A THOUSAND SHADOWS CHAPTER 2 by 19930401.com

sehun copy

Author             : Bellecious0193

Poster              : Lily21Lee

Genre              : Romance, Adult

Length             : Chaptered

Rate                 : Mature (Do not read if you are under 17 years old)

Casts               :

Oh Sehun

Lee Da Hye

Kim Jongin

Lee Na Ra

Etc

Disclaimer : Originally made by Bellecious0193 from http://www.belleciousm.wordpress.com. Do not copy paste instead you want to become my worst.

Inspired by Fifty Shades Trilogy by E.L James

“I must get my soul back from you; I am killing my flesh without it.” Sylvia Plath on Unabridged Journals of Sylvia Plath

Previous Chapter :

Slight Scene Chapter 1

Hari itu Da Hye benar-benar tidak bisa berkonsentrasi. Kali ini bukan perihal bagaimana dia bertahan hidup atau mencari pekerjaan, tapi mengenai persoalan lain yang sialnya lebih rumit. Persoalan perasaan menjadi hal yang baru bagi Da Hye. Selama ini dia belum pernah berkencan. Jangankan berkencan, mempunyai waktu luang untuk sekadar mengagumi para pria tampan di kampusnya saja dia tidak punya. Yang ada dalam kamus hidupnya adalah bekerja, bekerja dan bekerja.

Tapi sejak belum genap 48 jam yang lalu ada seorang pria yang sukses mencuri atensinya. Mengambil hampir semua kewarasannya. Sejujurnya dia sendiri begitu heran kenapa dia begitu ingin disentuh Sehun. Dia bahkan dengan sukarela menghamburkan diri ke dalam pelukan pria itu. Yang satu ini jelas membuatnya terlihat sangat murahan. Untuk opsi terakhir sepertinya dia tidak perlu khawatir. Sebab, gadis-gadis normal di luar sana pasti akan mengalami hal yang sama jika sudah bertemu dengan Oh Sehun.

Ada banyak pria tampan di muka bumi, tapi khusus Oh Sehun, dia mempunyai semacam daya tarik aneh. Pesona magis yang membuat siapapun akan jatuh tunduk tanpa dia harus bersusah payah.

Mr Kim, sang dosen Analisis Sastra baru saja mengakhiri kelas. Sedangkan Da Hye bahkan sama sekali tidak bisa menangkap apa yang dosennya katakan. Oh Sehun bahkan baru ditemuinya, tapi seolah pria itu sudah mendominasinya begitu banyak. Dia jadi ngeri dengan prospek kehilangan jati diri jika sudah lama mengenal Sehun. Sayangnya dia sama sekali tidak keberatan.

“Da Hye-ya kau kenapa, huh?” Jongin -salah satu sahabatnya- berjalan di sisi Da Hye saat keduanya menyusuri koridor kampus selepas kelas Analisis Sastra. Da Hye memang bekerja di Oh Mansion tapi dia tetap akan mengikuti kuliahnya seperti biasa. Sedangkan pekerjaannya sebagai pembantu rumah tangga akan dia kerjakan selepas pulang kuliah. Sebuah kelonggaran yang seharusnya membuatnya curiga. Tapi seperti biasa, kebahagiaan kerap kali menutupi hal penting lain. Atau bagian fatalnya, yang bersangkutan sedang tidak ingin diganggu gugat perihal hal remeh yang menimbulkan kecurigaan. Da Hye hanya ingin menikmati sejenak kebahagiaannya. Dan tentu saja dia tidak mau ada orang lain yang menganggu.

“Aku? Memangnya kenapa?” Tunjuk Da Hye pada dirinya sendiri. Jongin menarik lengan Da Hye, membuat gadis itu berhenti berjalan. Sedangkan pria itu mengamati gadis di depannya dengan dahi mengernyit. Jelas dia sedang menebak-nebak isi kepala Da Hye.

“Apa soal pekerjaan lagi? Aku dengar kau justru baru mendapatkan pekerjaan baru di Oh Mansion. Jadi, sekarang jika bukan soal pekerjaan…apa soal cinta?”

“Kau bisa membaca pikiran ya?” Sergah Da Hye. Jongin mengangkat bahu sebagai tanggapan. Dia hanya menerka-nerka soal hal yang membuat Da Hye tidak bersemangat sepanjang hari.

“Aku hanya berpikiran logis Lee Da Hye. Hanya orang yang bermasalah soal cinta yang akan melamun sepanjang hari, mengabaikan lingkungan di sekitarnya dan yak! Tebakanku benar?” Jongin setengah berteriak saat dia sendiri kagum dengan kemampuannya menebak. Teriakan Jongin membuat Da Hye terkejut, dia bahkan harus buru-buru memegang lengan gadis itu agar tidak jatuh terjungkal saking terkejutnya.

“Sial!” Makinya. “Aku pikir kau sudah bisa membaca pikiran.” Da Hye hanya bisa menampilkan ekspresi kepolosannya, sedangkan Jongin tertawa renyah seraya mengacak rambut Da Hye. Mereka selalu punya cara untuk tertawa tanpa harus terlalu mencampuri urusan yang lain. Selalu punya cara untuk memahami tanpa saling melukai. Hal yang amat luar biasa. Sebab, biasanya persahabatan antara pria dan wanita akan berujung dengan cinta. Cinta yang kerap kali membawa mereka pada hal mengerikan bernama penderitaan.

Da Hye cepat-cepat menjauhkan diri dari Jongin, memasang tampang waspada yang konyol. Jongin memang sahabatnya, salah satu orang terdekatnya selain Ye Na. Hanya saja dia tetap harus menjaga jarak, sebab akan selalu saja ada bencana jika dia lupa akan hal tersebut.

“Wae?” Tanya Jongin tidak mengerti.

“Jangan menyentuhku seperti itu. Kau tahu jika Jo Eun Hee melihat aku akan-”

“Yak! Kim Jongin..apa yang kau lakukan?” Teriakan tujuh oktaf memenuhi indera pendengaran keduanya. Da Hye hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar. Tahu bahwa bencana lain akan segera menghampirinya. Kali ini berwujud sangat nyata. Tidak terlalu mengerikan, mungkin? Sebab bencana itu berwujud gadis cantik dengan surai panjang dan wajah polos bak malaikat. Tapi mengingat betapa protektifnya Jo Eun Hee terhadap Jongin, tentu orang akan berpikir ribuan kali untuk sekadar menaruh semacam rasa kagum pada Eun Hee.

Eun Hee dengan setengah berlari menghampiri Jongin, menggamit lengan pria itu untuk menjauh dari Da Hye seolah gadis bermarga Lee itu adalah virus mematikan. Dia menatap nyalang Da Hye, mati-matian menahan diri untuk tidak meledak marah di sana. Padahal jelas, dia tidak pernah suka terhadap gadis manapun di muka bumi yang berdekatan dengan Jongin, kekasihnya.

“Kau sebaiknya menjaga jarak dari my Jong.” Teriak Eun Hee pada Da Hye. Orang-orang yang kebetulan berada di koridor hanya mengangguk maklum. Seolah sudah paham betul dengan kepribadian Eun Hee yang kerap kali berlebihan perihal Kim Jongin. Beberapa dari mereka bahkan terlihat tidak peduli, sebuah tameng agar tidak terlibat dalam urusan rumit pasangan kekasih yang begitu terkenal di kampus mereka.

“Mau bagaimana lagi? Pacarmu itu kan tampan, seksi dan menggoda. Aku hanya gadis biasa yang tidak bisa menolak pesonanya.” Da Hye mengeluarkan ekspresi kekaguman yang berlebihan. Dia begitu senang memanfaatkan rasa cemburu kekasih Jongin itu. Padahal sampai matipun dia tidak akan jatuh cinta pada Jongin, mengingat pria dengan kulit tan tersebut hanya sekadar sahabat untuknya. Walaupun sejujurnya apa yang dia katakana barusan adalah sebuah kebenaran. Hanya saja Jongin sudah memiliki tempat lain di hatinya, dan itu bukan untuk menjadi seorang kekasih.

“Yak!” Eun Hee kembali berteriak dan berniat berbalik ke arah Da Hye untuk menghadiahkan beberapa pukulan atau cekikan bila perlu. Tapi dasar Kim Jongin yang pengertian, pria itu cepat tanggap dan segera menarik Eun Hee menjauh. Dia hanya tidak mau kekasih over protective-nya mempermalukan diri dengan pertengkaran tak bermutu.

“Au revoir Mademoiselle Lee.” (See you Miss Lee). Ucap Jongin seraya melambaikan tangan. Sedangkan sebelah tangannya yang lain menyeret Eun Hee agar segera menjauh dari sana. Terlalu berbahaya membiarkan Da Hye dan Eun Hee berdekatan. Da Hye adalah tipikal gadis usil yang akan senang memanfaatkan rasa cemburu Eun Hee, sedangkan Jo Eun Hee begitu pemarah dan begitu mudah terpancing. Orang bodoh pun akan tahu apa yang akan terjadi jika keduanya dibiarkan terlalu lama bersama.

“Jangan macam-macam Kim Jongin!” Teriak Eun Hee membalas. Lamat-lamat teriakan itu semakin menjauh dan Da Hye hanya menatap maklum keduanya. Tapi toh gadis itu tetap saja merasa ada sesuatu yang lain di hatinya setiap kali melihat keduanya bersama, sesekali mengumbar kemesraan tanpa rasa rikuh di depan umum.

Jongin dan Eun Hee adalah pasangan yang selalu membuatnya iri. Tidak peduli fakta bahwa mereka kerap kali bertengkar tidak membuat kadar kedengkiannya memudar. Berkurangpun tidak. Jongin yang berkepribadian lembut disandingkan dengan Eun Hee yang meledak-ledak, cenderung over protective. Tapi tetap saja mereka saling melengkapi, mencintai seperti tak ada hari esok. Melihat yang seperti itu Da Hye jadi bertanya-tanya tentang siapa kelak pria yang akan memperlakukannya seperti Jongin memperlakukan Eun Hee? Pria yang akan berbagi dengannya, menemani dan menopang hidupnya.

“Enough staring Miss Lee?” Suara bass itu terdengar lagi. Kali ini ada aura mematikan di dalamnya. Sekujur tubuh Da Hye mendadak kaku, dan dia berusaha mati-matian untuk berbalik.

Di sana ada Oh Sehun yang sudah berdiri angkuh dengan sebelah tangan terbenam di dalam saku celana. Posisi matahari yang menyorot bagian belakang tubuh pria itu hanya semakin memperparah keadaan. Sehun dalam keremangan cahaya saja sudah bisa membuat kewarasannya dipertanyakan. Sedang saat ini Sehun justru berdiri dengan bermandikan cahaya matahari. Untuk beberapa saat Da Hye bahkan tidak bisa melihat wajah Sehun yang sangat menyilaukan. Pria itu pasti berniat membunuhnya pelan-pelan.

“Kenapa kau ada disini?” Tanya Da Hye, saat kesadarannya belum sepenuhnya kembali. Dia refleks mengigiti bibir bawahnya, kebiasan yang sudah begitu mendarah daging.

“Menjemputmu.” Jawab Sehun sekenanya seraya menatap intens Da Hye. Sehun bahkan nyaris tak berkedip. Benar-benar jenis tatapan yang bisa membuat tulang-tulang di tubuh Da Hye meluruh.

“Aku bisa pulang sendiri, Sir.”

Sehun mencebikkan bibirnya mendapati jawaban Da Hye, jelas dia tidak suka dengan sebuah penolakan.

“Apa aku terdengar seperti sedang menawarkan? Aku memaksamu, Miss Lee.”

Da Hye baru saja akan membuka mulut untuk menjawab kalimat Sehun, tapi pria itu sudah mengenggam tangannya dan segera menyeretnya dari sana.

Terdengar pekikan antara kekaguman bercampur iri di sekitar mereka. Bukan rahasia lagi jika Oh Sehun memang sangat terkenal. Dan pria itu jelas jenis pria yang diinginkan baik oleh pria maupun wanita. Bodohnya, mereka tidak tahu bahwa ada monster tersembunyi di balik wajah tampan tersebut. Monster mematikan yang siap bangkit kapan saja. Dan Lee Da Hye mungkin saja akan segera menjadi salah satu mangsa sang monster tampan.

**

Incheon Airport, Incheon

Lee Da Hye terus saja mengigiti bibir bawahnya. Terkadang dia juga menggenggam tangannya hingga kebas. Hal yang sebenarnya amat sangat sia-sia mengingat apa yang tengah dialaminya saat ini. Gadis itu baru saja berimajinasi seperti berkencan di bawah cahaya terik matahari musim panas bersama Oh Sehun yang menawan. Mereka akan meminum lime juice, bergandengan tangan serta melihat ke dalam mata masing-masing dengan penuh cinta.

Tapi dasar Sehun yang tidak tertebak, pria itu justru membawanya ke bandara. Da Hye baru saja akan berimajinasi tentang kencan mendebarkan di belahan bumi lain saat Sehun justru melakukan hal yang menghempaskan imajinasinya.

Bagaimana tidak?

Jangankan sebuah kencan romantis, Da Hye justru harus menikmati pemandangan super memuakkan melihat Sehun yang terlihat sangat dekat, nyaris dikatakan mesra dengan seorang gadis dengan perpaduan wajah Asia dan Eropa.

Sehun segera menghamburkan diri ke pelukan gadis tersebut begitu mereka bertatap muka. Pria itu bahkan tidak canggung untuk memberikan pelukan erat, hangat dan intens padanya. Da Hye yang melihat pemandangan tersebut hanya bisa memutar bola matanya, menahan diri untuk tidak mengumpat. Walaupun jika ditinjau ulang Da Hye sama sekali tidak mempunyai hak untuk marah alih alih mengumpat. Sebab Sehun adalah majikannya dan dia adalah pembantu rumah tangga yang tidak tahu diri jika berharap terlalu tinggi.

“I miss you so much.” Terdengar suara Sehun dalam nada bicara manja. Da Hye bahkan sampai harus mengecek ulang pendengarannya mendengar nada manja yang Sehun ucapkan. Mengingat jika saja daya ingatnya masih baik, Sehun biasa mempergunakan nada otoriter nan dingin yang mengerikan. Tanpa bisa dibantah oleh siapapun.

“I miss you more, Monsieur.” Suara gadis itu terdengar lembut. Dia bahkan mengacak pelan rambut Sehun. Pemandangan yang bisa dikategorikan memuakkan oleh Lee Da Hye.

Sekali ini saja dia ingin tidak tahu diri. Tapi dia ingin mengeluh. Sebab gadis yang tengah dipeluk Sehun mempunyai wajah luar biasa cantik, tubuh tinggi ramping, beraroma wangi, dan Da Hye bisa memastikan bahwa gadis itu berasal dari kalangan borjuise. Da Hye bisa melihat dari setiap yang dikenakan si gadis adalah barang bermerk. Dan untuk Oh Sehun, Da Hye sudah lelah mendeskripsikan betapa sempurnanya pria itu. Jika gadis dan pria yang sama-sama nyaris sempurna disandingkan, lalu akan dibuang kemana orang sepertinya?

“Hey, who are you?” Tanya gadis itu tiba-tiba. Da Hye mengangakan mulutnya, merasa begitu tolol disana. “Yes you, Miss. Who are you?” Ulangnya lembut.

“She’s a new maid in my home, noona.” Sergah Sehun mendahului Da Hye. Untuk alasan yang entah kenapa Da Hye merasa sakit hati diperkenalkan sebagai maid oleh Sehun. Padahal jelas pria itu mengatakan kejujuran. Jadi, kenapa Da Hye harus tersinggung?

“Ah I got it. Hi..I’m Lee Na Ra.” Gadis berperawakan tinggi itu mengulurkan tangan seraya memperkenalkan diri. Dia tersenyum hingga eye-smile nya tercetak jelas. Senyuman yang membuat Lee Da Hye semakin merasa remeh karena kecantikan Lee Na Ra jelas bertambah puluhan kali lipat.

“Greet her Da Hye.” Tukas Sehun dingin. Seperti robot yang sudah diperintah untuk menuruti kemauan tuannya Da Hye segera menjabat tangan dengan kulit sehalus sutra tersebut. “Say your name.” Ujar Sehun lagi. Datar dan dingin, seperti desisan yang mengerikan.

“Lee Da Hye. Nama saya Lee Da Hye.” Ucap gadis itu dengan suara seperti cicitan. Dia masih saja disorientasi dengan lingkungan. Dengan hantaman kejutan berupa perubahan sifat Oh Sehun yang tak tertebak. Nyaris membuatnya frustasi.

“Delighted to meet you Lee Da Hye.” Ujar Na Ra lagi.

Enough for greeting, noona. Kau harus segera beristirahat. Aku sudah mendesain ulang kamarmu. Kau pasti akan menyukainya.“

Setelahnya Sehun segera menarik Na Ra menjauh dari sana, sedangkan Da Hye hanya bisa mengekori kedua sejoli yang terlibat dalam sebuah pembicaraan maha seru soal bisnis. Sialnya dia tak paham satu pun yang mereka katakan.

Dan Lee Da Hye hanya bisa berharap agar dia bisa segera kembali ke mansion Sehun. Di sana paling tidak dia bisa menenggelamkan diri dalam tumpukan pekerjaan rumah yang menggunung. Dalam versinya hal tersebut jelas lebih baik dibandingkan berada di satu tempat yang sama dengan Sehun dan Na Ra.

**

Oh Mansion, Daechi-dong No 19, Gangnam-gu, Seoul

Hari pertama bekerja di Oh Mansion seharusnya dimanfaatkan Da Hye dengan sebaik-baiknya. Tapi apa yang dilakukan oleh gadis itu hari ini benar-benar berpotensi membuatnya terkena kesialan lain. Pemecatan. Sebuah momok menakutkan yang selalu saja membayangi hidupnya. Entah karena memang Da Hye yang merupakan gadis ceroboh atau dia sudah begitu menyukai Sehun dalam waktu singkat, hal tersebut sama sekali tidak diindahkannya.

Da Hye terus menerus membersihkan lantai di depan kamar tamu. Kamar dimana Sehun dan Na Ra segera mengunci diri di dalamnya begitu mereka sampai di mansion tersebut. Lantai marmer yang dia bersihkan bahkan sudah berdecit, mungkin saja Da Hye bisa bercermin di sana. Rasa penasaran itu menggerogoti dirinya. Dan hal tersebut benar-benar menyiksa.

Lee Da Hye masih saja berlalu lalang di depan kamar itu. Sesekali dia menempelkan telinganya disana. Da Hye lupa bahwa kamar-kamar di Oh Mansion kedap suara. Maka yang gadis itu lakukan jelas sebuah ketololan.

“Miss Lee..apa yang kau lakukan?” Suara sehalus beludru milik Park Jung Soo terdengar. Da Hye bahkan nyaris pingsan saking terkejutnya. Dia mengigit bibir bawahnya, memikirkan alasan yang logis untuk dikatakan. Sedangkan otaknya yang pas-pasan jelas tidak mau diajak bekerja sama. Fakta bahwa Oh Sehun bersama seorang gadis di dalam kamar jelas amat sangat menganggu pikirannya. Sedangkan saat ini ada hal lain yang harus dikatakan sebagai penjelasan.

“Apa pekerjaanmu sudah selesai?” Tanya Jung Soo lagi, ada nada menyelidik disana.

Errr..ne, pekerjaan. Itu..” Jung Soo hanya menggelengkan kepala mendapati jawaban mengambang Da Hye. Dia memang tidak pernah meragukan intuisi Sehun dalam menerima orang-orang yang bekerja untuknya. Hanya saja khusus Da Hye dia merasa bahwa tuannya sudah salah.

“Sudahlah.” Sergah Jung Soo, tahu bahwa Da Hye tidak mampu menjelaskan apapun. “Sekarang antarkan wine ini kepada tuan dan nona muda” Jung Soo menyerahkan sebotol wine yang segera diterima Da Hye dengan dahi berkerut.

“Kau sangat penasaran dengan apa yang tuan dan nona muda lakukan di dalam, kan? Jadi sebaiknya kau pastikan sendiri sebelum kau mati penasaran.”

Jung Soo terkekeh pelan, nyaris terbahak sebelum berlalu dari sana. Dia mungkin belum bisa mengetahui kelebihan Da Hye, tapi entah bagaimana pria itu menyukai ekspresi polos Da Hye.

Seperginya Jung Soo, Da Hye menyandarkan tubuhnya di dinding, menghembuskan nafasnya berkali-kali. Dia memandang botol hijau di tangannya, sebuah wine terkenal bernama Château Margaux Grand-Cru dari dataran Bordeaux. Prancis. Dia menarik rambutnya kasar, dan mengulurkan tangan untuk mengetuk pintu dengan cat putih pucat di depannya.

Da Hye sudah bersiap dengan pandangan seperti Sehun dan Na Ra yang berada di atas ranjang hanya dengan selembar selimut, atau pemandangan lebih buruk lain saat mereka berciuman. Lagipula apa yang bisa dia bayangkan dari pria dan wanita dewasa di dalam sebuah ruangan tertutup yang nyaman?

“Come in.” Sehun membuka pintu, menampilkan sosoknya yang terlihat lebih muda dengan pakaian rumahan yang dikenakannya.

Da Hye menunduk dalam, menghindari sebuah pemandangan yang berpotensi merusak indra penglihatannya. Atau lebih parahnya menorehkan luka di hatinya. Tapi mungkin nasib Da Hye sedang tidak buruk-buruk amat, walaupun pemandangan di depannya juga tidak bisa dikatakan menyejukkan kedua matanya. Oh Sehun segera kembali ke sofa dimana ada Na Ra di sana. Dia segera memberikan pelukan protektif seraya memandangi Na Ra yang tertidur pulas. Pria itu bahkan sama sekali tidak menatap Da Hye saat gadis itu memasuki kamar tersebut.

“Letakkan disana.” Tunjuk Sehun pada meja kristal di sisi kanan ruangan. Da Hye mengangguk, buru-buru meletakkan botol wine tersebut hingga menimbulkan suara berdenting yang cukup kencang. “Perhatikan langkahmu Miss Lee.” Desis Sehun lagi. Da Hye mengangguk pasrah. Mulutnya sedang sangat kelu hingga seolah semua suaranya tertahan di tenggorokan.

Gadis itu sudah akan beranjak pergi saat Sehun justru mengangkat wajah dan membuat mereka kembali bertatapan.

“Stay here.” Ujar Sehun penuh penekanan.

“Ne?”

“Sure you hear me well.” Tukas Sehun cepat. Pria itu menyingkirkan surai rambut Na Ra yang menjuntai sebelum mengangkat gadis itu dalam gerakan ringan menuju tempat tidur berukuran king size di sana.

Sehun menatap wajah Na Ra selama beberapa menit, membuat Da Hye merasa dia ingin melompat saja dari lantai dua mansion tersebut atau lari kemanapun guna menghindari pemandangan di depannya. Seolah belum cukup dengan semua siksaan yang dialamatkan untuk Da Hye, Sehun menundukkan wajah dan mengecup dalam dahi Na Ra. Sebuah kecupan yang membuat Da Hye berpikir bahwa mungkin saja jantungnya sudah berhenti berdetak selama sepersekian detik.

Setelahnya Sehun berjalan mengambil botol wine yang dibawa Da Hye, kali ini menatap Da Hye intens. Nyaris seperti pria itu ingin menguliti Da Hye.

“Come to my room.” Ujarnya sebelum berjalan melewati Da Hye.

Gadis itu memejamkan mata beberapa saat, ketika aroma aqua dari tubuh Sehun memenuhi indra penciumannya.

“Quickly Da Hye.” Tegas Sehun dengan nada rendah. Lee Da Hye tidak mau membuat pria bermarga Oh itu mengulang lagi perintahnya. Selain tatapan yang nyaris menguliti, Sehun juga punya suara memerintah yang membuat tubuhnya meremang.

**

Mereka tiba di sebuah ruangan dengan dominasi warna putih pucat yang kental. Ada beberapa lukisan karya Monet, Picasso, hingga Van Gogh yang tergantung rapi di dinding-dindingnya. Di sisi kanan dan kiri terdapat rak buku setinggi nyaris tiga meter dengan koleksi buku yang membuat siapa saja dengan isi otak pas-pasan akan terintimidasi. Berbeda dengan ruangan-ruangan lain di Oh Mansion ruangan tersebut terkesan hangat sekaligus mencekam dalam waktu bersamaan. Sebuah ruangan yang seolah menggambarkan dengan jelas kepribadian pemiliknya yang tidak tertebak.

Da Hye yang masih diselimuti rasa luar biasa kesal melihat kemesraan Sehun dan Na Ra benar-benar tidak bisa berpikir dengan baik. Sedangkan kehadiran Sehun jelas hanya memperparah fungsi kerja otaknya.

Sehun mendudukkan diri di sebuah sofa dengan warna merah darah di sana, duduk dengan gaya bossy seraya menuangkan red wine dalam gelas kristal yang sudah tersedia. Dia menggoyangkan red wine di tangannya, menghirup aromanya dalam-dalam sebelum menyesapnya sedikit. Da Hye bahkan nyaris terjungkal melihat pemandangan di depannya. Oh Sehun hanya meminum wine tapi gerakan pria tersebut jelas tidak manusiawi bagi seorang gadis biasa seperti dirinya.

“Sit Miss Lee.” Ujar suara Sehun dingin. Da Hye dengan tergesa mendudukkan diri di depan Sehun, serta merta mengigit bibir bawahnya. Suatu kebiasaan yang diam-diam membuat Sehun merasa begitu sesak. Sesuatu dalam dirinya nyaris meledak. “Don’t bite your lips.” Tambahnya, dan dengan cepat meneguk wine-nya hingga tandas sebelum memenuhi lagi gelasnya dengan cairan berwarna merah tersebut.

Sorry, my bad habit.” Tukas Da Hye menunduk. Dia merasa serba salah sekarang. Selain karena rasa kesalnya dia juga sudah merasa begitu tidak tahu diri. Sebab dia yakin ketertarikannya pada Sehun bukan sekadar ketertarikan biasa hanya karena pria tersebut memiliki ketampanan yang nyaris membutakan mata. Tapi ketertarikannya sudah berubah menjadi sebuah keinginan, nyaris menjadi obsesi untuk memiliki. Terdengar gila memang, dia baru saja bertemu Sehun kemarin tapi rasanya dia bahkan rela menghabiskan seluruh hidupnya menjadi pekerja di Oh Mansion. Selama dan semampu dia bisa melihat pria dengan kulit putih pucat tersebut.

“Apa pendapatmu tentang Na Ra noona?” Tanya Sehun tiba-tiba. Pria itu berujar dengan pandangan tidak fokus, jelas menghindari kontak mata dengan Da Hye. Padahal beberapa saat lalu Sehun menatap Da Hye dengan begitu intens hingga gadis itu berpikir bahwa mungkin saja Sehun adalah sosok vampir yang tidak perlu berkedip.

“Ne?”

“Jangan membuatku terbiasa untuk mengulang pertanyaan Da Hye.”

“Ma-maaf aku hanya-”

“Jawab pertanyaanku.” Sergah Sehun tak sabar, seperti kebiasaannya.

“Na Ra-ssi? Aku tidak tahu dengan pasti. Maksudku, aku baru saja bertemu dengannya. Tapi..well..dia cantik, tinggi, menarik dan aku rasa dia berkepribadian lemah lembut. Dia gadis yang sudah pasti menjadi impian banyak pria di muka bumi.” Da Hye menjawab dengan jujur. Dia tentu saja tidak sedang membual. Lee Na Ra baru ditemuinya beberapa jam lalu, tapi rasanya dia tidak perlu menjadi seorang jenius untuk menilai gadis tersebut. Sebab Oh Sehun saja bisa menatap Na Ra dengan hangat, bersikap manusiawi padanya. Hal yang membuat Da Hye iri setengah mati.

Di luar dugaan Sehun mengernyitkan dahinya, kali ini menatap intens Da Hye. Sesuatu yang mendadak begitu disesalinya, sebab hasrat itu kini sudah menjalar ke sekujur tubuhnya.

“Noona memang seperti itu. Dia cantik dan baik, tapi kenapa masih saja ada brengsek yang menyakiti hatinya? Bukankah itu terdengar keterlaluan? Terlalu kejam untuk gadis sebaik noona.” Ekspresi Sehun berubah sedih, tatapan matanya kosong. Untuk beberapa detik Da Hye bahkan berani bersumpah jika Sehun sedang ada dalam dunianya sendiri. Dunia yang…gelap dan mengerikan. “Dia mengambil penerbangan pertama dari Manhattan ke Korea karena berdebat dengan ayah dan ibu kami.”

Perkataan Sehun seperti sebuah petir yang menyambar tepat ke kepala Da Hye. Dia masih saja belum paham, kelewat bebal dengan hubungan Sehun dan Na Ra.

“Maaf Sir, apa kalian sudah menikah? Maksud saya-”

“Orangtua Na Ra noona adalah orang tua angkatku.” Sehun lagi-lagi memotong perkataan Da Hye. Gadis itu bahkan nyaris berjingkrak-jingkrak saking bahagianya. Fakta bahwa Na Ra dan Sehun adalah saudara jelas merupakan sebuah kebahagiaan tak terkira. Bahwa mereka bukan sepasang kekasih. Bahwa dia mungkin saja memiliki kesempatan untuk bersama Sehun. Opsi terakhir jelas membuatnya semakin tidak tahu diri.

Da Hye mengulum senyum, sebisa mungkin tidak tersenyum puas karena kelewat bahagia. Sehun yang melihat hal tersebut menyeringai, tahu bahwa Da Hye tengah menahan diri untuk mengekspresikan kebahagiaannya.

“Aku tidak tahu kenapa orang tua kami bersikap begitu keras pada noona. Mengurungnya dalam penjara keluarga Evans, menuntutnya menjadi yang paling sempurna. Menurutmu apa yang harus aku lakukan Da Hye?” Sehun lagi-lagi mengubah topik pembicaraan. Hal yang membuat gadis dengan kemampuan otak pas-pasan seperti dirinya pusing. Dia lagi-lagi mengigit bibir bawahnya, dan Sehun sudah lelah menahan diri. Sekujur tubuhnya bahkan nyaris gemetar karena menahan diri. Dia meletakkan gelas wine-nya dan mendudukkan diri tepat di sebelah Da Hye seraya menangkup wajah gadis itu dengan kedua tangan besarnya.

Don’t bite your lips again. It makes me insane.” Ujarnya putus asa. Da Hye menundukkan wajahnya, merasa bersalah. Tapi toh dia tidak berlari atau menjauh dari sentuhan Sehun. Organ-organ di tubuhnya mengalami disfungsional kerja, jelas tidak mau diajak bekerja sama.

“Maaf, Sir aku hanya-”

Ucapan Da Hye lagi-lagi terhenti saat bibir Sehun sudah berada di atas bibirnya. Dengan cepat bibir pria itu menjelajah mulutnya dengan rakus, mengigit bibit bawahnya. Saat bibir Da Hye terbuka, Sehun dengan cepat menelusupkan lidahnya dan tanpa membuang waktu mengeksplor mulut hangat gadis tersebut.

Da Hye yang mendapatkan serangan bertubi-tubi nyaris kehabisan nafas. Dia memang menginginkan Sehun, hanya saja bayangannya tentang sebuah ciuman pertama yang lembut dan hangat lenyap sudah. Ciuman mereka kali ini adalah ciuman rakus, panas dan menuntut. Gadis itu berniat memegang dada Sehun, sekadar pelampiasan akan ciuman mereka. Tapi Sehun buru-buru menahan lengan Da Hye, menangkupkan kedua lengan gadis itu dan menggenggamnya. Sebuah penolakan halus agar Da Hye tidak menyentuhnya.

Sehun masih terus mencium Da Hye dengan rakus, kali ini sebelah tangan pria itu bahkan sudah melepas tiga kancing seragam maid yang Da Hye gunakan. Dada gadis itu tereksplor di depan Sehun, terhalang oleh bra berwarna merah terang dengan motif renda yang hanya semakin memperparah hasrat pria itu. Sehun memutuskan ciuman mereka, menatap ke dada Da Hye dan tersenyum senang. Dia memindahkan ciumannya ke leher gadis itu, sedangkan Da Hye semakin merasa pusing. Hasrat itu sudah menguasainya, sedangkan dia sama sekali tidak punya pelampisan. Dia mendesah untuk pertama kalinya saat bibir hangat Sehun menyentuh permukaan dadanya. Dia bahkan sudah berniat untuk melepaskan diri. Bukan, bukan untuk kabur tentu saja. Kenikmatan ini terlalu sayang untuk dilewatkan. Dia ingin melepaskan diri dan menelanjangi tubuhnya sendiri agar bibir Sehun bisa berada di atas kulit tubuhnya. Tanpa penghalang.

“Kau bisa menghentikannya jika kau mau Miss Lee.” Ujar Sehun tiba-tiba. Tidak ada nada bossy disana, justru ada nada frustasi yang sangat mendominasi. Oh Sehun jelas nyaris tidak bisa berhenti.

“No, Sir. Aku..shit!” Makinya tiba-tiba saat Sehun menyesap dada bagian atasnya, meninggalkan bekas merah keunguan.

Da Hye baru saja mempersiapkan diri untuk sebuah kegiatan yang lebih panas di antara mereka tapi Sehun justru menjauhkan wajahnya. Dia menatap Da Hye lagi, mengecup bibir gadis itu yang sudah membengkak dan basah akibat ciuman mereka. Tangan terampilnya mengancingkan kembali seragam Da Hye, sebelum memberikan satu kecupan lagi di leher gadis itu. Berlama-lama disana. Seolah Sehun sedang membiasakan hidungnya dengan feromon Da Hye.

“Aku tidak akan menyentuhmu lebih dari ini. Tidak sebelum kita menyepakati semuanya dengan cara yang benar. Maaf ternyata pengendalian diriku sangat buruk.” Sehun berujar putus asa seraya merapikan surai panjang Da Hye yang menjuntai.

“Apa aku akan terdengar begitu tidak tahu diri jika aku mengatakan bahwa aku tidak keberatan?” Tukas Da Hye, dia menggunakan bahasa informal sekarang. Beruntung Sehun tidak keberatan.

“Sejujurnya Miss Lee, itu bukan masalah. Aku berhak melakukan hal yang lebih padamu. Eksplorasi seks dan hal-hal lain yang mungkin belum pernah kau alami sebelumnya.”

“Mwo?”

“Kontrak kerja. Aku sangat menyesal kenapa kau hanya menandatanginya tanpa berniat membacanya terlebih dahulu.”

Sehun lagi-lagi menghempaskan Da Hye dengan mudah, membuat gadis itu harus semakin kebingungan bahkan dengan dirinya sendiri.

“Kau berniat menjadikanku budak seksmu? Bukan pembantu rumah tanggamu? Jadi, pengumuman itu? Ya Tuhan..aku pasti sudah gila.” Da Hye menjauhkan diri dari Sehun, merasa amat sangat ngeri sekaligus tolol dengan dirinya sendiri. Dia ingin sekali berteriak, tapi suara yang keluar dari mulutnya tak lebih seperti bisikan. Nyaris tidak terdengar.

“Apa aku patut disalahkan dengan kecerobohanmu?” Tanya Sehun retoris, kali ini nada bossy itu sudah kembali. Nada yang entah kenapa “sangat Oh Sehun”

Da Hye tidak menjawab, merasa kalah telak. Jelas dia pihak yang patut disalahkan. Kebutaanya pada uang membuatnya melakukan hal ceroboh. Dia seharusnya waspada atau paling tidak menaruh curiga pada Sehun yang mau dengan sukarela menerima dirinya di Oh Mansion. Padahal dia jelas tidak memenuhi kriteria.

“Kau masih bisa membatalkannya jika mau. Masih ada..” Sehun memandang arloji yang dikenakannya, dengan sengaja menggantungkan kalimatnya sendiri. “Dua belas jam. Jika kau masih mau tinggal di sini maka kau tidak perlu melakukan apapun dengan kontrak tersebut. Tapi jika kau berubah pikiran, kau tinggal meninggalkan mansion-ku. Dan jelas, kerahasiaan tentang hal ini adalah hal yang utama. Jika sampai ada orang lain yang mengetahuinya, maka kau harus membayar tuntutan yang aku ajukan.” Sehun berkata dengan nada datarnya. Dia berjalan ke arah kamar mandi di ruangan tersebut. Tanpa merasa rikuh melepaskan kemeja yang dikenakannya sembari berjalan.

Kedua pipi Da Hye memerah, dia begitu bingung dengan hidupnya. Kontrak kerja yang menyesatkan, ciuman panas dan basah bersama Oh Sehun dan seolah hidupnya belum cukup sial karena Sehun dengan tanpa belas kasih menampilkan punggung telanjangnya. Berbeda dengan punggung Sehun di malam hari, punggung Sehun di siang hari jauh lebih menggiurkan. Dengan terpaan cahaya matahari yang menelusup melalui celah celah ruangan tersebut, punggung Sehun untuk beberapa alasan terlihat menyilaukan.

Pria itu berbalik saat tubuhnya sudah diambang pintu kamar mandi, menampilkan dada bidang juga perut dengan abs-abs yang membuat Da Hye bahkan nyaris meneteskan liur.

“Think it again Miss Lee. Walaupun aku tentu berharap kau akan tetap disini. Bersamaku.” Ujarnya dengan senyuman miring yang mematikan.

Lee Da Hye masih berdiri dengan segala ketololan, perasaan takjub juga amarah yang meledak-ledak. Tapi di balik semua itu dia jadi bertanya-tanya, setelah ciuman menggairahkan di antara mereka, apakah dia sanggup untuk pergi dari Oh Mansion? Prospek untuk tidak lagi bisa bertatap muka dengan Sehun jelas bukan pilihan yang ingin dia ambil. Sedangkan di sisi lain, menjadi budak seks jelas tidak pernah terlintas di otaknya. Hanya saja jika sudah menyangkut Sehun, semua menjadi tidak masuk akal.

TBC

Note :

Saya suka bingung dengan mereka yang masih berkomentar “Kok mirip FSOG ya?” “Wah ini FSOG banget” , dll. Tolong biasakan baca author’ note ya. Di bagian atas saya sudah menuliskan dalam huruf merah dan bercetak tebal, masa masih tidak dibaca juga? :((( 

Have a nice day

Na Ra Lee

85 responses to “A THOUSAND SHADOWS CHAPTER 2 by 19930401.com

  1. aku udah nyangka bakalan ada yg aneh2 sm perjanjian kontrak itu. eh ternyata bener, dahye udaj jd asisten rumah tangga masih jd budak seks. tp kan dahye kayak doyan sm sehun deh kekekeke
    dia suka banget kayak ama sehun smpai rela disentuh2 gitu hahha
    kalo aku jd dahye pasti udah2 pingsan karna dijemput di kampus haha

  2. Aku penasaran bngt kelanjutannya eonnie, sehun mengerikan tp jg menggairahkan, wkwkk otakku mulai konslet nih.. daebakk eonnie..

  3. da hye kok kayak murahan banget yeth ..ckck
    ngebayangin eun hee sama jong ini kek di drama the heirs bona sama chan yong . hahaha keren keren .

  4. huwaaaahhhhh…sehuuunn so dangerouss,.masaa…ck,.siapa juga yg bakalan nolakk pesonamuu sihhhh..
    .da hye..gmna perasaanmu..??? aku bingung deh sm da hye..dia ituu sbnrnya mau” aja kan di sentuh sehun,.malu” tapi mauu..hahaa,.ck sama” byuntae..
    so buat apa da hye pergiii..

  5. huwaaaahhhhh…sehuuunn so dangerouss,.masaa…ck,.siapa juga yg bakalan nolakk pesonamuu sihhhh..
    .da hye..gmna perasaanmu..??? aku bingung deh sm da hye..dia ituu sbnrnya mau” aja kan di sentuh sehun,.malu” tapi mauu..hahaa,.ck sama” byuntae..
    so buat apa da hye pergiii…

  6. Yaampunn jadi kontrak kerjanya bukan pembantu tapi budak seks? Njirr sehun parahh wkwk meskipun sehun masih ngasi kesempatan buat menggagalkan kontrak nya tapi mah apa daya dahye sudah tertarik sama sehun beserta sentuhannya 😅

  7. ya ampun budak sex ????? Yg bnar ajahhhh hhhh bner sihhh nandatanganin sesuatu itu memng hrus teliti…. next yahhh
    Hwaiting !!!!

  8. Jadi Na Ra itu noonanya Sehun aku kira pacar atau siapa gitu, lagian mereka mesra si. Hehe. Tuh kan bener pasti isi kontraknya ada kayak gitunya, aduuh lagian Da Hye polos banget ya. Daya tarik Da Hye tinggi banget ya bagi Sehun sampe-sampe Sehun enggk bisa nahan lagi kalo liat Da Hye gigit bibirnya.

  9. Yaampun-_- emg si da hye trlalu tergiur akan sgala hal ttg sehun smpe gk memperhitungkan hal2 yg akan trjadi kedepannya😂
    Dia bener2 pasrah sekalipun hun nyentuh dia? Gk ada penolakan pula._.”
    Ngeliat sehun kyk kehipnotis ya😂

  10. Uahhh jongin saa pacarnya mirip karakter bona sama chanyoung the.heirs. serius jongin cocok bgt dapet karakter itu. Kalo kebanyakan ff jadiin jongin playboy serem atau apa gitu yg sebenernya bertolak belakang sama sifat jongin yg kalem2 gitu hehe. Jujur deh jongin itu orangnya kalem dan gak macem2. Cuma kalo di stage jelas sangar nya keluar. Uuuu makin gasabar baca next chap.

  11. uwh, ternyata perjanjian kontrak itu isisnya gitu2an? yampunn. dahye ceroboh sekali:”
    dahye hayoo mau mbatalin apa engga hayoo?
    wkwk, sehun ternyata sama nara sodara ya:’v tapi ko mesra banget gitu. sehun gasuka kan sama nara?
    dahye trima aja wiss kontraknya:”c
    ijin baca next chap unniee

  12. Pas sehun bilang kalau nara itu saudaranya seketika dahye langsung bahagia banget padahal dia berspekulasi kalau ada hubungan spesial antara nara dan sehun 😀
    tapi dahye koq nggak mikir ya pas di bandara kan sehun panggil noona berarti kan dia kakak sehun :3 dasarnya dahye juga sih yang oon dan ceroboh sampek” itu surat kontrak dari sehun nggak di baca isinya :3

  13. benar juga dugaanku. mereka berdua mereka berdua sama2 memiliki hasrat untuk saling menyentuh. menggelikan 😀 tpi untung sehun masih baik hati, sehingga ada kemungkinan da hye bisa keluar dari neraka jahanam 😀 😀 next kak.. penasaran sama kegilaan mereka berdua

  14. aduh da hye…ga baca isi kontrak nya jadi gini kan akhirnya…
    ceroboh sih,,,
    sehun!! kmu itu eerr….
    ceritanya keren!!! aku suka!!

  15. Wah dah yeee, yaampun beruntung banget dia bisa dicium sehun *eh apa ini
    Lol, dah ye salah ngira dikira cewe itu pacar sehun ternyata malah kakaknya😂😂 lucu ih waktu tau dah ye cemburu, tapi terus dia akhirnya tau kalo cewe itu saudara sehun dan malah dah ye dapet ciuman panas dari sehun😳 astagaaaa, bayanginnya udh😂😂 dan tentang kontrak kerja itu akhirnya bakalan gimana ya :v

  16. Nara Lee???? Kenapa kamu nyempil di situ??? Hehehehe, peace…..
    Oh ya, alurmu bagus. Meski terinspirasi sama FSOG dan di chapter 1 ada bagian yang nyaris sama persis ama FSOG, di chapter ini bener beken, deh. Daebakkkkk!!!! Apa di sini author (red,Lee Nara) akan menjadi penyiksa atau apa gitu?

  17. Pingback: A THOUSAND SHADOWS CHAPTER 3 by 19930401.com | SAY KOREAN FANFICTION·

  18. Sumpah,ternyata sehun ada maunya dibalik kontrak kerja.dan dengan begonya da hye langsung tanda tangan tanpa baca dulu isi kontraknya.Siapa yang patut disalahkan.bakalan gimana nanti da hye,hemb….kepo
    Semangat ya kak na ra,ini keren kak.aku suka bahasa dan gaya penulisan sama alurnya,semuanya jelas banget

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s