[Freelance] Silent (Part 8)

silent

Silent 8

Author : R.A

Cast : Lee Donghae

Lee Hyukjae

Cho Kyuhyun

Kim Hana (OC)

Genre : Romance, family, friendship, brothership

Rate : PG-15

Disclaimer : FF ini asli karyaku. Kalau pernah membacanya diblog lain, itu benar karena sudah pernah dipost diblogku sendiri. Hope u like it! Happy reading!!

 

***

“Jadi, siapa yang kau pilih?” Elie mencondongkan tubuhnya. Menatap Hana dengan mata berkedip nakal.

“Apa maksudmu?” Hana sibuk membolak-balikan buku tanpa menoleh pada Elie. Lagipula memang ia tak mengerti apa yang ditanyakan.

“Lee Hyukjae atau Lee Donghae?”

Hana mengerutkan kening, menutup bukunya lalu ditempatkan disamping gelas minumannya. “Elie, kau memintaku memilih dalam hal apa?”

“Kau tahu maksudku. Kau tak sadar kalau seisi kampus mulai memperhatikanmu?” Elie yang gemas mencomot kentang goreng yang baru diantarkan.

Hana tersenyum kecut, menghirup orange juice miliknya yang sisa setengah. “Aku tak pernah memperhatikan satu persatu wajah disini.”

“Mereka cemburu. Mereka kesal kenapa kau mulai sering terlihat bersama tiga sahabat itu. Untuk Donghae dan Kyuhyun, mungkin untuk mereka tidak masalah. Tapi ketika itu Hyukjae, maka artinya masalah!”

Oke, Hana mulai gerah dengan sahabatnya yang satu ini. “Apa semua orang begitu perduli soal Hyukjae?”

Elie mengangguk cepat. “Dia primadona disini. Dengan siapa dia sedang dekat, tentu akan jadi topik berita,” katanya dengan menggebu-gebu seakan menceritakan tentang drama yang berhasil membuat emosinya naik turun.

“Kalau begitu terserah mereka mau berpikir apa.” Hana mengibaskan tangannya acuh. Ia bukannya tak melihat bagaimana mata para gadis menatapnya sangat ‘ramah’. Tapi baginya, selama ia tak merasa melakukan kesalahan, maka tak ada yang perlu ditakuti. Ia dijauhi, dimusuhi, tak ada bedanya. Sehari-haripun ia bukan orang yang bisa ‘singgah’ kemana-mana. Selama ini ia menikmati lingkaran pergaulannya yang dianggap sempit. Mereka yang berkata demikian hanya tak mengenalnya karena ia tak sembarangan membuka tangan untuk orang yang ingin berteman. Di kampus ia baru dikenal karena berhasil menyangi Hyukjae di kompetisi dance, sebelumnya, ia bahkan tak terlihat. Sedangkan dikomunitas street dancenya selama dua tahun ini, tak ada yang tak mengenalnya.

“Jadi, kau akan membiarkan mereka berpikir liar tanpa kejelasan?” tanya Elie lagi dengan muka amat sangat penasaran. Nampaknya hidupnya takkan tenang sebelum Hana mendeklarasikan hubungan macam apa yang terjadi antara ia dan Hyukjae.

“Aku sungguh tak perduli pemikiran orang lain.”

“Tapi kau harus perduli pemikiranku! Kau tahu aku bisa membawanya ke dalam mimpi kalau rasa penasaran ini tak terjawab.”

Hana menunduk lesu. Susah sekali kalau sudah berhadapan dengan seorang Elie yang sedang penasaran. Kalau dibiarkan, bukan hanya Elie, tapi ia pun tidak akan tenang karena terus dicerca pertanyaan yang sama.

“Oke, katakan apa yang perlu kau ketahui!”

Elie bertepuk tangan pelan, memperbaiki letak tubuhnya dikursi agar lebih nyaman. Ia lipat kedua tangan diatas meja seolah-olah ia adalah murid TK yang siap mendongeng kepada teman-temannya. “Dengarkan aku!” Ujarnya serius. “Kau adalah sahabatku yang sulit bergaul. Kau tak menyukai apa yang kebanyakan gadis sukai termasuk mengejar-ngejar Hyukjae. Kau pernah bilang tidak menyukai Hyukjae, kau bilang dia tak lebih dari sekedar playboy kacangan. Kau ketus terhadapnya. Lalu setelah kompetisi selesai…” Elie berhenti sejenak guna menarik nafas. Hana nyaris tak bisa menahan tawa dengan tingkah gadis itu. Antusias sekali.

“Setelah kompetisi selesai kalian justru semakin dekat. Aku bahkan tak bisa menghitung sudah beberapa kali kalian makan bersama di cafe kampus.”

“Dia yang mendatangiku, bukan makan bersama,” sela Hana membuat Elie melotot kesal. “Jangan potong ucapanku! Apapun itu, intinya kalian bersama. Kau sudah lupa kalau kau tak menyukainya? Dan sekarang kau juga akrab dengan Donghae. Masih kuingat bagaimana ia begitu khawatir padamu waktu itu. Jadi sudah jelas, mereka berdua menyukaimu dan kau harus tentukan pilihan sebelum mereka terluka.”

Hana tertawa. Benar-benar tertawa keras dan memecah sunyi di cafe yang tengah lengang itu. Sungguh, ia tak menyangka bahwa Elie sudah berpikir sejauh itu. Sepertinya Elie punya bakat lain selain sebagai pengamat fashion, tapi juga wartawan. Cocok sekali baginya yang cerewet dan suka menerka suatu keadaan.

“Elie, kau lucu sekali.”

Elie mengerucutkan bibirnya. “Cukup jawab pertanyaanku. Siapa yang kau sukai?”

Hana menghentikan tawanya begitu Elie memancarkan hawa tak bersahabat. Baiklah, ia tahu gadis ini tak boleh dibiarkan hidup bersama rasa penasarannya. Ia memang harus menjawab.

“Hm, soal kedekatanku dengan mereka, itu karena mereka orang-orang yang menyenangkan. Hyukjae tak seburuk penilaianku selama ini, lalu Donghae sangat berjasa padaku. Bukankah wajar saja kami berteman?”

Elie menggeleng kuat, “Mereka menyukaimu, kau harus tegas!”

Ya ampun, seserius itu? Pikir Hana. Perutnya sampai geli memikirkan jawaban. Apa harus jawab saat ini juga? Tak habis akal, ia condongkan tubuhnya lalu memberi kode agar Elie mendekat. Maka dengan jarak wajah dua sentimeter saja, Hana tersenyum jahil. “Mau tahu pilihanku?”

Elie mengangguk cepat.

“Aku suka keduanya.”

Elie tercengang dengan pose mulut terbuka membentuk huruf O. Matanya berkelap – kelip tapi tubuhnya tak bereaksi. Puas mengerjai sahabatnya, Hana bangkit lalu mengambil tasnya. Ia berbalik dan….

“Mianhe….”

Hana menemukan sebuah boneka beruang biru muda didepan wajahnya. Boneka itu bergerak – gerak sambil mengeluarkan suara ‘mianhe’ berkali-kali. Ia pindahkan tatapannya kesamping untuk menemukan siapa yang memegang boneka tersebut. “Oh, kau.”

Ia menyingkirkan boneka itu dari hadapannya, kemudian berlalu begitu saja.

“Ya! Kau masih marah?” lelaki itu, alias Hyukjae langsung mengalungkan lengannya ke leher Hana, dan gadis itu tak berusaha menepis.

“Aku tidak marah.”

“Lalu kenapa kau tak terima permintaan maafku?” tanya Hyukjae sambil kembali memberikan boneka kecil ditangannya itu. Hana memutar bola matanya dengan muak. “Kau pikir aku akan suka benda-benda seperti ini?”

Hyukjae tertawa pelan, mengacak rambut Hana dengan tangannya yang masih diatas bahu gadis itu. “Justru karena aku tahu kau tak suka, aku memberikannya. Kau harus belajar untuk sedikit lebih normal.”

Hana melotot, segera menjauhkan lengan Hyukjae. “Maksudmu aku tidak normal?”

Hyukjae mengejar Hana yang berjalan cepat. Ia heran, rasanya cara jalan Hana tidak pernah tenang. “Kau ini mudah sekali marah. Maksudku, sesekali bersikaplah layaknya perempuan. Semua perempuan pasti suka dengan boneka ini. Apa iya aku harus memberimu boneka tengkorak juga?”

Hana tertawa kecil, mulai membuat langkahnya lebih tenang hingga beriringan dengan Hyukjae. “Kau benar. Kau harus membelikanku boneka tengkorak baru aku suka.”

Hyukjae kembali mengalungkan lengannya, mengindahkan kehebohan sekeliling yang sepertinya sedang berkasak-kusuk. Hana sendiri tak berusaha menjauh karena merasa cukup bahagia melihat wajah-wajah frustasi gadis-gadis itu.

”Jadi kau sudah tidak marah?”

“Aku memang tidak pernah marah,” tungkas Hana. Terlintas ide nakal, ia ambil boneka ditangan Hyukjae lalu masuk ke dalam tasnya yang memang cukup besar dibahu. “Biar ku jadikan pajangan didapur, menemani para pelayan selama memasak.”

“Cih…jahat sekali.”

Mereka terus melanjutkan obrolan sambil berjalan melintasi koridor kampus. Banyak pasang mata yang geram, kesal, atau pasrah. Diantara banyaknya mata yang menyaksikan kedekatan mereka, terselip seseorang yang mematung lemah dibalik pohon. Ia melihatnya. Ia melihat bagaimana Hana tertawa bersama Hyukjae. Ia melihat cara Hana menatap Hyukjae. Dan ulu hatinya seakan sedang ditusuk-tusuk.

Ia berbalik, bersandar pada batang pohon. Rasanya sama sekali tidak nyaman. Tadinya ia ingin menemui Hana untuk memastikan bahwa besok ia punya waktu untuk mengajaknya memasak bersama. Sayang, ia terlambat. Hanya sekian detik langkahnya tak lebih cepat dibanding Hyukjae. Hanya dalam beberapa detik ia kehilangan satu kesempatan.

Lee Donghae menghembuskan nafasnya dengan berat. Ia tak mau seperti ini terus. Ia dan Hyukjae punya kesempatan yang sama besar. Mereka sama-sama punya peluang untuk memenangkan hati Hana. Tak ada yang perlu mengalah jika Hana belum menentukan pilihan. Ia yakin, hubungan Hana dan Hyukjae masih sebatas teman dekat. Jadi, sebelum bendera putih berkibar, tentu harus ia kibarkan dulu bendera perang.

Donghae tersenyum geli. Tapi sungguh, ia tak main-main. Setidaknya untuk masalah ini saja, ia tak mau mundur sebelum mencoba. Bukankah Hyukjae pernah berkata bahwa tak masalah jika ia menyukai Hana? Bersaing secara sehat, secara laki-laki pasti lebih baik.

Ia kembali menghela nafas. Beberapa saat lagi, setelah Hyukjae tak berada didekat Hana, ia akan menemui gadis itu dan mengajaknya memasak bersama esok hari. Ya, ia harus melakukannya. Tidak boleh terlambat lagi.

Ia pun melangkah menuju koridor kampus dan mencari lift terdekat. Ia harus ke perpustakaan untuk keperluan tugas. Belum sempat tangannya menekan tombol, seseorang menyapa. “Lee Donghae.”

Ia menoleh ke kanan dan menemukan dosen ekonominya tersenyum ramah. Ia membungkuk 90 derajat lantas bertanya, “Anda mencariku?”

Pria itu mengangguk, sedikit melonggarkan dasinya yang tampak mencekik. “Sebaiknya kita bicara diruanganku.”

Donghae tak mengangguk tapi juga tak menolak. Ia ikuti dosennya yang kini masuk ke dalam lift. Meski sekarang dalam hati bertanya-tanya ada apa. Apa ia berbuat kesalahan? Atau tugasnya minggu lalu memprihatinkan?

“Jangan khawatir.”

Donghae menggaruk tengkuknya. Entah memang ia dikelilingi orang yang dapat membaca pikiran, atau wajahnya yang begitu mudah ditebak. Tapi kalau begini, susah sekali menghindar.

Mereka pun keluar begitu bunyi denting terdengar. Hanya berjalan sekitar 10 meter, mereka tiba didalam ruangan dengan papan nama tertempel didepannya. Tom Bradley namanya.

Donghae dipersilahkan masuk dan duduk di sofa empuk berwarna hitam disebelah kiri dari pintu. Sekilas ia melihat banyak terdapat foto dipajang diatas meja disamping tumpukan map warna warni. Pria bertubuh tinggi kekar itu menyalakan penghangat ruangan mengingat cuaca diluar mulai dingin.

Donghae sedikit kaku saat dosennya justru duduk disebelahnya, mengangkat kaki sebelah kiri untuk diletakkan diatas paha kanan. Matanya melirik ke kulkas kecil disudut ruangan. Mungkin maksudnya menawari Donghae untuk mengambil minuman, tapi Donghae segera menggeleng. Dosennya yang satu ini memang terkenal santai. Tidak punya reputasi sebagai seorang killer. Lagipula dari tampangnya saja ia tak pantas untuk berlagak galak. Terlalu tampan dan menenangkan. Sikapnya kepada mahasiswa selayaknya bergaul dengan teman. Terlihat sekali bahwa kebiasaannya selama tinggal diluar negeri tak juga luntur.

“Jadi….?” tanya Donghae to the point. Ia mulai takut.

“Sudah kubilang jangan khawatir. Aku hanya ingin mengobrol denganmu.”

Bulu kuduk Donghae meremang. Pernah ia dengar gossip seputar pria ini yang katanya belum juga menikah. Ia alihkan mata ke atas meja. Dan ia memang tak menemukan foto seorang Tom Bradley bersama wanita, bayi, balita, atau seorang anak kecil. Semua adalah foto bersama lelaki. Entah itu dengan jas rapi, hanya kaos biasa, atau kostum basket. Entah itu berdua, bertiga, atau ramai-ramai.

“Donghae, kau pikir aku sudah gila? Oke, aku langsung pada intinya saja.”

Benar, kan? Sepertinya wajahnya memang terlalu mudah untuk dibaca. Ia tunggu-tunggu apa yang hendak dibicarakan. Pria disampingnya mengambil tas diatas meja, mengambil sebuah map lalu memilih diantara lembaran kertas didalamnya. Sepertinya memang tak ada hubungannya dengan soal sudah menikah atau belum.

“Nah, ketemu.”

Pria itu menutup mapnya, memperlihatkan dua lembar kertas penuh tulisan ke wajah Donghae. “Ini tugas minggu lalu.”

Donghae menunggu lagi. “Dan?”

“Kau bisa jelaskan tulisan ini?”

Donghae melihat ke arah yang ditunjukan. Pada lembar kedua, dibagian belakangnya terdapat tulisan besar dengan tinta tebal. “Aku benci semua ini!!”

Donghae menelan ludah. Sial! Apa sekarang ia punya kebiasaan baru, yakni kerap mencurahkan isi kepala tanpa sadar? Ia alihkan mata ke dosen dihadapannya yang tetap tersenyum ramah. Tapi tetap tak mengubah suasana hatinya saat ini.

“Itu…..”

“Donghae….aku siap mendengarkanmu.”

****

Kyuhyun tak mengerti apa yang sedang dilakukannya disini. Buku berada ditangannya, matanya terarah pada tiap kata didalamnya, tapi pikirannya melayang pada hal lain. Harusnya ia sudah berada dijalan. Semua mata kuliah selesai sore ini. Biasanya akan langsung pulang kalau tak sempat berkumpul dengan Hyukjae dan Donghae. Kemudian menghabiskan waktu bersama ibunya dirumah atau mengunjungi Ayahnya dikantor. Namun, yang terjadi ia justru disini. Bersandar dibawah pohon yang daunnya berjatuhan. Hyukjae dan Hana duduk pula dihadapannya.

Ia pasti sudah tidak waras. Mendengar senda gurau antara keduanya sama saja menyiram bensin ke arang yang belum mati. Tapi, semakin besar ia mengatakan itu tak berguna, semakin besar hatinya memerintah untuk tetap disini. Ia mau disini, apapun yang disajikan sekarang.

Namun, ia bukan baja tahan pukul. Ia tetap punya titik sabar yang terbatas. Ia tutup buku, buka lagi. Menarik nafas sejenak lalu berkata, “Hana..”

Hyukjae menoleh lebih cepat mengalahkan Hana sendiri. Alisnya naik, lalu memandang Hana disebelahnya dengan tanya.

“Untuk semalam, aku minta maaf.”

Kyuhyun tetap menunduk, berlagak cuek dan membaca buku. Ia pun tahu betul kalau permintaan maafnya bagai angin tornado disore yang cerah.

“Oh, tak masalah. Donghae yang mengantarku.”

Kyuhyun tak lagi bicara, kembali tenggelam dalam bukunya. Disini malah Hyukjae yang dikejar pertanyaan. “Apa yang terjadi semalam?”

“Sema…..”

“Aku menurunkannya dijalan bersama Donghae,” sela Kyuhyun saat Hana baru buka mulut. Kontan saja mata Hyukjae melebar. “Mwo? Kau menurunkannya dijalan? Jadi kau biarkan Hana bersepeda dengan Donghae?”

“Hyukjae, jangan berlebihan.”

Benar-benar bodoh, pikir Kyuhyun. Bagaimana ia bisa duduk tenang seolah tidak ada yang terjadi? Wajahnya datar, tetap seperti seorang Kyuhyun sehari-hari. Terus ia bolak-balikan lembar demi lembar bukunya meski tak ada satu huruf pun yang menempel dikepala. Ia acuhkan sahabatnya yang masih mengomel seperti ibu-ibu rumah tangga.

“Ah, Donghae! Kemari!!”

Kyuhyun tertarik mengangkat muka. Dilihatnya Hana memanggil-manggil Donghae yang berjalan lesu menenteng sepeda. Hm, raut seperti itu, rasanya aneh kalau Donghae malah tertawa riang. Terlalu sering mengeluh.

“Ada apa dengan wajahmu?” Hana bertopang dagu dengan raut bingung. Bertolak belakang dengan Hyukjae dan tentu saja Kyuhyun yang sudah akrab dengan tampang Donghae yang seperti itu.

“Biar kutebak,” ujar Hyukjae sambil mengacungkan telunjuknya. “Kau mendapat ceramah dari dosen lagi?”

Donghae hanya tersenyum, enggan menjelaskan perihal sesi ‘mengobrol’ dengan dosen ekonominya beberapa waktu lalu. Ia sedang tak mau banyak bicara.

Sementara tak ada pembicaraan, Hyukjae berdiri menjauh dan mendekati seseorang beberapa meter dari posisinya. Mereka terlibat obrolan serius.

“Ah, aku baru ingat. Donghae, apa kau sibuk besok siang?” tanya Hana. Seketika itu juga Donghae teringat dengan niatnya tadi yang akan mengajak Hana memasak bersama. “Besok aku hanya ada dua mata kuliah. Jam 12 siang sudah selesai,” sahutnya semangat. Lenyap sudah awan mendung yang menaunginya.

“Bagus. Besok kau mau mengajariku memasak? Atau paling tidak, perlihatkan padaku kemampuanmu.”

Kyuhyun yang tampak mengasingkan diri dengan tak terlibat pembicaraan apapun hanya sanggup menancapkan kukunya pada buku. Sekilas ia melihat Donghae mengangguk tanda setuju. Artinya Donghae dan Hana sepakat untuk melewati beberapa jam bersama esok hari. Bagus. Ia tak diajak sama sekali.

“Kyu, kau mau bergabung dan makan siang dirumahku besok?”

Kyuhyun tersenyum dalam hati. Sahabatnya tak seperti itu. Punya kesempatan untuk berdua saja dengan Hana, justru mempersilahkan orang lain untuk masuk kedalamnya. Tak ingin menganggu, dan tak yakin apakah ia tidak akan menjadi patung hidup disana, ia memilih menggeleng. “Tidak. Aku berencana menemani Ayah dikantor.”

Ya..lebih baik ia tidak disana dan mengganggu usaha Donghae mendekati Hana.

“Oh, aku harus segera pergi. Kirimkan padaku alamat rumahmu nanti.” Hana bangkit, meraih tasnya dan berjalan tergesa-gesa. Ia sempat menghampiri Hyukjae untuk berpamitan.

Setelah tak terlihat, Kyuhyun menarik nafas panjang, lalu melepas buku yang sama sekali tak dinikmatinya sejak tadi. Ia masukan buku ke dalam tas dan berdiri. “Aku pulang. Kau mau ikut?”

****

Sewaktu kecil, Donghae pernah melakukan sesuatu yang rutin selama kurang lebih satu bulan. Waktu itu, ia yang baru berusia 8 tahun baru pulang dari sekolah. Ketika menunggu Yunho hyung menjemput, ia duduk didepan pagar sekolah, memainkan rubik pemberian Ayahnya. Kata Ayahnya, ia harus menyelesaikan rubik itu selama menunggu. Dan ia tidak pernah berhasil. Ia hanya menggerakan kotak-kotak itu secara asal tanpa perduli berbagai rumus yang pernah diajari padanya. Ia malas berpikir yang berat-berat. Baginya, tingkatan menyusun rubik sudah setara dengan belajar bahasa Inggris.

Jadi, karena benar-benar bosan, ia masukkan rubik ke dalam tas. Pandangannya menyapu ke jalan dan akhirnya menemukan hal menarik.

Siwon, teman barunya dikelas dijemput oleh kedua orang tuanya. Dari perkenalan singkat di kelas tadi, Siwon bukan berasal dari keluarga kaya sepertinya. Siwon baru pindah dari desa kecil bernama Baeksa di Incheon. Ayah dan Ibunya bekerja sebagai pemasok sayur. Sekarang Ayah dan Ibunya turun dari mobil pick up putih yang bagian belakangnya berkarat. Ibunya langsung melepaskan tas serta botol minuman yang menggantung dileher Siwon. Dahinya dikecup, puncak kepalanya diacak-acak oleh Ayahnya. Lalu mereka bersamaan masuk ke dalam mobil.

“Sepertinya senang sekali.”

Kenapa semua teman-temannya punya orang tua yang lengkap? Kenapa Ibunya harus pergi dan meninggalkannya bersama Ayah yang galak? Kalau tidak ada Yunho hyung, ia takut membayangkan akan seperti apa hari-harinya. Pasti setiap saat disuruh belajar. Akan ada banyak pria botak berkacamata tebal yang datang ke rumahnya sambil menenteng buku yang bisa membuat anjing tetangga pingsan.

Ia rindu Ibunya. Ia rindu tidur dipangkuan Ibunya sambil mendengarkan cerita tentang negeri dongeng. Dimana ia bisa bertemu dengan Ibunya?

Sibuk berpikir, tiba-tiba sebuah ide terlintas dikepalanya. Ia harus mengirim surat pada Ibunya!

Jadi, setiap malam setelah hari itu, ia menulis surat untuk Ibunya di surga sana. Isinya bermacam-macam, mulai dari menceritakan kegiatan disekolah, perkenalannya dengan Siwon, mengerjakan PR bersama Hyukjae dan Kyuhyun, juga tentang keributan yang dibuat Ayah dan Yunho hyung. Karena setahunya surga ada diatas awan, jadi surat itu dibentuknya menjadi pesawat terbang. Ia berdiri didepan jendela kamar, meniup ekor pesawatnya lalu diterbangkan ke udara. Sejauh penglihatannya, surat itu terbang tinggi bahkan melewati pohon. Ia yakin, suratnya pasti sampai ke tangan Ibunya. Selalu seperti itu, setiap malam ia akan melakukannya dengan harapan suatu saat ada tukang pos mampir dirumahnya membawa surat balasan. Tapi, hingga percobaan ke dua puluh tiga, ia tidak mendapat balasan.

Yang datang malah tukang kebun dan Yunho hyung sambil membawa kardus berisi tumpukan kertas. Katanya, mereka menemukan itu dihalaman, juga di atas pohon.

“Ini dari kamarmu?”

Donghae bingung. Ia tidak merasa pernah membuang sampah sembarangan. Tapi Yunho hyung tidak percaya lalu dengan kesal mengambil salah satu kertas kemudian dibaca. Donghae menunduk takut sambil tetap menunggu. Tapi hingga beberapa saat Yunho hyung tidak bersuara. Ia angkat kepala, melihat Yunho hyung yang meremas kertas itu lalu menjatuhkannya. Belum sempat ia bertanya, tubuhnya sudah dipeluk erat-erat.

“Kau merindukan Ibu?”

Donghae tidak tahu kenapa, tapi untuk pertanyaan itu ia langsung mengangguk. “Ya, aku sangat merindukannya. Aku ingin bertemu dengannya. Aku sudah mengirim banyak surat ke surga, tapi kenapa belum dibalas juga?”

Donghae menghela nafas panjang. Kenangan itu sebenarnya sudah tak begitu jelas dibenaknya. Tapi samar-samar ia masih ingat. Untuk orang seusia dirinya, mengingat kejadian-kejadian ketika masih kanak-kanak adalah luar biasa. Ia pun hanya ingat sebagian. Hanya hal-hal penting yang masih terpatri dikepalanya. Saat Ibunya pergi, saat ia menulis surat untuk Ibunya, saat Yunho hyung juga pergi, dan saat Ayahnya memutuskan menyusul mereka. Saat pertama pindah kesini, pernah ia iseng menulis surat untuk ibunya lagi, sayang, surat itu tersangkut di salah satu jemuran tetangganya.

Ia duduk di jendela kamarnya, menatap kosong keluar. Langit sudah gelap. Bulan di atas sana tampak termaram. Semua lampu ditiap kamar juga sudah padam, termasuk dilantai 3 milik pasangan muda yang kerap bertengkar pada jam segini. Tumben malam ini suasana kontrakannya aman dan tentram.

Dipelukannya sudah ada seragam putih dengan kancing bulat hitam ditengahnya. Rindunya sedang sangat tinggi terhadap orang-orang tersayang, tak terkecuali sang Ayah. Dan semua itu…akibat dari obrolan dengan dosennya sore tadi.

“Jadi, ini dilandaskan keterpaksaan? Hutang budi?”

Donghae mengangguk ragu. Tom Bradley sekali lagi melonggarkan dasinya lalu akhirnya benar-benar dilepaskan, dibuang ke sofa didepannya.

“Kau tahu? Berhasil dalam sesuatu yang kita sukai itu sudah biasa, tapi kalau berhasil dalam hal yang tadinya kita benci, itu luar biasa!” Katanya dengan semangat hendak perang. Tapi detik berikutnya ia kembali seperti semula.

“Aku…memang berusaha sebisanya.”

“Kau memang melakukannya dengan baik. Tapi kau ingat tentang perkataanku beberapa waktu lalu?”

Donghae mengangguk. Ia ingat kalau ia dianggap sebagai robot yang patuh pada majikan. “Menurutmu aku bisa melaluinya?”

Tom Bradley tersenyum simpul, menyilangkan kedua tangannya didepan dada. “Bukan hanya dirimu. Siapapun itu, asal bersungguh-sungguh pasti akan berhasil.” Ia berdiri lalu membuka kulkas dan beberapa saat sibuk memilih minuman.

“Masalahnya adalah…” Ia lemparkan botol bening yang permukaannya basah pada Donghae. Donghae membukanya, menghirup isinya sedikit.

“Masalahnya adalah…kau bukan membenci semua ini, tapi kau tidak seharusnya berjalan disini.”

Donghae mengerutkan kening. Tanpa sadar kembali membuka botol dan menghirup minumannya. Sepertinya menyegarkan. Tom Bradley yang hanya menenggak air putih di atas meja kembali duduk disebelah Donghae.

“Masa depan adalah masa depan. Hutan budi perkara lain. Kenapa disangkut pautkan?”

“Tapi ini juga impian Ayahku.”

“Bukan impianmu.”

Donghae terdiam. Otaknya mulai berpikir secara lambat, memikirkan kembali janji-janjinya pada mendiang Ayahnya, dan juga Ayah yang membesarkannya.

“Kau terlalu takut menghancurkan tembok didepanmu.” Tom mendekat, setengah berbisik padanya, “Kau bayangkan kau berlari jauh, kau dorong tembok itu, kau ambil apapun untuk meruntuhkannya. Kau lawan, kau tunjukan siapa dirimu! Kau singkirkan segala rasa takut yang selama ini merongrongmu. Hanya ada kau dan keinginanmu! Maju dengan tekad yang kuat!”

Kalimat itu menggema seperti teriakan yang membakar semangat. Ia resapi, pejamkan mata, membayangkan ia yang akan berhadapan dengan Ayahnya lalu mengatakan hal yang mengejutkan. Ia harus menjilat janjinya sendiri? Ia menggeleng. “Tapi…”

“Sebelum mencoba, kata tapi itu terlarang! Ingat itu!”

Donghae menunduk agak lama. Apa ia harus mencoba? kapan? Bahkan Kyuhyun sudah mewanti-wanti agar tak lagi membahas masalah ini. Bagaimana kalau kesehatan Ayahnya kembali memburuk setelah ia jujur?

“Baiklah, aku akan menunggu waktu yang tepat untuk….”

“Lee Donghae! Kau yang harusnya ciptakan waktu itu!”

Donghae melepas kacamatanya. Ia pijit keningnya berharap pusing dikepalanya segera hilang. Tapi tidak! Pusing itu masih mendera. Otot-otot pundaknya juga terasa tegang dan pegal. Ingin rasanya dalam satu hari saja ia bisa bernafas dengan tenang, tidur nyenyak tanpa dibayangi-bayangi pikiran tentang kekeliruan pilihan masa depannya. Ia sudah memilih untuk tidak mengecewakan kedua Ayahnya. Tapi, benarkah semua itu? Benarkah kalau memang ia tak harusnya memilih patuh? Bolehkah ia berubah jadi anak pembangkang untuk urusan ini?

“Apa yang harus aku lakukan?”

Sekali lagi ia memejamkan mata. Ia kini merasa berada dipersimpangan yang gelap. Banyak orang berdiri di jalur kiri dan meneriakinya untuk kesana. Padahal, dijalur kanan Ibu dan kakaknya sudah menunggu. Tapi kalau memilih jalur kanan, ada tembok yang begitu besar, bahkan pintunya tampak terkunci.

“Pecahkan! Runtuhkan tembok itu! Gapai impianmu!”

Donghae meremas pakaian milik Kakaknya. Sudah saatnya ia bangun dan bicara. Belasan tahun sudah cukup baginya menjadi anak baik yang tidak berani mengutarakan pendapat. Ia harus bicara dengan Ayahnya. Apapun yang akan terjadi, ia harus bicara. Setidaknya ia berani mencoba, sekalipun hasilnya jauh dari harapan.

Ia buka mata, berdiri lalu memandang tubuhnya dicermin. Ia harus melakukannya besok!

***

Hana melongo saat turun dari mobil. Ia pandang sekelilingnya dengan bingung. “Kau tinggal disini?” tanyanya pada Donghae yang berdiri disebelahnya. Tadi pagi Donghae sudah mengiriminya pesan untuk memberitahu alamat rumahnya. Karena mereka tak sempat bertemu, Donghae menunggu Hana didepan kontrakan empat lantai itu.

“Kenapa?” tanya Donghae setelah mobil yang mengantarkan Hana pergi. Entah sengaja atau bagaimana, tapi Hana tak membawa mobil sendiri bisa diartikan bahwa gadis itu ingin diantar pulang dengan sepeda lagi.

“Aku sering kemari! Aku berkumpul dengan teman-teman menariku setiap dua kali seminggu disini. Kenapa tidak menemuiku?” Protes Hana saat mereka berjalan menaiki satu persatu anak tangga. Ditangannya sudah menjinting tiga tas plastik berisi bahan makanan. Donghae sudah meminta agar ia saja yang membawa, tapi ditolak.

“Aku tidak mau mengganggu,” sahut Donghae setelah membuka pintu. Tanpa segan Hana melangkah masuk. Matanya menyapu ke semua sudut ruangan.

“Rapi sekali.”

Donghae tersenyum kecil. Kalau bukan karena kedatangan Hana, suatu keajaiban ia merapikan rumahnya. Ia bangun pagi-pagi sekali untuk mencuci semua piring, pakaian kotor, melepas semua jemuran dibalkon, mengelap meja dan masih banyak lagi.

“Jadi, masak apa?” Donghae mengajak Hana menuju dapur. Hana meletakkan belanjaannya di atas meja makan. “Aku tadi melihat buku resep yang bagus.” Hana mengambil buku tipis dengan sampul warna warni bergambar banyak makanan dari dalam tasnya. “Aku mau kita masak makanan Perancis!” serunya sambil menunjuk lembar ke tiga dalam buku itu. Donghae membenarkan kacamatanya, mengamati menu itu dengan teliti.

“Perancis?”

Hana mengangguk. Ia buka lagi lembar demi lembar buku resep itu. “Nah, untuk Hors d`oeuvre, aku mau L’escargot,” tunjuknya lagi pada lembar ke 12. Donghae bingung. “Hors apa?”

Hana tersenyum kecil, “Appetizer! Dalam bahasa perancis disebut Hors d`oeuvre.”

Donghae manggut-manggut pelan, lalu menumpukan kedua tangannya pada pinggir meja makan. Dilihatnya Hana kembali membolak-balikan buku ditangannya.

“Untuk Groose Piece, aku mau ini!”

Melihat gambar yang ditunjuk, Donghae tersenyum, “Aku tahu makanan itu. Pasti maksudmu adalah Main Course.”

“Bagus! Berarti kau tidak mungkin melakukan kesalahan untuk menu utama nanti. Hmm..” Gadis itu menggigit kukunya, memilah-milah apa lagi yang perlu dimasak. “Ah, entrement! Aku mau creme brulee!”

Donghae mengangguk lagi. Ia tahu yang dimaksud pastilah dessert. Senang sekali memperhatikan tingkah Hana selama sibuk berpikir. Alisnya suka naik turun cepat, kalau bosan menggigit kuku, ia ketuk-ketuk hidungnya. Hana yang ketus dan terkadang cuek itu ternyata bisa bertingkah lucu juga.

“Aku pikir kita akan membuat makanan yang agak ringan, bukankah kau mau belajar?” Donghae bertanya pada Hana yang sedang memotong bawang disampingnya. Mereka sudah melalui sekitar 10 menit proses memasak. Temanya adalah kerang.

“Aku…berubah pikiran.”

Donghae melirik gadis itu. Aneh, seperti sedang menangis.

“Tadi aku melewati Restoran Perancis, jadi……..hiks…….aku mau siang ini kau masak…..makanan Perancis.”

“Kau kenapa?”

Hana mengangkat muka dan terlihatlah bulir air mata dipipinya. “Mataku perih.”

Donghae tak bisa menahan tawa. Segera ia ambil alih pekerjaan memotong bawang itu. Hana dimintanya mencuci muka, lalu mengerjakan yang lain. Kalau begini sih, bukan mengajari masak namanya. Tapi ia yang akan menunjukan kebolehannya.

Jangan salah! Beberapa masakan Perancis sudah pernah ia coba. Termasuk beberapa hidangan klasik yang terkenal akan kesulitannya.

Ia jadi berpikir, bagaimana kalau momen ini digunakan untuk bicara pada Hana. Kalau makan siang biasa dengan menu biasa pula, mungkin situasinya kurang pas. Tapi secara kebetulan Hana memintanya membuat masakan yang cukup mewah. Ia bisa membuat makan siang ini jadi makan siang romantis dadakan.

Baiklah, rencana bergeser. Hari ini juga, tepat saat makan siang dimulai, ia akan mengutarakan perasaannya. Ia dan Hana sudah berada dalam jalur yang tepat. Hubungan mereka sangat baik. Apapun jawaban Hana, yang penting ia mau bertobat jadi seorang pengecut!

Donghae tersenyum sambil melepas clemeknya. “Nah, kau tunggu disini.”

Hana yang tak begitu mendengarkan hanya bergumam tak jelas. Matanya lebih tertuju pada tiga hidangan yang dibuat Donghae dalam waktu kurang lebih satu jam. Dari hidangan utama, Moules A la Mariniere mengeluarkan asap dan bau yang begitu menggoda.

“Oke, sekarang kau tunggu di atap lebih dulu. Aku menyusul.” Donghae kembali dan mendorong punggung Hana untuk segera ke atap. Disana, sudah ada meja makan kecil dengan dua kursi berhadapan. Kalau ini sudah malam, pasti Donghae akan meletakkan lilin ditengahnya.

“Makan disini?”

Donghae mengangguk. Ia yakin suasananya cukup mendukung karena sekelilingnya ditumbuhi bunga-bunga yang selalu ia rawat. Ah, andai ini musim semi, pasti lebih cantik lagi.

“Aku akan segera kembali.”

Tanpa membiarkan Hana bertanya lagi, Donghae segera kembali ke dapur. Saat melintasi cermin kecil didekat toilet, ia sempatkan untuk melihat keadaan wajahnya. Hm, rambutnya sudah rapi, wajahnya bersih, ia tak berkeringat. Tak ada yang kurang.

Segera ia ambil nampan besar di lemari, ia letakkan semua hidangan disana lalu dibawa ke tempat makan siang mereka.

“Masakan Perancis Ala Chef Lee Donghae. Selamat menikmati,” ujarnya halus sambil membungkuk. Hana tertawa tapi tampak menikmati perlakuan Donghae.

“Lain kali aku akan benar-benar mengajarimu,” janji Donghae karena memang kali ini Hana memilih untuk membantu sedikit dan menonton saja. Ia tiba-tiba malas belajar karena insiden iris bawang tadi.

Mereka duduk berhadapan. Hana yang sudah tidak sabar langsung mengambil sendok dan garpu. Lalu mencicipi menu pembuka lebih dahulu. Mulutnya bergerak lincah, makanan itu sampai pada tenggorakan dan mampu mengubah gurat wajah darinya.

“Enak?” tanya Donghae harap-harap cemas meski ia yakin tak mungkin melakukan kesalahan.

“Ini sangat lezat!”

Donghae lega. Hana tampak menikmati masakannya. Ia sendiri belum menyentuh apapun. Ia sedang mengumpulkan keberanian dan kata-kata yang tepat. Semoga lancar.

“Hana..”

“Hm?”

“Aku…”

Ia tarik nafas perlahan. Oke, ini saatnya.

“Aku…..”

“Kau tidak makan?”

Donghae tersenyum kikuk. Harusnya Hana tidak memotong ucapannya. Ia coba lagi. “Aku ingin mengatakan sesuatu padamu.”

“Apa itu?”

“Aku….”

Ting!!

Bunyi bel pintu terdengar. Donghae menyumpahi siapapun orang diluar yang sudah menyela ucapannya. Belum juga ia berdiri, Hana lebih dulu melakukannya. “Biar aku yang buka.”

Donghae perhatikan punggung gadis itu, rambut Hana yang dikuncir satu ke atas, berayun-ayun lucu. Tangan gadis itu meraih kenop pintu, diarahkan ke bawah dan pintu terbuka.

“Kau?”

Oh, jangan! Jangan bilang kalau….

“Hyukjae!”

Shit! Kenapa harus sekarang? Kenapa Hyukjae datang disaat penting begini?

Sekarang Hyukjae tiba didekatnya, memandangnya dengan satu pertanyaan penting. “Apa yang kalian lakukan?”

Donghae bisa merasakan aura tak menyenangkan dari Hyukjae. Pasti Hyukjae bingung mendapati sahabatnya bersama gadis incarannya.

“Aku mengajak Donghae untuk mengajariku memasak,” jawab Hana dengan tenang seakan tidak ada yang salah disini. “Yah, meski akhirnya aku hanya menonton apa yang ia lakukan.”

Donghae berusaha tersenyum mengiyakan, tak yakin apakah Hyukjae bisa menerima alasan itu dengan akal.

“Tanpa mengabariku?” Hyukjae berpaling pada Hana seperti anak kecil yang tengah merajuk.

“Maksudmu aku harus mengatakan padamu segala kegiatanku? Yang benar saja!” Hana tak ingin memperpanjangkan masalah ini. Ia tarik paksa Hyukjae untuk duduk bersama. Tapi mengingat hanya ada dua kursi. Donghae segera ke dalam untuk mengambil satu kursi lagi.

“Nah, sebaiknya kita nikmati makan siang ini.”

Meski belum sembuh benar dari keterkejutannya, Hyukjae dan Donghae berusaha santai didepan Hana. Mereka bertiga makan dalam suasana riuh. Hyukjae tak habis bahan pembicaraan dan Hana yang selalu menanggapi. Berbeda dengan Donghae yang tiba-tiba merasa seperti tamu dikandang sendiri. Tiap sendok makanan yang masuk ke dalam mulutnya jadi hilang rasa, hambar. Perutnya menolak untuk menerima asupan lagi. Ia kenyang!

“Masakanmu enak sekali, Hae.” Hyukjae menepuk perutnya yang kekenyangan. Tak beda jauh, Hana pun tampak puas.

“Mari kita bereskan!”

Seperti kebiasaannya jika mampir ke rumah Donghae, kalau melihat piring-piring kotor menumpuk, tangan Hyukjae pasti gatal. Sebenarnya ia agak kaget saat masuk dan mendapati rumah ini rapi, tapi ia tak mau membahas. Jadi tanpa disuruh ia sudah bergerak ke dapur sambil membawa tumpukan piring kotor. Hana yang tak mengerti hanya mengekor dibelakangnya. Sedangkan Donghae memilih hanya memperhatikan keduanya dalam diam. Harusnya sekarang ia dan Hana mencuci piring bersama, atau mungkin sekarang ia sudah mengatakan isi hatinya dan beban itu menghilang.

“Ini caramu menarik perhatian seorang Kim Hana?” Hana tampak percaya diri setelah meletakkan piring kotor pada tempatnya. Diperhatikannya Hyukjae yang menggulung lengan kaosnya, memakai sarung tangan dan siap mencuci.

Dibelakang, Donghae tersenyum miris. Ini bukan cara Hyukjae menarik perhatian orang. Ini memang kebiasaan pria itu. Ia, Hyukjae dan Kyuhyun memang punya hobi kewanitaan dalam konteks yang berbeda. Ia hobi memasak, Hyukjae berbenah rumah dan Kyuhyun belanja bersama Ibunya. Bagus sekali, pasti bertambah lagi kekaguman Hana pada Hyukjae.

Ia berbalik, tak mau mendengar apa lagi percakapan Hana dan Hyukjae. Acara makan siang ini tak sesuai harapan.

***

Seperti yang sudah ia prediksi, Hyukjae pasti akan menawari tumpangan pada Hana. Padahal, ia sudah berencana untuk mengajak Hana bersepeda seperti waktu itu. Lagi-lagi rencana tinggallah rencana.

“Baiklah, kami pamit dulu. Kalau aku sedang ingin, kau harus siap benar-benar mengajariku masak!”

Donghae tersenyum lesu. Sayang sekali ia mulai tak yakin akan ada lain waktu. Ia rasa, Hyukjae akan bicara sebentar lagi dan menjelaskan kekhawatirannya.

“Dan harus dengan sepengetahuanku, oke?”

Hana tak mengangguk, ia memilih menundukkan kepala sedikit pada Donghae lalu menarik tangan Hyukjae keluar.

“Aw, sudah kubilang kurangi kekuatanmu.” Hyukjae meringis saat tiba dibawah dan Hana melepaskannya.

“Cerewet! Cepat antar aku pulang! Malam ini orang tuaku juga pulang, jadi aku harus jadi anak baik dirumah.” Hana lebih dulu masuk ke dalam mobil. Hyukjae mengikuti.

“Oh, jadi kau adalah anak lugu dirumah?”

Hana melirik Hyukjae dengan kesal. Kalau bukan karena harus cepat, ia pasti akan meminta Donghae saja yang mengantar.

“Tidak selugu yang kau bayangkan.”

Hyukjae tak menyahut lagi. Harusnya memang konsentrasi menyetir, terlebih karena jalanan pada jam segini sedang padat-padatnya. Jam 5 sore, orang-orang mulai pulang dari kantor. Baik yang berkendara, atau berjalan kaki.

“Hm, kalau aku tadi tidak datang, kalian akan makan berdua saja?” Hyukjae bertanya. Hana yang sibuk memainkan handphonenya hanya mengangguk.

“Kau senang berduaan dengannya?”

Kali ini Hana tertarik. “Apa maksudmu?”

“Kau sepertinya senang sekali bersamanya.”

Hana menutup handphonenya, disimpan didalam tas. “Dia teman yang menyenangkan, tidak sepertimu, menyebalkan!”

Hyukjae tersenyum bangga.”Bagus! Berarti aku berbeda dengannya. Aku tak mau disamakan.”

Hana tak paham dengan jalan pikiran pria ini. Ada yang bangga disebut menyebalkan? Ia memilih menyalakan dvd, dan mencari lagu. Beberapa lagu tak sampai habis sudah ia ganti, kadang baru terdengar intro langsung ia ganti lagi.

“Hana, pilih yang benar!”

Hana malah mematikannya. Bersedekap. Bibir dimajukan.

“Cih, merajuk.”

Tak mau meladeni, Hana tutup telinganya dengan earphone. Lebih baik mendengarkan playlist dihandphonenya sendiri dan tak mendengar apa-apa. Sesekali ia melirik ke arah Hyukjae yang berkomat-kamit tidak jelas. Mulut pria itu bergerak-gerak tanpa henti, kadang tampak menggeram memperlihatkan gigi plus gusinya.

Sudah memperhatikan sedetail itu, tahu-tahu matanya menelusuri lebih jauh. Kini tertuju pada rambutnya yang coklat dan….oh, ia baru sadar Hyukjae memangkas rambutnya lebih pendek. Dahinya jadi terlihat jelas. Kemudian ia beralih pada alis tebal Hyukjae yang juga agak pirang. Lalu matanya……

“Kau memperhatikanku?”

Hana tersentak. Segera membuang pandangan keluar jendela, lebih terkejut karena ternyata sudah tiba di rumahnya.

“Kim Hana, kau memperhatikanku?” Hyukjae melepas sealt belt, lalu mencondongkan tubuhnya.

“Aku…kau terlalu percaya diri!” Hana lekas keluar dari mobil sambil mengutuk kebodohannya beberapa waktu lalu. Matanya pasti sedang konslet.

“Kau tidak menawariku mampir?” Hyukjae menyandarkan sedikit tubuhnya pada mobil, mengedipkan mata membuat Hana nyaris muntah.

“Sebaiknya tidak.” Memang sebaiknya tidak. Sebentar lagi orang tuanya pulang dan bukan hal baik jika menemukan tamu pria dirumahnya. “Terima kasih sudah mengantarku,” ujarnya singkat lalu berbalik. Belum selesai satu langkah, tangannya terasa ditarik.

“Kim Hana.”

Hana berhenti, secara pelan menoleh ke belakang dan menyadari tangannya dipegang oleh Hyukjae. Ia tak tahu alasannya. Tapi sentuhan itu membuat jantungnya berdebar.

“Tolong jangan membuatku khawatir lagi.”

Hana mengerutkan kening. Tak juga berusaha melepaskan diri.

“Aku seperti anak kecil yang kebingungan mencari induknya. Kau tak ada dikampus. Kau tak bisa dihubungi. Elie tak tahu apa-apa. Kau tahu kalau aku sampai berpikir yang tidak-tidak?”

Hana merasa tubuhnya membeku. Tidak! Ini belum masuk musim salju.

“Lain kali, jangan hanya memikirkan diri sendiri. Pikirkan kalau diluar sana ada seseorang yang selalu memikirkan keselamatanmu.”

“Hyukjae…kau…” Belum sempat Hana bicara, laki-laki itu sudah menegakkan tubuhnya, lebih dekat……terus mendekat.

“Aku tahu kau gadis yang kuat. Aku tahu kau tidak perlu dikhawatirkan. Tapi untuk selanjutnya…”

Hana butuh oksigen! Ia tak yakin sedang bernafas saat ini. Terlebih dengan keadaan dimana Hyukjae memenjaranya seperti ini. Dan ia tak ingat sejak kapan kedua tangannya sudah berada dalam genggaman pria itu.

“Biarkan aku berguna. Biarkan aku merasa berarti. Sesekali datanglah padaku.”

Hyukjae berhenti mendekat saat jarak antara mereka nyaris habis. Hana pun hanya bisa mengedipkan mata ketika Hyukjae menatapnya. Mata itu…..ia melihat sosok Hyukjae yang berbeda. Tatapan itu berbeda. Ia bisa rasakan bagaimana jantungnya berdetak cepat saat ini. Apa ini hal biasa yang dilakukan Hyukjae pada kekasihnya terdahulu? Tapi ini adalah perasaan yang tak biasa baginya.

“Jika kau butuh sesuatu, katakan padaku. Aku akan datang lebih cepat dari yang kau bayangkan. Lihat aku. Hanya melihatku.”

Hyukjae tiba-tiba bergerak lagi. Bibirnya mengukir senyum simpul yang tak pernah ditemui Hana sebelumnya. Hana gugup. Takut. Matanya tanpa disadari sudah tertutup rapat. Hingga beberapa saat, ia merasakan hembusan nafas halus menyapa telinganya. “Aku menyukaimu.”

A-pa?

Hana tak bergerak. Dua kata barusan seakan menggema ditelinganya dan tak membiarkannya memikirkan hal lain. Ada yang salah dengan tubuhnya. Ia ingin melakukan sesuatu. Ia harus menaklukan lelaki ini. Tapi…..

“Selamat malam.”

Kesadarannya kembali saat Hyukjae menyentil hidungnya. Matanya melebar. Tubuhnya bisa dikendalikan. “Kau…”

Tak sempat mengatakan apa-apa, Hyukjae sudah lebih dulu menghilang dari pandangannya. Mobil pria itu melesat jauh meninggalkannya.

***TBC***

One response to “[Freelance] Silent (Part 8)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s