MOON THAT EMBRACE OUR LOVE – [IV] MIGIKATA

mteol138

MOON THAT EMBRACE OUR LOVE [IV]

2015 © SANGHEERA

Cast :: Cheon Sera (Original Character), Luhan as Xiao Luhan and Xiao Luxien, Byun Baekhyun of EXO || Support Cast :: Hwang Shiina (OC), Kim Seukhye Ulzzang, Kim Jinhwan of iKON, Zhou Yumin (Vic Zhou) as Xiao Yumin, Ren of NU’EST as Liu Ren, Choi Seunghyun (T.O.P) of BIGBANG, Kim Yoojung (OC), and many more || Genre :: Campus Life, Romance, Fantasy, Comedy, Family, Fluff || Lenght :: Multi Chapter || Rating :: PG 17+

Read this first :: [0] PROLOG, [I] Man From the Moon, [II] Unbroken Red String, [III] Old Man Under The Moonlight

Recommended Song : Atsuko Maeda – Migikata, Izumi Ayana – Kimiiro Days (Ost. L.DK), HOME MADE Kazoku – Love is… (feat. Ms.OOJA), Kis My Ft2 – Shake It (Ost. Bakaleya High School), SCANDAL – Stamp!, Kanjani∞ – Can’t You See, Sekai no Owari – Home, 7!! (Seven Oops) – Orange (Acoustic Ver.), EXO – Don’t Go

(NB : Mungkin lebih baik download lagunya 7!! Seven Oops dulu, soalnya ada scene Sera nyanyi lagu itu ^^ biar bisa bayanginnya gitu. Silahkan ini linknya : Orange)

[IV] MIGIKATA

Falling in LOVE is like the RAIN. You can’t predict it, but you can always see signs of it before it completely falls – thatonerule.com

 

Helaan napas berat keluar dari bibir Sera. Kedua tangan gadis itu menopang dagu dengan siku yang ia taruh di pahanya. Tatapan gadis itu tertuju pada deretan pohon yang ada di depannya. Angin berhembus sejuk, menggoyangkan helaian rambutnya yang lembut. Pikiran gadis itu berkelana entah kemana.

“Aku tidak merasa pernah bertemu gadis secerewet dan biasa-biasa saja sepertimu sebelum ini…”kata Luhan yang duduk di samping Sera. Dengan posisi, arah tatapan mata dan isi pikiran yang sama.

Na ddo,”sahut Sera, suaranya terdengar lelah. “Aku juga merasa tidak pernah bertemu pria kaya yang semenyebalkan dan semerepotkan dirimu.”

Luhan menatap Sera sebal, dan Sera ikut menoleh untuk membalas tatapannya. Mereka berdua sejenak saling melempar tatapan benci sebelum sama-sama menghela napas berat. Lagi. Urusan benang merah sialan ini begitu memusingkan!

Mereka sedang berada di tangga darurat belakang Gedung Fakultas Kedokteran yang sepi. Menghabiskan jam istirahat untuk bersembunyi sambil mendiskusikan apa maksud perkataan kakek tua misterius yang mereka temui di Gunung Halla pagi tadi.

“Kalian terhubung oleh masa lalu. Carilah benda yang menghubungkan kalian itu, dan hancurkanlah. Mungkin itu bisa menghancurkan pula benang merah yang menghubungkan kalian.”

“Maksud harabeoji? Aku tidak mengerti, aku dan Luhan terhubung oleh masa lalu?”

“Ne! Bukankah kalian pernah bertemu sebelum ini, hm?”

Luhan dan Sera saling berpandangan. “Kami tidak pernah bertemu sebelum ini, harabeoji. Pertama kami bertemu 4 hari yang lalu.”

Kakek berjaket sport itu tersenyum sambil menepuk bahu Luhan. “Hanya karena tidak mengingatnya bukan berarti tidak pernah bertemu, anak muda.”

Luhan dan Sera kembali saling berpandangan.

“Kakek tahu dimana kami pernah bertemu? Kapan?”tanya Sera.

“Kalau kalian sendiri saja tidak tahu, bagaimana aku bisa tahu, agashi.”Kakek itu berbalik. “Sudahlah, aku harus segera pergi. Banyak sekali pekerjaan hari ini.”Baru 5 langkah kakek itu menuruni tangga, ia kembali berhenti untuk menoleh ke belakang, ke arah Sera dan Luhan yang masih berdiri mematung sambil memandanginya. “Oiya, anak muda!”

“Ya?”Luhan dan Sera menjawab bersamaan.

“Apa kalian sudah mengerti semua aturan mainnya?”

“Eh?”

Wusssss~~

Bersamaan dengan seruan penuh tanya yang keluar dari bibir Luhan dan Sera, angin tiba-tiba berhembus dengan begitu kencang. Hingga membuat mereka reflek menutupi wajah dengan tangan karena debu dan daun-daun kering yang berterbangan di sekitar mereka.

Ketika angin itu telah reda, dan mereka bisa kembali membuka mata.

Kakek tua itu telah raib.

“Menurutmu apa itu tadi?”

Molla, aku tidak mau membahasnya,”kata Luhan sambil menggosok rambut bagian belakangnya.

“Apa menurutmu hantu juga bisa muncul pada jam 10 pagi?”lanjut Sera, tak menggubris kata-kata Luhan.

Molla…”jawab Luhan lemah. Ia merinding setiap kali mengingat kejadian tadi. Tidak. Tidak. Kakek tua itu pasti staminanya luar biasa, karena itu ia bisa menuruni tangga cepat sekali. Atau mungkin ia tiba-tiba kebelet ingin buang air kecil, dan saat Luhan dan Sera tidak melihatnya, kakek itu sudah lebih dulu lari masuk ke hutan dan mencari toilet darurat di balik semak-semak. Ya pasti begitu! Tidak mungkin kakek itu hilang begitu saja! Tidak! Tidak ada hantu di dunia ini.

“Mungkin saja kakek itu benar-benar ‘lelaki tua di bawah sinar bulan’.”

“Hm, mungkin.”

“Dewa tak selalu memakai pakaian tradisional kan?”

“Yaa…”

“Lagipula, apa maksudnya ‘aturan main’? Kenapa kakek itu tidak to the point saja sih?”

“Membuat orang penasaran itu seru. Siapapun senang melihat tanda tanya besar di wajah orang lain dan suka ketika merasa menjadi yang paling tahu. Jika yang dimaksud adalah tentang benang merah ini, mungkin selain tidak bisa putus, bisa menembus benda apapun, tidak bisa dilihat oleh orang lain selain kita dan hanya sepanjang 7 meter, benang merah ini masih menyimpan sesuatu.”

Sera memelototi benang yang ada di tangannya. Bentuknya masih sama saja. Masih merah ruby, sebesar kawat dan kesat. Tidak ada yang aneh. “Benda apa ya yang dimaksud kakek itu? Aku ingin segera bisa menemukannya dan memutus benang merah ini,”kata Sera muram. Luhan menatap ke arah Sera dengan tatapan penuh arti, tak berkomentar. Saat Sera mengangkat arah tatapannya dari benang merah di tangan, Luhan dengan segera mengalihkan wajahnya.

“Kau pasti pernah ke Korea kan sebelum ini?”

“Ratusan kali…”jawab Luhan singkat, nampak bosan seperti biasa.

“Karena aku tidak pernah pergi ke luar negeri jadi pasti kita bertemu di Korea. Kota apa yang pernah kau kunjungi di Korea?”

“Mmm…”Luhan menatap ke atas, mengingat-ingat. “Aku sering berkunjung ke Jeju, tapi di bagian pesisir pantainya. Baba punya resort di sana.”

“Waaah…”Sera mengangguk-angguk. Kagum. Sepertinya Luhan benar-benar karakter orang kaya seperti yang sering ia lihat di drama Korea. Pantas saja sifatnya seperti itu. Luhan pasti dimanja dengan fasilitas-fasilitas terbaik, jadi sudah sewajarnya jika ia banyak komplain ketika tinggal di rumah Sera.

Sera memang belum pernah melihat sendiri kekayaan Luhan, tapi pemuda itu sepertinya bukan pembohong. Walaupun bibirnya nyinyir dan sikapnya menyebalkan, tapi Luhan memiliki mata yang jernih dan mungkin juga hati yang baik. Melihat dengan kasat mata saja Sera bisa menilai bahwa kelas mereka berada di level yang berbeda. Penampakan Luhan seperti pangeran, sedangkan Sera bahkan tak cukup layak disamakan dengan cinderella. Setidaknya cinderella pernah kaya, dilimpahi kasih sayang, memiliki wajah cantik dan kepribadian bangsawan, sedangkan Sera sudah sejak awal memang terlahir miskin dan merana.

Nilai plus yang Sera miliki hanya dua, ia punya ayah luar biasa yang sangat menyayanginya dan kini ia memiliki Baekhyun yang sangat mencintainya. Hanya itu ‘kekayaan’ yang Sera miliki.

“Aku pernah berkunjung ke Gwangju, Incheon, Busan dan Seoul…”lanjut Luhan. Pemuda itu terdiam sejenak. Kilatan kesedihan muncul di sorot matanya. “…tapi sudah 5 tahun ini aku tidak pernah ke Seoul lagi.”

“Hmmm, banyak sekali kemungkinan tempat kita bertemu…”ujar Sera, tak menyadari wajah Luhan yang berubah mendung itu. “Appa seorang seniman, jadi kami sering berpindah-pindah. Dan semua kota yang pernah kau kunjungi itu, aku pernah menetap selama beberapa tahun disana. Kecuali Seoul, aku sering berkunjung ke Seoul tapi hanya menetap disana selama 6 bulan. Itupun…”Sera menelan ludah, tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.

“’Itupun’?”

“Ah, aniya.”Sera tertawa canggung dan mengibaskan tangannya. “Itu bukan hal yang penting. Hmm, kau pasti selalu tinggal di hotel bintang lima dan keluar dengan mobil mewahmu. Berkunjung ke satu tempat mewah ke tempat mewah lainnya. Kadang ayah diminta menyanyi di tempat-tempat bagus seperti restoran dan cafe-cafe bintang 5. Tapi tidak sering, dan aku jarang sekali ikut. Aku lebih banyak menghabiskan waktu di sekolah, di rumah dan di ‘tempat itu’. Jadi dimana kira-kira kita pernah bertemu ya? Kita punya dunia yang berbeda.”

“Jika kita benar-benar pernah bertemu, mungkinkah aku memberimu sesuatu atau aku menerima sesuatu darimu? Kakek itu bilang kita terhubung oleh sebuah benda.”

“Hmmm… entahlah. Karena sering berpindah tempat tinggal, tentu aku sering bertemu dengan orang baru, dan banyak menerima barang-barang baru juga. Tapi mana mungkin aku bisa mengingat itu semua kan?”

“Ckckck… memori otakmu pasti benar-benar buruk, eh? Bagaimana bisa kau lupa setelah bertemu denganku? Kau kan tidak setiap hari bertemu dengan pria tampan dan berkelas sepertiku. Dan jika aku memberimu sesuatu, itu pasti benda yang mahal. Bagaimana bisa kau melupakannya?”

“Yak! Itu artinya kau tidak cukup berkesan untuk kuingat! Jika wajah tampan saja cukup untuk membuatku selalu ingat pada seseorang, aku pasti sudah hapal dengan nama dan wajah seluruh member boyband yang ada di Korea! Sepertinya kita harus mencari benda itu di seluruh rumah. Aku tidak punya banyak harta benda, jadi pasti akan cepat ketemu. Kecuali…” Wajah Sera berubah pucat.

“Kecuali apa?”

“Kecuali aku sudah membuangnya,”ujar Sera pahit. Ia mendadak merasa cemas. Karena sering berpindah-pindah, banyak benda-benda yang tidak dibawa ketika pindah atau terpaksa dibuang karena sudah tidak berguna lagi. Bagaimana jika benda itu tak bisa ia temukan? Ya Tuhan, Sera bahkan tidak tahu benda apa itu sebenarnya! Apa ia akan terus seperti ini selama-lamanya? Terikat dengan Luhan? Lalu bagaimana ia bisa menikah dengan Baekhyun nanti?!!

“Jika itu benda pemberianku, tentu itu benda yang bagus, jadi kau tidak akan mungkin semudah itu membuangnya. Benda itu pasti masih tersimpan rapi di suatu tempat,”kata Luhan yang entah kenapa tidak tega melihat wajah cemas Sera. Pemuda itu bangkit, lantas menepuk kepala Sera pelan sebelum melanjutkan. “Lagipula kata kakek aneh tadi, menghancurkan benda itu ‘hanya’ salah satu cara yang ‘mungkin’ bisa berhasil memutus benang merah ini. Jadi pasti ada cara lain yang kemungkinan berhasilnya lebih tinggi. Berpikir positiflah. Tidak mungkin kita terikat seperti ini seumur hidup. Ini terlalu kejam. Kita jelas tidak bisa hidup normal jika begini caranya. Tuhan tak mungkin setega itu pada kita, bukan?”

“Ya…” Perlahan senyum manis terbit di bibir Sera. Raut ceria gadis itu kembali pulih. “Kau benar.”

Luhan ikut tersenyum.

“Ini pertama kalinya kau bicara hal yang benar, Luhan-ssi!”Sera tertawa.

Senyum Luhan seketika memudar. Wajahnya berubah cemberut. “Apa maksudmu, eh?”Luhan hendak mengomel. Enak saja! Memangnya selama ini apa yang Luhan bicarakan jika bukan hal yang benar? Bukankah Sera yang selama ini senang bicara melantur tidak jelas?

Tapi aneh, melihat tawa Sera, melihat rona merah di pipi gadis itu dan bagaimana matanya melengkung membentuk eye smile, entah kenapa Luhan kehilangan selera untuk mengomel seperti biasa. Ada perasaan aneh merambati dadanya.

Kkaja! Sudah waktunya kita bekerja, Luhan-ssi!”seru Sera. Ia tertawa kecil ketika melihat Luhan yang langsung memasang tampang lemas ketika mendengar kata ‘bekerja’ keluar dari bibirnya. Ia membalik tubuh Luhan, dan mendorong punggung laki-laki itu. “Jangan ogah-ogahan seperti itu, Lu!”

Luhan memutar bola matanya. Ia benci bekerja di perpustakaan!

Tapi seperti biasa, Luhan tak pernah tidak menolak keinginan Sera. Entah apa yang sebenarnya terjadi pada diri Luhan, ia sendiri juga tidak mengerti kenapa ia selalu saja semudah itu mengiyakan semua permintaan Sera. Mungkin efek benang merah ini, batin Luhan.

Baru beberapa langkah Luhan berjalan, pemuda itu tiba-tiba berbalik dan membuat Sera menabrak tubuh tingginya.

“Aduh!”seru Sera. Bibir gadis itu terbuka hendak protes, tapi Luhan langsung mendorong tubuhnya ke belakang. Membawanya ke sudut di bawah tangga. “Yak, Luhan-ssi!”

“Ada pacarmu di luar sana…”jelas Luhan.

“Ne?”

“Kau tak mau terlihat keluar dari sini bersamaku, bukan?”

“Kau bisa mengikutiku dari belakang. Jadi tidak apa-apa, kita tidak harus sembunyi seperti ini.”

“Kenapa aku harus selalu mengikutimu?”tanya Luhan. Kali ini, ada dorongan dalam diri Luhan untuk menolak permintaan Sera. Ia ingin sembunyi disini, tidak bisakah Sera menurutinya?

Sera menatap Luhan yang berdiri di hadapannya. Berusaha menebak apa mau pemuda itu sekarang. “Baiklah,”putus Sera. “Kita sembunyi saja dulu.”

Sera menyerah tanpa perlawanan? Luhan pikir gadis itu akan melayangkan protesnya seperti biasa. Tapi, gadis itu hanya diam. Bahkan kepalanya kini tertunduk.

Waeyo?”tanya Luhan pelan. Bersamaan dengan itu, suara-suara langkah kaki semakin terdengar jelas.

“Apa kau tidak lihat mataku sudah seperti panda begini? Kerjakan pekerjaanmu dengan benar, Chanyeol-a. Jebal…”

Itu suara Baekhyun.

Sera memasang telinganya dengan seksama. Menyimak setiap kata dan meresapi suara Baekhyun yang tertangkap oleh indera pendengarannya. Sejenak ia bahkan melupakan keberadaan Luhan di depannya. Sera begitu rindu, ia rindu menghabiskan waktu-waktunya bersama pemuda yang ia cintai itu.

“Setiap kali aku melihat Baekhyun…”Sera menghela napas, suara Baekhyun sudah tak terjangkau lagi. “…aku terus merasa bersalah padanya karena benang ini. Kenapa? Kenapa benang ini tidak mengikatku dengannya? Kenapa benang merah ini harus terikat padamu?”

Kepala Sera mendongak, dan Luhan sontak terkejut melihat genangan kristal bening di mata gadis itu. “Memangnya kenapa denganku?”tanya Luhan. Ada nada kecewa dan perasaan tersinggung saat mengucapkannya.

“Aku tahu kau bukan orang yang jahat, dan aku bersyukur karenanya,”jawab Sera. “Tapi, aku tidak bisa bersamamu.”

Wae?”kejar Luhan. Ia merasa butuh penjelasan sejelas-jelasnya dari Sera. Apa yang membuat Baekhyun lebih hebat dari Luhan hingga Sera merasa Luhan tak pantas untuk bersamanya? Tidak, Luhan tidak cemburu. Tidak.

Ini bukanlah perasaan cemburu, bukan?

“Baekhyun punya banyak alasan kenapa aku harus terus bersamanya, dan aku tidak punya alasan untuk hidup tanpa dirinya. Aku juga tidak punya alasan untuk bersamamu, Luhan-ssi.”

“Bahkan meski pada akhirnya kau jatuh cinta padaku?”

“Ne.”Sera menjawab tegas, tanpa keraguan. “Itu hanya satu alasan, belum cukup untuk menyamai seluruh alasanku untuk bersama Baekhyun. Lagipula, aku tidak akan jatuh cinta padamu.”

“Bagaimana kau bisa tahu?”

“Karena seluruh cintaku sudah kuberikan pada Baekhyun, tak ada yang tersisa lagi saat ini.”

“Apa cinta semacam barang?”Luhan tersenyum mengejek.

“Aku setia pada Baekhyun dan aku tidak akan mengkhianatinya. Meski kau jatuh cinta padaku, aku tak akan bisa membalasnya.”

“Aku jatuh cinta pada gadis sepertimu? Jangan bercanda! Aku punya kriteria gadis yang tinggi, ara?”

“Baguslah, dengan begitu aku tidak perlu bersusah payah menjaga perasaanmu,”tukas Sera. Ia bergeser, hendak menyingkir dari hadapan Luhan. Ia rasa cukup sudah pembicaraan tentang hal ini. Semakin lama, semakin berat apa yang mereka bahas, dan Sera tak tahan lagi.

“Bagaimana kau bisa sekejam ini, Cheon Sera?”Luhan menangkap lengan Sera, dan menahan gadis itu di dinding. Pemuda itu menghapus sedikit jarak di antara mereka. Menempatkan tubuhnya tepat di hadapan Sera dan wajahnya kini menunduk ke arah wajah gadis yang hanya setinggi dagunya itu. “Kau gadis yang hebat. Tidak pernah nampak menginginkanku sedikitpun. Bagaimana bisa kau mempunyai hati sekeras ini, hm?”

“Banyak yang terjadi dalam hidupku Luhan, dan itu membangun mentalku. Aku harus hidup dengan lurus dan tak tergoda pada hal-hal menarik yang nantinya hanya akan menyulitkan diriku. Aku sudah muak hidup menderita.”

“Wah, itu jelas bukan hal yang mudah. Ada ratusan gadis yang takluk padaku, kau yakin tidak akan menjadi salah satu diantaranya?”

“Ne.”

“Aku penasaran…”Luhan semakin mendekatkan wajahnya, matanya lurus menatap manik mata gadis itu dengan tatapannya yang menggoda. “Apa kau akan tetap sekeras kepala ini ketika kau merasakanku…”

“Coba saja!” Tanpa Luhan duga, Sera justru balik menantangnya. Gadis itu terus mencoba untuk tetap tenang, dingin, kukuh menatap mata Luhan dengan sorot mata tajamnya. Tapi Luhan tahu, Sera hanya pura-pura kuat. Tangan gadis itu sudah sedari tadi sibuk meremas sisi celananya. Pasti untuk melampiaskan rasa gugupnya saat ini. Luhan tersenyum. Pemuda itu tahu dirinya tampan. Ketampanan yang ia miliki selalu berhasil memikat semua gadis yang ia inginkan. Dalam jarak sedekat ini, tak mungkin ada gadis yang bisa tahan dengan godaannya. Termasuk Cheon Sera.

Tapi Sera juga tak main-main dengan ucapannya. Melihat senyum Luhan yang meremehkannya, membuat keberaniannya terpantik. Ia memejamkan mata dengan tenang ketika Luhan mulai memiringkan wajahnya untuk menjangkau bibir Sera.

Luhan merasa dirinya telah menang ketika melihat Sera diam pasrah. Saat bibirnya telah berada tepat di depan bibir Sera, pemuda itu sengaja berhenti untuk menggoda Sera. Membiarkan gadis itu semakin larut dalam debar penantiannya. Mata pemuda itu menyapu seluruh wajah Sera yang ada begitu dekat di depannya. Kelopak mata Sera menutup, menampakkan bulu mata Sera yang begitu panjang dan lentik. Hidung gadis itu mungil. Kulit pipinya putih bersih tak tertutup make up. Bibirnya yang merah mengatup sempurna.

Sejak kapan Sera berubah menjadi secantik ini, eh?

Deg.

Degup jantung Luhan tiba-tiba meningkat. Hembusan napas Sera yang menyapu wajahnya entah bagaimana sukses membuat wajah Luhan mendidih. Luhan menelan ludah, jengah dengan perasaan aneh yang tiba-tiba melandanya. Ia berniat untuk segera mencium Sera, membuat gadis itu kapok karena berani menantangnya. Tapi sedetik kemudian niat itu ia urungkan. Ada perasaan tak tega, dan perasaan lain yang tak mampu Luhan definisikan.

“Gadis bodoh!”Luhan mengucek kepala Sera hingga rambut Sera berantakan.

“Aw!!”Sera memekik terkejut. Ia membuka mata, dan mendapati Luhan kini memunggungi dirinya.

“Kau itu bukan gadis yang selevel denganku, jadi jangan membuat dirimu semakin nampak murahan dengan bersikap seperti itu!”ujar pria itu kasar, sambil terus memunggungi Sera. Ekspresi wajahnya pasti nampak kacau, dan Luhan tidak mau Sera melihatnya. “Jika aku Baekhyun, aku pasti akan membunuhmu jika kau berani berciuman dengan pria lain, ara?!”

Luhan segera melangkah menjauh meninggalkan Sera yang tertegun di tempatnya. Membuat jarak sejauh yang benang merah di tangannya itu mampu berikan.

In the clearing sky, the fluffy cumulus clouds quietly multiplied in the blink of an eye. Why did I feel uneasy? Even now, in the place I am and in the future – Atsuko Maeda, Mikigata.

Aneh! Setelah kejadian tadi sore, bukankah sebagai wanita Sera lah yang seharusnya malu dan menghindari Luhan? Tapi kenapa yang terjadi justru sebaliknya?

“Serius sekali! Sedang baca apa sih?”

Luhan menjengit terkejut mendengar suara Sera yang muncul tiba-tiba di dekat telinganya. Dan saat ia menoleh ke samping, Luhan semakin terkejut karena melihat wajah Sera begitu dekat dengan wajahnya. Luhan panik—kenapa ia harus merasa panik?—dan tanpa sadar memundurkan tubuhnya hingga pantatnya berada di pinggiran kursi. Keseimbangannya goyah, dan sedetik kemudian…

Gubrak!

Luhan jatuh terjengkang di lantai.

Sera ternganga. “Mwohaeyooo?

“Jangan muncul tiba-tiba seperti itu! Apa kau ini hantu?”omel Luhan. Ia menepis tangan Sera saat gadis itu mencoba membantunya berdiri. Untung Luhan berada di meja baca di sudut perpustakaan yang paling sepi. Tidak ada mahasiswa lain yang berada di sekitarnya. Jika ada yang melihatnya jatuh dengan posisi menggelikan seperti itu, betapa malunya dia!!

Gwaenchanayo?”tanya Sera, cemas. Ia mengecek siku kiri Luhan yang tadi sempat membentur sisi meja. Tanpa sadar tangannya menyentuh tangan sebelah kanan Luhan. Sentuhan biasa, tanpa maksud apapun. Tapi Luhan langsung menarik tangannya, seolah tangan Sera mengandung ion listrik yang bisa menghentikan jantungnya dalam sedetik.

“Jangan menyentuhku!”

Mwo?”Sera mengeryit. Apa lagi ini?

Bukannya menurut ketika di larang, Sera justru berusaha kembali menyentuh tangan kanan Luhan. Luhan menghindar. Sera berdecak sebal, lalu gadis itu mencoba menyentuh tangan yang sebelah kiri. Tak mau mengalah.

“Yak!! Cheon Sera~”seru Luhan kesal.

“Kau menyentuhku seenaknya tadi, dan sekarang kau bilang aku tidak boleh menyentuhmu?”Sera berusaha menangkap kedua lengan Luhan, tapi pemuda itu keburu meloncat ke samping. “Dasar pelit!!”

“Yak!!” Luhan kembali berseru kesal, ketika gadis itu terus saja berusaha menangkap lengannya. Aish!! Memangnya mereka anak-anak!

“Luhan-ssi, kau mau makan apa malam ini?”tanya Sera saat mereka dalam perjalanan pulang.

“Terserah!”

Sera cemberut. “Jangan terserah!”protesnya sambil memosisikan dirinya di depan Luhan dan berjalan mundur ke belakang untuk mengimbangi langkah lelaki itu. “Aku malas mendengar omelanmu setiap kali aku memilihkan makanan untukmu. Kali ini aku punya uang cukup jadi katakan apa yang kau mau asal jangan terlalu mahal!”

Luhan mendengus. “Sudahlah!”serunya terdengar kesal sembari melangkah lebih cepat untuk mendahului Sera. “Aku tidak akan protes kali ini!”

“Memangnya aku bakal percaya?”Sera berbalik dan berusaha mengejar Luhan yang ada di depannya. “Kau selalu berkata begitu dan akhirnya aku tetap kau omeli.”

Luhan menghela napas panjang dan semakin mempercepat langkahnya, berharap Sera tak menjajari langkahnya lagi. Hei!! Bukankah Sera yang diawal selalu mewanti-wanti untuk jaga jarak dengannya? Tapi kenapa sekarang gadis itu yang malah mendekatinya seperti ini?!

“Kenapa jalanmu cepat sekali?”

“Aku tidak mau berjalan di sampingmu?”

Mwo? Waeyooo?”tanya Sera tak terima.

“Perasaanku tidak enak setiap kali kau di dekatku!”

“Yak!! Memangnya aku hantu!”

Saat di bus…

“Besok hari minggu kan? Ayo kita jalan-jalan!”ajak Sera sambil menoleh pada Luhan yang duduk di sampingnya. Luhan yang semula tak sedikitpun mengalihkan tatapannya pada jalanan di depannya, kali ini menoleh pada Sera.

“Ya?”tanya Sera lagi, meminta persetujuan. Ia menampakkan raut muka memohon, dengan kedipan mata beberapa kali layaknya anak kecil yang minta dibelikan mainan pada neneknya. Wajah gadis itu begitu…

Plok. Luhan tiba-tiba menutupkan telapak tangannya yang lebar ke wajah Sera.

“Aw!”pekik Sera. Bukan karena sakit, tapi lebih karena terkejut.

Arasseo...”jawab Luhan sambil membuang mukanya ke arah lain. Lagi-lagi, berusaha menyembunyikan wajahnya yang terasa panas dan pasti berefek pada bertambahnya kadar rona merah di pipi.

Entah kenapa Luhan tak sanggup melihat wajah apalagi mata indah seorang Cheon Sera.

“Sial!! Sebenarnya, ada apa dengan diriku!!!”rutuk Luhan dalam hati. ^^

“Menurut informasi dari otoritas bandara, tidak ada nama Tuan Muda Luhan di laporan perjalanan mereka, entah itu untuk penerbangan domestik maupun internasional. Bahkan saya sudah mengecek dengan 2 nama yang ada di paspor palsu milik tuan muda, tapi tetap tidak ada catatan yang menyebutkan bahwa tuan muda keluar dari China bahkan Beijing. Ada kemungkinan tuan muda Luhan melakukan perjalanan darat, jadi saya dan staf saya masih terus mencari. Tapi dapat dipastikan bahwa tuan muda Luhan tidak meninggalkan negeri ini karena pihak kedutaan tidak ada yang mengeluarkan visa kunjungan atas nama tuan muda Luhan atau 2 nama palsu di paspor.”Pemuda berbadan tegap dengan setelan jas hitam yang rapi itu menghela napas sejenak. Ia mengedarkan tatapannya ke pada 4 orang lain yang sedang mendengarkannya bicara. “Selain itu, tidak ada catatan penarikan uang tunai, tidak ada tanda-tanda tuan muda menghubungi siapapun. Tuan muda Luhan seolah menghilang tanpa jejak.”

Ruang kerja mewah bergaya Eropa klasik itu nampak lengang. Ada 5 orang disana, tapi tak ada satupun yang bicara. Mereka tenggelam dalam pikirannya masing-masing.

“Bagaimana ini paman?”tanya seorang gadis berkebangsaan Korea pada seorang lelaki paruh baya yang duduk di kursi sofa terbaik yang diletakkan di tengah. Memecah keheningan di ruangan milik direktur utama sekaligus owner Tian-C grup itu. Gadis berparas cantik itu nampak kalut. Bagaimana tidak kalut? Acara pertunangannya yang akan digelar besok terancam gagal dan ia akan sangat malu jika hal itu terjadi. Undangan telah disebar. Semua teman-temannya di Korea sudah setuju untuk datang ke Beijing besok untuk menghadiri acaranya. Tapi, ia kini memperoleh kabar bahwa sang calon tunangannya telah menghilang tanpa kabar. Tak ada tanda-tanda keberadaan lelaki bermarga Xiao itu dimanapun.

Di sebelah kiri gadis itu, duduk lelaki paruh baya lain yang begitu tenang dan khidmat menyesap green tea-nya. “Apa kita sudah keterlaluan, Guangyi-ssi? Karena memaksa seorang anak muda menikah dengan seseorang yang tidak dicintainya.”

“Selama ini Luhan tidak pernah protes,”jawab Xiao Guangyi—ayah Luhan, tenang. “Dan nampaknya ia menyukai anakmu, Kim Soojun-ssi.”

“Apa yang nampak di luar belum pasti sama dengan yang di dalam, bukan? Kita orang tua selalu sok tahu tentang apa yang anak kita rasakan.”Kim Soojun—pemilik dari Sangjung Group itu meletakkan cangkir tehnya dengan gerakan yang elegan. “Kita tunda dulu saja acara pertunangan ini.”

Xiao Guangyi—ayah Luhan mengangguk-angguk pelan. Di kursi sebelah kanan Guangyi, Xiao Yumin berusaha sekuat tenaga untuk tidak menunjukkan wajah kecewanya. Jika Baba menyakini bahwa Luhan pergi salah satunya karena enggan dengan acara pertunangan ini, kenapa Baba tidak membatalkannya saja agar Luhan cepat kembali? Kenapa hanya menundanya? Apa Baba sebegitunya tak rela jika kesempatannya berbesan dengan konglomerat asal Seoul itu gagal, meski anaknya sampai sekarang belum juga ditemukan?

Baba, aku khawatir hal yang buruk sedang menimpa Luhan sekarang. Tidak biasanya Luhan pergi tanpa membawa mobilnya dan uang sepeserpun. Apa tidak lebih baik kita hubungi polisi untuk meminta bantuan mencarinya?”

“Bawahan Seunghyun bekerja lebih baik daripada ratusan polisi, percayakan saja hal ini padanya,”jawab Xiao Guangyi dingin.

“Tapi…”

“Luhan bukan anak kecil, aku tahu dia saat ini baik-baik saja di suatu tempat. Aku justru merasa bahwa dia sedang menikmati kebebasannya saat ini, karena itu ia tidak menghubungi kita. Anak itu begitu mudah ditebak…”

Yumin mendesah kecewa. Ia melirik pada Seunghyun yang berdiri di sampingnya. “Pergilah, Seunghyun. Terima kasih atas laporanmu.”

“Baik, Tuan Muda.”Seunghyun membungkuk hormat pada Yumin, Guangyi, Soojun dan Soojung sebelum pamit undur diri. Matanya sejenak bertemu dengan mata Soojung yang sejak tadi tak henti menatapnya.

“Suruh orangmu mengawasi Seunghyun!”ujar Xiao Guangyi tiba-tiba sambil menyesap tehnya. Matanya tertuju pada Yumin, tanda bahwa ia memberikan perintah itu pada anak sulungnya itu.

“Eh?”

“Jika Luhan menghubungi seseorang diantara kita, itu pastilah Seunghyun. Bodyguard itu tak setia padaku, dia setia pada Luhan. Jadi tidak masalah baginya jika membantu Luhan bersembunyi di suatu tempat. Karena itu aku memintamu untuk mengawasinya…”

Yumin meneguk ludahnya. Seunghyun bukan hanya bodyguard bagi Yumin, ia juga seorang teman yang baik, dan kini Baba-nya meminta Yumin untuk mengawasinya? Yang benar saja!!

Pohon-pohon menjulang tinggi. Menciptakan kanopi yang menutupi langit. Batang kayu yang menancap di tanah, berjajar rapat di kanan-kiri. Di sekitarnya, semak belukar berbunga kecil warna-warni di biarkan tumbuh subur. Menjadi tempat persembunyian aman bagi jangkrik-jangkrik yang sibuk meramaikan suasana dengan orkestranya. Satu dua kicau burung menambah ragam simfoni subuh. Di padu dengan suara gesekan lembut dedaunan yang di gerakkan oleh angin.

Sera menghirup udara yang bercampur dengan wangi bunga-bunga liar, kayu dan dedaunan itu. Senyumnya tersungging. Kini paru-parunya bisa merasakan betapa segarnya udara subuh di tengah lautan pepohonan itu.

“Aaaah, udara pegunungan memang yang terbaik!”pujinya sambil merentangkan tangan dan tersenyum senang.

“Ck, disini dingin!”keluh seseorang di belakang Sera. Siapa lagi kalau bukan Luhan.

Sera merengut. Gadis dengan sebuah tas gitar besar di punggung itu berkata penuh kekesalan pada Luhan. “Udara disini segar. Coba kau rasakan! Kau tidak akan mendapatkan udara sebersih dan sesegar ini saat di Beijing, Tuan Lu! Jadi berterima kasihlah padaku karena mengajakmu kesini. Dasar orang kota manja,”desis Sera.

“Yak! Aku mendengar kata-katamu tadi, Cheon Sera! Orang kota manja? Nugu? Aku?”

“Ne. Memangnya siapa lagi? Hanya ada kau dan aku disini!”

Luhan mendengus. Ia berhenti sejenak untuk membenarkan tali ranselnya yang melorot. Ransel itu tidak berat, hanya berisi baju ganti dan beberapa toples makanan, tapi tetap saja Luhan tidak suka membawanya. Saat ini, pukul 5 pagi, ia sedang berjuang mengikuti Sera menembus hutan di pegunungan Halla. Entah setan apa yang merasuki Sera pagi-pagi buta tadi. Tiba-tiba ia membangunkan Luhan pukul 3 pagi, memaksa pria itu untuk membantunya membuat kimbab, dan menyuruh Luhan memakai pakaian olahraga milik ayahnya beserta sepatu gunung dan jaket tebal.

Hutan itu bahkan masih gelap dan kabut masih begitu pekatnya saat Sera menarik Luhan menjauh dari tangga-tangga yang kemarin membawa mereka ke kuil dan mulai menyusuri jalan setapak kecil yang hanya cukup dilewati 1 orang. Sudah 3 kali Luhan nyaris tersungkur karena tersandung akar pohon. Ia terus merasa was-was sambil mengamati keadaan di sekitarnya. Takut bertemu ular, serigala atau mungkin malah siluman-siluman mengerikan penghuni hutan.

Tapi gadis berambut hitam panjang di depannya itu bisa-bisanya nampak begitu tenang. Berjalan santai sambil sesekali bersenandung kecil. Nampak gembira sekali berada di tengah hutan seperti ini. Oooh, Luhan sama sekali tidak bisa menebak jalan pikiran Sera! Gadis itu sangat aneh! Bisa-bisanya ia menyuruh Luhan membawa seluruh perbekalan mereka, sedangkan dia sendiri justru hanya membawa tas besar berisi gitar! Ayolah! Untuk apa membawa gitar di tengah gunung seperti ini!!

“Aku ingin menghibur para penghuni hutan…”jawab Sera sambil nyengir lebar kala Luhan menanyakan apa fungsi gitar itu sebenarnya di perjalanan mereka kali ini. Jawaban yang langsung membuat Luhan bergidik ngeri. Sera tidak berencana untuk melakukan ritual pemanggilan roh atau semacamnya kan?

Luhan tidak menyangka bahwa ‘jalan-jalan’ yang Sera maksud ternyata adalah ‘jalan-jalan’ di hutan. Mungkin karena selama ini ia terbiasa bergaul dengan gadis-gadis kelas atas yang tempat tujuan jalan-jalannya adalah seputar tempat perbelanjaan, dan wisata-wisata populer di dunia. Bukannya di gunung seperti ini. Huh, Luhan benar-benar menyesal sudah mengiyakan ajakan Sera kemarin.

“Jalan-jalan di gunung seperti ini baik untuk kesehatan, Lu,”kata Sera sembari membantu Luhan untuk mendaki bagian tanah berbatu yang agak terjal. Gadis itu sudah sering melewati areal ini, jadi tubuhnya sudah terbiasa. “Terutama bagi sistem kardiovaskular, mendaki gunung bisa menurunkan kolesterol, memperbaiki sistem pernapasan dan menyehatkan jantung. Dan untukmu, ini juga bisa mengurangi stress dan insomnia. Setiap malam kau sulit tidur kan?”

Luhan tertegun. Ia tidak menyangka Sera memperhatikannya. Luhan kira Sera selalu tidur mendahuluinya setiap malam. Luhan tidak tahu bahwa Sera kadang terjaga dan mendapati Luhan masih asyik membaca komik di bawah lampu belajarnya hingga lewat tengah malam.

“Kau selalu bangun tidur dalam keadaan lelah, jadi kau pasti tidak cukup tidur. Apa kau sebegitu stress-nya karena masalah benang ini?”

“Aku sudah seperti ini sejak dulu. Aku tidak tahu kapan pernah tidur lebih dari 2 jam tanpa minuman keras atau obat.”

Jincha?”Raut wajah Sera berubah prihatin.

“Ng.”

Geurae, mendaki gunung seperti ini pasti akan membantumu! Manusia itu harus tidur setidaknya selama 7 jam sehari, Luhan-ssi. 2 jam itu tentu tidak cukup! Kualitas hidupmu harus ditingkatkan!”

Oh, okelah. Setidaknya Sera punya niat baik untuknya. Ia memikirkan ide naik gunung ini salah satunya karena mengkhawatirkan Luhan. Dan Luhan, entah bagaimana, merasa senang dengan kenyataan itu. Walaupun masih memasang wajah cemberut, tapi kali ini langkah Luhan terasa lebih ringan saat mengikuti Sera. Hatinya juga entah kenapa tiba-tiba berubah lebih riang.

Perjalanan panjang menelusuri jalan setapak kecil, mendaki bebatuan, dan berkali-kali tersandung, berakhir setelah Luhan dan Sera melewati deretan pohon-pohon yang lebih rapat. Tak ada jalan setapak sehingga mereka benar-benar harus menerjang semak-semak. Beberapa kali baju mereka tersangkut ranting semak-semak, semua itu demi pemandangan yang mereka dapatkan kemudian.

Astaga! Luhan tak mampu menahan bibirnya untuk tidak ternganga. Setelah berhasil keluar dari kungkungan semak dan himpitan pohon, ia mendapati sebuah hamparan rumput hijau di depannya. Bunga-bunga liar warna-warni tumbuh tak beraturan dan banyak sekali. Memberi warna merah ungu jingga yang cantik di latar hijau segar. Di tengah-tengah hamparan rumput dan padang bunga liar itu, ada sebuah pohon cherry besar yang berdiri tegak. Yang lebih menakjubkannya lagi, hamparan hijau yang agak melandai itu, berakhir dengan sebuah jurang dalam yang bagian bawahnya penuh oleh rerimbunan pohon. Semakin jauh arah pandangan, maka kau akan menemukan Kota Gyorae yang nampak indah di lihat dari atas. Lalu jika mata memandang ke depan, disana sang matahari mengintip malu-malu dari balik awan. Semburat jingganya membias ke langit biru gelap.

Sunrise…”gumam Sera yang berdiri di sisi kanan Luhan.

Luhan mengangguk. Angin sejuk pagi hari memeluk tubuhnya lembut. Menggoyangkan rambut hitamnya. Luhan tak bisa mengungkapkan betapa damai perasaannya hanya karena melihat pemandangan indah ini. Ia takjub dan tiba-tiba menyebut nama Tuhan dalam rasa syukurnya.

“Dunia ini indah sekali bukan? Sayang jika manusia hanya sibuk berkubang dalam kesedihan dan aktivitas melelahkan yang tak ada habisnya. Padahal Tuhan menyiapkan surga-surga kecil seperti ini di berbagai belahan bumi…”Sera menoleh pada Luhan dan tersenyum. “Kau boleh meletakkan bebanmu sejenak untuk menikmati semua itu.”

Luhan terdiam. Tatapan matanya masih terus tertuju pada sang mentari yang perlahan menunjukkan sinarnya. Kehangatannya menelusup hingga ke jiwa. Benarkah ia bisa meletakkan bebannya sejenak?

Mata Luhan terpejam. Luxien… batinnya dalam hati. Menyebut nama saudara kembarnya itu. Di dalam benaknya kini terbayang wajah Luxien. Wajah yang selalu dihiasi senyum. Wajah yang selalu memancarkan kebahagiaan dan ketulusan. Wajah yang sangat identik dengan wajah Luhan.

Luhan, kau harus bertahan!!”

Pandangan Luhan berguncang, matanya yang terasa perih tak mampu melihat dengan jelas. Ia merasakan sebuah punggung hangat melekat di tubuh bagian depannya. Kepalanya berdenyut-denyut menyakitkan dan dadanya begitu sesak. Hawa panas menggigit kulitnya.

“K-kau sudah sadar?”

“Luxien?”

“Kita harus segera keluar dari sini…”

“Luxien… uhuk.”Luhan terbatuk. Ia mencoba bernapas, tapi dadanya seolah dipenuhi oleh batu. “Aku tidak bisa ber—napas…”

“Bertahanlah, Lu. Kumohon!”Suara Luxien semakin samar terdengar bersamaan dengan kesadaran Luhan yang semakin menurun. Kepalanya yang bersandar di bahu bagian belakang Luxien, kembali terkulai. “Luhan! Luhan! Bertahanlah!”

Suara-suara sirene, bercampur dengan seruan panik, intruksi-intruksi yang diucapkan dengan taktis dan suara jeritan histeris, menarik Luhan kembali ke dalam alam sadarnya. Ia mengerjapkan matanya perlahan, mencoba mendapatkan gambaran visual yang lebih baik. Masker oksigen telah terpasang di mulutnya. Tubuhnya yang terbaring di atas tempat tidur troli bergerak oleh dorongan tiga-empat orang petugas berseragam putih. Luhan menggerakkan kepalanya ke samping, ke arah Luxien yang berdiri agak jauh darinya. Saat itu, Luhan ingin sekali melihat ekspresi wajah Luxien. Apakah ia tersenyum seperti biasa?

Tapi, tepat ketika Luhan hendak dinaikkan ke dalam ambulans, tiba-tiba tubuh Luxien ambruk. Luhan terkejut. Matanya terbelalak. Ia berusaha mengulurkan tangan untuk membantu Luxien. Tapi dirinya tak sanggup melakukan apapun. Tangannya hanya terulur, tanpa bisa meraih Luxien.

Hari itu, Luhan kehilangan separuh dari dirinya.

Suara petikan gitar membebaskan Luhan dari kenangan pedihnya. Tanpa ia sadari matanya telah basah dan hidungnya terasa sendat. Tangannya meremas kaos yang ia pakai, tepat di atas liontin kalung yang tersembunyi di balik kaos itu.

Luhan menoleh ke belakang, dan melihat Sera telah duduk di bawah pohon cherry dengan gitar di tangan. Suara manisnya terbang ditiup angin pagi. Menyebar dan menyatu dalam suasana yang syahdu. Luhan termangu, sedetikpun tak bisa mengalihkan tatapannya dari pesona magis yang dimiliki oleh seorang Cheon Sera.

Chiisa na kata o narabete aruita
nandemonai koto de waraiai onaji yume o mitsumeteita
We walked with our shoulders in line,
Laughing about things that didn’t matter as we looked onward toward the same dream.

mimi o sumaseba ima demo kikoeru
kimi no koe orenji iro ni somaru machi no naka

If I listen carefully, I can still hear it:
Your voice, staining this city orange

Ame agari no sora no you na kokoro ga hareru you na
kimi no egao o oboeteiru omoidashite egao ni naru

Like the sky after the rain lets up… like clearing up one’s heart…
I remember your smile; it floats up in my mind and I can’t help but smile
.

kitto futari wa ano hi no mama mujaki na kodomo no mama
meguru kisetsu o kakeru keteiku sorezore no ashita o mite

Surely, just as we were that day… like innocent children,
We’ll run through the passing seasons, seeing each of our many tomorrows

–7!! (Seven Oops), Orange —

Luhan yang mengerti bahasa Jepang, tak kesulitan memahami kalimat dari lagu yang Sera nyanyikan. Lagu itu menghangatkan hatinya, seperti matahari pagi yang mulai menghangatkan tubuhnya.

Sera sendiri, begitu larut dalam permainan gitar dan lagu yang ia nyanyikan. Lagu favoritnya itu selalu mampu membuatnya tersenyum ketika menyanyikannya. Ayah-nya lah yang mengajarkannya bermain gitar dan Baekhyun-lah yang pertama kali menunjukkan tempat indah ini pada Sera. Bagi Sera, bermain gitar dan bernyanyi di tempat ini bagai sebuah persembahan atas rasa syukurnya pada kedua orang itu. Mereka lah yang menjadi cahaya di hidup Sera. Kebahagiaannya. Kedamaiannya.

Sera memejamkan matanya, menikmati suara petikan gitarnya di bagian akhir lagu. Usai getaran senar berhenti di petikan terakhir, Sera membuka matanya perlahan. Hal yang pertama ia lihat adalah benang merah yang tertimpa cahaya matahari pagi di atas rerumputan hijau yang berkilau oleh embun. Manik mata gelap itu mengikuti arah benang merah yang terhenti di kelingking Luhan. Sera menaikkan arah pandangnya, dan matanya menemukan mata jernih Luhan yang sedang menatapnya.

Senyum Luhan tersungging. Lembut sekali. Seolah sedang mengucapkan terima kasih karena lagu indah yang Sera senandungkan tadi. Sera tertegun melihatnya. Senyuman yang tak pernah Luhan tunjukkan sebelumnya itu, membuat jantungnya berdebar.

Angin berhembus kencang. Merontokkan kelopak bunga cherry dan membuat kelopak pink itu berayun-ayun di udara. Menghujani Sera dan Luhan dengan keindahannya.

Luhan lah yang pertama memutus tautan tatapan Sera dan dirinya. “Jangan merusak suasana pagi ini dengan suara cemprengmu, Cheonse!”ujarnya berusaha terdengar ketus, meski tak sepenuhnya berhasil. Luhan terlalu malu untuk mengakui bahwa ia menyukai sosok Sera yang sedang memainkan gitar dan suara manis gadis itu.

“Cih, sudah kuduga kau pasti akan mengejek suaraku…”gumam Sera, cemberut. Tapi, seperti biasa, semakin Luhan melarang atau mengejeknya, Sera justru semakin gencar melakukannya. Jari-jari gadis itu sudah kembali lincah memetik gitar peninggalan ayahnya itu.

Tak mau kembali ketahuan terpesona pada seorang Cheon Sera, Luhan membalikkan tubuhnya kembali ke arah matahari yang kini telah sempurna bertahta di langit pagi. Awan-awan besar telah menyingkir, membiarkan sang surya memancarkan cahayanya. Luhan memilih menatap ke kejauhan, ke arah Kota Gyorae yang indah di musim semi. Kedua tangan pemuda itu bersarang nyaman di kantong celananya. Tanpa bicara apa-apa, diam-diam menikmati suara Sera dan gitarnya.

Nal annaehaejwo
Guide me

Yeah geudaega salgo inneun gose nado hamkke deryeogajwo
yeah take me together with you to the place where you live

Oh, sesangui kkeuchirado dwittaragal teni
Budi nae siyaeseo beoseonaji marajwo achimi wado sarajiji marajwo oh

Oh even if the world ends, I’ll follow from behind you so please don’t go out of my sight. Even when the morning comes, don’t disappear oh

Kkumeul kkuneun georeum geudaen namanui areumdaun nabi
This walk that I’m dreaming
You’re my only beautiful butterfly

–EXO – Don’t Go—

Jika Luhan pikir acara menyanyi Sera dan sarapan di padang rumput menjadi ujung dari petualangan mereka hari ini, maka Luhan salah!

“Setelah sarapan, tentu saja mandi pagi!”

Begitulah seruan riang Sera saat mereka baru saja selesai makan. Membuat Luhan yang sedang memasukkan toples makan ke dalam tas langsung membeku di tempat.

Mereka sedang berada di hutan yang ada di gunung, jadi mandi pagi seperti apa yang Sera maksud? Di pedalaman seperti ini, tentu saja tidak ada orang yang mau repot-repot membuat kaman mandi umum bukan? Apalagi melihat sikap ceria Sera ketika kembali memimpin perjalanan memasuki hutan, gadis itu pasti menyimpan sesuatu yang lebih mencengangkan dari sekedar toilet di tengah hutan.

Sesuatu yang seperti ini…

Sekali lagi Luhan harus merelakan bibirnya tumpah ketika melihat apa yang tersaji di depannya. Bukan, ini bukan padang rumput indah lainnya, tapi sebuah air terjun!

Mwohae? Kenapa berdiri saja disitu?”Sera tersenyum geli melihat ekspresi Luhan. Gadis itu sudah melepas tas gitar yang ia bawa, menaruhnya di bawah pohon yang ada dekat dengan bibir sungai. Lantas ia membuka sepatu dan mulai memanjat bebatuan sebesar mobil yang ada di sekitar sungai. Dari tebing setinggi kurang lebih 10 meter, air dimuntahkan ke bawah. Bulir-bulir airnya berterbangan dibawa angin yang muncul dari derasnya hempasan air. Air terjun itu begitu sepi. Hanya ada suara air, kicauan burung dan gesekan daun yang dihembus angin. Mungkin karena lokasinya yang berada di pedalaman gunung, hanya warga desa asli yang tahu tentang tempat ini.

“Ooh… yang benar saja!”keluh Luhan saat melihat Sera yang sudah bersiap-siap menceburkan dirinya ke dalam air. Pemuda itu mencopot sepatunya dengan ogah-ogahan dan meninggalkan ransel yang ia bawa di dekat tas gitar Sera. “Aish, dingin!”Bibirnya mendesis ketika telapak kakinya menyentuh permukaan bebatuan lembab yang banyak tersebar di sekitar air terjun.

Byur!!

Sera menceburkan dirinya ke kolam air besar di bawah air terjun. Asyik berenang di dalam jernihnya air sungai itu. Sedangkan Luhan, pemuda itu lebih memilih duduk mencakung di atas batu. Tak berminat ikut berenang. Sesekali ia tersenyum melihat tingkah laku Sera yang mirip anak kecil yang tak pernah bertemu dengan air. Kini gadis berambut hitam panjang dan berparas manis itu sedang berteriak-teriak tidak jelas di bawah air terjun. Merasakan sensasi luar biasa saat butiran air yang deras jatuh menimpa tubuh dari ketinggian.

Tentu ini bukan kali pertama Luhan melihat air terjun. Ia bahkan pernah beberapa kali mengunjungi air terjun terbesar di dunia yaitu air terjun Niagara. Tapi baru pertama kali ini ia merasa begitu damai ketika mendengar suara deburan air bercampur dengan tawa Sera. Baru pertama kali ini ia merasa bahagia hanya dengan melihat jernihnya air berlatar belakang hutan dan wajah riang Sera saat berenang di dalamnya.

Hei, Luhan, apa sebenarnya yang membuatmu damai dan bahagia? Keindahan air terjun di dalam hutan ini ataukah Cheon Sera? Pemandangan sunrise di padang rumput indah itu ataukah Cheon Sera?

Pertanyaan itu tiba-tiba terlintas begitu saja di pikiran Luhan dan berhasil membuatnya termangu. Ia juga baru menyadari bahwa sejak tadi matanya tak lepas mengikuti pergerakan Sera. Kenapa? Ada apa dengan dirinya?

“Ah, sial!”desis Luhan sambil menutup wajahnya dengan tangan. Sepertinya ia mulai aneh. Benang merah ini pasti berefek buruk pada otaknya. Hingga membuat Luhan yang berkelas dan bercita rasa tinggi itu, mulai memikirkan hal tak penting seperti Cheon Sera. Apa istimewanya gadis itu? Ia hanya seorang gadis yang—mungkin—adalah jodohnya dan membuatnya mengalami nasib buruk terikat oleh benang merah aneh ini. Lalu kenapa? Apa hanya karena itu Cheon Sera lantas layak mendapat perhatiannya? Tidak, bukan? Bahkan gadis sekelas Jessica Jung—mantan member SNSD itu—dulu pernah mendekatinya dan Luhan dengan tega menolaknya mentah-mentah. Luhan tak berminat pada yang namanya ‘jodoh’, ‘cinta’, ‘belahan jiwa’ dan sejenisnya. Karena nanti toh ia akan menikah dengan gadis pilihan keluarganya. Gadis dari keluarga kaya raya seperti Kim Soojung tunangannya.

Oh, iya, ngomong-ngomong Kim Soojung, apa yang terjadi padanya ya? Hari ini seharusnya Luhan akan bertunangan dengan putri dari pemilik Sangjung Group itu. Tapi karena Luhan—secara ajaib—menghilang dari rumah, pasti acara pertunangan itu batal. Aaah, gawat, Seunghyun pasti akan dimarahi habis-habisan oleh Baba-nya karena tak berhasil menemukan Luhan.

“Luhan-ssi!!”

Suara panggilan dari Sera itu membuat Luhan menegakkan wajahnya ke depan. Sedetik kemudian, air sungai yang dingin tiba-tiba saja sudah tersiram ke mukanya. Membuat Luhan terkejut setengah mati dan reflek mengumpat dalam bahasa China.

Sera yang telah dengan sengaja menyiprati Luhan dengan air, tertawa terbahak melihat wajah pias Luhan.

“YAK!!”bentak Luhan kesal. Tapi bukannya berhenti, Sera malah semakin gencar menciprati Luhan dengan air. Semakin Luhan berseru marah, semakin kencang tawa Sera. Semua usaha Luhan untuk menghindar, sia-sia. Sebagian besar bajunya telah basah. “Kau ini benar-benar…”desis Luhan kesal sambil melepas jaketnya.

“Benar-benar apa?”tantang Sera. Mata gadis itu bercahaya oleh semangat melihat Luhan bersiap untuk terjun ke dalam air dan membalasnya. Ini memang tujuannya. Bukankah tidak seru jika sudah sampai di air terjun tapi tidak berenang? Sera jengah melihat Luhan hanya duduk-duduk saja di atas batu. Sebab itu ia sengaja menyiram Luhan agar pemuda itu basah dan marah padanya. Seperti yang ia duga, Luhan tipe pendendam. Pemuda itu tidak akan membiarkan Sera bebas setelah mengerjainya seperti itu.

“Mau kemana kau, Cheon Sera?”Luhan menggeram dan berjalan menembus air sebatas pinggangnya. Jika Sera berniat bermain-main dengannya maka Luhan akan meladeni gadis itu. Sera masih tertawa-tawa sambil berjalan menjauh. Air di kolam itu hampir mencapai dadanya, jadi Sera tak bisa bergerak sebebas Luhan. Tiap kali Luhan nyaris menangkapnya, gadis itu akan mengelak sambil mencipratkan air dengan tangannya. Membuat Luhan makin basah kuyup.

“Yak! Cheonse!”Luhan balas menciprati Sera.

“Kyaaa!! Awas kau Luhan!!”

Splash. Splash. Splash.

Mereka saling balas menciprati air, berseru-seru, tertawa-tawa, dan sama-sama basah kuyup. Menyenangkan sekali.

“Dingiiiin, babo!!”Luhan mengabaikan cipratan Sera dan merangsek ke depan. Sera memekik, tapi ia terlambat menghindar dan akhirnya berhasil tertangkap oleh Luhan. Pemuda China itu memeluk pinggang Sera ketat, lalu menarik Sera agar bersama-sama jatuh ke dalam air. Sera megap-megap, tak sempat mengambil napas sebelum tercebur ke air.

“YAK!!!”teriak Sera kesal, setelah berhasil muncul ke permukaan dan menghirup udara. Duh, hidungnya sakit karena kemasukan air.

“Hahaha…” Melihat Sera yang tersengal-sengal, justru membuat Luhan tertawa. Mata pemuda itu menyipit ketika tertawa, di bagian ujung kedua matanya berkerut membentuk keriput. Tulang pipinya naik dan suara tawa Luhan ternyata begitu merdu. Manis seperti permen kapas. Membuat siapapun tertular ketika mendengarnya. Termasuk Sera.

Gadis itu tersenyum senang melihat tawa Luhan. “Akhirnya aku bisa melihatmu tertawa,”ujar Sera sambil mendekat ke arah Luhan. Ya, ini pertama kalinya Sera melihat Luhan menampakkan tawanya. Bukan tawa mengejek atau tawa sinis seperti yang biasa pemuda China itu tunjukkan, tapi tawa yang sesungguhnya.

“Ternyata kau manis sekali ketika tertawa seperti ini…”lanjut gadis itu sambil menepuk kepala Luhan pelan, bermaksud untuk mencandai pria itu dengan memperlakukannya seperti anak kecil. Tapi sentuhan kecil itu ternyata mampu menghantarkan sengatan listrik aneh ke jantung Luhan. Senyum pemuda itu memudar. Manik matanya terpaku pada Sera yang nampak amat sangat cantik dengan senyum di wajahnya itu. Rambut gadis itu basah, wajahnya yang juga basah nampak semakin bercahaya karena tertimpa sinar matahari.

Luhan ingin menyentuhnya.

“Luhan?”Sera mengeryit bingung ketika tangan Luhan menyentuh pipi kanannya. Ada yang berbeda dari cara Luhan menatapnya, dan itu membuat Sera tak mampu berpikir untuk sekedar menyingkirkan tangan pemuda itu dari kulit wajahnya.

“Jangan…”Sorot mata Luhan nampak begitu menderita. “Jika kau tidak bisa membalas cintaku, maka tolong jangan membuatku jatuh cinta padamu, Cheonse.”

Mata Sera membulat. Sera tak tahu harus bagaimana ketika Luhan menarik pinggangnya mendekat dan melekatkan bibirnya yang terasa dingin pada bibir Sera. Gadis itu hanya terkesiap dan meremas kaos pada bagian dada Luhan. Kemampuan melawannya sepertinya telah jatuh ke titik nol. Bahkan ketika Luhan tanpa segan melumat bibirnya, Sera hanya bisa pasrah memejamkan matanya. Ia terlena oleh kelembutan gerakan bibir Luhan, euforia debaran jantungnya, betapa kuat lengan Luhan melingkari pinggangnya dan betapa hangatnya tubuh Luhan ketika melekat pada tubuhnya meski kini mereka kedinginan dan basah kuyup.

Benang merah yang menghubungkan mereka berkilau.

Semua sensasi itu melumpuhkan semua syaraf di otak Sera. Luhan sendiri seolah telah terbang karena sensasi memabukkan yang ia rasakan. Bibir Sera terasa penuh dan manis ketika ia kecup. Jika saja Luhan rela membiarkan nafsu menguasainya, pemuda itu yakin ia akan mudah membujuk Sera untuk membuka mulutnya dan membiarkan Luhan menjelajahi bibir gadis itu lebih dalam dengan lidahnya. Membuat ciuman lembut itu berubah panas.

Tapi Luhan menahan itu semua. Pemuda itu menjauhkan kepalanya tepat ketika Sera merasa nyaris kehabisan napas karena kuncian bibir Luhan di bibirnya. Matanya begitu lembut menatap wajah pias Sera yang memerah. Luhan tak bisa menahan dirinya untuk tidak mencium pipi kanan Sera yang merona.

Ciuman di pipi itu begitu lembut dan penuh perasaan, tapi bagai sengatan petir bagi Sera. Gadis itu mendorong Luhan menjauh dengan kedua tangannya. Sorot terluka memancar dari mata Sera. Luhan menelan ludah. Bersiap menerima makian, sumpah serapah, atau apapun hal buruk yang keluar dari bibir gadis itu karena telah berani menciumnya. Sudah puluhan kali Luhan berciuman dengan seorang gadis, tapi ia tak pernah merasa segugup ini.

Tapi, tak ada kata apapun yang terucap dari bibir Sera. Gadis itu justru memilih segera berbalik meninggalkan Luhan. Berjalan menuju ke tepi. Mau tak mau Luhan bergegas mengikutinya.

“Cheon Sera!”

Sera mengabaikan panggilan Luhan. Ia mengambil tas gitarnya dan segera memanggulnya di bahu.

“Cheonse, tunggu!”Luhan meraih lengan Sera. “Aku minta maaf…”

Tapi Sera masih terus membisu. Ia menarik lengannya agar lepas dari genggaman Luhan, lalu mulai berjalan menyusuri jalan setapak.

Luhan mendesah kecewa. Ia mengambil ranselnya dan segera berlari menyusul Sera. Benang merah di kelingking mereka tak akan membiarkan mereka berjarak lebih dari panjang benang itu.

“Paling tidak gantilah bajumu dulu dengan baju yang kering, Cheonse. Kau bisa sakit,”kata Luhan yang berjalan mengikuti Sera di belakangnya. Air menetes-netes dari sekujur tubuh Sera yang basah kuyup, dan Luhan benar-benar khawatir Sera akan sakit. Ia yang notabene adalah pria dan dalam kondisi yang sama basah kuyupnya dengan Sera saja merasa kedinginan apalagi gadis itu. Tubuh kurus itu mana mungkin punya banyak lemak yang bisa melindunginya dari cuaca dingin. “Cheonse!”Luhan kembali meraih tangan Sera tapi sekali lagi Sera menepisnya.

Ya Tuhan, Luhan merasa begitu bersalah. Dulu ia pernah ditampar seorang gadis karena telah kurang ajar menciumnya tanpa ijin, tapi kenapa diacuhkan oleh Sera seperti ini terasa lebih menyakitkan? Hei! Bukankah kemarin Sera bilang ia tidak akan terpengaruh hanya karena menciumnya? Sera bahkan dengan berani mempersilahkan Luhan untuk menciumnya. Lalu kenapa sekarang…

“Sera, soal yang terjadi tadi…”

“Memangnya apa yang terjadi?”Sera tiba-tiba berbalik menghadap Luhan. Membuat Luhan kaget dan mendadak mengerem langkahnya. Aah, Sera marah. Luhan tahu hal itu hanya dengan melihat sorot matanya. “Tidak ada yang terjadi bukan?”

“Aku…”

“Tidak ada apapun yang terjadi, Xiao Luhan! Jadi jangan bicara sembarangan!”

Oh, Cheon Sera berniat mengedit bagian ciuman tadi dari memori otaknya dan menyuruh Luhan tutup mulut agar tidak membahasnya lagi.

“Apa maksudmu tidak terjadi apapun? Jelas-jelas beberapa menit yang lalu kita berci—”

“Xiao Luhan-ssi!”bentak Sera, memotong ucapan Luhan.

Rahang Luhan mengeras. Dadanya terasa panas karena kesal. “Jadi kau merasa bersalah karena melakukannya denganku dan menikmatinya?”

“Luhan!!”

“Bukankah katamu kau tidak akan merasakan apapun padaku karena seluruh perasaanmu sudah kau berikan pada Baekhyun?”

Tangan Sera mengepal hingga buku-buku jarinya memutih. Ia berusaha sekuat tenaga menahan tangisnya. Sera juga tidak sepenuhnya mengerti apa yang terjadi pada dirinya. Bukankah kemarin ia bisa begitu percaya diri menghadapi Luhan? Ia tahu ciuman ini tak ada artinya karena tak ada perasaan yang dilibatkan. Tapi kenapa… kenapa sampai sekarang jantungnya masih berdetak tak terkendali? Kenapa ia begitu malu saat melihat Luhan?

“Aku membencimu!”

Hanya kalimat itu yang bisa Sera lontarkan. Sera sendiri tak tahu apakah ia sungguh-sungguh saat mengucapkannya atau tidak. Blank. Ia hanya ingin segera lenyap dari hadapan Luhan.

Tapi itu mustahil. Hal yang tidak mungkin, mengingat benang merah di kelingkingnya telah membuatnya tak terpisahkan dari pemuda Beijing itu. Yang bisa Sera lakukan hanya membuat jarak sejauh yang benang merah itu tolerir.

Fokus gadis itu hancur. Ia beberapa kali tersungkur karena kakinya tersandung akar pohon, batu, entahlah. Bajunya yang masih basah, jadi tambah kotor. Luhan yang beberapa kali mencoba menolongnya, ia tolak kasar. Sera tak mau lelaki itu melihat ekspresi wajahnya yang pasti nampak sangat kacau saat ini. Sera harus segera menata hatinya. Berkali-kali ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa ciuman tadi tak berarti apapun. Tapi berkali-kali itu pula Sera tahu bahwa itu bohong.

“Cheon Sera…”Untuk kesekian kali, Luhan memanggilnya. Oh Tuhan, Sera tak tahan meski hanya mendengar suara pemuda itu. Gambaran ketika mereka berciuman di air terjun, terus saja berputar-putar di kepala. Sera butuh pengalih perhatian.

Agashi!!”

Sera dan Luhan kompak menoleh. Kini mereka telah keluar dari hutan dan berada di pinggir sawah. Beberapa petani sedang sibuk memanen kubis dan sayur-mayur lain. Salah satu dari mereka itulah yang memanggil Sera.

“Jung-ahjussi!”Sera berlari menghampiri seorang bapak yang Luhan kenali sebagai sopir pick up yang mengantar ia dan Sera pulang beberapa hari lalu. Luhan merasakan jari kelingkingnya tertarik karena pergerakan Sera yang hampir melampaui batas panjang benang merah magis itu. Mau tak mau, ia harus segera berlari menyusul Sera jika tak mau kelingkingnya patah.

“Hari ini panen ya? Boleh aku bantu?”tawar Sera yang sukses membuat Luhan mendelik terkejut.

“Apa maks—”

“Tentu saja boleh, nak!” Paman Jung memotong protes Luhan.

Luhan ternganga. Tak bisa lagi mengelak.

Sera yang ada di sampingnya, melirik sebentar pada Luhan sebelum mengikuti Paman Jung turun ke sawah.

Kebetulan sekali!! Memanen sayur-sayuran ini akan mengalihkan perhatian Sera untuk sementara waktu dari Luhan. Sera bisa sejenak menjernihkan pikirannya. Oh, gamsahamnida, Jung-ahjussi!!

“Bersulang!!”

Luhan membenturkan mangkuk penuh arak beras miliknya dengan wajah masam. Ia menunjukkan ekspresi jijik ketika melihat paman dan bibi petani di sekitarnya dengan rakus meminum cairan putih itu. Bahkan Sera yang duduk bersila di depannya sudah hampir menghabiskan setengah isi mangkuknya. Ini adalah pertama kalinya Luhan melihat arak beras, dan ia merasa yakin sekali pria yang terbiasa meminum anggur mahal dan vodka tidak akan suka dengan arak tradisional buatan petani seperti ini.

“Kenapa anak muda? Apa di Seoul kau tidak pernah meminum arak beras?”tanya seorang paman petani yang Luhan tahu bernama Lee Chansik itu.

Luhan meringis. Ia bahkan tidak pernah meminum soju, apalagi arak beras. Setau paman-paman dan bibi-bibi petani ini Luhan adalah saudara Sera yang berasal dari Seoul. Mereka jelas-jelas mengabaikan aksen Luhan yang aneh. Itu semua demi menjaga identitas Sera dan kenyataan bahwa mereka adalah orang asing yang terpaksa tinggal satu rumah hanya karena seutas benang.

Seharian tadi Luhan dan Sera sibuk bekerja bersama para petani memanen kubis, kol, daun bawang dan sebagainya. Sambil terus menjaga jarak, mereka bekerja tanpa henti di bawah terik matahari musim semi. Hanya istirahat saat makan siang, lalu lanjut lagi hingga semua sayuran telah berpindah ke bagian bak mobil pick up. Sera terus-terusan menghindari Luhan, tidak menatap apalagi bercakap dengan pemuda it u selama bekerja. Gadis itu bahkan ikut Paman Jung mengantar sayur-sayuran itu ke kota, yang membuat Luhan mau tak mau harus ikut juga. Baru menjelang pukul 9 mereka kembali ke Bijarim. Tulang-tulang tubuh Luhan rasanya seperti hendak rontok satu per satu dari tempatnya. Yang ada dalam benak Luhan hanyalah tempat tidur yang nyaman.

Tapi bukannya langsung pulang, Luhan malah harus ikut kumpul-kumpul di salah satu rumah petani. Apalagi jika bukan karena mengikuti Sera. gadis itu dengan riangnya menerima ajakan Paman Jung untuk merayakan panen mereka sambil makan malam dan minum-minum.

Maka disini lah Luhan sekarang, di tengah-tengah para petani yang lusuh, di pelataran sebuah rumah, duduk beralaskan tikar beratapkan dedaunan pohon, ditemani makan-makanan sederhana khas pedesaan dan seember arak beras.

“Hei, ini enak! Cobalah!”paksa Bibi Lee yang duduk di samping Luhan.

Oh, ayolah, apa mereka akan memaksaku minum sampai aku mau? Tidak bisakah mereka membiarkanku saja? Batin Luhan, memelas. Pemuda itu tak sengaja mengarahkan tatapannya ke depan, ke arah Sera yang nampak asyik mengobrol dengan Jung ahjussi dan teman-temannya sembari mengunyah cumi kering. Abai sama sekali pada Luhan yang jelas-jelas duduk di depannya.

“Gadis menyebalkan!” Desisan Luhan itu tertangkap oleh telinga Sera, tapi gadis itu terus saja bersikap acuh. Luhan kini mulai merasa marah melihatnya. Baiklah, abaikan saja terus Luhan! Toh, sampai mereka menemukan benda penghubung dari masa lalu itu dan menghancurkannya, atau menemukan cara lain untuk memutus benang merah ini, mereka akan terus bersama. Luhan akan terus ada di sisi Sera. Terserah jika Sera mau mendiamkan Luhan seperti ini, Luhan memutuskan untuk tidak peduli!

Sebagai pelampiasan rasa marahnya, Luhan menenggak arak beras itu hingga tandas. Para paman dan bibi yang melihatnya langsung berseru senang dan menyemangati Luhan. Ah, ternyata arak beras rasanya lumayan juga. Tidak terlalu buruk. Jadi Luhan tidak merasa ragu lagi ketika menyodorkan mangkuk kosongnya pada Bibi Jung untuk diisi lagi, lagi dan lagi.

“Hei, sudah…”cegah Sera saat Luhan hendak meminum araknya. Ini sudah mangkuk ke 6 dan wajah Luhan sudah merah karena mabuk. Sera yang semula acuh, jadi tidak tega melihatnya. Tapi Luhan menepis tangan gadis itu, tak mau mendengar larangan Sera dan terus menenggak araknya.

“Yaaak, apa yang membuatmu bersemangat seperti ini, anak muda?”Paman Lim Siho terkekeh kecil melihat Luhan yang nampak begitu menikmati acara minumnya. Paman itu sendiri dan yang lainnya juga sudah mulai mabuk.

Luhan menghantamkan mangkuk tembaganya ke meja, tubuhnya mulai bergoyang-goyang dan matanya sudah tidak fokus lagi. Ia mendengus panjang sebelum menjawab. “Semua ini karena kau!”tunjuk Luhan pada Sera yang langsung membuat Sera membulatkan matanya terkejut. “Kenapa kau tiba-tiba datang dalam hidupku dan membuatku begini?”

“Kau ini bicara apa?”ujar Sera gusar. Takut ucapan melantur Luhan akan membuka identitas pemuda itu sebenarnya. Sera dan Luhan mengaku sebagai saudara, tidak lucu jika Luhan tiba-tiba membahas hubungan mereka disini, di hadapan paman dan bibi tetangga Sera.

“Kau pikir hanya kau yang merasa gila karena semua ini. Aku juga, aku…”Luhan menepuk dadanya keras. “Aku juga bingung dengan perasaanku sendiri. Aku membencimu, kau gadis yang menyebalkan, tapi kenapa… kenapa…”

Tes!

“Eh?”Luhan menghentikan ocehannya dan mendongak ketika sebutir air jatuh ke wajahnya. Sera yang melihat tingkah laku Luhan, ikut-ikutan melihat ke atas. Sekejap kemudian, ratusan butir air tercurah dari awan mendung yang menggantung di langit.

“Hujaaan!”pekik Bibi Jung.

Semua orang disitu terkejut karena tiba-tiba tersiram oleh air dari atas. Pesta bubar. Mereka berhamburan untuk mencari tempat berteduh.

“Masuk ke rumahku dulu, nak!”tawar Bibi Jung saat Sera dengan susah payah membantu Luhan yang teler untuk berdiri. Hujan makin menderas dan rumahnya berada jauh dari rumah Bibi Jung, karena itu Sera tak punya pilihan lain selain menyeret Luhan secepatnya ke teras rumah sederhana itu.

“Biarkan nak Luhan tidur disini. Kau juga, lebih baik menginap disini saja. Besok pagi-pagi saat nak Luhan sudah sadar kau boleh pulang,”kata Bibi Jung setelah selesai membantu Sera membawa Luhan ke salah satu kamar kosong di rumahnya. Pemuda yang sedang mabuk itu sudah tak sadarkan diri di lantai dengan punggung bersandar di lemari.

“Maaf merepotkan, ahjumma…

Aniyaaa.” Bibi Jung mengibaskan tangannya. “Ada dua kasur lipat dan selimut di atas lemari itu, kau bisa gunakan itu untuk tidur. Ahjumma mengurus ahjussi-mu dulu ya? Kebiasaannya buruk sekali jika mabuk.”

Sera tersenyum, penuh terima kasih. “Ne, ahjumma…”

Bibi Jung pergi dan menutup pintu kamar itu. Meninggalkan Sera dan Luhan yang teler. Sera menghela napas panjang ketika melihat kondisi Luhan. Kemana sikap dingin dan tak berperasaannya itu, huh? Kau tahu, Lu, ketika kau mulai menunjukkan perasaanmu, itu membuat Sera bingung.

Sekali lagi, Sera menghela napas, sebelum kemudian gadis itu menurunkan kasur-kasur dari atas lemari.

“Uuuh…”

Gerakan tangan Sera yang sedang menata kasur lipat di lantai, terhenti. Ia menoleh ke arah sumber suara.

“Kau sudah sadar?”tanya Sera tanpa beranjak dari tempatnya. Hei, ada yang aneh dengan kondisi Luhan! Dari tempatnya, Sera melihat Luhan yang terpejam dengan kening mengeryit dalam. Bibir pemuda itu juga berkali-kali menggumam tak jelas. Apa ia sedang bermimpi buruk?

“Hei, Lu…”Sera menyentuh lengan Luhan, mencoba membangunkan pemuda itu. Wajah Luhan nampak begitu menderita, ia seperti hendak menangis. “Ada apa? Bangunlah!”ujar Sera cemas.

Luhan perlahan membuka kelopak matanya yang terasa begitu berat. Saat itulah sebulir air mata lolos dari rongganya. Sera terhenyak melihatnya. Luhan menangis?

“Luxien?”gumam Luhan sambil menyentuh pipi Sera.

“Luxien?”ulang Sera. Ini pertama kalinya Sera mendengar nama itu. Siapa?

“Aaah, ternyata Sera…”gumam Luhan lagi. Matanya mengerjap beberapa kali untuk memperbaiki kualitas pandangannya yang buram karena pengaruh alkohol dan genangan air mata. Pemuda itu tertawa ganjil, khas orang yang sedang mabuk. Ia mendekatkan kepalanya ke wajah Sera dan menatap Sera lurus. “Gadis kejam…”ujarnya sambil menyeringai.

“Kau mabuk, Lu. Tidurlah, aku sudah menyiapkan kasur untukmu.”Sera hendak beranjak, tapi Luhan tiba-tiba menarik tangannya. Tenaga pemuda yang sedang mabuk itu ternyata masih cukup besar. Sera sampai terjatuh di sisi Luhan dan tubuhnya hampir menabrak tubuh pemuda itu.

“Luhan-ssi…”serunya karena terkejut.

Tanpa memberi kesempatan Sera untuk menjauh, Luhan melingkarkan lengannya di pinggang Sera, memeluk gadis itu lalu menyandarkan kepalanya di bahu kanan Sera. Tubuh Sera menegang saat merasakan napas Luhan menyapu lehernya. Sera bahkan bisa merasakan bibir dingin pemuda itu di nadinya.

“Luhan-ssi?”

“Sera…”

Jantung Sera kembali berdebar kencang ketika Luhan menyebut namanya.

Pelukan di pinggang Sera mengerat. “Sera…”

Sera terdiam, tak mampu membalas panggilan Luhan yang entah kenapa terdengar begitu sedih.

Wo gen ni yiqi hen shufu.”

“Eh?”

Tangan Luhan terkulai. Pemuda itu jatuh tertidur di bahu kanan Sera. Membiarkan Sera tercenung sendirian karena kata-kata dari Luhan yang tak Sera mengerti. ‘Wo gen ni yiqi hen shufu.’. Apa artinya?

Suara derai hujan semakin terdengar jelas, menandakan hujan yang semakin lebat.

Sera masih duduk dengan posisi kaku. Matanya terus menatap bagian belakang kepala Luhan yang berada di bahunya. Ada perasaan ganjil yang merambati dadanya saat ini. Perasaan yang belum pernah Sera rasakan sebelumnya.

Tangan gadis itu perlahan terangkat. Awalnya gerakannya begitu ragu ketika menyentuh rambut Luhan. Tapi akhirnya didorong oleh perasaan baru itu, Sera mengelus rambut Luhan lembut. Siapa Luxien? Kenapa Luhan nampak begitu menderita ketika menyebut nama itu? Luhan-Luxien, nama mereka terdengar mirip. Apa jangan-jangan ia adalah saudara kembar Luhan yang telah meninggal? Saudara kembar yang pernah Luhan bilang telah ia bunuh.

Xiao Luhan, beban seperti apa yang sedang ditanggung pemuda ini?

Selama ini, Sera sebenarnya telah diam-diam mengamati Luhan. Sera tidak hanya sering memergoki Luhan yang masih terjaga hingga lewat tengah malam, gadis itu juga sering memergoki Luhan melamun sendirian. Tatapannya sering kosong. Muram. Seolah cahaya kehidupan pemuda itu sudah tidak ada lagi. Kenyataan bahwa Luhan tidak pernah menghubungi keluarganya selama tinggal bersama Sera juga membuatnya khawatir.

Karena itu lah, Sera tanpa sadar sering sekali menggoda Luhan. Mengajaknya berkelahi. Membuat Luhan marah dan hari ini—sengaja mengajak Luhan mengunjungi tempat-tempat yang Sera sukai.

Ia mengkhawatirkan Luhan, tanpa sepengetahuan pemuda itu.

Sera tahu bagaimana beratnya memikul beban. Selama ini ia punya ayah dan Baekhyun untuk bersandar. Mereka berdua selalu melindungi Sera, berusaha membuat gadis itu tersenyum dan bahagia.

Tapi kali ini, Sera ingin melindungi. Ia ingin menjadi kekuatan untuk orang yang bersandar padanya saat ini.

Perasan itu lah perasaan baru yang Sera rasakan.

Jemari Sera masih dengan lembutnya menyisir rambut Luhan. Matanya terpejam, merasakan betapa hangatnya tubuh Luhan. Tanpa sepengetahuannya, benang merah di jari kelingkingnya dan kelingking Luhan berpendar. Lalu, benang merah itu terhisap masuk beberapa centimeter ke dalam kulit Sera dan Luhan. Menyisakan jarak yang telah terpangkas setengah meter.

I tilted my head towards your right shoulder, leaning it against you slightly. I felt relief in just that action and was happy. When things went badly and I was bitter or sad, just your listening to my grumblings was a wonderful thing. Sometimes I’d rest on your right shoulder, and even when I had worries, I could always be comforted by your warmth – Atsuko Maeda, MIGIKATA.

Luhan terbangun dengan kondisi kepala yang luar biasa pening. Ketika ia membuka mata, ia menemukan ruangan berdinding dan berlantai kayu yang tak ia kenali. Ia mengenakan selimut polos yang sama sekali berbeda dengan selimut yang selama ini ia pakai. Kemana gambar 9 lelaki idiot itu?

Luhan mengucek matanya sembari menegakkan tubuhnya. Saat itu lah ia melihat Sera yang tertidur dengan posisi duduk sambil bersandar di almari.

“Kenapa dia tidur dengan posisi seperti itu?”gumam Luhan sembari beringsut menghampiri Sera.

Semalam, setelah dengan susah payah membaringkan Luhan di kasur lipat dan menyelimuti pria itu, Sera sudah terlalu lelah untuk menarik satu kasur yang masih ada di atas lemari. Akhirnya ia menyandarkan tubuhnya di almari dan tertidur.

“Kau bisa pegal-pegal saat bangun, Cheonse…”ujar Luhan yang tentu saja tak Sera tanggapi karena gadis itu masih lelap. Ia menyelipkan tangannya di antara kaki dan bahu Sera lalu mengangkat gadis itu. Luhan membaringkan Sera di tempat tidur lalu menyelimuti gadis itu. Tapi bukannya langsung menyingkir, Luhan justru asyik mengamati wajah tertidur Sera.

Seolah bisa merasakan tatapan Luhan dalam tidurnya, Sera membuka mata yang langsung membuat Luhan terbelalak karena terkejut. Tapi bukan mata Luhan yang pertama kali Sera lihat, melainkan sesuatu yang menggantung di leher Luhan. Ketika pemuda itu mencondongkan tubuhnya untuk menurunkan Sera yang ada di gendongannya ke atas kasur lipat, kalung itu tak sengaja keluar dari balik baju Luhan.

“Ah, mian… aku…”

“Tunggu!”Sera meraih kalung di leher Luhan, sekaligus menahan Luhan agar tak beranjak dari sisi tubuhnya. Luhan mengerjap bingung sekaligus gugup karena wajah Sera berada begitu dekat dengan wajahnya. Jika Luhan tidak berhasil mengendalikan diri, kejadian di air terjun kemarin mungkin bisa terulang lagi!

Lain halnya dengan Luhan, Sera justru sedang sibuk memikirkan tentang apa yang sedang ia lihat saat ini.

Liontin bercorak bulan purnama yang terbelah, dimana Sera pernah melihatnya?

“Hei, kau tahu, dulu pernah ada orang yang membelah bulan…”

“Untukmu, gadis kecil.”

“Jika kau percaya pada keajaiban, suatu hari nanti kita pasti akan bertemu lagi, dan saat itu aku akan memberimu hadiah yang lebih besar daripada sekedar kalung.”

“Namaku…”

“Xiao Lu—”

([0] PROLOG)

“Kalung ini…”Sera bangun dari tidurnya. Matanya menatap Luhan dan liontin di leher pemuda itu bergantian. Ada pancaran rasa takjub dan kelegaan luar biasa di wajah Sera.

“Eh?”

“Aku punya kalung yang sama dengan ini. Kau yang memberikannya padaku kan, Xiao Luhan?”

Mata Luhan terbelalak.

To be continued…

Migikata artinya bahu kanan ^^ aku jatuh cinta pada lagu ini saat nonton Shiritsu Bakaleya Koukou (Private High School Bakaleya), dorama Jepang yang pemainnya adalah Johnny Jr (SixTONE – adiknya Hey! Say! JUMP) dan AKB48. Suaranya Atsuko Maeda unik banget! Suka deh!

Sorry, kalau lagu yang kurekomendasiin banyak dari artis-artis yang—kemungkinan besar—tidak kalian kenal. Aku lagi suka J-Pop, dan anehnya semakin jarang temen-temen J-Pop-ku tahu tentang band itu, aku malah semakin seneng ^^, hahaha… berasa jadi penemu, lalu share sana-sini biar pada kenal dan suka. Selera J-Pop-ku emang rada aneh. Ah, lama lama ini FF malah jadi kayak anime karena kebanyakan jepangnya, gomenasaaaiii~~ mianhaeyo~~

Entah kenapa aku ngerasa FF ini amburadul, karena itu tolong kritik dan sarannya yaaaa… aku nggak mau ngecewain kalian—readerku, tapi mencari kekurangan diri sendiri itu terkadang sulit, jadi aku mohon bantuannya ya? Makasih udah baca… mumumumu~

 533917fdtw1e805tx0fs8g206y0787u2 large2 Manly+Luhan

Regard,

Seara Sangheera

Advertisements

299 responses to “MOON THAT EMBRACE OUR LOVE – [IV] MIGIKATA

  1. Pingback: MOON THAT EMBRACE OUR LOVE – [V] LET’S NOT FALL IN LOVE | SAY - Korean Fanfiction·

  2. Eonni annyeongg.. aku gtw kalo chap 4 ud di post pama bangett.. aku taunya past baca chap 5.. trus merasa ad yg keloncat.. rupanya.. chap4mya blm dibaca… chap ini seru banget.. apalagi Sera sm Luhan berciumann kyaaa !! Aku senang bangettt

  3. Argh selalu suka sama gaya tulis kk yg simple,lucu,tapi ngandung makna tersirat bukan tersurat (ok apaan si) aku suka karakter kk yg selalu recoment lagu buat jadi backsound aku download semua loh (kecuali yg jepang) dan ternyata lagunya emang enak banget,,banyak author yg jadiin kk panutan kak…disini luhan sama sera lebih ke sering berantem kan /? Lebih suka deh karakter sera yg ini soalnya cerewet kan /? Dari pada sera yg di wild boy … Hhhmm sarannya kak jangan pake nama ‘cheonse’ aku juga kaget namanya itu muncul tiba2 soalnya kata ‘cheonse’ itu udah lekat banget sama wild boy,entah kenapa kalau denger kata itu bukannya fokus malah flashback ke wild boy wkwwkwkwkw aku saranin nih manggilnya ‘sweetheart’ atau ‘sugar plum’ itu kan chessy banget wkwkwkwwk duh ga sabar ngeliat mereka nemuin kalung luxien apa yg akan terjadi jeng jeng

  4. Woah ceritanya makin keren aja, bener-bener daebak ff ini 😍
    Astaga luhan ama cheonse berciuman di bawah air terjun hoho benih-benih cinta mulai tumbuh jadi makin penasaran ama kelanjutan cerita mereka, eonni jjang ^^

  5. Pingback: MOON THAT EMBRACE OUR LOVE – [VI] DESTINY SONATA | SAY KOREAN FANFICTION·

  6. eheem, kak? bisa berhenti bikin aku speechless sama karyamu nggak? aku selalu terpesona sama setiap chapter dari ff mu T,T maaf karena aku baru mulai komen dari chapter ini. aku lupa kayaknya aku belum komen yang chap 4 ini, jadi yaa aku baca ulang terus komen deh 😀

    waktu aku baca scene di air terjun itu kayaknya nggak terlalu asing gimana gituu, aku jadi inget sama scene di It’s okay that’s love waktu jang jaeyul sama go jaehee di air terjun itu 😀 . hihi aku suka sama ff kakak, bahasanya itu lho kakk bisa bikin aku bayangin gimana adegan-adegannya. berasa nonton drama, tapi dramanya ada keputernya di otak aku 😀 . oke lahh langsung next chap aja :v sukses terus kak!! keep writing!!!

  7. udah lama gak baca lanjutannya
    ketimpa banyak tugas dari sekolah–”
    kirain belom update, ternyata aku yg ketinggalan._.
    .
    banyak jempol deh buat kak sangheera:33
    ffnya bikin ketagihan trus lupa alam sadar/? hehe
    yang pasti ceritanya makin seru, kalo lagi baca bisa bikin ekspresiku naik turun, yang tadinya nyengir trus serius trus juga sedih 😀
    next chap>>
    keep writing thor! 🙂

  8. aku ketinggalan bnyak part serius, padahal aku sering buka skf -_- seperti biasa,, ini ff selalu amazing luar biasa daebak wkwk aku suka bgt moment2 merrka disini. hahaai ,, ada kisiing nya lagi bhaqq~~ setidaknya mereka ada tanda2 saling suka gituuu. tapi ada rasa khawatir sih pas sera bilang gak akn jatuh pada luhan meskipun dia sama luhan saling suka hikss. masih penasaran , kan itu kalungnya dari luxien tapi kok jadinya sama luhan ?? itu kan kalung luxien? atau jangan2 itu kalung luhah n sebenernya?? heisshhh

  9. wah akhirnya si luhan mulai jatuh cinta deh sama si sera 🙂 dan akhirannya dari chapter ini mungkinkah mereka pernah bertemu waktu kecil?? lanjutannya ijin baca ya 🙂

  10. kalung itu dari luxien kah ? kayanya sih iyaa dari cara interaksi waktu diprolog itu kan cara ngmongnya lembut dan yg ngmongnya lembut nan baik kan si luxien kan..
    aku bisa ngerasain perasaan sera pas kissing itu disisi lain dia pasti ngrasa bersalah sama baekhyun dia ga mau ngaku dan dia ga mau jatuh cinta sama luhan … saking panjang nya dis setiap chapter jadi ga tahu mau komen apalagi.

  11. Kadang ada beberapa part yang gue gak dapetin feel nya Luhan bahkan Sera. Dan, berhubung gue ‘WildBoyLover’ jadi kadang ada part yang gue rasa mirip sama WB 😀 Kayak kehilangan saudara yang gak bisa dilupakan dan akhirnya jadi beban berat tapi gak ditunjukkan secara gamblang. Kalo di WB kan korban nya Sera, nah kalo disini korban nya Luhan. Tapi, ini gak maksud buat membandingkan ya, kak. Karna banyak hal jugak yang beda. Itu aja sih.
    Btw, finally, ketahuan juga liontin nya. Gue senang banget. Walaupun gue sedih kalo nanti bakalan dihancurkan 😥

  12. Pingback: MOON THAT EMBRACE OUR LOVE [VII] – BEAUTIFUL DARKNESS | SAY KOREAN FANFICTION·

  13. duuuuhhhh luhan so sweet banget sama seraa, tapi baekhyun gimana😭😭
    alurnya bagus banget terus pemakaian katakatanya juga keren thor👍

  14. Waktunya bisa berenti ngga waktu mereka di air terjun ? Hehheehe
    Jd inget drama its okay its love deh hehehe
    Hmm jadi setelah nemunin benda yg menghubungkan mereka, mereka bakalan pisah gitu ? Jangan dong 😦
    Lagi seru hehehehe
    Kkeut .

  15. Maygat moment pas di bawah air terjun itu uhukkkk terlalu romantis ya walopun cma cepet tapi setidaknya moment moment kek gitu dah mulai ada seneng deh.
    Lah itu yg ngasih kalung bkan luhan sera tapi luxien>.< cepet ke chap selanjitnya ah terlalu penasaran😆

  16. yeay keren bangeeeeet nget nget nget. akhirnya luhan punya prasaan sma sera. n sera inget kalung itu horeeeey tinggal nyari kalung itu dmna

  17. uuuu disini adegan ciumannya luhan sama seraa*-*
    duh baekhyun kalo liat marah banget kali yaa.
    luhan dah jatuh ni ke sera kapan sera juga jatuh keluhan?
    luhan udah kecanduan alkohol inii.
    yang ngasih kalingnya itu luhan? aku kira luxien.

  18. Wow mereka ciuman di bawah air terjun 😀
    prolognya bikin greget :3 itu sera udah tau kalau kalaung yang luhan pakek sama dengan milik dia yang luhan kasih ehh jadi sera udah tau luhan itu siapa :3

  19. Yaampun.. tercengang banget pas baca part kissing scene di air terjun.. feelnya dapet bgt
    Suka bgt sama cara nulis kak sangheera, enak bacanya
    Btw kan tadi luhan kek ngomong china gitu pas mabuk, artinya apaan ya kak? Coba google translate nggak bisa.. kepo bgt sama artinya

  20. aduh kak mereka ciuman di bawah air terjun dooh manis syekalii wkwk
    nah nah kan udah nemu titik terangnya benda yang menghubungkan mereka dengan masa lalu penasaran lanjutannyaa~~

  21. Plis banget gaa cheonse jangan sampe nemuin tuh liotin. Kalau nemuin dan dihancurin semoga aja tetep ga terpisah yaaa. Gatau kenapa aku seneng aja gitu sama luhan sera. Tapi disisi lain kasihan juga sama baekhyun. Kapasitas sera baekhyun bermesraan udah berkurang gitu jadinya TnT

  22. Cieeee. Luge udah jatuh cinta tu sama cheonseeee. .
    Sera juga udah mulai ehem ehem.
    Baek sAma si temenya aja itu. .
    Yang kasih kalung tuh luxien kan?

    Eh arti bahasa cina yang diucapin luhan apaan ya?

  23. Hah? Amburadul? Enggaaa. Ini baguss banget. Panjang dan ga ngebosenin 🙂 aku suka… Alurnya juga pas, ga kelamaan juga ga kecepetan 🙂

  24. OMG OMG OMG…….
    Apa kalung itu yg bisa ngehancurin benang merah nya?? Aaaaawwww,, kayaknya mereka mulai jatuh cinta, eaaakkk 😄😄
    emang agak amburadul sih kakak, tapi tetep bagus kok 😉
    Maaf kak, aku baru sampe sini bacanya, pdahal aku mulai baca ini udah lamaaaaa bgt tp belom kelar kelar juga bacanya.. 😄
    oke, see you next time kakak. 😉

  25. Whoaa.. luhann ><
    Sera gk peka wk
    Lebih seru baca ff thor dripda nnton drama yg skrng ini update. Soalnya gk menarik perhatian aku. Paling cuman dots. Itu pun 2x seminggu TT . Lgi liburan sekolah juga jdi gk ada kerjaan dannn dapatlah ff ini hihi.. gomawo authorr aku baca ini juga ikutan ktwa sndiri dan ngefly sndiri ekeke kerasa jdi sera nya ekek #ngarep ekek fighting thor! ^^

  26. entah gimana rasanya kalo aku yg ada di posisinya cheonse,
    yaampun kak, aku terharu kalo sambil dngerin lagunya orange, bner² kebawa suasana,
    pokoknya keren dehh ffnya kakak, keep writing ya kak ^_^

  27. Menghembuskan napas berat.

    Menyerap ingus dan menghasilkan bunyi “ssseepp”

    ITU YANG AKU LAKUIN ABIS BACA CHAPTER INI SANGHEERA NIM! HUWEEUWEUWEE.
    Ini jauh lebih nano-nano dari chapter-chapter sebelumnya, jinchayo!! 😭

    DARI AWAL UDH GEMES, AKU GAKUAT SAMA ADEGAN LUSERA MOJOK YANG BERAKHIR LUHAN MULAI NARUH RASA KE SERA 😭
    Aku jadi pengen ngasih tau baekhyun aja cepet-cepet biar bisa lepasin sera 😭
    Serius aku habisnya gemes bgt liat lusera kaya gitu sangheeranim 😭 gimana ya jelasinnya pokoknya suka bgt sama semua interaksi nya beneran nge klop banget deh, serious!

    Aku tuh suka bgt lusera disini, entah berantemnya, perhatiannya sama masing-masing yg unik kebangetan, ribut berisik nga pernah akur AAAAH GEMES POOL!

    Udh gitu pas adegan jalan-jalan di gunung, AAARGH SERIOUSLY AKU IKUTAN NGEFEEL KERASA SEGERNYA HUHUHU. Kebayang bgt ademnya perasaan luhan, nambah plong hati pas lusera nyebur trs ketawa-tawa, mulai dugun dugun waktu mereka tbtb lengket dan kiss —AAH AKU GEMES BGT TOLONG. Trs adegan setelahnya yg kerasa cocok bgt yaampun heran aku suka semuanya! Sampe ke adegan yg bikin nangees lagi bikin tertohok lagi pokoknya beneran nano-nano campur aduk dahh..

    Cuman satu yg ku tungguin tuh, KAPANKAH BAEKHYUN AKAN TAU SEMUA INI 😭 JEBAL..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s