Ambition [Chapter 7] – by Sehun’Bee

Ambition

Sehun’Bee

.♥.

Sehun – Hanna – Skandar

.♥.

Kai – Jenny – Freddie

.♥.

Romance – Drama

.♥.

PG-17

Multi-Chaptered

.♥.

Credit >> poster and Header Title by : popowiii | SHINING VIRUS

..♥..

First Sight [1]Nice to Meet You [2]Plan [3] I lose, You Fall [4] You’ll be Mine [5] Lie [6]

I Got You [Now]

.
.

-Ambition-

sehun dinner

Sehun hanya menatap hampa tenderloin steak dengan black pepper sauce di depannya. Dentingan pun terdengar saat tangannya melepas pisau dan garpu secara bersamaan. Nafsu makannya menguap bersamaan dengan rentetan kalimat yang telah Jenny buang cuma-cuma ke udara. Sementara gadis itu menatap pria yang hanya mengenakan bathrobe itu siaga.

Sehun marah.

Leher tanpa jakunnya bergerak naik-turun gelisah. Rambut basah Sehun beserta belahan dada rendah dari bathrobe yang dikenakannya sama sekali tak mampu mengalihkan rasa takut Jenny. Alis tebal Sehun bertaut dengan pancaran amarah di netra, napasnya terdengar teratur namun keras terhembus. Bibir mungilnya masih terkatup rapat dan Jenny harap terus seperti itu ketimbang harus mendengar ledakan amarahnya.

“Rockefeller? Freemasonry. Keluarga gila sok dermawan. Mencari muka di Amerika dengan membangun rumah sakit untuk korban perang, tetapi menjadi sponsor untuk NAZI di Jerman.” Sehun mencibir kesal. “Sialnya, mantan kekasih calon istriku salah satu dari mereka. Dan gilanya, dia adalah temanku.” Sehun menghempaskan punggungnya ke sandaran.

Kedatangan Jenny sungguh menghancurkan suasana hatinya. Baru dua jam yang lalu Sehun berhasil merebut ciuman pertama Hanna. Mengantarnya hingga ke kamar lalu berpisah tanpa sepatah kata pun hingga Sehun yakin telah memilikinya. Tetapi kini, Jenny datang mengatakan alasan mengapa Hanna tak menghadiri lelang, lalu memintanya untuk menjauhi gadis itu dengan alasan tak masuk akal.

“Hanna ingin menaklukkanku hingga 520 Park Avenue menjadi miliknya, tetapi gadis itu tak ingin aku hancur di tangan orang lain sampai-sampai rela melepas mimpinya dan lebih memilih menjauh dariku … Jika seperti itu, bolehkah aku berpikir bahwa Hanna juga memiliki perasaan yang sama denganku?”

Jenny mengerjap sekali saat mendengar pernyataan sekaligus pertanyaan Sehun. Otak lambannya menangkap cepat semua gambaran tentang Hanna hingga beranggapan sama dengan pria itu. “Tetapi, bagaimana jika Nona Hanna hanya tidak ingin hubunganmu dan teman-temanmu hancur karenanya? Ayolah, Sehun, Nona Hanna amat sulit dimengerti, jangan besar diri!”

“Apa itu alasan yang masuk akal sampai Hanna rela melepas 520 Park Avenue untukku? Sementara aku tahu dia gadis yang penuh akan ambisi.” Sehun menatap sepupunya dengan kobaran tak suka.

“Apa cinta juga alasan yang masuk akal sampai seorang gadis yang penuh ambisi itu mengalah?” Jenny tak kalah menantang. Dalam hati ia berharap Sehun tidak memecahkan barang-barang sebagai luapan emosi.

“Ya, tentu, Hanna mencintaiku dan tak ingin aku hancur di tangan sahabatku sendiri. Itu alasannya.”

“Oh Sehun, kau terlalu percaya diri!”

“Percaya diri membuatku berani!” Sehun bangkit dari duduknya hingga decitan kursi terdengar ngilu. “Aku akan pergi menemuinya!”

“Apa? Mau apa kau? Ini sudah jam sebelas malam Sehun!” Jenny menatap gemas sepupunya yang mulai melepas bathrobe tanpa malu.

“Aku ingin bulan madu.”

“Kau gila!” Kepala Jenny pusing mendengarnya. Ia tahu, Sehun seperti itu karena cemburu lantaran mengetahui Hanna yang ternyata pernah menjalin kasih dengan seorang pria di masa lalu. Dan lebih cemburu lagi saat mengetahui mantan kekasihnya itu sahabatnya sendiri. Jika sudah cemburu, Sehun tak akan bersikap lebih dewasa dari remaja berusia 17 tahun. Akal sehatnya bahkan tak bekerja sampai-sampai begitu percaya diri bahwa Hanna mencintainya tanpa memikirkan alasan lain yang mungkin jauh lebih kuat.

-Ambition-Purity ring di jari manis terus Hanna mainkan dengan jari telunjuk. Ia tak bisa tidur meski perutnya sudah diisi irisan daging panggang. Gelang berwarna platinum yang melingkar di tangan kanan pun menjadi titik fokusnya kini. Sementara tangan kirinya beralih menyentuh bibir tanpa sadar, terdiam sejenak dengan fokus mengambang ke langit-langit kamar. Tak lama, Hanna merubah posisi dengan bantal dalam pelukan. Wajahnya bersembunyi di sana. Gadis itu malu kala pipinya kembali merona mengingat perlakuan Sehun. Tetapi, mengapa harus malu? Di sini tidak ada siapa-siapa!

Hanna kembali terlentang, sadar akan hal itu. Sekarang apa? Hanna tahu Sehun benar-benar serius padanya, lalu bagaimana dengan Freddie? Besok, pria itu tiba di New York dan tak akan menemukannya di sana. Pria itu pasti akan mencarinya dan kemudian tahu ia sedang bersama Sehun dan Skandar. Hah.. Hanna kembali mengubah posisi, bantal pun kembali dipeluknya.

Freddie akan berubah menyeramkan saat cemburu, Hanna tahu itu. Pria itu membuatnya merasa istimewa akan perlakuan posesifnya, tetapi juga merasa terhina saat melihatnya menganggukkan kepala setuju untuk menjadikannya bahan taruhan. Bastard! Bibir mungil itu tanpa sadar mengumpat. Kesal itu masih ada hingga kini.

Hanna ingat bagaimana ringannya kala dirinya melangkah keluar menuju pelataran parkir Harvard Business School untuk menemui Freddie yang sudah dibuatnya menunggu. Dengan Nike Airforce I Supreme Max bertahtakan berlian sampanye 11 karat membentuk logo Nike, gadis itu terus melangkah tanpa beban. Penampilannya terlihat sederhana dengan deretan merk ternama yang melekat pada tubuhnya, dimulai dari T-Shirt putih bergambar abstrak hingga tas selempang karya Louis Vuitton di bahunya. Jika dikolektifkan, harga kesemuanya itu bisa digunakan untuk menyewa belasan kamar hotel bintang lima sekaligus, mengingat sepatunya saja dibandrol dengan harga $ 50.000 (setara Rp. 689.900.000). Sayang, barang branded ternama sudah menjadi hal biasa untuk anak-anak kelas bisnis.

Gadis itu tersenyum tipis kala melihat pria yang sudah berhasil mengambil hatinya 14 bulan terakhir ini tengah duduk santai di atas Lamborghini Veneno Roadster berwarna hitam mengkilap. Teman-teman kekasihnya juga ada di sana, mereka terlibat obrolan yang tidak Hanna ketahui apa temanya. Kakinya tanpa ragu terus melangkah mendekat, hubungannya dengan Freddie sudah menjadi konsumsi publik. Teman-teman kekasihnya juga telah mengenalnya dengan baik.

“Tiga juta Dollar untuk membuat Hanna lemas dalam kuasamu. Bagaimana? Bukankah kalian akan menikah setelah upacara kelulusan?”

Hanna berhenti menjejakkan kakinya; gadis itu kembali mundur demi menyembunyikan tubuhnya di belakang mobil Jeep.

“14 bulan menjalin hubungan, tetapi tak pernah menyentuhnya. Kau terlihat seperti pecundang, Die.” Pria berambut cokelat gelap itu mencibir.

“Aku mencintainya—“

“Tetapi kau tidur bersama wanita lain di luar karena itu … karena kau tidak bisa memakai kekasihmu sendiri—“

“Dia bukan barang!” potong Freddie pada si rambut pirang.

Hanna tersenyum mendengar pembelaan Freddie, kepalanya keluar demi melihat kekasihnya yang sedang dipojokkan itu.

“Aku tahu, dia hanya seorang gadis perawan.” si rambut hitam legam mengedikkan bahu.

“Dia lebih berharga dari apa pun!” Freddie menatap tak suka si rambut hitam bertubuh mungil itu.

“Kami tahu, itu yang membuat Hanna menarik dari ratusan gadis lain di luar sana. Kami juga menginginkannya asal kau tahu ….” Pria berambut pirang dengan mata obsidian hijau mengambil tempat di samping Freddie.

“Jangan macam-macam! Aku bisa saja menghancurkan kalian meski kalian sahabatku jika kalian berani—“

“Ayolah, kami hanya ingin melihat wajah Hanna saat mencapai puncak. Kami akan membayar tiga juga Dollar untuk itu, tetapi jika kau tidak ingin melakukannya, kami akan melakukannya sendiri.”

“Sudah ku—“

“Ini penawaran menarik, Die … Sekalipun kau menggunakan kekuasaan Rockefeller, kau tidak akan menang melawan kami.” Lagi-lagi ucapannya dipotong. Freddie terlihat gelisah, tujuh lawan satu. Teman-temannya juga berasal dari keluarga ternama jajaran majalah Forbes. Mereka benar, Freddie tidak akan menang jika melawan.

“Bagaimana? Kau sendiri atau kami yang melakukannya?”

Freddie sangat ingin mengumpat mendengar penawaran gila itu. Ucapan mereka terdengar seperti daulat yang berisi ancaman mematikan untuknya. Hanna menunggu jawabannya dengan gemuruh di dada.

“Lagi pula, kalian sudah cukup lama menjalin hubungan. Aku rasa, Hanna tidak akan keberatan melepas purity ring-nya untukmu. Tak akan ada perlawanan, Die … tenang saja!” rayuan itu seperti bisikan Iblis penghasut yang ulung. Freddie goyah, anggukan kepala pun diberikannya sebagai jawaban. Hanna mengepalkan tangannya kuat sebagai gambaran emosi yang memuncak.

Bugh.

Delapan orang pria itu menoleh ke belakang. Di sana, ada Hanna dengan kepalan tangan memukul tubuh Jeep. Gadis itu terbakar emosi lantaran anggukan kepala penuh penghinaan dari kekasihnya. Kakinya melangkah santai menghampiri hingga mereka menelan ludah.

“Kalian bajingan!” Sorot mata itu menusuk hingga mengoyak keberanian delapan pria bertubuh jangkung tersebut. Freddie berdiri ingin berucap namun tak mampu. Amarah Hanna yang tersirat membuat mereka lumpuh. “Hubungan kita berakhir, Die.” Tepat setelah mengatakan itu, Hanna menjauh tanpa memedulikan mereka yang masih membatu.

Gadis itu melangkah tanpa tangis setelah mengakhiri kisah cintanya, bahkan tak pernah menangis lantaran hal bodoh itu. Hanna hanya merasa air matanya terlalu berharga untuk menangisi pria brengsek tersebut. Baginya, cinta hanya pantas ditangisi saat memberinya tawa bukan luka.

Hah.. Jika mengingat itu ingin rasanya Hanna membantai mereka satu per satu. Sayang, harga dirinya terlalu tinggi untuk membiarkan wajahnya berada pada halaman depan surat kabar. Hanna tak ingin aksi anarkisnya menarik perhatian media. Menjauhi pria yang menurutnya brengsek itu jauh lebih baik, tak peduli meskipun Freddie terus mengejarnya tanpa lelah.

Gadis itu kembali terlentang, kali ini tetap dengan bantal dalam pelukannya. Wajah Sehun kembali melintas, semua perlakuannya pun kembali menggelitik pipinya hingga bersemu. Tunggu, bukankah pria itu sama brengseknya? Sehun mencium pipinya di depan umum, menjamah lehernya saat mabuk, bahkan mengambil ciuman pertamanya hanya karena tak sengaja melepas gelang pemberiannya. Dan yang lebih buruknya lagi, Sehun adalah orang yang sudah mempersulitnya dalam menggapai mimpi. Hanna mengerjap. Napasnya terhenti selama tiga detik sebelum terhembus kasar ke udara.

Ada apa denganku? Batinnya kalut. Tidak seharusnya Hanna membiarkan Sehun menyentuh hatinya. Tidak seharusnya Hanna menjadikan Sehun pelarian. Tidak seharusnya Hanna hanya diam dalam kuasanya, meski memang Sehun tulus mencintainya. Tetapi itu semua terjadi di luar kehendaknya. Hatinya yang memegang kendali tanpa menuntut logika. Hanna tak salah dalam hal ini, meski itu berarti ia kalah dalam permainan. Padahal seharusnya Hanna memanfaatkan Freddie untuk menghancurkan Sehun hingga 520 Park Avenue menjadi miliknya.

Hanna tersenyum miring menyadari hal bodoh itu. Dilemanya kalah berganti dengan keyakinan penuh dalam memilih. Tak peduli akan kebodohannya, tetapi memang hanya ini yang bisa ia lakukan—menguji kesungguhan pria brengsek itu. Pria brengsek yang sudah berani mencuri hatinya, bahkan berani melamarnya dengan cara yang jauh dari kata romantis. Sialnya, Hanna menyukai cara itu. Seulas senyum pun tertarik dari bibirnya yang melentur kala otak kecilnya bekerja menyusun rencana licik untuk balas dendam. “Aku suka melihatmu cemburu,” katanya tanpa melunturkan senyum penuh arti itu.

Namun tak lama, Hanna menutup mata, selimut pun ditariknya hingga sebatas dada. Ia tak sabar untuk bertemu hari esok. Sayang, belum sempat Hanna pergi ke alam mimpi, bell di kamarnya sudah lebih dulu datang mengganggu. Matanya kembali terbuka, dengan malas Hanna bangkit sambil meraih lapisan luar lingerie hitamnya. Gadis itu memakainya santai sambil lalu menuju pintu, diikatnya tali lapisan luar lingerie tersebut sebelum beralih membuka pintu.

Si brengsek lagi.

Entah karena mengantuk atau memang bawaan lahir, wajah gadis itu terlihat amat tak bersahabat di mata Sehun. Ia tahu, keputusannya untuk kembali menemui Hanna itu salah, tetapi mundur hanya akan membuatnya semakin gelisah.

“Kau tidak bisa membaca jam?” tanya Hanna. Ia sama sekali tak terkejut mendapati Sehun di balik pintu. Sehun bahkan yakin, ada hantu di depan matanya pun Hanna tak akan terkejut. Gadis itu terlampau flat.

Hanna sendiri tak mengerti mengapa tak bisa beramah tamah dengan Sehun setelah apa yang terjadi di antara mereka. Rasa canggung pun tak ada karena memang Hanna bukan gadis lugu. Padahal tadi, gadis itu sibuk mendalami perasaannya pada pria ini.

“Maaf … Aku—“

“Aku lelah, ingin tidur. Kau bisa—“

“Aku tahu, tetapi tidak di sini!” Belum sempat Hanna mencerna, Sehun sudah menariknya keluar lantas menyeretnya dengan langkah cepat menuju lift.

Sekarang apa lagi? Hanna membatin lelah. Sampiran jas di bahu pun Hanna rasa saat Sehun meletakkan jas yang ditentengnya di sana, sebelum beralih menekan tombol turun ke lantai dasar.

-Ambition-

Burj Khalifa
003_skidmore_owings_merrill_burj_khalifa_theredlist

Jenny dan Kai terdiam dalam kagum. Seperti orang bodoh, Keduanya mendongak dengan harapan bisa melihat puncak dari gedung tertinggi di dunia itu.

burj khalifa

Glup. Keduanya menelan ludah takjub. Gedung setinggi 828 meter itu terlihat lebih megah daripada gambar yang pernah mereka lihat di internet (bandingkan dengan Monas yang hanya memiliki tinggi 132 meter).

“Kau siap?” tanya Kai sambil menoleh ke samping tubuh. Jenny pun mengangguk sebagai awal jawaban, “Ayo, kita coba!” katanya semangat.

“Baiklah, ayo, masuk!” Kai menarik jemari Jenny dalam genggamannya. Gadis itu menurut dengan senang hati. Tumit mereka segera melangkah menuju lift utama tanpa ragu, beruntung tak ada orang lain yang ikut masuk bersama mereka ke dalam lift yang sama sehingga mereka bisa bereksperimen dengan leluasa.

Kai segera menekan angka 160—sebagai lantai tertinggi gedung tersebut—lantas fokusnya beralih pada penunjuk waktu di pergelangan tangan. Lift pun segera melesat setelah pintunya tertutup dengan sempurna, Jenny terlihat girang bukan main merasakan kecepatan luar biasa dari lift tercepat di dunia itu. Dan di detik ke-50, mereka tiba di puncak.

“Wow!” Kai bergumam kagum. Jenny tak kalah kagum. “Ingin mencoba untuk turun?” tanya Kai, masih girang.

“Tentuu …!!” ujar Jenny semangat. Katakan saja mereka gila karena datang ke Burj Khalifa hanya untuk mencoba menaiki lift yang katanya tercepat di dunia itu, bahkan mereka tak turun untuk sekedar melihat pemandangan luar biasa indah dari atas puncaknya. Sungguh naif.

Dubai Mall
dubai mall

Pemandangan berbeda dari mall yang pernah Jenny kunjungi terpampang di dalam Dubai Mall. Perpaduan warna emas nan glamor pada pilar-pilar yang berdiri kokoh di tengah membuat kesan megah pada mall terbesar di dunia itu semakin kuat. Toko-toko yang berjajar rapi di sisi kanan dan kiri pun terlihat amat mewah di mata Jenny. Mall yang masih berada di kawasan Burj Khalifa itu sungguh luar biasa, Jenny bahkan tak yakin bisa mengelilingi semua bagiannya dalam waktu dua hari mengingat betapa luasnya mall tersebut.

“Pilih yang kau sukai, Jen … ada banyak barang mewah dengan merk ternama kesukaan Hanna di sini,” kata Kai memecah keterkaguman Jenny. Gadis itu sedikit merona bahagia. Kai begitu baik padanya, ia merasa begitu istimewa dalam perlakuannya.

“Aku hanya ingin stiletto,” ujarnya meminta, mencoba mengesampingkan rasa malunya.

“Kalau begitu, kita cari toko Stuart Weitzman Heels. Semua stiletto Hanna hasil rancangannya—“

“What? Stuart Weitzman? Ah, tidak-tidak … Stiletto hasil rancangannya terlalu mahal, Kai … kesemuanya bertaburkan emas dan batu mulia, bahkan satu stiletto rancangannya cukup untuk menyewa tiga gedung pernikahan.”

“Benarkah? Tetapi Hanna selalu memakai stiletto hasil rancangannya.”

“Kau lupa siapa Nona Hanna?”

Kai menggaruk tengkuknya tak nyaman. Hampir saja ia menguras seluruh isi tabungannya jika saja Jenny tak memberitahunya stiletto macam apa yang dibuat Stuart Weitzman. Pantas Hanna memiliki banyak koleksi stiletto dengan brand itu, Kai menjadi tak enak hati tak bisa memberikan hal serupa pada Jenny. Sebenarnya bisa, namun ada hal yang sedang direncanakannya dan semua itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Kai harus berhemat untuk itu. Tak apalah, tak bisa membahagiakan Jenny sekarang, toh, apa yang tengah direncanakannya akan membuat Jenny bahagia selamanya.

“Kalau begitu, kita mencari brand lain!” ajaknya lagi.

“Rancangan Roger Vivier tak kalah cantik, Kai … Dia desainer stiletto pertama di dunia, aku harap masih ada hasil rancangannya yang tersisa,” kata Jenny antusias. Kai bersyukur gadis itu tak terluka karena dirinya belum bisa membelikan stiletto karya Weitzman.

“Ayo, kita cari!”

-Ambition-
jw-marriott-marquis-dubai
Mata sebiru laut itu bergilir lincah mencari seseorang yang sudah membuatnya membatalkan jadwal penerbangan ke New York. Ia harap bisa menemukan alasan yang menyenangkan di balik permintaannya untuk datang kemari. Lambaian tangan pun di lihatnya dalam pencarian, itu Skandar. Pria itu lantas melangkah menghampiri, menarik kursi di depannya dan mendaratkan tubuhnya di sana.

“How are you?”

“Apa penting basa-basi di saat kau bisa melihat?” tanyanya, sedikit sarkastik—meniru gaya mantan kekasihnya. Tawa berwibawa pun pecah, pria itu tersenyum.

“Baiklah, Die … kau terlihat baik-baik saja dan aku senang kau datang,” katanya. Tangannya kembali terangkat, kali ini memanggil waiter.

“Ada apa? Kau menghubungiku seperti seorang yang kehilangan bulu domba di samudera pasifik,” seloroh Freddie, namun tak lucu sama sekali.

Skandar sibuk memesan untuk sesaat, sebelum kembali meluruskan fokusnya pada lawan bicara. “Semalam aku hanya terbakar hingga emosi. Aku ingin kejelasan, namun merasa bukan siapa-siapa. Dan aku rasa, kau lebih berhak untuk itu …,”

Freddie menaikkan sebelah alis tak mengerti. Ia pikir Skandar akan membahas hal tentang bisnis, namun dilihat dari bagaimana cara bicaranya juga nada suaranya ia rasa ini soal wanita. “Jadi, siapa yang kau maksud sehingga kau merasa aku lebih berhak?” tanyanya to the point.

“Sahabat kita, Sehun Bertelsmann … aku ingin bertanya secara pribadi padanya, namun enggan,” jawabnya.

“Sehun? Aku pikir soal wanita. Jadi, kau sedang bertengkar dengannya dan menghubungiku untuk menjadi penengah?” Freddie tak habis pikir, pertemuan pertamanya dengan sahabatnya ini setelah lulus hanya karena sebuah keluhan. Akan tetapi, ia memang memiliki urusan pribadi dengan Sehun. Kebetulan sekali.

“Ini memang soal wanita dan hubunganku dengan Sehun baik-baik saja.” Skandar meneguk santai cairan cokelat dalam mug kecil di meja. Freddie kembali menaikkan alis tak mengerti.

“Apa maksudmu?”

-Ambition-

hydropolis
hydropolis underwater hotel

Hydropolis Underwater Hotel tempat Hanna berada saat ini. Semalam Sehun menyeretnya ke hotel bintang sepuluh yang berada jauh dari permukaan air laut itu. Hanna bahkan sempat kedinginan lantaran hanya menggunakan lingerie tipis berlapis jas saat berlayar menggunakan Ferry untuk sampai ke hotel ini. Dan Sehun, dengan senang hati memberikannya kehangatan selama perjalanan tanpa bisa Hanna tolak.

“Kau pintar mengambil kesempatan,” Hanna menelusup, menyembunyikan wajahnya pada leher jenjang pria itu. Angin laut malam sungguh tak bersahabat, namun Sehun tersenyum karenanya. Tubuh Hanna itu sungguh pas dalam dekapannya.

“Aku hanya tidak ingin kau semakin dingin karena kedinginan, Hanna. Kau yang sekarang saja sudah sangat sulit kuhangatkan,” katanya dengan senyum simpul. Hanna ikut tersenyum dalam sembunyi, kecupan bertubi pun didapatnya pada puncak kepala hingga Hanna hanyut menikmati. Sebenarnya, mereka bisa saja masuk ke dalam Ferry agar tak terkena angin malam, namun Sehun tidak mengizinkan. Pria itu lebih memilih berdiri di luar dengan tubuh Hanna dalam dekapannya agar suasana bulan madu yang ia inginkan terasa. Sedikit gila memang, namun Sehun serius saat mengatakan ingin pergi bulan madu pada Jenny, dan Hanna adalah gadisnya.

“Kau selalu seperti ini … ada hotel yang jauh lebih dekat, tetapi kau justru membawaku ke hotel yang berada di tengah laut.” Hanna tak menyangka, kebiasaan Sehun yang selalu membuat jarak tempuh dua kali lipat lebih jauh terbawa hingga ke Dubai. Bahkan pria ini rela merogoh kocek dalam hanya untuk menyewa satu Kapal Ferry mewah untuk berdua.

“Kau yang membuatku kehilangan akal sehat, Hanna … Kau yang sudah mengambil hatiku bahkan menguasai alam sadarku. Jangan salahkan jika aku gila karenamu!”

“Kau membuatku mabuk laut,” Hanna melingkarkan sebelah tangannya pada pinggang tinggi pria itu. Sehun tersenyum mendengar kata-kata tersirat penuh akan penghinaan untuknya tersebut. Ya, gadis itu baru saja mengatakan ingin muntah mendengar kata-katanya. Sehun tahu dan sudah biasa. Setidaknya, ia bisa merasakan pergerakan jari telunjuk Hanna yang tengah membuat tulisan-tulisan abstrak di dadanya juga pelukan posesifnya.

“Rasanya aku ingin memberi pelajaran pada lidahmu itu agar jera.” Oh! Tidak, jangan bahas itu. Kejadian di kolam itu sungguh membuatnya malu. Hanna tak ingin menyinggungnya apa lagi mengulanginya di sini. Cubitan tak berperasaan pun ia berikan pada dada bidang berlapis kemeja hitam pria itu hingga sang empunya mengaduh ngilu.

“Aku akan menendangmu hingga ke dasar laut jika kau berani melakukannya lagi.” Hanna merenggangkan pelukannya, Hydropolis Underwater Hotel pun sudah di depan mata. Sehun mengelus dadanya sayang, ia yakin akan ada noda kebiruan di kulit putih susunya nanti.

“Tak masalah karena aku akan melayang setelahnya, bibirmu itu seperti heroin jika kau ingin tahu.”

Plak.

Tangan Hanna melayang ringan, sementara Sehun tertawa setelah mendapat tamparan di pipi. Ini bukan kali pertamanya ia mendapat hadiah curahan hati Hanna itu. Saat mencari masalah di Ritz-Carlton dengan meminta Hanna datang ke kamarnya pun ia mendapat hadiah tamparan dari gadis itu lantaran berimajinasi liar akan dirinya. Sehun tahu itu bukan tamparan emosi, Hanna hanya gemas terhadapnya, itu saja. Dan kini ia tahu satu fakta baru, Hanna galak saat sedang merona.

Menyebalkan. Hanna tanpa sadar tersenyum mengingat kejadian semalam. Pipinya lagi-lagi merona tanpa bisa dibantah, namun pudar saat pintu kamar mandi di kamar itu terbuka. Sehun keluar dari sana dengan Shirt merah pudarnya, lantas mengambil tempat di samping Hanna dengan melempar handuk pada gadis itu.

sehun shirt
Sehun’s Style (untuk mempermudah imajinasi)

Hanna menatap handuk kecil itu. Ia mengerti, namun ragu … akan tetapi, Hanna tetap meraihnya kemudian bangkit dari duduknya hingga menghadap pria itu. “Kau punya tangan,” katanya, namun tetap mengusak rambut basah Sehun dengan handuk kecil tersebut.

“Ada gadisku di sini,” alibi pria itu. Wajahnya mendongak hingga netranya terfokus pada wajah bening tanpa polesan make up itu. Hanna sendiri bersikap masa bodoh seperti biasa tanpa menghentikan pekerjaan tangannya.

“Kau tetap cantik meski tanpa make up,” pujinya kemudian. Sehun sungguh tak menemukan perbedaan yang berarti pada wajah Hanna dengan atau tanpa make up. Gadis itu tetap terlihat sama, kecantikannya benar-benar natural. Bibirnya bahkan tetap terlihat pink meski tanpa lipstick. Padahal, Sehun sudah menyediakan segala macam kebutuhan make up untuk gadisnya itu, namun Hanna menolaknya dengan dalil, “Aku tidak memakai make up sembarangan.” tapi setidaknya, Hanna tidak menolak jeans dan blouse hitam yang dipilihkannya, rambutnya bahkan dikuncir kuda dengan rotasi bervolume, padahal selama ini Sehun tak pernah melihat Hanna memakai jeans. Gadis itu selalu memakai dress kurang bahan dengan tatanan anggun.

blouse

Model Blouse yang Hanna pakai.

“Aku memang terlahir cantik.” Hanna membalas tatapan kagum Sehun dengan percaya diri. Senyum miring pria itu pun tercipta, tak lama tangan kekarnya bergerak sesuka hati memutar tubuh mungil Hanna hingga mendarat di atas pangkuannya.

“Ya, aku akui itu!” Hanna menutup mata sesaat kala Sehun mendaratkan bibir mungilnya di pipi. Ini serangan mendadak Sehun untuk yang ke-3 kalinya hari ini (sebelumnya saat bangun tidur dan sebelum pergi mandi). Bahkan Hanna tak sadar handuk kecil di tangannya telah jatuh dari genggaman. “Lihatlah, bahkan mermaid pun mengakui. Mereka terlihat menyukaimu!” pujinya lagi.

Mermaid? Hanna mengikuti fokus Sehun. Matanya refleks mengerjap saat melihat seekor mermaid tengah melambai dengan senyum menawan ke arahnya.

real-mermaid-model-melissa-dawn

Tarian indah pun Hanna lihat dari mermaid itu sebelum menjauh.

melissa

Setelah itu, Hanna sadar tak hanya ada seekor mermaid di sana, tetapi tiga ekor. Salah satunya berwarna maroon dan dengan eloknya menggoyang-goyangkan ekor menggoda keterkaguman Hanna.

mmermaid_3

Belum cukup sampai di situ, ketiga mermaid yang entah berasal darimana itu kembali menari indah meliukkan ekor bersisik mereka. Hanna tahu itu bukan mermaid asli, ia mengenal salah satunya. Itu Melissa Dawn, seorang manusia yang begitu mencintai laut sampai rela merubah dirinya menjadi manusia berekor, bahkan Melissa amat gemar mengadakan banyak pertunjukan di dalam air. Lantas, bagaimana bisa mereka berada di sini? Ini laut dan bukan akuarium tempat biasa mereka mengadakan pertunjukan. Hanna menghiraukan pertanyaan itu, ia larut dalam keterkaguman tarian indah para mermaid, meski wajahnya masih tanpa ekspresi seperti biasa.

Sementara Sehun menunggu—menunggu Hanna bereaksi saat para mermaid menunjukkan pertunjukan utama mereka. Dan kini, apa yang dinantikannya itu dimulai. Bisa Hanna lihat, seekor mermaid menggerakan ekornya elok dengan posisi berdiri. Dua lainnya menari berputar dengan tangan bertautan, mereka melenturkan tubuh hingga melengkung ke depan membentuk hati.

I Love

Itu yang Hanna baca dari bahasa tubuh mereka, kemudian ketiganya membongkar formasi hingga membentuk leter U. Tak lama, hanya sesaat, setelah itu mereka kembali menari indah membuat Love sign dengan tangan, sebelum akhirnya melambai-lambai berpamitan untuk kembali ke permukaan.

“I Love you,” bisikan itu yang Hanna dengar. Hembusan napas Sehun hangat menerpa hingga netranya terpejam nyaman. Sekarang, Hanna mengerti mengapa Melissa Dawn mengadakan pertunjukan di bawah laut. Jantungnya bahkan tak henti meletup bahagia karena itu hingga senyum kecil tercipta tanpa bisa dibantah. Sehun yang melihat senyumnya pun bahagia bukan main.

“Aku dengar ada hiu di sini, bagaimana bisa kau tega meminta mereka menari untukku?” Hanna menoleh, membiarkan hazelnya diterkam manik elang itu.

“Sudah kubilang, mereka melakukannya karena menyukaimu.” Sebelah tangan Sehun beralih membelai rahang sempurna gadisnya.

“Cheesy,” Hanna berucap tanpa dosa, Sehun memberengut sebal. Ia hanya tak tahu, Hanna pernah melihat tiga buah gedung dihias dengan ungkapan yang sama oleh Freddie. Saat itu, Freddie membawanya terbang dengan sebuah helikopter mengelilingi Manhattan, sebelum akhirnya singgah di atas udara dengan 19 gedung komersial milik keluarga Rockefeller di bawahnya. Dan jika dibandingkan, cara Freddie mengatakan cinta jauh lebih mewah dari Sehun, tetapi Hanna lebih menyukai cara pria yang satu ini.

“Kenapa?” goda Hanna, sebelah tangannya mengalung di bahu Sehun. Sementara jari telunjuknya yang bebas menggoda hidung bangir pria itu. “Aku tidak bilang, aku tidak menyukainya, ‘kan?” godanya lagi semakin menjadi. Sehun merasa menjadi seorang anak kecil polos yang tengah digoda oleh seorang wanita cantik di sini. Itu memalukan, tapi Sehun suka.

“Kau penggoda yang ulung, Nona,” akhirnya Sehun menjauhkan tangan Hanna dari hidungnya lantas meletakkannya di dada, “Kau berhasil membuatnya tak tenang!” ungkapnya kemudian. Hanna kembali tersenyum merasakan debaran pria itu. Keyakinannya pun bertambah.

“Lalu, apa yang harus aku lakukan untuk membuatnya tenang?” tanyanya kemudian. Sehun mengumpat tergoda, wajah polos menantang gadis itu sukses membuatnya lapar.

“Dia hanya akan tenang jika aku tahu ada debaran yang sama dalam tubuhmu.” Sehun yakin Hanna tak bodoh untuk mengerti bahwa ia butuh jawaban atas ungkapan cintanya juga ajakannya untuk menikah.

“Apa itu penting di saat aku sudah berada di atas pangkuanmu?” Hanna melepaskan tangannya dari genggaman Sehun lantas kembali menggodanya dengan elusan di pipi. Netranya sibuk menelisik kesungguhan pria itu dan binar bahagia Hanna lihat sebagai jawaban. “Tetapi, hanya sebatas ini. Kau tahu, aku merasa menjadi seorang wanita murahan di sini … kata ‘rekan bisnis’ sungguh mengolokku.”

Sehun tersenyum, jawaban Hanna sudah amat jelas untuknya. Gadis itu menerima cintanya namun tidak untuk lamarannya. Hanna hanya belum sepenuhnya yakin karena ia hanya seorang pria yang belum lama dikenalnya karena bisnis. Ini hanya masalah keyakinan, Sehun mengerti jika Hanna menolak lamarannya. Setidaknya, gadis itu membiarkannya untuk melangkah lebih jauh.

“Tidak. Kau sangat berharga untukku dan akan kubuktikan bahwa seorang Oh Sehun pantas untukmu—“

“Dengan apa? Memberikan 520 Park Avenue saja kau enggan,” potong Hanna, sedikit memojokkan.

“Akan kuberikan seluruhnya jika kau sudah menjadi istriku,” jawab Sehun, tanpa beban.

“Haruskah aku menukar mimpiku dengan masa depanku?”

“Itu yang terbaik karena aku akan menjamin masa depanmu.”

Hanna memutar bola mata kehabisan kata-kata, namun Sehun menahan rahangnya hingga netranya kembali menubruk manik cokelat itu. Tatapan dalam penuh arti Hanna lihat dari pancaran cahaya yang terbingkai mata tajamnya. Seperti meminta sesuatu dan Hanna tahu apa itu, napasnya bahkan seolah berhenti kala kembali hanyut dalam tatapan tajam Sehun yang melunak. Oh! Tidak, jangan lagi Hanna. Batinnya menolak, namun otaknya tak bekerja. Bahkan sampai hembusan napas mereka saling bersinggungan, Hanna masih diam hingga pada akhirnya menutup mata menyerah.

Ah, Lembut!

Sehun melayang kala merasakan kembali manisan cherry-nya, perlakuan lembut nan istimewa pun ia berikan pada setiap gerakan. Sehun sama sekali tak ingin mengandalkan nafsu untuk masalah cinta, ia tak ingin melukai harga diri gadis itu. Ia terlampau mencintainya hingga sangat ingin melindunginya. Ciuman lambat penuh akan kehangatan pun mereka lakoni hingga napas terdengar satu-satu.

Cukup!

Hanna mengakhiri secara sepihak, dering ponsel pun mereka dengar di sela kesibukan menghirup udara. Sehun mengulurkan tangan ke arah nakas, mencoba menghiraukan rona merah di pipi Hanna yang hanya akan membuatnya semakin tergoda.

“Ada apa?” nada tanpa kehangatan mengalun dari bibir mungil Sehun. Sang pemilik ID caller membuat mood-nya hancur seketika.

“Lama tak saling menyapa, sambutanmu sungguh luar biasa. Aku hanya ingin kau membawa Hanna bersamamu, kita selesaikan masalah kita bersama!”

-Ambition-

Sehun harap ini tidak akan menjadi masalah. Ia hafal dengan baik karakter keras Hanna yang tak jarang membuat kepalanya migrain. Bahkan tak jarang kata-kata gadis itu menginjak harga dirinya, namun tak membuatnya jera untuk kembali bangun demi meruntuhkan keangkuhannya. Dalam hal ini, Hanna liar seperti singa betina yang mampu menarik perhatian para pemangsa tangguh. Dan mungkin apa yang dilakukannya akan melukai harga diri singa betina ini.

Genggaman tangan pun Sehun eratkan hingga Hanna menyadari ada yang tidak beres. Namun, tungkainya tetap setia mengimbangi langkah tegas pria di sampingnya itu. JW Marriott Marquis Hotel tempat mereka saat ini berada, Hanna sempat bertanya dalam diam alasan mengapa Sehun kembali membawanya kemari. Sayang, gadis itu terlalu enggan memuntahkan pertanyaannya meski untuk sekedar mencari tahu. Sehun sendiri terakhir berucap sebelum keluar dari kamar hotel tempat mereka tidur bersama semalam, setelahnya pria itu seolah kembali pada sisi dingin yang sama dengannya.

“Sehun?” Hanna menghentikan langkahnya, Sehun ikut berhenti. Pria itu melepas tautan tangannya lemas, netranya menyelam hanyut ke dalam hazel memukau itu.

“Aku merasa bodoh, seolah tak pernah belajar tata bahasa. Aku membiarkanmu dalam kebingungan lantaran tak tahu bagaimana cara memulai. Aku harap kau akan mengerti tanpa perlu kujelaskan, Hanna.” Sehun mengalihkan perhatian ke dalam restoran, namun Hanna setia menatap ke arahnya. Anggukan kecil pun gadis itu lihat saat Sehun kembali menubruk netranya.

Hanna mengerti dan mengikuti. Sehun melangkah di depannya tanpa memberikan kehangatan pada sela jemarinya. Hanna merasa dingin kala meratapi kekosongan di sana. Ada apa dengan Sehun? Itu yang ingin Hanna tahu. Jawaban pun segera didapatnya saat melihat dua orang pria di depan sana.

Wow!

“Kau sungguh pintar mencari masalah, Tuan Bertelsmann.”

Sehun menoleh cepat, hazel mengkilat penuh amarah pun menubruknya hingga gelisah. Jantungnya bahkan seketika bergemuruh kala mulut mungil yang belum lama dinikmatinya itu mengeluarkan kata-kata tajam bak halilintar. “Aku memilihmu dan kau membawaku kembali padanya.” Sehun lumpuh hingga tak mampu berkutik bahkan saat gadis itu melewati tubuhnya.

“Hanna!” suara Freddie, Sehun dengar. Gadisnya melangkah ke sana tanpa ragu. Sehun tak tenang dalam diam.

Sementara Hanna tersenyum angkuh sebagai jawaban. Jadi, ini alasan mengapa Sehun berubah menjadi seorang pengecut? Ancaman macam apa yang sudah mereka berikan sampai Sehun tak berani membantah untuk membawanya kemari? Haruskah Hanna bertepuk tangan untuk itu? Sudah berbulan-bulan ia menghindari Freddie setelah semuanya berakhir, namun kini Hanna datang sendiri ke hadapan pria itu tanpa syarat berarti karena kekasihnya. Oh, hebat.

Hanna menarik salah satu kursi di sana santai, namun dengan decitan amarah yang tersirat seolah lantai adalah pihak yang harus di salahkan di sini. Rasa ingin tahunya terlalu menantang hingga Hanna lebih memilih duduk untuk mencari tahu. Sehun pun melakukan hal yang sama hingga mereka berempat duduk mengelilingi meja. Hazel Hanna bergilir tajam mengunci pergerakan ketiga pria dengan status bangsawan di sana. Bibirnya masih terkatup rapat hingga canggung menyerang para lelaki itu.

“Hanna, perkenalkan ini temanku yang pernah—“

“Tak perlu basa-basi …!!” Skandar seketika diam, Hanna memotong tanpa sopan santun.

“Kami sudah saling mengenal, Willard,” Freddie tersenyum kikuk ke arah Skandar. Terlihat alami seolah tak nyaman, namun Hanna tak bodoh untuk mengerti bahwa keduanya—ah, tidak—tapi ketiganya sudah mengetahui tentang hubungan satu sama lain. “Hanna, bagaimana—“

“Jangan membuatku muak. Langsung saja!”

Freddie menelan ucapan tak sampainya. Apa salahnya menanyakan kabar di awal pembicaraan? Umpatnya dalam hati. Sayang, mantan kekasihnya itu memang batu. Ia tipe gadis yang terlalu hemat akan kata-kata—itu yang Freddie tahu—karena bagi Hanna, tak perlu bertanya jika memang bahasa tubuh sudah cukup untuk menjelaskan semuanya. Dan sialnya, Freddie begitu menyukai keangkuhan gadis itu.

“Kau sudah menemukan penggantiku?”

Sehun memejamkan mata. Menjadi nyamuk di acara reuni antar mantan kekasih dari gadis yang kau mangsa itu tidak menyenangkan. Hanna memiringkan kepala dengan fokus lurus menikam sang penguasa. “Masalah untukmu?”

“Ya, karena aku ingin kau kembali—“

“Dan menjadi kelinci percobaanmu.”

Sehun membuka mata, melirik wajah Hanna yang dipenuhi otot keras. Sementara Skandar mencoba untuk mengerti pertikaian antar dua individu yang duduk saling berhadapan itu.

“Hanna, aku bisa menjelaskan—“

“Sayang sekali aku mendengar semuanya, Die. Dan anggukan kepalamu berhasil mengoyak harga diriku!”

Sehun sedikit mengangkat alis saat menyadari Freddie dan Hanna tengah membicarakan alasan mengapa hubungan mereka kandas. Skandar pun tertarik untuk memerhatikan, ini yang sangat ingin ia ketahui. Dan ini adalah alasan mengapa ia meminta Freddie untuk menghubungi Sehun dengan meminta membawa Hanna bersamanya.

“Kau tidak mendengarnya dari awal—“

“Aku ada sejak awal. Bersembunyi di belakang mobil malang yang kacanya kubuat pecah.”

Sehun dan Skandar refleks mengerjap. Jakun mereka bergerak menelan saliva saat menyadari gadis yang terlihat anggun ini bisa menghancurkan sebuah kaca mobil saat marah. Sedikit menyeramkan memang, namun sangat menarik. Kini, fokus keduanya teralih menatap lurus Freddie yang mati kata. Tatapan iba pun mereka berikan.

“Berhentilah melanggar aturan sesuka hati meski itu tak tertulis. Kau memang memiliki segalanya, tapi aku bisa menghancurkanmu jika aku mau, Die.”

Bagaimana caranya? Itu pertanyaan yang melintas dalam benak Sehun dan Skandar mengingat siapa Freddie. Mereka kembali menatap wajah Hanna yang masih tak beriak layaknya air di dalam bak mandi. Wajah itu terlalu tenang padahal ada tiga orang pria tampan yang mengelilingi.

“Kau sudah membuatku hancur, An … dan aku tak ingin lebih hancur lagi dengan membiarkan pria lain berdiri di sampingmu.”

Ini yang tidak Sehun suka, pun dengan Skandar. Keduanya mendukung alasan mengapa Hanna membenci pria ini. Mereka merasa Freddie memang terlampau egois jika sampai memporak-porandakan jaringan perusahaan milik lelaki yang mendekati Hanna.

“Itu kekanakan. Tak masalah jika kau melakukannya sendiri, tetapi yang kulihat justru sebaliknya. Kau hanya mengandalkan nama di belakangmu, Die … Dan apa yang kau lakukan itu hanya membuatku semakin enggan untuk kembali.”

“Apa yang dimiliki seorang entrepreneur selain nama, Hanna? Aku mungkin akan melakukan hal yang sama demi mendapatkan gadis yang kucintai untuk masalah ini.” Semua fokus tertuju pada satu arah—itu Skandar. “Akan tetapi, aku tidak akan merusak jaringan musuh untuk itu karena setiap lelaki selalu mempunyai cara tersendiri untuk medapatkan cintanya.”

Sehun menghembuskan napas kasar mendengarnya, namun juga setuju akan pembelaan Skandar tersebut. Dan Hanna mengerti dengan baik maksud pria berdarah campuran Lebanon itu.

“Kita seorang entrepreneur. Kemampuan kita ada karena dilahirkan bukan diciptakan. Kita ditakdirkan untuk selalu mengambil keputusan penuh resiko, namun diharuskan bekerja dengan menghindari resiko. Orientasi kita adalah uang, namun uang bukan tujuan akhir. Aku rasa kalian mengerti maksudku!” lanjut Skandar. Hanna melirik Sehun yang hanya diam seolah bisu. Rasa kecewa pun menginjak bangga harga dirinya. Kekasihnya itu bahkan tak mengatakan apa pun perihal hubungan mereka. Takutkah? Tentu, Sehun sedang melakukan pembangunan besar-besaran di Manhattan dan semua itu bisa saja hancur jika Freddie mulai bermain.

Mengambil keputusan penuh resiko dan bekerja tanpa resiko. Hanna membeo dalam hati, senyum miring pun tercipta. Sehun tak lebih dari seorang pengecut di matanya. Keterdiaman pria itu sudah cukup mengartikan bahwa Sehun memutuskan untuk melepasnya ketimbang harus hancur di tangan sahabatnya. Menyedihkan. Hanna menutup mata perlahan. Gadis itu terbakar perasangka buruknya sendiri tanpa membaca ekspresi Sehun. Emosi pun mengambil alih di saat kesalahpahaman tersenyum bangga. Hanna tak sadar otak encernya telah kalah oleh sebuah praduga.

“Terdengar menarik … Itu membuat kalian terlihat menyedihkan di mataku. Padahal di luar sana, masih banyak wanita cantik yang bisa kalian permainkan sesuka hati. Lebih baik pilih salah satu dari mereka ketimbang menyia-nyiakan waktu hanya untuk seorang wanita ambisius sepertiku. Jujur saja, itu menggangguku secara pribadi karena hidupku terlalu berharga untuk kalian usik.” Hanna bangkit dari duduknya. Ia sudah amat muak, Sehun benar-benar membuatnya merasa terhina. “Aku permisi!”

Apa? Sehun mendongak menatap gadisnya. Ia tak percaya, Hanna baru saja memintanya dan kedua temannya untuk mencari wanita lain. Hei, mereka baru saja memulai hubungan dan gadisnya itu mengakhiri dengan emosi. Sehun kalut, namun tak bisa menahan. Diam terpekur, hanya itu yang bisa ketiganya lakukan. Mereka ingin mengejar namun logika menghalangi. Otak cerdas mereka menahan dan memilih untuk menyelesaikan masalah selera yang sama ini agar tak melukai hubungan persahabatan yang ada.

“Tak ingin mengejarnya, Sehun? Apa ciuman panas kalian tak berarti apa-apa semalam?” Skandar memulai setelah Hanna pergi. Manik elang Sehun bergilir tajam setelah terkunci dalam punggung mungil gadisnya yang menjauh. Freddie tak kalah tajam menatapnya, ciuman? Pikirnya bertanya. Hei, dia tak pernah mencium mantan kekasihnya itu lantaran selalu ditolak dan Sehun mendapatkannya?

“Urusanku dan—“

“Ciuman?” Freddie memotong, amarahnya menguasai. Obsidian birunya menghujam manik elang sang pemangsa. “kau …,” lanjutnya berdiri, Sehun tersenyum miring. “Ya, kenapa?”

Bugh.

Langkah kaki Hanna terhenti di ambang pintu. Tubuhnya berbalik di saat Sehun berdiri gagah membalas pukulan yang diterima di pipinya. Freddie yang tersungkur pun dilihatnya pada detik kedua.

“Apa masalahmu, hm? Kalian sudah berakhir!” suara menantang Sehun, Hanna dengar.

“Hentikan!” Skandar membantu sahabatnya yang tersungkur, namun ditepis begitu saja.

Hanna tersenyum miring melihatnya sebelum kembali melanjutkan langkah. Mereka bodoh, itu yang Hanna tahu, namun menarik untuk dipermainkan. Setidaknya itu yang pantas mereka dapat karena menganggapnya barang rebutan layaknya proferti.

 


.

.

.

 

To Be Continued

 


.

.

.

 

Thanks ya masih mau jadi temen aku ^^

Follow Sehun’Bee WordPress untuk UPDET-an terbaru FF-ku

Lobee youu,

Sehun’Bee

831 responses to “Ambition [Chapter 7] – by Sehun’Bee

  1. Bukannya Hanna masih ada perasaan buat Freddie? Sebenernya taruhan itu bukan salah Freddie sepenuhnya kan dia terima dengan terpaksa juga. . .tapi tau ah aku suka Hanna-Sehun*-*

  2. Wow…. hanna super kereeen! Sukaaaaa. Suka gimana dia mempertahankan harga dirinya.. duuuh

    Sehun melempem:( sebel bgt iih. Katanya berani… manaaaa? Wkwk. wajar sih kao takut, bisa bangkrut mendadak kan.. tp omongannya itu loh bilangnha berani wkwkwk dasar..

  3. Kirain yang ngeliat kejadian di kolam renang itu freddie…kasian hana lagi lagi kepercayaan nya dipatahin gitu aja huhuhu

  4. Sudah mulai menyattu di awal…kenapa akhirnya juga ngak manis sih…hahaha malah jadi adu jotos hahaha…ngak mbahangin muka para cogan yg babak belur *abaikan
    Persahabat dan cinta emang bikin otak puyeng….hanna minggat lagi oh me god harus baca kelanjutanya….

  5. sehun sabar bgt ngadepin sifat hanna dimn lg coba ada cowok yg kaya sehun haha skandar sukanya ngadu2an jadiin fredie alasan sehun buat jauhin hana pdhal dia yg ga suka sehun sm hana hmm

  6. aku gak suka sama si skandar, dia adalah duri untuk hubungan sehun dan hanna. sehun terus berjuang untuk memperjuangkan cintamu!! fighting..

  7. dari awal aku gak suka sama skandar dia adlah duri untuk hubungan sehun dan hanna. sehun terus perjuangkan cinta kamu buat hanna. fighting..

  8. Sehun pengecut kenapa diam mana kata2 menyebalkannya yang bisa membuat orlin bungkam masa udah kalah sebelum maju sih payah lah…
    Jadi kelanjutan hub mereka gmna??baru aja jadian beberapa jam yang lalu masa udah bubaran lagi sihhh ayolahhh..huuhuhu

  9. Emang author tuh luar biasa buat ff ga lupa dikasih gambar2 seakan ngajak kita pembaca buat brmimpi seakan2 kita tuh oc ato tokoh utama ato lawan main dr bias kita alias sehun oppa tersayang…..
    Ckckckkc
    Bikin kita drolling plus nangis darah.. haha

  10. Aduh tuh kenapa lagi ㅠㅠ
    Hanna kok main pergi sih.
    Ga dengerin sehun sampe selesei
    Sehun jg salah nih
    Cuma diem kek pengecut
    Mungkin dia diem karena bimbang mau milih hanna apa sahabatnya

  11. Harusnya hanna tau klo sehun itu tulus sma dia. Hahhhhh jadi sedih pas baca part ini. Padahal depan2nya udah romantis banget.

  12. Emang rumit kalu udah urusan nya sama hati masalaj sepele aja bisa jadi rumit .jadi kasian sama hanna

  13. aku ngerti kok hun gimana rasanya memilih kayak gitu, dan aku tau kamu nggak mau nyesel sama pilihan kamu, btw ijin lanjut kakak

  14. Sehun, skandar and freddie jerk!! Tp brengseknya beda2. Yah namanya jg laki2. Bukan cowok namanya kalau nggak brengsek. Hehehe
    Ugh.. selalu cemburu sama keromantisannya sehunhanna.

  15. Kyaaa kaya nya “bros before hoe” nggak berlaku deh buat persahabatan mereka. Tapi aku nggak maksud bilang si hanna hie sih.. Yaa cuma kanbiasanya tuh kalo di ff prinsip nya gitu
    Suka sih sama alur ff nya anti mainstream:D

  16. sehun so sweat banget…hihihi jadi ngiri sama hanna,,apalagi pas ada duyung nya.
    Kesel sama skandar nih… @94Rini hehehe

  17. gosh , kenape saat hanna udah mulai nrima sehun tapi malah ada kesalahpahaman lagi , aaa gemes gue ama sehun. kenape lagi dia diem aja waktu hanna bilang cari cewek laen ,,

  18. gosh , kenape saat hanna udah mulai nrima sehun tapi malah ada kesalahpahaman lagi , aaa gemes gue ama sehun. kenape lagi dia diem aja waktu hanna bilang cari cewek laen ,,

  19. Pasangan kai dan jenny adem banget ya, kai disini dewasa banget. Lucu mereka naik ke burj khalifa cmn mau bereksperimen. Sehun juga penuh kejutan. Lagi2 aku merasa iri sama Hanna^^

  20. Ah kata” sehun selalu meluluh lantahkanku hehehe….
    Tp arrgghhh sehun hanna baru jadian ..harus berahir spert it
    Ujung”nya tonjok tonjokankan jadinya fuihhhh

  21. Itu bulan madu nya romantis plis sayangnya ngga bertahan lama, well hanna segitunya ambil keputusan
    Btw kai jennie menghibur bgt dengan kendesoan mereka xD
    Jjang!

  22. Gila Gila part ini bener2 bikin gila.
    Sehun romantis banget sumpaahhhh💓💓💓
    Tapii langsung pupus pas dia gak speak up pas ketemua sama freddie & skandar
    Wajarlahh Hanna maraaahhh….bakal susah dah tuh baikannyaa

  23. Aduhhh ngakak dahh liat kai ama jenny wkakakak😂😂😂 pasangan yg biasa aja tp naif ama polos bngtt gtu beda bngt ama atasannya suka senyum2 liat mereka dating wkakakkaka😂😂😂😂 buat sehun pleaseee kenapa lu tuh bikin gua baper mulu baca ini manis bngttt ya tuhann dan gua seneng liat hanna udh nerime sehun tp please itu dua orng sahabat nya kok nyebelin :((( ahhhh makin greget kalo kaya gini sumpahhh keep writing kak !!^^ izin baca next ya :))

  24. aku agak ga rela kalo freddie perannya kaya gitu bagus kalo dia imut2 gitu tapi yasudahlah:’3 sehun maniss banget yaampun kalo aku di posisi hanna kya nya gabakalan tahan iman(?):’v itu greget banget mereka bertiga duduk dalam satu meja yg sama bayangin aja udah- gimana kalo beneran itu>< menurut aku sih org yg bener2 ambisius disini freddie deh dia ngelakuin apa aja demi hanna biar ga deket sama cowo lain gitu tapi entahlah. ga cocok banget sama mukanya tauga:3

  25. Kok hana marah ya? Emangnya sehun diam berarti nggak sayang gitu? Aduh hanna, laki-laki lebih mengandalkan logika. Semakin ke sini semakin menantang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s