Perfect Sunset – Angelina Triaf

bc1166e07b6c3815583f0f982039f82a

Angelina Triaf ©2015 Present

Perfect Sunset

Jang Hyunseung (Beast), Jung Hyunra (OC) | Fluff | G | Drabble

0o0

Butiran pasir putih perlahan terombang-ambing oleh ombak yang tenang di pantai itu, meninggalkan jejak-jejak lembab yang menjadikannya memekat. Burung camar mulai kembali ke singgasananya masing-masing, menemui sang anak yang selalu menanti kepulangan induknya. Mentari yang bersinar terang hari ini pun harus segera pulang, membiarkan sang bulan kembali menunjukkan senyum indahnya dalam malam.

Hyunseung berjalan seorang diri menyusuri bibir pantai yang mulai sepi. Hanya terlihat beberapa peselancar yang juga hendak menepi ke daratan dan beberapa anak kecil yang masih asyik bermain layangan. Hanya berbalutkan sweater yang bahkan tidak terlalu tebal itu, Hyunseung tetap nekat berjalan di tengah udara yang semakin mendingin. Biarlah, toh ia suka udara dingin.

Jika berjalan di pantai seperti ini ia jadi teringat momen-momen manisnya terdahulu. Berjalan berdua, bercanda ria, ya seperti itulah. Hari-harinya yang dulu sangat menyenangkan, segala kenangannya di tempat ini. Bermain air, terkadang pula ikut bermain layangan bersama anak-anak penduduk sekitar pantai. Ya, itu dulu. Tanpa sadar Hyunseung tersenyum mengingat semua itu.

Beberapa menit lagi senja akan menjemput mentari, mendatangkan bulan yang siap bersinar. Hyunseung masih terus berjalan, dengan tempo perlahan yang sama di tiap langkahnya. Tepat di langkahnya yang ke seratus—percaya atau tidak, ia benar-benar menghitungnya—ia menyadari sesuatu yang aneh. Mengapa banyak sekali tangkai mawar berserakan di sepanjang jalan ini? Hyunseung mengerutkan keningnya. Tangkai-tangkai mawar itu membentuk satu garis lurus, mengarah pada sebuah rumah pinggir pantai. Oh tidak, Hyunseung mengenali rumah itu.

Sangat, dan jantungnya berpacu lebih cepat kali ini.

Tanpa membuang waktu, ia segera berlari menuju rumah itu. Jaraknya yang agak jauh membuatnya harus menghabiskan beberapa menit. Kaki telanjangnya terus melangkah, membelah keheningan pantai sore hari itu. Tidak, tidak mungkin.

Oppa, bukankah matahari terbenam itu adalah pemandangan terindah?”

 

Suara itu kembali bergema dalam pikirannya. Suara lembut yang sudah empat tahun ini berusaha ia hapus dari ingatannya. Nihil, semuanya sia-sia. Ia tak kuasa menghilangkan suara manis itu dari jangkauan akal sehatnya.

Oppa, bagaimana ya rasanya menyentuh matahari? Hihi, pasti kita akan terbakar, kan? Walaupun begitu, aku tetap ingin menyentuhnya. Sedikit saja.”

 

Bahkan masih segar dalam ingatannya, senyum manis nan cantik milik gadis itu. Bagaimana caranya menatap Hyunseung dengan eye-smile yang membuat siapapun terlena dibuatnya. Degup jantungnya berlomba seiring lari langkahnya yang semakin dekat meraih tujuan. Ini di luar pikirannya. Perkiraannya. Bolehkah ia berharap lebih? Bolehkah Hyunseung berharap gadis itu ada di sini?

Oppa, mengapa mawar tidak tumbuh di pantai?”

 

BRAK!

Oppa, kau mengagetkanku.” Tanpa salam, tanpa apa pun. Hyunseung mendobrak pintu itu, membuatnya berhasil menjangkau sang gadis dalam jarak pandangnya. Dalam perspektif garis lurusnya. Gadis yang kini tengah menata banyak kelopak mawar aneka warna menjadi rangkaian yang cantik. Gadis yang sama yang selalu tersimpan dengan rapi dalam ingatan Hyunseung. Gadis yang sangat ia rindukan.

Air mata Hyunseung jatuh. Hanya setitik, namun itu sarat akan segala perasaannya yang belum sempat tercurahkan dengan sempurna. Kepergian gadisnya yang tiba-tiba. Tanpa ada perpisahan, tanpa kejelasan status. Gadis itu pergi meninggalkannya, menjelajahi negeri orang dan menimba ilmu di sana. Meninggalkan Hyunseung di Korea seperti orang kehilangan arah.

Langkahnya melambat. Hyunseung meraih gadisnya dalam sebuah pelukan hangat. “Hey, apa kabar? Sudah puas meninggalkanku sendirian?” Hyunseung tertawa kecil sembari menciumi rambut sang gadis. Tangis gadisnya pecah, dan Hyunseung semakin bersemangat untuk menggodanya.

“Hyunra tak pernah meninggalkan Oppa. Hyunra selalu di hati Oppa, bukankah begitu?” Hyunra, gadis manis yang menangis dalam pelukannya. Rasanya lama sekali sejak terakhir kali Hyunseung memeluk tubuh mungil gadis ini. Bahkan gadisnya itu seperti tidak bertambah tinggi sejak hari terakhir mereka bertemu. “Hanya perasaanku saja atau kau semakin pendek—“

Oppa!”

“Hanya bercanda, sayang.” Tawa ceria keduanya menari bersama angin, diiringi dengan pelukan yang semakin erat. Harum bunga yang menambah kesan manis suasana pantai sore ini. Hyunra menoleh pada pemandangan di belakang punggung Hyunseung. Matahari terbenam.

Oppa, lihat!” Hyunra melepas pelukan Hyunseung, berlari kecil menuju bibir pantai. Kaki telanjangnya tenggelam dalam lembutnya pasir putih yang membias jingga. Sangat cantik, dan Hyunra merindukan momen seperti ini. Melihat matahari terbenam bersama Hyunseung.

Hyunseung berjalan pelan, langsung memeluk pinggang gadis itu dari belakang. Kepalanya bersandar di bahu kanan Hyunra. Matahari yang perlahan turun, menaungi sisi horizon yang lainnya, meninggalkan bias kehangatan yang terasa sangat nyaman. Atau mungkin pelukan Hyunseung yang membuat Hyunra merasa hangat?

“Jangan pernah pergi lagi dariku, Nona Jung,” bisik Hyunseung. Diciumnya pipi Hyunra dengan sayang. Gadis manis itu hanya tertawa kecil dan mengangguk sebagai jawabannya.

Sejauh apa pun jarak terbentang, serumit apa pun lintasan perjalanan yang ditempuh dan selama apa pun waktu menjadi ruang yang menyebalkan, cinta akan tahu kapan, bagaimana dan ke mana ia harus berpulang. Ke mana ia harus kembali dan kepada siapa ia harus bersandar. Karena cinta adalah naluri alamiah, di mana dua jiwa kembar akan selalu tahu keberadaan kepingan cintanya yang lain.

FIN

3 responses to “Perfect Sunset – Angelina Triaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s