keluar dari balik sikapnya. Masalahnya adalah Seona tidak tahu kapan itu akan terjadi.

“Apa dia memperlakukanmu dengan baik?” tanya Dongwook.

Seona mengangguk.

“Dia tidak memerlakukanmu dengan kasar?

Seona menggelengkan kepalanya kembali. Ia tidak menatap Dongwook, tetapi menatap pangkuannya, jadi Seona tidak melihat ketika mata Dongwook berkedip dengan cepat seperti menyadari sesuatu.

“Kapan dia menamparmu?” tanya Dongwook dengan pelan.

Seona tersentak dan lantas menatapnya, keterkejutan terlihat jelas di wajahnya.

“Seona, aku mengenalmu. Kau seperti dinamit berjalan. Ketika seseorang menyalakan sumbunya, kau akan marah. Kau akan membentak atau semakin marah padaku bahkan ketika aku berpikir Joon Myeon telah melukaimu. Tetapi justru kau hanya menggelengkan kepalamu dan hal itu membuatku berasumsi bahwa ia telah melukaimu.”

Seona menatap wajah Dongwook yang serius. “Itu hanya sebuah insiden,” bisiknya. “Tetapi akhir-akhir ini aku pikir walaupun itu hanya sebuah insiden, dia seperti senang menamparku. Itupun hanya satu kali.”

Seona merasa itu sangat memalukan bahkan mengakuinya sampai hal sedetail itu. Jadi ketika Dongwook melingkarkan lengannya pada tubuhnya, Seona ingin kabur untuk mencari tempat tersembuyi. Tapi kemudian ia akan lari dari satu-satunya orang yang mengenalnya dengan baik, satu-satunya orang yang ia dapat katakan rahasianya dan tidak mengritiknya. Kakaknya merupakan satu-satunya orang yang tidak akan pernah menyakitinya dan yang akan selalu berada disini bahkan jika ia mengungkapkan hal yang paling menyakitkan baginya.

“Aku minta maaf,” bisik Seona.

“Untuk apa? Joon Myeon melukaimu. Ia tidak seharusnya melakukan itu, walaupun hanya sebuah insiden ataupun tidak.”

Walaupun Dongwook mengatakannya dengan tenang, itu benar-benar keterbalikan dari apa yang ia rasakan. Ia sangat marah. Pria itu telah melukai adik kecilnya! Insting pertamanya adalah menemui Joon Myeon dan memukulnya dengan keras, tetapi ia bukan lagi laki-laki yang menuruti kata hatinya. Terutama ketika menyangkut Seona. Jadi ia hanya menenangkannya dan melindunginya seperti yang seharusnya seorang kakak lakukan.

Setelah Dongwook menenangkannya, ia memutuskan akan mengunjungi Joon Myeon.

“Apakah kau pikir aku salah mengkhianati Joon Myeon?”

Dongwook mempertimbangkan apa yang ingin ia katakan. “Aku tidak tahu.” Ia berhenti sejenak. “Aku harus mengakui bahwa aku tidak pernah menyukai Joon Myeon, jadi jawabannya akan selalu terlihat seperti sebuah sasaran padanya. Tapi kalau kau sangat menginginkan sebuah pendapat…”

“Aku ingin mendengar pendapatmu.”

Dongwook menghela nafas. “Aku tidak berpikir apa yang kau lakukan adalah benar. Tetapi aku juga tidak memercayai Joon Myeon, dan kupikir perselingkuhanmu adalah caramu mengakui hal yang sama. Caramu untuk kabur dari sesuatu yang kau percaya adalah benar, tetapi tidak juga. Terkadang selama pernikahanmu, alam bawah sadarmu memikirkan sesuatu yang tidak benar tentangnya, jadi kau melarikan diri dengan berselingkuh.”

Seona memikirkannya, wajahnya menyerngit. Benarkah itu?

“Aku mengenalmu, Seona.” Dongwook melanjutkan. “Kau adalah wanita yang lucu dan manis, dan aku tahu kau tidak melakukan hal ini hanya karena kau menginginkannya atau karna itu adalah sesuatu yang dilakukan tanpa rencana apapun. Kau ingin menghindari fakta bahwa Joon Myeon, pria yang menikah denganmu dan pria yang kau cintai, bukanlah apa-apa melainkan hanya sebuah ilusi.”

Seona melepaskan diri dari pelukan Dongwook. “Mungkin. Itu memang masuk akal, terutama sifat kerasnya yang baru saja terlihat.”

“Kapan ia menamparmu?”

Seona menggigit bibinya kembali. “Minggu lalu tepatnya hari jumat. Bagaimanapun itu hanya sebuah insiden. Aku telah menerima permintaan maafnya. Tapi kemudian ia mencoba untuk mengontrolku, mencoba untuk mengatakan apa yang harus kulakukan, seperti ia orang dewasa dan aku bukan apa-apa melainkan anak kecil. Itulah yang tidak pernah bisa kumaafkan. Tetapi hari selasa kemarin merupakan hari ketika aku benar-benar menyadari bahwa ia bukanlah pria yang sama.”

“Kau harus meninggalkannya.”

“Aku tahu.”

“Sekarang. Maksudku saat ini juga.” Dongwook berdiri dan menarik lengan Seona. “Kau ikut denganku ke Kanada.”

“Tidak.”

Dongwook menatap Seona dengan tatapan tidak percaya. “Kau bercanda? Kau tidak bisa tinggal disini bersama suamimu yang kasar!”

“Aku harus.”

“Mengapa?”

“Karena aku memiliki sebuah toko yang masih berjalan. Aku memiliki teman disini. Dan Joon Myeon adalah salah satu anggota kabinet. Ia akan mengada-ada cerita, dan kalau aku tidak kembali padanya atau kalau ia tidak menemukanku, ia akan menghancurkan reputasiku. Ia akan mengada-ada kebohongan.”

Seona memikirkan hal ini semalaman. Beberapa kali ia berkata pada dirinya sendiri bahwa ia akan pergi, tetapi pada akhirnya ia menyimpulkan bahwa ia tidak bisa. Seiring berjalannya waktu bagaimana dan kapan Joon Myeon akan menemukannya? Dan bahkan kalau Joon Myeon tidak menemukannya, ia akan mencari wanita yang mudah ditipu dan menikahinya, dan kemudian ia akan memukulnya.

Tidak, Seona tidak bisa pergi. Seona harus tinggal bersamanya jadi ia bisa mendapatkan bukti yang cukup untuk menjatuhkannya. Itulah setidaknya yang dapat ia lakukan untuk melindungi dirinya dan juga wanita lain di masa depan.

“Aku harus tetap tinggal disini. Maafkan aku, Oppa.”

Dongwook menghela nafas karena frustasi, melihat tatapan keras kepala Seona. “Fine. Tapi kalau kau tinggal disini maka aku juga tinggal disini. Di rumahmu.”

Seona mengerjap. “Kenapa?”

“Ia tidak akan dapat melukaimu ketika aku berada satu atap dengannya.”

Seona tahu Joon Myeon akan mencari jalan lain. Mungkin di kamar mereka.

“Tapi bagaimana dengan keluargamu? Dahae, Hyunjoo, Hana, Hani?”

Dahae adalah istri Dongwook. Hyunjoo, Hana dan Hani adalah anak mereka. Mereka sangat berisik namun juga keluarga yang bahagia dan Seona sangat menyayangi mereka. Ia juga tahu bahwa Dongwook jarang meninggalkan mereka dalam waktu lebih dari satu minggu, terutama ketika pergi keluar Kanada. Jadi ia harus bertanya apa yang akan kakaknya lakukan.

Dongwook menjawab dengan cepat. “Aku akan membawa mereka kesini.”

Seona mengerjap kemudian terperangah. “Kau tidak bisa lakukan itu. Kau tidak bisa mengirimkan semua keluargamu dari belahan dunia hanya untukku.”

“Aku tidak peduli. Kau pasti lupa bahwa Dahae menyayangimu juga dan anak kami menyayangi bibi kesayangan mereka.”

Seona lantas menggumam, “Aku hanya satu-satunya bibi mereka.”

Itu merupakan jawaban yang selalu sama ia berikan pada Hyunjoo ketika Hyunjoo selalu mengatakan bahwa ia merupakan bibi kesayangannya setiap kali Seona mengunjungi mereka setahun dua kali.

“Dengar, semua apa yang ingin kukatakan adalah kami semua menyayangimu dan ingin melindungimu. Dan kalau itu artinya datang dan tinggal disini, kami akan melakukannya.”

“Joon Myeon mungkin akan marah,” ucap Seona seperti memberi peringatan.

Dongwook mengerutkan keningnya. “Benar.”

Dongwook lupa bahwa adik iparnya tidak menyukainya ataupun keluarganya. Terutama anak-anaknya, walaupun si brengsek itu tidak pernah benar-benar bertemu mereka. Itulah mengapa Joon Myeon tidak pernah datang ke Kanada untuk berkunjung ke rumahnya.

Tetapi sekarang Dongwook tahu bahwa ia tidak bisa membuat seluruh keluarganya tinggal bersama Seona. Joon Myeon mungkin akan memukuli Seona.

“Hanya ada satu alternatif lain untuk semua ini. Apakah kau bersedia melaporkan Joon myeon kepada pihak yang berwajib?”

Oppa, aku tidak bisa.”

“Kenapa tidak?” Dongwook semakin kesal dengan sikap Seona. Lebih-lebih karena ia tidak bisa mengatakan lagi apa yang seharusnya Seona lakukan. Dongwook kehilangan semua haknya untuk mengatur Seona ketika Seona berusia delapan belas tahun dan itulah yang paling membuatnya kesal. Jika ia bisa, Dongwook akan menarik Seona-walaupun ia menangis atau berteriak-menuju bandara dan terbang ke Kanada. Sayangnya, Seona hanya akan membencinya karna melakukan itu.

”Apakah mereka akan percaya padaku? Memarku nyaris tak terlihat, teman-temanku tidak melihat ada yang salah dengan pernikahan kami, dan Joon Myeon adalah salah satu anggota kabinet. Ditambah lagi kalau polisi menginvestigasi, mereka akan mengetahui perselingkuhanku dan mereka akan mengecapku sebagai istri yang buruk. Pasti mereka tidak akan membantuku.”

Dongwook mendesah frustasi. “Fine. Keluargaku akan datang kesini. Kami akan tinggal di hotel atau mungkin menyewa apartemen terdekat. Tapi kami akan datang setiap hari ketika kau berada di rumah.”

“Kau yakin?” tanya Seona dengan wajah cemberut. Seona sangat ingin mereka bersamanya. Tidak hanya ia tidak ingin melewati masalahnya sendirian. Bertemu dengan Dongwook dan keluarganya hanya setahun dua kali tidaklah cukup. Tetapi ia tidak ingin mereka melewati semua masalah ini hanya karna untuknya.

“Aku yakin,” ucap Donwook dengan sungguh-sungguh. “Aku akan menghubungi Dahae dan mengatakan padanya.”

Seona tersenyum dan memeluk Dongwook. “Kau adalah oppa terbaik sedunia!”

“Aku tahu.” Dongwook menunduk menatap Seona. “Sekarang, ceritakan lebih banyak tentang pria yang kau temui di klub.”

.

.

.

Baekhyun mengangkat telepon pribadinya di kantornya ketika telepon itu mulai berbunyi. Ia mengangkatnya dan terkejut mendengar suara Chen.

“Bai Xian, ini Chen. Ada kabar untukmu.”

“Tentang istrinya?”

“Ya. Sepertinya keberuntungan berada di pihak kita karena Nyonya Kim ternyata berselingkuh.”

“Bagaimana kau tahu?”

“Aku mengikuti dia dari rumahnya dan hampir setiap malam ia keluar bersama kekasihnya.”

“Chen, kau butuh

“Kehidupanku telah pergi ketika perusahaanku hancur. Lagian, aku akan mengatakan padamu nanti tapi aku ingin memastikannya lagi. Aku memiliki sedikit keraguan tapi sekarang sudah dipastikan.”

“Bagaimana itu dipastikan?”

“Sebelumnya aku berencana akan memfoto dia ketika ia sedang memberikan sebuah ciuman di bibir kekasihnya. Tetapi beberapa hari yang lalu aku justru melihatnya sedang ‘making out’ dengan kekasihnya di dalam mobil milik pria itu.”

Baekhyun tersenyum. “Jadi kapan kau akan menyusun foto-foto itu dan mengirimkannya pada Joon Myeon?”

“Aku tidak tahu, aku ingin mencoba untuk memfoto kekasihnya. Itu mungkin membutuhkan waktu sedikit lama.”

Intercom-nya berbunyi. “Tunggu sebentar, Chen.”

Baekhyun menekan sebuah tombol di intercom dan berbicara dalam bahasa Korea. “Ya?”

“Seseorang di sini untuk bertemu denganmu, Kwajangnim.”

“Baiklah.”

Baekhyun melepas tombol itu dan kembali mengubah bahasa bicaranya menjadi bahasa mandarin. “Chen, aku harus pergi. Nanti hubungi aku lagi, oke?”

“Aku mengerti. Mudah-mudahan pada saat aku menghubungimu, aku akan dapat mengatakan padamu bahwa aku mendapatkan foto kekasihnya.”

Baekhyun tertawa kecil dan menutup teleponnya tepat bersamaan dengan pintu ruangannya yang terbuka. Baekhyun terkejut dan merasa senang ketika Seona berjalan melewati pintu ruangannya.

Well, what do I owe this pleasure?

A kiss,” jawab Seona seraya menutup pintu dan berjalan menuju meja Baekhyun. Seona meletakkan kedua tangannya di atas meja dan tersenyum, menatap Baekhyun di sebrang meja kayu yang mengkilap. “Bagaimana?”

Baekhyun berpura-pura berpikir. “Dari siapa aku akan mendapatkan ciuman ini?”

“Dari seorang wanita cantik yang bertalenta.” Perlahan Seona berjalan mengitari meja.

Baekhyun berusaha menyembunyikan seringaiannya dan menganggap seperti sebuah proposal bisnis. “Apakah aku akan mendapatkan keuntungan?”

“Hmm . . . iya.”

“Dan berapa lama ciuman ini akan berakhir?”

“Selama paru-paru kita bisa bertahan tanpa oksigen.”

“Apakah pintu sudah terkunci?”

“Tentu.” Akhirnya Seona berada tepat di hadapan Baekhyun kemudian duduk di pangkuannya. “Bagaimana?”

“Apakah aku akan kehilangan sesuatu?”

A couple of minutes out of your day.”

Sekarang Baekhyun membiarkan seringaiannya terlihat. “Cukup adil.”

Dan Baekhyun menarik kepala Seona kebawah untuk menciumnya. Baekhyun senang mencium Seona. Ia membiarkan Seona mengambil alih dan mengizinkannya memperdalam tautan mereka. Baekhyun sendiri menikmatinya. Beberapa menit kemudian Seona mengangkat kepalanya dan tersenyum.

“Bagaimana?” tanya Seona sedikit terengah-engah.

Wonderful.”

Baekhyun kembali menyenderkan punggungnya di kursi saat Seona mengistirahatkan kepalanya di dadanya. Seraya menatap puncak kepala Seona, Baekhyun penasaran mengapa Seona berada disini. Meskipun Seona tahu dimana Baekhyun bekerja, Seona tidak pernah mendatangi kantornya dan Baekhyun tidak mengharapkan juga. Walaupun semenyenangkan apapun ciuman itu, Baekhyun tahu pasti ada sesuatu yang membuat Seona datang.

“Sekarang, apa alasan sebenarnya kau berada disini?”

“Aku ingin bertanya.”

“Apa?”

“Sabtu ini, apa kau sibuk?”

Baekhyun berpikir. “Tidak, kenapa?”

“Apa kau keberatan datang ke taman?”

“Tidak.”

“Bagus, kau dan aku akan bertemu di taman pukul dua belas siang nanti.”

“Tentu, tapi mengapa aku harus bertemu denganmu?”

Seona menatap Baekhyun dan tersenyum melihat ekspresi bingung di wajahnya. Itu terlihat menggemaskan. “Kakakku berada di Seoul dan tinggal disini untuk sementara. Keluarganya besok juga datang. Kakakku ingin bertemu denganmu.”

Dongwook langsung menghubungi Dahae setelah Seona selesai semua yang ia ketahu tentang Baekhyun pada Dongwook. Dahae sangat senang sekali mengunjungi Seoul dan ajaibnya Dahae dapat memesan tiket yang pergi dalam waktu beberapa jam lagi. Dongwook ingin bertemu pria yang baru saja datang di kehidupannya dan bersikeras memintanya untuk mempertemukannya dengan Baekhyun sampai ia menyerah. Seona percaya kakaknya, Dongwook tidak akan mengatakan pada siapapun. Seona juga percaya Dahae jadi ia tahu bahwa kakak iparnya tidak akan mengatakan pada siapapun juga ketika Dahae mengetahu bahwa ia berselingkuh.

Seona sedikit khawatir tentang anak-anak mereka, tetapi kemudian ingat bahwa Hyunjoo tidak bertemu dengan Joon Myeon sejak ia berusia tiga tahun, jadi Hyunjoo tidak akan mengingat Joon Myeon dan si kembar tidak pernah bertemu dengannya. Jadi Seona aman.

“Bertemu denganku?” Baekhyun mengangkat sebelah alisnya. “Kenapa?”

“Kau terlalu banyak bertanya.”

“Maafkan rasa penasaranku.”

Seona menghela nafas. “Kakakku selalu bertemu dengan pria yang kencan denganku sejak aku berusia enam belas tahun dan itu masih tidak berubah.”

Sebanyak Baekhyun ingin bertemu seseorang dari keluarga Seona. Ia tidak yakin jika ia akan melaluinya dengan mudah. Seona telah mengatakan padanya betapa sangat protektif kakaknya terhadap Seona dan juga mengatakan padanya bagaimana kakaknya menakuti dan mengusir teman laki-lakinya. Baekhyun tidak takut, atau setidaknya itulah apa yang ia katakan pada dirinya, tetapi ia penasaran berapa lama kakaknya akan lakukan untuk menyingkirkannya.

Seona pasti telah mengerti apa yang Baekhyun sedang pikirkan, karena Seona menepuk dada Baekhyun dengan pelan. “Jangan khawatir. Kakakku bisa mengontrol dirinya sendiri. Ia tidak akan menakutimu. Ia akan bertanya padamu, itu sudah pasti, tetapi ia tidak akan menakutimu.”

“Aku tidak takut.”

Seona menyeringai. “Bohong. Kau takut.”

Baekhyun tersenyum. “Yaa, mungkin sedikit.”

Baekhyun melingkarkan lengannya pada pinggang Seona dan menggendongnya sebelum mendudukkan Seona di mejanya. Seona terlihat bingung. “Apa yang kau lakukan?”

“Aku pernah melihat di film seorang atasan tidur dengan seorang wanita di mejanya.” Baekhyun meletakkan tangannya di pipi Seona.

“Aku ingin tahu bagaimana rasanya.” gumam Baekhyun, kemudian ia meletakkan bibirnya di bibir Seona.

.

.

.

Saat Joon Myeon membuka pintu, Dongwook menahan dirinya untuk menghajar Joon Myeon saat itu juga. Tangan kanannya bahkan bergerak sepersekian inci sebelum ia mengepalkan tangannya, membenamkan kukunya yang pendek ke kulitnya. Dongwook tidak ingin melukai Joon Myeon karena ia takut Joon Myeon akan memukul adiknya sebagai balasannya.

Jika Seona tidak terlibat, Dongwook akan memberikan singa ke dalam rumahnya dan hanya menunggu pria yang ada di depannya ini dicabik menjadi beberapa potongan.

Tetapi Dongwook sedikit puas melihat raut wajah Joon Myeon yang terkejut dan gugup sebelum raut wajahnya kembali ke semula.

“Dongwook?” Joon Myeon menaikkan sebelah alisnya. “Ini membuatku terkejut. Seona tidak mengatakan padaku kau datang.”

Suara Joon Myeon terdengar monoton, tetapi Dongwook dapat mendengar sedikit kemarahan pada nada bicaranya.

“Ia tidak tahu. Aku baru saja membuatnya terkejut tadi pagi. Aku hanya ingin datang dan berbicara denganmu.”

Joon Myeon terlihat ragu. “Tentang?”

“Tentang adikku.”

“Apakah sesuatu . . . terjadi?”

Ya, kau menamparnya, brengsek.

“Aku pikir begitu.”

Karena Joon Myeon tidak berpindah dari pintu, Dongwook secara mental menaikkan bahunya dan mendorong tubuh suami adikknya agar ia dapat masuk ke dalam, dan berjalan menuju ruang tamu. Beberapa detik kemudian Dongwook mendengar suara pintu yang dibanting dan langkah kaki.

Dongwook duduk ketika Joon Myeon datang menuju ruang tamu. Dengan diam, Joon Myeon berjalan menuju kursi yang-Dongwook sadari-berada sangat jauh darinya.

Itu mungkin yang terbaik. Setidaknya untuk Joon Myeon.

“Adikku memiliki memar yang nyaris tak terlihat di pipinya. Aku yakin seiring berjalannya waktu memar itu telah menghilang. Tidak hanya itu, ia terlihat . . . aku tidak tahu, gugup mungkin? Terutama disekitar pria. Pagi ini, setiap kali seorang pengunjung pria masuk ke dalam tokonya, ia akan terus menjaga jarak diantara mereka, dan ia tidak akan memperkenankan mereka menyentuhnya.”

Dongwook menatap Joon Myeon dengan penasaran setelah menceritakan kebohongan itu, melihat Joon Myeon duduk dengan kaku dan tegap. Ia menyembunyikan senyuman puasnya. Jika Dongwook tidak dapat membunuhnya, kenapa tidak bermain-main sedikit dengan pikirannya?

“Apakah kau tahu kenapa ia tiba-tiba seperti itu?”

Joon Myeon mengangkat bahunya. “Aku tidak pernah menyadari sebuah perubahan pada Seona.”

“Kau yakin? Ketika ada seorang pria menyentuh tangannya, Seona berteriak dan anehnya tangannya memegang pipinya seakan-akan melindungi pipinya.”

Kebohongan lain.

Tidak ada balasan dari Joon Myeon.

“Aku pikir seseorang menamparnya.”

Joon Myeon memucat, walaupun ia mencoba untuk tetap tenang. Apakah Dongwook tahu bahwa ia menampar Seona? Joon Myeon duduk setegak mungkin agar ia dapat menahan tubuhnya yang gemetar. Lee Dongwook memiliki tempramen yang keras. Dongwook bukanlah pria yang bisa diajak main-main dan jika Dongwook mengetahui bahwa ia telah menampar adiknya dan mengontrolnya seperti sebuah boneka . . .

Matilah, Joon Myeon.

“Hmm . . . Joon Myeon? Bagaimana menurutmu? Apa seorang pria telah menamparnya? Seseorang yang ia tahu? Seseorang yang ia percaya?” Dongwook sedang menekannya seraya menelitinya. Ia memikirkan adik kecilnya yang mungkin takut di tinggal sendiri bersama pria ini, dan Dongwook mengepalkan tangannya lagi. “Mungkin seorang teman?”

“Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan.”

Tiba-tiba Dongwook tahu bagaimana untuk menyakiti Joon Myeon tanpa membuatnya menyakiti Seona sebagai balasannya. “Kau yakin? Kau tahu betapa proktetifnya aku terhadap adikku. Aku akan benar-benar membunuh pria manapun yang menyakitinya.”

“Aku tahu.”

Dia gugup . . . Dan itu bagus . . .

“Itulah mengapa aku butuh bantuanmu untuk membantuku mencari siapa yang telah menampar adikku.”

“Apa yang membuatmu berpikir seseorang telah menyakitinya?” bentak Joon Myeon dengan marah. Sedikit lagi Dongwook akan mengetahui kebenarannya dari mulut Joon Myeon sendiri.

Dongwook memandangnya dengan marah. “Kau pikir aku bohong?” Dongwook membentak balik. Ia tiba-tiba berdiri. “Kau pikir aku mengada-ada cerita?”

“Tunggu- aku tidak bermaksud untuk-”

“Apakah kau yang menampar adikku, Joon Myeon? Karna aku sangat yakin kaulah yang melakukannya. Tidak mungkin kau tidak menyadari memar itu kecuali kau adalah orang yang menyebabkannya.”

Joon Myeon menahan keinginannya untuk kabur. Kakak iparnya terlihat marah, wajahnya memerah. “Aku tidak menampar-”

Sedetik kemudian Dongwook berada di hadapan Joon Myeon dan menarik kerahnya ke atas, membuat kakinya melayang di atas lantai. “Aku tahu kau berbohong, Joon Myeon. Aku seorang polisi- kau tahu bagaimana aku memperlakukan seorang kriminal yang tidak mematuhi hukum. Kau tahu aku bisa membuat pria yang lebih kuat darimu mengakui kejahatan terbesarnya. Kau tahu aku bisa mengetahui apapun dengan cepat. Sekarang, aku akan bertanya padamu lagi- apakah kau yang menampar adikku?”

Joon Myeon mempertimbangkan apakah ia harus berbohong atau tidak, dan ia hampir melakukannya, tetapi ia juga sangat takut. Dongwook selalu membuatnya gugup, dengan tubuhnya yang lebih tinggi, lebih kuat dan karena ia seorang polisi. Sedangkan dirinya lebih pendek, lebih kurus, dan hanya seorang anggota kabinet. Di dalam politik, Joon Myeon selalu menjadi pemenang.

Tetapi dalam hal paksa-memaksa . . .

“I-Itu hanya sebuah i-insiden,” ucap Joon Myeon dengan terbata, walaupun ia jijik mendengar suaranya sendiri seperti itu. Entah mengapa ia dapat mendengar suara ayahnya yang tertawa di dalam pikirannya.

“Jadi, kau yang menamparnya?”

“Aku hanya ingin dia melepaskan cengkramannya dari tanganku. Aku tidak- maksudku, aku tidak bisa menghentikan tanganku untuk menampar pipinya.”

Dongwook mengangguk dengan tenang dan melepaskan cengkramannya di kerah Joon Myeon. “See? Apakah itu sangat sulit? Bukankah kau sekarang merasa lebih baik?”

Joon Myeon hanya memiliki beberapa detik untuk santai sebelum rasa sakit menjalar melalui rahangnya dan terjatuh ke lantai. Ia memegang rahangnya dengan rintihan rasa sakit dan menatap Dongwook yang tetap terlihat tenang.

Bahkan sangat tenang.

Dongwook membungkuk di samping Joon Myeon dan memberikannya sebuah senyuman kecil. Sekecil apapun itu tetap saja terlihat menakutkan. “Kau tahu, Joon Myeon. Aku akan menganggap kunjunganku kali ini tidak pernah terjadi. Aku akan menganggap kau tidak mengakui bahwa kau menyakiti adikku. Aku akan menganggap bahwa kau bukanlah seorang pria brengsek. Tapi aku tidak akan berpura-pura untuk menyukaimu. Aku tidak akan berpura-pura menjadi temanmu. Dan kalau kau menyakiti adikku lagi, aku akan melakukan hal lebih dari memukul rahangmu. Aku seorang polisi. Aku memiliki koneksi. Aku bisa menutupi jejakku dengan mudah tanpa seorangpun mencurigai bahwa aku terlibat di dalam, hmm, kematianmu.”

Dongwook menaikkan kedua alisnya dengan rasa ingin tahu. “Sudah jelas? Atau haruskah aku lebih memerjelaskannya lagi?”

Joon Myeon hanya mengalihkan pandangannya.

Dongwook menyeringai dan berdiri. “Aku akan keluar.”

Beberapa detik kemudian suara bantingan pintu terdengar. Joon Myeon tetap berada di lantai, masih mengusap-usap rahangnya.

Seona belum mengatakan pada kakaknya bahwa dirinya lah yang menamparnya. Dongwook pasti mengetahui dengan sendirinya, karena Seona tidak mungkin memiliki keberanian untuk mengatakannya. Disamping itu, Dongwook selalu cepat menyusun teka-teki dan Dongwook tidak pernah memercayai dirinya sejak saat pertama kali mereka bertemu.

Betapa bencinya ia pada Dongwook!

Joon Myeon akhirnya berdiri dari lantai seraya menggerutu.

Baik. Ia tidak akan menampar ataupun memukul Seona. Setidaknya karena Dongwook mengetahui bahwa dirinya yang menampar Seona. Ya, Joon Myeon ingin melepaskan amarah yang ia rasakan tetapi ia takut jika ia menyentuh Seona, akhirnya ia akan memukul Seona dan berakhir meninggalkan memar-memar di tubuh Seona.

Joon Myeon tidak ingin mengambil resiko. Dongwook terlalu kuat dan terlalu kejam.

Tapi bukan berarti Joon Myeon tidak akan menampar Seona lagi. Seiring berjalannya waktu, Dongwook akan pergi. Dan bahkan jika Dongwook harus tinggal disini, ia tidak akan selalu berada di sekitar Seona untuk melindungi adik kecil kesayangannya.

Dan siapa bilang luka memar harus terlihat?

Paha Seona selalu tertutup dan juga perutnya, payudaranya, punggungnya . . . Banyak tempat dimana ia bisa memukulnya dan luka memar itu tidak akan pernah terlihat.

Dan ia memiliki kekuasaan untuk mengontrol Seona, untuk memastikan Seona tidak akan pernah mengatakan satu katapun apa yang ia lakukan padanya. Ia akan menakuti Seona sehingga Seona tidak akan mengatakan satu katapun. Tidak sepatah katapun.

Selalu ada jalan untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.

Ayahnya mengajarkannya tentang itu.

Pasti selalu ada jalan . . .

.

.

.

[Saturday at Park 11:30]

Haneul memeriksa riasan wajahnya ketika ia mencuci tangannya di toilet umum. Chanyeol sedang menunggunya di dalam mobil mereka. Chanyeol dan Haneul datang kesini untuk melihat matahari terbit karena mereka tidak pernah melakukannya lagi dalam waktu yang cukup lama dan juga karna mereka membutuhkan waktu istirahat. Menunggu Baekhyun untuk mencari tahu semuanya yang membuat mereka sangat jengkel.

Haneul melirik pintu ketika seseorang masuk ke dalam. Itu adalah seorang wanita bersurai cokelat. Wanita itu berjalan dan berdiri tepat di sebelah Haneul, menunduk kebawah ketika ia mencuci tangannya. Ketika wanita itu mendongakkan kepalanya, ia tersenyum.

“Diluar panas, kan?”

Haneul tersenyum. “Ya. Aku dan suamiku berada disini sejak matahari terbit tetapi sekarang semakin panas.”

“Oh, kau sudah menikah?”

“Ya. Sudah hampir tiga tahun.”

“Punya anak?”

Haneul ragu. “Aku memiliki anak laki-laki, tetapi ia meninggal . . . karena kecelakaan mobil.”

“Oh, aku turut berduka cita.”

“Tak apa. Aku telah belajar untuk tegar menghadapinya. Bagaimana denganmu? Apa kau sudah menikah?”

Seona ragu. Ia bahkan tidak ingin menyebut Joon Myeon. Sisi kerasnya masih tersembunyi, tetapi Seona takut kalau ia menyebutkan namanya, sisi kerasnya akan keluar. Bahkan hari ini Joon Myeon semakin marah ketika ia berkata akan pergi ke taman. Tetapi ketika ia mengatakan kakaknya akan berada disana, Joon Myeon menggerutu dan tidak menghentikan dirinya untuk pergi ke sana.

Dongwook benar. Dengan ada kakaknya di sini, Joon Myeon benar-benar tidak dapat mengontrolnya.

“Tidak. Aku memiliki seorang kekasih.” Seona meraih tissue untuk mengeringkan tangannya.

“Benarkah?”

“Ya. Ia sangat hebat. Itu membuatku penasaran bagaimana bisa ia masih lajang.”

“Siapa namanya?”

Sebelum Seona dapat menghentikan dirinya, tanpa sengaja ia menyebutkan namanya. “Baekhyun.”

Sial!

Ia tidak bermaksud untuk menyebutkan nama Baekhyun. Tetapi ia tahu bahwa itu tidak penting. Wanita ini adalah orang asing. Itu sangat diragukan bahwa ia mengenal Baekhyun.

Seona mendengar suara anak laki-laki diikuti dengan ketukan pintu. “Auntie Seona!”

“Aku harus pergi. Senang berbicara denganmu.”

“Ya.”

Haneul menatap Seona yang keluar dari toilet umum sebelum berbalik menatap cermin. Wajahnya pucat seputih kertas.

Baekhyun. . . Byun Baekhyun?!

Dengan segera Haneul mengeringkan tangannya dan pergi dari toilet tersebut dengan berlari. Ia harus mengatakannya pada Chanyeol.

Meraih pintu mobil, Haneul sedikit tergelincir saat menghentikan langkah kakinya dan kemudian menarik pintu mobil sehingga terbuka.

“Baekhyun berselingkuh,” seru Haneul saat ia memasuki mobil dan menutup pintunya.

Chanyeol mengerjap. “Huh?”

“Seorang wanita memasuki toilet umum dan aku berbicara dengannya. Hanya sebuah percakapan biasa. Tetapi kemudian ia mengatakan bahwa ia memiliki seorang ke kasih dan ketika aku bertanya siapa namanya, ia menjawab kekasihnya adalah Byun Baekhyun!”

Chanyeol terlihat terkejut dan hanya menatap Haneul.

“Chanyeol, ini masalah besar! Kalau Baekhyun berselingkuh maka ini akan menjadi sebuah masalah karena kalau Hyera mengetahuinya ia tidak akan perlu lagi menunggu untuk memiliki anak. Ia akan langsung membunuhnya!”

“Haneul, tenanglah. Kau mungkin hanya salah mendengar saja. ”

Haneul melihat sekilas kaca depan mobil. “Apakah itu hanya sebuah kebetulan saja nama kekasihnya mirip dengan Baekhyun yang kita kenal?”

Chanyeol melihat keluar jendela dan tersentak. Tentu saja disana ada Baekhyun yang sedang berjalan menghampiri seorang wanita. Tetapi ciuman yang Baekhyun berikan kepada wanita itulah yang meyakinkan Chanyeol.

“Kalau Hyera tahu. . .” Chanyeol mengatakannya dengan pelan “ia tidak akan menjadi satu-satunya yang membunuh Baekhyun. Da Xian juga.

Tanpa berbicara apapun lagi, Chanyeol mengendarai mobilnya keluar dari pelataran parkir taman.

.

.

.

Setelah Baekhyun memberikan Seona sebuah kecupan manis dan melepaskan tautan mereka, Seona berkata, “Kau sedikit lebih awal.”

“Aku ingin membuat kesan yang baik.”

“Kau bertemu kakakku, bukan ayahku.” Seona meraih tangan Baekhyun dan menariknya ke tempat dimana Dongwook dan keluarganya berada. Ketika Seona menghampiri mereka, ia berkata, “Semuanya, ini Byun Baekhyun. Sayang, ini Dongwook, kakakku, dan istrinya Dahae.”

Dongwook mengulurkan tangannya. Tatapan menusuk Dongwook membuat Baekhyun berpikir bahwa Dongwook mencoba untuk melihat ke dalam benaknya untuk memastikan bahwa adikknya bersama pria yang tepat. Tetapi Dongwook juga tersenyum, jadi hal itu membuatnya lebih mudah. “Senang bertemu denganmu, Baekhyun-ssi.”

“Senang bertemu denganmu juga=

Baekhyun melihat wanita yang berdiri disamping Dongwook saat wanita itu tersenyum. Dia cantik, memiliki rambut berwarna pirang yang cukup terang dan bermata hitam. “Well, sepertinya Seona benar bahwa kau adalah pria tertampan yang pernah kutemui.”

Baekhyun tersenyum seraya melirik Seona.

“Hey!” Dongwook berpura-pura mengomeli. “Bagaimana denganku?”

“Kau adalah pria terseksi yang pernah kutemui. Dan itu adalah dua hal yang berbeda.”

Diam-diam Seona menghela nafas lega. Dongwook dan Dahae terlihat menerima Baekhyun karena mereka berbicara padanya dengan ramah dan mereka berdua sungguh-sungguh.

Tiba-tiba tiga bersaudara berlari di antara para orang dewasa. Mereka terlihat sedang bermain sebuah permainan, kemudian Dahae meraih lengan si sulung sedangkan Dongwook berjalan untuk meraih si kembar.

“Ini Hyunjoo, anak pertama kami.”

Baekhyun melihat Hyunjoo yang menatapnya dengan tatapan aneh.

Hyunjoo, what do you say?” tanya Dongwook.

You’re tall.” Itulah jawaban yang keluar dari mulut Hyunjoo.

Baekhyun tersenyum lebar kemudian membungkuk agar tinggi badannya setara dengan Hyunjoo. “Kau sendiri cukup tinggi. Berapa usiamu?”

“Sembilan.”

That’s amazing. Kalau kau minum susu yang cukup dan makan makanan sehat, aku yakin kau akan bisa setinggi ayahmu.”

Really?” Hyunjoo membalikkan tubuhnya dan menatap ibunya. “Mommy, I want milk. I’m too short. I should be-” ia merenggangkan lengannya setinggi mungkin bahkan sampai berjinjit “-this tall!”

You’re just the right size, sweetie. But I’ll give you milk later.

“Ini Hana dan Hani.” Dongwook memperkenalkan si kembar yang tersenyum lebar seraya berpegangan pada leher ayah mereka. “Usia mereka tiga tahun.”

Dongwook menggeleng-gelengkan kepalanya. “Sangat dimanja oleh Dahae.”

“Seperti Hyunjoo tidak dimanja oleh ayahnya?”

Baekhyun semakin menjadi nyaman dengan mereka ketika mereka semua memutuskan untuk duduk dan makan makanan yang dibawakan oleh Seona dan Dahae. Mereka membicarakan tentang banyak hal, tetapi kebayakan Dongwook dan Dahae bertanya tentang dirinya dan kehidupannya, dan kebanyakan pertanyaan berasal dari Dongwook. Ia menjawabnya dengan mudah dan dengan hati-hati ia tidak menyebut istrinya dirumah, yang marah padanya ketika ia berkata akan pergi keluar. Akhir-akhir ini, Hyera terlihat mencoba untuk membuatnya tetap dirumah, walaupun ia sendiri tidak tahu mengapa. Tetapi pasti ada sesuatu- sesuatu yang tidak bisa ia pahami. Ada sesuatu yang ia seharusnya sadari tetapi justru tidak. Semua hal yang Chanyeol katakan masih tersimpan di otaknya, dan ia tahu apapun itu yang tidak bisa ia pahami adalah entah bagaimana keterkaitan apa yang Chanyeol katakan.====

Tetapi untuk sekarang, ia menyingkirkan pemikiran itu dibalik benaknya. Yang ingin ia lakukan sekarang adalah menikmati kebersamaan dengan keluarga Seona dan dirinya sendiri.

Sekarang hampir pukul empat sore ketika Seona duduk di kursi taman, melihat Baekhyun yang sedang bermain dengan para keponakannya. Baekhyun terlihat sangat senang, menghiraukan dirinya menjadi kotor karena duduk di tanah dan si kembar terlihat sangat menyukai pria asing yang baru saja mereka temui hari ini.

“Ia terlihat sangat menikmatinya,” ucap Dahae seraya duduk disamping Seona.

“Ya, benar,” gumam Seona pelan, masih menatap Baekhyun. “Oppa dimana?”

“Menaruh barang-barang di dalam mobil.” Dahae menolehkan kepalanya. “Pernahkah Joon Myeon bertingkah seperti ini di sekitarmu?”

Seona menggelengkan kepalanya. “Joon Myeon selalu diam. Bukan diam karena malu, tetapi lebih tepatnya diam karena bosan. Sementara semua orang berbicara, ia hanya tetap terdiam dan akan bicara kalau ditanya, seperti yang lainnya tidak pantas mendapatkan perhatiannya.” Seona menghela nafas. “Aku tidak tahu bagaimana bisa aku tidak menyadari bahwa ia ternyata kasar.”

Dahae menatap adik iparnya dengan khawatir. Ia selalu merasa bahwa Joon Myeon tidak pantas untuk Seona, tetapi ia hanya diam saja karna ia sendiri tidak berhak untuk mengatakan dengan siapa Seona harus menikah dan dengan siapa Seona tidak harus menikah. Tetapi sesuatu selalu terasa salah tentang Joon Myeon, seperti aura kejahatan mengelilinginya.

Sekarang ia tahu kenapa.

Ketika ia diberi tahu bahwa Seona berselingkuh, ia terkejut. Dan kemudian ia menjadi marah ketika diberi tahu bahwa Joon Myeon telah menampar Seona. Tetapi ia juga menjadi khawatir karena kalau Joon Myeon mengetahui istrinya mengkhianatinya, Dahae penasaran apa yang akan ia lakukan, dan tidak ada satupun kejadian yang menyenangkan.

Tetapi Baekhyun berbeda. Ia terlihat ramah dan tidak peduli menjadi kotor karena duduk di atas tanah. Ia juga memiliki pengalaman dengan anak-anak karena ia dengan mudah mengurus Hyunjoo dan si kembar. Ia pasti akan menjadi ayah yang baik. Tetapi paling terpenting, ia memperlakukan Seona dengan rasa hormat. Matanya akan selalu menjadi hangat ketika menatap Seona, dan mereka mencintai satu sama lain.

Ia memang sempurna untuk Seona.

Tetapi apakah Baekhyun pantas?

Dahae menatap Seona dan melihat bagaimana Seona menatap Baekhyun. Sebuah senyuman menghiasi wajahnya. Dari tatapannya, itu terlihat seperti Baekhyun pantas.

Dahae melihat Dongwook datang dan ia berdiri meninggalkan Seona sendiri lalu berjalan menuju Dongwook.

“Apa kau telah menaruh semuanya?” tanya Dahae.

“Ya.” Dongwook menatap adikknya dan kemudian Baekhyun.

“Aku menyukainya,” ucap Dongwook tiba-tiba.

“Aku juga.”

“Aku pikir ia sempurna untuk Seona, tapi Joon Myeon menghalanginya. Aku tahu aku tidak seharusnya membiarkan adikku menikahi pria itu. Firasatku tahu bahwa pernikahan mereka hanya akan menyakiti Seona.” Dongwook berhenti. “Mereka tidak seharusnya menikah terlalu cepat.”

“Sayang, mereka menikah setelah berkomitmen bersama dalam waktu yang hampir sama dengan kita sebelum kita menikah.”

Dongwook menghela nafas karena ia tahu bahwa itulah kebenarannya. Ia dan Dahae menikah setelah bersama selama enam bulan. Seona dan Joon Myeon hanya berkencan dalam waktu lima bulan sebelum menikah. Dongwook tidak bisa menolah karena nanti ia akan menjadi seorang yang munafik.

Saat Dongwook menatap pria yang Seona kencani dibelakang suaminya, ia tahu ia tidak akan pernah keberatan apabila pria itu menikahi adiknya. Hanya melihat mereka bersama, berbincang dan tertawa, mereka bertingkah seperti mereka telah mengenal satu sama lain selama bertahun-tahun. Itu adalah pertanda yang bagus. Adik kecilnya telah menemukan pria yang pantas untuk dirinya sendiri, tetapi hanya setelah ia menemukan dan menikahi pria yang tidak sebenarnya tidak pantas untuknya.

Seona menyengir ketika Hana mencium Baekhyun dengan penuh canda di pipinya. Baekhyun tersenyum dan memberikan sebuah ciuman di dahi Hana. Tampaknya Hani juga ingin sebuah ciuman karena ia memberikan Baekhyun sebuah ciuman di pipinya juga. Hyunjoo mendengus karena si kembar mendapatkan semua perhatian.

Itu merupakan sebuah pemandangan yang indah yang membuat Seona seperti ingin menangis. Ia mungkin tidak akan pernah mendapatkan pemandangan seperti ini lagi di masa depan. Begitu Baekhyun mengetahui ia telah menikah, ia tahu suatu hari nanti Baekhyun mengetahuinya, Baekhyun akan meninggalkannya. Ia tidak akan menyalahkan Baekhyun, tetapi bagaimana caranya ia dapat membiarkan Baekhyun pergi? Baekhyun merupakan sebuah cahaya yang ia tidak pernah terpikirkan keberadaannya di dunianya yang gelap, seseorang yang sangat hebat yang membuatnya berterimakasih kepada tuhan karena ia cukup beruntung telah bersamanya.

Itu tidak adil bahwa ia mendapatkan kebahagiaan setelah ia menikah dengan seorang pria yang tampaknya berasal dari neraka. Ia tahu takdir terkadang memang aneh, tetapi ini hanya terlalu kejam.

Ia tersenyum ketika Baekhyun mendongakkan kepalanya dan menyadari bahwa Seona sedang menatapnya. Baekhyun mengedipkan sebelah matanya dan kemudian lanjut bermain bersama keponakan-keponakannya.

Ia menatap kebawah, matanya mulai membasah ketika ia menyadari sesuatu. Kedipan mata yang kecil itu memerjelas semuanya, membuat semuanya sangat jelas. Tindakannya tadi membuka sebuah pintu yang ia tidak pernah terpikirkan keberadaannya.

He was perfect.

What was imperfect was that she has fallen in love with.

to be continue  . . .

Ahra’s notes:

FINALLY I’M BACK!

Mohon maaf lahir batin semuanya! Ya aku tahu kalau udah telat banget, tak apalah. Sudahlah to the point aja, there’s some info that i want to tell you, guys!

1. Dongwook itu dari Kanada bukan Amerika, soalnya perasaan aku pernah ngetik Amerika bukannya Kanada. Dan aku lupa di chapter berapa-_-
2. Seharusnya awal chapter satu Seona memperkenalkan dirinya sbg ‘Lee Seona’ bukannya ‘Kim Seona’ (tapi sudah kuperbaiki) jadi Baekhyun taunya Seona punya marga Lee.
3. Untuk nama chinese di cerita ini aku cari namanya semirip mungkin sama nama korea mereka (siapa tahu kalian bingung) padahal sebenarnya nama mereka tetap korea.
4. Karna sudah mulai masuk sekolah jadinya aku akan update satu minggu sekali, kalau seandainya telat sedikit harap dimaklumi yaa tapi tenang aja aku akan melajutkan fiction ini sampai selesai kok🙂

Terima kasih semuanya!

Regards, Aaahraaa

103 responses to “Affairs of the Heart [Chapter 9]

  1. hello~ welcome~
    oooooh i miss you authornim ♥♡♥
    ceritanya makin kesini makin seru,jadi ga sabar pengen tau gimana cara mereka masing-masing tau klo mereka udah punya pasangan sendiri..
    semangat!!!

  2. Akhirnyaa update jugaa nii FF
    Mina aiding juga authornimm
    Ciee sii Baekhyun udahh disetujuin tuhh ama keluarganya Seona
    Aku tunggu kelanjutannya authornimm
    Fightingg

  3. pengen cepet2 deh ketahuan dua2nya selingkuh biar semua rahasia nya ke bongkar..
    next saeng penasaran..keep writing ne…

  4. Akhirnya di post juga FF ini..
    huu gilaaaak yaa si joonmyeon ko kasar banget gitu sih dia jadi kaya psycho deeh..
    cepet2 aja deh seona cerai sama joonmyeon..
    ditunggu next chapter nyaaa

  5. finally huh!! xD hampir tiap hari mampir diblok author tpi nothing mwo mwo (?) . dan lagi! aku gatau mau koment apa tentang ini epep!!! soalnya sdh dijabarin semua sama readers yg lain . hahaa xD nextchap ditunggu ya thor.. semangat.. ngat.. ngatt!!^^♥

  6. ahhh finnaly sudah di post chapter 9nya. keadaan makin genting, binggung dan juga greget. da xian ? siapa dia ? sbenernya binggung deh kenapa hyera mau bunuh baekhyun dan kenapa joonmyeon pengen banget nguasaiin soena

  7. aku bingung sebenarnya junmyeon itu cinta ga sih sm seona? knpa dia bisa kasar gitu sm seona? emg chen ga nyadar apa seona selingkuh sm baekhyun? next yaa

  8. wahhh akhirny muncul juga nih chap..
    knapa c baek mesti d bunuh kalo ketahuan selingkuh??

    senang deh lihat kedekatan c baek dgn keluarga c soena..
    tpi kayakny bakalan tambah sulit c soena buat lepas dr junmyoen jiwa asliny makin keluar soalny.

    gk sabar nunggu rahasi mereka kebongkar… biar mereka dapat nyatu deh..
    ..

  9. makin keren critanya thor. penasaran gmn reaksi chen kalo tau selingkuhan seona itu baekhyun,..
    ditunggu chap slnjtnya. fighting !!🙂

  10. minal aizin wal faidzin ya
    aku kemarin baca beberapa ff di hp eh ga bisa koment jadi di sini deh
    aku seneng sama kebersamaan mereka rasanya ga mau ada yang merusak kebersamaan mereka
    suho kejam banget bya udah ketaun malh masih penen melakukan kekerasan di bagian yang tidak terlihat

  11. Ini ff emang makin lama makin greget aja. Alurnya bener-bener ga bisa ditebak. Makin penasaran sama lanjutannya thor, kapan ya baekhyun sama seona ketahuan selingkuh. Dan semoga istrinya baekhyun ga akan hamil sama baekhyun…aa ga rela, kalo seona yg hamil anaknya baekhyun gapapa. Hehehhee ^^v

  12. udahlah seona sama baek nikah aja. ehhehe. aku harap mereka secepatnya bicara jujur tentang status mereka. di tunggu kelnjtannya. ternyata dengan adanya kaka seona jadi lebih membantu hubungan seona dan baek. di tunggu kelnjtnnya

  13. Cepet” aja deh mereka berdua bisa bersama.. gk sama pasangannya masing” .. apalagi baekhyun udah dapet lampu hijau dari dongwook.. tp kalo dongwook tau baekhyun udah nikah gimana ya?? Dan juga pasangan mereka masing?? Ditunggu kelanjutannya ya.. Fighting!!

  14. Ya ampun mkin rumit, aku suka,,
    Kyanya joonmyeon mkin trancam nih,, duh baek ga tw ya klo yg selingkuh ma nyonya kim tu dya nya sendiri?
    Konyol,, lol

  15. Akhirnya keluar juga chapter 9 nya. Udah lama banget soalnya nunggunya. Keren. Jadi suka sama seona dan baekhyun sama sama walaupun mereka cuma selingkuh. Tapi istri atau suami mereka jahat2 sih. Ditunggu next nya minggu depan ya thor.

  16. Akhirnya update jg,,,udh kangen ama FF ini/authornya jg sih hihihi :* Makin kesini ceritanya makin seru (y) Semoga Baekhyun-Hyera Seona-Junmyeon cepat cerai biar Baek-Seona bisa bahagia😀 Di tunggu chapter selanjutnya,,,fighting😉🙂

  17. Ahh cie yg udh comeback lagii cieee kkk~
    Makinn krennn. Pengen cepwt cepet konflik waktu seona sama baekhyun ketauan sama pasangan masing masng woahhh itu pasti makin seru hihi..
    Ditunggu nextnya ya^^

  18. Ya ampun udah lama banget gak ngikutin ff ini. Sekarang baru sempet baca
    Aku takut banget kalau sampai joonmyun melakukan kekerasan sama seona, duh seona cepet2 cerai gih dari joonmyun.

  19. Joonmyeon itu sebenernya cinta ngga sih sama seona? Kenapa jahat gituu.. Si chen emang ngga sadar apa lupa perawakannya baekhyun? Secara dia kan udah kenal baekhyun, tau dong dari perawakannya, kenapa dia ngga bisa nebak?
    Jjangg!

  20. akhirnya sempet juga baca ff lagi, udah lama banget ngga ngikutin maaf ya… suka banget sama perhatiannya dongwook ke seona, dia kakak idaman bangettt. gilee tuh joonmyeon sampe punya niatan kaya gitu yah, cepetan cerai aja deh seona-joonmyeon. btw, gimana yah kalo nanti dongwook tau si baekhyun ternyata udah punya istri? ngga yakin deh dia masih biarin seona-baekhyun, haduhh malah berasumsi sendiri wkwk maafkan saya

  21. Wah wah wah bahaya nih, kenapa Chanyeol bilang Hyera bisa aja bunuh Baekhyun sekarang juga? Kok dia serem banget sih… Tapi kasian juga Baekhyun sama Seona mereka beneran saling cinta tapi kenyataan bener-bener ngehalangin mereka. Mereka sama-sama punya pasangan yang psikopat jadi susah

  22. setidaknya dongwook tau apa yg sebenernya terjadi dan dia bisa ngelindungin seona. setidaknya ada yg pro sama hubungan perselingkuhan baekseo, dan yaah dongwook bener, baekseo memang cocok, mereka sama2 dijahatin sama pasangan mereka masing2. tapi penasaran juga sih gimana kejadiannya kalo dongwook tau baekie udah punya istri. hmmm

  23. Aku suka banget kata2 yg part ini “mendapatkan kebahagiaan setelah ia menikah dengan seorang pria yang tampaknya berasal dari neraka” haha😄 aku ketawa *mian*
    Gak nyangka perselingkungan Seona Baek bakalan dpt persejutuan dri Kka dan Kka iparnya, ini beneran hebat. Aku juga mendukung gerakan anti Jeonmyeon *mian lagi* 😂😂😂
    Ini konfliknya makin kemari makin hot

  24. Hbngan mrka brtmbah dekat aja n kkk Seona bsrta istrinya sudh mngtahui perselingkuhan adiknya n mndkung hbngan mrka,,klu Dongwook tau sttus Baekhyun yg bristri gmna ya???
    Smkin byk aja ya yg mngtahui hbngan mrka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s