이젠 천사가 아녜요 – Angelina Triaf

b7a61c6c4dcb83b9b83b753c47acd481

Angelina Triaf ©2015 Present

이젠 천사가 아녜요

(Not An Angel Anymore)

Lee Hongbin (VIXX), Park Cheonsa (OC) | Fluff, Fantasy | G | Ficlet

0o0

Bunga bermekaran selalu. Aliran jernih air yang menyegarkan pandangan siapapun yang melihatnya. Kicauan burung seakan tak ada habisnya menemani suasana surga yang indah. Selalu seperti ini, dan akan terus seperti ini. Tak luput juga seorang malaikat cantik yang sedang duduk terdiam memandangi air mancur di hadapannya. Surai panjang yang indah membingkai manis wajahnya. Matanya yang berkilau hijau berpantulan dengan cahaya surga.

“Menanti seseorang?” Sebuah suara membuatnya menoleh dan mencari dari mana asalnya. Seorang pria yang juga malaikat tersenyum manis ke arahnya, yang ia balas dengan senyuman pula. Pria itu duduk, ikut terdiam karena sang gadis yang juga masih terdiam, tanpa mengucapkan sepatah apa pun.

Keduanya masih terdiam, menikmati waktu berdua yang sangat jarang mereka rasakan. Tugas masing-masingnya membuat mereka terlalu sibuk dan jarang bertemu. Namun alasan mereka dapat bertemu seperti ini adalah bukan karena waktu luang. Pertemuan ini adalah sebuah kata terakhir yang dapat gadis itu sampaikan. Sebuah salam perpisahan.

“Jadi, kau benar-benar akan pergi?” Tanya sang pria, masih sambil menatap air mancur di hadapannya—objek yang sama dipandang oleh sang gadis. Malaikat manis itu mengangguk, antara rela dan tidak.

Sang pria tersenyum, mengusap rambut panjang sang gadis yang menutupi sayap putih berkilaunya yang indah. Mungkin gadis manis itu akan merindukan malaikat di sampingnya, yang selalu memberikannya semangat dan kasih sayang. Mungkin ia akan merindukan segala yang ada di surga ini. Ketenangannya, perasaan nyaman, dan segala hal yang berhubungan dengannya. Termasuk pria di hadapannya.

Tak sadar, setetes air mata jatuh dari pelupuknya. Gadis itu menangis dalam diam, namun bagaimanapun juga pria itu tahu apa yang terjadi, apa yang gadisnya rasakan. Sebuah perasaan sakit. Perasaan takut kehilangan yang sangat. Namun ini hanya sementara. Ya, setidaknya sampai takdir mempertemukan mereka kembali.

“Bukankah Tuhan sudah berkata padamu? Dunia itu indah, kau akan sangat menyukainya—“

“Tapi, Hongbin—hiks… Aku…” Tak kuasa, gadis itu memeluk sang pria erat, tak rela melepasnya begitu saja. Hidupnya yang abadi di surga ini harus ia relakan untuk turun ke bumi. Menjadi penghuni dunia dengan segala rintangan di dalamnya. Tidak, bukan itu masalahnya. Ia hanya tak ingin berpisah dengan Hongbin, itu saja. Tak peduli serumit apa pun sebuah jalan hidup, asal menjalaninya bersama Hongbin ia pasti sanggup. Namun sebentar lagi mereka akan berpisah, dan gadis itu tak mau hal itu terjadi.

“Aku akan selalu menjagamu dari jauh. Percayalah.” Dibalasnya pelukan itu dengan sebuah kehangatan yang menenangkan.

“Tapi, Hongbin—“

“Cheonsa, apa kau ingat janji kita sewaktu diciptakan?” Hongbin menatap mata Cheonsa dalam, menggali ingatan gadis itu tentang hari penciptaan mereka. Tangis Cheonsa mereda, ia berusaha mengingat semuanya.

“Selalu percaya pada kerja takdir Tuhan, karena Ia tak akan pernah salah dalam menentukan segalanya,” ucap Cheonsa pelan. Betapa malunya ia. Ia telah meragukan kuasa Tuhannya.

Tidak, bukan seperti itu! Ia terlalu takut, hanya itu.

“Ingatlah, aku akan selalu menjagamu. Hari ini, bahkan selamanya.”

Sebuah kecupan manis di kening Cheonsa menjadi penutup keraguannya. Gadis manis yang mulai kembali mempercayakan dirinya pada sang pencipta. Malaikat yang semakin menumbuhkan keberaniannya menghadapi segala takdir di hadapannya. Lalu Hongbin? Oh, ia hanyalah malaikat yang sangat menyayangi Cheonsa. Dan walaupun tak rela dengan kepergian gadisnya, Hongbin akan selalu tersenyum. Demi malaikat manis bernama Cheonsa itu.

0o0

Gadis bermata hijau itu tengah duduk manis di sebuah kafe, dengan segelas milkshake stoberi dan tiramisu yang bertengger manis di hadapannya. Ia tengah membaca buku pelajarannya, memahami isinya untuk kemudian dijadikan referensi atas skripsinya. Yap, tak terasa telah dua puluh dua tahun sejak ia dilahirkan ke dunia. Umurnya yang telah dewasa ini semakin menjadikannya bertanggungjawab dan mandiri dengan hidupnya. Ah, jangan lupakan satu hal penting lainnya. Semakin cantik, tentu saja.

“Permisi, Cheonsa Nuna?” Gadis manis itu mengangkat pandangannya, mendapati seorang namja yang mungkin hanya lebih muda beberapa tahun darinya, menatapnya dengan bola mata hitam jernih yang indah. Cheonsa mengerutkan keningnya, merasa pernah melihat pemuda itu, namun entah di mana.

Nuguseyo?”

“Ah iya, saya junior Nuna di universitas. Kita satu kelas dalam beberapa mata kuliah. Boleh saya duduk di sini?” tanyanya ramah, dengan mata yang melengkung sabit. Indah. Cheonsa terdiam, lalu setelahnya menjawab dengan anggukan dan seulas senyum tipis.

Pemuda itu memesan sesuatu dan setelahnya hening, tak ada percakapan di antara mereka. Pemuda itu ikut mengeluarkan buku dari tasnya dan membacanya, seperti halnya Cheonsa yang kembali fokus terhadap bukunya. Namun sulit. Cheonsa justru memikirkan siapa pemuda ini. Ah lebih tepatnya di mana ia pernah bertemu dengan pemuda ini selain di kampus? Kegiatan membacanya terganggu. Segalanya buyar, Cheonsa sangat penasaran.

Pesanan pemuda itu datang, segelas milkshake cokelat dan strawberry cake. Tunggu, rasanya Cheonsa memiliki suatu ingatan tersendiri antara cokelat dan stoberi. Namun apa itu? Melihat senior-nya yang tidak tenang seperti itu membuatnya tergoda untuk bertanya, “Cheonsa Nuna? Apa ada yang salah?”

Cheonsa tersadar dari lamunannya dan kini menatap pemuda itu. Ia memasang wajah polos, membuat sang namja tertawa kecil melihatnya. Nuna satu ini sangat cantik. Akhirnya setelah mengumpulkan segala keberaniannya, Cheonsa menanyakan sesuatu. “Maaf, tapi aku belum tahu namamu.”

Eoh? Lee Hongbin imnida.” Senyumnya membuat matanya benar-benar melengkung sipit, sangat manis. Oh tidak, rasanya Cheonsa mengenal senyum itu. Namun siapa, dan di mana?

“Kau suka cokelat?” tanya Cheonsa. Kini ia sudah meletakkan bukunya dan terfokus sepenuhnya pada Hongbin. Hongbin yang diperhatikan seperti itu juga ikut meletakkan bukunya, menunjuk ke arah milkshake-nya. “Ini? Oh, bukan. Kekasih saya yang sangat menyukainya, jadi saya ikut menyukainya.”

Jantungnya. Perasaan yang pernah Cheonsa rasakan sebelumnya. Apa ini? Sesuatu bergejolak dalam hatinya. Seperti ada sebuah pecahan ingatan yang Cheonsa lupakan. Segala hal penting yang tertanam sangat jauh dalam lubuk hatinya, memiliki ruang tersendiri untuk menyimpannya. Ingatan apa itu? Perasaan apa yang mengganggu sistem kerja tubuh Cheonsa? Semua bergejolak di luar kendalinya.

“Cheonsa, cobalah buah ini. Rasanya sangat manis.”

 

“Ini buah? Warnanya aneh seperti buah yang busuk.” Pemuda itu tertawa mendengar ucapan Cheonsa yang polos.

 

“Warnanya memang seperti itu, cokelat. Namun rasanya manis. Cobalah.”

 

Cheonsa membuka kulit buah itu—dan memang agak keras. Namun setelah memasuki mulutnya, Cheonsa membulatkan matanya. “Sangat manis. Buah ini akan menjadi salah satu kesukaanku di surga.”

 

“Cheonsa Nuna? Melamun lagi?” Suara lembut Hongbin kembali menyadarkan Cheonsa. Benar, Cheonsa mengingat hal itu samar-samar. Seorang pemuda yang memberikannya buah cokelat. Ia tak mengingat siapa pemuda itu. Namun suaranya.

“Apa kita pernah saling mengenal? Di luar lingkungan kampus?” Cheonsa benar-benar penasaran. Hongbin terlihat terlonjak sedikit, sampai ia kembali tersenyum dan meminum milkshake-nya. “Mungkin Cheonsa Nuna pernah melihatku di suatu tempat,” jawab Hongbin.

Cheonsa mengangguk kecil. Tak sengaja ia melihat jam di pergelangan tangannya. Gawat, sepuluh menit lagi kelasnya akan dimulai. “Ah, aku terlambat! Hongbin, aku permisi—“

Nuna ada kelas Mr. Song?”

“Bagaimana kau—tunggu—Lee Hongbin? Asisten Mr. Song?” Cheonsa terperanjat. Bagaimana mungkin ia tak mengenali asisten dosennya sendiri? “Maaf, aku selalu melamun di kelas, jadi—“

“Aku tahu. Cheonsa Nuna selalu memandang ke luar jendela, tepat menghadap pohon ceri yang besar di taman.” Hongbin menghabiskan potongan terakhir kuenya lalu bangkit dari duduk, merapikan bukunya dan kembali menatap Cheonsa. “Ayo Nuna, jika tidak cepat nanti kita bisa terlambat.”

“Bagaimana kau tahu? Ya! Hongbin!” Cheonsa buru-buru menghabiskan kuenya dan berlari kecil mengejar Hongbin yang baru saja keluar melewati pintu dan terlihat memasuki mobilnya. Sial, Cheonsa dibuat penasaran olehnya.

Dan tanpa Cheonsa tahu, Hongbin tersenyum melihat wajah manisnya yang penasaran dan kaget. Masih sama seperti dulu, dan akan selalu sama. Selamanya.

FIN

4 responses to “이젠 천사가 아녜요 – Angelina Triaf

  1. kayanya hongbin masih ingat masa2 mereka disurga deh, tapi cheonsa nya lupa.
    tuhan emang maha adil ya *padahal author* hihi😀

    aa.. bagus ceritanya😀
    lebih bagus lagi kalo ada lanjutannya hihi.. ^_^
    keep writing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s