Yes!! We’re Married (Chapter 1)

Yes!! We're Married

Tittle          : Yes!! We’re Married (Chapter 1)

Author       : @mskim22

Length       : Chaptered

Genre        : Marriage life, Romance, Comedy (a little)

Rating        : PG-15

Main cast :

–          Kim Jongin (EXO)

–          Kim Jinni (OC/You)

Disclaimer: cerita ini murni bikinanku sendiri, cast diambil dari beberapa tokoh yang udah di sesuaikan 😉 harap jangan copas, karena bikin cerita itu butuh banyak jeri payah untuk merangkainya. Hargailah orang lain kalau kau mau dihargai 😉

 

Edisi sebelumnya: Prolog

 

Selamat membaca!! 😉

 

 

~”~”~”~

 

Sebuah petualangan baru untuk kami. Yaa hidup kami tidak pernah selesai.

 

~”~”~”~

 

Udara dingin berhembus meniup bajuku ketika aku membuka pintu beranda. Sudah masuk musim gugur. Banyak daun yang mengisi sepanjang jalan trotoar di depan apartemen kami. Tidak terasa sudah masuk musim gugur. Musim gugur pertamaku sebagai istri Jongin dan Ibu untuk Jongin kecil. Rasanya baru kemarin kami sekeluarga pergi ke taman bunga setelah acara perpisahan sekolah. Sekarang bunga-bunga sudah berguguran.

Aku berdiri di pagar pembatas. Menghirup udara pagi dengan tubuh yang sedikit tidak fit. Akhir-akhir ini aku sering kesulitan tidur. Kadang kalau sudah tidur, aku pasti terbangun gara-gara tendangan Jongin kecil.

Aku melirik ke dalam, lelaki itu masih tertidur pulas setelah tengah malam tadi bersusah payah membuat tteok. Semalam tiba-tiba saja aku ingin makan tteokpeoki. Karena tidak mungkin keluar, akhirnya dia membuatkannya, meskipun pada akhirnya aku hanya makan 2 gigit lalu tidur lagi. Kadang aku merasa kasihan padanya, tapi mau bagaimana? Aku sangat ingin makan itu.

Hah… rasanya aku meridukan masa-masa dulu. Di musim gugur begini biasanya aku akan berkumpul dengan Eunkyung, Hyojin, Yein, dan Sunny. Kabur dari sekolah lalu pergi ke festival musim gugur. Membeli banyak makanan dan menghabiskan malam bersama. Melihat kembang api. Menginap di atap sekolah. Keesokannya kami sibuk membersihkan diri di kamar mandi sekolah sebelum jam masuk. Masa-masa yang penuh kebebasan. Eits, bukan berarti saat ini aku tidak bebas, aku hanya… bernostalgia dengan kenangan-kenangan itu. Bagaimanapun aku tetap mencintai kehidupanku sekarang. Kehidupan yang hangat dengan keluarga baru dan satu orang yang sebentar lagi juga akan mengisi rumah ini dengan tangisannya. Aku tidak sabar menantikan saat-saat itu.

“Kau sedang memikirkan apa?” suara berat itu hampir membuatku jatuh dari beranda. Jongin tiba-tiba sudah berdiri di pintu beranda dengan rambut sarang burungnya.

“Yaa! Kapan kau bangun? Baru saja aku lihat kau masih tidur…” tanyaku bertubi-tubi.

Ia tersenyum kecil sambil berjalan menghampiriku. Ketika ia menarik tengkukku, aku tahu ia akan memberiku hadiah kecil untuk hari libur pertamanya. “Good morning” ucapnya lalu membalik tubuhku dan memelukku. Back hug di tengah pemandangan pagi yang dipenuhi daun gugur. Dia memang tahu saat-saat romantis seperti ini.

Aku membiarkan kedamaian ini mengalir untuk beberapa saat. Menikmati hangat tubuhnya yang jarang sekali bisa menemaniku di pagi hari. Kau tahu ‘kan dia harus mengejar waktu untuk sampai Seoul setiap hari. Jadi ia selalu menghilang sebelum aku bangun. Aku hanya bisa mencium bajunya yang tertinggal di kamar mandi setiap kali aku merindukannya.

“Kau kurus sekali! Lihatlah! Kau bahkan tak akan sanggup menggendongku lagi!” komentarku melihat tulang tangannya yang kecil. Ia sudah kehilangan banyak berat badan sejak konser SHINee mulai dipersiapkan. Ia terlalu banyak bekerja. Dan dirumah aku masih saja mengerjainya. Aku jadi merasa bersalah.

“Kau yakin? Aku masih kuat mengangkat kalian berdua!” ia tiba-tiba menggendongku, mendudukkanku di pagar pembatas beranda. Hampir aku teriak kalau ia tidak buru-buru menciumku. Tangannya memeluk pinggangku erat.

Aku ingin ia menurunkanku, ini mengerikan, duduk di pagar pembatas beranda dari ketinggian lantai 15. Tapi tubuhku tak merespon keinginanku. Aku hanya meremas pundaknya. Rasanya ketakutanku mulai memudar seiring dengan lumatannya yang terasa manis. Geurae, aku percaya ia tak akan mungkin melukaiku.

“Keummanmmhaehh…” ucapnya disela ciuman kami yang semakin lama semakin jauh.

Aku tekekeh. “Shireo…” tolakku masih melumat-lumat bibir bawahnya.

“Yaaa!” ia menarik wajahnya. Aku tahu dia juga tidak sanggup menolak ketika kami sama-sama terlarut ke dalam perasaan yang damai seperti ini. “Aku bisa lupa diri” ucapnya membuatku tertawa. Mengingatkanku pada larangan keras Dokter Song saat memeriksa kandunganku. Kami dilarang melakukan lebih dari berciuman karena itu akan meningkatkan resiko kelahiran prematur untukku. Rasanya aku ingin tertawa setiap kali melihat Jongin berusaha keras menahan diri untuk tidak menyentuhku.

“Gwanchana! Dia pasti mengerti… eoh?!” kami sama-sama terkejut ketika Jongin kecil kembali menendang-nendang.

“Arraseo, Appa tidak akan melakukannya!” ucap Jongin sambil mengelus perutku lembut.

Aku tersenyum bahagia melihatnya melakukan itu. Ia mulai tumbuh menjadi seorang Ayah. Dan aku bahagia melihatnya. Jongin yang dulu sangat suka memamerkan ketampanannya yang selalu dipuja-puja banyak gadis, sekarang sudah tumbuh lebih dewasa bersamaku. Daripada sibuk memikirkan pekerjaannya, ia lebih sering memikirkan kapan ia harus menyisihkan waktunya untukku. Dulu ia menggunakan ponselnya untuk menghubungi pelatih dan teman-teman satu agensinya, tapi sekarang ia menggunakan ponselnya untuk mengabariku apapun yang sedang ia lakukan. Hampir setiap jam. Dia mengerti aku selalu membutuhkan kehadirannya. Membantuku menghadapi segala perubahan yang harus kuhadapi.

“Kau kedinginan? Khajja kita masuk!” ia menurunkanku dari pagar pembatas. Benar juga, sudah hampir setengah jam aku menghabiskan waktu di luar dengan baju tidur yang sama sekali tak melindungiku dari suhu musim gugur.

Aku berjalan menuju TV, pagi-pagi begini ada siaran ulang drama Jongsuk!

“Sepertinya anakku akan lebih mirip Jongsuk daripada Appanya sendiri…” gumam Jongin sambil berlalu ke dapur.

Aku menatapnya geli. Sejak kapan ia punya pemikiran seperti itu. “Setidaknya dia tampan” cibirku memanas-manasinya.

Plakk

Ia membanting gelas yang tadi diminumnya ke atas meja. Refleks aku melihatnya. “Mworago?” tanyanya dengan tatapan tajam. Omo! Apa Jongin marah? Jinjja? Hanya karena Lee Jongsuk yang bahkan tidak pernah ia temui?

“N-ne?” tanyaku gugup. Aku menelan ludahku dengan susah payah. Jongin tiba-tiba berjalan ke arahku, membuatku merasa tersudut. “Y-ya… a-aku hanya bercanda… y-ya…” akuku padanya sebelum ia benar-benar sampai ke sofa.

Ia tidak berhenti, masih menatapku tajam sambil terus berjalan ke arahku. Apa aku harus menghubungi polisi? Dia tidak akan membunuhku hanya karena Lee Jongsuk ‘kan? Tak bisa kubayangkan kalau besok namaku sudah tertera di halaman depan koran ‘seorang istri yang tengah hamil tua dibunuh suaminya sendiri hanya karena sang suami cemburu pada aktor Lee Jongsuk’. Itu konyol!

Aku menahan nafasku saat Jongin mengunciku di sofa. Wajahnya menatapku lekat-lekat sampai aku tidak bisa melihat yang lain selain kedua matanya yang menatapku tajam. “Y-yaa N-neohhh…” tamat! Tamat sudah riwayatku! Jongin membekap mulutku untuk kedua kalinya.

“Aku tidak akan memaafkanmu!” ucapnya disela lumatannya yang semakin lama semakin melembut.

Dan ketika aku merasakan senyuman miringnya, aku sadar aku telah masuk dalam perangkapnya. Ia mendorong tubuhku ke sudut sofa, menindihku dan menghabisiku dengan ciumannya yang lama-lama membuatku lupa diri. Dengan TV yang masih menyala dan Lee Jongsuk yang masih memainkan perannya, aku membiarkan ia lupa diri setelah sekian lama kami tidak pernah melakukan ini lagi.

Tendangan-tendangan kecil muncul di permukaan perutku, tapi aku tak menghiraukannya. Aku hanya menjaga jarak agar Jongin tidak merasakannya. Aku tidak ingin Jongin berhenti. Aku merindukannya, merindukan lelaki yang selalu menemaniku tidur setiap malam dan menghilang dipagi hari. Ia sudah merencanakan liburannya untuk bersamaku, dan aku tidak bisa membiarkan liburannya berlalu begitu saja.

Detik demi detik mengantarkan kami pada kebutaan, ia bergerak menyentuhku dibagian lain, tapi kegiatan itu tak berlangsung lama saat ponselnya yang tertinggal di atas meja bergetar. Kalau saja meja itu terbuat dari kayu, mungkin getarannya tidak akan menimbulkan suara nyaring yang membuat sorot matanya berubah. Ia seperti vampire yang baru saja tersadar dari perbuatannya yang ingin menghisap darahku. Sial! Sudah tinggal di tempat terpisah dari orang tua tetap saja ada yang mengganggu!

Jongin membulatkan matanya melihatku yang terbaring dengan baju setengah acak-acakan. Matanya berlari kesana-kemari sebelum akhirnya meraih ponselnya lalu berlari keluar. Ke beranda. Menerima teleponnya tanpa mengenakan baju. Aku sempat membuka bajunya tadi dan ia sudah kepalang malu untuk memakainya lebih dulu sebelum keluar.

Menyisakan aku yang hanya bisa mendengus kesal mendapati keadaan ini. “Geurae, kau menang!” ucapku sambil mengusap perutku yang rasanya tidak tenang. Oh ayolah, hanya melakukannya sekali tidak akan membuatku tiba-tiba ingin melahirkan ‘kan?! Waktu kami tinggal sedikit sebelum ia lahir. Tidak bisakah aku menggunakan waktu ini semaksimal mungkin?

“Eomma! Kenapa harus aku?!” marah Jongin yang langsung merebut perhatianku. Ada apa gerangan? Tidak biasanya Jongin berteriak begitu pada Eomma. Apa ada masalah? Apa mereka bertengkar?

Aku beranjak mengikutinya ke beranda. Menguping pembicaraan mereka dari balik tirai pintu beranda. Rasanya kadang aku ingin bersyukur ponsel Jongin rusak. Speaker ponselnya kadang otomatis loudspeaker seperti sekarang.

Ya, bagaimanapun dia adikmu! Apa salahnya sekali-sekali menemaninya?

Mwo? Adik? Jongin punya adik? Maldo andwae! Sampai detik ini aku tidak pernah tahu kalau ia punya saudara kandung, yang kutahu ia anak tunggal dan kalaupun ada adik, itu sepupunya. Sepupunya tidak ada yang tinggal di Korea. Semua di luar negeri.

“Kenapa harus aku?”

Karena kami semua harus ke Jepang. Apa kau tidak ingat? Kalau kami semua tidak pergi ke Jepang, mungkin kau tidak akan mendapat cuti, arra?! Lagipula… aigoo… apa kau tidak bisa memahami keadaan istrimu eoh? Bagaimana jenuhnya ia setiap hari hanya tinggal di rumah. Samcheonpo bukan tempat yang buruk, karena ini musim gugur, banyak kerang dan seafood segar disana…

“Aku tidak akan pergi.”

Pip! Sambungan terputus tepat ketika mata Jongin menatap mataku. “Adik? Kau punya adik? Dan adikmu sama sekali belum mengucapkan salam pada kakak iparnya?” serangku tanpa jeda.

Seketika tubuhnya melayu. Nafasnya berhembus panjang dan saat itu senyuman miringku merekah. Meskipun aku tidak tahu dimana itu Samcheonpo, cukup dengan mendengar kerang dan seafood mataku langsung berbinar. Makanan!

“Kau sudah bertemu dengannya, sekali. Dia memang tidak pernah menampakkan diri. Terutama di depanmu.” jawab Jongin malas sambil berjalan gontai kembali masuk ke dalam.

“Sekali? Kapan? Aku tidak ingat kau pernah memperkenalkan adikmu…”

“Aku memang tidak pernah memperkenalkannya, tapi dia memperkenalkan dirinya padamu. Malam itu, malam sebelum hormon kita bermasalah…” jelas Jongin kali ini sambil membuka kulkas, meneguk sisa airnya yang tadi. “Dia… Kim Taehyung.”

 

~”~”~”~

 

Kwak-kwak-kwak

“Yaa… Taehyung-ah, kau yakin kakakmu sudah menikah? Bukan sedang lari setelah menghamili anak orang?” bisik salah seorang teman Taehyung seolah aku tidak bisa mendengarnya. Melihat wajahnya rasanya aku ingin merobek mulutnya jinjja!

“Geurom. Wae? Apa mereka terlalu muda untuk menjadi pasangan suami istri?!” Taehyung melipat tangannya bangga.

“Anni… kalau kakak iparmu yang menikah denganmu mungkin aku percaya, kakakmu… ehm… terlihat lebih muda darimu… aww!” bagus! Sebuah pukulan mendarat di kepalanya yang langsung membuatku tersenyum cerah. Cerah sekali. Secerah matahari di atas lautan yang tenang di luar sana.

Setelah menempuh perjalanan selama 7 jam, akhirnya kami sampai juga di depan sebuah rumah. Kukira awalnya kami akan menginap di semacam villa atau sejenisnya, ternyata tidak. Tinggal di rumah biasa di pinggir laut. Kalau di Seoul mungkin ini semacam kost.

Jangan kira perjalanan kami ke sini dilalui dengan damai. Sejak Jongin menerima telepon dari Eomma, ia tidak berhenti menggerutu. Ditambah lagi aku tidak berpihak padanya. Tentu saja aku ingin sekali bertemu adik ipar yang dulu hanya pernah kutemui selintas. Kau masih ingat ‘kan? Malam dimana aku dan Jongin bertengkar karena kelaparan dan orang tua Jongin tidak ada dirumah, di perjalanan ada seorang lelaki yang tiba-tiba mencegat kami lalu memberi kunci. Itulah kali pertama aku bertemu adik iparku. Sangat tidak biasa bukan?

Mereka memang bukan saudara kandung, Taehyung diangkat menjadi adik Jongin setelah pertengkaran panjang Jongin dengan Jonghyun Appa bertahun-tahun lalu soal Jonghyun Appa yang ingin punya anak lagi. Sebelumnya mereka tinggal bersama, tapi setelah Taehyung masuk SMA, dia keluar dari rumah dan tinggal di asrama. Ia mengambil jurusan kelautan, dan jurusan itu adalah jurusan dengan aturan terketat di sekolahnya. Itulah alasannya kenapa Taehyung tidak bisa datang ke acara pernikahan kami dan tidak pernah ikut juga dalam acara keluarga. Ditambah lagi hubungan Taehyung dan Jongin yang buruk, semua orang tahu, menyinggung soal Taehyung di depanku pasti akan mengundang amarah Jongin. Pada akhirnya tidak ada yang bisa Taehyung lakukan selain berdiam diri, dianggap bukan dari keluarga mereka.

Aku benar-benar tidak mengerti dengan kehidupan Jongin. Berapa banyak orang yang ia musuhi. Bagaimana bisa ia hidup di tengah hubungan seperti itu dengan keluarganya sendiri selama bertahun-tahun. Dibanding denganku yang hidup di panti asuhan, hidupnya pasti lebih kesepian. Tidak bisa berbagi kebersamaan. Padahal meskipun keluarganya aneh, mereka tetap penuh kasih sayang. Seperti mertuaku yang menganggapku sebagai anak mereka sendiri.

“Omo! Omo! Apa keluargamu sudah datang Taehyung-ah?” sapa seorang wanita paruh baya dari arah belakang Taehyung. Bayangannya lama-kelamaan muncul lebih jelas bersamaan dengan gadis kecil yang rasanya pernah kutemui sebelumnya. Dia…

“Eoh! Pelukis yang marganya sama dengan keluarga kami!”

Nah… panggilan itu… b-bukankah ia…

“Benarkah? Yaaa jadi benar Taehyung adik ipar Jung Jinni? Kau Jung Jinni, benar ‘kan?” wanita paruh baya dengan hidung mancung khas orang yang sangat kukenal. Logatnya yang kental rasanya membuatku ingin menangis.

Tanpa perlu bertanya dugaanku sudah benar ‘kan? Meskipun aku belum mengenalnya, aku sudah tahu siapa pemilik rumah ini. Andwae… maldo andwae… apa aku akan menghabiskan semingguku di sini? Yang benar saja…

“Y-ye… J-jung… anni… Kim… Jinni imnida…” jawabku terbata-bata. Hampir saja aku menggunakan marga lamaku. Kalau aku tidak melihat bayangan Jongin di jendela, mungkin aku sudah mengiyakan pertanyaan itu. Ahh apa ia sudah tahu soal ini? Jangan-jangan… ini alasan ia tidak mau membantu adiknya. Eottokhaji… bagaimana aku bisa menghadapinya kalau sudah seperti ini…

“Aah… Kim. Kau sudah berganti marga setelah menikah. Hoseok banyak cerita tentangmu. Sebelum ia memilih untuk tetap tinggal di Gwangju juga ia masih membicarakanmu.”

DEG…

Seluruh dunia serasa berhenti berputar. Rasanya ada palu besar yang baru saja membenamkan aku ke tanah. Hoseok… lelaki yang bahkan tidak pernah menghubungiku lagi sejak malam itu. Lelaki yang kupikir sudah tidak memikirkanku lagi, ternyata… dia masih membicarakan aku dengan keluarganya seolah aku masih menjadi pacarnya… setelah sekian lama aku menahan perasaanku, rasanya aku ingin menemuinya lagi. Sekali lagi. Berbagi cerita yang selama ini tak bisa kubagi dengannya. Bolehkah?

“Apa ini suamimu?” tanya wanita paruh baya itu mengarah pada lelaki beraura panas disebelahku. Menyadarkanku pada keadaanku yang lagi-lagi membuatku merasa menjadi seorang pengecut. Ah ya, aku sudah bersama Jongin.

“Ye, Kim Jongin imnida.” jawab Jongin datar. Terdengar tidak senang, tapi… apa dia sudah tahu soal ini sebelumnya? Apa dia menolak pergi karena ia tahu kita akan menginap dirumah Hoseok?

“Omo… kau tampan sekali! Benar-benar mengingatkanku pada anakku…” pujian yang aku yakin sudah dirutuki Jongin dalam hatinya. Jongin sangat membenci Hoseok, meskipun pujian itu bernada baik, tetap saja buruk baginya. “Khajja! Taehyung bantu bawa koper mereka. Setelah itu kita makan malam!” ajak wanita paruh baya itu merangkulku, membawaku masuk. “Kamar laki-laki ada di sebelah kiri dan wanita di sebelah kanan. Jongin, Taehyung, Sungdeuk, Jaejoon, dan Jooyoung akan berbagi kamar. Lalu kau dan Aeyong akan berbagi kamar dengan Yoonhee…”

Ye? Kami pisah kamar? Selama seminggu? Maldo andwae!

Aku melirik Jongin takut-takut. Ia melemparkan sinar lasernya padaku dengan matanya yang tajam itu. Tamat sudah riwayatku. Seminggu di rumah Hoseok dan tidur terpisah dengan Jongin. Mati saja aku mati…

 

~”~”~”~

 

Aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat. Semua orang sudah berkumpul di meja makan bersiap memulai acara makan malam pertama kami bersama-sama. Tapi aku… aku masih berdiri di depan kamar yang bersebrangan dengan kamarku. Menunggu seseorang yang mandi paling akhir dan sampai sekarang masih belum keluar dari sana. Sambil memikirkan antara meminta maaf atau membujuknya.

Rasanya semua bulu kudukku berdiri membayangkan bagaimana marahnya Jongin padaku. Tapi mau bagaimana lagi? Kami sudah terlanjur sampai di sini…

Kriiieeet

Suara decitan pintu seolah menjadi penanda jantungku untuk berdetak lebih cepatBuru-buru aku menghampirinya sebelum ia pergi.

“J-jongin-ah…” panggilku yang langsung membuatnya berhenti bergerak.

Aku menatapnya takut-takut. Oh ayolah, ia adalah lelaki yang setiap malam selalu terbaring di sebelahku, kadang menjadi selimutku di tengah malam kalau aku tidak sengaja menendang semua selimut ke lantai. Tapi malam ini rasanya ia berbeda. Aku seperti sedang mengajak bicara seorang manusia srigala.

“Wae?” tanyanya seketika membuatku terlonjak kaget. Hampir terjungkang ke belakang kalau aku tidak buru-buru meraih pinggiran meja.

“M-mi… mianhae… ahh… aku hanya ingin bertemu dan membantu adik iparku, tidak lebih. T-tapi aku tidak tahu kalau…”

“Nikmati honeymoonmu Jung Jinni.” potongnya dingin lalu berlalu dari hadapanku. Pergi ke meja makan tanpa mengajakku yang sudah menunggunya dari tadi.

Dan lagi… Jung? Jung Jinni? Ahhh… ia pasti sedang marah besar sekarang. Ah eottokhaji? Haruskah aku berpura-pura sakit agar Appa membawaku kembali ke Seoul? Itu konyol… bagaimana dengan Taehyung. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk membantu hubungan mereka agar membaik. Bukankah ia keterlaluan? Aku bahkan tidak sedang selingkuh, tapi kenapa ia harus semarah itu. Bukan aku yang menentukan dimana Taehyung akan memilih tempat penginapan! Tapi kenapa ia malah marah padaku! Ini tidak adil… kenapa hubunganku dengannya jadi ikut-ikutan bermasalah… hufft…

Aku berjalan gontai menuju meja makan yang sudah ramai dipenuhi banyak pembicaraan. Hanya ada satu kursi kosong disana. Tepat ditengah-tengah kakak beradik yang membuat kepalaku hampir pecah.

“Cha~ jadi kalian sudah lengkap?” tanya seorang lelaki paruh baya membuka percakapan. Dari posisi tempat duduk yang ia tempati, aku bisa menduga ia adalah Ayahnya Hoseok.

Aku melempar tatapanku mencoba menghafal wajah mereka satu persatu. Di sebelah kanan Ayah Hoseok ada Ibunya Hoseok dan disebelahnya lagi ada gadis kecil yang memperhatikanku dengan senyum lebar dibibirnya. Senyum yang sama persis seperti milik Kakaknya. Aku tidak tahu kenapa tapi ia terlihat senang sekali bertemu denganku. Ia mencoba mendekatiku berulang kali sedari tadi. Aku memang tidak terganggu, tapi aku sanksi ia melakukannya karena aku dekat dengan Kakaknya.

Disebelahnya lagi ada sepasang kakak adik, adiknya adalah Aeyong, teman sekamarku dan Kakaknya adalah Sungdeuk mereka sama-sama dari Masan. Sedang di sayap kiri ada Jaejoon dan Jooyong, mereka saudara kembar sama-sama dari Seoul. Terakhir kami, Taehyung terlalu banyak mengundang saudaranya kesini.

“Jadi, kalian kesini untuk mengadakan praktikum lapangan?” tanya Ayah Hoseok lagi.

“Ye Abeonim, rencananya kami akan berlatih berlayar dan penelitian bawah laut untuk tugas kami yang lain.” jelas Taehyung menjawab pertanyaan itu seolah ia adalah leadernya.

“Oh kau Taehyung ‘kan? Member grup Hoseok? Jadi kau bertanggung jawab disini?”

MWO? MEMBER GRUP? Taehyung satu grup dengan Hoseok? Jadi dia kenal Hoseok? Dia juga yang memilih rumah Hoseok sebagai tempat penginapan mereka? Aissh! Pantas saja Jongin sangat membencinya. Berarti dari awal Jongin sudah tahu soal ini. Lalu kenapa ia tidak mengatakan apapun. Kalau dia bilang soal Hoseok, aku pasti tidak akan membujuknya untuk tetap membantu adiknya. Menyebalkan.

“Ye Abeonim. Perkenalkan itu Aeyong dan Kakaknya Sungdeuk. Ini Jaejoon dan Jooyoung si kembar, dan ini…” kalimat Taehyung terhenti ketika ia melihatku. Ia terlihat ingin mengatakan sesuatu tapi bimbang. Apa? Apa ia mau mengatakan ‘ini Jinni mantan pacar anak Abeonim’? “Ini kakak iparku Jinni, dan itu uri hyung, Kim Jongin.” sambung Taehyung akhirnya.

“Oh geurae geurae, kita kedatangan Ibu hamil. Kau harus lebih memperhatikannya!”

“Ye Abeonim” sahut Taehyung dengan senyum lebar.

“Tapi… sepertinya aku pernah melihatnya sebelumnya…” mati! Bahkan Ayah Hoseok mengenalku sebelum bertemu denganku. Mati! Mati!!

“Dia Jinni, yang sering diceritakan Hoseok.” sahut Ibu Hoseok sontak membuat semua mata kembali tertuju padaku. Issh… aku bahkan bukan artis, justru lelaki disebelahku yang harusnya dikenal oleh banyak orang, kenapa aku yang jadi bintang utama disini?!

“Pelukis yang marganya sama dengan kita Appa… oppss… tapi sekarang sudah berubah.” aigoo… kapan ia akan berhenti memanggilku dengan sebutan itu jinjja… dia bisa membuat kepala Jongin meledak…

“Sayang sekali Hoseok tidak ada disini, kalau ada disini mungkin ia akan senang bertemu dengan idolanya… hahaha…”

DEG…

I-idola? Hoseok menganggapku sebagai idola? Apa itu yang ia katakan pada keluarganya selama ini? T-tapi… kenapa? Ia bahkan masih menceritakan soal aku padahal kami sudah tidak berhubungan lagi… terakhir kali… aku malah menyakitinya…

Klentiing~

Jongin menyumpit nasinya terlalu kasar sampai menimbulkan bunyi yang nyaring. Tunggu, kurasa bukan karena itu, kurasa dia sedang menunjukkan kemarahannya padaku. Mau bagaimana? Bukan kemauanku terus menjadi pembahasan diantara keluarga ini.

“Cha~ makanlah, akhir-akhir ini sedang musim kerang, jadi kalian bisa makan sepuasnya…” ajak Ayah Hoseok membuka acara makan malam ini. Semua serentak menggerakkan sumpit mencapit berbagai macam sajian seafood di depan kami.

Sudahlah. Sejak awal aku sudah terpesona dengan semua makanan seafood ini. Rasanya ada banyak masakan yang belum pernah kumakan sebelumnya. Apalagi yang itu, yang bumbu merah itu. Warnanya sangat menggoda. Aku sangat ingin mencicipinya, tapi… sepertinya itu pedas. Aku ‘kan tidak boleh makan makanan pedas… eh tunggu. Biasanya ‘kan Jongin yang melarangku, apa sekarang kalau aku memakannya, ia akan melarangku juga? Dia ‘kan sedang marah. Ahh coba saja…

Aku mengarahkan sumpitku ke arah daging kerang berlumur bumbu merah yang berada tepat di depan Jongin. Berharap ia akan melarangku memakannya…

“Noona, yang itu pedas. Kudengar orang hamil tidak baik makan pedas. Noona makan ini saja.” tegur lelaki disebelahku diakhiri dengan menaruh daging siput diatas mangkuk nasiku. Ahh… sial… Jongin bahkan tidak melirikku sama sekali…

“Gomawo” ucapku tak bisa berkutik.

Pada akhirnya aku hanya makan daging siput yang Taehyung berikan sambil menatap penuh harap pada lelaki lain yang juga duduk disebelahku. Ah Tuhan, rasanya aku tersiksa kalau harus menjalani kehidupan seperti ini selama seminggu.

“Ah iya, aku melihat ada bangunan sekolah tua yang sudah tidak terpakai saat mencari rumah ini, bagaimana kalau kita uji nyali di sekolah itu besok? Tugas praktikum kita ‘kan hanya bisa dikerjakan siang hari!” Aeyong mengeluarkan usul tanpa berpikir. Biasanya wanita tidak akan semudah itu mengusulkan perjalanan horor, tapi ia berbeda. Permainan ini malah ia yang mengusulkan.

“Geurae? Yaa matamu memang jeli kalau urusan permainan!” puji Jaejoon mengacungkan ibu jarinya penuh semangat.

“Tapi kalian harus hati-hati, siapa tahu…” kalimat Ayah Hoseok seketika menyita perhatian kami. Suasana berubah serius. Kedua mata besar Ayah Hoseok menatap kami satu persatu. Membuat suasana tiba-tiba saja berubah horor. “…kalian benar-benar bertemu hantu” kecil, datar, dan tajam. Bulu kudukku langsung berdiri mendengar peringatan itu. Meskipun Ayah Hoseok mengakhirinya dengan tawa renyah yang mengisyaratkan kalau ia hanya bercanda, tapi tetap saja kami tegang. Sudah terlanjur tegang.

Apa wanita hamil boleh ikut bermain disana? Karena aku tidak yakin Jongin mau menemani Taehyung besok.

 

~”~”~”~

 

Ahhh… punggungku. Akhirnya aku bisa meluruskan punggungku juga setelah seharian duduk didalam bus yang sempit. Jongin kecil pasti tersiksa. Lebih tersiksa lagi karena ia tidak bisa tidur dalam pelukan Appanya malam ini.

Sebenarnya bukan ia yang tersiksa, tapi aku. Ketika kesempatan cuti Jongin keluar, kami pergi ke dokter, menanyakan tempat yang bisa kami kunjungi untuk liburan bulan madu kami, tapi kenyataannya aku tidak bisa kemana-mana, perjalanan panjang hanya akan meningkatkan resiko kelahiran prematur untuk Jongin kecil. Membuat kami furstasi dan hanya bisa berbaring-baring di apartemen. Membosankan. Bayangkan saja bagaimana senangnya aku ketika Eomma yang menyuruh kami pergi berlibur ke sini. Meskipun aku tidak tahu ini dimana, yang jelas aku bebas. Akhirnya aku bisa menghirup udara luar sebanyak yang aku inginkan. Berharap satu minggu ini akan menjadi healing untuk kejenuhanku dengan kehidupan pernikahan muda kami, tapi sepertinya tidak akan berjalan seperti apa yang aku harapkan. Jongin mengancurkannya… anni, aku yang menghancurkannya…

“Hufft… Kim Jongin…” keluhku frustasi.

Aku menatap ponselku dengan perasaan merana. Berharap setidaknya ada satu pesan masuk yang menyuruhku keluar atau semacamnya. Tapi tidak ada. Menyedihkan. Lelaki itu mungkin sudah merencanakan untuk mendiamiku dalam waktu yang lama.

Jam menunjukkan hampir pukul satu pagi. Keadaan rumah ini sudah sepi. Tapi aku belum bisa memejamkan mataku. Dua gadis di sebelahku sudah tidak memiliki tanda-tanda kehidupan. Hanya aku yang tersisa.

Biasanya jam segini aku sudah minta Jongin untuk memasakkanku macam-macam, tapi hari ini tidak. Perutku kenyang sekali. Aku baru tahu kalau siput itu enak. Mungkin aku menghabiskan 20 siput cangkang besar tadi. Benar-benar, kesan yang buruk untuk keluarga Hoseok melihat nafsu makanku yang keterlaluan. Mau bagaimana lagi, aku tidak akan bisa menemukannya di Seoul, jadi aku harus menggunakan kesempatan ini sebaik-baiknya.

Hah… mungkin bahagia sekali kalau aku jadi istrinya Hoseok, setiap hari makan seafood. Otakku yang tadinya beku mungkin akan lebih encer karena mendapat banyak asupan protein. Aku mungkin bisa menghasilkan 3 lukisan dalam satu minggu dengan otak encer. Bayangkan berapa banyak uang yang akan aku hasilkan kalau semua lukisanku habis terjual. Wahh…

Eh… yaa! Apa yang baru saja kupikirkan? Bagaimana bisa aku memikirkan hal seperti itu ketika aku sudah menikah?! Issh… terkadang aku menyesal pernah berpacaran dengan orang yang bukan jodohku. Membuatku memikirkan yang tidak-tidak.

“Eonni… Gwaenchana? Eonni belum tidur? Setelah makan malam kelihatannya Eonni tidak bersemangat…”

Aigoo… mengagetkanku saja… keadaan sedang sunyi-sunyinya, tiba-tiba ia berbicara. Untung kami tidur di kasur lipat, kalau tidak mungkin aku sudah terlempar ke lantai. Omo… mantan calon adik iparku… dia belum tidur rupanya. Anak kecil masih terjaga di jam segini, itu tidak baik!

“Gwaenchana! Aku hanya sedikit lelah. Kau belum tidur?” tanyaku sambil menggeser tubuhku, memberikan ruang untuk menyerong tubuhku agar bisa menghadapnya.

Ia, gadis berambut lurus sepunggung dengan wajah manisnya yang sampai sekarang masih kuingat, ikut menyerongkan tubuhnya menghadapku. Bibirnya yang mungil tersenyum lebar seolah ia merasa senang dengan kehadiranku.

“Eonni…”

“Ehm?”

“Apa Eonni masih ingat kejadian waktu itu? Waktu ada lelaki mengerikan yang mau menculikku?” Yoonhee mulai membuka percakapan. Kukira ia anak yang pemalu, tapi sepertinya tidak. Atau karena ia sudah terbiasa denganku yang selalu diceritakan Hoseok.

Sepertinya ia ingin bercerita banyak padaku. Baguslah, jadi aku bisa mengalihkan perhatianku dari Jongin. “Geurom. Tanpa kejadian itu, aku tidak akan tahu kalau ada seseorang yang tumbuh dalam perutku.” sahutku sambil mengusap-usap Jongin kecil.

Yoonhee ikut menatap perutku. “Benarkah? Kukira itu akan menjadi hari terburuk dalam hidup Eonni. Aku merasa bersalah karena ikut membawa Eonni dalam masalahku…” jelasnya cemberut.

“Yaa kenapa kau harus merasa bersalah? Itu kecelakaan, kecelakaan bisa terjadi pada siapa saja!” sanggahku tak terima. “Tapi sampai sekarang masih ada yang mengganjal. Apa yang kau lakukan di sekolah Oppamu hari itu? Kalau guru yang membawa anaknya ke sekolah, aku masih bisa memaklumi, tapi kalau murid yang membawa saudaranya… ehm… kurasa itu melanggar aturan…”

“Hari itu aku kabur dari rumah untuk bertemu denganmu… Eonni…”

Eh?

Apa tadi dia bilang? Kabur dari rumah untuk bertemu denganku? Kau tahu dimana rumahnya? Saat itu mereka masih tinggal di Gwangju. Seorang anak sekolah dasar kabur dari rumah dan melakukan perjalanan dari Gwangju ke Seoul hanya untuk menemuiku? Untuk apa?

“Setiap Oppa pulang, Oppa selalu menceritakanmu sepanjang hari. Apapun yang ia lihat pasti akan mengingatkannya padamu. Ia juga membawa beberapa lukisan yang pernah kau buatkan untuknya. Semua orang di rumah ini rasanya sudah mengenalmu lebih dulu sebelum bertemu…” ia menggantung kalimatnya. Membiarkan nafasnya mengisi kekosongan selagi ia memikirkan sesuatu yang aku tidak tahu. “Eonni, dulu… kami punya kakak perempuan. Tapi sayangnya ia meninggal sebelum aku lahir. Oppa sangat kehilangannya. Ia sampai tidak mau keluar rumah dan hanya menangis seharian. Setelah aku lahir, ia juga tidak memperhatikanku. Ia tidak mempedulikanku. Rasanya aku seperti anak yang tidak diinginkan di depan Oppa. Tapi… ketika ia mulai memasuki high school, ia berubah. Ia lebih peduli padaku. Ia memang jarang pulang ke rumah, tapi sekali ia datang, ia tiba-tiba membawakanku banyak hadiah. Ia juga memelukku. Aku tahu ada sesuatu yang merubahnya di Seoul. Ketika ia mulai membicarakan soal pelukis yang marganya sama dengan keluarga kami, aku tahu ialah yang sudah merubah Oppa kami, aku ingin sekali bertemu dengannya karena sudah merubah Oppaku begitu banyak. Tanpa ia mungkin hubunganku dengan Oppa masih buruk. Maka dari itu… gomawo Eonni. Sampai sekarang Eonni adalah malaikat bagiku…”

Deg…

Sesuatu berdesir hangat dalam hatiku. Bukan soal sisi Hoseok yang aku belum tahu, tapi… malaikat… kalau saja anak yang masih sangat polos ini mengerti keadaan kami. Mungkin ia tidak akan menggunakan kata itu untuk memujiku. Kalau saja ia tahu malaikat itu sudah mengkhianati Oppanya dan meninggalkannya tanpa pamit sedikitpun… aku yakin ia sudah membenciku.

“Eonni, apa kau tahu seberapa senangnya aku saat Taehyung Oppa bilang akan mengajakmu menginap disini?! Rasanya senaaaang sekali! Aku ingin menghabiskan banyak waktu dengan Eonni. Hemm seandainya Oppa bisa pulang, kita bisa menghabiskan waktu dengan berlayar bersama Appa ke pulau di seberang. Eonni tahu? Ketika matahari terbit, pemandangan disana indaaah sekali. Banyak pasangan yang datang ke sini di tahun baru untuk melihat pemandangan itu…”

“Yoonhee-ya…” tegurku memotong kalimat panjangnya yang seperti tidak akan putus.

“Ne Eonni?”

Aku terdiam menatapnya. Rasanya aku seperti seorang pembohong. Haruskah aku mengatakan padanya kalau aku bukan gadis yang dulu? Aku bukan idola yang selama ini sangat ingin ia temui. Bahkan Hoseok jika bertemu denganku, mungkin ia akan berubah jadi kasar lagi karena aku. Tapi bagaimana aku bisa menjelaskan padanya? Aku tidak yakin ia akan mengerti.

“M-mianhae…” ucapku menggantung. Otakku berpikir keras, memikirkan bagaimana aku harus menjelaskan padanya. “Aku tidak bisa melakukan semua itu lagi…” jawabku menggantung tidak tahu mau disambung dengan kalimat apalagi supaya ia mengerti.

“Arraseo Eonni, Eomma sudah melarangku untuk tidak mengajak Eonni kemana-mana karena Eonni sedang hamil hehehe…”

“N-ne?”

“Oh iya, kapan Eonni melahirkan? Aku sangat suka bayi, aku pasti akan meminta Oppa untuk mengantarku ke Seoul kalau bayi Eonni sudah lahir…”

Aku menolaknya bukan karena itu. Karena aku dan Hoseok memang sudah tidak boleh bersama lagi. Itu bisa menjadi masalah besar kalau sampai Jongin tahu. Tapi… ia ada benarnya juga, kalau saja tidak ada Jongin kecil di perutku, mungkin aku sudah menuruti permintaannya tanpa berpikir lebih banyak. Ahh… lagi-lagi aku harus berterima kasih padamu Jongin kecil. Kau selalu menjadi penengah dari semua permasalahan Eomma.

 

~”~”~”~

 

Drrrrt-drrrrrrrt

“Nnee… yeoboseyo…” aku bersumpah suaraku seksi sekali pagi ini. Tidak peduli siapa yang ada di seberang sana.

“Jinni-ya? Kau tidur? Apa perjalanan ke sana melelahkan? Bagaimana bisa tengah hari begini kau tidur?! Apa disana membuatmu merasa nyaman? Yaa… cucu kami sepertinya memang seperti Kakeknya, suka tinggal di pedalaman…”

Apa? Apa? Eomma bicara cepat sekali sampai aku tidak mengerti apa saja yang sudah ditanyakannya. Tapi… kalau tidak salah Eomma tadi menyebutkan soal waktu… tengah hari? Tengah hari darimana… ini ‘kan masih pag… OMONA!! JAM 12 SIANG?!

Aku melirik kiri kananku sudah rapi, tak ada lagi kasur lipat. Semua orang sudah pergi terkecuali aku!

“E-eomma…” sebutku tak tahu harus bicara apa. Aku masih kaget melihat semuanya pergi.

“Bagaimana dengan kalian? Apa kalian baik-baik saja? Taehyung memberitahu Eomma kalau kalian akan menginap di rumah keluarga mantan pacarmu. Apa Jongin baik-baik saja? Jongin dan Taehyung tidak membuat keributan di rumah orang ‘kan?”

Issh! Bukan hanya bertengkar dengan Taehyung, tapi juga denganku!

Kreouuuk

Sial! Aku lapar! Ini sudah waktunya makan siang dan aku melewatkan sarapanku. Jahat sekali Jongin tidak membangunkanku. Dia ‘kan tahu aku tidak boleh melewatkan makan demi Jongin kecil.

“Taehyung bilang ia sudah menyiapkan sesuatu untuk kalian sebagai penebus kesalahannya yang sudah membuat kalian kerepotan. Kau tidak apa-apa ‘kan membantu Taehyung?” Eomma masih saja melemparku dengan banyak pertanyaan meskipun aku belum menjawabnya satupun. Bernafas saja tidak sempat. Entahlah, mungkin Jonghyun Appa sedang terobsesi menjadi rapper sampai membuat Eomma jadi bicara secepat itu.

“Tidak apa-apa Eomma. Justru aku senang bisa membantu adik iparku meskipun kami baru bertemu.” jawabku menambahkan tawa renyah untuk menutupi suara perutku yang semakin menjadi. Aku lapar. Sangat lapar sampa melihat pintu saja rasanya aku ingin memakannya.

“Ohhoo kau memang anak yang manis. Kalau begitu selamat berlibur! Pastikan kau tidak terlambat makan dan jaga kesehatan kalian ya?!” pesan yang manis tapi sayangnya aku sudah melewatkan satu waktu makanku.

“Ne” jawabku manis sebelum sambungan terputus.

Hah…

Akhirnya pagi juga. Kukira aku tidak akan pernah bertemu matahari lagi setelah melalui masa sulit karena Jongin mendiamiku. Semoga hari ini ia mau membuka hatinya. Eh tapi… ada masalah besar yang harus kuhadapi sekarang! Bukannya Taehyung akan praktikum hari ini? Kalau Jongin tidak datang, siapa yang akan membantunya? Mati aku!

Buru-buru aku bangkit dari tidurku. Membuka daun pintu perlahan, mencoba membaca keadaan diluar sana. Wahh… baru kali ini aku menemukan rumah yang sesepi ini. Lebih sepi dari rumah mertuaku saat semua orang tidak di rumah. Mataku langsung terfokus pada satu pintu tepat di depan kamarku. Sepertinya tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalam sana. Tapi Jongin ‘kan memang jarang membuat suara. Coba kucek, siapa tahu dia masih di dalam sana.

Aku meninggalkan kamarku lalu berjalan lambat menuju pintu itu. Sampai di depan pintunya pun aku masih tak merasa ada kehidupan di dalam sana. Aku buka saja ya? Semua orang sudah pergi ‘kan?

Krieeet

Omo… kosong. Tidak ada siapa-siapa. Lalu Jongin kemana? Tidak mungkin ‘kan Jongin menemani Taehyung praktikum? Itu bisa jadi keajaiban dunia baru kalau sampai terjadi!

“Kau cari siapa?”

HAH!! MENGAKETKANKU SAJA!

Sejak kapan Ibu Hoseok berdiri disana?! Kukira tidak ada siapa-siapa di rumah ini!

“E-eomeoni… mengagetkanku saja…” gumamku sambil mengelus dada.

“Hehehe kau sedang mencari siapa? Suamimu? Mereka sudah pergi ke laut pagi-pagi tadi.” tebak Ibu Hoseok tepat sekali.

Ternyata benar? Jongin membantu praktikum Taehyung… wahh… haruskah aku melaporkan kejadian ini agar menjadi keajaiban dunia baru?

“M-mereka tidak berteng… kar ‘kan Eomeoni?” tanyaku ragu-ragu. Aku rasa pertanyaan ini antara pertanyaan pribadi dan pertanyaan biasa. Tidak apa ‘kan aku sedikit membongkar aib mereka?

“Tidak. Mereka baik-baik saja. Tapi suamimu memang sedikit… dingin ya?”

Sedikit? Bukan sedikit, lebih tepatnya sangat dingin! “Ahaa dia memang seperti itu… maklum sudah bertahun-tahun tinggal terpisah karena Taehyung tinggal di asrama…” bohongku. “Eomeoni mau buat apa? Apa ada yang bisa kubantu?” tawarku melihat baskom besar yang dibawa-bawa Ibu Hoseok.

“Ah ini, rencananya aku ingin membuat sup kerang untuk makan siang nanti. Oh iya, kau pasti lapar. Tadi aku menyisihkanmu makanan, makanlah.”

Ohh… Tuhan memang baik. Disaat aku kelaparan sampai mau mati, ternyata masih ada makanan untukku.

“Terima kasih makanannya Eomeoni” ucapku sebelum bertempur dengan mangkuk-mangkuk di depanku. Wahh… sayang sekali satu hari sudah berlalu. Hanya tersisa 6 hari lagi sampai kesempatan makan makanan enak ini berakhir.

“Makanlah pelan-pelan. Kau akan tersedak! Apa kau kelaparan? Maaf tadi tidak membangunkanmu. Sepertinya kau kelelahan, jadi aku membiarkanmu tidur lebih lama.” tegur Ibu Hoseok khawatir. Ibu Hoseok memang orang yang lembut. Sama persis seperti Hoseok.

Aku mengangkat wajahku menatapnya lalu tersenyum sekilas. Selanjutnya aku kembali menyumpit makanan ke mulutku. Memakannya dengan lebih hati-hati.

“Dulu kami punya anak perempuan. 4 tahun lebih tua dari Hoseok. Kalau saja ia masih ada, mungkin ia juga sedang hamil anak pertamanya sepertimu…”

Eh?

Aku menatap wajah Ibu Hoseok lagi, kali ini matanya sudah berkaca-kaca. Ada binar kesedihan saat ia melihatku. Melihat tubuhku. Yaa… apa aku mengingatkannya pada anaknya? Bukankah yang ia maksud adalah kakak yang diceritakan Yoonhee semalam? Kakak yang sangat disayangi Hoseok sampai membuat Hoseok tidak mempedulikan adiknya? Yaa… aku benar-benar kasihan pada Yoonhee. Arti kakak perempuan Hoseok sepertinya sangat besar untuk keluarga ini sampai kehadiran Yoonhee tidak bisa mengobati rasa kehilangan mereka.

“Ah maaf aku terlalu terbawa suasana. Karena kau disini, bagaimana kalau kita menelpon Hoseok?”

Mendadak aku jadi tidak selera makan mendengar ajakan itu. Menelpon Hoseok? Menghubungi lelaki yang sudah sekian lama tak kuhubungi? Aku ingin menolak tapi tidak ada kata-kata yang keluar dari bibirku. Apa sebenarnya aku memang mengharapkan kesempatan ini? kenapa aku munafik sekali?!

“Eomma?”

Ketika suara itu terdengar dari ponsel yang di loudspeaker, seketika itu juga ada desiran hangat dalam hatiku yang membuatku semakin merasa bersalah. Aku tak mengerti perasaanku sendiri. Pada siapa aku merasa bersalah? Padanya? Atau pada lelaki diluar sana yang sedang membantu adiknya praktikum?

“Eoh Hoseok-ah? Uri adeul? Tebak siapa yang sedang menginap di sini?!” sambut Ibu Hoseok sambil tersenyum lebar. Terlihat sekali merasa bahagia ingin menggoda anaknya.

“Menginap? Siapa? Apa Eomma sudah dapat teman baru disana?”

“Anni… kau mengenalnya!” aku terkekeh melihat Ibu Hoseok yang jengkel. Wajahnya persis seperti Hoseok. Rasanya aku seperti nostalgia ke masa lalu. Saat aku bercanda dengan Hoseok.

“Eomma…” suara Hoseok tiba-tiba berubah kaku. Aku menghentikan tawaku seketika. “Tidak mungkin… Jinni?”

DEG

Jantungku langsung berdetak cepat saat ia menyebutkan namaku. Bukan dengan nada bahagia memang, tapi…

“Oh! Benar sekali! Ia dan suaminya diajak Taehyung menginap disini untuk membantunya praktikum. Kalau kau ada waktu, pulanglah. Apa kau ingin mengatakan sesuatu padanya? Dia sedang makan karena ditinggal yang lainnya praktikum. Cha~ bicaralah…”

Jantungku berdetak semakin keras ketika speaker ponsel itu diarahkan padaku. Aku menggenggam sumpit di tanganku kuat-kuat. Rasanya tidak nyaman. Udara disekitarku memanas dan aku merasa semakin bersalah. Oke, aku mengerti pada siapa aku merasa bersalah sekarang.

“J-jinni-ya?” panggilan itu… seketika panggilan itu membuat perutku mulas.

“E-eoh…” sahutku ragu.

“Bagaimana kabarmu?”

“B-baik… Kau sendiri?” tanyaku canggung.

Tak ada jawaban. Hanya suara angin. Ibu Hoseok menatapku bingung. Begitupun aku. Untuk sejenak aku melupakan rasa bersalahku dan terfokus padanya. “Adeul? Kau masih disana?”

“Eomma… aku akan pulang akhir pekan. Aku harus pergi latihan nanti akan ku telpon lagi…”

“A-adeul…”

Pip! Sambungan terputus.

Aku terkejut mendengar kalimat itu. Ia akan pulang? Apa itu artinya aku akan satu atap dengannya? Andwae! Tidak disaat kami sedang honeymoon! Ah Tuhan… kenapa kami harus ada di posisi seperti ini?

“Kami pulang”

Suara itu…

Buru-buru aku menoleh ke arah pintu dan Jongin sudah berdiri disana. Menatapku dengan tatapan tajam. Sial! Jangan bilang dia mendengar percakapan kami di telepon tadi!

“Oh kalian sudah pulang? Naiklah ke beranda dan beristirahatlah. Sebentar lagi makan siang siap.” pesan Ibu Hoseok sama sekali tak mengerti keadaan kami.

Jongin melempar tatapan tajamnya padaku sekali lagi sebelum berlalu pergi ke lantai atas. Tamat sudah. Ia pasti sudah marah besar sekarang. Menyisakan aku yang semakin kehilangan nafsu makanku. Sial!

 

~”~”~”~

 

Me           : Kita butuh bicara

Jongin      : Bicara saja

Me           : Bisakah kau keluar?

Jongin      : Aku sudah diluar

 

Aku tahu. Aku bahkan sudah berdiri di pintu beranda sejak setengah jam yang lalu. Ragu antara mau menghampirinya atau tidak. Langit sudah mulai senja dan kami masih belum membicarakan sepatah katapun. Ini menyebalkan. Dimana ada pasangan yang honeymoon sambil diam-diaman?!

Tapi… rasanya aku takut menghampirinya. Aku takut dia tiba-tiba marah. Aku tidak ingin menangis disini. Tapi tidak mungkin kami seperti ini terus ‘kan sampai satu minggu berakhir?

Sudah! Tidak usah banyak tapi! Dia Jongin! Lelaki yang selalu hidup denganku selama 24 jam penuh! Kenapa aku harus takut?!

Pada akhirnya aku melangkahkan kakiku keluar dari pintu beranda. Aku tahu ia menyadari kehadiranku, tapi ia masih memandang lurus ke depan tanpa mempedulikanku. Ia benar-benar marah.

Aku terdiam disampingnya. Ikut memandang ombak di depan sana. Berderu kencang terbawa angin yang menerpa tubuh kami. Kurasa suasana hatinya juga seperti itu. Berderu emosi. Aissh… ini semua salahku! Kalau saja aku tidak memulai sesuatu, semuanya akan baik-baik saja dan tidak akan ada yang terjadi!

“Apa Eomma menelponmu?” tanyaku memulai percakapan dengan basa-basi.

“Sekali setelah kita sampai, wae?” ia menatapku. Dengan ujung dagunya yang tampak lebih jelas karena ia jauh lebih tinggi dariku.

“Eomma menelponku juga dan bertanya apa semuanya baik-baik saja. Aku bilang iya, padahal kenyataannya tidak…” jelasku menggantung. Aku menundukkan kepalaku merasa tak sanggup mendapat tatapan itu lebih lama.

“Apa yang ingin kau bicarakan?” issh! Terlalu memaksa. Padahal aku yakin dia tahu apa yang kumaksud dan aku tidak tahu harus memulainya darimana.

“Soal telepon tadi…”

“Aku sudah dengar semuanya” potongnya membuatku lagi-lagi kehabisan kata-kata.

“Soal tadi pagi, aku tidak bisa bangun cepat karena Yoonhee mengajakku bercerita…”

“Yoonhee membelamu tadi pagi…” dipotong lagi…

Hanya tinggal satu alasanku berdiri disini. Alasan yang membuatku sangat ingin bicara dengannya. “Soal… kenapa aku memaksamu untuk membantu Taehyung…”

Kali ini ia membalik tubuhnya. Menatapku dengan tangannya yang terlipat di perut. Seolah ia sudah sangat menantikan bahasan ini.

“Aku…” aku menatapnya ragu-ragu. “Aku merasa… aku akan mendapatkan lebih banyak hal tentangmu ketika aku memasuki duniamu. Aku ingin mengenalmu lebih. Dan Taehyung adalah salah satu yang tidak pernah aku ketahui darimu. Meskipun aku tidak tahu ada apa dengan kalian dan bagaimana bisa memperbaiki hubungan kalian… setidaknya aku ada diantara kalian. Menjadi bagian dari keluarga kalian…” jelasku akhirnya. Penjelasan tulus yang aku tidak tahu bagaimana cara untuk menjelaskannya.

Rasanya lega… walaupun ekspresinya tidak berubah. Setidaknya aku tidak punya apapun yang belum sempat kuberitahukan padanya.

“Kau keras kepala Kim Jinni!”

Refleks aku menatapnya lagi. Aku tidak bisa mengontrol rasa bahagiaku saat mendengar ia kembali mengganti margaku dengan marganya! Akhirnya… dia mau melunak juga…

“Kau selalu memikirkan orang lain sebelum dirimu. Apa yang membuatku marah bukan soal Hoseok atau siapapun. Tapi kau…”

Eh? Aku?

“Kenapa aku?”

“Karena perjalanan ke sini jauh dan sulit. Kau tidak memikirkan keadaanmu padahal kau sendiri tahu alasan kita mengembalikan tiket liburan minggu lalu…”

Karena kehamilanku. Karena resiko kelahiran prematur lebih tinggi saat aku melakukan perjalanan jauh. Seketika aku menunduk menatap tubuhku. Merasa bersalah. Lagi-lagi aku salah paham. Lagi-lagi aku tidak mengerti maksudnya. Jongin… memang makhluk yang tidak terprediksi.

“Mianhae…”

“Tapi melihatmu senang, sudah membuatku lega…” potongnya kali ini sambil bergerak mendekatiku. Tangannya meraih tubuhku dan memelukku dengan erat.

Akhirnya… aku bisa memeluk tubuh ini lagi… merasakan kehangatan yang tidak bisa kudapatkan setelah seharian tidak bicara dengannya.

“Kalau kau marah, katakan padaku. Jangan memandangku seperti itu. Aku merasa sendirian kalau kau melakukannya…” keluhku setengah berkaca-kaca.

“Mianhae, kau perlu dihukum agar tidak terus-terusan mengulangi kesalahanmu hahaha” kekehnya jahil. Dia tidak tahu saja bagaimana kacaunya aku tidak bisa bermanis-manis seperti ini seharian penuh.

“Ehem…”

Suara dehaman tak diundang itu seketika membuat suasana romantis ini berakhir. Kami sama-sama menoleh ke arah pintu dan seorang gadis sudah menatap kami dengan wajah canggung disana. Ia tampak sedikit kesal karena pipinya merona menahan emosi.

“Jwesonghamnida. Aku sama sekali tidak bermaksud mengganggu kalian tapi… kalian kesini bukan untuk bermesraan berdua ‘kan? Kami semua sudah menunggu kalian dari satu jam yang lalu, tapi kalian tidak juga turun.” Aeyong tampaknya sangat mewarisi darah Masan. Dari caranya menegur kami dengan gigi terkatup rapat.

“Memangnya ada acara apa? Apa kalian akan berlayar malam-malam?” tanyaku setelah sebelumnya saling melempar tatapan bingung dengan Jongin.

“Bukan itu Eonni… tapi… kalian ingat ‘kan janji kalian di meja makan kemarin malam soal menjelajah bangunan sekolah tua…”

Sial! Aku lupa total soal itu. Harusnya aku tidur saja seperti tadi pagi supaya tidak ikut acara mereka. Aku ‘kan paling benci hal-hal seram…

 

-to be continued-

 

Maaf lahir dan batin ya yeorobun. Sebulan hiatus. Maafin author yang nyebelin ini. Untuk edisi depan critanya agak horor.

113 responses to “Yes!! We’re Married (Chapter 1)

  1. lagian gk ada tempat lain apa buat liburan kenapa harus dipenginapannya hoseok
    walaupun alasan jongin hanyan karna kondisi kandungan jinni tapi juga karna lingkungan keluarga jung juga
    jongin ngrasa gk nyaman
    jinni egois mau menang sendiri

  2. Yehet! Akhirnya keluar juga….
    Hahahah…
    Tapi sebanding lah dengan hiatusnya author.
    Ini cerita gak nanggung2 panjangnya 😂
    Daeeebaaaakkk….!!!
    Selanjutnya juga gitu yeth… yang panjang bikin ceritanya 😉

  3. sumpah hampir lupa kalo stt were maried udah ada sequelnya 😀 maapken daku thor
    Selalu suka sama ini seris hihiw

  4. Astaga author akhirnya rilis juga ni epep ya ampunnn kangen banget nih couple,gpp deh serem yg penting tokohnya mereka tetep kubaca kok ^^

  5. Tuh kan salah paham lg, dr dulu mesti gampang bgt salah paham
    Tpi syukur deh udh kelar salah pahamnya
    Aaa sweet bgt mereka berdua, jadi pengen /? Eh haha
    Gara2 ff sstt, we’re married aku jd demen sama abang jongin :3
    Good job author-nim! Keren deh pokoknya 😀

  6. huwaaa senengnya gak ketulungan iniii akhirnya sequel sst were married ada huwaaa baru tau aku, dan ceritanya makin seruuuu eon, bersyukur bgt ini adalagi soalnya terakhir baca ff Jongin yg marriage yg sst were marriage setelahnya blm nemu lg-___- nextnya jangan kelamaan dong kak kan kangeeen.. sama jongIn nya:’)) hihih gapapa horor yg penting tambahin adegan sweet moment nya mereka yaa eon^^ keep writing :))

  7. Duhhhh kenapa moment kebersamaan mereka harus sampai disini….dan dimulai dengan konflik” kecil,kasian banget mereka yaw. Udah ga hisa berbuat lebih sekarang harus sabar menunggu..hehheheh kasian ya jongin dan jinni
    dan aku gak nyangka kalo uri tae tae itu adeknya jongin…hihihihi lucu banget yaw kalo inget kejadian peratama kali jongin dan jinni ketemu tae tae
    duhh pengen baca moment jongin dan jinni bersama dan juga tae tae tentunya
    ok lah ditunggu dwh lanjutannya yang selalu bikin penasaran
    maaf komennya banya typo
    tetap semangat ya

  8. Walaupun udah lama banget eonni gak update tapi untung aku gak lupa chapter sebelumnya.. Jongin bener2 dah memang manusia yang tidak terbaca pikirannya -_- sampe khawatir dia bener2 marah gara2 heosok/taehyung..
    Bener2 deh si Aeyong ganggu banget :3 baru lagi romantis2an & kangen2an yakan -_- malah ngajak mereka berdua ke sekolah kosong,uji nyali.. Kan jinni lagi hamil, jongin aja kali ya yg ikut biar ada moment adek kakak. Atau gak jongin gak usah ikut, biar jongin nemenin jinni tidur, biar ada moment mereka berdua gituuu 😀
    Next & keep writing eon 🙂

  9. Ya ampun jong in ! Ku kira kamu marah karna apa ,, ternyata karna khwatir sama jong in kecil toh .. Kekeke * salut deh sama calon ayah kayak jong in 😀 *
    ,,,,
    chap next di tunggu lagi 😉

  10. akhirnya ada juga ni ff jongin yaampun romantis aaaa ga nahan calon suami/? idaman XD haha next yaaa next jangan lama lama

  11. Hohoho^^ akhirnya lanjut juga!! Jinni disini sweet banget tapi egois juga-__- jongin juga kok nyebelin amat ya?_. Ah.. Yang penting mereka bisa baikan lagi deh;v Cerita horornya gimana? Waah aku takuuut~ ditunggu next chapternya yaa thooorrrr. Luvluv(: xoxo

  12. Kasian banget sama Jinni ya, dicuekin sama Jongin -_- gataunya sengaja biar tobat wkwk
    Hoseok sma Jongin semoga aja bisa baikkan ya, Jinni juga udh mau pnya anak kann
    Itu satu keluarga pura2 ga peka atau gimana ya?-.-
    Next2

  13. Ahhh sweet banget deh….
    Kenapa malah dirumah Hoseok, kenapa nggak di penginapan lain,, wkwkwk
    Ahh Jongin perhatian banget nih….
    Jinni udah hamil masak mau perjalanan horor gituu,, wkwkwk

  14. nunggu jongin kecil kpn lhrnya??
    jgn main yg horor nanti ngelahiran tb2 gmn?? wkwk
    ihhh kakak authornya lucu deh hihihi 😀
    next next

  15. annyeong…. reader bru. ini lanjutan sstt we’re married kah.? uwwwaaagh aku suka bgt sma ff itu dan ini akhir.a di post juga.. daebak author keep writing

  16. Pingback: Yes!! We’re Married (Chapter 2) | SAY - Korean Fanfiction·

  17. aku udh baca tadi tp baru sempet komen hehe maapin….. Jongiiiinnnnn jadi kamu marah gara2 jinni hamil tp maunya ketempat yg perjalanannya jauh toh kirain aku gara2 tae/ho

  18. Jinni udah frustasi tingkat dewa tkt jong in nambah marah wkt ibu hoseok nlpon hoseok dan bilang mw pulang tau nya jong in hanya khawatir ke jinni oh ya kk nya hoseok emang meninggalnya knp

  19. Aaaaahhh jongin… Knapa suka bikin jinni galau…
    Ckkkk
    Aku pikir dia cemburu… Ternyata alasannya…..

  20. Pingback: Yes!! We’re Married (Chapter 3) | SAY - Korean Fanfiction·

  21. Pingback: Yes!! We’re Married (Chapter 4) | SAY KOREAN FANFICTION·

  22. akhirnya nemu link ff ini..
    ya ampun,,, pas itu pas di update lg dikampung jadi ga ada sinyal ㅠ.ㅠ terus setelahnya hiatus dan gak tau apa apa yg baru.
    hahahahhaha finally this couple >,< bikin envy banget sial…. jadi pengen cpt punya pacar ini. resolusi terbaru (apa hubungannya coba) pokonya aduh ditunggu lagi kelanjutan ff ini. couple ini tuh masi muda polos.. tp jujur dan tulus bgt kelakuannya… ditunggu kelanjutannya ^^

  23. Eh. baru tau kalo ada lanjutan dari ssst we are married :D.

    Aku kira jongin cemburu gegara hoseok :D. Duh ni pasangan makin romatis aja ya :v.
    Authornya pinter buat pembacanya menghayati. Macen aku :v

  24. Pingback: Yes!! We’re Married (Chapter 5-End) | SAY KOREAN FANFICTION·

  25. ahhhh jongin emang selalu mikirin apa yg nggak kita pikirin dan tingkat kehawatirannya lebih banget buat kita…aww… 😀

  26. jinni2 salah paham lagi sama jongin
    jongin emang suami idaman banget dah, ga ketebak banget jalan pikirannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s