MOON THAT EMBRACE OUR LOVE – [V] LET’S NOT FALL IN LOVE

11895475_905913989444232_690867059_o

MOON THAT EMBRACE OUR LOVE

2015 © SANGHEERA

Cast :: Cheon Sera (Original Character), Luhan as Xiao Luhan and Xiao Luxien, Byun Baekhyun of EXO || Support Cast :: Hwang Shiina (OC), Kim Jinhwan of iKON, Zhou Yumin (Vic Zhou) as Xiao Yumin, Ren of NU’EST as Liu Ren, Choi Seunghyun (T.O.P) of BIGBANG, Kim Yoojung (OC), and many more || Genre :: Campus Life, Romance, Fantasy, Comedy, Family, Fluff || Lenght :: Multi Chapter || Rating :: PG 17+

Read this first :: [0] PROLOG, [I] Man From the Moon, [II] Unbroken Red String, [III] Old Man Under The Moonlight, [IV] MIGIKATA

Recommended Song :: BIGBANG – Let’s Not Fall in Love, Fo’xTails – Innocent Graffiti, Atsuko Maeda – Migikata, 7!! (Seven Oops!) – Orange, Ayana Izumi – Kimi iro Days

Very very sankyuuu buat Listi Zaen yang udah suka rela dan repot-repot bikinin poster cantik itu buatku. ^^

Happy reading, minna-san~~yeoreobun~~everybody~~

[V] LET’S NOT FALL IN LOVE

Let’s not fall in love, we don’t know each other very well yet
Actually, I’m a little scared, I’m sorry
Let’s not make promises, you never know when tomorrow comes

Kalung itu adalah pemberian Luxien, bukan dirinya.

Luhan ingat sekarang.

10 tahun lalu di salah satu kunjungannya ke Seoul, ia bertemu dengan seorang gadis kecil di lorong hotel. Luhan yang saat itu masih remaja tanggung, membawa gadis kecil yang nampak sedih itu ke ballroom, tempat pesta kolega Baba-nya yang tak lain adalah ayah Kim Yoojung—tunangannya—di gelar. Karena Baba Luhan memanggilnya untuk menyapa ayah Yoojung, Luhan terpaksa meninggalkan gadis kecil itu sendirian di samping meja jamuan makan. Bukannya fokus pada percakapan antara Baba-nya dan ayah Yoojung, Luhan justru sibuk memperhatikan gadis kecil itu dari balik bahu ayah Yoojung. Takut jika gadis kecil itu menangis lagi karena ditinggal sendirian di tempat yang asing.

Lalu, Luxien datang. Dengan senyuman hangatnya ia nampak berbincang dengan gadis itu.

Aku menceritakan padanya tentang sejarah bulan terbelah. Dan gadis itu sama tidak percayanya seperti kau, Hanhan!

Itu kata-kata Luxien saat Luhan menanyakan tentang apa yang Luxien dan gadis itu bahas saat itu.

Luhan ingat ia sempat terkejut saat Luxien melepas kalungnya dan memberikan kalung bulan itu pada gadis kecil yang bahkan Luhan tak tahu namanya itu. Luxien membeli kalung kembar itu saat mereka berumur 7 tahun, dan meminta Luhan bersumpah untuk memakainya hingga mereka tua. Tapi kenapa malah Luxien sendiri yang memberikan miliknya pada orang lain??

“Maafkan aku, aku memberikannya pada gadis itu bukan tanpa alasan!”Luxien mengatupkan kedua tangannya di depan wajah, sebagai tanda permintaan maafnya pada Luhan. “Aku sedang berusaha mengikat gadis itu…”

“Mengikat? Apa kau sedang mempratekkan drama korea yang suka kau tonton itu, eh? Kau berharap gadis itu akan menjadi cinta sejatimu, begitu?”

“Ayolah, Hanhan. Aku tidak se-imajinatif itu…”Luxien terkekeh geli sambil mengibaskan tangannya. Seolah ucapan sinis Luhan tadi adalah lelucon terbaik yang pernah ia dengar.

“Kalau begitu aku juga akan melepas kalung jelek ini.”

“Jangan!!”tukas Luxien cepat.

“Kenapa?”

“Kau lupa kalau kau sudah terikat sumpah padaku? Kau bersumpah tidak akan pernah melepaskan kalung itu, Han!”

Luhan mendengus kesal. Cih, sumpah yang menyusahkan. Dan Luhan baru menyadari kebodohannya selama ini. Kenapa dulu ia tidak meminta Luxien untuk bersumpah hal yang sama dengannya?!

“Kupikir kita akan bertemu lagi dengan gadis itu, jadi aku memberinya tanda pengingat. Kau benar! Sepertinya ini akan jadi sama dramatisnya seperti drama-drama Korea. Kau pernah dengar kisah tentang lelaki tua di bawah sinar bulan yang mengikat benang merah pada laki-laki dan perempuan yang nantinya akan berjodoh? Aku sedang mengikat gadis itu agar berjodoh denganku, Han!”

Mulai lagi. Mengkhayal yang tidak-tidak…”protes Luhan. ([II] Unbroken Red String)

Hei, intuisiku ini tajam, Han. Sekali melihatnya saja aku langsung tahu. Gadis kecil itu istimewa. Aku akan bertemu lagi dengannya suatu hari nanti, dan saat hari itu tiba kami akan mengikat takdir yang luar biasa!

Luhan mengulas senyum kecil melihat wajah antusias Luxien. Ia memilih menghentikan perdebatan ini demi menjaga emosi positif saudara kembarnya itu. Tidak ada salahnya sekali-kali membiarkan Luxien tenggelam dalam euforia imajinasinya yang selalu meledak-ledak itu kan? “Kau seharusnya berterima kasih padaku karena menemukan gadis itu.”

Luxien nyengir. “Xie-xie, Hanhan! Kau memang saudaraku yang paling hebat!”puji Luxien tulus sambil mengacungkan kedua jempolnya.

Luhan mendengus. “Tentu saja! Tapi ngomong-ngomong siapa nama gadis istimewamu itu, Xixien?”

“Namanya Cheon Sera.”Luxien menyebut nama gadis itu seakan-akan sedang merapalkan sebuah doa. “Cheon Sera.”

Cheon Sera.

Luhan melupakan nama itu sebelumnya, tapi kini ia bisa mengingatnya kembali.

Gadis kecil yang ia temui 10 tahun lalu, sang pemilik kalung bulan Luxien dan gadis istimewa Luxien adalah Cheon Sera.

Gadis itu… gadis yang terikat benang merah takdir dengan Luhan.

Kenyataan itu entah kenapa terasa mengganggu.

“Apa kau bertemu lagi dengannya setelah hari itu?”tanya Luhan masih dengan tatapan melamunnya.

“Eh?” Sera yang sedang sibuk membongkar lemari yang ada di bawah tangga, balik bertanya. Ia sedang mencari kalung yang ternyata adalah pemberian Luxien—kembaran Luhan, bukan Luhan. Tapi selama hampir satu jam ia mencari ke seluruh penjuru rumah mungilnya, kalung itu belum juga ditemukan. Sera sendiri tak yakin menaruh benda itu dimana, karena jujur setelah ia bertemu Luxien hari itu, Sera hanya memakai kalung itu selama beberapa hari, lalu ia memutuskan untuk menyimpannya karena tak terbiasa memakai kalung. Dan setelah itu, Sera tak pernah melihat kalung itu lagi. Oh, salahkan Sera karena tak punya sense romantis di dalam dirinya. Jika ia adalah tokoh dalam drama, pasti hari itu ia akan menganggap Luxien sebagai pangeran dalam kisah masa kecilnya dan menyimpan kalung itu baik-baik.

Luhan menoleh ke arah Sera dan mendengus jengah saat melihat gadis itu masih tenggelam di balik tumpukan kardus. Luxien menganggap kalung berliontin bulan itu sebagai kalung keramat, memaksa Luhan untuk memakai salah satu kalung itu seumur hidup dan rela memberikan salah satunya ke pada Cheon Sera yang Luxien yakini sebagai jodohnya. Tapi Sera ternyata tidak menyimpannya dengan baik. Ironis sekali!

Sejak tadi, Luhan malas dan tak mau ikut mencari dengan alasan kepalanya pening setelah mabuk berat semalam. Ia hanya duduk-duduk saja di tengah anak tangga rumah Sera dan tak melakukan apapun selain melamunkan masa lalu.

“Aku bertanya, apa setelah hari saat Luxien memberimu kalung, kau bertemu lagi dengannya?”ulang Luhan, kali ini dengan suara yang ia setel lebih keras.

“Ani. Aku tidak bertemu lagi dengannya.”

“Sungguh?”

Sera menghentikan sejenak gerakannya membongkar salah satu kardus. “Eung!”Angguknya mantap. “Aku pulang ke Busan esok harinya dan tidak menginjakkan kakiku lagi ke Seoul sampai beberapa bulan kemudian.”

“Mungkin kau bertemu dengannya di kota lain?”

Sera menggeleng. “Tidak. Kali ini aku yakin sekali tidak bertemu lagi dengan saudaramu itu, Luhan-ssi. Karena jika iya, dia pasti akan mengingatkanku tentang kalung ini, bukan? Aku ingat Luxien berkata akan memberiku hadiah yang lebih besar jika kami bertemu lagi, tapi aku tidak pernah mendapatkan apapun lagi setelah kalung itu. Sungguh!”

“Jadi kali ini intuisi Luxien salah…”gumam Luhan, lebih ke pada dirinya sendiri.

“Tunggu!”Sera berdiri dan lantas menghampiri Luhan. Berdiri di depan pria itu. “Mungkinkah hadiah besar yang Luxien maksud itu adalah dirimu, Lu?”

“Hah?”

“Buktinya, kalung bulan Luxien itu ternyata menjadi penghubung kita kan? Mungkin karena Luxien-lah makanya kita terhubung benang merah seperti ini dan dia lah yang mengirimmu padaku.”

Decakan sebal keluar dari bibir Luhan, sembari telunjuknya menonyor jidat Sera. “Luxien bukan dewa, Cheonse. Mana mungkin dia bisa melakukan itu?”

Bibir Sera merengut. Tangannya mengusap-usap bekas tonyoran Luhan di jidatnya. “Tapi kini Luxien berada dekat dengan Tuhan, bukan? Mungkin saja ia punya voucher istimewa atau semacamnya untuk bisa meminta apapun pada Tuhan, dan ia meminta hal ini. Kau pernah nonton Secret Garden? Ramuan ajaib yang membuat mereka bertukar jiwa itu juga dari ayah Gil Raim yang telah meninggal agar Gil Raim bisa bersatu dengan Joo Won!”

“Maksudmu, roh Luxien-lah yang telah mengutuk kita?”

“Aku tidak bilang begitu! Kenapa justru kau yang sekarang menganggap benang merah ini sebagai kutukan? Padahal aku sudah selesai berpikiran seperti itu!”

“Aaah, terserahlah…”Luhan menyerah. “Mau dipikir seperti apapun, semua yang terjadi pada kita ini benar-benar tidak masuk akal.”

Sera mengangguk-angguk sambil memilin benang merah ajaib di tangannya. “Anggap saja ini hanya salah satu cara unik Tuhan untuk mempertemukan kita,”ucap Sera dengan seulas senyum di bibirnya.

Manik mata Luhan terpaku pada wajah Sera, pada senyuman gadis itu. Detik-detik berlalu dan Luhan masih tak sanggup mengalihkan tatapannya. Seolah dirinya adalah besi, dan Sera adalah magnet yang menariknya.

Dipandang seintens itu oleh Luhan, tentu membuat Sera gugup. Dia kembali teringat pada kejadian kemarin. Saat di air terjun.

“Luhan, kemarin…”

“Soal di air terjun itu…”sambar Luhan cepat. “…lupakan!”

Napas Sera tercekat. “Ne?”

“Kau benar, tidak terjadi apa-apa saat itu. Kita memang berciuman, tapi itu semua tidak berarti apapun. Benar kan?”

“Ya…”Suara Sera terdengar lemah. Gadis itu terkejut mendapati dirinya merasa syok dengan penuturan Luhan. Bukankah ini yang ia harapkan? Tapi kenapa…

“Aku terbawa suasana. Air terjun itu indah sekali dan sudah lama aku tidak merasa setenang itu. Maaf, tidak seharusnya aku melakukan itu padamu.”Nada suara Luhan datar terkendali, tanpa emosi.

“Aku mengerti.”

“Dan tentang apa yang aku ucapkan saat itu, aku tidak punya maksud apapun. Itu hanya kalimat kosong yang keluar tanpa kusadari dari mulutku. Jangan kau pikirkan.”

“Ya…”

Luhan dan Sera sama-sama terdiam. Mereka saling menatap dengan tatapan yang tak mampu mereka definisikan. Pagi itu begitu hening. Bahkan suara tarikan napas mereka pun tak cukup mampu merusak keheningan itu.

“Sebaiknya kau cepat temukan kalung itu…”Luhan memutus kontaknya dari manik mata indah Sera. Jantungnya berpacu cepat, saking cepatnya Luhan hampir yakin ia akan terkena serangan jantung jika tak segera mengalihkan arah tatapannya dari mata Sera. “…dengan begitu kau bisa segera memutus benang merah ini dan aku bisa kembali ke Beijing.”

“Lu…”

Panggilan dari Sera membuat Luhan reflek kembali menatap gadis itu. Reflek yang sedetik kemudian langsung ia sesali.

“Setelah kau kembali ke Beijing, bisakah kita tetap berteman?”tanya Sera.

Luhan terkejut mendengar pertanyaan Sera. Lidahnya mendadak kelu. Bayangan perpisahan ternyata tetap sanggup membuat perasaannya gamang.

Padahal baru seminggu, tapi selama seminggu itu Sera dan Luhan selalu menjalani aktifitasnya bersama-sama. Meski sering bertengkar, tapi mereka tahu bahwa mereka tidak membenci satu sama lain. Justru mereka merasa nyaman, itulah yang menyebabkan tinggal bersama dalam satu rumah ternyata tidak terasa menyulitkan.

Baru seminggu mereka saling mengenal, tapi mereka merasa telah mengenal satu sama lain seumur hidup mereka.

“Tidak.”

Mata indah Sera membulat. “Ne?”

“Lebih baik kita tidak usah saling berhubungan lagi setelah benang merah ini putus dan aku kembali ke Beijing.”

Sera terperangah mendengar penolakan Luhan. Tapi sedetik kemudian hatinya ciut oleh perasaan sedih ketika melihat Luhan yang membuang muka karena tak sanggup menatapnya.

“….tolong jangan membuatku jatuh cinta padamu, Cheonse”

Ah… jadi Luhan serius dengan ucapannya ya? Walaupun Luhan mengelak. Bilang bahwa ciuman itu tak ada artinya, mana mungkin Sera bisa percaya begitu saja? Saat itu, hati Sera sukses dibuat bergetar oleh betapa penuh perasaannya ciuman yang diberikan Luhan padanya. Sera tak tahu bagaimana Luhan mencium gadis-gadis sebelum Sera selama ini, tapi pemuda itu tak mampu menipu perasaannya saat itu.

Cheon Sera… walaupun sedikit, gadis itu telah menempati sudut kecil di hati Luhan.

Dan Sera, tak akan pernah sanggup membalasnya. Ia mencintai pria lain.

Karena itu lah Sera merasa dadanya perih melihat Luhan saat ini. Naluri ingin melindungi itu kembali muncul. Perlahan tangan Sera terangkat.

Luhan terkesiap ketika merasakan belaian lembut di kepalanya. Saat arah pandangannya kembali pada Sera, matanya menemukan gadis itu sedang menatapnya dengan tatapan mata terluka. Hati Luhan teriris.

Geurae. Setelah ini, lebih baik kita tak usah bertemu lagi, Lu…”Senyum sedih terulas di bibir Sera. “Dan, tolong jangan jatuh cinta pada gadis menyedihkan sepertiku. Kau layak mendapatkan yang lebih baik.”

Don’t smile at me. If I get attached to you, I’ll get sad.
I’m afraid that pretty smile will turn into tears.
Don’t try to trap us. In the word, love.
Because it’s a greed that can’t be filled.

Sentuhan itu membangkitkan ingatan samar Luhan. Ia tidak ingat apapun yang terjadi semalam, ketika dirinya dikuasai sepenuhnya oleh alkohol. Tapi saat perjalanan dari rumah Bibi Jung ke rumah Sera, Luhan sempat bertanya apa yang terjadi saat dirinya mabuk dan Sera menjawab bahwa Luhan langsung jatuh tertidur karena terlalu banyak minum.

Sekarang, Luhan mulai menyangsikan jawaban Sera.

“Apa semalam benar-benar tidak terjadi sesuatu?”

Mata Sera mengerjap. Tapi tak ada yang berubah dari ekspresi wajahnya. Gadis itu menarik tangannya dari kepala Luhan dan menjawab. “Tidak. Tidak ada apapun yang terjadi.”

Bohong. Entah bagaimana, Luhan yakin sekali Sera telah berbohong padanya. Alkohol sialan!! Kenapa Luhan sama sekali tidak mengingat kejadian semalam?!

Sera sendiri tidak tahu kenapa ia reflek berbohong. Sera hanya merasa kalau apa yang diucapkan Luhan punya arti yang dalam meski ia sendiri tak tahu apa itu. Sera tak ingin tahu apa artinya, karena mungkin saja kalimat itu akan membuat perasaannya goyah. Cukup seperti ini saja hubungannya dengan Luhan. Tidak boleh lebih. Toh, mereka akan segera berpisah.

Wo gen ni yiqi hen shufu.

Sera hanya harus melupakan kalimat itu, seperti yang telah Luhan lakukan.

Ini hari senin dan mau tak mau Sera harus kembali pada rutinitasnya di kampus. Kalung bulan itu belum ketemu. Sera menunda pencariannya dan akan melanjutkannya lagi nanti sepulangnya dari kampus. Menurutnya, jika di rumah atap kalung itu tidak ada, berarti kemungkinan kalung itu berada di rumah lamanya yang ia tempati bersama ayahnya saat ayahnya masih hidup. Rumah lama itu kini disewakan pada orang lain. Uang dari sewa itulah yang ikut menopang kehidupan Sera setelah ayahnya tiada.

Aku tidak tahu, tapi rasanya appa seperti mempersiapkan rumah atap ini untukku agar aku tempati setelah ia pergi. Ayah membelinya tepat 1 bulan sebelum ayah meninggal. Karena aku tinggal sendirian, rumah atap ini lebih mudah kuurus daripada rumahku yang lama.” Begitu cerita Sera tentang rumah atapnya itu.

Karena rumah mungil itu tidak mampu menampung semua barangnya, jadi beberapa barang Sera tinggalkan di gudang rumahnya yang lama. Kesana lah tujuan Sera dan Luhan setelah kuliah Sera selesai hari ini.

Walaupun tadi pagi, Luhan dan Sera sempat merasakan mendung di hati mereka, tapi kini Sera telah kembali ceria. Gadis itu memutuskan untuk bersikap baik karena sebentar lagi setelah kalung bulan milik Luxien ketemu dan mereka berhasil memutus benang merah ini, ia tak akan bertemu Luhan lagi. Dan keceriaan Sera itu, secara alami menular pada Luhan.

Mereka bertengkar sepanjang jalan, saling mengejek dan tertawa bersama. Entah sejak kapan, mereka tak lagi menjaga jarak ketika berangkat ke kampus. Kini mereka berjalan beriringan menyusuri jalan menuju halte. Luhan dengan wajah bosannya, Sera dengan senyuman manisnya dan benang merah berkilau yang menghubungkan keduanya.

Mereka belum menyadari bahwa kini benang merah ajaib itu telah berkurang setengahnya.

Namun saat di kampus, Luhan mulai merasakan ada yang aneh.

Ia sedang berjalan mengikuti Sera di belakangnya seperti biasa. Dengan gayanya yang cuek, tatapan lurus ke depan dan raut wajah sombongnya itu, Luhan benar-benar abai pada orang-orang di sekitarnya. Benang merah di kelingkingnya bergerak-gerak dan begitu tegang menandakan jarak antara Sera dan dirinya berada dalam batas maksimal. Tapi sepertinya, benang merah ini tak sepanjang yang Luhan ingat. Punggung Sera rasanya nampak terlalu dekat.

Gadis itu kini sedang mematung di tengah jalan menuju fakultasnya, kepalanya mendongak ke arah spanduk yang dibentangkan di antara dua pohon besar yang ada di kanan-kiri jalan. Luhan mendongakkan kepalanya, membaca sekilas isi spanduk. Tak tertarik. Lalu ia memutuskan untuk mendekati Sera.

Baru satu langkah, tapi langkah itu langsung terhenti ketika seseorang berlari melewati Luhan. Ia mengenali sosok yang berlari menuju ke arah Sera itu. Sosok yang membuat Luhan mengurungkan niat untuk memperpendek jarak benang merah diantara dirinya dan Sera, dan membuat Luhan tertegun seperti orang bodoh saat sosok itu memeluk Sera dari belakang.

“Baekhyun!”seru Sera. Gadis itu begitu terkejut saat tiba-tiba dipeluk seseorang dari belakang. Tapi saat tahu bahwa orang yang memeluknya adalah Baekhyun, senyumnya lantas terkembang sempurna. Hangat tubuh Baekhyun begitu ia rindukan. Ya Tuhan, terima kasih telah mempertemukannya dengan malaikat tercintanya di pagi hari seperti ini.

“Kau mau menontonnya?”tanya Baekhyun mengacu pada spanduk yang sedari tadi diperhatikan Sera. “Bukankah kau fans Kim Jung-ah? Kau selalu menonton drama-dramanya.”

Gadis itu kembali mendongak, untuk kesekian kalinya menatap gambar wajah seorang artis kawakan yang nampak cantik dan anggun dengan senyum keibuan. Spanduk itu berisi pengumuman tentang seminar yang akan diadakan lusa. Salah satu dari rangkaian acara ulang tahun fakultas yang selama beberapa bulan ini Baekhyun urus. Temanya adalah wanita yang memiliki peran ganda dan sukses dalam kedua perannya tersebut. Sebagai seorang pekerja dan Ibu.

“Selain Kim Jung-ah, ada psikolog keluarga dan wanita sukses lainnya. Kurasa kau akan menyukai seminar ini.”

Sera mengangguk pelan, meski tak sepenuhnya fokus pada kata-kata Baekhyun. Ada hal lain yang memenuhi pikirannya saat ini. Hal yang membuat aliran darah terasa begitu deras di tubuhnya, jantungnya berdetak berkali-kali lipat lebih cepat, dan telapak tangannya terasa dingin.

“Kau bisa membantuku bertemu Kim Jungah, Baek? Aku ingin bertemu dengannya,”pinta Sera cepat.

“Eh? Tentu saja, sayang. Shiina yang mengurus semua keperluan Kim Jungah selama di Jeju, aku akan meminta tolong padanya untuk mengajakmu ketika bertemu dengan Kim Jungah. Mungkin aku juga bisa mengusahakan nametag staff untukmu dan menyelundupkanmu di backstage.”

Sera tersenyum. “Terima kasih.”

“Apapun untukmu, lady.”ujar Baekhyun riang.

“Minggu ini kau pasti tambah sibuk. Acara ulang tahun fakultasmu akan diadakan penuh selama seminggu bukan?”

“Eo. Seminar ini hanya salah satu acara yang kami adakan, selain itu masih ada bazaar, panggung musik, talkshow, bedah buku, lomba dan lain sebagainya. Mengurus semua ini benar-benar menyita waktu dan tenaga, tapi anehnya aku sangat menikmatinya, Sera.”

“Tentu saja, kau selalu suka sibuk, tidak mau diam.”

Baekhyun nyengir. “Kau harus berkunjung ke fakultasku ya?”

Sera mengangguk mantap. Hari ini, ia akan menemukan kalung bulan Luxien dan segera menghancurkannya agar benang merah yang mengikat dirinya dan Luhan segera terputus. Dengan begitu, ia akan leluasa untuk menemui Kofu-nya ini.

“Setelah ini selesai, bagaimana jika kita berlibur berdua?”tawar Baekhyun.

“Kemana?”

“Kau mau pergi kemana?”

“Jepang?! Aku ingin menonton Konser JUMPing Car!!”seru Sera dengan mata berbinar.

“JUMPing Car?”

Sera mengangguk. “Konsernya Hey! Say! JUMP.”

Great! Ayo kita ke Jepang dan kau akan mencuekiku selama disana karena lebih sibuk dengan kegiatan fangirling-mu!”gerutu Baekhyun. “Hahaha… tidak, Baek. Aku hanya bercanda. Kita juga tidak punya uang untuk pergi ke Jepang kan?”

Baekhyun terdiam. Sera mengangkat sebelah alisnya dan tersenyum-senyum melihat ekspresi Baekhyun.

“Ahh, benar, aku tidak punya uang untuk membawamu kesana.”

Gwaenchana, bukankah abeonim sudah janji akan menghadiahkan kita tiket ke Jepang untuk bulan madu. Kita hanya perlu menikah untuk bisa pergi ke Jepang.”

Geurae, kalau kau sebegitu inginnya melihat sembilan pria kesayanganmu itu di Jepang, kau harus menikah denganku!”

Yes, sir!!”sahut Sera sambil membuat sikap hormat ala tentara pada Baekhyun. “Kau sudah sarapan?”tanyanya kemudian.

“Aku bahkan belum sempat mandi.”Cengiran lebar terpampang di wajah Baekhyun.

Mata Sera melotot.“Kau belum mandi, dan sengaja memelukku?”

“Ne. Aku ingin menularkan bauku padamu.”

“Dasar sialan!”

Baekhyun tergelak, diacaknya rambut gadisnya itu gemas.

Sementara itu, Luhan telah lupa sama sekali dengan keanehan benang merah yang ia rasakan. Ia tak dapat mengalihkan pandangannya dari Sera dan Baekhyun. Kedua pasangan itu begitu bahagia dan sorot mata Sera pada Baekhyun entah kenapa membuat dada Luhan bergemuruh hebat.

Tangan Luhan terkepal. Ia memutar pergelangan tangannya hingga benang merah di kelingkingnya itu terbelit-belit di kelima jarinya dan mengitari kepalan tangannya. Sekali sentak, Sera pasti bisa terlepas dari Baekhyun dan menuju ke arahnya bukan? Luhan hanya tinggal menggulung benang merah itu agar Sera tak bisa jauh dari sisinya.

“Kenapa benang ini tidak mengikatku dengannya? Kenapa benang merah ini harus terikat padamu?”

“Aku setia pada Baekhyun dan aku tidak akan mengkhianatinya. Meski kau jatuh cinta padaku, aku tak akan bisa membalasnya.”

Kalimat Sera itu kembali terngiang di kepala Luhan, membuat kepalan di tangannya merenggang.

“Jika kau tidak bisa membalas cintaku, maka tolong jangan membuatku jatuh cinta padamu, Cheonse.”

Ucapan dan ciumannya kemarin itu, sebenarnya apa artinya? Luhan tidak mengerti bagaimana bisa berada di dekat gadis sederhana dan biasa-biasa saja seperti Cheon Sera ternyata mampu membuat perasaannya bergejolak seperti ini. Luhan tak suka. Ini membuatnya nampak lemah dan menyedihkan. Ia tak pernah melibatkan perasaannya ketika berciuman dengan gadis manapun. Hanya gairah, tak lebih. Tapi dengan Sera, seluruh sistem di tubuhnya seolah berbalik menjadi pengkhianat, terutama hatinya.

Bukankah sebentar lagi kalung Luxien akan segera mereka temukan? Jika benar kalung sialan itu yang membuat benang merah ini mengikat Luhan pada Sera, Luhan ingin segera memutusnya. Agar ia terlepas dari gadis itu. Agar perasaannya kembali membaik.

Di sisi lain, keadaan yang sama dialami oleh Hwang Shiina. Ia baru keluar dari Gedung Rektorat dan hendak menuju gedung fakultasnya. Tapi langkah gadis itu terhenti ketika berbelok ke arah jalan menuju Fakultas Keguruan, dan dari jarak sekitar 5 meter ia melihat Baekhyun bersama Sera berada disana. Bibir Shiina menyunggingkan senyum tat kala melihat Baekhyun tertawa. Walau sebenarnya, hatinya teriris dalam melihat tatapan lembut Baekhyun yang hanya tertuju pada Sera. Tidak apa-apa, Shiina sudah terbiasa dengan rasa sakit di dadanya itu.

Tapi, perhatian Shiina mendadak bergeser pada sosok yang berdiri mematung tak jauh dari Baekhyun dan Sera. Pemuda tampan itu nampak begitu mencolok sekaligus asing, dan yang membuat kening Shiina berkerut, tatapan pemuda itu begitu intens menatap objek di depannya.

Shiina mengikuti arah pandang pemuda itu dengan penasaran. Sera? Kenapa pemuda itu memandangi Sera seperti itu? Siapa dia?

Gerimis membasuh Kota Bijarim ketika Sera dan Luhan melangkah ke luar dari bus. Tetesan air tak cukup deras untuk membuat Sera merasa perlu mengeluarkan payung dari dalam tasnya. Gadis itu memilih untuk menerobosnya, dan Luhan tak punya pilihan lain selain mengikutinya.

“Rumahku yang lama tidak jauh dari sini. Hanya beberapa blok dari rumahku yang sekarang,”jelas Sera ketika mereka telah sampai di pertigaan jalan. Biasanya Sera dan Luhan akan berbelok ke kiri untuk pulang ke rumah, tapi kali ini mereka berbelok ke kanan.

Luhan tidak menanggapi. Ia lebih banyak diam kali ini. Bahkan semenjak di kampus pemuda itu tak banyak bersuara dan hampir-hampir tak terdengar keluhannya seperti biasa. Moodnya buruk, dan Luhan terlalu malas untuk membuka mulutnya. Sera yang bisa merasakan betapa suramnya Luhan saat ini, memilih bertindak bijaksana dengan tidak mengusiknya.

Din. Din.

Suara klakson mobil mengejutkan Sera dan Luhan, mereka lantas menoleh dan mendapati sebuah mobil SUV warna hitam berhenti di samping mereka.

Abeonim?”Sera melongok ke dalam mobil saat salah satu jendelanya diturunkan.

“Sera anakku!”balas Ayah Baekhyun riang. Senyum cerah pria paruh baya itu identik sekali dengan senyum Baekhyun. Tipe senyum yang menular. “Mau kemana?”

“Ke rumah lama, abeonim. Ada barang yang harus kuambil.”

“Mau kuantar? Tapi sebagai gantinya, kau harus temani abeonim makan siang!”

Sera tak langsung menjawab tawaran ayah Baekhyun itu. Ia menoleh terlebih dahulu pada Luhan, meminta pendapat pria itu. Tapi Luhan hanya menatapnya datar, tak memberi jawaban apapun.

“Ah, temanmu tentu saja juga boleh ikut, nak!”

Selang beberapa saat kemudian, Sera dan Luhan sudah berada di mobil yang disupiri oleh ayah Baekhyun. Pria paruh baya yang masih nampak sehat dan bugar itu sempat bertanya-tanya tentang nama Luhan dan darimana asal pemuda itu. Luhan menjawab dengan tangkas, yang tentu saja bohong. Luhan mengaku sebagai teman sekampus Sera, mahasiswa exchange program dari China. Sebetulnya, Luhan sempat tergoda untuk menjawab jujur. Ia penasaran dengan reaksi ayah Baekhyun jika tahu bahwa Luhan adalah pria yang terikat benang merah dengan kekasih anaknya itu dan selama seminggu ini ia tinggal satu atap dengan Sera. Mungkinkah dengan begitu ayah Baekhyun tak akan merestui lagi hubungan Sera dengan Baekhyun?

“Eh? Anda dan Sera punya kebiasaan yang sama rupanya…”ujar Luhan saat melihat Sera dan ayah Baekhyun sama-sama memesan nasi dingin saat di restoran.

“Ne. Dulu saya sampai salah mengira kalau mereka adalah ayah dan anak. Lihat, raut wajah mereka pun mirip,”timpal pemilik restoran yang secara khusus datang sendiri untuk mencatat pesanan ke meja ayah Baekhyun, Sera dan Luhan. Jika diperhatikan memang Sera dan Ayah Baekhyun punya sedikit kemiripan, terutama di bagian mata mereka. Tapi selebihnya sih tidak.

Ayah Baekhyun tertawa menanggapi kata-kata pemilik restoran langganannya itu. “Anda benar, ahjumma. Memang dalam setahun-dua tahun lagi, Sera akan resmi menjadi putriku. Ya kan, Sera?”

“Ne, abeonim!”sahut Sera riang.

“Aighooo, semoga hubungan kalian selalu diberikan kelancaran ya, nak! Kau gadis beruntung. Jarang-jarang ada calon ayah mertua yang sangat menyayangi calon menantunya seperti Pak Byun!”

Lagi-lagi ayah Baekhyun tertawa dipuji seperti itu oleh sang pemilik restoran.

Ayah Baekhyun memang tipe family man yang hangat. Wajar jika orang-orang merasa nyaman berada di sekitarnya karena beliau memiliki raut wajah ramah, selera humor bagus dan cara bicara yang lembut. Dan semua itu nampaknya menurun pada anak laki-lakinya. Pada Byun Baekhyun.

Mungkin hal itulah yang mendasari rasa tak suka Luhan pada ayah Baekhyun ini. Ia tak suka melihat betapa akrabnya ayah Baekhyun itu dengan Sera. Kehangatan pria itu justru membuatnya menggigil.

Sejam kemudian, akhirnya Luhan bisa menghela napas lega karena bisa terlepas dari ayah Baekhyun. Ia dan Sera diturunkan di depan rumah hanok dan ayah Baekhyun langsung melaju pergi menuju guesthouse-nya. Luhan bahkan tidak mau repot-repot mengucapkan terima kasih, tidak peduli bila ia akan dianggap tidak sopan pada orang tua.

Entahlah, hari ini semua yang berhubungan dengan Baekhyun membuatnya sensitif. Sera bahkan harus menerima death glare dari Luhan tiap kali keceplosan menyebut nama kekasihnya itu. Kalau ditanya apa alasan di balik kesensitifannya itu, Luhan akan menjawab tidak tahu. Yaya, pemuda China itu tak tahu apa persisnya salah Baekhyun hingga Luhan begitu membencinya seperti ini.

Tak tahu, atau pura-pura tak tahu?

Saaa!! Ayo kita mulai pencarian kita, Detektif Lu!!”Sera berusaha bercanda untuk memperbaiki mood Luhan hari ini. Tapi pemuda itu hanya menggumam tak jelas dengan wajah bosan.

Sera merengut. Sudahlah, Luhan memang pria menyebalkan. Sikap acuh pria itu tak akan ia biarkan mempengaruhi semangatnya yang menggelora. Bukankah Luhan bilang kalau ia ingin cepat-cepat menemukan kalung itu agar bisa segera pulang ke Beijing? Tapi, Luhan selalu saja malas-malasan dan tidak melakukan apapun. Dasar panda pemalas!!

Seorang wanita berusia sekitar 50an keluar dari dalam hanok itu ketika Sera memencet bel. Hanok itu adalah rumah yang Sera dan ayahnya tempati 3 tahun lalu sebelum ayahnya meninggal. Wanita itu nampaknya sudah sangat mengenal Sera. Ia begitu riang menyambut Sera dan bahkan memeluknya. Tak sulit mendapatkan ijin dari wanita bernama Choi Mija itu untuk masuk ke gudangnya dan mencari barang disana.

“Maaf ahjumma tidak bisa membantu, Sera-ya. Ahjumma harus menjaga cucu ahjumma yang tidur di dalam.”

Begitu ucapan Choi Mija ahjumma sebelum meninggalkan Luhan dan Sera berdua di depan gudang yang merupakan ruangan berukuran tak lebih dari 3×6 dan terpisah dari bangunan utama.

Luhan lagi-lagi merasakan perasaan aneh menggelayuti dadanya. Keengganan yang begitu pekat ketika Sera menariknya masuk ke dalam gudang itu. Kekhawatiran yang membakar dadanya ketika Sera berkali-kali mengucapkan doanya agar mereka berhasil menemukan kalung Luxien. Ketakutan yang begitu kelam meracuni pikirannya ketika tangan kurus itu mengaduk-aduk ke dalam kardus. Doa yang begitu jahat yang tak sadar Luhan dengungkan berkali-kali di benaknya ketika mata indah Sera memeriksa setiap celah yang ada.

Luhan berharap kalung Luxien tak akan pernah gadis itu temukan.

Don’t try to have me. Let’s just stay like this.
You’re making it more painful, why?
Goodbyes after our frequent meet-ups. Repetition of broken hearts.
I can’t find a purpose in these foolish feelings.
A mistake with the mask of love. All the feelings are the same now.
But in this moment, I want you to stay

Shiina melongokkan kepalanya ke dalam ruang sekretariat tempat ia dan puluhan panitia ulang tahun fakultasnya biasa berkumpul. Karena kesibukan yang di luar nalar akhir-akhir ini, ruang sekretariat itu sepertinya sudah boleh disamakan dengan gudang. Berantakan. Barang-barang berserakan disana-sini. Kertas-kertas, sampah bungkus makanan, kaleng-kaleng minuman bekas, botol soju, bantal, tas, sepatu, diletakkan sembarangan dan tak ada yang merasa perlu untuk membereskannya. Buat apa? Toh semenit kemudian, ruangan ini akan kembali berantakan. Di tengah kesibukan mempersiapkan berbagai event seperti ini, beres-beres dan bersih-bersih dianggap sebagai pekerjaan sia-sia.

Manik mata gadis cantik blasteran Korea-Jepang itu menangkap satu sosok yang amat ia kenali di tengah-tengah semua kekacauan itu. Sosok itu sedang sangat fokus membaca sesuatu di layar komputernya, hingga tak menyadari Shiina yang berjalan mendekat padanya.

“Kenapa kau tidak ikut berkumpul dengan yang lainnya?”tanya Shiina.

“Aaah, kau mengejutkanku, hime-sama!”

Shiina tertawa kecil. “Sedang baca apa? Serius sekali.” Shiina menundukkan tubuhnya di belakang Baekhyun, penasaran dengan apa yang sedang Baekhyun baca. “Tour ke Yokohama plus tiket menonton konser Jumping Carnival Hey! Say! JUMP? Kau mau liburan ke Jepang, eh?”

“Mm, aku ingin memberikan kejutan untuk Sera. Setelah pembubaran panitia, aku ingin bolos kuliah dan liburan selama seminggu bersama Sera ke Jepang. Aigho, aku tidak sabar. Membayangkannya saja sudah membuatku senang.”

“Eeeh? Kau bahkan rela membeli tiket konser HSJ? Kupikir kau tidak suka dengan boyband-boyband Jepang favorit Sera itu. Kau sering bilang kalau lagu-lagu mereka tidak cocok dengan telingamu. Apa kau bisa tahan 2 jam di dalam Dome, huh?”

“Mau bagaimana lagi? Sera menyukai mereka, dan sudah lama sekali gadis itu ingin menonton konser mereka. Aku hanya ingin menyenangkan gadis itu,”sahut Baekhyun dengan tatapan menerawang.

Baekhyun tentu sudah hapal betul dengan kesukaan Sera itu. Kenapa harus boyband Jepang? Padahal di Korea—negerinya sendiri—boyband layaknya jamur di musim hujan. Kata Sera, ia ingin anti-mainstream. Kenyataan bahwa boyband tercintanya dari Jepang itu tak pernah mengadakan konser besar di Korea, justru semakin membuatnya tambah bersemangat untuk menabung dan menonton konser mereka di Jepang. Hhhh, Baekhyun benar-benar tidak mengerti selera gadis itu. Jelas-jelas Bigbang dan EXO lebih keren dan populer daripada Hey! Say! JUMP, Kisumai, Arashi, Sixtune? Sixzone? Ah, itulah pokoknya, tapi tak pernah sekalipun Sera berpaling dari anak-anak asuhan Johnny Entertaiment itu. Ya Tuhan, bahkan boyband milik JE lebih banyak dibandingkan boyband milik SM, YG, JYP, Cube dan Bighit dijadikan satu. Tapi Sera hapal semuanya, bahkan seluruh nama membernya.

Shiina menangkap raut wajah enggan dan nada suara penuh keterpaksaan dari Baekhyun. Tapi hanya demi menyenangkan Sera dan menebus waktu yang ia lewatkan selama disibukkan dengan kegiatan kampus, Baekhyun sampai rela berbuat sejauh ini.

Betapa beruntungnya gadis itu. Batin Shiina miris.

“Tenang saja, kau cukup melihat senyum Sera dan mood-mu pasti akan secemerlang matahari. Biasanya juga begitu. Taruhan, walaupun kau tidak suka HSJ, kau pasti akan ikut larut dalam konsernya dan mengacung-acungkan lightstick dengan semangat seperti fanboy otaku!”

Baekhyun terkekeh. “Begitu ya?”

Mochiron (tentu saja)!! Kau selalu berubah menjadi orang idiot jika sudah berada di samping Sera.” Dan aku selalu berubah menjadi orang yang super-idiot jika sudah berada di sampingmu, Baek.

Shiina menatap Baekhyun yang sudah kembali sibuk dengan komputernya. Melihat-lihat situs-situs penawaran paket liburan ke Jepang. Senyum pemuda itu tak lepas dari wajahnya yang tampan. Shiina diam-diam berjanji dalam hati, janji yang telah ia ulang berkali-kali, yang selalu menguatkan hatinya selama ini. Shiina berjanji akan menjaga senyuman itu, meskipun itu berarti ia harus merelakan hatinya rusak parah atau bahkan hancur berkeping.

Tiba-tiba Shiina teringat pada pemuda yang ia lihat di jalan Fakultas Keguruan hari ini. Pemuda tampan yang tatapan matanya pada Sera begitu berbeda. Begitu dalam. Firasat Shiina mengatakan bahwa pemuda itu memiliki perasaan pada Sera. Meskipun ia sendiri tak yakin perasaan apa itu. Dan—yang lebih membuat Shiina penasaran—siapa sebenarnya pemuda itu?

“Baek?”

Baekhyun menoleh. “Hm?”

Shiina menelan ludah. Apa ia harus menceritakan tentang pemuda itu pada Baekhyun?

Yatta!!”

Sorakan Sera itu sukses membuat jantung Luhan terasa berhenti berdetak selama sepersekian detik. Yang langsung berubah menjadi debaran cepat saat gadis itu menyodorkan kalung titanium dan memiliki liontin yang permukaannya mirip sekali dengan permukaan bulan.

Kalung Luxien.

“Ketemu, Lu!”Senyum Sera terkembang sempurna. Ia terlalu bahagia hingga abai sama sekali dengan wajah dan bajunya yang kotor terbalut debu. Abai dengan wajah pias Luhan saat menatap kalung di tangannya.

Jika Tuhan benar-benar serius menghubungkan benang merah di kelingkingnya dengan kelingking Sera, kenapa begitu mudahnya ia membiarkan Sera menemukan alat untuk memutusnya?

Kalung Luxien—benda dari masa lalu yang sempat terlupakan—itu bagaikan gunting merah takdir bagi mereka. Jika benar-benar kalung itu lah ‘benda penghubung Sera dan Luhan di masa lalu’ maka kalung itu benar-benar akan menjadi gunting merah yang memutus benang merah takdir yang mengikat mereka.

Luhan seolah kehilangan kendalinya. Tiba-tiba saja tangannya merenggut kalung bulan Luxien dari tangan Sera.

“Aku tidak akan membiarkanmu menghancurkannya, Cheon Sera. Ini milik Luxien.”

Mata Sera terbelalak lebar. “Eh?”

Wae?”tanya Baekhyun pada Shiina setelah menunggu sahabatnya dari kecil itu bersuara tapi tak ada apapun yang keluar dari bibir mungil itu. Wajah Shiina terlihat sedang berpikir. Ragu. Lalu akhirnya, gadis itu menghela napas panjang dan mengibaskan tangannya di depan wajah.

“Lupakan!”

“Eeeeeeeeeeeeeeeh?”

“Bukan hal yang penting.”

“Bohong! Kau menyembunyikan sesuatu dariku kan? Apa? Katakan padaku! Jangan-jangan ada pemuda tak waras yang mengajakmu pacaran? Siapa dia? Aku ingin melihatnya! Berani-beraninya dia ingin memacari sahabatku! AWH!!!”Baekhyun mengusap-usap bekas pukulan Shiina di kepalanya yang terasa berdenyut-denyut. “Shiinaaaaaa~ sakiiiiit!”rengek Baekhyun memelas.

Shiina mendengus sebal, sambil mengusap-usap kepalan tangannya yang barusan ia pakai untuk memukul Baekhyun. “Sialan kau!! Memangnya hanya pria tak waras yang mau pacaran denganku, huh!! Kau selalu saja usil mengurusi masalah percintaanku. Memangnya kau siapa? Ibuku?”

“Yak! Apa kau tidak sadar? Kau terlalu sempurna, hime-sama. Cantik, seksi, pintar, kaya, cekatan, semua yang diimpikan seorang pria ada padamu. Mereka pasti mendekatimu setelah kehilangan kewarasannya dan tergila-gila setengah mati padamu. Dan mereka pasti sangat nekad karena berani mendekati gadis yang aku jaga selama ini.”Baekhyun menatap Shiina lurus-lurus sambil tersenyum tipis. Wajahnya nampak begitu bangga dengan apa yang baru saja ia ucapkan. Shiina balas menatap Baekhyun dengan wajah datar.

“Aku boleh muntah, Baek?”tanya Shiina acuh tak acuh.

Baekhyun tersenyum manis, hingga matanya menghilang dan membentuk eye smile. Dozo (silahkan)! Tapi jangan disini!”

“Dasar mulut manis murahan!”gerutu Sera sambil berbalik cepat dan melangkah pergi dengan hentakan-hentakan kaki penuh kekesalan.

“Hahaha…”Baekhyun tertawa di belakangnya. Selalu menyenangkan menggoda Shiina-nya.

Baka (bodoh)!!”umpat Sera dalam hati. Ia menaruh kepalan tangannya di bawah bibir, berusaha menutupi rona-rona merah yang merambati wajahnya. Jantungnya sudah berdebar tak terkendali, dan jika saja Shiina tak cepat hengkang dari hadapan Baekhyun ia khawatir jantungnya akan meledak menjadi serpihan.

Aaah, sial, Baekhyun tak pernah sadar godaannya itu berefek begitu besar pada Shiina.

“Soal pria itu, lebih baik tidak usah aku katakan pada Baekhyun,”putus Shiina, akhirnya. “Lagipula Sera tak mungkin selingkuh dari Baekhyun. Gadis itu mencintai Baekhyun sebesar rasa cintaku pada Baekhyun, bukan?”

Ya. Shiina memutuskan untuk menangguhkan dulu masalah ini. Ia tidak mau kecurigaannya yang tanpa dasar itu membuat Baekhyun cemas. Shiina tak ingin senyuman manis Baekhyun terhapus dari wajahnya.

“Apa maksudmu?!”tanya Sera dengan suara keras. Tangan gadis itu sudah terkepal di samping tubuhnya. Ia tidak mengerti kenapa tiba-tiba Luhan berubah pikiran seperti ini. Pemuda itu tidak mau menghancurkan kalung Luxien? Apa dia mengerti apa konsekuensi dari perbuatannya itu??

“Barusan sudah ku bilang kan? Aku tidak mau menghancurkan kalung Luxien. Aku sudah mencari kalung ini selama bertahun-tahun. Kau yang telah kehilangan ayah yang sangat kau cintai pasti mengerti kan perasaanku? Luxien adalah separuh dari diriku dan ini adalah pelengkap dari kalung yang kumiliki. Mana mungkin aku bisa menghancurkannya bukan?”

“Tapi jika tidak kau hancurkan maka…”

“Aku tidak peduli,”sambar Luhan cepat. “Cari cara lain. Kalau tidak ada, aku tidak keberatan jika harus tetap tinggal disini dan tidak bisa kembali ke China. Aku juga tidak keberatan terus hidup terikat denganmu.”

“M-mustahil!”Sera tergagap. “Lalu bagaimana denganku? Bagaimana aku dan Baekhyun…”

“Hei,”potong Luhan dengan tarikan suaranya yang begitu dingin. Pemuda itu meraih dagu Sera dengan jari-jarinya dan mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu. Sera merasakan napasnya tercekat saat melihat sorot mata Luhan. Begitu datar. Tanpa perasaan. Sera ngeri melihat Luhan yang nampak begitu asing baginya. Ini seperti bukan Luhan yang ia kenal.

“Jika aku saja tidak peduli pada diriku sendiri, bagaimana mungkin aku peduli padamu apalagi pada Baekhyun, Cheonse.”

Sera ternganga. Airmata gadis itu mendesak keluar. Tapi Sera bersumpah tak akan menangis karena hal ini. Ia tidak mau terlihat lemah di hadapan Luhan.

“Kau tahu? Ada banyak pasangan di dunia ini, mereka saling mencintai sepertimu dan Baekhyun. Tapi tak semuanya berjodoh, Cheon Sera. Kenapa? Karena selalu ada akhir di setiap hubungan. Benang merah takdirmu bukan terhubung pada Baekhyun melainkan terhubung padaku. Apa artinya itu? Artinya, kau pada akhirnya akan berpisah dengannya. Entah itu karena kau tidak mencintai Baekhyun lagi, atau Baekhyun yang sudah tidak mencintaimu lagi, atau karena…”

“Hentikan, omong kosongmu itu, gae saeki!!”umpat Sera.

Luhan melepas dagu Sera kasar, tersinggung oleh umpatan gadis itu. Ia pun mengalungkan kalung Luxien ke lehernya lalu memasukkan ke dalam kaosnya sebagai peringatan untuk Sera bahwa Sera tak akan bisa merampas kalung itu dari Luhan. Kemudian, pemuda itu beranjak pergi dari hadapan Sera.

Sera sendiri seolah merasakan otot kakinya mengejang kaku, tak mampu ia gerakkan. Padahal tadi ia begitu dekat dengan harapannya selama ini. Harapan untuk segera memutus benang merah sialan ini dan berlari dengan bebas ke pelukan Baekhyun. Tapi kenapa Luhan tiba-tiba berubah?

“Luhan, aku mengerti perasaanmu.”Sera mengejar Luhan, berusaha menjajari langkah cepat laki-laki itu. Ia mencoba bernegosiasi. “Tapi ini cara tercepat agar kita bisa memutus benang merah ini. Kumohon pikirkanlah. Aku yakin, Luxien tak akan marah jika kita menghancurkan kalungnya. Ini semua demi kebaikanmu bukan? Luxien pasti mengerti.”

“Kita cari cara lain…”Tanggapan Luhan begitu datar.

“Tapi kita bahkan tak tahu apakah cara lain itu benar-benar ada atau tidak.”

“Karena itu aku tidak keberatan terikat bersamamu…”

“Tapi aku tidak mau!”sambar Sera cepat. Langkah mereka terhenti. “Aku tidak mau,”ulang Sera.

Luhan terdiam beberapa saat. Suara desiran angin memecah keheningan diantara mereka.

“Dan aku tidak peduli kau mau atau tidak,”balas Luhan dingin.

“Luhan-ssi!”

Luhan tak menggubris teriakan penuh kekesalan yang Sera lontarkan. Punggungnya terus menjauh, membuat jarak diantara dirinya dan Sera semakin melebar yang otomatis membuat benang merah mereka semakin menegang. Sera berdecak sebal, tak ada pilihan lain selain mengikuti Luhan.

“Kenapa kau tiba-tiba bersikap seperti ini?”Sera masih belum menyerah. “Tidak. Jangan-jangan sedari awal kau memang tidak berniat menghancurkan kalung itu setelah ditemukan kan? Kau hanya membantuku untuk kepentingan dirimu sendiri.”

“Ding. Dong. Kau benar!”

Nada suara datar Luhan membuat Sera menggeram marah. “Kau egois, Luhan!”

“Itu salah satu sifat burukku, asal kau tahu!”

“Berhenti!!”jerit Sera, tapi tak Luhan gubris. Sera marah melihat Luhan terus saja berjalan di depannya. Sera muak melihat punggung Luhan yang begitu tak peduli. Mengabaikan Sera begitu saja. Luhan begitu egois. Sangat egois! Bukankah Luxien meninggalkan banyak barang kenangan untuk Luhan? Mereka kembar! Mereka pasti tidak hanya berbagi kalung. Lalu untuk apa Luhan menyita kalung itu dari Sera? Padahal itu satu-satunya harapan Sera saat ini.

“Berhenti, Xiao Luhan!! Berikan kalung itu padaku!!”

Tanpa sadar mereka telah berjalan cukup jauh dan kini mereka telah sampai di deretan pertokoan dengan trotoar besar di depannya. Luhan masih berjalan acuh di depan Sera, dengan tangan di taruh di saku celana seperti biasa. Seolah jeritan Sera hanyalah dengungan lalat.

“Aku tidak mau terikat selamanya denganmu!”jerit Sera lagi. Ia melihat Luhan sudah menyeberangi jalan dan Sera memutuskan untuk berhenti di tepi jalan. Ia tidak peduli jika kelingkingnya putus karena saat ini benang merah mereka sudah menegang sempurna. Di sisi jalan yang lain, Luhan sedikit tersentak ke belakang karena jarinya tertarik kuat. Langkahnya sukses terhenti.

“Serahkan kalung itu padaku, atau aku akan membencimu, Xiao Luhan!!”ancam Sera.

Tapi ancaman itu ternyata tak berefek apapun. Luhan bahkan tak mau berbalik untuk melihat Sera.

Mata Sera melebar ketika Luhan memaksakan langkahnya dan ketika pria itu dengan dinginnya menyentakkan benang merah di jarinya ke depan, jari kelingking Sera pun otomatis tertarik ke depan. Alih-alih putus, jari kelingking itu justru membuat seluruh tubuh Sera ikut tersentak ke depan.

Lampu yang semula hijau untuk pejalan kaki sudah sejak beberapa detik yang lalu berubah merah. Lampu untuk pengguna kendaraan sudah sejak beberapa detik yang lalu berubah hijau.

Kaki Sera kini sudah berada di atas jalanan beraspal. Tubuh gadis itu limbung. Belum sempat Sera mengatasi keterkejutannya, sebuah sedan berwarna silver melaju ke arahnya tanpa sempat mengerem. Menghantam tubuh bagian sampingnya keras.

BRAK!!

Lampu rambu-rambu lalu lintas tanda pejalan kaki boleh melintas berwarna hijau berkedip-kedip. Luhan melangkah turun ke jalan, melintasi zebra cross. Tak peduli langkahnya yang panjang-panjang itu membuat Sera terseok di belakangnya. Dadanya terbakar oleh amarah.

“Serahkan kalung itu padaku, atau aku akan membencimu, Xiao Luhan!!”teriak Sera dari seberang jalan.

Langkah Luhan terhenti, bukan hanya karena benang merah yang menghubungkan dirinya dan Sera begitu kuat menariknya, tapi lebih karena kata-kata Sera itu berhasil meruntuhkan keberaniannya. Ada ketakutan asing merambati dirinya ketika mendengar ancaman Sera. Kenapa bayangan akan dibenci oleh gadis itu terasa begitu mengerikan?

Tapi ada bayangan lain yang ternyata lebih mengerikan. Luhan menggertakkan giginya. Lagi-lagi muncul peperangan di dalam dirinya. Luhan benci harus mengakui dirinya tidak ingin merusak kalung Luxien karena tidak ingin berpisah dari Sera. Bayangan perpisahan itulah yang terasa paling mengerikan dibandingkan apapun.

Aku akan baik-baik saja meski tanpa gadis itu di sisiku. Lalu kenapa aku tetap saja tidak rela jika benang merah ini putus?! Apa istimewanya gadis itu hingga membuatku gila seperi ini?!!!

Luhan menyentakkan tangannya dengan penuh amarah. Jengah dengan pergulatan batin yang begitu membingungkan. Ia tak sepenuhnya sadar konsekuensi apa yang menunggu karena sikap impulsifnya itu, yang Luhan tahu hanya lah gadis itu tak akan mampu menjauh darinya lebih dari 7 meter. Luhan benar-benar alpha pada kenyataan bahwa benang merah itu tak sepanjang yang ia perkirakan.

BRAK!!!

“AH!”

Suara benturan keras dan jeritan suara Sera menyentak Luhan. Pemuda itu berbalik cepat dan melihat sebuah mobil berhenti dengan posisi tak wajar di atas zebra cross. Beberapa orang yang ada di sekitar sana juga mulai berlarian mendekat. Telah terjadi kecelakaan dan suara jeritan Sera mengindikasikan bahwa…

Tidak.

Tidak.

Tidak.

Bohong!! Sera tidak mungkin…

Luhan berlari dengan panik menyeberang jalan. Ia bahkan hampir ditabrak oleh mobil lain jika terlambat melompat sedetik saja.

“…Artinya, kau pada akhirnya akan berpisah dengannya. Entah itu karena kau tidak mencintai Baekhyun lagi, atau Baekhyun yang sudah tidak mencintaimu lagi, atau karena…”

Kematian.

Napas Luhan seolah terenggut dari paru-parunya dan jantungnya seolah diremas kuat hingga pecah. Wajah Luhan memucat. Tubuhnya bergetar. Bayangan Luxien yang jatuh lemas setelah berhasil menyelamatkannya berkelebat di benak Luhan.

Tidak lagi… Ya Tuhan…

“SERA!!!!”

Angels Club. Tak sesuai dengan namanya, tempat ini terlalu identik dengan minuman keras, lampu disko, musik berisik yang memekakkan telinga dan ratusan tubuh yang menggeliat butuh hiburan. Alih-alih Angels Club, seharusnya pemilik tempat ini menamainya Devil’s Club atau sejenisnya.

Seunghyun menatap bosan pada lantai dansa. Manik matanya yang hitam gelap tak lepas dari sesosok tubuh seorang wanita yang asyik menari di atas lantai dansa. Pemuda bersetelan hitam itu menghela napas panjang. Kenapa lagi-lagi ia harus melakukan hal ini?

Kim Yoojung, gadis itu selama beberapa hari ini kerap bersikap semena-mena dengan menganggap Seunghyun sebagai pengawal pribadinya. Menyuruh Seunghyun menjemputnya, memaksa menemani Yoojung ke tempat-tempat yang Yoojung inginkan, dan membuat Seunghyun harus rela waktunya terbuang percuma.

“Ini balasan karena Tuan Muda-mu itu mencampakkanku dan hilang begitu saja, Seunghyun-a,”ujar gadis itu ketika dikuasai sepenuhnya oleh alkohol, kemarin. “Karena dia jahat padaku, maka aku akan jahat padamu!”

Analogi yang aneh. Tapi Seunghyun tak bisa menolak Yoojung karena Xiao Yumin meminta tolong padanya secara khusus untuk menangani gadis itu. Yoojung sudah Yumin anggap sebagai adik perempuannya dan hanya Seunghyun yang saat ini ia percaya untuk menjaga gadis itu selama di China. Jadi, wajar saja jika sekarang kepala Seunghyun rasanya mau pecah karena beban yang ia tanggung. Luhan—tuan mudanya—belum juga ia temukan, dan kini ia harus mengurus boneka barbie yang manja. Menyebalkan!

Perhatian Seunghyun akhirnya teralihkan pada getar smartphone yang ada di saku jasnya. Ia mengeryit ketika melihat nomor berkode negara Korea muncul di layar ponsel pintar itu.

Yoboseyo…”Sapa Seunghyun menyesuaikan dengan asal peneleponnya setelah ia menyingkir dari bar dan mencari tempat yang tidak terlalu bising.

“Seunghyun…”suara bergetar itu menyentakkan kesadaran Seunghyun.

“Tuan Muda Han!!”

Seunghyun berlari dengan tergesa menyelusuri lorong rumah sakit. Mengabaikan tatapan menegur yang dilayangkan para perawat padanya. Setelah mendapat telepon dari Luhan, ia menarik paksa Yoojung untuk pulang dan menyetir setengah kesetanan menuju hotel Yoojung. Tak peduli pada Yoojung yang mengomel dan memaki sepanjang jalan. Di perjalanan itu juga Seunghyun sempatkan untuk menelepon sekertarisnya dan setelah menurunkan Yoojung, Seunghyun langsung tancap gas menuju bandara. Sekretarisnya yang selalu bisa Seunghyun andalkan sudah siap dengan paspor, visa dan tiket sesampainya ia di bandara. 2 jam kemudian Seunghyun telah sampai di Rumah Sakit Gyorae. Tujuannya adalah ruang perawatan nomor 215. Tempat dimana Luhan berada.

“Tuan Muda Han!!”Seunghyun tak kuasa menahan seruannya ketika melihat Luhan yang tertunduk di kursi tunggu yang ada di luar ruangan.

Luhan yang nampak pucat dan berantakan mendongak ke arah Seunghyun yang sudah berjongkok di dekat kakinya. “Kau bawa uang yang kuminta?”tanya Luhan. Seunghyun sempat terkejut karena Luhan berbahasa Korea padanya. Sama seperti saat ia menelepon. Apakah karena selama seminggu ini ia berada di Korea dan saat ini pikirannya sedang kalut karena itu ia lupa dengan bahasa ibunya sendiri?

“Ne, tuan muda. Tapi saya belum sempat ke kasir karena ingin bertemu dengan tuan muda terlebih dahulu.”

Luhan menggeleng lemah. “Gwaenchana.”

Uang yang Luhan maksud, adalah untuk membayar biaya rumah sakit. Luhan meminta hal itu pada Seunghyun, meski pemuda itu hanya bilang ‘bawalah uang sebanyak yang kau bisa Seunghyun. Kumohon cepat kemari’. Tapi setelah mendengar Luhan menyebutkan tempat dimana ia berada, Seunghyun langsung bisa menyimpulkan bahwa Luhan butuh uang untuk biaya perawatan.

Ah ya, jika melihat Luhan ada di luar bukannya di dalam ruang rawat, sepertinya biaya perawatan itu bukan untuk Luhan. Apalagi setelah Seunghyun cek, tak ada satupun luka di tubuh Luhan.

 “Apa yang terjadi, tuan muda?”

“Seunghyun, lagi-lagi aku menyebabkan orang lain terluka karena kebodohanku,”jawab Luhan sambil kembali menundukkan kepalanya.

Seunghyun terdiam. Tak sanggup lagi bertanya. Ini bukan waktunya. Tidak ketika tuan mudanya sedang berada di kondisi terpuruk seperti ini.

Tepat saat itu, seorang dokter dan perawat keluar dari dalam ruangan. Seunghyun langsung berdiri menyambutnya. Sedangkan Luhan hanya mampu mengangkat sedikit kepalanya.

Dokter itu melirik Luhan sekilas sebelum bertanya pada Seunghyun. “Anda keluarga nona Cheon?”

Nona Cheon?

Seunghyun dengan sigap, mengangguk. “Ne.”

“Luka-luka ditubuhnya tidak terlalu parah. Hanya lebam di bagian pinggang dan beberapa luka gores di tubuh. Pendarahan otak yang kita takutkan untungnya tidak terjadi, dan nona Cheon Sera tidak mengalami gegar otak. Hanya saja…”Dokter itu menjeda kalimatnya untuk mengambil napas. “Hanya saja, Nona Cheon memiliki riwayat penyakit jantung dan jantung yang berdetak di tubuhnya sekarang adalah jantung hasil dari transplantasi.”

Luhan bergerak bangun karena terkejut. “Ne?” Tapi, Sera tak pernah menceritakan hal itu sebelumnya!

“Ne. Transplantasi itu sudah sejak beberapa tahun yang lalu, dan mungkin sekarang Nona Cheon sudah lepas dari keharusannya mengkonsumsi obat-obatan. Bisa dibilang ia sudah sembuh dari penyakit jantungnya. Tapi, saya khawatir syok karena kecelakaan ini berakibat buruk pada jantungnya, karena itu kami akan melakukan observasi selama 2×24 jam untuk memastikan kondisi jantungnya baik-baik saja.”

“Ne, kami mengerti. Kami mohon bantuannya, dokter,”ujar Seunghyun mengambil alih situasi karena Luhan sudah kembali membeku di sampingnya.

Kenapa Sera tak pernah bilang kalau ia memiliki penyakit jantung sebelumnya?

“Kecuali Seoul, aku sering berkunjung ke Seoul tapi hanya menetap disana selama 6 bulan. Itupun…”Sera menelan ludah,

“Aku lebih banyak menghabiskan waktu di sekolah, di rumah dan di ‘tempat itu’”

Seoul? Tempat itu? Apakah yang Sera maksud adalah rumah sakit?

“Jalan-jalan di gunung seperti ini baik untuk kesehatan, Lu. Terutama bagi sistem kardiovaskular, mendaki gunung bisa menurunkan kolesterol, memperbaiki sistem pernapasan dan menyehatkan jantung.”([IV] MIGIKATA)

“Chak-chakkaman! Aku tidak kuat. Berhenti—hh—berhenti menarikku, Lu!” ([III] Old Man Under The Moonlight)

Jadi saat ia kesakitan itu ia tak berbohong.

Sialan Cheon Sera!! Sebenarnya kau ini siapa? Kenapa kau bisa membolak-balikkan hati Luhan dengan begitu mudah?! Kau membuat Luhan terpesona padamu, menunjukkan kelemahannya padamu, marah padamu dan kini kau membuat Luhan merasa menjadi orang paling jahat di dunia!

Seunghyun mengerjapkan matanya beberapa kali. “Ne?”tanyanya entah untuk ke berapa kali.

Luhan memicingkan matanya kesal. Lalu menghela napas lelah. “Kubilang juga apa, lebih baik kau tidak usah mendengar alasanku kenapa bisa tiba-tiba ada di Jeju daripada kau kebingungan seperti ini. Dari tatapan matamu itu, aku jadi nampak seolah diriku ini sudah gila.”

“Tidak, tuan muda! Bukan begitu! Ini karena saya tidak bisa melihat…eum…benang merah ajaib itu jadi sulit bagi saya untuk percaya. Saya butuh waktu untuk mencernanya. Dan soal teleportasi yang terjadi pada anda karena bulan purnama, itu…”Seunghyun menggaruk belakang tengkuknya. “…itu juga butuh waktu untuk saya pahami.”

“Tidak usah kau pahami, karena sampai sekarang pun aku masih tidak mengerti apa yang terjadi pada kami sebenarnya,”sahut Luhan sambil menatap wajah lelap Sera yang terbaring di ranjang rumah sakit. Kepala gadis itu di bebat, tangannya yang lecet-lecet nampak berwarna oranye karena dibalur dengan antiseptik. Jarum infus menancap di tangan kirinya, membuat Luhan miris karena tangan kurus itu begitu kelihatan rapuh di matanya. Kulit Sera begitu putih hingga nyaris transparan. Pembuluh darahnya bahkan bisa Luhan lihat dengan mata telanjang.

“Ini sudah pukul 12 malam, tuan muda. Anda sudah berjaga di posisi yang sama lebih dari 4 jam,”ujar Seunghyun. “Tidurlah di sofa, saya akan menggantikan anda menjaga Nona Cheon Sera.”

Luhan menggeleng pelan. “Tidak. Biarkan saja aku. Aku tidak mengantuk.”

“Anda bisa sakit…”

“Aku tidak akan jatuh sakit hanya karena ini, kau tahu itu.”

Ya. Ia ingin menjaga Sera dan ada di saat gadis itu bangun nanti. Luhan begitu tidak sabar untuk mengucapkan kata maaf pada Sera saat gadis itu sadar. Luhan akan memberikan apapun pada Sera asal Sera memaafkannya. Bahkan jika harus menghancurkan kalung Luxien dan lenyap dari hadapan Sera, Luhan siap! Semua itu tidak penting lagi saat ini bagi Luhan. Yang penting hanyalah Sera cepat bangun, luka-luka di tubuh gadis itu sembuh, dan gadis itu kembali tersenyum.

“Cheonse…”desah Luhan pelan. Penuh penyesalan.

Dulu juga seperti ini. Luxien juga pergi karena kebodohannya. Seandainya hari itu ia mampu menahan emosinya, seandainya ia tidak lalai membiarkan komputernya begitu saja, seandainya ia tidak berniat bunuh diri, seandainya Luxien tidak menolongnya…

Eh?

“I-ige MWOYA???”

Luhan tersentak kaget. Tubuhnya menghentak ke belakang seperti sedang menghindari objek mengerikan yang tiba-tiba muncul di depannya. Keputusan salah karena hal itu membuat kursinya tidak seimbang dan Luhan jatuh terjengkang ke belakang.

BRAK!!!!

“Tuan muda!!” Seunghyun terlonjak dan secepat kilat menghampiri Luhan. Berusaha membantu Luhan untuk bangun.

Tapi tubuh Luhan seolah telah disemen. Kaku. Dan tatapan pemuda itu begitu nyalang menatap sesuatu di jari kelingkingnya.

“Tuan muda, ada apa?”tanya Seunghyun khawatir. Tidak mengerti apa yang terjadi.

“Benang merahnya…”Luhan tercekat. “…benang merahnya masuk ke dalam tubuhku.”

Benar. Sesuatu yang Luhan tatap dengan tatapan ngeri itu adalah benang merah takdir yang berpendar-pendar dan mengikat ketat di kelingkingnya. Benang merah itu mulai terhisap masuk sepanjang 50 cm ke dalam tubuh Luhan dan Sera, seperti yang terjadi pada malam-malam sebelumnya.

“Apa kalian sudah mengerti semua aturan mainnya?”

Luhan kini mengerti apa arti ucapan dari kakek tua misterius itu. Jadi, inikah aturan main lainnya yang dimiliki oleh benang merah ini? Dan inikah jawaban dari kecurigaanku tadi pagi? Benang merah ini tidak lagi sepanjang 7 meter seperti sebelumnya, tapi terus berkurang setiap malam hingga akhirnya aku dan Sera tak berjarak lagi. Gila! Hei Luxien, apa kau juga mengetahuinya bahwa keajaiban ternyata punya sisi yang mengerikan seperti ini.

Luhan meremas dua liontin yang kini bersisian di dekat dadanya. “Seunghyun…”

“Ya, tuan muda.”

“Apa hukuman yang diberikan Tuhan pada pelaku pencurian?”

“Eh?”

“Aku berniat untuk mencuri sesuatu dari seseorang.”Luhan mendongak menatap Sera yang masih terbaring tak sadarkan diri. “Ah, tidak, ini bukan mencuri namanya jika yang kuambil adalah sesuatu yang memang telah menjadi milikku sejak awal, bukan?”

At first, it was half excitement, half worries
But in the end, it became an obligation, trial and error
Day by day, I get nervous, your innocence is too much pressure on me
But tonight, I want you to stay

To be continued.

Fiuuuuh…. akhirnya selesai….

Sebelumnya aku mau minta maaf karena typo yang menurutku agak fatal di MIGIKATA. Nama tunangan Luhan itu Kim Yoojung bukan Soojung, maaf ya karena uda bikin bingung, huhu.

 Aku nggak banyak cuap kali ini karena udah capek ngetik. Mau download Charlotte dan Shirayuki-hime dulu, hehehehe…. ^^

Makasih yaaa udah mau baca. Like, komen, kritik sarannya ditungguuuuu~~ once again, domo arigatou, mumumu~~ ^^

tumblr_nt8t97RLgj1qa2bu9o1_500 url

tumblr_no454izgsw1s0rhu3o1_250

Best Regard,
Seara Sangheera

313 responses to “MOON THAT EMBRACE OUR LOVE – [V] LET’S NOT FALL IN LOVE

  1. Ini apa kaaaakkkkkkk..
    Aku baper berat gara gara baca iniiiii…
    Huhuhuuuuu, sedih.. sera nya knp harus kecelakaan.. terus yg penyakit jantung ituuu.. aaaahhhh, aku baper beraaatttt!!
    Luhan lama lama nyebelin. aku pengen benang nya dihancurin ajaaaaa.. biar sera bahagia ama baekhyun.. tapi luhan? aaahh, dia nyebelin!
    Sudah dulu ahh, see you next time kakak 😉

  2. KYAAAAAAA…. eotthokhae?? Mereka kok kompakan plin plan gitu sih. Ah,Luhan juga pake nggak mau ngaku lagi. Ck! Tapi,so sweeeeeeetttttt TT. Eon,aku suka Luhan manggil Sera,Cheonse. Khas LuSera Couple. And,aku suka rekomendasi lagu2 Jepangnya lumayan eon,walau aku nggak tahu artinya. Wkwkwk. Suka juga,penggambaran eonni tentang perasaan Luhan-Sera. You did it,softly. Touched bgt! Sedikit typo eon,salah nulis Shiina,ditulis Sera. Itu aja. Over all,aku love banget. SEMANGAT…!!><

  3. NGG OKAY, KALI INI DADAKU NYEKELIT KARNA BAYANGAN APAKAH FF INI UDH SELESAI APA BELUM YA AKU GAK KUAT!;__;

    JEBAL AKU UDH TERLANJUR JATUH HATI SAMA ALURNYA HUWEE, AKU GAK KEBAYANG SE ANU APA KALO TERNYATA FF NYA MASIH BLM ENDING HUWEEE SANGHEERA NIM TANGGUNG JAWAB!

    Aku tuh dulu udh baca tapi gak inget aku udh baca sampe chapter mana tapi rasanya adegan di gunung aku blm baca tapi entah kenapa bagian luhan nelfon top udh ke inget sama aku sebelumnya —AAH INTINYA GEREGETAN!

    Ini chapternya nano-nano banget sih serius T__T akutuh aslinya dukung lusera tapi beneran gak tega sama baekhyun dan keluarganya 😭 UWOH JEBAL SANGHEERANIM JEBAL BUATLAH JADI RINGAN 😭 Aku beneran gak sanggup bayangin kalo jadi complicated bgt atau bakal pada ngerasain sakit semua HUWEEE ..

    Dengan masalah² yg perlahan terungkap aja aku udh mewek, aslian dah gak siap rasanya. HIYAY! NEMUIN KHAS SANGHEERA LAGI AKHIRNYA! Pasti khas nya sangheera tuh selalu ngumpetin ‘sesuatu’ dari setiap karakter yg pas muncul auto bikin hati tuh nyeeessss banget, kaya contohnya jantung sera sama ternyata luhan berniat bunuh diri………..

    AAAAAAAHHHHHHHHHHHHHHHHHH!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s