THE SUN [Chapter 11: Don’t Want to Lose You] -by ByeonieB

the-sun

THE SUN

ByeonieB Present

Main Cast::

Baekhyun of EXO as Byun Baekhyun

OC/You/Readers as Han Minjoo

Additional Cast::

Bora of Sistar as Yoon Bora

Sehun of EXO as Oh Sehun

And many more

Genre:: Romance, Life, Drama, Marriage-Life

Length:: Chapter

Rate:: PG-14 – PG-17

Summary::

“You are like the sun.

 The sun that rises in every morning.

The sun that comes after the dark.

Yes, you are just like that.

You are the sun that rise on my life.”

 

Poster by Jungleelovely @ Poster Channel

before: [Chapter 10]

[Chapter 11: Don’t Want to Lose You]

H A P P Y   R E A D I N G

“Kalian ini bodoh atau bagaimana!?”

Pria itu memaki anak buah nya dengan suara yang amat tinggi dan muka memerah. Menunjukkan betapa marahnya ia pada anak buah nya tersebut.

“Sudah kubilang untuk tidak menembak lelaki itu dan hanya membawa gadisnya saja!” ke lima anak buah nya tersebut menunduk sangat dalam, mengetahui letak kesalahan mereka dimana karena tuannya ini memaki mereka. “Apa kalian tuli?!”

“Ma-maafkan kami, tuan..” salah satu dari mereka membuka suara namun sepertinya itu hanya semakin membuat tuan mereka kesal.

Pria itu memegang  kepalanya lalu memijitnya dengan keras. Anak buahnya melakukan tindakan bodoh yang mungkin saja bisa menghancurkan rencananya. Membuatnya harus berpikir lagi menemukan rencana B.

BRUK.

“Tuan sepertinya gadis itu sudah bangun.. Apakah aku harus mengeceknya?”

Pria yang sebelumnya sedang memijit kepalanya pun menolehkan kepalanya kepada anak buah yang berbicara padanya,

“Urusi gadis itu.. aku akan berpikir dahulu sebentar..”

Salah satu dari bawahannya itu pun pergi menuju sebuah kamar. Meninggalkan ke empat teman yang tak lain adalah penjahat itu.

Ponsel sang majikan mereka bergetar di sakunya, membuat pria itu dengan segera mengambil ponsel dari saku celananya lalu dengan segera mengangkat telepon tersebut.

“Annyeong—“

“Oppa! Kenapa kau menembaknya?! Bukankah sudah kubilang untuk hanya menyeret gadis itu saja!?”

Pria itu pun menatap nyalak pada ke empat bawahannya, membuat ke empat orang itu menunduk semakin dalam.

“Aku tahu.. maafkan aku, anak suruhanku melakukan kesalahan..”

“Lalu bagaimana?! Kau melukainya, membuat rencana kita gagal Oppa! Ia pasti akan melapor polisi tak lama lagi!!”

Pria itu semakin memijat kepalanya dengan keras. Memikirkan rencana keduanya. Ugh astaga bawahannya memang terlalu bodoh, jika saja bawahannya itu tidak menembak Baekhyun tadi mungkin rencana untuk menyingkirkan gadis itu akan lebih mudah.

PRANG.

“Suara apa itu, Oppa?!”

Pria itu melihat ke dalam rumahnya lebih dalam lagi, mencoba menerka ada apa disana.

“Akan kumatikan terlebih dahulu, nanti kuhubungi lagi kau, ok?”

Telepon pun segera di matikan. Pria itu berjalan menuju sebuah kamar yang terletak paling ujung di dalam rumah yang terletak di sudut kota Seoul.

Ia membuka pintu kamar tersebut dan menampakan pandangan seorang gadis yang baru saja ia bawa tadi menyodorkan pecahan piring ke arah anak buahnya.

“Jangan mendekat!”

Gadis dengan tampilan sangat berantakan itu mencoba mengancam mereka. Terlalu keras menggenggam pecahan piring tersebut, dapat terlihat beberapa tetes darah mengalir di tangannya.

“Kalian siapa!? Apa mau kalian!?” gadis itu perlahan menurunkan air matanya.

“Kenapa bisa seperti ini, kau bodoh?!” tuan dari anak buahnya itu memaki kembali pada anak bawahannya yang lagi-lagi gagal menjalankan tugasnya.

“A-aku hanya ingin memberinya makan tuan, namun ia membanting piring lalu mengancamku seperti itu..”

Tuan itu menggeleng pelan lalu menatap sang gadis kembali.

“Kau tidak usah takut..” Ia perlahan menghampiri sang gadis dengan senyuman di wajahnya.

“Aku.. Kim Junmyeon. Teman dari suamimu.”

Ya. Junmyeon lah yang merencanakan untuk menculik Han Minjoo dari Baekhyun. ini bukan murni rencananya untuk menghancurkan Baekhyun.

Ia merencanakan ini untuk seseorang yang di kasihinya. Seseorang yang ia cintai namun mencintai pria sialan itu, menurutnya.

“Teman!?” Gadis itu semakin menaikkan pecahan piring tadi, “Lalu kenapa kau menembaknya!? Kau pasti berbohong! Kau bukan temannya.”

Junmyeon tidak menjawab pertanyaan gadis itu. ia tetap melanjutkan langkahnya dan semakin mendekati tubuh Han Minjoo.

“Jawab aku dan jangan mendekat!”

Junmyeon menghentikan langkahnya beberapa puluh sentimeter dari tubuh Minjoo.

“Kau berbohong kan?!”

Junmyeon pun menyeringai.

“Memang aku berbohong.”

Ia pun langsung menangkis tangan Minjoo dan membuatnya melemparkan pecahan beling itu ke lantai.

Membuat Minjoo terlonjak kaget dan ketakutan.

“Kau tak seharusnya mengancam seperti itu padaku, gadis manis..” Junmyeon semakin mendekatkan tubuhnya ke arah Minjoo, memangkas jarak mereka lalu mendekatkan wajahnya pada telinga gadis itu.

“Aku bisa saja melakukan hal yang lebih buruk dari ini..” Junmyeon mengusap halus sebagian punggung Minjoo yang tak terbaluti oleh gaun merahnya.

Membuat sang gadis merasakan ketakutan di sekujur tubuhnya.

“Mungkin seperti memerkosamu?” lalu ia menurunkan tangannya dan dengan tiba-tiba memegang pergelangan tangan gadis itu dengan kuat, membuatnya meringis.

“Dan aku juga tak segan-segan akan menghabisimu detik ini juga, Han Minjoo.”

Minjoo pun tak dapat menahan air matanya lagi yang memang sudah membajiri wajahnya sedari tadi. Ia sungguh amat ketakutan saat ini.

“Jangan melakukan hal bodoh jika kau ingin mati dengan tenang, sayang.” Pria itu mendorong tubuh Minjoo hingga membuat kepalanya sedikit terbentur dengan ranjang kasurnya. Membuat kepalanya mengalirkan suatu cairan merah dari sudut kepalanya.

Pria itu pun mendesis pada Minjoo lalu memutar tubuhnya untuk pergi meninggalkan gadis itu.

“Apakah..” Minjoo menahan tangisnya yang mulai sedikit pecah. “Dia.. baik-baik saja?”

Pria itu menghentikan langkahnya setelah mendengarkan perkataan Minjoo.

“Apakah Baekhyun baik-baik saja?”

Junmyeon memutar tubuhnya dan mensejajarkan kembali tubuhnya dengan Minjoo.

Gadis ini tak lebih memprihatinkan dengan Baekhyun yang terkapar di rumah sakit.

Darah yang mengalir di pelipis dan telapak tangannya, serta muka yang masam dan baju yang kusut.

Dalam keadaan seperti ini, Mengapa ia masih bisa-bisanya memikirkan pria yang bahkan tak mencintainya? Pikir Junmyeon.

Ia pun terkekeh pelan, “Kau ingin tahu bagaimana keadaannya di saat nyawamu sendiri mungkin terancam?”

Sungguh, yang Minjoo pikirkan ketika ia bangun di dalam ruangan ini hanyalah keadaan Baekhyun.

Ia melihat Baekhyun terakhir kalinya dalam keadaan yang luka tembak di bahunya dan darah yang terus menerus mengalir dari sana.

Jika Baekhyun tidak segera mendapatkan pertolongan, Baekhyun mungkin saja bisa meninggal.

Itulah yang membuat hati Minjoo terluka saat ini juga.

“Kau menyukainya, bukan?” tanya Junmyeon kembali karena mencurigai sesuatu yang aneh.

“Kumohon..” Minjoo menggenggam tangan Junmyeon, membuat lelaki itu mengernyit tiba-tiba.

“Jangan lukai dia..”

Junmyeon melihat ke arah tangan yang Minjoo genggam dan pada wajah Minjoo secara bergantian.

“Jadi kau benar menyukainya, hm?” Ia pun terkekeh pelan.

Tak ia sangka perjodohan itu membuat sang gadis ini jatuh cinta pada lelaki sebrengsek Byun Baekhyun. Apa yang membuat gadis ini menyukainya?

Junmyeon adalah orang yang paling membenci Baekhyun di dunia ini. Ia membenci pria itu karena Baekhyun adalah pria yang sangat sombong, merendahkan orang yang berada di bawahnya dan melakukan apa pun yang ia suka.

Junmyeon sangat membenci Baekhyun. terlebih setelah kekasihnya kembali lagi pada pria brengsek itu.

Membuatnya harus melakukan rencana ini pada Han Minjoo.

Junmyeon melepaskan tangan Minjoo dengan kasar lalu menangkupkan wajah gadis itu dengan keras. Membuat Minjoo lagi-lagi harus meringis kesakitan.

“Dengar gadis manis..Mungkin suami yang kau cinta itu akan mati tak lama lagi..”

Minjoo bisa merasakan hatinya hancur seketika mendengar perkataan itu.

“Kau juga mungkin akan menyusulnya sebentar lagi.. bersabarlah.”

Junmyeon pun terkekeh pelan lalu setelahnya melepaskan wajah Minjoo dengan kasar. Ia bangkit kembali lalu berjalan menuju anak buahnya yang sedari tadi hanya melihatnya melakukan itu di dekat pintu.

“Bersihkan semuanya. Aku akan keluar sebentar.”

Anak buahnya mengangguk mengerti lalu setelah tuannya pergi meninggalkan ruangan itu, ia ikut keluar juga dan menutup pintu tersebut.

Menyisakan Minjoo sendirian disana yang masih mengeluarkan tangisannya.

“Baekhyun-ah..”

“Baekhyun-ah…”

 

“Baekhyun-ah..”

 

Baekhyun pun membuka matanya dengan serentak setelah suara itu terdengar di pikirannya.

Ia di sambut dengan ruangan serba putih dan berbagai harum obat-obatan terkuar di indra penciumannya.

“Han Minjoo.”

Satu nama itu yang membuatnya tersadar dengan apa yang ia alami dan mengapa ia berada di sini. Ia pun dengan segera melepaskan infusan yang berada di tangannya dan segera bangkit dari kasurnya.

Baekhyun bisa merasakan bahu kanannya yang teramat sakit jika di gerakan, namun ia tidak peduli dengan hal itu. nama itu terlalu mendominasi akal pikirannya, membuatnya melakukan tindakan yang mungkin gegabah.

Baekhyun berjalan dengan sedikit tertatih-tatih menuju pintu keluar. Tak peduli dengan pakaian rumah sakit yang masih terbalut di tubuhnya

Tepat setelah ia akan membuka pintu tersebut, seseorang dari luar sana membuka pintunya.

“Baekhyun-ah!!?” Ibu Baekhyun pun langsung memegang pipi anaknya dan melihat ke sekujur tubuh anaknya.

“Kau sudah sadar?! Apa kau baik-baik saja?!”

“Aku baik-baik saja, Ibu.” Baekhyun pun melepaskan tangan Ibunya yang berada di wajahnya, “Aku akan pergi sekarang.”

“Kau akan kemana, Baekhyun-ah?! Kau baru saja bangun—“

“Aku akan mencari Han Minjoo.”

Nyonya Byun pun terlonjak kaget mendengarkan penuturan kata anaknya ini.

“Ayah sudah melaporkannya ke polisi, Baekhyun-ah. kita tunggu saja kabar dari mereka, Ok?”

“Aku tidak mau! Aku akan mencarinya sendiri, tolong jangan menghalangiku!”

Baekhyun melanjutkan langkahnya lagi untuk melewati Ibunya, namun sebelum ia keluar dari pintunya, Ayahnya baru saja datang dan melihatnya dengan terkejut.

“Baekhyun-ah! Kau sudah sadar?” Ayahnya tersenyum cerah pada Baekhyun, namun setelah melihat Baekhyun berdiri di dekat pintu ia pun terbingung, “Kau akan kemana, Baekhyun-ah?”

“Aku akan mencari Han Minjoo. Tolong jangan halangi aku.”

“Baekhyun-ah.. Ayah sudah melaporkannya ke polisi—“

“Aku tetap ingin mencarinya sendiri.” Baekhyun mencoba melanjutkan langkahnya lagi namun Ayahnya mencegahnya.

“Baekhyun-ah, jangan gegabah! kau baru saja sadar dan luka operasimu belum pulih total. Kau hanya menyakitimu sendiri.”

“Aku tidak peduli.” Baekhyun melepaskan tangan Ayahnya dengan paksa. “Lepaskan aku dan biarkan aku pergi mencari Han Minjoo.”

“Byun Baekhyun.” Ayahnya memegang tangan Baekhyun kembali dengan erat. “Tolong pikirkan dirimu juga!”

“Bagaimana bisa?!” Baekhyun mulai menjatuhkan air matanya, mencoba menrealisasikan hatinya saat ini.

“Bagaimana bisa aku memikirkan diriku sendiri sedangkan Minjoo berada di luar sana, di tawan oleh para brengsek itu!?” Baekhyun sungguh sangat mengkhawatirkan Minjoo kali ini.

Hatinya terasa berdenyut sakit mengingat hal terakhir bersama Minjoo.

“Aku menyukaimu.. Baekhyun-ah.”

Minjoo menyatakan perasaannya pada Baekhyun.

Membuat Baekhyun sungguh sangat bahagia pada hari itu.

Dan saat Baekhyun mencoba untuk menjawab pernyataan Minjoo, kejadian naas itu terjadi.

Ketika terakhir kali ia membuka matanya, ia melihat Minjoo di bawa pergi oleh kawanan penjahat itu dengan tubuh yang terkapar lemas di tangan mereka.

Andai saja saat itu Baekhyun mempunyai tenaga yang lebih, mungkin ia bisa menghajar mereka dan melepaskan Minjoo dari mereka.

“Minjoo pasti sangat ketakutan saat ini, Ayah..” Baekhyun meluluhkan pandangannya dan masih mengalirkan air mata itu. “Kumohon izinkan aku untuk mencarinya..”

“Baekhyun-ah, dengar..” Ayahnya menepuk bahu Baekhyun pelan, “Aku sangat mengizinkanmu untuk mencari dia karena aku juga teramat khawatir pada gadis itu saat ini..”

“Namun, kondisimu belum terlalu baik Baekhyun. Bagaimana bisa kau menyelamatkan Han Minjoo sedangkan lukamu saja belum pulih total?”

Benar dengan Apa yang di katakan Ayah Baekhyun saat ini. Bagaimana bisa ia melawan para kawanan itu jika lukanya saja masih sangat teramat sakit saat ini? Mungkin ia akan kalah telak lebih dahulu sebelum bisa menyelamatkan Han Minjoo.

“Polisi sudah bergerak untuk mencari jejak penculik itu. jika mereka sudah menemukan mereka, mereka pasti akan memberitahu kita. Sekarang kau pulihkan dulu lukamu itu, Ok?”

Baekhyun pun memutar tubuhnya dan masuk ke dalam kamarnya kembali.

Ia mencoba untuk menuruti kata sang Ayah, demi menyelamatkan Han Minjoo

“Bersabarlah Minjoo-ya..”

“Kami dari tim kepolisian telah menemukan informasi terbaru mengenai penculikan putri sekaligus menantu bapak.”

Tuan Byun beserta Sehun sedang berada di kantor polisi Gangnam setelah kepolisian tersebut menghubungi mereka sebelumnya.

Ini sudah hari ketiga dimana Minjoo dinyatakan di culik oleh kawanan penjahat dan belum di temukan sampai sekarang ini.

“Kami mempunyai saksi dari beberapa warga yang tinggal di sekitar tempat kejadian, mereka benar melihat sebuah mobil dengan kaca yang sangat gelap dan membelah jalanan dengan kecepatan di atas rata-rata.”

“Lalu kemana mereka pergi pak?!” Sehun sedikit meninggikan suaranya. Dalam beberapa hari ini, Sehun selalu merasa bersalah atas perihal terculiknya Minjoo pada hari itu.

Seharusnya Sehun terus mengawasinya dan tak membiarkannya pergi keluar yang pada akhirnya membawanya pada nasib sial seperti ini.

“Dari semua informasi yang kami dapat, rata-rata saksi bilang bahwa mereka pergi meninggalkan kota Seoul.”

“Apa?”

“Kurasa mereka membawa nona Han Minjoo keluar dari kota dan membawanya ke suatu tempat dimana kami polisi dan anda keluarganya tidak bisa menemukan mereka.”

Sehun bisa merasakan dadanya bergemuruh kencang saat ini.

Minjoo mungkin bisa saja di bawa pergi ke luar kota, ke luar pulau atau bahkan ke luar negeri ini. Dan kemungkinan gadis itu untuk di bunuh sangat besar.

Membuat Sehun ingin rasanya memecahkan kepalanya sekarang ini juga.

“Anda tak usah khawatir, kami tim kepolisian akan terus mencari nona Han Minjoo dan menemukannya dalam keadaan selamat. Terus berdoa dan bersabarlah..”

Sehun pun memijat kepalanya yang cukup pening. Mencoba untuk menghilangkan beban pikirannya walaupun itu hanya percuma.

“Apakah nona tidak akan memakan itu?”

Minjoo pun tetap melakukan hal yang sama sejak pria yang ia ketahui sebagai bawahannya penculiknya itu membawa makanan untuknya. Ia hanya akan terdiam dan termenung dengan pandangan kosong disana.

Ia sungguh tidak bisa untuk memikirkan hal yang lain selain Baekhyun.

Hanya satu pria itu yang berhasil mengunci pikirannya selama beberapa hari ini. Membuatnya kehilangan nafsu makan ataupun untuk bertahan hidup.

Sampai detik ini, Minjoo belum mengetahui keadaan Baekhyun yang sebenarnya bagaimana.

“Nona.. anda sudah tidak makan beberapa hari..”

Sebenarnya, ada perasaan kasihan dari lelaki yang menjadi bawahan tuannya yang menyuruhnya untuk menculik Minjoo pada waktu itu.

Lihatlah dia.

Lilitan perban di kepala dan tangannya, memar yang tuannya timbulkan di tangannya waktu itu pun belum kunjung menghilang juga.

Rambutnya yang tampak sangat berantakan, mata sembab, bibir kering dan luka yang (lagi) tuannya timbulkan di ujung bibirnya menambah kesan menyedihkan pada gadis ini.

Jika saja lelaki itu tidak menjadi bawahan tuannya yang kejam ini, mungkin ia telah melepaskannya.

“Non—“

“Kubilang aku tidak butuh makan.” Tutur Minjoo tanpa mau untuk melihat ke arah pria itu.

“Yang aku butuhkan hanyalah informasi tentang keadaan pria yang salah satu dari kalian tembak waktu itu.”

Lelak ini sesungguhnya mengetahui tentang kondisi pria yang Minjoo maksudkan. Tempo hari lalu, tuannya menyuruh ia dan rekannya untuk melihat kondisi pria itu di rumah sakit dimana ia dirawat.

Baekhyun sudah sadar. Itulah yang mereka lihat waktu itu.

Ingin sekali, lelaki yang berada di hadapan Minjoo saat ini memberitahu keadaan Baekhyun pada Minjoo bahwa ia baik-baik saja. Namun sayangnya, tuannya sudah menyuruh padanya untuk tidak memberitahu Minjoo apa-apa mengenai perihal tersebut.

“Apakah kau tidak bisa menyelidikinya?” Minjoo menatap mata lelaki itu dengan memohon. Bahkan ia sedikit mengeluarkan cairan matanya dan membuat hati lelaki itu sedikit terenyuh.

“Hanya untuk melihat keadaannya dari kejauhan saja. Apakah tidak bisa?”

Astaga. Ini benar-benar pilihan yang sulit untuk pria itu.

Apakah seharusnya ia membuka mulutnya saja?

“Nona, ia—“

“Apa kabar, gadis manis?”

Tuannya memasuki ruangan dimana Minjoo di tahan. Membuat ucapan yang hampir saja lelaki itu lontarkan terpotong olehnya.

Junmyeon semakin memasukkan dirinya pada ruangan. Melihat sang gadis yang duduk di pojok ranjang dan bawahannya yang menyodorkan nampan berisi piring nasi di tepi ranjang.

“Apa dia masih tidak mau makan?”

Anak buah Kim Junmyeon pun membangkitkan dirinya dengan segera lalu mengangguk pelan.

“Iya, tuan.”

Junmyeon menolehkan pandangannya pada Minjoo yang enggan menatapnya. Ia terkekeh pelan melihat tingkah laku gadis ini.

“Terserah denganmu saja gadis bodoh! lagi pula jika kau tidak makan juga tidak masalah, kau akan tetap kubunuh pada akhirnya.”

Minjoo sedikit menegangkan tubuhnya mendengarkan perkataan Junmyeon. Tapi ia mencoba untuk bersikap biasa saja, bersikap layaknya ia tidak takut pada Junmyeon.

“Silakan saja, tuan. Silakan untuk membunuhku. Aku tidak takut.”

Junmyeon pun tertawa mendengarkan perkataan gadis ini. Gadis yang benar-benar luar biasa.

“Kau memang luar biasa. Baiklah, tunggu sebentar lagi sayang. Aku akan benar-benar membunuhmu.”

Junmyeon pun memutar badannya untuk segera pergi meninggalkan gadis itu.

“Kau melakukan ini karena kau iri pada Baekhyun, bukan?”

Ia menghentikan langkahnya dengan segera setelah mendengarkan kelanjutan perkataan Minjoo.

“Kau iri karena Baekhyun bisa mendapatkan segalanya bukan? Mendapatkan harta, jabatan dan ketenaran yang tak terhingga.”

Minjoo memberanikan dirinya untuk menatap punggung Junmyeon yang berhenti disana.

“Atau mungkin.. karena kau melakukan ini karena kekasihmu mencintai Baekhyun?”

Junmyeon mengepalkan tangannya. membuat Minjoo tahu apa yang dikatakannya adalah kebenaran.

“Benar bukan? Kekasihmu mencintai Baekhyun, bukan? Dan ia meninggalkanmu karena Baekhyun, bukan?”

Junmyeon pun dengan segera memutar badannya dan bergegas  mendekatkan tubuhnya pada Minjoo.

Ia menyudutkan tubuh Minjoo lalu mencekik leher gadis itu dengan kasar.

“Lebih baik kau tutup mulutmu atau aku benar-benar akan membunuhmu saat ini juga..”

Minjoo sedikit meringis kesakitan karena cengkraman Junymeon yang sedikit keras di lehernya.

“Apa perkataanku benar? Pasti kau iri dengan Baekhyun, bukan? Maka dari itu kau melakukan ini semua?”

Junmyeon mengeraskan rahangnya dan semakin memperkeras eratannya pada leher Minjoo.

“Lalu jika memang benar mengapa? Bukankah kita sama saja?” Junmyeon menyeringai di hadapan Minjoo yang mulai memukul-mukul tangan Junmyeon, mencoba untuk melepaskan tangannya pada lehernya.

“Kau menyukai pria itu juga bukan? Tapi pria itu menyukai seseorang.. sama sepertiku..”

Minjoo mulai terbatuk-batuk dan mukanya mulai memerah. Menampakkan bahwa oksigen yang masuk telah tersumbat oleh cengkraman Junmyeon.

“Maka dari itu, diam dan tutup mulutmu itu, gadis bodoh!”

Junmyeon pun melepaskan cengkramannya pada leher Minjoo dengan membanting tubuh gadis itu ke kasur dengan cukup keras.

Junmyeon membenarkan pakaiannya lalu setelahnya beranjak untuk pergi lagi.

“Bagaimana bisa..” Minjoo berucap setelah mencoba untuk memasuki udara yang banyak pada paru-parunya.

“Kau menyamakan diriku denganmu?”

Lagi-lagi Junmyeon memutar tubuhnya lalu setelahnya menarik rambut gadis itu. menyeret gadis itu hingga terjatuh di lantai.

“Apa maksudmu?” Junmyeon terkekeh pelan sambil terus menarik rambut Minjoo dengan kuat.

“Kau menyedihkan, Kim Junmyeon.” Minjoo berucap sambil mencoba menyunggingkan senyumannya.

“Kau lebih menyedihkan dari diriku, rupanya, tuan Kim.”

Junmyeon tak dapat menahan amarahnya lagi.

Ia membanting tubuh Minjoo dengan kasar ke lantai, hingga membuat beberapa bagian lengannya memar oleh karena pria itu.

“Tolong tutup mulut gadis itu, sekarang juga!” titahnya dengan suara yang keras pada anak buahnya yang sedari tadi menyaksikan kejadian itu.

“Jangan biarkan ia untuk berbicara barang sepatah katapun sampai aku membunuhnya nanti!! Kau dengar itu?!”

Anak buahnya hanya bisa menganggukan kepala dengan suruhan tuannya itu tanpa bisa mencoba untuk membela gadis itu atau bisa saja dia yang akan kena menjadi bahan siksaan oleh tuannya tersebut.

Junmyeon pun segera berjalan keluar dari ruangan gadis itu yang kemudian disusul oleh anak buahnya yang ikut keluar mengikuti tuannya di belakang.

Meninggalkan Minjoo sendirian tergeletak di atas lantai.

Gadis itu tidak bisa melakukan apa-apa selain seperti itu.

Tubuhnya hancur setelah Junmyeon menyiksa habis-habisan dirinya tadi.

Begitu pula dengan hatinya yang ikut hancur walaupun sudah beberapa hari lamanya itu terjadi.

Dua orang berseragam polisi memasuki kantor polisi. Mukanya tampak kesal ditambah kelelahan.

“Astaga, hyung! Aku tidak tahu mengapa menjadi sesulit ini!”

Orang yang di panggil lelaki itu dengan sebutan hyung pun mengusap wajahnya dengan kasar.

“Aku pun begitu. Semula orang-orang sudah bilang bahwa mobil yang membawa nona Han Minjoo pergi ke arah kota Incheon pun menolak gagasan itu semua dan berkata kalau mereka tidak melihatnya.”

Dua polisi itu pun memasuki ruangan mereka dan setelahnya mendudukan tubuh mereka masing-masing di kursi kantor mereka.

“Ini benar-benar aneh hyung. Kurasa para penjahat itu telah menemui mereka lalu menyogok mereka mungkin?”

“Entahlah. Situasi dimana nona Han Minjoo tertangkap pun terjadi ketika malam hari. Sangat gelap dan mungkin mereka tak melihatnya terlalu jelas waktu itu.”

Kedua polisi itu pun kembali lagi mengusap mukanya.

Setelah selang beberapa waktu yang lama, salah satu dari mereka mencoba untuk menjalani aktivitas yang lain dan memulai pekerjaannya berkutik pada komputernya.

Sedangkan yang satunya lagi mulai menjatuhkan dirinya pada alam mimpinya.

Drrt.drrt.

Getaran ponsel dari sang pemilik yang sedang tertidur itu pun mengganggu aktivitas polisi yang sedang mengerjakan sesuatu pada komputernya.

“Hyung, Bangun. Ada yang meneleponmu..”

Polisi itu pun tetap tertidu dengan kepala tubuh yang tersandar pada kursinya. Mungkin ia benar-benar lelah.

Polisi yang menjadi juniornya itu pun menggelang pelan lalu mengambil ponsel seniornya itu.

“Detektif Jang?”

Detektif Jang adalah detektif yang ikut terjun dalam membantu untuk mencari Han Minjoo. Jika ia menelepon, berarti ada sesuatu yang penting mengenai gadis itu.

Dengan segera polisi itu mengangkat teleponnya.

“Annyeong—“

“Sunbaenim! Aku telah menemukan lokasi dimana Han Minjoo di sandera!”

Polisi itu pun membulatkan matanya, “Dimana!? Dimana lokasinya!?”

“Mereka ada di Incheon, di sebuah hutan terpencil bernama hutan Joong dan tak jauh dari jalanan menuju hutan tersebut ada gubuk kecil. Disitulah dimana mereka menyandera korban Han Minjoo!”

“Baiklah kita akan segera kesana. Kau dimana sekarang?!”

“Aku berada disini dan aku sedang memantau mereka. Sepertinya mereka akan membawa Han Minjoo pergi kembali maka dari itu cepatlah kesini! Terlalu banyak orang, aku tidak bisa menghabisi mereka semua sendirian!”

“Baiklah, kau tunggu disana!”

Polisi junior itu pun segera menutup teleponnya dan setelahnya langsung membangunkan polisi seniornya itu.

“Hyung! Bangun! Hyung, Bangun!”

Polisi itu pun melenguh sebentar, memprotes sang junior karena telah membangunkan tidur sorenya yang cukup nyenyak.

“Ada apa kau membangunkanku? Kuharap ini berita penting..”

“Detektif Jang telah menemukan lokasi Han Minjoo hyung!”

Polisi senior itu pun langsung menegakkan tubuhnya dan matanya terbuka sepenuhnya. “Kau serius!?”

“Aku serius! Detektif Jang bilang bahwa Han Minjoo berada di kota Incheon dan berada di hutan terpencil bernama hutan Joong dan disana terdapat sebuah gubuk kecil dimana Han Minjoo di sandera hyung!”

“Astaga.. benar-benar mereka.. berarti benar perkiraanmu, orang-orang yang menjadi saksi itu telah di ancam oleh mereka sebelumnya..”

“Sudah kubilang juga apa hyung, perkiraanku tak pernah salah. Dan sekarang kita harus pergi menyusuli mereka hyung!”

“Baiklah aku akan membuat surat izin untuk membawa anggota tim kita kesana, kau tunggulah ke mobil.”

Polisi junior itu pun mengangguk sekali lalu setelahnya ia berjalan keluar dari ruangan tersebut.

Ketika ia berada di luar pintu kantornya, ia pun segera berlari menuju mobil dinas polisi.

Tanpa ia sadari, seorang pria bertopi dan kaca mata hitam telah mengupingi pembicaraannya tadi di dalam.

Setelah kepergian polisi itu, Pria tersebut berjalan menuju pintu keluar melalui pintu belakangnya sambil menghubungi seseorang yang menyuruhnya untuk melakukan itu.

“Aku mendengar mereka sudah menemukannya.”

“…”

“Baiklah aku akan segera kesana.”

.

.

Baekhyun pun berjalan secara tergesa-gesa di lantai basement gedung rumah sakit untuk menemui seseorang setelah berhasil memanipulasi dirinya menjadi seorang pengunjung dan bukan seorang pasien.

Ia melihat sebuah mobil yang terdapat orang di dalamnya.

Setelah memastikan mengenali orang itu, Baekhyun berjalan dengan cepat kembali dan segera masuk ke dalam mobil tersebut.

“Kau sudah menunggu lama Chanyeol-ah?”

Chanyeol pun menggeleng pelan lalu setelahnya melihat ke arah Baekhyun dengan iba.

“Baekhyun-ah, apa kau yakin akan pergi kesana? Lukamu belum pulih total dan aku khawatir jika terjadi apa-apa dengan dirimu nanti.”

“Aku sangat yakin dan aku sudah pulih total Park Chanyeol. Sekarang lebih baik kita cepat pergi menuju dimana Minjoo berada sebelum para brengsek itu melakukan sesuatu yang lebih kejam lagi padanya.”

Chanyeol pun hanya bisa menghembuskan napasnya kasar. Baekhyun lah yang menyuruhnya untuk mencari informasi tentang mengenai keberadaan Han Minjoo selama ia dirawat di rumah sakit, termasuk menguping di kantor kepolisian sore tadi.

Baekhyun terlalu mengkhawatirkan Han Minjoo. Membuat Chanyeol menemukan jawaban bahwa Baekhyun sebenarnya menyukai gadis itu.

“Chanyeol-ah, cepat pergi sekarang sebelum sesuatu yang tak kuinginkan terjadi!”

Chanyeol lagi-lagi menghembuskan napasnya, ia pun memasukkan gigi pada mobilnya lalu perlahan menginjak pedal gasnya.

“Baiklah, baiklah.”

.

.

Junmyeon pun menghentakkan langkah kakinya dengan kesal menuju kamar Minjoo. Malam ini mereka akan membawa pergi lagi Han Minjoo ke Jepang untuk menyembunyikan gadis itu karena ia mendengar kalau detektif kota Seoul telah menemukan lokasi mereka.

Namun, sudah 30 menit lamanya Junmyeon menyuruh salah satu anak buahnya untuk mengurusi gadis itu dan segera membawanya masuk ke dalam mobil tapi mereka belum melakukannya sejak daritadi.

“Sebenarnya apa yang kalian lakukan!?”

Junmyeon membuka pintu itu dengan cara membantingnya. Menampakkan pemandangan sang anak buahnya yang duduk di tepi ranjang sedangkan gadis itu membelakanginya.

Ia pun menggeram kesal dan segera menghampiri anak buahnya itu lalu menarik kerah lehernya hingga meembuatnya terperanjat ke atas.

“Bukankah sudah kubilang untuk mengurusinya dan segera membawanya ke mobil!?” Anak buahnya itu hanya menundukkan mukanya dan tak berani menatap sang tuannya.

“Tapi mengapa kau masih saja duduk manis di tepi ranjang dan hanya menatapnya seperti itu!!?”

“Tu-tuan.. ia tak mau membalikkan tubuhnya sejak daritadi—“

“Lalu mengapa kau tak memaksanya saja!!??”

Kesal dengan anak buahnya, Junmyeon pun membanting anak buahnya ke lantai lalu setelahnya menarik tangan gadis itu dengan paksa sehingga membuat tubuhnya menghadapnya secara otomatis.

“Apa yang kau lakukan, huh?! Mencoba untuk melawan lagi dengan keadaanmu seperti ini?!”

Minjoo pun hanya menatap Junmyeon dengan lesu. Berbagai memar di tubuhnya, mulutnya yang tertutupi lakban hitam, cengkraman merah di lehernya serta perban yang membaluti beberapa bagian tubuhnya lah yang menjadi alasannya.

“Ayo kita pergi sekarang dan katakan ‘sampai jumpa’ pada suami tercintamu itu..”

Minjoo pun tak bisa melakukan apa-apa selain membiarkan tubuhnya di angkat paksa oleh Junmyeon.

Ia benar-benar sudah tak punya kekuatan lagi hanya untuk bisa melawan Junmyeon.

BRAK.

Junmyeon pun menolehkan pandangannya pada pintu luarnya.

“Suara apa itu?!”

Junmyeon pun menghentikan aktivitasnya untuk mengangkat tubuh Minjoo.

“Kau! Periksa keadaan luar disana!” setelah mendapat titah seperti itu, anak buah Junmyeon yang tersungkur di lantai tadi segera membangunkan tubuhnya dan bergegas pergi keluar.

Cukup lama Junmyeon tidak mendengarkan suara apa-apa dari balik pintu itu, membuatnya yakin bahwa tidak terjadi  sesuatu diluar sana.

Ia pun menolehkan pandangannya lagi pada Minjoo yang terkapar lemah di atas kasurnya lalu mencoba untuk mengangkat tubuhnya lagi.

“Malang sekali nasibmu, gadis manis! Hidupmu harus berakhir seperti ini rupanya..”

Junmyeon terkekeh pelan lalu ia berniat melangkahkan kakinya untuk pergi dari sini dan menuju mobilnya di luar.

BRAK.

Pintu terbuka secara paksa oleh seseorang dari luar.

Membuat Junmyeon menghentikan aktivitasnya dan menatap orang tersebut.

Junmyeon pun bisa merasakan amarahnya yang memuncak di kepalanya hingga ingin rasanya kepalanya meledak saat itu juga.

Pria itu berhasil menemukannya. Membuat rencananya mungkin saja gagal setelah ini.

“Kau..”

Baekhyun bisa merasakan hatinya hancur seketika saat ini juga. Bagaikan bom yang tiba-tiba meledakkan di hatinya lalu menghancurkannya berkeping-keping.

Ia melihat gadisnya terkapar lemah di pangkuan lelaki itu dengan beberapa luka di tubuhnya.

Gaunnya yang masih sama ia kenakan pada terakhir kali mereka bertemu namun sudah terdapat beberapa koyakan disana.

“Kim Junmyeon..” Baekhyun mulai mengepalkan tangannya dengan geram setelah apa yang ia lihat tadi.

“Apa yang kau lakukan padanya?”

Junmyeon pun menolehkan pandangannya pada Minjoo yang berada di pangkuannya. Lalu setelahnya ia menyeringai pada Baekhyun.

“Aku melakukan apa padanya?” Junmyeon pun perlahan meletakkan tubuh Minjoo yang terkapar lemah di atas kasur kembali.

Setelahnya ia pun mengusap pipi Minjoo dan turun mengelus bahu Minjoo yang terbuka.

“Kurasa kau tak ingin tahu apa yang kulakukan padanya..”

Baekhyun pun berlari ke arah Junmyeon lalu menjatuhkan pria itu sebuah hantaman keras pada wajahnya. membuat lelaki itu jatuh tersungkur ke lantai.

“Kau bajingan! Kau brengsek!”

Baekhyun menaiki tubuh Junmyeon dan lagi-lagi menghantam wajah pria itu hingga Junmyeon mengeluarkan darah di berbagai sudut wajahnya.

“Kau setan! Kenapa kau melakukan itu padanya, huh?!”

Junmyeon pun terkekeh pelan walaupun sejujurnya ia sudah kalah telak saat ini.

“Karena aku membencimu. Ya, karena hal itu, Baekhyun-ah..”

Wajah Baekhyun semakin memerah padam dan ia mengeraskan rahangnya.

Amarahnya sudah berada pada puncaknya yang tak bisa ia tahan lagi.

“Kalau kau membenciku,” Baekhyun melayangkan satu pukulan lagi pada wajah Junmyeon

“Mengapa kau melakukan ini padanya!? Mengapa!!??”

Junmyeon pun terkekeh pelan, “Bukankah ia tak penting untukmu, Baekhyun-ah?”

Baekhyun menghentikkan aktivitasnya dan menatap Junmyeon yang perlahan menertawainya.

“Bukankah ia tak penting untuk hidupmu? Mengapa kau harus semarah ini jika ia tak penting untuk hidupmu, huh?”

Baekhyun menatap Junmyeon dengan amarah sambil mencernai perkataan Junmyeon.

Kehilangan gadis itu adalah hal terburuk yang pernah ia alami.

Melihatnya terluka sama saja seperti melukai di hatinya.

Baekhyun sadar jika Minjoo mempunyai peranan penting dalam tubuhnya.

“Dia merupakan hal terpenting dalam hidupku, bodoh!” Baekhyun melayangkan lagi satu hantaman di wajah Junmyeon. Membuat pria itu mulai kehabisan seluruh energinya.

“Dan kau menyakitinya!” Lagi, Baekhyun menghantap wajah Junmyeon hingga pria itu sekarang sudah tak sadarkan diri.

“Kau benar-benar bajingan—“

“Baekhyun-ah hentikan!” Chanyeol pun berada di ujung pintu dengan napas yang tersenggal-senggal. Ia baru saja menghabisi para bawahan Kim Junmyeon tadi.

“Polisi sudah datang, biar mereka yang mengurusinya nanti. Sekarang lebih baik kau urusi Minjoo terlebih dahulu!”

Baekhyun pun tersadar akan omongan Chanyeol. Ia melupakan Han Minjoo yang seharusnya lebih utama ia urusi ketimbang Kim Junmyeon.

Ia pun segera membangkitkan tubuhnya dan menghampiri Minjoo di atas kasur.

Perlahan ia mengangkat tubuh Minjoo ke atas pangkuannya lalu menatap wajah gadis itu.

“Minjoo-ya..”

Ia segera membukakan lakban hitam yang menutupi mulut gadis itu.

Baekhyun tak bisa menahan air matanya untuk tidak mengalir ketika melihat kondisi gadis ini.

Perban di kepala dan tangannya, ujung bibirnya yang sedikit memar, luka bekas cengkraman di lehernya.

Sunggu itu semua membuat Baekhyun mematahkan hatinya.

“Baek..hyun-ah? Apakah ini.. kau?”

Minjoo menutup matanya sambil menggumamkan pertanyaan itu.

Baekhyun pun tersenyum walaupun beberapa genangan aliran air mata mengalir di pipinya.

“Iya ini aku, Minjoo-ya.. Ini aku, Byun Baekhyun.”

Minjoo pun hanya bisa tersenyum sambil tetap menutup matanya. ia merasa lega kali ini setelah bisa mendengar suara Baekhyun walaupun ia belum bisa membuka matanya dan melihat wajah pria itu.

“Minjoo-ya, kumohon bertahan, hm?”

Baekhyun segera melepaskan jaketnya lalu memasangkannya di tubuh Minjoo, menutupi sebagian tubuh gadis itu yang tak terbaluti gaun merahnya yang telah koyak. Setelahnya Baekhyun mengangkat tubuh Minjoo dan segera pergi menuju mobil polisi yang berada di luar.

“Tuan Baekhyun? Mengapa anda bisa ada disini? Bukankah anda seharusnya berada di rumah sakit—“ tanya seorang polisi yang melihat Baekhyun keluar dari gubuk tua tersebut.

“Cepat bawa Aku dan Minjoo pergi! Minjoo membutuhkan pertolongan medis sekarang!”

Polisi tersebut pun melihat ke arah Minjoo yang terkapar disana dan setelahnya mengangguk cepat.

“Baiklah, ayo.”

Baekhyun pun segera membawa Minjoo yang berada di pangkuannya untuk masuk ke dalam mobil polisi. Setelahnya polisi itu pun membawa mereka dengan cepat menuju Seoul untuk segera membawa gadis ini ke rumah sakit.

Baekhyun tak melepaskan tubuh Minjoo barang sedikit pun dari pangkuannya. Tak ingin kehilangan gadis itu sekali lagi.

“Baekhyun-ah..”

Baekhyun melihat ke arah Minjoo yang kali ini membuka matanya walaupun sayu.

“Iya, Minjoo-ya?”

“Bahumu…”

Baekhyun pun melihat ke arah bahunya. Terdapar bercak darah di permukaan bajunya. Menandakan bahwa luka operasinya kembali terbuka namun Baekhyun tak merasakan sakit sama sekali disana.

“Aku tidak apa-apa. Kau bertahanlah, kumohon..”

Baekhyun pun membenarkan posisi tubuh Minjoo dan mendekapnya cukup erat. Mencoba menyalurkan kehangatan disana.

Minjoo pun lambat laun mulai kehilangan kesadarannya setelah Baekhyun mendekapnya seperti itu. kekuatan tubuhnya habis sudah.

Baekhyun duduk dengan bahu di tekuk dan menyatukan tangannya di atas pangkuannya. Belum beberapa lama dari situ, ia kembali membangkitkan dirinya lalu berjalan mendekati pintu ruangan dimana Minjoo sedang di periksa.

Sudah cukup lama Baekhyun terdiam di luar pintu dengan kegiatan duduk lalu berjalan mondar-mandir di hadapan pintu ruangan tersebut menunggu dokter yang memeriksa Minjoo keluar dan memberitahunya keadaan gadis itu.

Luka bekas tembaknya yang terbuka lagi karena ia menghajar Junmyeon tadi pun ia hiraukan. Ia tak bisa merasakan sakitnya luka itu karena tertutupi oleh perasaan yang membuncah di hatinya.

Mengkhawatirkan Minjoo bisa sebegitu menyakitkannya untuk diri Baekhyun.

“Baekhyun-ah..”

Baekhyun pun memutar tubuhnya dan melihat Ayah dan Ibunya serta Bora berjalan menghampirinya.

“Apakah Minjoo di dalam?” tanya Ayahnya setelah berhasil menghampiri Baekhyun.

“Iya dia dalam. Dokter sedang memeriksa keadaanya sejak 40 menit yang lalu namun sampai saat ini ia belum keluar..” terdapat nada cemas dari perkataan Baekhyun yang dapat Ayahnya dengar dengan jelas.

“Kau bersabarlah dan tenangkan dirimu—“

“Oppa! Bahumu!”

Bora pun menunjuk ke arah bahu Baekhyun yang berdarah tadi. Membuat secara otomati Ayah dan Ibunya melihat ke arah bahunya.

“Ya Tuhan! Baekhyun-ah, lukamu!” Ibunya sedikit meninggikan suara sambil menutup mulutnya, “Apa kau baik-baik saja?! Apa yang terjadi denganmu, hm?!”

“Aku baik-baik saja, Ibu. Sungguh”

Bora pun mendekatkan langkahnya pada tubuh Baekhyun lalu mengenggam tangan pria itu bergegas untuk membawanya ke ruangan suster agar perbannya bisa di gantikan.

“Tapi itu tetap harus di berishkan, Oppa. Ayo kita ke ruangan suster..”

Bora pun sudah menarik tangan Baekhyun namun sebelum Bora melangkahkan kakinya kembali, Baekhyun melepaskan tangan Bora dengan perlahan.

“Sudahku bilang aku tidak apa-apa. Ini bukan luka berat dan biarkan aku menunggu dokter keluar.”

“Tapi Oppa—“

“Kumohon Bora-ya, biarkan aku tahu keadaan istriku terlebih dahulu. aku sungguh tidak apa-apa.”

Bora bisa merasakan hatinya memanas saat itu juga mendengar penuturan kata Baekhyun. ia sedikit mengepalkan tangannya yang tak seorang pun bisa melihat hal itu.

Tak lama dari situ, pintu ruangan dokter pun terbuka dan menampakkan dokter yang keluar dari sana.

Melihat hal itu, Baekhyun pun dengan segera menghampiri dokter tersebut.

“Bagaimana keadaannya?! Bagaimana keadaan istri saya, dok?!”

Dokter itu menghembuskan napasnya perlahan, “Istri anda sebenarnya dalam kondisi yang sangat buruk. Luka yang terdapat di sekujur tubuhnya membuat efek pada istri anda kehilangan banyak energi di tambah luka yang menimbulkan pendarahan seperti di dahi dan tangannya.”

Baekhyun bisa merasakan hatinya mencelos seketika mendengar penuturan kata dokter itu. ingin rasanya ia meminta tolong pada petinju kelas dunia untuk memukulinya hingga wajahnya melebam saat ini juga.

“Di tambah lagi istri anda tidak memasukkan nutrisi ke dalam tubuhnya selama 5 hari ia di culik. Membuat keadaannya benar-benar turun dan sangat buruk.”

“Lalu.. apakah ia sudah sadar?”

Dokter itu kembali lagi menghembuskan napasnya dengan berat sambil menggelengkan kepalanya, “Belum. Ia belum sadar. Dan saya sendiri pun tidak tahu kapan ia akan sadar.”

Baekhyun tak kuasa lagi untuk tidak menurunkan air matanya dari sudut matanya. ini terlalu menyakitkan untuknya.

“Mohon bersabarlah tuan Baekhyun. kami akan melakukan yang terbaik untuk istri anda, kau tenang saja.” Dokter itu pun mencoba tersenyum pada Baekhyun, memberikan kepercayaan pada Baekhyun disana. Setelah itu, dokter itu melihat ke arah bahu Baekhyun yang berdarah.

“Tuan.. apakah tuan terluka? Kurasa anda membutuhkan pertolongan juga..”

Dokter itu memanggil suster yang bertugas lalu menyuruh suster itu untuk membawa Baekhyun ke ruangan yang lainnya untuk membersihkan lukanya.

Namun Baekhyun menghiraukannya dan membiarkan tubuhnya di bawa dengan bantuan suster tersebut.

Baekhyun tak bisa memfokuskan pandangannya pada sekitar. Suara di sekitarnya mengecil dan hanya pikirannya lah yang mendominasi pandangan Baekhyun.

Hatinya sakit. Terlalu sakit dan lebih sakit jika harus di bandingkan ketika ia tertembak tempo waktu lalu.

Minjoo seperti ini karena salahnya.

Ini semua salahnya.

.

.

Setelah lukanya di bersihkan dan digantikan perbannya, Baekhyun segera mendatangi kamar dimana Minjoo di rawat.

Ia melihat gadis itu terkapar lemah dengan selang pernapasan di hidungnya.

Kedua matanya tertutup sangat rapat seperti tak ingin lagi untuk terbuka.

Entah sudah keberapa kalinya Baekhyun menurunkan air matanya hari ini. Melihat Minjoo yang terkapar lemah seperti itu hanya membuat hatinya terus menerus berdenyut sakit.

Ini semua salahnya.

Seharusnya Baekhyun bisa lebih kuat pada saat itu dan tak membiarkan mereka membawa Minjoo dan menyiksa gadis itu seperti sekarang ini.

Seharusnya Baekhyun tidak selemah ini.

Baekhyun melangkahkan kakinya mendekati ranjang Minjoo.

Lalu perlahan menggenggam jemari gadis itu.

“Minjoo-ya..”

Cklek.

Pintu pun terbuka oleh Bora dan setelahnya gadis itu masuk ke dalam ruangan tersebut.

“Oppa.. Ayah dan Ibu akan pulang sekarang, kau juga ikut pulang, hm? Biarkan aku yang menunggui istrimu disini sampai ia sadar..”

Baekhyun menggenggam jemari Minjoo lebih erat lagi.

“Kau tak usah repot-repot, Bora-ya. Aku yang akan menjaganya disini dan lebih baik kau ikut pulang bersama Ayah dan Ibu.”

“Oppa tapi keadaanmu belum membaik.. lebih baik kau pulang, hm? Aku berjanji akan menjaga istrimu sampai—“

“Yoon Bora. Kumohon.” Baekhyun terus menatap setiap lekuk wajah Minjoo dengan detail walaupun itu hanya semakin menambah luka di hatinya. “Pulanglah. Dan biarkan aku tinggal disini bersama Minjoo. Aku yang akan menjaganya.”

Bora lagi-lagi harus menahan emosinya dengan mengepalkan tangannya. ia pun mencoba mengalah

“Baiklah. Aku akan pulang. Kau.. hati-hati, Oppa.”

Baekhyun tidak menjawab perkataan Bora. Ia menyibukkan dirinya dengan menggenggam jemari Minjoo dan menatap wajahnya lekat-lekat.

Tidak mendapatkan jawaban dari Baekhyun, Bora pun dengan kesal memutar tubuhnya lalu segera meninggalkan ruangan itu. membiarkan Baekhyun dan Minjoo tertinggal disana.

Tak lama dari kepergian Bora, Baekhyun mendudukan dirinya di tepi ranjang. Mencoba untuk terus menatap dalam Han Minjoo. Tangannya perlahan terangkat ke atas lalu memegang setiap luka yang Minjoo dapatkan.

Cengkraman di lehernya, luka di sudut bibirnya dan setelahnya luka di pelipisnya.

Baekhyun mengusap pelan di setiap luka yang Minjoo dapatkan sambil menahan tangisnya.

Sebelumnya, Baekhyun belum pernah merasakan sesakit ini pada organ tubuhnya yang bernama hati itu. hanya karena melihat Minjoo seperti ini pun bisa menggoreskan luka yang sangat dalam pada hatinya.

Baekhyun mendekatkan wajahnya pada wajah Minjoo lalu menatap gadis itu dalam-dalam.

Ingin sekali Baekhyun melihat manik indah yang Minjoo sembunyikan sekarang ini.

Merasakan betapa bahagianya ketika ia masuk kedunia gadis itu lagi.

Betapa tenangnya hidup di dalam dunia gadis itu.

“Kumohon..” Baekhyun menjatuhkan air matanya pada pipi Minjoo. Merealisasikan betapa hancurnya hati ia saat ini.

“Bangunlah. Kumohon bangunlah, Minjoo..”

.

.

Hari demi hari Baekhyun lewati hanya dengan terus mendudukan tubuhnya di samping ranjang Minjoo sambil menatap gadis itu.

Ayahnya sudah menyuruhnya untuk pulang. Ibunya hanya bisa datang untuk membawakannya bekal dan pakaian ganti tapi pada akhirnya bekalnya itu hanya membusuk disana.

Baekhyun tidak pernah punya selera makan selama Minjoo belum membukakan matanya.

Yang membuatnya Baekhyun tidak mau beranjak dari kursinya dan berakhir dengan mengusir mereka yang menyuruhnya untuk makan ataupun untuk pulang.

Hari ini Sehun datang untuk menjenguk Minjoo seperti sebelumnya selama beberapa hari ini.

Sehun sudah sering kali menawari Baekhyun untuk bertukar posisi dengannya dalam menunggui Han Minjoo.

Tapi bukan Baekhyun namanya jika ia menyerah seperti itu saja. Sehun selalu mendapatkan penolakan pada akhirnya.

“Baekhyun-ssi.”

Kali ini Sehun mencoba untuk membujuk Baekhyun berkali lagi.

“Kurasa anda harus pulang terlebih dahulu. kondisi anda belum terlalu membaik, mohon untuk tidak di paksakan. Jika begini terus, ketika Minjoo sadar kau akan jatuh sakit—“

“Jika kau datang kesini hanya untuk membahas perihal itu, lebih baik kau keluar sekarang.”

Sehun terlonjak kaget, “Baekhyun-ssi.. aku mencoba untuk membantumu dalam hal ini, aku—“

“Kumohon kau keluar sekarang juga sebelum aku meninggikan suaraku dan mengganggu ketenangan Han Minjoo.”

Sehun pun hanya bisa menghembuskan napas dengan pasrah lalu menuruti perkataan Baekhyun.

“Baiklah. Aku pergi sekarang.”

Sehun memutar tubuhnya lalu segera keluar dari ruangan tersebut.

Baekhyun lagi-lagi menatap wajah Minjoo yang masih terkapar lemah di atas ranjang dan menutupkan matanya.

Hatinya masih merasakan hal yang sama selama beberapa hari ini.

Sesungguhnya ia sudah tidak kuat jika harus merasakan ini lagi untuk hari berikutnya.

Hatinya bukanlah tercipta dari baja yang tidak akan hancur kapanpun.

“Minjoo-ya.. kumohon bangunlah..” Baekhyun lagi dan lagi meneteskan air matanya. “Kau sudah terlalu lama hidup di alam mimpimu..”

.

.

“Baekhyun-ssi? Tuan Baekhyun?”

Baekhyun tertidur dengan tubuh yang menangkup sambil menggenggam tangan Minjoo. Air matanya mengering di pipinya, menandakan bahwa ia ketiduran setelah ia menangis semalam karena Minjoo.

Ia menolehkan wajahnya dan melihat ke arah seseorang yang membangunkannya tadi.

Ah, ternyata suster yang di setiap pagi hari mengecek keadaan Minjoo rupanya.

“Maaf saya akan mengecek keadaan nona Minjoo sebentar..” tuturnya dengan ramah. Baekhyun pun mengangguk pelan lalu setelahnya melepaskan eratan tangannya pada jemari Minjoo dan menjauh dari sana.

“Tuan.. kurasa tuan harus membersihkan diri anda dan mendapatkan beberapa makanan untuk masuk kedalam tubuh tuan..”

Baekhyun pun hanya bisa terdiam mendengar perkataan suster itu.

“Bagaimanapun juga, anda harus tetap menjaga kondisi anda untuk terus bisa menjaga istri tuan. Bagaimana jika ketika istri anda sadar tapi ketika saat itu juga tuan jatuh sakit?”

Baekhyun meresapi perkataan suster itu dan mencoba berpikir ulang.

“Kalau anda khawatir karena takut ketika istri anda tersadar dan tidak ada siapa-siapa di sekitarnya, saya bersedia untuk menjaga istri tuan disini sampai tuan telah selesai membersihkan diri tuan..”

“Benarkah?”

“Iya. Saya akan melakukan itu jika tuan mau.”

Baekhyun pun mencoba menuruti perkataan suster ini. Perkataannya memang ada benarnya juga, tentunya ia tidak mau ketika Minjoo sadar ia malah terjatuh sakit.

“Baiklah. Terima kasih sebelumnya, saya akan keluar sekarang.”

Suster itu pun tersenyum lalu mengangguk sekali menyetujui perkataan Baekhyun.

.

.

Baekhyun bisa merasakan energinya sedikit terisi kembali setelah berhasil membersihkan dirinya dan mendapatkan makanan di kantin rumah sakit ini.

Ia sekarang sedang berjalan untuk menuju kamar inap gadisnya, melewati meja suster yang berada di tengah lantai tersebut.

Ketika ia melewati meja itu, ia melihat suster yang berjanji menjaga Minjoo sampai ia kembali disana.

“Suster?” Baekhyun pun segera menghampiri suster itu. “Mengapa anda disini?! Bukankah anda berjanji untuk menjaga istri saya sampai saya kembali lagi!?”

Suster itu pun terlonjak kaget, “Begini pak, Istri anda sudah sadar tadi dan sekarang seseorang sedang mengunjunginya.”

Baekhyun bisa merasakan hatinya bergemuruh cepat saat ini, “Dia sudah sadar?!”

“Iya, istri anda sudah sadar, tuan.”

Tanpa aba-aba lagi, Baekhyun pun dengan segera melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa menuju kamar Minjoo.

Ia membuka pintu itu dengan kasar dan setelahnya segera masuk ke dalam.

Tak dapat ia pungkiri lagi hatinya merasa sangat lega saat ini.

Minjoo disana dengan mata terbuka dan selang napasnya sudah ia lepas.

“Minjoo-ya..”

Sehun yang tadinya sedang membantu Minjoo untuk berdiri dan membantu gadis itu untuk pergi ke kamar mandi pun menghentikan kegiatannya.

Begitu juga dengan Han Minjoo. Gadis itu perlahan menolehkan kepalanya setelah mendengar suara yang sangat familiar di pendengarannya.

Baekhyun perlahan melangkahkan kakinya menghampiri Minjoo.

“Kau sudah bangun, Minjoo-ya?”

Minjoo pun mencoba meneguhkan hatinya untuk mencoba tersenyum datar pada Baekhyun.

“Iya aku sudah sadar Baekhyun-ah.”

Baekhyun tak bisa menahan senyuman di bibirnya dan ia bisa merasakan hatinya membuncah saat ini.

“Syukurlah. Syukurlah kau sudah sadar, Minjoo-ya..”

“Dan oleh karena itu, lebih baik kau pulang sekarang, Baekhyun-ah.”

Baekhyun bisa merasakan hatinya mencelos kembali saat ini.

“Terima kasih telah menjagaku selama beberapa hari ini dan sekarang kau boleh pulang.”

Baekhyun tidak habis berpikir, mengapa Minjoo mengatakan ini padanya.

“Minjoo-ya, apa kau marah karena aku tidak menolongmu, hm? Apa karena—“

“Kumohon untuk tidak mengkhawatirkanku lagi karena aku sudah sadar sekarang. Kau benar-benar bisa pulang sekarang, Baekhyun.”

Tak terasa sudah kesekian kalinya hati Baekhyun berdenyut sakit beberapa hari ini. Dan perkataan Minjoo saat ini merupakan yang terburuk.

“Kenapa Minjoo-ya!? Kenapa?! Apa karena aku tidak bisa menyelamatkanmu?! Kumohon maafkan aku—“

“Baekhyun-ssi, pelankan suaramu. Kita sedang berada di rumah sakit sekarang.”

Baekhyun menolehkan pandangannya menatap Sehun dengan dingin, “Kau lebih baik keluar sekarang. Ini merupakan antara aku dan istriku. Kau tidak berhak ikut campur dalam masalah ini.”

Sehun sedikit mengepalkan tangannya dan berniat memukul wajah Baekhyun saat ini juga. Ia berkata selayaknya Minjoo adalah barang miliknya dan tidak ada seorang pun yang boleh mengurusinya.

“Jaga ucapanmu Baekhyun-ssi—“

“Sehun-ah, hentikan.” Minjoo mencoba untuk melerai kedua orang itu yang jika tak ia lerai akan terjadi pertengkaran disana.

“Apa yang ia katakan benar, ini urusanku dengannya. Aku istrinya dan aku seharusnya mematuhi perkataannya.”

“Minjoo-ya—“

“Kau bisa keluar dahulu Sehun-ah..”

Jika Minjoo sudah memohon seperti itu, Sehun mau tak mau harus menuruti perkataannya. Sehun pun perlahan melangkahkan kakinya dan mulai menjauh lalu keluar melewati pintu. Menyisakan mereka berdua disana.

Baekhyun menghampiri tubuh Minjoo yang sebelumnya telah berdiri di bantu oleh Sehun.

“Kau marah padaku karena aku tidak menyelamatkanmu dengan segera, Minjoo-ya? Jika benar maafkan—“

“Aku tidak marah mengenai perihal itu Baekhyun-ah. aku hanya ingin kau pulang sekarang dan berhenti mengkhawatirkan keadaanku.”

“Berhenti mengkhawatirkanmu?” Baekhyun terkekeh pelan walaupun ia bisa merasakan hatinya mencelos saat itu juga.

“Tak tahukah kau betapa sakitnya hati ini melihat matamu tertutup dan alat pernapasan sialan itu menempel di hidungmu?”

Minjoo perlahan mengangkat kepalanya yang tertunduk dan menatap Baekhyun dengan ragu.

“Tak tahukah kau betapa sakitnya diriku hanya karena melihatmu terbaring lemah seperti itu di atas sana? Tak tahukah kau sebetapa bencinya aku melihat jam yang terus berdetik namun matamu masih belum membuka juga, Minjoo-ya?”

Napasnya tersenggal-senggal dan wajahnya mulai memerah padam, “Tahukah kau mengapa aku merasakan itu semua? Karena aku merasa aku lah penyebabnya! Aku lah penyebab mengapa kau terluka seperti ini dan terbaringlah seperti kemarin! Perasaan bersalah itu menyiksaku hingga aku menginginkan mati saja rasanya!”

Minjoo meneteskan air matanya mendengarkan setiap perkataan Baekhyun.

“Dan sekarang kau menyuruhku untuk pergi, Minjoo-ya?! Menyuruhku untuk membiarkan perasaan itu terus menyiksa di hatiku?!”

Minjoo bisa merasakan keseriusan di setiap perkataan Baekhyun yang membuat hatinya ikut tersakiti. menggelengkan kepalanya pelan, Minjoo pun dengan melingkarkan lengannya pada pinggang Baekhyun.

“Maafkan aku. Maafkan aku karena telah membuatmu merasakan perasaan itu, Baekhyun-ah.”

Minjoo menangis terisak disana. Kali ini merasakan betapa bodohnya ia membiarkan Baekhyun merasakan perasaan itu.

“Aku tak bermaksud untuk membuatmu merasakan itu Baekhyun-ah. kumohon, berhenti menyalahkan dirimu karena itu bukan salahmu. Kumohon jangan membuat perasaan itu menyakitimu lebih dalam lagi Baekhyun-ah..”

Baekhyun pun bisa merasakan kelegaan yang menyalur pada tubuhnya.

Ia kemudian melingkarkan kedua tangannya pada tubuh Minjoo, membawa gadis itu pada dekapannya.

“Tak tahukah kau betapa takutnya aku akan kehilangan dirimu kemarin Minjoo-ya.. kumohon jangan membiarkan perasaan itu menguasai diriku, kumohon..”

Minjoo mengangguk pelan di dalam dekapan Baekhyun. “tak perlu takut lagi, Baekhyun-ah. aku disini. Dan aku berjanji tak akan membiarkan perasaan itu menghantui dirimu lagi..”

Baekhyun tersenyum di balik punggung Minjoo dan mencoba menelusupi permukaan leher gadis itu. menghirum sebanyak-banyaknya aroma tubuh gadis itu walaupun tercampur dengan bau rumah sakit.

Baekhyun tak peduli dengan itu.

Yang ia butuhkan hanyalah Minjoo untuk berada di dekapannya saat ini.

Membuat dirinya percaya bahwa gadis ini telah benar-benar kembali berada di sampingnya.

Junmyeon termenung dalam diam di balik jeruji pagar dan jangan lupakan seragam berwarna oranye yang membaluti tubuhnya. Seragam khusus untuk para pelaku kejahatan.

Junmyeon langsung di tangkap oleh polisi saat dimana Baekhyun juga menghajarnya habis-habisan. Lihatlah, bahkan walaupun itu sudah beberapa hari yang lalu di permukaan wajahnya masih banyak terdapat lebam berwarna merah kebiruan. Menandakan betapa kerasnya Baekhyun menghantamnya waktu itu.

“Kim Junmyeon-ssi.” Seorang polisi menghampiri pintu ruang tahanan Junmyeon. Junmyeon tak menghiraukan perkataan polisi tersebut.

“Ada seseorang yang ingin menemuimu.” Setelahnya polisi tersebut membuka kunci pintu tahanan Junmyeon dan menunggu pria itu untuk beranjak dari kursinya.

Tak lama dari situ, Junmyeon pun mengangkat tubuhnya untuk berdiri lalu bergegas berjalan keluar dari ruangan.

Polisi mendampinginya sampai dimana tempat yang di sediakan khusus untuk para keluarga atau kerabat pelaku kejahatan ingin membesuknya.

Seorang gadis muda dengan rok mini serta baju ketatnya sedang duduk di salah satu meja.

Junmyeon pun tersontak kaget, setelah mengetahui siapa yang membesuknya.

“Waktumu hanya 15 menit.” Polisi pun diam di dekat pintu sambil mengawasi mereka.

“Annyeong, Oppa..”

“Bora-ya…”

.

.

“Baekhyun-ah, sudah kubilang aku tidak menyukai jus sirsak.”

Baekhyun terus menyodorkan gelas yang berisi jus sirsak tersebut ke hadapan Minjoo, memaksa gadis itu untuk meminumnya.

“Ya. sirsak itu mengandung banyak antioksidan yang bisa mempercepat kembali proses metabolisme tubuhmu yang sempat rusak kemarin. Kau harus meminumnya.”

Minjoo mendesis sebal, “Tapi aku tidak menyukainya, Byun Baekhyun.”

“Suka tidak suka kau harus tetap meminumnya. Cepat minum ini, tanganku mulai pegal hanya karena menahan gelas ini.”

Minjoo berdecak kesal pada Baekhyun lalu pada akhirnya ia mengalah. Membuat Baekhyun tersenyum menang.

Ia menarik sedotan yang menjulang dari gelas itu lalu meminumnya dengan cepat

Baru saja dua seruput yang ia ambil, ia langsung memundurkan kembali wajahnya.

“Baekhyun-ah, aku benar-benar tak menyukainya..”

“Tidak bisa nona Han Minjoo. Kau harus meminumnya sampai paling tidak setengahnya.”

Minjoo pun menatap mata Baekhyun dengan dalam lalu mengedip-ngedipkannya serta sedikit mempoutkan bibirnya, mencoba untuk membujuk pria itu.

“Kumohon, Baekhyun-ah.. aku benar-benar tidak menyukainya..”

Baekhyun pun terkekeh pelan, “Ya. aegyo-mu itu tidak berhasil padaku. Percuma saja, cepat minum lagi.” Lalu ia menyodorkan sedotan itu tepat di hadapan bibir Minjoo.

Minjoo pun hanya bisa menghelakan napasnya pendek, “Kau keterlaluan, Baekhyun-ah.” dan ia mengambil sedotan itu, segera meminum jus sirsaknya hingga gelasnya berkurang setengahnya.

“Nah, ini baru istriku yang pintar.” Baekhyun tersenyum puas melihat Minjoo yang menahan rasa enggannya mati-matian. Tapi ia melakukan itu bukan untuk menjahili Minjoo. Ia melakukan itu karena ia peduli pada Minjoo.

Baekhyun menaruh gelas yang berisi jus sirsak itu di atas nakas lalu mengambil gelas yang berisi air putih.

“setidaknya aku masih baik mau memberikanmu air putih agar menetralkan rasa sirsak itu di mulutmu.”

Minjoo hanya mengerucutkan bibirnya sebal lalu meneguk air putih itu di bantu dengan Baekhyun.

“Karena sudah terlalu malam, kau sebaiknya tidur sekarang. Kau harus banyak istirahat agar kau bisa cepat sembuh, Minjoo-ya.”

Minjoo mengangguk menuruti perkataan Baekhyun lalu perlahan ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Baekhyun ikut membantu untuk menutupi tubuh Minjoo dengan selimut disana.

Setelah Minjoo merebahkan tubuhnya, Baekhyun pun duduk di tepi ranjang untuk menemani gadis itu sampai tertidur setidaknya. Baekhyun mengangkat tangannya lalu menaruhnya di puncak kepala Minjoo, mengusap pelan kepala gadis itu.

“Cepat kau tutup matamu, hm?”

Minjoo bisa merasakan jika dadanya bergemuruh saat ini juga.

Baekhyun terus menerus melakukan hal yang manis padanya semenjak siang tadi setelah mereka bertengkar kecil ketika Minjoo sudah sadar tadi.

Baekhyun terus menemaninya, membantunya untuk makan, mengantarnya jika ia butuh ke toilet, membantunya untuk minum, bertanya apakah ada sesuatu yang sakit di bagian tubuhnya.

Ia merasakan perutnya terus menerus menari selama berjam-jam ini. Membuat hawa panas di sekitar tubuhnya dan yang harus ia akui ia menyukai sensasi itu.

“Apa yang kau pikirkan, Minjoo-ya?”

Minjoo menelan salivanya pelan, “Ti-tidak ada.. Baekhyun-ah.”

“Lalu kenapa kau belum tidur juga?”

“A-aku.. tidak bisa tidur, Baekhyun-ah..”  Bagaimana bisa aku tidur jika kau melakukan ini padaku, Baekhyun-ah.

“Apakah aku harus tidur di sampingmu?”

Minjoo merasakan jantung berdetak dengan kencang, “A-apa?”

“Kau ingin aku tidur di sampingmu?”

Minjoo menelan salivanya dengar lambat.

Ia terlalu munafik jika harus menolak tawaran tersebut.

Minjoo memang sedang sangat ingin tidur bersama Baekhyun saat ini. Sebelumnya, semenjak Minjoo memutuskan untuk menjauhi Baekhyun tempo waktu lalu, mereka jarang sekali bisa tidur bersama dengan saling berhadapan karena Minjoo selalu memutuskan untuk tidur terlebih dahulu sebelum pria itu naik ke atas ranjangnya.

Bisa di katakan Minjoo merindukan pria ini. Sangat.

Minjoo pun meneguhkan hatinya, membiarkan harga dirinya jatuh demi kepuasaan dalam tubuhnya.

ia mengangguk pelan. Mengiyakan perkataan Baekhyun.

Baekhyun yang melihat itu pun terkekeh pelan, “Kau manja ya kalau sedang sakit..”

Perlahan Baekhyun pun merebahkan tubuhnya di samping Minjoo dan menghadapkan wajahnya pada wajah gadis itu.

Jaraknya terlalu dekat, bahkan Minjoo bisa merasakan napas Baekhyun sedikit menerpa wajahnya. membuat darahnya berdesir seketika.

Baekhyun kembali mengangkat tangannya lalu menaruhnya di puncak kepala gadis itu dan melakukan hal yang sebelumnya.

“Sekarang kau tidur, hm?”

Minjoo mengangguk pelan walaupun matanya masih terus terbuka untuk menatap setiap lekuk wajah Baekhyun yang tampan.

Setelah puas menatap wajah Baekhyun yang tampan ia mencoba untuk menutup matanya, berharap wajah Baekhyun tersimpan di memori otaknya lalu masuk kedalam mimpinya.

Tapi sesuatu hal mengingatkannya.

Minjoo segera menyingkirkan tangan Baekhyun yang berada di kepalanya, membuat pria itu kebingungan.

“Kenapa, Minjoo-ya?”

Perlahan Minjoo mendekatkan tubuhnya pada Baekhyun. ia membuka sedikit sweater yang membaluti tubuh pria itu melalui kerahnya dan melihat ke arah Bahu pria tersebut.

Terakhir kali ia sadar ketika Baekhyun berhasil menemukannya, Minjoo bisa melihat bahwa dari bahu Baekhyun mengeluarkan darah dan menembus ke pakaian pria tersebut.

Benar saja, ia melihat bahu Baekhyun di perban disana.

“Ini luka tembak waktu itu, Baekhyun-ah?”

Baekhyun mengangguk.

Minjoo meringis melihat bahu Baekhyun yang di perban seperti itu, “Ini pasti menyakitkan, bukan? Dan lagi, pasti ketika kau mengangkatku waktu itu, luka ini terbuka lagi benar?”

Baekhyun tertawa pelan, “Iya, kau berat, kau tahu.”

Mungkin Baekhyun menganggap itu sebuah candaan, tapi tidak untuk Minjoo. Gadis itu langsung merasa bersalah karena membuat luka Baekhyun semakin parah.

“Maaf. Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud untuk membuat lukamu semakin parah Baekhyun-ah..”

Menyadari perubahan nada suara Minjoo, Baekhyun pun mengambil tangan Minjoo yang berada pada bahunya lalu mengenggam dengan erat.

“Hey. Aku baik-baik saja.. Kau tidak usah meminta maaf seperti itu, hm?”

Minjoo menatap Baekhyun dengan dalam, mencoba untuk tersenyum namun tetap perasaan bersalah itu masih mendiam di hatinya.

Baekhyun yang menyadari itu pun menggenggam jemari Minjoo lebih erat lagi.

“Aku serius, aku benar-benar baik-baik saja. Ini sudah tidak sakit lagi dan lagi pula ini tidak terlalu parah. Sudahlah, kau tak perlu merasa bersalah seperti itu, ok?”

Minjoo pun mencoba untuk menuruti perkataan Baekhyun dengan tersenyum padanya.

“Hmm.. kau ini mesum juga, Han Minjoo. Kau membuka bajuku dan memegang bahuku tanpa seizin dariku..”

Minjoo membulatkan matanya dan sedikit membuka mulutnya, “Y-ya.. A-aku tidak bermaksud seperti itu..”

Baekhyun pun tertawa melihat ekspresi dan penuturan kata Minjoo. Membuatnya semakin gemas pada gadis ini.

“Aku jadi ingin menciummu lagi, Minjoo-ya.”

Minjoo menegangkan tubuhnya.

“A-apa?”

Baekhyun tersenyum lalu setelahnya ia menyentuh pipi Minjoo dengan lembut dan menjatuhkan bibirnya pada bibir pink milik Minjoo.

Mengulumnya dengan lembut dan perlahan.

Dan Minjoo hanya bisa membulatkan matanya dengan dadanya yang bergemuruh disana.

5 detik kemudian, Baekhyun melepas tautannya dan menatap gadis itu.

Tersenyum setelahnya karena melihat wajah Minjoo yang memerah seperti kepiting rebus.

“Aku selalu menyukai wajahmu ketika setelah aku menciummu, Minjoo-ya..”

Minjoo bisa merasakan jantungnya berdetak dengan cepat hingga rasanya akan meledak saat itu juga.

Tak mendapat respon apa-apa dari Minjoo, Baekhyun pun memangkas jarak mereka dan menjatuhkan tubuh Minjoo pada dekapannya.

“Sekarang kau harus benar-benar tidur Minjoo-ya, sudah terlalu malam.”

Baekhyun membelai rambut Minjoo perlahan, membuat gadis itu senyaman mungkin berada pelukannya.

Minjoo pun tersadar dan tersenyum di dalam dekapan Baekhyun. Ia merasakan kehangatan yang mengkuar dari tubuh pria itu dan mencium setiap aroma Baekhyun yang memabukkan untuk indera penciumannya. Mencoba memanfaatkan kesempatan ini untuk kebutuhan pribadinya.

Perlahan Minjoo menaikkan tangannya dan menarik ujung sweater Baekhyun, membalas pelukan pria itu.

“Selamat malam, Baekhyun-ah..”

—TBC—

HALO GUYS.

Sekarang akunya lagi baik nih cuman dalam jangka seminggu udah updet. Terus siang lagi updetnya.

Sebenarnya aku senengnya kalo updet tuh malem-malem. Kenapa? Karena aku kalau baca fanfict itu harus malem-malem. Paling gak bisa deh kalau harus siang bacanya hahaha. Tapi karena kemarin banyak yang bilang udah pada sekolah dan pengen ff ini di updet pas mereka udah pulang… yaudah deh iya nurut aja ama mereka… *.*

Gimana nih?? Ini udah mau mendekatik konflik terbesarnya dan mungkin tinggal beberapa chapt lagi beres nih fanfict.

Masih banyak kekurangannya ya? maaf ya.. aku masih terus belajar buat nulis lebih better and better lagi, maaf kalau ini masih tidak mengenakkan di mata kaliaaann~~ T.T

Ohiya! Kemarin aku sempet senennnggg banget. Kenapa? Ff ini ada di top pages selama 4 hari! Ya ampun tau gak gimana senengnya aku sampe aku pengen peluk kalian satu-satu. Kalian baik banget ih mau baca dan ngasih komentar di ff ini padahal aku mah ya udah di baca aja sujud syukur gitu:’) Makasih ya guys, makasih bikin aku seneng karena hal gitu doang, keliatannya lebay sih tapi kalau kalian di posisi aku sebagai author pasti ngerasain seneng banget loh cuman karena ituuu.. makasih ya makasih banget, aku nggak bisa say thanks ke kalian secara satu per satu tapi aku mencoba untuk bilang ke kalian lewat sinii.. dan kalian juga harus tau aku selalu baca komentar kalian ok? Dari komentar yang ngasih kritikan sampe yang bikin ngakak hingga bikin aku greget pengen ngasih tau gitu. Lol. Ya pokonya thank you so much guys, you are da best laaah <3<3

Nah ini nih kabar buruknya ini… aku tadi bilangkan ff ini kurang lebih beberapa chapt lagi mau beres? Tapi masalahnya aku belum nemuin alur yang pas buat ngelanjutin ff ini ke ending yang udah aku pikirkan. “AUTHOOOORRR IIIIHHHHH” IYA MAAF MAAF AKU AKAN BERUSAHA KOK BUAT NEMUIN ALURNYA DENGAN SEGERAA. Maka dari itu kalian harus sabar ya(?) terus doain aku biar aku dapet ilham buat nerusin cerita ini(?) wkwkwk.

Udah bacot banget ya aku, mohon maaf apabila ada salah kata ya!

See you again on chapter 12th…………….soon.

Bye

4558fe6bgw1euo3s8yg5wj21kw14i7d4

p.s: he dyed his hair into grey one omgㅠㅠ i cant handle it, Byun Baekhyun!!♥♥

-Baek’s sooner to be fiancée again-

298 responses to “THE SUN [Chapter 11: Don’t Want to Lose You] -by ByeonieB

  1. aaaahh suka banget liat mereka yg mulai membuka diri satu sama lain tapi baek belum juga bilang kalo dia suka sama minjoo, dia cuma nunjukin perhatiannya ke minjoo. baek gimana sih, harusnya bilang juga dong ke minjoo kalo baek suka minjoo. duh greget tau gak sama baek, kayak plin plan gitu >< usir aja tuh cewek, emosi liatnya :v wkwk

  2. Nah bner Junmyyeon pelakunya >,<
    tp knp hrus diculik sih Minjoonya? Pake disiksa gtu😦
    lengkap sdah penderitaan Minjoo,,
    tp Baek? Msih blm sdar ama perasaanmu? Qm btuh Minjoo Baek, qm cinta ama Minjoo, Minjoo itu belahan jiwamu Baek //knp gw yg ga woles?//
    au ah jongin lnjut baca aja yeah, fighting authornim :*

  3. I love everything about baek
    Huaa romantis banget thor
    Suka sama sikapnya baek
    Bora licik banget sih bikin kesel aja
    Untung mereka berdua udah baikan
    See you next chapter thor

  4. kan bener bora yg ada dibalik penculikan itu. cewe jahat emangg!!! Yaaak baek nya romantis banget. Seneng liat baek marah ngehajar junmyeon gara2 minjoo kkkk. aahhh konflik terbesar mulai datang??? tapi toh ujung nya baek sama minjoo pasti bersatu kok. makin rame, fighting eon!!!

  5. Aaaaa, uwe rasa uwee mulai gila wkwkwkwk gatau thor kenapa tp aku ketawa2 ndiri baca ff iniiii:3 aaaaak, baek bener2 juaraaaa!:3

  6. jadi bora ya dalang dr smuanya???gk nyangka kl dy bs sejahat itu…mdh2n baekhyun tau biar bora tau rasa…
    so sweet…^^ suka bgt moment2 baek ma minjoo.. ^^

  7. Speechless sama adegan2 di chapter ini
    Author bisa banget ngerangkai suasana di setiap adegan
    Aku gampang mengerti sama gambaran suasana yang author kasih
    Love u author wkwkkwk

  8. maapin aku kaaaaakkkkk di chapter 10 gak bisa komen abisnya error mulu, aku buka nya di andro, ini minjem hp emak/? dan juga aku penasaran setengah mampus sama kelanjutannya, jadinya langsung klik chap 11 deh hehehehhehe xD
    Entah kenapa ya kak terlepas dari segala kekurangan diksi atau cara penulisan kamu, tetep aja ff ini nyantol dihati, apalagi cast nya byun baekkk omfg >.<
    Ijin baca next ya kak :*

  9. aigooo so sweet sekali mereka duuuhhhh… (U.U) apalagi si minjoonya yang girly be-et itu duh ditambah baek yang arghhh sulit untuk diungkapkan wkwkwkwk #lebay #abaikan *plak*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s