[6-A] WILL THE SUN SHINE ON ME?

sehun

WRITTEN BY VANILLACOCOLATE
© 2015 All Rights Reserved
Main Cast

Oh Sehun, Chaerisa

Genre

Angst, Romance, Marriage Life

CHAPTER:

1ST, 2ND, 3RD, 4TH, 5TH

Nelangsa.

Miris melanda jiwa. Sepasang iris kelabu itu memandang setiap objek di hadapannya. Sang empunya punya nama. Oh Sehun, si pembuat dosa.

Jemarinya menyisir setiap debu pada objek yang ada. Dirinya tengah berada pada suatu ruangan. Suatu ruangan temaram yang telah menjadi satu-satunya saksi mata. Ruangan yang tak semestinya lagi ia buka. Yang seharusnya kuncinya sudah ia kubur dalam-dalam di bawah tanah atau ditenggelamkan di dasar laut sana.

Atensinya jatuh pada lembar-lembar foto yang bergelantungan diatasnya. Setiap lembar foto telah tertata rapi pada tempatnya. Foto yang dulu pernah diambilnya diam-diam. Ada seorang gadis manis yang tengah tertawa di salah satu fotonya. Ada yang tengah melamun seorang diri menatap bintang, ada pula yang sedang tersenyum memandangi perut buncitnya. Lelaki itu membentuk seulas senyum di bibirnya kala melihat itu.

Lalu atensinya berpindah pada sebuah kotak berdebu di ujung sana. Lelaki itu meniup bagian atas kotak tersebut guna membersihkan debu yang tersisa. Pilu kembali menohok hatinya kala melihat apa yang ada di dalam kotak. Sesonggok barang usang tersimpan di dalamnya. Sebuah barang yang dulu sempat ia beli tanpa sempat lagi ia berikan pada seseorang yang dimaksudkan. Sebuah baju bayi yang usang.

Semuanya kembali terekam di ingatan. Ketika takdir mempertemukan dua anak Adam. Dan lelaki itu menemukan sebuah kenyataan bahwa apa yang ia kira sudah tiada, ternyata masih ada. Bahkan terasa begitu nyata kala ia bertemu masa lalunya dengan seorang anak laki-laki yang cerdas. Yang ia tolong di sebuah pusat perbelanjaan.

Ia tahu betul. Ia sangat yakin, bahkan. Bahwa darah yang mengalir pada diri anak laki-laki itu, sebagian adalah darah yang ada pada dirinya. Keyakinannya diperkuat pada kenyataan siapa ibu dari sang anak. Wajahnya pias ketika bertemu sang masa lalu, kala itu. Seharusnya dulu ia tidak percaya begitu saja. Seharusnya dulu ia menampakkan dirinya, membuang jauh-jauh sikap pengecutnya.

Lantas mau apa? Menangis pun tak ada guna, sebenarnya. Tapi biarlah. Biarlah kali ini saja dilepasnya topeng yang selama ini menjadi penyangga. Penyangga luka lama yang nyatanya belum sembuh jua.

Oh Sehun, pria itu. Pria yang kata mereka pria terberengsek yang pernah ada, kini mencelos terduduk di atas lantai, tak berdaya. Rapuh, sebenarnya. Lalu suara rintihan tangis pilunya menyebar di udara. Akibat luka lama yang ia kira sudah baik-baik saja, kini kembali menganga.

—οΟο—

Sehun memarkirkan mobilnya pada trotoar jalan. Sedari tadi ia tengah mengawasi setiap kegiatan yang sedang berlangsung pada gedung di hadapannya. Sebuah gedung sekolah taman kanak-kanak. Tujuannya satu. Ingin bertemu darah dagingnya yang baru ia ketahui eksistensinya akhir-akhir ini.

Oh, ingin Sehun menertawakan takdir yang memilih untuk baru menguak semua rahasia yang selama ini tidak ia ketahui. Oh! Atau lebih tepatnya lagi, menertawakan kebodohannya sendiri yang terlalu dungu untuk percaya omongan seseorang begitu saja tanpa lebih detil lagi membuktikannya.

Ia masih sibuk dengan pemikirannya sendiri di balik kemudi, sebelum antensinya menangkap sesosok bocah laki-laki yang sedari tadi ia tunggu. Bocah itu berjalan ke arah halte di depan gerbang sekolahnya. Berjalan menunduk. Ekspresinya terlihat sedikit muram. Ia terus berjalan lalu menduduki kursi panjang yang tersedia pada halte.

Sehun memilih untuk mematikan mesin mobilnya, lalu mulai berjalan menghampiri Sang Bocah Laki-laki.

Suara baritonnya berdehem menginterupsi Sang Anak kala tiba dan langsung menduduki tempat kosong yang tersedia di samping anak itu. “Ehem. Hey, jagoan.”

Anak itu menengadahkan kepalanya, menoleh ke bagian kanan. Ia terlihat bingung sebelum menjawab “Paman? Paman lagi? Thedang apa paman ke thini? Paman menguntit Jiko, ya?”

Sehun tergelak mendengar pertanyaan beruntun yang muncul dari bibir anak itu, lalu mengacak rambutnya pelan “Kalau paman benar menguntit, memangnya kenapa?”

Sehun sempat menangkap raut wajah anak laki-laki itu yang pias, terlihat sedikit takut. “Berarti paman bukan orang baik. Kata eomma, seorang penguntit itu bukan orang yang baik.” jelasnya lugas.

Sehun tersenyum memandang anak laki-laki itu. Semakin Sehun perhatikan, ia semakin menyadari lagi bahwa anak itu sembilan puluh delapan persen adalah kloningan dirinya. Mirip. Bahkan sangat mirip. Hidungnya, bibirnya, rahangnya yang lancip sangat mirip dengan Sehun. Bagai pinang di belah dua. Kecuali matanya. Iris hazel anak itu menuruni iris hazel milik Sang Ibu, bukan iris kelabu milik Sehun. Membuat Sehun sadar akan sesuatu, dia berpikir bahwa dirinya terlalu bodoh baru mengetahui semua itu baru-baru ini.

Sehun lalu membuyarkan pikiran-pikiran itu seraya menjawab. “Hey, paman hanya bercanda. Mana ada penguntit yang tampan seperti paman, kan?” guraunya.

Menyadari itu, sontak Zico mengangguk. Wajahnya tak lagi pias. Dan raut takut itu pun hilang seketika. “Benar juga, thih. Lagipula jika paman bukan orang baik, tidak mungkin paman waktu itu menolong Jiko thaat Jiko terthethat.” jawabnya dengan sulit mengucapkan huruf S yang kentara.

Sehun terkekeh melihat itu.

Lalu wajah anak itu kembali muram dan menunduk. Memandangi sepatunya yang mengayun ke depan dan ke belakang.

Sehun yang menyadari perubahan lagi pada wajah anak itu, lantas membuka suara “Hey, jagoan. Kenapa lagi? Mengapa wajahmu muram sekali, hmm?”

Sementara sang anak hanya menggelengkan kepalanya, menanggapi.

“Apa ada masalah di sekolahmu? apa ada yang mengganggumu, hmm? Katakan saja pada paman. Siapa tahu paman bisa bantu.”

Zico terlihat bungkam sejenak. Tetapi setelahnya, akhirnya anak itu membuka suara. “Kelath Jiko minggu depan mengadakan acara, paman.”

“Acara? Acara apa? Bukankah itu bagus bila kelasmu mengadakan acara? Kau bisa lebih mengenal teman-temanmu nantinya.”

“Iya paman. Tapi—”

“Tapi apa?”

Zico kembali menengadahkan kepalanya menatap ke arah Sehun. Oh! Hati Sehun remuk ketika ia melihat mata anak itu yang berkaca-kaca. Sehun lantas mengubah posisinya berjongkok di depan sang anak. Menatap iris hazel itu lamat-lamat “Hey, kenapa?”

“Itu acara tentang anak dan Ayahnya, paman—”

“—thedangkan Jiko tidak punya Ayah…” lirihnya bersamaan dengan dua bulir air mata yang menetes dari kedua pelupuk matanya.

Satu kalimat yang menohok Sehun hingga ke ulu hati. Kemana saja ia selama ini? Oh, malangnya! Tujuh tahun anak ini hanya hidup dengan ibunya tanpa mengetahui siapa gerangan sang Ayah. Anak itu tumbuh tanpa kasih sayang seorang Ayah. Dosa Sehun sudah terlalu besar di masa lalu.

Sehun merengkuh Zico ke dalam dekapannya. Betapa ia mendambakan semua ini dari dulu. Memiliki seorang anak, ia selalu ingin berada di samping sang anak ketika sang anak sedang dalam masalah. Tangan Sehun sibuk mengusap punggung kecil Zico yang masih terisak kecil. Hingga satu pemikiran terlintas di dalam otaknya.

“Paman bisa jadi Ayahnya Zico.” seloroh Sehun.

“Benar, paman? Memangnya bitha?”

Sehun mengangguk mantap “Tentu saja bisa.” jawabnya lugas seraya tersenyum.

Karena kau memang anakku.

Tambahnya dalam hati.

“Apa-apaan ini?!”

Sebuah suara yang Sehun kenal tiba-tiba menginterupsi kedua Ayah dan anak itu.

—οΟο—

Chae berusaha menetralkan amarahnya setelah kalimat yang tanpa sengaja lolos dari bibirnya barusan kala melihat pemandangan yang ada di hadapannya.

Eomma!” mata Zico berbinar kala menyadari kedatangan sang Ibu. Sehun sontak melepas dekapannya pada Zico.

Sehun menatap reaksi Chae yang berusaha tersenyum membalas sapaan sang anak “Hai, sayang. Zico sekarang masuk mobil ya, sayang? Bisa tidak? Eomma ingin bicara berdua dengan paman ini.”

Zico lantas mengangguk, mengiyakan. Tanpa ada penolakan sedikitpun dari bibir mungilnya.

Chae menatap punggung anaknya menjauh. Ia menarik nafasnya dalam sebelum berbalik menatap lelaki yang ada di dekatnya. “Apa maksudmu?” geramnya masih terlihat tenang. Namun, Sehun tahu sebenarnya wanita itu sudah meledak-ledak di dalam.

Netra Chae dengan berani menatap milik Sehun tajam. Tidak ada rasa takut sama sekali. Tangan wanita itu bersedekap, mengangkat tinggi-tinggi dagunya agar tidak kelihatan lemah. Menunggu balasan yang keluar dari bibir lelaki di hadapannya.

Sehun yang melihat itu lantas tanpa sadar terkekeh menanggapi. Pikiran gilanya sibuk berfantasi. Wanita itu terlihat lebih memukau ketika sedang emosi, rupanya. Well, memang pemikiran yang tidak tahu situasi, mungkin.

Chae menambah mendelikkan matanya pada Sehun. “Permisi? Apa ada yang lucu, tuan? Saya sedang berbicara pada anda!” nadanya menekankan kata saya dan anda.

“Ada. Kamu.” Seloroh Sehun masih tak sadar dengan kinerja hati dan otaknya yang tak selaras. Tak mengerti keadaan.

Kamu?! Sungguh, Sehun sebenarnya sedang merutuki dirinya sendiri di dalam hati. Oh, ayolah! Dia terdengar seperti anak kemarin sore yang baru saja meloloskan sebuah rayuan pada si gadis incaran.

Rona merah di kedua pipi wanita itu tertangkap oleh mata Sehun. Sehun sejenak tersadar lantas berdehem membersihkan tenggorokannya yang tidak gatal.

Chae kembali berusaha menetralkan perasannya. “Aku sedang tidak bercanda, tuan! Apa maksudmu tadi, hmm? Anda ingin meracuni otak anak saya?!” ucapnya memecah keheningan yang tadi sebentar tercipta.

Sehun menghembuskan nafasnya kasar. “Tidak bisakah kita membicarakan ini baik-baik? Kau selalu saja melihatku bagaikan aku adalah suatu ancaman yang harus dihindari.” nadanya kini berubah serius.

“Bukankah memang begitu? Seingatku, terakhir kali kita bertemu kau ingin merebut anakku dariku.”

Dasar berengsek.

Tambah Chae dalam hati.

Sehun sebenarnya sudah memprediksi bahwa kalimat itu akan keluar dari bibir Chae sebelumnya. Ia memang salah waktu itu. Sehun akui dia salah. Dan itu juga merupakan salah satu alasannya mengapa ia berada di sini, saat ini. Ia ingin meluruskan semuanya. Berdamai dengan masa lalu.

“Itu alasan mengapa aku datang ke sini. Bisa kita bicara baik-baik sebentar? Aku mohon. Hanya 5 atau 10 menit.” pinta Sehun sungguh-sungguh. Menatap wanita di hadapannya dengan tatapan penuh harap.

Chae terlihat menimbang sebentar sebelum menganggukkan kepalanya tanda menyetujui.

“Kalau begitu, kita bicara di Cafe sebelah sana, bagaimana?” tunjuk Sehun pada sebuah Cafe di seberang sana. Tempat yang sama saat pertama kali Sehun menghampiri Chae setelah tujuh tahun mereka tak lagi bertatap muka.

Sementara si wanita lagi-lagi hanya menganggukan kepalanya pasrah.

Jadi, disinilah mereka. Duduk saling berhadapan. Melanjutkan pembicaraan yang tadi sempat tertunda. Chae meletakkan jari-jarinya yang bertaut di atas pangkuan. Wanita itu duduk dengan anggunnya.

Sehun memberanikan diri menatap wanita di hadapannya tepat di iris hazelnya. Sedikit gugup lantaran sudah lama ia tak pernah menatap manik itu lagi.

“Aku minta maaf” satu kalimat berhasil lolos dari bibirnya.

Mendengar kalimat itu, sontak tawa mengejek milik Chae terlontar dari bibir ranumnya “Oh, tunggu dulu. Apa lagi ini?”

Sementara Sehun, ia mengernyitkan kedua alisnya seakan rautnya menggambarkan tanda tanya besar di sana.

“Waktu itu kau juga minta maaf, Sehun. Tapi di akhir-akhir, kau juga ingin mengambil anakku. Sekarang apa?” lanjut Chae sarkastik.

“Kali ini aku bersungguh-sungguh, Chae. Aku minta maaf. Tidak seharusnya waktu itu aku tiba-tiba datang dan ingin mengambil Zico darimu. Aku benar-benar minta maaf, sungguh. Aku tahu aku memang tidak tahu diri. Kau boleh memakiku atau memukulku sesuka hatimu. Aku memang pantas untuk itu. Aku berjanji tidak akan merebut Zico darimu lagi. Tapi kumohon, izinkan aku bertemu dengannya kapanpun dan dimanapun ketika aku ingin. Jangan larang aku. Aku mohon, hanya itu permintaanku.”

Iris kelabu milik Sehun memperdalam tatapannya pada si iris hazel di hadapannya penuh harap. Bersamaan dengan serentetan kalimat yang usai ia ucapkan, bersamaan dengan itu pula suasana di sekitar mereka terasa lebih tegang. Lantaran topik sensitive di antara keduanya sudah terangkat.

Chae membalas tatapan yang Sehun berikan padanya. Mencari-cari kesungguhan pada si pemilik manik kelabu itu. Sehun tulus, Chae menyadari itu. Tapi, itu saja belum cukup. Lantas Chae menjawab “Aku tidak berjanji bisa mengabulkan itu.”

“Kenapa? Tidak bisakah kita berdamai dengan masa lalu?” ucap Sehun. Masih menilik si pemilik iris hazel di hadapannya. Seakan menyelam di dalam manik itu.

Oh, betapa Sehun menyukai sepasang manik itu. Sepasang manik yang bisa dianalogikan sebagai banyak hal. Matahari, jika tuannya sedang berseri-seri. Pelangi, bila sang empunya sedang senang bukan main. Sungai, pohon, yang menggambarkan keteduhan bila ia sedang tenang.

Dulu, Sehun sering menangkap sirat matahari atau pelangi pada manik itu. Tapi saat ini? Matahari dan pelangi itu bahkan nihil tak terlihat. Bergantikan dengan kabut yang tergambar pada selaput tak kasat mata itu. Yang berarti satu hal; wanita di hadapannya sedang bimbang.

Chae yang menyadari apa yang Sehun lakukan, lantas memutus kontak mata mereka. Tidak ingin Sehun menyelam lebih dalam lagi. Dan mengetahui apa yang ia rasakan. Pasalnya, dari dulu hanya lelaki itu yang paling tahu apa yang ada di pikirannya hanya dengan menatap mata.

“Sulit, Sehun. Sangat sulit untuk berdamai dengan masa lalu.” lirihnya menatap ke luar jendela.

“Aku tahu. Tapi tolonglah pikirkan lagi, Chae. Hanya itu permintaanku. Lagipula itu juga penting untuk Zico, anak kita. Dia juga membutuhkan peran seorang Ayah. Dia berhak tahu siapa Ayahnya.” Ucap Sehun tidak menyadari ada satu kata sensitive yang terselip.

“Anakku dan anakmu, Sehun. Tidak ada anak kita.” koreksi Chae.

Kalimat yang menohok hati tetapi sialnya, seperti itulah kenyataannya.

“Maaf. Kau benar. Anakku dan anakmu. Tidak ada kita” ulang Sehun berusaha menelan pahitnya kenyataan.

Lama mereka terdiam, berkutat dengan pikiran masih-masing. Lantas Sehun mengambil posisi berdiri memecahkan keheningan, lalu berjalan menuju Chae. Memegang kedua pundak si wanita lalu memutar tubuh wanita itu agar kembali menghadap ke arahnya. Yang membuat Chae cukup terkejut, yaitu Sehun lalu berlutut di hadapannya. Menggambit kedua tangannya yang bertumpu di pangkuan, lalu menggenggamnya erat.

Kembali di tatapnya manik si wanita. “Aku mohon. Hanya itu permintaanku. Hanya itu, Chae… Aku berjanji… Aku berjanji tidak akan pernah merebutnya darimu… sungguh aku berjanji…” lirihnya putus asa.

“Ini sulit, Sehun. Kau tidak tahu bagaimana menjadi aku. Banyak yang kau tidak tahu apa saja yang aku lakukan selama tujuh tahun ini. Kau bahkan tidak berusaha mencari keberadaan kami…”

“Banyak juga yang kau tidak ketahui, Chae. Kesalahanku memang sangat besar. Minta maaf saja aku tahu itu tidak akan cukup. Tapi percayalah, percayalah bukan hanya kau yang tersiksa selama itu. Aku pun juga.” Sehun masih menggenggam tangan Chae erat sebelum tubuhnya luruh ke pangkuan wanita itu. Punggungnya bergetar. Chae cukup terkejut memandang tubuh bergetar itu.

Guncangan pada bahu lelaki itu kian mengeras. Diikuti oleh bulir-bulir air mata yang baru saja terjatuh dari pelupuk mata Chae lalu membasahi kedua pipi.

Mereka rapuh.

Tembok keegoisan keduanya runtuh.

Mereka kalah.

Untuk pertama kalinya, Sehun menangis di depan seseorang. Dan orang itu Chaerisa.

Dan, tangis dua orang yang rapuh itu pecah di udara.


A/N(1) Mohon beritahu aku bila ada typo. Aku lebih berterimakasih kalau kalian ngasih tau aku dimana tepatnya letak kesalahan penulisan biar aku bisa langsung perbaiki hehe. Mohon bantuannya, ya?:) Part ini didedikasikan untuk para Sehun-Chae shipper. Duh senengnya aku tanpa ada yang ganggu di part ini huhuhu. Cuma mau bilang terimakasih yang sebesar-besarnya kepada readers yang selalu mendukung saya. Meninggalkan jejak-jejaknya pada FF saya yang ini. Maaf aku gabisa sebutin satu-satu:) Terlalu banyak, tapi percaya deh! Aku hapal username kalian yang sering komentar, sungguh.

(2) Dan terimakasih banget buat Ayu @ayurukmi dan Dita @Oohsehuna! Yang selalu mendukung aku, ninggalin jejak mereka di setiap FF yang aku buat. Bukan cuma FF ini aja tapi juga semua-muanya tanpa terkecuali. Kalian selalu ninggalin jejak baik itu komentar atau like terimakasih ya! Tau ga sih aku bener-bener terharu sama kalian berdua!:’) makasih banget ya<3.

(3)
 Oia, cuma mau bilang kalau chapter 6-B nya cuma ku post di page pribadi dan di password! Yang mau dapet PW nya silahkan hubungi di kontak yang ada di sini . Sebenarnya, untuk para readers yang dulu cuma ninggalin jejak sekali dua kali masih aku terima kok. Nah, buat para silent readers yang bener2 kagak pernah sama sekali ngasih feedback pinter-pinter deh bujuk saya, ya. Siapa tahu saya luluh ngasih kalian password. Dan ini page pribadiku: vanillacocolate

Ini Chae waktu pertama kali ketemu Sehun di gerai kopi fav mereka. Silahkan bayangkan sendiri yang sekarang kayak gimana.

FullSizeRender (2)

200 responses to “[6-A] WILL THE SUN SHINE ON ME?

  1. sedih2 gimna gitu kak ..
    apa lgi pas zico bilang dia gk punya ayah aduh zico…

    kak aku pengen mreka balikan kak ,, tpi kasian juga sama ara nya .

    ku tunggu next nya kak oh ya kak jngn lupa sama aku ,, kasih pw nya buat aku jg ya kak ..hehee

  2. hmm.. mereka bakal balikan ga ya, kasian ziconya kalo sampe sehun sam chae ga akur” dan lebih bagus kalo berkeluarga.

  3. Mungkin chap in yg bkin Q pling nyesek..bru dpat feelx saat mreka brdua lg nangis, lg nyesek2x byangin adeganx..ehh mlahh tbc ajha….
    Thor-nim q pux sran..gimna clo kosakta hangulx d tmbah aplg saat brbincang supya lebih krasa k koreaan gitu..
    Ealahhh,,abaikn ajha komenq thor, q mah cuma pmbca amatirn

    • Hai:) terimakasih sarannya. Tapi maaf ya… Soalnya aku emang pengennya nulis menurut EYD. karena emang lagi belajar nulis sesuai dengan EYD yg ada hehe.

  4. huaaa… kasian sekali chae harus ngurus anaknya sendiri gara-gara sehun nggak memastikan sendiri hanya mengandalkan luhan… nyesek banget itu mesti…

  5. mereka balikan tp gk munkin keknya ksian ara tp zico ksian jg kn. tp bsa juga kok gk mesti balikan ortunya yg penting disayangi ma emak ma bpk nya.
    kalo che tau yg sbnernya gmnaa ya? eh lulu imut2 nakal kan nyusahin org jdnya

  6. Aku suka diksinya bagus banget menyentuh gitulah penuh makna banget kata katanya :3
    Sehun kayaknya bakal serba salah ya kalau udah beginimah tapi ya emag harus nanggung kesalahan dimasa lalunyasih /eea/ *sok bijak* :v sudah sudah abaikan saja

  7. Iya sih ga ada yang ngeganggu. Tapi sedih banget chap ini. Akhirnya chae ama sehun bisa damai. Zico kesian juga kalo ga tau apa apa tentang ayahnya, kan?

  8. Dan sayang nya mereka gak bakalan bisa bersatu karena sehun nya udah cinta sama istri nya yg sekarang😥 syedihh banget sihh kasian zico nya sebenernya tapi mau diapain lagi ? Takdir berkata lain dan cuma bisa ber andai andai doang , seandainya sehun dulu gak jadi pengecut seandainya sehun gak nikah sama orang lain dan masih banyak seandainya” yg lain ,😥

  9. ya ampun, beneran deh, bingung mau komen apa. banyak banget yg pengen diocehin, tapi bingung sendiri mau nuanginnya (?) kayak gimana. pokoknya ff ini KEREN abis!
    btw, ada typo tuh kak. waktu zico bilang ‘seseorang’, kan seharusnya jadinya ‘thetheorang’ (dia cadel kan?). dan juga, jujur aja partnya kurang panjang (abaikan untuk yg terakhir).
    ditunggu next partnya!

    • Hai;) makasih ya udah di ingetin. Huaaa lupa kayaknya yg part zico itu wkwkwk. Iyaaa dia cadel. Hmm soal kurang panjang emang iya sih… Aku juga sadar soalnya yanga ada di kepala emg segitu wkwk

  10. Yaallah waktu zico bilang acara di sekolahnya tentang ayah sama anak,gw pengen nangis deh.
    sehun saking tulus nya sampe nangis.
    sehun sama chae bakal damai kah?
    Oh iya ka,aku udah cari line kaka,tapi yang muncul namanya TAMIDAULAY,itu bener kaka bukan?

  11. Ciee cieee yg baru baca ff hr ini, tau nya buat chapter depan udah diprotect aja ciee
    /nyindir diri sndiri/
    .
    Sedih aja sih pas zico bilang “sedangkan jiko tidk pny ayah” padahal ayah nya ada didepan mata nya sndiri, rasa nya pengen jambak sehun aja,
    noh liat hun anak lu ga prnah ngerasain kasih sayang bapak gegara elu ga mau tanggung jawab hun -_- kamvret bgt hun lu ah !!!

  12. huhuhu ikut sedih liat akhir ceritanya
    gimana ya kalo istri sehun tau ini. sehun jadi lelaki yang tanggung jawab dong. kalo suka ma dua orang kan bingung
    semoga kedepannya mereka tidak berseteru merebutkan zico
    ditunggu part selajutnya thor, keep writing ^^

  13. aaaa~ kenapa tiba tiba aku nyasar di chapter ini .-. Salah jalan pasti — kenapa gak ketemu pasa awal awal chapter aja thorr😥 ahhh siall– kenapa aku suka banget peran sehun sama cae disini? ngerasa aja kalau fellnya ngeh banget :’ terus rasanya geter geter gitu dihati:’ apalagi cast sehun yang nyebelin gimana gituu ~ aaaaaaaa.. udah thor jadiin sehun cae sama zico satu keluarga utuhhhh please :’ walaupun sama luhan juga pantes sihhh ~ tapi sama sehun aja thor ya thor ?? ;;) lanjutannya ditunggy thor :* jangan lama lama ya :* calanghae :* mumumumu

  14. jadi ikutan sedih masa .. kasian banget mereka berdua.. karena sbenernya mereka berdua sama” rapuh .. apalagi zico , ikut sedih ngeliat dia sedih ..
    kasian dia gak tau siapa ayah nya … semoga aja masalahnya cepet selesai ya ..

  15. ughhhh chapter ini bikin baper dr awal sampe akhir bikin nangiss apalagi yg pas akhir sehun berjongkok di depan chae huwaaaaaa pokoknya pengen baca next chap’a cepet2

  16. argh daebak…
    benci sih sama sehun tapi zico juga harus tahu siapa ayahnya kannn
    hope they can stick together :’)

  17. aku blum mnemukan typo ni chingu, tpi di part 5 tdi aku mnemukannya tpi cmn 1 aja kq.
    kra2 chae tu mw gk ya maaifin sehun, klw mnrutku jangan lah…
    kasian Luhan..

    • Haiii Ryu_94:) makasih yaaa reviewnya. Kedepannya akan aku perbaiki lagi;) terimakasihhh.

      Klo untuk itu liat chapter depan aja yaaa hehe

  18. ya ampun penyesalan emang dateng belakangan yaa… sehun sih, coba waktu itu mau tanggungjawab kan jadinya gak begini huhuhuh… tapi thor semoga aja sehun cere aja sama istrinya terus nikah sama chae udh itu live happily ever after dah… chapter selanjutnya ditungguuuuu…

  19. semoga mereka bersatu demi anak mereka semoga aja chaerisa sama sehun bersatu demi zico walaupun sehun masih ada istrinya

  20. aduh kak chapter ini bikin baper parah sehun-chaeri.
    nyesek zico bilang ‘acara buat anak dan ayah’ yaallah baper banget aku. gimana perasaan si 2 cowok itu dan aku setuju sama usulan sehun yipiii
    aku ngebayangin sehun yang cengeng apalagi pas ngurung diri di apartement, senengnya aku ada scene sehun yang cengeng (sehun aku nistain mulu perasaan) semoga chaeri mau ngabulin permintaan sehun.

  21. thor ko rada pendek ceritanyaT_T
    padahal udah menghayati, btw, aku reader baru, baru aja baca dari chapter 1 sampe yg ini:v
    keren thor ceritanya, g bosenin, malah bikin greget
    next chap jangan kelamaan ya di post thor nya:*
    FIGHTING!

  22. ff ini bikin sakit hati dan.. nggak bisa di jelaskan lah bagaimana rasanya.. tapi ffnya bikin aku nangis terharu akan perjuangan chae.. fighting ya eonni (y) semoga ff yang pw ini lebih bagus lagi😀

  23. Terlalu terlambat ngebaca FF nya si author >_<. Dan maaf juga mimin aku baru bisa comment di eps 6A ini karena bacanya super ngebut hari ini. Kasian sekali sehunnya, ternyata dya juga merasakan sakit nya. Jangan dibikin sad ending ding min. Aku kok punya feeling gitu kalau chae nya bakalan meninggal krena kanker otak pula. Kasian zico sama sehunnya😥

  24. Apa chae bakalan maafin sehun ? Kalo di maafin entar luhan nya gimana ? Apa luhan bakalan jadi ayah zico ??

  25. nah ini nih ini!!! what -_-?? #plak
    oke ini yang aku maksud aku suka banget sama cara sehun yang akhirnya bisa dewasa gini, nerima keadaan kalo pernah nyakitin chae dan akhirnya gak bisa maksa kehendak kalo chae gak bakalan kasih zico…
    please… PW ya? oke fixs aku bakalan kontak kamu ya:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s