Ambition [Chapter 6] by Sehun’Bee

Ambition

Sehun’Bee

.♥.

Sehun – Hanna – Skandar

.♥.

Kai – Jenny

.♥.

Romance – Drama

.♥.

PG-17

Multi-Chaptered

.♥.

Credit >> poster and Header Title by : popowiii | SHINING VIRUS

..♥..

First Sight [1]Nice to Meet You [2]Plan [3] I lose, You Fall [4] You’ll be Mine [5]

Lie [Now]

.
.

-Ambition-

Terbakar. Panas. Membara. Senyum tipis bersurat. Penuh keanggunan namun menipu. Sehun muak melihat itu. Rose wine dalam genggaman kandas dalam satu kali teguk. Berusaha terlihat tenang namun tak bisa. Pemandangan di depannya terlalu manis hingga Sehun mual, ingin muntah. Tutur kata gadisnya terlalu lembut kala berbicara dengan pria yang membuatnya bertanya beberapa menit lalu.

Bagaimana bisa Skandar berada di sini? Bagaimana bisa mereka saling mengenal? Dan Bagaimana bisa dirinya baru menyadari lelaki yang dimaksud Hanna semalam adalah karibnya kala menyelesaikan gelar MBA di Italia? Oh, shit. Sehun lengah. Akan sangat lucu jika dirinya dan Skandar sampai bertengkar meributkan wanita. Sayang, api cemburu telah menguasai—Sehun tak peduli jika itu sampai terjadi. Ia bahkan tak tahan melihat Hanna tersenyum dan berlaku manis pada pria lain. Itu membakarnya dalam diam.

Tahan dirimu, Sehun. Beribu kali ia ingatkan dirinya untuk tidak menarik Hanna dari duduknya sekarang juga demi menjauhkannya dari Skandar. Rose wine pun kembali menjadi pengalih lantaran merasa menjadi orang ketiga.

“Aku pikir setelah lulus dari Bocconi School kita tidak akan bertemu lagi, Sehun … mengingat kau yang begitu sibuk bahkan sejak kita masih duduk di bangku kuliah. Kau bahkan tak hentinya pulang pergi Milan-Frankfurt.” Setelah menjadi pendengar setia, akhirnya Sehun merasa dirinya dianggap. Manik elangnya bergilir tajam, menatap pemilik suara.

“Jika bukan karena ketidaksengajaan, kita tidak akan bertemu.” senyum tipis Sehun berikan. Ada untung di balik anggukan kepala kala Skandar mengajak berbincang bersama dengan dalil makan malam. Setidaknya, Hanna tidak berduaan dengan pria lain selain dirinya.

“Kita makan bersama malam ini … kebetulan sekali, karena esok aku tidak bisa memenuhi undangan Ayahmu.” Hanna mengambil alih. Alis Sehun terangkat satu, ‘makan malam bersama?’ ulangnya dalam hati. Tak lama, senyumnya membingkai. Hei, Hanna baru saja membatalkan pertemuan antar keluarga yang akan membuatnya semakin cemburu.

“Daddy pasti akan sangat kecewa …,” ungkap Skandar, namun wajahnya tulus menerima. Pria itu tak masalah, toh, keinginannya untuk makan malam bersama Hanna sudah terpenuhi, meski ada Sehun di antara mereka dan ada satu hal yang mengganjalnya karena itu.

“Esok, aku ada jadwal penerbangan ke Dubai,” jelas Hanna. Sama sekali tak ada penyesalan pada nadanya meski sudah membatalkan acara penting tersebut secara sepihak. Tanda tanya Skandar pun semakin besar, namun belum saatnya untuk dimuntahkan. Diliriknya kembali karibnya yang tak kunjung menyentuh daging panggang di meja, hanya wine yang pria itu biarkan masuk ke dalam perutnya.

Berbeda dengan Hanna yang justru disibukan dengan santapannya, namun tak ingin wine sebagai minumannya. Wajah tenangnya tanpa bahasa, membuat Skandar kesulitan menerka apa yang kiranya tengah dipikirkan gadis itu hingga bersikap tak peduli pada … Sehun.

“So, apa hubungan kalian?” tak kuasa memendam rasa ingin tahu, akhirnya pertanyaan itu berhasil menggelitik lidah hingga bergerak. Hanna yang mendengar pertanyaan itu sempat berhenti menggerakkan pisaunya, namun sama sekali tak berniat menjawab. Dia tahu, Sehun sedang kacau lantaran mengetahui hubungan antar dirinya dan Skandar yang berpotensi melaju ke arah yang lebih jauh. Akan sangat berbahaya jika sampai bibir mungilnya yang mengatakan kejujuran, mengingat Sehun yang begitu berharap padanya. Jadi, biarkan saja Sehun yang menjawabnya sendiri. Akan tetapi, untuk apa Hanna menjaga perasaan pria itu sementara dirinya hanya menganggap hubungan mereka tak lebih dari rekan bisnis?!

Namun, setelah beberapa detik berlalu, Sehun tak kunjung bersuara. Pria itu terlalu sibuk memadamkan api cemburunya yang tak henti berkobar. Hanna yang menyadari keegoisan keduanya pun mengalah. Punggungnya dilemaskan pada sandaran kursi. Senyum kembali gadis itu berikan pada Skandar yang duduk tepat di sebrang. Sehun yang kembali melihat senyum manis itu untuk orang lain pun semakin panas, mengingat saat bersamanya, Hanna hanya satu kali tersenyum untuknya. Namun kini, Sehun bahkan tak bisa menghitung berapa kali Hanna tersenyum untuk Skandar. Damn!

“Kami rekan bisnis,” jawab Hanna, selembut angin. Tangan kanannya terulur di bawah meja. Menyentuh tangan Sehun yang sudah dingin menahan amarah. Mengelusnya perlahan hingga per satuan Ampere merambat aliran darah pria itu. Tak lama, Hanna menyelinap. Mengisi sela-sela yang kosong pada jemari pria itu. Mencoba untuk memadamkan api cemburu yang Hanna tahu sudah berhasil membakarnya.

“Kalian terlihat lebih dari sekedar kata ‘rekan’,” meski tak melihat tautan tangan keduanya di bawah meja, Skandar sudah menaruh rasa curiga. Mengingat awal pertemuan mereka di depan lift, di mana keduanya terlihat seperti sepasang kekasih.

“Bukan hanya kau yang mengatakan itu. Para pemilik saham tempat kami bernaung pun salah paham.” Hanna kembali menjawab. Remasan dalam genggaman ia berikan. Mencoba untuk tetap menenangkan Sehun kala bibirnya terus membakar.

“Syukurlah,” tantang Skandar secara tidak langsung. Sehun bertahan dalam amarah yang terpendam. Semakin menjadi kala Hanna terus mempererat genggamannya. Pria itu tak mengerti apa maksud Hanna menenangkannya hingga membuatnya semakin berharap.

Wine pun kembali menjadi pelampiasan. Sayang, sebelum gelas di depannya kembali terisi Hanna sudah mengambil alih, “Berhenti, jika kau tidak ingin mengalami Jet lag! Ingat, esok hari penting untukmu,” tegurnya kemudian. Mengingatkan Sehun bahwa alkohol tidak boleh diminum sebelum melakukan perjalanan lintas waktu.

Berhentilah bersandiwara, Hanna. Kau menggenggamku hanya karena tak ingin pria di depanmu ini tahu aku mencintaimu. Dan kau peduli padaku tanpa menaburkan ketulusan di dalamnya. Oh, sial. Aku menyukai caramu bermain.

“Terima kasih sudah mengingatkan.” Tak ada nada hangat seperti biasa Hanna dengar. Sehun benar-benar marah terhadapnya hanya karena terlihat akrab dengan Skandar, bahkan pria itu terlihat tak acuh pada teman lamanya tersebut. Kata-katanya pun tak didengar, Sehun justru melanjutkan kegiatannya menuang wine. Sungguh berlebihan. Namun Hanna menikmati kecemburuan pria itu. Entah mengapa.

Makan malam itu pun berlangsung khidmat. Diisi dengan obrolan yang tak jauh dari kata ‘bisnis’ hingga lupa terhadap waktu yang tak bosan berputar mengiringi. Tautan tangan Hanna sudah terlepas. Kini, gadis itu tahu, keahlian Sehun memasak didapatnya kala menetap di Milan, Italia. Skandar bahkan tanpa malu membeberkan kekonyolan dirinya, Sehun, dan satu temannya yang lain saat memberantakkan isi dapur. Ia meyakinkan Hanna bahwa hanya pada saat mereka bertiga tingkah gila itu muncul, bahkan mereka tak segan melepas segala bentuk kedok kebangsawanan yang menjunjung tinggi harga diri.

Sementara gadis itu hanya tersenyum menanggapi betapa manisnya Skandar saat berbicara. Sungguh sangat berbeda dengan Sehun. Pria di sebrangnya itu terlihat jauh lebih aktif, meski memiliki otot wajah yang sama dengan pria di sampingnya. Dengan kata lain, Skandar hanya terlihat dingin di wajah namun akan terlihat manis kala berucap. Sementara Sehun sama sekali tak memiliki perbedaan yang berarti dari wajah dan cara bicaranya. Namun setidaknya, hanya Sehun yang mampu membuatnya berdebar dalam beberapa ungkapan.

“Aku rasa, Sehun yang paling kaku di antara kalian bertiga,” timpal Hanna, mencoba untuk mendinginkan suasana hati Sehun.

“Kau benar,” Skandar menyumbang tawa kecil ke udara. Bibir Sehun melentur hingga membentuk senyum kala mendengar Hanna membahas namanya. Suasana hangat pun perlahan tercipta.

“Bukankah kau memang menyukai pria yang berwibawa?” Sehun mulai memancing. Skandar mengerti ke mana arah pembicaraan pria itu. Jawaban Hanna pun dinantinya.

“Tidak juga. Aku menyukai pria yang mampu membuatku berdebar.” Senyum Hanna berikan pada kedua pria yang duduk satu meja dengannya tersebut. Sayang, Sehun tak menyadari pria yang di maksud adalah dirinya. Jika tahu, mungkin api cemburu itu akan berubah menjadi bunga-bunga asmara.

Kini, Hanna mengerti perasaan kalut yang membuatnya terombang ambing. Kedatangan Skandar-lah yang telah berhasil menyadarkannya akan hal itu. Bahkan ia tak menyangka akan kebodohannya dalam mengartikan suasana hati. Sampai-sampai tak menyadari dinding kokoh es dalam hatinya telah berhasil Sehun sentuh hingga mencair meski tak sepenuhnya. Namun, Hanna tidak akan membiarkan Sehun menggenggamnya secara utuh sebelum kepercayaan berhasil menyelimuti hatinya.

“Bukanlah hal mudah membuat wanita sepertimu berdebar,” timpal Skandar. Sehun membenarkan, mengingat usahanya yang belum membuahkan hasil di Minggu ketiga mengenalnya. Padahal dulu, ia bisa menaklukan wanita hanya dalam satu kali pertemuan.

“Coba saja,” tantang Hanna, ingin menguji pria di sampingnya lebih jauh dengan membiarkan Skandar masuk ke dalam permainan.

 

-Ambition-

Jet lag Sehun alami setelah delapan jam mengudara dari New York City ke Frankfurt, Jerman. Pria itu tak hentinya mengumpat sesal tak mendengarkan nasehat Hanna lantaran cemburu yang berkepanjangan. Terlebih selama di pesawat dirinya disibukan dengan kembali membaca susunan materi rapat agar tak berakhir memalukan kala menggantikan sang Ayah. Orang-orang bersetelah serba hitam lengkap dengan earphone di telinga menyambut kedatangannya, lantas menggiringnya menuju Villa Kennedy yang berada tak jauh dari bandara internasional.

Matanya mulai terpejam perlahan kala mobil yang membawanya mulai melaju. Sehun tak tahan ingin mengistirahatkan netranya, namun rasa mual di perut membuatnya tak mampu menutup mata lama. Sebuah benda pipih berlayar datar pun menjadi pengalih agar tak muntah. Dinyalakannya kembali benda tersebut setelah dimatikan selama berada di pesawat. Sebuah pesan singkat pun tampil di layar ponselnya.

Sudah sampai? Bagaimana rasanya Jet lag?

Sehun tak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum saat membaca pesan singkat dari pemilik ID ‘My Future Wife’ di ponselnya. Secepat kilat dibalasnya pesan tersebut.

Merindukanmu jauh lebih menyiksa. I need you here.

1 menit.

2 menit.

3 menit.

8 menit.

14 menit.

Sampai Sehun tiba di depan Villa Kennedy, gadis itu tak kunjung memberi balasan.

villa kennedy

Hah.. Kau selalu begitu, Hanna. Sehun menyerah menunggu balasan dari Hanna. Gadis itu tak akan kembali membalas pesannya, namun fokus Sehun tak hentinya terbagi pada jalanan di depannya dan ponsel di genggaman. Tiba di dalam kamar pun rasa penasaran itu masih ada, sampai-sampai melupakan mual di perut. Lagi-lagi Sehun terlalu berharap, beruntung harapannya berakhir nyata kala ponsel yang telah dilempar asal ke tempat tidur itu kembali berkelip. Lekas Sehun meraihnya kembali demi membaca deretan huruf yang diketik gadis itu. Tubuhnya pun lantas terlentang saat membaca empat kata balasan tersebut. Bahkan tak bosan Sehun membaca ulang kata demi kata yang terlampau singkat itu dengan senyum bahagia.

Esok, aku ada untukmu.

Sehun tahu Hanna hanya mempermainkannya, tetapi pria itu tak peduli. Tekadnya terlampau besar untuk menjadikan Hanna bagian hidupnya. Ia akan berusaha lebih keras lagi agar Hanna sudi menjadikannya tempat bergantung. Ah, Sehun bahkan tak bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi seorang suami dari gadis yang tak pernah mau kalah.

-Ambition-

Aku menginginkanmu sekarang. Sungguh, aku sangat merindukanmu.

Oh, ya, Tuhan. Balasan pria itu terkesan ambigu bagi siapa saja yang membacanya. Tak terkecuali seorang Kai yang memiliki rasa ingin tahu tinggi terhadap kehidupan percintaan sahabatnya. Bahkan berulang pria itu baca pesan yang sampai ke ponsel sahabatnya tersebut saat melihat siapa nama pengirimnya. Tak segan Kai membaca pesan-pesan sebelumnya hingga pikiran buruk semakin menjadi. Hanna yang baru saja kembali dari toilet di ruang kerjanya pun menatap heran ke arahnya.

“Apa yang—“

“Sudah cukup Hanna,” Kai menyela, “aku ingin bertanya perihal ini sedari tadi …,” lanjutnya menarik napas sesaat, “apa yang kau lakukan bersama Sehun malam itu?”

Hanna mengerjap sekali. Namun tak lama, senyum manis diberikannya sebagai jawaban, sebelum akhirnya menunjukkan cincin di jari manis.

purity ring

Kai mengerutkan alis. Hanna melangkah mendekat. Berbisik lembut hingga bulu roma Kai meremang, “Kami tidak bercinta. Jangan bertanya lebih lanjut, aku malu menceritakan pengalaman pribadiku.” tukasnya, sambil lalu dengan ponsel di tangan. Dibacanya pesan baru tersebut hingga bibirnya melentur membentuk senyum. Pantas Kai shock. Hanna tertawa dalam diam.

“Kalian sudah resmi?” tanya Kai, tak terlalu pribadi, meski rasa ingin tahunya lebih dari itu.

“Belum.”

“Apa? Lalu bagaimana bisa kau—“

“Sehun selalu mendekat dan aku tak bisa menjauh,” jelas Hanna sembari menarikan jemarinya di atas ponsel. Kai menjatuhkan bokongnya pada bantalan sofa. Tak habis pikir. Sungguh. Ada apa dengan sahabatnya itu?

“Ingat, jangan mempermainkannya!” Tegur Kai.

“Tidak. Hanya saja … kami sudah terlanjur masuk ke dalam permainan,” bela Hanna, enteng sekali.

“Hanna!” Kai nyaris membentak.

“Membuat seorang Bertelsmann jatuh cinta adalah sebuah kesalahan besar, Kai … pria itu tak akan melepasku. Lantas, apa yang bisa aku lakukan selain mencari ketulusannya?”

Kai tertegun. Kalimat tanya Hanna sudah cukup menjelaskan permainan apa yang akan gadis itu gunakan. Namun lagi-lagi gelengan kepala Kai berikan, “Bagaimana jika ‘pria itu’ kembali dari Barcelona dan mengetahui kau dekat dengan pria lain?”

Ganti Hanna yang tertegun.

“Tak hanya Sehun yang akan hancur, tetapi pria pilihan ayahmu pun akan hancur. Seperti yang terjadi pada pria lain yang mendekatimu sebelumnya,” lanjut Kai mulai emosi, “Itu alasan yang sesungguhnya mengapa tak ada pria yang berani mendekatimu, Hanna. Mereka enggan terhadapmu bukan hanya karena sikap batumu, kekuasaan Rockefeller-lah yang paling dipertimbangkan dalam hal ini … Ingat itu Hanna! Jangan sampai di saat kau memberikan hatimu; di saat itu pula kau harus melepasnya.”

Hanna terkekang. Lupa akan fakta bahwa dirinya tengah menunggu. Menunggu sang penguasa melupakan dirinya dan berhenti mengharapkannya untuk kembali. Oh, God! Betapa bodohnya Hanna sudah membiarkan hatinya terikat oleh pria lain di saat masa menunggu itu belum habis.

“Kai … What should I do?”

-Ambition-

Skandar tersenyum lembut menyambut Hanna keluar dari dalam mobilnya. Keduanya berjalan sejajar hingga membuat gadis di belakangnya mendengus sebal. Jika Sehun tahu Nona Hanna bermain di belakang pasti dia akan marah besar. Batinnya sambil menerka, mengingat betapa akrab keduanya saat membahas hal seputar bisnis selama di pesawat. Mungkin ini hikmah di balik rengekannya yang tak Sehun gubris untuk ikut ke Jerman; Jenny jadi tahu fakta baru tersebut.

“Nikmati Dubai dengan wajah ceria, Nona Kim,” Kai menautkan kelima jemarinya pada tangan bebas Jenny. Sadar akan wajah terlipat bak pakaian kusut gadisnya.

“Dia tampan, tapi entah mengapa aku tidak suka dia ikut.” Jenny menatap Kai, “Tuan Willard itu sama sekali tidak punya urusan dengan proyek 520 Park Avenue, kan?” tanyanya kemudian. Saat di pesawat posisi duduknya tak jauh dari Hanna dan Skandar hingga ia tak berani menanyakan mengapa ada orang asing di antara mereka pada Kai.

“Kau tidak lupakan kita tengah berada di JW Marriott Marquis Hotel? Tempat diadakannya lelang desain interior 520 Park Avenue. Dan Tuan Willard merupakan bagian dari keluarga besar Marriott.” Ingat Kai pada Jenny. Dengusan sebal kembali didengarnya sebagai jawaban.

JW-Marriott-Marquis-Hotel-Dubai

“Saat bersama Sehun, Nona Hanna terlihat amat tak acuh. Berbeda sekali saat dengan pria Lebanon itu.” Jenny kembali mengumandangkan ketidaksukaannya. Kai tersenyum mendengarnya, setidaknya Hanna dekat dengan pria lain juga karena Sehun. “Tak usah dipikirkan. Aku sudah membuat rencana untuk kita berlibur esok. Mintalah izin pada Tuan Oh agar membiarkanmu pulang bersamaku lusa. Dan biarkan Tuan Oh menyeret Nona Hanna untuk pulang bersamanya,” kata Kai, masih dengan senyumnya. Hazel Jenny pun seketika berbinar kala mendengar kata ‘berlibur’.

“Kau serius?” tanyanya memastikan. Kai hanya tersenyum dengan fokus mengedar ke depan, punggung mungil Hanna berlapis blazer pun menjadi titik fokusnya, lantas terlepas kala Hanna berbalik di dalam lift.

“Jenny, apa Sehun sudah tiba?” tanya Hanna saat memergoki Jenny yang tengah menatapnya.

“Nomornya masih belum aktif, sepertinya Tuan masih berada di dalam pesawat, Nona.” jawab Jenny, kikuk. Sorot Hanna terlihat mengagumkan baginya kala menguncinya dalam tatapan lurus.

“….” tak lagi bertanya; Hanna hanya diam dalam dunianya. Sementara Kai yang mengambil tempat di samping tubuhnya lekas menekan angka 70, di mana jajaran kamar Presidential Suite berada. Sayang, ia dan Jenny tak bisa menikmati kemewahan kamar tersebut karena hanya di tempatkan di jajaran kamar King Suite.

“Berawal dari perebutan Intangible Assets berupa GoodWill, kau dan Sehun jadi dekat? Aku pikir kalian sudah saling mengenal sebelum itu.” Skandar kembali menarik perhatian Hanna.

“Ya, kami sama-sama menginginkan harta tak berwujud yang mampu memberikan keuntungan dan kepuasan nyata. Bahkan sebelum GoodWill disepakati, kami sempat berdebat dan berakhir dengan jatuhnya kepemilikan di tangan berdua.” Hanna kembali mengingat betapa liciknya Sehun kala itu, bahkan pipinya memanas seolah kembali merasakan bibir lembut Sehun di sana.

“Sehun memang tidak mudah untuk dikalahkan … kadang dia licik dalam bertindak, namun tak melanggar aturan tertulis. Wataknya itu benar-benar mirip dengan Die,” Skandar kembali bercerita. Hanna kembali mendengarkan. Pengalaman Skandar dan Sehun saat di Milan begitu menarik perhatiannya. Bahkan kadang tak segan dirinya melontarkan beberapa pertanyaan demi memenuhi rasa ingin tahunya. Sungguh seperti bukan dirinya. Hanna bahkan tak tahu, sejak kapan kehidupan masa lalu Sehun terdengar begitu menarik untuknya? Entahlah. Cerita tentang SDA Bocconi School of Management pun tak kalah menarik untuknya, mengingat sekolah itu merupakan sekolah bisnis terbaik di Italia. Mantan kekasihnya pun pernah mengenyam pendidikan di sana setelah hubungan mereka kandas.

“Ah, ya, siapa nama teman kalian itu?” tanya Hanna, sadar sejak kemarin Skandar tak menyebutkan namanya secara lengkap. Sementara Skandar yang memang menunggu Hanna menanyakan poin itu pun tersenyum. Difokuskannya perhatian pada wajah tak bersurat tersebut agar tak melewatkan sedikit pun kejanggalan di dalamnya.

“Freddie Rockefeller.”

Deg.

Otot tegang itu terlihat meski samar, pupilnya melebar namun cepat terkendali, leher tanpa jakunnya naik-turun menelan saliva. Jadi, benar? Freddie adalah pria yang dimaksud Chanyeol? Skandar membatin tak percaya. Dari dulu seleranya, Sehun, dan Freddie memang tak jauh beda, mengingat status mereka yang juga sama, tetapi mengapa harus menyukai wanita yang sama pula? Ini Konyol. Ia bahkan sempat menyangkal kala Chanyeol mengatakan mantan kekasih Hanna merupakan seseorang dari keluarga Rockefeller. Ia pikir bukan Freddie orang yang dimaksud lantaran keluarga besar Rockefeller tercatat memiliki lebih dari 200 orang anggota.

Kai yang juga mencuri dengar obrolan atasannya menegang. Nama Freddie Rockefeller terdengar begitu tak asing baginya. Rasa ingin tahunya pun menggila, sebenarnya apa yang tengah mereka bicarakan sebelumnya hingga nama yang tak ingin Hanna dengar itu terlontar?! Bahkan Hanna tak lagi menyahut. Beruntung lift di depannya segera terbuka hingga Hanna tak harus bertahan menyembunyikan kebodohannya.

Kai ikut keluar dengan menarik tangan Jenny. Pria itu berdusta ingin melihat-lihat isi kamar boss-nya. Hanna sendiri tidak keberatan, sementara Skandar pamit ke kamarnya.

jwmarriotmarquisprezsuite

“Wuah, pantas di setiap menara hanya ada dua kamar tipe ini.” Jenny bergumam kagum, Kai sudah terbiasa akan kenaifan gadisnya tersebut. Hanna sendiri segera mendaratkan bokongnya pada bantalan sofa. Fokusnya terkunci pada Jenny yang masih sibuk menganggumi, “Duduklah, Jen!” Titahnya kemudian sambil menepuk tempat di sampingnya. Rasa ragu pun seketika Jenny rasa, tatapannya bergilir menatap Kai, namun pria itu hanya tersenyum lantas mengedikkan dagunya ke arah yang diminta Hanna.

Dengan keraguan penuh Jenny mengambil tempat di samping gadis itu. Aroma musk, flora, dan ah, Jenny tidak tahu perpaduan apa aroma tersebut hingga begitu nyaman untuk dihirup. Pantas Sehun begitu tergila-gila padanya, aromanya saja begitu memabukkan. Jenny bahkan berani bertaruh, Sehun tidak akan bertahan lama untuk tidak menyentuh gadis itu jika terus-terusan berada di dekatnya.

“Jadi, di hotel ini hanya ada dua kamar Presidential Suite?” tanya Hanna, mengingat kamar di depannya di pakai Skandar. Itu berarti, Sehun akan berada di menara yang berbeda dengannya. Hah.. Hanna tak suka.

“Aku ingin bertanya, Hanna …,” Kai tak menggubris, tatapan tanya pun Hanna berikan, “Freddie, kau membicarakan orang itu dengan Tuan Willard?” sangkanya kemudian.

Gelengan kepala Kai lihat sebagai jawaban, “Aku hanya mendengarkan Skandar bercerita tentang teman-temannya.” jawab Hanna kemudian. Jenny tak mengerti alur pembicaraan keduanya.

“Jadi, Tuan Willard, Tuan Oh, dan —“

“Ya. Mereka berteman baik. Sangat baik. Sebelum kesibukan memisahkan.”

-Ambition-

Tiba pukul 12.00. p.m. Istirahat sejenak, lantas berbenah untuk turun demi menghadiri lelang. Pukul 06.00. p.m acara akan di mulai, Sehun tak sabar ingin melihat gadisnya hari ini. Setelan jas resmi dengan pola berstruktur dipakainya, lantas dirapikannya sesaat lilitan dasi yang mencekik leher, sebelum beralih mengaitkan satu kancing jas hitamnya.

tuxedo

Seperti biasa, Sehun terlihat gagah dengan fashion-nya. Rambutnya dibiarkan jatuh di atas kening dengan tatanan rapi menggunakan gel pengeras. Wajahnya terlihat jauh lebih muda dari usia lantaran gaya rambut tersebut. Kini, pria itu siap menarik perhatian Hanna dengan penampilan sempurnanya. Bahkan wanita lain pun dibuatnya memekik tertahan kala berpapasan.

Jenny sendiri sudah menunggunya di depan pintu kedatangan tamu. Sayang, bukan sapaan yang didengarnya saat Sehun tepat berdiri di depannya, melainkan sebuah pertanyaan yang membuat Jenny harus berdusta.

“Di mana Hanna? Apa dia sudah tiba?”

“Masih di kamarnya. Tak lama lagi Nona akan turun.”

“Beritahu aku jika dia sudah berada di sini.” Tegas Sehun sambil lalu memasuki ballroom. Beberapa colega yang diundang pun sudah mengambil tempat yang kosong. Ini akan sangat sulit untuk mendapat tanda tangan kontrak dari Sehun ataupun Hanna, mengingat mereka yang diundang hanya berasal dari pengusaha yang memang sudah terkenal pada bidangnya karena kualitas yang mereka miliki. Pertarungan presentasi untuk dipilih menjadi yang terbaik pun akan dimulai tak lama lagi. Jantung para peserta bahkan tak hentinya berkumandang menyuarakan kegugupan.

Namun sampai lima menit sebelum dimulainya acara, Sehun tak juga melihat gadisnya. Berkali-kali ia bertanya pada Jenny namun jawaban yang sama selalu didengarnya. Sampai Kai, sekretaris Hanna, menampakkan batang hidungnya di ruangan tersebut. Melangkah menghampirinya lantas membungkuk sopan, kemudian menyuarakan hal yang membuat Sehun khawatir setengah mati.

“Nona Hanna tidak bisa datang. Beliau mengeluh sakit kepala dan mempercayakan lelang tender ke tangan Anda sepenuhnya.” Jelas Kai. Sehun hampir melupakan profesionalitas jika saja Jenny tak menariknya. Pria itu terlampau takut telah terjadi sesuatu yang buruk pada gadisnya hingga hampir berlari melupakan tanggung jawab.

“Selesaikan ini, baru setelah itu kau bisa menemui Nona Hanna. Jangan sampai kau melukai kepercayaannya, Sehun.” Cegah Jenny, mengingatkan sekaligus memperkuat kebohongan kekasihnya.

Selama lelang berlangsung, Sehun tak bisa fokus. Keadaan Hanna terus mengacaukan alam bawah sadarnya. Namun sebisa mungkin pria itu bersikap profesional dengan mendengarkan semua presentasi para peserta lelang. Beberapa desain yang menurutnya sesuai dengan selera Hanna pun dipilihnya. Beruntung Sehun masih dapat mengingat dengan baik percakapan antar dirinya dan Hanna kemarin lusa sehingga ia tak perlu takut salah memilih.

Rolex di tangan pun tak hentinya Sehun lirik. Sudah tiga jam berlalu namun acara belum juga tuntas, sampai-sampai Sehun tak kuasa lagi untuk tetap duduk diam, “Jen, aku kuasakan semuanya padamu.”

Jenny menoleh cepat, lantas melihat Sehun yang berbisik meminta izin untuk undur diri pada Tuan Arthur. Pupilnya seketika melebar kala Sehun berdiri kemudian melangkah keluar dengan langkah panjang. Hatinya merutuk kepergian sepupunya itu, namun juga takut Sehun mengetahui kebohongannya. Kai yang duduk di sampingnya pun segera diberitahu. Tak lama pria itu ikut bangkit berdiri; mengejar kepergian Sehun. Dan ego Sehun itu membuatnya semakin pusing kala Tuan Arthur menyapanya, “Jadi, Anda yang akan menggantikan Tuan Bertelsmann untuk menemui para peserta yang terpilih?” Oh, Shit. Sehun kau brengsek.

-Ambition-

Sehun terus bergerak tak sabaran hingga mencapai puncak tertinggi gedung tersebut, bahkan semakin tak sabaran kala melihat pintu yang ia tahu sebagai kamar Hanna. Rasa khawatir berlebihan itu benar-benar mengendalikan dirinya, sampai-sampai rela meninggalkan acara penting yang telah dinanti sejak lama. Bahkan pria itu tak sadar terus menekan tombol pemberitahuan kedatangan tamu di samping pintu tersebut dalam tempo cepat.

Tak ada jawaban.

Hening.

Sehun semakin khawatir.

Oh, ya, Tuhan. Ia takut terjadi sesuatu yang buruk pada Hanna di dalam. Tangannya bahkan bergerak bodoh mengguncang handle pintu yang terkunci. Namun terhenti kala ada suara datang memberitahu.

“Hanna tidak ada di dalam.”

Sehun menoleh dalam tempo cepat. Dilihatnya Skandar yang berdiri tidak jauh dari posisinya. Rasa ingin tahu pun menguasai, “Ke mana?”

“Tidak tahu.” jawabnya. Mata berwarna cokelat terang miliknya terus menelisik pergerakan Sehun. Rasa curiga akan Hanna dan Sehun yang telah memiliki hubungan pun semakin kuat. Tetapi jika memang keduanya menjalin hubungan, untuk apa dirahasiakan?

“…..” Sehun sendiri kini terdiam. Dalam diam pria itu menelisik kebenaran jawaban Skandar. Keheningan pun tercipta, namun pecah kala suara langkah kaki lain datang mendekat, “Tuan—“

“Di mana Hanna?” sela Sehun cepat saat menyadari siapa orang itu.

“Nona—“

“Berikan kunci kamarnya padaku! Aku yakin kau memegangnya,” sela Sehun lagi.

“Tapi Tuan—“

“Berikan-padaku-!” tegasnya, penuh penekanan.

Kai terdiam dalam kebingungan. Hanna memang tidak sedang berada di dalam. Gadis itu pergi menenangkan diri dengan caranya. Terhitung semenjak sebuah pesan singkat tampil di layar ponselnya. Pesan singkat yang berisi ancaman halus hingga membuat gadis itu kacau sampai-sampai meminta Kai untuk menyewa satu lantai penuh Marriott Marquis Hotel untuknya. Sebuah pesan singkat yang juga dibacanya.

Tomorrow, I will be back. Aku berharap, tak ada yang mengganggumu selama aku pergi karena itu akan mengusik ketenanganku.

Pria itu sudah tahu. Hanna dalam masalah—Ah, tidak—bukan Hanna, tapi Sehun. Padahal sebelum keberangkatannya ke Dubai, gadis itu sudah menentukan pilihan dan mengutarakannya pada Kai. Namun kini, gadis itu kembali dilema pada dua pilihan; memberikan kesempatan kedua pada orang lama atau memberikan kesempatan istimewa pada orang baru. Akan tetapi, Hanna tahu pilihan kedua tidak akan berakhir menyenangkan. Pilihan pertama pun hanya akan membuat harga dirinya jatuh. Kai bahkan ikut dilema mengingat harga diri Hanna yang setinggi langit itu. Padahal jelas-jelas gadis itu masih menyimpan rasa pada pria masa lalunya tersebut, namun justru berniat menjadikan Sehun pelarian dan hanya akan menetap jika pria itu berhasil memberikannya alasan untuk tetap tinggal. Sungguh play girl.

“Tuan Kim,” Sehun jengah melihat Kai yang hanya diam saja.

“Nona tidak ada di dalam, Tuan!” Kai berkata jujur, Sehun percaya namun ingin tetap memastikan.

“Berikan kuncinya padaku!” Keras kepala sekali. Kai mengumpat dalam hati. Dengan berat hati dirogohnya benda yang diinginkan Sehun itu dalam saku kemeja, kemudian menyerahkannya setengah hati.

Kebenaran pun segera didapat Sehun setelah pintu itu berhasil dibuka. Amarah tak terkendali langsung menguasai kala menyadari dirinya seperti orang bodoh yang dengan begitu mudahnya ditipu oleh seorang wanita. Bahkan amarah itu semakin menjadi kala retinanya menangkap pasangan dari gelang di tangannya pada sebuah nakas. Rahangnya pun mengeras, tangannya bergerak penuh amarah meraih benda platinum tersebut. Napasnya tanpa sadar memburu menahan ledakan yang sudah mencapai ubun-ubun.

“Di mana Hanna?” tanyanya, menahan emosi.

“Nona tidak sedang ingin diganggu, Tu—“

“KATAKAN DI MANA DIA …!!”

-Ambition-
indoor

Hanna mengacak rambutnya yang basah dengan handuk, namun baju renang manis berwarna merah muda dengan halterneck masih melekat indah di tubuh rampingnya. Entah berapa lama dirinya menghabiskan waktu di lantai 7. Berenang ke sana kemari demi mencari ketenangan. Desain baju renang dengan backless itu bahkan sudah membuat punggungnya meremang kala suhu dingin semakin menusuk.

New-Sweet-Style-Halterneck-Ruffled-Narrow-Waist-Design-Swimwear-For-Women-In-Summer-On-Beach-New

backless

(untuk mempermudah imajinasi, hiraukan latar)

Tak sia-sia Hanna menyewa satu lantai penuh tempat kolam renang indoor itu berada. Ia merasa lebih baik sekarang meski tak sepenuhnya, mengingat masalah itu akan tetap ada. Setidaknya menenangkan diri dengan cara yang berbeda dari sebelumnya tak menimbulkan masalah baru seperti kala itu. Kini, Hanna tak perlu khawatir akan kembali berakhir dalam kuasa Sehun.

Selesai mengeringkan rambut, Hanna melempar asal handuk kecil di tangannya ke tempat semula lantas kembali berjalan ke tepian kolam. Kaki jenjangnya yang sudah pucat pasi dibiarkan jatuh ke air. Pelan-pelan Hanna mengayunkannya dengan mata yang tertutup rapat. Gadis itu terlihat begitu menikmati kegiatannya sampai-sampai enggan kembali ke kamar. Terlebih, Hanna memang belum siap jika harus bertemu dengan Sehun sekarang, meski otaknya sudah menyusun alasan jika sampai pria itu mengetahui kebohongannya. Sayang, Hanna tak tahu sesuatu yang dihindarinya itu telah berhasil mengungkap kebohongannya.

Gadis itu terlalu sibuk dengan dunianya sampai-sampai tidak menyadari kehadiran orang itu semenjak lima menit yang lalu. Bahkan sampai pria itu melangkah mendekat dengan suara hak pantofelnya, Hanna masih asyik memejamkan mata …

“Melepas tanggung jawab dengan cara seperti ini?” tanyanya, menyapa. Tubuh Hanna menegang kala inderanya menangkap nada ketus itu. Perlahan wajahnya bergerak mencari sang pemilik suara, namun mengutuk dalam hati kala dugaannya benar.

“Sehun?”

“Apa yang sedang Anda lakukan di sini Nona?” tanyanya lagi, semakin tak bersahabat. Hanna segera bangkit dari duduknya tak lantas menjawab, kemudian menghadap pria yang berdiri lurus di depannya tersebut. Namun setelah sepuluh detik berlalu; Hanna masih tak bersuara. Gadis itu kehilangan semua kosakatanya lantaran terkunci amarah dalam manik elang pria itu.

“Aku salah menilai Anda, Nona … aku pikir Anda seorang yang kompeten,” tekan Sehun pada kalimatnya. Hanna sadar akan keterkaguman yang menyesatkan hingga berganti amarah yang meradang. Gadis itu tak terima dihina oleh rivalnya. Sehun keterlaluan sekali.

“Bukankah itu yang Anda inginkan, Tuan? Menguasai semua jalannya pembangunan 520 Park Avenue,” Hanna tersenyum miring, menanggapi. Kilatan amarah menghunus tepat manik elang pria itu.

Sehun menanggapi dengan senyum yang sama, “Jadi, Anda melepasnya?” tantangnya kemudian. Dalam diam pria itu sibuk menahan diri agar tak menerjang tubuh setengah telanjang gadis itu.

“Ambil saja. Aku tidak peduli.” Hanna berucap tak acuh mengkhianati keinginan hati. Hinaan Sehun membuatnya merasa rendah diri sampai-sampai terbakar emosi. Tak hanya itu, sapaan formal Sehun-lah yang paling berperan dalam hal ini. Hanna tak suka melihat Sehun berubah terhadapnya. Sungguh berlebihan. Kakinya pun mulai melangkah dengan penuh emosi meninggalkan pria itu.

Sementara Sehun terlihat shock akan ucapan gadisnya sampai membeku beberapa saat. Hanna yang melewati tubuhnya pun dibiarkan begitu saja, sebelum akhirnya sadar telah melakukan kesalahan besar. Ia lantas berputar mengejar langkah gadis itu. Menggapainya dengan satu kali hentakan hingga jasnya basah lantaran menyentuh bagian belakang tubuh Hanna. Tangannya pun tak segan mengekang gadis itu hingga tak berkutik dalam kuasanya.

“….” Tak ada suara dalam beberapa detik, hanya detak jantung yang terdengar gaduh. Hanna diam mengendalikan ekspresi diri dari keterkejutan, namun wajah Sehun bergerak hingga napasnya membelai telinga, “Maaf,” pintanya kemudian. Tubuh Hanna membeku untuk beberapa saat. Jantungnya semakin tak beres di dalam sana, pun dengan Sehun yang berusaha mati-matian menenangkan debaran tak terkendali itu. Namun tak lama, tangan Hanna bergerak menyentuh lingkaran kokoh di perutnya. Ingin sekali ia menyingkirkannya, namun kuasa tak ada.

“Nona, kau marah padaku? Tapi apa salahku? Kenapa kau menghindariku?” tanya Sehun menebak, mencoba mencari tahu alasan mengapa Hanna tak menghadiri lelang. Sementara Hanna yang mendengar nada memelas itu pun mulai mendingin. Namun sampai lima detik berlalu, gadis itu tak kunjung bersuara.

“Nona?” Sehun mengeratkan kekangannya dengan sebelah tangan yang beralih memeluk bahu. Pria itu tak sabar ingin mendengar jawaban Hanna sekaligus mencoba untuk menghalangi insting prianya dari keindahan tubuh gadis itu dengan meletakkan tangannya sebagai penghalang. Dalam hati Sehun merutuki baju renang yang dipakai Hanna lantaran terlalu mengumbar keindahan bagian atas tubuhnya. Andai saja Sehun melupakan komitmennya, mungkin tubuh gadis itu sudah berakhir di atas kursi santai.

“Lepaskan aku!” Akhirnya Hanna berhasil mengendalikan diri. Tangannya bergerak gelisah melepas kekangan Sehun, namun sayang itu tak berarti. Sehun sendiri tak peduli akan penolakan Hanna karena memang ia tak pernah peduli. Baginya, peduli pada sebuah penolakan hanya akan membuatnya berakhir menjadi seorang pecundang.

“Jadi benar, kau tidak menghadiri rapat karena marah padaku?” tebaknya lagi. Hanna semakin gelisah dalam kekangannya. Sapuan lembut napas pria itu benar-benar membuatnya panas. Hanna tak kuasa jika lehernya terus mendapat serangan seperti itu.

“Tidak. Aku tidak marah. Lepaskan aku, Sehun!” pinta Hanna, ketara sekali ketakutannya. Baginya skinship adalah sebuah larangan, namun menolak semua perlakuan Sehun amat sulit dilakukan hingga rasa takut yang berlebihan Hanna rasa.

“Lalu?” Sehun menurut, namun tak sepenuhnya. Tubuh Hanna diputar bak boneka dalam kuasanya. Wajah gadis itu pun menjadi titik fokusnya kali ini, namun tinggi asli tubuh Hanna tanpa high heels membuatnya harus sedikit menunduk. Pikirnya pun menerka bahwa tinggi gadis itu hanya 168 sentimeter.

“Bukankah sudah kukatakan itu keinginanmu?” rasa kesal kembali menyelimuti. Hanna menatap tak suka wajah tanpa dosa pria itu.

“Tidak. Aku ingin bersamamu, bukan melepasmu,” ungkap Sehun, “itu keinginanmu, bukan keinginanku—“

“Kalau begitu, berhentilah bertindak sesuka hati …!!” Protes Hanna, menjeda. Sehun mengerjap merasa ada yang berbeda dari Hanna. Gadis itu terlihat begitu sensitif, seperti bukan dirinya. Protesnya bahkan lebih seperti seorang gadis terhadap kekasihnya. Hei, tunggu, bukankah itu manis? Sehun tersenyum menyadari itu.

“Kau manis sekali saat marah, Nona,” godanya, merayu. Satu hal yang Sehun tahu, wanita akan semakin larut dalam amarah jika pria tak mengalihkan pembicaraan.

“Sungguh, aku sangat membencimu.” Sayang hal yang Sehun tahu itu tak berlaku untuk Hanna. Merona pun tidak.

“Aku senang mendengarnya, Nona—“

“Berhenti memanggilku ‘Nona’ kau bukan sopirku.” sela Hanna dengan hinaan yang jauh lebih dalam. Sehun tersenyum, “Baiklah sayang, jadi itu yang membuatmu melepas gelang pemberianku?” tanyanya kemudian.

Melepas? Hanna melirik tangan kanannya. Pupilnya pun melebar kala tak mendapati benda berwarna platinum di sana. Tangannya refleks mendorong dada pria itu kuat hingga membuatnya lolos dari dekapan, “Aku tidak melepasnya,” ujarnya kemudian terlihat bingung juga panik. Hanna tak lupa ancaman Sehun kala itu, namun ia tak ingat kapan terakhir kali memakai gelang tersebut. Seingatnya memang tak pernah melepasnya, lalu ke mana gelang itu? Ya, Tuhan, bagaimana ini? Amarahnya pun menguap bersamaan dengan datangnya rasa tak tenang itu.

Sehun menaikkan sebelah alisnya. Ia sama sekali tak menemukan kebohongan di sana, namun ada satu hal yang membuat perutnya tergelitik kala menyadari; Hanna lupa telah meninggalkannya di nakas. Astaga, manis sekali gadis itu. Sehun tak menyangka, ternyata Hanna mempunyai sisi lugu juga. Sayang, iblis dalam tubuhnya telah mengambil alih sehingga sifat dasar manusia yang dimiliki Hanna dimanfaatkannya, tawanya bahkan ditahan di balik seringai di bibir, “Bukankah sudah kukatakan untuk tidak melepasnya?”

“Tidak. Aku tidak melepasnya. Gelang itu pasti jatuh saat aku berenang,” elak Hanna. Sehun yang menatapnya dengan kedua tangan yang bersembunyi di kantung celana terlihat menyeramkan. Fokusnya pun segera beralih menatap kolam berwarna biru di sampingnya. Tubuhnya kembali memutar haluan begitu saja, berniat mengitari sisi kotak berisi air tersebut.

Merasa percuma, akhirnya Hanna putuskan untuk kembali turun membasahi tubuhnya. Ia pikir lebih baik menghindari Sehun dengan kembali ke dalam air ketimbang hanya diam saja dan membiarkan pria itu menguasainya. Lagi pula, gelang itu sangat kecil jika dibandingkan dengan luas kolam tersebut. Mencarinya di daratan seperti halnya mencari jarum dalam tumpukan jerami.

Sehun sendiri hanya tersenyum melihat Hanna yang terus melangkah menyusuri kolam. Bahkan air sudah menenggelamkan setengah tubuh gadis itu dalam usaha pencariannya. Sementara benda yang dicarinya itu berada dalam kantung celana Sehun. Tak tega terus-terusan mempermainkan Hanna, Sehun putuskan untuk ikut turun menyusulnya. Sepatu dan jas pun dilepasnya, sebelum akhirnya benar-benar turun mehampiri gadis itu.

Hanna tak ingin kembali membasahi rambutnya dengan kaporit, ia hanya berjalan di air dengan wajah yang menunduk. Gelisah pun mulai menghampiri, Hanna bahkan tak hentinya mengutuk daya ingatnya yang tak bisa diajak bekerjasama.

“Jika tidak menyelam, kau tidak akan menemukannya, Hanna!” Sehun bersuara, mengalihkan Hanna dari pencarian.

“Aku akan menyuruh orang untuk menemukannya, Sehun.” Hanna membenarkan. Terlebih semakin jauh melangkah, semakin dalam pula ke dalaman air itu. Bahkan kini, bagian bawah dadanya sudah terendam.

“….” Sehun tak menanggapi. Pria itu hanya menenggelamkan dirinya hingga melewati tubuh Hanna—mencoba untuk bersandiwara dengan ikut melakukan pencarian. Hanna sendiri hanya menatap tubuhnya yang semakin menjauh hingga berenang ke dasaran. Namun tak lama Sehun kembali muncul ke permukaan, mengambil napas sejenak sebelum akhirnya kembali menyelam menghampirinya.

Hanna yang melihat bayangan Sehun semakin mendekat pun hanya bisa mengerutkan alisnya bingung. Namun tubuhnya refleks mengambil jarak kala Sehun menampakkan diri tepat di depannya. Dorongan air pun seketika menghantam tubuhnya akibat ulah pria itu hingga keseimbangannya goyah dalam sekejap. Tangannya bergerak cepat tanpa diperintah meraih kemeja Sehun; sementara pria itu dengan senang hati meraih tubuhnya.

“Apa yang—” sial. Hanna mengumpat dalam hati kala melihat senyum iblis Sehun yang terbingkai rambut basah. Sebelah tangan pria itu bergerak tak beraturan mengacak rambutnya yang turun hingga sedikit airnya memercik ke wajah Hanna. Gadis itu tak hentinya mengumpat dalam diam, matanya sungguh berkhianat sampai-sampai tak memedulikan larangan hatinya untuk tidak jatuh dalam pesona Sehun. Ia bahkan amat benci kala menyadari dirinya begitu menyukai penampilan urakan pria itu.

Sehun sendiri begitu menikmati ekspresi tanpa bahasa gadis itu, “Maaf membuatmu terkejut,” katanya, memiliki maksud lain. Wajah tak suka pun mulai tampak pada Hanna setelah berhasil mengendalikan diri, namun kembali berganti kala Sehun memutus jarak tak berarti di antara mereka. Begitu cepat sampai tak terbaca, namun lembut saat tiba. Pupil Hanna bahkan melebar bak tersengat aliran listrik, namun Sehun menutup mata, menikmati.

Manis, dingin, lembut, basah, seperti es krim. Hanna menyukai rasa itu, kelopaknya bahkan ikut tertutup menikmati pengalaman pertamanya itu. Baju renangnya yang semula basah sebagian pun kini telah basah sepenuhnya lantaran menempel dengan kemeja Sehun. Namun ia tak peduli, bahkan gadis itu hanya diam membiarkan Sehun mengekangnya dalam sentuhan seduktif.

Tak mendapat perlawanan membuat Sehun tak kuasa menahan hasrat, namun lantaran tak ingin lepas kendali, jarak pun diambilnya untuk sesaat. Dilihatnya Hanna yang masih menutup mata dengan mulut yang terbuka sebesar jari kelingking. Wajahnya merona bukan karena wine. Napasnya tak teratur padahal Sehun tak lama membungkamnya. Pemandangan itu sungguh menggoda Sehun untuk mencicipinya lagi, bahkan pria itu segera merealisasikannya dalam waktu kurang dari satu detik.

Kali ini, Hanna meremas kemeja Sehun sebagai pelampiasan lantaran tak kuasa menolak setiap perlakuan memabukkannya. Begitu lembut tanpa menuntut balasan. Permainan sepihak namun begitu piawai. Hanna bahkan ragu mengandalkan instingnya untuk membalas setiap pergerakan itu. Kerja sarafnya sudah terlanjur lumpuh, bahkan semakin lumpuh kala tangan Sehun terus naik hingga menyentuh punggung polosnya dan bertahan di sana dengan memberikan sedikit tekanan ke depan. Hanna yang mendapat tekanan seperti itu semakin cepat merasa sesak. Sehun sendiri sudah tergoda sejak awal melihatnya, namun tak berani menyentuhnya secara langsung, hingga cara licik untuk merasakannya pun Sehun lakukan. Setidaknya bagian depan tubuhnya bisa merasakan bagian atas tubuh Hanna itu. Akan tetapi, jangan salahkan insting kelelakiannya untuk masalah ini, salahkan saja Hanna yang selalu berhasil menggodanya.

Hanna sendiri semakin lemas dalam kuasanya, Sehun yang mengerti hanya melepasnya sesekali. I love you. Samar-samar Hanna dengar ungkapan hati penuh makna tersebut. Tak hanya sekali, namun beberapa kali Sehun ungkapkan sampai-sampai menjadi dorongan untuk Hanna membalas setiap lumatan Sehun di bibirnya, “Sungguh, aku sangat mencintaimu, Hanna!” ungkap Sehun lagi, sebelum kembali bertaut panas dengan gadisnya.

Dinginnya air yang menenggelamkan setengah bagian tubuh mereka tak dihiraukan. Hipotalamus memproduksi cepat oksitosin lantas dilepas dalam waktu tak terbantahkan melalui kelenjar pituitari ke dalam aliran darah, rasa yang tak bisa diungkapkan pun mereka rasa dalam kegiatan yang bisa dibilang intim itu. Sehun bahkan kehilangan kendali untuk tidak mengungkapkan keinginan hatinya sekarang, “Hanna, menikahlah denganku …,” ungkapnya, sedikit gila. Hanna hampir membuka mata jika saja Sehun memberinya kesempatan. Sayang, pria itu terlalu kepayang akan rasa manis dari cherry-nya sampai-sampai lebih memilih membungkamnya ketimbang mendengar jawabannya.

Pemandangan itu begitu membakar jiwa seseorang yang sedari tadi diam memerhatikan. Rasa ingin memiliki dan melakukan hal yang sama pada wanita yang sama pun menguasai. Melihat bagaimana cara Sehun menikmati aktivitasnya membuatnya ingin menggantikan posisinya dengan segera. Ambisi itu bahkan terasa begitu kuat sampai-sampai rencana gila tersusun dalam waktu singkat.

Kukunya sudah memutih dalam kepalan tangan. Wajahnya merah padam menahan cemburu. Bibirnya bergumam mengumandangkan perang, “Permainan kekuasaan akan menentukan siapa pemenangnya di akhir, Sehun ….”

 

 


To Be Continued

Freddie Highmore as Freddie Rockefeller

freddieAktor asal Inggris, pernah membintangi beberapa judul film. 92 liner, tetapi di Ambition seusia dengan Sehun dan Skandar. Saat kuliah Freddie giat memperlajari bahasa Spanyol dan Arab.

Thanks ya masih mau baca dan comment^^

Bonus pict.

sehun 1
sehun 2

sehun 3
Jangan salahkan iman Hanna yang goyah, semua kesalahan murni terletak pada Sehun. Byee

Tambahan : Aku berubah pikiran, aku ga akan membuat konflik di FF ini rumit. FF pengganti Regret sudah meluncur soalnya, The Violinist, aku nunggu kehadiran kalian di sana^^

Lobee youu^^

Regards,

Sehun’Bee

870 responses to “Ambition [Chapter 6] by Sehun’Bee

  1. akhirnya sehun mendapatkan apa yang dia inginkan haha🙊 konflik bru akan dimulai yeayyy wkakka hwaiting🙌

  2. Akhirnya akhirnya sehun mendapatkanya…horeeee*apalah mba hanna kalo suka sehun bilang aja mumpung belum aku ambil sehunnya hahaha*abaikan itu siapa itu?? Di akhir cerita bikin ngerget nganguin mba hanna ama mas sehunku…okelah pokoknya sipp deh buat kak bee di tunggu kelanjutanya…btw gambar sehun bikin salpok hahaha

  3. Hei saya bener2 tahan nafas ketika bayangin amukan sehun saat tak menumukan hanna…itu yang di akhir siapa yang bilang skandar atau mantannya hanna…hanna teguhkan hati mu untuk memilih sehun…go sehunnnn

  4. sehun kamu sweet banget, hanna kamu harus pilih sehun ok? menikahlah dengan sehun.
    ceritanya makin complicated dan seru.
    next chapter

  5. Ga tau knapa gue lbh prefer skandar sgra dtemuin ama tokoh yg bsa ngalihun dya dr hanna biar ga ganggu relationshipnya sehun-hanna sblm msk k chapter2 slnjtnya…
    Haha tp kan gue bukan authornya keles

  6. Auau. Sehun cemburuu. Uh cemburunyaaaaaa asika sikasik.
    3 orang sahabatan cinta saama gadis yang sama.
    Ada yang mau ngalah?
    Gilak aja. Cinta segi berapa cobak?

  7. Jadi ini cinta segi apa????? Enak banget jadi hanna ya . Dikelilingi cowok tampan nan kaya. Wkwkwkkw

  8. bagus aneddd~~
    kak aku udah comment tapi kek ga kekirim mulu, ini udah kekirim apa belum sih ?

  9. 3 sahabat suka sama cewe yg sama-,- asik si sehun dpt first kissnya hanna omg😄😱 pasti yg lg merhatiin sehunhana si skandar kasian aduh😁 jadian dah jadian si sehun ama hanna,,

  10. oh yaampun
    KYAAAAAAA,,,,,KYAAAAAAAA
    entah kenapa baca chapter yg ini rasanya aku ingin teriak teriak gk jelas kaya gini…sumpah bee dari semua ff yg pernah aku baca ,cuma ini yang paling so swite banget,,aku bacanya aja sampai berulang ulang kali,,
    Oh ya style nya hanna bagus bagus
    Dan pokoknya keren banget deh bee.
    @94Rini

  11. That’s sweet , Ouch Hanna and Sehun at swimming pool .. Kalo sama sehun trus basah – basahan gitu mah aku juga mau seminggu berendem di air wkwkwkwk
    Sehun jadi posesif ya .. Daebak thor .. Semangat ya !

  12. Hahaha sehun lucu klo sdg cemburu…
    Oh ceileee firstkisss hanna oleh sehun hihihi

    Hm spertx konflikx berawl dr sni..

  13. 6) jadi sehun, skandar sama freddie itu temenan dulunya?? Udh curiga emg pasti ga akan jauh jauh kan org nya ternyata emg bener mereka itu saling terikat(?)-,- dan yg jadi Freddie Rockefeller itu Freddie Highmore?? Yampun cobaan apalagi iniii?? Aku juga suka sama dia:”’3 uh aku terhuraa author ko bisaaa? Muka aku panas bacanya:”v

  14. Ah sehun cemburunya gitu banget ya. Tapi Ternyat skandar ama sehun temenan, gila bgt, haduh ceritanya makin seru aja

  15. hannanya cantik pantas aja direbutin 3 cowok keren & tampan.. tapi pilihan aku tetap sehun yang nomor satu

  16. “Tidak juga. Aku menyukai pria yang mampu membuatku berdebar.” ini dia nyindir sehun atau gimana?.
    Yey akhirnya yang kutunggu tiba juga#sehunciumhanna#.haha, tapi para pengganggu mulai beterbaran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s