[CHAPTER] DAY DREAM – ALMOST IS NEVER ENOUGHT #6A (APPLYO)

Day-Dream-poster.png

Title: Day Dream – Almost is never enough  #6A by APPLYO

Author: Applyo (@doublekimj06)

cast:

– Kim Jongin

– Yoon Ji  Hyun

Genre: Romance, Marriage Life, Drama.

Lenght: Multichapter  

Rate:  PG-16

Poster by leesinhyo @ ART Fantasy

TeaserChapter 1 Chapter 2 – Chapter 3 – Chapter 4 – Chapter 5

If I could change the world overnight
There’d be no such thing as goodbye
You’ll be standing right where you were
We’d get the chance we deserve
Try to deny it as much as you want
[PLAY -> ARIANA GRANDE – ALMOST IS NEVER ENOUGH]

**

 

Bell pintu rumah itu terus berbunyi.

Dengan malas Jongin menatap Jihyun yang kini menatap tajam dirinya, gadis itu terlihat malu sekaligus kaget? Mungkin. Karena wajahnya kini benar benar berwarna merah padam, yang jelas itu hal lucu bagi Jongin, mengoda gadis yang memiliki harga diri tinggi seperti Jihyun.

“Buka pintunya.” ujar Jihyun tajam membuat Jongin bangun dari tempatnya dan menghampiri pintu, pria berwajah datar itu mengkerutkan keningnya melihat jarum jam yang tengah menunjukan waktu yang sangat tidak tepat untuk berkunjung.

“Siapa tamu malam malam begini.” desis pemuda itu lalu dengan segera membuka pintu apartemennya, dan ia berpikir kalau itu mungkin hanya petugas apartemen atau mungkin Chanyeol? Sahabat gila nya itu? Tapi…

“Selamat malam.” desis seseorang ketika pintu itu terbuka.

Sayangnya tebakan Jongin seratus persen salah karena tamu itu bukanlah tamu yang benar-benar bisa dikatakan seorang tamu seperti Chanyeol atau petugas apartemen.

“Hyunjo. Ada apa kau kesini malam-malam.” Jongin hanya mampu membulatkan matanya lebar-lebar, dan tangannya tiba-tiba bergetar gugup lalu menatap sosok itu tak percaya sekaligus terkejut luar biasa.

Oppa, Apa kau tak merindukanku?” gadis itu—Hyunjo- menyipitkan kedua matanya lalu dengan segera merangkul tangan Jongin.

“A-ap-apa—ya-maksudku benar, aku merindukanmu.” Lidah Jongin mendadak kelu dan ia seolah kehilangan semua kata-katanya begitu saja.

Hyunjo hanya tersenyum hangat lalu menatap pemandangan di balik punggung Jongin, pemandangan ruang tamu yang terlihat acak-acakan. “Kenapa kita tidak mengobrol didalam-saja oppa.” ujar Hyunjo lalu melangkahkan kakinya untuk masuk.

Tapi dengan segera Jongin mencegahnya lalu memegang pundak gadis itu. “Hyunjo—di dalam sangat sumpek sebaiknya kita mencari udara segar diluar.” Balas Jongin sedikit gugup lalu sesekali menatap ke bagian dalam rumahnya, mencaritahu apa istrinya masih duduk di ruang tamu atau tidak, tapi kenyataannya sosok Jihyun sudah menghilang, setidaknya Hyunjo tidak melihat Jihyun untuk saat ini.

“Tapi-“ rajuk Hyunjo lalu menatap Jongin, gadis itu sedikit kecewa.

“Ayo!” potong Jongin lalu dengan segera menggunakan sepatu seadanya dan menarik tangan Hyunjo untuk segera pergi. Ia tak peduli dengan hal lain, karena yang terpenting sekarang adalah membawa Hyunjo menjauh dari apartemen nya sekarang juga.

Gadis itu masih berdiri terpaku di balik pintu kamarnya, membungkam mulutnya sendiri dengan kedua tangan. ia merasa kejadian beberapa saat yang lalu adalah timer bom yang siap meledak  detik itu juga dan alasannya bersembunyi disini adalah karena ia takut timer bom itu akan meledak, sungguh gadis itu belum sanggup jika harus menjadi korban dari timer bom itu sekarang.

“Kenapa kita tidak mengobrol didalam saja oppa”

“Hyunjo—di dalam sangat sumpek  sebaiknya kita mencari udara segar diluar.”

“Tapi—“

“Ayo!”

CEKLEK! PLIP————

Begitu terdengar suara pintu tertutup, tubuh gadis itu merosot jatuh ke lantai, jantungnya seolah berdetak seratus kali lebih cepat dibanding sebelumnya, sungguh ia merasa hidupnya akan berakhir detik itu juga.

Yoon Jihyun—gadis itu, yang kini hanya mampu menatap siluent tubuhnya di balik cahaya kecil dari celah celah pintu, menyembunyikan kesedihannya dalam gelap.

“Bodohnya aku karena harus menjadi seorang pengecut yang selalu bersembunyi darimu.”

Jihyun tersenyum kecil lalu memeluk lututnya sendiri dan memegang dadanya yang kini terasa sangat sesak seolah semua pasokan oksigen di ruangan itu benar benar menghilang, rasanya benar-benar menyiksa, membuatnya memaksakan diri untuk bernapas menggunakan mulut.

“Bagaimana kalau aku mulai menyukainya, Hyunjo? Apa kau benar-benar tak akan memaafkanku?”

Disinilah mereka, Jongin dan Hyunjo. terjebak dalam apartemen Hyunjo, Keduanya nampak tertawa kecil lalu kembali menikmati sebuah film di home teater yang barusaja ayah Hyunjo belikan kemarin.

Hyunjo nampak asyik menonton dan menyandarkan kepalanya di pangkuan Jongin, sementara pria itu menatap layar teater tetapi tidak memfokuskan pikirannya pada film yang ia tonton, tapi pada hal lain yang menurutnya lebih penting dari sekedar film untuk saat ini.

Jihyun.

Berulang kali Jongin mencoba mengeluarkan ponselnya dari saku untuk mencari tahu kabar Jihyun tapi dengan segera Hyunjo selalu berbalik arah dan menatapnya, seolah gadis itu tak ingin jika Jongin beralih dari layar home teater  atau dirinya, entah mengapa Jongin merasa Hyunjo menjadi berubah, menjadi lebih possesiv atau terlalu berlebihan— mungkin.

Satu jam menonton terasa benar-benar sangat lama bagi Jongin, pria itu terus berkeluh kesah di dalam hatinya berharap film itu segera berakhir agar ia bisa cepat pulang untuk mengetahui kabar Jihyun, bukan pada kabar tapi lebih tepatnya pada keadaan Jihyun sekarang. Jongin yakin kalau Jihyun tahu siapa yang datang dan menyebabkan gadis itu pergi bersembunyi bahkan sebelum Jongin yakin kalau Hyunjo benar-benar datang.

Awalnya Jongin tak pernah menyangka bahwa Hyunjo benar-benar akan datang ke apartemen nya, karena dulu Hyunjo pernah bilang kalau ia adalah orang pelupa yang tak tahu jalan, apalagi daerah Apgujeong yang cukup jauh dari rumahnya jadi Hyunjo selalu menolak jika Jongin mengajaknya untuk berkunjung. Tapi kali ini? Gadis Kim itu benar-benar datang di jam yang cukup larut dengan alasan hanya merindukan pria itu, Kim Jongin.

.

Jam tengah menunjukan pukul satu malam dan film yang mereka tonton sudah berakhir bahkan sejak lima belas menit yanglalu, tapi Jongin tetap duduk di tempatnya menatap pemandangan layar yang kini menghitam seutuhnya dan tak berniat beranjak karena kini kepala Hyunjo tertidur diatas pangkuannya, membuatnya tak bisa bergerak dengan leluasa, karena takut-takut Hyunjo akan terbangun.

Perlahan-lahan Jongin mengelus pipi Hyunjo lalu memindahkan kepala Hyunjo untuk tertidur di atas bantal, bukan karena ia malas melihat Hyunjo tidur tapi karena ia harus pulang.

“Jangan tinggalkan aku.” Hyunjo memegang tangan Jongin, menggumamkan hal itu tapi Matanya masih tertutup rapat.

“Tapi aku harus pulang Hyunjo-ku sayang.” ujar Jongin lalu mengelus tangan Hyunjo dan berjongkok di depan wajah Hyunjo yang masih memejamkan matanya.

“Aku tidak mau sendirian, Menginap disini atau aku yang ikut pulang bersamamu?” balas Hyunjo dengan sebuah pilihan lalu membuka kedua matanya dan menatap Jongin dengan tatapan memelas.

Jongin membuang napasnya kasar lalu berusaha tersenyum walaupun terlihat dipaksakan “Baiklah. Kau cepat tidur ya.” ujarnya lalu mengusap rambut Hyunjo pelan, membuat gadis itu tersenyum dan menutup kembali kedua matanya.

Well, kini Jongin harus benar-benar bersabar dengan perubahan sifat Hyunjo yang menjadi manja kekanak-kanakan seperti ini, bagaimanapun juga Hyunjo tetaplah sebuah amanat baginya.

Perlahan Jihyun membuka kedua matanya lalu menolehkan kepalanya dan mendapati tempat tidur sebelah kanannya kosong, tempat yang biasa Jongin tiduri setiap hari.

Jadi tadi malam Jongin tak pulang?

Jihyun merapatkan kembali selimutnya lalu menatap langit-langit kamarnya seperti biasa, merasakan udara pagi hari yang sangat segar untuk paru-paru kecilnya dan ia teringat kejadian manis di pagi hari bersama Jongin…

Pagi itu, Jihyun berjalan masuk ke kamarnya untuk membangunkan Jongin dan menyuruh pria itu untuk pergi berbelanja karena persediaan makanan di apartemen Jongin sudah habis. Perlahan Jihyun membuka knop pintu lalu menatap Jongin yang masih tenang berbaring di tempat tidur.

 

Pria itu menggunakan celana tidur pendek dan kaos hitamnya yang terlihat kebesaran membuat kulit dadanya sedikit terlihat, Jihyun berulang kali menahan air liurnya untuk tidak menetes sedikitpun, ia seorang wanita yang terbilang cukup kuno karena baru pertama kali menatap seorang pria tertidur dengan pakaian seperti itu.

 

Jihyun mendudukan dirinya disamping Jongin lalu sekilas menatap wajah Jongin yang menutup matanya rapat, terlihat lebih damai dibandingkan saat ia terbangun yang terbilang sangat menyeramkan dengan wajah dinginnya, dan seulas Jihyun tersenyum.karena Ia tak pernah bermimpi akan membangunkan pria tampan yang berstatus suaminya sendiri di pagi hari seperti ini.

 

“Puas memandangiku? Aku bisa terlambat kuliah jika kau terus memandangku seperti itu.” Tiba tiba mata Jongin terbuka dan ia tersenyum sangat manis, membuat Jihyun sedikit kaget dan menjadi salah tingkah. Gadis Yoon itu mengedipkan matanya berkali-kali lalu membuang muka ke arah lain yang penting tidak menatap Jongin, gadis itu terlalu malu karena tertangkap basah menatap Jongin secara diam-diam, ia yakin wajahnya kini terlihat lebih merah di banding bajunya sendiri.

 

“Aku mengerti aku memang tampan.” ujar Jongin pelan lalu bangun dari tidurnya dan mengecup bibir Jihyun sekilas, mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum amat menggoda.

 

“Selamat pagi, Mrs. Kim Jihyun” bisiknya lalu bangun dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi, nampaknya Jongin sangat menikmati perannya itu.

 

Sementara Jihyun? Masih terduduk, antara terkejut, terpesona dan terlalu malu karena tertangkap basah menatap Jongin. Senyuman dan kata-kata pria itu selalu memabukan, membuat gadis manapun pasti jatuh hati padanya. jadi tak heran jika Jongin terkenal dikalangan gadis dan salah satu korban dari senyuman dan kata-kata pria itu sekarang adalah Jihyun.

 

“Mrs. Kim? Aku suka panggilan itu” batin Jihyun lalu tersenyum sangat cerah.

 

Tapi sayangnya Jongin tak ada disisinya pagi ini, pria itu tak pulang dan kali ini Jihyun merasa perasaannya benar-benar kecewa, entah untuk alasan apa ia kecewa- Untuk Jongin? Tapi harusnya Jihyun sadar karena Jongin memang seharusnya bersama Hyunjo dan bukan dirinya, ia hanya istri sementara untuk Jongin.

Hyunjo memandang Jongin dengan penuh minat, gadis itu terus tersenyum hanya dengan memandang Jongin makan di depannya, dan tangannya tak pernah berhenti untuk menuangkan berbagai makanan ke piring Jongin.

“Makanlah yang banyak. Agar kau kuat oppa.” ujar Hyunjo pelan lalu menuangkan susu kotak kedalam gelas Jongin.

Jongin hanya mampu tersenyum lalu menyantap satu persatu makanan yang Hyunjo buat. “Aku harus pulang dan berganti pakaian, aku ada kelas pagi ini.” ujarnya di sela-sela mengunyah.

“Tidak perlu. Aku sudah membelikanmu beberapa baju dan sepatu.” cercah Hyunjo dengan gaya nya yang manja dan tak terbantahkan.

Ah—begitu.tapi itu merepotkanmu Hyunjo.” Balas Jongin lalu menundukan wajahnya dan menyantap makanannya.

“Sama sekali tidak, lagipula aku suka melakukannya—Kita akan pergi bersama hari ini, kau mengantarku ke kantor lalu kau bisa membawa mobilku ke kampus oppa. Bukankah itu ide yang sangat bagus?” tawar Hyunjo bersemangat.

Jongin hanya mampu mengigit pipi bagian dalamnya lalu menganguk pasrah karena nampaknya sifat Hyunjo benar-benar terlihat sangat kekanak-kanakan dan ia hanya mampu berkata ‘Ya’ lalu menghabiskan roti sandwich itu kedalam mulutnya.

**

Luhan mengeluarkan ponselnya dari saku lalu mendudukan dirinya di sebuah kursi kayu kecil di rumahnya, ia menyandarkan kepalanya sangat nyaman lalu menempelkan ponsel itu ke telinganya.

Luhan menghubungi seseorang dan ia terus tersenyum walau panggilannya belum juga tersambung.

“Hallo. Jihyun” sapa Luhan ketika panggilannya tersambung dan di sebrang sana, gadis yang Luhan panggil Jihyun itu hanya tertawa kecil saat Luhan menyapanya, nampaknya Jihyun juga dalam mood yang baik hari ini.

“Luhan, ada apa?” tanya Jihyun dengan suara yang terdengar benar-benar lembut di telinga Luhan.

“Bisa kita bertemu hari ini?” Luhan tersenyum ketika membayangkan bahwa Jihyun juga tersenyum sepertinya “Ada sesuatu yang ingin aku berikan” ujarnya lalu menatap sebuah kotak persegi panjang berwarna pink di hadapannya.

“Memangnya kau tidak sibuk?” terdengar nada ragu dari suara Jihyun tapi dengan segera Luhan membantahnya dengan sebuah tawa kecil.

“Aku tak akan mengajakmu bertemu jika aku sibuk” balas Luhan dengan tawa kecilnya lagi dan disebrang sana nampaknya juga ikut tertawa walau terdengar samar di telpon.

“Ya kalau begitu, kita bertemu di tempat coffee biasa setelah makan siang” ucap Jihyun dengan suara halusnya dan cukup membuat Luhan tersenyum hanya dengan mendengar suara Jihyun yang halus.

“Baiklah, sampai berjumpa nanti”

**

Jongin hanya memandang minuman nya dengan tak berselera, ia lebih menikmati posisinya yang duduk bersandar di ujung cafe lalu menatap kosong kedalam gelas coffee yang kini masih mengepulkan asapnya.

Pria berlabel cassanova ini tengah menikmati jam makan siangnya di cafe Kyungsoo dan tentusaja ia pergi jauh-jauh dari kampusnya hanya untuk makan gratis dan bertemu sahabat kecilnya itu, tapi sayangnya Kyungsoo tengah sibuk dengan costumer pribadinya lalu dengan berathati meninggalkan Jongin sendirian.

Kyungsoo memiliki sebuah cafe di daerah Jung-gu Seoul, pria bermata bulat itu selalu menghabiskan waktunya di tempat itu dengan menyanyi , memasak dan  melayani pelanggan pribadinya yang rata-rata seorang wanita. Jongin paham dengan profesi Kyungsoo dan memutuskan untuk berdiam diri sendirian di tempat itu.

Pemuda  itu kini merasakan perasaannya yang tak menenentu, memikirkan kehidupannya yang kini sangat berantakan dan ia tak sendiri sekarang, ada beban lain yang harus ia pikul, ada beban lain yang menjadi tanggungannya dan ia merasa lalai sekarang, membuat pikirannya kembali kacau dengan semua permasalahan yang ia buat sendiri. Menutupi satu kebohongan dengan kebohongan lainnya yang membuatnya merasa sangat tercekik perlahan-lahan.

“Apa yang harus aku lakukan sekarang” Jongin mengusap wajahnya frustasi lalu mengigit-gigit kecil bibirnya yang kering, dan memejamkan matanya rapat-rapat, menutupi pikirannya yang kalut seorang diri.

Perlahan Jongin kembali membuka matanya lalu mengamati orang-orang yang berjalan disekitarnya, mencoba menetralisir keadaannya yang sedang tidak baik. Tapi sayangnya  kegiatan Mengamati setiap orang yang berlalu larang membuat Jongin lama-lama  bosan, hingga akhirnya ia pergi dari cafe Kyungsoo dan memilih pulang.

Berulang kali Luhan melirik jam digital yang melingkar manis di tangan kirinya, hampir tiga puluh menit berlalu ia duduk sendirian di cafe itu. Beberapa pelayan wanita kini mulai berbisik-bisik dan menatap Luhan dengan tatapan kagum dan saling berceloteh pujian untuk pemuda berusia 22 tahun itu. Tapi Luhan tak peduli dengan semua itu.

Kedua Mata Luhan tak henti-hentinya menatap ke arah pintu masuk, menatap satu persatu orang yang masuk ke dalam cafe itu dan sesekali menggerutu kesal ketika orang yang ia harapkan muncul ternyata salah.

Tapi detik berikutnya, Pintu itu kembali terbuka menampakan sesosok gadis berambut ikal dengan balutan dress berwarna pastel dan gaya angkuhnya yang khas bak seorang ratu. Gadis itu memandang ke arah kanan dan kiri nampak mencari seseorang.

“Jihyun!” teriak Luhan dari kursinya dan melambaikan tangannya ke arah gadis itu dan dengan segera gadis itu menghampiri Luhan dengan senyumannya

“Maaf aku terlambat” ujar Jihyun dengan napas yang sedikit tersenggal. Gadis Yoon itu kini sedang menstabilkan nafasnya lalu menatap Luhan dengan raut penyesalan.

Luhan hanya mengulas senyuman  manis di wajahnya lalu dengan cepat menggelengkan kepalanya. “Tidak apa-apa, aku juga baru saja datang.” Ujar Luhan berbohong.

“Benarkah? Ah—syukurlah ku pikir kau akan pulang karena menungguku terlalu lama” Balas Jihyun seadanya.

Luhan masih mempertahankan senyumannya lalu memanggil salah satu pelayan di cafe itu dan memesankan sebuah minuman untuk Jihyun. Pelayan bername tag Sun-ah itu memandang Luhan dengan sorot kagum lalu memandang Jihyun dengan tatapan sinis dan bencinya. mungkin?

Sangat berbanding terbalik dengan tatapannya pada Luhan

Jihyun sadar akan tatapan pelayan itu lalu memperhatikan kearah sekitar mejanya. Jihyun menyadari bahwa kini bukan hanya pelayan itu yang memandangnya dengan tatapan sinis tapi orang-orang di sekitarnya juga memperhatikan mereka berdua. Gadis Yoon itu tahu persis situasi yang kini terjadi disana, bahkan Jihyun dapat mendengar bisikan-bisikan aneh dan mengejek dari para pengunjung mengenai dirinya dan Luhan.

Tapi sepertinya Luhan tidak menyadari hal itu dan sibuk dengan pesanannya hingga pelayan itu pergi dari meja keduanya.

“Luhan, kau tak malu bertemu denganku?”

Luhan hanya terdiam, tak mengerti dengan ucapan Jihyun sedikitpun. “Tidak, kenapa aku harus malu.” ujarnya pelan.

“Aku lebih tua darimu, orang-orang pasti berpikir kalau aku tak tahu malu.”

Luhan semakin tak paham dengan ucapan Jihyun dan ia hanya mengernyitkan kedua alisnya, “Lalu?”

“Mereka memandangku dengan tatapan mengerikan Luhan,”

Dengan segera Luhan memandang ke arah sekitarnya dan mendapati tatapan dari beberapa pengunjung yang terus menatap kearahnya dan Jihyun, dan kini Luhan mengerti. “Aku sudah biasa ditatap seperti itu.”.

“Tapi mereka menatapku tajam.” Sergah Jihyun sedikit geram lalu memutar bola matanya malas. “Bisakah kita pergi darisini? Kumohon.”

.

“Kau suka tempat ini?”

Luhan menyodorkan dua kaleng soda dan sebungkus snack kentang ke arah Jihyun. pria itu tersenyum sangat manis lalu mendudukan dirinya di samping Jihyun yang kini hanya terdiam. “Setidaknya disini tak akan ada yang memandang kita berdua.”

Jihyun terkikik kecil lalu membuka kaleng soda yang Luhan berikan. “Ini lebih baik dari yang sebelumnya.”

Pemandangan sungai Han di sore hari membuat Luhan dan Jihyun hanyut dalam suasana yang dirasa terlalu romantis untuk keduanya, menatap hamparan sungai di iringi semilir angin yang meniup-niup kecil dedaunan kering  disekitarnya.

Luhan mulai menceritakan tentang kehidupan keluarganya, kehidupan percintaannya yang berusaja kandas hanya karena alasan sang gadis masih mencintai mantan kekasihnya itu, lalu menceritakan tentang hobinya dan berbagai hal lainnya. Pria berdarah cina itu merasa bahwa Jihyun adalah orang yang memang asyik diajak berbicara. Semetara Jihyun hanya tersenyum dan menanggapi semua cerita Luhan dengan anggukan.

Gadis itu berpikir kalau Luhan adalah orang yang setidaknya lebih baik darinya, tidak memiliki masalah yang sangat berat sepertinya atau hidup menderita untuk mencari sepeser won di kota Seoul.

.

“—itu hadiah untuk pernikahanmu.”

Luhan menyodorkan sebuah kotak persegi panjang dengan ukuran sedang, pria itu mengembangkan senyumannya yang terasa sangat manis di wajahnya.

“A-apa ini” balas Jihyun sedikit terkejut lalu meraih kotak yang Luhan berikan dan membukanya perlahan.

“Hadiah kecil untukmu, kupikir kau akan suka” balas Luhan masih dengan senyumannya.

Tak ingin rasa penasarannya semakin berlanjut dengan segera Jihyun membuka kotak berwarna pink pastel itu yang kini menampakan sebuah sepatu Charlotte Olympia Dotty Suede Pompa seharga 2 juta won.  Sepatu dengan merk faforitenya dan design sangat manis berwarna pink.

4452699753008106

“Luhan, ini…………. bagus sekali.” balas Jihyun berbinar senang lalu mengeluarkan sepatu itu dusnya dan mencobanya dengan perasaan sangat senang.

Luhan ikut tersenyum dan hatinya merasa benar-benar sangat senang karena Jihyun menyukai hadiah pertama yang ia berikan. “Aku yakin kau suka itu.”

Jihyun mencobanya dan ukurannya sangat pas dengan kakinya, dulu saat ia masih berhubungan dengan Junmyeon, biasanya Junmyeon yang selalu memberikannya sepatu mahal seperti ini, dan Junmyeonlah yang menggenalkannya pada dunia glamor seperti sekarang.

“Luhan, terimakasih.”

**

Ting Tong!

Jongin membuka matanya lebar-lebar ketika mendengar suara bell di apartemennya, bukan karena takut Hyunjo akan datang lagi, tapi karena ia merasa tengah menunggu seseorang sekarang dan lebih tepatnya, istrinya sendiri.

Yoon Jihyun.

Tanpa berpikir terlalu lama, Jongin bangun dari sofanya lalu merajutkan kakinya menuju pintu dengan segera. Ia membuka pintunya dan bersiap-siap untuk menghajar Jihyun dengan ribuan pertanyaan. Karena kali ini gadis itu pergi dari apartemen nya tanpa memberitahu kabar apapun padanya.

Tapi saat pintu terbuka, Jongin harus menelan semua pertanyaan itu bulat-bulat karena yang datang ke apartemen nya bukanlah Jihyun, melainkan seorang pegawai apartemendengan membawa semua cucian dari laundry dan menaruhnya di depan pintu.

“Tuan Kim, apa nona Yoon Jihyun ada?” tanya pegawai itu dengan senyum ramahnya.

Jongin hanya menggeleng. “Tidak, memangnya ada apa?” ujarnya dingin.

“Nona Yoon berpesan pada saya untuk datang lagi sore ini, kalau begitu saya permisi jika nona Yoon memang tidak ada.” ucap pegawai itu kembali tersenyum lalu membungkukan sedikit badannya.

Ah—ya. Eh. Tunggu.” ujar Jongin pada pegawai itu, “Namanya bukan Yoon Jihyun, tapi Kim Jihyun. Dia istriku sekarang.” lanjutnya lalu tersenyum menyeringai.

Dan pegawai itu hanya tersenyum ramah lalu mengganguk dan pamit kembali ke tempatnya.

Jongin menutup pintu masih dengan seringai nya, dan kemudian berjalan kembali ke sofa dengan berbagai lamunan bahwa sekarang ia memiliki seorang istri dan menyematkan marganya di balik nama gadis itu. Sungguh menggelikan tapi kenyataannya ia suka hal itu.

Jongin tersenyum menyeringai.

“Kim Jihyun, Pergi kemana kau”

Malam semakin larut dan Jihyun berusaha mengumpat dirinya sendiri karena lupa pada janjinya untuk bertemu dengan pegawai apartemen sore tadi, sejujurnya bukan karena urusan penting tapi karena ia ingin memberitahu pegawai apartemen itu untuk membetulkan kunci kamar mandi yang terkadang macet.

Gadis itu berjalan sedikit tergesa lalu masuk ke dalam pintu apartemen nya, dan hal pertama yang ia rasakan saat masuk ke dalam apartemen nya adalah gelap. semua lampu di apartemen itu mati dan hanya beberapa lampu di dapur dan kamarnya yang menyala.

Dengan langkah tergesa gadis itu berjalan ke arah kamarnya yang menyala, berharap Jongin sudah pulang dan berada disana. Ada perasaan lain dalam hatinya yang terasa sangat menyiksa sekarang dan ia tak paham dengan perasaan itu.

Ceklek~

Jihyun  menoleh kearah belakang dan mendapati Jongin yang baru saja keluar dari kamar mandi.

“Kau sudah pulang?” ujar Jongin saat tahu Jihyun ada di hadapannya.

Jihyun terdiam seketika saat melihat apa yang ada didepannya ini. Jongin? Kim Jongin.

Suaminya dengan jelas memperlihatkan bagian atas tubuhnya secara nyata didepan Jihyun. Memperlihatkan guratan guratan absnya yang terbentuk sempurna dengan warna tan yang terasa mengkilap terpantul cahaya lampu.

GLEK!

Dengan susah payah Jihyun menelan ludahnya lalu mengatur wajahnya senormal mungkin. Mencoba mengalihkan pandangannya kearah lain, tapi tetap saja sangat sulit melupakan bayang-bayang tubuh Jongin yang toples dan mengiurkan itu.

Ada perasaan senang dan bangga dari dalam diri Jihyun saat tahu Jongin sudah pulang, tapi ada perasaan lainnya yang juga ikut bercampur aduk dalam hatinya, antara sedih dan kecewa yang entah terasa terlalu sakit untuk ia rasakan hingga ia sendiri bingung dengan perasaannya saat ini.

Dan sekarang, setelah hampir duapuluh empat jam tidak bertemu dengan Jongin, tiba-tiba pria itu muncul di depan Jihyun dalam keadaan toples, membuat keadaan jantungnya semakin buruk dengan terus berdegum kencang, oh tuhan mungkin otak Jihyun sedang dalam keadaan buruk hingga ia berpikir bahwa Jongin terlihat—benar-benar sexy sekarang.

“Yoon Jihyun? Kau mendengarku?” ujar Jongin lalu berjalan mendekat dan mengusap rambut pinkbrownnya yang basah setelah keramas menggunakan handuk kecil.

Jihyun masih berdiri ditempatnya, telingganya masih bekerja dengan normal mendengar setiap perkataan Jongin padanya. “Ya,-aku,baru pulang” jawab Jihyun gugup dan menutupi kegugupannya dengan cara menghindari tatapan Jongin sekarang.

“Kau baik-baik saja?” tanya Jongin bingung melihat raut wajah Jihyun yang hanya  mengedipkan matanya berkali-kali dan menatap ke arah lain.

“Aku baik.” Balas Jihyun singkat lalu menyimpan tas selempangnya di lemari dan sebuah kotak sepatu pemberian Luhan, Jihyun memejamkan matanya erat-erat berusaha menghapus bayang-bayang Jongin dari pikirannya, ia bisa gila jika terus-terusan membayangkan hal itu.

“Itu apa?” tanya Jongin saat melihat sebuah kotak berwarna pink yang Jihyun masukan kedalam lemarinya. “Hadiah ya? Dari teman kencanmu itu?” lanjutnya asal dan berusaha tak peduli.

“Teman kencan?” Jihyun berbalik dan mengernyitkan sebelah alisnya. “Apa maksudmu?”

Jongin hanya mengangguk singkat sambil mengusap rambutnya yang basah dan tersenyum miring “Teman kencan yang waktu itu mengantarmu dengan mobil audinya itu, kau lupa?”

Jihyun hanya mendelik tak peduli lalu melepas beberapa hiasan di lehernya dan menyimpan benda itu di meja rias. “Jika iya memangnya kenapa. Bukankah kau juga baru pulang MENGINAP dari rumah kekasihmu itu.” balasnya sedikit berteriak lalu menatap Jongin di ujung ranjang yang kini hanya tersenyum miring.

“Maksudmu Hyunjo?”

“Siapa lagi? Dia kekasihmu kan?” ujar Jihyun sedikit berteriak lalu mengikat rambutnya asal dan berjalan ke arah kamar mandi.

“Kau cemburu?” balas Jongin dengan senyum miringnya lalu menahan tangan Jihyun yang hendak pergi ke arah kamar mandi.

Gadis itu menaikan ujung bibirnya dan menatap tangan Jongin yang memegangnya, terasa sangat hangat dan jantungnya kini bertalu semakin cepat saat  bertatapan sangat intens dengan Jongin, oh ini benar-benar memalukan jika Jongin benar-benar mendengar detak jantungnya.

“Cemburu? Mungkin kau yang cemburu padaku, Kim Jongin.” ujar Jihyun pelan lalu mencoba menarik sebelah tangannya.

“Aku memang cemburu.” balas Jongin lalu tiba-tiba menarik tangan Jihyun kedalam pelukannya dan memeluk tubuh gadis itu dalam pangkuannya, menarik ikatan rambut Jihyun hingga terlepas lalu menelusupkan jari-jarinya pada rambut Jihyun.

Jantung Jihyun seolah melompat dari tempatnya dan gadis itu berusaha mati-matian untuk tidak menjerit histeris atau pingsan di tempatnya karena kini Jongin memeluknya, sosok yang selalu membuat perasaannya menghangat walau sejenak, dan yang membuat Jihyun semakin senang adalah karena kini pemuda itu mulai cemburu padanya.

**

“Kyungsoo, bagaimana kalau kita liburan bersama musim panas ini?” ujar Chanyeol bersemangat lalu kembali menyiku temannya itu yang kini tengah fokus membidik bola putih di atas meja billiardnya.

“Bukankah kita memang suka liburan bersama Park dobi.” balas Kyungsoo pelan lalu membungkukan setengah badannya untuk mulai meluruskan stiknya ke arah bola dengan menggunakan sebelah matanya. ”Memangnya apa lagi” lanjutnya pelan.

Chanyeol tersenyum menyeringai ke arah Kyungsoo yang terasa sangat menjijkan dimata pemuda berwajah bulat itu. “Aku ada ide menarik untuk liburan kita.”

“Ide?” ulang Kyungsoo meyakinkan.

“Hmm, Bagaimana jika kita pergi berlibur ke Hokkaido dengan membawa pasangan kita masing-masing .” Chanyeol menyunggingkan senyum kemenangan saat dirasa idenya itu cukup menarik.

Kyungsoo menatap Chanyeol sesaat lalu mengembangkan senyumnya sangat lebar. “Aku sangat setuju.”

Kedua pemuda itu kini tengah menghabiskan waktu malam mereka untuk bermain billiard, permainan faforite untuk mengasah otak ketika jengah yang selalu mereka mainkan di akhir pekan selain berjalan-jalan ke klub malam.

**

Hyunjo melipat kedua tangannya di depan dada seraya bersandar pada knap depan mobil audi berwarna pink miliknya. Matanya sibuk mengawasi lalu lalang mahasiswa dan mahasiswi yang keluar-masuk  gedung Universitas. Gadis Kim itu tampak sedang mencari seseorang.

Di sekitarnya, beberapa mahasiswa tampak berhenti sejenak kemudian sibuk berbisik, mengamati pakaian Hyunjo yang terlalu terlihat formal bagi mereka, Sebuah Blazzer berwarna silver dan mini skrit hitam yang melekat pas di kaki kecil gadis itu-pakaian seorang pegawai kantor swasta. Membuanya nampak seperti seorang dosen baru di tempat itu.

Hyunjo menyipitkan matanya dan berusaha menajamkan pengelihatannya. Sekilas, ia merasa seseorang yang sejak tadi ia tunggu tertangkap oleh jarak pandangnya, dan ia sedang berusaha memastikan bahwa pengelihatannya tidak salah.

Dan ketika Hyunjo merasa mengenali pemuda bermata kecil dengan setelan baju kaos putih berjaket kulit dan tas selempang yang ia belikan, senyum di wajah gadis itu pun merekah lebar. Lalu dengan langkah pasti yang penuh percaya diri, Hyunjo menghampiri pemuda itu yang kini tengah mengobrol dengan ketiga temannya.

“Jongin Oppa~” sapa Hyunjo dengan riang, dan senyum memikat yang masih terukir manis di wajahnya. Tidak lupa gadis Kim itu menyapa beberapa teman Jongin yang nampak terkejut akan kehadirannya.

“Jongin selalu menceritakan tentangmu pada kami.” Ungkap Chanyeol dengan senyumannya lalu  menyeruput orens jus nya lalu kembali menatap Hyunjo.

Pria bertubuh tinggi itu terus melirik-lirik ke arah Hyunjo lalu memperhatikan wajah gadis itu yang bisa di bilang cukup cantik dengan rambut hitam bergelombang dan wajahnya yang kecil—pantas saja Jongin tak pernah mengajaknya untuk bertemu Hyunjo. Sama halnya seperti Chanyeol-Kyungsoo dan Luhan pun melayangkan tatapan yang sama ke arah Hyunjo.

“Tapi sayangnya Jongin oppa jarang menceritakan tentang kalian.” ujar Hyunjo dengan raut kekecewaan.

Chanyeol menganguk paham. “Hmm, sayang sekali Jongin tak pernah menceritakan tentang kami padamu.” gumamnya kecil.

Ya, disinilah mereka, berkumpul di sebuah kafetaria bersama salah seorang gadis yang baru mereka temui tapi sudah sering membicarakan nya. Kim Hyunjo. Gadis yang notabennya adalah kekasih Jongin sejak lama dan beruntungnya Hyunjo karena Jongin tak pernah meninggalkan nya begitu saja  seperti gadis-gadis yang biasa Jongin kencani.

“Oh ya, Hyunjo. akhir pekan ini kami dan Jongin akan pergi ke Hokaido untuk berlibur. Kau mau ikut?”

**

Jihyun sudah duduk manis di dalam mobil Jongin malam ini. Entah mengapa tiba-tiba Jongin mengajaknya untuk makan di luar hari ini dengan alasan ia bosan makan ramyeon dan kimchi kemasan setiap hari.

Apa boleh buat, Jihyun tidak bisa memasak seperti gadis lain apalagi membuat makanan rumahan seperti istri pada umumnya, gadis itu hanya mampu membuat sebuah ramyeon dan memasak nasi. Wajar saja karena sejak ia kecil ibunya selalu sibuk bekerja bahkan sampai ibunya meninggal pun ia masih sibuk bekerja paruh waktu dan tak pernah mengajarinya memasak.

“Mau makan apa kita?” tanya Jihyun pada Jongin yang tengah fokus pada jalanan.

Jongin tampak tersenyum manis dan menoleh pada Jihyun sekilas. “Aku juga tak tau.”

Jihyun memutar bola matanya malas lalu berdecak kesal ke arah Jongin, sungguh Jongin benar-benar menyebalkan sekarang. Mengajaknya keluar untuk makan tapi ia tak tahu apa yang akan ia makan sekarang. Ishh, Jongin jangan main-main” gerutunya kesal.

Jongin terkikik kecil lalu mencubit pipi gadis itu dengan gemas. “Memangnya kau tak mau jalan-jalan dengan suamimu yang tampan ini hoh?” ujarnya dengan senyuman yang terus merekah di wajah Jongin.

Gadis Yoon itu kini memanyunkan bibirnya kesal lalu mengalihkan tatapannya ke arah jendela, menatap jalanan Seoul di tengah malam. Sejujurnya hatinya tengah bertalu-talu kegirangan karena Jongin mengajaknya jalan-jalan malam ini, walau itu hal sederhana tapi akhirnya Jongin memperlakukannya dengan sangat baik dan penuh perhatian layaknya seorang istri nyata untuknya.

“Lalu sekarang kau mau mengajakku kemana Kim Jongin.”

Lampu lalu lintas kini berwarna merah, dan Jongin menghentikan mobilnya lalu menatap gadis yang duduk di sampingnya itu dengan raut polos nya. “Entahlah, aku sendiri bingung.”

Jihyun hanya menganguk lalu menoleh pada Jongin sekilas dan kembali menatap ke arah jendela-lagi. Sungguh ia tak sanggup jika harus bertatapan dengan Jongin dalam waktu lama. “Sejujurnya aku ingin makan makanan saat aku kecil, makanan yang selalu di jual oleh ahjumma di pinggir jalan yang terasa sangat mahal untukku. Tapi ku pikir kau tak akan mau makan makanan seperti itu.”

Pilihan Jongin jatuh pada sebuah kedai pinggir jalan sesuai keinginan Jihyun. Walau sejujurnya Jongin tak pernah suka makan di tempat seperti itu karena tak terlalu menjamin untuk kesehatan, tapi berkat istrinya Jongin terpaksa menginjakan kakinya di tempat itu.

Tempat itu terkesan sederhana karena hanya menggunakan tenda-tenda kecil, tapi ramai pengunjung karena sekarang adalah waktu makan malam.

“Kau yakin suka makan disini?” tanya Jongin sambil melirik Jihyun yang masih sibuk membersihkan kursinya dengan tisu untuk memastikan tempat itu benar-benar bersih untuk ia duduki.

Hmm. Dulu” gumam Jihyun pelan lalu duduk di kursi itu, walau sebenarnya Jihyun ragu ingin makan disini, tapi batinnya seolah memberontak dan menyuruhnya untuk datang dan makan ditempat itu. Well, Ini sungguh sangat aneh mungkin Jihyun tengah mengidam?

“Kau mau pesan apa?” tanya gadis Yoon itu ke arah Jongin lalu memanggil salah satu ahjumma pelayan yang kini tengah berjalan menghampiri meja mereka

“Terserah, apapun akan aku makan.” ujar Jongin pelan dan tersenyum ke arah Jihyun.

“Baiklah— 1 jjajangmyung, 1 soba dan 2 kimbap.

Jihyun berkata pelan dan ahjumma pelayan itu mengganguk lalu mencatat pesanan keduanya dan tidak sampai bermenit-menit, ahjumma itu sudah kembali ke meja Jihyun dengan menu yang mereka pesan. Sungguh pelayanan yang sangat cepat.

“Kau suka datang kesini dulu? Kenapa?” tanya Jongin lalu mengambil sumpitnya dan menunjuk jajangmyun pedas yang Jihyun pesan untuk ia makan.

“Begitulah, saat aku SMA. Ibu dan ayahku meninggal karena sebuah kecelakaan dan membuatku hidup sebatang kara di usia yang terlalu dini. Sungguh kenyataan perih karena untuk makan satu mangkuk seperti ini saja aku harus bekerja paruh waktu siang dan malam” Jihyun tersenyum masam lalu menatap Jongin sekilas.

Raut Jongin berubah menjadi sedikit keruh setelah mengetahui kenyataan masalalu istrinya yang benar-benar sangat sulit. “Aku tak tahu jika masalalumu benar-benar sangat berat. Tapi ku pikir kau selalu hidup senang saat berteman dengan Hyunjo” ujarnya.

“Junmyeon. Pemuda itu yang mengubah kehidupanku menjadi lebih baik. Pemuda itu yang mengenalkanku barang-barang mahal, mengajaku liburan ke luar negri, memberikanku fasilitas apartemen dan pekerjaan yang sangat baik. Aku selalu bersyukur telah bertemu dengannya walau akhirnya ia yang membuatku terluka dan Hyunjo adalah satu-satunya teman yang masih mau berteman denganku”

Jongin menganguk kecil seolah paham perasaan istrinya itu lalu mengusap tangan Jihyun halus. “Mungkin aku salah mengajakmu kesini, jika kau jadi teringat masalalu sepert itu.”

“Tidak apa-apa, lagipula itu hanya masalalu.” Jihyun tersenyum lalu mengambil sebuah sumpit dan mulai menyuapkan sebuah kimbap ke dalam mulutnya.

Jongin terkekeh mendengar Jihyun so.. menguatkan diri tapi raut wajahnya benar-benar terlihat seperti ingin menangis sekarang. “Makanlah dan lupakan semua itu.” balas Jongin dengan senyum manisnya.

Jihyun menganguk “Ini enak sekali Jongin. Kau belum mencobanya?” Gadis itu menunjuk mangkuk soba  yang sedang ia makan dengan sumpitnya.

“Kau yakin ini enak?” ujar Jongin melihat pada mangkuk Soba yang Jihyun tunjuk, tampak tidak yakin. Pemuda itu mendekatkan wajahnya ke dalam mangkuk soba, guna mencium aroma masakan tersebut dan meyakinkannya bahwa makanan itu benar-benar layak untuk dimakan.

Jihyun hanya memandang Jongin dengan perasaan geli, pemuda itu nampak seperti Gu Jun Piyo dalam serial drama Boys Before Flowers yang terlalu jijik untuk makan di pinggir jalan. “Tidak sopan melakukan itu pada makanan yang sudah dimakan.” ujarnya lalu tertawa kecil melihat wajah Jongin yang seolah berkata ‘Kau benar-benar yakin ini makanan?’

Jongin menganguk lalu menyuapkan soba itu ke dalam mulutnya. “Kuharap kau tidak mengajakku untuk makan di tempat seperti ini untuk kedua kalinya” cecer Jongin sedikit cuek tapi kembali menyuapkan soba itu kedalam mulutnya.

“Baiklah, baiklah. Ini yang terakhir tuan Kim Jongin.” balas Jihyun sedikit tersenyum lalu melanjutkan menyuapkan jajangmyun kedalam mulutnya, nampak menikmati hingga piring jajangmyun itu sudah kosong setengahnya.

Kini keduanya sibuk dalam dunia masing-masing, menyantap makanan sederhana yang terasa sangat enak di lidah keduanya.

.

“Kau yakin tokonya di daerah sekitar sini?” tanya Jongin memastikan.

Jihyun menganguk lalu menatap ke arah kanan dan kiri mencari tempat yang memang sedang ia cari malam ini. “Aku yakin tempatnya disekitar sini. Aku benar-benar ingin makan icecream buatan Ahjussi itu.” ujarnya lalu menatap Jongin dengan tatapan memohon.

“Baiklah, ayo kita cari lagi.” balas Jongin lalu kembali berjalan bersama Jihyun ke arah sebrang lalu berbelok dan tak berjarak jauh dari  belokan itu ada toko yang memang sedang mereka cari.

“Itu dia.” Ujar Jihyun senang lalu berlari kecil ke arah toko itu dan dengan segera memesan satu icecream kesukaannya.

Jongin tersenyum kecil melihat Jihyun yang kini sibuk mengantri di toko icecream itu, nampak terlihat seperti anak kecil yang juga tengah mengantri disana. Ada perasaan senang melihat Jihyun tersenyum hanya karna hal sepele dan perasaan itu seolah menjadi tenaga untuk Jongin ikut tersenyum.

“Kau benar-benar tak ingin ini?” ujar Jihyun berjalan ke arah Jongin yang hanya diam di depan toko itu. Gadis itu menjilati lelehan-lelehan icecream yang mengucur ke tangannya, nampak lucu dan menggemaskan di usianya yang sudah cukup dewasa.

Jongin menggeleng kecil “Tidak, perutku kenyang.” ujarnya lalu berjalan berdampingan  dalam gelapnya malam dan ramainya kota Seoul bersama Jihyun yang kini sibuk dengan icecreamnya. “Ah ya Jihyun. Ada sesuatu yang ingin aku katakan.” lanjutnya pelan.

Em?”

“Akhir pekan ini tadinya aku ingin mengajakmu liburan dengan teman-temanku ke Jepang tapi sayangnya teman-temanku terlanjur mengajak Hyunjo.”

“Jadi?”

“Sepertinya aku akan pergi dengan Hyunjo ke Jepang.” ujar Jongin pelan, ia takut kalau Jihyun akan sedih karena ia gagal mengajaknya liburan bersama dan salahkan Chanyeol yang mengajak Hyunjo untuk ikut kedalam liburan musim panas grup mereka.

Jihyun hanya menganguk lalu kembali menjilat icecreamnya dan memaksakan sebuah senyuman ke arah Jongin. “Oh baguslah, karena aku juga akan pergi liburan dengan temanku akhir pekan ini. Kau tak perlu khawatir.” balasnya masih tersenyum walau hatinya terasa sangat perih sekarang, hatinya sakit mendengar Jongin akan pergi dengan Hyunjo untuk berlibur.

“Teman kencanmu itu?” tanya Jongin memastikan lalu menghentikan langkahnya dan duduk di sebuah bangku kecil.

Jihyun hanya menganguk dan tersenyum dengan percaya diri. “Selamat bersenang-senang dengan Hyunjo. jaga dia baik-baik Kim Jongin.” ujarnya terlihat dewasa di banding kelakuannya yang kini tengah menyatap ice cream seperti anak kecil.

Jongin tersenyum gemas lalu mengusap puncak kepala Jihyun “Jaga anakku baik-baik saat kau berselingkuh dengan teman kencanmu itu Kim Jihyun.” ujarnya kembali terkekeh dan menikmati wajah Jihyun yang sibuk memakan icecream.

“Aku akan merawat anakku dengan baik bahkan sebelum kau mengatakannya.” balas Jihyun ikut terkekeh dan menatap Jongin yang kini sibuk melihat ke arahnya dengan senyuman miringnya yang terasa sangat memabukan untuk dilihat. “A-ada apa?” lanjut Jihyun gugup ketika Jongin mendekatkan wajahnya kerahnya.

Dan detik berikutnya pemuda itu menjilat sisa icecream di ujung bibir Jihyun, tanpa lumatan apalagi ciuman, hanya menjilat noda kecil itu lalu mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum miring di depan wajah Jihyun “Jangan menyisakan noda icecream seperti ini jika kau tengah bersama teman kencanmu itu, sweetheart.

..

to be continue..

Annyeonghaseyo teman teman sekalian ^^J

Lyo kembali di bulan agustus yang cerah ini dengan membawa satu chapter abal-abalan untuk kalian😀

Okkey, sebenernya chapter 6 itu panjanggggggggg banget bahkan kurang lebih nyampe 8000/9000words lah kalau gak salah. Maka dari itu Lyo akan membagi part 6 menjadi 2.. part 6a dan part 6b. Dan part 6a ini yang cukup panjang buat Lyo😀 Biar kalian puass karena Lyo ngeupdatenya lama bangett bahkan nyampe lebih dari sebulan TT-TT duh maapin Lyo ya guyss.

Oya, Lyo ngebaca beberapa komenan kalian di chapter sebelumnya dan ada member yang nanyain tentang keberadaan Orangtua Jihyun kan? Nah di chapter ini Lyo kembali jelasin sedikit tentang itu, walau sebenernya udah Lyo kasih tau di chapter 3 kalo gak salah TT^TT dan ada juga member yang bilang ke Lyo kalau seharusnya tokoh utama disini itu harusnya Hyunjo dan bukan Jihyun, haha😀 Kalau mikir kesitu emang iyah sih sosok Hyunjo harusnya jadi tokoh utama tapi sekalilagi Lyo tegasin kalo TOKOH UTAMANYA YOON JIHYUN, haha😀

Ah, ada member juga yang nanyain ke Lyo kenapa judulnya “Day Dream”. Jawabannya silahkan kalian cari sendiri kenapa judulnya daydream, karena yang jelas jawabannya bukan “HARI MIMPI” ya😀 Ada arti lain loh selain itu/?

Dan yang terakhir, lagi-lagi Lyo bilang bigthanks sama kalian yang udah C+L di chapter 5 dan chapter chapter sebelumnyaa😀 Duh Lyo sampe terharu baca komenan kalian yang seru, kocak dan mendukung banget buat Lyo!😀 Bigthanks dan Bigloveyuu guyss :* see ya di chapter 6B Guyss yang insaallah di update minggu ini juga😀 :*

179 responses to “[CHAPTER] DAY DREAM – ALMOST IS NEVER ENOUGHT #6A (APPLYO)

  1. bisa2 itu jd cinta, aku kira kai bakal cerita ke hyunjo’-‘ tentang jihyun’-‘
    bentarr berarti jihyin sm luhan liburanya ke jepang juga/?

  2. Kehidupan pernikahan yg aneh.hahaha mreka udah saling tertarik tp masih pada nggak ada yg nyadar dan lagi omg kan kan kan luhan suka sama jihyun.emang yah udah zamannya suka sama yang lebih tua hahaha.jongin biasa aja sama orang lain pake negesin kalo jihyun istrinya cemburu yaaa

  3. yaahh temen2’a jongin kenal hyunjo duluan deh. kenapa jongin ga ngasih tau temennya tentang masalahnya yaa, yaah siapa tau kan mereka bisa bantu..kasian jihyin nii, dia pasti kan cuma boong biar jongin ga berat ninggalin dia buat pergi ke jepang, sama hyunjo lagi.
    tapi hyunjo secepatnya harus tau fakta yg sebenernya. kasian mereka kalo keadaannya abu2 begini.

  4. hyunjo manjanya ;3; apa jangan jangan dia tau ada orang lain di apartemen jongin?😮
    entahlah aku selalu ngerasa kasian sama jihyun
    menurut aku bukan salahnya dia juga sih itu juga karena kecelakaan
    salahkan lampu yang mati di apartmenen hyunjo sampe mereka ngelakuin hal kayak gitu -_-/?
    ah ini apa yaampun luhan ;3; jadi rindu kamu/? apakabar kamu di cina ya u.u
    jongin disini sweet semoga beneran luhan ga ikut liburan ke jepang dan liburan sama jihyun aja
    asdfghjkl biar impas bales jongin-hyunjo /?
    wkwkwk

  5. Pingback: [CHAPTER] DAY DREAM – TEARS LIKE TODAY #11 A (APPLYO) | SAY KOREAN FANFICTION·

  6. Omaigooott,,, sprtinya Jonginn sudah jatuh trlalu dlm ke pesona seorang Jihyun,,,hahhahaha
    Senneeeeeeenng liaatnya,,,
    Tapi nyesek,,n
    Ah
    Sial,,, cmpur aduk perasaan gue

  7. Pingback: [CHAPTER] DAY DREAM – I’II CRY #11 B (APPLYO) | SAY KOREAN FANFICTION·

  8. Kyaaaaaaaaa Jongin Jihyun super cute banget, apalagi kata2 Jongin ke Jihyun dibagian akhir..
    Aku ngerasa kaya Jongin tuh ga rela ngelepas Jihyun hehe..
    Jongin Jihyun bikin baper aaah..

  9. Ugh mereka ko so sweet bgt sihh hihii
    Tp kasian hyunjo knp jongin sm jihyun blm mau jujur sih klo mereka udh nikah
    Kyknya jongin udh mulai suka nih sm jihyun

  10. Wahhhh mereka cute bgt sich…kaya y blm pd nyadar yach perasaan nya msng2…
    Jgn2 jihyun ma luhan juga yach pergi..jd gmn donk..mmakin complicated adja..

  11. kalo engga salah wkt baca dulu, jongin ngajak hyunjo, luhan ngajak jihyun. mereka ketemuan dehhh. #spoiler hehe…sumpah mereka diem” sweet ya…

  12. Pingback: [CHAPTER] DAY DREAM- BECAUSE I MISS YOU TODAY #12 (APPLYO) | SAY KOREAN FANFICTION·

  13. Ya ampunn luhaaaaannnn kasi ane satu dong bang heelsnyaaa 😂😂😂😂
    Kayanya hyunjo mulai curiga klo memang bner ada apa apa antara jihyun sm jongin… bete ah hyunjo bgitu kasian jihyun sendirian. Ee tp kan ada bang lulu. Knapa jihyun ga sma lulu aja 😂😂😂😂
    Smoga lulu ga liburan breng geng yaaa. Biar ada yg nemenin jihyun :’)

  14. jongin sama jihyun tambah sweet aja
    yah chanyeol ngrusak rencananya jongin yang pengen ngajak jihyun ikut le jepang malah hyunjo yang jadinya ikut

  15. Jd ntr liburannya Jongin-Hyunjo Luhan-Jihyun, hwaaaa pasti bakal shocking moment bgt buat mereka. Wkw. Astagah. Jongin Jihyun ini udh saling cnta blm sih, knp manis bgt. Authornya daebak! Wkw^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s