Look At Me {Chapter 5]

look at me

bubudeer

Genre : Family, sadness, hurt, romance

Teen

Length : Chaptered

Main Cast : Se Hun , Hyo Jin (OC) , Hye Jin (OC) , Lu Han

*

“—kenapa kau bolos jam pertama tadi dan seragammu?”

“A-ah ini tadi aku terpeleset dikolam, jadi yah—”

 “Kenapa bisa? Kau ceroboh sekali,”

Penggemarmu yang melakukan ini, apa kau akan membelaku jika kau tau hal ini?

Hyo Jin hanya menanggapinya dengan menggeleng dan tersenyum kikuk, ‘Aku memang ceroboh,’

“Nanti kita akan menyelesaikan tugas kelompok kemarin dirumahmu, pulang sekolah.”

“Benarkah? Terimakasih sudah memberitahuku,”

Sehun mengangguk lalu mengalihkan pandangannya kedepan saat Guru Sin masuk kelas.

ooOOoo

Chapter 5

*

“Hey! Kau mau kemana?” Min Ji menepuk bahu gadis dengan rambut coklat yang sedang berjalan keluar kelas dengan cukup keras. Gadis itu sampai berjengit kaget dan sedikit memekik.

“Apa yang kau lakukan?! Aishhh…” Min Ji mengangkat alis bingung. “Ya! Kenapa bicaramu begitu sekali, aku kan tadi mengatakan untuk menungguku dikelas saja,”

“—oh, seragammu sudah kering? Cepat sekali,”

“Dasar aneh,” gumam gadis dengan rambut coklat itu kemudian berlalu pergi. Min Ji sampai dibuat terbelalak dengan sikap cueknya.

“Bukankah dia yang aneh, huh. Menyebalkan sekali,” Min Ji berbalik hendak kembali kekelasnya karena terlanjur sebal, namun terhenti dengan mata terbelalak saat melihat gadis—

“Hyo Jin?”

*

“Tunggu- tunggu, jadi kau punya saudara kembar? Begitu?” Hyo Jin yang duduk disamping Min Ji mengangguk.

“Tapi kenapa berbeda sekali,” gumam Min Ji dengan pelan.

“Huh?” lirih Hyo Jin memandangnya dengan mata yang kian sendu. “M-maksudku, sifat kalian berbeda sekali. Kau lembut dan saudaramu itu begitu cuek dan tak sopan,”

“…”

“Hyo Jin-ah, apa kau ada masalah? Kau terlihat tak baik,”

“Aku-” Hyo Jin terdiam beberapa saat, ia masih ragu untuk mengumbar masalahnya pada orang lain.

“Kau tak perlu takut, aku akan selalu menjadi temanmu apapun yang terjadi. Kau bisa percaya padaku,” ujar Min Ji seraya menggenggam tangan Hyo Jin, meyakinkan teman barunya itu.

Hingga isakan Hyo Jin keluar seiring dengan untaian kalimat mengenai kisah keluarganya. Betapa menderitanya ia selama ini yang tak dianggap. Sungguh, siapapun yang mendengar isakan gadis dengan iris coklat itu akan ikut menangis sedih. Tak terkecuali Min Ji, gadis itu bahkan bisa merasakan kepedihan Hyo Jin selama ini hanya dengan mendengar tangisan lirih Hyo Jin.

Min Ji mengulurkan tangannya memeluk Hyo Jin erat, mengelus punggung rapuh gadis itu. Mereka menangis bersama dengan Min Ji yang sesekali mengucapkan kalimat penenang untuk Hyo Jin.

“Sudah, okay? Aku akan membeli beberapa snack dan minuman, kau tunggu disini.” Hyo Jin mengangguk meng-iyakan.

Sepuluh menit sebelum bel masuk berbunyi, Min Ji kembali menemui Hyo Jin dengan membawa beberapa snack dan juga dua kaleng minuman.

“Terima kasih, Min Ji-ssi”

“Mwoyaa??! Kenapa kau masih begitu formal padaku, kau lupa kita adalah teman sekarang? Ah, kau jahat sekali,” Min Ji merajuk dengan bibir mengerucut – oh sebenarnya ia hanya pura-pura saja –

“Maaf, maafkan aku Min Ji-ya”

“Pfffttt- hahahaa, kau ini lucu sekali Hyo Jinnie, uhh” Min Ji mencubit pipi Hyo Jin dengan gemas yang mendapat erangan sakit dari si pemilik. Bagaimana Min Ji tak tertawa jika disuguhkan dengan wajah hyo Jin yang memelas dengan wajah sembabnya. Oh, Hyo Jin begitu imut dan polos.

Aku akan selalu menjadi temanmu, Hyo Jin-ah.

 

ooOOoo

“Kita langsung kerumah Hye Jin saja,”  siswa bernama Jongdae berujar saat guru yang mengajar mata pelajaran terakhir tadi meninggalkan kelas. Tiga orang lainnya mengangguk lalu keluar kelas. Sementara itu, Hyo Jin keluar kelas paling akhir.

“Kau bersamaku saja,” kata Sehun pada Hye Jin.

“Tapi aku sudah dijemput,”

“Kan masih ada Hyo Jin yang akan menaiki mobil itu, kau mau kan?”

“Ah, baiklah. Aku akan bilang dulu pada Hyo Jin,”

“Kenapa tidak melalui pesan saja?”

“Eumm, ah- benar juga,” ujar Hye Jin ragu.

Aku tak pernah menyimpan nomornya.

ooOOoo

“Hyo Jin-ah bisakah kau ambilkan minum dan camilan untuk kita,” Hyo Jin yang baru saja datang dan bergabung dengan mereka ber-empat hanya bisa mengangguk. Ia segera menaruh tasnya dan berlalu menuju dapur.

“Nona muda, kenapa tak bergabung dengan yang lain?” Bibi Ahn yang saat itu tengah berada didapur bertanya pada Hyo Jin yang memasuki dapur.

“Aku hanya akan mengambil beberapa camilan dan minum untuk teman-teman, Bi” Hyo Jin menjawabnya dengan senyum tipis.

“Biar saya saja, anda pasti lelah,”

Hyo Jin menggeleng, “Hye Jin eonnie yang menyuruhku, Bi”

Bibi Ahn menatap sendu Nona muda-nya, “Tapi-”

“Tidak apa-apa, Bi”

Aku selalu berdo’a yang terbaik untukmu Nona muda.

Bibi Ahn memandangi punggung Hyo Jin sampai menghilang dibalik pintu dapur.

ooOOoo

Hyo Jin sudah terbiasa dengan ini, merasa diacuhkan. Bahkan Sehun pun  tak menghiraukannya. Ia kira dengan adanya Sehun, ia bisa tertawa dan merasa dihargai disini. Tapi apa- Sehun terlalu sibuk dengan teman-temannya yang lain, terutama Hye Jin.

Apa yang salah? Mengapa ia bisa berpikiran jika Sehun hanya harus melihat kearahnya? Apa haknya? Hyo Jin bodoh, pikir gadis dengan iris coklat itu.

Ia tak mengeluarkan suara sedikitpun, suaranya seperti tercekat. Terlalu takut untuk sekedar mengeluarkan sebuah suara. Dan juga, pendapatnya tak mungkin dipakai, kan?

“Hyo Jin-ah, bagaimana menurutmu?”

Ia salah, benarkah itu Sehun? Bertanya bagaimana pendapatnya?

“Eumm- itu….” Hyo Jin merasa ditelanjangi karena mendapat tatapan intimidasi dari tiga orang lainnya-apalagi kakaknya- dan tatapan penasaran Sehun yang masih setia menanti jawabannya.

“Menurutku jangan terlalu panjang penjelasannya, sedikit saja tapi mencakup semuanya. Bukankah itu lebih baik?” bukan, itu bukan suara Hyo Jin.

“Benar juga, usul Hye Jin tak terlalu buruk. Bagaimana menurut kalian?” Sehun mengalihkan pandangannya pada Hye Jin dan teman-teman yang lain.

Hyo Jin menunduk mendapat tatapan puas dan seringai dari kakaknya. Ia sadar, ia selalu kalah.

ooOOoo

Suasana sekolah sangat sepi hari ini. Entah apa yang membuat sekolah yang biasanya ramai begitu sunyi. Bahkan sangat-sangat sunyi. Hanya satu atau dua orang siswa yang bersliweran. Itupun mereka bicara dengan berbisik dan tak menghiraukannya. Tapi jika dipikir-pikir, memangnya kapan orang-orang sekolah peduli padanya. Hyo Jin hanya bisa bertanya dalam hati, dengan sesekali mengernyitkan dahinya, menimbulkan kerutan samar.

‘Ada apa? Kenapa sangat sepi begini?’

Hyo Jin berjalan kearah kelasnya. Kosong? Ia baru sadar jika suara bisikan dari para murid tidak ia dengar sejak ia memasuki gerbang sekolah. Aneh, pikirnya.

Ia taruh tas yang sejak tadi disandangnya diatas meja lalu keluar kelas kembali. Menghirup udara segar ditempat rahasianya menjadi pilihan terbaik, itu menurut Hyo Jin. Sampai saat langkahnya sudah dekat dengan tempat tujuan, sayup-sayup ia mendengar suara banyak orang. Berbisik dengan suara agak kencang. Oh, apa itu bisa disebut berbisik?

‘Huh? Ada orang?’

Hyo Jin mendekat ke sumber suara. Hey, ternyata ada banyak orang. Mungkin satu sekolah berada disini, kecuali para guru tentunya. Dan apa ini? Kenapa mereka ada ditempat rahasianya?

‘Sehun dan Hye Jin berkencan?’

‘Tentu saja. Apa kau tak lihat mereka melakukan apa barusan?’

‘Aku baru saja datang, bodoh.’

‘Aishhh, mereka baru saja berciuman. Sehun lembut sekali, Hye Jin benar-benar beruntung.’

Hyo Jin berhenti, entah kenapa langkahnya benar-benar terasa berat. Apa itu tadi? Hye Jin dan Sehun berciuman? Ditempat rahasianya? Apa Sehun yang mengajak Hye Jin kesini?

Raut kecewa sangat kentara di wajahnya. Ini balikkan tubuhnya, tak ingin lebih mendekat lagi ke kerumunan siswa-siswi itu. Ia tak mau melihat kemesraan yang akan membuatnya sakit. Ia ingin hari ini berjalan dengan baik, meskipun itu terdengar mustahil.

Kembali kekelas menjadi pilihan Hyo Jin. Berharap kelasnya masih kosong sehingga tak ada yang akan mem-bully nya. Namun, apa yang ia lihat selanjutnya membuat ia terkejut. Mejanya, dipenuhi oleh buku dan ia yakin itu adalah buku yang berasal dari tasnya yang sekarang tengah tergeletak dilantai. Yang membuatnya lebih mengerikan adalah buku-bukunya sudah tercorat-coret dengan tinta berwarna merah dibagian cover dan juga bagian dalam. Ia tertunduk lelah.

Hey, ini masih pagi, bahkan pelajaran belum dimulai.

Ia kira ia tak akan mendapatkan hal yang seperti ini untuk hari ini, setidaknya tidak sepagi ini. Hyo Jin terlalu percaya setelah tak mendapat bisikan-bisikan jahat dari para murid yang lewat tadi. Ia mengira semua perhatian siswa-siswi itu teralihkan pada pasangan baru yang sempurna itu, itu menurutnya. Tapi, ia tidak menyangka orang-orang sebenci ini padanya.

Mungkin orang yang membenci nya ini ingin mengatakan secara tidak langsung kalau ia akan sendiri lagi, mengingat Sehun sudah bersama dengan Hye Jin sehingga tak ada yang menjaganya. Yah, memang selama ini tidak bisa dibilang Sehun menjaganya. Tapi, setidaknya itu membuat murid disini jarang mengganggunya karena ada Sehun.

Apa secara tidak langsung juga, itu menyatakan bahwa Hyo Jin membutuhkan Sehun? Entahlah.

Hyo Jin. menggeleng kecil, segera saja ia ambil tasnya yang masih tergeletak dilantai. Lalu, mulai membereskan bukunya yang sungguh tak layak lagi jika disebut demikian. Ia masukkan buku itu kedalam tasnya. Menyisakan meja yang juga terkena cipratan tinta merah itu. Huh, ia akan membolos saja hari ini. Lagipula, tak akan ada yang mencarinya, kan?

ooOOoo

Hyo Jin meneguk habis segelas air yang ada dinakas samping tempat tidurnya.  Mimpinya begitu terasa nyata. Namun syukurlah, itu hanya mimpi.

Hyo Jin menghela napas lelah, bahkan di mimpi pun ia merasa dikucilkan. Hahh, miris sekali. Matanya melirik ke jam dinding dikamarnya dan segera beranjak setelah dirasa sudah saatnya untuk bersiap kesekolah.

Beberapa lama untuknya berbenah diri hingga dirinya pergi kedapur untuk sarapan. “Selamat pagi, Bi~” sapa Hyo Jin saat menemukan Bibi Ahn tengah sibuk menata meja makan.

“Ah, Nona muda~ selamat pagi, makanan akan siap beberapa menit lagi” balas Bibi Ahn dengan senyum teduhnya.

“Apa bibi membuatkan bekal untukku?” Tanya Hyo Jin setelah ia duduk dikursi. Beginilah ia, akan terbuka dan begitu ceria didepan orang yang telah merawatnya selama ini.

“Tentu saja, Nona..”

“Bisakah bibi membuatkan satu lagi, aku mempunyai seorang teman sekarang,” ujar Hyo Jin dengan wajahnya yang begitu sumringah.

Syukurlah, walau hanya seorang, tapi saya harap dia benar-benar tulus dan membuat anda bahagia, Nona.

“Benarkah? Wah, pasti bibi akan membuatkannya, Nona.”

“Terima kasih, Bi”

“—aku juga ingin dibuatkan satu,” sebuah suara menyela begitu saja. Sosok Hye Jin masuk dari arah pintu dapur dan segera duduk dikursi yang bersebrangan dengan Hyo Jin.

“A-ah, baiklah, Nona Hye Jin.”

ooOOoo

“Sehun-ah, ini untukmu.” Sehun mengangkat alisnya bingung. “Apa ini?”

“—Ini nasi goreng udang, untukmu.” Hye Jin tersenyum,

“Benarkah ini untukku? Wahh, kelihatannya enak sekali. Apa kau yang membuatnya?”

“Uhmm-“

ooOOoo

TBC

gw tau gw telatttttt,,,,, ini selasa kan, ya??? T__T ya udin, silahkan baca aja readers ku sayoooonnngg :*

254 responses to “Look At Me {Chapter 5]

  1. huh dasar bermuka2 kesel jadinnya sma hye jin tapi dari awal jg udh kesel hehe
    hyo jin semangat yh :):)
    NEX CHAPTERR EONI :):)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s